Anda di halaman 1dari 18

Laporan Praktikum

Hari/Tanggal: Rabu, 11 November 2015

Teknologi Pengolahan Pangan Nabati

Dosen : Eddy Fadillah, STP, M.Sc.


Asisten : Alfredo R. Kresna, A.Md

TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN NABATI


MIE KREASI

Oleh:
Kelompok 6 / BP2
Dania Syamsunita

J3E214099

Tiara Halwa Tsani

J3E214125

Wulan Anastasia

J3E114088

PROGRAM KEAHLIAN SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI 1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 2


1.2 Tujuan 2
BAB II

BAHAN DAN METODE

2.1 Bahan Baku dan Bahan Pendukung


2.2. Peralatan

2.3. Formulasi

2.4.

Bagan Alir Produksi

2.5.

Identifikasi Tahap Kritis Kendali Proses Produksi

2.6.

Desain Kemasan dan Label 7

2.7.

Target Proses Produksi

BAB III

PERSONALIA DAN ANGGARAN

3.1.

Personalia 9

3.2.

Rencana Anggaran dan Biaya

DAFTAR PUSTAKA 11

10

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mie merupakan jenis makanan yang diperkirakan berasal dari daratan
Cina. Hal ini dapat dilihat dari budaya bangsa Cina, yang selalu menyajikan mie
pada perayaan ulang tahun sebagai simbol untuk umur yang panjang (Juliano dan
Hicks, 1990).
Mie banyak dikonsumsi oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia
baik dari kalangan anak- anak hingga orang tua. Hal ini dikarenakan mie mudah
didapatkan dan mudah dalam penyajiannya. Berbagai keunggulan yang dimiliki
mie terutama dalam hal rasa, yang memiliki berbagai macam pilihan, tekstur dan
kenampakan yang menarik, harga terjangkau, praktis dalam pengolahannya, serta
memiliki kandungan gizi yang cukup baik. (Ritantiyah, 2010).
Mie, seperti yang kita tahu, terbuat dari campuran adonan tepung, telur, air
dan beberapa bahan lainnya. Mie yang sekarang ini beredar di masyarakat,
kebanyakan mengandung bahan pengawet yang jika dikonsumsi dalam jumlah
besar akan merugikan kesehatan tubuh. Hal ini semakin menyadarkan sebagian
besar masyarakat tentang pentingnya hidup sehat tanpa bahan kimia, terutama
pengawet makanan, sekalipun ketika kita memakan mie. Selain itu, adanya usaha
pengembangan produk mie menjadi makanan yang lebih bergizi pun terus
dilakukan. Salah satunya adalah mie hijau.
Mie hijau ini berbahan dasar sama seperti pada umumnya. Hanya saja,
berwarna hijau. Warna hijau pada mie ini didapat dari jus sayuran hijau yang di
estrak. Mie hijau yang dicampur dengan estrak sayuran hijau ini kaya akan serat,
vitamin dan juga berbagai nutrisi lainnya yang berguna bagi masyarakat. Mie ini
tidak hanya menyehatkan tetapi juga nikmat dan memiliki tampilan menarik.
1.2 Tujuan
Praktikum pembuatan mie kreasi pada mata kuliah Teknologi Pengolahan
Pangan Nabati ini bertujuan agar praktikan dapat mengetahui bahan, alat, serta
teknik pengolahan untuk membuat mie kreasi.

BAB II
BAHAN DAN METODE
2.1 Bahan Baku dan Bahan Pendukung
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Nama Bahan Baku/


Pendukung/Pengemas
Tepung terigu
Garam Dapur
Na- Karbonat
Air
Telur
Ayam
Sawi Hijau
Bawang merah
Bawang putih
Bawang Bombay
Lengkuas
Jahe
Kunyit
Daun Jeruk
Daun salam
Bubuk Pala
Merica
Gula
Kecap Manis
Kecap Asin
Saus Tiram
Garpu Plastik
Mangkok Plastik
Sticker

Spesifikasi Bahan Baku


Tepung terigu

Tempat/
Sumber Bahan Baku
protein Pasar Tradisional

tinggi
Sebagai penambah rasa
Air gallon
Telur Ayam
Daging ayam segar
Sebagai Toping
Sebagai bumbu
Sebagai bumbu
Sebagai bumbu
Sebagai bumbu
Sebagai bumbu
Sebagai bumbu
Sebagai bumbu
Sebagai bumbu
Sebagai bumbu
Sebagai bumbu
Sebagai penambah rasa
Sebagai penambah rasa
Sebagai penambah rasa
Sebagai penambah rasa
Ukuran standar
Ukuran 10 Oz
Sebagai label kemasan

Pasar Tradisional
Lab PK JMP
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Pasar Tradisional
Percetakan

2.2. Peralatan
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Nama Peralatan
Panci
Baskom
Pisau
Gilingan mie
Sendok
Nampan
Talenan
Timbangan

Spesifikasi Peralatan
2 buah
1 buah
4 Buah
1 Buah
2 Buah
5 Buah
5 Buah
1 Buah

Keterangan
(Lab PK JMP /
Disediakan oleh Praktikan)
Lab PK JMP
Lab PK JMP
Lab PK JMP
Lab PK JMP
Lab PK JMP
Lab PK JMP
Lab PK JMP
Lab PK JMP

2.3. Formulasi
No

Nama Bahan

1
2

Tepung terigu
Garam Dapur

Persentase
(terhadap basis
formula) (%)
100
2,5

Satuan

Jumlah
Satuan

Na- Karbonat

0,6

12

Air

50

1000

5
6

Telur
Ayam

6,25
50

ml
G

125
1000

Sawi Hijau

50

1000

Bawang merah

1,8

36

Bawang putih

1,2

24

10

Bawang Bombay

1,25

25

11

Lengkuas

0,25

5 (2 cm)

12

Jahe

0,25

5 (2 cm)

13

Kunyit

0,125

2,5 (1 cm)

14

Daun Jeruk

0,05

1(4 lembar)

15

Daun salam

0,025

0,5 (2

g
g

2000
50

16

Bubuk Pala

0,1

lembar)
2

17

Merica

0,1

18

Gula

0,2

19
20
21
22

Kecap Manis
Kecap Asin
Saus Tiram
Minyak Goreng

3,75
0,75
0,75
10

ml
ml
ml
ml

75
15
15
200

Dalam satu wadah tepung kaya protein sebanyak 2 kg bersama dengan


50gr garam dicampurkan.

kg telur Telur dimasukan dengan adonan yang telah dicampurkan.

Adonan Mie diuleni hingga adonan mie menjadi kalis dan tidak lengket.

2.4.

Bagan Alir Produksi


Adonan di masukan ke dalam gilingan mie.

Saat penggilingan, giling dengan nomer yang besar terlebih dahulu


hingga halus.

Nomer gilingan dikecilkan hingga ketebalan yang diinginkan.

Mie di cetak sesuai selera, bisa berbentuk pipih ataupun bulat

Mie di masukan ke dalam air mendidih.

Mie di angkat dan di tiriskan.

Mie di masukan kedalam kemasan yang telah di sterilisasi.

Mie di beri toping berupa Sawi Hijau, dan tumisan ayam kemudian di
tutup dengan penutup cup dan di beri label kemasan.

2.5.

Identifikasi Tahap Kritis Kendali Proses Produksi

No
Tahap Kritis
1
Pada saat mixing
adonan
2

Pengistirahatan adonan

Pembentukan lembaran

4.

Pencetakan mie

5.

Suhu perebusan mie

2.6.

Metode Evaluasi
Pengadukan atau
pencampuran adonan
hingga kalis dan tidak
lengket.
Waktu pengistirahan adonan
sesuai dengan yang
ditentukan (15 menit).
Memastikan ukuran yang
seragam pada lembaran
yang terbentuk.
Adonan hasil cetakan
ditaburkan tepung tapioka.
Pengukuran suhu perebusan
mie dengan termometer
infrared.

Periode Evaluasi
Saat pencampuran
adonan dalam satu
wadah/mixer
Saat adonan
selesai di-mixing
Diamati pada saat
pembentukan
lembaran di roll
noodle machine
Saat proses
pencetakan mie
Saat proses
perebusan atau
pemasakan mie.

Desain Kemasan dan Label


Kemasan yang digunakan unutk mengemas mie hijau ini adalah kemasan

cup plastik lengkap dengan tutup jenis PET. Plastic PET ini merupakan jenis
plastic yang banyak digunakan untuk mengemas berbagai jenis makanan dan

minuman karena sifatnya yang jernih atau tembus pandang sehingga dapat
memperlihatkan produk yang berada didalamnya. Selain itu, PET memiliki
kekuatan yang tinggi, kaku, dimensinya stabil, tahan panas, dan memiliki daya
serap uap air yang rendah demikian juga daya serap airnya (Mujiarto, 2005).
PET adalah singkatan dari polyethylene terephthalate merupakan resin
polyester yang tahan lama, kuat, ringan dan mudah dibentuk ketika panas.
kepekatannya adalah sekitar 1,35 1,38 gram/cc, ini membuatnya kokoh, rumus
molekulnya adalah (-CO-C6H5-CO-O-CH2-CH2-O-)n. (Norman, 2007).

Dibagian atas (tutup) dari kemasan mie hijau ini akan diberi label yang
akan menunjukan identitas (merk, jenis produk) dari produk kami.
Setelah mie dimasukan kedalam kemasan, kemasan akan masuk kedalam
tahap penutupan. Penutupan ini dilakukan agar produk mie terjaga dan tidak
tumpah saat penyimpanan dan penjualan hingga sampai ke tangan konsumen.

2.7.

Target Proses Produksi

Target jumlah produk yang akan dihasilkan : 32 buah


Kebutuhan produk untuk pengamatan, dan parameter yang akan diamati

selama pengamatan /penyimpanan


Target jumlah produk yang akan dijual
Harga jual
Target konsumen dan rencana pemasaran
Berat total mie
Berat mie/ kemasan
Berat tumisan/ kemasan
Berat bersih/ kemasan

: 2 buah
: 30 buah
: Rp 6.000/cup
: Mahasiswa diploma IPB
: 3000 gram
: 100 gram
: 15 gram
: 115 gram

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
Produk
Mie

Rasa
Asin

Tekstur
Kenyal

Aroma
Aroma

Warna
Kuning pucat

Kenampakan
Baik

Mie
3.2 Pembahasan
Mie merupakan bahan pangan yang berbentuk pilinan memanjang dengan
diameter 0,07-0,125 inchi yang dibuat dengan bahan baku terigu atau tanpa
tambahan kuning telur (Beans et al, 1974). Sifat khas mie adalah elastis dan
kukuh dengan lapisan permukaan yang tidak lembek dan tidak lengket. (Oh et al,
1983).
Tepung terigu merupakan bahan dasar pembuatan mie. Tepung terigu
diperoleh dari biji gandum (Triticum vulgare) yang digiling. Tepung terigu
berfungsi membentuk struktur mie, sumber protein dan karbohidrat. Kandungan
protein utama tepung terigu yang berperan dalam pembuatan mie adalah gluten.
Gluten dapat dibentuk dari gliadin (prolamin dalam gandum) dan glutenin. Protein
dalam tepung terigu untuk pembuatan mie harus dalam jumlah yang cukup tinggi
supaya mie menjadi elastis dan tahan terhadap penarikan sewaktu proses

produksinya. Bahan-bahan lain yang digunakan antara lain air, garam, bahan
pengembang, zat warna, bumbu dan telur.
Air berfungsi sebagai media reaksi antara gluten dan karbohidrat, melarutkan
garam, dan membentuk sifat kenyal gluten. Pati dan gluten akan mengembang
dengan adanya air. Air yang digunakan sebaiknya memiliki pH antara 6 9, hal
ini disebabkan absorpsi air makin meningkat dengan naiknya pH. Makin banyak
air yang diserap, mie menjadi tidak mudah patah. Jumlah air yang optimum
membentuk pasta yang baik.
Garam

berperan

dalam

memberi

rasa,

memperkuat

tekstur

mie,

meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas mieserta mengikat air. Garam dapat


menghambat aktivitas enzim protease dan amilase sehingga pasta tidak bersifat
lengket dan tidak mengembang secara berlebihan.
Putih telur akan menghasilkan suatu lapisan yang tipis dan kuat pada
permukaan mie. Lapisan tersebut cukup efektif untuk mencegah penyerapan
minyak sewaktu digoeng dan kekeruhan saus mie sewaktu pemasakan. Lesitin
pada kuning telur merupakan pengemulsi yang baik, dapat mempercepat hidrasi
air pada terigu, dan bersifat mengembangkan adonan.
Natrium karbonat, dikenal sebagai alkali, berperan dalam pembentukan
gluten, meningkatkan elastisitas dan ekstensibilitas serta menghaluskan tekstur.
(Anonima, 2011).
Terdapa tiga golongan mie menurut Standar Nasional Indonesia (SNI), yaitu :
mie basah, mie kering, dan mie instan. Pada praktikum kali ini, jenis mie yang
dibuat adalah mie basah. Mie basah adalah mie mentah yang sebelum dipasarkan
mengalami perebusan dalam air mendidih terlebih dahulu. Pembuatan mie basah
secara tradisional dapat dilakukan dengan bahan utama tepung terigu dan bahan
pembantu seperti air, telur, dan pewarna. Mie basah memiliki kadar air mencapai
52% sehingga daya tahan simpannya relatif singkat (40 jam pada suhu kamar).
(Made Astawan, 1999).
Mie mentah yang belum direbus mengandung air sekitar 35 %, mie kering
(mie mentah yang dikeringkan) sekitar 10 %, mie instan (mie mentah yang
dikukus kemudian digoreng) sekitar 8 %, sedangkan mie goreng (mie mentah
yang digoreng) mengandung lipid sekitar 20 % (Kruger et al, 1996).

Proses pembuatan mie melalui beberapa tahap, yaitu dimulai dengan


pencampuran bahan ke hopper, selanjutnya dilakukan pengadukan (mixing),
pembentukan adonan menjadi lembaran (roll-sheeting), pembelahan lembaran
menjadi untaian mie (slitting), pengukusan (steaming), pemotongan dan pelipatan
(cutting and folding), dan pengemasan (packing).
Dalam proses mixing semua bahan dimixer menjadi satu sampai terbentuk
adonan. Gluten pada tepung terigu akan mulai terbentuk pada saat tepung terigu
dibasahi dengan air yaitu pada tahap pencampuran adonan. Pada saat gluten
dibasahi, komponen di dalam gluten akan mengembang dan saling mengikat
dengan kuat sehingga akan membentuk adonan yang bersifat liat. Oleh karena itu,
kadar protein di dalam tepung terigu akan berpengaruh dalam kekenyalan dan
elastisitas mie basah, sehingga mie basah yang dihasilkan tidak akan mudah putus.
Tahap pencampuran bertujuan agar hidrasi tepung dengan air berlangsung secara
merata dan menarik serat-serat gluten. Untuk mendapatkan adonan yang baik
harus diperhatikan jumlah penambahan air (28 38 %), waktu pengadukan (15
25 menit), dan suhu adonan (24 40C). adonan dengan kadar air cukup akan
membentuk struktur gluten sehingga diperoleh adonan yang homogen dan
memudahkan dalam proses pembentukan lembaran.
Sebelum adonan dibentuk menjadi lembaran, diperlukan waktu untuk
memberi kesempatan adonan untuk beristirahat sejenak. Tujuannya adalah untuk
menyeragamkan penyebaran air dan mengembangkan gluten, terutama bila pHnya kurang dari 7.0. Pembentukan lembaran (roll-sheeting) Proses pembentukan
lembaran bertujuan untuk menghaluskan serat-serat gluten dan membuat lembaran
adonan. Pasta yang dipress sebaiknya tidak bersuhu rendah yaitu kurang dari
25oC, karena pada suhu tersebut menyebabkan lembaran pasta pecah-pecah dan
kasar. Mutu lembaran pasta yang demikian akan menghasilkan mie yang mudah
patah. Tebal akhir pasta sekitar 1,2 2 mm.
Proses pengirisan (slitting) adalah pengirisan lembaran adonan menjadi
untaian-untaian mie dengan menggunakan slitter yang terletak didepan roller
press. Pada proses ini, mie diberikan taburan tepung tapioka. Hal ini bertujuan
agar lembaran-lembaran mie tidak saling menempel pada saat direbus dan tidak
menggumpal. Setelah diiris, mie direbus dalam air mendidih hingga matang. Suhu

pada proses perebusan ini tidak boleh terlalu tinggi, karena jika suhu terlalu tinggi
maka mie akan hancur dan teksturnya akan sangat lembek. (Koswara, 2009).
Secara umum kualitas mie dapat ditentukan berdasarkan kualitas
masaknya yang berhubungan dengan pengembangan, kehilangan padatan selama
perebusan terutama komponen patinya, sedangkan kelentingannya dipengaruhi
oleh kandungan gluten pada tepung. Peningkatan tingkat pengembangan setelah
perebusan berkaitan dengan kemampuan mengikat air.
Mie basah yang dihasilkan pada praktikum kali ini memiliki tekstur, rasa,
dan kenampakan yang baik serta layak untuk dijual. Namun, tidak memiliki waktu
simpan yang lama. Dari segi rasa, mie basah ini sudah memiliki rasa yang baik
dan tidak terlalu asin. Penambahan minyak goreng pada pembuatan mie basah
berperan dalam pembentukan cita rasa pada mie basah. Selain itu, penambahan
garam dan senyawa alkali juga mempengaruhi cita rasa makanan. Garam
digunakan pada pembuatan mie untuk memberi rasa gurih dan meningkatkan
kelihatan gluten. Senyawa alkali yang ditambahkan pada proses pembuatan mie
basah juga ikut berperan pada pembentukan cita rasa mie basah (Ketaren, 1986).
Dari segi tekstur, mie basah yang dihasilkan bersifat kenyal dan elastis.
Penambahan garam dapur (NaC1) disamping memberikan rasa pada mie juga
untuk memperkuat tekstur, membantu reaksi gluten dan karbohidrat dalam
mengikat air (Winarno, 1994). Sifat keelastisan pada mie dipengaruhi oleh
kandungan protein yang ada pada tepung terigu. Semakin tinggi kadar protein
yang ada maka semakin tinggi kemampuan menyerap air sehingga adonan mie
menjadi tidak putus. Hal ini membuat adonan mie semakin tahan lama dalam
proses perebusan. Dari segi warna, mie basah ini memiki warna kuning pucat.
Warna pada mie dipengaruhi oleh bahan-bahan yang digunakan. Warna kuning
pucat yang dihasilkan oleh mie disebabkan karena dalam pembuatannya tidak
menggunakan zat pewarna.
Dari segi aroma, aroma mie yang dihasilkan sama seperti aroma mie
seperti biasanya. Aroma pada mie basah dipengaruhi oleh adanya senyawa yang
bersifat volatil dan senyawa alkali (Soraya 2011). Senyawa volatil adalah bahan
atau senyawa organik yang mudah menguap yang dihasilkan berupa gas dari
beberapa bahan padat atau cair. Contoh senyawa volatil yang terdapat pada mie

adalah asam lemak dan senyawa ester. Selain itu penambahan minyak goreng juga
mempengaruhi pembentukan aroma mie basah. Dari segi kenampakan, mie
basah yang dihasilkan terlihat baik dan lembaran-lembaran mie berukuran
seragam.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa pembuatan mie basah
dimulai dengan pencampuran bahan ke hopper, selanjutnya dilakukan pengadukan
(mixing), pembentukan adonan menjadi lembaran (roll-sheeting), pembelahan
lembaran menjadi untaian mie (slitting), pengukusan (steaming), pemotongan dan
pelipatan (cutting and folding), dan pengemasan (packing) dengan bahan utama
tepung terigu dan bahan pembantu seperti air, telur, garam, dan mentega. Kualitas
mie ditentukan berdasarkan kualitas masaknya yang berhubungan dengan
pengembangan, kehilangan padatan selama perebusan terutama komponen
patinya, sedangkan kelentingannya dipengaruhi oleh kandungan gluten pada
tepung. Peningkatan tingkat pengembangan setelah perebusan berkaitan dengan
kemampuan mengikat air. Mie basah yang dihasilkan pada praktikum kali ini
memiliki tekstur, rasa, dan kenampakan yang baik serta layak untuk dijual.
Namun, tidak memiliki waktu simpan yang lama.

4.2 Saran
Sebaiknya praktikan harus dapat mengatur waktu dalam proses pembuatan
produk sehingga tahap-tahap pembuatan produk dapat dilakukan dengan teliti.
Selain itu, praktikan juga harus bekerja secara aseptik agar resiko terjadinya
perubahan pada produk dapat diminimalisir.

BAB V
PERSONALIA DAN ANGGARAN
5.1 Personalia
No
Tugas
1
Ketua Tim

PPIC

Manajer
Produksi
a. Staf
Persiapan
Bahan
b. Staf
Pemotongan

c. Staf
Pemasakan
d. Staf
Pengisian
dan
Penutupan
Kemasan
Manajer QC
a. Staf
Pengujian
pH
b. Staf kendali
suhu dan
waktu
proses

Deskripsi Tugas
Bertanggung jawab
dan mengontrol
semua kegiatan
produksi
Pengadaan Bahan
dan Peralatan

Nama
Respon Harefa

NIM
J3E414140

Alfina Syaikani
Meidina Hutami
Tiara Halwa

J3E114047
J3E214138
J3E214099

Melakukan persiapan
bahan yang akan
digunakan
Melakukan
pengecilan ukuran
pada jelly
Melakukan proses
pembuatan produk
Melakukan pengisian
serta pengemasan
produk

Tiara Halwa

J3E214099

Feby Riyandini

J3E214121

Lisdiani Nurul
Dania Syamsunita
Citra Oktarina
Wulan Anastasia

J3E114053
J3E214099
J3E114065
J3E113088

Singgih Prasetyo

J3E114077

Dita Agustiah

J3E114076

Kemala Putri

J3E114044

Melakukan
pengukuran pH pada
saat pembuatan serta
sebelum pengemasan
Melakukan
pengendalian suhu
dan waktu proses
produksi

Manajer
Pemasaran

Melakukan penjualan
produk

Riyana Hermawati
Yunin Lena

J3E114034
J3E114001

5.2 Rencana Anggaran dan Biaya


No Bahan/Alat/
Kemasan
1

Tepung
terigu

2
3

Telur
Garam

Wortel

Ayam

Kecap

Minyak

8.

10

Garpu
Plastik
Mangkok
plastik
Stiker

11

Panci

12

Pisau

13

Blender

14

Baskom

15

Gilingan
mie
Sendok
Nampan
talenan

16
17
18

Spesifikasi

Tepung
terigu
protein
tinggi
Telur ayam
Penambah
rasa
Sebagai
toping
Sebagai
toping
Sebagai
toping
Agar tidak
lengket
Ukuran
standar
Ukuran 10
oz
Stiker untuk
kemasan
wadah
bahan baku
Pisau untuk
memotong
bayam
Memblender
bayam
wadah
bahan
mencetak
mie
Memotong

Jum- Satu- Pengadaan


lah
an
Mhs JMP
2

kg

Harga
satuan
(Rp)
12000

Total
Harga
(Rp)
24000

kgl
pcs

5000
1.000

5000
1.000

kg

3.000

3.000

kg

35.000

35.000

pcs

12.000

12.000

kg

7.000

7.000

35

pcs

15

5500

35

pcs

750

26000

35

pcs

15000

15000

buah

buah

buah

buah

buah

2
5
2

buah
buah
buah

toping dan
bahan
lainnya
TOTAL

133.500

5.3 Hasil Biaya Pengeluaran Dan Penjualan Mie Yumie

5.3.1 Pengeluaran
Kemasan

= 41.000

Tepung Cakra

= 10.350

Tepung Segitiga

= 10.000

Minyak

= 4.400

Garam

=1.750

Garpu

= 8.400

Ayam

= 25.000

Kecap

= 9.000

Telur

= 5.500

Saus

= 11.000

T. tapioka

= 4.500

Sawi Hijau

= 6.000

Na. karbonat

= 5.000

Stiker

= 15.000 +

Total

= Rp 156.900,00

5.3.2 Penjualan
41 mangkok yang terjual
Harga per mangkok : Rp 6000,00
Rincian

: 10 mangkok x Rp 6000,00
31 mangkok x Rp 5000,00
Total

= Rp 60.000,00
= Rp 155.000,00

= Rp 215.000,00

5.3.3 Keuntungan
Penjualan Modal

= Rp. 215.000,00 156.900,00


= Rp. 58.100,00
DAFTAR PUSTAKA

Anonima. 2011. Pembuatan Mie Basah [Internet].[Diunduh pada: 2015 Nov 10].
Tersedia pada : http://gunasoraya.blogspot.co.id/2011/01/pembuatan-miebasa.html.
Juliano, B.O. dan P.A. Hicks. 1990. Utilization of rice functional properties to
produce rice food products with modern processing technologies.
International Rice Commission Newsletter. 39: 163-178.
Ketaren, S. 1986. Minyak dan Lemak Pengan. Jakarta: UI Press.
Koswara, Sutrisno. 2009. Teknologi Pengolahan Mie. Ebook Pangan. Tersedia di :
http://tekpan.unimus.ac.id.
Kruger, James E., Et Al., Pasta And Noodle Technology ( Usa : American
Association Od Cereal Chemist, Inc, 1996).
Mujiarto, Iman. 2005. Sifat dan Karakteristik Material Plastik dan Bahan Aditif.
Traksi. 3(2) : 65.
Norman, Chad. 2007. Plastic [Internet]. [diunduh pada 2015 Okt 6]. Tersedia pada
: http://gogreencharleston.org/.
Oh NH, Seib PA, Deyou CW, Ward AB. 1983. Measuring the textural
characteristic of dry noodles. Cereal Chemistry 60:433-437.
Ritantiyah. 2010. Laporan magang di Pt. Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk
(qualitycontrol mie instant ). Surakarta: Program Diploma Teknologi
HasilPertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret.
Soraya. 2011. Pembuatan mie. [Internet]. [diunduh pada 2015 November 10].
Tersedia pada : http://gunasoraya.blogspot.com
Winarno, F. G. 1994. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.