Anda di halaman 1dari 35

REFERAT

Asfiksia Mekanik

Oleh:
1. Apriana Aidiyatul Fitri
2. Qori Adawiyah
3. Salman Faris

H1A008003
H1A008049
H1A0040

Pembimbing:
Dr. Arfi Syamsun, Sp.KF, M.Si.Med

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


DI BAGIAN/SMF FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2013

Asfiksia adalah suatu keadaan di mana terjadi kekurangan oksigen yang disebabkan oleh
karena terganggunya saluran pernapasan (Apuranto, 2007). Asfiksia merupakan kumpulan
dari pelbagai keadaan di mana terjadi gangguan dalam pertukaran udara pernafasan yang
normal. Gangguan tersebut dapat disebabkan disebabkan karena adanya obstruksi pada
saluran pernafasan dan gangguan yang diakibatkan karena terhentinya sirkulasi. Asfiksia
yang diakibatkan oleh karena adanya obstruksi pada saluran pernapasan disebut sebagai
asfiksia mekanik. Asfiksia jenis inilah yang paling sering dijumpai di dalam kasus tindak
pidana yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia, misalnya obstruksi saluran pernafasan,
kompresi pembuluh darah leher, perangsangan langsung terhadap sinus caroticus, dan
perubahan biokimiawi dan sirkulasi, seperti yang terjadi pada tenggelam (Idries, 1997).
Asfiksia mekanik merupakan anoksia anoksik. Anoksia anoksik adalah keadaan anoksia
yang disebabkan karena kurangnya oksigen yang masuk paru-paru sehingga oksigen tidak dapat
mencapai darah dan gagal untuk masuk dalam sirkulasi darah. Kegagalan ini bisa disebabkan adanya
sumbatan/obstruksi di saluran pernapasan, baik oleh sebab alamiah (misalnya penyakit yang disertai
dengan penyumbatan saluran pernafasan seperti laringitis difteri, status asmatikus, karsinoma
bronchonenik, dan sebagainya) atau oleh trauma/kekerasan yang bersifat mekanik, seperti tercekik,
penggantungan, tenggelam dan sebagainya (Apuranto, 2007).

Secara fisiologis, anoksia ialah kegagalan oksigen mencapai sel-sel tubuh. Kematian oleh
karena anoksia terjadi bila persediaan oksigen pada jaringan tubuh berkurang sampai di
bawah batas minimum keperluan untuk hidup (Apuranto, 2007).
Pada orang yang mengalami asfiksia, akan timbul gejala yang dapat dibedakan dalam
empat stadium, yaitu dispnea, konvulsi, apnea dan final. Pembagian ini secara prinsip adalah
penting karena dapat memberikan keterangan yang jelas akan patofisiologi dari proses
asfiksia. Stadium-stadium tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang
menyebabkan keempat stadium tersebut tidak terbagi secara jelas (Apuranto, 2007). Waktu
dari saat asfiksia timbul hingga terjadi kematian sangat bervariasi, tergantung dari tingkat
penghalangan oksigen, bila tidak 100% maka waktu kematian akan lebih lama dan tandatanda asfiksia akan lebih jelas dan lengkap (Budiyanto, 1997).
1. Dispnea
Penurunan kadar oksigen sel darah dan penimbunan CO 2 dalam plasma akan
merangsang pusat pernafasan di medulla oblongata, sehingga amplitudo pernafasan dan
frekuensi pernafasan meningkat, nadi cepat, tekanan darah meninggi dan mulai tampak
tanda sianosis, terutama paada muka dan tangan.

2. Konvulsi
Akibat kadar CO2 yang naik, maka timbul rangsang terhadap susunan saraf pusat
sehingga terjadi konvulsi, semula klonik, tetapi kemudian menjadi kejang tonik dan
akhirnya timbul kejang epistotonik. Pupil dilatasi, bradikardi dan tekanan darah menurun
oleh karena paralisis pada pusat syaraf yang letaknya lebih tinggi.
3. Apnea
Pusat pernafasan mengalami depresi yang berlebihan, dengan gejala nafas sangat lemah
atau berhenti, kesadaran menurun, dan akibat relaksasi sfingter dapat terjadi pengeluaran
feses, urin dan sperma.
4. Final

Paralise total pusat pernafasan, jantung masih berdenyut beberapa saat postapneu.

Pernafasan berhenti setelah kontraksi otomatis otot pernafasan kecil pada leher.
Secara patologi, apa yang ditemukan pada postmortem dari kematian karena anoksia dari

segala tipe di atas dapat dibagi atas (Apuranto, 2007):


1. Perubahan primer
Perubahan primer merupakan perubahan patologi sebagai akibat langsung dari
anoksia. Perubahan ini terdapat di seluruh tubuh tanpa membedakan tipe anoksia.
Karena otak adalah organ tubuh yang paling peka terhadap anoksia, maka perubahan
primernya paling penting. Terdapat perubahan elektrolit di mana kalium
meninggalkan sel dan diganti dengan natrium yang mengakibatkan terjadinya retensi
air dan gangguan metabolisme, sehingga sel-sel otak mati dan menjadi glial tissue.
Bila orang yang mengalami anoksia ini dapat hidup beberapa hari sebelum meninggal,
maka perubahan tersebut sangat khas pada otak besar, otak kecil dan basal ganglia.
Bila orangnya meninggal cepat (acute anoxia), maka perubahannya tidak spesifik dan
dapat dikaburkan dengan gambaran postmortem autolisis dan postmortem damage.
Dari sudut pandang Ilmu Kedokteran Forensik, anoksia dapat dibuktikan hanya
apabila ada reaksi sel-sel otak seperti di atas. Organ tubuh yang lain metabolisme
rasionya lebih rendah daripada otak, sehingga perubahan primernya tidak jelas.
2. Perubahan sekunder
Perubahan

sekunder

merupakan

perubahan

patologi

yang

meskipun

tidak

berhubungan langsung dengan anoksia, tetapi ada hubungan penyebabnya dan tubuh
mengadakan kompensasi terhadap anoksia.

Perubahan tergantung dari proses kejadiannya. Pada asfiksia mekanik, jantung


mengkompensasi dengan memperbesar outputnya. Pada saat yang sama, arterial dan
venous pressure meningkat. Akhirnya, lama-kelamaan jantung mengalami kegagalan.
Postmortem darah akan berwarna gelap dan terjadilah venous dan pulmonary
congestion. Kadang-kadang tidak ada perubahan sekunder karena kegagalan jantung
terjadi begitu cepat.
Pada asfiksia karena strangulasi, venous return dari kepala terganggu sehingga terjadi
pembendungan pada kepala dan leher sehingga timbul perdarahan petechial di
konjungtiva palpebra, kulit wajah, kepala, pada otak, pleura dan juga perikard.
Perubahan petechiae ini disebut tardieu spot, yang disebabkan peningkatan tekanan
intrakapiler dan peningkatan permeabilitas kapiler akibat anoksia.

1. Penggantungan (Hanging/Strangulation by Suspension)


a. Definisi:
Suatu strangulasi di mana tekanan pada leher disebabkan oleh jerat yang menjadi erat
akibat berat badan korban sendiri, sehingga saluran udara pernapasan tertutup
(Apuranto, 2007).
b. Mekanisme:
Saluran udara tertutup karena pangkal lidah terdorong ke atas belakang, ke arah
dinding posterior faring. Palatum mole dan uvula terdorong ke atas, menekan epiglotis
sehingga menutup lubang laring (Apuranto, 2007).
c. Sebab kematian:
1. Asfiksia
2. Gangguan sirkulasi darah otak karena tertekannya vena jugularis dan/atau arteri
karotis sehingga terjadi anoksia serebral.
3. Vagal refleks (syok)
4. Kerusakan batang otak atau sumsum tulang belakang.
(Apuranto, 2007)
d. Cara kematian:
1. Bunuh diri (paling sering)
Bunuh diri adalah suatu perbuatan yang direncanakan. Oleh karena itu, pada
pemeriksaan Tempat Kejadian Perkara (TKP), rencana tersebut harus dapat
ditemukan kembali. Kadang suatu pembunuhan dapat direncanakan dengan

tenang sehingga menyerupai kasus bunuh diri. Akan tetapi, bila korban yang akan
dibunuh tidak mengikuti rencana dan bila pembunuhan telah terjadi, jiwa
pembunuh dalam keadaan tegang dan semua dilakukan dengan tergesa-gesa
karena takut diketahui orang. Dalam keadaan demikian, pembunuh akan membuat
berbagai kesalahan dan kesalahan inilah yang harus dicari pada pemeriksaan TKP
(Apuranto, 2007).
Bunuh diri klasik dengan menggantung dilakukan dengan satu ujung tali diikatkan
pada belandar dan untuk itu diperlukan tangga atau alat lain untuk mencapai
belandar. Kemudian korban mengambil kursi dan berdiri di atasnya lalu membuat
jerat (simpul) pada ujung tali yang lain yang lubangnya dapat disempitkan dan
dilonggarkan (simpul hidup). Kemudian kepala dimasukkan dalam jerat dan kursi
digulingkan sehingga korban menggantung dengan kaki bebas dari lantai
(Apuranto, 2007).
Pada bunuh diri dengan menggantung, kaki tidak selalu bebas dari lantai. Bunuh
diri dapat dilakukan dengan berdiri kemudian lutut ditekuk atau dalam keadaan
duduk atau terbujur dan telungkup di bawah tempat tidur (Apuranto, 2007).
Pada kasus gantung diri, perlu diperhatikan jeratnya. Bila jeratnya tidak dapat
disempitkan/dilonggarkan (simpul mati), dan lubang jerat tidak cukup melewati
kepala, maka harus diwaspadai suatu pembunuhan. Jika talinya berserabut, maka
perhatikan arah serabut yang menggeser pada belandar, di mana aras serabut
selalu berlawanan dengan arah traksi (Apuranto, 2007).
Alat penggantung dapat dibedakan dua macam, yaitu alat penggantung lunak dan
keras. Alat penggantung lunak misalnya selendang dan stagen yang menyebabkan
vena di leher tertutup sehingga muka korban menjadi biru. Alat penggantung keras
misalnya tali, kabel yang menyebabkan vena dan arteri tertutup sehingga muka
korban nampak pucat (Apuranto, 2007).
Pada kasus gantung diri tidak mutlak ditemukan patah tulang lidah. Hal ini
tergantung dari usia, macam alat penggantungnya dan dari ketinggian berapa
korban menjatuhkan diri. Alat penggantung lunak biasanya tidak menyebabkan
patah tulang lidah. Pada kasus bunuh diri yang menggantung bebas tidak boleh
ada luka memar. Bila ditemukan memar maka waspadai ke arah pembunuhan.
Bila korban menggantung di sudut kamar, pada bagian tubuh yang menonjol dapat
ditemukan lecet atau memar misalnya pada daerah lutut, siku, atau bahu
(Apuranto, 2007).

Pada kasus gantung diri tidak selalu ditemukan mata melotot, lidah terjulur,
mengeluarkan mani, darah dari vagina dan feses. Mata melotot dijumpai kalau
vena tertutup sehingga terjadi kongesti di belakang bola mata. Sedangkan lidah
terjulur tergantung dari letak jeratan yaitu bila letaknya di bawah jakun (Apuranto,
2007).
Bila mayat sudah diturunkan sebelum penyidik datang, maka untuk membuktikan
kebenaran bahwa korban menggantung, harus diperiksa blandar apakah ada
bagian yang bersih dari debu karena gesekan alat penggantung atau bekas tangan
korban atau pelaku (Apuranto, 2007).
2. Kecelakaan
Kecelakaan sewaktu bermain umumnya pada anak-anak dan tidak membutuhkan
penyidikan yang sulit karena biasanya kasusnya jelas, misalnya tersangkut batang
pohon. Kematian yang terjadi sewaktu pelampiasan nafsu seksual yang
menyimpang memerlukan pemeriksaan yang teliti dalam hal mempelajari dan
menguraikan tali-tali yang dipakai yang seringkali diikatkan pada banyak tempat.
Ikatan pada daerah genitalia, lengan, tungkai, leher dan mulut. Kematian terjadi
karena ikatannya terlalu keras, atau hentakannya terlalu kuat sehingga leher
terjerat. Pada autoerotic hanging, tidak jarang dijumpai gambar dan benda-benda
yang termasuk porno, kondom dan korban umumnya pria yang tidak jarang
memakai pakaian wanita (Apuranto, 2007).
3. Pembunuhan
Pembunuhan dengan cara menggantung korbannya relatif jarang dijumpai. Cara
ini baru dapat dilakukan bila korbannya anak-anak atau orang dewasa yang
kondisinya lemah, baik lemah karena sakit, di bawah pengaruh obat bius, alkohol
atau pada waktu korban sedang tidur. Pembunuhan biasanya sulit dilakukan oleh
hanya seorang pelaku. Agar pembunuhan dapat berlangsung, tubuh pelaku harus
lebih kuat daripada korban. Alat penjerat yang digunakan biasanya telah
dipersiapkan oleh pelaku (dibawa dari rumah) atau dapat pula alat tersebut berada
di sekitar korban (Apuranto, 2007).
Selain tanda-tanda asfiksia, dapat juga ditemukan luka-luka pada tubuh korban,
situasi TKP yang berantakan, adanya tanda-tanda perlawanan dari korban, dan
lain-lain. Dalam melaksanakan niatnya, seringkali leher korban mendapat trauma
sehingga dapat ditemukan luka lecet berbentuk bulan sabit yang berasal dari

tangan pelaku. Memar hebat dapat ditemukan di bawah jaringan otot dan alat-alat
leher, tulang, lidah dan rawan gondok dapat patah (Apuranto, 2007).
Pembunuhan dengan mempergunakan tali lasso merupakan contoh yang baik
untuk kasus homicidal hanging, yaitu setelah lasso menjerat leher, korban segera
dikerek ke atas. Makin jauh jarak kaki korban dengan lantai, makin kuat dugaan
pembunuhan. Makin dekan jarak antara simpul dengan tiang tumpuan untuk
menggantung, maka makin kuat dugaan bahwa kasus yang dihadapi adalah kasus
pembunuhan (Apuranto, 2007).
Pada hukuman mati, terhukum dengan jerat pada lehernya dibuat jatuh pada
ketinggian lebih kurang 6 kaki (1,5 2 meter). Di sini, sebab kematiannya adalah
kombinasi dari syok, asfiksia dan kerusakan medula spinalis karena fraktur dan
dislokasi vertebra cervicalis 3 4. Tali biasanya dilingkarkan pada sudut dagu.
Sering pula terjadi patah os thyroid dan kerusakan intima arteri carotis (Apuranto,
2007).
Perbedaan kasus bunuh diri dengan kasus pembunuhan (Apuranto, 2007):
a. Keadaan TKP, di mana korban ditemukan biasanya tenang, dalam ruang atau tempat
yang tersembunyi atau pada termpat yang sudah tidak dipakai.
b. Posisi korban yang tergantung lebih mendekati lantai, berbeda dengan pembunuhan di
mana jarak antara kaki dengan lantai cukup lebar.
c. Pakaian korban rapi, sering didapatkan surat peninggalan dalam saku yang isinya
adalah alasan mengapa ia melakukan tindakan nekat tersebut.
d. Pada leher tidak jarang diberi alas sapu tangan atau kain sebelum alat penjerat
dikalungkan ke lehernya.
e. Jumlah lilitan dapat hanya satu kali, semakin banyak lilitan maka dugaan bunuh diri
semakin besar.
Cara memeriksa korban (Apuranto, 2007).
a. Sebelum keadaan diubah, sebaiknya diabadikan dengan foto
b. Kemudian tali dipotong pada tempat yang bebas dari simpul.
c. Cara memotong: tali diikat dengan benang pada dua tempat kemudian dipotong secara
miring/serong. Tujuan ikatan ini utnuk mencegah terurainya serabut tali jerat.
Pemotongan serong perlu untuk rekonstruksi oleh karena dengan pemotongan miring
maka hanya ada satu kemungkinan tempat yang cocok untuk disambung kembali.

d. Jerat pada korban jangan dilepas dulu sampai dilakukannya pemeriksaan di rumah
sakit.
Pada simpul hidup: jerat dilepaskan tanpa membuka simpul
Pada simpul mati: jerat dilepaskan dengan memotong tali jerat pada tempat yang
bebas simpul.
Pemeriksaan kasus penggantungan (hanging)
A. Pemeriksaan setempat (Apuranto, 2007)
1. Tentukan korban masih hidup atau sudah meninggal. Bila masih hidup maka
diusahakan memberikan pertolongan secepatnya.
2. Kumpulkan bukti-bukti yang dapat memberi petunjuk cara kematian. Hati-hati
terhadap kasus pembunuhan terselubung, misalnya adakah alat penumpu
untuk mencapai suatu ketinggian dan arah serabut tali penggantung. Bila
korban dibunuh dulu baru digantung dengan cara menggerek maka arah
serabut tali menjauhi korban, dan juga lebam mayat dapat ditemukan pada dua
tempat yang berlainan, misalnya di belakang tubuh dan pada bagian distal
tungkai dan lengan.
3. Perhatikan jeratnya, apakah simpul hidup ataukah simpul mati. Apabila simpul
mati, maka dicoba apakah dapat melalui lingkar kepala atau tidak.
4. Setelah selesai melakukan pemeriksaan termasuk memperkirakan saat
kematian korban, maka sebelum kita menurunkan korban, maka harus kita
ukur tinggi tiang gantungan, panjang tali penggantung, jarak tali dengan ujung
kaki apabila korban tergantung bebas. Pada kasus menggantung, tidak selalu
harus kaki lepas dari lantai, dapat dalam posisi berlutut, setengah duduk dan
sebagainya. Semua ini diperlukan untuk rekonstruksi di kemudian hari.
5. Letak korban di TKP: korban ada di suatu tempat yang bebas dari bendabenda lain atau korban berdekatan dengan benda lain (lemari, tempat tidur,
dinding, dan sebagainya). Perhatikan juga pada tubuh korban ditemukan
kekerasan benda tumpul atau tidak
6. Cara menurunkan korban: potonglah bahan penggantung di luar simpul seperti
cara tersebut di atas.
7. Bekas serabut tali pada tempat bergantung dan pada leher diamankan untuk
pemeriksaan lebih lanjut.

8. Perhatikan bahan penggantungnya: makin kecil dan makin keras bahan yang
dipakai, maka makin jelas alur jerat yang timbul pada leher.
9. Lidah terjulur, mata melotot, keluar mani dan feses, keluar darah dari
kemaluan wanita, semua itu bukan merupakan petnjuk dari cara kematian.
i. Lidah terjulur/tidak adalah tergantung letak jerat di leher. Bila letaknya
di bawah jakun (cartilago thyroidea) maka lidah akan terjulur,
sebaliknya bila letaknya di atas jakun maka lidah akan tertarik ke
dalam.
ii. Mata melotot adalah akibat bendungan di kepala (dalam rongga bola
mata).
iii. Keluar mani, feses, urine, darah dari vagina: adalah akibat stadium
konvulsi pada saat akan mati yang mengenai otot-otot vesica seminalis,
rectum dan uterus.
B. Pemeriksaan otopsi (Apuranto, 2007)
1. Pemeriksaan luar
i. Kepala
Lidah yang terjulur atau mata yang melotot biasanya akan
menghilang bila jerat sudah dilepas. Muka akan berwarna biru bila
aliran darah vena terhambat sedangkan aliran arteri tidak
terhambat,

keadaan

ini

biasanya

dijumpai

bila

bahan

penggantungnya lunak. Muka akan berwarna pucat bila aliran


darah vena dan arteri terhambat, hal ini biasanya terjadi bila bahan
penggantungnya keras.
Bendungan pada kepala menyebabkan pecahnya venule pada mata,
juga pada asfiksia akan meningkatkanpermeabilitas pembuluh
darah sehingga timbul bintik-bintik perdarahan (tardiue spot).
ii. Leher
Setelah jerat dilepas, akan tampak jalur jerat pada kulit leher, alur dapat
pucat, tepi alur berwarna merah cokelat karena luka lecet. Mungkin
juga seluruh alur berupa luka lecet warna merah kecoklatan tergantung
bahan/jenis jeratnya. Kulit yang berbatasan dengan alur dapat
mengalami sedikit pembendungan pembuluh darahnya sehingga timbul
ekimosis, yang oleh beberapa ahli dikatakan sebagai tanda intravital.

Makin kecil penampang dan makin keras bahan yang dipakai maka
makin jelas alur yang timbul. Alur pada jenazah yang masih baru
mungkin tidak jelas, tetapi postmortem terjadi pengeringan dan akan
tampak bentuk alur yang tidak jelas tadi. Arah alur dapat simetris atau
asimetris, tergantung dari letak simpul dan akan berjalan miring ke atas
menuju letak simpul.
Fraktur artifisial dapat terjadi bila terlalu kasar pada waktu otopsi, akan
tetapi di sini tanda-tanda intravital tidak ditemukan. Tanda-tanda
intravital berupa perdarahan di sekitar fraktur.
Bila tanda intravital tidak jelas, maka:
1. Bahan yang dicurigai dimasukkan ke dalam larutan formalin 10%
selama 3 x 24 jam untuk memfiksir semua tanda-tanda intravital.
2. Kemudian masukkan ke dalam larutan alkohol 95% selama 1 x
24 jam untuk memberikan warna. Dengan demikian perdarahan
yang terjadi di sekitar daerah fraktur dapat ditemukan.
iii. Anggota gerak
Ditemukan lebam mayat pada ujung bawah lengan dan tungkai.
Perhatikan apakah ada luka memar atau luka lecet yang mungkin
diakibatkan persentuhan dengan benda-benda di sekitar korban.
iv. Kelamin dan dubur
Kadang-kadang ditemukan air seni, cairan mani, feses atau darah dari
vagina.
2. Pemeriksaan dalam
i. Rongga kepala
Tanda-tanda bendungan pada pembuluh darah otak. Pada hukuman
gantung (judicial hanging) dapat dijumpai kerusakan sumsum tulang
belakang (medula spinalis).
ii. Leher
Cari perdarahan pada otot dan jaringan di daerah alur jerat. Cari patah
tulang lidah dan/atau tulang rawan gondok. Mungkin terjadi robekanrobekan kecil pada bagian intima pembuluh darah leher.
Tanda-tanda kekerasan pada daerah leher (tidak selalu ada) berupa:

Fraktur processus atau cornu superior cartilago thyroidea

Perdarahan di dalam otot-otot leher

Robekan musculus sternocleidomastoideus dan ligamentum


thyrihyoid

Fraktur cornu os hyoid

Robekan-robekan kecil pada intima vena jugularis

iii. Dada dan perut


Akibat bendungan pembuluh darah dan asfiksia dapat terjadi
perdarahan kecil-kecil, misalnya pleura dan peritoneum. Organ-organ
tubuh mengalami pembendungan terutama organ-organ dalam rongga
abdomen bagian bawah.
Simulated Suicidal Hanging
Merupakan pembunuhan yang dibuat sedemikian rupa seolah-olah gantung diri.
Tidak ada reaksi intravital dan tidak adanya kelainan akibat pembendungan pada kepala
dan leher, tidak dapat dipakai sebagai bukti bahwa tubuh telah digantung sesudah mati
(Apuranto, 2007).
Penentuan diagnosis pada kasus tersebut harus tergantung pada (Apuranto, 2007):
1. Adanya sebab kematian lain atau trauma yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh
korban sendiri
2. Distribusi dari lebam mayat yang tidak sesuai. Hal ini mempunyai arti apabila lebam
mayat sudah terfiksir sebelum mayat digantung.
3. Tanda-tanda dari simpul jerat
Bila seseorang telah meninggal, kemudian digantung, maka biasanya jeratnya
diikatkan

melingkari

leher

dulu,

baru

kemudian

gantung

ke

tiang

gantungan/belandar/pohon. Karena itu, bila tiang belandar diperhatikan, akan terdapat


tanda-tanda bahwa talinya telah bergerak dari bawah ke atas. Hal ini sesuai dengan arah
bergeraknya tubuh korban. Dari serat-serat kecil gesekan tali juga bisa diketahui arahnya
pada suicidal hanging mungkin juga dapat ditemukan serabut-serabut dari tali pada
tangan korban, sedangkan pada simulated hanging hal ini tidak ditemukan (Apuranto,
2007).

Gambar 1. Arah serat tali sehubungan dengan arah tarikan tali.


2. Penjeratan (Strangulation by ligature)
a. Definisi
Jerat (strangulation by ligature) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher
korban akibat suatu jeratan dan menjadi erat karena kekuatan lain bukan karena berat
badan korban. Penjeratan biasanya memakai alat yang permukaannya relatif sempit
dan panjang, dapat berupa tali, ikat pinggang, rantai, stagen, dan sebagainya,
melingkari atau mengikat leher yang makin lama makin kuat di mana kekuatan jeratan
berasal dari tarikan kedua ujungnya sehingga secara berturutan pembuluh darah balik,
arteri superfisial dan saluran nafas tertutup (Budiyanto dkk., 1997).
b. Mekanisme Kematian
Mekanisme matinya bisa karena tertutupnya jalan nafas hingga terjadi asfikisa, atau
tertutupnya vena hingga anoksia otak, atau refleks vagal atau karena tertutupnya arteri
karotis sehingga otak kekurangan darah. Biasanya arteri vertebralis tetap paten karena
kekuatan atau beban yang menekan pada penjeratan biasanya tidak besar (Budiyanto
dkk., 1997).
c. Sebab Kematian
Ada 3 penyebab kematian pada jerat, yaitu (Budiyanto dkk., 1997; Apuranto, 1997):

Asfiksia

Iskemia oleh karena gangguan sirkulasi otak

Vagal refleks

d. Cara Kematian
Penjeratan biasanya merupakan peristiwa pembunuhan, meskipun dapat karena bunuh
diri maupun kecelakaan. Pembunuhan pada kasus jeratan dapat dijumpai pada
kejadian infanticide dengan menggunakan tali pusat, psikopat yang saling menjerat,
dan hukuman mati (zaman dahulu). Kecelakaan pada kasus jeratan dapat ditemukan

pada bayi yang terjerat oleh tali pakaiannya sendiri dan pemabuk. Pada kasus bunuh
diri dengan jeratan, dilakukan dengan melilitkan tali secara berulang di mana satu
ujung difiksasi dan ujung lainnya ditarik. Antara jeratan dan leher dimasukkan tongkat
lalu mereka memutar tongkat tersebut (Budiyanto dkk., 1997).
Hal-hal penting yang perlu kita perhatikan pada kasus jeratan, antara lain (Budiyanto
dkk., 1997):

Arah jerat mendatar/horisontal.

Lokasi jeratan lebih rendah daripada kasus penggantungan.

Jenis simpul penjerat.

Bahan penjerat misalnya tali, kaus kaki, dasi, serbet, dan lain-lain.

Pada kasus pembunuhan biasanya kita tidak menemukan alat yang digunakan
untuk menjerat.

e. Gambaran Postmortem
Pemeriksaan otopsi pada kasus jeratan mirip kasus penggantungan kecuali pada
(Budiyanto dkk., 1997):

Distribusi lebam mayat yang berbeda.

Alur jeratan mendatar/horisontal.

Lokasi jeratan lebih rendah.


Pada kasus penjeratan, tali yang digunakan kadang-kadang telah dipotong atau

dipindahkan. Secara ideal, talinya tergelincir di atas kepala si korban. Posisi dan tipe
simpul memberikan bukti yang berharga apakah seseorang itu mungkin telah diikat.
Ini juga penting bahwa tali seharusnya tidak teregang ketika mereka memegang
talinya atau dipindahkan dari mayat. Bahan-bahan dari pakaian dapat digunakan untuk
menekan leher. Serabut-serabut sintetik pada stoking, dasi atau bagian dari bahan
nylon mungkin dapat mengindikasikan bahan-bahan yang digunakan sebagai tali
sewaktu leher ditekan sebagai bukti yang bagus untuk menentukan apakah kematian
disebabkan kecelakaan atau pencederaan. Salah satu kasusnya, seorang suami
mengaku bahwa dia telah mencoba mencekik leher istrinya dengan bahan nylon
(kain). Derajat dari deformitas serabut-serabut sangat dianjurkan karena seberapa jauh
paksaan yang digunakan pelaku untuk mencekik (Mason & Purdue, 2000).
Kerusakan beberapa jaringan luar dan organ dalam sangat erat kaitannya dengan
posisi dan tekanan konstriksi daripada tipe penjeratannya. Sebagai contoh, tanda
pengikatan yang luas seperti stocking, menyebabkan kerusakan yang ringan pada

struktur leher, dibandingkan dengan tali yang kurang lebar. Penjeratan yang sering
tidak disengaja sering terjadi pada bayi dan balita, biasanya disebabkan oleh kerah
baju yang terlalu besar. Sedangkan asfiksia pada orang dewasa biasanya disebabkan
karena pakaian yang tersangkut pada mesin (Mason & Purdue, 2000).
Green menemukan pada kasus penjeratan menimbulkan jejas pada leher dan bila
jejas pada leher tidak ada biasanya terjadi karena pembekapan dengan tangan. Sering
ditemukan kerusakan pada arteri karotis, berupa pendarahan dibawah tunika intima,
sobekan pada tunika intima di bagian atas arteri komunis, serta pecahnya plak
atheroma pada karotis (Mason & Purdue, 2000).
Mungkin kasus yang paling penting disebabkan karena penjeratan, hampir selalu
didukung oleh tanda dan posisi dari penjeratan. Tidak hanya untuk mengetahui
kemungkinan kejadian itu merupakan suatu kecelakaan, pembunuhan maupun bunuh
diri, tetapi juga jenis dari jejas pada penjeratan. Sebagai tambahan, posisi dari tanda
penjeratan dapat mememastikan waktu kejadian antara waktu kontriksi sampai
terjadinya kematian. Waktu kejadian tergantung dari besar konstriksi

dan posisi

jeratan. Rentoul dan Smith melakukan percobaan untuk menemukan efek dari jeratan
terhadap kecepatan kematian. Jika jeratan diletakan di antara rahang dan tulang hyoid,
kekuatan pernapasan dipengaruhi tetapi masih bisa bernapas. Waktu yang diperlukan
untuk melepaskan jeratan yaitu lebih dari 2 menit. Jika terletak diatas larynx,
diperlukan 1-5 menit untuk melepaskannya. Jika terletak lebih bawah, di atas
kartilago jeratan simpul harus dilepaskan sesegera mungkin dalam beberapa detik
masih dapat diselamatkan (Mason & Purdue, 2000).
Efek konstriksi pada struktur leher disebabkan oleh beberapa faktor, seperti oklusi
sirkulasi serebral, tekanan pada refleks vagal dan nervus phrenicus dan sumbatan jalan
napas. Yang terakhir kejadian gantung diri, ketika pengikat tali biasanya terletak
diantara laring dan tulang hyoid atau antara tulang hyoid dan dibawah rahang. Hal ini
menyebabkan lidah keluar ke atas dan ke depan, dan dalam prosesnya lidah terjepit
diantara gigi, tanda gigi sering ditemukan pada lidah. Pada beberapa kasus, ini dapat
memberi indikasi yang bermanfaat pada kecurigaan gantungan pada saat hidup dan
memberikan penilaian termasuk kemungkinan kecurigaan penggantungan tubuh post
mortem. Penampilan oral yang dicurigai pada kematian kekerasan asphxia yaitu
penemuan gigi yang berwarna merah muda. Mungkin faktor adanya karbon dioksida
pada saturasi darah, kemungkinan karena kurangnya oksigen di jaringan post mortem.
Ini indikasi lain yang membantu mekanisme kematian tetapi tidak spesifik untuk

asfiksia. Turgesen pada penis dan adanya semen pada meatus urethra dipandang
sebagai ciri kematian karena pencekikan. Bagaimanapun, terjadi pada banyak tipe
kematian dan mungkin dijelaskan oleh hipotesis dan efek pada rigor mortis (Mason &
Purdue, 2000).
Tanda tali pada leher memerlukan pengamatan yang teliti. Hasil rekaman
fotografi yang mendetail, termasuk skala ukuran, pemakaian tali tunggal dan ganda
penting dilakukan. Percobaan bunuh diri seringkali gagal pada pertama kali karena
talinya putus. Pada percobaan kedua sukses maka akan meninggalkan beberapa tanda
di leher. Mungkin juga terjadi pada percobaan bunuh diri dengan cara lain, seperti
pada memotong pergelangan tangan dan menusuk diri sendiri (Mason & Purdue,
2000).
Alur gantungan pada leher berubah-ubah bentuknya. Tanda simpul, penebalan
irregular, ukuran tali dan lain-lain dapat dikenali dengan mudah, dan lebarnya tali
penjerat dapat diukur. Tanda sekitar leher biasanya tunggal pada bunuh diri, kecuali
tali ganda digunakan pada beberapa kasus atau tali tergelincir keatas setelah aplikasi
pertama. Bentuk lekukan seperti perkamen kuning dan lekukan terdalam dititik berat
tubuh yang ditopang tali. Terdapat lipatan kulit disisi superior lekukan tersebut.
Pembunuhan dicurigai jika terdapat tanda secara horizontal melewati leher dan lebih
dari satu. Pada keadaan itu tanda jari penyerang sering ada di sisi atau punggung leher.
Abrasi kuku jari korban ditemukan di depan telinga, menunjukkan perlawanan untuk
menyingkirkan tali. Tanda yang tidak sengaja pada leher mungkin dihasilkan oleh
pakaian yang ketat pada anak-anak dan pada obesitas dan oedem. Tanda yang sama
juga dapat karena kain yang digunakan untuk menutup mulut mayat. Tanda itu
biasanya ringan dan tidak menimbulkan kerusakan struktur leher. Disisi lain tanda tali
sulit dikenali pada mayat yang busuk atau tenggelam dalam waktu lama. Pemeriksaan
makro dan mikroskopik terhadap kulit dan struktur leher akan membantu pada kasus
itu (Mason & Purdue, 2000).
3. Pencekikan (Manual strangulation)
a. Definisi
Pencekikan (manual strangulation) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada
leher korban yang dilakukan dengan menggunakan tangan atau lengan bawah.
Pencekikan adalah penekanan leher dengan tangan yang menyebabkan dinding

saluran nafas bagian atas tertekan dan terjadi penyempitan saluran nafas, sehingga
udara pernafasan tidak dapat lewat. Pencekikan dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:

Menggunakan 1 tangan dan pelaku berdiri di depan korban.

Menggunakan 2 tangan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban.

Menggunakan 1 lengan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban.

Apabila pelaku berdiri di belakang korban dan menarik korban ke arah pelaku maka
ini disebut mugging (Budiyanto dkk., 1997).
b. Mekanisme Kematian
Mekanisme matinya adalah karena asfiksia ataupun refleks vagal yang terjadi akibat
rangsang pada reseptor nervus vagus pada corpus caroticus di percabangan arteri
karotis interna dan eksterna (Budiyanto dkk., 1997).
c. Sebab Kematian
Cekikkan merupakan jenis strangulasi yang hampir selalu disebabkan oleh
pembunuhan. Dapat disebabkan kecelakaan, misal pada saat latihan bela diri atau
pembuatan film, meskipun sangat jarang dan tidak mungkin digunakan untuk bunuh
diri, sebab cekikkan akan lepas begitu orang yang melakukan bunuh diri itu mulai
kehilangan kesadaran. Ada 2 penyebab kematian pada pencekikan, yaitu (Budiyanto
dkk., 1997):

Asfiksia

Vagal reflex

d. Cara Kematian
Ada 2 cara kematian pada kasus pencekikan, yaitu (Budiyanto dkk., 1997):

Pembunuhan (hampir selalu).

Kecelakaan, biasanya mati karena vagal reflex.

e. Gambaran Postmortem
i.

Pemeriksaan Luar:
Yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan luar kasus pencekikan, antara lain
(Budiyanto dkk., 1997):

Tanda asfiksia.
Tanda-tanda asfiksia pada pemeriksaan luar otopsi yang dapat kita
temukan antara lain adanya sianotik, petekie, atau kongesti daerah kepala,
leher atau otak. Lebam mayat akan terlihat gelap (Budiyanto dkk., 1997).

Tanda kekerasan pada leher.


Tanda kekerasan pada leher yang penting dicari yaitu bekas kuku dan
bantalan jari. Bekas kuku dapat kita kenali dari adanya crescent mark,
yaitu luka lecet berbentuk semilunar/bulan sabit. Terkadang kita dapat
menemukan sidik jari pelaku. Perhatikan pula tangan yang digunakan
pelaku, apakah tangan kanan (right handed) ataukah tangan kiri (left
handed). Arah pencekikan dan jumlah bekas kuku juga tak luput dari
perhatian kita (Mason & Purdue, 2000).
Luka tambahan di leher sering terlihat pada kasus penjeratan pada leher di
mana pencekikan dengan tangan. Biasanya menunjukkan abrasi dari kuku
jari yang menekan pada kulit leher dan memar disebabkan jari atau ruas
jari. Secara umum, memar lebih mudah terlihat pada kulit yang tipis pada
bagian depan leher. Bentuk lengkungan dari aberasi jika disebabkan dari
kuku jari meskipun susah dikatakan di mana jari yang menyebabkan luka
tersebut. Abrasi dan memar sering berbarengan dan dapat menunjukkan
dimana sebuah tangan digunakan pada leher. Ukuran, bentuk dan
distribusi dari luka harus dicatat secara hati-hati dengan pengukuran dan
foto dengan pemakaian lampu ultraviolet. Tanda sebuah jari mungkin
dapat ditemukan pada percobaan resusitasi, biasanya berbentuk sirkuler
yang berkelompok melingkari hidung dan mulut dan seharusnya tidak
membingungkan dengan tanda yang disebabkan penekanan pada leher.
Kemungkinan pembunuhan seharusnya dipikirkan jika menemukan tanda
memar, tanda tali dan abrasi. Bagaimanapun tanda kuku dan jari dapat
ditemukan pada pencekikan dengan bunuh diri jika kuku terjepit di antara
hidung dan kulit leher. Abrasi mungkin membingungkan jika tali
dilepaskan dari leher. Sekelompok abrasi bukan menunjukkan hasil
aktivitas heteroseksual dan homoseksual yang berulang-ulang. Biasanya
mereka sedikit hubungan dengan penyebab kematian dan tanda kemiripan
mungkin ditemukan di mana saja di kaki di antara lutut dan pangkal paha,
alat kelamin dan dinding abdomen ketika pemeriksaan yang detail
dilakukan (Mason & Purdue, 2000).

Tanda kekerasan pada tempat lain.

Tanda kekerasan pada tempat lain dapat ditemukan di bibir, lidah, hidung,
dan lain-lain. Tanda ini dapat menjadi petunjuk bagi kita bahwa korban
melakukan perlawanan (Budiyanto dkk., 1997).

ii.

Pemeriksaan Dalam:
Hal yang penting pada pemeriksaan dalam bagian leher kasus pencekikan,
yaitu (Budiyanto dkk., 1997):

Perdarahan atau resapan darah.


Perdarahan atau resapan darah dapat kita cari pada otot, kelenjar tiroid,
kelenjar ludah, dan mukosa & submukosa pharing atau laring.

Fraktur.
Fraktur yang paling sering kita temukan pada os hyoid. Fraktur lain pada
kartilago tiroidea, kartilago krikoidea, dan trakea.

Memar atau robekan membran hipotiroidea.

Luksasi artikulasio krikotiroidea dan robekan ligamentum pada mugging.

4. Pembekapan (Smothering)
a. Definisi
Pembekapan (smothering) adalah bentuk asfiksia yang disebabkan oleh penutupan
lubang hidung dan mulut. Penutupan dapat dilakukan dengan mengguankan tangan
atau suatu benda yang lunak, misalnya bantal atau selimut yang dilipat. Pembekapan
yang dilakukan dengan satu tangan dan tangan yang lain menekan kepala korban dari
belakang, yang dapat pula terjadi pada kasus pencekikan dengan satu tangan; maka
dapat ditemukan adanya lecet atau memar pada otot leher bagian belakang, yang
untuk membuktikannya kadang-kadang harus dilakukan sayatan untuk melihat otot
bagian dalamnya, atau membuka seluruh kulit yang menutupi daerah tersebut
(Budiyanto dkk., 1997).
b. Sebab Kematian
Ada 3 penyebab kematian pada pembekapan (smothering), yaitu (Budiyanto dkk.,
1997):

Asfiksia

Edema paru

Hiperaerasi

Edema paru dan hiperaerasi terjadi pada kematian yang lambat dari pembekapan
(Budiyanto dkk., 1997).

c. Cara Kematian
Cara kematian pada kasus pembekapan, yaitu (Budiyanto dkk., 1997):

Kecelakaan (paling sering)


Misalnya pada alkoholisme, bayi tertutup selimut atau payudara ibu. Kecelakaan
(accidental smothering) dapat terjadi juga misalnya pada bayi dalam bulan-bulan
pertama kehidupannya, terutama bayi prematur bila hidung dan mulut tertutup
oleh bantal atau selimut. Selain itu juga dapat terjadi kecelakaan di mana seorang
anak yang tidur berdampingan dengan orangtuanya dan secara tidak sengaja
orangtuanya menindih si anak sehingga tidak dapat bernafas. Keadaan ini disebut
overlying. Pada anak-anak dan dewasa muda bisa terjadi kecelakaan terkurung
dalam suatu tempat yang sempit dengan sedikit udara, misalnya terbekap dengan
atau dalam kantong plastik. Orang dewasa yang terjatuh waktu bekerja atau pada
penderita epilepsi yang mendapat serangan dan terjatuh, sehingga mulut dan
hidung tertutup dengan pasir, gandum, tepung, dan sebagainya (Budiyanto dkk.,
1997).

Pembunuhan
Misalnya hidung dan mulut diplester, bantal ditekan ke wajah, serbet atau dasi
dimasukkan ke dalam mulut. Biasanya terjadi pada kasus pembunuhan anak
sendiri. Pada orang dewasa hanya terjadi pada orang yang tidak berdaya seperti
orangtua, orang sakit berat, orang dalam pengaruh obat atau minuman keras. Pada
pembunuhan dengan pembekapan biasanya dilakukan dengan cara hidung dan
mulut diplester, bantal ditekan ke wajah, kain atau dasi yang dibekapkan pada
hidung dan mulut. Pembunuhan dengan pembekapan dapat juga dilakukan
bersamaan dengan menindih atau menduduki dada korban (burking).

Bunuh diri.

Bunuh diri (suicide) dengan cara pembekapan masih mungkin terjadi misalnya
pada penderita penyakit jiwa, tahanan, orang dalam keadaan mabuk, yaitu dengan
membenamkan wajahnya ke dalam kasur, atau menggunakan bantal atau pun
pakaian yang diikatkan menutupi hidung dan mulut. Bisa juga dengan
menggunakan plester yang menutupi hidung dan mulut.

d. Gambaran Postmortem
i.

Pemeriksaan Luar
Tanda kekerasan yang dapat ditemukan tergantung dari jenis benda yang
digunakan dan kekuatan menekan. Kekerasan yang mungkin dapat ditemukan
adalah luka lecet jenis tekan atau geser, jejas bekas jari/kuku di sekitar wajah,
dagu, pinggir rahang, hidung, lidah dan gusi, yang mungkin terjadi akibat
korban

melawan.

Luka

memar

atau

lecet

dapat

ditemukan

pada

bagian/permukaan dalam bibir akibat bibir yang terdorong dan menekan gigi,
gusi dan lidah. Ujung lidah juga dapat mengalami memar atau cedera
(Budiyanto dkk., 1997).
Bila pembekapan terjadi dengan benda yang lunak, misal dengan bantal, maka
pada pemeriksaan luar jenazah mungkin tidak ditemukan tanda-tanda
kekerasan. Memar atau luka masih dapat ditemukan pada bibir bagian dalam.
Pada pembekapan dengan mempergunakan bantal, bila tekanan yang
dipergunakan cukup besar, dan orang yang dibekap kebetulan memakai gincu
(lipstick), maka pada bantal tersebut akan tercetak bentuk bibir yang bergincu
tadi, yang tidak jarang sampai merembes ke bagian yang lebih dalam, yaitu ke
bantalnya sendiri. (Budiyanto dkk., 1997)
Pada anak-anak oleh karena tenaga untuk melakukan pembekapan tersebut
tidak terlalu besar, kelainan biasanya minimal; yaitu luka lecet tekan dan atau
memar pada bibir bagian dalam yang berhadapan dengan gigi dan rahang.
Pembekapan yang dilakukan dengan satu tangan dan tangan yang lain
menekan kepala korban dari belakang, yang dapat pula terjadi pada kasus
pencekikan dengan satu tangan; maka dapat ditemukan adanya lecet atau
memar pada otot leher bagian belakang, yang untuk membuktikannya kadangkadang harus dilakukan sayatan untuk melihat otot bagian dalamnya, atau

membuka seluruh kulit yang menutupi daerah tersebut. Bisa didapatkan luka
memar atau lecet pada bagian belakang tubuh korban (Budiyanto dkk., 1997).
Selanjutnya ditemukan tanda-tanda asfiksia baik pada pemeriksaan luar
maupun pada pembedahan jenazah. Perlu pula dilakukan pemeriksaan kerokan
bawah kuku korban, adakah darah atau epitel kulit si pelaku (Budiyanto dkk.,
1997).
ii.

Pemeriksaan Dalam
Hal-hal penting pada pemeriksaan otopsi kasus pembekapan, yaitu (Budiyanto
dkk., 1997):

Mencari penyebab kematian.

Menemukan tanda-tanda asfiksia.

Menemukan edema paru, hiperaerasi dan sianosis pada kematian yang


lambat.

5. Tersedak (Choking)
a. Definisi
Tersedak (choking) adalah keadaan di mana suatu benda padat masuk dan menyumbat
lumen dari jalan nafas sehingga udara tidak dapat mencapai paru. Keduanya
merupakan jenis asfiksia yang disebabkan blokade jalan nafas oleh benda asing yang
datangnya dari luar ataupun dari dalam tubuh, misalnya seperti inhalasi mutahan
(aspirasi), tersedak makanan, tumor, jatuhnya lidah ke belakang ketika dalam keadaan
tidak sadar, bekuan darah atau lepasnya gigi palsu. Gejalanya sangat khas, yakni
dimulai dengan batuk-batuk yang terjadi secara tiba-tiba, kemudian disusul sianosis
dan akhirnya meninggal (Budiyanto dkk., 1997).
b. Cara Kematian
Ada 2 cara kematian pada kasus tersedak, yaitu (Budiyanto dkk., 1997):

Kecelakaan (paling sering), seperti gangguan refleks batuk pada alkoholisme,


pada bayi atau anak kecil yang gemar memasukkan benda asing ke dalam
mulutnya, aspirasi, dan kain kasa yang tertinggal pada anestesi eter. Contoh lain
kasus kecelakaan:
1. Penderita alkoholisme atau serebral arteriosclerosis mengalami gangguan
refleks mengeluarkan benda asing sehingga waktu penderita ini mencoba
menelan bolus makanan yang cukup besar, dapat berakibat bolus tidak

masuk dalam saluran pencemaan tetapi masuk dalam laring, sedangkan


penderita tidak mampu mengeluarkannya lagi.
2. Penderita tonsilektomi dengan anestesi eter, dapat mengalami aspirasi kain
kasa yang tertinggal,
3. Kecelakaan sering terjadi pada bayi dan anak kecil yang gemar memasukkan
benda asing bulat kecil kedalam lubang hidung, Bila benda ini sampai laring
akan terjadi penyumbatan total sehingga korban cepat meninggal. Jika benda
ini dapat melalui laring dan sampai pada trakhea atau bronkus, akan terjadi
penyumbatan sebagian sehingga korban dapat hidup beberapa jam.
4. Orang tua yang makan terlalu cepat, ada kalanya sepotong daging (bolus)
menutup pangkal tenggorokan (laring) atau gigi palsu (protesis) menutup
laring.

Pembunuhan (kasus infanticide). Peristiwa ini dapat karena bunuh diri (meskipun
sulit untuk memasukkan benda asing ke dalam mulutnya sendiri, karena akan ada
reflek batuk atau muntah), pembunuhan (umumnya korban adalah bayi, orang
dengan fisik lemah atau tak berdaya) dan kecelakaan (misalnya tersedak makanan
hingga menyumbat saluran nafas).

Bisa juga disebabkan oleh kasus bunuh diri. Contoh kasus bunuh diri :
Biasanya terjadi pada penderita gangguan jiwa, di mana mereka
memasukkan potongan-potongan kain pada kertas yang dibuat gumpalan
sedemikian rupa dan didorong masuk ke dalam rongga mulut.
Memasukkan dasi sampai laring.

c. Mekanisme kematian
Mekanisme kematian yang mungkin terjadi adalah asfiksia atau refleks vagal akibat
rangsangan pada reseptor nervus vagus di arkus faring yang menimbulkan inhibisi
kerja jantung dengan akibat cardiac arrest dan kematian. Pada gagging, sumbatan
terdapat dalam orofaring, sedangkan pada choking sumbatan terdapat lebih dalam,
yakni pada laringofaring.
d. Gambaran Postmortem
Hal-hal penting pada pemeriksaan otopsi kasus tersedak (choking), yaitu (Budiyanto
dkk., 1997):

Mencari bahan penyebab dalam saluran pernapasan. Juga kadang-kadang ada


tanda kekerasan di mulut korban.

Menemukan tanda asfiksia.

Mencari tanda-tanda edema paru, hiperaerasi dan atelektasis pada kematian


lambat.

Tersedak dapat terjadi sebagai komplikasi dari bronkopneumonia dan abses.

Temuan pada pemeriksaan otopsi (Budiyanto dkk., 1997):

Sianosis

Hiperaerasi dan edema paru

Beberapa bagian paru mengalami atelektasis

Bila korban sempat hidup lama, dapat dijumpai bronkopneumoni atau abses paru
sebagai komplikasi.

6. Asfiksia Traumatik (External pressure on the chest)


a. Definisi
Suatu keadaan di mana udara terhalang untuk masuk dan keluar paru-paru akibat
gerakan napas terhenti oleh karena tekanan dari luar pada dada. Jadi, inspirasi dan
ekspirasi terhenti karena dada tidak dapat mengembang (Apuranto, 2007).
b. Cara kematian :

Kecelakaan (tersering)
Contoh kasus kecelakaan :
-

Terjepit antara lantai dan elevator

Tertimbun pasir/batu bara, reruntuhan gedung

Terjepit antara 2 kendaraan, atau pada dinding dengan kendaraan yang


mundur.

Pada tumpukan orang yang keluar/masuk melalui pintu yang sempit.

Pembunuhan
Pembunuhan hanya dapat dilakukan bila lawannya lemah atau dalam keadaan
mabuk. Cara ini dikenal dengan nama burking. Burking adalah kombinasi antara
external pressure on the chest dan smothering. Burking dilakukan dengan

memposisikan korban telentang lalu menduduki dada korban. Satu tangan


menutup mulut dan hidung, sedangkan tangan lain menekan rahang bawah pada
rahang atas, sedangkan pelaku yang lain membantu memegang tungkai
(Apuranto, 2007).
c. Temuan pada pemeriksaan otopsi (Apuranto, 2007):

Tanda-tanda asphyxia

Roman muka dan leher sianosis

Petechiae pada roman muka, leher, bahu, sklera, konjungtiva dan galea
aponeurotica (wama merah tua atau merah ungu).

Adanya tanda-tanda kekerasan pada dada

7. Tenggelam (Drowning)
a. Definisi
Suatu bentuk suffocation dimana korban terbenam dalam air/cairan dan benda tersebut
terhisap masuk kejalan napas sampai alveoli paru-paru (Apuranto, 2007).
Hal-hal yang perlu diketahui pada kasus tenggelam (Apuranto, 2007):
1. Apakah korban meninggal sebelum masuk air?
2. Apakah meninggal di air tawar atau air asin?
3. Apakah ada antemortem injury, bila ada apakah berpengaruh pada kematiannya?
4. Apakah ada sebab kematian wajar atau keracunan, dan apakah ini menyebabkan
kematian?
5. Bagaimana cara kematiannya?
Pembagian tenggelam (drowning) (Apuranto, 2007):
I.

Primary drowning
Korban meninggal dalam beberapa menit setelah permulaan peristiwa tenggelam
tanpa pertolongan pemapasan buatan.
1.

Dry drowning
i.

Kematian korban oleh karena cardiac arrest yang mendadak dan sirkulasi
refleks oleh karena vagal refleks dan sirkulasi kolaps.

ii.

Tidak ada air yang masuk ke dalam traktus gastrointestinalis maupun


traktus respiratorius.

iii.

Tidak ditemukan kelainan patologis yang bermakna

2.

Wet drowning
a. Tenggelam di air tawar (fresh water).
Secara teoritis adalah akibat fibrilasi ventrikuler.
Kelainan patologis :

Hipervolemia

Hipoklorida

Hemolisis

Hiponatremia

Hiperkalemia

b. Tenggelam di air garam (salt water).


Kematian akibat edema paru. Kelainan patologis:

Hipovolemia

Hipernatremia

Hipoproteinemia

Hiperklorida

Perubahan kadar elektrolit yang terjadi tergantung dari jumlah aspirat dan
kadar elektrolit dalam air tersebut. Pada percobaan yang dilakukan pada
anjing, dan dapat hidup satu jam setelah diambil dari air, maka tanpa
pertolongan keadaan patologis dalam darah dapat kembali normal.
Pada keadaan sebenarnya, kematian terjadi oleh karena asfiksia dengan
kelainan patologis:

Hipoksemia arterial yang persisten

Asidosis

Oleh karena itu pada pemeriksaan setempat (TKP) sebaiknya dilakukan:

Pemeriksaan korban

Pengambilan contoh cairan, penting untuk test: korban meninggal di


tempat yang ditemukan atau pada tempat lain, menilai kadar elektrolit
dalam cairan tersebut (Pada kadar klorida yang tinggi dapat
mengakibatkan Acute Fulminating Pulmonary Edema).

II.

Secondary drowning.
Korban meninggal dalam waktu 30 menit sampai beberapa hari setelah tenggelam dan

sempat dilakukan pemapasan buatan. Biasanya korban meninggal oleh karena :


1. Edema paru
2. Asidosis
3. Pneumonitis oleh karena bahan kuman atau kuman.
Mekanisme tenggelam ada 3 macam:
1. Beberapa korban begitu berhubungan dengan air yang dingin terutama leher atau
jatuh secara horizontal, ia mengalami refleks vagal.
2. Korban saat menghirup air, air yang masuk ke laring menyebabkan laryngeal
spasme. Sebab kematian karena asfiksia. Pada korban ditemukan tanda-tanda
asfiksia tapi tanda-tanda tenggelam pada organ dalam tidak ada oleh karena air
tidak masuk.
3. Korban pada saat masuk ke dalam air, ia berusaha untuk mencapai permukaan
sehingga menjadi panik dan menghisap air, batuk dan berusaha untuk ekspirasi.
Karena kebutuhan oksigen maka ia akan bemapas sehingga air lebih banyak
terhisap. Lama-lama korban menjadi sianotik dan tidak sadar. Selama tidak sadar
korban akan terus bemapas dan akhimya paru-paru tidak dapat berfungsi sehingga
pernapasan berhenti. Proses ini berlangsung 3-5 menit, kadang-kadang 10 menit.
Persangkaan yang salah.
1. Ada orang yang menganggap bila seseorang tenggelam dan mayatnya kemudian
timbul, maka korban tersebut masih hidup pada waktu dimasukkan dalam air, dan
karena jiwanya belum ikhlas maka mayatnya timbul dipermukaan air.
2. Orang yang tenggelam akan cepat membusuk dan mengambil sikap petinju. Sikap
ini dianggap sebagai sikap membela diri.
3. Korban yang tenggelam dalam air sering mengeluarkan buih halus dari mulut.
Tanda ini tidak khas oleh karena dapat juga ditemukan kasus edema paru oleh
karena overload infus.
Mekanisme tenggelam dalam air tawar (Apuranto, 2007):
1. Air tawar akan dengan cepat diserap dalam jumlah besar sehingga terjadi
hemodilusi yang hebat sampai 72% yang berakibat terjadinya hemolisis.
2. Oleh karena terjadi perubahan biokimiawi yang serius, dimana kalium dalam
plasma meningkat dan natrium berkurang, juga terjadi anoksia pada miokardium.
3. Hemodilusi menyebabkan cairan dalam pembuluh darah dan sirkulasi berlebihan,
terjadi penurunan tekanan sistole dan dalam waktu beberapa menit terjadi fibrilasi
ventrikel.

4. Jantung untuk beberapa saat masih berdenyut dengan lemah, terjadi anoksia
serebri yang hebat hal ini menerangkan mengapa kematian terjadi dengan cepat.
Mekanisme tenggelam dalam air asin (Apuranto, 2007):
1. Terjadi hemokonsentrasi, cairan dari sirkulasi tertarik keluar sampai 42% dan
masuk kedalam jaringan paru sehingga terjadi edema pulmonum yang hebat dalam
waktu relatif singkat.
2. Pertukaran elektrolit dari asin ke dalam darah mengakibatkan meningkatnya
hematokrit dan peningkatan kadar Natrium plasma.
3. Fibrilasi ventrikel tidak terjadi, tetapi terjadi anoksia pada miokardium dan disertai
peningkatan viskositas darah akan menyebabkan payah jantung.
4. Tidak terjadi hemolisis melainkan hemokonsentrasi, tekanan sistolik akan menetap
dalam beberapa menit.
b. Sebab kematian

Asfiksia

Vagal refleks

Spasme laring

Fibrilasi ventrikel
(Apuranto, 2007)

c. Cara kematian

Kecelakaan
Contoh kasus kecelakaan:
-

Waktu berenang kemudian serangan epilepsi atau penyakit jantung.

Waktu pesiar dengan perahu, lalu perahu terguling (korban berpakaian


lengkap).

Pembunuhan
Contoh kasus pembunuhan:
-

Korban akan diikat oleh pembunuh, ikatan ini tidak mungkin dilakukan oleh
korban sendiri.

Dapat ditemukan tanda kekerasan lain, misalnya dipukul atau ditembak atau
kekerasan lain.

Bunuh diri
Contoh kasus bunuh diri:
-

Penting diperhatikan pemeriksaan TKP.

Biasanya korban yang akan bunuh diri, meninggalkan perlengkapannya dan


diletakkan dengan rapi sebelum teijun ke air. Mungkin juga ditemukan surat
(suicide note) atau luka-luka percobaan pada tubuh. Untuk memastikan dia mati
biasanya korban mengikat kedua tangan dan kakinya sendiri, dan kadang diberi
pemberat sehingga mudah tenggelam.

Bila korban sudah dapat dikenal, maka dapat ditanyakan keadaan korban
sebelum meninggal pada keluarga atau saksi.

Undetermined
Contoh kasus undetermined
-

Bila korban ditemukan dalam air sudah membusuk sehingga tidak dapat
diketahui cara kematiannya.

Karena identifikasi sudah amat sukar/tidak dapat dikerjakan dan TKP sudah
tidak diketahui dan tidak ada saksi, maka kasus ini tidak dapat diklasifikasikan
pada bunuh diri, kecelakaan atau pembunuhan.

(Apuranto, 2007)
d. Pemeriksaan otopsi.
i.

Pemeriksaan luar:

Tidak ada yang patognomonis untuk drowning, fungsinya hanya


menguatkan,

Hanya beberapa penemuan memperkuat diagnose drowning antara lain :


kulit basah, dingin dan pucat.

Lebam mayat biasanya sianotik, kecuali bila air hangat dingin maka lebam
mayat akan berwama pink.

Kadang-kadang terdapat cutis anserina (goose flesh) pada lengan, paha dan
bahu. Ini disebabkan suhu air dingin menyebabkan kontraksi m. errector
pillorum.

Buih putih halus pada mulut dan hidung, sifatnya lekat (cairan kental &
berbuih).

Kadang terdapat cadaveric spasme pada tangan dan kotoran dapat


tergenggam.

Bila berada cukup lama dalam air, kulit telapak tangan dan kaki mengeriput
(washer womens hands) dan pucat (bleached).

Kadang terdapat luka berbagai jenis pada yang tenggelam di pemandian atau

yang meloncat dari tempat tinggi. Ini dapat merobek paru, hati, otak atau iga.
ii.

Pemeriksaan dalam:

Jalan napas berisi buih, kadang ditemukan lumpur, pasir, rumput air, diatom
dan lain-lain.

Pleura dapat berwama kemerahan dan terdapat bintik-bintik perdarahan yang


terjadi karena adanya kompressi terhadap septum interalveoler atau oleh
karena terjadinya fase konvulsi akibat kekurangan okisgen.

Paru-paru membesar, mengalami kongesti dan mempunyai gambaran seperti


marmer sehingga jantung kanan dan vena-vena besar dilatasi. Bila paru
masih fresh, kadang-kadang dapat dibedakan apakah ini tenggelam dalam air
tawar atau air asin.

Banyak cairan dalam lambung.

Perdarahan telinga bagian tengah. (dapat ditemukan pada kasus asphyxia


lain)

Perbedaannya yaitu :
Tenggelam dalam air tawar

Tenggelam dalam air asin

- Paru-paru kering

- Paru-paru basah.

- Paru-paru besar tapi ringan

- Paru-paru besar dan berat.

- Batas anterior menutupi jantung.

- Batas anterior menutup mediastinum

-Wama

merah

emphysematous.

pucat

dan -Wama

ungu/kebiruan,

permukaan

mengkilat

- Paru-paru bila dikeluarkan dari -Paru-paru bila dikeluarkan dari thorax,


thorax tidak kempes.

bentuknya mendatar dan bila ditekan

-Bila diiris terdengar krepitasi, tidak menjadi cekung


mengempis, tidak mengandung cairan, -Bila diiris terdengar krepitasi menurun,
dipijat keluar buih.

tanpa ditekan akan keluar banyak cairan.

Bila jenazah sudah beberapa hari berada dalam air maka terjadi bleaching dan.
terjadi pembusukan dimana kulit ari banyak yang terkelupas. Pembusukan terjadi
dalam 2 hari setelah tenggelam dalam iklim yang panas. Pada iklim dingin tahan
sampai 1 minggu. Pembusukan dimulai pada bagian kepala dan atas tubuh. karena
dalam air kepala mempunyai kecenderungan lebih rendah letaknya oleh karena lebih

berat. Bila pembusukan sudah merata, seluruh tubuh akan mengapung karena
timbunan gas, hal ini disebut sebagai Floater. Volume gas pembusukan dapat menjadi
2 kali volume tubuh korban, sehingga korban dengan dengan berat 60 kg dapat
memindahkan air sebanyak 120 liter, gaya tekan keatas adalah 120 60 = 60 kg,
berarti bila pada mayat diikatkan benda seberat > 60 kg, maka waktu mayat
membusuk masih dapat terapung. Pada stadium tertentu, kulit dapat terkelupas
seluruhnya, kadang terjadi mutilasi dari bagian-bagian tubuh akibat persentuhan
dengan benda-benda dalam air atau baling-baling kapal atau dimakan binatang air.
Kasus-kasus yang meragukan :
Adalah mungkin bahwa tidak ditemukan kelainan-kelainan pada korban
tenggelam, dalam hal demikian mungkin disebabkan oleh karena:
1.

Pembusukan.
Saluran napas dan paru-paru adalah salah satu organ yang cepat membusuk
sehingga meyulitkan pemeriksaan.

2.

Meninggal karena vagal refleks.


Perlu pemeriksaan apakah ada trauma, penyakit wajar atau keracunan. Vagal
refleks dapat terjadi akibat masuknya air secara mendadak kedalam larynx dan
nasopharynx atau dari pukulan pada abdomen akibat jatuh secara horizontal
kedalam air.

3.

Meninggal karena laryngeal spasme.


Terjadi karena tidak sadar dan masuk kedalam air sehingga air masuk kedalam
larynx dan nasopharynx. Pada beberapa kasus derajat dan lamanya dari spasme
adalah sedemikian sehingga kematian disebabkan karena asphyxia mekanis.
Dalam kasus ini ada tanda-tanda asphyxia, tetapi tidak ada tanda tenggelam.
Untuk menegakkan diagnose laryngeal spasme, sebab kematian lain harus
disingkirkan. Harus diingat bahwa pada pemeriksaan post mortem tidak
ditemukan lagi adanya gambaran spasme larynx.

Kematian mendadak pada tenggelam dalam air dingin.


Mati mendadak segera setelah seseorang masuk kedalam air yang dingin sering
disinggung walaupun tanpa penyebab langsung, oleh karena spasme larynx atau vagal
refleks yang menyebabkan cardiac arrest. Keadaan tersebut dapat dijelaskan oleh karena
terjadinya fibrilasi ventrikel pada korban dan dapat dibuktikan bahwa pada orang yang

masuk kedalam air dingin atau tersiram air yang dingin dapat menimbulkan Ventricular
Ectopic Beat, misalnya pada :

Seorang pemuda berumur 18 tahun yang dalam kondisi prima dan perenang, sedang
berjemur ditepi kolam renang dengan temperatur 16C, lalu ia berenang dan
menyelam sejauh 15 meter, ia kemudian naik tetapi tiba-tiba jatuh dan tidak sadar,
setelah diberi pertolongan selama 20 menit pemuda tersebut tewas.

Pada pemeriksaan mayat : tidak didapatkan adanya kelainan, pembuluh darah


koroner, jantung, paru dan SSP baik.

Pada eksperimen terhadap pemuda yang fisiknya prima dan berumur 20 tahun yang
dibenamkan sampai batas leher dalam air yang suhunya 29C, terjadi hal- hal sbb.: 1.
Setelah 1,5 menit, denyut jantung meningkat dari 61 permenit menjadi 67 permenit
dalam irama sinus. 2. Air dengan suhu 29C tersebut kemudian disiramkan ke kepala,
agar tercipta keadaan seperti terbenam sebagian tanpa melindungi pernapasan. 3.
Denyut jantung melambat 52 per menit dan 9 detik seteiah disiram terjadi ventricular
ectopic beat, terjadi arytmia selama 25 detik ketika jantung kembali ke irama normal
pada 56 per menit.
Pemeriksaan khusus pada tenggelam :
1. Percobaan getah paru (Longsap proof).
Merupakan pemeriksaan pathognomonis untuk kasus-kasus tertentu. Di sini dicari
benda-benda asing dalam getah paru yang diambil pada daerah subpleura, antara
lain: pasir, lumpur, telur cacing, tanaman air, dll (percobaan getah paru positif).
Syarat melakukan percobaan getah paru yaitu paru-paru harus belum membusuk,
alat yang dipakai adalah objek glass, cover glass dan mikroskop.
Caranya:

Setelah paru-paru dikeluarkan dari thorax, diletakkan dengan bagian convex


menghadap ke atas.

Dengan pisau yang telah dibersihkan dibawah air yang mengalir kemudian pisau
dikibaskan untuk menghilangkan aimya.

Permukaan paru dibersihkan dengan cara dikerik/dikerok 2 - 3 kali, lalu pisau


kembali dibersihkan dibawah air yang mengalir.

Dengan mata pisau yang tegak lurus permukaan paru, kemudian permukaan paru
diiris sedangkal mungkin (subpleura), lalu pisau kembali dibersihkan dibawah air

yang mengalir, lalu dikibaskan sampai kering.

Dengan ujung pisau lalu getah paru pada irisan tadi diambil kemudian diteteskan pada
objek glass lalu ditutup cover glass dan diperiksa dibawah mikroskop. Cara lain yaitu
dengan menempelkan objek glass pada permukaan irisan didaerah subpleural, lalu ditutup
cover glass dan diperiksa dibawah mikroskop.
Syarat sediaan percobaan getah paru :

Eritrosit dalam sediaan harus sedikit jumlahnya. Bila banyak mungkin irisan terlalu
dalam.
Gambaran di bawah mikroskop :

Pasir berbentuk kristal, persegi, hitam. Pasir lebih besar dari pada eritrosit

Lumpur amorf. Lumpur lebih besar dari pada pasir.

Menurut beberapa ahli, cairan masih dapat mengalir ke dalam saluran napas setelah
korban meninggal, tetapi tidak sampai pada alveoli. Jadi bila ada benda asing dalam
alveoli, maka diagnosanya adalah tenggelam. Jika percobaan ini positip dan tidak
ada sebab kematian lain, kesimpulannya adalah tenggelam. Dengan tenggelam
korban belum tentu mati, mungkin mati oleh sebab lain. Bila test getah paru positip
dan ditemukan sebab kematian lain, maka kemungkinannya adalah :

Mungkin meninggal karena tenggelam

Mungkin meninggal karena sebab lain tersebut

Mungkin sebab kematian bersaing.


Bila test getah paru negatif, maka kemungkinannya adalah :

Mungkin korban sudah mati, lalu dimasukkan kedalam air. (harus ditemukan sebab
kematian lain).

Mungkin korban tenggelam dalam air yang jernih.

Mungkin korban mati karena vagal refleks atau spasrne larynx.


Bila percobaan getah paru negatip dan sebab kematian lain tidak ditemukan, maka
kesimpulannya : tidak hal-hal yang menyangkal kalau korban meninggal karena
tenggelam.
Pemeriksaan darah secara kimia (Gettler test).
Pemeriksaan ini harus dilakukan secepatnya karena pada post mortem kadar elektrolit
(Cl, Na, K, Mg) dalam darah akan mengalami perubahan.

Menurut Gettler:
Kadar
Elektrolit

Tengelam dlm air tawar

Tenggelam dlm air asin

Cl

Dalam jatung kiri < kanan

Dalam jantung kiri > kanan

Na

Dalam plasma menurun

Dalam plasma meningkat jelas

Dalam plasma meningkat

Dalam plasma sedikit meningkat

Teknik pemeriksaannya:

Darah dari ventrikei kanan dan kiri diambil sebanyak 10 ml.

Dianalisa kadar NaCl nya, bila perbedaan kadar tersebut 25% atau lebih, merupakan
petunjuk yang kuat bahwa terjadi drowning.

Waktu membuka jantung, harus diperiksa adanya atrial septal defect atau
ventricular septal defect, sebab mengakibatkan pemeriksaan menjadi kabur.

Hasil ini jarang sekali positip, oleh karena tergantung dari :

Banyaknya aspirate yang masuk tractus respiratorius.

Kadar NaCl air dimana korban tenggelam. Bila kadar NaCl air sama dengan tubuh
maka tidak ada perubahan.

Destruction test & analisa isi lambung.


Usaha untuk mencari diatome (binatang bersel satu) dalam tubuh korban. Karena
adanya anggapan bahwa bila orang masih hidup pada waktu tenggelam, maka akan
terjadi aspirasi, dan oleh force of respiration terjadi kerusakan bronchioli/bronchus
sehingga terdapat jalan dari diatome untuk masuk kedalam tubuh. Tidak ditemukannya
diatome, tidak dapat menyingkirkan bahwa kematian korban bukan karena tenggelam.
Teknik pemeriksaan:

Diambil potongan jaringan sebesar 2 - 5 gr (hati, ginjal, limpa dan sumsum tulang).

Potongan jaringan tersebut dimasukkan 10 ml asam nitrat jenuh, + 0,5 ml asam sulfat
jenuh.

Kemudian dimasukkan lemari asam sampai semua jaringan hancur.

Wama jaringan menjadi hitam oleh karena karbonnya.

Ditambahkan natrium nitrat tetes demi tetes sampai wama menjadi jemih.

Kadang-kadang sifat cairan asam sehingga sukar untuk melakukan pemeriksaan, oleh

karena itu ditambahkan sedikit NaOH lemah (sering tidak dilakukan oleh karena bila
berlebihan akan menghancurkan chitine).

Kemudian dicuci dengan aquadest, lalu dikonsentrasikan (seperti telur cacing),


disimpan/diambil sedikit untuk diperiksa, diteteskan pada deck gelas lalu dikeringkan
dengan api kecil

Kemudian ditetesi oil emersion dan diperiksa dibawah mikroskop.


Kerugiannya adalah bahwa pada banyak orang yang tidak mati tenggelam, destruction
test dapat positif, misalnya pada:

Pencari pasir

Penderita yang sering batuk, terdapat defek bronkhioli/bronkhus sehingga diatome


dapat masuk.

Cara lain:

Kepala dibuka dan dilihat telinga tengah dan stratum spongiosum os mastoid. Dari
keduanya dapat ditemukan bintik-bintik perdarahan pada mukosanya, hal ini
merupakan petunjuk yang kuat bahwa terjadi drowning.

Pemeriksaan isi lambung : adanya pasir atau lumpur dan binatang air serta
tumbuhan, akan bersifat menunjang kearah drowning.

Pemeriksaan Histopatologi jaringan paru : mungkin ditemukan bintik-bintik


perdarahan sekitar bronchioli yang disebut Paltauf Spot. Dapat juga terjadi pada
asphyxia oleh karena penutupan jalan napas secara mekanis yang lain. Ada tandatanda emphysema yang akut dengan pecahnya banyak alveoli.

Menentukan berat jenis plasma (BJ Plasma) : Lebih dapat dipercaya dari pada
Gettler test. Tetapi tidak dapat membedakan apakah tenggelam di air tawar atau asin,
karena pada semua kasus tenggelam akan terjadi BJ Plasma jantung kiri < jantung
kanan.

DAFTAR PUSTAKA

Apuranto, H., 2007. Asfiksia. Dalam Apuranto, H. dan Hoediyanto, ed. Buku Ajar Ilmu
Kedokteran Forensik & Medikolegal Edisi Ketiga. Surabaya: Bagian Ilmu Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, hal: 71-95.
Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, dkk., 1997. Ilmu Kedokteran Forensik Edisi
Pertama. Jakarta: FKUI
Idries, A.M., 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Binarupa Aksara, hal: 202207.
Mason, J. K, & B. N Purdue. 2000. The Pathology of Trauma. 3rd ed. London; New York:
Arnold; Co-published in the USA by Oxford University Press.