Anda di halaman 1dari 34

I-1

BAB I PENDAHULUAN

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Pada tahun 1811 Rudolf Diesel mulai mengembangkan
sebuah mesin yang kemudian terkenal dengan nama mesin diesel,
bahan bakarnya ialah minyak nabati. Pada tahun 1900 dia
memamerkan mesinnya yang menggunakan minyak kacang tanah
100% sebagai bahan bakarnya di world exhibition di Paris. Pada
tahun 1912 Diesel menyatakan, bahwa temuannya itu tampaknya
tidak penting, tetapi di hari depan penggunaan bahan bakar hayati
akan menjadi sama pentingnya seperti Bahan Bakar Minyak
(BBM). Ironisnya, setelah meninggalnya Diesel pada tahun 1913
mesin dieselnya diubah menjadi sebuah mesin yang
menggunakan BBM. Kini tampaklah kebenaran pernyataan
Diesel. Dengan makin menipisnya cadangan BBM di dunia dan
konflik yang berkepanjangan di wilayah produsen utama BBM
pada satu pihak dan makin melambungnya kebutuhan minyak
dunia pada pihak lain, menyebabkan melonjaknya harga minyak.
Era minyak murah telah lampau, kini bangkitlah kembali minat
biodiesel untuk penggunaan biodiesel tidak perlu dilakukan
modifikasi pada mesin diesel yang ada. Rudolf Diesel ternyata
memang seorang visioner (www.wikipedia/biodiesel.co.id).
Kontinuitas penggunaan bahan bakar minyak (BBM)
berbasis fosil (fossil fuel) memunculkan paling sedikit dua
ancaman serius: (1) faktor ekonomi, berupa jaminan ketersediaan
bahan bakar fosil untuk beberapa dekade mendatang, masalah
supplai, harga dan fluktuasinya (2) polusi akibat emisi
pembakaran bahan bakar fosil ke lingkungan. Polusi yang
ditimbulkan oleh pembakaran bahan bakar fosil memiliki dampak
langsung maupun tidak langsung kepada derajat kesehatan
manusia. Polusi langsung bisa berupa gas gas berbahaya, seperti
CO, NOx, dan UHC (Unburn Hydrocarbon), juga unsur metalik
seperti Timbal (Pb) sedangkan polusi tidak langsung mayoritas
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-2
BAB I PENDAHULUAN
berupa ledakan jumlah molekul CO2 yang berdampak pada
pemanasan global (Global Warming Potential).
Kesadaran terhadap ancaman serius tersebut telah
mengintensifkan berbagai riset yang bertujuan menghasilkan
sumber sumber energi (Energy Resources) ataupun pembawa
energi (Energy Carrier) yang lebih terjamin keterlanjutannya
(sustainable) dan lebih ramah lingkungan. Biodiesel dan
pemakaian dalam bahan bakar sebagai campuran biodiesel dan
bensin (B10) adalah salah satu alternatif yang paling
memungkinkan transisi ke arah implementasi energi alternatif.
Data dari departemen ESDM menyebutkan bahwa
produksi minyak di Indonesia saat ini pertahunnya sebesar 55 juta
ton, dimana produksi ini diperkirakan hanya dapat mencukupi
kebutuhan BBM di Indonesia selama 10 tahun ke depan. Oleh
karena itu, pemanfaatan energi terbarukan seperti pemakaian
biodiesel diharapkan dapat mengurangi atau mensubstitusi sekitar
40% atau 25 juta kilo liter kebutuhan BBM nasional yang sampai
saat ini masih harus dipenuhi dengan cara mengimpor. Untuk itu,
pemerintah Indonesia mengeluarkan PP No: 5 Tahun 2006
tentang kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan
sumber energi alternatif sebagai bahan bakar pengganti minyak.
Pada tahun 2005 di Jakarta telah dilaksanakan sosialisasi bahan
bakar alternatif (B10), namun hingga sekarang pemakaian bahan
bakar ini masih sebesar 2% (Roadmap energi Departemen-ESDM,
2004).

Indonesia sebagai negara yang sangat kaya akan sumber


daya hayati memiliki berbagai tanaman yang berpotensi sebagai
bahan baku pembuatan biodiesel diantaranya: pangan, sawit,
kelapa, kacang (peanut), kelor (Moringa oleifera), saga utan
(Adenanthera pavonina), kasumba/kembang pulu (Carthamus
tinctorius), jarak pagar (Jatropha curcas), kapok, kemiri, nimba
(Azadirachta indica), nyamplung (Calophyllum inophyllum),
kesambi (Schleichera oleosa), randu alas (Bombax malabaricum),
jarak gurita (Jatropha multifida), jarak landi (Jatropha
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-3
BAB I PENDAHULUAN
gossypifolia), dan banyak lagi yang lain. Namun mengingat
Indonesia adalah negara penghasil karet nomor dua di dunia
setelah Malaysia. Berdasarkan data statistik, perkebunan karet di
Indonesia (2005) luas kebun karet di Indonesia mencapai
3.279.391 Ha dan diperkirakan mampu menghasilkan minyak biji
karet sebesar 25.622.406,8 L/tahun yang hingga saat ini, biji karet
belum banyak dimanfaatkan. Dengan tingginya produksi biji karet
di Indonesia dapat dijadikan peluang untuk mendirikan pabrik
biodiesel dari biji karet sekaligus dapat mengatasi keterbatasan
bahan bakar fosil.
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang bersifat
renewable dan dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar fosil.
Bahan bakar ini dapat dibuat dari berbagai jenis minyak dan
lemak alami. Biodiesel dihasilkan dengan mereaksikan minyak
tanaman dengan alkohol menggunakan zat basa sebagai katalis
pada suhu dan komposisi tertentu, sehingga akan dihasilkan dua
zat yang disebut dengan alkyl ester (umumnya methyl ester atau
yang disebut dengan Biodiesel) dan gliserin sebagai produk
samping.
Tabel I.1.1 Perbandingan emisi biodiesel dan petrosolar
Kriteria
Biodiesel Solar
SO2 (ppm)
0
78
CO (ppm)
10
40
NO (ppm)
37
64
NO2 (ppm)
1
1
Total Partikulat (mg/Nm3) 0,25
5,6
Benzen (mg/Nm3)
0,3
5,01
Toluen (mg/Nm3)
0,57
2,31
Xyelen (mg/Nm3)
0,73
1,57
Etilbenzen (mg/Nm3)
0,3
0,73
Sumber: Soerawidjaja, 2000

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-4
BAB I PENDAHULUAN
Biodiesel juga mempunyai keunggulan lain seperti :
Tidak beracun
Terurai oleh mikroorganisme
Tidak mengandung zat karsiogenik
Diperoleh dari sumber yang dapat diperbaharui
Tidak menimbulkan efek rumah kaca
Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin karena
termasuk kelompok minyak tidak mengering (non-drying oil)
Mampu mengeliminasi efek rumah kaca
Merupakan renewable energy (energi terbarukan) karena
terbuat dari bahan alam yang dapat diperbarui sehingga
kontinuitas ketersediaan bahan baku dapat terjamin
Meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat
diproduksi secara lokal
Bahan bakar ramah lingkungan karena menghasilkan emisi
gas buang lebih baik yaitu free sulphur (bebas sulfur), smoke
number (bilangan asap) rendah dan angka setana cetane
number lebih tinggi (> 60) sehingga efisiensi pembakarannya
lebih baik
Biodiesel mengandung aroma hidrokarbon yang lebih sedikit
: benzofluoranthene berkurang 56 % , dan benzopyrenes
berkurang 71 %
Biodiesel mengurangi emisi CO kira-kira 50 % dan CO2
sebesar 78 % di dalam neto lifecycle karena emisi biodiesel
yang berupa karbon didaur ulang dari karbon yang sudah ada
di atmosfir
Pembakarannya terbakar sempurna (clean burning) hingga
tidak menghasilkan racun dan dapat terurai (Hambali Erliza,
2007).

Indonesia memiliki luas hutan karet seluas 3,3 juta hektar


yang merupakan hutan karet terluas di dunia. 2,6 juta hektar
diantaranya milik petani atau 80 % dari total perkebunan karet.
Namun ekspor karet Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-5
BAB I PENDAHULUAN
dengan negara - negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia.
Pada tahun 2005 ekspor karet Indonesia hanya sebesar 2,02 juta
ton atau senilai 2,58 miliar dollar AS dan pada tahun 2006 sebesar
2,6 juta ton atau senilai 4 miliar dollar AS dibandingkan Thailand
yang mencapai 3 juta ton pada tahun 2006. Salah satu penyebab
kurangnya produksi karet alam Indonesia adalah rusak dan tidak
produktifnya hutan karet Indonesia. Hingga pertengahan tahun
2007 hutan karet Indonesia yang rusak mencapai 400.000 hektar.
Hutan karet yang rusak ini tersebar khususnya di daerah jambi,
Bengkulu, dan Sumatra Selatan. Sebagian besar merupakan hutan
karet milik rakyat yang belum diremajakan sejak tahun 19701980. Hal ini mengakibatkan terganggunya ekspor karet alam
Indonesia dan tentunya pada pendapatan negara. Untuk itu perlu
adanya suatu nilai ekonomis lain dari perkebunan karet, salah
satunya dengan memanfaatkan biji karet yang memiliki kadar
minyak yang tinggi untuk mendorong para petani karet terus
meremajakan perkebunannya. Hal tersebut diatas adalah salah
satu alasan pendirian pabrik biodiesel dari biji karet, dengan
adanya pemanfaatan biji karet sebagai bahan bakar alternatif akan
meningkatkan nilai ekonomis karet dan mengurangi impor
biodiesel dalam negeri. Berikut ini adalah data produksi pohon
karet nasional per tahun :
Tabel I.1.2. Produksi pohon karet tingkat Nasional
Tahun
Luas Panen (Ha)
2004
2.772.490
2005
2.747.899
2006
2.767.021
Sumber : BPS, tahun 2006
Berdasarkan informasi yang didapat dari (Warta penelitian
dan pengembangan pertanian, 2009) menyebutkan bahwa, Biasanya
tanaman karet berbunga dan berbuah dua kali dalam setahun.
Jumlah biji karet yang dihasilkan dari satu hektar tanaman sangat
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-6
BAB I PENDAHULUAN
bervariasi,
yaitu sekitar
3.000-450.000 butir/ha/tahun.
Berdasarkan hasil pengamatan pada tahun 2007 di Kebun
Percobaan Balai Penelitian Sembawa, Musi Landas, dan Melania,
Sumatera Selatan, produksi biji klon GT 1, BPM 24, dan PB 260
secara berurutan adalah 397.000 butir, 451.000 butir, dan 337.000
butir/ha/tahun untuk kerapatan 528 pohon/ha. Jika pabrik yang
baru direncanakan akan berdiri di palembang, Sumatera selatan
dengan luas areal perkebunan karet sekitar 630.794 ha (Statistik
Karet Indonesia, 2005), jika kerapatan pohon 369 pohon/ha.
Memproduksi minyak diesel dari bahan nabati hal yang
baru bagi industri di Indonesia. Produksi minyak diesel di
Indonesia diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang
cukup pesat. Data data produksi minyak diesel ini diperoleh dari
Biro Pusat Statistik.
Kapasitas produksi minyak diesel dalam negeri, besarnya
impor minyak diesel dan besarnya ekspor minyak diesel dapat
dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel I.1.3. Kapasitas produksi minyak diesel tahun 2000 2004
di Indonesia
Tahun
Produksi (kg/tahun) Pertumbuhan (%)
2000
1.901.553,64
0
2001
2.676.178,54
40,74
2002
8.394.462,72
213,67
2003
7.523.207,72
-10,38
2004
4.573.930,34
-39,2
Sumber : BPS, tahun 2004

Dari Tabel 1.1.3. diperoleh pertumbuhan rata-rata


produksi minyak diesel tiap tahunnya sebesar 40,97 %. Pada
tahun 2004 didapat kapasitas produksi sebesar 4.573.930,34
kg/tahun.

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-7
BAB I PENDAHULUAN
Grafik I.1.1. Kapasitas produksi minyak diesel (kg/tahun) pada
tahun 2000 2004

kg/Tahun

Kapasitas Produksi Minyak diesel


15000000
14000000
13000000
12000000
11000000
10000000
9000000
8000000
7000000
6000000
5000000
4000000
3000000
2000000
1000000
0
1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Tahun

Pada Grafik diatas dapat dilihat produksi minyak diesel


dari tahun 2000 sampai tahun 2002 mengalami kenaikan. Namun
pada tahun 2003-2004 produksi minyak diesel terlihat menurun.
Hal ini disebabkan oleh menurunnya jumlah bahan baku minyak
bumi (fosil) pada setiap tahunnya. Sehingga dibutuhkan suatu
terobosan baru penggantian bahan baku minyak diesel yang
bersifat renewable, tetapi dapat diperkirakan produksi minyak
diesel pada tahun-tahun selanjutnya akan mengalami kenaikan
karena dari data tabel I.1.2 produksi atau hasil panen biji karet
terus meningkat. Sehingga dari grafik diatas dapat diperkirakan
kapasitas nasional produksi minyak diesel tahun 2012 sebesar
15.000.000 kg.

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-8
BAB I PENDAHULUAN
Tabel I.1.4. Impor minyak diesel tahun 2004 2007
Tahun
Impor (kg/tahun)
Pertumbuhan (%)
2004
65.680.364
0
2005
77.448.845
17,91
2006
87.256.813
12,66
2007
101.548.738
17,01
Sumber : BPS, tahun 2007

Pertumbuhan impor minyak diesel rata-rata pertahun


sebesar 11,89 % dengan volume impor tahun 2007 sebesar
101.548.738 kg.
Grafik I.1.2. Impor minyak diesel (kg/tahun) pada tahun 2004
2007

Kg/Tahun

Impor Minyak diesel


160000000
140000000
120000000
100000000
80000000
60000000
40000000
20000000
0
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Tahun

Dari grafik diatas terlihat bahwa impor minyak diesel


dari tahun 2003 sampai tahun 2007 cenderung mengalami
penurunan, meskipun pada tahun 2007 sedikit mengalami
kenaikan.

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-9
BAB I PENDAHULUAN
Dari grafik diatas dapat diperkirakan impor minyak diesel
pada tahun selanjutnya akan mengalami kenaikan.
Peningkatan impor minyak diesel pada tahun 2012
diperkirakan sebesar 160.000.000 kg/tahun.
Tabel I.1.5. Ekspor minyak diesel tahun 2004 2007
Ekspor
Pertumbuhan
Tahun
(kg/tahun)
(%)
2004
3.340.530
0
2005
4.130.085
23,63
2006
79.415.747
1822
2007
14.022.915
-82,34
Sumber : BPS, tahun 2007

Pertumbuhan ekspor minyak diesel rata-rata per tahun


adalah 352,658 % dengan volume ekspor tahun 2007 sebesar
14.022.915 kg.
Grafik I.1.3. Ekspor minyak diesel (kg/tahun) pada tahun 2004
2007

Kg/Tahun

Ekspor Minyak diesel


100000000
90000000
80000000
70000000
60000000
50000000
40000000
30000000
20000000
10000000
0
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Tahun

Dari grafik diatas terlihat bahwa ekspor minyak diesel dari tahun
2004 sampai tahun 2006 cenderung mengalami kenaikan,
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-10
BAB I PENDAHULUAN
meskipun pada tahun 2007 sedikit mengalami penurunan. Dari
grafik diatas dapat diperkirakan ekspor minyak diesel pada tahun
selanjutnya akan mengalami kenaikan. Peningkatan ekspor
minyak diesel pada tahun 2012 diperkirakan sebesar 94.000.000
kg.
Dari data-data yang telah ada diatas dapat dihitung
kebutuhan minyak diesel dalam negeri pada tahun 2012 dengan
cara :
Kebutuhan minyak diesel dalam negeri sebanyak
= Produksi minyak diesel + Impor Ekspor
= 15.000.000 + 160.000.000 - 94.000.000
= 81.000.000 kg/tahun
Dengan asumsi adanya pabrik biodiesel lama yang masih
beroperasi, maka direncanakan untuk membuat pabrik biodiesel
baru dengan kapasitas 55% dari peluang kapasitas yang bisa
dibuat untuk pabrik baru tersebut.
Kapasitas produksi

= 55% x 81.000.000 kg/tahun


= 44.550.000 kg/tahun
= 44.550 ton/tahun

Dari perhitungan kapasitas produksi pabrik baru dapat


diperoleh prakiraan bahan baku yang dibutuhkan yakni :
Banyaknya minyak setelah pengepresan
=

kapasitas produksi pabrik baru


yield biodiesel

44550 ton/tahun
99%

= 45000 ton/tahun
Banyaknya minyak sebelum pengepresan
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-11
BAB I PENDAHULUAN
= Banyaknya minyak setelah pengepresan
rendemen minyak setelah pengepresan
=

45000 ton/tahun
30 %

= 150.000 ton/tahun
Banyaknya kernel biji karet
= Banyaknya minyak sebelum pengepresan
Kandungan minyak tiap kernel
=

150.000 ton/tahun
45,63 %

= 328731,09 ton kernel biji karet/tahun


= 330.000 ton kernel biji karet/tahun
Masa kerja dalam satu tahun dianggap 330 hari kerja.
Direncanakan untuk membuat pabrik biodiesel dengan kapasitas
45.000 ton/tahun, membutuhkan bahan baku sebanyak 350.000
kernel biji karet . Dimana produk berupa metil ester nantinya
diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional dan
internasional yang masih potensial (export oriented).
Lokasi pabrik biodiesel direncanakan berdiri di daerah
Palembang Sumatera Selatan, dimana di daerah ini merupakan
daerah yang memiliki lahan perkebunan karet terbesar di
indonesia dan dekat dengan pelabuhan sehingga mempermudah
proses distribusi dan pemasaran produk, oleh karena itu dari hasil
perkiraan perhitungan diatas dapat disimpulkan kapasitas
produksi pabrik biodiesel dari biji karet ini sebesar 45.000
ton/tahun. Jika dibandingkan kapasitas pabrik yang baru
direncanakan akan berdiri di palembang, Sumatera Selatan
dengan luas areal perkebunan karet sekitar 630.794 ha (Statistik
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-12
BAB I PENDAHULUAN
Karet Indonesia, 2005). Jumlah biji karet yang dihasilkan dari satu

hektar tanaman sangat bervariasi, yaitu sekitar 3000 450.000


butir/ha/tahun untuk kerapatan pohon 528 pohon/ha (balai
penelitian sembawa, 2006). Sehingga dapat disimpulkan pada
daerah ini dapat memproduksi biji karet sekitar 1,58 x 1011
butir/tahun atau sama dengan 4,73 x 1011 kg/tahun (1.295.890.411
kg/hari). Dengan kapasitas tersebut diatas pabrik ini
membutuhkan biji karet sebanyak 577.377,541 kg/hari sehingga
kebutuhan bahan baku terpenuhi.
Produksi diesel Indonesia sebagian besar memang diserap
oleh pasar domestik, hanya sebagian kecil yang diekspor. Hal ini
terjadi karena banyaknya industri yang memakai minyak diesel.
Kegunaan miyak diesel diantaranya adalah Sebagai pemanas
berbahan bakar diesel, penerangan, dan kompor, dapat juga
menggantikan kerosene pada lampu dan kompor kemah, sebagai
pengganti bahan bakar model pesawat dalam mesin model
pesawat, sebagai pelarut untuk cat non-otomotif, cat semprot, dan
bahan kimia adesif lain, pembersih untuk komponen mesin yang
berminyak, bagian yang akan dibersihkan biasanya dibenam
dalam biodiesel selama satu malam dan pagi harinya sudah
bersih. Sebagai pelumas mesin, sebagai pembakar keramik dalam
tungku. Sebagai pembersih tumpahan minyak bumi di atas tanah
atau air.
Tabel I.1.6. Pabrik biodiesel di Indonesia, kapasitas, dan lokasi
pada tahun 2007
No. Institution/
Location
Capacity Technology
Company
(T/year)
1.
Asian Agri tbk
Dumai
200.000 Balestra
2.
PT.
Energi Jakarta
300
Lokal
Alternatif
Indonesia
3.
Eterindo
Gresik
120.000 Modification
Wahanautama
from
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-13
BAB I PENDAHULUAN

4.
5.
6.
7.
8.

PT.
Darmex
Biofuel
Ganesha Energy
Group
PT.
Indo
Biofuels Energy
Musim
Mas
Group
PT. Sumi asih

9.

Bekasi

150.000

existing
chem.plant
lokal

Medan

3000

lokal

Merak

60.000

nextGen

Medan

50.000

lokal

Bekasi &
lampung

100.000

200.000

Modification
from
existing
chem.plant
lokal

700.000
2.500
300

lurgy
lokal
lokal

Permata Hijau Duri


Group
dumai
10. Wilmar Group
jakarta
11. Lemigas
serpong
12. BPPT
Sumber: APROBI and Timnas BBM, 2008

Tabel I.1.7. Lokasi yang berpotensi menjadi kawasan khusus


lahan bakar nabati berdasarkan usulan daerah
No Lokasi
Komoditas
Pacitan Wonogiri Wonosari Singkong
1.
(Pawonsari)
2.
Garut Cianjur Sukabumi Selatan Singkong
3.
Lebak Pandeglang
Jarak Pagar
Singkong,
Tebu,
Lampung Sumatra Selatan
4.
Jarak Pagar, Kelapa
Jambi
Sawit, karet
5.
Riau
Kelapa Sawit
6.
Nanggroe Aceh Darussalam
Kelapa Sawit, Tebu,
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-14
BAB I PENDAHULUAN
Jarak Pagar
Kelapa Sawit, Jarak
7.
Kalimantan Timur
pagar, karet
Sulawesi Selatan Sulawesi Singkong,
Tebu,
8.
Tenggara Sulawesi Tengah Jarak Pagar, Kelapa
Gorontalo
Sawit
Nusa Tenggara Barat Nusa Jarak
Pagar,
9.
Tenggara Timur
Singkong
10. Maluku Utara
Jarak Pagar, Tebu
11. Papua Utara dan Irian Jaya Barat
Kelapa Sawit
Tebu,
Singkong,
Merauke Mapi Boren Digul
12.
Kelapa Sawit, Jarak
Tanah Merah
Pagar, karet
Dumai, gresik-cikupa, serpong, Karet, kelapa sawit
13.
sumatera selatan
Sumber: Rama P.,dkk, 2007
Berdasarkan dari data-data yang ada diatas, pabrik
biodiesel baru ini layak didirikan di Palembang, Sumatera
Selatan, dikarenakan kota yang akan dituju untuk berdirinya
pabrik ini memiliki ketersedian bahan baku, dekat dengan lokasi
pemasaran, terdapat suplai air yang cukup memadai serta dekat
dengan pelabuhan.
Mengacu pada kebutuhan solar nasional yang mencapai
sekitar 26 juta kiloliter per tahun, maka peluang pengembangan
biodiesel berbasis biji karet cukup potensial. Sesuai dengan
sasaran bauran energi yang menetapkan biofuel mempunyai
meningkat sebesar 5%, maka kebutuhan biodiesel per tahun
adalah sekitar 1,3 juta kiloliter. Untuk memproduksi biodiesel
sejumlah tersebut, diperlukan pabrik biodiesel sebanyak 11 37
unit, dengan kapasitas antara 30 100 ribu ton per tahun. Luas
areal kebun karet yang dibutuhkan sebagai sumber bahan baku
diperlukan sekitar 340 ha (Darnoko et al , 2006). Dengan areal
perkebunan karet yang sudah mencapai 5,2 juta ha dan
diperkirakan terus tumbuh dengan laju 6%-8% per tahun,
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-15
BAB I PENDAHULUAN
ketersediaan bahan baku diperkirakan tidak akan mengganggu
ketersedian minyak karet untuk bahan baku biodiesel
(http://www.peluang biodiesl.co.uk).

Teknologi biodiesel secara umum relatif sederhana dan


relatif sudah dikuasai. Berbagai lembaga telah mengklaim
menguasai teknologi tersebut seperti oleh ITB, BPPT, Pusat
Penelitian Kelapa Sawit, dan lembaga swasta. Dari sisi investasi
juga tidak ada masalah yang substansial karena nilai investasi
tidaklah terlalu besar, berkisar antara Rp 0,7 Rp 200 miliar,
bergantung kapasitas. Masalah yang masih perlu pemecahan
adalah belum ditetapkannya aturan pendistribusian biofuel,
termasuk biodeisel, sehingga belum mempunyai landasan hukum
untuk mendistribusikan/memasarkan di SPBU (http://www.peluang
biodiesl.co.uk).

Secara umum, ada tiga kategori pasar biodiesel dengan


pendekatan ICBM yaitu penggunaan secara internal perusahaan,
pasar domestik, dan pasar eskpor.
Konsumsi internal, dengan jumlah pabrik biodiesel yang
mencapai 250 unit dengan total kapasitas sekitar 3600
350.000 ton/tahun, kebutuhan biodesel secara internal
diperkirakan mencapai 0,325 juta liter per tahun.
Konsumsi biodiesel untuk memenuhi kebutuhan internal
akan terus tumbuh mengingat karena areal karet terus
tumbuh dengan laju lebih dari 10% pada dekade terakhir.
Konsumsi pasar domestik, dengan asumsi bahwa sekitar
5% kebutuhan energi bersumber dari biodiesel, maka
peluang pasar yang terbuka untuk jangka menengah
adalah sekitar 1,3 juta kilo liter per tahun sampai dengan
tahun 2025, atau setara dengan kebutuhan pabrik
sebanyak 11 37 pabrik, bergantung kapasitas.
Pasar ekspor, peluang pasar ekspor secara kuantitatif
masih belum diidentifikasi. Namun demikian secara kualitatif,
peluang pasarnya cukup terbuka karena negara-negara maju yang
sudah melakukan diversifikasi energi untuk memanfaatkan
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-16
BAB I PENDAHULUAN
biofuel, belum memiliki bahan baku yang sekompetitif minyak
biji karet. Amerika Serikat dengan bahan baku jagung dan kedele,
belum mampu menyaingi sumber energi alternatif berbasis tebu
yang dihasilkan Brazil dan berbasis CPO. Dengan biaya produksi
sekitar US$ 0,6/liter, jelas tidak akan mampu bersaing dengan
Brazil atau produk biodiesel yang harga pokoknya kurang US$
0,5/liter. Hal yang sama juga berlaku untuk negara-negara Eropa
yang biaya produksi biofuelnya tidak akan mampu bersaing,
khususnya
untuk
jangka
panjang
(http://www.peluang
biodiesl.co.uk).

Beberapa faktor yang menyebabkan mengapa bangsa kita


belum terpacu untuk memanfaatkan biodiesel untuk skala
komersial diantaranya adalah karena:
a) Harga bahan bakar minyak yang sangat murah karena subsidi
yang besar dari pemerintah (sebelum oktober 2005), sehingga
masyarakat tidak ikut peduli untuk memikirkan bahan bakar
alternatif. Subsidi yang besar ini menjadikan harga atau biaya
produksi bahan bakar alternatif lebih tinggi dibanding harga
pasar minyak mineral.
b) Ketidakpedulian dan tingkat kesadaran masyarakat yang
masih rendah mengenai kelestarian lingkungan dan
kesehatan. Banyak masyarakat indonesia yang belum
memahami benar, bahwa bahan bakar minyak yang selama ini
digunakan membawa dampak negatif yang luar biasa bagi
lingkungan dan kesehatan. Minyak dapat mencemari tanah,
air, dan udara serta gas buang yang dihasilkan berbahaya bagi
kesehatan
(Susilo Bambang, 2006).

I.2 Dasar Teori


I.2.1 Biji Karet
Karet adalah tanaman perkebunan/industri tahunan
berupa pohon batang lurus yang pertama kali ditemukan di Brasil
dan mulai dibudidayakan tahun 1601. Di Indonesia, Malaysia dan
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-17
BAB I PENDAHULUAN
Singapura tanaman karet dicoba dibudidayakan pada tahun 1876.
Tanaman karet pertama di Indonesia ditanam di Kebun Raya
Bogor. Sebagai penghasil lateks tanaman karet dapat dikatakan
satu-satunya tanaman yang dikebunkan secara besar-besaran
(http://www.wikipedia/biji karet.com).

Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan


berbatang cukup besar, tinggi pohon dewasa mencapai 15-25
meter. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki
percabangan yang tinggi diatas.
Dibeberapa kebun karet ada beberapa kecondongan arah
tumbuh tanamannya agak miring kearah utara. Batang tanaman
ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks. Daun
karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun.
Panjang tangkai daun utama 3-20 cm. Panjang tangkai anak daun
sekitar 3-10 cm dan pada ujungnya terdapat kelenjar. Biasanya
ada tiga anak daun yang terdapat pada sehelai daun karet. Anak
daun berbentuk eliptis, memanjang dengan ujung meruncing,
tepinya rata dan gundul. Biji karet terdapat dalam setiap ruang
buah. Jadi jumlah biji biasanya ada tiga kadang enam sesuai
dengan jumlah ruang. Ukuran biji besar dengan kulit keras.
Warnaya coklat kehitaman dengan bercak-bercak berpola yang
khas. Sesuai dengan sifat dikotilnya, akar tanagaman karet
merupakan akar tunggang. Akar ini mampu menopang batang
tanaman yang tumbuh tinggi dan besar (Ardiana Dwi, 2006).
Buah karet berbentuk kotak tiga atau empat, kulit keras
berwarna coklat, kernel berwana putih kekuningan. Setelah
berumur enam bulan buah akan masak dan pecah sehingga biji
karet terlepas dari batoknya. Biji karet mempunyai bentuk
ellipsoidal, dengan panjang 2,5-3 cm, yang mempunyai berat 2-4
gram/biji. Kulit luar biji karet mempunyai berat 1,3-1,5 gram/biji,
serta kernel biji karet beratnya dapat mencapai 1,15-1,9
gram/kernel biji karet (Fitri Yuliani, dkk, 2008).

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-18
BAB I PENDAHULUAN

Gambar I.2.1 Tanaman karet (Hevea Brasiliensis)


Karet cukup baik dikembangkan di daerah lahan kering beriklim
basah. Tanaman karet memiliki beberapa keunggulan
dibandingkan dengan komoditas lainnya, yaitu:
1) Dapat tumbuh pada berbagai kondisi dan jenis lahan,
serta masih mampu dipanen hasilnya meskipun pada
tanah yang tidak subur,
2) Mampu membentuk ekologi hutan, yang pada umumnya
terdapat pada daerah lahan kering beriklim basah,
sehingga karet cukup baik untuk menanggulangi lahan
kritis,
3) Dapat memberikan pendapatan harian bagi petani yang
mengusahakannya, dan
4) Memiliki prospek harga yang cukup baik

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-19
BAB I PENDAHULUAN
Secara taksonomi biji karet dapat diklasifikasikan sebagai berikut
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Hevea
Spesies : Hevea braziliensis

Gambar 1.2.2 Biji Karet

Pohon karet akan dapat dipanen getahnya pada usia 5


tahun dan memiliki usia produktif 25 sampai 30 tahun.
Berdasarkan statistik perkebunan karet di Indonesia (2002) luas
kebun karet di Indonesia mencapai 3.318.105 Ha dan
diperkirakan mampu menghasilkan minyak biji karet sebesar
25.622.406,8 liter/tahun.
Tabel I.2.1.1 Kandungan Kernel Biji Karet
Kandungan
% Berat
Minyak

40 -50

Abu

2,71

Air

3,71

Protein

22,17

Karbohidrat

24,21

Sumber : Yuliani Fitri, 2006

Kandungan air yang cukup besar dalam kernel biji karet


dapat memicu hidrolisis triglyserida menjadi FFA. Oleh
karenanya, diperlukan pengeringan sebelum pengepresan. Biji
karet merupakan limbah pertanian yang tidak mempunyai nilai
ekonomi, tidak memerlukan lahan subur, pemeliharaan yang
intensif dan ketersediaannya melimpah.

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-20
BAB I PENDAHULUAN
Tabel I.2.1.2. Kandungan minyak dalam beberapa biji-bijian
Kandungan
% berat
Karet

40 - 50

Jarak

54

Inti sawit

47 52

Wijen

33 57

Kacang tanah

46 - 52

(Sumber: Ketaren, 1986)


I.2.2 Minyak Biji Karet
Minyak biji karet merupakan minyak nabati yang
berdasarkan sifat mengeringnya termasuk jenis minyak
mengering, yaitu minyak yang mempunyai sifat dapat mengering
jika kena oksidasi dan membentuk sejenis selaput jika dibiarkan
di udara terbuka. Minyak nabati adalah minyak yang bersumber
dari tanaman, baik dari biji-bijian palawija (seperti : jagung, biji
kapas, wijen, kedele, dan bunga matahari), kulit buah tanaman
tahunan (seperti : zaitun dan kelapa sawit), maupun biji-bijian
dari tanaman tahunan (seperti : kelapa, coklat, inti sawit, dan
karet). Di Indonesia sendiri sumber minyak nabati yang dapat
dimanfaatkan sangat berlimpah, dimulai dari kelapa sawit, kelapa,
jarak pagar, biji kapok, kacang tanah, kemiri, kelor, nyamplung,
jagung, labu merah, papaya, sirsak, srikaya, karet dan lain-lain.
Adapun perbedaan umum antara lemak nabati dan hewani
adalah :
1. Lemak hewani mengandung kolesterol sedangkan lemak nabati
mengandung fitosterol.
2. Kadar asam lemak tidak jenuh dalam lemak hewani lebih kecil
dari lemak nabati (Ardiana Dwi, 2006).
Tipe dan persentase asam lemak tergantung jenis tanaman
dan kondisi pertumbuhan tanaman. Kandungan asam lemak bebas
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-21
BAB I PENDAHULUAN
(FFA) pada minyak mentah biji karet sekitar 17% dan bilangan
asam sekitar 34.
Tabel I.2.2.1 Sifat Fisika dan kimia minyak biji karet
Sifat

Nilai

Satuan

Sifat Kimia
Bilangan Iod

132-148

G
I2/100
minyak

Bilangan Penyabunan

190-195

Mg
KOH/g
minyak

Rapat rata-rata

0,925

g/ml

Fraksi tak tersabunkan


(%)

0,5-1

Nilai Kalor

18850

J/g

Refractive indeks (400C)

1,4661,469

Kekentalan
(1000F)

41,58

Cst

Sifat Fisika

TUGAS AKHIR

kinematik

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-22
BAB I PENDAHULUAN
Tabel I.2.2.2 Kandungan asam lemak dalam minyak biji karet
Asam Lemak
Rumus
Komposisi
Kimia
(% berat)
Asam Lemak Jenuh
Asam Palminat

C16H32O2

9-12

Asam Stearat

C18H36O2

5-12

Asam Arachidat

C20H40O2

Asam Oleat

C18H34O2

17-21

Asam Linoleat

C18H32O2

35-38

Asam Linolenat

C18H30O2

21-24

Asam Lemak Tak Jenuh

Sumber : Luthfi, 2008


Tabel I.2.2.3. Perbandingan asam lemak pada beberapa minyak
nabati
Biji
Biji Bunga
Biji
Biji
Komposisi
Matahari
Kapas
Kedelai
Karet
Kadar minyak (%)

50

23-32

35-40

15-20

89,94

87,44

85,1

14,9

10,06

12,56

Asam Lemak
Asam Lemak Tak
81,8
Jenuh
18,9
Asam Lemak Jenuh
Sumber : Ketaren, 1986

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-23
BAB I PENDAHULUAN
Minyak dan lemak merupakan ester asam lemak dan
gliserol atau gliserin. Dalam sains dikenal juga dengan nama
trigliserida. Dalam ilmu kimia dasar, strukturnya digambarkan
sebagai berikut :

Gambar I.2.3 Struktur Trigliserida


Rumus molekulnya dikenal sebagai C3H5(COOR)3 jika
gugus alkil adalah sama. Minyak dan lemak tidak hanya dikenal
sebagai sumber makanan bagi manusia, tetapi merupakan bahan
baku lilin, margarin, detergent, kosmetika, obat-obatan dan
pelumas. Tentunya diolah dengan proses yang berbeda. Untuk
digunakan dasar industri sebagai bahan kosmetika dan konsumen
produk trigliserida harus dihidrolisa yang menghasilkan asam
lemak dan gliserol. Asam lemak lanjut dihidrogenasi menjadi
alkohol. Keduanya asam lemak dan alkohol merupakan bahan
baku pembuatan berbagai jenis kosmetik dan consumer product.
Minyak dan lemak dibedakan berdasarkan titik lelehnya. Minyak
merupakan cairan pada suhu kamar, sedangkan lemak membeku
berupa padatan atau semi padatan.
Komponen utama pembentuk minyak atau lemak adalah
trigliserida. Bahan ini merupakan hasil esterifikasi satu molekul
gliserol dengan tiga molekul asam lemak yang menghasilkan tiga
molekul air dan satu molekul trigeliserida.
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-24
BAB I PENDAHULUAN

Perbedaan fisis sangat erat hubungannya dengan susunan


asam lemak, sehingga dibedakan atas tiga jenis, yaitu :
a. Minyak tak mengering, adalah minyak/ lemak yang memiliki
bilangan Iod (IV) dibawah 100. Minyak kelapa, minyak sawit
dan minyak inti sawit dimasukkan dalam golongan ini.
b. Minyak semi mengering, adalah minyak atau lemak yang
memiliki bilangan iod sekitar 100-130. Asam lemaknya
terutama asam lemak tak jenuh, diantaranya linoleat dan asam
linolenat. Yang termasuk golongan ini adalah minyak kacang
kedele.
c. Minyak mengering, adalah minyak/lemak yang memiliki
bilangan iod diatas 130. Asam lemaknya terutama asam lemak
tak jenuh dan sedikit sekali asam lemak jenuh, diantaranya
asam oleat, asam linoleat dan asam linolenat, biasanya jenis
minyak ini dipakai sebagai bahan baku pembuatan cat.
Trigliserida atau gliserida yang terbentuk dari asam lemak
jenuh dengan rantai yang panjang, memiliki titik didih atau titik
cair lebih tinggi daripada asam-asam lemak jenuh rantai pendek.
Asam lemak jenuh lebih stabil dibandingkan asam lemak
tidak jenuh, akibatnya titik leleh asam lemak jenuh lebih tinggi.
Kestabilan asam lemak jenuh mudah dipengaruhi oleh temperatur.
Tingkat sifat mengering minyak/lemak selain ditentukan oleh
jumlah ikatan rangkap asam lemaknya juga dipengaruhi oleh
posisi ikatan rangkap tersebut pada rantai asam lemak yang
terikat pada gliserida, sehingga dikenal asam lemak yang
berkonjugasi dan tidak berkonjugasi.
Jenis minyak yang memiliki asam lemak tidak jenuh yang
tinggi dan berkonjugasi memiliki sifat mengering yang kuat bila
dibandingkan dengan minyak memiliki asam lemak tidak jenuh
yang tinggi tetapi tidak berkonjugasi.
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-25
BAB I PENDAHULUAN
I.2.3 Biodiesel
Biodiesel didefinisikan sebagai alkyl ester dari minyak
dan lemak. Pada dasarnya, pembuatan biodiesel dari minyak
nabati dilakukan dengan mengkonversi trigliserida ( komponen
utama minyak nabati) menjadi methyl ester asam lemak, dengan
memanfaatkan katalis untuk membantu prosesnya. Untuk
memperoleh perancangan pabrik Biodiesel yang optimal terlebih
dahulu perlu dilakukan seleksi dari proses yang ada. Minyak
diesel mengandung 40-50% berat minyak.
Biodiesel merupakan senyawa kimia sederhana dengan
kandungan enam sampai tujuh macam ester asam lemak.
Biodiesel didefinisikan sebagai metil ester dengan panjang rantai
karbon antara 12 sampai 20 dari asam lemak turunan dari lipid
contohnya minyak nabati atau lemak hewani. Minyak nabati atau
lemak hewani dapat dibuat biodiesel dengan reaksi
transesterifikasi dengan menggunakan alkohol. Komposisi dan
sifat kimia dari biodiesel tergantung pada kemurnian, panjang
pendek, derajat kejenuhan, dan struktur rantai alkil asam lemak
penyusunnya. Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif dari
sumber terbarukan (renewable), dengan komposisi ester asam
lemak dari minyak nabati antara lain: minyak kelapa sawit,
minyak kelapa, minyak jarak pagar, minyak biji kapuk, dan masih
ada lebih dari 30 macam tumbuhan Indonesia yang potensial
untuk dijadikan biodiesel (Setyowati Rahayu, 2009).

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-26
BAB I PENDAHULUAN
Tabel I.2.3.1 Karakteristik Biodiesel dari biji karet
Karakteristik

Metode Uji

Nilai

Density Obs/temp C

ASTM D-1298

0,8652/31

Flash Point 0C

ASTM D-93

118

ASTM D-445

0,03173

Cal. Cetane Index

ASTM D-976

42,3859

Korosi Lempeng Tembaga

ASTM D-130

Viscosity
1000C

kinematic

pada

Sumber : Laboratorium pertamina unit produksi pelumas, 2007


Minyak nabati bisa langsung dimanfaatkan untuk bahan
bakar karena memiliki nilai kalor yang tinggi. Namun demikian
minyak nabati memiliki kekentalan yang relatif tinggi dibanding
minyak dari fraksi minyak bumi, karena adanya percabangan
pada rantai karbonnya yang cenderung panjang. Kekentalan ini
dapat dikurangi dengan memutus percabangan rantai karbon
tersebut melalui proses esterifikasi (alkoholisis terhadap asam
lemak dari minyak nabati) menggunakan alkohol fraksi ringan,
misalnya metanol atau etanol. Pada reaksi esterifikasi diperlukan
adanya katalis karena cenderung berjalan lambat. Katalis
berfungsi untuk menurunkan energi aktifasi. Katalis yang
digunakan dapat berupa asam, basa maupun penukar ion. Dengan
katalis basa reaksi dapat berlangsung pada suhu kamar atau lebih
rendah, sementara dengan katalis asam reaksi berlangsung dengan
baik pada suhu sekitar 1000C atau lebih. Tanpa katalis, reaksi
esterifikasi baru dapat berlangsung pada suhu minimal 250 0C
(Kirk &Othmer, 1980).

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-27
BAB I PENDAHULUAN
Persamaan reaksi esterifikasi total yang terjadi adalah :
RCOOCH2
RCOOCH

CH2OH

NaOCH3

3CH3OH

3RCOOCH3

RCOOCH2
Trigliserida

CHOH
CH2OH

Metanol

Metil Ester

Gliserol

R adalah gugus metil, dan R1 R3 merupakan gugus asam lemak


jenuh dan tak jenuh rantai panjang (Dwi Ardiana Setyawardhani,
2009).

Minyak nabati sebagai sumber utama biodiesel dapat


dipenuhi oleh berbagai macam jenis tumbuhan tergantung pada
sumberdaya utama yang banyak terdapat di suatu tempat/negara.
Indonesia mempunyai banyak sumber daya untuk bahan baku
biodiesel.
Tabel I.2.3.2. Beberapa sumber minyak nabati yang potensial
sebagai bahan baku Biodiesel.
Sumber
% Berat
Nama Lokal
Nama Latin
Minyak
Kering
Jarak Pagar

Jatropha Curcas

Inti biji

40-60

Jarak Kaliki

Riccinus
Communis

Biji

45-50

Kacang suuk

Arachis Hypogea

Biji

35-55

Kapok/randu

Ceiba Pantandra

Biji

24-40

Hevea
Brasiliensis

Biji

40-50

Kecipir

Psophocarpus
Tetrag

Biji

15-20

Kelapa

Cocos Nucifera

Inti biji

60-70

Karet

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-28
BAB I PENDAHULUAN
Kelor

Moringa Oleifera

Biji

30-49

Kemiri

Aleurites
Moluccana

Inti biji

57-69

Sleichera Trijuga

Sabut

55-70

Nimba

Azadirushta
Indica

Inti biji

40-50

Saga utan

Adenanthera
Pavonina

Inti biji

14-28

Elais Suincencis

Sabut dan biji

45-70

Nyamplung

Callophyllum
Lanceatum

Inti biji

40-73

Randu alas

Bombax
Malabaricum

Biji

18-26

Sirsak

Annona Muricata

Inti biji

20-30

Srikaya

Annona Squosa

Biji

15-20

Kusambi

Sawit

Sumber: Dwi Ardiana Setyawardhani, 2009

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-29
BAB I PENDAHULUAN
Tabel I.2.3.3. Sifat fisika minyak solar (Automotive Diesel Oil)
dan minyak diesel

Sumber : Kep. Dirjen Migas No. 004/P/DM/1979


I.3. Kegunaan
Kegunaan Biodiesel adalah sebagai berikut :
1. Sebagai pemanas berbahan bakar diesel, penerangan, dan
kompor. Dapat juga menggantikan kerosene pada lampu dan
kompor.
2. Sebagai pengganti bahan bakar model pesawat dalam mesin
model pesawat.
3. Sebagai pelarut untuk cat non-otomotif, cat semprot, dan
bahan kimia adesif lain.
4. Pembersih untuk komponen mesin yang berminyak. Bagian
yang akan dibersihkan biasanya dibenam dalam biodiesel
selama satu malam dan pagi harinya sudah bersih.
5. Sebagai pelumas mesin.
6. Sebagai pembakar keramik dalam tungku.
7. Sebagai pembersih tumpahan minyak bumi di atas tanah atau
air.

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-30
BAB I PENDAHULUAN
Dalam proses pembuatan biodiesel ini terdapat proses
penggabungan secara kimiawi antara minyak dan alkohol, ini
dapat disebut sebagai reaksi transesterifikasi yang pada dasarnya
mereaksikan bentuk senyawa trigliserida minyak dengan alkohol
untuk kemudian membentuk gliserin dan metil ester, yang mana
metil ester inilah yang kemudian disebut sebagai biodiesel.
I.4. Sifat Fisika dan Kimia
I.4.1. Bahan Baku Utama
Sifat fisik biji karet :
Bentuk
: kotak bentuk tiga atau empat
Warna
:coklat dan kernel putih kekuningan
Nilai kalor
: 18850 J/g
Refractive indeks (400C)
: 1,466-1,469
Kekentalan kinematik (1000F)
: 4,5 Cp
Sumber: http//: www.id.wikipedia.com/ biji karet.
Sifat kimia biji karet adalah sebagai berikut :
1. Minyak
: 40-50%
2. Abu
: 2,71%
3. Protein
: 22,17%
4. Air
: 3,71%
5. Karbohidrat
: 24,21%
Sumber: Orchidea Rachmaniah, 2007
I.4.2. Bahan Baku Pendukung
1. Metanol (CH3OH)
Sifat fisik :
a. Freezing point/melting point
: -98oC
b. Boiling point (760mmHg)
: 64.7oC
c. Flash point
: 11oC
o
d. Viscocity (20 C)
: 0,55 Cp
Sifat kimia :
e. Rumus molekul
: CH3OH
f. Berat molekul
: 32.04 g/mol
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-31
BAB I PENDAHULUAN
g. Solubility
: miscible
h. Bersifat polar
2. Sodium Hydroxide (NaOH)
Sifat fisik :
a. Bentuk
: padatan
b. Warna
: tidak berwarna
c. Bau
: tidak berbau
d. Density (20oC)
: 2,13 gr/cm3
e. Melting point
: 323oC
f. Boiling point
:1390oC
o
g. Kelarutan (20 C) : 1090 g/l
Sifat kimia :
h. Rumus Molekul
: (NaOH)
i. Berat molekul
: 40 g/mol
j. Merupakan basa kuat
k. Sangat larut dalam air
3. Asam phosphate (H3PO4)
Sifat fisik :
a. Specific Gravity (25oC) : 1.69
b. Berat molekul
: 98 gr/mol
c. Viskositas (20oC) : 140
d. Boiling point
: 158oC
e. Melting point
: 42,35oC
f. Vapor Density (Air =1)
: 3,4
Sifat kimia :
g. Rumus molekul
: H3PO4
h. Berat molekul
: 98 gr/mol
i. Merupakan asam lemah
d. Air (25oC)
Sifat fisik :
a. Densitas
: 0.99707 mg/m3
b. Viskositas
: 0.89 m Pa.s (liquid)
: 9.35 M Pa.s (gas)
c. Heat Capacity
: 4.186 kj/kg.K
TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-32
BAB I PENDAHULUAN
d. Heat capacity critical
e. Freezing point
f. Rumus molekul
g. Berat molekul
Sifat kimia :
h. Rumus molekul
i. Berat molekul
I.4.3. Produk
I.4.3.1 Produk Utama
Sifat Fisika biodiesel :
a. Specific gravity
b. Kinematic viscosity
c. Titik nyala (Flash point)
d. Densitas
e. Cetane number
f. Higher heating value
g. Sulfur
h. Cloud point
i. Pour point
j. Iodine number
k. Lower heating value

: 4.216
: 2.042 kj/kg.K (gas)
: 0oC
: H2O
: 18.02 gr/gr mol
: H2O
: 18,02 gr/ gr mol

: 0,87-0,89
: 4,06-4,22
: 118-120
: 0,859
: 46-70
: 16.928-17.996 btu/lb
: 0,0-0,0024 wt%
:-11-160C
: -15-13
: 60-135
: 15.700-16.735 btu/lb

(Sumber : http//:www.biodiesel.org, 2005)

Sifat kimia Biodiesel :


j. Tidak larut dalam air
1.4.3.2. Produk Samping
Glycerine (glycerol)
Sifat fisik :
a. Boiling point (760mmHg)
b. Specific Heat
c. Heat of vaporization

TUGAS AKHIR

: 290oC
: 0.5779cal/gmat 26oC
: 21060cal/gm
at
55oC

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-33
BAB I PENDAHULUAN
d. Heat of formation
:159,6 Kcal/gm mole
e. Flash point
: 199oC
f. Fire point
: 204oC
Sifat kimia :
g. Rumus Molekul
: C3H8O3
h. Larut dalam air etil alkohol dan phenol
i. Tidak larut dalam senyawa hidrokarbon
j. Bersifat higroskopis

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi

I-34
BAB I PENDAHULUAN

HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN

TUGAS AKHIR

Pabrik Biodiesel Dari Biji Karet (Havea Brasiliensis)


Dengan Proses Double Stage Transesterifikasi