Anda di halaman 1dari 8

TUGAS TERSTRUKTUR

PERKEMBANGAN HEWAN
MEMBRAN EKSTRA EMBRIONAL
REPTIL OVOVIVIPAR

Oleh :
Robi Fauzi Azhari
Hairunnisa
Muhamad Reza Putratama
Desi Tri Handayani
Muhammad Zaky
Sella Nurhayati
Alin Nurchyani
Achmad Akbar Rifanda

B1J011065
B1J011107
B1J011166
B1J012075
B1J012132
B1J012166
B1J012186
B1J013156

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I.

PENDAHULUAN

Membran extra embrionik adalah struktur membran yang muncul secara


paralel dengan embrio dan memainkan peranan penting dalam perkembangan embrio
yang terbentuk dari embrio tetapi tidak menjadi bagian dari organisme individu
setelah kelahirannya (Yatim 1984). Membran ekstra embrionik merupakan bagian
perluasan-perluasan berlapis membran dari jaringan-jaringan embrio. Pada dasarnya
membran-membran tersebut adalah lipatan-lipatan yang pada akhirnya tumbuh
mengelilingi embrio dan menghasilkan empat kantung pada embrio yang sedang
tumbuh. Masing-masing membran terbentuk dari sel-sel yang berasal dari dua
lapisan nutfah berbeda. Pada akhirnya, membran ini akan mati dan tertinggal setelah
perkembangan embrional selesai, baik pada saat kelahiran ataupun pada masa
penetasan.
Menurut Campbell (2004), lapisan jaringan yang berada di luar tubuh
embrio berkembang menjadi empat membran ekstra embrionik yang mendukung
perkembangan embrio selanjutnya. Keempat membran tersebut, yaitu chorion/serosa,
amnion, kantung kuning telur (yolk sac/saccusvitellinus), dan allantois. Pernyataan
Campbell (2004) didukung oleh Huettner (1961) yang menyatakan bahwa keempat
macam selaput ini sebenarnya terbentuk dari dua lapisan, yaitu dari lapisan
ektoderma dengan mesoderma somatis (somatopleura) membentuk amnion dan
korion serta dari lapisan endoderma dengan mesoderma splanknis (splanknopleura)
membentuk kantung kuning telur dan allantois.
Ovovivipar adalah hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur dan
beranak. Embrionya berkembang di dalam telur dan telur tetap berada di dalam tubuh
induknya sampai menetas. Setelah telur menetas, individu baru tersebut keluar dari
tubuh induknya. Contoh hewan yang berkembangbiak secara ovovivipar adalah
kadal dan beberapa jenis ular.

II.

ISI

Salah satu adaptasi yang terjadi dalam evolusi yang sangat penting bagi
kehidupan hewan vertebrata di darat adalah terbentuknya suatu cara agar embrio
selalu berada dalam keadaan basah. Hal ini mulai terjadi ketika reptilia pertama
meletakkan telurnya di darat dan telur-telur tersebut dapat berkembang. Keberhasilan
ini dapat terjadi karena telur diselubungi dengan cangkang dan berbagai selaput dan
menyelubungi tubuh embrio. Selaput-selaput ini awalnya berasal dari tubuh embrio
itu sendiri dan melakukan fungsi yang vital seperti nutrisi, pertukaran gas dan
pembuangan atau penyimpanan bahan-bahan buangan. Selain itu selaput-selaput ini
berfungsi untuk menjaga agar embrio berada dalam keadaan lingkungan yang basah
seperti halnya pada hewan-hewan pendahulunya. Beberapa reptil dan mamalia, tidak
membentuk cangkang tetapi menggantikannya dengan perkembangan intra-uterus
yang lebih cocok. Walaupun demikian, bentuk dan fungsi dari selaput ekstra embrio
tetap dipertahankan.
Bagian-bagian Membran Ekstra Embrional

Pada kelompok reptil ovovivipar membran ekstra embrional terdiri atas


amnion, kantung yolk, allantois, dan chorion.
1. Amnion
Amnion adalah selaput yang langsung menyelubungi embrio dan memiliki
rongga yang berisi cairan amnion. Cairan tersebut berasal dari ginjal, kelenjar mulut
dan alat pernafasan fetus yang berfungsi sebagai media untuk mengambang,
mencegah embrio kering, mencegah perlekatan embrio pada selaput ekstra
embrionik, melindungi embrio dari guncangan serta memungkinkan pergerakan dari
tubuh dan tungkai embrio. Embrio yang sedang berkembang terletak di dalam cairan
amnion. Amnion merupakan sebuah membran lapisan ganda yang disusun lapisan
dalam ectoderm dan bagian luar lapisan mesoderm.

Pembentukan amnion terjadi sebagai akibat peronggaan dari Inner Cell


Mass (ICM) pada saat proses gastrulasi. Amnion terbentuk akibat pelipatan
somatopleura daerah kepala ke arah dorsokaudal, daerah ekor ke arah dorsokranial,
dan daerah dinding lateral ke arah dorsomedial. Selanjutnya somatopleura sebelah
dalam disebut amnion dan sebelah luar disebut korion. Amnion dan korion
dipisahkan oleh ruang ekstra embrionik (extraembryonic coelom).
2. Chorion
Chorion merupakan selaput ekstraembrionik paling luar. Chorion pada
Reptil dan Aves biasanya disebut serosa yang menempel pada selaput permukaan
sebelah dalam pada cangkang setelah hari ke 7-8 inkubasi. Chorion dan allantois
berfusi membentuk chorio-allantois yang berfungsi di dalam pertukaran gas antara
embrio dan udara melewati cangkang telur yang keras. Chorion juga berfungsi
mencegah masuknya bakteri ke dalam embrio. Chorion juga tersusun dari lapisan
ectoderm dan mesoderm tapi dengan sebuah pengaturan yang berkebalikan dengan
amnion. Dinding khorion terdiri atas 2 lapisan, yaitu mesoderm somatis dan
trophoblas.
3. Kantung Kuning Telur (Yolk Sac)
Kantung kuning telur adalah selaput yang menyelubungi kuning telur (yolk).
Kantung kuning telur terbentuk sebagai akibat lipatan splanknopleura ke arah ventral
untuk membentuk usus primitif dan sisa lipatan splanknopleura ini berkembang
menyelubungi kuning telur. Yolk sac berfungsi untuk penyerapan kuning telur yang
dilakukan vena vitelin menuju embrio melalui tangkai kantung kuning telur.
Sebaliknya, perkembangan kantung kuning telur disuplai oleh darah dari arteri vitelin
yang

keluar

dari

tubuh

embrio

menuju

kantung

kuning

telur. Selama

perkembangannya, embrio mendapatkan suplai makanan dari kantung kuning telur


yang akan mengecil dan tertarik ke dalam rongga perut seiring dengan
perkembangan embrio. Saccus vitelinus berkembang baik pada Aves dan Reptil
tetapi relatif tidak berkembang pada Mamalia.
4. Allantois
Allantois merupakan selaput ekstra embrionik yang terbentuk dari
penonjolan dinding usus belakang yang berbentuk seperti kantung. Allantois muncul
sebagai divertikulum ventral usus belakang segera setelah usus belakang di bentuk.
Oleh karena itu, lapisannya adalah splanknopleura dengan susunan lapisan lembaga
yang sama dengan kantung kuning telur. Bagian proksimal allantois membentuk

tangkai allantois yang pangkalnya akan berada di dalam tubuh embrio. Bagian distal
allantois membentuk kantung allantois yang tumbuh membesar kedalam coelom
ekstraembrio hampir memenuhi seluruh rongga telur dan berada tepat di bawah
chorion. Allantois juga tersusun dari endoderm dan mesoderm. Mesoderm amnion
dan chorion disebut sebagai somatic mesoderm ekstraembrional karena dia
berasosiasi dengan ectoderm dan tidak bervaskuler. Mesoderm yolk sac dan allantois
disebut splanchnic mesoderm ekstraembrional karena ini berasosiasi dengan
endoderm dan bervaskuler yang tebal. Allantois berfungsi untuk menampung dan
membebaskan sisa-sisa metabolisme yang berupa urea ataupun asam urat. Urin akan
dinetralisir oleh air yang terkandung dalam albumen telur, sedangkan urin ditampung
dalam selaput cangkang.
Proses Pembentukan Membran Ekstra Embrional
Pembentukan membran ekstra embrional pada reptil diawali dengan
pembentukan kantong yolk (Saccus vitelinus). Dinding-dinding dari Kantong yolk
dibentuk dari Splanknopleura, yaitu lapisan rangkap mesoderma dan endoderma
yang melipat ke arah ventral embrio. Pembentukan amnion mula-mula terjadi lipatan
amnion kepala yang juga menerus ke lipatan-lipatan lateral, pada hari kedua terjadi
lipatan-lipatan amnion ekor. Kedua lipatan ini akan bertemu dan membentuk amnion.
Lipatan-lipatan amnion dibangun oleh somatopleura yang dibentuk dari ektoderma
dan mesoderma somatis. Lipatan amnion ekor dibangun oleh dua lapisan terpisah
yang disebut serosa (chorion), dibangun oleh ektoderma dan mesoderma. Ektoderma
amnion menerus pada kulit janin diantara amnion dan chorion terdapat rongga
seroamnion. Chorion tumbuh sekitar kantong yolk dan membungkus seluruh kantong
yolk tersebut lalu melekat pada cangkang telur. Allantois terbentuk melalui evaginasi
(pelekukan ke arah luar) splanknopleura. Seiring pertumbuhan embrio, kantung
allantois membesar dan akan mengisi ruang antara amnion dan chorion, selanjutnya
dinding allantois bersatu dengan lapisan mesoderma somatis dari chorion dan disebut
allantochorion.
Komparasi Membran Ekstra Embrional Antar Klasis
Membran ekstra embrional berbeda-beda pada beberapa hewan vertebrata.
Tabel perbandingan membran ekstra embrional antar klasis yaitu pada Pisces,
Amphibi, Reptil, Aves, dan Mamalia, sebagai berikut :

Membran

Pisces

Amphibi

Reptil

Aves

Mamalia

Ekstraembrional
Saccus vitellinus
Amnion
Chorion
Allantois

Plasenta
Umbilica
l
Cord

III.

KESIMPULAN

1. Membran ekstra embrional adalah selaput atau membran yang terbentuk dari
interaksi antar lapisan lembaga primer jaringan embrional selama periode
embrionik.
2. Reptil ovovivipar memiliki membran ekstra embrional yang terdiri dari amnion,
chorion, kantung kuning telur (yolk sac) dan allantois.
3. Amnion memiliki fungsi sebagai media untuk mengambang, mencegah embrio
kering, mencegah perlekatan embrio pada selaput ekstra embrionik, melindungi
embrio dari guncangan serta memungkinkan pergerakan dari tubuh dan tungkai
embrio ; chorion berfungsi di dalam pertukaran gas antara embrio dan udara
melewati cangkang telur yang keras dan juga berfungsi mencegah masuknya
bakteri ke dalam embrio ; yolk sac berfungsi untuk penyerapan kuning telur yang
dilakukan vena vitelin menuju embrio melalui tangkai kantung kuning telur dan
sebagai sumber nutrisi bagi embrio ; allantois berfungsi untuk menampung dan
membebaskan sisa-sisa metabolisme yang berupa urea ataupun asam urat.
4. Membran Ekstra Embrional (MEE) terbentuk dari dua lapisan, yaitu dari lapisan
ektoderma dengan mesoderma somatis (somatopleura) membentuk amnion dan
korion

serta

dari

lapisan

endoderma

dengan

mesoderma

splanknis

(splanknopleura) membentuk kantung kuning telur dan allantois.


5. Pisces dan Amphibi hanya memiliki membran ekstra embrional berupa kantung
kuning telur (yolk sac), sedangkan Membran Ekstra Embrional pada Reptil, Aves,
dan Mamalia meliputi amnion, chorion, kantung kuning telur (yolk sac) dan
allantois.

DAFTAR REFERENSI
Balinsky, B.I. 1970. An Introduction to Embryology. W.B. Saunder Company,
London.
Campbell, N.A., Reece, J.B. 2004. Biology, 5th edition. San Francisco,Benjamin
Cummings.
Carlson, Bruce M. 1999. Human Embryology and Developmental Biology. Mosby,
New York.
Djuhanda, T. 1981. Embriologi Perbandingan. Armico, Bandung.
Kosasih, G. 1975. Embriologi Kedokteran. CV EGC, Jakarta.
Soeminto, 2000. Embriologi Vertebrata. Fakultas Biologi UNSOED, Purwokerto.
Sumantadinata, K. 1981. Pengembangbiakan Ikan-Ikan Pemeliharaan di Indonesia.
Sastra Budaya, Bogor.
Villee, C. A., Walker, W. F. and Barnes, R. D. 1988. ZoologiUmum.
Erlangga,Jakarta.
Yatim, Wildan. 1984. Embriologi. Tarsito, Bandung.