Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM TEKNIK KIMIA 2

Modul

: Plate Heat Exchanger (PHE)

Pembimbing

: Ir. Umar Khayam, MT

Oleh :

Desi Supiyanti
NIM. 131411005
2A/ D3-Teknik Kimia

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

Preliminary
1. Tujuan perpindahan panas dan Syarat terjadinya perpindahan panas?
Pada dasarnya prinsip kerja dari alat penukar kalor yaitu memindahkan panas dari dua
fluida pada temperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan secara kontak
tak langsung. Perpindahan panas terjadi antara fluida panas dandingin melalui dinding
pemisah. Dalam sistem ini, kedua fluida akan mengalir.
Syarat terjadinya perpindahan panas diantaranya yaitu adanya perbedaan temperature
antara fluida dingin dan fluida panas. Pada perbedaan 20C, perpindahan panas
dapat terjadi.

2. Variabel PHE?
-

Suhu masukan

Suhu keluaran

Laju alir

3. Perpindahan panas secara konduksi, konveksi, dan radiasi?


Konduksi
Proses perpindahan kalor melalui suatu zat tanpa diikuti perpindahan bagianbagian zat itu disebut konduksi atau hantaran. Misalnya, salah satu ujung batang besi
kita panaskan. Akibatnya, ujung besi yang lain akan terasa panas. Coba perhatikan
gambar berikut:

Konveksi
Proses perpindahan kalor melalui suatu zat yang disertai dengan perpindahan bagianbagian yang dilaluinya disebut konveksi atau aliran. Konveksi dapat terjadi pada zat
cair dan gas.
a. Konveksi pada Zat Cair
Syarat terjadinya konveksi padaz at cair adalah adanya pemanasan. Hal ini
disebabkan partikel-partikel zat cair ikut berpindah tempat.
b. Konveksi pada Gas

Konveksi terjadi pula pada gas, misalnya udara. Seperti halnya pada air,
rambatan (aliran) kalor dalam gas (udara) terjadi dengan cara konveksi. Beberapa
peristiwa yang terjadi akibat adanya konveksi udara adalah sebagai berikut.
1) Adanya angin laut. Angin laut terjadi pada siang hari. Pada siang hari, daratan
lebih cepat menjadi panas daripada lautan sehingga udara di daratan naik dan
digantikan oleh udara dari lautan.
2). Adanya angin darat, Angin darat terjadi pada malam hari. Pada malam hari,
daratan lebih cepat menjadi dingin daripada lautan. Dengan demikian, udara di atas
lautan naik dan digantikan oleh udara dari daratan.

Radiasi
Proses perpindahan kalor tanpa zat perantara disebut radiasi atau pancaran.
Kalor diradiasikan dalam bentuk gelombang elektromagnetik, gelombang radio, atau
gelombang cahaya. Misalnya, radiasi panas dari api Apabila kita berdiam di dekat api
unggun, kita merasa hangat. Kemudian, jika kita memasang selembar tirai di antara
api dan kita, radiasi kalor akan lerhalang oleh tirai itu. Dengan demikian, kita dapat
mengatakan bahwa:
Kalor dari api unggun atau matahari dapat dihalangi oleh tabir sehingga kalor
tidak dapat merambat. Ada beberapa benda yang dapat menyerap radiasi kalor atau
menghalanginya. Alat yang digunakan untuk mengetahui atau menyelidiki adanya
radiasi disebut termoskop, seperti yang tampak pada gambar berikut:

4. Bagaimana penyusunan plat pada PHE?

Pada penyusunan plat, daerah luas permukaan perpindahan panas dibatasi oleh gasket
atauseal. Plat disusun secara bersilangan antara plat satu dan lainnya, yang dimaksud
bersilangan yaitu plat pertama daerah luas permukaan perpindahan panas fluida panas masuk
berada di sebelah kanan, pelat kedua daerah luas permukaan perpindahan panas fluida dingin
masuk berada di sebelah kiri dan pelat ketiga daerah luas permukaan perpindahan panas
fluida panas masuk berada di sebelah kanan. Begitu seterusnya sehingga fluida panas dan
dingin tidak bercampur.

Pembahasan
Plate Heat Exchanger merupakan alat perpindahan panas yang tersusun oleh
lempengan-lempengan logam tipis yang permukaannya bergelombang. Tujuan dari
gelombang ini adalah untuk memperbesar luas permukaan kontak agar perpindahan panas
labih efektif. Pada praktikum ini, dilakukan perpindahan panas secara tidak langsung dengan
menggunakan media Plate Heat Exchanger. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk
memahami konsep dan fenomena perpindahan panas terutama pada jenis konduksi dan
konveksi, sehingga mahasiswa mampu menghitung koefisien perpindahan panas yang terjadi
dalam percobaan ini.
Cairan yang digunakan berupa air dimana air panas dan air dingin dialirkan melalui
aliran yang berbeda dan dikontakan secara counter-current pada plate pada HE. Pada plate
ini, perpindahan panas secara konveksi-koduksi terjadi karena kalor yang dilepas air panas
diserap oleh lempengan kemudian diberikan pada air dingin (konduksi), kemudian panas dari
air dingin tersebar di dalam air dingin (konveksi).
Langkah pertama adalah memanaskan air sebagai fluida panas hingga perbedaan suhu
fluida dingin dan fluida panas minimum adalah 20 0C. Setelah suhu fluida panas tercapai,
dilakukan kalibrasi laju alir, masing-masing untuk laju alir fluida panas maupun dingin.
Selanjutnya dilakukan pengamatan suhu keluaran maupun masukan untuk laju alir fluida
panas yang dialirkan tetap dan untuk laju alir fluida dingin tetap. Perpindahan panas dapat
terjadi akibat adanya driving force yang berupa perbedaan suhu, tekanan, atau konsentrasi.
Pada percobaan ini, perpindahan panas pada PHE terjadi akibat adanya perbedaan suhu
antara air panas dan air dingin. Adanya perbedaan suhu tersebut menyebabkan perpindahan
panas dari air panas ke air dingin sehingga terjadi kenaikan suhu air dingin keluar dan
penurunan suhu air panas keluar. Laju alir air panas maupun air dingin akan berpengaruh
pada perpindahan kalor yang terjadi. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa semakin besar
laju alir fluida maka semakin besar pula koefisien perpindahan panasnya, baik laju alir panas
tetap dan laju alir dingin berubah, maupun laju alir panas berubah dan laju alir dingin tetap.
Jika laju alir dingin tetap dan laju alir panas berubah semakin tinggi maka effisiensinya akan
menurun. Hal ini dikarenakan jika laju alir fluida panas divariasikan dan laju alir dingin tetap
maka waktu tinggal fluida panas semakin pendek sehingga laju alir fluida panas semakin
cepat dan kecepatan perpindahan semakin cepat mengakibatkan effisiensinya menurun.

Jika diamati dengan baik, maka kita dapat mengetahui bahwa suhu aliran fluida panas
akan menurun akibat tersirkulasinya fluida panas di aliran keluaran, dimana fluida keluaran
memiliki suhu yang lebih rendah dari pada fluida masukan, sementara proses pemansan yang
berjalan tidak dapat mengembalikan suhu aliran masukan dengan cepat. Sehingga suhu
masukan untuk proses selanjutnya lebih tinggi bila dibandingkan dengan aliran masukan
yang sebelumnya. Begitu pula aliran keluaran selanjutnya akan lebih rendah.
Bila dilihat dari hasil pengolahan data, diketahui bahwa nilai koefisien perpindahan
panas(U) secara empiris hasilnya lebih besar dibandingkan dengan perhitungan secara neraca
energy. Nilai U dengan cara emipiris akan semakin kecil seiring bertambahnya kecepata laju
alir, sedangakan cara perhitungan neraca energy nilai U akan semakin besar seiring
bertambahnya kecepatan laju alir.