Anda di halaman 1dari 21

Lahan Rawa Pasang Surut di daerah Pekauman Kec.

Martapura Timur,
Kabupaten Banjar
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Ekologi Lahan Rawa

Dosen Pembimbing :
Dr. Nopi Stiyati P, S.Si, MT
Nip. 19841118 200812 2 003
Disusun Oleh:
Kelompok 8
Aulia Rahma

H1E113007

Erdina Lulu A.R

H1E113024

Garu Ujwala

H1E113044

Amalia Enggar Pratiwi

H1E113209

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN
BANJARBARU
2015

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
DAFTAR TABEL..................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................iv
PENDAHULUAN...................................................................................................1
Latar Belakang.......................................................................................................1
Tujuan Penulisan....................................................................................................1
METODOLOGI.....................................................................................................2
HASIL.....................................................................................................................3
PEMBAHASAN.....................................................................................................8
Ekosistem Lahan Rawa.........................................................................................8
Biogeokimia Lahan Rawa...................................................................................10
Hidrologi Lahan Rawa........................................................................................13
Potensi Lahan Rawa............................................................................................14
KESIMPULAN.....................................................................................................16
DAFTAR RUJUKAN...........................................................................................17

ii

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Komponen Biotik dan Abiotik Lahan Rawa Pasut di Pekauman Kec.
Martapura Timur......................................................................................................3
Tabel 2. Profil Timbulan dan 3R Limbah B3.........................................................13
Tabel 3. Inovasi untuk 3R Limbah B3...................................................................13
Tabel 4. Profil 3R Air.............................................................................................14

iii

DAFTAR GAMBAR
Grafik 1. Sumber Aliran Air Rawa di Sungai Martapura.........................................3
Grafik 2. Lahan Rawa Tergenang Air Dangkal........................................................4
Grafik 3. Rawa Pasang Surut Air Tawar yang dipengaruhi oleh Aliran Sungai
Martapura................................................................................................................4
Grafik 4. Lahan Rawa Bekas Gabah Padi................................................................5
Grafik 5. Sawah di Lahan Rawa saat Air Surut.......................................................5
Grafik 6. Pemanfaatan Lahan Rawa untuk Perkebunan Sayur................................6
Grafik 7. Eceng Gondok di Daerah Rawa................................................................6
Grafik 8. Lapisan Minyak di Permukaan Air...........................................................7

iv

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Luas lahan rawa pasang surut di Indonesia 20,11 juta hektar yang terdiri dari
2,07 juta hektar pasang surut potensial, 6,71 juta hektar lahan sulfat masam,10.89
hektar lahan gambut, dan 0,44 juta hektar lahan salin. Lahan rawa pasang surut di
Kalimantan Selatan banyak dijadikan sebagai lahan pertanian yang luasnya
mencapai 183.994 ha atau sekitar 28,34% (Alihamsyah,2002 dalam Rina dan
Haris, 2013).
Di Kalimantan Selatan tersebar rawa pasang surut salah satunya di
Kabupaten Banjar.Dengan Penggunaan lahan rawa pasang surut di Kabupaten
Banjar tahun 2013 sebesar 35.517 Km2.Penggunaan lahan rawa sebagai pertanian
banyak dilakukan oleh masyarakat sekitar untuk memenuhi ketersediaan
pangan.Selain itu lahan rawa juga berfungsi sebagai konservasi habitat flora dan
fauna,menjaga keseimbangan ekosistem,dan sebagai fungsi hidrologi.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari paper ini adalah mengetahui ekosistem daerah rawa
pasang surut, biogeokimia lahan rawa pasang surut, hidrologi dan potensi lahan
rawa pasang surut di daerah Pekauman Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten
Banjar.

METODOLOGI
Metodologi pada kegiatan penilitian ini yaitu dengan melakukan observasi
lapangan bertempat di Jln Pekauman Kecamatan Martapura Timur Kabupaten
Banjar. Pengamatan dilakukan pada hari jumat tanggal 13 November 2015 pukul
10.21 WITA. Penelitian ini dilakukan dengan pengamatan langsung di lahan rawa
pasang surut air tawar yang dipengaruhi aliran sungai.

HASIL
Hasil dari pengamatan di lapangan adalah sebagai berikut :
a. Sumber air lahan rawa pasang surut di jalan Pekauman

Gambar 1. Sumber aliran air rawa dari sungai Martapura


b. Ekosistem lahan rawa pasang surut di jalan Pekauman
Ekosistem dilahan rawa pasang surut berdasarkan pemantauan langsung di
lokasi dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Komponen Biotik dan Abiotik Lahan Rawa Pasut di Pekauman
Kec. Martapura Timur
NO
1
2
3
4

BIOTIK
Ikan gabus
Ikan sepat
Burung
Ikan papuyu

Katak

6
7
8
9
10
11

Capung
Eceng gondok
Teratai
Kangkung
Purun tikus
Ilalang

ABIOTIK
Terdapat endapan lumpur
Warna tanah coklat-kehitaman
Air berwarna coklat-kehitaman
Kekeruhan air tinggi
Genangan air tidak flukuatif karena
musim kemarau

Gambar 1. Lahan rawa tergenang air dangkal

Gambar 2. Rawa pasang surut air tawar yang dipengaruhi oleh aliran
sungai Martapura
c. Pemanfaatan lahan rawa pasang surut di jalan Pekauman

Gambar 3. Lahan rawa bekas gabah padi

Gambar 4. Sawah di lahan rawa saat air surut

Gambar 5. Pemanfaatan lahan rawa untuk perkebunan sayur


d. Permasalahan lahan rawa pasang surut di jalan Pekauman

Gambar 6. Eceng gondok di daerah rawa

Gambar 7. Lapisan minyak dipermukaan air

PEMBAHASAN
Ekosistem Lahan Rawa
Menurut (Widjaja-Adhi dalam Sudana, 2005) tipologi lahan rawa pasang
surut beradsarkan jenis dan tingkat kendala fisiko-kimia tanahnya dapat dibagi
menjadi 4 yaitu:
1.
2.
3.
4.

Lahan potensial atau berpirit dalam : kedalaman lapisan pirit > 50 cm


Lahan sulfat masam atau berpirit : kedalaman < 50 cm
Lahan gambut
Lahan salin

Sedangkan apabila dilihat berdasarkan tipe luapan airnya, lahan rawa pasang
surut dapat dikategorikan menjadi 4 , yaitu:
1. Tipe A : selalu terluapi baik pasang besar maupun kecil
2. Tipe B : terluapi pada saat pasang besar saja
3. Tipe C : tidak pernah terluapi (pasang besar maupun kecil) dan hanya
mempengaruhi secara tidak langsung. Kedalaman air tanahnya < 50 cm
4. Tipe D : tidak pernah terluapi dan kedalaman air > 50 cm.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di daerah Pekauman Kec.
Martapura Timur, Kabupaten Banjar. Lahan rawa jenis lahan rawa pasang surut.
Hal ini terlihat melalui karakteristiknya yang khas yaitu sistem pengairannya yang
dipengaruhi oleh air sungai, tanahnya bereaksi masam dan menurut Anwar, dkk,
2001 lahan rawa pasang surut juga memiliki ciri yaitu pH rendah, genangan yang
cukup dalam, unsur hara sedikit, dan perkembangan gulma yang dominan. Lahan
rawa yang berada di daerah tersebut dipengaruhi oleh pasang surut dari air Sungai
Martapura Timur dan anak sungainya. Jika dilihat berdasarkan teori diatas, maka
lahan rawa di daerah Pekauman Kec. Martapura Timur tersebut termasuk ke
dalam kategori lahan rawa bergambut. Hal tersebut dapat dilihat dari ciri ciri
fisik lahan rawa di Pekauman Kec. Martapura Timur tanah berwarna coklat, air
berwarna coklat kehitaman dengan tingkat kekeruhan tinggi, terdapat endapan
lumpur di dasarnya dan permukaannya tertutupi oleh gulma/tanaman air. Hal
tersebut juga diperkuat dengan data dari (B2P2SLP, 2008), yang menyatakan
bahwa 32% lahan rawa di Kalimantan Selatan merupakan lahan rawa bergambut.
Sedangkan berdasarkan tipe luapan airnya termasuk ke dalam Tipe A, B dan C

karena observasi dilakukan di tiga titik di daerah Pekauman Kec. Martapura


Timur.
-

Stasiun 1 termasuk kedalam luapan air tipe A


Stasiun 2 termasuk kedalam luapan air tipe B
Stasiun 3 termasuk kedalam luapan air tipe C
Selain

topologi,

ekosistem

lahan

rawa

juga

dapat

dilihat

dari

keanekaragaman hayati di dalamnya. Untuk lahan rawa pasang surut di daerah


Pekauman Kec. Martapura Timur vegetasi yang mendominasi ialah gulma karena
terpengaruh oleh pasang dari air sungai. Selain itu juga terdapat tanaman
kangkung air, eceng gondok, purun tikus, ilalang, teratai, pohon pisang, rambutan,
dan padi. Sedangkan fauna nya terdapat ikan gabus, papuyu, sepat, katak, capung,
dan burung.
Berdasarkan keanekaragaman hayati tersebut merupakan tumbuhan dan
hewan khas lahan rawa pasang surut. Seperti yang terdapat pada penelitian
(Mukhlis et.al, 2014) bahwa karena kekhasan dari kondisi lahan rawa tersebut
akan meberikan pengaruh terhadap perkembangan flora secara spesifik. Dari
tanaman khas yang ada tersebut maka tercipta suatu kelimpahan dan distribsi
tanaman maupun hewan khas lahan rawa pasang surut seperti yang disebutkan
sebelumnya. Dominannya tanaman air terutama gulma dikarenakan lahan rawa
pasang surut di daerah Pekauman Kec. Martapura Timur tersebut banyak
dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan perkebunan yang banyak menggunakan
pupuk baik kimia maupun organik. Air buangan dari sektor pertanian dan
perkebunan lah yang membuat kelimpahan dari gulma air tersebut meningkat
(Eutrofikasi)
Menurut (Alwi, 2014) produktivitas lahan rawa pasang surut bergantung
pada kondisi tanah, tata air dan penerapan teknologi yang diterapkan. Menurut
penelitian yang dilakukan (Alwi, 2014) potensi produksi padi pada lahan rawa
tanah gambut adalah 4,0 4,5 GKG ha-1. Sehingga, lahan rawa pasang surut
sebagian besar dimanfaatkan sebagai lahan pertanian sama halnya dengan lahan
rawa pasang surut di Pekauman Kec. Martapura Timur yang sebagian besar lahan
rawa nya dimanfaatkan sebagai lahan pertanian (padi) dan perkebunan (sayuran
hijau). Meskipun lahan nya kurang subur namun dengan melakukan penerapan
teknologi dan peningkatan luas areal panen dengan peningkatan intensitas tanam
8

dan pembukaan areal baru. Menurut (Alwi, 2014), teknologi yang dilakukan ialah
pengelolaan tanah, tata air mikro, ameliorasi tanah (meningkatkan nilai pH),
pemupukan, penggnaan varietas unggul, pengendali hama dan penyakit serta
model saha tani jika lahan rawa pasang surut ingin dimanfaatkan menjadi lahan
pertanian.
Untuk kondisi airnya sendiri sebagian besar mengalami masa surut karena
musim kemarau panjang (2 3 bulan) dan lahan rawa pasang surut lainnya
tergenang namun tidak terlalu dalam saat musim penghujan. Hal ini sesuai dengan
sifat dari lahan rawa bertanah gambut yaitu mengalami pada kekeringan saat
musim kemarau dan banjir saat musim hujan.
Biogeokimia Lahan Rawa

Bahan Induk Tanah


Bahan induk tanah gambut terbentuk dari lapukan bahan organik yang

berasal dari penumpukan sisa jaringan tumbuhan pada masa lampau, dengan
kedalaman bervariasi tergantung keadaan topografi tanah mineral di bawah
lapisan gambut. Hal ini disebabkan karena pada lahan rawa, proses
penghancuran bahan organik lebih lambat dibandingkan dengan proses
penimbunannya (Mulyani, 20xx).
Bahan induk tanah yang terdapat pada lahan rawa di daerah Pekauman
Kecamatan Martapura Timur didominasi oleh tanah gambut dan tanah
organik. Hal ini dapat dilihat dari ciri-ciri fisik tanahnya yaitu memiliki warna
coklat kehitaman, tekstur debunya lempung, ketebalan lebih dari 0,5 m, dan
memiliki konsistensi agak lekat.

Sifat Fisik dan Kimia Tanah


Sifat fisik tanah gambut merupakan faktor yang sangat menentukan

tingkat produktivitas tanaman yang diusahakan pada lahan gambut. Hal ini
dikarenakan akan

menentukan kondisi aerasi, drainase, daya menahan

beban, serta tingkat atau potensi degradasi lahan gambut. Kematangan


gambut, kadar air, berat isi (bulk density), daya menahan beban (bearing
capacity), penurunan permukaan tanah (subsidence), sifat kering tak balik
(irreversible drying) merupakan karakteristik atau sifat fisik gambut yang
9

penting untuk diperhatikan dalam pengelolaan lahan gambut (Agus dan


Subiksa, 2008 dalam Dariah, 20xx).
Identifikasi tingkat kematangan tanah gambut di daerah Pekauman
Kecamatan Martapura Timur dapat digolongkan ke dalam gambut saprik. Hal
ini dapat dilihat ketika tanah gambut tersebut diremas, maka kurang dari
sepertiga gambut yang tertinggal dalam tangan (lebih dari dua pertiga yang
lolos). Pada gambut saprik, bagian gambut yang lolos relatif tinggi karena
strukturnya relatif lebih halus, sebaliknya gambut mentah masih didominasi
oleh serat kasar.
Menurut (Dariah, 20xx) subsiden (subsidence) atau penurunan
permukaan lahan merupakan salah satu fisik yang sering dialami lahan
gambut yang telah didrainase. Proses drainase menyebabkan air yang berada
di antara massa gambut mengalir keluar (utamanya bagian air yang bisa
mengalir
mengempis

dengan

kekuatan

gravitasi),

akibat

proses

ini

gambut

atau mengalami penyusutan. Sebab lain yang menyebabkan

subsiden diantaranya adalah akibat massa gambut yang mengalami


pengerutan akibat berkurangnya air yang terkandung dalam bahan gambut.
Kondisi di lapangan menunjukkan subsiden masih belum terjadi. Hal ini
ditunjukkan oleh perakaran tanaman yang tidak terlihat di atas permukaan
lahan.
Tanah gambut terbentuk dari timbunan bahan organik, sehingga
kandungan karbon pada tanah gambut sangat besar. Fraksi organik
tanah gambut di Indonesia lebih dari 95%, kurang dari 5% sisanya adalah
fraksi anorganik. Fraksi organik terdiri atassenyawa-senyawa humat sekitar
10 hingga 20%, sebagian besar terdiri atas senyawa-senyawa non-humat
yang

meliputi senyawa lignin, selulosa, hemiselulosa, lilin, tannin,

resin,suberin, dansejumlah kecil protein. Sedangkan senyawa-senyawa


humat terdiri atas asam humat, himatomelanat dan humin (Stevenson, 1994
dalam Hartatik, 20xx).

10

Keracunan dan Kekahatan Hara


Kekahatan unsur hara adalah kurangnya unsur-unsur hara dalam
tanah. Unsur-unsur hara yang berguna dalam tanah sangat berperan
penting terutama dalam pertumbuhan tanaman. Kekahatan unsur hara pada
tanah gambut dapat menyebabkan pertumbuhan yang buruk bagi tanaman
yang hidup didalamnya. Umumnya kekahatan hara pada tanah gambut
disebabkan oleh penggunaan pestisida yang berlebihan. Kandungan yang
terdapat di dalam pestisida dapat menyebabkan reaksi yang berpengaruh
baik secara langsung maupun secara tidak langsung terhadap unsur-unsur
hara yang terdapat pada tanah gambut.
Tanah gambut di daerah Pekauman Kecamatan Martapura Timur
sebagian besarnya sudah dipergunakan sebagai aktifitas pertanian oleh
masyarakat sekitar. Kemungkinan terjadinya kekahatan dan keracunan
hara di tanah gambut di daerah tersebut ada, walaupun baru bisa diketahui
secara lebih jelas jika dilakukan tes untuk menguji kandungan unsur
haranya.

Makrofauna dan Mikrofauna Tanah


Keberadaan makrofauna tanah sangat berperan dalam proses yang
terjadi dalam tanah diantaranya proses dekomposisi, aliran karbon,
bioturbasi, siklus unsur hara dan agregasi tanah. Diversitas makrofauna
dapat digunakan sebagai bioindikator ketersediaan unsur hara dalam tanah.
Hal ini karena makrofauna mempunyai peran penting dalam memperbaiki
proses-proses dalam tanah (Maftuah, 2005).
Makrofauna yang teridentifikasi pada lahan gambut di daerah
Pekauman Kecamatan Martapura Timur adalah cacing tanah dan semut.
Cacing tanah berperan dalam pendekomposer bahan organik, penghasil
bahan organik dari kotorannya, memperbaiki struktur dan aerasi tanah.
Cacing tanah memakan kotoran-kotoran dari mesofauna di permukaan
tanah yang hasil akhirnya akan dikeluarkan dalam bentuk feses atau
kotoran juga yang berperan paling penting dalam meningkatkan kadar
biomass dan kesuburan tanah lapisan atas (Maftuah, 2005).

Pengayaan dan Pencemaran


11

Lahan rawa pasang surut di daerah Pekauman Kecamatan Martapura Timur,


Kabupaten Banjar didominasi oleh tanaman gulma seperti eceng gondok, teratai
dan beberapa tanaman air lainnya. Hal tersebut merupakan akibat dari pencemaran
terhadap air sungai Martapura dan anak sungainya oleh limbah domestik sehingga
menyebabkan tanaman gulma tersebut tumbuh dengan cepat.
Hidrologi Lahan Rawa

Tata Air
Lahan rawa dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian maupun

perkebunan dengan dilakukannya pengolahan tanah dan air terlebih dahulu


soil and water management). Pengelolaan tanah dan air ini mencakup jaringan
tata air mikro dan makro, penataan lahan, ameliorasi dan pemupukan. Tata air
mikro perlu dilakukan karena untuk mencukupi kebutuhan evapotranspirasi
tanaman, mencegah pertumbuhan gulma, mencegah terbentuknya bahan
beracun dengan cara penggelontoran dan pencucian, mengatur tinggi muka air,
dan menjaga kualitas air. Berdasarkan hasil observasi di tiga titik di daerah
Pekauman, untuk stasiun 1 termasuk tipe A, stasiun 2 termasuk tipe B dan
stasiun 3 termasuk tipe C. Berdasarkan (Alwi, 2014), tata air yang tepat untuk
lahan rawa bertipe luapan A dan B perlu adanya pengaturan sistem aliran satu
arah. Sedangkan untuk lahan yang bertipe C diperlukan pemasangan tabat
(sekat) dengan stoplog untuk menjaga permukaan air sesuai dengan kebutuhan
tanaman dan dapat digunakan sebagai penampungan air hujan.

Neraca Air
Neraca air lahan adalah model hubungan kuantitatif antara jumlah

air yang tersedia di atas dan di dalam tanah dengan jumlah curah hujan
yang jatuh pada luasan dan kurun waktu tertentu (Ayu et al., 2013 dalam
Putri, 2014). Menurut (Prayudi, 20xx) Teknologi pengelolaan lahan rawa
lebak dapat diaktualisasikan melalui ameliorasi, pemupukan berimbang,
pengolahan tanah dan air. Teknologi pengelolaan air ditujukan untuk
memanfaatkan sumber daya air semaksimal mungkin untuk memenuhi
kebutuhan tanaman, dan mengatur keseimbangan air yang masuk dan air
yang keluar. Penataan saluran air yang baik sangat penting agar air dapat
12

dikendalikan. Pengelolaan air di tingkat lahan dapat dilakukan dengan


sistem surjan, kemalir dan caren. Dengan sistem ini proses aliran air masuk
dan keluar dikendalikan lebih mudah dan lancar. Teknologi neraca air
merupakan salah satu teknologi yang dapat mengatur aliran air masuk dan
keluar. Teknologi Neraca

air

lahan

ini dapat mengetahui kondisi

agroklimatik terutama dinamika kadar air tanah pada lahan rawa lebak
sehingga dapat digunakan untuk perencanaan pola tanam secara umum.
Dalam melakukan analisis neraca air diperlukan data-data sebagai
masukan dan keluaran serta prosedur analisisnya sebagai berikut :
1. Data curah hujan (CH) sebagai masukan
2. Data evapotranspirasi potensial (ETP) sebagai keluaran
3. Data kadar air tanah (KAT) pada tingkat kapasitas lapang (KL) dan titik
layu permanen (TLP).
Potensi Lahan Rawa

Lahan Rawa untuk Pertanian


Meskipun kesuburan lahan rawa di daerah Pekauman Kec. Martapura Timur

rendah karena tanah alluvial nya bercampur dengan tanah gambut. Namun,
dengan menggnakan teknologi atau pengolahan terhadap tanah nya yaitu dengan
ameliorasi (pengapuran) untuk menormalkan nilai pH tanah dan pemupukan
untuk meningkatkan kesuburan tanah maka lahan rawa pasang surut di daerah
Pekauman Kec. Martapura Timur dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan
pekebunan sayur.
Berdasrakan (Alwi, 2014), bahwa pemanfaatan lahan rawa bertipe luapan A
lebih cocok unutk pertanian karena pirit akan lebih stabil (tidak mengalami
oksidasi) sehingga tanaman padi dapat tumbuh dengan baik. Untuk lahan rawa
bertipe luapan B pemanfaatan yang sesuai yaitu untk padi, palawija, sayuran atau
buah buahan.

Agrowisata Rawa
Selain sebagai lahan pertanian dan perkebunan sayuran lahan rawa pasang

surut juga dimanfaatkan warga sebagai tempat wisata dimana diatas lahan rawa
pasang surut tersebut dibangun Rumah Khas Banjar sebagai kawasan wisata.
13

14

KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari paper ini adalah :
1.

Ekosistem lahan rawa pasang surut yaitu


Lahan rawa pasang surut di daerah Pekauman Kec. Martapura Timur
merupakan lahan rawa bergambut. Dengan tipe aliran :
Tipe A : selalu terluapi baik pasang besar maupun kecil
Tipe B : terluapi pada saat pasang besar saja
Tipe C : tidak pernah terluapi (pasang besar maupun kecil) dan hanya
mempengaruhi secara tidak langsung. Kedalaman air tanahnya < 50
cm
Selain topologi, ekosistem lahan rawa juga dapat dilihat dari
keanekaragaman hayati di dalamnya. Vegetasi yang mendominasi ialah
gulma karena terpengaruh oleh pasang dari air sungai. Selain itu juga terdapat
tanaman kangkung air, eceng gondok, purun tikus, ilalang, teratai, pohon
pisang, rambutan, dan padi. Sedangkan fauna nya terdapat ikan gabus,
papuyu, sepat, katak, capung, dan burung.

2.

Biogeokimia lahan rawa pasang surut


a. Bahan induk tanah, terbentuk dari bahan organik yang berasal dari
pelapukan tumbuhan dengan kedalaman bervariasi tergantung keadaan
topografi tanah mineral di bawah lapisan gambut.
b. Sifat fisik dan kimia tanah, kematangan tanah gambut di Pekauman dapat
digolongkan ke dalam gambut saprik. Subsiden atau penurunan muka
lahan di lapangan masih belum terjadi, hal ini ditunjukkan oleh perakaran
tanaman yang terlihat di atas permukaan lahan.
c. Keracunan dan kekahatan hara, tanah gambut di Pekauman sebagian besar
sudah dipergunakan sebagai aktifitas pertanian, hal ini memungkinkan
terjadinya kekahatan dan keracunan hara di tempat tersebut, namun untuk
lebih jelasnya perlu dilakukan uji kandungan unsur hara untuk
memastikannya.
d. Mikrofauna dan makrofauna tanah, makrofauna yang teridentifikasi di
rawa Pekauman adalah cacing tanah dan semut. Cacing tanah berperan

15

dalam pendekomposer bahan organik, penghasil bahan organik dari


kotorannya, memperbaiki struktur dan aerasi tanah.
e. Pengayaan dan pencemaran, pengaruh pencemaran air sungai Martapura
mengakibatkan gulma dan eceng gondok tumbuh cepat di rawa pasang
surut Pekauman Kec. Martapura Timur.
3.

Hidrologi lahan rawa pasang surut


a. Tata air; untuk lahan rawa bertipe luapan A dan B perlu adanya pengaturan
sistem aliran satu arah. Sedangkan untuk lahan yang bertipe C diperlukan
pemasangan tabat (sekat) dengan stoplog untuk menjaga permukaan air
sesuai dengan kebutuhan tanaman dan dapat digunakan sebagai
penampungan air hujan.
b. Neraca air; dapat digunakan untuk mengetahui kondisi agroklimatik
terutama dinamika kadar air tanah pada lahan rawa lebak sehingga dapat
dimanfaatkan untuk perencanaan pola tanam secara umum.

4.

Potensi lahan rawa pasang surut di Pekauman Kab. Banjar adalah sebagai
berikut :
a. Pertanian
b. Agrowisata

16

DAFTAR RUJUKAN
Alwi Muhammad. 2014. Prospek Lahan Rawa Pasang Surut untuk Tanaman Padi.
Prosiding Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi :
Banjarbaru.
B2P2SLP (Balai Besar Penelitian dan pengembangan Sumberdaya Lahan
Pertanian). 2008. Pemanfaatan dan Konservasi Ekosistem Lahan Rawa di
Kalimantan. Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian : 149 156
Mukhlis, Noor M, Alwi M et al. 2014. Biodiversitas Rawa: Eksplorasi, Penelitian
dan Pelestariannya. IAARD Press, Jakarta.
Rina D, Y dan S. Haris. 2013. Zona Kesesuaian Lahan Rawa Pasang Surut
Berbasis Keunggulan Kompetitif Komoditas. SEPA: Vol. 10 No.1 ISSN:
1829-9946.

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa Banjarbaru, Balai

Penenlitian Agriklimat dan Hidrologi. Banjarbaru.


Sudana Wayan. 2005. Potensi dan Prospek Lahan Rawa sebagai Sumbe Produksi
Pertanian. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian Vol.3 No. 2 : 141 151.

17