Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN OBSERVASI

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK


PERKEMBANGAN AFEKTIF ORANG USIA LANJUT DAN
ANAK BALITA

OLEH:
NAMA

: TRI HARDIYANTI

NIM

: E1A 012 055

PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS MATARAM
2013

PERKEMBANGAN AFEKTIF ORANG LANJUT USIA DAN DAN BALITA


A. Pelaksanaan Pengamatan
1. Tujuan pengamatan : Mengamati perbandingan tingkah laku orang lanjut
usia dan anak balita.
2. Waktu pengamatan : Sabtu, 13 Juli 2013
3. Tempat pengamatan : Dasan Geria, Lingsar.
B. Landasan Teori
Menurut Sarlito Wirawan Sartono berpendapat bahwa emosi
merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif.
Yang dimaksud warna efektif ini adalah perasaan-perasaan tertentu yang
dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu contohnya:
gembira, bahagia, takut dan lain-lain. Sedangkan menurut Goleman Bahasa
emosi merujuk pada suatu perasaan atau pikiran. Pikiran khasnya, suatu
keadaan biologis dan psikologis serta rangkaian kecenderungan untuk
bertindak (Syamsu, 2008:154).
Menua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan
manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup yang hanya di
mulai dari satu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan.
Menua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga
tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik
secara biologis, maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami
kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit
mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas,
penglihatan semakin memburuk, gerakan-gerakan lambat, dan postur tubuh
yang tidak proforsional. Lanjut usia akan selalu bergandengan dengan
perubahan fisiologi maupun psikologi (Nugroho, 2008:86)
Perilaku seseorang dan munculnya berbagai kebutuhan disebabkan
oleh berbagai dorongan dan minat. Seberapa banyak dorongan dan minat
seseorang itu terpenuhi merupakan dasar dari pengalaman emosionalnya.
Kehidupan tiap-tiap orang berjalan menurut polanya sendiri-sendiri.
Seseorang yang pola kehidupannya berlangsung mulus, dimana dorongandorongan dan keinginan-keinginan atau minatnya dapat terpenuhi atau dapat

berhasl dicapai, ia (mereka) cenderung memiliki perkembangan emosi stabil


dan dengan demikian dapat menikmati hidupnya. Tetapi sebaliknya, jika
dorongan dan keinginannya tidak berhasil terpenuhi, sangat dimungkinkan
perkembangan emosionalnya mengalami gangguan (Sunarto, 2008:148).
C. Alat dan Bahan
Alat:
1. Pulpen
2. Buku
Bahan:
D. Cara Kerja
1. Mengamati tingkah laku dan sikap orang tua lanjut usia dan anak balita,
2. Mewawancarai orang tua lanjut usia dan anak balita,
3. Mencatat hasil pengamatan.
E. Hasil Pengamatan
a. Gambar hasil pengamatan
- Anak balita berusia 3,5 tahun

Orang tua lanjut usia berusia 75 tahun

b. Tabel hasil pengamatan


No
.
1.

Objek Pengamatan
Lansia 75 tahun

Tingkah Laku
Suka memaksakan kehendak, serba
tidak puas, suka mengulang-ulang cerita
tentang capaian dan keunggulankeunggulan diri di masa lalu, tidak mau
mendengarkan jika dilarang untuk

2.

Balita 3,5 tahun

melakukan atau memakan sesuatu.


Aktif beraktifitas dan berbicara
(bertanya dan bercerita), suka
memaksakan kehendak, sulit

mendengarkan jika dilarang untuk


melakukan atau memakan sesuatu.
F. Pembahasan
Kegiatan ini bertujuan untuk membandingkan tingkah laku orang tua
dengan tingkah laku anak balita. Perubahan secara psikologis terjadi pada
orang lanjut usia khususnya yang berusia 50 atau 60 tahun. Penurunan
ingatan, perubahan hormonal, kondisi fisik yang tidak seprima di masa
dewasa, dan perubahan aktivitas yang dikarenakan perubahan fisik. Hal-hal
tersebut bisa menimbulkan perubahan kondisi psikologis pada orang lanjut
usia, bahkan menyebabkan ketidakstabilan emosi pada mereka, merasa
terasing atau diasingkan. Namun kondisi tersebut akan berbeda-beda pada
setiap orang lanjut usia tergantung dari tipe kepribadiannya.
Pada tabel hasil pengamatan, diketahui bahwa orang lanjut usia yang
diamati memiliki beberapa tingkah laku seperti anak kecil. Mereka samasama suka memaksakan kehendak dan cederung sulit menerima saran atau
arahan dari orang lain. Orang lanjut usia yang senang memaksakan kehendak,
serba tidak puas, suka mengeluh, suka mengulang-ulang cerita tentang
capaian dan keunggulan-keunggulan diri di masa lalu serta sering mudah
terpuruk dalam suasana hati kesepian kemungkinan mengalami semacam
krisis peran dalam kehidupan, bahkan tidak sedikit yang kemudian
kehilangan makna hidup. Saat memasuki masa lanjut usia, seseorang akan
menjadi lebih sensitif karena berbagai keterbatasan (menurunnya fungsi
penglihatan,

pendengaran,

stamina

fisik,

mobilitas,

peran

sosial,

menyempitnya medan pergaulan, dsb.) yang dirasakan secara pribadi dan di


sisi lain pembatasan yang secara langsung atau tidak langsung diberlakukan
oleh orang lain, merupakan penyebab terjadinya krisis tersebut.
Perubahan psikologis pada orang lanjut usia juga merupakan bentuk
perilaku menyimpang sebagai akibat dari kegagalannya dalam memenuhi
tugas perkembangan masa tua yaitu menyesuaikan diri pada keadaan
menurunnya kemampuan atau kekuatan fisik dan kesehatan. Menyesuaikan
diri pada masa pensiun dan berkurangnya penghasilan, menyesuaikan diri
dengan meninggalnya pasangan hidup, membangun hubungan aktif dengan

salah satu kelompok sosial yang sesuai dengan umurnya, berusaha


menemukan dan memberikan bantuan sosial sebagai warga Negara,
menyusun bentuk dan cara hidup yang disesuaikan dengan keadaan fisik
mereka. Untuk memenuhi tugas perkembangan tersebut, dibutuhkan adanya
resiliensi. Resiliensi merupakan faktor yang berperan penting untuk dapat
mengatasi masalah dan memenuhi tugas perkembangan tersebut.
Lain halnya dengan anak balita, obyek pengamatan ini adalah balita
berusia 3,5 tahun. Pada usia ini anak sedang dalam masa emasnya, aktif
bertanya dengan perkembangan sosial, bahasa, motorik, sensorik, dan
kognitif yang sangat pesat. Seorang anak akan mengalami tingkat
perkembangan yang meningkat drastis sehingga anak perlu mendapatkan
arahan yang positif, baik dari orang tua maupun lingkungannya.
G. Kesimpulan
Berdasarkan tujuan pengamatan dan pembahasan maka dapat
disimpulkan:
1. Orang lanjut usia khususnya yang berusia 50 atau 60 tahun keatas
memiliki beberapa kesamaan sifat dengan anak kecil namun kondisi
tersebut akan berbeda-beda pada setiap orang lanjut usia tergantung dari
tipe kepribadiannya.
2. Perubahan psikologis pada orang lanjut usia disebabkan kegagalan dalam
memenuhi tugas perkembangan masa tua dan lemahnya resiliensi.

DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, Wahyudi. 2008. Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC.


Sunarto dan Hartono, Agung. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Syamsu, Yusuf dan Sugandhi, Nani M.. 2011. Perkembangan Peserta Didik,
Jakarta: Rajawali Pers.