Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barokatuh...


Demi matahari dan sinarnya di pagi hari. Demi bulan yang
mengelilingi. Demi siang yang menampakkannya. Demi malam yang
menutupinya. Segala puji dan syukur kepada sumber dari suarasuara hati yang bersifat mulia. Sumber ilmu pengetahuan, sumber
segala kebenaran, Sang Maha Cahaya, penabur cahaya ilham, pilar
nalar kebenaran dan kebaikkan yang terindah, Sang Kekasih tercinta
yang tak terbatas pencahayaannya cinta-Nya bagi umat, Alloh SWT.
Shalawat serta salam teruntuk Nabi Muhammad SAW, yang telah
memberikan serta menyampaikan kepada kita semua ajaran rukun
iman dan rukun islam yang telah terbukti kebenarannya, serta
makin terus terbukti kebenarannya.
Dibalik tangan yang menari diatas kertas putih ini. Tidak lupa kami
ucapkan terima kasih untuk Orang Tua kami, Dosen dan seluruh
sahabat.
Makalah ini berisikan tentang pengelolaan kecerdasan emosional dan
spiritual dalam meningkatkan kecerdasan intelektual. Sepanjang
sejarah manusia, konflik intelektual sangat besar contohnya EQ
yang tercerai dari IQ. Misalnya, hal yang bertolak belakang dengan
sistem pendidikan kita selama ini, yang terlalu menekankan
pentingnya nilai akademik, kecerdasan otak (IQ) saja. Mulai dari
tingkat sekolah dasar sampai ke bangku kuliah, jarang sekali
dijumpai pendidikan tentang kecerdasan emosi yang mengajarkan
tentang integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan
mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, penguasaan
diri atau sinergi, padahal justru inilah yang terpenting. Contoh
lainnya adalah kurangnya spritual (SQ) dalam diri manusia. Padahal
spiritual (SQ) adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan
IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan
tertinggi kita.

DAFTAR ISI

BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam rentang waktu dan sejarah yang panjang, manusia pernah sangat
mengagungkan kemampuan otak dan daya nalar (IQ), bahkan sampai saat ini.
Kemampuan berfikir dianggap sebagai primadona. Potensi diri yang lain
diabaikan. Pola pikir dan cara pandang yang demikian telah melahirkan manusia
terdidik dengan otak yang cerdas tetapi sikap, perilaku dan pola hidup sangat
kontras dengan kemampuan intelektualnya. Banyak orang yang cerdas secara
akademik tetapi gagal dalam pekerjaan dan kehidupan sosialnya. Mereka
memiliki kepribadian yang terbelah. Di mana tidak terjadi integrasi antara otak
dan hati. Kondisi tersebut pada gilirannya menimbulkan krisis multi dimensi yang
sangat memprihatinkan.
Fenomena tersebut telah menyadarkan kita bahwa kesuksesan seseorang tidak
hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir semata, malah lebih
banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual
(SQ). Tentunya ada yang salah dalam pola pembangunan SDM selama ini, yakni
terlalu mengedepankan IQ dengan mengabaikan EQ dan SQ. Oleh karena itu
kondisi demikian sudah waktunya diakhiri, di mana pendidikan harus diterapkan
secara seimbang, dengan memperhatikan dan memberi penekanan yang sama
kepada IQ, EQ dan SQ. Hal inilah yang melatarbelakangi pembuatan makalah ini,
dimana seseorang harus mengenal IQ, EQ, SQ dan kemudian menerapkannya
dalam kehidupan. Oleh karena itu, kami mengangkat makalah dengan judul
Mengenal IQ, EQ, dan SQ, serta Penerapannya dalam Kehidupan ditujukan
semata-mata untuk memberikan gambaran bagaimana mengelola SQ, EQ, untuk
meningkatkan kemampuan IQ.
Rumusan Masalah
Berdasarkan atas latar belakang tersebut, maka kami merumuskan masalahnya
adalah sebagai berikut :
Apakah kecerdasan itu ?
Apa pengertian IQ, EQ, dan SQ ?
Bagaimana EQ dan SQ dikelola untuk meningkatkan kemampuan IQ?
Tujuan
Mengetahui Arti Kecerdasan
Mengetahui pengertian IQ, EQ dan SQ
Mengatahui Pengelolaan EQ dan SQ untuk meningkatkan kemampuan IQ

BAB 2
PEMBAHASAN
Pengertian
Kecerdasan
Kecerdasan menurut adalah pemikiran. Artinya Allah SWT menciptakan manusia
dan memberikan kelebihan kepada manusia di atas hewan dan tumbuhan,
kelebihan tersebut berupa pikiran dan kecerdasan. Pikiran dan kecerdasan
adalah kemampuan manusia untuk mengembangkan daya pikirnya dalam
mengelola segala hal yang di sekitarnya. Itulah sebabnya manusia memiliki
kehidupan yang lebih maju di bandingkan dengan hewan.
macam-macam kecerdasan
Kecerdasan Lingustik.
Kemampuan menggunakan kata secara efektif baik secara lisan maupun tulisan.
Kepekaan pada bunyi, stuktur, makna, fungsi kata, dan bahasa. Budaya
berbicara, pembacaan cerita, kesusastraan.
Kecerdasan Metematis-Logis
Kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang
benar. kepekaan pada dan kapasitas mencerna pola-pola logis atau numeris
kemampuan mengolah alur pikiran yang panjang.
Kecerdasan Spasial
Kemampuan
mempersepsi
dunia
spasial-visual
secara
akurat
dan
mentransformasikannya. Kepekaan mempersepsi (merasakan) dunia spasialvisual secara akurat dan mentransformasi persepsi awal. Karya-karya seni,
Sistem navigasi, desain arsitektur, karya cipta.
Kecerdasan Kinestetis Jasmani
Kemampuan menggunakan seluruh tubuhnya. Keahlian menggunakan seluruh
tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan dan keterampilan menggunakan
tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu.
Kecerdasan Musikal
Kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal dengan cara mempersepsi,
membedakan, mengubah dan mengekspresikannya. Kemampuan menciptakan
dan mengapresiasi irama, pola titinada, dan warna nada apresiasi bentuk-bentuk
ekspresi musikal.
Kecerdasan Interpersonal
Kemampuan memperseosi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi,
serta perasaan orang lain. Kemampuan mencerna dan meresoins secara tepat
suasana hati, temperamen, motivasi dan keinginan orang lain.
Kecerdasan Intrapersonal.
Kemampuan memahami diri sendiri dan berindak berdasarkan pemahaman
tersebut. Memahami perasaan sendiri dan kemampuan membedakan emosi,
pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri.
Kecerdasan Naturalis
Keahlian mengenali dan mengkategorikan spesies flora san fauna di lingkungan
sekitar. Keahlian membedakan anggota-anggota suatu spesies, mengenali
eksistensi spesies lain dan memetakan hubungan antara beberapa spesies baik
secara informal, maupun formal.

Faktor yang memengaruhi kecerdasan


Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kecerdasan, yaitu:
Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas
Dimana minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan
dorongan bagi perbuatan itu.
Faktor Pembentukan atau Lingkungan
Dimana pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang
mempengaruhi perkembangan inteligensi.
Faktor Kematangan
Dimana tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan
perkembangan.
Faktor Kebebasan
Hal ini berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan
masalah yang dihadapi. Di samping kebebasan memilih metode, juga bebas
dalam memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya

2.1.2 Kecerdasan intelektual (IQ)


Pengertian Kecerdasan Intelektual(Inteligensi) Intelegensi berasal dari bahasa
Inggris Intelligence yang juga berasal dari bahasa Latin yaitu Intellectus dan
Intelligentia, yang artinya akal, kecerdasan, terpelajar. Ada beberapa rumusan
definisi inteligensi yang dikemukakan para ahli psikologi. Namun, karena antara
definisi yang satu dengan yang lainnya berbeda, maka belum diperoleh satu
definisi pun yang tepat.
Oleh karena itu, untuk memperoleh pengertian yang lebih jelas tentang
intelegensi, berikut ini adalah beberapa definisi yang dirumuskan oleh para ahli.
1. Edward Thorndike Menurut Edward, intelligence is demonstrable in
ability of the individual to make good responses from the stand point of truth or
fact.
2. William Stern Wiliiam berpendapat bahwa inteligensi kesanggupan jiwa
untuk menghadapi dan mengatasi keadaan-keadaan atau kesulitan baru dengan
sadar, dengan berpikir cepat dan tepat.

3. Bigot-Khostamm Menurut Bigot, inteligensi adalah suatu kemampuan


untuk melakukan perbuatan jiwa dengan cepat.
4. Witherington Menurutnya inteligensi bukan suatu kekuatan, bukan
suatu daya, bukan suatu sifat. Inteligensi adalah suatu konsep, suatu pengertian.
5. David Wechsler (1958) Beliau mendefinisikan inteligensi sebagai
kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan
menghadapi lingkungannya secara efektif Dari beberapa pengertian di atas,
secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu
kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional
2.1.3 Kecerdasan emosional (EQ)
kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai :
himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan
memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain,
memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing
pikiran dan tindakan.
Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat
menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan
terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam
pembentukan kecerdasan emosional.

Faktor Kecerdasan Emosional


Goleman mengutip Salovey (2002:58-59) menempatkan menempatkan kecerdasan
pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang
dicetuskannya dan memperluas kemapuan tersebut menjadi lima kemampuan utama,
yaitu :
a. Mengenali Emosi Diri
Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan
sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan
emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni
kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 64)
kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana
hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan
dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi,
namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga
individu mudah menguasai emosi.
b. Mengelola Emosi
Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar
dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri
individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci
menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas
terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita (Goleman, 2002 : 77-78). Kemampuan
ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan,
kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta

kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.


c. Memotivasi Diri Sendiri
Presatasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti
memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan
dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme,
gairah, optimis dan keyakinan diri.
d. Mengenali Emosi Orang Lain
Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut
Goleman (2002 :57) kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli,
menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan
empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang
mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu
menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih
mampu untuk mendengarkan orang lain.
Rosenthal dalam penelitiannya menunjukkan bahwa orang-orang yang mampu
membaca perasaan dan isyarat non verbal lebih mampu menyesuiakan diri secara
emosional, lebih populer, lebih mudah beraul, dan lebih peka (Goleman, 2002 : 136).
Nowicki, ahli psikologi menjelaskan bahwa anak-anak yang tidak mampu membaca
atau mengungkapkan emosi dengan baik akan terus menerus merasa frustasi
(Goleman, 2002 : 172). Seseorang yang mampu membaca emosi orang lain juga
memiliki kesadaran diri yang tinggi. Semakin mampu terbuka pada emosinya sendiri,
mampu mengenal dan mengakui emosinya sendiri, maka orang tersebut mempunyai
kemampuan untuk membaca perasaan orang lain.
e. Membina Hubungan
Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang
menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi (Goleman,
2002 : 59). Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam
keberhasilan membina hubungan. Individu sulit untuk mendapatkan apa yang
diinginkannya dan sulit juga memahami keinginan serta kemauan orang lain.
Orang-orang yang hebat dalam keterampilan membina hubungan ini akan sukses
dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan karena mampu berkomunikasi
dengan lancar pada orang lain. Orang-orang ini populer dalam lingkungannya dan
menjadi teman yang menyenangkan karena kemampuannya berkomunikasi (Goleman,
2002 :59). Ramah tamah, baik hati, hormat dan disukai orang lain dapat dijadikan
petunjuk positif bagaimana siswa mampu membina hubungan dengan orang lain.
Sejauhmana kepribadian siswa berkembang dilihat dari banyaknya hubungan
interpersonal yang dilakukannya.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis mengambil komponen-komponen utama
dan prinsip-prinsip dasar dari kecerdasan emosional sebagai faktor untuk
mengembangkan instrumen kecerdasan emosional
2.1.4 Kecerdasan spiritual (SQ)

Kecerdasan spiritual atau yang biasa dikenal dengan SQ (bahasa Inggris: spiritual
quotient) adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk
mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk
menerapkan nilai-nilai positif. SQ merupakan fasilitas yang membantu seseorang
untuk mengatasi persoalan dan berdamai dengan persoalannya itu.[2] Ciri
utama dari SQ ini ditunjukkan dengan kesadaran seseorang untuk menggunakan
pengalamannya sebagai bentuk penerapan nilai dan makna.[1]
Kecerdasan spiritual yang berkembang dengan baik akan ditandai dengan
kemampuan seseorang untuk bersikap fleksibel dan mudah menyesuaikan diri
dengan lingkungan, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, mampu menghadapi
penderitaan dan rasa sakit, mampu mengambil pelajaran yang berharga dari
suatu kegagalan, mampu mewujudkan hidup sesuai dengan visi dan misi,
mampu melihat keterkaitan antara berbagai hal, mandiri, serta pada akhirnya
membuat seseorang mengerti akan makna hidupnya.
Prinsip kecerdasan spiritual
Agustina (2001) dalam bukunya menuliskan adanya 6 prinsip dalam kecerdasan
spiritual berdasarkan rukun iman, yaitu :
a) Prinsip bintang (star prinsiple) berdasarkan iman kepada Allah SWT.
Yaitu kepercayaan atau keimanan kepada Allah SWT. Semua tindakan hanya
untuk Allah, tidak mengharap pamrih dari orang lain dan melakukannya sendiri.
b) Prinsip malaikat (angel principle) berdasarkan iman kepada Malaikat.
Semua tugas dilakukan dengan disiplin dan sebaik-baiknya sesuai dengan sifat
malaikat yang dipercaya oleh Allah untuk menjalankan segala perintah-Nya.
c) Prinsip kepemimpinan (leadership principle), berdasarkan iman kepada rasul.
Seorang pemimpin harus memiliki prinsip yang teguh, agar mampu menjadi
pemimpin yang sejati. Seperti halnya Rasullullah SAW, seorang pemimpin sejati
yang dihormati oleh semua orang.
d) Prinsip pembelajaran (learning principle) berdasarkan iman kepada kitab.
Suka membaca dan belajar untuk menambah pengetahuan dan mencari
kebenaran yang hakiki. Berpikir kritis terhadap segala hal dan menjadikan AlQuran sebagai pedoman dalam bertindak.
e) Prinsip masa depan (visim principle) berdasarkan iman kepada hari akhir.
Berorientasi terhadap tujuan, baik jangka pendek, jangka menengah maupun
jangka panjang. Semua itu karena keyakinan akan adanya hari kemudian dimana
setiap individu akan mendapat balasan terhadap setiap tindakan yang dilakukan.
f) Prinsip keteraturan (well organized principle) berdasarkan iman kepada Qodlo
dan Qodar
Setiap keberhasilan dan kegagalan, semua merupakan takdir yang telah
ditentukan oleh Allah. Hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh dan
berdoa kepada Allah.
Ciri-ciri kecerdasan spiritual
Berdasarkan teori Zohar dan Marshall (2001) dan Sinetar (2001) sebagai berikut :
a. Mempunyai kesadaran diri. Adanya tingkat kesadaran yang tinggi dan
mendalam sehingga bisa menyadari antuasi yang datang dan menanggapinya.
b. Mempunyai visi. Ada pemahaman tentang tujuan hidupnya, mempunyai
kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
c. Fleksibel. Mampu bersikap fleksibel, menyesuaikan diri secara spontan dan
aktif untuk mencapai hasil yang baik, mempunyai pandangan yang pragmatis

(sesuai kegunaan) dan efisien tentang realitas.


d. Berpandangan holistik. Melihat bahwa diri sendiri dan orang lain saling terkait
dan bisa melihat keterkaitan antara berbagai hal. Dapat memandang kehidupan
yang lebih besar sehingga mampu menghadapi dan memanfaatkan serta
melampaui, kesengsaraan dan rasa sehat serta memandangnya sebagai suatu
visi dan mencari makna dibaliknya.
e. Melakukan perubahan. Terbuka terhadap perbedaan, memiliki kemudahan
untuk bekerja melawan konvensi dan status quo, menjadi orang yang bebas
merdeka.
f. Sumber inspirasi. Mampu menjadi sumber inspirasi bagi orang lain, mempunyai
gagasan-gagasan yang segar dan aneh.
g. Refleksi diri, mempunyai kecenderungan apakah yang mendasar dan pokok.
Faktor-faktor yang mendukung kecerdasan spiritual
Menurut Sinetar (2001) otoritas intuitif, yaitu kejujuran, keadilan, kesamaan
perlakuan terhadap semua orang, mampunyai faktor yang mendorong
kecerdasan spiritual. Suatu dorongan yang disertai oleh pandangan luas tentang
tuntutan hidup dan komitmen untuk memenuhinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual menurut Agustian (2003)
adalah inner value (nilai-nilai spiritual dari dalam) yang berasal dari dalam diri
(suara hati), seperti transparency (keterbukaan), responsibilities (tanggung
jawab), accountabilities (kepercayaan), fairness (keadilan) dan social wareness
(kepedulian sosial). Faktor kedua adalah drive yaitu dorongan dan usaha untuk
mencapai kebenaran dan kebahagiaan.
Zohar dan Marshall (2001) mengungkapkan ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kecerdasan spiritual yaitu :
a. Sel saraf otak
Otak menjadi jembatan antara kehidupan bathin dan lahiriah kita. Ia mampu
menjalankan semua ini karena bersifat kompleks, luwes, adaptif dan mampu
mengorganisasikan diri. Menurut penelitian yang dilakukan pada era 1990-an
dengan menggunakan WEG (Magneto Encephalo Graphy) membuktikan
bahwa osilasi sel saraf otak pada rentang 40 Hz merupakan basis bagi
kecerdasan spiritual.
b. Titik Tuhan (God spot)
Dalam peneltian Rama Chandra menemukan adanya bagian dalam otak, yaitu
lobus temporal yang meningkat ketika pengalaman religius atau spiritual
berlangsung. Dia menyebutnya sebagai titik Tuhan atau God Spot. Titik Tuhan
memainkan peran biologis yang menentukan dalam pengalaman spiritual.
Namun demikian, titik Tuhan bukan merupakan syarat mutlak dalam kecerdasan
spiritual. Perlu adanya integrasi antara seluruh bagian otak, seluruh aspek dari
dan seluruh segi kehidupan.
Meningkatkan kemampuan IQ dengan mengelola EQ dan SQ