Anda di halaman 1dari 4

K

NA

PDA

e
l
1

Jumlah
koloni/wadah

93

1,9 x 106
koloni/piring
<2,5 x 103(1,2
x 103
koloni/piring)

2
3
4

1,06
139
277

2,12 x 106cfu / 20

Ml
NA 2780

PDA 160
NA 5,5 x105
PDA

V. HASIL PENGAMATAN
Tabel 1. Hasil Pengamatan Uji Sanitasi Botol (Metode Bilas)
Alat yang digunakan: 1 buah piring melamin
N (NA) = 93 x 102 x 200 mL = 1,9 x 106 koloni/piring
N (APDA) = 6 x 100 x 200 mL = 1,2 x 103 koloni/piring Hasil: <2,5 x 103(1,2 x
103 koloni/piring)
VI.

PEMBAHASAN
Praktikum yang dilaksanakan kali ini adalah mengenai pengujian sanitasi

wadah dan alat pengolahan. Kontaminasi pada makanan oleh mikroorganisme


dapat terjadi melalui beberapa cara, diantaranya melalui air, udara, serta saat
penanganan, dan pengolahan. Kontaminasi saat penanganan dan pengolahan
terjadi melalui kontak antara makanan dengan peralatan, bahan kemasan, dan dari
pekerja. Permukaan wadah produk merupakan rute yang paling penting untuk
pengendalian kontaminasi sebagai dasar dari pelaksanaan program sanitasi.
Desinfeksi terhadap wadah dan peralatan harus efektif, sehingga produk pangan
bebas dari kontaminasi mikroorganisme pembusuk maupun patogen yang dapat
membahayakan kesehatan masyarakat.

Proses untuk mengurangi kontaminasi dapat dilakukan dengan sanitasi.


Prinsip dasar sanitasi meliputi dua hal, yaitu pembersihan dan sanitasi.
Pembersihan yaitu menghilangkan kotoran baik yang terlihat maupun tidak,
seperti sisa makanan, debu, dan tanah yang merupakan media bagi pertumbuhan
mikroorganisme. Sanitasi merupakan langkah menggunakan zat kimia dan atau
metode fisika untuk menghilangkan sebagian besar mikroorganisme yang
tertinggal pada permukaan alat dan mesin pengolah makanan. Desinfeksi
merupakan tahap akhir dalam program sanitasi yang bertujuan untuk
menghilangkan residu dari produk dan benda asing, serta mengurangi jumlah
mikroorganisme untuk menjamin keamanan dan kualitas bahan pangan.
Pengujian sanitasi wadah botol dengan menggunakan metode bilas terdiri
dari tiga perlakuan yaitu botol yang dicuci tanpa pembilasan dan botol yang
dicuci lalu dibilas dengan air, serta botol yang dicucidan dibilas dengan sunlight.
Pengujian dilakukan dengan cara memasukkan 20 ml larutan NaCl fisiologis ke
dalam botol kemudian ditutup rapat dan dilakukan pengocokan selama 10-20 kali
serta diputar-putar secara horizontal sebanyak 5 kali. Tahap selanjutnya adalah
inokulasi sampel 1 ml dari botol ke dalam cawan petri kemudian ditambahkan
media PDA dan didiamkan hingga membeku. Botol yang berisi NaCl fis
kemudian didihkan, lalu sebanyak 1 ml diinokulasikan ke dalam cawan petri
kemudian ditambahkan media NA serta didiamkan hingga beku yaitu jumlah
Dalam praktiku yang dilakukan kelempok satu menggunakann metede
yang bilas dengan perlakuan tidak dicuci begitu juga kelompok tiga d sedankan
an kelompok dua mengunakan metode bilas dangan perlakuan dicuci
Sanitasi wadah dan alat-alat pengolahan ditujukan untuk membunuh
sebagian besar atau semua mikrorganisme yang terdapat pada bagian permukaan.
Dalam disinfeksi, jenis disinfektan, konsentrasi yang digunakan, suhu, dan
metode yang diterapkan bervariasi tergantung dari jenis wadah dan alat-alat yang
akan dibersihkan serta jenis mikroorganisme yang akan dibasmi. Sanitasi pada
wadah pengemas produk pangan yang sering dilakukan diantaranya menggunakan
air panas, uap panas, halogen (klorin atau iodin), turunan halogen, dan komponen
amonium kuartener (Fardiaz dan Jenie 1989). Pemilihan disinfektan yang tepat
sangat diperlukan bagi industri pangan sehingga diperoleh disinfektan dengan

daya kerja yang optimal. Beberapa faktor yang mempengaruhi daya kerja
disinfektan adalah konsentrasi dan waktu kontak dengan permukaan yang akan
didisinfeksi. Konsentrasi yang diperlukan untuk membunuh sejumlah
mikroorganisme dan lama waktu kontak akan mempengaruhi efisiensi
penggunaan disinfektan serta dapat meminimalkan biaya produksi.
Kontaminasi oleh mikroorganisme dapat terjadi setiap saat dan menyentuh
permukaan setiap tangan atau alat. Dengan demikian sanitasi lingkungan sangat
perlu diperhatikan terutama yang bekerja dalam bidang mikrobiologi atau
pengolahan produk makanan atau industri (Volk dan Wheeler, 1984).
Salah satu sumber kontaminan utama dalam pengolahan pangan berasal
dari penggunaan wadah dan alat pengolahan yang kotor dan mengandung mikroba
dalam jumlah cukup tinggi. Pencucian alat pengolahan dengan menggunakan air
yang kotor, dapat menyebabkan mikroba yang berasal dari air pencuci dapat
menempel pada wadah / alat tersebut. Demikian juga sisa-sisa makanan yang
masih menempel pada alat/wadah dapat menyebabkan pertumbuhan
mikroorganisme yang cukup tinggi. Mikroba yang mungkin tumbuh bisa kapang,
khamir atau bakteri. Mutu makanan yang baik akan menurun nilainya apabila
ditempatkan pada wadah yang kurang bersih.
Proses sanitasi alat dan wadah ditunjukkan untuk membunuh sebagian
besar atau semua mikroorganisme yang terdapat pada permukaan. Sanitizer yang
digunakan misalnya air panas, halogen (khlorin atau Iodine), turunan halogen dan
komponen amonium quarternair (Gobel, 2008).
Sanitasi yang dilakukan terhadap wadah dan alat meliputi pencucian untuk
menghilangkan kotoran dan sisa-sisa bahan, diikuti dengan perlakuan sanitasi
menggunakan germisidal. Dalam pencucian menggunakan air biasanya digunakan
detergen untuk membantu proses pembersihan. Penggunaan detergen mempunyai
beberapa keuntungan karena detergen dapat melunakkan lemak, mengemulsi
lemak, melarutkan mineral dan komponen larut lainnya sebanyak mungkin.
Detergen yang digunakan untuk mencuci alat/wadah dan alat pengolahan tidak
boleh bersifat korosif dan mudah dicuci dari permukaan (Volk dan Wheeler,
1984).

Praktikum ini akan membahas hasil pengujian sanitasi wadah dan alat
pengolahan. Salah satu sumber kontaminan utama dalam pengolahan
pangan berasal dari penggunaan wadah dan alat-alat pengolahan yang
kurang bersih. Sanitasi yang dilakukan terhadap wadah dan alat-alat
pengolahan meliputi pencucian untuk menghilangkan kotoran dari sisasisa makanan. Pengujian efisiensi dari proses sanitasi dapat digunakan
metode bilas untuk wadah dan alat-alat pengolahan yang tertutup,
sedangkan untuk alat-alat pengolahan yang besar menggunakan metode
swab. Pada praktikum kali ini akan dilakukan pengamatan terhadap uji
sanitasi wadah botol dan alat pengolahan (wajan).
VII. KESIMPULAN

Pencucian alat pengolahan dengan menggunakan air yang kotor, dapat


menyebabkan mikroba yang berasal dari air pencuci dapat menempel pada
wadah / alat tersebut.

Berdasarkan hasil pengamatan, perlakuan kelompok 2 menyebabkan


koloni paling banyak tumbuh yaitu botol yang dicuci lalu dibilas dengan
air. Hal tersebut dapat terjadi karena setelah di cuci, air yang digunakan
untuk membilas terdapat mikroorganisme kontaminan.

Ketidaksesuaian hasi pengamatan dan praktek langsung terjadi karena saat


inokulasi, terlalu dekat dengan bunsen atau pada saat inokulasi, media
masih terlalu panas sehingga bakteri sudah mati ketika inokulasi
dilakukan.