Anda di halaman 1dari 9

1.

Apa perbedaan asites pada pasien keganasan


dan non keganasan baik secara klinis
maupun histopatologi

Gambaran klinis yang khas dari ascites adalah distensi abdomen.Namun kadangkadang
distensi abdomen dapat disebabkan oleh keadaan lain seperti distensi oleh udara, retensi
fecal, masa tumor, perdarahan peritoneal, distensi bladder yang ekstrim, kehamilan dan
obesitas.Banyaknya akumulasi cairan peritoneal sebelum ascites dapat di deteksi dengan 5

tanda fisik klasik yaitu: bulging flanks, flank dullness, shifting dullness, fluid wave dan
puddle sign. Pasien dengan ascites harus dilakukan pemeriksaan radiology untuk konfirmasi
atau membuktikan adanya ascites,sirosis atau keganasan.(4) USG, CT Scan dan MRI sangat
berguna dalam mendiagnosa ascites. Alat-alat ini cukup sensitif untuk mendeteksi ascites
minimal juga penyebabnya berdasarkan karakteristik organ dan pembuluh darah intra
abdominal serta gambaran cairan intra abdomen. Ultrasonografy merupakan pilihan dengan
biaya dan efektifitas paling baik dan memiliki reliabilitas setingkat CT Scan..Di samping
itu,USG juga tanpa radiasi atau akses intravena sehingga tidak ada resiko alergy terhadap
kontras atau nefropathy
Asites pada kanker ovarium
Tanda diagnostik adanya kemungkinan keganasan pada tumor ovarium. Asites pada kanker
ovarium merupakan prognosis yang buruk, ditandai dengan perut yang makin membesar
karen a rongga berisi cairan, yang lama kelamaan akan menyebabkan penekanan pada rongga
traktus gastrointestinal sehingga akan timbul keluhan anoreksia. Bahkan jika cairan makin
bertambah akan menekan daerah diafragma sehingga akan timbul gangguan pernapasan.
Pada karsinoma Ovari, cairan asites diproduksi oleh ovarium yang akan mensekresikan
cairan yang dapat bersifat serous atau musin.
Menentukan adanya cairan asites intra abdominal, antara lain dengan pemeriksaan fisik.
Adanya suara redup pada perkusi yang berpindah pada saat dilakukan perubahan posisi serta
adanya undulasi yang merupakan tanda klasik. Dari 5 pemeriksaan penunjang dapat
dilakukan pemeriksaan Ultrasonografi, CT -scan dapat dilakukan jika cairan asites minimal.
Dari cairan asites sebaiknya dilakukan pemeriksaan sitologik, pemeriksaan sel darah putih
serta diferensiasinya, pemeriksaan mikrobiologi, pemeriksaan kadar protein, LDH, amilase
serta kalau memungkinkan dilakukan pemeriksaan petanda tumor. Pada cairan asites yang
maligna ditemuk an kadar protein yang lebih dari 40 % dari kadar protein serum, kadar
LDH yang tinggi dimana rasio LDH asites/LDH serum lebih dari 1,0. Jika kadar protein
yang tinggi dinyatakan sebagai adanya eksudat, sedangkan jika kadar protein rendah
dinyatakan sebagai transudat.
Asites pada gagal jantung

Gagal jantung kanan mengakibatkan peningkatan tekanan pada pembuluh darah yang
mengalirkan darah ke ventrikel kanan, Hal tersebut mengakibatkan terjadinya asites, efusi
pleura, dan edema perifer .8
Asites pada TB Peritonial
Asites adalah salah satu gejala pada TB peritoneal, selain demam, keringat malam, penurunan
berat badan dan nyeri abdomen. Banyak modalitas pemeriksaan penunjang dapat dipakai
namun kebijaksanaan dalam mencermati hasil anamnesa, pemeriksaan isik dan laboratorium
akan mampu menegakkan diagnosis TB abdominal.
Pada umumnya, pasien dengan asites akan mengeluhkan rasa kembung yang semakin
memberat, dan sesak napas yang diakibatkan penekanan diafragma secara mekanis oleh
cairan asites.
Manifestasi klinis dari TB peritoneal biasanya telah muncul sejak lebih dari 4 bulan sebelum
akhirnya diagnosis dapat ditegakkan pada sekitar 70% pasien.

2. Bagaimana pola hubungan antara konsentrasi VEGF, jumlah


sel kanker dan volum asites
Cairan kista Kanker Epitel Ovarium mengandung sejumlah besar Vascular Endothelial
Growth Factor (VEGF). VEGF dan Base Fibroblast Growth Factor (bFGF) dievaluasi pada
pasien dengan kista ovarium jinak, kista fungsional, tumor borderline, dan pasien dengan
tumor ganas. Ada perbedaan yang jelas dalam tingkat VEGF antara kista ganas dan kista
jinak, borderline atau kista fungsional.
Neoplasma ganas memiliki rata-rata peningkatan 26 kali lipat pada kadar VEGF dibanding
lesi jinak dan peningkatan 6 kali lipat dibanding tumor borderline. Tidak seperti VEGF, Base
Fibroblast Growth Factor umumnya sangat rendah atau tidak terdeteksi pada kista ganas dan
tidak berhubungan dengan keganasan. Dikatakan juga bahwa kadar VEGF dalam cairan kista
ovarium adalah 3 kali lipat lebih tinggi pada 6 pasien dengan bukti penyakit 1-2 tahun setelah
pembedahan(~ 50 ng / ml) dibandingkan dengan 7 pasien tanpa bukti penyakit (~ 18 ng / ml).
Akibatnya, evaluasi penanda angiogenik atau angiostatik yang beredar atau diekskresikan
mungkin relevan secara klinis untuk Kanker Ovarium Epitel.
Pada penelitian Drenberg, ditemukan tingginya konsentrasi VEGF dan sitokin angiogenik
lainnya pada tumor. Peningkatan kadar faktor pertumbuhan hepatosit (HGF) dapat terlihat
dalam darah, urin dan cairan asites pada pasien kanker, termasuk kanker epitel ovarium.
Tumor ganas juga menghasilkan inhibitor angiogenesis seperti endostatin (ES), angiostatin
(AS), dan trombospondin.

3. Jika telah mengetahui progresifitas kanker


ovarium melalui aktivitas angiogenik, apa
tindakan selanjutnya.
Terapi antiangiogenik termasuk kepada terapi berbasis target (targeted therapy). Targeted
therapy bekerja dengan berbagai pendekatan yang berbeda, antara lain dengan pendekatan
langsung yang mentargetkan antigen tumor untuk mengubah sinyalnya baik dengan antibodi
monoklonal atau dengan obat-obat bermolekul kecil yang mampu menganggu protein target.

Terapi antiangiogenik menghambat pertumbuhan pembuluh darah baru, menginduksi


apoptosis sel endotel, menghambat koorporasi sel progenitor endotelial dan hematopoietik ke
dalam pembuluh darah dan normalisasi pembuluh darah. Oleh karena peran pentingnya
dalam angiogenesis tumor, jalur VEGF/VEGFR telah menjadi fokus utama dalam
pengembangan berbagai antikanker baru. Anti-VEGF bevazicumab (Avastin) telah banyak
dievaluasi penggunannya sebagai agen tunggal atau dikombinasikan dengan kemoterapi
pada kasus kanker. Agen anti-VEGF lainnya adalah aflibercept dan inhibitor reseptor
tyrosine kinase.

4. Bagaimana menentukan angiogenesis indeks


Indeks angiogenesis dihitung sebagai kepadatan pembuluh darah kecil per unit permukaan
jaringan tumor
Metode untuk menghitung jumlah pembuluh darah, diberi label dengan imunohistokimia, per
1.000 sel tumor dan memiliki beberapa kemiripan dengan pengukuran indeks mitosis. AI
tidak berkorelasi dengan penghitungan pembuluh darah per milimeter persegi, menunjukkan
bahwa tidak ada tumpang tindih besar di antara kelompok-kelompok yang berkaitan untuk

menghitung pembulh darah. Karena metode baru ini menentukan rasio antara pembuluh
darah dan sel-sel tumor, menghilangkan pengaruh beberapa variabel yang mungkin
membingungkan seperti rasio sel tumor, ukuran sel tumor, dan kemungkinan perbedaan
diameter bidang antara mikroskop

5. Apa maksud nilai r pada table 2 pada indeks


angiogenesis pada IL 8 dengan tanpa
pengobatan
Koefisien korelasi adalah nilai yang menunjukan kuat/tidaknya hubungan linier antar dua
variabel. Koefisien korelasi biasa dilambangkan dengan huruf r dimana nilai r dapat
bervariasi dari -1 sampai +1. Nilai r yang mendekati -1 atau +1 menunjukan hubungan yang
kuat antara dua variabel tersebut dan nilai r yang mendekati 0 mengindikasikan lemahnya
hubungan antara dua variabel tersebut. Sedangkan tanda + (positif) dan (negatif)
memberikan informasi mengenai arah hubungan antara dua variabel tersebut. Jika bernilai +
(positif) maka kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang searah. Dalam arti lain
peningkatan X akan bersamaan dengan peningkatan Y dan begitu juga sebaliknya. Jika
bernilai (negatif) artinya korelasi antara kedua variabel tersebut bersifat berlawanan.
Peningkatan nilai X akan dibarengi dengan penurunan Y.
Indeks korelasi pada tabel 2 diestimasi dengan uji Pearson; Koefisien korelasi pearson atau
Product Moment Coefficient of Correlation adalah nilai yang menunjukan keeratan hubungan linier
dua variabel dengan skala data interval atau rasio.

Pada tabel 2, hasil yang signifikan secara statistik dalam huruf tebal (r = r = 0.7113), yaitu
pada indeks angiogenesis pada IL 8 dengan tanpa pengobatan. Hal ini menunjukkan adanya
keeratan hubungan linear antara indeks angiogenesis pada IL 8 dengan tanpa pengobatan.

6. Pada penelitian disebutkan asites memiliki


aktivitas angiogenik, apakah diperlukan tindakan
tapping asites pada pasien dengan asites massif
preoperative pada pasien kanker ovarium
stadium lanjut

7. Dikatakan pada penelitian bahwa


parasentesis berkala cairan peritoneal dapat
meningkatkan hasil terapi, apakah dapat
dilakukan di RSHAM

8. Bagaimana peran VEGF dalam angiogenesis

Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF)


VEGF adalah mitogen (zat pertumbuhan) yang sangat spesifik terhadap fungsi sel endotel
vaskuler. Peranan VEGF sangat dominan dalam proses pembentukan pembuluh darah baru
yang disebut sebagai angiogenesis. VEGF juga berperan pada peningkatan permeabilitas
pembuluh darah yang menyebabkan ekstravasasi dari banyak molekul. Angiogenesis terdiri
dari angiogenesis fisiologis dan patologis. VEGF sangat dominan dalam kedua proses
angiogenesis tersebut. Pada tumor angiogenesis, faktor internal dan eksternal dapat
mempengaruhi tingkat ekspresi dari VEGF. Faktor internal sel yang menyebabkan
pembentukan VEGF adalah aktivasi dari onkogen, inaktivasi gen penekan tumor, serta faktor
pertumbuhan dan hormon. Mutasi gene tertentu yang dapat memicu tumbuhnya tumor
(seperti p53) dapat menstimulasi ekspresi berlebihan VEGF pada sel tumor. Begitu pula
dengan inaktivasi dari gen penekan tumor yang berhubungan dengan peningkatan proses
angiogenesis pada sel tumor. Sedangkan hipoksia dan hipoglikemia merupakan faktor
eksternal yang utama dalam menstimulasi peningkatan ekspresi VEGF pada sel tumor.
Terdapat 5 jenis variasi VEGF yaitu VEGF121, VEGF145, VEGF165, VEGF189, dan
VEGF206. Angka di belakang nama VEGF mencerminkan jumlah asam amino yang
membentuk VEGF tersebut. Ciri biologis penting yang membedakan antara VEGF tersebut
adalah kemampuan berikatan dengan heparin dan heparan-sulfat. Hanya VEGF121 yang
tidak dapat berikatan dengan heparin dan heparan-sulfat. VEGF dapat berikatan dengan
heparin di permukaan sel dan matriks ekstraseluler serta memicu dilepaskannya faktor-faktor
lain yang juga berperan dalam proses angiogenesis. Heparin atau heparin-sulfat ini yang
mengatur ikatan antara VEGF dengan reseptornya. Matriks ekstraseluler merupakan tempat
penyimpanan dari VEGF. Terdapat 2 reseptor VEGF yang telah diketahui dan masih bagian

dari keluarga reseptor tirosin kinase. Kedua reseptor tersebut yaitu VEGFR-1 dan VEGFR-2
yang berperan dalam proses angiogenesis. Dari kedua reseptor tersebut, diketahui bahwa
VEGFR-2 memiliki peranan yang lebih dominan dalam proses angiogenesis. Aktivasi
VEGFR-2 diperlukan dalam proses diferensiasi dari sel endotel dan pergerakan sel endotel
precursor. Juga telah diketahui adanya VEGFR-3 yang banyak diekspresikan oleh pembuluh
limfe dan berikatan dengan VEGF C dan VEGF-D.

Gambar. Faktor pertumbuhan dan VEGF serta reseptornya (diambil dari: FASEB J/ 13. 9-22
(1999))
VEGF dan reseptornya memainkan peranan yang sangat penting sebagai regulator utama
dalam proses angiogenesis dan vaskulogenesis. VEGF mengatur proses angiogenesis dan
vaskulogenesis selama tahap awal perkembangan embrio termasuk sistim kardiovaskular dan
retina serta kelainan-kelainannya yang disebabkan oleh deregulasi VEGF.
Beberapa penyakit seperti tumor ditandai oleh adanya kelainan angiogenesis dan ekspresi
berlebihan VEGF. Pada tumor angiogenesis, sinyal VEGF yang dihambat akan mengganggu
proses angiogenesis dan berdampak pada pertumbuhan tumor, progresifitas tumor, dan
metastasis. Hal ini menunjukkan bahwa VEGF merupakan faktor utama dari proses
angiogenesis dan pertumbuhan tumor. Penghambatan fungsi VEGF ini dapat dilakukan oleh
berbagai cara, diantaranya adalah dengan antibodi monoklonal VEGF, VEGFR inhibitor,
antisense mRNA VEGF, konjugasi VEGF dengan toksin, dan mutan VEGF antagonis. Oleh
sebab itu, penghambatan dari fungsi VEGF ini akan berperan besar dalam keberhasilan dari
pengobatan penyakit ini.
(Neufeld, Cohen, Gengrinovitch, & Poltorak, 1999)