Anda di halaman 1dari 27

Laboratorium Ilmu Kesehatan Masyarakat

Kedokteran Keluarga

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

Otitis Media Akut dengan Rhinitis Alergi

Oleh :
Anindyta Audie D.A.
0910015028
Pembimbing :
dr. M. Khairul Nuryanto, M. Kes
dr. Resda

Laboratorium/SMF Ilmu Kesehatan Masyarakat


Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
Puskesmas Palaran Samarinda
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Secara fisiologik
terdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba ke dalam telinga tengah oleh
silia mukosa tuba Eustachius, enzim, dan antibodi. (Djaafar, Helmi, & Restuti,
2010)
Otitis media disebabkan karena pertahanan tubuh terganggu. Sumbatan tuba
Eustachius dan infeksi salura pernapasan berulang dapat menjadi factor pencetus
otitis media akut. (Djaafar, Helmi, & Restuti, 2010)
Otitis media lebih sering timbul di musim dingin daripada musim semi. Di
beberapa penelitian disebutkan penyakit ini banyak diderita laki-laki, sementara
diantara anak-anak Amerika kulit putih dan kulit hitam tidak ada perbedaan.
Beberapa penelitian melaporkan sebagian besar anak-anak sekurang-kurangnya
mengalami satu episode OMA pada masa kanak-kanak. Antara 19-62 % anak
mengalami paling sedikit 1 episode pada usia I tahun. Pada usia 3 tahun sekitar
50-84% anak mengalami paling sedikit 1 episode OMA Di Amerika, insidens
OMA tertinggi terjadi pada usia 2 tahun pertama kehidupan, dan yang kedua pada
waktu berumur 5 tahun bersamaan dengan anak mulai masuk sekolah.
(Donaldson, 2015)
Di Indonesia sendiri, belum ada data akurat yang ditemukan untuk
menunjukkan angka kejadian, insidensi, maupun prevalensi OMA.Penelitian di
Jakarta menunjukkan prevalensi OMA pada anak-anak sebesar 5,38 %, dan
prevalensi tertinggi terjadi pada kelompok usia 2-5 tahun (Umar, 2013). Pada
penelitian yang dilakukan di Medan, ditemukan kasus tertinggi terjadi pada usia 5
12 tahun yaitu sebanyak 32.9 % dan banyak terdapat pada laki-laki sebesar 55.3
%. (Siew, 2010)
1.2. Tujuan Penulisan

Menambah ilmu pengetahuan dan mengenai penyakit yang dilaporkan.

Mengkaji ketepatan penegakan diagnosis dan penatalakasanaan terhadap otitis


media akut dan rhinitis alergi

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1. Identitas Pasien
Nama

: An. As

Umur

: 11 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Jln. Gotong Royong Gg. Gaya Baru RT. 6 Rawa Makmur

Suku

: Jawa

Agama

: Islam

Anak ke

: 3 dari 4 bersaudara

Identitas Orangtua
Nama Ayah

: Tn.Az

Usia

: 51 tahun

Pekerjaan

: Swasta

Pendidikan Terakhir

: SMP

Ayah perkawinan ke

: 1

Nama Ibu

: Ny. Ju

Usia

: 46 tahun

Pekerjaan

: IRT

Pendidikan Terakhir

: SD

Ibu perkawinan ke

: 1

Tanggal pemeriksaan

: 12 Mei 2015

2.2. Anamnesis
Anamnesis dilakukan pada tanggal 12 Mei 2015. Pasien memeriksakan diri
ke Puskesmas pada tanggal 12 Mei 2015

2.2.1. Keluhan Utama


Nyeri Telinga
2.2.2.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluhkan nyeri telinga sejak 3 hari sebelum memeriksakan diri

ke Puskesmas. Nyeri telinga dirasakan pada telinga sebelah kanan. Nyeri telinga
disertai dengan demam dan perasaan seperti telinga kemasukan air. Nyeri telinga
dirasakan tidak berkurang. Pasien juga mengeluhkan telinga sebelah kanannya
yang kurang mendengar sejak telinganya nyeri. Pasien tidak mengeluhkan adanya
rasa gatal pada telinga dan telinga berdenging.
Dua hari sebelum pasien mengeluhkan nyeri telinga, pasien mengalami
batuk dan pilek. Pasien sering mengalami pilek bila pagi hari dan malam
hari.Pilek encer dan berwarna bening. Pasien juga mengeluhkan sering bersinbersin apabila terkena dingin dan terpapar debu. Tidak ada riwayat asma dan tidak
ada riwayat alergi makanan pada pasien.
Saat ini tidak ada anggota keluarga pasien yang mengalami keluhan serupa
namun kakak pasien sering mengalami pilek dan bersin ketika terkena dingin
juga.
Pasien tinggal dirumah bersama orang tua dan kakak pasien. Pasien tinggal
pada lokasi yang berdekatan pada sumber polusi dan berdekatan dengan beberapa
rumah yang sedang dibangun. Namun dirumah biasanya ayah pasien merokok di
dalam rumah dan sering mengganggu pasien.
2.2.3.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak pernah mengalami keluhan nyeri telinga sebelumnya. Pasien

tidak pernah mengalami cairan yang keluar dari telinga.


Pasien sering mengalami pilek dan bersin berulang sejak pasien umur 3
tahun. Bersin dan pilek berulang terjadi ketika pagi dan malam hari.
2.2.4.

Riwayat Penyakit Keluarga

Ibu dan kakak tertua pasien sering bersin apabila ketika terkena udara dingin
dan debu, keluarga pasien tidak ada yang memiliki riwayat asma, riwayat
dermatitis atopi, dan alergi makanan.
2.2.5

Riwayat Kebiasaan
Pasien pergi ke sekolah dengan jalan kaki dan jarak sekolah ke rumah pasien

adalah sejauh 1 km.


Sepulang sekolah sekitar jam 3 5 sore pasien sering bermain ke luar
dengan teman-temannya di sekitar rumah
2.2.6.

Riwayat Pemeliharaan Kehamilan


Ibu memeriksakan kehamilan di POSYANDU secara teratur tiap 1 kali

sebulan selama kehamilan. Tidak pernah menderita penyakit selama kehamilan.


Riwayat perdarahan selama kehamilan tidak ada. Riwayat konsumsi obat-obatan
hanya penambah zat besi dan vitamin yang diberikan oleh petugas kesehatan di
POSYANDU.
2.2.7.

Riwayat Persalinan

Pasien lahir pada tanggal 28 Agustus 2004. Pasien merupakan anak laki-laki
kandung dari ibu dengan P2A0 , usia kehamilan 9 bulan, lahir secara spontan,
ditolong oleh bidan di rumah sakit. Saat lahir, bayi langsung menangis dengan
berat badan lahir 2.700 gram dan panjang badan 41 cm.
2.2.8.

Riwayat Pemeliharaan Postnatal


a. Periksa di :
diri

Pasien rutin memeriksakan

selama

3x

dalam

bulan

di

POSYANDU
b. Kesehatan anak

c. Keluarga berencana

Baik
:

Tidak

d.
Riwayat Imunisasi Dasar
Imunisasi
BCG

Usia saat imunisasi


I
(+)

II
////////////

III
////////////

IV
////////////

Booster I
////////////

Booster II
////////////

Polio

(+)

(+)

(+)

(+)

Campak
DPT

(-)
(+)

(+)

////////////
(+)

////////////
////////////

Hepatitis

(+)

(+)

(+)

(+)

2.2.9.

Genogram

Keterangan :
= Perempuan
= Laki-Laki

= pasien
= tinggal serumah
= memiliki riwayat serupa

////////////

////////////

2.3. Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 12 Mei 2015
Keadaan umum : Sakit sedang
Kesadaran

: Composmentis, GCS E4V5M6

Berat Badan

: 28 kg

Tinggi Badan

: 135 cm

Tanda-tanda vital
Frekuensi Nadi

: 98 x/menit, regular, kuat angkat

Frekuensi Nafas : 22 x/menit, regular


Suhu

: 37,2oC, aksiler

Kepala dan Leher:


Kepala

: anemis (-/-), ikterik (-/-), cekung (-/-), faring


hiperemis (-), pembesaran tonsil T2/T2, allergic
shiner (+), allergic crease (-)

Leher

Pembesaran KGB (-)

Inspeksi

pergerakan simetris

Palpasi

nyeri tekan (-), ictus cordis tidak teraba

Perkusi

nyeri ketok (-/-), sonor pada seluruh lapangan paru,

Thoraks:

pembesaran jantung (-)


Auskultasi

Paru

suara napas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung

S1S2 tunggal-reguler, murmur (-), gallop(-)

Regio Abdomen

a.Inspeksi : Flat
b. Auskultasi : Peristaltik (+) kesan normal
c.Perkusi

: Distribusi timpani di keempat kuadran,

shifting dulness (-)


d. Palpasi : Soefl, defans muskular (-), hepar dan lien
dalam batas normal, nyeri tekan abdomen di empat
kuadran (-)

Regio Ekstremitas
a.Inspeksi :

Edema (-), deformitas (-). Petekie (-), kulit

kemerahan(-)
b. Palpasi :

Akral hangat, edema (-), nyeri tekan (-),

tonus dan kekuatan otot normal, refleks patologis (-).


Status lokalis Aurikula Dekstra
Bagian telinga
Aurikula

Telinga kanan
Deformitas

Telinga kiri
(-) Deformitas

(-)

Hiperemis (-) edema Hiperemis(-) edema (-)


Daerah preaurikula

(-)
Hiperemis (-) edema Hiperemis (-) edema
(-) fistula (-) abses (-) (-) fistula (-) abses (-)

Daerah retroaurikula

nyeri tekan (-)


nyeri tekan (-)
Hiperemis (-) edema Hiperemis (-) edema
(-) fistula (-) abses (-) (-) fistula (-) abses (-)

Meatus eksternus

nyeri tekan (-)


nyeri tekan (-)
Serumen (+) lembek, Serumen (-) edema (-)
edema (-) hiperemis (-) hiperemis (-) furunkel

Membran timpani

furunkel (-) secret (-)


(-) secret (-)
Hiperemi (+) tampak Hiperemi (+) tampak
bombans, tidak tampak bombans, tidak tampak
perforasi

Status Lokalis Hidung

perforasi

Bagian hidung
Hidung luar

Hidung kanan
Hidung kiri
Bentuk dbn, inflamasi Deformitas

(-)

(-), nyeri tekan (-), Hiperemis(-) edema (-)


Cavum nasi

deformitas (-)
Mukosa hiperemia (-), Mukosa hiperemia (-),
sekret (-), hipertrofi sekret (-), tidak ada
konka inferior

hipertrofi konka

Bagian tenggorok
Mukosa bukal
Faring

Keterangan
Hiperemis (-) massa (-)
Hiperemis (-), edema (-), massa (-), granul (-),

Tonsil

ulkus (-)
Hiperemis (-), ukuran T2-T2, detritus (-)

2.4. Diagnosis Kerja


Otitis Media Akut stadium supurasi dengan rhinitis alergi
2.5. Penatalaksanaan
2.5.1. Edukasi

Menjalani pengobatan sampai selesai

Tidak mengorek telinga dan mencegah telinga untuk kemasukan air

Menghindari pencetus rhinitis yaitu debu dan udara dingin

2.5.2. Medikamentosa
Terapi pada saat di Puskesmas
Amoksisilin tab 3 x 1
Paracetamol tab 3 x 1
Efedrin tab 3 x 1
2.6. Prognosis
Dubia et bonam.

BAB III
ANALISIS KEDOKTERAN KELUARGA
3.1. Identitas Keluarga
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Keterangan
Nama
Umur
Jenis kelamin
Status
perkawinan
Agama
Suku bangsa
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat
lengkap

I. Kepala Keluarga
Tn. Az
51 tahun
Laki-laki

II. Pasangan
Ny. J
46 tahun
Perempuan

Menikah

Menikah

Islam
Bugis
SMP
Swasta (Satpam)

Islam
Makassar
SD
Ibu Rumah Tangga

Jln. Gotong Royong Gg. Gaya Baru Rt 6 Rawa Makmur

3.2. Anggota Keluarga


No.

Anggota

1.

Keluarga
Tn. Az

2.

Ny. J

3.
4.

Tn. S
Nn. K

Hub.

Stt.

Swasta

Klrg.
Ayah

Nikah
Menikah

Serumah
Ya
Tdk Kdg
Ya
-

IRT

kandung
Ibu

Menikah

Ya

kandung
Kakak

Belum

Pelajar

kandung
Kakak

menikah
Belum

Ya

Menikah
Belum

Ya

Ya

Usia

Pekerjaan

51 th
46 th
23 th
18 th

5.

An. Az

11 th

Pelajar

kandung
Pasien

6.

An. A

5 th

Adik

menikah
Belum

kandung

menikah

3.3. Status Fisik, Sosial, Ekonomi Keluargan dan Lingkungan


No
.
1.
2.

Ekonomi Keluarga

Keterangan

Luas tanah
Luas Bangunan

10 x 7 meter
8 x 6 meter

Meninggal

3.

Pembagian ruangan

Rumah ialah rumah sendiri terbuat


dari

kayu,

dengan

kamar

tamu/ruang keluarga, 2 kamar tidur, 1


4.
5.

dapur, dan 1 kamar mandi


550 Watt

Besarnya daya listrik


Tingkat pendapatan keluarga :
a. Pengeluaran rata-rata per bulan

Rp 1.700.000,00

Bahan makanan :
-

Beras

Rp 150.000,00

Lauk/ikan, sayur

Rp 750.000,00

Air minum

Rp 50.000,00

Diluar bahan makanan


-

Pendidikan

Rp 300.000,00

Kesehatan

Rp 100.000,00

Listrik

Rp. 50.000,00

Air

b. Penghasilan keluarga/bulan
No
.

Rp 2.000.000,00

Perilaku Kesehatan

1.
2.

Pelayanan promotif/preventif
Pemeliharaan
kesehatan

Puskesmas Palaran
anggota Puskesmas Palaran

3.

keluarga lain
Pelayanan pengobatan

Puskesmas Palaran

4.

Jaminan pemeliharaan kesehatan

Jamkesda

No

Pola Makan Keluarga

1.

Anggota keluarga

Makan 3 kali sehari (pagi, siang dan


malam). Nasi, lauk pauk, buahbuahan.

2.

Pasien

Makan 3 kali sehari dengan nasi dan


lauk pauk. Pasien jarang makan buahbuahan.

No

Aktivitas Keluarga

.
1.

Aktivitas fisik
a. Ayah

Bekerja sebagai satpam di perusahaan


swasta

Samarinda,

aktivitas

dilakukan tergantung shift, 1 shift


selama 8 jam.
b. Ibu

Ibu

Pasien

bekerja

sebagai

Ibu

Rumah Tangga, aktifitas terpusat


pada pagi hari untuk mempersiapkan
makanan,

mencuci

pakaian

dan

membersihkan rumah.
c. Kakak pasien

Bersekolah dan pulang ke rumah


pukul 16.00. Belajar di dalam rumah
ketika malam.

d. Pasien

Bersekolah dan bermain di dalam dan


di luar rumah.

2.

e. Adik pasien
Aktivitas mental

Bermain di dalam dan di luar rumah


Seluruh
anggota
keluarga
melaksanakan ibadah sholat 5 waktu.

No
.
1.

Lingkungan
Sosial

Hubungan dengan lingkungan sekitar


baik

2.

Fisik/Biologik :
Perumahan dan fasilitas

Sederhana

Luas tanah

10 x 7 meter

Luas bangunan

8 x 6 meter

Jenis dinding terbanyak

Plywood

Jenis lantai terluas

Kayu

Sumber penerangan utama

Lampu listrik

Sarana MCK

WC berada di belakang rumah.

Sarana Pembuangan Air Limbah

Melalui saluran air ke parit belakang


rumah.

Sumber air sehari-hari

Air sumur gali.

Sumber air minum

Air sumur yang direbus

Pembuangan sampah

Sampah dikumpulkan menjadi satu


plastik kemudian dibuang ke tempat
pembuangan

sampah

di

daerah

tersebut.
3

Lingkungan kerja
- Ayah

Di luar rumah.

- Ibu

Di dalam dan di luar rumah.

- Anak

Di dalam dan di luar rumah.

- Pasien

Lebih dominan di dalam rumah

PENILAIAN APGAR KELUARGA


Hampir
Kriteria

Pernyataan
Selalu (2)

Adaptasi

Kemitraan

Saya puas dengan keluarga


saya karena masing-masing
anggota
keluarga
sudah
menjalankan sesuai dengan
seharusnya
Saya puas dengan keluarga
saya karena dapat membantu
memberikan solusi terhadap
permasalahan yang dihadapi

Pertumbuhan

Saya puas dengan kebebasan


yang diberikan keluarga saya
untuk
mengembangkan
kemampuan yang saya miliki

Kasih sayang

Saya puas dengan kehangatan


dan kasih sayang yang
diberikan keluarga saya

Kadang
Kadang
(1)

Hampir
tidak
pernah (0)

Kebersamaan

Saya puas dengan waktu yang


disediakan keluarga untuk
menjalin kebersamaan

Total

10

Keterangan :
Total skor 8-10 = Fungsi keluarga sehat
Total skor 6-7 = Fungsi keluarga kurang sehat
Total skor 5= Fungsi keluarga sakit

Kesimpulan : Nilai skor keluarga ini adalah 10, artinya keluarga ini menunjukan fungsi
keluarga sehat

3.4. Pola Hidup Bersih dan Sehat Keluarga


No

Indikator Pertanyaan

Keterangan

Jawaban
Ya

A. Perilaku Sehat
1
Tidak merokok
Ada yang memiliki kebiasaan Ayah
2

merokok
Persalinan
Dimana

pasien

memiliki

kebiasaan merokok
ibu

melakukan Persalinan ibu ditolong

persalinan
Imunisasi
imunisasi lengkap
Balita di timbang
Apakah

balita

ibu

seluruh

lengkap
sering Di timbang di Puskesmas

ditimbang ? Dimana ?
Sarapan pagi
Apakah

oleh bidan

Apakah bayi ibu sudah di Riwayat imunisasi anak


4

V
V

anggota Setiap anggota terbiasa

keluarga memiliki kebiasaan makan

pagi

sebelum

Tidak

sarapan pagi?

memulai aktivitas. Menu


sarapan kue.

Dana sehat / Askes


Apakah anda ikut menjadi Keluarga pasien sudah
peserta jaminan kesehatan

menjadi peserta jaminan

kesehatan
7

Cuci tangan
Apakah seluruh anggota

Seluruh keluarga tidak

keluarga mempunyai

selalu mencuci tangan

kebiasaan mencuci tangan

dengan air dan sabun

menggunakan sabun sebelum

sebelum makan dan

makan dan sesudah buang air

mengolah makanan

besar ?
8

Sikat gigi
Apakah anggota keluarga

Seluruh anggota keluarga

memiliki kebiasaan gosok

melakukan kebiasaan

gigi menggunakan odol

menggosok gigi dengan

odol.
9

Aktivitas fisik/olahraga
Apakah anggota keluarga

Seluruh anggota keluarga

melakukan aktivitas fisik atau

jarang melakukan

olah raga teratur

olahraga

B. Lingkungan Sehat
1

Jamban
Apakah di rumah tersedia

Rumah memiliki 1 buah

jamban dan seluruh keluarga

kloset (WC) yang

menggunakannya

digabung dengan kamar

Air bersih dan bebas jentik

mandi
Di rumah menggunakan

Apakah dirumah tersedia air

sumber air berasal dari

bersih dengan tempat/tendon

air sumur, sumber air

air tidak ada jentik ?

tersebut tampak bersih,


tidak terdapat jentik.

Bebas sampah
Apakah dirumah tersedia

Rumah tersedia tempat

tempat sampah? Dan di

sampah,sampah-sampah

lingkungan sekitar rumah

dikumpulkan ke dalam

tidak ada sampah berserakan?

tempat sampah dan tidak

ada sampah berserakan


4

SPAL
Apakah ada/tersedia SPAL di

Tidak ada air limbah

sekitar rumah
Ventilasi

yang menggenang.

Apakah ada pertukaran udara

Ukuran ventilasi tidak

didalam rumah
Kepadatan

memadai

Apakah ada kesesuaian

Pengukuran kepadatan

rumah dengan jumlah

dimana 1 orang penghuni

anggota keluarga?

membutuhkan 2 x2 x 2

meter
7

Lantai
Apakah lantai bukan dari

tanah?
C. Indikator tambahan
1
ASI Eksklusif

Seluruh lantai rumah dari


kayu

Apakah ada bayi usia 0-6

Semua anaknya

bulan hanya mendapat ASI

mendapatkan asi

saja sejak lahir sampai 6

eksklusif.

bulan
Konsumsi buah dan sayur
Apakah dalam 1 minggu

Semua anggota keluarga

terakhir anggota keluarga

mengkonsumsi sayur dan

mengkonsumsi buah dan

buah

sayur?
Jumlah

13

Klasifikasi :
SEHAT I : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 1-5 pertanyaan (merah)

SEHAT II : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 6-10 pertanyaan (Kuning)


SEHAT III : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 11-15pertanyaan (Hijau)
SEHAT IV : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 16-18pertanyaan (Biru)
Kesimpulan :
Dari 18 indikator yang ada, yang dapat dijawab Ya ada 13 pertanyaan yang
berarti identifikasi keluarga dilihat dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehatnya
masuk dalam klasifikasi SEHAT III.
3.5. Resume Faktor Risiko Keluarga
Faktor Resiko
Rumah:

Ventilasi ada, namun belum cukup memadai.

Tidak

ada

kawat

penutup

ventilasi

untuk

menyaring debu

Kepadatan hunian dalam satu rumah memenuhi


standar

Fisik

Rumah tidur pasien yang digunakan oleh 3 orang


anggota keluarga lainnya sehingga kondisi ruang
tidur menjadi pengap

Rumah

pasien

bersebelahan

dengan

proyek

membangun rumah sehingga debu berterbangan

Di belakang rumah pasien terdapat pabrik semen


dan ketika siang dan sore hari debu dari pabrik
masuk ke rumah pasien

Biologi
Psiko-sosio-

Pasien masih menggunakan sumur air


Riwayat alergi pada keluarga ada, yaitu pada ibu

dan kakak pasien


Pasien memiliki kartu jaminan kesehatan, namun

ekonomi

dokter keluarga pasien di kota Samarinda

Pendapatan keluarga cukup

Perilaku
Kesehatan

Kehidupan sosial dengan sekitar cukup baik.


Higiene pribadi cukup.

Pemeliharaan kesehatan di sarana kesehatan


seperti Puskesmas dan dokter swasta

Pengetahuan mengenai pola hidup bersih dan sehat

di keluarga ini sudah cukup baik.


Pasien berjalan kaki menuju sekolahnya yang
terletak 1 km dari rumah pasien

Gaya hidup

Ayah

pasien

merupakan

seorang

perokok,

terkadang ayah pasien merokok di dalam rumah


dan di dalam kamar

Lingkungan
Aktifitas

Pasien biasa beraktifitas di luar rumah, bermain


dengan temannya di sekitar rumah

3.6. Diagnosa Keluarga (Resume Masalah Kesehatan)


Status Kesehatan dan Faktor Risiko (Individu, Keluarga dan Komunitas)

Secara umum, pengetahuan pola hidup bersih dan sehat keluarga ini masih
kurang, namun dalam pemeliharaan higiene pribadi pasien sudah cukup baik.

Status Upaya Kesehatan (Individu, keluarga dan komunitas)

Pasien memikiki kartu jaminan kesehatan

Kartu jaminan kesehatan pasien untuk berobat di Samarinda

Pemeriksaan kesehatan dilakukan di Puskesmas.

Semua anggota keluarga memiliki kesempatan yang sama untuk berobat.

Status lingkungan

Secara umum, pengetahuan mengenai pola hidup bersih dan sehat di keluarga
ini baik, namun kondisi keluarga pasien secara ekonomi yang belum
mencukupi sehingga belum dapat membuat kondisi lingkungan tempat tinggal
baik untuk ditinggali. Kamar tidur yang digunakan bersama-sama oleh 4 orang
dan ventilasi yang tidak adekuat membuat sirkulasi udara di dalam rumah
tidak baik.

Belum ada kawat kasa yang dipasang di jendela dan ventilasi rumah sehingga

debu berterbangan ke dalam rumah


Diagnosa Keluarga
Sebuah keluarga dengan jumlah anggota keluarga sebanyak 5 orang,
dimana 1 orang diantaranya menderita otitis media akut stadium supurasi dan
rhinitis alergi. 2 anggota keluarga lain juga mengalami rhinitis alergi.
Permasalahan yang dihadapi keluarga ini adalah kondisi tempat tinggal yang
masih belum dapat dikatagorikan sebagai lingkungan hidup yang sehat.
3.8. Rencana Penatalaksanaan Masalah Kesehatan
No.

Masalah kesehatan

1.

Individu

Pengobatan/Tindakan
Diagnosis kerja pada pasien ini adalah Otitis
Media Akut stadium supurasi dan rhinitis alergi.
Tindakan yang dilakukan pada pasien ini adalah
edukasi mengenai penyakitnya, cara pencegahan
untuk tidak memburuk yaitu meminum obat
sampai habis, tidak mengorek telinga terlalu
dalam, dan cegah untuk telinga keluar air.
Pasien

juga

dijelaskan

untuk

menghindari

pencetus alerginya seperti debu dan cuaca dingin.


Mengenai terapi farmakologisnya.
Adapun terapi farmakogis yang diberikan pada
pasien ini adalah :
Terapi Puskesmas Palaran :
Amoksisilin tab 3 x 1
Paracetamol tab 3 x 1
Efedrin tab 3 x 1
2

Keluarga

Edukasi yang dilakukan pada keluarga ialah


mengenai penyakitnya yakni:

- Otitis media akut adalah penyakit infeksi telinga


yang disebabkan oleh kuman. Penyakit ini bisa
sembuh apabila diobati dengan tepat waktu.
Apabila penyakit ini tidak segera diobati, akan
menyebabkan kerusakan permanen pada telinga.
- Rhinitis alergi yang dialami pasien bisa menjadi
salah satu faktor predisposisi terjadinya otitis
media akut pada pasien akibat terganggunya
drainase tuba eustachius. Menghindari pencetus
adalah penatalaksanaan dari rhinitis alergi.
- Ayah pasien dilarang untuk merokok apabila di
dalam rumah
- Apabila pasien berjalan ke sekolah atau apabila
debu dari pabrik berterbangan pasien dan keluarga
dianjurkan menggunakan masker
- Dianjurkan untuk memasang kawat kasa pada
ventilasi dan jendela rumah

3.9. Perawatan Masalah Kesehatan Keluarga


Masalah
Kesehatan
Otitis

Media

akut

dan

rhinitis alergi

Tindakan Perawatan (Promotif, Preventif, Protektif)


Individu
Edukasi

Keluarga
serta

Edukasi

Komunitas

mengenai

mengenai

penyakit

otitis

pemberian terapi

penyakit

farmakologis

media

terkait

rginitis alergi

akibatnya

Edukasi

tidak diobati

dengan

penyakit
dideritanya,

yang

otitis

Edukasi

akut

dan

mengenai

media

pentingnya perilaku

Edukasi

pola hidup bersih

mengenai

dan

pentingnya

sehat

serta

pentingnya kondisi
tempat tinggal yang

perilaku

dan
apabila

pola

hidup bersih dan


sehat

serta

memadai.

pentingnya kondisi
tempat tinggal yang
memadai.

3.11. Skoring Kemampuan Penyelesaian Masalah


Masalah

Skor

Upaya

Awal

Penyelesaian

Fungsi Biologis
- Pasien menderita penyakit otitis

Edukasi mengenai penyakit dan

media akut yang apabila tidak

pencegahan

ditangani

penyuluhan

dengan

menyebabkan
permanen

baik

akan

kerusakan
pada

membrane

melalui

upaya

Pencegahan rhinitis alergi dengan


menghindari allergen

timpani
- Pasien

memiliki

rhinitis

alergi

dengan pencetus alergi debu dan


cuaca dingin
Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan
kebutuhan

- Pendapatan keluarga pas pasan

keluarga

untuk

sedikit

uangnya

menyisihkan

untuk keperluan yang mendesak.

- Jaminan kesehatan untuk di Samarinda

bukan di Palaran

Motivasi

Motivasi anak-anak pasien agar


tidak terlalu boros.

Motivasi keluarga pasien untuk


mengurus

jaminan

kesehatan

dengan dokter keluarga di Palaran


Faktor

Perilaku

Kesehatan

Keluarga
- Orang tua pasien yang sering
merokok di dalam rumah
- Jalan kaki ke sekolah

- Edukasi dan motivasi agar keluarga


pasien

lebih

sering

untuk

membersihkan kamar tidur, dan


menjemur ambal tempat tidur
- Edukasi orang tua pasien agar tidak
merokok di dalam rumah karena
asap dari rokok tersebut dapat
terhirup oleh anaknya

- Motivasi

untuk

menggunakan

masker apabila berjalan menuju


sekolah atau pulang ke sekolah
Lingkungan Rumah
- Kamar

pasien

banyak
dengan

yang

digunakan

angggota

keluarga

ukuran

kamar

yang

relatif kecil

dan bantal kapuk di dalam rumah


- Ventilasi tidak memadai
dan

- Motivasi

untuk

menambahkan

ventilasi di tiap ruangan


- Motivasi untuk memasang kawat
kasa pada ventilasi dan jendela

- Menggunakan obat nyamuk bakar

- Jendela

ventilasi

menggunakan kawat kasa

agar tidak terkena debu


- Edukasi untuk tidak menggunakan
obat nyamuk bakar dan untuk

tidak

tidak menggunakan bantal kapuk


di rumah
- Pembagian tempat istirahat oleh
masing-masing anggota keluarga,
ada sebagian anggota keluarga
yang istirahat diruang keluarga.

Keterangan :
Skor 1 = tidak dilakukan, keluarga menolak, tidak ada partisipasi
Skor 2 = keluarga mau melakukan tapi tidak mampu, hanya ada keinginan;
penyelesaian masalah dilakukan sepenuhnya oleh provider
Skor 3 = keluarga mau melakukan namun perlu penggalian sumber yang
belum dimanfaatkan; penyelesaian masalah dilakukan sebagian oleh provider
Skor 4 = keluarga mau melakukan namun tak sepenuhnya; masih tergantung
pada upaya provider
Skor 5 = dapat dilakukan sepenuhnya oleh keluarga

BAB IV
PEMBAHASAN

Studi kasus dilakukan pada pasien An. Az berusia 11 tahun dengan


keluhan utama nyeri pada telinga sebelah kanan. Pasien mengalami nyeri telinga
sejak 3 hari sebelum memeriksakan diri ke Puskesmas. Pasien tinggal satu rumah
dengan 4 orang anggota keluarganya, saat ini hanya pasien yang mengalami gejala
nyeri telinga namun ibu dan kakak pasien juga mengalami bersin dan pilek
berulang apabila terkena debu dan cuaca dingin.
Diagnosis otitis media akut stadium supurasi didapatkan atas dasar
anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pasien mengalami nyeri telinga kanan sejak 3
hari sebelum dibawa ke Puskesmas. Nyeri telinga disertai dengan keluhan telinga
seperti kemasukan air dan terjadi penurunan pendengaran. Pasien mengeluhkan
adanya demam sejak 1 hari sebelum ke Puskesmas. Pada pemeriksaan
menggunakan otoskopi ditemukan membran timpani yang hiperemi dan tampak
menonjol (bulging). (Djaafar, Helmi, & Restuti, 2010).
Diagnosis rhinitis alergi didapatkan atas dasar anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Pasien juga mengeluhkan pilek sejak 5 hari sebelum ke
Puskesmas. Pasien mengatakan sering pilek apabila terkena debu dan bila cuaca
dingin. Pilek yang keluar berwarna bening dan encer. Pasien juga mengeluhkan
Pada pemeriksaan juga ditemukan adanya hipertrofi konka inferior pada hidung
sebelah kanan, mukosa yang terlihat bewarna merah muda pucat. (Irawati,
Kasakeyan, & Rusmono, 2010)
Berbagai faktor risiko meningkatkan kejadian otitis media akut yaitu
adanya kelahiran premature atau BBLR, usia muda, jenis kelamin laki-laki,
adanya rhinitis alergi, rendahnya imunitas, paparan terhadap rokok, dan cuaca
dingin (Donaldson, 2015). Faktor predisposisi terjadinya otitis media akut adalah
adanya gangguan tuba yang terus menerus dan terjadinya infeksi saluran napas
yang berulang. Pada pasien ini didapatkan faktor risiko dari segi jenis kelamin,
usia, adanya rhinitis alergi, paparan terhadap udara dingin dan rokok. (Djaafar,
Helmi, & Restuti, 2010; Yiengprugsawan & Hogan, 2013; Macintyre, et al., 2010)

Pengobatan pada pasien ini adalah antibiotika. Antibiotik yang dianjurkan


adalah dari golongan penisilin atau ampisilin. Pemberian antibiotik dianjurkan
selama 7 hari. Selain antibiotik, diberikan juga analgetik. Idealnya pada stadium
supurasi dilakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh. Apabila
penatalaksanaan terlambat diberikan, OMA akan tetap berlanjut dan perforasi
akan menetap (Djaafar, Helmi, & Restuti, 2010). Pada rhinitis alergi, terapi yang
paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan allergen penyebabnya
(avoidance) dan eliminasi. (Irawati, Kasakeyan, & Rusmono, 2010)
Selain pemberian obat-obatan, penting bagi pasien untuk menghindari
faktor-faktor predisposisi terjadinya penyakit tersebut. Permasalahan dalam
hygiene pribadi dan keluarga, ekonomi dan lingkungan sekitar perlu diatasi.
Pemberian edukasi mengenai penyakitnya yang meliputi penyebab, faktor
predisposisi, pencegahan serta pengobatannya harus diberikan pada pasien ini.
Selain itu. edukasi dan motivasi kepada pihak keluarga sangat dibutuhkan guna
mencegah terjadinya kejadian berulang serta meningkatkan kesadaran kesehatan
di dalam keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

Djaafar, Z., Helmi, & Restuti, R. (2010). Kelainan Telinga Tengah. In E. Soepardi, N.
Iskandar, J. Bashirudin, & R. Rastuti, Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher Edisi
6 (pp. 64 - 77). Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Donaldson, J. (2015). Acute Otitis Media. Medscape .
Irawati, N., Kasakeyan, E., & Rusmono, N. (2010). Rinitis Alergi. In A. Soepardi, N.
Iskandar, J. Bashirudin, & R. Rastuti, Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher Edisi
6 (pp. 128 - 134). Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Macintyre, E., Karr, C., Koehoorn, M., Demers, P., Tamburic, L., Lencar, C., et al. (2010).
Otitis Media Incidence and Risk Factors in a Population-Based Birth Cohort. Paediatr
Child Health , 437-442.
Siew, T. (2010). Karakteristik Penderita Otitis Media Akut pada Anak yang Berobat ke
Instalasi Rawat Jalan SMF THT Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik
Medan Tahun 2009. Universitas Sumatera Utara .
Umar, S. (2013). Prevalensi dan Faktor Risiko Otitis Media Akut Pada Anak-Anak di
Kotamadya Jakarta Timur. Universitas Indonesia - Tugas Akhir Spesialis .
Yiengprugsawan, V., & Hogan, A. (2013). Ear Infection and Its Associated Risk Factors,
Comorbidity, and Health service use in Australian children. Int J Pediatr .