Anda di halaman 1dari 9

Ketahanan Nasional dan Geostrategi

Disusun Oleh :

Ishmah Aini Rufaidah

Jurusan : D IV Keperawatan

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN PALEMBANG


SUMATERA SELATAN
TAHUN 2014

Contoh kasus yang mengancam ketahanan nasional indonesia dari dalam negeri :

Gerakan Aceh Merdeka (GAM)


A. SEJARAH GAM (GERAKAN ACEH MERDEKA)
Jika dibuka kembali sejarah perjalanan konflik Aceh, dapat disebut bahwa tanggal 26 Maret
1873 merupakan akar munculnya persoalan Aceh, yang masih terasa imbasnya sampai
sekarang. Kerajaan Belanda melalui Nieuwenhuyzen, Komisaris Gubernemen Belanda
mengeluarkan maklumat dan pernyataan perang terhadap kerajaan Aceh tepat tanggal 26
Maret 1873 di atas sebuah kapal perang Citadel van Antwerpen bersamaan dengan
pendaratan perdana serdadu Belanda di sekitar Ulee Lhe, Banda Aceh.
Pernyataan perang ini dikeluarkan karena kerajaan Aceh tidak mau tunduk di bawah dominasi
Belanda, tidak mau melepaskan kewenangannya mengontrol selat malaka. Belanda bahkan
menuding pejuang Aceh telah melakukan perompakan di selat Malaka tersebut, dan
melakukan sabotase atas kapal-kapal dagang Belanda. Tak hanya itu, tindakan kerajaan Aceh
membangun hubungan diplomatic dengan Kerajaan Turki serta dengan beberapa Negara
lainnya seperti Perancis, Italia dan Amerika membuat kerajaan Belanda sangat marah dan
mendorong Belanda menyerang Aceh.
Pernyataan perang ini memicu respon yang cukup keras dari Kerajaan Aceh. Sehingga dalam
sebuah riwayat yang beredar di dalam masyarakat Aceh, maklumat perang Belanda ini
dijawab oleh Majelis Negara Aceh dalam bentuk pernyataan sindiran, bek lei takheun
nanggroe, manok nyang tan gigoe nyang na lam nanggroe Aceh bek ka teumueng raba,
(Jangankan merebut Negeri, ayam yang tanpa gigi pun yang ada di bumi Aceh jangan cobacoba disentuh).

Apa yang terjadi kemudian pasca Maklumat perang itu? Aceh terjebak dalam perang yang
berkepanjangan. Sekitar 70 ribu pejuang Aceh menjadi korban, sementara di pihak Belanda
sebanyak 35 ribu jiwa ikut menjadi korban di samping kerugian material yang cukup besar.
Banyaknya korban yang jatuh di antara kedua belah pihak membuat Belanda mengevaluasi
kembali kebijakannya, karena perang ini sangat melelahkan dan mengakibatkan kerugiaan
sangat besar di pihak Belanda.
Bahkan seorang perwira Belanda, Jenderal Kohler, yang memiliki kecakapan perang tewas di
tangan pejuang Aceh dalam suatu peperangan di depan Mesjid Raya Baiturrahman Banda
Aceh. Kematian Jenderal Kohler berpengaruh besar terhadap keruntuhan mental para serdadu
Belanda. Kerajaan Belanda terpaksa menarik pasukannya dari Aceh dan mempersiapkan
rencana peperangan kedua secara besar-besaran.
Meski pada tahun 1942 Belanda keluar dari Aceh, namun maklumat perang tersebut tak
pernah dicabut. Hal inilah kemudian yang menimbulkan persoalan baru bagi rakyat Aceh. Di
mana tanggal 26 Maret selalu dikenang oleh masyarakat Aceh sebagai babak kelam sejarah
Aceh. Rakyat Aceh selalu meminta agar maklumat perang itu dicabut. Karena, selama
maklumat perang itu belum dicabut, berarti antara Aceh dan Belanda masih terlibat
peperangan. Dan klaim Aceh sebagian dari Indonesia sama sekali keliru.
Warisan persoalan maklumat perang ini berlanjut sampai sekarang. Masalah kedaulatan
menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tuntutan masyarakat Aceh. Gerakan Aceh Merdeka
(GAM) yang diproklamirkan oleh Tgk Hasan Muhammad di Tiro meletakkan persoalan
kedaulatan Aceh sebagai sumber perjuangan gerakannya. Baginya Aceh tak pernah secara sah
diserahkan kepada Hindia Belanda (Indonesia).
Belanda dalam pandangannya melakukan kesalahan besar dengan menggabungkan Aceh ke
dalam wilayah teritori Indonesia. Artinya, ketidakmampuan Belanda menaklukkan Aceh
dibalas dengan tindakan menyerahkan Aceh secara sepihak kepada Hindia Belanda. Belanda
tidak

mau

mengakui

kekalahan

berperang

dengan

kerajaan

Aceh.

Sebelum munculnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), sebenarnya benih-benih perlawanan


rakyat Aceh sudah muncul dalam bentuk DI/TII yang dipimpin oleh tokoh Ulama Aceh
Kharismatik, Tgk Muhammad Daud Beureueh pada Tahun 1953. Namun, gerakan ini
masih mengikatkan diri dalam bingkai Republik, di mana DI/TII digabungkan dalam gerakan
DI/TII di Jawa Barat pimpinan Kartosuwiryo. Gerakan ini sama sekali bukan bertujuan
membentuk kembali Negara Aceh.
Munculnya Gerakan ini juga disebabkan oleh perlakuan Jakarta yang memasukkan Aceh
sebagai bagian Sumatera Utara. Aceh yang telah berjuang mengusir Belanda hanya dijadikan

sebagai sebuah keresidenan. Tuntutan rakyat Aceh agar diberi status khusus sebagai wilayah
yang berlaku syariat Islam juga tak diakomodir oleh pemerintah di Jakarta.
Berbeda dengan DI/TII, Gerakan Hasan Tiro mencoba mengubah Aceh menjadi sebuah
Negara tersendiri yang terpisah dari Indonesia seperti sebelumnya. Hasan Tiro secara frontal
memperjuangkan pemisahan Aceh dari Jakarta. Bagi Hasan Tiro, Aceh tak memiliki
hubungan apapun dengan Indonesia. Menurutnya, Aceh hanya memiliki permasalahan
dengan Belanda. Karena itu ada tuntutan agar Belanda mencabut maklumat perang dan
memulihkan kedaulatan Aceh seperti sedia kala.
Konflik Aceh pun dimulai. Di satu sisi, Pemerintah sudah mengekalkan bahwa Aceh adalah
bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Indonesia. Apapun akan dilakukan jika demi
mempertahankan sejengkal tanah NKRI ini. Klaim Indonesia terhadap Aceh sudah final:
Aceh merupakan bagian dari Indonesia yang harus dipertahankan.
Sementara GAM mengkampanyekan kemerdekaan untuk Aceh. Pada mulanya kampanye
lebih diarahkan pada penyadaran ideologis rakyat Aceh sebagai bangsa yang memiliki
kedaulatan. Meski pada awalnya sangat sedikit masyarakat Aceh yang terpengaruh pada
kampanye GAM ini. Di mana gerakan ini hanya popular di tiga wilayah saja yaitu Pidie,
Aceh Utara dan Timur.
Pada awalnya Pemerintah di Jakarta tak begitu merespon gerakan ini. Namun, karena
ancaman terhadap keutuhan NKRI betul-betul telah nampak di depan mata, apalagi aktivis
GAM di luar negeri sudah kembali ke Aceh dan memicu perang terbuka dengan serdadu
republic di Aceh. Mau tak mau memaksa pemerintah menggunakan kekuatan bersenjata.
Akibatnya sudah dapat ditebak, banyak rakyat Aceh yang tak terkait apa-apa dengan gerakan
ini ikut menjadi korban.
Puncaknya pada tahun 1989 secara illegal pemerintah memberlakukan status Daerah Operasi
Militer (DOM) di Aceh, di mana sebelumnya dikenal dengan Operasi Jaring Merah. Aceh
dipaksa masuk dalam pusara konflik. Ribuan serdadu dikirim ke Aceh untuk menumpas 120
anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Padahal munculnya gerakan ini juga tak terlepas dari kebijakan salah yang diterapkan
pemerintah terhadap Aceh. Hasil alam Aceh yang sangat kaya raya dikeruk sedemikian rupa
tetapi masyarakat Aceh hidup dalam kemiskinan. Rakyat Aceh menjadi penonton terhadap
proyek-proyek besar pemerintah di Aceh. Hasil alam Aceh diekploitasi tanpa henti, sementara
rakyat Aceh dijadikan sebagai sapi perahan dan budak di negeri sendiri. Tak hanya itu
perlakuan refresif pemerintah juga membuat masyarakat Aceh semakin jauh dengan
pemerintah di Jakarta.

Anehnya, operasi penumpasan GAM menimbulkan persoalan kemanusiaan yang sangat


dahsyat. Banyak masyarakat Aceh menjadi korban dari kebijakan pemerintah meski tak ada
sangkut pautnya dengan GAM. Operasi yang semula untuk menghancurkan GAM ternyata
berubah wujud menjadi operasi pemusnahan etnis Aceh. Kesan ini yang kemudian muncul
ketika munculnya gerakan reformasi di Aceh.
Begitu reformasi, tuntutan pencabutan DOM di Aceh menjadi salah satu isu yang
menggelinding di kalangan mahasiswa Aceh. Sepertinya, mayoritas masyarakat menghendaki
pencabutan status DOM di Aceh. Karena DOM tak lebih sebagai kebijakan legalitas
memusnahkan masyarakat Aceh. Terbukti kemudian begitu DOM dicabut, ribuan masyarakat
Aceh ikut menjadi korban keganasan serdadu pemerintah.
Perlakuan seperti ini di antaranya yang memaksa mahasiswa Aceh merumuskan ulang posisi
Aceh di dalam Indonesia. Melalui Kongres Mahasiswa dan Pemuda Aceh Serantau Tahun
1999, masyarakat Aceh mengirimkan pesan khusus terhadap Jakarta: Aceh sudah muak terus
menerus menjadi bagian dari Indonesia; Aceh ingin merdeka. Sejak itulah lembaga
perjuangan masyarakat sipil Aceh, Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) dilahirkan
sebagai lembaga yang memperjuangkan referendum penentuan nasib sendiri untuk rakyat
Aceh di bawah pengawasan internasional. Tak tanggung-tanggung, mereka mengusung dua
opsi radikal untuk Aceh: Bergabung dengan Indonesia atau pisah (Merdeka).
Sejak saat itu, nasionalisme Aceh seperti menemukan bentuknya kembali. Di berbagai tempat
dipasang spanduk berisi keinginan untuk kemerdekaan. Rakyat Aceh tenggelam dalam
hysteria referendum untuk kemerdekaan. Gerakannya melingkupi seluruh pelosok Aceh.
Nyanyian hikayat Perang Sabil dilantunkan di mana-mana, di berbagai tempat dan
kesempatan. Kebencian terhadap Jakarta semakin menjadi-jadi. Jakarta saat itu di mata rakyat
Aceh adalah penjajah.
Puncaknya, tepat tanggal 8 November 1999, sekitar 2 juta masyarakat Aceh dari berbagai
wilayah di Aceh berkumpul di halaman Mesjid Raya Banda Aceh dan mengikrarkan diri siap
berjuang sampai darah penghabisan untuk perjuangan referendum penentuan nasib sendiri
bagi rakyat Aceh. Sebelumnya, di setiap wilayah sudah digelar konvoi dan aksi massa
perjuangan referendum yang diikuti ratusan ribu masyarakat Aceh.
Presiden Gus Dur yang sedang melawat ke Pnom Phen, Kamboja, merespon tuntutan rakyat
Aceh dengan mengatakan, jika Timor-Timur bisa referendum, mengapa Aceh tidak? Itu
kan tidak adil.
Tak hanya itu, dalam suatu wawancara dengan Radio Netherland, Gus Dur juga berujar,
Sebagai seorang Demokrat saya tidak bisa menghalangi keinginan rakyat Aceh untuk

menentukan nasib sendiri. Tetapi sebagai seorang republic, saya diwajibkan untuk menjaga
keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia.
Tuntutan rakyat Aceh untuk penentuan nasib sendiri tak juga menjadi kenyataan. Sementara
kekerasan terus terjadi. Pembantaian demi pembantaian semakin menyayat hati. Operasi demi
operasi digelar untuk menghancurkan GAM. Rakyat Aceh kembali terjepit di antara dua kubu
yang sedang bertikai.
Beruntung pada medio Mei 2000, terjadi Jeda Kemanusiaan untuk memudahkan penyaluran
bantuan kemanusiaan untuk rakyat Aceh. Tetapi, hanya pada fase pertama jeda kemanusiaan
sangat efektif, setelah itu kekerasan kembali terjadi. Selanjutnya pembicaraan politik kembali
terjadi dengan dicapainya Cessation of Hostilities Agreement (CoHA), 9 Desember 2002 di
Jenewa untuk penghentian permusuhan di Aceh. CoHA juga tak dapat bertahan lama, karena
sulitnya membangun kepercayaan di antara para pihak bertikai. Selain itu, tidak dicapainya
kata sepakat tentang formula penyelesaian konflik Aceh. GAM tetap pada pendiriannya
menuntut kemerdekaan untuk Aceh, sementara RI memaksakan otonomi sebagai solusi
penyelesaian Aceh. CoHA pun gagal dipertahankan.
Tepatnya tanggal 19 Mei 2003, Pemerintah Indonesia mengeluarkan maklumat perang dalam
bentuk pemberlakuan Darurat Militer di Aceh. Kekuatan militer dikerahkan secara besarbesaran ke Aceh. Inilah pengerahan Militer secara besar-besaran setelah invasi ke TimorTimur pada Tahun 1975. Tak ada orang yang bisa meramalkan kapan perang itu akan diakhiri.
Pembicaraan tentang perdamaian tak ada ruangnya lagi. Pemerintah telah bersikap akan
menghancurkan GAM sampai ke akar-akarnya. Malah, pimpinan TNI secara sombong
mengatakan bahwa hanya butuh waktu 6 bulan untuk membasmi kekuatan GAM. Nyatanya,
hampir dua tahun DM kekuatan GAM tak bisa dihancurkan. Malah, masyarakat Aceh
semakin benci kepada TNI/Polri. Karena, tak hanya GAM, masyarakat sipil juga jadi sasaran
kekerasan.
Bagaimana sebenarnya solusi penyelesaian konflik Aceh? Pertanyaan ini yang selalu
merangsang para pengamat untuk menganalisanya. Tetapi, baik RI, GAM dan Masyarakat
Aceh memiliki tafsir tersendiri terhadap solusi penyelesaian Aceh.
Pertama, tafsir pemerintah RI. Bagi pemerintah konflik Aceh dianggap selesai jika GAM
menerima otonomi dan kembali ke pangkuan NKRI. Upaya satu-satunya yang lebih cepat
membuat GAM menerima otonomi adalah melalui jalan operasi Militer. Meski, pemerintah
juga membuka dialog dengan GAM (seperti dirintis oleh Gus Dur). Tetapi, dialog juga
bertujuan meminta GAM menerima otonomi khusus dan meletakkan senjata.

Kedua, tafsir GAM. Bagi GAM konflik Aceh dianggap selesai jika Aceh Merdeka. TNI/Polri
keluar dari Aceh. Bagi GAM, keberadaan RI di Aceh adalah penjajah, karena itu harus
diperangi dan diusir dari Aceh. GAM tak hanya mengandalkan kekuatan militer, melainkan
juga menempuh jalur diplomasi untuk mencari dukungan internasional mendukung
kemerdekaan Aceh. Tafsir ini merupakan sikap GAM sejak diproklamirkan oleh Hasan Tiro 4
Desember tahun 1976.
Ketiga, tafsir ketiga adalah Referendum, penentuan pendapat rakyat Aceh tentang masa
depan Aceh. Opsi ini dipilih untuk memberikan peluang kepada rakyat Aceh apakah ikut RI
atau GAM. Alasan para mahasiswa adalah bahwa konflik RI dan GAM telah mengakibatkan
jatuhnya korban di kalangan masyarakat sipil. Karena itu, mahasiswa membentuk Sentral
Informasi Referendum Aceh (SIRA) sebagai lembaga mengorganisir perjuangan referendum
untuk Aceh.
Tafsir-tafsir ini menyebabkan kekerasan di Aceh semakin massif. Karena semua pihak yakin
pada tafsir pihaknya sendiri.
B. LATAR BELAKANG TERBENUKNYA GAM (GERAKAN ACEH MERDEKA)
Latar belakang dan motif yang mendorong terbentuknya Gerakan Aceh Merdeka adalah
disebabkan oleh rasa kekecewaan mendalam akibat perlakuan sepihak pemerintah terhadap
masyarakat Aceh. Aceh sebagai salah satu daerah dengan basis Islam terbesar berusaha agar
semangat Islam dan tradisi masyarakat Aceh tetap dapat diperhatikan. Namun, hal itu tidak
dipenuhi oleh pemerintah, baik era Soekarno (1949) maupun Soeharto (1970). Aceh malah
dijadikan sapi perah bagi pemrintah pusat di Jakarta.
Rasa kekecewaan ini berpuncak ketika rakyat Aceh mulai melakukan perlawanan bersenjata.
Awalnya, perlawanan ini bersifat kedaerahan di bawah komando Daud Beureuh, salah satu
tokoh Aceh yang sangat radikal dalam membela kepentingan masyarakat Aceh. Masyarakat
Aceh terlibat dalam usaha untuk mendirikan sebuah negara Islam. Konsep sama yang digagas
oleh Kartosuwiryo dalam bentuk Negara Islam Indonesia di Jawa Barat (1949). Pelawanan
Daud Beureuh akhirnya dapat diselesaikan melalui negosiasi antar pemerintah Pusat dengan
Daud Beureuh, tetapi terlihat pula usaha represifitas militer dengan menempatkan sejumlah
personil militer oleh Soekarno di Aceh. Usaha ini dilakukan dengan tujuan menekan posisi
Daud Beureuh untuk menyetujui tawaran pemerintah pusat.
Perlawanan rakyat Aceh tidak berhenti di situ. Memasuki era Soeharto, Aceh dijadikan lahan
bisnis bagi para pemodal asing. Seluruh harta kekayaan, khususnya sumber daya alam milik
rakyat Aceh dieksploitasi bagi kepentingan pemerintah pusat dan para pemodal asing. Rakyat

Aceh semakin menderita akibat perlakuan seperti ini. Manifestasi dari penderitaan tersebut
adalah dibentuknya organisasi perlawanan.
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) adalah organisasi daerah yang memilki basis utama
pergerakan di daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), memiliki tujuan utama menjadikan
NAD sebagai sebuah negara baru, terlepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Organisasi ini dibentuk pada 1976 oleh Hasan Tiro dan para ulama di Aceh. Sebagai sebuah
organisasi separais GAM memilki struktur organisasi yang jelas,layaknya sebauh organisasi
formal. Pemimpin Tertinggi adalah Daud Beureuh sedangkan Hasan Tiro adalah wali negeri,
di samping itu mereka memilki 15 menteri, empat pejabat setingkat gubernur dan enam
gubernur.
Pasca dibentuknya GAM, arah perjuangan dan perlawanan rakyat Aceh lebih diorientasikan
dan direpresentasikan dalam wadah organisasi tersebut. Metode perlawanan GAM adalah
kontak fisik melalui konflik senjata dengan pemerintah RI yang diwakili oleh Tentara
Nasional Indonesia (TNI). Kontak senjata dengan TNI sudah dimulai setelah berdirinya
organisasi tersebut pada 1976. Eskalasi ini semakin meningkat pasca Aceh ditetapkan sebagai
Daerah Operasi Militer (DOM) oleh pemerintah pusat (orde baru), tahun yang sama. Metode
perlawanan gerilya menjadi ciri khas GAM dalam melawan represifitas militer di bumi
Serambi Mekah tersebut.
Status GAM diubah menjadi sebuah gerakan separatis yang berusaha mengancam kedaulatan
NKRI, yang pada awalnya hanya dianggap sebagai kelompok pengacau biasa. Hal ini
diperkuat dengan dukungan rakyat Aceh terhadap keberdaan gerakan separatis tersebut. Maka
GAM terus berkembang sebagai sebauh organisasi perlawanan yang cukup dikenal baik di
dalam negeri maupun luar negeri.
Contoh kasus diatas adalah contoh kasus yang mengancam ketahanan nasional dari
ancaman dalam negri karena GAM pada saat itu melakukan pemberontakan dan dengan
gencar ingin membebaskan diri dari NKRI.

Hubungan Ketahanan Nasional dan geostrategi indonesia


Hubungan Ketahanan Nasional dan Geostrategi Indonesia adalah Geostrategi

dibutuhkan untuk mewujudkan ketahanan nasional dengan mengembangkan kekuatan


nasional untuk menghadapi dan mengatasi ancaman baik dari luar maupun dari dalam. yang
bertumbuh pada perwujudan kesatuan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan
pertahanan keamanan.

Hubungan Geostrategi dengan keperawatan

Yaitu upaya bagaimana mencapai tujuan atau sasaran yang ditetapkan sesuai dengan
keinginan.Strategi juga dapat merupakan ilmu, yang langkah langkahnya selalu berkaitan
dengan data dan fakta yang ada. Misalnya Jika perawat ingin melakukan diagnosis
keperawatan, perawat harus mengumpulkan data-data yang benar dan fakta sesuai dengan apa
yang telah di teliti.