Anda di halaman 1dari 22

Step 1

1. Pneumonia severity index skor untuk memberikan tritmen


kepada pasien
2. Kultur sputum pengembangbiakan mikro organisme dari
sputum
3. Pengecatan gram untuk mengetahui gram + atau gram
Stap 2
1. Mengapa terjadi peningkatan leukosit? Jelaskan nilai
normalanya!
2. Mengapa pada foto rontgen menunjukan infiltrat pada
lapang paru?
3. Mengapa di dapatkan redup dan ronki basah di lobus tengah
kanan dan kiri?
4. Mengapa penyakit penderita tak kunjung sembuh padahal
sudah di beri obat?
5. Mengapa di sekenario di dapatkan batuk berdahak dengan
dahak kental dan hijau?
6. Mengapa pada px auskultasi di dapatkan suara dasar
bronkial?Apa etiologi dari sekenario?
7. Kenapa badan pasien mengalami demam 10 hari disertai
sesak nafas
8. Bagaimana patofisiologi dari sekenario?
9. Bagaimana cara menegakan diagnosis dan DD?
10.
Apa definisi dan Klasifikasi pnemonia
11.
Bagaimana interprestasi dari vital sign?
12.
Bagaimana cara foto rontgen?
13.
Bagaiman interpretasi dari PSI?
14.
Apa pemeriksaan penunjangnya?
15.
Apa farmakologi dan non farmakologinya?

Step 3

1. Mengapa terjadi peningkatan leukosit? Jelaskan nilai


normalanya!
Leukositosis umumnya menandai adanya infeksi bakteri; leukosit normal/rendah dapat
disebabkan oleh infeksi virus/mikroplasma atau pada infeksi yang berat sehingga tidak
terjadi respons leukosit, orang tua atau lemah. Leukopenia menunjukkan depresi
imunitas, misalnya netropenia pada infeksi kuman Gram negatif atau S.aureus pada
pasien dengan keganasan dan gangguan kekebalan. Faal hati mungkin terganggu.

2. Mengapa pada foto rontgen menunjukan infiltrat pada


lapang paru ( cari gambarnya) ?
Yang dimaksud dengan flek paru adalah adanya bercak atau infiltrat pada paru-paru.
Gambarannya bisa dilihat lewat foto rontgen, yaitu pada paru-paru yang seharusnya
berwarna hitam karena berisi udara terdapat bercak-bercak putih, baik yang sebesar gabah
atau lebih besar lagi.
Bercak putih bisa merupakan cairan, pemadatan, maupun penguncupan. Cairan itu sendiri
bisa berasal dari darah, nanah, atau lainnya. Tentu saja gambaran ini menegaskan bahwa
paru-paru dalam kondisi tidak sehat. Biasanya terdapat pada penyakit : TBC, pneumonia,
atelektasis, efusi pleura.

Gambaran radiologis pada pneumonia nosokomial


(Pulmonologi, Prof. Pasiyan Rachmatullah)

Gambaran padat radiografi paru secara klasik dibagi menjadi 3, yaitu : alveolar (disebabkan
oleh pneumococcus dan bakteri lain), interstitial pneumonia (disebabkan oleh virus atau
mycoplasma), serta Bronchopneumonia (oleh karena S. aureus atau bakteri lain) memiliki
pola difus bilateral dengan meningkatnya batas peribroncial, adanya infiltrat fluffy (seperti
benang/rambut halus) yang kecil dan meluas ke perifer. Staphylococcal pneumonia terkait
dengan gambaran pneumatoceles dan efusi pleura (empyema). Mycoplasma penyebab
pneumonia memiliki pola yang sama dengan pola bakteri atau virus, ditambah dengan
adanya infiltrat retikuler dan retikulonoduler yang terlokalisir pada satu lobus. Pada anakanak konsolidasi pneumonia berbentuk spheris menyerupai tumor pada awalnya dan
selanjutnya meluas, single dengan batas tidak jelas. Adanya air bronchogram berhubungan
dngn infeksi Strep. Pneumoniae. Segemental disease ( berhubungan dngn Stafilokokus, virus
atau Mycoplasma). Interstitial disease (berhubungan dngn infeksi virus dan Mycoplasma).
(Pulmonologi, Prof. Pasiyan Rachmatullah)

3. Mengapa di dapatkan suara redup dan ronki basah di lobus


tengah kanan dan kiri?
Ronki basah (crackles atau rales)merupakan suara napas yang terputus-putus,
bersifat non musical, biasanya terdengar saat inspirasi akibat udara yang melewati
cairan dalam saluran napas. Ronki basah dibagi ronki basah halus dan kasar
tergantung besarnya bronkus yang terkena. Ronki basah halus terjadi karena
adanya cairan alveoli pada bronkiolus, sedangkan pada ronki basah yang lebih
halus berasal dari alveoli (krepitasi)akibat terbukanya alveoli pada akhir inspirasi
terjadi terutama pada fibrosis paru. Sifat ronki basah ini dapat bersifat nyaring
(bila ada infiltrasi misal pneumonia) atau tidak nyaring (edema paru). (Rumende,
2007)

Ronkhi basah : suara yang kita dengarkan pada saat auskultasi, dimana terjadi
penimbunan cairan yang terjadi pada paru. Suaranya seperti batang yang dipatahkan
tetapi ada suara cairanya. Dan jika dibatukkan akan mengeluarkan cairan, cairanya ada
yang halus (kaya percikan) dan kasar (kaya riak/dahak)
Diantara semua pneumonia bakteri, patogenesis dari pneumonia pneumokokus
merupakan paling banyak diselidiki.pneumokokus umunya mencapai alveoli lewat

percikan mukus atau saliva. Lobus bagian bawah paru paling sering terkena karena efek
gravitasi. Setelah mencapai alveoli, maka pneumokokus menimbulkan respons khas yang
terdiri dari 4 tahap berurutan.
Kongesti : (4-12 jam pertama) : eksudat serosa masuk ke dalam alveoli melalui
pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor.
Hepatisasi merah (48 jam berikutnya) : paru tampak merah dan bergranula
(hepatisasi=seperti hepar) karena sel-sel darah merah, fibrin, dan leukosit PMN
mengisi alveoli
Hepatisasi kelabu (3-8 hari) paru tampak kelabu karena leukosit dan fibrin
mengalami konsolidasi di dalam alveoli yang terserang.
Resolusi : 7-11 hari) : eksudat mengalami lisis dan direabsorpsi oleh makrofag
sehingga jaringan kembali pada struktur semulanya
Sumber : patologi sylvia A. Price volume 2
Karena Penyakit ini dimulai dari infeksi dalam alveolus membrane paru mengalami
peradangan dan berlubang2 lubang sehingga cairan dan bahkan sel darah merah
dan sel darah putih keluar dari darah dan masuk ke dalam alveoli alveoli terinfeksi
secara progresif terisi cairan dan sel2 dan infeksi menyebabr melalui perluasan
bakteri atau virus dari alveolus ke alveolus akhirnya daerah luas pada paru,
kadang2 seluruh lobus menjadi berkonsolidasi( paru2 terisi cairan dan sisa2 sel )
pada saat perkusi jadi berbunyi redup ;krn terisi cairan

Sumber ; Guyton and Hall.2006.Buku Ajar Fisiologi.Ed. 11, EGC dan Dr. Pasiyan
Rachmatullah. 1997.Ilmu Penyakit Paru( Bagain Ilmu Penyakit Dalam FK
UNDIP.Semarang)

keredupan pada paru kanan lobus tengah menunjukkan paru mengalami pemadatan.
Hal ini terlihat pada gambaran hasil ronsen thoraks. Kepadatan terjadi karena paru
dipenuhi oleh sel radang dan cairan yang merupakan bentuk respon tubuh mematikan
kuman. Tapi respon ini berakibat terganggunya fungsi paru, sehingga penderita sulit
bernapas karena tak tersisa ruang oksigen.
Zul Dahlan.(2000). Ilmu Penyakit Dalam. Edisi II, Jakarta : Balai Penerbit
FKUI.

4. Mengapa penyakit penderita tak kunjung sembuh padahal


sudah di beri obat?
Apabila penyebab batuk diketahui maka pengobatan harus ditujukan terhadap
penyebab tersebut. Dengan evaluasi diagnostic yang terpadu, pada hamper semua
penderita dapat diketahui penyebab batuk kroniknya. Pengobatan batuk tergantung
dari etiologi atau mekanismenya, misalnya antibiotic pada pasien dengan pneumonia.
Pengoobatan simptomatik diberikan apabila :
a. Penyebab batuk yang pasti tidak diketahui, sehingga pengobatan spesifik dan
definitive tidak dapat diberikan, dan/atau
b. Batuk tidak berfungsi baik dan komplikasinya membahayakan penderita.
Obat yang digunakan untuk pengobatan simptomatik ada tiga jenis menurut
kategori farmakologik, yaitu antitusif, ekspektorans, dan mukolitik.

Zul Dahlan.(2000). Ilmu Penyakit Dalam. Edisi II, Jakarta : Balai Penerbit
FKUI.

5. Mengapa di sekenario di dapatkan batuk berdahak dengan


dahak kental dan hijau?

Krn ada inhalasi mikroba di udara bakteri masuk ke paru , bronkioli dan
alveolus peradangan hebat( sel2 PMN memfagositosis mikroba2 tsb dan
pengeluaran mediator inflamasi) sel2 PMN mati( menghasilahn veroksidase)
terakumulasi bersama mikroba /bakteri2 yg mati penimbunan nanah warna hijau
Ciri khas sputum mukropurulen : kuning,kehijauan , atau abu2 kotor penyebabnya
pneumonia bakteri; bronkiris akut atau kronis
Sumber : Sylvia A. Price.2003.Patofisiologi.Ed6, Vol.2 . EGC
Batuk merupakan reflex pertahanan yg timbul akibat iritasi percabangan
trakeobronkial. Rangsangan yg biasanya menimbulkan batuk adalah rangsangan
mekanik, kimia, dan peradangan. Inhalasi asap, debu dan benda2 asing kecil
merupakan penyebab batuk yg paling sering. Perokok seringkali menderita batuk
kronik karena terus-menerus menghisap benda asing(asap) dan saluran nafasnya
mengalami peradangan kronik. Setiap peradangan nafas dengan atau tanpa eksudat
dapat mengakibatkan batuk. Sputum berwarna kekuningan menunjukkan adanya
infeksi.

Sputum purulen berwarna kuning, hijau, atau kadang-kadang coklat. Hal ini
menunjukkan adanya suatu peradangan dalm paru yg mungkin merupakan :
Infeksi (bronchitis purulen, pneumonia, abses paru, bronkiektaksis, tuberculosis,
fibrosis kistik)
Alergi (sputum penderita asma mungkin tampak purulen tanpa bukti adanya suatu
infeksi, akibat banyaknya jumlah eosinofil)
Kimiawi (bronchitis akut akibat inhalasi bahan kimia)
Iritan (asap atau debu iritan)
Bila warna sputum kekuning-kuningan menunjukkan infeksi. Sputum yang
berwarna hijau merupakan petunjuk adanya penimbunan nanah. Warna hijau
timbul karena adanya verdoperoksidase yang dihasilkan oleh leukosit
polimorfonuklear (PMN) dalam sputum. Sputum yang berwarna hijau sering
ditemukan pada bronkiektasis karena penimbunan sputum dalam bronkiolus yang
melebar dan terinfeksi. Banyak penderita infeksi pada saluran napas bagian bawah
mengeluarkan sputum berwarna hijau pada pagi hari, tetapi makin siang menjadi
semakin
kuning.
Sputum yang berwarna merah muda dan berbusa merupakan tanda edema paru
akut. Sputum yang berlendir, lekat dan berwarna abu-abu atau putih merupakan
tanda bronkitis kronik. Sedangkan sputum yang berbau busuk merupakan tanda
abses paru atau bronkiektasis. Apabila sputumnya berwarna hijau dan kuning
maka positif terinfeksi. Namun bila sputum berwarna putih dan jernih, berarti
sputum atau pasien tidak terinfeksi bakteri.
(Rumende, 2007)
Cara masuknya kuman sampai jaringan paru dapat melalui cara berikut :
Inhalasi kuman yang ada di udara
Aspirasi organisme dari nasofaring/orofaring
Penyebaran hematogen dari fokal infeksi ditempat lain
Penyebaran langsung dari tempat disekitarnya yang sedang mengalami infeksi
Terdapat brebagai pertahanan tubuh disaluran pernafasan seperti

Refleks glottis
Refleks batuk
Silia untuk menyaring
Lendir yang menutup epitel/mukosa bronkus
Surfaktan paru
Ig A sekresi dan serum yang memberikan proteksi terhadap infeksi
Makrofag

Ada faktor predisposisi yang bisa menimbulkan kegagalan fungsi pertahanan tubuh
seperti

Keadaan dimana fungsi pertahanan tubuh terganggu


Adanaya gangguan kesadaran
Orang tua : Refleks batuk berkurang
Adanya kelainan fungsi limfosit
Adanya kelainan fungsi granulosit

Bakteri yang masuk ke paru melalaui saluran nefas masuk ke bronkioli dan alveolus,
kemudian menimbulkan reaksi peradangan hebat yang menghasilkan cairan edema
(eksudasi) yang kaya protein dalam alveoli dan jaringan interstitial.
Protease merupakan enzim yang dikeluarkan oleh bakteri patogen untuk memecah
antibody Imunoglobin IgA atau IgG, IgA ini banyak terdapat dalam sekresi mukus.
Fungsinya melindungi membran mukus dan melindungi jaringan dari bakteri dan
produknya. Timbulnya hepatisasi merah adalah akibat perembesan eritrosit dan
beberapa leukosit dari kapiler paru. Paru menjadi tidak berisi udara lagi, kenyal dan
merah.
Pada tingkat lebih lanjut, aliran darah menurun, alveoli penuh dengan leukosit, tapi
kuman tidak tinggal diam, dia juga melakukan perlawanan seperti beberapa
mikroorganisme menghasilkan bahan beracun yang dikenal sebagai toksin.
Toksin yang dihasilkan oleh mikroorganisme dapat berupa eksotoxin merupakan
protein bakteri yang diproduksi dan dikeluarkan ke lingkungan selama pertumbuhan
bakteri patogen dan Endotoksin yang merupakan lipid A sebagai bagian dari
lipoposakarida membran luar bakteri Gram negatif. Ketika bakteri patogen terbenam
dalam permukaan sel inang, akan menyebabkan pelepasan senyawa protein seperti
komplemen dan sitokin berlebih yang dapat ikut merusak sel atau jaringan inang di
sekitarnya.
Selain itu terdapat juga hemolisin. Toksin ini merupakan bahan yang menghancurkan
sel darah merah dan melepaskan hemoglobin. Beberapa hemolisin menghasilkan
perubahan seperti suatu zona bening tanpa warna dimana sel darah merah sudah
dihancurkan secara sempurna. Peristiwan ini disebut a-hemolisis. Tipe lain dari
bakteri dapat mereduksi hemoglobin menjadi metahemoglobin, yang menghasilkan
zona berwarna kehijauan di sekitar koloni. Ini disebut b-hemolisis. Sehingga timbul
warna hijau pada dahak atau sputum yang dikeluarkan pada saat refleks batuk.
Bila pertahanan imunitas tubuh kuat, maka kuman dan toksiknya tadi bisa difagosit
oleh leukosit dan makrofag. Pada saat itu paru paru memasuki stadium hepatisasi
kelabu dengan warna abu abu kekuningan. Secara perlahan lahan eritrosit yang

telah mati dan eksudat fibrin dibuang dari alveoli> selanjutnya akan terjadi stadium
resolusi. Paru menjadi normal kembali tanpa kehilangan kemampuan dalam hal
pertukaran gas.

6. Mengapa pada px auskultasi di dapatkan suara dasar


bronkial?
7. Apa etiologi dari sekenario?

8. Kenapa badan pasien mengalami demam 10 hari disertai


sesak nafas?

9. Bagaimana patofisiologi dari sekenario?

Pneumokokus (penyebab tersering pneumonia bakteri ) umumnya mencapai alveoli lewat


percikan mukus atau saliva. Lobus bagian bawah paru paling sering terkena karena efek
gravitasi. Setelah mencapai alveoli, maka pneumokokus menimbulkan respons khas :
1. Kongesti (4 12 jam pertama ) : eksudat serosa masuk ke dalam alveoli melalui
pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor
2. Hepatisasi merah (48 jam berikutnya ) : paru tampak merah dan bergranula karena
sel-sel darah merah, fibrin, dan leukosit PMN mengisi alveoli
3. Hepatisasi kelabu (3-8 hari) : paru tampak kelabu karena leukosit dan fibrin
mengalami konsolidasi di dalam alveoli yang terserang
4. Resolusi (7-11 hari) : eksudat mengalami lisis dan reabsorbsi oleh makrofag sehingga
jaringan kembali pada strukturnya semula
Price, A. Sylvia, Lorraine M. Wilson. Patofisiologi. EGC. Jakarta. 2003.
Stages of Bacterial Pneumonia
For pneumococcal pneumonia, four stages of disease have been described. What occurs
in these four stages is similar for the other types of pneumonia.
Stage 1, called hyperemia, refers to the initial inflammatory response occurring in the
area of lung infection. It is characterized by increased blood flow and increased capillary
permeability at the site of infection. It occurs as a result of inflammatory mediators
released from mast cells after immune cell activation and tissue injury. These
components include histamine and prostaglandin. Mast cell degranulation also activates
the complement pathway. Complement acts with histamine and prostaglandin to
vasodilate the pulmonary vascular smooth muscle, leading to increased blood flow to the
area and increased capillary permeability. This results in movement of plasma exudate
into the interstitial space, causing swelling and edema between the capillary and the
alveolus. Fluid buildup between the capillary and the alveolus increases the distance over
which oxygen and carbon dioxide must diffuse, thereby decreasing the rate of gas
diffusion. Because oxygen is less soluble than carbon dioxide, its movement into the
blood is most affected, often leading to a decrease in hemoglobin oxygen saturation.
During this first stage of pneumonia, infection spreads to neighboring tissue as a result of
increased blood flow and breakdown of neighboring alveolar and capillary membranes
as the inflammatory processes continue.
Stage 2 is called red hepatization. It occurs when the alveoli fill with red blood cells,
exudate, and fibrin, produced by the host as part of the inflammatory reaction.
Stage 3, called gray hepatization, occurs as white blood cells colonize the infected part of
the lung. Then, fibrin deposits accumulate throughout the area of injury and phagocytosis
of cell debris occurs.
Stage 4, called the resolution stage, occurs when the inflammatory and immune
responses wane; cell debris, fibrin, and bacteria are digested; and macrophages, the
cleanup cells of the inflammatory reaction, dominate.

Elizabeth J. Corwin PhD, MSN, CNP. Handbook of Pathophysiology, 3rd Edition.


2008.

10.

Bagaimana cara menegakan diagnosis dan DD?


Anamnesis onset,RPD
Pxfisik adanya gronki basah dan bronkial
Px penunjang rontagen, biomarker(PCT)meningkat
bakteri,
PCT menurun virus
Px Lab jumlah leukosit,pengecatan gram
dd pneumonia ,TB paru, bronchitis kronis

11.

Apa definisi dan Klasifikasi pneumonia berdasarkan PSI

Djojodibroto, R. Darmanto. Respirology (Respiratory Medicine). EGC, Jakarta.


2009.

12.
Bagaimana interprestasi dari vital sign?
Ttd normal
tR takikardi
rr Pernafasan takipneu
suhu demam
jumlah leukosit meningkat
13.
Bagaimana posisi foto rontgen torax?
PA
Simetris kanan kiri
Inspirasi cukup
Tampak anatara sudut anatar costa dan diafragma
Tidak goyang
Ffsb
14.

Bagaiman interpretasi dari PSI?

15.

Apa pemeriksaan penunjangnya?


Macam-macam pemeriksaan
1. Pewarnaan Gram,biasanya pemeriksaan ini memberikan cukup informasi tentang
organism yang cukup untuk menegakkan diagnose presumtif.
2. Kultur Sputum mengidentifikasi organisme spesifik untuk menegakkan diagnose
definitif. Untuk keperluan pemeriksaan ini, sputum harus dikumpulkan sebelum
dilakukan terapi antibiotic dan setelahnya untuk menentukan kemanjuran terapi.
3. Basil Tahan Asam (BTA) menentukan adanya mikobacterium tuberculosis, yang
setelah dilakukan pewarnaan bakteri ini tidak mengalami perubahan warna oleh
alcohol asam.
Tujuan

Pemeriksaan sputum bersifat mikroskopik dan penting untuk diagnosis etiologi


berbagai penyakit pernapasan. Pemeriksaan mikroskopik dapat menjelaskan
organism penyebab penyakit pada berbagai pneumonia bacterial, tuberkulosa,
serta berbagai jenis infeksi jamur.
Pemeriksaan sitologi eksfoliatif pada sputum dapat membantu diagnosis
karsinoma paru-paru. Sputum dikumpulkan untuk pemeriksaan dalam
mengidentifikasi organisme patogenik dan menentukan apakah terdapat sel-sel
malignan atau tidak. Aktifitas ini juga digunakan untuk menkaji sensitivitas (di
mana terdapat peningkatan eosinofil). Pemeriksaan sputum secara periodik
mungkin diperlukan untuk klien yang mendapat antibiotik, kortikosteroid, dan
medikasi imunosupresif dalam jangka panjang, karena preparat ini dapat
menimbulkan infeksi oportunistik. Secara umum, kultur sputum digunakan dalam
mendiagnosis untuk pemeriksaan sensitivitas obat dan sebagai pedoman
pengobatan. Jika sputum tidak dapat keluar secara spontan, klien sering
dirangsang untuk batuk dalam dengan menghirupkan aerosol salin yang sangat
jenuh, glikol propilen yang mengiritasi, atau agen lainnya yang diberikan dengan
nebulizer ultrasonic.
Cara
Cara pengambilan sputum :
Pasien berkumur dengan air garam dahulu, kemudian di beri wadah yang
bermulut lebar, mempunyai tutup berulir, suci hama, tidak mudah pecah, tidak
bocor, sekali pakai dibuang (disposible). Pasien dalam posisi berdiri, jika tidak
memungkinkan dapat dengan duduk agak membungkuk. Pagi hari setelah
bangun tidur biasanya rangsangan batuk sangat kuat, tetapi penderita di
anjurkan untuk menahanya dan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian segera
di suruh batuk sekuat-kuatnya sehingga merasakan dahak yang dibatukkan
keluar dari tenggorokan. Sputum yang keluar di tampung dalam wadah yang di
sediakan, mulut wadah penampung dibersihkan dari tetesan dahak lalu di tutup.
Wadah diberi label yang yang berisi nama, alamat, tanggal pengambilan serta
nama pengirim.
1. Pembuatan Sediaan
Pembuatan Preparat
Gelas kaca di beri nomor kode, nomor pasien, nama pasien, pada sisi kanan
kaca obyek baru. Pilih bagian sputum yang kental, warna kuning kehijauan, ada
pus atau darah. Ambil sedikit bagian tersebut dengan menggunakan ose yang
sebelumnya dibakar dulu sampai pijar, kemudian didinginkan. Ratakan diatas
kaca obyek dengan ukuran + 2-3 cm. Hapusan sputum yang dibuat jangan
terlalu tebal atau tipis. Keringkan dalam suhu kamar. Ose sebelum dibakar
dicelupkan dulu kedalam botol berisi campuran alkohol 70% dan pasir dengan

perbandingan 2 : 1 dengan tujuan untuk melepaskan partikel yang melekat pada


ose (untuk mencegah terjadinya percikan atau aerosol pada waktu ose dibakar
yang dapat menularkan kuman tuberkulosis).Rekatkan / fiksasi dengan cara
melakukan melewatkan preparat diatas lidah api dengan cepat sebanyak 3 kali
selama 3-5 detik. Setelah itu sediaan langsung diwarnai dengan pewarna Ziehl
Neelsen.
Cara Pengecatan Basil Tahan Asam
Letakkan sediaan diatas rak pewarna, kemudian tuang larutan Carbol
Fuchsin sampai menutupi seluruh sediaan. Panasi sediaan secara hati-hati diatas
api selama 3 menit sampai keluar uap, tetapi jangan sampai mendidih. Biarkan
selama 5 menit (dengan memakai pinset). Cuci dengan air mengalir, tuang HCL
alkohol 3% (alcohol asam) sampai warna merah dari fuchsin hilang. Tunggu 2
menit. Cuci dengan air mengalir, tuangkan larutan Methylen Blue 0,1% tunggu
10-20 detik. Cuci dengan air mengalir, keringkan di rak pengering.
Cara Melakukan Pemeriksaan
Setelah preparat terwarnai dan kering, dilap bagian bawahnya dengan kertas
tissue, kemudian sediaan ditetesi minyak imersi dengan 1 tetes diatas sediaan.
Sediaan dibaca mikroskop dengan perbesaran kuat. Pemeriksaan dimulai dari
ujung kiri dan digeser ke kanan kemudian digeser kembali ke kiri (pemeriksaan
system benteng). Diperiksa 100 lapang pandang (kurang lebih 10 menit).
Pembacaan dilakukan secara sistematika, dan setiap lapang pandang dilihat,
kuman BTA berwarna merah berbentuk batang lurus atau bengkok, terpisah,
berpasangan atau berkelompok dengan latar belakang biru.
Pelaporan Hasil
Pembacaan hasil pemeriksaan sediaan dahak dilakukan dengan menggunakan
skala International Union Against Tuberculosis (IUAT) .Pemeriksaan sputum
untuk Basil Tahan Asam biasanya dilakukan pemeriksaan terhadap sputum
sewaktu, sputum pagi dan sputum sewaktu (SPS). Hasil yang positif ditandai
dengan sekurang kurangnya 2 dari 3 spesimen sputum sewaktu, pagi, sewaktu
adalah positif ditemukannya Basil Tahan Asam (BTA).Pemeriksaan mikrokopis
BTA ini digunakan untuk menbantu diagnosis penyakit tuberculosis. Metode
yang dipakai biasanya dengan pengecatan langsung (metode pewarnaan Ziehl
Nelsen ), dan metode penghitungan BTA dengan skala IUAT (Intrenational
Union Against Tuberculosis) yaitu dalam 100 lapang pandang tidak ditemukan
BTA disebut negatif. Ditemukan :
1. 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah kuman yang
ditemukan.
2. 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut + atau (1+).
3. 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++ atau (2+).
4. > 10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ atau (3+).

Penulisan gradasi hasil bacaan penting, untuk menunjuk keparahan penyakit


dan tingkat penularan penderita.

Pemeriksaan radioligis.
Pola radiologis dapat berupa pneumonia alveolar dengan gambaran air bronkogram
misalnya oleh Streptococcus pneumoniae, bronkopneumonia oleh antara lain
staphylococcus, virus atau mikoplasma; dan pneumonia interstisial oleh virus dan
mikoplasma.
Infiltrat di lobus atas sering ditimbulkan Klebsiella spp, tuberkulosis atau amiloidosis.
Pada lobus bawah dapat terjadi infiltrat akibat Staphylococcus atau bakteriemia.
Bentuk lesi berupa kavitas dengn air-fluid level sugestif untuk abses paru, infeksi
anaerob, Gram negatif atau amiloidosis. Efusi pleura dengan pneumonia sering
ditimulkan S. Pneumoniae. Dapat juga oleh kuman anaerob, S. Pyogenes, E. Coli dan
Staphylococcus (pada anak-anak). Kadang-kadang oleh K. Pneumoniae, P.pseudomallei.
Pembentukan kista terdapat pad apneumonia nekrotikans/supurativa, abses dan
fibrosis akibat terjadinya nekrosis jaringan paru oleh kuman S.aureus, K.pneumoniae dan
kuman-kuman anaerob (streptococcus anaerob, bacteroides, fusobacterium). Ulangan
foto perlu dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya infeksi sekunder, efusi pleura
penyerta yang terinfeksi atau pembentukan abses. ada pasien yang mengalami perbaikan
klinis ulangan foto dada dapat ditunda karena resolusi pneumonia berlangsung 4-12
minggu.
Pemeriksaan laboratorium
Leukositosis umumnya menandai adanya infeksi bakteri; leukosit normal/rendah dapat
disebabkan oleh infeksi virus/mikroplasma atau pada infeksi yang berat sehingga tidak
terjadi respons leukosit, orang tua atau lemah. Leukopenia menunjukkan depresi
imunitas, misalnya netropenia pada infeksi kuman Gram negatif atau S.aureus pada
pasien dengan keganasan dan gangguan kekebalan. Faal hati mungkin terganggu.

16.

Apa farmakologi dan non farmakologinya?

Contoh obat batuk antibiotik dan penurun panas

Disorder of respiratory tract, Matheww L. Mintz, Humana press

17.

Kenapa pasien di rawat jalan?