Anda di halaman 1dari 11

HUBUNGAN BUDAYA KONSUMSI BABI GULING DENGAN TINGGINYA ANGKA

KOLESTEROL DI GIANYAR
Juniartha Semara Putra
I. PENDAHULUAN
Indonesia dengan berbagai ragam budayanya, memiliki berbagai jenis makanan
tradisional yang merupakan makanan khas yang berasal dari daerah itu dan disukai oleh
masyarakat pada umumnya yang tinggal di wilayah tersebut. Konsep transkultur babi guling
masih melekat erat pada masyarakat bali sampai saat ini. Babi guling (di Bali disebut be
guling) adalah sejenis makanan yang terbuat dari babi betina atau jantan, di mana perutnya
diisikan dengan bumbu dan sayuran seperti daun ketela pohon dan lalu dipanggang sambil
diputar-putar (diguling-gulingkan) sampai matang yang ditandai dengan perubahan warna
kulit menjadi merah kecoklatan dan renyah. Awalnya babi guling pada mulanya digunakan
untuk sajian pada upacara baik upacara adat maupun upacara keagamaan, namun saat ini babi
guling telah dijual sebagai hidangan baik di warung-warung, rumah makan bahkan hotelhotel tertentu di daerah bali. Saat ini di Bali persembahan babi guling , dipergunakan untuk
berbagai tujuan misalnya : mesesangi (bayar janji), upacra tiga bulanan untuk anak yang baru
lahir, mesangih (potong gigi), ninggungan (pengorbanan anak babi) dll. Namun saat ini babi
guling telah dijual sebagai hidangan yang dapat dikonsumsi kapan saja karena mudah dicari
baik di warung-warung, rumah makan bahkan hotel-hotel tertentu di daerah Bali.
Keunikan dari makanan ini adalah di satu sisi makanan ini kaya akan kandungan
lemak jenuh (miristat dan stearat) dan karbohidrat yang bersifat aterogenik. Kandungan
lemak dan kolesterol dagingnya dapat meningkatkan kadar lemak darah yang berakibat
kepada aterosklerosis. Tetapi disisi lain makanan ini juga mengandung flavonoid yang berasal
dari bumbu babi guling tersebut. Bumbu babi guling dibuat dari campuran berbagai bahan
yang berasal dari umbi-umbian (jahe, kunir, lengkuas, kencur, bawang merah, bawang putih),
biji-bijian (ketumbar, merica), buah (lombok, kemiri, pala), bunga (cengkeh) dan daundaunan (daun salam, daun belimbing atau daun ubi) yang mengandung antioksidan dan
bersifat antiinflamasi sehingga dapat dianggap sebagai bersifat ateroprotektif (Indraguna,
2009).
Perkembangan pola penyakit di Bali menunjukkan perkembangan dari pola penyakit
infeksi ke pola penyakit degenerasi. Berdasarkan hasil RISKESDAS 2007, disebutkan bahwa
prevalensi Hipertensi di Bali adalah 29,1 % dan prevalensi stroke yaitu 6,8%. Dibandingkan
dengan provinsi lainnya, maka penyakit yang merupakan akibat dari penuaan pembuluh
darah ini, menempati urutan ke 23 dari 33 provinsi yang ada di Indonesia. Dan ini berarti
prevalensi penyakit pembuluh darah di Bali tergolong kecil atau di bawah rata-rata nasional.
Namun, jika dilihat dari asupan kalori dan lemak yang merupakan faktor risiko dari kedua
penyakit pembuluh darah ini, masyarakat di provinsi Bali tergolong berisiko. Untuk asupan
kalori, masyarakat di provinsi Bali menempati urutan ke 12 dari 33 provinsi dengan jumlah
asupan rata-rata 1706 Kcal/hari, dan urutan ke 11 untuk jumlah penduduk yang sering
mengkonsumsi lemak yang jumlahnya mencampai 15,4 % (DepKes R.I., 2007). Berdasarkan
hasil diskusi panel Susenas tahun 2007, konsumsi kalori masyarakat Bali yang diukur pada

tahun 2002, 2005 dan 2007 terus berada di atas konsumsi rata-rata nasional, yaitu 2.249
berbanding 1.985 pada tahun 2002, 2.289 berbanding 2.007 pada tahun 2005 dan 2.285
berbanding 2014 pada tahun 2007. Dan bila dilihat komponen makanan penyumbang kalori
pada tahun-tahun survey yang sama, konsumsi makanan yang bersifat aterogenik seperti
lemak, daging, dan gula yang bersumber dari makanan dan minuman, tergolong tinggi (Biro
Pusat Statistik, 2007).
Laporan ini sedapat mungkin menjawab pertanyaan krusial di atas oleh karena
laporan ini diharapkan dapat mengungkap faktor risiko yang diperoleh dari mengkonsumsi
babi guling yang merupakan salah satu makanan tradisional Bali terhadap kemungkinan
menderita kolesterol. Dan secara khusus akan dijelaskan bagaimana efektifitas campuran
bumbu yang dipakai di dalam babi guling dapat menurunkan risiko kolesterol sebagai akibat
dari mengkonsumsi babi guling, pada binatang coba tikus Wistar, Munculnya Sel Busa
(Foam Cell) akibat konsumsi babi guling inilah berperan sebagai cikal bakal terbentuknya
plak aterosklerosis yang merupakan tahap lanjut darikolesterol.
II. TINJAUAN TEORI
The Sunrise Model ( Model matahari terbit)
Sunrise Model dari teori Leininger dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Matahari
terbit sebagai lambang/ symbol perawatan. Suatu kekuatan untuk memulai pada puncak dari
model ini dengan pandangan dunia dan keistimewaan struktur sosial untuk
mempertimbangkan arah yang membuka pikiran yang mana ini dapat mempengaruhi
kesehatan dan perawatan atau menjadi dasar untuk menyelidiki berfokus pada keperawatan
profesional dan sistem perawatan kesehatan secara umum. Anak panah berarti mempengaruhi
tetapi tidak menjadi penyebab atau garis hubungan. Garis putus-putus pada model ini
mengindikasikan sistem terbuka. Model ini menggambarkan bahwa tubuh manusia tidak
terpisahkan/tidak
dapat
dipisahkan
dari
budaya
mereka.
Suatu hal yang perlu diketahui bahwa masalah dan intervensi keperawatan tidak tampak
pada teori dan model ini. Tujuan yang hendak dikemukakan oleh Leininger adalah agar
seluruh terminologi tersebut dapat diasosiasikan oleh perawatan profesional lainya. Intervensi
keperawatan ini dipilih tanpa menilai cara hidup klien atau nilai-nilai yang akan
dipersepsikan sebagai suatu gangguan, demikian juga masalah keperawatan tidak selalu
sesuai dengan apa yang menjadi pandangan klien. Model ini merupakan suatu alat yang
produktif untuk memberikan panduan dalam pengkajian dan perawatan yang sejalan dengan
kebudayan serta penelitianilmiah.
SUNRAISE MODEL
Leininger Sunrise Model merupakan pengembangan dari konseptual model asuhan
keperawatan transkultural. Terdapat 7 (tujuh) komponen dalam sunrise model tersebut, yaitu :
1.
Faktor
Teknologi
(
Technological
Factors
)
Teknologi kesehatan adalah sarana yang memungkinkan individu untuk memilih atau
mendapat penawaran untuk menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Berkaitan
dengan pemanfatan teknologi kesehatan, maka perawat perlu mengkaji berupa persepsi

individu tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan


kesehatan saat ini, alasan mencari kesehatan, persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau
mengatasi
masalah
kesehatan.
2. Faktor keagamaan dan falsafah hidup ( Religous and Philosofical Factors)
Agama adalah suatu sistem simbol yang mengakibatkan pandangan dan motivasi yang
realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi kuat sekali untuk menempatkan
kebenarannya di atas segalanya bahkan di atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang
perlu dikaji perawat seperti : agama yang dianut, kebiasaan agama yang berdampak positif
terhadap kesehatan, berikhtiar untuk sembuh tanpa mengenal putus asa, mempunyai konsep
diri
yang
utuh.
3. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (Kinship and Social Factors)
Faktor sosial dan kekeluargaan yang perlu dikaji oleh perawat : nama lengkap dan nama
panggilan dalam keluarga, umur atau tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe
keluarga, pengambilan keputusan dalam anggota keluarga, hubungan klien dengan kepala
keluarga,
kebiasaan
yang
dilakukan
rutin
oleh
keluarga.
4. Faktor nilai budaya dan gaya hidup (Cultural Values and Lifeways)
Nilai adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap
baik dan buruk. Hal-hal yang perlu dikaji berhubungan dengan nilai-nilai budaya dan gaya
hidup adalah posisi dan jabatan, bahasa yang digunakan, kebiasaan membersihkan diri,
kebiasaan makan, makan pantang berkaitan dengan kondisi sakit, sarana hiburan yang
dimanfaatkan
dan
persepsi
sakit
berkaitan
dengan
aktivitas
sehari-hari.
5.
Faktor
peraturan
dan
kebijakan
(Polithical
and
Legal
Factor)
Peraturan dan kebijakan yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan
individu dalam asuhan keperawatan transkultural. Misalnya peraturan dan kebijakan yang
berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang menunggu.
6.
Faktor
ekonomi
(
Economical
Faktor
)
Klien yang dirawat dapat memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk
membiayai sakitnya agar segera sembuh. Sumber ekonomi yang ada pada umumnya
dimanfaatkan
klien
antara
lain
asurannsi,
biaya
kantor,
tabungan.
Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat antara lain seperti pekerjaan klien, sumber
biaya
pengobatan.
7.
Faktor
pendidikan
(Educational
Factor)
Latar belakang pendidikan individu adalah pengalaman individu dalam menmpuh jalur
pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan individu, maka keyakinannya
harus didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang rasional dan dapat beradaptasi terhadap budaya
yang
sesuai
dengan
kondisi
kesehatannya.
Perawat perlu mengkaji latar belakang pendidikan meliputi tingkat pendidikan, jenis
pendidikan, serta kemampuan belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya
sehingga tidak terulang kembali.
2.1. KONSEP TRANSKULTUR

Transcultural (Budaya) adalah seluruh kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang
teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatkannya dengan belajar dan yang semuanya
tersusun dalam kehidupan masyarakat (Koentjaraningrat).
Transcultural nursing adalah suatu area atau wilayah keilmuwan budaya pada proses
belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara
budaya dan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia,
kepercayaan dan tindakan. Ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan
khususnya budaya atau keutuhan budaya pada manusia (Leininger,2002).
Tujuan dari keperawatan transkultural adalah untuk mengidentifikasi, menguji,
mengerti, dan menggunakan pemahaman keperawatan transkultural untuk meningkatkan
kebudayaan yang spesifik dalam pemberian asuhan keperawatan.
v Unsur-unsur Budaya
1.Sistem religi
2.Sistem dan organisasi masyarakat
3.Sistem pengetahuan
4.Bahasa
5.Kesenian
6.Mata pencaharian
7.Teknologi dan peralatan
v Wujud Kebudayaan
1.Bentuk kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma dan peraturan
2.Bentuk kompleks dari aktifitas kelakukan berpola
3.Bentuk kompleks dari benda hasil karya manusia
Konsep kebudayaan menurut Leininger dalam buku Transcutural Nursing; concepts,
theories and practices (1978 & 1995).
a. Kebudayaan yang mempersepsikan penyakit ke dalam bentuk pengalaman tubuh internal
dan bersifat personal (contohnya yang disebabkan oleh kondisi fisik, genetic,stress dalam
tubuh) lebih cenderung menggunakan teknik dan metode keperawatan diri secara fisik dari
pada melakukan perawatan berdasarkan budaya yang memandang penyakit sebagai suatu
keyakinan kultural dan ekstra personal serta pengalaman budaya secara langsung.
b. Budaya sangat menekankan proses, prilaku dan nilai perawatan (caring), memegang
peranan yang lebih cenderung dilakukan wanita daripada pria.
c. Kebudayaan yang menekankan pada prilaku dan proses pengobatan (caring) cenderung
dilaksanakan oleh pria daripada wanita.
d. Klien (masyarakat umum / tradisional) yang membutuhkan pelayanan keperawatan
(caring), pertama sekali cenderung untuk mencari bantuan dari pihak keluarga maupun
relasinya dalam mengatasi masalahnya, baru kemudian mencari pemberi pelayanan kesehatan
professional apabila orang-orang terdekatnya tidak mampu memeberikan kondisi yang

efektif, keadaan klien semakin memburuk atau jika terjadi kematian.


e. Kegiatan perawatan yang banyak dipraktekkan di masyarakat (ethno caring activities),
yang memiliki keuntungan terapeutik bagi klien dan keluarganya, kurang dipahami oleh
kebanyakan perawat professional di Werstern.
f. Jika terdapat prilaku perawatan yang efektif dalam suatu kebudayaan maka kebutuhan
pengobatan dan pelayanan dari petugas professional akan berkurang.
g. Perbedaan mendasar antara praktek keperawatan tradisional dan professional
mengakibatkan konflik budaya dan membebani praktek keperawatan.
h. Perawatan transkultural akan mempersiapkan perawat untuk dapat menyusun asuhan
keperawatan pada setiap budaya yang berbeda, dan dapat menentukan hasil yang tepat sesuai
dengan kebudayaan klien tersebut.
i. Keberhasilan dalam perawatan kesehatan akan sulit dicapai apabila pemberi pelayanan
tersebut tidak menggunakan pengetahuan dan praktek yang didasarkan atas keyakinan dan
nilai budaya klien.
2.2 BUDAYA
Kehidupan manusia tidak akan lepas dari kebudayaan. Selain kaerna kebudayaan
merupakan hasil budi dan karya mereka, itu juga disebabkan karena kebudayaan secara
langsung kembali mempengaruhi manusia yang menghasilkannya.
Babi guling (di Bali disebut be guling) adalah sejenis makanan yang terbuat dari anak
babi betina atau jantan, di mana perutnya diisikan dengan bumbu dan sayuran seperti daun
ketela pohon dan lalu dipanggang sambil diputar-putar (diguling-gulingkan) sampai matang
yang ditandai dengan perubahan warna kulit menjadi kecoklatan dan renyah. Awalnya babi
guling pada mulanya digunakan untuk sajian pada upacara baik upacara adat maupun upacara
keagamaan, namun saat ini babi guling telah dijual sebagai hidangan baik di warung-warung,
rumah makan bahkan hotel-hotel tertentu di daerah bali.
Nama babi guling untuk daerah Bali lebih dikenal dengan be guling. Babi guling yang
paling terkenal berasal dari kabupaten Gianyar.
2.3 PENYAKIT AKIBAT BUDAYA
v CACING-CACING PEMICU PENYAKIT YANG TERDAPAT PADA BABI :
1. Cacing Taenia Sollum
Parasit ini berupa larva yang berbentuk gelembung pada daging babi atau berbentuk
butiran-butiran telur pada usus babi. Jika seseorang memakan daging babi tanpa dimasak
dengan baik, maka dinding-dinding gelembung ini akan dicerna oleh perut manusia.
Peristiwa ini akan menghalangi perkembangan tubuh dan akan membentuk cacing pita yang
panjangnya bisa mencapai lebih dari 3 meter. Cacing ini akan melekat pada dinding usus
dengan cara menempelkan kepalanya lalu menyerap unsur-unsur makanan yang ada di
lambung. Hal itu bisa menyebabkan seseorang kekurangan darah dan gangguan pencernaan,
karena cacing ini bisa mengeluarkan racun.
Apabila pada diri seseorang, khususnya anak-anak, telah diketahui terdapat cacing ini
di lambungnya maka dia akan mengalami hysteria atau perasaan cemas. Terkadang larva
yang ada dalam usus manusia ini akan memasuki saluran peredaran darah dan terus menyebar

ke seluruh tubuh, termasuk otak, hati, saraf tulang belakang, dan paru-paru. Dalam kondisi ini
dapat menyebabkan penyakit yang mematikan.
2. Cacing Trichinia Spiralis
Cacing ini ada pada babi dalam bentuk gelembung-gelembung lembut. Jika seseorang
mengkonsumsi daging babi tanpa dimasak dengan baik, maka gelembung-gelembung -yang
mengandung larva cacing ini- dapat tinggal di otot dan daging manusia, sekat antara paruparu dan jantung, dan di daerah-daerah lain di tubuh. Penyerangan cacing ini pada otot dapat
menyebabkan rasa sakit yang luar biasa dan menyebabkan gerakan lambat, ditambah lagi
sulit melakukan aktivitas. Sedang keberadaannya di sekat tersebut akan mempersempit
pernafasan, yang bisa berakhir dengan kematian.
Bisa jadi, cacing jenis ini tidak akan membuat seseorang meninggal dalam waktu
singkat. Namun patut diketahui bahwa cacing-cacing kecil yang berkembang di otot-otot
tubuh seseorang setelah dia mengkonsumsi daging babi bisa dipastikan akan menetap di sana
hingga orang itu meninggal dunia.
3. Cacing Schistosoma Japonicus
Ini adalah cacing yang lebih berbahaya daripada cacing schistosoma yang dilkenal di
Mesir. Dan babi adalah satu-satunya binatang yang mengandung cacing ini. Cacing ini dapat
menyerang manusia apabila mereka menyentuh atau mencuci tangan dengan air yang
mengandung larva cacing yang berasal dari kotoran babi. Cacing ini dapat menyelinap ke
dalam darah, paru-paru, dan hati. Cacing ini berkembang dengan sangat cepat, dalam
sehari bisa mencapai lebih dari 20.000 telur, serta dapat membakar kulit, lambung dan hati.
Terkadang juga menyerang bagian otak dan saraf tulang belakang yang berakibat pada
kelumpuhan dan kematian.
4. Fasciolepsis Buski
Parasit ini hidup di usus halus babi dalam waktu yang lama. Ketika terjadi
percampuran antara usus dan tinja, parasit ini akan berada dalam bentuk tertentu yang bersifat
cair yang bisa memindahkan penyakit pada manusia. Kebanyakan jenis parasit ini terdapat di
daerah China dan Asia Timur. Parasit ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan, diare, dan
pembengkakan di sekujur tubuh, serta bisa menyebabkan kematian.
5. Cacing Ascaris
Panjang cacing ini adalah sekitar 25 cm. Cacing ini bisa menyebabkan radang paruparu, radang tenggorokan dan penyumbatan lambung. Cacing ini tidak bisa dibasmi di dalam
tubuh, kecuali dengan cara operasi.
6. Cacing Anklestoma
Larva cacing ini masuk ke dalam tubuh dengan cara membakar kulit ketika seseorang
berjalan, mandi, atau minum air yang tercemar. Cacing ini bisa menyebabkan diare dan
pendarahan di tinja, yang bisa menyebabkan terjadinya kekurangan darah, kekurangan
protein dalam tubuh, pembengkakan tubuh, dan menyebabkan seorang anak mengalami
keterlambatan dalam pertumbuhan fisik dan mental, lemah jantung dan akhirnya bisa
menyebabkan kematian.
7. Calornorchis Sinensis
Ini jenis cacing yang menyelinap dan tinggal di dalam air empedu hati babi, yang
merupakan sumber utama penularan penyakit pada manusia. Cacing ini terdapat di China dan

Asia Timur, karena orang-orang di sana biasa memelihara dan mengkonsumsi babi. Virus ini
bisa menyebabkan pembengkakan hati manusia dan penyakit kuning yang disertai dengan
diare yang parah, tubuh menjadi kurus dan berakhir dengan kematian.
8. Cacing Paragonimus
Cacing ini hidup di paru-paru babi. Cacing ini tersebar luas di China dan Asia
Tenggara tempat di mana babi banyak dipelihara dan dikonsumsi. Cacing ini bisa
menyebabkan radang paru-paru. Sampai sekarang belum ditemukan cara membunuh cacing
di dalam paru-paru. Tapi yang jelas cacing ini tidak terdapat, kecuali di tempat babi hidup.
Parasit ini bisa menyebabkan pendarahan paru-paru kronis, di mana penderita akan merasa
sakit, ludah berwarna cokelat seperti karat, karena terjadi pendarahan pada kedua paru-paru.
9. Wine Erysipelas
Parasit ini terdapat pada kulit babi. Parasit ini selalu siap untuk pembakaran pada kulit
manusia yang mencoba mendekati atau berinteraksi dengannya. Parasit ini bisa menyebabkan
radang kulit manusia yang memperlihatkan warna merah dan suhu tubuh tinggi.Sedang
kuman-kuman yang ada pada babi dapat menyebabkan berbagai penyakit, diantaranya adalah
TBC, Cacar (Small pox), gatal-gatal(scabies), dan Kuman Rusiformas N.
v PENYAKIT-PENYAKIT YANG DITIMBULKAN AKIBAT KONSUMSI BABI GULING
:
Penyakit cacing pita merupakan penyakit yang sangat berbahaya yang terjadi melalui
konsumsi daging babi.
Ia berkembang di bagian usus 12 jari di tubuh manusia, dan beberapa bulan cacing itu akan
menjadi dewasa. Jumlah cacing pita bisa mencapai sekitar 1000 ekor dengan panjang antara
4 10 meter, dan terus hidup di tubuh manusia dan mengeluarkan telurnya melalui BAB
(buang air besar).
Babi mengandung belerang dengan kadar tinggi
Karena babi mengandung belerang dengan kadar tinggi, ketika dimakan maka sejumlah besar
belerang diserap tubuh. Jumlah yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai penyakit,
seperti infeksi persendian ketika belerang menumpuk di dalam tulang rawan, otot dan saraf;
pengapuran dan hernia. Ketika babi dimakan secara teratur, jaringan ikat lunak dari babi
menggantikan tulang rawan keras di dalam tubuh. Akibatnya, tulang rawan menjadi tidak
mampu menopang bobot badan, yang pada akhirnya membawa pada kelainan persendian.
Babi mengandung hormon pertumbuhan dalam jumlah berlebih
Hormon pertumbuhan dalam kadar berlebihan yang tercerna melalui daging babi
mengakibatkan pembengkakan dan kelainan bentuk jaringan. Hal itu dapat menimbulkan
penimbunan lemak secara tiba-tiba dan berlebihan. Orang yang memakan babi pada
umumnya memiliki bahaya lebih besar mengidap kegemukan. Hal itu berkemungkinan
mendorong pertumbuhan yang tidak wajar pada tulang hidung, rahang, tangan dan kaki. Hal
paling berbahaya mengenai hormon pertumbuhan dalam jumlah berlebih adalah bahwa hal
ini membuka jalan bagi munculnya kanker.
Memakan daging babi menyebabkan penyakit kulit
Zat yang dikenal sebagai histamin dan imtidazol pada daging babi menyebabkan gatal
berlebihan. Zat-zat ini juga membuka jalan bagi penyakit-penyakit kulit menular seperti

eksem, dermatitis dan neurodermatitis. Zat-zat ini juga meningkatkan bahaya terjangkiti
bisul, radang usus buntu, penyakit kantung empedu dan infeksi pembuluh darah nadi.
Karenanya, para dokter menyarankan penderita penyakit jantung agar menghindari makan
babi.
Memakan babi menyebarkan cacing trichina
Cacing-cacing trichina yang dicerna melalui daging babi memasuki peredaran darah melalui
lambung dan usus dan menyebar ke seluruh tubuh. Cacing trichina terutama mendiami
jaringan otot pada daerah rahang, lidah, leher, tenggorokan dan dada. Cacing ini
menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot gerak mengunyah, berbicara dan menelan.
Hal ini juga menimbulkan penyumbatan pembuluh darah balik (vena), meningitis dan infeksi
otak. Kasus-kasus parah bahkan dapat berujung pada kematian. Sisi paling berbahaya
penyakit ini adalah tidak adanya obat untuk menyembuhkannya. Berjangkitnya wabah cacing
trichina telah diamati dari waktu ke waktu di Swedia, Inggris dan Polandia, walaupun sudah
dilakukan pengawasan kesehatan hewan.
Babi sangatlah berlemak dan mengandung zat-zat beracun
Babi sangatlah berlemak. Ketika dicerna, lemak tersebut memasuki peredaran darah dan
menyebabkan pengerasan pembuluh darah nadi, meningkatkan tekanan darah dan serangan
jantung (coronary infarct). Selain itu, babi mengandung suatu racun yang dinamakan
Sutoxin. Kelenjar getah bening dipaksa bekerja lebih keras untuk mengeluarkan racun ini
dari tubuh. Hal ini ditandai dengan membengkaknya kelenjar getah bening, khususnya pada
anak-anak. Jika penyakit ini berlanjut, semua kelenjar getah bening akan membengkak, suhu
badan naik dan rasa sakit mulai terjadi.
III. KASUS DAN PEMECAHAN
KASUS
Salah satu contoh kasusnya adalah terjadi di Desa Adat Medahan, Keramas, yang terletak di
kecamatan Blahbatuh, Gianyar.
Kami membuat suatu Sample pada salah satu keluarga yang kami duga kuat mengalami
kolesterol tinggi yaitu pada keluarga I Made Gerda (63 thn).
Kolesterol tinggi yang dialami oleh tiga orang tua (Nyoman Brati(59 thn), Ni Made Pijit(68
thn), dan I Made Gerda(63 thn)) dalam suatu keluarga akibat pekerjaan mereka sebagai
penjual makanan yang berbahan dasar babi yang mencirikan warung mereka di kawasan
Gianyar, dimana tidak dapat dipungkiri, untuk memudahkan mereka agar tidak membuat lauk
lagi, mereka mengonsumsi lauk yang mereka jual tersebut untuk makanan sehari-hari, yaitu
daging babi itu sendiri.
Berdasarkan hasil wawancara kami dengan salah satu dari mereka, yaitu wawancara dengan
Nyoman Brati, beliau mengatakan bahwa kegiatan berdagang makanan dengan bahan dasar
babi ini sudah berlangsung selama delapan tahun, yang membuat mereka terus menerus
makan daging babi, walaupun sesekali diselingi makanan lain ketika mereka jenuh karena
terus menerus makan makanan berbahan dasar babi.
Dalam satu hari, mereka biasa menggunakan dua ekor babi yang selanjutnya diolah menjadi
hidangan di warung mereka. Mereka pun beternak ayam dan babi peranakan untuk dijual saat

keperluan hari raya Hindu ataupun kegiatan kemanusiaan serta upacara agama untuk
memenuhi pesanan dari pelanggan mereka.
Dari hasil wawancara kami tentang riwayat tekanan darah mereka selama ini dan
pemeriksaan tekanan darah untuk menunjang keaslian data, maka kami dapat menyimpulkan
bahwa mereka mengalami hipertensi, yang merupakan salah satu tanda bahwa mereka sudah
mengidap kolesterol tinggi.
PEMECAHAN
Secara teoritis daging babi merupakan bahan makanan yang bersifat aterogenik.
Kandungan lemak dan kolesterol dagingnya dapat meningkatkan kadar lemak darah yang
berakibat kepada aterosklerosis (Katsuda etal., 2000, Alpert, 2001). Namun demikian, di sisi
yang lain kandungan lemak dan kolesterol daging babi dapat diturunkan dengan
memanipulasi makanan yang diberikan kepada babi (Sudana, 1999, Katsuda etal., 2000).
Jenis babi yang digunakan untuk babi guling yang seharusnya adalah jenis babi lokal
dengan berat pada umumnya berkisar antara 7 25 kg. Babi jenis ini biasanya mendapat
makanan sisa rumah tangga, dedak dan kangkung yang tidak terukur jumlah
dankomposisinya, sehingga sulit untuk memperkirakan bagaimana kandungan lemak
dagingnya. Jenis babi yang digunakan sekarang, terutama untuk keperluan komersial adalah
jenis babi Landracedengan berat dapat mencapai 90 kg. Di dalam penyajian makanan babi
guling ini, daging babi dimakan sebagai lauk, di samping nasi dan sayur yang biasanya
berbentuk lawar yang juga berisi daging dan lemak babi. Daging babi yang disajikan
dicampur dengan lemaknya dan sedikit kulit, baru kemudian dituangkan bumbu di atasnya.
Bumbu babi guling dibuat dari campuran berbagai bahan yang berasal dari umbi-umbian
(jahe, kunir, lengkuas, kencur, bawang merah, bawang putih), biji-bijian (ketumbar, merica),
buah (lombok, kemiri, pala), bunga (cengkeh) dan daun-daunan (daun salam, daun belimbing
atau daun ubi) (Eiseman, 1998, Suter etal., 1999). Secara teori, mengkonsumsi daging babi
dapat dikategorikan mengkonsumsi makanan yang bersifat aterogenik, walaupun tidak
diketahui kandungan lemak dari babi yang dimakan. Tetapi bila dilihat komponen bahan yang
membentuk bumbu, yang mengandung banyak anti oksidan dan flavonoid, maka dapat
dianggap bahwa bumbu babi guling bersifat ateroprotektif.
Tips untuk mengurangi dan mengatasi kadar kolesterol akibat konsumsi babi guling
dalam tubuh kita, diantaranya adalah :

Diet
Konsumsi makanan yang rendah lemak dan kolesterol. Misalnya dengan
mengkonsumsi susu tanpa lemak dan mengurangi konsumsi daging. Pilihlah makanan dengan
kandungan lemak tak jenuh daripada kandungan lemak jenuh. Minyak yang digunakan untuk
menggoreng secara berulang-ulang dapat meningkatkan kadar kolesterol, maka ada baiknya
Anda mengurangi konsumsi makanan yang digoreng.
Konsumsi makanan berserat
Lebih banyak mengkonsumsi makanan berserat seperti gandum, kacang-kacangan, sayursayuran dan buah-buahan. Jenis makanan ini dapat menyerap kolesterol yang ada dalam
darah dan mengeluarkannya dari tubuh.
Konsumsi antioksidan

Antioksidan banyak terdapat dalam buah-buahan seperti jeruk, strawbery, pepaya, wortel,
atau labu. Mengkonsumsi bawang putih secara teratur juga dapat menurunkan kadar
kolesterol.
Hindari alkohol dan merokok
Dengan merokok atau mengkonsumsi alkohol, kolesterol akan mudah menumpuk dalam
aliran darah.
Olahraga
Berolahraga secara teratur sesuai dengan umur dan kemampuan. Jaga agar berat tubuh Anda
tetap ideal.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kepala desa, bendesa adat, beserta dinas
peternakan kabupaten Gianyar melakukan penyuluhan serta inovasi-inovasi dalam
penanggulangan masalah tersebut.
Menurut teori adopsi inovasi dari Rogers ada empat tahap dalam proses pembuatan
keputusan. Adapun tahap-tahap yang dilalui masyarakat Gianyar, yaitu :
1. Tahap memahami pengetahuan
Pada tahap ini, dinas peternakan dan dinas kesehatan kabupaten Gianyar hendaknya
memberikan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Gianyar yang secara
umum kurang memiliki pengetahuan tentang kandungan yang terdapat dalam daging babi,
sehingga masyarakat Gianyar bersifat konsumtif tanpa menghiraukan dampak bagi kesehatan
mereka.
2. Tahap bujukan atau meningkatkan motivasi
Pada tahap ini, dinas peternakan dan dinas kesehatan perlu memberi motivasi, bujukan serta
rujukan alternative lain untuk mengurangi konsumsi babi guling tersebut.
3. Tahap pengambilan keputusan
Pada tahap ini, masyarakat beserta tetua adat atau perwakilan dari masing-masing desa di
Gianyar dibimbing oleh dinas peternakan dan dinas kesehatan untuk melakukan rapat guna
membahas keputusan yang akan diambil untuk menyikapi peristiwa tingginya angka
kolesterol di kalangan masyarakat Gianyar.
4. Tahap penguatan
Pada tahap ini, dinas peternakan dan dinas kesehatan melakukan pengawasan terhadap
peternak babi di kabupaten Gianyar, di samping itu masing-masing bendesa adat di kabupaten
Gianyar agar selalu menghimbau dan mengawasi proses pengolahan babi guling terutama
bila ada upacara manusa yadnya yang diselenggarakan oleh anggota masyarakat di Gianyar.
Hal ini dilakukan agar masyarakat terbiasa melakukan awig-awig yang telah disepakati
bersama.
Mengkonsumsi babi guling sah-sah saja bagi umat hindu, khususnya di gianyar.
Karena ini merupakan budaya, maka sulit untuk menghapus kebiasaan ini. Jika pun budaya
ini dapat di hapus, maka ini sangatlah menyalahi aturan-aturan serta norma-norma yang
berlaku dalam suatu masyarakat yang bersifat turun temurun dari leluhur masyarakat
setempat. Untuk itu, solusi alternatifnya adalah mengkonsumsi babi guling dengan higenis,
menambahkan berbagai rempah-rempah dalam bumbunya untuk menstabilkan/
menyeimbangkan efek negative dan efek positif dari penkonsumsian itu sendiri. Selain itu,
alternative lainnya adalah, mengurangi(bukan menghilangkan) bahan dasar babi guling dalam

pembuatan/ penyajian makanan, dengan menggantinya dengan daging yang jauh lebih sehat,
misalnya daging ayam atau daging kambing. Tidak mudah memang, namun solusi ini
setidaknya dapat mengurangi angka kolesterol, khususnya di Gianyar.
IV. KESIMPULAN
Secara teori, mengkonsumsi daging babi dapat dikategorikan mengkonsumsi makanan
yang bersifat aterogenik, walaupun tidak diketahui kandungan lemak dari babi yang dimakan.
Tetapi bila dilihat komponen bahan yang membentuk bumbu, yang mengandung banyak anti
oksidan dan flavonoid, maka dapat dianggap bahwa bumbu babi guling bersifat
ateroprotektif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Omoigui (2007), bahwa
gabungan flavonoid, polyphenol maupun terpenoid yang ada dalam bumbu babi guling dapat
menghambat proses kejadian aterosklerosis.
Ketidakjelasan status babi guling sebagai makanan yang bersifat aterogenik atau
makanan yang bersifat ateroprotektif inilah yang seringkali membuat bingung para
konsumen, namun dari hasil penelitian, orang-orang yang sering mengonsumsi makanan babi
guling seperti di daerah Giaanyar, Bali menunjukkan angka kolesterol tinggi.
Untuk itu, perlu tindakan preventif maupun represif guna mengurangi angka
kolesterol di bali, khususnya di Gianyar. Karena mengonsumsi makanan babi guling ini
merupakan suatu budaya dari turun temurun yang sangat sulit untuk dihapus dalam tradisi
masyarakat, khususnya di daerah Gianyar, Bali maka solusi alternatifnya adalah pemerintah
hendaknya lebih meningkatkan dan mengadakan kegiatan rutin dalam pengawasan pedagang
maupun peternak babi, untuk melakukan sidak dan evaluasi serta penyuluhan ,untuk
pencegahan penyakit yang sering di alami oleh ternak babi dan ke hiegenisan babi guling
bagi pedagang babi guling tersebut.
Di samping itu, masyarakat juga memiliki andil yang sangat besar dalam pengolahan
makanan yang berbahan dasar babi dalam suatu kegiatan kemanusiaan ataupun keagamaan.
Mulai dari kebersihan, kehigenisan, dan kesehatan babi sebelum diolah sangat perlu untuk di
periksa sebelum dikonsumsi. Selain itu, bagi masyarakat yang memang gemar memakan
makanan babi guling, perlu mengimbanginya dengan makanan yng sehat dan berserat,
misalnya imbangi dengan makan buah-buahan dan sayur-sayuran, dengan porsi babi guling
secukupnya saja.
Masyarakat hendaknya selalu menjaga kebudayaan yang merupakan cirri khas serta
identitas dari suatu masyarakat. Untuk itu, masyarakat perlu menjaga serta melestarikannya.
Namun disamping itu, masyarakat diharapkan mampu memilah aspek-aspek kebudayaan
yang bersifat negative bagi perilaku kesehatan masyarakat itu sendiri. Khusus untuk
kebudayaan babi guling, masyarakat hendaknya mampu memilih serta mengurangi perilaku
yang beresiko terhadap kesehatan. Masyarakat juga wajib menjaga perilaku yang sehat baik
dalam menjaga kebersihan diri sendiri, lingkungan maupun ternak mereka terutama ternak
babi. Yang secara umum merupakan hewan yang banyak diternakan untuk sarana upacara dan
pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat