Anda di halaman 1dari 3

II.

KRITIKAN
TERHADAP
INTERVENSI KEYNESIAN.

KEBIJAKSANAAN

Terdapat beberapa pandangan Keynes yang tidak disukai pakar


ekonomi, terutama pandangannya mengenai campur tangan pemerintah.
Kritik paling vokal datang dari pakar ekonomi neo-klasik konservatif.
Mereka dibagi menjadi 2 golongan yaitu golongan tua dan golongan muda.
Golongan tua terdiri dari Karl Menger, Fredrich August von Hayek dan
Ludwig von Mises (semuanya dari Austria), Wilhem Ropke, Lionel Robbins
(dari Inggris). Semuanya mencela kebijaksanaan campur tangan pemerintah
Keynes sama kerasnya dengan celaan mereka terhadap paham sosialisme.
Celaan paling keras dari kelompok Libertarian. Menurutnya
kebebasan individu di atas segalanya, adanya intervensi pemerintah dapat
menjadi ancaman bagi kebebasan individu. Alasan penolakan mereka
diwakili oleh pendapat Fredrich von Hayek dalam bukunya The Road to
Serfdom (isinya: sekali pemerintah melakukan intervensi pasar , ini akan
mengarah pada sosialisme yang pada akhirnya akan menyebabkan
berkurangnya kebebasan, masyarakat akan menjadi hamba pemerintah).
Dari golongan muda tokohnya Milton Friedman, berpandapat bahwa
campur tangan pemerintah diperlukan dalam batas-batas tertentu sehingga
dapat menciptakan suatu perekonomian di mana pasar bebas dapat berfungsi
lebih efektif. Friedman tidak suka dengan terlalu banyak kebijaksanaan
sebab bisa menimbulkan kerugian. Dosen Friedman, Henry C. Simons
dalam artikelnya A Positive Program for Laissez-faire menganjurkan
agar dalam upaya memajukan perekonomian perlu diberantas segala bentuk
monopoli, batasi ukuran perusahaan, promosikan stabilitas ekonomi, bentukbentuk aturan yang stabil untuk kebijaksanaan moneter (Deliarnov,
1995:180).
Seperti di tulis oleh Mark Skousen (2005: 496) depresi ekonomi dunia
tahun 1930an, menurut kesimpulan Friedman adalah akibat mismanajemen
pemerintah ketimbang oleh ketidakstabilan dari ekonomi swasta. Lebih jauh
ia menulis depresi bukan kegagalan sistem usaha bebas tetapi kegagalan
tragis dari pemerintah, yaitu bank-bank di seluruh Amerika Serikat yang
jumlahnya hampir 2000 buah gagal untuk memenuhi permintaan uang tunai
oleh masyarakat secara sekaligus dalam jumlah yang banyak. Berkat karya
Friedman, buku-buku ajar ekonomi pelan-pelan mengganti kegagalan
pasar dengan kegagalan pemerintah dalam bagian tentang depresi besar
1929-1933.

Serangan lain oleh Friedman terhadap Keynesian pada 1962 dengtan


meluncurkan buku Capitalism and Freedom. Di sana dia mempertanyakan
efektivitas dan stabilitas pembiayaan kontrasiklik Keynesian. Dia
mengungkapkan kesalahan konsep multiplier, dan menyebutnya palsu.
Analisis Keynesian sederhana secara implist mengasumsikan bahwa
meminjam uang tidak berakibat pada pengeluaran lainnya. Friedman juga
mencatat bahwa anggaran federal adalah komponen paling tak stabil dari
pendapatan nasional pada periode pasca perang.
Friedman juga meragukan kurva Phillips, dengan memperkenalkan
konsep tingkat pengangguran alamiah untuk menandingi kurva Phillips.
Keynesian menyetujui kurva Phillips untuk menjustifikasi kebijakan fiskal
liberal; menurut mereka inflasi dapat ditoleransi jika itu berarti
pengangguran rendah. Inflasi yang rendah tidak berbahaya dan dianggap
baik. Friedman keberatan dan mengatakan bahwa selalu ada pertukaran
yang bertentangan (trade-off) antara inflasi dan pengangguran; tetapi tidak
ada trade-off permanen. One of the first economists to challenge the analysis
and policy implications of the Phillips curve was Milton Friedman.
Friedman contends that the Phillips curve upon which the policy of constant
inflation is based is stricly a short-run trade-off that disappears in the long
run. In the long run there can be only one rate of unemployment, the
frictional rate, or as Friedman prefers to call it, the natural rate of
unemployment (GLAHE, 1973:234).
Samuelson (2002: 696) mengungkapkan pendapat Friedman tentang
keraguannya atas kurva Phillips dengan konsep the Nonaccelerating
Inflation Rate of Unemployment (NAIRU). NAIRU is that unemployment
rate consistent with a constant inflation rate. At the NAIRU, upward and
downward forces on price and wage inflation are in balance, so there is no
tendency for inflation to change. The NAIRU is the lowest unemployment
rate that can be sustained without upward pressure on inflation.
Berdasarkan uraian di atas tentang kurva Phillips bahwa di dalam
jangka pendek teori Phillips terbukti pada tahun 1960an sampai tahun 1970
yaitu terdapat trade-off antara pengangguran dan inflasi. Kurva Phillips
mempunyai kemiringan negatif. Tetapi dalam jangka panjang bentuk kurva
Phillips vertikal, hal ini menunjukkan hanya terdapat satu tingkat
pengangguran yang konsisten dengan inflasi yang tetap, tingkat
pengangguran ini disebut pengangguran alamiah. Pada tingkat pengangguran
alamiah yaitu pengangguran yang terendah yang dapat dicapai, inflasinya
stabil. Apabila pengangguran telah mencapai tingkat pengangguran alamiah,
usaha-usaha pemerintah untuk menurunkan tingkat pengangguran dengan

meningkatkan pengeluaran pemerintah tidak akan berhasil, malah akan


menimbulkan inflasi.
Dengan demikian maka teori Keynesian yang menyatakan bahwa
selama masih banyak pengangguran maka selama itu pula pengeluaran
pemerintah dapat ditingkatkan tanpa menimbulkan inflasi, tidak lagi
menunjukkan kebenaran dalam realitas. Nyatanya kegiatan yang diarahkan
untuk menurunkan tingkat inflasi pada tahun 1970an telah menyebabkan
semakin tingginya angka pengangguran, dan usaha untuk mengurangi
pengangguran lewat pengeluaran pemerintah telah menyebabkan semakin
parahnya inflasi.