Anda di halaman 1dari 3

Manipulasi Amalgam

Manipulasi dari amalgam meliputi beberapa tahap yaitu proportioning and dispensing,
trituration, condensation, carving dan polishing.
Proportioning and dispensing adalah tahap awal meliputi proses penentuan perbandingan
rasio alloy/mercury dan bentuk keduanya, apakah terpisah atau sudah tercampur dalam
bentuk kapsul. Pada umumnya jika menggunakan dispenser rasio 1:1 dari paduan merkuri
akan cukup untuk lathe-cut alloy, tetapi untuk paduan spherical alloy rasio yang lebih
tinggi dibutuhkan karena luas permukaan total yang lebih rendah dari lathe-cut alloy.
Trituration merupakan tahap pencampuran alloy dan merkuri, bisa secara manual
(mortar and pestle) atau secara mekanik (menggunakan electrically powered machine).
Untuk triturasi manual menggunakan tangan, alat yang umum digunakan adalah mortar
dari kaca dan pestle berupa pengaduk dengan permukaan kasar. Rasio alloy dan merkuri
yang rendah sangat dianjurkan untuk menghasilkan hasil campuran yang efektif dan
harus diperhatikan bahwa tekanan yang diberikan tidak boleh terlalu besar untuk
menghindari terbentuknya pecahan partikel alloy yang dapat mengubah sifat dari hasil
pencampuran. Beberapa produk disarankan setidaknya selama 40 detik dilakukan triturasi
untuk mencapai partikel alloy basah secara menyeluruh. Pada teknik triturasi secara
mekanik, merkuri dan alloy dimasukkan dalam sebuah kapsul yang akan digetarkan pada
mesin yang disebut amalgamator. Waktu triturasi yang normal adalah sekitar 5-20 detik,
tergantung kecepatan yang dimiliki amalgamator. (Mc Cabe and Walls, 2008, p.191-192).
Keuntungan triturasi secara mekanik adalah
a) Hasil pencampuran yang homogen
b) waktu untuk proses triturasi lebih pendek daripada triturasi secara manual
c) dan rasio alloy dan merkuri yang lebih besar dapat digunakan
d) mengurangi adanya kontaminasi terhadap atmosfer (McCabe,2008,pp.191-192)
Sedangkan efek triturasi tergantung pada jenis logam campur amalgam, waktu
tirturasi dan kecepatan amalgamator. Over triturasi akan menyebabkan permukaan yang
mengkilat dan bentukan datar (Anusavice, 2013, p. 348)
Setelah triturasi pengurangan kandungan merkuri dari campuran sebelum kondensasi
amat penting. Hal ini biasanya dilakukan dengan menempatkan amalgam dalam kain kasa

dan meremas supaya merkuri akan muncul sebagai tetesan di luar. (McCabe, 2008, p.
192)
Setelah triturasi, hal yang dilakukan selanjutnya adalah menggunakan pistol amalgam
untuk mengambil adonan amalgam dan menempatkannya kedalam cetakan model sambil
melakukan kondensasi menggunakan kondenser (maksimal selama 4 menit) hingga
adonan padat. Kondenser yang dipakai harusnya tidak boleh terlalu kecil sehingga
menyebabkan adonan tumpah, juga tidak boleh terlalu lebar sehingga tidak dapat masuk
kedalam cetakan model. (McCabe, 2008, p. 192)
Selanjutnya, amalgam tersebut diukir (carving), tujuan carving adalah membuang lapisan
merkuri dan membentuknya sesuai dengan anatomi gigi serta mengembalikan stabilitas
kontak antar gigi. dan dihaluskan (polishing) untuk kepentingan estetik dan pencegahan
terhadap karies (McCabe, 2008, pp. 193)

Setting reaction
Reaksi yang terjadi ketika bubuk alloy dan merkuri tercampur adalah reaksi yang
kompleks. Merkuri berdifusi kedalam partikel-partikel alloy, dimana partikel-partikel yang
sangat kecil dapat larut secara menyeluruh dalam merkuri. Reaksi ini menghasilkan kristal
yang membentuk fase baru dalam amalgam yang telah setting.
Skema reaksi yang terjadi dalam amalgam alloy konvensional yaitu:
Ag3Sn + Hg

atau

+ Hg

Ag2Hg3 + SnxHg + Ag3Sn


1

+ 2

Produk primer reaksi ini adalah 1 (fase perak-merkuri) dan 2 (fase timahmerkuri). Nilai x dalam formula SnxHg bervariasi, mulai dari 7 hingga 8.
Sedangkan untuk alloy yang diperkaya dengan tembaga, reaksi yang terjadi
adalah :
Ag3Sn + Cu + Hg Ag2Hg3 + Cu6Sn5 + Ag3Sn

atau

+ Cu + Hg 1

+ Cu6Sn5 +