Anda di halaman 1dari 6

Macam Jenis-jenis Fisioterapi untuk Anak-anak

Macam Jenis Fisioterapi untuk Anak-anak - Sebetulnya, apa, sih, fisioterapi dan
seberapa penting dilakukan? Menurut Dra. Ira Kusyaeri, Dipl. PT, fisioterapis yang
mengutip World Congress Physical Therapy, fisioterapi adalah pelayanan yang
diberikan kepada individu dan masyarakat untuk mengembangkan, memelihara, dan
mengembalikan kemampuan maksimal gerak dan fungsi sepanjang kehidupannya.
"Jadi, fisioterapi menyediakan pelayanan yang berhubungan dengan gerak dan
fungsi yang terganggu karena penyakit atau proses penuaan," jelas Ira.

DILIHAT RIWAYAT
Orang tua/pasien yang memerlukan pelayanan fisioterapis di RS, harus membawa
surat rujukan dari dokter. Di klinik-klinik fisioterapi pasien dapat datang langsung.
Terapis harus bisa menentukan apakah pasien tersebut memang merupakan
indikasi fisioterapi.
Ira memberi contoh kasus anak usia 1 tahun yang belum bisa duduk atau terlambat
perkembangannya. "Nah, dilihat dulu riwayat kelahirannya atau klinisnya. Jika
terlambatnya karena si bayi malas, fisioterapi bisa diberikan dalam bentuk latihanlatihan. Namun kalau terlambatnya ternyata ada riwayat kelahiran yang sulit,
misalnya bayi kuning atau indikasi medis lainnya, maka ibu itu disarankan membawa
anaknya ke rumah sakit/dokter.
Dengan kata lain, terapis tidak bisa menangani langsung, "Harus ada kerja sama
dengan tenaga kesehatan yang terkait, semisal dokter." Karena sifatnya untuk
mengembalikan kesehatan seoptimal mungkin, maka
ada banyak ragam fisioterapi. Untuk anak saja, dibagi berdasar indikasi penyakitnya.
Ada fisioterapi untuk bayi lahir dengan risiko tinggi, anak dengan cerebral palsy,
spina bifida, gangguan pernapasan, anak dengan gangguan ortopedik, cedera olah
raga, dan anak dengan retardasi mental.
BAYI RISIKO TINGGI
Fisioterapi untuk bayi yang lahir dengan risiko tinggi atau bayi yang diperkirakan
dalam kehidupan selanjutnya akan mengalami gangguan perkembangan atau cacat,
fisioterapi ditujukan untuk meningkatkan tonus otot, memperbaiki pola-pola yang

tidak benar, meningkatkan kualitas gerakan atau pola gerakan spontan, serta
pendidikan orang tua.
Tekniknya beragam, misal touching/massage, pengaturan posisi untuk mencegah
pola yang abnormal, latihan-latihan gerakan pasif, dan lain-lain. Orang tua perlu
diajarkan untuk menstimulasi gerakan atau mencegah posisi anak yang tak normal,
misalnya cara menggendong dengan posisi kanguru, cara mengusap untuk
memberikan stimulasi sensorinya.
Orang tua juga perlu menstimulasinya dengan sentuhan supaya ikatan emosional
antara orang tua dan bayi lebih kuat, sirkulasi darah berjalan baik, memperkuat otototot, serta relaksasi bagi bayi. Usapan dilakukan di tangan, kaki, wajah, dan tubuh
selama 15 menit setiap hari.
CEREBRAL PALSY
Anak yang memiliki gangguan cerebral palsy/CP (cedera yang permanen pada otak,
yang terjadi ketika lahir atau selama masa perkembangan otak) yang dapat
menimbulkan kecacatan baik fisik, mental, kognitif dan bicaranya. Anak dengan CP
ini memerlukan penanganan khusus, karena masalahnya kompleks.
Setelah pemeriksaan oleh tim dokter (dokter saraf anak, psikolog, dokter
rehabilitasi), maka anak dikirim ke fisioterapi untuk latihan motorik kasarnya,
disamping mungkin diperlukan juga terapi motorik halus, wicara dan lain-lain. Dalam
hal ini, peran fisioterapi mengembangkan seoptimal mungkin kemampuan gerak
anak. Bila kecacatannya berat, memelihara kelenturan otot-ototnya, posisi
anatomisnya sehingga dapat diposisikan secara anatomis. Ini untuk mencegah
terjadinya kecacatan yang lain, seperti kaku sendi, posisi yang jelek, dan lain-lain.
Pada anak dengan kasus CP ini juga sering timbul gangguan sistem pernapasan,
karena adanya kelemahan atau kekakuan otot-otot pernapasan sehingga tak
berfungsi dengan baik. Anak kesulitan membatukkan lendirnya serta tidak bisa
menggerakkan otot dadanya untuk membantu pernapasan. Karena itu, jelas Ira,
peran orang tua sangat penting baik dalam melakukan latihan-latihan setiap hari
atau membantu mengalirkan sekretnya keluar sehingga ventilasi udaranya jadi lebih
baik.
Orang tua harus bisa menangani anak dengan gangguan cerebral palsy ini.

Misalnya inhalasi yang bisa dilakukan di rumah sesuai batas standar. "Jadi, tak perlu
tiap hari datang ke RS." Akan lebih baik lagi jika memiliki alat sendiri di rumah. "Tapi
ada cara yang paling sederhana, yaitu anak diminta menghirup uap air panas atau
banyak minum air putih. Orang tua juga diajarkan metode clapping (menepuk-nepuk)
dan mengatur posisi anak. Kalau tak mampu melakukannya, barulah anak dibawa
ke RS."
GANGGUAN PERNAPASAN
Fisioterapi untuk anak dengan gangguan saluran pernapasan paling sering
dilakukan di Indonesia. Mungkin karena pengaruh iklim, polusi udara, dan
kegemaran mengkonsumsi makanan yang dapat merangsang batuk, semisal
kudapan berupa gorengan.
Untuk anak dengan batuk-pilek, diberikan fisioterapi dengan teknik chest
physiotherapy dengan tujuan untuk membersihkan saluran pernafasan dan
memperbaiki pertukaran udara. Fisioterapi ini meliputi inhalasi/nebulizeer, postural
drainage, clapping, vibrasi, dan lain-lain.
Inhalasi yaitu memasukkan obat-obatan ke dalam saluran pernapasan melalui
penghirupan. Jadi, partikel obat dipecah terlebih dulu pada sebuah alat yang
disebut nebulizeer, sehingga menjadi molekul-molekul lebih kecil berbentuk uap.
Uap itulah yang kemudian dihirup oleh anak, sehingga obat akan langsung masuk
ke saluran pernapasan, tanpa masuk ke peredaran darah sistemik. Dengan
demikian, efek samping bisa diminimalkan.
Obat yang dimasukkan tergantung penyakit anak. Bila lendirnya kental, diberi obat
pengencer lendir(expectorant). Jika sesak, dimasukkan obat untuk melonggarkan
saluran pernapasannya (bronchodilator). Sedangkan jika saluran pernapasannya
kering, dimasukkan obat untuk melembabkan saluran tadi. Obat-obatan ini
ditentukan oleh dokter pengirimnya, karena fisioterapi tidak berwenang memberikan
resep obat-obatan kepada pasien. Obat yang diberikan ini bukanlah antibiotik tapi
hanya bersifat simptomatis yang akan menghilangkan gejala saat itu.
Menurut Ira, pada kasus tertentu, inhalasi menjadi teknik pengobatan yang efektif
dibanding menelan obat. "Bila obat dipecahkan dengan inhalasi, dosisnya lebih kecil
dibanding per oral. Makin banyak obat yang terhirup, pernapasannya semakin

bagus. Makanya kalau anak menangis kala diinhalasi, sebaiknya malah dibiarkan
karena justru jadi lebih bagus sebab inspirasinya jadi lebih dalam. Soalnya, kala
menangis ia akan menarik napas lebih dalam sehingga obat akan banyak terhirup."
Lamanya inhalasi dilakukan sekitar 10 menit.
Setelah inhalasi, diteruskan dengan tindakan lanjutan. "Perlu-tidaknya tindakan
lanjutan, harus dengan referensi dokter. Kalau tidak, bisa membahayakan. Misalnya,
anak ada fraktur (patah tulang) dan kemudian diclapping, tentu berbahaya. Atau
anak ada gangguan otak, lalu ditaruh dengan posisi kepala lebih rendah, akan
membuat ia pusing. Demikian pula pada anak yang sesak, tentunya tidak
diposisikan tengkurap karena akan menambah sesaknya. Justru harus dilakukan
inhalasi dan dikasih oksigen agar anak bisa menghirup cukup udara. Jadi,
tindakannya tergantung penyakitnya."
Tindakan lanjutan setelah inhalasi untuk membantu pengeluaran lendirnya, antara
lain, clapping atau pemukulan pada rongga badan, di atas paru-paru. Bisa di sisi
kanan, kiri, depan, atau belakang dada. Pemukulan dilakukan secara kontinyu dan
ritmik. Disertai pula dengan pengaturan posisi si anak (postural drainage), misal
anak ditengkurapkan dengan kepala lebih rendah letaknya, sehingga lendir tersebut
dapat mengalir ke cabang pernafasan yang utama dan lebih mudah untuk
dibatukkan. "Terkadang anak tak bisa batuk, sehingga lendir tersebut tertelan dan
keluar bersama kotoran."
Pada bayi atau anak di bawah usia 2 tahun dilakukan tindakan suction atau
penyedotan lendir dengan alat lewat hidung atau mulut. Biasanya tindakan ini
dilakukan pada bayi yang belum bisa batuk sementara lendir sudah banyak dan
menyumbat udara yang masuk. Lamanya penyedotan tergantung dari kekentalan
lendirnya.
Untuk anak usia 3 tahun ke atas, selain inhalasi diberi pula tindakan manipulatif,
seperti mengajarkan batuk, menggerakkan otot-otot dada, dan melatih pernapasan.
"Biasanya diberikan dalam bentuk bermain, seperti tertawa sehingga lendirnya
keluar atau dengan bernapas dalam-dalam dan kemudian dibatukkan."
Pada pasien anak tertentu, terkadang setelah chest fisioterapi, diberikan modalitas

fisioterapi yang lain seperti diathermi (gelombang elektromagnetik untuk


pengobatan). Ini untuk melancarkan sirkulasi peredaran darah pada rongga dada,
dan saluran pernafasan sehingga dapat membantu relaksasi serta mempercepat
penyembuhan radang pada saluran pernafasan.
Pada bayi dapat diberikan infra merah, dengan tujuan yang sama, tapi efek yang
ditimbulkan lebih dangkal, hanya di bawah permukaan kulit.
Tak ada patokan, berapa kali seorang anak harus melakukan fisioterapi. "Tergantung
kondisi anak itu sendiri. Bila kondisi saat dia datang sudah parah atau kronis,
tentunya membutuhkan terapi lebih lama. Tapi bila tidak terlalu parah dan masih dini,
biasanya 3-4 kali anak sudah hilang batuknya."
ORTHOPEDIC DAN RHEUMATOID ARTHRITIS
Fisioterapi untuk gangguan tulang dan otot ini umumnya untuk orang dewasa.
Jarang sekali pada anak. Misalnya, jika anak mengalami patah tulang, post fracture,
arthritis sendi, kesleo, atau terkilir. Juga sering ditemukan pada bayi yang
mengalami pemendekan otot leher, yaitu bayi-bayi yang mengalami pembengkakan
otot leher sehingga ototnya tertarik ke satu arah. Akibatnya, lehernya jadi miring."
Fiosioterapi dilakukan dalam bentuk latihan-latihan gerakan, pijat,
dan stretching atau penarikan. Juga dilakukan ultrasound dan pemanasan untuk
melepaskan perlengketan gumpalan di leher. "Sejak di usia dua minggu bayi sudah
harus dimulai dengan fisioterapi ini. Kalau sudah usia 2 tahun, sudah terlambat dan
sulit diperbaiki," kata Ira. Fisioterapi rhematoid arthritis dilakukan pada anak dengan
kaki bengkak dan terjadi gangguan sendi. "Untuk mengurangi rasa nyerinya, diberi
pemanasan dan interferensial. Ini bisa dilakukan pada usia anak usia 4-5 tahunan,
tergantung di bagian mana terserangnya."
PERKEMBANGAN TERLAMBAT
Di Indonesia, tak semua orang tua cepat tanggap bila anaknya mengalami
gangguan perkembangan, misal motoriknya. "Bila anak usia 15 bulan belum bisa
jalan, jarang orang tua berpikir anaknya menderita penyakit. Dipikirnya, lumrahlumrah saja."

Apabila tidak ada kelainan medis, anak tersebut dapat ditangani langsung oleh
fisioterapis dengan latihan-latihan tertentu. Tapi bila dari hasil wawancara dengan
orang tuanya ada kelainan medis semisal ada riwayat kejang, anak pernah jatuh dan
muntah, sebaiknya diperiksakan dulu oleh dokter saraf anak. Setelah itu biasanya
baru dikirim ke fisioterapis.
Untuk anak yang terganggu perkembangannya, terang Ira, akan diusahakan
perkembangannya seoptimal mungkin dengan stimulus-stimulus sesuai dengan
tahapan perkembangan serta usianya. "Misalnya, anak 7 bulan belum bisa
tengkurap, akan dicari, di mana keterlambatannya. Apakah karena ada kelemahan
otot, kerusakan sentral di otaknya, dan lainnya."
Latihan yang diberikan pun tak cukup seminggu sekali, melainkan harus setiap hari.
"Orang tua akan diberikan petunjuk, apa yang harus dilakukan di rumah. Misalnya
cara menggendong, membalik badan anak, duduk, dan sebagainya. Jika orang tua
rajin menstimulasi, perkembangan anak akan makin baik. Nanti bila
perkembangannya sudah tercapai, misalnya usia 8 bulan sudah bisa duduk,
tentunya tidak perlu difisioterapi lagi."
Seandainya anak belum bisa duduk juga, semisal karena ada gangguan sentral di
otak, akan dilihat juga berat-ringan gangguannya. Mungkin 3-4 tahun belum bisa
duduk, maka fungsi fisioterapi di sini adalah memelihara fisiknya. "Namun kalau
dibiarkan, justru ototnya akan mengecil dan fungsi pernapasannya jadi jelek."
Di sini, tujuan fisioterapi adalah untuk memelihara fungsi pernapasan, memelihara
kelenturan otot, dan juga posisinya. Jadi, kendati si anak tak bisa berkomunikasi
atau bergerak sendiri, tapi secara fisiologis atau secara anatomis bisa didudukkan,
serta pernapasannya lebih bagus. "Untuk anak terlambat perkembangan, peralatan
yang digunakan tak terlalu rumit. Yang penting punya kasur, latihan tidak di lantai,
dan beberapa peralatan seperti bola. Tapi tentu saja tergantung kasusnya juga.".