Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 . Latar Belakang
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (kutu), tanda khasnya
adalah adanya lesi pruritus, papul, dan terowongan yang disebabkan oleh Sarcoptes
scabiei. Tungau ini sangat kecil hanya bisa dilihat dengan mikroskop atau bersifat
mikroskopis. Parasit ini hanya dapat hidup dikulit manusia. Penyakit ini banyak
ditemukan di daerah lembab, dan menyebabkan rasa gatal yang hebat pada malam hari.
Penyakit ini mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia dan
sebaliknya. Penyakit skabies mudah menular dengan cepat pada suatu komunitas yang
tinggal bersama, sehingga dalam pengobatannya harus dilakukan secara serentak pada
lingkungan yang terserang skabies. Pengobatan skabies apabila dilakukan secara individu
maka akan mudah tertular lagi.
Faktor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah sosial ekonomi yang
rendah dan kebersihan perseorangan yang jelek, lingkungan dengan sanitasi yang tidak
bagus. Prevalensi penyakit skabies di Indonesia adalah 6-27% pada populasi umum, dan
cenderung lebih tinggi pada anak dan remaja.
1.2 . Tujuan
Tujuan dari penulisan referat ini adalah untuk mengetahui definisi, insidensi, etiologi,
epidemiologi, patofisiologi, manifestasi klinik, diagnosis, diagnosis banding, dan
penatalaksanaan dari penyakit skabies

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Skenario
LBM II
GATAL DI MALAM HARI
GATAL DI MALAM HARI

Page 1

Anak Andi, 11 tahun, laki-laki, dibawa ibunya Poli kulit RS Unizar untuk memeriksakan
diri. Menurut ibunya, pasien mengalami gatal dan muncul bercak kemerahan di sela jari
tangan, ketiak dan pantat. Keluhan dirasakan sejak 1 bulan yang lalu, bercak awalnya
timbul di sela jari tangan kemudian meluas ke tempat yang lain. Keluhan gatal dirasakan
semakin hebat pada malam hari, dan sering menyebabkan pasien terbangun. Saat ini
pasien tinggal di sebuah pesantren. Menurut pengakuan anakanya, di pesantren banyak
teman-temannya yang mengalami hal yang serua. Ini kali kedua anaknya menderita hal
seperti ini. 2 bulan yang lalu andi pernah mengalami hal seperti ini, kemudian berobat dan
sembuh. Namun sekarang kumat lagi.
Menurut orang tua pasien, sejak 2 hari terakhir pasien juga mengalami demam, dan nyeri
kepala serta keluar nanah dari sela jari dan rasa nyeri pada ketiak dan lipat paha. Keluhan
lain tidak ditemukan.
Dari hasil pemeriksaan fisik diperoleh, tanda vital T:120/80 mmHg, N:110x/mnt,
RR:22x/mnt, temp axilla: 38C, terdapat pembesaran lymphonodulli regio axilla et
inguinalis dextra-sinistra, efloresensi di regio palmar manus, axilla dan glutea tampak lesi
pacth dan papul eritematus, batas tegas,ukuran milier, susunan anular, distribusi dikrit,
dan multipel,dibeberapa tempat terdapat pus, krusta kehitaman dan ekskoriasi serta plak
eritematus berbatas tegas, fluktuatif dan nyeri pada perabaan.
2.2 Terminologi
1. Lesi Pacth: sama seperti makula, hanya ukuran >0,5 cm
2. Krusta: Suatu kelainan kulit berupa cairantubuh yang mengering pada permukaan
kulit.

Krusta serosa : berwarnakuningmudaberasaldari serum


Krusta pustulosa: berwarna kuningkehijauanberasaldari pus
Krusta Sanguilenta: berwarna gelap kecoklatam/kehitaman berasal

daridarah
Krusta medikamentosa: bekas obat tabur/betadine

3. Ekskoriasis : Suatu kelainan kulit yang disebabkan hilangnyajaringankulit


sampaidengan stratum papilare dermis. Sehinggaakantimbuldarah yang keluarselain
serum.
4. Papul: Suatu kelainan kulit berupa massa solid, penonjolan di atas permukaan kulit,
berbatas tegas, ukuran diameter 0,5 cm, (berisi sel-sel radang, proliferasi sel
setempat, deposit metabolit)
5. Plak: Suatu kelainan kulit berupa massa solid, penonjolan datar, diameter > 0,5 cm
dan bentuk konfluensi/gabungan dari papul (hingga ke lapisan epidermis)
GATAL DI MALAM HARI

Page 2

2.3 Permasalahan pada scenario


1. Anatomi dan Fisiologi, Histologi kulit
2. Mekanisme terjadinya keluhan yang dirasakan oleh pasien pada scenario
3. Diagnosa Banding pada kasus di scenario
4. Penatalaksanaan pada kasus di scenario
5. Prognosis kasus di skenario
2.4 Pembahasan
1. Anatomi dan Fisologi, Histologi Kulit
A. ANATOMI KULIT
Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama yaitu :
1. Lapisan epidermis atau kutikel
2. Lapisan dermis ( korium, kutis vera, true skin )
3. Lapisan subkutis ( hipodermis)

GATAL DI MALAM HARI

Page 3

1. Lapisan epidermis
Terdiri atas : stratum korneum, stratum lusidum, stratum granulosum, stratum
spinosum dan stratum basale.
Stratum korneum, (lapisan tanduk ) adalah lapisan kulit yang paling luar dan
terdiri atas beberapa lapis sel - sel gepeng yang mati, tidak berinti dan

protoplasmanya telah berubah menjadi keratin ( zat tanduk ).


Stratum lusidum, terdapat langsung di bawah lapisan korneum, merupakan
lapisan sel- sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah menjadi
protein yang disebut eleidin.
Lapisan tersebut tampak lebih jelas di telapak tangan dan kaki.

GATAL DI MALAM HARI

Page 4

Stratum granulosum, (lapisan keratohialin) merupakan 2 atau 3 lapis sel - sel


gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Butir butir kasar ini terdiri atas keratohialin. Mukosa biasanya tidak mempunyai lapisan

ini. Stratum garnulosum juga tampak jelas di telapak tangan dan telapak kaki.
Stratum spinosum, (stratum Malphigi ) atau disebut pula prickle cell layer
(lapisan akanta ) terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk poligonal yang
besarnya berbeda- beda karena adanya proses mitosis. Protoplasmanya jernih
karena banyak mengandung glikogen, dan inti terletak di tengah - tengah. Sel- sel
ini makin dekat ke permukaan makin gepeng bentuknya. Di antara sel- sel stratum
spinosum terdapat jembatan- jembatan antar sel ( intercelluler bridges ) yang
terdiri atas protoplasma dan tonofibril atau keratin. Perlekatan antar jembatanjembatan ini membentuk penebalan bulat kecil yang disebut nodulus Bizzozero.
Di antara sel- sel spinosum terdapat pula sel Langerhans. Sel- sel stratum

spinosum mengandung banyak glikogen.


Stratum basale terdiri atas sel- sel berbentuk kubus ( kolumnar ) yang tersusun
vertikal pada perbatasan dermo- epidermal berbaris seperti pagar (palisade).
Lapisan ini merupakan lapisan epidermis yang paling bawah. Sel- sel basal ini
mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif. Lapisan ini terdiri atas dua jenis
sel yaitu :
a. Sel- sel berbentuk kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan
besar, dihubungkan satu dengan yang lain oleh jembatan antar sel.
b. Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell merupakan sel- sel
berwarna muda, dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap, dan
mengandung butir pigmen (melanosomes).

Fungsi epidermis : Proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitokin,
pembelahan dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel
Langerhans).

GATAL DI MALAM HARI

Melanosit
Warna rambut disebabkan oleh aktivitas melanosit yang terdapat antara papilla dan
sel-sel epitel akar rambut. Sel epitel akar rambut menghasilkan pigmen yang terdapat
dalam sel-sel medulla dan korteks batang rambut. Melanosit menghasilkan dan
memindahkan melanin ke sel-sel epitel.
Sel Langerhans
Sel berbentuk bintang ini terutama ditemukan di stratum spinosum epidermis dan
mewakili 2-8% sel-sel epidermis. Sel langerhans merupakan makrofag turunan
sumsum tulang yang mampu mengikat, mengolah, memresentasikan antigen kepada
limfosit T dan sel Sel Langerhans berperan pada perangsangan sel limfosit T.
Akibatnya sel Langerhans mempunyai peran yang berarti dalam reaksi imunologi
kulit.
Sel Markel
Sel Markel biasanya terdapat dalam kulit tebal telapak tangan dan kaki yang agak
menyerupai sel epitel epidermis tetapi memiliki granula padat kecil di dalam
sitoplasmanua. Sel ini dapat berfungsi sebagai mekanoreseptor sensoris meskipun ada

GATAL DI MALAM HARI

bukti lain yang mengatakan bahwa sel ini juga memiliki fungsi yang berhubungan
dengan system neuroendokrin difus.
Aktivitas Imunologi Dalam Kulit
Karena ukurannya yang besar, kulit memiliki jumlah limfosit dan sel penyaji-antigen
(Sel Langerhans) yang sangat besar dan karena lokasinya, kulit berkontak langsung
dengan banyak molekul antigen. Itulah sebabnya epidermis mempunyai peran penting
untuk beberapa jenis respons imun. Kebanyakn limfosit yang ditemukan di kulit
menetap di dalam epidermis.

2. Lapisan dermis
Adalah lapisan di bawah epidermis yang jauh lebih tebal daripada epidermis. Lapisan ini
terdiri atas lapisan elastik dan fibrosa padat dengan elemen- elemen selular dan folikel
rambut. Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yakni :

GATAL DI MALAM HARI

a. Pars papilare, yaitu bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan
pembuluh darah.
b. Pars retikulare, yaitu bagian di bawahnya yang menonjol ke arah subkutan, bagian ini
terdiri atas serabut- serabut penunjang misalnya serabut kolagen, elastin dan retikulin.
Dasar ( matriks) lapisan ini terdiri atas cairan kental asam hialuronat dan kondroitin
sulfat, dibagian ini terdapat pula fibroblas. Serabut kolagen dibentuk oleh fibroblas,
membentuk ikatan ( bundel) yang mengandung hidroksiprolin dan hidroksisilin.
Kolagen muda bersifat lentur dengan bertambah umur menjadi kurang larut sehingga
makin stabil. Retikulin mirip kolagen muda. Serabut elastin biasanya bergelombang,
berbentuk amorf dan mudah mengembah serta lebih elastis.

GATAL DI MALAM HARI

3. Lapisan subkutis
Adalah kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel- sel lemak di
dalamnya. Sel- sel lemak merupakan sel bulat, besar dengan inti terdesak ke pinggir
sitoplasma lemak yang bertambah. Sel- sel ini membentuk kelompok yang dipisahkan
satu dengan yang lain oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan sel- sel lemak disebut
penikulus adiposa, berfungsi sebagai cadangan makanan. Di lapisan ini terdapat ujungujung saraf tepi, pembuluh darah dan getah bening. Tebal tipisnya jaringan lemak tidak
sama bergantung pada lokalisasinya. Di abdomen dapat mencapai ketebalan 3 cm, di
daerah kelopak mata dan penis sangat sedikit. Lapisan lemak ini juga merupakan
bantalan.
Vaskularisasi di kulit di atur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus yang terletak di bagian
atas dermis (pleksus superfisial) dan yang terletak di subkutis (pleksus profunda). Pleksus
yang di dermis bagian atas mengadakan anatomosis di papil dermis, pleksus yang di
subkutis dan di pars retikulare juga mengadakan anastomosis, di pembuluh darah
berukuran lebih besar. Bergandengan dengan pembuluh darah terdapat saluran getah
bening.

B. VASKULARISASI KULIT
GATAL DI MALAM HARI

Vaskularisasi di kulit di atur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus yang terletak di bagian atas
dermis ( pleksus superfisial) dan yang terletak di subkutis ( pleksus profunda ). Pleksus
yang di dermis bagian atas mengadakan anatomosis di papil dermis, pleksus yang di
subkutis dan di pars retikulare juga mengadakan anastomosis, dibagian ini pembuluh
darah berukuran lebih besar. Bergandengan dengan pembuluh darah terdapat saluran
getah bening.
C. ADNEKSA KULIT
Adneksa kulit terdiri atas kelenjer- kelenjer kulit, rambut dan kuku.
1. Kelenjer kulit
Terdapat di lapisan dermis, terdiri atas :
a. Kelenjer keringat ( glandula sudirofera)
Ada dua macam kelenjer keringat, yaitu kelenjer ekrin yang kecil- kecil, terletak
dangkal di dermis dengan sekret yang encer, dan kelenjer apokrin yang lebih
besar, terletak lebih dalam dan sekretnya lebih kental.
Kelenjer ekrin telah dibentuk sempurna pada 28 minggu kehamilan dan baru
berfungsi 40 minggu setelah kelahiran. Saluran kalenjer ini berbentuk spiral dan
bermuara langsung di permukaan kulit. Terdapat di seluruh permukaan kulit dan
terbanyak di telapak tangan dan kaki, dahi dan aksila. Sekresi bergantung pada
beberapa faktor dan dipengaruhi oleh saraf kolinergik, faktor panas dan stres
emosional.
Kelenjer apokrin dipengaruhi oleh saraf adrenergik, terdapat di aksila, aerola
mammae, pubis, labia minora dan saluran telinga luar. Fungsi apokrin pada
manusia belum jelas, pada waktu lahir kecil, tetapi pada pubertas mulai besar dan
mengeluarkan sekret. Keringat mengandung air, elektrolit, asam laktat dan
glukosa. Biasanya pH sekitar 4- 6, 8.

b. Kelenjer palit ( glandula sebasea)


GATAL DI MALAM HARI

10

Terletak dis eluruh permukaan kulit manusia kecuali di telapak tangan dan kaki.
Kelenjer palit disebut juga kelenjer holokrin karena tidak berlumen dan sekret
kelenjer ini berasal dari dekomposisi sel- sel kelenjer. Kelenjer palit biasanya
terdapat di samping akar rambut dan muaranya terdapat pada lumen akar rambut (
folikel rambut ). Sebum mengandung trigliserida, asam lemak bebas, skualen,
wax ester, dan kolesterol. Sekresi dipengaruhi oleh hormon androgen, pada anakanak jumlah kelenjer palit sedikit, pada pubertas menjadi lebih besar dan banyak
serta mulai berfungsi secara aktif.

2. Kuku
Adalah bagian terminal lapisan tanduk ( stratum korneum ) yang menebal. Bagian kuku
yang terbenam dalam kulit jari disebut akar kuku ( nail root ), bagian yang terbuka di atas
dasar jaringan lunak pada ujung jari tersebut badan kuku ( nail plate ) dan yang paling
ujung adalah bagian kuku yang bebas. Kuku tumbuh dari akar kuku keluar dengan
kecepatan tumbuh kira- kira 1 mm perminggu.
GATAL DI MALAM HARI

11

Sisi kuku agak mencekung membentuk alur kuku (nail groove ). Kulit tipis yang
menutupi kuku di bagian proksimal disebut eponikium sedang kulit yang ditutupi bagian
kuku bebas disebut hiponikium.

3. Rambut
Terdiri atas bagian yang terbenam dalam kulit ( akar rambut ) dan bagian yang berada di
luar kulit ( batang rambut ). Ada dua macam tipe rambut, yaitu lanugo yang merupakan
rambut halus, tidak mengandung pigmen dan terdapat pada bayi dan rambut terminal
yaitu rambut yang lebih kasar dengan banyak pigmen, mempunyai medula dan terdapat
pada orang dewasa.
Pada manusia dewasa selain rambut di kepala juga terdapat bulu mata, kumis dan
janggut yang pertumbuhannya dipengaruhi hormon seks ( androgen ). 2 Rambut halus di
dahi dan badan lain disebut rambut velus.
Rambut tumbuh secara siklik, dibagi menjadi 3 fase :
a. Fase anagen ( pertumbuhan)

GATAL DI MALAM HARI

12

Sel- sel matriks melalui mitosis membentuk sel- sel baru mendorong sel- sel lebih tua
ke atas. Aktivitas ini berlangsung selama 2- 6 tahun dengan kecepatan tumbuh kirakira 0, 35 mm perhari.
b. Fase katagen ( peralihan)
Masa peralihan dimulai dari penebalan jaringan ikat di sekitar folikel rambut. Bagian
tengah akar rambut menyempit dan di bagian bawahnya melebar dan mengalami
pertandukan sehingga terbentuk gada ( club ). Fase ini berlangsung selama 2- 3
minggu.
c. Fase telogen ( istirahat )
Berlangsung kurang lebih 4 bulan, rambut akan mengalami kerontokan. 50- 100
lembar rambut rontok perharinya.
Rambut normal dan sehat berkilat, elastis dan tidak mudah patah, dan dapat
menyerap air. Kompisis rambut terdiri dari atas karbon 50- 60 %, hidrogen 6, 36 %,
nitrogen 17, 14 %, sulfur 5 % dan oksigen 20, 8%. Rambut akan mudah dibentuk
dengan mempengaruhi gugusan disulfida misal dengan panas atau bahan kimia.
D. FISIOLOGI KULIT
Kulit dapat dengan mudah dilihat dan diraba, hidup, dan menjamin kelangsungan
hidup. Kulit punmenyokong penampilan dan kepribadian seseorang. Dengan demikian
kulit pada manusia mempunyai peranan yang sangat penting, selain fungsi utama yang
menjamin kelangsungan hidup juga mempunyai arti lain yaitu estetik, ras, indikator
sistemik, dan sarana komunikasi non verbal antara individu satu denga yang lain.
Fungsi utama kulit ialah proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh
(termoregulasi), pembentukan pigmen, pembentukan vitamin D dan keratinisasi.
1. Fungsi proteksi, kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau
mekanis, misalnya tekanan, gesekan, tarikan, gangguan kimiawi, misalnya zat- zat
kimia terutama yang bersifat iritan, contohnya lisol, karbol, asam dan alkali kuat
lainnya, gangguan yang bersifat panas, misalnya radiasi, sengatan ultraviolet,
gangguan infeksi luar terutama kuman atau bakteri maupun jamur.

GATAL DI MALAM HARI

13

Hal di atas dimungkinkan karena adanya bantalan lemak, tebalnya lapisan kulit dan
serabut- serabut jaringan penunjang yang berperan sebagai pelindung terhadap
ganngguan fisis.
Melanosit turut berperan dalam melindungi kulit terhadap pajanan sinar matahari
dengan mengadakan tanning. Proteksi rangsangan kimia dapat terjadi karena sifat
stratum korneum yang impermeabel terhadap berbagai zat kimia dan air, disamping
itu terdapat lapisan keasaman kulit yang melindungi kontak zat- zat kimia dengan
kulit. Lapisan keasaman kulit ini mungkin terbentuk dari hasil ekskresi keringat dan
sebum, keasaman kulit menyebabkan pH kulit berkisar pada pH 5- 6,5 sehingga
merupakan perlindungan kimiawi terhadap infeksi bakteri maupun jamur. Proses
keratinisasi juga berperan sebagai sawar (barrier) mekanis karena sel- sel mati
melepaskan diri secara teratur.
2. Fungsi absorpsi, kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda
padat, tetapi cairan yang mudah menguap lebih mudah diserap, begitupun yang larut
lemak. Permebailitas kulit terhadap O2, CO2, dan uap air memungkinkan kulit ikut
mengambil bagian pada fungsi respirasi. Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh
tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme dan jenis vehikulum.
Penyerapan dapat berlangsung melalui celah antar sel, menembus sel- sel epidermis
atau melalui muara saluran kelenjer, tetapi lebih banyak yang melalui sel epidermis
daripada melalui muara kelenjer.
3. Fungsi eksresi, kelenjer- kelenjer kulit mengeluarkan zat- zat yang tidak berguna
lagi atau sisa metabilosme tubuh berupa NaCl, urea, asam urat dan amonia. Kelenjer
lemak pada fetus atas pengaruh hormon androgen dari ibunya yang memproduksi
sebum untuk melindungi kulitnya terhadap cairan amnion, pada waktu lahir dijumpai
sebagai vernix caseosa. Sebum yang diproduksi melindungi kulit karena lapisan
sebum ini selain meminyaki kulit juga menahan evaporasi air yang berlebihan
sehingga kulit tidak menjadi kering. Produksi kelenjer lemak dan keringat di kulit
menyebabkan keasaman kulit pada pH 5- 6,5.
4. Fungsi persepsi, kulit mengandung ujung- ujung saraf sensorik di dermis dan
subkutis. Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan- badan Ruffini di dermis
dan subkutis. Terhadap dingin diperankan oleh badan- badan Krause yang terletak di
dermis. Badan taktil Meisnsner terletak di papila dermis berperan terhadap rabaan,
GATAL DI MALAM HARI

14

demikian pula badan Merkel Renvier yang terletak di epidermis. Sedangkan terhadap
tekanan diperankan oleh badan Paccini di epidermis. Saraf- saraf sensorik tersebut
lebih banyak jumlahnya di daerah yang erotik.
5. Fungsi pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), kulit melakukan peranan ini
dengan cara mengeluarkan keringat dan mengerutkan (kontraksi otot) pembuluh
darah kulit. Kulit kaya kana pembuluh darah sehingga memungkinkan kulit mendapat
nutrisi yang cukup baik. Tonus vaskular dipengaruhi oleh saraf simpatis (asetilkolin).
Pada bayi biasanya dinding pembuluh darah belum terbentuk sempurna, sehingga
terjadi ekstravasasi cairan, karena itu kulit bayi tampak lebih edematosa kerana lebih
banyak megandung air dan Na.
6. Fungsi pembentuk pigmen, sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak di lapisan
basal dan sel ini berasal dari rigi saraf. Perbandingan jumlah sel basal : melanosit
adalah 10 : 1. Jumlah melanosit dan jumlah serta besarnya butiran pigmen
(melanosomes) menentukan warna kulit ras maupun individu. Pada pulasan H.E sel
ini jernih berbentuk bulat dan merupakan sel dendrit, disebut pula sebagai clear cell.
Melanosom dibentuk oleh alat Golgi dengan bantuan enzim tirosinase, ion Cu dan O 2.
Pajanan terhadap sinar matahari mempengaruhi produksi melanosom. N ke lapisan
kulit dibawahnya dibawa oleh sel melanofag ( melanofor ). Warna kulit tidak
sepenuhnya dipengaruhi oleh pigmen kulit, melainkan juga oleh tebal tipisnya kulit,
reduksi Hb, oksi Hb dan karoten.
7. Fungsi keratinisasi, lapisan epidermis dewasa mempunyai 3 jenis sel utama yaitu
keratinosit, sel Langerhans, melanosit. Keratinosit dimulai dari sel basal mengadakan
pembelahan, sel basal yang lain akan berpindah ke atas dan berubah bentuknya
menjadi sel spinosum, makin ke atas sel menjadi makin gepeng dan bergranula
menjadi sel granulosum. Makin lama inti menghilang dan keratinosit ini menjadi sel
tanduk yang amorf. Proses ini berlangsung terus menerus seumur hidup, dan sampai
sekarang masih belum spenuhnya dimengerti.
Matolsty berpendapat mungkin keratinosit melalui proses sintesis dan degradasi
menjadi lapisan tanduk. Proses ini berlangsung normal selama kira- kira 14- 21 hari,
dan memberi perlindungan kulit terhadap infeksi secara mekanis fisiologik.
8. Fungsi pembentukan Vit D, dimungkinkan dengan mengubah 7 dihidroksi
kolesterol dengan pertolongan sinar matahari. Tetapi kebutuhan tubuh akan vitamin D

GATAL DI MALAM HARI

15

tidak cukup hanya dari hal tersebut, sehingga pemberian vitamin D sistemik masih
tetap diperlukan.

2. Mekanisme terjadinya keluhan yang dirasakan oleh pasien pada scenario


Andi, 11 tahun mengeluh mengalami gatal dan bercak kemerahan di jari tangan,
ketiak dan pantat. Mengapa bisa muncul di bagian-bagian tersebut? Di daerah tersebut
terdapat lipatan-lipatan kulit yang dapat menjadi tempat menumpuknya cairan berupa
keringat atau yang lain dan juga tempat bersembunyi nya mikroorganisme. Kulit adalah
barrier yang cukup kuat untuk menangkal masuknya mikroorganisme dari luar, tetapi
ketika terjadi perubahan kondisi kulit menjadi lebih lembab dapat menyebabkan
gangguan terhadap stratum corneum sehingga memudahkan masuknya mikroorganisme
patogen.
Selain bercak kemerahan, pasien juga mengeluhkan gatal pada bercak tersebut.
Gatal atau pruritus merupakan sebuah sensasi yang menyebabkan hasrat atau refleks
untuk menggaruk. Gatal yang berasal dari kulit dikenal sebagai pruritoceptive dan dapat
diinduksi oleh berbagai macam stimuli yaitu mekanik, kimia, termal, dan elektrik. Dalam
skenario kita ketahui bahwa terdapat bercak kemerahan yang juga merupakan salah satu
tanda dari adanya inflamasi. Mediator inflamasi seperti bradikinin, histamin serotonin (5HT) dan prostaglandin yang dikeluarkan saat adanya kondisi inflamasi pruritik atau nyeri
tidak hanya mengaktifkan reseptor gatal tetapi dapat menyebabkan sensitisasi akut
nosiseptor.
Gatal pada malam hari dapat disebabkan karena penyakit sistemik ataupun
gangguan kulit. Untuk gangguan kulit, terdapat kemungkinan besar adanya infestasi
parasit. Parasit akan lebih aktif pada waktu malam hari karena tidak adanya aktivitas dari
inang dan juga suhu tubuh menjadi lebih hangat dan kondisinya menjadi lebih lembab.
Di pesantren tempat ia tinggal juga dikatakan bahwa banyak temannya yang
menderita hal yang sama. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat suatu penyakit
menular, dapat menyebar melalui kontak langsung ataupun tidak langsung. Dan juga
diketahui bahwa Andi pernah mengalami hal ini sebelumnya tetapi sudah sembuh.
Sekarang penyakitnya kambuh kembali.
Ia juga mengalami demam dan nyeri kepala serta keluar nanah dari sela jari dan
nyeri pada ketiak dan lipat paha. Demam dan nyeri kepala merupakan salah satu efek
sistemik dari inflamasi. Mediator inflamasi terutama prostaglandin akan mempengaruhi
GATAL DI MALAM HARI

16

setpoint di hipotalamus sehingga terjadilah demam. Nyeri pada paha dan ketiak. Terdapat
kumpulan limfa nodul di bagian aksila dan juga inguinal. Kemungkinan terjadi infeksi
berat pada bagian ketiak ataupun pantat dari Andi.
3. Diagnosa Banding pada kasus di scenario
A. DERMATITIS KONTAK
1. Definisi Dermatits Kontak
Dermatitis kontak ialah dermatitis yang disebabkan oleh bahan/substansi yang
menempel pada kulit dan menyebabkan alergi atau reaksi iritasi. ruamnya terbatas
pada daerah tertentu dan seringkali memiliki batas yang tegas. Ada 2 macam
dermatitis kontak, yaitu:
2. Klasifikasi Dermatitis Kontak
1. Dermatitis Kontak Iritan
Dermatitis kontak iritan adalah suatu dermatitis kontak yang disebabkan oleh
bahan-bahan yang bersifat iritan yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan.
Dermatitis kontak iritan dibedakan menjadi 2 yaitu dermatitis kontak iritan
akut dan dermatitis kontak iritan kronik (kumulatif). Dermatitis kontak iritan
akut adalah suatu dermatitis iritan yang terjadi segera setelah kontak dengan
bahan bahan iritan yang bersifat toksik kuat, misalnya asam sulfat pekat.
Dermatitis kontak iritan kronis (Kumulatif) adalah suatu dermatitis iritan yang
terjadi karena sering kontak dengan bahan- bahan iritan yang tidak begitu
kuat, misalnya sabun deterjen, larutan antiseptik. Dalam hal ini, dengan
beberapa kali kontak bahan tadi dapat menimbulkan iritasi dan terjadilah
peradangan kulit yang secara klinis umumnya berupa radang kronik.
Etiologi
Bahan yang menyebabkan iritasi sebagian besar adalah bahan kimia, dalam
bentuk padat, cair, atau gas, ada juga yang termasuk mineral atau partikel
tumbuhan, misalnya bahan pelarut, detergen, minyak pelumas,oli, asam,
alkali, dan serbuk kayu.(4) Dalam beberapa menit kontak langsung dengan zat
kimia yang korosif dapat merusak kulit sehingga kulit tampak seperti terbakar.
Kelainan kulit yang terjadi selain ditentukan oleh ukuran molekul, daya larut,
konsentasi bahan tersebut, dan vehikulum, juga dipengaruhi oleh faktor lain
yaitu; lama kontak, kekerapan pajanan (terus-menerus atau berselang),
GATAL DI MALAM HARI

17

demikian pula gesekan dan trauma fisis, suhu, kelembaban lingkungan juga
ikut berperan.(3) Ambang batas untuk iritasi bervariasi dari satu orang ke orang
lain, faktor individu juga ikut berpengaruh pada DKI, misalnya perbedaan
ketebalan kulit di berbagai tempat menyebabkan perbedaan permeabilitas;
usia (anak di bawah 8 tahun dan usia lanjut lebih mudah teriritasi, penyakit
kulit yang pernah atau sedang dialami (ambang rangsang terhadap bahan iritan
menurun). Namun, dengan paparan yang cukup dan konsentrasi yang cukup
tinggi, semua orang rentan terhadap dermatitis kontak iritan.

Patogenesis
Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan
melalui kerja kimiawi atau fisis. Bahan iritan merusak lapisan tanduk,
denaturasi keratin, menyingkirkan lemak, lapisan tanduk, dan mengubah daya
ikat air kulit. Kebanyakan bahan iritan (toksin) merusak membran lemak,
sebagian dapat menembus membran sel dan merusak lisosom, mitokondria,
atau komponen inti. Kerusakan membran mengaktifkan fosfolipase dan
melepaskan asam arakidonat, diasilgliserida dan platelet activating factor
(PAF). Asam arakidonat diubah menjadi prostaglandin (PG) dan leukotrien
(LT). PG dan LT menginduksi vasodilatasi dan meningkatkan permeabilitas
vaskular. PG dan LT juga bertindak sebagai kemoaktratan kuat untk limfosit
dan neutrofil, serta mengaktifkan

sel mast melepaskan histamin.

Diasilgliserida dan second messenger lain menstimulasi ekspresi gen dan


sintesis protein misalnya interleukin-1 (IL-1) dan granulocyte macrophage.
GATAL DI MALAM HARI

18

IL-1 mengaktifkan sel T-penolong mengeluarkan IL-2 dan mengekspresikan


stimulasi autokrin dan proliferasi sel tersebut. Rentetan kejadian tersebut
menimbulkan gejala peradangan klasik di tempat terjadinya kontak di kulit
berupa eritema, edema, panas, nyeri, bila iritan kuat. Bahan iritan lemah akan
menimbulkan kelainan kulit setelah berulang kali kontak, dimulai dengan
kerusakan stratum korneum oleh karena delipidasi yang menyebabkan
desikasi dan kehilangan fungsi sawarnya, sehingga mempermudah kerusakan
sel di bawahnya oleh iritan.
Gejala Klinis
Kelainan kulit yang terjadi sangat beragam, bergantung pada sifat iritan. Iritan
kuat memberikan gejala akut, sedang iritan lemah memberikan gejala kronis.
Dermatitis Kontak Iritan Akut
Penyebabnya iritan kuat, biasanya karena kecelakaan dan reaksi segera
timbul. Kulit terasa pedih atau panas, eritema, vesikel, atau bula dapat
muncul. Luas kelainan umumnya sebatas daerah yang terkena dan
berbatas tegas. Penyebabnya adalah iritan kuat seperti larutan asam
sulfat dan asam hidrokloid, atau basa kuat seperti natrium dan kalium

GATAL DI MALAM HARI

19

Dermatitis Kontak Iritan Lambat


Gambaran klinis dan gejala sama dengan DKI akut, tetapi baru muncul
8 sampai 24 jam atau lebih setelah kontak. Contohnya ialah dermatitis
yang disebabkan oleh bulu serangga yang terbang pada malam hari
(dermatitis venenata); penderita baru merasa pedih esok harinya, pada
awalnya terlihat eritema dan sore harinya sudah menjadi vesikel atau
bahan nekrosis.(2)

Dermatitis Kontak Iritan Kumulatif


Jenis dermatitis kontak ini paling sering terjadi; nama lainnya ialah
DKI kronis. Penyebabnya ialah kontak berulang-ulang dengan iritan
yang lemah. Faktor fisis misalnya; gesekan, trauma mikro,
kelembaban rendah, panas atau dingin, juga bahan lain misalnya;
detergen, sabun, pelarut, tanah, bahkan juga air. DKI kumulatif/kronis
GATAL DI MALAM HARI

20

mungkin terjadi karena kerjasama berbagai faktor. Kelainan baru nyata


setelah kontak berminggu-minggu atau bulan, bahkan bisa bertahuntahun kemudian, sehingga waktu dan rentetan kontak merupakan
faktor yang sangat penting.
Gejala klasik berupa kulit kering, eritema, skuama, lambat laun kulit
tebal (hiperkeratosis) dan likenifikasi difus. Bila kontak terus
berlangsung akhirnya kulit dapat retak seperti luka iris (fisur),
misalnya pada kulit tumit tukang cuci yang mengalami kontak terus
menerus dengan detergen. Keluhan penderita umumnya rasa gatal atau
nyeri karena kulit retak, ada kalanya kelainan hanya berupa kulit
kering atau skuama tanpa eritema. DKI kumulatif sering berhubungan
dengan pekerjaan.

GATAL DI MALAM HARI

21

Diagnosis
GATAL DI MALAM HARI

22

Diagnosis DKI didasarkan anamnesis yang cermat dan pengamatan gambaran


klinis. DKI akut lebih mudah diketahui karena munculnya lebih cepat.
Sebaliknya DKI kronis timbulnya lebih lambat serta mempunyai gambaran
klinis yang luas, sehingga adakalanya sulit dibedakan dengan dermatitis
kontak alergik. Untuk ini diperlukan uji tempel dengan bahan yang dicurigai.
Pengobatan
Upaya pengobatan DKI yang terpenting adalah menghindari pajanan bahan
iritan, baik yang bersifat mekanik, fisis, maupnun kimiawi, serta
menyingkirkan faktor yang memperberat. Bila hal ini dapat dilaksanakan
dengan sempurna dan tidak terjadi komplikasi, maka DKI tersebut akan
sembuh sempurna. Apabila diperlukan untuk mengatasi peradangan dapat
diberikan kortikosteroid topical, misalnya hidrokortison atau untuk kelainan
yang kronis dapat diawali dengan kortikosteroid yang lebih kuat. Pemakaian
alat pelindung diri yag adekuat diperlukan bagi mereka yang bekerja dengan
bahan iritan, sebagai salah satu upaya pencegahan.
Prognosis
Bila bahan iritan penyebab dermatitis tersebut tidak dapat disingkirkan dengan
sempurna, maka prognosisnya kurang baik. Keadaan ini sering terjadi pada
DKI kronis yang penyebabnya multi factor, juga pada penderita atopi.

2. Dermatitis Kontak Alergi (DKA)


Dermatitis kontak alergi adalah suatu dermatitis atau peradangan kulit yang
timbul setelah kontak dengan alergen melalui proses sensitasi. Dermatitis
kontak alergi merupakan dermatitis kontak karena sensitasi alergi terhadap
substansi yang beraneka ragam yang menyebabakan reaksi peradangan pada
kulit bagi mereka yang mengalami hipersensivitas terhadap alergen sebagai
suatu akibat dari pajanan sebelumnya.
Etiologi
Penyebab dermatitis kontak alergi adalah alergen, paling sering berupa bahan
kimia dengan berat kurang dari 500-1000 Da, yang juga disebut bahan kimia
sederhana. Dermatitis yang timbul dipengaruhi oleh potensi sensitisasi
alergen, derajat pajanan, dan luasnya penetrasi di kulit.
GATAL DI MALAM HARI

23

Dermatitis kontak alergik terjadi bila alergen atau senyawa sejenis


menyebabkan reaksi hipersensitvitas tipe lambat pada paparan berulang.
Dermatitis ini biasanya timbul sebagai dermatitis vesikuler akut dalam
beberapa jam sampai 72 jam setelah kontak. Perjalanan penyakit memuncak
pada 7 sampai 10 hari, dan sembuh dalam 2 hari bila tidak terjadi paparan
ulang. Reaksi yang palning umum adalah dermatitis rhus, yaitu reaksi alergi
terhadap poison ivy dan poison cak. Faktor predisposisi yang menyebabkan
kontak alergik adalah setiap keadaan yang menyebabkan integritas kulit
terganggu, misalnya dermatitis statis.
Patogenesis
Mekanisme terjadinya kelainan kulit pada dermatitis kontak alergi adalah
mengikuti respons imun yang diperantarai oleh sel (cell-mediated immune
respons) atau reaksi tipe IV. Reaksi hipersensititas di kullit timbulnya lambat
(delayed hipersensivitas), umumnya dalam waktu 24 jam setelah terpajan
dengan alergen.
Sebelum seseorang pertama kali menderita dermatitis kontak alergik, terlebih
dahulu mendapatkan perubahan spesifik reaktivitas pada kulitnya. Perubahan
ini terjadi karena adanya kontak dengan bahan kimia sederhana yang disebut
hapten yang terikat dengan protein, membentuk antigen lengkap. Antigen ini
ditangkap dan diproses oleh makrofag dan sel langerhans, selanjutnya
dipresentasikan oleh sel T. Setelah kontak dengan antigen yang telah diproses
ini, sel T menuju ke kelenjar getah bening regional untuk berdiferensisi dan
berploriferasi memebneetuk sel T efektor yang tersensitisasi secara spesifik
dan sel memori. Sel-sel ini kemudian tersebar melalui sirkulasi ke seluruh
tubuh, juga sistem limfoid, sehingga menyebabkab keadaan sensivitas yang
sama di seluruh kulit tubuh. Fase saat kontak pertama sampai kulit menjadi
sensitif disebut fase sensitisasi yang berlangsung selama 2-3 minggu.

GATAL DI MALAM HARI

24

Reaksi sensitisasi ini dipengaruhi oleh derajat kepekaan individu, sifat sensitisasi
alergen (sensitizer), jumlah alergen, dan konsentrasi. Sensitizer kuat mempunyai
fase yang lebih pendek, sebaliknya sensitizer lemah seperti bahan-bahan yang
dijumpai pada kehidupan sehari-hari pada umumnya kelainan kulit pertama
muncul setelah lama kontak dengan bahan tersebut, bisa bulanan atau tahunan.
Sedangkan periode saat terjadinya pajanan ulang dengan alergen yang sama atau
serupa sampai timbulnya gejala klinis disebut fase elisitasi umumnya berlangsung
antara 24-48 jam.
Gejala Klinis
Penderita umumnya mengeluh gatal. Kelainan kulit bergantung pada keparahan
dermatitis dan lokasinya. Pada yang akut dimulai dengan bercak eritematosa yang
berbatas jelas kemudian diikuti edema, papulovesikel, vesikel atau bula. Vesikel
atau bula dapat pecah menimbulkan erosi dan eksudasi (basah). DKA akut
ditempat tertentu, misalnya kelopak mata, penis, skrotum, eritema dan edema
lebih dominan daripada vesikel. Pada yang kronis terlihat kulit kering, berskuama,
papul, likenifikasi, dan mungkin juga fisur, batasnya tidak jelas. Kelainan ini sulit
dibedakan dengan dermatitis kontak iritan kronis (DKI). DKA dapat meluas
ketempat lain misalnya dengan autosensitisasi.

GATAL DI MALAM HARI

25

Diagnosis
Diagnosis didasarkan atas hasil anamnesis yang cermat dan pemeriksaan klinis
yang teliti. Pertanyaan mengenai kontaktan yang dicurigai didasarkan oleh
kelainan kulit yang ditemukan. Data yang berasal dari anamnesis juga meliputi
riwayat pekerjaan, hobi, obat topikal yang pernah digunakan, obat sistemik,
kosmetika, bahan-bahan yang diketahui dapat menimbulkan alergi, penyakit kulit
yang pernah dialami, riwayat atopi baik dari yang bersangkutan maupun dari
keluarganya. Pada pemeriksaan fisik dilihat lokasi dan pola kelainan kulit.
Pengobatan
Hal yang terpenting dalam penanganan DKA adalah upaya pencegahan
terulangnya kontak kembali dengan alergen penyebab dan menekan kelainan kulit
yang timbul. Kortikosteroid dapat diberikian dalam jangka pendek untuk
mengatasi peradangan akut yang ditandai dengan eritema, edema, vesikel, atau
bula serta eksudatif (madidans), misalnya prednisone 30 mg/hari.

GATAL DI MALAM HARI

26

Untuk dermatitis kontak alergik yang ringan, atau dermatitis akut yang telah
mereda (setelah mendapat pengobatan kortikesteroid sistemik), cukup diberikan
kortikosteroid topikal. Secara bertahap, dapat diakukan hal-hal dibawah ini :
1. Identifikasi agen-agen penyebab dan jauhkanlah pasien dari paparan,
2.

walaupun seringkal hal ini sukar, khususnya pada kasus kronik.


Tindakan simtomatik untuk mengontrol rasa gatal dengan penggunaaan
tunggal atau dalam bentuk kombinasi:
Antihistamin oral
Hidroksizin hidroklorida 10-50 mg setiap 6 jam bilamana perlu.
Losio topikal yang mengandung menol, fenol, atau premoksin
sangat berguna untuk meringankan rasa gatal sementara, dan tidak
mensensitisasi.
Kortikosteroid topikal, berguna bila daerah yang terkena terbatas atau
bila kortikosteroid oral merupakan kontraindikasi. Kortikosteroid
topikal poten diperlukan untuk mengurangi reaksi dermatitis kontak
alergi.
Kortikosteroid oral : berguna untuk dermatitis kontak alergik
sistemik

atau yang mengenai wajah atau pada kasus di man rasa

gatal tidak dapat dikontrol dengan tindakan-tindakan lokal.


Obati setiap infeksi bakteri sekunder.
Perintahkan pasien untuk tidak menggunakan obat bebas, misalnya
benadril topikal atau benzokain topikal. Obat-obat tersebut dapat
menyebabkan reaksi alergi atau iritasi tambahan.
B. PEDIKULOSIS KORPORIS
Infestasi yang disebabkan oleh Pediculus humanus var.humanus yang bersifat
transien pada kulit tubuh (punggung, leher, danbahu) untuk mengisap darah,
kemudian menetap pada serat kapas di sela-sela lipatan pakaian. Sering terjadi pada
orang yg jarang mandi atau hidup dalam lingkungan yang rapat serta tidak pernah
mengganti bajunya. Sinonim : pediculosis corporis, body lyce, clothing lice
Etiopatogenesis
Pediculus humanus humanus betina mempunyai ukuran panjang 1,2-4,2 mm dan
lebar kira-kira setengah panjangnya, sedangkan jantan relatif lebih kecil. Siklus
hidup sama dengan pedikulosis pada kepala. Penyakit ini lebih menyerang dewasa
terutama pada orang dengan hygiene buruk, misalnya pengembala karena mereka
GATAL DI MALAM HARI

27

jarang mandi dan jarang mengganti dan mencuci pakaian, karena itu penyakit ini
sering disebut Vagabond. Hal ini disebabkan kutu tidak melekat pada kulit, tetapi
pada serat kapas di sela-sela lipatan pakaian dan hanya transien ke kulit untuk
menghisap darah. Penyakit ini bersifat kosmopolit, lebih sering pada daerah beriklim
dingin karena orang memakai baju tebal dan baju jarang dicuci. Keadaan kumuh
padat & tidak tersanitasi. Kutu badan sekitar 30% lebih besar daripada kutu kepala,
namun mempunyai morfologi yang sama. Kutudapat ditemukan pada pakaian yang
kontak dengan leher, aksila, dan setinggi pinggang ataupun

tempat tidur yang

terkontaminasi. Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk


menghilangkan gatal. Gatal ditimbulkan oleh liur dan eksreta kutu yang dikeluarkan
ke kulit sewaktu menghisap darah.
Kriteria Diagnosis
A. Klinis
Pedikulosis korporis
Umumnya hanya ditemukan kelainan berupa gatal dan bekas garukan pada
badan (punggung, leher, danbahu).Klinis berupa pinpoint red macule,
papulaeritematosa, krusta, dan ekskoriasi
B. Pemeriksaan penunjang
Pedikulosis korporis
Mencari telur atau bentuk dewasa. Caranya dengan menemukan kutu atau telur
pada serat kapas pakaian
Penatalaksanaan
PRINSIP :
1
2
3
4

Memusnahkan semua kutu


Mencegah resistensi kutu terhadap obat
Mengurangi resiko reinfeksi
Mengatasi infeksi sekunder

Pedikulosis korporis
a. Desinfestasi kasur, dengan lice spray karena kutu dapat meletakkan kutunya
pada sela-sela matras. Pakaian sebaiknya dibuang. Pasien harus diterapi
dari kepala hingga kaki dengan insektisida dan ivermectin oral seperti
GATAL DI MALAM HARI

28

pengobatan untuk skabies.


b. Jika ada infeksi sekunder bisa diberikan antibiotik sistemik atau topikal.
C. PRURIGO
Prurigo merupakan penyakit kulit kronik dengan keluhan gatal, berupa papula.
Predileksinya pada daerah bagian bawah pantat, ekstremitas, terutama bagian
kubiti.
Prurigo ialah erupsi papular kronik dan rekurens. Terdapat berbagai macam prurigo, yang
tersering terlihat ialah prurigo Hebra. Disusul oleh prurigo nodularis. Sedangkan yang
lain jarang dijumpai. Istilah prurigo menunjuk pada suatu lesi kulit sangat gatal yang
sampai kini belum diketahui penyebab pastinya. Penyakit ini biasanya dianggap sebagai
salah satu penyakit kulit yang paling gatal dan lesinya dapat diikuti dengan timbulnya
penebalan dan hiperpigmentasi pada kulit tersebut. KOCSARD pada tahun 1962
mendefinisikan prurigo papul sebagai papul yang berbentuk kubah dengan vesikel
pada puncaknya. Vesikel hanya terdapat dalam waktu yang singkat saja, karena segera
menghilang akibat garukan, sehingga yang tertinggal hanya papul yang berkrusta. Papul
berkrusta lebih sering terlihat dibandingkan papul primer dengan puncak vesikel.
Likenifikasi hanya terjadi sekunder akibat proses kronik. La membagi prurigo
menjadi 2 kelompok: yaitu prurigo simplex dan dermatosis pruriginosa. Namun terdapat
juga bentuk prurigo lain yang juga terdeteksi secara klinis, yaitu prurigo nodularis
(tergolong dalam neurodermatitis), prurigo pigmentosa, dan prurigo aktinik.
PRURIGO SIMPLEKS
Nama lain dari prurigo simpleks adalah Prurogo Mitis. Jika warnanya lebih gelap, dapat
disebut prurigo pigmentosa.
Manifestasi Klinis
Gambaran klinis dapat bervariasi. Lesi biasanya muncul dalam kelompok-kelompok,
sehingga papul-papul, vesikel-vesikel dan jaringan-jaringan parut sebagai tingkat

GATAL DI MALAM HARI

29

perkembangan penyakit terakhir dapat terlihat pada saat yang bersamaan. Tampak
terdistribusi simetris, kecil, gatal yang terus menerus, dan terlihat sebagai papul beratap
seperti kubah dan kadang terdapat lepuh. Gatal yang parah dapat membuat pasien terus
menggaruk sehingga memberikan gambaran papul yang ekskoriasi disertai likenifikasi atau
penebalan pada kulit. Dapat menyebabkan stres karena rasa sangat gatal hingga sering
membuat sulit tidur.
Beberapa variasi prurigo pemah dilaporkan. Prurigo melanotik Pierini dan Borda terjadi
pada wanita usia pertengahan berupa pruritus bersamaan dengan sirosis biliaris primer.
Lesi berupa hiperpigmentasi retikular, sangat gatal, terutama mengenai badan. Prurigo
kulit kepala yang berambut dapat terjadi secara sendiri atau bersama-sama dengan lesi
prurigo di tempat lain.

DERMATOSIS PRURIGINOSA
Pada kelompok penyakit ini prurigo papul terdapat bersama-sama dengan urtika,
infeksi piogenik, tanda-tanda bekas garukan, likenifikasi dan eksematisasi. Termasuk
dalam kelompok penyakit ini antara lain, ialah : strofulus, prurigo kronik multiformis
Lutz, dan prurigo Hebra.

GATAL DI MALAM HARI

30

Prurigo Hebra

Prurigo Nodularis

GATAL DI MALAM HARI

31

Prurigo Pigmentosa

4. Diagnosis Suspect Pada Kasus di Skenario


SCABIES
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi
terhadap tungau Sarcoptes scabiei varietas hominis. Sarcoptes scabiei ini dapat ditemukan
di dalam terowongan lapisan tanduk kulit pada tempat-tempat predileksi. Banyak faktor
yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain keadaan sosial ekonomi yang
rendah, higiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas, kesalahan
diagnosis dan perkembangan dermografik seperti keadaan penduduk dan ekologik.
Penyakit ini juga dapat dimasukkan dalam Infeksi Menular Seksual (IMS).
Etiologi
Penyebab penyakit skabies sudah dikenal lebih dari 100 tahun yang lalu sebagai akibat
infestasi tungau yang dinamakan Acarus scabiei dan Sarcoptes scabiei varian hominis.
Sarcoptes scabiei termasuk kedalam filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima,
superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Kutu ini
khusus menyerang dan menjalani siklus hidupnya dalam lapisan tanduk kulit manusia.
Selain itu terdapat S. scabiei yang lain, yakni varian animalis. Sarcoptes scabiei varian
animalis menyerang hewan seperti anjing, kucing, lembu, kelinci, ayam, itik, kambing,
macan, beruang dan monyet. Sarcoptes scabiei varian hewan ini dapat menyerang
manusia yang pekerjaannya berhubungan erat dengan hewan tersebut diatas, misalnya
peternak, gembala, dll. Gejalanya ringan, sementara, gatal kurang, tidak timbul
terowongan-terowongan, tidak ada infestasi besar dan lama serta biasanya akan sembuh
sendiri bila menjauhi hewan tersebut dan mandi yang bersih.
GATAL DI MALAM HARI

32

Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya


cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna putih kotor dan tidak
bermata. Ukurannya, yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron,
sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk
dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai alat untuk melekat dan
2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan
pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat
yang dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 1. Tungau Scabies Betina


Tungau skabies tidak dapat terbang namun dapat berpindah secara cepat saat kontak kulit
dengan penderita. Tungau ini dapat merayap dengan kecepatan 2,5 cm 1 inch per menit
pada permukaan kulit. Belum ada studi mengenai waktu kontak minimal untuk dapat
terjangkit penyakit skabies namun dikatakan jika ada riwayat kontak dengan penderita,
maka terjadi peningkatan resiko tertular penyakit skabies.
Yang menjadi penyebab utama gejala gejala pada skabies ini ialah Sarcoptes
scabiei betina. Bila tungau betina telah mengandung (hamil), ia membuat terowongan
pada lapisan tanduk kulit dimana ia meletakkan telurnya. 2 Untuk lebih memahaminya,
berikut siklus hidup tungau ini. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit,
yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam
terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi, menggali
GATAL DI MALAM HARI

33

terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari dan sambil
meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk
betina yang dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telur akan menetas, biasanya
dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat
tinggal dalam terowongan tetapi dapat juga ke luar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi
nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus
hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari
tetapi ada juga yang menyebutkan selama 8-17 hari. Studi lain menunjukkan bahwa
lamanya siklus hidup dari telur sampai dewasa untuk tungau jantan biasanya sekitar 10
hari dan untuk tungau betina bisa sampai 30 hari. Berikut dipaparkan gambar siklus hidup
skabies.

Gambar 2. Siklus Hidup Tungau Skabies


Tungau betina ini dapat hidup lebih lama dari tungau jantan yaitu hingga lebih
dari 30 hari. Tungau skabies ini umumnya hidup pada suhu yang lembab dan pada suhu
kamar (210C dengan kelembapan relatif 40-80%) tungau masih dapat hidup di luar tubuh
hospes selama 24-36 jam.
Sarcoptes scabiei varian hominis betina, melakukan seleksi bagian-bagian tubuh
mana yang akan diserang, yaitu bagian-bagian yang kulitnya tipis dan lembab, seperti di
lipatan-lipatan kulit pada orang dewasa, sekitar payudara, area sekitar pusar dan penis.
GATAL DI MALAM HARI

34

Pada bayi-bayi karena seluruh kulitnya tipis, telapak tangan, kaki. Wajah dan kulit kepala
juga dapat diserang. Tungau biasanya memakan jaringan dan kelenjar limfe yang
disekresi dibawah kulit. Selama makan, mereka menggali terowongan pada stratum
korneum dengan arah horizontal. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan beberapa
ahli memperlihatkan bahwa tungau skabies khususnya yang betina dewasa secara selektif
menarik beberapa lipid yang terdapat pada kulit manusia. lipid tersebut diantaranya
adalah asam lemak jenuh odd-chain-length (misalnya pentanoic dan lauric) dan tak
jenuh(misalnya oleic dan linoleic) serta kolesterol dan tipalmitin. Hal tersebut
menunjukkan bahwa beberapa lipid yang terdapat pada kulit manusia dan beberapa
mamalia dapat mempengaruhi baik insiden infeksi maupun distribusi terowongan tungau
di tubuh. Bila telah terbentuk terowongan maka tungau dapat meletakkan telur setiap
hari. Tungau dewasa meletakkan baik telur maupun kotoran pada terowongan dan analog
dengan tungau debu, tampaknya enzim pencernaan pada kotoran adalah antigen yang
penting untuk menimbulkan respons imun terhadap tungau skabies.
Patogenesis
Sarcoptes scabiei dapat menyebabkan reaksi kulit yang berbentuk eritem, papul
atau vesikel pada kulit dimana mereka berada. Timbulnya reaksi kulit disertai perasan
gatal. Masuknya S. scabiei ke dalam epidermis tidak segera memberikan gejala pruritus.
Rasa gatal timbul 1 bulan setelah infestasi primer serta adanya infestasi kedua sebagai
manifestasi respons imun terhadap tungau maupun sekret yang dihasilkan terowongan di
bawah kulit. Tungau skabies menginduksi antibodi IgE dan menimbulkan reaksi
hipersensitivitas tipe cepat. Lesi-lesi di sekitar terowongan terinfiltrasi oleh sel-sel
radang. Lesi biasanya berupa eksim atau urtika, dengan pruritus yang intens, dan semua
ini terkait dengan hipersensitivitas tipe cepat. Pada kasus skabies yang lain, lesi dapat
berupa urtika, nodul atau papul, dan ini dapat berhubungan dengan respons imun
kompleks berupa sensitisasi sel mast dengan antibodi IgE dan respons seluler yang
diinduksi oleh pelepasan sitokin dari sel Th2 dan/atau sel mast.
Di samping lesi yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei secara langsung, dapat
pula terjadi lesi-lesi akibat garukan penderita sendiri.2 Dengan garukan dapat timbul
erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder.
Beberapa Bentuk Skabies
GATAL DI MALAM HARI

35

Terkadang diagnosis skabies sukar ditegakkan karena lesi kulit bisa bermacammacam. Selain bentuk skabies yang klasik, terdapat pula bentuk-bentuk khusus skabies
antara lain :
a. Skabies Nodula
Bentuk ini sangat jarang dijumpai dan merupakan suatu bentuk hipersensitivitas
terhadap tungau skabies, dimana pada lesi tidak ditemukan Sarcoptes scabiei. Lesi
berupa nodul yang gatal, merah cokelat, terdapat biasanya pada genitalis laki-laki,
inguinal

dan

ketiak

yang

dapat

menetap

selama

berbulan-bulan.

Untuk

menyingkirkan dengan limfoma kulit diperlukan biopsi. Bentuk ini juga terkadang
mirip dengan beberapa dermatitis atopik kronik. Apabila secara inspeksi, kerokan
atau pun biopsi tidak jelas, maka penegakan diagnosis dapat melalui adanya riwayat
kontak dengan penderita skabies atau lesi membaik denngan pengobatan khusus
untuk skabies.
b. Skabies Incognito
Seperti semua bentuk dermatitis yang meradang, skabies juga memberi respons
terhadap pengobatan steroid baik topikal maupun sistemik. Pada kebanyakan kasus,
skabies menjadi lebih parah dan diagnosis menjadi lebih mudah ditegakkan. Tetapi
pada beberapa kasus, pengobatan steroid membuat diagnosis menjadi kabur, dan
perjalanan penyakit menjadi kronis dan meluas yang sulit dibedakan dengan bentuk
ekzema generalisata. Penderita ini tetap infeksius, sehingga diagnosis dapat
ditegakkan dengan adanya anggota keluarga lainnya.
c. Skabies Pada Bayi
Skabies pada bayi dapat menyebabkan gagal tumbuh atau menjadi ekzema
generalisata. Lesi dapat mengenai seluruh tubuh termasuk kepala, leher, telapak
tangan dan kaki. Pada anak-anak seringkali timbul vesikel yang menyebar dengan
gambaran suatu impetigo atau infeksi sekunder oleh Staphylococcus aureus yang
menyulitkan penemuan terowongan.

GATAL DI MALAM HARI

36

Gambar 3. Skabies pada Bayi (regio Pedis)

Gambar 4. Skabies Pada masa kanak-kanak (regio palmaris)


d. Skabies Norwegia
Skabies jenis ini sering disebut juga skabies berkrusta (crusted scabies) yang
memiliki karakteristik lesi berskuama tebal yang penuh dengan infestasi tungau.
Istilah skabies Norwegia merujuk pada Negara yang pertama mendeskripsikan
kelainan ini yang kemudian diganti dengan istilah skabies berkrusta. Bentuk lesi jenis
skabies ini ditandai dengan dermatosis berkrusta pada tangan dan kaki, pada kuku dan
kepala. Penyakit ini dikaitkan dengan penderita yang memiliki defek imunologis
misalnya usia tua, debilitas, disabilitas pertumbuhan, contohnya seperti sindrom
Down, juga pada penderita yang mendapat terapi imunosupresan. Tidak seperti
skabies pada umumnya, penyakit ini dapat menular melalui kontak biasa. Masih
belum jelas apakah hal ini disebabkan jumlah tungau yang sangat banyak atau karena
galur tungau yang berbeda. Studi lain menunjukkan pula bahwa transmisi tidak
langsung seperti lewat handuk dan pakaian paling sering menyebabkan skabies
berkrusta. Terapi yang dapat diberikan selain skabisid adalah terapi suportif dan
antibiotik. Berikut dipaparkan gambaran skabies berkrusta.

GATAL DI MALAM HARI

37

Gambar 5. Skabies berkrusta pada regio abdomen


e. Skabies Pada Penderita HIV/AIDS
Gejala skabies pada umumnya tergantung pada respons imun, karena itu tidak
mengherankan bahwa spektrum klinis skabies penderita HIV berbeda dengan
penderita yang memiliki status imun yang normal. Meskipun data yang ada masih
sedikit, tampaknya ada kecenderungan bahwa penderita dengan AIDS biasanya
menderita bentuk skabies berkrusta (crusted scabies). Selain itu, skabies pada
penderita AIDS biasanya juga menyerang wajah, kulit, dan kuku dimana hal ini
jarang didapatkan pada penderita status imunologi yang normal.
Gambaran klinis yang tidak khas ini kadang membingungkan dengan diagnosis
penyakit Darier White atau keratosis folikularis yaitu suatu penyakit dengan lesi
popular yang berskuama pada area seboroik termasuk badan, wajah, kulit kepala dan
daerah lipatan. Skabies juga harus dipikirkan sebagai diagnosis banding penderita
AIDS dengan lesi psoriasiform, yang terkadang didiagnosis sebagai ekzema. Pada
penderita dengan status imunologi yang normal, pruritus merupakan tanda khas,
sedangkan pada beberapa penderita AIDS, pruritus tidak terlalu dirasakan. Hal ini
mungkin disebabkan status imun yang berkurang dan kondisi ini berhubungan dengan
konversi penyakit menjadi bentuk lesi berkrusta.
Seperti pada penderita umumnya, lesi skabies berkrusta pada penderita AIDS
mengandung tungau dalam jumlah besar dan sangat menular. Beberapa kasus
penularan nosokomial kepada penderita lain dan juga petugas kesehatan pernah
dilaporkan. Pada penderita AIDS, skabies berkrusta juga berhubungan dengan
bakteremia, yang biasanya disebabkan oleh S. aureus, dan Streptococcus grup A,
Streptococcus

grup lain bakteri gram negatif seperti Enterobacter cloacae dan


GATAL DI MALAM HARI

38

Pseudomonas aeroginosa.

Sebagian ahli menyarankan pemberian antibiotika

profilaksis pada penderita AIDS dengan skabies untuk mencegah sepsis sedangkan
sebagian lain menganjurkan tindakan yang tepat ada dengan pengawasan ketat.
Gejala Klinis
Ada 4 tanda kardinal yang dapat membantu menegakkan diagnosa,
diantaranya adalah:
1. Pruritus nokturna, yaitu gatal pada malam hari disebabkan karena
aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lembab dan panas
sehingga mengganggu penderita.
2. Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam
sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi.
Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya,
sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau
tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota
keluarganya terkena. Walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi
tidak memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa
(carrier).
3. Adanya gambaran lesi yang spesifik berupa terowongan yang dapat
lurus atau berkelok-kelok, akibat pergerakan tungau pada stratum
korneum, panjang + 1 cm, berwarna keabu-abuan dengan vesikel di
ujungnya. Tetapi terowongan ini sulit sekali untuk ditemukan karena
biasanya telah terjadi ekskoriasi akibat garukan. Tempat predileksi
biasanya pada daerah stratum korneum yang tipis, yaitu : di sela-sela
jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipatan
ketiak bagian depan, areola mammae, lipatan glutea, umbilikus
bokong, genetalia eksterna, dan perut bawah. Pada bayi dapat
menyerang telapak tangan dan telapak kaki, bahkan seluruh
permukaan kulit. Pada remaja dan orang dewasa timbul pada kulit
kepala dan wajah.

GATAL DI MALAM HARI

39

Gambar 1.2 Kelainan pada skabies


4. Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat
ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.
Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal
tersebut.
Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang
tipis, yaitu : sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian
luar, lipat ketiak bagian depan, areola mamae (wanita), umbilikus, bokong,
genitalia eksterna (pria), dan perut bagian bawah. Skabies jarang ditemukan di
telapak tangan, telapak kaki, dibawah kepala dan leher namun pada bayi dapat
menyerang telapak tangan dan telapak kaki. Berikut dipaparkan gambaran tempat
predileksi skabies.

Gambar 1.3. Tempat Predileksi Skabies


Diagnosis
Diagnosis klinik cukup ditegakkan dengan :
1. Riwayat gatal pada malam hari.
2. Keluarga atau teman dekat yang sakit seperti penderita.
GATAL DI MALAM HARI

40

3. Didapatkan effloresensi polimorf di tempat-tempat predileksi.


Diagnosis pasti bila didapatkan :

Sarcoptes scabiei atau telurnya pada sediaan langsung dengan


mengorek dasar vesikula atau pustula atau terowongan ditambah

beberapa tetes gliserin atau minyak emersi.


Atau dapat juga dengan ditemukannya Sarcoptes scabiei pada
pemeriksaan histopatologi.

Cara menemukan tungau :


1. Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung yang terlihat papul atau
vesikel dicongkel dengan jarum dan diletakkan di atas sebuah kaca obyek, lalu
ditutup dengan kaca penutup dan dilihat dengan mikroskop cahaya.
2. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung di ats selembar kertas
putih dan dilihat dengan kaca pembesar.
3. Dengan membuat biopsi irisan. Caranya : lesi dijepit dengan 2 jari kemudian
dibuat irisan tipis dengan pisau dan diperiksa dengan mikroskop cahaya.
4. Dengan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan H.E.
Jadi dari hasil diskusi kami, kami menyimpulkan dari tanda UKK dan gejala pada kasus
di skenario, diagnosa sementara kami Scabies.
5. Penatalaksanaan pada kasus di scenario
Penatalaksanaan pengobatan penyakit ini sebaiknya memenuhi syarat pengobatan
yang ideal yaitu efektif terhadap semua stadium tungau, tidak menimbulkan iritasi dan
tidak toksik, tidak berbau dan kotor, tidak merusak atau mewarnai pakaian, mudah
diperoleh dan harganya murah.
1. Non medikamentosa.
a. Semua baju dan alat-alat tidur dicuci dengan air panas dan setrika panas serta
mandi dengan sabun.
b. Semua anggota keluarga atau orang seisi rumah yang kontak dengan penderita
harus diperiksa dan bila menderita scabies diobati bersamaan agar tidak terjadi
penularan kembali.

GATAL DI MALAM HARI

41

2. Medikamentosa
Obat-obatan yang terbukti efektif adalah :
a. Sulfur presipitatum dengan kadar 4 20 % dalam bentuk salep atau krim.
Preparat ini karena tidak efektif terhadap stadium telur, maka penggunaannya
tidak boleh kurang dari 3 hari. Obat ini dioleskan malam hari selama 3 malam
berturut-turut. Kekurangannya yang lain ialah berbau dan mengotori pakaian,
kadang-kadang dapat menimbulkan iritasi. Dapat dipakai pada bayi berumur
kurang dari 2 tahun atau aman untuk bayi dan anak-anak.
b. Emulsi benzil-benzoas (20 25 %), efektif terhadap semua stadium. Diberikan
setiap malam selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh dan sering menyebabkan
iritasi, kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
c. Gama benzena heksa klorida (gameksan = gammexane) kadarnya 1 % dalam krim
atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium, mudah
digunakan, dan jarang menyebabkan iritasi. Obat ini tidak dianjurkan pada anak
dibawah 6 tahun dan wanita hamil karena toksik terhadap susunan saraf pusat.
Pemberiannya cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala diulangi seminggu
kemudian. Untuk lotion dioleskan seluruh tubuh dan dibiarkan + 8 jam.
d. Krotamiton 10 % dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan, mempunyai
dua efek sebagai antiskabies dan antigatal, harus dijauhkan dari mata, mulut, dan
uretra. Obat ini hanya menyembuhkan 50 60 % penderita. Dioleskan 2 malam
berturut-turut dan dibilas setelah 24 jam.
e. Permetrin dengan kadar 5 % dalam krim, aplikasi hanya sekali dan dihapus
setelah 10 jam. Dioleskan mulai dari leher ke bawah dan dicuci + 8 jam
kemudian. Bila pada pengolesan pertama belum sembuh, dapat diulangi 1 minggu
kemudian. Merupakan pyrethroid sintetik yang dapat mematikan tungau dan
toksisitas rendah pada manusia. Tidak dianjurkan pada bayi dibawah umur 2
bulan.
f. Keluhan gatal dapat diberi antihistamin, jika terdapat infeksi sekunder diberikan
antibiotika. Pada kasus skabies yang berat atau resisten terhadap pengobatan

GATAL DI MALAM HARI

42

dengan obat topikal dapat diberikan obat oral ivermectin 200 g/kgBB dosis
tunggal dan dapat diulangi dalam 10 14 hari.
Pencegahan
Individu yang sering kontak dengan penderita harus di terapi dengan obat skabies
topikal.Pengobatan harus diarahkan untuk mencegah penyebaran skabies karena setiap
orang mungkin menyimpan tungau dari skabies selama periode inkubasi asimtomatik.
Untuk mencegah infeksi berulang maka semua baju, alat-alat tidur, handuk yang
digunakan 5 hari terakhir harus dicuci dengan air panas dan disetrika panas serta mandi
dengan sabun.
6. Prognosis
Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta syarat
pengobatan dan menghilangkan faktor prediposisi (antara lain higiene), maka penyakit ini
dapat diberantas dan memberikan prognosis yang baik. Oleh karena manusia merupakan
penjamu (hospes) definitif, maka apabila tidak diobati dengan sempurna, Sarcoptes
scabiei akan tetap hidup tumbuh pada manusia.

GATAL DI MALAM HARI

43

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan
Jadi dari hasil diskusi kami, pasien pada skenario terkena penyakit Scabies yang
dimana, Scabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infestasi dan
sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei var, hominis dan produknya. tanda khasnya
adalah adanya lesi pruritus, papul, dan terowongan yang disebabkan oleh Sarcoptes
scabiei. Tungau ini sangat kecil hanya bisa dilihat dengan mikroskop atau bersifat
mikroskopis. Parasit ini hanya dapat hidup dikulit manusia. Penyakit ini banyak
ditemukan di daerah lembab, dan menyebabkan rasa gatal yang hebat pada malam
hari. Penyakit ini mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia
dan sebaliknya. Penyakit skabies mudah menular dengan cepat pada suatu komunitas
yang tinggal bersama, sehingga dalam pengobatannya harus dilakukan secara
serentak pada lingkungan yang terserang skabies. Pengobatan skabies apabila
dilakukan secara individu maka akan mudah tertular lagi.

3.2.

Saran
Semoga pembuatan dari laporan ini berguna kedepannya.

GATAL DI MALAM HARI

44

DAFTAR PUSTAKA

1. Djaunda Adhi. Skabies. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima. Fakultas
Kedokteran UI.Jakarta.2007.
2. Siregar R.S. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. EGC. Jakarta.
3. American Journal of Dermatopathology. (cited October 19,2015) Available at
http://histopathology/Prurigo.htm
4. Leone, P. Scabies And Pediculosis : An Update Of Treatment Regiments And General
Review. Oxford Journals 2007
5. Elizbeth,J,Korwin.2009.Buku Saku Patofisiologi. Edisi 3.Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
6. Sherwood, L. 2011. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2. Jakarta: EGC
7. Snell, Richard S. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakarta: EGC

GATAL DI MALAM HARI

45