Anda di halaman 1dari 46

HUBUNGAN BODY IMAGE DENGAN PERILAKU DIET

,
KONSUMSI PANGAN DAN STATUS GIZI PADA REMAJA
PUTRI DI PERKOTAAN DAN DI PERDESAAN

HETI SONDARI

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Hubungan Body Image
dengan Perilaku Diet, Konsumsi Pangan dan Status Gizi pada Remaja Putri di
Perkotaan dan di Perdesaan adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi
pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi
mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, November 2013
Heti Sondari
NIM I14090059

ABSTRAK
HETI SONDARI. Hubungan Body Image dengan Perilaku Diet, Konsumsi
Pangan dan Status Gizi pada Remaja Putri di Perkotaan dan di Perdesaan.
Dibimbing oleh ALI KHOMSAN dan NAUFAL MUHARAM NURDIN.
Body image adalah gambaran individu mengenai penampilan fisik dan
perasaan yang menyertainya, baik terhadap bagian-bagian tubuhnya maupun
mengenai seluruh tubuhnya, berdasarkan penilaian sendiri. Banyak remaja putri
yang merasa tidak puas dengan penampilan dirinya. Tujuan penelitian ini adalah
untuk untuk mengetahui hubungan body image dengan perilaku diet, konsumsi
pangan dan status gizi pada remaja putri. Desain dalam penelitian ini adalah cross
sesctional. Contoh dalam penelitian ini adalah remaja putri siswa kelas X di 2
SMA di kota dan 2 SMA di desa. Metode yang digunakan dalam penarikan
remaja putri adalah dengan Cluster Random Sampling. Jumlah remaja putri yang
digunakan sebanyak 104 siswi. Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan
terdapat hubungan yang signifikan antara status anemia dengan status gizi
(p<0.05). Namun tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi body
image dengan perilaku diet, konsumsi pangan, status gizi, pengetahuan gizi dan
status anemia dengan tingkat kecukupan zat besi (p>0.05).

Kata kunci: body image, perilaku diet, konsumsi pangan, status gizi, status anemia

ABSTRACT
HETI SONDARI. Association between Body Image with Diet Behaviour, Food
Consumption and Nutritional Status on Girl Adolescents in Urban and Rural
Areas. Supervised by ALI KHOMSAN dan NAUFAL MUHARAM NURDIN
Body image is the picture of individual physical appearances and the
following feelings, to a part or their whole body based on their own perception.
Many girls do not feel satisfied with their own appearance. The objective of this
study was to understand the association of body image and diet behavior, food
consumption, and nutritional status in girl adolescents. The design of this study
was cross sectional. The subjects in this study was girl adolescents on 10th grade in
each 2 high schools in rural and urban areas. The sampling method used was
Cluster Random Sampling and the number of subjects was 104 students. The
Spearman correlation analysis showed there was a significant correlation between
anemic status and nutritional status (p<0.05). However, there was no significant
correlation between body image with diet behavior, food consumption, nutritional
status, nutritional knowledge, and anemic status with the level of iron adequacy
(p>0.05).
Keywords: anemic status, body image, diet behaviour, food consumption,
nutritional status

HUBUNGAN BODY IMAGE DENGAN PERILAKU DIET,
KONSUMSI PANGAN DAN STATUS GIZI PADA REMAJA
PUTRI DI PERKOTAAN DAN DI PERDESAAN

HETI SONDARI

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Gizi
pada Program Studi Ilmu Gizi
Departemen Gizi Masyarakat

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013

Konsumsi Pangan.Judul Skripsi : Hubungan Body Image dengan Perilaku Diet. SKed Pembimbing II Diketahui oleh Dr Rimbawan Ketua Departemen Tanggal Lulus: . MS Pembimbing I dr Naufal Muharam Nurdin. dan Status Gizi pada Remaja Putri di Perkotaan dan di Perdesaan Nama : Heti Sondari NIM : I14090059 Disetujui oleh Prof Dr Ir Ali Khomsan.

dukungan moril dan kasih sayangnya.PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga proposal penelitian ini berhasil diselesaikan dengan baik. Ir. Penelitian ini diajukan dalam rangka memenuhi persyaratan untuk melaksanakan penelitian tugas akhir guna memperoleh gelar sarjana di Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor. Keluarga tercinta : ayah tercinta (Alm. 2. Ali Khomsan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan adalah Hubungan Body Image dengan Perilaku Diet. 4. Tania Primarta. dukungan. Noer Herlina Hanum. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. MS dan dr. Ika Rohmah Sekarayu. semangat dan motivasi yang selalu diberikan kepada penulis.Ked selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan. Fithriani Batubara dan Mega Seasty Handayani yang banyak membantu dalam memberikan semangat dalam menyelesaikan karya ilmiah ini. Teman–teman penelitian payung : Weny Anggraeny. Konsumsi Pangan dan Status Gizi pada Remaja Putri di Perkotaan dan di Perdesaan. 47 dan 48 serta kakak kelas 45 dan teman–teman yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas segala perhatian. Dr. Teman–teman Gizi Masyarakat 46. Prof. ibunda tersayang (Ibu Nunung) dan Suci Silfiani (Kakak) serta seluruh keluarga atas segala doa. Rammona Jayana dan Fathan Jamilah atas semangat dan kerjasamanya. 6. dan para pengikutnya hingga akhir zaman. 5. Nabilah Nabiha Zulfa. 3. Ir. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam serta keluarganya. MS selaku dosen pemandu seminar dan penguji yang telah memberikan koreksi demi perbaikan skripsi. Teman–teman dekat : Ratia Yulizawaty. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada : 1. Tidak lupa penulis mohon maaf atas segala kekurangan penyusunan karya ilmiah. para sahabatnya. Nurayu Annisa. Naufal Muharam Nurdin. Prof. S. Faisal Anwar. November 2013 Heti Sondari . Oban). Dr. Bogor.

Status Gizi dan Pengetahuan Gizi 29 Hubungan antara Tingkat Kecukupan Zat Besi dan Status Gizi dengan Status Anemia 31 SIMPULAN DAN SARAN 32 Simpulan 32 Saran 33 DAFTAR PUSTAKA 33 RIWAYAT HIDUP 38 . Tempat dan Waktu 5 Jumlah dan Cara Penarikan Remaja 5 Jenis dan Cara Pengumpulan Data 5 Pengolahan dan Analisis Data 6 Definisi Operasional 8 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Remaja 9 9 Karakteristik Keluarga Remaja 12 Status Gizi Remaja 15 Body Image 16 Perilaku Diet 19 Konsumsi Pangan 21 Status Anemia Remaja 29 Hubungan antara Body Image dengan Perilaku Diet. Konsumsi Pangan.DAFTAR ISI DAFTAR TABEL vi DAFTAR GAMBAR vi PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Tujuan Penelitian 2 Hipotesis Penelitian 2 Manfaat Penelitian 3 KERANGKA PEMIKIRAN 3 METODE 5 Desain.

DAFTAR TABEL 1 Sebaran remaja putri berdasarkan usia 2 Sebaran remaja putri berdasarkan pengetahuan gizi 3 Sebaran remaja putri berdasarkan jawaban yang benar dari pertanyaan tentang pengetahuan gizi 4 Sebaran remaja putri berdasarkan besar keluarga 5 Sebaran remaja putri berdasarkan tingkat pendidikan ayah 6 Sebaran remaja putri berdasarkan tingkat pendidikan ibu 7 Sebaran remaja putri berdasarkan pekerjaan ayah 8 Sebaran remaja putri berdasarkan pekerjaan ibu 9 Sebaran remaja putri berdasarkan pendapatan keluarga 10 Sebaran remaja putri berdasarkan status gizi IMT/U 11 Sebaran remaja putri berdasarkan persepsi terhadap tubuh aktual dan ideal 12 Sebaran persepsi tentang bentuk tubuh aktual remaja putri SMA Kota terhadap status gizi 13 Sebaran persepsi tentang bentuk tubuh aktual remaja putri SMA Desa terhadap status gizi 14 Sebaran remaja putri berdasarkan klasifikasi persepsi body image 15 Sebaran remaja putri yang melakukan diet 16 Perilaku remaja putri dalam menurunkan berat badan 17 Jenis makanan yang dihindari remaja putri 18 Rata-rata konsumsi. tingkat kecukupan energi dan zat gizi lain remaja putri 19 Sebaran rata-rata tingkat kecukupan energi 20 Sebaran rata-rata tingkat kecukupan protein 21 Sumbangan protein yang berasal dari hewani 22 Sebaran rata-rata konsumsi pangan hewani 23 Sebaran rata-rata tingkat kecukupan lemak 24 Sebaran rata-rata tingkat kecukupan karbohidrat 25 Sebaran rata-rata tingkat kecukupan zat besi 26 Sebaran rata-rata tingkat kecukupan vitamin A 27 Sebaran rata-rata tingkat kecukupan vitamin C 28 Sebaran remaja putri berdasarkan status anemia 29 Hasil uji korelasi Spearman body image dengan konsumsi pangan 9 10 10 12 13 13 14 14 15 16 17 18 18 19 20 20 21 21 23 24 24 25 25 26 27 27 28 29 30 DAFTAR GAMBAR 1 Kerangka pemikiran 2 Skala body image 4 17 .

5% remaja putri merasa tidak puas terhadap bentuk tubuhnya saat ini. Usaha yang dilakukannya untuk bentuk tubuh yang diinginkannya seperti melakukan diet dengan mengurangi konsumsi makanannya. Salah satu aspek psikologis dari perubahan fisik di masa pubertas adalah remaja menjadi sangat memperhatikan tubuh (body image) mereka dan membangun citranya sendiri mengenai bagaimana tubuh mereka tampaknya dan hal ini dipengaruhi oleh lingkungan di sekitar mereka (Arisman 2004). mungkin karena lemak tubuhnya bertambah. 2002). Hasil penelitian Marasabessy juga menyatakan bahwa hanya terdapat 12. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Marasabessy (2006) yang menyatakan bahwa sebagian besar remaja tidak puas dengan bentuk tubuhnya. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Siswanti (2007) dan Isnani (2011). sedangkan remaja putra menjadi lebih puas dengan memasuki masa pubertas. serta perasaan cemas terhadap tubuh dan perilaku yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh remaja karena tidak nyaman dengan tubuhnya (Abramson 2007). Body image atau sering disebut dengan citra tubuh adalah “gambar mental” yang dimiliki oleh seorang remaja terhadap tubuhnya. Penampilan fisik merupakan suatu kontributor yang sangat berpengaruh pada rasa percaya diri remaja (Santrock 2003). Pada masa ini. .5% remaja putri yang memiliki persepsi tubuh negatif. remaja putri seringkali menjadi lebih tidak puas dengan keadaan tubuhnya.6% dari remaja putri yang melakukan diet dan penelitian di Asia yang dilakukan di Jepang juga menunjukkan dampak dari perilaku diet penurunan berat badan yaitu 72. dan perkembangan psikososial pada masa remaja (Sztainer et al.9% remaja putri melakukan diet (Suka et al. Berbagai penelitian mengenai perilaku diet sudah banyak dilakukan dan hasil penelitian pada remaja putri menunjukkan perilaku diet tersebut akan berdampak pada gangguan pertumbuhan fisik kekurangan gizi. (2008) terhadap mahasiswa di Amerika Serikat menyebutkan bahwa 5. pengalaman tubuh termasuk persepsi terhadap ukuran tubuh. Masa remaja berawal pada usia 9 sampai 10 tahun dan berakhir di usia 18 tahun. remaja mengalami pubertas dan perkembangan tubuh atau perubahan fisik yang drastis. Banyak remaja putri yang merasa tidak puas dengan penampilan dirinya. Sebanyak 87. mungkin karena masa otot mereka meningkat. Penelitian yang dilakukan oleh Wharton et al. 2002). Remaja putri lebih kurang puas dengan keadaan tubuhnya dan memiliki lebih banyak citra tubuh (body image) yang negatif dibandingkan dengan remaja putra selama masa pubertas. seperti: perasaan dan pikiran subjektif tentang tubuh dan anggota tubuh.PENDAHULUAN Latar Belakang Remaja merupakan salah satu sumberdaya manusia yang harus diperhatikan karena remaja sebagai generasi penerus bangsa yang berperanan penting dalam pembangunan nasional di masa yang akan datang. Juga sejalan dengan berlangsungnya perubahan pubertas. yang menyatakan bahwa sebagian besar remaja putri memiliki persepsi tubuh negatif atau memiliki persepsi bahwa tubuhnya belum ideal masing-masing sebesar 60%.

status gizi dan pengetahuan gizi pada remaja putri . Mengidentifikasi konsumsi pangan pada remaja putri 6. Mengidentifikasi karakteristik keluarga meliputi: besar keluarga. Mengidentifikasi status anemia pada remaja putri 8. Penyebab utama anemia gizi besi di Indonesia adalah rendahnya asupan besi.2 Kejadian anemia juga sering terjadi pada remaja. terutama remaja putri yang sekolah atau kuliah. Menganalisis hubungan body image dengan perilaku diet. Menurut Riskesdas (2007) angka anemia perempuan di DKI yaitu 13. Diet yang berlebihan dengan membatasi konsumsi makanannya akan mempengaruhi status gizi pada remaja. Penelitian yang dilakukan oleh Nirmala (2005) pada remaja putri di pondok pesantren di Surabaya didapatkan bahwa ada pengaruh pola makan remaja putri terhadap kejadian anemia. pendidikan orangtua. Menganalis hubungan tingkat kecukupan zat besi dengan anemia dan status gizi dengan status anemia Hipotesis Penelitian 1. Pada remaja putri. Salah satu usaha tersebut adalah dengan melakukan diet. Mengidentifikasi persepsi body image pada remaja putri 4. Mengidentifikasi perilaku diet pada remaja putri 5. anemia dapat menyebabkan penurunan prestasi belajar dan aktivitas fisik (Dillon 2005). status gizi dan pengetahuan gizi pada remaja putri 9. Adanya hubungan antara body image dengan konsumsi pangan. Para remaja melakukan berbagai usaha agar mendapatkan tubuh yang ideal sehingga terlihat menarik.6%. konsumsi pangan. pekerjaan orangtua dan pendapatan orangtua 3. konsumsi pangan dan status gizi pada remaja putri di perkotaan dan di perdesaan. konsumsi pangan dan status gizi pada remaja putri di perkotaan dan di perdesaan. Tujuan Khusus Tujuan khusus penelitian ini antara lain: 1. Tujuan Penelitian Tujuan Umum Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan body image dengan perilaku diet. Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah bahwa peneliti ingin melihat hubungan body image dengan perilaku diet. Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa perhatian terhadap persepsi body image sangat kuat terjadi pada masa remaja. Mengindentifikasi karakteristik remaja putri meliputi: umur dan pengetahuan gizi 2. Mengidentifikasi status gizi pada remaja putri 7. Pembatasan konsumsi jenis makanan tertentu atau mempunyai kebiasaan diet tidak terkontrol dengan tujuan untuk mendapatkan tubuh yang ideal (langsing) sering terjadi pada remaja putri. perilaku diet.

3 2. 2007). Remaja menginginkan agar tubuhnya tetap menarik dan indah dipandang mata (berat badan dan tinggi badan yang ideal) seringkali mengubah perilaku makannya. Hal ini karena dengan perubahan perilaku makan akan mengakibatkan pertumbuhan yang terhambat dan menurunnya status gizi dan menyebabkan terjadi anemia pada remaja. Salah satu cara yaitu remaja melakukan diet agar tubuhnya sesuai dengan yang diinginkannya. Pola konsumsi pangan dalam hal frekuensi. dan penampilan umum (Cash 2002). 2010). . Tingkat kecukupan adalah konsumsi zat gizi aktual dibandingkan dengan konsumsi zat gizi standar yang sesuai dengan kebutuhan individu per hari menurut WNPG (2004) yang dipresentasikan dalam persen. Adanya hubungan antara status anemia dengan tingkat kecukupan zat besi dan status gizi pada remaja putri Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi atau peningkatan pengetahuan gizi bagi remaja. Diet ketat yang dilakukan tanpa pengawasan dokter atau pengetahuan yang tidak cukup akan membahayakan kesehatan remaja. Selain itu. Diet ketat selama remaja biasanya disebabkan perilaku makan yang tidak sehat seperti makan berlebihan. Diet yang berlebihan dengan membatasi konsumsi makanannya akan mengakibatkan berat badan tubuh menjadi menurun dan pertumbuhan pun terhambat. KERANGKA PEMIKIRAN Remaja seringkali mengalami gangguan makan yang ditandai dengan perubahan perilaku makan menjadi kurang baik. persepsi tentang bentuk tubuh (body image) dan pengaturan berat badan yang kurang tepat (Ando et al. Konsep body image negatif pada remaja umumnya menjadikan remaja cenderung menghalalkan berbagai cara untuk memperoleh penampilan fisik yang menarik. memberikan informasi mengenai berbagai hal yang terkait dengan body image. Dalam studi yang dilakukan pada remaja putri di Turki menunjukkan bahwa remaja tidak memiliki pola makan yang sehat (Akman et al. Body image didefinisikan sebagai derajat kepuasan individu terhadap dirinya secara fisik yang mencakup ukuran. Perilaku diet ini akan berpengaruh terhadap perubahan status gizi remaja itu sendiri. bentuk. hal ini dikarenakan remaja putri lebih memperhatikan bentuk tubuhnya sehingga takut akan kenaikan berat badan. menggunakan obat pencahar dan sebagainya. Konsep body image yang sudah melekat pada diri seorang remaja putri diduga akan berhubungan dengan perilaku makan dan perilaku sehatnya. memuntahkan makanan. Pada remaja putri kerap kali melakukan perilaku diet untuk menurunkan berat badannya. sehingga remaja pada umumnya tidak melakukan hal yang menyimpang apabila mereka ingin memiliki ukuran tubuh yang mereka idamkan dan dapat mengetahui cara menjaga tubuh. jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi berhubungan dengan tingkat konsumsi pangan.

dan pendapatan orangtua.4 Keadaan sosial ekonomi keluarga remaja yang diteliti dalam penelitian ini meliputi besar keluarga. Besar keluarga juga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan individu karena berpengaruh terhadap pengeluaran rumah tangga. Pendidikan yang tinggi akan memberikan peluang yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan yang baik yang akhirnya akan menentukan tingkat pendapatan orangtua. konsumsi pangan dan status gizi pada remaja putri. Uraian di atas dapat disajikan dalam suatu bagan yang menyajikan hubungan pengetahuan gizi dan body image dengan perilaku diet. Karakteristik remaja putri:  Usia  Pengetahuan gizi Teman sebaya Karakteristik keluarga:  Besaran keluarga  Pendidikan orangtua  Pekerjaan orangtua  Pendapatan orangtua Body Image:  Penilaian terhadap bentuk tubuh  Penilaian terhadap bentuk tubuh ideal  Jenis penilaian persepsi body image : positif dan negatif Konsumsi Pangan Status anemia Media Perilaku Diet Status gizi: IMT/U Gambar 1 Kerangka pemikiran Keterangan: = Variabel yang diteliti = Variabel yang tidak diteliti = Hubungan yang diteliti = Hubungan yang tidak diteliti . Semakin tinggi pendidikan orangtua remaja maka akan memungkinkan orangtua memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap suatu hal termasuk konsumsi pangan keluarga yang bergizi. pendidikan orangtua. pekerjaan orangtua. Pendapatan termasuk penentu baik atau buruknya keadaan gizi seseorang atau sekelompok orang karena merupakan faktor langsung yang menentukan kualitas dan kuantitas pangan yang dikonsumsi.

berat badan dan tinggi badan). Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai Mei 2013. status gizi dan status anemia. Penelitian dilakukan dengan pengisian kuesioner. Data karakteristik keluarga (besar keluarga. Jumlah dan Cara Penarikan Remaja Contoh pada penelitian ini adalah remaja putri siswi kelas X di 2 SMA kota dan desa.5 METODE Desain. c. Jumlah remaja yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 104 yang terdiri 26 remaja putri dari masing-masing sekolah. pengetahuan gizi. karakteristik sosial ekonomi (besar keluarga. Dua SMA di kota yaitu SMAN 38 Jakarta dan SMAN 109 Jakarta sedangkan dua di SMA Desa yaitu SMAN 01 Jasinga dan SMK Giri Taruna Jasinga. SMAN 109 Jakarta. Jenis data sekunder yang dikumpulkan adalah: a. pendidikan orangtua. b. Informasi ini diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner yang ditujukan pada remaja putri. . perilaku diet. Metode yang digunakan dalam penarikan remaja adalah dengan metode Cluster Random Sampling. Alasan menggunakan metode ini karena yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah remaja putri kelas X yang terdiri atas 4 SMA. Penelitian ini dilakukan di 2 SMA kota dan desa yang terdiri atas SMAN 38 Jakarta. Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan adalah data sekunder. Data persepsi body image diperoleh dengan wawancara langsung dengan alat bantu kuesioner. Data pengetahuan gizi diperoleh dengan wawancara langsung dengan alat bantu kuesioner. d. 2013). Hal ini dengan pertimbangan bahwa siswi kelas X merupakan siswi-siswi yang baru masuk dan mulai beradaptasi dengan sekolah dan teman-temannya. pendidikan orangtua. konsumsi pangan. maka sampel diambil dari masing-masing SMA dengan proporsi sama. pekerjaan orangtua dan pendapatan orangtua) diperoleh dengan wawancara langsung dengan alat bantu kuesioner. Desain penelitian ini adalah cross sectional study yaitu seluruh variabel diamati pada saat yang bersamaan ketika penelitian berlangsung. Tempat dan Waktu Penelitian ini menggunakan sebagian data dari penelitian yang berjudul “Lifestyle and Nutrition Aspect of Rural and Urban Adolescents” (Gaya Hidup dan Status Gizi pada Remaja di Perdesaan dan Perkotaan) yang disponsori oleh Neys-van Hoogstraten Foundation (NHF) The Netherlands (Dwiriani et al. Data sekunder meliputi karakteristik remaja (umur. Data karakteristik remaja (umur) diperoleh dengan wawancara langsung dengan alat bantu kuesioner. persepsi body image. SMAN 01 Jasinga dan SMK Giri Taruna Jasinga. pekerjaan orangtua dan pendapatan orangtua).

Persepsi tentang body image menggunakan kuesioner yang berisi 14 pertanyaan mengenai penilaian tubuh aktual. Rp 1 500 000 . cleaning dan analisis. coding. h. dan kemudian dilakukan cleaning data untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam memasukkan data. cara untuk mengurangi berat badan dan makanan yang dihindari bila sedang berdiet. remaja diminta untuk memilih gambar yang menunjukkan gambar tubuh aktual remaja dan gambar tubuh ideal. Selanjutnya dilakukan entri data berdasarkan kode yang telah dibuat. dan keluarga besar (>7 orang).Rp 3 000 000. Karakteristik remaja dan keluarga remaja dianalisis secara deskriptif. ideal dan jenis persepsi body image remaja putri terhadap tubuhnya. Data perilaku diet diperoleh dengan wawancara langsung dengan alat bantu kuesioner. SMA dan Perguruan Tinggi. Data status gizi meliputi berat badan dan tinggi badan yang diperoleh melalui pengukuran secara langsung. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur berat badan yaitu timbangan injak dan alat ukur tinggi badan yaitu microtoise. Alat ukur yang digunakan adalah gambar siluet tubuh yang dikembangkan oleh Stunkard (1983) yang digunakan pada penelitian Bulik et al. PNS/Polisi/ABRI. Bila menjawab benar diberi skor 1. Kategori pengetahuan gizi tingkat rendah bila skor <60%. jasa (penjahit. entry. buruh. karyawan swasta. wiraswasta/pedagang. yaitu keluarga kecil (≤4 orang). normal dan gemuk. Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data yang dilakukan meliputi editing. . Besar keluarga menurut BKKBN (2009) dikategorikan menjadi tiga. Coding dilakukan dengan cara menyusun code book sebagai panduan entri dan pengolahan data. Penilaian aktual terhadap tubuhnya dibagi dalam tiga kategori yaitu kurus. SMP. SD. Data perilaku diet diukur dengan 10 pertanyaan tentang pernah atau tidak melakukan diet sebelumnya. (2001). Berdasarkan gambar tersebut. f. kategori pengetahuan gizi tingkat sedang bila skor 60-80% dan kategori pengetahuan gizi tingkat tinggi bila skor > 80% (Khomsan 2000). Penilaian pengetahuan gizi dilakukan dengan memberi skor. Data status anemia diperoleh melalui pengukuran secara langsung dengan menggunakan alat hemocue. g. Hubungan uji beda dianalisis menggunakan Independent Sample t–test dan Mann Whitney dan hubungan antar variabel dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Umur remaja dilihat berdasarkan tanggal lahir remaja. Data diolah serta dianalisis secara deskriptif dan inferesia dengan menggunakan program komputer Microsoft Excell 2007 dan program SPSS 16. Pekerjaan orangtua dikategorikan menjadi tujuh macam yaitu: tidak bekerja (ibu rumah tangga). Siluet ini memuat sembilan gambar wanita. sedangkan untuk jawaban salah diberi skor 0 sehingga skor total minimum 0 dan maksimum adalah 20.6 e. Pengetahuan gizi diukur dengan 20 pertanyaan tentang remaja pangan sumber zat gizi tertentu. keluarga sedang (5-7 orang). Data konsumsi pangan dikumpulkan dengan cara recall 2x24 jam. Rp 3 000 000 – Rp 5 000 000 dan > Rp 5 000 000.0 for Windows. Pendidikan orangtua dikategorikan menjadi lima kategori yaitu tidak sekolah. salon) dan lainnya. Pendapatan orangtua dikategorikan menjadi empat yaitu ≤ Rp 1 500 000.

7 Data konsumsi pangan berupa jenis dan jumlah makanan dalam gram/URT diolah dengan menggunakan Aplikasi Analisis Konsumsi Pangan. Secara umum tingkat kecukupan zat gizi dapat dirumuskan sebagai berikut: TKGi = (Ki/ AKGi) x 100% Keterangan: TKGi = Tingkat kecukupan zat gizi i Ki = Konsumsi zat gizi i AKGi = Kecukupan zat gizi i yang dianjurkan (Sumber : Hardinsyah & Briawan 1994) Pengkategorian tingkat kecukupan zat gizi makro untuk energi dan protein menurut Departemen Kesehatan (1996) adalah defisit tingkat berat (<70%). lemak. TKVit A dan TKVit C dihitung tanpa menggunakan koreksi berat badan melainkan dengan membandingkan konsumsi zat gizi dengan angka kecukupan gizi (AKG) berdasarkan WNPG VIII (2004) sesuai dengan usia dan jenis kelamin. Angka kecukupan zat gizi yang digunakan mengacu pada angka kecukupan gizi yang dianjurkan menurut Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII tahun 2004. Adapun rumus umum yang digunakan untuk mengetahui kandungan zat gizi makanan yang dikonsumsi adalah : KGij = (Bj/100) x Gij x (BDDj/100) Keterangan : Kgij = Penjumlahan zat gizi i dari setiap bahan makanan/pangan yang dikonsumsi Bj = Berat bahan makanan j (gram) Gij = Kandungan zat gizi i dari bahan makanan j BDDj = % bahan makanan j yang dapat dimakan (Sumber : Hardinsyah & Briawan 1994) Tingkat kecukupan zat gizi dalam penelitian ini diperoleh dari perbandingan asupan zat gizi contoh dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Pada penelitian ini pengkategorian tingkat kecukupan lemak dan karbohidrat menggunakan WNPG VIII (2004) yaitu lemak 20-30% dan karbohidrat 55-60%. protein dan lemak merupakan tahap lanjutan dari penghitungan konsumsi pangan. Tingkat kecukupan vitamin dan mineral <77% AKG tergolong kurang dan ≥ 77% tergolong cukup (Gibson 2005). vitamin A. normal (90–119%) dan lebih (≥120%). defisit tingkat sedang (70–79%). karbohidrat. protein. Jumlah makanan dalam bentuk gram/URT kemudian dikonversi dengan menggunakan Daftar Konsumsi Bahan Makanan. Data konsumsi pangan hewani selama 2 hari yang dikonsumsi dihitung zat gizinya menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) lalu dirata- . defisit tingkat ringan (80–89%). Perhitungan untuk AKG contoh yang menggunakan konversi terhadap berat badan. vitamin C dan zat besi. Tingkat kecukupan konsumsi merupakan persentase konsumsi aktual siswa dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan berdasarkan WNPG tahun 2004. TKFe. dengan rumus: AKG Contoh = Berat badan aktual (kg) x AKG Berat badan dalam daftar AKG Pengukuran tingkat kecukupan energi. Kemudian dilakukan perhitungan tingkat kecukupan gizi untuk energi.

Perilaku diet adalah usaha sadar seseorang dalam membatasi dan mengontrol makanan yang akan dimakan dengan tujuan untuk mengurangi dan mempertahankan berat badan Konsumsi Pangan adalah jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi remaja dalam satu hari yang diukur dengan metode Recall 2x24 jam serta dihitung jumlahnya zat gizinya (energi. Besar keluarga dikategorikan sebagai keluarga besar. Pengetahuan gizi adalah pemahaman remaja tentang ilmu gizi. Menurut WHO (2007) klasifikasi status gizi dengan menggunakan IMT/U terdiri atas sangat kurus (Z <-3 SD).8 ratakan. dan kecil. Diet adalah program mengurangi konsumsi makanan sampai mencapai berat badan yang diinginkan. Penentuan status gizi menggunakan data Indeks Massa Tubuh (IMT) berdasarkan berat badan dan tinggi badan.33% dari total protein yang dibutuhkan dalam sehari. normal (-2 SD < Z ≤+1 SD). Penilaian tubuh aktual adalah mengenai bagaimana contoh menilai bentuk tubuhnya saat ini dan dikategorikan menjadi kurus. sedang. Persepsi body image positif adalah suatu persepsi dimana penilaian terhadap bentuk tubuh aktual sesuai dengan status gizinya. Pendapatan adalah jumlah pendapatan per bulan yang dihasilkan dari pendapatan kepala keluarga dibagi dengan besar keluarga dinilai dalam satuan rupiah. Pekerjaan adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan mengharapkan upah atau imbalan. gemuk. vitamin C. sedangkan kategori tidak cukup yaitu apabila konsumsi protein hewani kurang dari sepertiga bagian atau 33.33% dari total protein yang dibutuhkan dalam sehari. Persepsi body image negatif adalah suatu persepsi dimana penilaian terhadap bentuk tubuh aktual tidak sesuai dengan status gizinya. Remaja dikatakan anemia jika kadar Hb < 12 g/dL darah. Body Image adalah gambaran seseorang terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya. Kategori cukup yaitu apabila konsumsi protein hewani telah mencapai sepertiga bagian atau 33. gemuk (+1 SD < Z < +2 SD). Instrumen yang digunakan adalah kuesioner body image. Besar keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. protein. dan penggunaan zat gizi makanan. dan zat besi). Status anemia remaja adalah keadaan kadar Hb remaja yang menunjukkan kondisi remaja anemia dan non anemia. . obesitas (Z >+2 SD). Status gizi remaja diukur berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U) yang dihitung berdasarkan data antropometri berat badan dan tinggi badan siswi. kurus (-3 SD ≤ Z < -2 SD). Konsumsi protein hewani dibedakan menjadi cukup dan tidak cukup. Kriteria anemia menurut WHO (2001) untuk batas normal yaitu wanita dewasa 12 g/dl. penyerapan. zat gizi dan interaksi antara zat gizi terhadap status gizi dan kesehatan. DEFINISI OPERASIONAL Remaja putri adalah siswi kelas X SMA yang bersedia mengisi kuesioner. Status Gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau kelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. ideal.

SMAN 01 Jasinga dan SMK Giri Taruna Jasinga.2 15 28.8 44. SMAN 109 Jakarta. Menurut Hurlock (2004). Hasil uji beda menggunakan Mann Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara usia remaja putri di SMA kota dan SMA desa. Remaja putri dalam penelitian ini termasuk dalam kategori usia remaja awal yaitu 15 sampai 16 tahun. Tabel 1 memperlihatkan bahwa remaja di SMA kota sebagian besar berusia 15 tahun dan di SMA desa sebagian besar berusia 16 tahun. Pengetahuan gizi sangat erat kaitannya dengan baik buruknya kualitas gizi dalam makanan yang dikonsumsi.2 100 (p=0.4 31 59. Terdapat 20 buah pertanyaan pilihan berganda.8 52 100 SMA desa N % 21 40. remaja dibagi menjadi dua yaitu remaja awal (13 sampai 17 tahun) dan remaja akhir (18 sampai 21 tahun). Hal ini jika dengan pengetahuan yang benar mengenai gizi. Usia Usia remaja merupakan masa transisi dari usia anak-anak menjadi dewasa.002) Pengetahuan Gizi Pengetahuan gizi adalah kemampuan seseorang untuk mengingat kembali kandungan gizi makanan serta kegunaan zat gizi tersebut dalam tubuh (Camire & Dougherty 2005). Hal tersebut mungkin disebabkan karena adanya kecenderungan untuk menyekolahkan anak di perkotaan lebih cepat. Khomsan (2000) mengkategorikan tingkat pengetahuan gizi menjadi 3 bagian. maka orang akan tahu dan berupaya mengatur pola makannya dengan seimbang. Pengetahuan gizi remaja putri diukur dari kemampuan remaja dalam menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan gizi secara umum yang disiapkan dalam kuesioner. beragam. tidak kekurangan dan tidak berlebihan. Pertanyaanpertanyaan tersebut masing-masing diberi skor kemudian dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu kurang. Usia remaja di perkotaan lebih muda dibandingkan dengan usia remaja di perdesaan. yaitu tingkat pengetahuan rendah . Remaja putri dalam penelitian ini berjumlah 104 remaja dengan masing-masing sekolah 26 orang. Tabel 1 Sebaran remaja putri berdasarkan usia Usia 15 tahun 16 tahun Total SMA kota n % 37 71. Hal ini karena remaja putri yang diambil pada penelitian ini termasuk dalam remaja yang sedang duduk di kelas X SMA. sedang dan besar. Secara keseluruhan rata-rata usia di keempat sekolah yaitu remaja putri berada pada usia 15 tahun.6 52 100 Total n 58 46 104 Uji beda % 55. Karakteristik remaja putri yang diamati meliputi usia dan pengetahuan gizi.9 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Remaja Putri Contoh dalam penelitian ini adalah siswa remaja putri kelas X SMAN 38.

9 38 73. 6. 2. Secara keseluruhan rata-rata tingkat pengetahuan gizi remaja putri adalah sedang.6 15 14. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan gizi remaja putri di SMA kota lebih baik dibandingkan dengan remaja putri di SMA desa. Nilai skor rata-rata tingkat pengetahuan gizi remaja putri di SMA kota lebih besar dibandingkan dengan remaja putri di SMA desa.08 SMA desa n % 26 50 24 46.000 46 88. Tabel 3 menjelaskan mengenai persentase jawaban dari setiap pertanyaan yang dapat dijawab benar oleh remaja putri.5 48 92.73 Total n % 27 26 62 59.10 (<60%).8 49 42 20 94.000 52 100 39 75 0.020 50 51 42 96.1 13 25 52 100 55-95 75. Berapa banyak sebaiknya air diminum setiap hari (8 gelas) Yang tidak termasuk zat gizi adalah (boraks) Akibat tidak sarapan (kurang konsentrasi) Dampak kelebihan gizi adalah (badan semakin gemuk) Konsumsi energi yang berlebih akan di simpan dalam bentuk (lemak) Kebiasaan makan yang dapat membuat seseorang menjadi gemuk (ngemil gorengan) Obesitas atau kegemukan dapat terjadi pada (semua umur) Pertumbuhan tinggi badan paling cepat terjadi pada usia (10-13 tahun) Pada remaja yang kegemukan. 5. 7.000 48 92.5 Uji beda p 0. 9.004 0.2 2 3.9 0. 8.511 52 100 28 53.8 52 100 30-85 61.67±9. Tabel 2 Sebaran remaja putri berdasarkan pengetahuan gizi Tingkat pengetahuan gizi Kurang (< 60%) Sedang (60-80%) Baik (>80%) Total Min-Max X±SD SMA kota n % 1 1.3 SMA desa n % 45 86.1 80. pembatasan konsumsi makanan sebaiknya dilakukan dengan cara (mengurangi konsumsi lemak) SMA kota n % 35 67.8 38. Nilai minimal.2 80. Tabel 3 Sebaran remaja putri berdasarkan jawaban yang benar dari pertanyaan tentang pengetahuan gizi Pengetahuan gizi 1. sedang (60-80%) dan tinggi (80%). maksimal dan rata-rata lebih tinggi pada remaja putri di SMA kota dibandingkan remaja putri di SMA desa.2 47 90.000 24 46.06±12.4 104 100 Uji beda (p=0.3 27 51. 3.8 0. Hasil uji beda menggunakan Independent Sample t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara tingkat pengetahuan gizi remaja putri di SMA kota dan SMA desa.3 0.4 0.5 0. 4. Berikut Tabel 2 menunjukkan hasil sebaran remaja putri berdasarkan tingkat pengetahuan gizi.000) Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa sebagian remaja putri di SMA kota memiliki tingkat pengetahuan gizi sedang dan di SMA desa memiliki tingkat pengetahuan gizi kurang.2 98.651 0.000 .

tempe. pertumbuhan tinggi badan paling cepat terjadi pada usia berapa.5 0.000 51 98.000 7 13.7 98. 18.1 11 35 21. Tingkat pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam memilih makanan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada keadaan gizi seseorang.3 90.1 23 44. Secara keseluruhan remaja putri dapat menjawab dengan benar yaitu pertanyaan tentang apa saja yang tidak termasuk zat gizi dan hasil uji beda menunjukkan tidak terdapat perbedaan remaja dalam menjawab pertanyaan tersebut. 12.2 0. 11. makanan yang mengandung vitamin A. Individu .7 7 13.094 40 12 76. 2007). dampak kelebihan gizi. 16. cara remaja yang mengalami kegemukan dalam membatasi konsumsi makannya.3 0.2 0.1 0.003 48 92. Pertanyaan tentang akibat tidak sarapan. Remaja putri lebih mudah mengalami kurang darah/anemia dibanding remaja putra. 20. 19. kelompok protein nabati. susu kedelai) Kandungan vitamin C yang paling tinggi terdapat dalam (jambu biji) Pangan sumber karbohidrat (ubi jalar) Berdasarkan sumbernya lemak ada dua macam.4 0.006 43 51 82. sumber protein dan fungsi iodium lebih banyak menjawab benar pada remaja putri di SMA kota dibandingkan di SMA desa dan hasil uji beda menunjukkan terdapat perbedaan remaja yang menjawab benar pertanyaan-pertanyaan tersebut. makanan yang terdapat kandungan vitamin C yang paling tinggi dan manfaat vitamin A lebih banyak menjawab benar pada remaja putri di SMA desa dibandingkan di SMA kota dan hasil uji beda menunjukkan terdapat perbedaan remaja yang menjawab benar pertanyaan-pertanyaan tersebut.1 40 47 33. 15. Semakin tinggi tingkat pengetahuan gizi seseorang diharapkan semakin baik pula keadaan gizinya (Khomsan et al. obesitas atau kegemukan dapat terjadi pada usia berapa. 17.6 0.5 19 36.8 Uji beda p 0.4 31 59.1 12 23. ikan. kebiasaan makan yang dapat membuat seseorang menjadi gemuk. karena (remaja putri mengalami haid setiap bulan) Kelompok protein nabati (tahu. kacang. tempe.5 0.9 23. dan telur adalah sumber (protein) Zat gizi yang tidak berfungsi sebagai sumber tenaga (vitamin) Iodium berfungsi untuk mencegah penyakit (gondok) Karbohidrat dan lemak disebut juga sebagai zat (zat tenaga) SMA kota n % 39 75 SMA desa n % 42 80.3 23 44.2 67. Pertanyaan tentang konsumsi air minum dalam sehari lebih.000 0.469 0. 13. 14.697 Tabel 3 menunjukkan bahwa secara keseluruhan persentase remaja yang menjawab benar lebih banyak pada remaja putri di SMA kota dibandingkan remaja putri di SMA desa.11 Tabel 3 Sebaran remaja putri berdasarkan jawaban yang benar dari pertanyaan tentang pengetahuan gizi (lanjutan) Pengetahuan gizi 10.000 47 90.000 25 48. yaitu (lemak nabati dan lemak hewani) Vitamin A banyak terdapat pada (bayam) Vitamin A bermanfaat untuk (kekebalan tubuh) Tahu.260 43 82.

2 52 100 n 35 56 13 104 Total % 33. ibu. dan emosi yang paling rapat dengan individu sejak dia dilahirkan (Luddin A 2010). sosial. anak. Besarnya keluarga dapat mempengaruhi belanja pangan.000) Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa secara keseluruhan baik remaja putri di SMA kota maupun di SMA desa sebagian besar memiliki keluarga sedang yang terdiri atas 5-7 orang. Remaja putri di SMA kota yang memiliki keluarga kecil lebih banyak dibandingkan dengan remaja putri di SMA desa. masih banyak individu yang tidak menerapkan pengetahuan gizinya tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehingga masih adanya kecenderungan individu tersebut mengalami kurang gizi bahkan gizi lebih. Hal ini dapat disebabkan karena besarnya anggota keluarga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan individu.12 dengan pengetahuan gizi yang baik akan mempunyai kemampuan untuk menerapkan pegetahuan gizinya dalam pemiihan maupun pengetahuan pangan.2 30 57. Besar keluarga menurut BKKBN (2009) dikategorikan menjadi tiga. Pendidikan Orangtua Tingkat pendidikan orangtua yang baik akan memungkinkan orangtua dapat memantau dan menerima informasi tentang kesehatan anaknya. besar keluarga akan mempengaruhi pengeluaran rumah tangga. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka diasumsikan bahwa kemampuannya . dan keluarga besar (>7 orang).2 26 50 2 3.8 12. Pendapatan perkapita dan belanja pangan akan menurun sejalan dengan meningkatnya jumlah anggota keluarga. dan anggota keluarga lain yang hidup dari pengelolaan sumberdaya yang sama. Besar keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang terdiri atas ayah. Karakteristik Keluarga Remaja Besar Keluarga Keluarga adalah mereka yang mempunyai hubungan fisik. Sementara itu untuk kategori keluarga besar (>7 orang) lebih banyak pada remaja putri SMA desa dibandingkan remaja putri SMA kota. keluarga sedang (5-7 orang). Hasil uji beda menggunakan Mann Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara besar keluarga remaja putri di SMA kota dan SMA desa.8 52 100 SMA desa n % 11 21.7 53. Sebaran remaja putri berdasarkan besar keluarga dapat dilihat pada Tabel 4. Menurut Sanjur (1982). Akan tetapi. Tabel 4 Sebaran remaja putri berdasarkan besar keluarga Besar keluarga Kecil (≤4 orang) Sedang (5-7 orang) Besar (>7 orang) Total SMA kota N % 24 46.5 100 Uji beda (p=0.7 11 21. yaitu keluarga kecil (≤4 orang). Hal ini dapat dikatakan semakin tinggi tingkat pengetahuan gizi seseorang maka semakin baik pula tingkat kesehatan dan gizi seseorang. Semakin besar keluarga maka semakin kecil peluang terpenuhinya kebutuhan individu.

13 akan semakin baik dalam mengakses dan menyerap informasi demi memenuhi kebutuhan gizinya (Isnani 2011). SMP.8 3 5. Berikut sebaran remaja putri berdasarkan tingkat pendidikan orangtua.2 9.5 2 3. Menurut Hardinsyah (2000). Secara keseluruhan rata-rata pendidikan ayah remaja putri sampai SMA. tingkat pendidikan terakhir ibu contoh merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pola asuh anak termasuk status gizi.3 20 38. Campbell (2002) dalam Marzuki (2006) menyatakan bahwa ibu yang berpendidikan tinggi cenderung akan memberikan makanan yang sehat kepada anaknya.5 9 17.9 34. Hal ini karena pendidikan ibu sangat penting dalam mendidik anakanak dalam keluarganya. orang yang memiliki . Secara keseluruhan rata-rata tingkat pendidikan ibu remaja putri sampai SD.8 21 40.5 9 17.6 11. Tabel 5 Sebaran remaja putri berdasarkan tingkat pendidikan ayah Pendidikan ayah Tidak sekolah SD SMP SMA Perguruan Tinggi Total SMA kota n % 0 0 2 3.000) Tabel 5 menunjukkan bahwa remaja putri di SMA kota sebagian besar memiliki ayah yang berpendidikan sampai perguruan tinggi sedangkan di SMA desa lebih banyak memiliki ayah yang berpendidikan sampai SMA. Tabel 6 Sebaran remaja putri berdasarkan tingkat pendidikan ibu Pendidikan ibu Tidak sekolah SD SMP SMA Perguruan Tinggi Total SMA kota n % 0 0 3 5.6 31 59.1 52 100 SMA desa n % 3 5. Remaja putri SMA kota tidak memiliki ayah yang tidak sekolah. Hal ini menujukkan bahwa pendidikan ibu remaja putri di SMA kota lebih tinggi dibandingkan pendidikan ibu remaja di SMA desa.8 52 100 n 2 21 10 38 33 104 Total % 1. sedangkan di SMA desa memiliki ayah yang tidak sekolah.5 31. sedangkan ibu yang berpendidikan rendah akan cenderung memberikan makanan yang enak tetapi kurang sehat.8 1 1.000) Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui remaja putri di SMA kota lebih banyak memiliki ibu yang berpendidikan sampai perguruan tinggi sedangkan di SMA desa lebih banyak memiliki ibu yang berpendidikan sampai SD.6 36.9 20.4 25 48. Hasil uji beda menggunakan Mann Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara pendidikan ibu remaja putri di SMA kota dan SMA desa. Hasil uji beda menggunakan Mann Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara pendidikan ayah remaja putri di SMA kota dan SMA desa.6 52 100 SMA desa n % 2 3.5 26 25 100 Uji beda (p= 0.9 52 100 n 3 36 12 27 26 104 Total % 2. SD.8 33 63. Pendidikan orangtua remaja meliputi pendidikan ayah dan pendidikan ibu. Menurut Rahmawati (2006).3 6 11.9 18 34. Pendidikan orangtua dikategorikan menjadi lima kategori yaitu tidak sekolah.8 19 36.5 1 1. SMA dan Perguruan Tinggi.7 100 Uji beda (p=0.

semakin . reparasi) Lainnya Total SMA kota n % 1 1.9 0 0 0 0 10 19.9 5 9.14 pendidikan yang tinggi cenderung untuk memilih bahan makanan yang baik daripada mereka yang berpendidikan rendah. Berikut sebaran remaja putri berdasarkan pekerjaan orangtua.7 8 7. Secara keseluruhan rata-rata ayah remaja putri bekerja sebagai wiraswasta/pedagang.9 15 14.7 104 100 Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui remaja putri di SMA kota lebih banyak memiliki ayah yang bekerja sebagai karyawan swasta sedangkan di SMA desa lebih banyak memiliki ayah yang bekerja sebagai buruh. Pekerjaan Orangtua Jenis pekerjaan yang dimiliki seseorang merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas makanan karena jenis pekerjaan memiliki hubungan dengan pendapatan yang diterima (Soehardjo 1989).3 (p=0.salon) Lainnya Total SMA kota n % 29 55. jasa (penjahit.6 5 9. PNS/Polisi/ABRI.2 1 1.5 6 5.9 10 19.7 0 0 52 100 Total n % 66 63.2 4 7.7 0 0 13 12. Pengetahuan gizi menjadi landasan yang menentukan konsumsi pangan.6 16 30.4 27 26 19 18.9 9 8.4 8 15.9 104 100 Uji beda (p=0.7 52 100 Total Uji beda n % 3 2.031) 28 26.359) Tabel 8 dapat diketahui bahwa secara keseluruhan baik remaja putri di SMA kota maupun di SMA desa sebagian besar memiliki ibu yang berperan sebagai ibu rumah tangga (IRT). Menurut Soehardjo (1989). Tabel 7 Sebaran remaja berdasarkan pekerjaan ayah Pekerjaan ayah Tidak bekerja PNS/Polisi/ABRI Karyawan swasta Buruh Wirasawasta/pedagang Jasa (penjahit.5 9 8.8 2 3.2 22 42.9 3 2. Hasil uji beda menggunakan Mann Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara pekerjaan ayah remaja putri di SMA kota dan SMA desa.8 2 3. supir. Hasil uji beda menggunakan Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara pekerjaan ibu remaja putri di SMA kota dan SMA desa. salon) dan lainnya.8 2 1.3 1 1. buruh. wiraswasta/pedagang.8 5 9. Tidak terdapat ibu yang bekerja sebagai buruh baik remaja di SMA kota maupun di SMA desa. Tabel 8 Sebaran remaja putri berdasarkan pekerjaan ibu Pekerjaan ibu Tidak bekerja (ibu rumah tangga) PNS/Polisi/ABRI Karyawan swasta Buruh Wirasawasta/pedagang Jasa (penjahit. Pekerjaan orangtua dikategorikan menjadi tujuh macam yaitu: tidak bekerja (ibu rumah tangga).4 0 0 3 5.8 4 7.8 52 100 SMA desa n % 37 71.8 8 15.6 52 100 SMA desa n % 2 3.8 2 3.6 18 34.9 12 23. karyawan swasta. ojeg.1 1 1.

1 14 26. pengeluaran uang yang lebih banyak untuk pangan tidak menjamin lebih beragamnya konsumsi pangan.8 17 32.3 16 15. karena bukti menunjukkan bahwa kebiasaan makan cenderung berubah bersama dengan naiknya pendapatan (Soehardjo 1989). Tabel 9 Sebaran remaja putri berdasarkan pendapatan keluarga Pendapatan keluarga ≤ Rp 1 500 000 Rp 1 500 000 .8 52 100 SMA desa n % 38 73. Meningkatnya pendapatan perorangan mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan dalam susunan makanan (Suhardjo 1989).9 0 0 0 0 52 100 Total n % 41 39. Rp 3 000 000 – Rp 5 000 000 dan > Rp 5 000 000.000) Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 9. Semakin tinggi pendapatan maka semakin besar peluang untuk memilih pangan yang baik. Rata-rata pendapatan keluarga remaja SMA kota Rp 5 315 385 ± 4 497 903 dan SMA desa Rp 1 352 692 ± 841 493. Kadang-kadang perubahan utama yang terjadi dalam kebiasaan makan ialah pangan yang dikonsumsi itu lebih mahal. Apabila penghasilan di dalam keluarga meningkat. Pendapatan keluarga berhubungan dengan penyediaan pangan di dalam keluarga. Status Gizi Remaja Status gizi adalah suatu kondisi tubuh akibat asupan.4 30 28. remaja di SMA kota lebih banyak memiliki pendapatan keluarga yang berkisar Rp 3 000 000 – Rp 5 000 000 sedangkan di SMA desa lebih banyak memiliki pendapatan keluarga kurang dari Rp 1 500 000. konsumsi pangan. biologi. Rp 1 500 000 . Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan keluarga remaja putri lebih tinggi di SMA kota dibandingkan remaja putri di SMA desa. dan faktor ekologi (Gibson 2005). klinis.Rp 5 000 000 > Rp 5 000 000 Total SMA kota n % 3 5.Rp 3 000 000.Rp 3 000 000 Rp 3 000 000 . Hasil uji beda menggunakan Mann Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara pendapatan keluarga remaja putri di SMA kota dan SMA desa. hal tersebut juga akan mempengaruhi dalam pemenuhan kebutuhan gizi keluarga demi tercapainya taraf hidup yang lebih baik. di antaranya secara antropometri.15 tinggi pekerjaan seseorang maka semakin tinggi pula tingkat pendapatannya. maka biasanya pengadaan lauk pauk pun akan meningkat mutunya. Pendapatan Keluarga Pendapatan merupakan faktor yang menentukan kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi. 2001). Akan tetapi.8 17 16. secara keseluruhan rata-rata tingkat pendapatan keluarga remaja putri yaitu kurang dari Rp 1 500 000.4 104 100 Uji beda (p=0. Akan tetapi.8 16 30. Indeks antropometri yang dapat digunakan untuk menentukan status gizi . penyerapan dan penggunaan zat gizi dari makanan dalam jangka waktu yang lama (Supariasa et al. Penilaian status gizi dapat ditentukan dengan berbagai cara.7 16 30. Pendapatan orangtua dikategorikan menjadi empat yaitu ≤ Rp 1 500 000.

gemuk (+1 SD ≤ z-score < +2 SD).4 5 4. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Santika (2004) yang membuktikan bahwa status gizi remaja pada umumnya adalah normal.2 4 7. normal (-2 SD < z-score < +1 SD). Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian.9 1 1.5 4 7.9 45 86.4 11 21. Penelitian ini. Hasil uji beda menggunakan Independent Sample t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara status gizi remaja putri di SMA kota dan SMA desa. Body Image Body image menurut Suryanie (2005) adalah gambaran individu mengenai penampilan fisik dan perasaan yang menyertainya. kurus (-3 SD ≤ z-score < -2 SD).16 pada usia 5 sampai 19 tahun adalah Indeks Massa Tubuh berdasarkan Umur (IMT/U) mengacu kepada referensi WHO 2007. Tabel 10 Sebaran remaja putri berdasarkan status gizi (IMT/U) Status gizi (IMT/U) sangat kurus (Z<-3 SD) kurus (-3 SD ≤ Z< -2 SD) normal (-2 SD < Z ≤ +1 SD) gemuk (+1 SD < Z ≤ +2 SD) obesitas (Z > +2 SD) Total SMA kota n % 0 0 3 5. Mereka beranggapan bahwa tubuh yang kurus dan langsing adalah yang ideal bagi wanita (Germov & Williams 2004). salah satunya dipengaruhi oleh akses terhadap pangan ditentukan oleh tingkat pendapatan seseorang (Riyadi 2003). Body image pada umumnya dialami oleh mereka yang menganggap bahwa penampilan adalah faktor yang paling penting dalam kehidupan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa SMA desa lebih banyak remaja putri yang memiliki status gizi normal dibandingkan remaja putri di SMA kota.7 1 1.8 104 100 Uji beda (p=0.8 79 76 15 14. Pada usia remaja tersebut cenderung memperhatikan bentuk tubuhnya. Status gizi tersebut dikategorikan menjadi lima kelompok. Persepsi tubuh adalah suatu perasaan atau pemikiran seseorang . Hanya satu remaja putri yang memiliki status gizi sangat kurus yaitu terdapat di SMA desa. Konsumsi pangan. persepsi body image positif dan negatif. obesitas (z-score < +2 SD) (WHO 2007). persepsi body image remaja dimilai melalui metode Figure Rating Scale (FRS) yang dikembangkan oleh Stunkard (1983). Body image yang dinilai adalah persepsi tubuh saat ini. Status gizi secara langsung dipengaruhi oleh faktor konsumsi pangan dan status kesehatan. berdasarkan penilaian sendiri.9 100 100 Total n % 1 1 4 3. Status gizi yang baik pada seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses pemulihan (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat 2010). persepsi tubuh ideal.7 52 100 SMA desa n % 1 1.8 34 65. yaitu sangat kurus (≤ -3 SD). baik terhadap bagian-bagian tubuhnya maupun mengenai seluruh tubuhnya.053) Tabel 10 menunjukkan secara keseluruhan status gizi berdasarkan IMT/U baik remaja putri di SMA kota maupun di SMA desa termasuk dalam kategori normal. Hal ini terutama terjadi pada usia remaja. Berikut sebaran remaja putri berdasarkan klasifikasi status gizi. Pada masa remaja terjadi perubahan bentuk tubuh dan terjadi perkembangan secara psikologinya.

5 21 40.5 12 11.146) (p=0.9 52 100 Total n % 7 6.8 28 53.1 15 14. 6 dan 7 sebagai persepsi tubuh aktual mereka.7 1 1.8 47 45.9 1 1.8 1 1 104 100 4 3.9 0 0 52 100 1 1. Hal ini sesuai dengan penelitian Chairunita (2003) bahwa sebesar 31.8 0 0 0 0 52 100 Persepsi tubuh Aktual Ideal Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 9 Total SMA desa n % 3 5.4 9 17.8 9 17. Tabel 11 Sebaran remaja putri berdasarkan persepsi tubuh aktual dan ideal SMA kota n % 4 7. 3.6 3 5. .9 19 36. Hasil uji beda menggunakan Mann Whitney menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara persepsi tubuh aktual remaja putri di SMA kota dan SMA desa.5 3 5.5 14 26.8 1 1. yaitu perasaan dan pikiran subjektif tentang tubuh.8 4 7. Persepsi tubuh terdiri atas tiga bagian.2 39 37. Remaja mempersepsikan bentuk tubuhnya melalui gambar 1 sampai 9 (Gambar 2).8 18 34.4 2 3. 2009 dalam Dewi 2010).8 29 55. seluruh remaja putri memilih gambar 1. 4. 5.3 7 13. Berikut data hasil persepsi bentuk tubuh saat ini/aktual dan ideal remaja putri pada Tabel 11. 2. Remaja putri yang memilih gambar 7 hanya satu orang yaitu terdapat di SMA kota.7 19 36.5 1 1 1 1 104 100 Uji beda (p=0.3 1 1. Hal ini menunjukkan bahwa ada sebagian yang menggangap dirinya sangat kurus dan ada pula yang menganggap dirinya sangat gemuk.2 23 22.9 52 100 3 5. serta perasaan cemas terhadap tubuh dan perilaku atas ketidaknyamanan terhadap tubuh (Abramson 2007).7 48 46.7% gambar yang paling banyak dipilih oleh remaja sebagai persepsi tubuh aktual/saat ini adalah gambar 2.8 5 4.009) Di bawah ini adalah gambar dari body image yang disajikan dalam kuesioner.9 8 15.4 5 4.17 mengenai tubuhnya serta pandangan orang lain (Khor et al. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Gambar 2 Skala body image Berdasarkan Tabel 11. Gambar yang paling banyak dipilih remaja putri di SMA kota dan SMA desa sebagai persepsi tubuh aktual adalah gambar 2.

Tabel 13 Sebaran persepsi bentuk tubuh aktual remaja putri SMA desa terhadap status gizi Persepsi bentuk tubuhnya Kurus Normal Gemuk Total Status gizi kurus n % 1 50 1 50 0 0 2 100 Status gizi normal n % 9 20 33 73. Persepsi body image dinyatakan dengan dua kategori yaitu persepsi negatif dan persepsi positif. Tabel 12 Sebaran persepsi bentuk tubuh aktual remaja putri SMA kota terhadap status gizi Persepsi bentuk tubuhnya Kurus Normal Gemuk Total Status gizi kurus n % 3 100 0 0 0 0 3 100 Status gizi normal n % 10 28. Berikut sebaran persepsi bentuk tubuh aktual remaja putri SMA desa terhadap status gizi. Persepsi body image positif merupakan persepsi dimana penilaian terhadap tubuh aktualnya sesuai dengan status gizinya.6 18 51. Hal ini sesuai dengan penelitian Chairunita (2003) bahwa sebesar 50% gambar yang paling banyak dipilih sebagai persepsi yang diinginkan remaja adalah gambar 3.18 Berbeda pada persepsi tubuh ideal mereka. Berikut Tabel 12 dan 13 sebaran persepsi tentang bentuk tubuh aktual remaja putri terhadap status gizi. sedangkan di SMA desa lebih banyak memilih gambar 3 sebagai persepsi tubuh idealnya. mempersepsikan bentuk tubuh aktualnya normal tetapi berstatus gizi kurus dan mempersepsikan bentuk tubuh aktualnya gemuk tetapi status gizinya normal. Selain itu bentuk tubuh aktual remaja putri dibandingkan dengan status gizi remaja saat ini. Selebihnya remaja mempersepsikan bentuk tubuhnya sesuai dengan status gizinya. Secara keseluruhan baik remaja putri di SMA kota maupun di SMA desa mempersepsikan tubuh aktualnya sesuai dengan status gizi. 4. Selebihnya remaja mempersepsikan bentuk tubuhnya sesuai dengan status gizinya. sedangkan . Secara keseluruhan rata-rata gambar yang paling banyak dipilih remaja putri sebagai persepsi tubuh ideal adalah gambar nomor 2. 3. 2.4 7 20 35 100 Status gizi gemuk n % 0 0 0 0 14 100 14 100 Berdasarkan Tabel 12 dapat diketahui bahwa sebesar 28. Hasil uji beda menggunakan Mann Whitney terdapat perbedaan persepsi tubuh ideal remaja putri di SMA kota dan SMA desa. Gambar yang banyak di pilih remaja putri di SMA kota sebagai persepsi tubuh idealnya adalah gambar 2. Hal ini menunjukkan bahwa wanita cenderung menginginkan tubuh yang kurus dan langsing (Germov & Williams 2004).6% remaja putri SMA kota yang persepsi tubuh aktualnya kurus tetapi berstatus gizi normal dan sebesar 20% persepsi tubuh aktualnya gemuk tetapi berstatus gizi normal.7 45 100 Status gizi gemuk n % 0 0 0 0 5 100 5 100 Berdasarkan Tabel 13 dapat diketahui bahwa sebagian remaja putri SMA desa mempersepsi bentuk tubuh aktualnya kurus tetapi berstatus gizi normal. 5 dan 9. seluruh remaja putri memilih gambar 1.3 3 6.

Tabel 14 Sebaran remaja putri berdasarkan klasifikasi persepsi body image Persepsi Positif Negatif Total SMA kota n % 35 67. Sementara itu remaja yang mempersepsikan bentuk tubuh aktualnya kurus dan status gizinya kurus dapat dikatakan memiliki persepsi body image positif. depresi. Berikut klasifikasi persepsi body image remaja putri. Menurut Mandleco (2004) remaja putri cenderung lebih tidak puas dengan penampilan tubuhnya dan lebih memperhatikan bagian-bagian dari tubuhnya dibandingkan dengan memperhatikan bentuk tubuh lawan jenisnya. sehingga hal ini menyebabkan adanya persepsi negatif terhadap bentuk tubuhnya. diet adalah pengurangan kalori untuk mengurangi berat badan. pada masa remaja hanya sedikit yang merasa puas dengan tubuhnya terutama pada remaja putri. Berikut sebaran remaja putri yang melakukan diet. Hal ini sesuai dengan penelitian marasabessy (2006). .522) Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui baik remaja putri di SMA kota maupun di SMA desa sebagian besar memiliki persepsi body image yang positif. Berdasarkan Tabel 12 dan 13 remaja putri yang mempersepsikan bentuk tubuh aktualnya kurus tetapi status gizinya normal.1 14 26. Hal tersebut dapat mempengaruhi hubungan sosial dengan teman sebayanya. dan diet yang berlebihan. Perilaku diet Banyak remaja putri yang merasa tidak puas dengan penampilan dirinya. Perilaku diet adalah usaha sadar seseorang dalam membatasi dan mengontrol makanan yang akan dimakan dengan tujuan untuk mengurangi dan mempertahankan berat badan (Hawks 2008).9 52 100 Total n 73 31 104 % 70.3 17 32. Remaja putri yang mempersepsikan bentuk tubuh aktualnya kurus tetapi berstatus normal dapat dikatakan bahwa remaja putri tersebut merasa kurang percaya diri terhadap bentuk tubunya. Remaja putri akan membatasi asupan makannya sehingga status gizi awal yang ideal akan berubah menjadi status gizi kurang. Hal ini sejalan dengan penelitian Lingga (2011) bahwa sebagian besar remaja putri memiliki persepsi body image yang positif. karena remaja putri akan merasa bentuk tubuhnya tidak indah dan tidak ideal sehingga dapat mempengaruhi pola makannya.19 persepsi body image negatif merupakan persepsi dimana penilaian terhadap tubuh aktualnya tidak sesuai dengan status gizinya. Usaha yang dilakukannya untuk bentuk tubuh yang diinginkannya seperti melakukan diet dengan mengurangi konsumsi makanannya. Hasil uji menggunakan Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara jenis persepsi body image remaja putri di SMA kota dan SMA desa.8 100 Uji beda (p=0.2 29. Menurut Kim dan Lennon dalam Andea (2010). Remaja SMA kota yang memiliki persepsi body image negatif lebih banyak dibandingkan remaja SMA desa. Menurut Hurlock (2004). maka remaja putri dikatakan memiliki persepsi body image negatif.7 52 100 SMA desa n % 38 73. yang menyatakan bahwa contoh yang mempunyai persepsi body image negatif dapat menimbulkan masalah-masalah atau gangguan seperti stres.

5 100 Uji beda (p=0. Adapun cara yang dilakukan remaja putri melakukan diet di antaranya dengan cara membatasi makanan tertentu.3 Berdasarkan Tabel 16 dapat diketahui bahwa 40 remaja putri yang melakukan diet lebih banyak berdiet dengan cara mengurangi jumlah makan (mengurangi porsi).8 SMA desa n % 19 100 18 94. pangan hewani dan snack.3 1 5. Makanan yang dihindari remaja putri seperti nasi. Cara yang dilakukan remaja putri di SMA kota dan desa di antaranya yaitu mengurangi jumlah makan (mengurangi porsi).2 13 68. melakukan olahraga.20 Tabel 15 Sebaran remaja putri yang melakukan diet Diet Tidak melakukan diet Melakukan diet Total SMA kota n % 31 59. Hasil uji beda menggunakan Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara remaja putri yang melakukan diet di SMA kota dan SMA desa. Berikut jenis makanan yang dihindari remaja putri. membatasi jenis makanan tertentu.3 1 5. menggunakan obat pelangsing. . susu.5 52 100 n 64 40 104 Total % 61. fast food. makanan gorengan.688) Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 104 hanya 40 remaja putri yang melakukan diet yaitu 21 remaja putri di SMA kota dan 19 remaja putri di SMA desa.4 11 52.5 19 36. Remaja putri yang melakukan diet lebih banyak dilakukan di SMA kota dibandingkan di SMA desa.5 15 71. berolahraga. Tabel 16 Perilaku remaja dalam menurunkan berat badan Perilaku remaja dalam menurunkan berat badan Mengurangi jumlah makan (mengurangi porsi) Membatasi jenis makanan tertentu Olahraga Mengurangi frekuensi makan Puasa Menggunakan obat pelangsing atau jamu Menggunakan obat pencahar Memuntahkan kembali makanan yang dimakan SMA kota n % 19 90.7 16 84. menggunakan obat pencahar dan memuntahkan kembali makanan yang dimakan. mengurangi frekuensi makan. Berikut Tabel 16 perilaku remaja dalam menurunkan berat badan.4 16 76. Remaja putri di SMA kota lebih banyak melakukan diet dengan cara menggunakan obat pelangsing atau jamu dan tidak ada yang berdiet dengan menggunakan obat pencahar.6 21 40.4 5 26. Hanya sedikit remaja putri di SMA desa yang menggunakan obat pencahar dan memuntahkan kembali makanan yang dimakan.5 38.4 52 100 SMA desa n % 33 63. Pada umumnya remaja melakukan diet. Remaja putri di SMA desa lebih banyak melakukan diet dengan cara mengurangi jumlah makan (mengurangi porsi).2 15 71.4 9 47.4 21 100 0 0 1 4. melakukan perawatan tubuh. mengonsumsi obat pelangsing dan lain-lain untuk mendapatkan berat badan ideal (Andea 2010).

diet yang dilakukan untuk menurunkan berat badan adalah olahraga. Hanya sedikit yang menghindari minum susu baik remaja putri di SMA kota maupun di SMA desa. yaitu pada saat hari sekolah dan hari libur.4 16 76. Konsumsi pangan Konsumsi pangan merupakan hal penting dalam memenuhi kebutuhan zat gizi pada remaja. Konsumsi pangan dapat ditinjau berdasarkan aspek jenis pangan dan jumlah pangan yang dikonsumsi (Kusharto dan Sa’diyyah 2006).8 44. tidak makan daging sama sekali dan tidak makan makanan yang mengandung karbohidrat sama sekali. mengurangi permen atau makanan manis.1 Jenis makanan yang paling banyak dihindari remaja putri di SMA kota untuk berdiet yaitu fast food dan remaja putri di SMA desa banyak menghindari makanan makanan gorengan (jajanan). Tabel 18 Rata-rata konsumsi. Hal ini sesuai dengan penelitian Andea (2010). Konsumsi pangan yang bergizi akan membantu remaja dalam proses pertumbuhan tubuh dan perkembangan mental. menggunakan penahan nafsu makan.1 43.2 10 47. memuntahkan makanan dengan sengaja. mengurangi asupan lemak.3 15 71. Konsumsi pangan remaja diperoleh melalui wawancara dengan metode food recall 2x24 jam.9 3 14.7 52 85.3 16 84. puasa. tingkat kecukupan energi dan zat gizi lain remaja putri Zat gizi Energi Konsumsi (kkal) AKG TK (%) Protein Konsumsi (g) AKG TK (%) Lemak Konsumsi (g) Energi dari lemak (%) SMA kota SMA desa 1686 2123 79 1396 1907 73.3 51.8 5 26.8 8 42. menggunakan pil diet.2 26. sengaja melewatkan waktu makan.3 .7 48 63 76.6 12 57.6 3 15.5 28. Tingkat kecukupan zat gizi individu dapat diketahui dengan cara membandingkan kandungan zat gizi makanan yang dikonsumsi oleh individu dengan angka kecukupannya.1 Jenis makanan Nasi Susu Makanan gorengan (jajanan) Fast food Pangan hewani (daging) Snack SMA desa n % 7 36. mengurangi porsi makan yang dikonsumsi.21 Tabel 17 Jenis makanan yang dihindari remaja putri SMA kota n % 13 61. mengonsumsi makananmakanan rendah kalori. Konsumsi pangan merupakan informasi tentang jenis dan jumlah pangan yang dimakan (dikonsumsi) seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu.2 6 31.

2 59. yaitu karbohidrat. Menurut Depkes (1996). sehingga akan mengurangi konsumsi pangannya. Angka Kecukupan Gizi untuk energi terlebih dahulu dikonversi sesuai berat badan keseluruhan remaja putri.8 27 60 45. Energi yang diperlukan ini kita peroleh dari bahan makanan yang kita makan. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2004. Untuk melakukan aktivitas itu kita memerlukan energi. tingkat kecukupan energi dan zat gizi lain remaja putri (lanjutan) Zat gizi Karbohidrat Konsumsi (g) Energi dari karbohidrat (%) Zat besi Konsumsi (mg) AKG TK (%) Vitamin A Konsumsi (RE) AKG TK (%) Vitamin C Konsumsi (mg) AKG TK (%) SMA kota SMA desa 239.3 500 104.3 206.4 60 35. Hal ini seperti terlihat pada Tabel 18. dan lebih (≥120% AKE). yaitu defisit berat (<70% AKE). Tingkat kecukupan energi didapat dari konsumsi pangan yang dikonversi menjadi satuan kkal dan dibagi dengan angka kecukupan energi harian remaja putri sesuai umur dan berat badan. .9 21 49.2 500 55. 2009).4 59.6 Rendahnya tingkat konsumsi yang menyebabkan rendahnya pula tingkat kecukupan gizi disebabkan oleh adanya persepsi contoh mengenai body image yang umumnya terjadi pada masa remaja awal (Widyastuti et al.9 23 59. Remaja yang mempunyai body image negatif merasa kelebihan berat badan.5 12. normal (90-119% AKE).22 Tabel 18 Rata-rata konsumsi.7 487. diketahui angka kecukupan energi untuk wanita usia 13 sampai 15 tahun dan 16 sampai 19 tahun adalah 2100 kkal dan 2000 kkal. tingkat kecukupan energi dibagi kedalam lima kategori.7 279. protein. dan lemak (Poedjiadi A 2006). Energi Manusia dalam kehidupan sehari-harinya melakukan aktivitas. defisit ringan (8089% AKE). Rata-rata konsumsi energi remaja putri di SMA kota lebih tinggi dibandingkan dengan di SMA desa.2 9.1 21. defisit sedang (70-79% AKE). Pada umumnya bahan makanan itu mengandung tiga kelompok utama senyawa kimia.

Angka Kecukupan Gizi untuk energi terlebih dahulu dikonversi sesuai berat badan keseluruhan remaja putri. Hal ini seperti terlihat pada Tabel 18. Menurut Depkes (1996).6 20. Protein Protein merupakan komponen penting dalam tubuh kita untuk pembentukan tubuh kita.1 21. ubi dan roti.2 9. diketahui angka kecukupan protein untuk wanita usia 13 sampai 15 tahun dan 16 sampai 19 tahun adalah 62 gram dan 51 gram. singkong. 2004).1 10 19.5 11 21.1 4 7. Asupan energi yang berlebihan dan tertimbun di dalam tubuh.843) Tabel 19 menunjukkan bahwa pada umumnya remaja putri di SMA kota maupun SMA desa mengalami defisit tingkat berat.9 100 Uji beda (p=0. Kita memperoleh protein dari makanan yang berasal dari hewan atau tumbuhan (Poedjiadi 2006). Remaja putri di SMA desa yang mengalami tingkat kecukupan energi lebih hanya ada dua orang. Berikut adalah sebaran rata-rata tingkat kecukupan protein. normal (90-119% AKE). Hasil uji beda menggunakan Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara tingkat kecukupan energi remaja putri di SMA kota dan SMA desa. yaitu defisit berat (<70% AKE).2 2 3. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2004.2 0 0 52 100 SMA desa n % 24 46. . bihun. protein juga dapat digunakan sebagai sumber energi apabila tubuh kita kekurangan karbohidrat dan lemak. Rata-rata konsumsi protein remaja putri di SMA kota lebih tinggi dibandingkan di SMA desa.8 52 100 n 49 22 10 21 2 104 Total % 47. Keadaan tersebut disebabkan oleh konsumsi pangan remaja putri pada saat dilakukan recall dalam jumlah yang sedikit. Berdasarkan hasil recall.2 12 23. defisit ringan (80-89% AKE). defisit sedang (7079% AKE). jenis pangan sumber energi yang dikonsumsi remaja putri yaitu nasi. Pemenuhan kecukupan energi pada remaja putri kurang baik. dan lebih (≥120% AKE).2 1. tingkat kecukupan protein dibagi kedalam lima kategori.23 Tabel 19 Sebaran rata-rata tingkat kecukupan energi Tingkat kecukupan energi Defisit tingkat berat Defisit tingkat sedang Defisit tingkat ringan Normal Lebih Total SMA kota n % 25 48.2 6 11. Tingkat kecukupan protein didapat dari konsumsi pangan yang dikonversi menjadi satuan gram dan dibagi dengan angka kecukupan protein harian remaja sesuai umur dan berat badan. terutama dalam jaringan adiposa dalam bentuk lemak dapat menimbulkan obesitas yang pada akhirnya akan menyebabkan resistensi insulin dan sindrom metabolik (Gross et al.7 10 19. Remaja putri di SMA kota tidak ada yang mengalami kelebihan energi. maka protein yang berada dalam makanan berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan dan pertumbuhan tubuh. Selain digunakan untuk pembentukan sel-sel tubuh.

6 12 11.61 26.65 11. Kategori cukup yaitu apabila konsumsi protein hewani telah mencapai sepertiga bagian atau 33.87 15.8 52 100 Total n % 62 59.52 54. Keadaan tersebut disebabkan oleh konsumsi pangan remaja putri pada saat dilakukan recall dalam jumlah yang sedikit.98 Konsumsi protein hewani dibedakan menjadi cukup dan tidak cukup. Hasil uji beda menggunakan Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara tingkat kecukupan protein remaja putri di SMA kota dan SMA desa. dianjurkan sepertiga bagian protein yang dibutuhkan berasal dari protein hewani (Almatsier 2002). Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 21.24 Tabel 20 Sebaran rata-rata tingkat kecukupan protein Tingkat kecukupan protein Defisit tingkat berat Defisit tingkat sedang Defisit tingkat ringan Normal Lebih Total SMA kota n % 30 57. Tabel 21 Sumbangan protein yang berasal dari pangan hewani Indikator Protein hewani (g) Min Max Mean SD Sumbangan protein hewani terhadap tingkat kecukupan protein (%) Min Max Mean SD SMA kota SMA desa 3.6 50.5 6 11.7 6 11.33%) dari total protein yang dibutuhkan.5 5 9.5 4 7. sumbangan protein hewani terhadap kecukupan protein kurang dari sepertiga (33. Rata-rata sumbangan protein hewani terhadap kecukupan protein remaja putri SMA Kota telah mencukupi anjuran konsumsi protein hewani yaitu telah mencapai sepertiga dari protein yang dibutuhkan yaitu sebesar 36.79 63. Berdasarkan hasil recall. dan daging sapi. Hal ini menunjukkan bahwa pemenuhan kecukupan protein kurang baik.86%. Hal ini berbeda dengan remaja putri SMA desa.6 7 13.12 10. Protein Hewani Protein hewani pada umumnya mempunyai susunan asam amino yang paling sesuai dengan kebutuhan manusia.88 16. Untuk menjamin mutu protein dalam makanan sehari-hari.86 16.195) Tabel 20 menunjukkan bahwa pada umumnya remaja putri di SMA kota maupun SMA desa mengalami defisit tingkat berat.5 9 8.7 14 13.33% dari total protein yang dibutuhkan remaja putri dalam sehari. jenis pangan sumber protein yang dikonsumsi remaja putri adalah daging ayam.45 12.5 7 6. telur.36 36.5 3 5. . ikan.31 0.42 24.52 81.7 104 100 Uji beda (p=0.7 7 13. rata-rata konsumsi protein hewani remaja putri SMA kota lebih besar daripada remaja putri SMA desa.5 4 7.7 52 100 SMA desa n % 32 61.33 0.

Data pada Tabel 22 memperlihatkan bahwa persentase remaja putri yang berada dalam kategori cukup dan tidak cukup konsumsi pangan hewani.6 104 100 Konsumsi protein hewani dapat meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh.2 21 40. . Hal ini seperti terlihat pada Tabel 18.2 17 32.25 sedangkan kategori tidak cukup apabila konsumsi protein kurang dari 33. Kelompok lemak tubuh mencakup pula hormon steroid dan vitamin larut lemak. jaringan lemak menghasilkan lebih dari 10 jenis hormon. Tabel 22 Sebaran remaja putri berdasarkan konsumsi protein hewani Konsumsi pangan hewani (%) Cukup Tidak cukup Total SMA kota n % 13 25 39 75 52 100 SMA desa n % 3 5. yaitu kurang (<20% asupan energi). Rendahnya konsumsi protein hewani akan menyebabkan rendahnya penyerapan zat besi oleh tubuh. cukup (20-30% asupan energi). Tabel 23 Sebaran rata-rata tingkat kecukupan lemak Tingkat kecukupan lemak Kurang (<20%) Cukup (20-30%) Lebih (>30%) Total SMA kota n % 11 21.8 49 94. lemak juga berperan dalam membentuk komponen struktural membran sel.5 104 100 Uji beda (p=0.4 52 100 Total n % 21 20. resistin. Remaja putri di SMA kota yang mengalami kelebihan energi lebih banyak dibandingkan dengan remaja putri di SMA desa.7 52 100 SMA desa n % 10 19. Selain sumber energi. Kecukupan lemak total menggunakan perhitungan asupan lemak total berkisar antara 20-30% dari konsumsi energi subyek sesuai dengan anjuran WNPG (2004). untuk menjamin mutu protein dalam makanan seharihari. Keadaan ini dapat mengakibatkan tubuh kekurangan zat besi dan dapat menyebabkan anemia atau penurunan kadar Hb.2 45 43. Lemak Lemak merupakan zat gizi kedua yang digunakan tubuh sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi.3 38 36. Sebagai organ endokrin.4 21 40. seperti leptin. dan adiponektin (Almatsier 2002). Tingkat kecukupan lemak dibedakan menjadi tiga. Konsumsi lemak remaja putri di SMA kota lebih tinggi dibandingkan remaja putri di SMA desa.2 24 46. Hal ini sesuai dengan Almatsier (2002). Protein merupakan salah satu zat gizi yang dibutuhkan untuk penyerapan zat besi.4 88 84. Hasil uji beda menggunakan Independent Sample t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara tingkat kecukupan lemak remaja putri di SMA kota dan SMA desa. dianjurkan sepertiga bagian protein yang dibutuhkan berasal dari protein hewani.33% atau sepertiga dari total protein yang dibutuhkan remaja dalam sehari.2 52 100 Total n % 16 15.585) Tabel 23 menunjukkan bahwa pada umumnya tingkat kecukupan lemak remaja putri di SMA kota dan SMA desa adalah cukup. Berikut adalah sebaran rata-rata tingkat kecukupan lemak. lebih (>30% asupan energi).

Tabel 24 Sebaran rata-rata tingkat kecukupan karbohidrat Tingkat kecukupan karbohidrat Kurang (< 50%) Cukup (50-65%) Lebih (> 65%) Total Min-Max X±SD SMA kota n % 8 15.3±9. Defisiensi besi akan menimbulkan penurunan kadar hemoglobin darah atau anemia gizi besi (Poedjiadi 2006).1 52 100 38 – 82. dan ada pula karbohidrat yang tidak dapat dicerna yang berguna sebagai serat makanan. Remaja putri di SMA desa yang mengalami tingkat kecukupan karbohidrat kurang lebih banyak di banding remaja putri di SMA kota. Zat besi Zat besi merupakan salah satu mineral mikro yang banyak terdapat di dalam tubuh manusia dan hewan yaitu sebanyak 3-5 gram di dalam tubuh manusia dewasa. . Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi tahun 2004. yaitu kurang (<77%) dan cukup (≥77%).2 – 86.7 SMA desa n % 12 23.7 52 100 33.1 23 44.5 12 23. Fungsi utama karbohidrat yang dapat dicerna bagi manusia adalah untuk menyediakan energi bagi sel.718) Tabel 24 menunjukkan bahwa pada umumnya tingkat kecukupan karbohidrat remaja putri di SMA kota maupun SMA desa mengalami adalah cukup. Hal ini seperti terlihat pada Tabel 18. Berikut adalah sebaran rata-rata tingkat kecukupan karbohidrat. Konsumsi karbohidrat remaja putri di SMA kota lebih tinggi dibandingkan remaja putri di SMA desa.2±12 n 20 55 29 104 Total % 19. Kecukupan karbohidrat total menggunakan perhitungan asupan karbohidrat total berkisar antara 50-65% dari konsumsi energi subyek sesuai dengan anjuran WNPG (2004).9 100 Uji beda (p=0. wanita yang berusia 13 sampai 15tahun dan 16 sampai 19 tahun membutuhkan 19 mg dan 25 mg besi.9 59.2 17 32.4 32 61.9 27. Tingkat kecukupan karbohidrat dibedakan menjadi tiga. Fungsi utama dari zat besi adalah mengangkut oksigen dari paruparu ke seluruh tubuh (Almatsier 2006). Konsumsi zat besi remaja putri di SMA kota lebih tinggi dibandingkan remaja putri di SMA desa. Menurut Gibson (2005). lebih (>65% asupan energi).2 52. termasuk sel-sel otak yang kerjanya tergantung pada suplai karbohidrat berupa glukosa (Mahan & Stump 2008). Berikut rata-rata tingkat kecukupan zat besi remaja putri. Zat besi merupakan salah satu unsur penting dalam pembentukan sel darah merah. Karbohidrat ada yang dapat dicerna oleh tubuh sehingga menghasilkan glukosa dan energi. bahwa tingkat kecukupan zat besi dibedakan menjadi dua kategori. Hal ini seperti terlihat pada Tabel 18.26 Karbohidrat Karbohidrat merupakan salah satu zat gizi makro.2 59. cukup (50-65% asupan energi). yaitu kurang (<50% asupan energi). Hasil uji beda menggunakan Independent Sample t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara tingkat kecukupan karbohidrat remaja putri di SMA kota dan SMA desa.

Menurut Gibson (2005). Hasil uji beda menggunakan Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara tingkat kecukupan zat besi remaja putri di SMA kota dan SMA desa. faktor penghambat penyerapan zat besi di antaranya adalah teh.4 5 9. reproduksi. Tabel 26 Sebaran rata-rata tingkat kecukupan vitamin A Tingkat kecukupan vitamin A Kurang (<77%) Cukup (≥77%) Total SMA kota n % 26 50 26 50 52 100 SMA desa n % 40 76. telur. Defisiensi vitamin A dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan. kehilangan nafsu makan. Fungsi vitamin A di antaranya dalam penglihatan normal pada cahaya terang. Konsumsi vitamin A remaja putri di SMA kota lebih tinggi dibandingkan remaja putri di SMA desa. Berikut rata-rata tingkat kecukupan vitamin A remaja.718) Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa tingkat kecukupan zat besi baik remaja putri di SMA kota maupun di SMA desa adalah kurang. bayam. Sumber zat besi berdasarkan hasil recall di antaranya ayam. kentang. kekebalan tubuh. beras. diferensiasi sel.5 104 100 Uji beda (p=0.5 52 100 SMA desa n % 47 90.000) Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa tingkat kecukupan vitamin A baik remaja putri di SMA kota maupun di SMA desa adalah kurang.5 100 Uji beda (p=0. Tingkat kecukupan vitamin A kurang lebih banyak remaja putri di SMA desa dibandingkan dengan di SMA kota. bahwa tingkat kecukupan vitamin A dibedakan menjadi dua kategori.5 11.27 Tabel 25 Sebaran rata-rata tingkat kecukupan besi Tingkat kecukupan besi Kurang (<77%) Cukup (≥77%) Total SMA kota n % 45 86.5 7 13. pencegahan kanker dan jantung (Almatsier 2006). Hal ini seperti terlihat pada Tabel 18. Vitamin A Vitamin A merupakan salah satu jenis vitamin larut lemak. pertumbuhan dan perkembangan. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi tahun 2004. dan rendahnya daya tahan tubuh sehingga mudah terkena infeksi. Hal ini disebabkan oleh konsumsi pangan sumber zat besi dalam jumlah yang sedikit. yaitu kurang (<77%) dan cukup (≥77%). Menurut WHO (2001).9 12 23. Hal ini disebabkan oleh konsumsi pangan . Vitamin A esensial berfungsi sebagai pemeliharaan kesehatan dan kelangsungan hidup. kacang-kacangan dan tempe. biskuit.1 52 100 Total n % 66 63. defisiensi vitamin A juga dapat menghambat mobilisasi zat besi dan menurunkan respon imun sehingga dapat menyebabkan anemia dan infeksi selanjutnya meningkatkan morbiditas (Gibson 2005).5 38 36.6 52 100 n 92 12 104 Total % 88. Selain itu. Tingkat kecukupan zat besi kurang lebih banyak remaja putri di SMA desa dibandingkan dengan di SMA kota. sawi. Selain itu hal ini disebabkan karena remaja banyak yang mengonsumsi minuman teh. wanita yang berusia 13 sampai 15 tahun dan 16 sampai 19 tahun membutuhkan 500 RE vitamin A. roti. pisang.

Dalam jumlah banyak asam oksalat di dalam ginjal dapat diubah menjadi batu ginjal.28 sumber vitamin A dalam jumlah yang sedikit. noradrenalin. sawi. Berdasarkan hasi recall. Asam askorbat (vitamin C) adalah suatu turunan heksosa dan diklasifikasikan sebagai karbohidrat yang erat kaitannya dengan monosakarida. Hal ini seperti terlihat pada Tabel 18. Vitamin C Vitamin C merupakan salah satu jenis vitamin yang larut dalam air. Hasil uji beda menggunakan Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara tingkat kecukupan vitamin A remaja putri di SMA kota dan SMA desa.4 104 100 Uji beda (p=0. pepaya. wanita yang berusia13 sampai 15 tahun dan 16 sampai 19 tahun membutuhkan 60 mg vitamin C. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi tahun 2004. kol. kerusakan pada jaringan rongga mulut. kangkung dan daun singkong. sawi. Hasil uji beda menggunakan Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara tingkat kecukupan vitamin A remaja putri di SMA kota dan SMA desa. serotonin. Bila konsumsi vitamin C melebihi kecukupan. absorpsi kalsium.242) Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa tingkat kecukupan vitamin C baik remaja putri di SMA kota maupun di SMA desa adalah kurang.6 52 100 Total n % 89 85. pembuluh darah kapiler dan jaringan tulang. Konsumsi vitamin C remaja putri di SMA kota lebih tinggi dibandingkan remaja putri di SMA desa. absorpsi dan metabolisme besi. bayam. hati. wortel. jenis pangan yang berkontribusi dalam pemenuhan tingkat kecukupan vitamin C adalah jeruk. Kekurangan vitamin C dapat menyebabkan penyakit skorbut. .8 10 19. tomat. jambu biji. Berikut rata-rata tingkat kecukupan vitamin C remaja. Jadi menggunakan vitamin C dosis tinggi secara rutin tidak dianjurkan. Fungsi dari vitamin C di antaranya sebagai koenzin dan kofaktor. mencegah infeksi.2 52 100 SMA desa n % 47 90. Berdasarkan hasi recall. vitamin C mudah rusak karena bersentuhan dengan udara (oksidasi) terutama bila terkena panas. mencegah kanker dan penyakit jantung (Almatsier 2006). Dalam keadaan kering vitamin C cukup stabil. paru.6 15 14. sintesis kolgen. bayam. yaitu kurang (<77%) dan cukup (≥77%). jenis pangan yang berkontribusi dalam pemenuhan tingkat kecukupan vitamin A adalah telur. dan kangkung. Pada tingkat yang lebih tinggi (500 mg atau lebih) akan dimetabolisme menjadi asam oksalat. Tingkat kecukupan vitamin C kurang lebih banyak remaja putri di SMA desa dibandingkan dengan di SMA kota.4 5 9. Hal ini disebabkan oleh konsumsi pangan sumber vitamin C dalam jumlah yang sedikit. sintesis karnitin. Menurut Gibson (2005) bahwa tingkat kecukupan vitamin A dibedakan menjadi dua kategori. Tabel 27 Sebaran rata-rata tingkat kecukupan vitamin C Tingkat kecukupan vitamin C Kurang (<77%) Cukup (≥77%) Total SMA kota n % 42 80. tetapi dalam keadaan larut. sisa vitamin C akan dikeluarkan dari tubuh tanpa perubahan.

Tabel 28 Sebaran remaja berdasarkan status anemia Status anemia Anemia (<12 g/dl) Tidak anemia (12 g/dl) Total SMA Kota n % 19 36. Kadar Hb remaja putri secara keseluruhan berkisar antara 8. anemia merupakan suatu keadaan dimana terjadi penurunan cadangan besi dalam hati.973). Berdasarkan WHO. Hal ini menunjukkan semakin negatif atau positif persepsi .51 g/dl.29 Status Anemia Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin. dimana tubuh tidak lagi mempunyai cukup zat besi untuk membentuk hemoglobin yang diperlukan dalam sel-sel darah yang baru. batas normal kadar Hb untuk wanita ≥ 15 tahun adalah 12 g/dl.3 ± 1.9 100 Uji beda (p=0. penyimpanan dan pengeluaran (Zarianis 2006). hematokrit dan sel darah merah kurang dari kadar normal sebagai akibat defisiensi salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial (Arisman 2004). Berikut adalah hasil pengukuran Hb pada remaja putri. Metabolisme besi dalam tubuh terdiri atas proses absorbsi. Selain itu remaja yang menderita anemia mengalami penurunan kebugaran sehingga akan menghambat prestasi olahraga dan produktivitasnya. anemia pada kelompok remaja dapat menimbulkan berbagai dampak antara lain menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena penyakit dan menurunkan aktivitas yang berkaitan dengan kemampuan kerja fisik dan prestasi belajar.7 22 42. Hal ini diduga karena konsumsi zat besi bersamaan dengan beberapa bahan pangan yang bersifat menghambat penyerapan zat besi seperti teh.5 33 63. Hasil uji beda Independent Sample t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara status anemia remaja putri di SMA Kota dan SMA Desa. Menurut Soekirman (2000). khususnya pangan hewani dan metabolisme zat besi di dalam tubuh belum sempurna. Hubungan Body Image dengan Perilaku Diet Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi body image dengan perilaku diet pada remaja putri (p=0.4 sampai 14.5 52 100 SMA Desa n % 30 57. Menurut Wulansari (2006). Remaja putri di SMA Desa lebih banyak yang mengalami anemia dibandingkan remaja putri di SMA Kota. Kebiasaan konsumsi makanan yang dapat mengganggu penyerapan zat besi seperti kopi dan teh secara bersamaan pada waktu makan menyebabkan serapan zat besi semakin rendah (Arisman 2004). Berdasarkan hasil recall 2x24 jam menunjukkan bahwa tingkat kecukupan zat besi remaja putri tergolong kurang. Keadaan kurang gizi besi yang berlanjut dan semakin parah akan mengakibatkan anemia gizi besi.1 52. Anemia merupakan kondisi kurang darah yang terjadi bila kadar hemoglobin darah kurang dari normal (Depkes 2008). sehingga jumlah hemoglobin darah menurun dibawah normal.9 g/dl dengan rata-rata kadar Hb adalah 12. Status anemia remaja dinilai dari hasil pengukuran hemoglobin (Hb) dalam darah. pemanfaatan.002) Secara keseluruhan remaja putri tidak mengalami anemia. pengangkutan. Rendahnya kadar hemoglobin diduga karena kurangnya konsumsi terhadap zat besi.3 52 100 n 49 55 104 Total % 47.

jika faktorfaktor tersebut sangat kuat dalam mempengaruhi remaja putri dalam perilaku diet maka semakin kuat diet yang dilakukan dan sebaliknya jika faktor-faktor tersebut tidak mempengaruhi remaja putri dalam perilaku diet maka semakin rendah diet yang dilakukannya. protein hewani. Media memiliki pengaruh yang kuat karena hampir setiap saat mahasiswi melihat iklan yang disebar melalui media cetak dan elektronik. Hubungan Antara Body Image dengan Konsumsi Pangan Hasil analisis korelasi Spearman pada Tabel 29 menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi body image dengan konsumsi pangan. pengetahuan gizi dan kesehatan (Soehardjo 1989). Semakin kuat pesan yang disampaikan maka remaja putri akan dengan mudah terpengaruh.1% menjawab benar mengenai kelompok pangan protein hewani. 11% menjawab benar mengenai pangan vitamin A dan 23. Hal ini menunjukkan semakin negatif persepsi body image remaja maka belum tentu remaja mengurangi konsumsi makannya.548 Tingkat kecukupan vitamin A p=0.5% yang menjawab benar pertanyaan mengenai kelompok protein nabati. Tabel 29 Hasil uji korelasi Spearman body image dengan konsumsi pangan Tingkat kecukupan zat gizi Persepsi body image Tingkat kecukupan energi p=0. pengetahuan gizi pada remaja putri mengenai pangan masih tergolong rendah.5% yang menjawab benar mengenai pangan vitamin C. Berdasarkan hasil penelitian.104 Tingkat kecukupan vitamin C p=0.30 body image remaja maka remaja belum tentu melakukan diet. Menurut penelitian Bayyari (2010) menunjukkan bahwa media dapat memberikan pengaruh kepada remaja putri untuk melakukan diet dan teman ikut memberikan pengaruh kepada remaja putri untuk melakukan diet.662 . teman. Masih ada remaja putri yang tidak mengetahui tentang kelompok protein nabati. Hasil penelitian tidak sesuai dengan penelitian Andea (2010) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara body image dengan perilaku diet.621 Tingkat kecukupan protein p=0.727 Tingkat kecukupan karbohidrat p=0. vitamin A dan vitamin C. Hal tersebut tergantung pada diri remaja masing-masing. Tidak adanya hubungan diduga terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi pangan pada remaja putri di antaranya seperti umur. pendidikan.949 Tingkat kecukupan lemak p=0. Tidak terdapat hubungan diduga ada faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku diet pada remaja putri di antaranya media.387 Tingkat kecukupan zat besi p=0. Faktor yang paling berpengaruh kepada remaja putri dalam diet untuk menurunkan berat badan adalah lingkungan sosialnya. dan lingkungan sosial. Pada remaja putri di SMA kota hanya 13. remaja putri yang memiliki persepsi bahwa bentuk tubuh mempengaruhi interaksi sosial cenderung akan melakukan diet penurunan berat badan. pendapatan. Pengaruh media terhadap perilaku diet remaja putri terletak pada pesan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan pada remaja putri di SMA desa hanya 13.

dimana tubuh tidak lagi mempunyai cukup zat besi untuk membentuk hemoglobin yang diperlukan dalam sel-sel darah yang baru. anemia merupakan suatu keadaan dimana terjadi penurunan cadangan besi dalam hati. rendahnya konsumsi protein hewani) remaja. Menurut Wulansari (2006). Hasil penelitian sesuai dengan penelitian marasabessy (2006) yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dengan persepsi body image pada putri. Keadaan kurang gizi besi yang berlanjut dan semakin parah akan mengakibatkan anemia gizi besi.410). Hal ini menunjukkan bahwa semakin positif persepsi body image remaja maka belum tentu status gizinya akan semakin baik atau sebaliknya. sebagian remaja putri memiliki persepsi body image negatif cenderung status gizinya normal. padahal status gizinya normal. Namun.31 Hubungan Antara Body Image dengan Status Gizi Sebagian besar remaja putri mempunyai status gizi normal cenderung memiliki persepsi body image positif. Hal ini membuktikan bahwa masih terdapat remaja putri yang merasa bentuk tubuhnya tidak normal. Selain itu kebiasaan responden minum air teh setelah makan merupakan beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya konsumsi dan penyerapan zat besi dalam tubuh responden. . Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Besi dengan Status Anemia Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan (p=0. Hal ini berarti semakin negatif atau positif persepsi body image remaja maka belum tentu remaja memiliki pengetahuan gizi yang baik. Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi body image dengan status gizi pada remaja putri (p=0.234). Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya penyerapan zat besi dalam tubuh (adanya kebiasaan minum teh setelah makan. Hasil ini sejalan dengan penelitian Gunatmaningsih (2007) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan tingkat kecukupan zat besi dengan status anemia. Hasil sesuai dengan penelitian Anindita (2011) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara body image dengan pengetahuan gizi. Kebiasaan konsumsi makanan yang dapat mengganggu penyerapan zat besi seperti kopi dan teh secara bersamaan pada waktu makan menyebabkan serapan zat besi semakin rendah (Arisman 2004). sehingga jumlah hemoglobin darah menurun dibawah normal. Keadaan ini dapat mengakibatkan tubuh kekurangan zat besi dan dapat menyebabkan anemia atau penurunan kadar Hb.874) antara tingkat kecukupan zat besi dengan status anemia. Hal ini disebabkan rendahnya konsumsi protein hewani yang dapat menyebabkan rendahnya penyerapan zat besi oleh tubuh. Hubungan Body Image dengan Pengetahuan Gizi Hasil analisis korelasi Spearman menujukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis persepsi body image dengan pengetahuan gizi pada remaja putri (p=0.

Keadaan status gizi atau IMT yang kurang dapat berpotensi menimbulkan kejadian anemia (Permaesih dan Herman 2005). Hanya 40 dari 104 remaja putri yang melakukan diet yaitu 21 remaja putri dari SMA kota dan 19 remaja putri dari SMA desa. Sebagian besar remaja putri di SMA kota dan SMA desa memiliki persepsi body image positif atau memiliki penilaian terhadap bentuk tubuh yang sesuai dengan status gizinya. Remaja putri lebih banyak membatasi makannya dengan cara mengurangi jumlah makan (mengurangi porsi) dan menghindari makanan fast food. Hal ini dapat dikatakan bahwa status gizi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya anemia. Pekerjaan ibu lebih banyak berperan sebagai ibu rumah tangga (IRT). Thompson (2007) menyatakan bahwa IMT mempunyai korelasi positif dengan konsentrasi hemoglobin yang artinya jika seseorang memiliki IMT kurang maka akan berisiko menderita anemia. Remaja putri lebih banyak memilih gambar sebagai persepsi tubuh aktual dan ideal adalah gambar 2. Dimana bila status gizi tidak normal dikhawatirkan status zat besi dalam tubuh juga tidak baik. Sebagian besar status gizi remaja putri di SMA kota dan desa berdasarkan IMT/U adalah normal. r=0.32 Hubungan Status Gizi dengan Status Anemia Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan (p=0. Sebagian besar remaja putri baik di SMA kota maupun di SMA desa memiliki besar keluarga dalam kategori sedang yaitu terdiri atas 5-7 orang. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Contoh dalam penelitian ini adalah remaja putri kelas X SMAN 38. Sebagian besar remaja putri tidak mengalami anemia . kebutuhan zat besi yang diperlukan remaja putri untuk pertumbuhan. Pendidikan ibu proporsi terbesar di SMA kota sampai perguruan tinggi dan di SMA desa sampai SD. SMAN 01 Jasinga dan SMK Giri Taruna Jasinga dengan jumlah 104 remaja masing-masing sekolah 26 orang.002 . Remaja putri yang melakukan diet lebih banyak dilakukan di SMA kota dibandingkan di SMA desa. Tingkat pengetahuan gizi remaja putri di SMA kota lebih tinggi dibandingkan dengan di SMA desa. Tingkat pendapatan keluarga remaja putri di SMA kota yaitu berkisar Rp 3 000 000 – Rp 5 000 000 dan di SMA desa berkisar kurang dari Rp 1 500 000. Secara keseluruhan remaja putri mempersepsikan tubuh aktualnya sesuai dengan status gizi. termasuk salah satunya adalah zat besi. Menurut WHO (2001).304) antara status gizi dengan status anemia. Status gizi merupakan gambaran secara makro akan zat gizi tubuh. SMAN 109 Jakarta. Pekerjaan ayah remaja putri di SMA kota rata-rata bekerja sebagai karyawan swasta dan di SMA desa rata-rata bekerja sebagai buruh. Proporsi terbesar pendidikan ayah remaja putri di SMA kota yaitu sampai perguruan tinggi dan remaja putri di SMA desa yaitu sampai SMA. Hal ini menunjukkan semakin kurus status gizi remaja putri maka remaja beresiko mengalami anemia. Remaja putri dalam penelitian ini termasuk dalam kategori usia remaja awal yaitu 15-16 tahun.

Variations in the preproghrelin gene correlate with higher body mass index. 2006. 2010. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka Utama. Body Intelligence: Menurunkan dan Menjaga Berat Badan Tanpa Diet. Tilev SM. DAFTAR PUSTAKA Abramson E. Am J Clin Nutr. Yogyakarta (ID): Andi. Andea R. edisi ke-6. Nutrition Journal. Namun remaja putri baik di SMA kota maupun di desa memiliki tingkat kecukupan lemak dan karbohidrat yaitu cukup. Medan (ID): Fakultas Psikologi. Izbirak G. 2007. fat mass. Shoji M. 86:25–32. Akman M. memiliki tingkat kecukupan energi dan protein adalah defisit berat dan memiliki tingkat kecukupan zat besi. pengetahuan gizi dan tingkat kecukupan zat besi dengan status anemia. Jakarta (ID) : Gramedia Pustaka utama. konsumsi pangan dan status gizi. Yildiz A. vitamin C kurang. Penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti tentang persepsi body image yang dimiliki oleh remaja laki-laki dan hal-hal yang mempengaruhinya.33 Pada umumnya remaja putri baik di SMA kota maupun SMA desa. 2007. . sebaran tingkat kecukupan remaja putri SMA kota lebih baik diibandingkan dengan remaja putri di SMA desa. Konjiki F. and body dissatisfaction in young japanese women. Hayran O. Hubungan antara body image dan perilaku diet pada remaja [skripsi]. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Dwi Prabantini. Vitrinel A. Komaki G. penerjemah. 2010. Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara status anemia dengan status gizi. 9:67-71 Almatsier S. vitamin A. Perguruan Tinggi Sumatera Utara Ando T. Saran Remaja putri sebaiknya memiliki persepsi body image yang positif sehingga tidak melakukan diet-diet ketat yang menyebabkan defisiensi energi dan zat-zat gizi. 2002. Namun tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi body image dengan perilaku diet. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Diet menurunkan berat badan hendaknya dikonsultasikan kepada ahli gizi atau Badan Konsultasi Gizi serta membaca literatur-literatur gizi terkait dengan diet menurunkan berat badan yang aman agar tidak membahayakan kesehatan remaja putri. Tektas S. Almatsier S. Tanriover O. Dengan demikian. Akan H. Berdasarkan sebaran tingkat kecukupan energi dan zat gizi. Eating patterns of turkish adolescents: a cross-sectional survey. Ichimaru Y. remaja putri SMA kota lebih baik dibandingkan dengan SMA desa.

International Journal Obesity Relating Metabolisme Disorders. Proquest Dissertation and Theses: The Sciences and Engineering Collection [BKKBN] Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Camire ME. Neys van Hoogstraten Foundation (NHF): The Netherland Germov J. Martin NG. Dougherty MP. Departemen Kesehatan RI. 4:18-21. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Indonesia. [terhubung berkala] http://www. 2002. Pedoman Praktis Pemantauan Gizi Orang Dewasa. Bulik CM. 2010. Internet survey of nutrition claim knowledge. 2009. Wade TD. [skripsi]. 2004. Bogor: Institut Pertanian Bogor. [Depkes] Departemen Kesehatan. Nutritional health of Indonesian adolescent girls: the role of riboflavin and vitamin a on iron status. Stunkard AJ and Eaves LJ. Belanda (NL): Wagenigen University. 2008. Riyadi H. Deviance and Change. Body Images: Development. Jakarta (ID) : Rajawali Pers. [Depkes] Departemen Kesehatan. Institut Pertanian Bogor. Dewi M. 2011. Perbandingan penggunaan metode body shape questionnaire (BSQ) dan figure rating scale (FRS) untuk pengukuran persepsi tubuh pada siswi SMA [skripsi]. Khomsan A. Hubungan persepsi body image dan kebiasaan makan dengan status gizi pada atlet senam dan renang di sekolah atlet ragunan jakarta [skripsi]. Predictors of dieting among female college students at Palestinian Universitas: an exploratory study. Lifestyle and nutrition aspect of rural and urban adolescents. Gibson RS. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. New York (US): Guilford. Bayyari WD. 2005. [tesis]. Journal of Food Science Education.bkkbn. Arisman. Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat.34 Anindita TD. [10 Agustus 2013]. Thomas F. Chairunita. 1996. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. 2001. 2005. Cash. 25(10):1517-1524. 2003. Jakarta (ID): EGC Penerbit Buku Kedokteran. Palupi Widyastuti. Modul keluarga berencana. Bogor (ID): Fakultas Pertanian. Principles of Nutritional Assesment Second Editioni. editor. Jakarta: Depkes. Oxford (GB): University Press .id . Gizi dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi. Studi tentang gaya hidup. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Dillon DHS. Dwiriani CM. 2010. Pruzinsky T. pola konsumsi pangan dan status gizi siswa SLTP Negeri 1 Bogor. Relating body mass index to figural stimuli: population-based normative data for caucasians. Heath AC. New York: Oxford University Press. Anwar F. Dewi SD. 2010.go. 2013. William L. 2004. 2005. A Sociology of food & Nutrition: The Social Appetite.

Riyadi H. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Khomsan A. Semarang (ID): Perguruan Tinggi Negeri Semarang. Journal of American College Health. Cruz DL. 2011. 2004. Liu S. Sa’diyyah NY. 2008. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Bandung (ID): Citapustaka Media Perintis. Hardinsyah & Martianto D. Hurlock B. Ford ES. 2006. Mudjajanto ES. Krause’s Food Nutrition & Diet Therapy 11th Edition. 2006. Institut Pertanian Bogor. [diktat]. Studi Implementasi Program Gizi: Pemanfaatan. 2007. Psikologi Perkembangan. 56(4): 359-366. Dasar-Dasar Konseling. kebiasaan makan. Erlangga (ID): Jakarta Isnani F. 2011. 2004. Cakupan. Madanat H. 2010. negative eating styles. dan Dampak terhadap Status Gizi. Teknik Pengukuran Pengetahuan Gizi. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor Luddin A. Marasabessy N. Smith T. Kusharto C. Li L. Keefektifan. Marzuki. 2000. Bogor: Fakultas Pertanian. Sukandar D. 2004. Institut Pertanian Bogor. . Bogor (ID): IPB Press Lingga M. Bogor (ID): Departemen Gizi Masyarakat. Classroom approach for managing dietary restraint. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Diklat Penilaian Konsumsi Pangan. Growth and Development Handbook: newborn trough adolescent. Analisis hubungan social ekonomi dengan tingkat kecukupan protein mahasiswa di asrama TPB IPB 2005-2006 [skripsi]. status gizi dan body image remaja putri yang berstatus gizi normal dan gemuk/obes di SMA Budi Mulia Bogor [Skripsi]. 2006. Anwar F.35 Gross LS. Praktik hidup sehat dan persepsi tubuh ideal remaja putri SMA Negeri 1 Kota Bogor [skripsi]. Mahan K. Bogor: Fakultas Pertanian Bogor. Gunatmaningsih D. Studi tentang pengetahuan gizi. and body image concerns among college women. 2007. Penilaian dan Perencanaan Konsumsi Pangan. Hawks SR. 2004. USA: Elsevies Mandleco BL. Increased consumption of refined carbohydrates and the epidemic of type 2 diabetes in the United States : an ecologic assessment. 79:774–9. Escoot S. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putri di sma negeri 1 kecamatan jatibarang kabupaten brebes tahun 2007 [skripsi]. 1994. Am J Clin Nutr. Khomsan A. Hubungan ukuran tubuh aktual dan ekspos media massa terhadap body image mahasiswa putra dan putri IPB [Skripsi]. aktivitas fisik. Utah: Thomson.

[RISKESDAS] Riset Kesehatan Dasar. Jurnal Media Gizi Indonesia. Adolecense (perkembangan remaja). Sekine M. Buletin Penelitian Kesehatan. Suryanie K. Dasar-Dasar Biokimia. Yoshida K. Departemen Kesehatan. 2000. status gizi dan kesehatan mahasiswa [Skripsi].2 Permaesih D. Diktat Penilaian Gizi Secara Antropometri. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta (ID): UI Press. 2005. Body image. 11:24-30. 1989. perilaku sehat. Bogor. 2007. 1982. Soehardjo. Status gizi dan perkembangan anak usia dini di Taman Pendidikan Karakter Sutera Alam. Hubungan body image dan perilaku makan. Sugimori H.2 No. Rahmawati. Yamagami T. Herman S. 2001. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Republik Indonesia. Riyadi H. 2006. Perry CL. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. 2005.36 Sztainer DN. 2005. Kanayama H. Sosio Budaya Gizi. 2006. Social Cultural Perspective in Nutrition. 156:171-178. .Hall. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor Santrock JW. Terjemahan oleh Soedjarwo. Vol. Hubungan antara konsumsi zat-zat gizi dari makanan dan infeksi cacing dengan prevalensi anemia. Arch Pediatr Adolesc Med. Bakri B dan Fajar I. Surakarta (ID): Fakultas Psikologi Perguruan Tinggi. 2002. Desa Sukamantri [Skripsi]. Irving LM. Hubungan antara citra raga dengan narsisme pada para model [Skripsi]. Sanjur D. Jakarta (ID): Penerbit Erlangga. 2003. Hubungan faktor sosial ekonomi. Supariasa IDN. Kagamimori S. Story M. Penilaian Status Gizi. IPB. Siswanti. Environmental Health and Preventive Medicine. Soekirman. Faktor-faktor yang mempengaruhi anemia pada remaja. 2003. Ilmu Gizi dan Aplikasinya. Nirmala Y. Weight-related concerns and behaviors among overweight and nonoverweight adolescents. Jakarta (ID): Buku Kedokteran EGC. Hannan PJ. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. 2006. New Jersey: Prentice. 2007. status gizi dan penyakit dengan keluhan kesehatan pada mahasiswa putra Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB tahun 2002/2003 [Skripsi]. 2004. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Pendidikan Tinggi. Jakarta (ID): DirJen PTDPN Suka M. Santika O. 33(4):162-171 Poedjiadi A. Englewood Cliffs. Pusat Antar Perguruan Tinggi Pangan dan Gizi. body satisfaction and dieting behavior in Japanese preadolescents: The Toyama Birth Cohort Study.

Iron Deficiency Anaemia. 2006. Adams T. Angka Kecukupan Gizi dan Acuan Label Gizi. 2004. Wulansari Y. 56:579-585. Hampl JS. Kesehatan Reproduksi. 2006. Weight loss practices and body weight perceptions among US college student.Prevention. [WNPG] Widya Nasional Pangan dan Gizi VIII. Growth reference 5-19 years. 2008. Zarianis. . Widyastuti Y et al. 2001. Food-based approaches for combating iron deficiency. Edited by Klaus Kraemer & Michael B. 2007.html. and Control : A guide for programme managers. [WHO] World Health Organization. Journal of American College Health. Yogyakarta: Fitramaya. Assessment. Ketahanan Pangan dan Gizi di Era Otonomi Daerah dan Globalisasi. Di dalam Nutritional Anemia.int/growthref/who2007/bmi for age/en/index. Efek suplementasi besi-vitamin C dan vitamin C terhadap kadar hemoglobin anak sekolah dasar yang anemia di Kecamatan Sayung Kabupaten Demak [Tesis]. 2007. Semarang (ID): Perguruan Tinggi Diponegoro. http://www. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Estimasi kerugian ekonomi akibat anemia gizi besi di berbagai provinsi di Indonesia dan biaya penanggulangan melalui suplementasi [Skripsi]. Switzerland : Sight and Life Press Wharton CM. Hal 21. Zimmermann. Geneva : World Health Organization [WHO] World Health Organization. [26 Mei 2013]. 17-19 Desember 2004.37 Thompson B. 2009.who.

Oban dan Nunung. . penulis melanjutkan studi di mayor Ilmu Gizi. Penulis aktif sebagai staf kulinari gizi IPB tahu 2011-2012. Setelah satu tahun mengikuti program Tingkat Persiapan Bersama (TPB). fakultas. Pada bulan Juli-Agustus 2012 penulis melaksanakan Kuliah Kerja Profesi di Desa Harjosari. Pendidikan penulis diawali pada tahun 1997-2003 di Sekolah Dasar Negeri 19 Jakarta Pusat dan melanjutkan masa pendidikannya di SMP Negeri 76 Jakarta Pusat tahun 2003-2006 serta SMA Negeri 27 Jakarta Pusat tahun 2006-2009. Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Penulis juga aktif diberbagai kepanitiaan internal maupun eksternal didepartemen. Selama masa perkuliahan penulis aktif dan berpartisipasi dalam kegiatan kemahasiswaan dan kepanitiaan. Penulis merupakan putri bungsu dari dua bersaudara pasangan Alm. Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB).38 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 20 Oktober 1990. Departemen Gizi Masyarakat. Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan dan pada Maret 2013 penulis mengikuti Internship Dietetik (ID) di Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi.