Anda di halaman 1dari 18

PAKET PENYULUHAN

PERAWATAN KOLOSTOMI

OLEH:
TIM PKRS IRNA II
RUANG 19

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM

Dr. SAIFUL ANWAR MALANG


HALAMAN PENGESAHAN
Paket penyuluhan yang berjudul Perawatan Kolostomi di Ruang Rawat
Inap 19 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang yang akan dilaksanakan pada hari
Jumat tanggal 06 November 2015 disusun oleh Institusi:
Jurusan Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
Malang:
1.
2.
3.
4.

Meida Untari
Giovanny Sumeinar
Anita Ika L.
Zulvana

telah diteliti dan disahkan pada:


Hari

: Jumat

Tanggal

: 06 November 2015

Disetujui Oleh:

Kepala Ruang 19

Pembimbing Ruang 19

SATUAN ACARA PENYULUHAN

1.

Topik

Perawatan Kolostomi

Sasaran

Keluarga dan pasien ruang 19 RSSA Malang

Tempat

Ruang 19 RSSA Malang

Hari/Tanggal :

Jumat, 06 November 2015

Waktu

1 x 30 menit (jam 13.00-13.30)

Latar Belakang
Kolostomi merupakan pembuatan stoma atau lubang pada kolon atau
usus besar (Smeltzer & Bare, 2002). Indonesian Ostomy Association (INOA)
mengatakan bahwa jumlah kasus yang menggunakan stoma terus
meningkat, dan penyebab tersering di Indonesia sendiri adalah karena
keganasan

(Indonesian

Ostomy

Association,

2010).

Kurnia

(2012)

memaparkan, sekitar 100.00 orang yang dilakukan indikasi pemasangan


stoma pada umumnya disebabkan oleh kanker kolorektal, kanker kandung
kemih, kolitis ulseratif, penyait Crohn, diverticulitis, obstruksi, inkontinensia
urin dan fekal, dan trauma. Indikasi pemasangan kolostomi pada neonatus
dan dewasa tentu berbeda. Lukong, Jabo, dan Mfuh (2012) melakukan
penelitian terhadap 38 neonatus, dan indikasi pemasangan kolostomi yang
ditemukan adalah karena malformasi anorektal (97,4%) dan atresia kolon
(2,6%).
Penyebab terbanyak dari indikasi pembuatan kolostomi adalah karena
kanker atau keganasan. The Union for International Cancer Control (UICC)
mengumumkan adanya hari kanker sedunia pada tahun 2005, seiring
dengan tingginya angka kejadian kanker di dunia. Jenis kanker, menurut
UICC kebanyakan dapat dicegah dengan cara menjaga gaya hidup sehat
masyarakat perkotaan, yaitu menjaga pola makan sehat dan berat badan
ideal, melakukan olahraga secara rutin, teratur dan terukur, serta
mengurangi asupan alkohol (Anna, 2011).
Dalam, merawat pasien kolostomi membutuhkan ketelitian kebersihan
dan kesiapan yang baik karena jika tidak maka akan menimbulkan
komplikasi infeksi yang mengakibatkan penyembuhan menjadi lama bahkan
bertambah parah (Bets, 2002). Kontaminasi feses merupakan faktor yang
paling sering menjadi penyebab terjadinya infeksi pada luka sekitar stoma.
Oleh karena itu pemantauan yang terus menerus sangat diperlukan dan

tindakan segera mengganti balutan luka dan mengganti kantong kolostomi


sangat bermakna untuk mencegah infeksi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merawat klien dengan
kolostomi ialah terkait perubahan pada eliminasi BAB klien, meliputi
perubahan konsistensi serta frekuensi BAB klien. Klien akan merasakan
adanya perubahan tersebut, dan disinilah fungsi perawat sebagai edukator
untuk menjelaskan perubahan-perubahan tersebut

agar

klien

dapat

menerima dengan baik. Edukasi yang diberikan tidak hanya berupa cara
perawatan kolostomi, namun juga meliputi apa yang harus dilakukan klien
terkait dietnya agar pengeluaran fesesnya tidak mengganggu kegiatannya.
2.

Tujuan Intruksional
2.1.

Tujuan Instruksional Umum


Pada akhir proses penyuluhan, peserta penyuluhan dapat mengetahui

perawatan kolostomi.
2.2.

Tujuan Instruksional Khusus


Setelah mengikuti proses pembelajaran selama 30 menit, keluarga dan

pasien dapat :
i. Menyebutkan pengertian dari kolostomi
ii. Mengerti tujuan perawatan kolostomi
iii. Mengetahui masalah kesehatan yang terjadi akibat kolostomi
3.

4.

Sub Pokok Bahasan


i.

Pengertian kolostomi

ii.

Jenis-jenis kolostomi

iii.

Masalah kesehatan akibat kolostomi

iv.

Prinsip diet ostomet

v.

Perawatan kolostomi
Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan

Tahap

Wkt

Pendahuluan

Penyuluh
Membuka

menit

kegiatan
dengan
mengucapkan

Kegiatan
Peserta
Menjawab salam

Metode

Media

salam
Mendengar kan
Memperkenalkan Memperhati- kan
diri
Menjelaskan
tujuan

dari

Memperhati- kan

penyuluhan
Menyebutkan
materi
Penyajian

20
menit

yang

akan diberikan
Menjelaskan

Mendengarkan

Ceramah

- PPT/

Pengertian

dan memperhati-

LCD

kolostomi

kan

- Leaflet

Menjelaskan
jenis-jenis
kolostomi
Menyebutkan
masalah
kesehatan
akibat kolostomi
Menyebutkan
prinsip

diet

kolostomi
Menjelaskan
perawatan
Evaluasi

5
menit

kolostomi
Menanyakan

Menjawab

kepada peserta
tentang

materi

yang

telah

diberikan,

dan

reinforcement
kepada peserta
penyuluhan
yang

dapat

menjawab
pertanyaan

pertanyaan

Tanya
jawab

Penutup

Mengucapkan

2
menit

Mendengarkan

terima kasih
atas peran
serta perserta
Mengucapkan

Menjawab salam

salam penutup
5.

Evaluasi
a. Evaluasi Struktur
1) Peserta hadir ditempat penyuluhan
2) Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan ruang 19 RSSA Malang
3) Pengorganisasian

penyelenggaraan

penyuluhan

dilakukan

sebelumnya
4) Kesiapan SAP.
5) Kesiapan media: PPT dan LCD
b. Evaluasi Proses
1) Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
2) Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan
3) Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara
benar
c. Evaluasi Hasil

6.

Pengorganisasian
Moderator

: Zulvana

Penyaji

: Meida Untari

Fasilitator

: Anita Ika

Observer

: Giovanny Sumeinar

MATERI PENYULUHAN

A. Pengertian Kolostomi
- Kolostomi adalah suatu operasi untuk membentuk suatu hubungan
buatan antara colon dengan permukaan kulit pada dinding perut.
Hubungan ini dapat bersifat sementara atau menetap selamanya. (llmu
-

Bedah, Thiodorer Schrock, MD).


Kolostomi adalah pembuatan stoma (lubang) pada kolon atau

ususbesar (Smeltzer & Bare, 2002).


Kolostomi merupakan tindakan pembedahan untuk membuka jalan usus

besar ke dinding abdomen anterior (Melville & Baker 2010).


Akhir atau ujung dari usus besar yang dikeluarkan pada abdomen

disebut sebagai stoma.


B. Jenis Jenis Kolostomi
a. Loop Stoma atau transversal
Merupakan jenis kolostomi yang dibuat dengan membuat mengangkat
usus ke permukaan abdomen, kemudian membuka dinding usus bagian
anterior untuk memungkinkan jalan keluarnya feses. Biasanya pada loop
stoma selama 7 10 hari pasca pembedahan disangga oleh semacam
tangkai plastik agar mencegah stoma masuk kembali ke dalam rongga
abdomen. (Sumber: Melville & Baker, 2010)

b. End Stoma
Merupakan jenis kolostomi yang dibuat dengan memotong usus dan
mengeluarkan ujung usus proksimal ke permukaan abdomen sebagai stoma
tunggal. Usus bagian distal akan diangkat atau dijahit dan ditinggalkan
dalam rongga abdomen. (Sumber: Melville & Baker, 2010)

c. Fistula Mukus
Fistula mukus merupakan bagian usus distal yang dikeluarkan
kepermukaan abdomen sebagai stoma non-fungsi. Biasanya fistula mukus
terdapat pada jenis stoma double barrel dimana segmen proksimal dan
distal usus di keluarkan ke dinding abdomen sebagaidua stoma yang
terpisah. (Sumber: Melville & Baker, 2010)

d. Kolostomi Permanen
Pembuatan kolostomi permanen biasanya dilakukan apabila pasien
sudah tidak memungkinkan untuk defekasi secara normal karena adanya
keganasan, perlengketan, atau pengangkatan kolon sigmoid atau rectum
sehingga tidak memungkinkan feses melalui anus. Kolostomi permanen
biasanya berupa kolostomi single barrel ( dengan satu ujung lubang).
e. Kolostomi Temporer (sementara)

Pembuatan kolostomi biasanya untuk tujuan dekompresi kolon atau


untuk mengalirkan feses sementara dan kemudian kolon akan dikembalikan
seperti semula dan abdomen ditutup kembali. Kolostomi temporer ini
mempunyai dua ujung lubang yang dikeluarkan melalui abdomen yang
disebut kolostomi double barrel.Lubang kolostomi yang muncul dipermukaan
abdomen berupa mukosa kemerahan yang disebut STOMA. Pada minggu
pertama post kolostomi biasanya masih terjadi pembengkakan sehingga
stoma tampak membesar.
C. Masalah Kesehatan yang Terjadi akibat Kolostomi
Masalah yang banyak terjadi pasca pembuatan kolostomi adalah
1. Iritasi
Biasanya terjadi pada kulit di sekitar stoma pada area kulit peristomal.
Hal ini banyak terjadi pada lansia, oleh karena lapisan epitel dan lemak
subkutan yang semakin tipis karena proses penuaan sehingga kulit menjadi
semakin mudah mengalami iritasi (Smeltzer & Bare, 2002).
2. Infeksi Candida Albicans
Individu yang memiliki stoma memiliki resiko terkena infeksi Candida
albicans yang biasa dikenal sebagai infeksi ragi atau jamur. Hal ini
dikarenakan kulit peristomal memilikikarakteristik hangat, lembap dan
tertutup (oleh kantong kolostomi)dimana lingkungan ini kondusif terhadap
pertumbuhan jamur. Kulityang terkena infeksi ini akan berubah menjadi
kemerahan dan terasa gatal. (Eucomed, 2012)

3. Pengeluaran gas dan bau dari stoma


Pengeluaran gas dan bau pada stoma menjadi masalah pada ostomate
karena berbeda dengan pengeluaran melalui anus, pengeluarannya melalui

stoma tidak dapat dikontrol. Gas yang terdapat pada saluran pencernaan
didapatkan dari beberapa jenis makanan seperti makanan berpengawet,
brokoli, kubis, jagung, timun, bawang, dan lobak. Gas juga didapatkan dari
menelan udara (secara tak sengaja) pada saat berbicara, makan, merokok
dan sebagainya. Oleh karena itu ostomate dianjurkan untuk mengunyah
makanan secara perlahan untuk meminimalkan udara yang masuk. Bau
pada gas atau feses yang dikeluarkan juga dapat diakibatkan oleh beberapa
makananseperti telur, keju, ikan, bawang, dan kubis (Canada Care Medical,
n.d).
4. Konstipasi
Konstipasi dapat terjadi pada ostomate akibat diet yang tidak seimbang,
serta intake makanan berserat ataupun cairan yang kurang (Gutman, 2011).
Apabila ostomate mengalami konstipasi maka perlu peningkatan asupan
makanan berserat seperti gandum, sayur dan buat, serta asupan cairan.
Konsumsi air minimal yang direkomendasikan adalah 8-10 gelas air per hari,
atau 1,5 hingga 2 liter air per hari (dapat termasuk teh, kopi ataupun jus)
(Hampton 2007). Melakukan aktivitas fisik ringan seperti bersepeda, jogging
juga dapat membantu meningkatkan pergerakan bowel dan mengatasi
konstipasi.
5. Diare
Diare umumnya terjadi pada pasien dengan ileostomi namun dapat
terjadi juga pada klien dengan kolostomi. Individu dengan pembuatan stoma
di kolon asenden dan transversal akan mengalami perubahan konsistensi
feses seperti diare, namun hal ini normal karena penyerapan air pada kolon
asenden dan transversal masih minimal. Penatalaksanaan diare, seperti
halnya konstipasi, meliputi manajemen diet. Pada saat diare terjadi, individu
akan beresiko kehilangan banyak kalium, sehingga butuh asupan makanan

mengandung kalium seperti pisang, jeruk, tomat, ubi, kentang, dan gandum
(Canada Care Medical, n.d).

D. Prinsip Diet Pada Ostomet


Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait nutrisi pada pasien dengan
kolostomi ialah (Canada Care Medical, n.d; Gutman, 2011) :
1. Mengurangi makanan yang menimbulkan bau, dapat meningkatkan
produksi gas, meningkatkan jumlah feses, dapat menyebabkan
sumbatan pada stoma
2. Perbanyak makanan yang dapat mengatasi gangguan pencernaan
seperti diare (menambah makanan yang mengandung potassium)
ataupun konstipasi (menambah makanan tinggi serat), dan yang dapat
mengurangi bau pada feses.
3. Mengembalikan aktivitas usus dan mencegah produksi gas dengan
makan tiga kali sehari.
4. Gangguan pada pencernaan dapat juga berasal dari tekanan emosional,
stress, atau kurangnya aktivitas fisik
5. Usahakan disertai banyak minum.
Contoh makanan makanan yang :
1. Mengandung potassium (rendah/non lemak, tinggi serat) : pisang, daging
(non lemak), jeruk, tomat, kentang (jika mengalami diare, kurangi
konsumsi keju, selai kacang, dan susu).
2. Mengandung gas : brokoli, kubis, bawang, timun, jagung dan lobak.
3. Dapat mengurangi bau pada feses: daun sup, mentega yang terbuat dari
susu, yogurt, jus tomat, jeruk, dan cranberi.
4. Dapat menyebabkan sumbatan : kelapa parut, kacang-kacangan, buah
yang dikeringkan, jagung, apel tanpa kulit,dll.

5. Dapat meningkatkan jumlah feses : gandum dan biji bijian, kismis, buah
prun, sayuran mentah.
6. Dapat merubah warna feses : bit, vitamin untuk meningkatkan zat besi,dll.
7. Dapat menimbulkan bau : kubis,kol, keju, telur, ikan, kacang polong,
bawang, jengkol, pete.
E. Perawatan Kolostomi
1. Pengertian :
Mengganti kantong kolostomi dan membersihkan stoma kolostomi, serta
kulit sekitar stoma,secara berkala dan sesuai kebutuhan. Kolostomi akan
mulai berfungsi optimal sekitar 3-6 hari pasca pembedahan (Smeltzer &
Bare, 2002).
2. Prinsip Umum dan Tujuan :
Prinsip umum :
a. Ganti kantong kolostomi secara berkala dan sesuai kebutuhan.
b. Bersihkan stoma secara dengan menggunakan NaCL atau air
hangat,lalu keringkan..
c. Perhatikan kondisi stoma dan kulitsekitar stoma setiap
membukakantong kolostomi dan setelah membersihkan stoma.
d. Pastikan lubang kantong kolostomi terpasang pas dengan stoma.
Tujuan :
- Menjaga kebersihan pasien
- Mencegah terjadinya infeksi
- Mencegah iritasi kulit sekitar stoma
- Mempertahankan kenyamanan pasien dan lingkungannya
3. Waktu penggantian kantong kolostomi :
- Kantong kolostomi harus dikosongkan jika sudah atau penuh
-

(Truven Health Analytics Inc.2012).


Burch (2013) menyatakan mayoritas pasien dengan kolostomi
mengganti kantong kolostominya 3 kali sehari hingga 3 kali
seminggu, dengan rata-rata penggantian kolostomi secara rutin

selama satu hari sekali.


4. Alat alat

Untuk mengganti kantong kolostomi :


a. Colostomy bag atau cincin tumit
b. Bantalan kapas.
c. Kain berlubang, dan kain persegi empat.
d. Kapas sublimate/kapas basah, NaCl.
e. Kapas kering atau tissue.
f.

1 pasang sarung tangan bersih.

g. Kantong plastic untuk balutan kotor.


h. Baju ruangan / celemek.
i.

Zink salep.

j.

Perlak dan alasnya.

k. Plester dan gunting.


l.

Bila perlu obat desinfektan.

m. Bengkok.
n. Set ganti balut
Untuk Irigasi kolostomi (Burch, 2013).:
a. Kontainer atau wadah air,
b. Tube (selang untuk mengalirkan cairan),

c. Cone dan plastic sleeve plastic sleeve berguna untuk mengalirkan


keluaran feses dan cairan irigasi ke dalam toilet.
5. Langkah langkah perawatan kolostomi
a. Penggantian kantong kolostomi dimulai dengan :
1) Cuci tangan, keringkan,lalu gunakan sarung tangan. Letakkan
perlak dan alasnya di bagian kanan atau kiri penderita sesuai
letak stoma. Letakkan bengkok di atas perlak dan didekatkan ke
tubuh ostomate.
2) Buka kantong dengan melepaskan perlekatan kantong kolostomi
dengan kulit abdomen secara perlahan sambil sedikit menekan
kulit

abdomen

yang

menempel

dengan

kantong.

Letakkan colostomy bag kotor dalam bengkok / kantong plastic


untuk sampah yang telah disiapkan.
3) Bersihkan stoma dengan menggunakan kapas yang di basahi
dengan air hangat atau NaCl. Jika ingin menggunakan sabun,
gunakan sabun yang tidak mengandung minyak ataupun parfum
karena dapat mengiritasi (Truven Health Analytics Inc,2012).
Kemudian keringkan kulit sekitar colostomy dengan sangat hatihati menggunakan kassa steril.
4) Observasi kulit dan stoma. Stoma yang normal akan terlihat
merah atau pink terang, lembap, tidak mengerut dan tampak
seperti membran mukosa oral, tidak ada sumbatan serta tidak
ada nyeri,dan memiliki produksi feses (Borwell, 2011). Stoma
yang tidak sehat atau mengalami nekrosis ditunjukkan dengan
warna hitam atau biru kehitaman. Permukaan stoma yang tidak

sehat akan tampak kering, terdapat darah yang terus keluar,


stoma menonjol atau masuk ke dalam sebanyak 5 cm, ujung
stoma mengerut, sedikit atau tidak ada produksi feses dan
terdapat nyeri pada area stoma.
5) Oleskan

zink salep (tipis-tipis) jika terdapat iritasi pada kulit

sekitar stoma
6) Sesuaikan

lubang colostomy dengan

stoma colostomy,

tempelkan kantong kolostomi dengan posisi sesuai kebutuhan,


masukkan

stoma

melalui

lubang

kantong

kolostomi,dan

rekatkan/memasang colostomy bag dengan tepat tanpa udara


didalamnya dengan plester hipoalergenik.
7) Bereskan alat alat yang telah di pakai, rapihkan kembali
lingkungan sekitar ostomate. Lepas sarung tangan, lalu buang ke
kantong plastik untuk sampah yang telah disiapkan, lalu cuci
tangan.
b. Irigasi Kolostomi. Merupakan suatu cara untuk mengeluarkan feses,
yang dilakukan secara terjadwal dengan memasukkan sejumlah air
dengan suhu yang sama dengan tubuh (hangat) (Putri, 2011).
Pergerakan bowel baiknya dalam keadaan regular dan bebas dari
masalah saat akan dilakukan irigasi kolostomi. Irigasi kolostomi tidak
dapat dilakukan bila pasien mengalami iritasi pada ususnya, prolaps
stoma, hernia peristomal, dan pada stoma yang terdapat pada kolon
asenden dan tranversal (Putri, 2011).
c. Langkah langkah irigasi kolostomi sebagai berikut (Burch, 2013;
Putri, 2011; Smeltzer & Bare, 2002) :

1) Isi wadah dengan air hangat, tinggikan setinggi bahu (posisi duduk
di toilet).
2) Alirkan cairan irigasi hingga ke ujung selang (membuang udara
yang ada di sepanjang selang)
3) Posisikan kantong stoma (plastic sleeve) ke toilet
4) Olesi pelumas atau pelicin cone (jelly) sebelum masuk kestoma
5) Masukkan cone kedalam stoma dengan perlahan,
kemudianalirkan cairan sebanyak 300-500cc.
6) Untuk hasil yang maksimal, alirkan kembali 500cc-1000cc,tahan
selama 10 detik setelah cairan mengalir.
7) Biarkan feses, cairan dan flatus keluar dari stoma menujutoilet
melalui sleeve selama 10-15 menit.
8) Tutup kantong atau ganti kantong dengan kantong kolostomibiasa
dan bereskan alat.

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2002). Brunner & Suddarths textbook of


medicalsurgical nursing vol.1. (8th Ed). (Waluyo, A., Kariasa, M., Julia,
Kuncara, A., & Asih, Y., Penerjemah). Philadelphia: Lippincott-Raven
Publisher.

Selly,

biru.blogspot.com, diakses tanggal 12 Mei 2015 jam 03:00 WIB.


http://www.upmc.com/patients-visitors/education/nutrition/pages/ostomy-

nutrition-guide.aspx
http://zeerrotul.blogspot.com/2013/09/askep-pasien-dengan-

2009. Asuhan

Keperawatan

Kolostomi: http://sely-

kolostomi.html

DAFTAR HADIR
PESERTA PENYULUHAN
Nama

Alamat

Tanda tangan