Anda di halaman 1dari 7

ARSITEKTUR INDIA

Walaupun Berpindah Tangan


Sezincote Lestari
SEPTEMBER 6, 2013

Sejenak saya tak percaya berada di Inggris: Koq seperti di India. Hubungan dan pengaruh
bersilangan antara Inggris sebagai negara penjajah dan India sebagai jajahannya punya
sejarah panjang. Itu tercermin di Sezincote, Gloucestershire, Inggris.

Dari samping (Foto: Yanti Mualim)


Seorang kolonel bernama John Cockerell pada 1795 dari India pulang ke Inggris membawa
kekayaan yang dibangunnya berkat East India Company (E.I.A.) Ia membeli lahan Sezincote
yang tadinya adalah milik seorang pangeran, namun tiga tahun kemudian John Cockerell
meninggal. Sezincote diwariskan pada adiknya Charles Cockerell yang juga bekerja untuk
E.I.A.
Charles Cockerell meminta adiknya, Samuel Pepys Cockerell untuk membangun rumah
pesanggrahan gaya India. Ketika itu Samuel sebagai arsitek sudah punya nama, tapi ia
belum pernah ke India. Sezincote seperti yang bisa kita lihat sekarang dibangun pada 1810
berasal dari meja gambar arsitek Samuel Pepys Cockerell. Ia sepenuhnya bersandar pada
pandangan dan saran artistik Thomas Daniell.

Kolam di muka candi kecil (Foto: Yanti Mualim)


Walaupun tidak untuk seluruh taman, tapi Thomas Daniell (1749-1840) tercatat sebagai
desainer beberapa bagian dan hiasan di taman Sezincote. Thomas Daniell adalah seorang
pelukis pemandangan yang lama tinggal di India, ia antara lain mendesain jembatan,
patung-patung dan candi di taman ini.

Jembatan, anak sungai dan ular tembaga melilit batang pohon (Foto: Yanti Mualim)
Nama lain yang disebut dalam taman Sezincote adalah Humpry Repton (1752-1818). Repton
yang berasal dari keluarga biasa berhasil menjadi landscape designer Inggris cukup
ternama di kala itu. Menurut catatan hanya sebagian saja dari taman ini didesign oleh
Repton. Ia ingin membuat taman alamiah. Untuk Sezincote itu tidak masalah, lahan ini
terletak di lereng gunung dan dialiri anak sungai.

Untaian tanaman di sisi sungai (Foto: Yanti Mualim)


Rumah pesanggrahan gaya India ini kemudian menjadi ilham untuk mempercantik Brighton
Royal Pavillion di Inggris. Istana kecil ekstravaganza, yang dibangun dan dibangun ulang
dalam beberapa tahap oleh John Nash lama menjadi istana kediaman Raja George IV (1762
1830). Gaya arsitektur ini, berbau India, tapi ada unsur-unsur yang mengingatkan kita pada
Kisah Seribu Satu Malam.

Istana kediaman George IV di Brighton (Foto: Yanti Mualim)


Istana ini sekarang salah satu tujuan wisata popular di Brighton dan tempat bersantai jika
cuaca mengijinkan. Taman ini didesign oleh Humprey Rempton dengan serpentine path
jalan setapak yang berkelok-kelok.

George IV yang gemuk tak akan berjemur, tak ingin dilihat rakyatnya (Foto: Cor Perrier)
Sezincote dua kali berganti tangan pada 1884, dibeli oleh James Dugdale dan kemudian
pada 1944 dibeli oleh Sir Cyril Kleinwort. Ketika itu Sezincote dalam kondisi sangat
terbengkalai. Nasib banyak rumah atau istana kecil para hartawan dan bangsawan di
berbagai negara di Eropa, sangat dipengaruhi perubahan zaman.
Revolusi industri, dan pabrik-pabrik yang bermunculan menyedot banyak tenaga, penduduk
meninggalkan pedesaan dan menjadi buruh industri. Tinggallah para elit pemilik rumah dan
taman luas tanpa pembantu, tanpa tukang kebon. Ketika Sir Cyril Kleinwort membeli
Sezincote pada 1944 tak ada pilihan lain kecuali mengadakan restorasi total.
Setelah bangunan dan denah taman selesai, Lady Kleinwort meminta Graham Stuart
Thomas(1909), ahli horticultural dan arsitek pertamanan menyusun skema tanaman untuk
Sezincote. Jantung taman ini adalah untaian tanaman di sisi-sisi anak sungai yang disusun
secara cermat.

Bukan daun talas (Foto: Yanti Mualim)


Keindahan yang tercipta berkat pemilihan warna, besar dan perbandingan yang sangat asri
membelai mata dan hati. Tigapuluh tahun Graham Stuart Thomas bekerja untuk Sezincote
hingga ia meninggal pada 2003. Sekarang Sezincote dihuni oleh cucu pasangan Kleinwort.