Anda di halaman 1dari 2

LUBE(R) JURDIL

Oleh Ida Ayu Marina Clara W


Seperti yang telah kita ketahui, pemilihan umum di Indonesia menganut asas Luber dan
Jurdil. Dimana "Luber" merupakan singkatan dari "Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia".
Langsung berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya secara langsung dan tidak boleh
diwakilkan. Umum berarti pemilihan umum dapat diikuti seluruh warga negara yang sudah
memiliki hak menggunakan suara. Bebas berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya tanpa
ada paksaan dari pihak manapun, kemudian Rahasia berarti suara yang diberikan oleh pemilih
bersifat rahasia hanya diketahui oleh si pemilih itu sendiri. Sedangkan, asas "Jurdil" merupakan
singkatan dari "Jujur dan Adil". Asas jujur mengandung arti bahwa pemilihan umum harus
dilaksanakan sesuai dengan aturan untuk memastikan bahwa setiap warga negara yang memiliki
hak dapat memilih sesuai dengan kehendaknya dan setiap suara pemilih memiliki nilai yang
sama untuk menentukan wakil rakyat yang akan terpilih. Asas adil adalah perlakuan yang sama
terhadap peserta pemilu dan pemilih, tanpa ada pengistimewaan ataupun diskriminasi terhadap
peserta atau pemilih tertentu.
Pada judul tulisan ini, saya menaruh R di dalam tanda kurung, karena saya merasa saat
ini asas Pemilu tampaknya tidak lagi Luber Jurdil, tapi hanya Lube Jurdil. Asas rahasia seakanakan tidak berlaku lagi di dalam Pemilu 2014 kali ini. Mengapa saya berpendapat demikian?
Seperti yang telah saya katakan diatas asas rahasia berarti suara yang diberikan oleh pemilih
bersifat rahasia hanya diketahui oleh si pemilih itu sendiri. Sedangkan faktanya, kita dapat
melihat banyak masyarakat yang dengan terang-terangan mendukung salah satu capres di
berbagai media sosial. Bahkan mereka dengan bangga memasang foto profil mereka dan di
sebelahnya dibubuhi dengan no urut capres pilihan mereka. Selain itu, tidak sedikit juga dari
mereka yang membagi tautan-tautan yang mendukung capres pilihan mereka, dan membagi
tautan-tautan yang menjelek-jelekan capres lain. Bahkan ada yang meng-klaim dirinya sendiri
adalah Tim Relawan dari salah satu capres.
Memang, keinginan agar orang lain memiliki pilihan yang sama adalah dorongan terbesar
mereka melakukan hal-hal tersebut. Namun, tidakkah mereka menyadari bahwa mereka telah
melanggar salah satu asas di dalam pemilu, yaitu Asas Rahasia. Tidak bisakah mereka memilih
dalam diam? Tidak bisakah informasi-informasi itu disebarkan hanya oleh akun-akun resmi
kedua capres? Secara tidak langsung, mereka juga menganggap orang lain tidak bisa mengorek
informasi jika mereka tidak membagi informasi tersebut di dalam akun mereka. Mereka juga
menganggap orang lain tidak bisa memutuskan dengan bijak tanpa informasi yang mereka bagi
di media sosial. Tidak tahukah mereka bahwa sebagian dari follower atau teman mereka sangat
terganggu atas tautan-tautan yang mereka bagi di media sosial? Tidak salah jika kemudian

muncul fenomena unfollow, unfriend, dan block di berbagai media sosial. Dunia di dalam media
sosial sebenarnya tidak jauh berbeda dengan dunia yang sesungguhnya. Seseorang yang
membagi tautan yang mendukung salah satu capres maupun yang menjelek-jelekkan seorang
capres di media sosial akan terlihat seperti seseorang yang berusaha menularkan pendapatnya
kepada orang lain di dunia sesungguhnya. Ketika kita menerima perlakuan yang demikian di
dunia nyata tentu kita tidak akan menyukainya bukan? Begitu juga di media sosial. Maka dari
itu, biarkanlah seseorang memiliki pandangannya masing-masing mengenai pilihan mereka. Toh
kita juga tidak tahu apakah sesungguhnya capres pilihan kita adalah capres yang paling pantas
memenangkan Pemilu kali ini. Jika diumpamakan seperti memilih pasangan hidup, semua akan
terlihat sempurna ketika masa penjajakan, tetapi segala keburukan yang dimiliki baru akan kita
ketahui ketika ia telah menjadi pasangan kita. Jika pilihan kita memang pilihan yang terbaik
maka semua orang pasti akan menyadarinya. Kita tidak perlu mempengaruhi orang lain atas apa
yang kita anggap baik dan kita tidak perlu mengumbarnya di media sosial. Cukup tentukan di
dalam hati, karena memilih dan merahasiakan pilihan, keduanya sama-sama merupakan
kewajiban.