Anda di halaman 1dari 100

PENAFSIRAN SYAIKH MUHAMMAD HISYM KABBN

TERHADAP AYAT-AYAT AL-QURN TENTANG DZIKIR DALAM


KARYANYA REMEMBRANCE OF ALLAH AND PRAISING THE
PROPHET
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Theologi Islam (S. Th. I)

Oleh
Sofia Rosdanila Andri
107034001656

PROGRAM STUDI TAFSIR-HADIS


FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDYATULLAH
JAKARTA
1432 H./2011 M

PENAFSIRAN SYAIKH MUHAMMAD HISYM KABBN


TERHADAP AYAT-AYAT AL-QURN TENTANG DZIKIR DALAM
KARYANYA REMEMBRANCE OF ALLAH AND PRAISING THE
PROPHET
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Theologi Islam (S. Th. I)

Oleh
Sofia Rosdanila Andri
107034001656

Pembimbing

Drs. Zahruddin AR. M. Si.


NIP: 19520419 198103 1 005

PROGRAM STUDI TAFSIR-HADIS


FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDYATULLAH
JAKARTA
1432 H./2011 M.
iii


LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan:
1.

Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.

2.

Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.

3.

Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidyatullah Jakarta.
Jakarta, 02 Juni 2011
Sofia Rosdanila Andri

v


TIM PENGUJI SKRIPSI


Skripsi ini telah diuji pada Sidang Terbuka pada:
Hari, tanggal

: Selasa, 21 Juni 2011

Pukul

: 14. 30- 16. 00 WIB

Pembimbing

: Zahruddin AR., MM. Si

Ketua Sidang

: Prof. Dr. M. Ikhsan Tangok

Sekretaris

: Dr. Lilik Ummi Kalsum, MA

Tim Penguji

: 1. Dr. Mafri Amir, MA


2. Dr. Lilik Ummi Kalsum, MA

ii


PERSETUJUAN PARA PENGUJI


Skripsi berjudul PENAFSIRAN SYAIKH HISYM KABBN
TERHADAP AYAT-AYAT AL-QURN TENTANG DZIKIR DALAM
KARYANYA REMEMBRANCE OF ALLAH AND PRAISING THE
PROPHET telah diujikan dalam siding munaqasyah Fakultas Ushuluddin dan
FIlsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada 21 Juni 2011. Skripsi ini telah
diterimah sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Theologi Islam
(S.Th.I) pada Program Studi Tafsir-Hadis.
Jakarta, 21 Juni 2011
Sidang Munaqasyah
Ketua Merangkap Anggota,

Sekretaris Merangkap Anggota,

Prof. Dr. M. Ikhsan Tangok

Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA

NIP. 19651129 1994031 002

NIP. 19711003 1999032 001


Anggota,

Penguji I

Penguji II

Dr. Mafri Amir, MA

Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA

NIP. 19580301 199203 1 001

NIP. 19711003 1999032 001

Pembimbing,

Drs. Zahruddin AR. M. Si.


NIP: 19520419 198103 1 005

iv


LEMBARAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis dedikasikan kepada Hadlratu Syaikh Abdul Malik alDien, guru sekaligus guru spiritualku, yang tidak pernah bosan dan lelah
membimbingku dalam proses penulisan skripsi dan menjembataniku zahir dan
batin menuju cinta Ilahi. Terima kasih banyak Ya Hadlrata Syaikh..
Bimbing kami selalu Ya Syaikh.

Ayahanda H. Adnan Idris Kaisan


yang sosoknya selalu menjadi inspirasi bagiku, yang jiwa dan raganya
dipersembahkan untuk umat, untuk berdakwah di jalan-Nya

Mamanda Hj. Mahfuza Adnan


yang kasih sayangnya dan doanya tidak pernah terputus untukku

vii


KATA PENGANTAR


.


Puji Syukur kehadirat Allah Swt., Dzat yang memberikan hembusan
nafas kepada para hamba-Nya. Penulis panjatkan atas segala rahmat dan karuniaNya, Wahai Kekasihku, betapa ngeri akan kehilangan-Mu Shalawat serta
salam semoga selalu tercurahkan kepada sosok Rahmatan li al-lamn, cahaya
di atas cahaya, manusia paling sempurna, Nabi Muhammad saw., Rasul penutup
para Nabi, serta doa untuk keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga zaman
menutup mata.
Melalui upaya dan usaha yang melelahkan, akhirnya dengan limpahan
karunia-Nya lah, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya.
Berbagai kesulitan dan hambatan yang penulis rasakan dalam penyusunan skripsi
ini, alhamdulillah dapat teratasi berkat tuntunan serta bimbingan-Nya dan bantuan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ungkapan rasa
terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1.

Bapak Prof. Dr. Zainun Kamal, M.A,. selaku Dekan Fakultas Ushuluddin
dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, beserta para pembantu Dekan.

2.

Bapak Dr. Bustamin, M. Si., selaku Ketua Jurusan Tafsir Hadis dan kepada
Ibu Dr. Lilik Ummi Kaltsum, M.A., selaku Sekretaris Jurusan Tafsir Hadis.

viii


3.

Bapak Drs. Zahruddin AR, M. Si., selaku pembimbing penulis yang selalu
bersabar memberikan ilmu dan bimbingannya selama penulis berada di
bawah bimbingannya.

4.

Bapak Drs. Ahmad Rifqi Mukhtar, MA., Bapak Anwar Syarifuddin, MA.,
dan Ibu Dr. Sri Mulyati, MA., selaku penasehat akademik yang telah
membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.

5.

Seluruh Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah,


pimpinan dan seluruh karyawan perpustakaan di lingkungan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.

6.

Kepala dan staff karyawan Perpustakaan Umum dan Fakultas UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, Yayasan Haqqani Indonesia, Iman Jama, dan
Nasional.

7.

Yayasan Haqqani Indonesia, yang selalu bersedia dengan keramahan dan


kemurahan hatinya memberikan informasi tentang tarekat Naqsyabandi
Haqqani dan Syaikh Hisyam Kabbani.

8.

Maulana Syaikh Hisyam Kabbani, selaku mursyid tarekat Naqsyabandi


Haqqani yang telah memberikan izin kepada penulis untuk meneliti karyakarya Beliau, semoga Allah selalu memberikan perlindungan kepada Beliau.

9.

Hadlratu Syaikh Abdul Malik al-Dien, guru sekaligus mursyid spiritual


penulis, yang senantiasa membimbing penulis dalam proses penulisan
skripsi dan menuntun serta menjembatani penulis zahir dan batin menuju
cinta Ilahi. Terima kasih banyak Ya Hadlrata Syaikh, bimbing kami selalu
Ya Syaikh.

ix


10.

Umi Fazat Zakiya Malik, Adik Bunga dan Tera, istri dan anak-anak dari
Hadlratu Syaikh Abdul Malik, yang senantiasa memberikan dukungan moril
kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.

11.

Ust. Afud, yang telah mengokohkan dan menguatkan kaki penulis, yang
hadir untuk menutupi kelemahan-kelemahan, dan yang bisa menghapuskan
semua gelisah penulis sehingga bisa sampai pada akhir perjalanan
perkuliahan ini. Tanpanya, penulis hanya terperangkap dalam ruang hampa,
dan skripsi ini tidak akan terealisasi.

12.

Teruntuk kedua sahabat karib penulis, KImam dan Zahrul Athriah, yang
senantiasa bersama-sama kita menyusun penulisan skripsi ini sampai titik
darah penghabisan, susah senang, siang jadi malam, malam jadi siang, tanpa
support kalian sahabat, penulis akan rapuh.

13.

Sahabat-sahabat KKN DAUN. (Tiya, Ati, Lubna, Lala, Risda, Suci,


Yulita, Fitri, Riesti, Febri, KImam, Bom-Bom, Bang Adin, Aqsho, Ilham,
Hasim, Dian, Asep, dan Ucil), kalian adalah penyemangat bagi penulis
dalam penyusunan skripsi ini.

14.

Kawan-kawan Keluarga Besar Mastha (Mahasiswa Tafsir Hadis),


khususnya teman-teman seperjuangan di TH-A, tak terasa empat tahun kita
hidup bersama-sama dalam perkuliahan ini, terima kasih atas kebersamaan,
penuangan ide-ide, saran dan gagasan kawan-kawan

yang membantu

penyempurnaan penulisan skripsi penulis, semoga ilmu yang kita dapatkan


selama perkuliahan bermanfaat untuk umat.
15.

Adik-adik tersayang, Imel, Zahra, Zena, wanita-wanita yang menjadi


tumpuan harapan penulis.

x


16.

Semua pihak dan keluarga besar KH. Muhammad Idris Kaisan dan H. Mian
yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, namun tidak pernah
sedetikpun kabur di hati penulis untuk melupakan mereka, terima kasih atas
ketidakjenuhan membantu dan mendoakan penulis menyelesaikan skripsi
ini.

17.

Akhirnya, rasa syukur dan bakti yang tak pernah luput penulis haturkan
kepada kedua orang tua tercinta: Ayahanda H. Adnan Idris Kaisan, yang
sosoknya selalu menjadi inspirasi bagi penulis, dan Mamanda Hj. Mahfuza
Adnan yang tak pernah letih dan absen mulut dan hatinya mendoakan
penulis dan semua anak kecintaannya. Kasih sayang, nasehat, dukungan,
serta ridha keduanya merupakan akar fondasi bagi segala tekad penulis
dalam menjalani bahtera kehidupan dan menuntut ilmu sedalam-dalamnya.
Ayah, Mama, tidak ada kalian di sisi penulis, penulis akan runtuh. Semoga
Allah mengampuni segala dosa keduanya.
Semoga Allah membalas dengan sebaik-baik balasan. Harapan penulis,

mudah-mudahan karya tulis ini bermanfaat dan mempunyai kontribusi yang


signifikan bagi penelitian selanjutnya.

Jakarta, 02 Juni 2011


Penulis

Sofia RosdanilAndri

xi


ABSTRAK

Sofia Rosdanila Andri


Penafsiran Syaikh Muhammad Hisym Kabbn Terhadap AyatAyat al-Qurn Tentang Dzikir dalam Karyanya, Encyclopedia of Islamic
Doctrine, Remembrance of Allah and Praising the Prophet.
Skripsi ini membahas seputar ayat-ayat al-Qurn tentang dzikir dengan
fokus telaahnya pada studi atas karya Syaikh Hisym Kabbn, mursyid dari
tarekat Naqsyabandi Haqqn yang berjudul: Encyclopedia of Islamic Doctrine
Remembrance of Allah and Praising the Prophet, volume 2.
Jika ditelaah secara seksama, Encyclopedia of Islamic Doctrine
Remembrance of Allah and Praising the Prophet berisikan tentang bentangan
dalil dan hujjah seputar dzikir dan salwat yang ditentang keras oleh beberapa
kaum muslim dengan mengatasnamakan pemurnian Islam. Kaum Salafi
misalnya, menuding mereka yang berdzikir bersama dengan suara keras maupun
perlahan, seseorang yang melakukan gerakan gerakan ketika sedang berdzikir,
seseorang yang menggunakan bulir-bulir tasbih yang digunakan untuk
menghitung dzikir sebagian kaum Salafi menuduh mereka yang berdzikir
sebagai orang yang sesat dan ahli bidah.
Syaikh Hisym Kabbn yang mengarang buku ini juga memberikan
pandangan-pandangannya terhadap ayat-ayat al-Qurn tentang dzikir dalam
kacamata tasawuf atau biasa disebut dengan tafsir isyri, seperti penafsiran
ulama-ulama tasawuf Syaikh Abdul Qdir al-Jailni , Imam al-Qusyairi, Imam alAlsi , dan masih banyak lagi yang lainnya. Meskipun ia bukanlah seorang
mufassir atau ahli tafsir, akan tetapi ia memiliki otoritas dalam dunia dzikir dan
tasawuf, sehingga ia pun dapat memberikan pandangan-pandangannya mengenai
ayat-ayat yang berhubungan dengan dzikir.

vi


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

TIM PENGUJI SKRIPSI

ii

PENGESAHAN PEMBIMBING

iii

PERSETUJUAN PENGUJI

iv

PERNYATAAN KEASLIAN

ABSTRAK

vi

LEMBAR PERSEMBAHAN

vii

KATA PENGANTAR

viii

DAFTAR ISI

xii

TRANSLITERASI

xv

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

B.

Pembatasan dan Perumusan Masalah

10

C.

Tinjauan Kepustakaan

11

D.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

12

E.

Sistematika Penelitian

13

F.

Metodologi Penulisan

14

BAB II BIOGRAFI SYAIKH MUHAMMAD HISYAM KABBN


A. Riwayat Hidup

16

B. Sekilas Tentang Tarekat Naqsyabandi Haqqni

18

xii


16

1.

Sejarah dan Pengertian Naqsyabandi

18

2.

Silsilah Mata Rantai Emas Naqsyabandi

21

C. Beberapa Karya Syaikh Hisyam Kabbn


D.

24

Encyclopedia of Islamic Doctrine Remembrance of Allh


and Praising the Prophet

25

BAB III GAMBARAN UMUM DZIKIR

29

A. Pengertian Dzikir

29

B. Metode Dzikir yang Berkembang

34

1.

Dzikir Khafiy (Diam)

34

2.

Dzikir Jahr (Keras)

37

C. Keutamaan dan Manfaat Dzikir

40

D. Hubungan Dzikir dengan Shalat

44

BAB IV PENAFSIRAN SYAIKH HISYM KABBN TERHADAP AYATAYAT AL-QURN TENTANG DZIKIR
A.

47

Dzikir Kewajiban Terbesar dan Perintah Allah yang Kekal


(QS. Al-Ahzb [33]: 41)

47

B.

Perkumpulan Dzikir (QS. Al-Anbiy[21]: 20)

51

C.

Penyebutan asm al-Husn (Allhu, Allhu, Allhu HAQQ) dalam dzikir


(QS. Al-Arf [7]: 180)

56

D.

Gerakan dalam Dzikir (QS. Al-Zumar [39]: 23)

64

E.

Bulir Tasbih dalam Dzikir (QS. Al-Dzriyt [51]: 55)

68

BAB V PENUTUP

73
xiii

A.

Kesimpulan

73

B.

Saran-Saran

75

DAFTAR PUSTAKA

77

LAMPIRAN-LAMPIRAN

78

xiv


PEDOMAN TRANSLITERASI

A.

Konsonan

Tidak dilambangkan

sy

ts

kh

dz

gh

B. Vokal
Vokal Tunggal

Vokal Panjang

Vokal Rangkap

= a

= i

= u

= ai

= au
xv

C. Lain-lain
-

Transliterasi syaddah atau tasydd (_) dilakukan dengan menggandakan


huruf yang sama

Transliterasi ta marbuthah ( ) adalah "h", termasuk ketika ia diikuti oleh


kata sandang "al" ( ), kecuali transliterasi ayat al-Quran.

Kata sandang " " ditransliterasikan dengan "al" diikuti dengan kata
penghubung "-", baik ketika bertemu dengan huruf qamariyah maupun
huruf syamsiyyah, kecuali dalam transliterasi ayat al-Quran.

Transliterasi ayat al-Quran dilakukan sesuai dengan bacaan aslinya dengan


mengabaikan pemisahan antar kata.
Contoh:
dibaca

Ihdinas-sirtal-mustaqm, bukan
Ihdin al-sirt al-mustaqm

Transliterasi kata " " dilakukan sesuai dengan bacaan aslinya dengan
mengabaikan pemisahan antar kata.
Contoh:

dibaca

kitbullh, bukan
kitb Allh

Nama-nama dan kata-kata yang telah ada versi populernya dalam tulisan
latin, secara umum dituliskan berdasarkan versi populernya, kecuali tidak
ada keseragamannya, seperti macam-macam bacaan dalam tajwid tetap
ditulis berdasarkan transliterasi, contoh mad, izhr, dan lainnya.

xvi

Terjemahan al-Qurn saya mengutip dari al-Qurn dan terjemahnya,


Departemen Agama, sedangkan penulisan al-Qurn di atas terjemahan
menggunaakan Qirat 'shim.

xvii

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah


Kesadaran tentang adanya Tuhan yang telah terbangun sejak dalam

kandungan, sedikit demi sedikit bisa terkikis. Akan tetapi kesadaran tersebut bisa
juga bertambah dan terus bertambah. Realitas tersebut menunjukkan sifat
kesadaran Ilhiah (keimanan) seseorang yang labil. Ia bisa berkurang (yanqus)
dan bisa pula bertambah (yazd). Agar keimanan seseorang bisa stabil dan terus
bertambah, maka diperlukan sebuah media untuk selalu mengingat-Nya. Itulah
yang disebut dengan dzikrullh. Karena dzikir merupakan salah satu proses
stabilisasi keimanan.
Allah mewajibkan kepada umat Islam untuk selalu mengingat-Nya
(dzikrullh). Ini bukan karena ambisi untuk diingat oleh makhluk-Nya sehingga
Allah memperingatkan seperti itu, tetapi ini semua karena kasih sayang Allah
kepada manusia. Betapapun

mandirinya kemauan, pikiran, dan ketetapan

manusia, namun sangat penting gayutan spiritual yang paling meyakinkan,


terutama mengahadapi lajunya modernisasi yang serba labil dan sering menipu.
Gayutan ini yang kendatipun bersifat ghaib atau spiritualistik tetapi sangat
menentukan bagi stabilitas jiwa dan ruhani manusia.
Dzikir yang hakiki kepada Allah sangatlah penting. Sebab manusia
adalah hamba Allah yang harus senantiasa mengingat-Nya. Dialah Maha Pemberi
yang hakiki. Oleh karena itu menyebut nama-Nya, mengingat dzat-Nya dan
mensyukuri nikmat dan karunian-Nya adalah sesuatu yang fitrah bagi seorang

1

hamba-Nya. Seorang penyair berkata: Tuhan yang telah berkorban di dunia ini;
mulialah orang-orang yang selalu mengingat-Nya setiap saat.
Bersamaan dengan itu, terdapat juga ayat-ayat al-Qurn dan hadis serta
keterangan-keterangan para ulama yang tidak pernah berhenti memberikan
semangat untuk selalu berdzikir kepada Allah zza wa Jalla, maka tidak ada lagi
alasan bagi hamba-Nya. Banyak sekali nas-nas al-Qurn dan Sunnah Nabi
Muhammad saw. yang menghimbau agar manusia selalu berdzikir kepada Allah.
Misalnya firman Allah:

.
Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama)
Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbih lah kepada-Nya
diwaktu pagi dan petang. (Q. S Al-Ahzb [33]: 41-42)
Di dalam hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhri, Nabi mengatakan
orang yang berdzikir hidup, sedangkan yang tidak berdzikir laksana orang yang
telah mati.1







Perumpamaan orang yang ingat akan Tuhannya dengan orang yang tidak
ingat Tuhannya laksana orang yang hidup denga orang yang mati.
Ini semakin memperjelas bahwa segala ibadah yang dilakukan sebagai
hamba adalah untuk diri sendiri, sekaligus sebagai tanda cinta dan kasih sayang
Allah kepada seluruh makhluk-Nya.

Imam-Bukhri. Sahih al-Bukhri (Jordan: Bait al-Afkr al-Jaddah, 1998), kitab. AlDaawt, bab. Fadhl dzikirillh Azza wa Jalla, hadts no. 6407, h. 6412.
1




Dzikir sangat lekat dengan kehidupan umat Islam. Siang dan malam
dilantunkan, sendirian maupun bersamaan. Namun, seiring modernitas kehidupan,
dzikir menjadi ritual yang mati, terus dipraktekkan tanpa pemaknaan mendalam.
Memang sebagian orang lengah dan lalai dengan tuntunan al-Qurn; sebagian
umat juga tidak memahami apa yang dimaksud dzikir; sebagian memahami dzikir
dalam bentuk kalimat yang di ulang-ulang membacanya tanpa pemahaman atau
penghayatan.
Salah satu tema yang dibicarakan di dalam al-Qurn adalah masalah
dzikir. Syarat cukup jelas dan setiap orang mengetahui kewajiban ini.


Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan
mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya. (QS. Al-Ahzb [33]: 41).
Bahkan, Nabi Muhammad saw., Beliau bersabda: Aku tergantung
sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia menyebut-Ku
(berdzikir). Maka apabila ia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku
menyebutnya di dalam diri-Ku. Dan apabila ia mengingat-Ku di dalam suatu
kelompok maka Aku menyebutnya dalam kelompok yang lebih baik dibanding
mereka. Dan jika ia mendekatiku sejengkal, niscaya Aku mendekatinya
sehasta...2
Imam al-Naww mengatakan di dalam Syarh Sahh Muslim-nya, Hadis
ini termasuk hadis-hadis tentang sifat Allah dan mustahil bahwa yang dimaksud

2

Abi al-Husain Muslm bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisabri. Sahih Muslm, (Beirut:
Dr al-Kitb al-Arbiy, 2004, kitab al-Dzikir wa al-Du, bab fadhl al-Dzikir wa al-Du wa alTaqarrub ilallh. Lihat juga, Imam al-Bukhri di dalam kitab at-Tauhd, bab. wa
yuhadzdzirukumullh nafsah, Sunan al-Tirmidzi, kitab. al-Daawt, bab. Fi Husn al-Dzn billh
Azza wa Jalla, Sunan Ibnu Mjah, kitab. Adab, bab. Fadhl al-mal, dan Musnad Ahmad bin
Hanbal, bab. Musnad Abi Hurairah radhiyallh anhu.




kan adalah zahirnya. Maksud hadis

tersebut adalah: Barang siapa yang

mendekati-Ku dengan ketaatan kepada-Ku maka Aku akan mendekatinya dengan


rahmat-Ku,

taufik-Ku,

dan

pertolongan-Ku.

Seandainya

ia

menambah

kedekatannya, maka Aku pun menambah kedekatan-Ku. Maka jika ia datang


mendekatiku dengan berjalan dan segera menaati-Ku maka Aku akan
mendekatinya dengan berlari. Yakni, aku limpahkan atasnya rahmat-Ku dan Aku
mendahuluinya dengan memberikan-Nya. Yang dimaksud, pelipatgandaan
ganjarannya adalah menurut kedekatan-Nya.3 Artinya, dengan banyak mengingat
dan berdzikir pada Allah, Allah pun akan senantiasa memberikan rahmat-Nya
kepada manusia.
Sedangkan dzikir secara harfiah memiliki arti mengingat atau menyebut.4
Kegiatan mengingat memiliki dampak yang luar biasa dalam kehidupan. Ketika
ingat sesuatu, maka ia akan mengingatkan pula pada rangkaian-rangkaian yang
terkait dengannya. Ingatan bisa muncul karena manusia punya keinginan, harapan,
cita-cita, dan kerinduan terhadap apa yang diingat. Kemudian bagaimana dengan
mengingat Allah yang kekuasaan-Nya tidak terbatas? Secara logika tentu akan
memberikan dampak positif luar biasa bagi kehidupan. Hanya persoalnnya, tidak
semua orang mudah mengingat-Nya, walaupun potensi itu ada pada setiap jiwa
manusia. Disinilah potensi mengingat Allah perlu digali dengan cara selalu
menyebut-nyebut nama-Nya, dan untuk menggali potensi mengingat Allah
(berdzikir) tersebut tentunya harus dengan kekhusyukan yang tinggi, karena
dengan kekhusyukan ini maka ingatan tersebut akan terserap oleh hati dan akan

3
4

Imam an-Naww, Syarh Sahh Muslim, juz. 3, h. 17.

Atabik Ali dkk, Kamus Kontemporer al-Ashry (Yogyakarta: Multi Karya Grafika,
cet. Ke-5), h. 933.




membuahkan tindakan-tindakan yang positif. Konteks bahasa mengatakan, dzikir


mengandung beberapa pengertian, yakni mengandung arti:
1.

Menceritakan5

2.

Al-Qurn6

3.

Shalat7

4.

Wahyu8
Arti dzikir adalah suatu cara atau media untuk menyebut atau mengingat

nama Allah, jadi semua bentuk aktivitas yang tujuannya mendekatkan diri kepada
Allah dinamakan dzikir seperti shalat9, tetapi lebih spesifik lagi, dzikir dibatasi
dengan kata mengingat Allah dengan lisan dan hati.
Ibnu Hajar al-sqaln10 menjelaskan, yang dimaksud dengan dzikir
adalah ucapan dan ungkapan yang di anjurkan untuk mengucapkannya banyak,
misalnya amal saleh yang kekal (al-Bqiyt al-Sliht), yaitu: subhnalh,
alhamdulillh, l ilha illallh, Allhu Akbar dan semua yang disampaikan
kepada mereka seperti hawqala (l hawl wa l quwwata ill billh); basmalah
(bismillh al-Rahmn al-Rahm); hasbalah (hasbunallh wa nima al-Wakl),
istighfr, dan sebagainya, maupun dzikir untuk kebaikan dunia dan akhirat.
Dzikrullh juga berlaku bagi ketekunan dalam menjalankan perbuatan yang wajib


5

QS. Maryam [19]: 56

QS .Al-Anbiy [21]: 50

QS. Al-Baqarah [2]: 239

QS. Al-Qamar [54]: 25

Q. S Thha [20]: 14
Ibnu Hjar al-Atsqalln. Fath al-Bri (Beirut: Dr al-Fikr, 14, 2005), vol. 11, h. 251.

10




dan terpuji, misalnya membaca al-Qurn, membaca hadis , mempelajari ilmuilmu Islam, dan shalat sunnah.11
Apabila penulis melihat fenomena yang ada saat ini, terlihat begitu
maraknya

aktifitas

berdzikir

di

berbagai

tempat

melalui

forum-forum

perkumpulan atau majelis dzikir sebagai media. Imam al-Qurtubi berpendapat


bahwa, Perkumpulan dzikir adalah perkumpulan bagi pengetahuan dan
peringatan, yaitu yang di dalamnya firman Allah dan Rasul-Nya, riwayat tentang
para pendahulu yang saleh dan ucapan para ulama akhirat dipelajari dan
diamalkan tanpa tambahan atau bidah, dan tanpa niat berlebihan atau
ketamakan.12
Telah diketahui oleh masyarakat pada umumnya, di Indonesia terdapat
berbagai macam forum-forum perkumpulan dzikir, seperti majelis dzikir alDzikr yang dipimpin oleh Arifin Ilham. Muhammad Arifin Ilham dengan
metode dzikir mampu membangkitkan kesadaran banyak orang bahwa
sesungguhnya mereka adalah makhluk spiritual. Orang yang pada awalnya merasa
jauh dari Tuhan dibuatnya merasa dekat, yang tadinya merasa pesimis dari rahmat
dan kasih sayang Allah menjadi optimis mendapatkannya.13
Kemudian majelis dzikir yang dipimpin oleh Ust. Haryono yang identik
dengan pengobatan dan penyembuhan melalui media dzikir, majelis dzikir dan
salwat Nrul Musthaf yang dikomandoi oleh al-Habib Hasan bin Jafar
Assegaf. Dengan karunia Allah, Majelis Nrul Musthaf yang beliau bina dengan

11

 Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Remembrance of Allh and Praising the


Prophet, vol. 2 (United Stated of America: al-Sunna Foundation of America), 1998, h. 8.
12

Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Remembrance of Allh and Praising the


Prophet, vol. 2, h. 7.
13

Endang Mintarja, rifin Ilhm; Tarekat, Dzikir, dan Muhammadiyah (Jakarta: Mizan
Publika, 2004), h. 80.




cara mensyiarkan salwat dan salam kepada Nabi Muhammad saw. serta
mengenalkan pribadi Nabi Muhammad saw. sebagai suri tauladan manusia
sehingga dapat merebut hati manusia sebanyak 50.00014 orang untuk bersalwat
kepada Nabi Muhammad saw. setiap minggunya. Juga ada Majelis Rasulullah
yang dipimpin oleh al-Habib Munzir al-Muswa, hingga perkumpulan dzikir yang
sifatnya berbau mistik dan mengarah kepada tasawuf15 atau sufistik seperti
kegiatan berdzikir yang dilakukan oleh jamah atau pengikut tarekat16
Naqsyabandi Haqqn.
Tarekat Naqsyabandi Haqqn saat ini dipimpin oleh Syaikh Muhammad
Nzim al-Haqqn dan Syaikh Hisym Kabbn sebagai muridnya. Sebagai
seorang Syaikh Sufi, Syaikh Hisym telah diberi wewenang dan diperbolehkan
untuk membimbing para pengikutnya menuju Cinta Ilhi dan menuju maqm
spiritual yang telah digariskan oleh Sang Pencipta. Latihan spiritual yang berat
yang telah ditempuhnya selama 40 tahun di bawah pengawasan Grandsyaikh dan

14

Wawancara Pribadi dengan penceramah tetap di majelis Nrul Musthaf, KH.


Adnan Idris Kaisan. Jakarta, 31 Mei 2011.
15

Tasawuf berasal dari kata -- . Kata kerja tasawwafa, yatasawwafu,


tasawwufan, secara harfiah berarti memakai pakaian yang terbuat dari bulu domba. Pendapat yang
mengatakan bahawa tasawwuf berasal dari suf dipandang paling tepat dari segi bahasa. Selain oleh
alasan itu, alasan lainnya adalah bersifat historis, yaitu bahwa para sufi pada zaman dahulu
mempunyai kebiasaan memakai jubah yang terbuat dari bulu domba. Di dalam literature tasawuf
diriwayatkan bahwa para Nabi berpakaian suf. Ibnu khaldun menulis: Tasawuf itu semacam ilmu
syariat yang timbul kemudian di dalam agama. Asalnya adalah tekun beribadah dan memutuskan
pertalian dengan segala sesuatu selain Allah, hanya menghadap kepada Allah saja. Menolak
perhiasan-perhiasan dunia, serta membenci kepada perkara yang telah memperdayakan orang
banyak, sebagaiamana kelezatan herta benda dan kemegahan, lagi memisahkan diri serta menuju
kepada jalan Tuhan di dalam khalwat dan ibadah. Totok Jumantoro, dan Samsul Munir Amin,
Tasawuf dalam Kamus Ilmu Tasawuf (T. tp: Amzah., 2005, h. 246-247.
Tarekat menurut bahasa berasal dari bahasa Arab tarqah (jama: turuq atau tariq)
yang berarti jalan atau metode atau aliran (madzhab). Tarekat \adalah jalan untuk mendekatkan
diri kepada Allh Swt. dengan tujuan untuk sampai (wusl) kepada-Nya. Tarekat merupakan
metode yang harus ditempuh seorang sufi dengan aturan-aturan tertentu sesuai dengan petunjuk
Guru atau mursyid tarekat masing-masing, agar berada sedekat mungkin dengan Allh Swt. Lihat,
Tim Penulis UIN Syarif Hidayatullah, Tarekat, dalam Ensiklopedi Tasawuf, jilid. III, T-Z
(Bandung: Angkasa, 2008).
16




Syaikhnya, telah menganugerahinya kecakapan atau kualitas yang tinggi yang


diperlukan oleh seorang Guru Sufi sejati, khususnya dalam hal kebijaksanaan,
cahaya, kecerdasan, dan daya tarik.
Misi Syaikh Hisym Kabbn yang jauh melampaui target adalah
kontribusinya yang unik terhadap usaha umat manusia dalam mencapai takdir
tertingginya, yaitu kedekatan dengan Tuhannya. Manusia yang diberkahi dengan
pengetahuan batin memandang dzikir, senantiasa dan terus menerus mengingat
Allah, sebagai metode paling efektif untuk membersihkan hati dan mencapai
Kehadiran Ilhi. Objek segenap ibadah ialah mengingat Allah, dan terus menerus
mengingat Allah (dzikir) sajalah yang bisa melahirkan cinta kepada Allah serta
mengosongkan hati dari kecintaan dan keterikatan pada dunia fana ini.
Kesemuanya ini berangkat dari betapa pentingnya manusia mengingat
Tuhannya, karena di dalam hati manusia ada kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi
kecuali dengan dzikrullh, karena dengan dzikir inilah yang membangunkan hati
dari tidur dan kelalaiannya, dan dzikir pula yang melunakkan kerasnya hati dari
berbagai penyakit yang di deritanya.
Berkaitan dengan hal ini, bahwasannya begitu banyak ayat-ayat alQurn tentang dzikir yang dijelaskan oleh Syaikh Hisym Kabbn di dalam
salah satu karyanya yang berjudul Encyclopedia of Islamic Doctrine
Remembrance of Allah and Praising the Prophet.17
Sebab, meskipun Syaikh Hisym Kabbn bukanlah seorang ulama yang
memiliki sebuah karya tafsir, ia memiliki cara pandang tersendiri dan berbeda
terhadap ayat-ayat al-Qurn jika dibandingkan dengan ahli tafsir lainnya. Syaikh

17

Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Remembrance of Allh and Praising the


Prophet, vol. 2 (United Stated of America: al-Sunna Foundation of America), 1998.




Hisym Kabbn di dalam tarekatnya pun memiliki cara berbeda dengan


perkumpulan atau majelis-majelis dzikir yang sedang marak di Indonesia saat ini.
Begitu banyak jamah dan pengikut ajarannya melalui Tarekat Naqsyaband
Haqqn, mereka secara konstan mengikuti ritual Sohbet (zwiyah dzikir atau
kegiatan dzikir) Naqsyabandi Haqqn disertai dengan gerakan-gerakannya, dzikir
Khatm Kwajagan18, dan lain sebagainya.
Syaikh Hisym Kabbn dan juga Tarekat Naqsyabandi Haqqn begitu
dikenal oleh masyarakat di seluruh dunia. Penulis begitu kagum ketika
mengetahui bahwa ia memiliki kharismatik yang amat mempesona dengan
kedalaman ilmu yang dimiliki, terutama dengan pandangan-pandangannya
terhadap ayat-ayat al-Qurn, sehingga mampu menarik perhatian orang banyak
untuk mengikuti Tarekat ini. Hal inilah yang membuat penulis tertarik membahas
pandangan Syaikh Hisym Kabbn mengenai ayat-ayat al-Qurn, terutama
tentang dzikir.
Mengingat ketertarikan penulis mengenai uraian di atas, dan melihat
belum adanya karya yang membahas mengenai penafsiran Syaikh Hisym
Kabbn terhadap ayat-ayat al-Qurn tentang dzikir secara komprehensip di
dalam karyanya tersebut, maka, oleh karena itu penulis akan mengangkat sebuah

18

Khatm al-Khwajagan adalah rahasia dzikir yang dinisbahkan kepada Abdul Khliq
al-Ghujduwni, sebagai pemimpin dzikir pertama diantara para wali jalan ini. Nabi Muhammad
saw. memberitahu Ab Bakar al-Siddiq, yang kemudian memberitahu semua wali bahwa Abdul
Khliq adalah pemimpin al-Ghujduwni adalah pemimpin dari Khatm al-Khawajagan. Setiap
orang diberi kehormatan untuk menerima cahaya dan rahasia dari Khwjaga Abdul Khliq alGhujduwani, dihadapan semua wali, Ab Bakar al-Siddiq, Nabi Muhammad saw., dan Allh
Swt. Dzikir ini hingga sekarang masih digunakan bagi para pengikut tarekat jalan ini, biasanya
dilakukan di disebut dengan zwiyah, yaitu tempat-tempat dzikir bagi tarekat jalan ini. Syaikh
Muhammad Hisham Kabbn. Classical Islam and the Naqsabandi Sufi Tradition (United States
of America: Islamic Supreme Council of America, 1995), h. 79-80. Lihat juga, Mawlana Syaikh
Hisyam Kabbn ar-Rabbn. Silsilah Rantai Emas 1, (T. Pn: Rabbani Sufi Institute of Indonesia, t.
t), h. 19-20.





10

judul dalam karya ilmiah ini tentang Penafsiran Syaikh Hisym Kabbn
Terhadap Ayat-Ayat al-Qurn Tentang Dzikir dalam Karyanya, Encyclopedia of
Islamic Doctrine, Remembrance of Allah and Praising the Prophet.

B.

Pembatasan dan Perumusan Masalah


Untuk menghindari kesalahpahaman serta mencapai persepsi dalam

masalah

yang

hendak

ditulis

dan

agar

permasalahan

tidak

melebar

pembahasannya, maka penulis merasa perlu memberikan batasan dan rumusan


terhadap masalah yang dikaji.
1.

Pembatasan Masalah
Penulis akan membatasi masalah ini hanya pada ayat-ayat al-Qurn

tentang dzikir; Dzikir Kewajiban Terbesar dan Perintah Allah yang Kekal (surat
al-Ahzb [33]:41, Perkumpulan Dzikir (surat al-Anbiy [21]: 20), Penyebutan
asm al-Husn (Allhu, Allhu, Allhu HAQQ) (surat al-Arf [7]: 180), Gerakan
dalam Dzikir (surat al-Zumar [39]: 23), dan Bulir Tasbih dalam Dzikir (surat alDzriyt [51]: 55) perspektif Syaikh Hisym Kabbn di dalam karyanya, yaitu
Encyclopedia of Islamic Doctrine Remembrance of Allah and Praising the
Prophet. Penulis memilih ayat-ayat di atas di dalam karyanya karena penulis
melihat bahwa pandangannya yang unik dan menarik terhadap ayat-ayat tersebut
untuk dikaji lebih mendalam.

2.

Perumusan Masalah
Selanjutnya, permasalahan yang akan dicari jawabannya dalam penelitian

ini adalah sebagai berikut:




11

Bagaimanakah penafsiran Syaikh Hisym Kabbn terhadap ayat-ayat alQurn tentang dzikir di dalam karyanya Encyclopedia of Islamic Doctrine
Remembrance of Allah and Praising the Prophet?

C.

Tinjauan Kepustakaan
Begitu banyak permasalahan dan persoalan mengenai dzikir yang

dituangkan oleh para penulis lewat karya-karyanya. Penulis telah menelusuri dan
meninjau ulang karya-karya mereka tentang dzikir. Jika penulis melihat skripsiskripsi yang ada, telah banyak pembahasan dan penelitian para penulis yang
membahas perihal dzikir. Diantaranya: Konsep Dzikir dalam al-Qurn (Kajian
Tafsir al-Als),19 di dalamnya dijelaskan bagaimana penafsiran ayat-ayat dzikir
menurut pandangan Imam al-Alsi, Ayat-Ayat Dikir menurut Muhammad rifin
Ilhm20, penelitian ini membahas tentang ayat-ayat dzikir yang dilakukan oleh
para jamah dzikir yang dipimpin oleh Muhammad rifin

Ilhm, serta

bagaimana penafsiran para ulama mengenai ayat-ayat tersebut, Konsep Dzikir


menurut Quraish Shihab,21 dalam skripsi ini telah disinggung permasalan dzikir
menurut pandangan Quraish Shihab dala Tafsir al-Mishbah yang di dalamnya
dibahas tentang bacaan-bacaan dzikir yang dianjurkan dalam al-Qurn dan Tafsir
al-Mishbah.
Penulis juga meihat karya-karya skripsi lainnya mengenai dzikir,
diantaranya: Dzikir Berjamaah (Tinjauan Hukum Islam Terhadap Dzikir

19

Dzikrullh. Konsep Dzikir dalam al-Quran (Kajian Tafsr al-Alsi), (Skripsi S1


Fakultas Ushuluddin dan Filasafat, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2007).
Yanto Abdul Lathf. Ayat-Ayat Dzikir menurut Muhammad rifin Ilhm. (Skripsi
Fakultas Ushuluddin dan Filasafat Universitas Islam Negeri Jakarta, 2003).
20

21

Ahmad Ependi. Konsep Dzikir Menurut Dr. Quraish Shihab dalam Tafsr alMisbah. (Skripsi Fakultas Dakwah dan Kounikasi, Universitas Islam Negeri, Jakarta, 2008).




12

Berjamah yang Dilakukan Oleh Muhammad rifin Ilhm,22 skripsi ini


membahas tentang tinjauan hukum terhadap dzikir berjamah yang dilakukan
oleh Muhammad rifin Ilhm yang meliputi mengenai praktik dzikir berjamah
yang dilakukan oleh Muhammad rifin Ilhm, dan juga menjelaskan dalil-dalil
dan pandangan para ulama terhadap praktik dzikir berjamah yang dilakulan oleh
Muhammad rifin Ilhm.
Apabila penulis melihat pernyataan di atas, bahwasannya belum ada
pembahasan mengenai ayat-ayat al-Qurn tentang dzikir perspektif Syaikh
Hisym Kabbn. di dalam karyanya Encyclopedia of Islamic Doctrine
Remembrance of Allah and Praising the Prophet, telah banyak dibahas ayatayat al-Qurn mengenai dzikir dengan berbagai sub poin yang penulis teliti
memiliki perbedaan dengan pemahaman para ahli dzikir lainnya.

D.

Tujuan dan Manfaat Penelitian


Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran

mengenai ayat-ayat al-Qurn tentang dzikir perspektif Syaikh Hisym Kabbn


dalam karyanya Encyclopedia of Islamic Doctrine Remembrance of Allah and
Praising the Prophet.
Secara khusus, penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1.

Untuk memperbanyak dan memperluas pengetahuan mengenai ayat-ayat


al-Qurn, terutama tentang dzikir.


22

Taufik Rachmat. Dzikir Berjamah (Tinjauan Hukum Islam Terhadap Parktik Dzikir
yang Dilakukan oleh Muhammad rifin Ilhm). (Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Negeri Jakarta, 2007).




13

2.

Untuk menambah wawasan mengenai Syaikh Hisym Kabbn beserta


karya-karyanya.

3.

Untuk memenuhi tugas dan syarat kelulusan mencapai gelar sarjana


strata satu (S1) atas fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

4.

Mengetahui lebih banyak khazanah kajian tafsir dan keilmuan Islam di


lingkungan UIN Syarif Hidayatullah khususnya, dan mempersiapkan diri
untuk menghadapi problematika masyarakat pada umumnya.

E.

Sistematika Penulisan
Bab pertama pendahuluan, bab ini menguraikan latar belakang masalah,

pembatasan dan perumusan masalah, kajian pustaka, tujuan dan manfaat


penelitian, metode penelitian dan sistematika penelitian.
Bab kedua, bab ini menguraikan tentang profil dan biografi dari Syaikh
Hisym Kabbn, yang mencakup riwayat hidup, sekilas tentang tarekat
Naqsyabandi Haqqn; yang mencakup sejarah, pengertian, dan silsilah mata
rantai emas tarekat Naqsyabandi, karya-karya Syaikh Hisym Kabbn, dan
tentang Encyclopedia of Islamic Doctrine Remembrance of Allah and Praising
the Prophet.
Bab tiga, berisikan tentang gambaran umum mengenai dzikir, yang
mencakup pengertian dzikir, metode-metode dzikir yang berkembang; mencakup
dzikir khafiy dan dzikir jahr, hubungan dzikir dengan salat, dan tujuan serta
manfaat atau faidah dzikir.




14

Bab keempat, akan membahas seputar ayat-ayat al-Qurn tentang dzikir


perspektif Syaikh Hisym Kabbn, yang mencakup dzikir kewajiban dan perintah
Allah yang kekal (QS. Al-Ahzb [33]: 41) , perkumpulan dzikir (QS. Al-Anbiy,
[21]: 20), penyebutan asm al-Husn (Allhu, Allahu, Allahu HAQQ) dalam
dzikir (QS. Al-Arf [7]: 180), gerakan dalam dzikir (QS. Al-Zumar [39]: 23), dan
bulir tasbih dalam dzikir (QS. Al-Dzriyt [51]: 55).
Bab kelima penutup, yang mencakup kesimpulan dan saran-saran.

F.

Metodologi Penulisan
Adapun metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah studi

kepustakaan (Library Research) .Dalam mengatasi problem ini, penulis juga


menggunakan unsur-unsur metodis, diantaranya: 1. Deskriptif, yaitu dengan cara
mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, dengan
mengutip pendapat Syaikh Hisym Kabbn mengenai

ayat-ayat al-Qurn

tentang dzikir. 2. Analisis, yaitu dengan menganalisa ayat-ayat al-Qurn tentang


dzikir yang ada di dalam karyanya ini. 3. Studi komparatif, yaitu penulis akan
melakukan studi komparasi atas ayat-ayat dzikir yang tertera di dalam karyanya
Encyclopedia of Islamic Doctrine Remembrance of Allah and Praising the
Prophet dengan kitab tafsir yang lain, bagaimana pendapat para ulama lain
mengenai ayat-ayat al-Qurn tentang dzikir. Sedangkan pencarian data yang
dilakukan adalah dengan langkah-langkah membaca, menelaah karya Syaikh
Hisym Kabbn terutama Ensiklopedi Ahlu Sunnah Encyclopedia of Islamic
Doctrine Remembrance of Allah and Praising the Prophet.




15

Sumber primer dikhususkan pada buku karya Syaikh Hisym Kabbn


yang berjudul Encyclopedia of Islamic Doctrine Remembrance of Allah and
Praising the Prophet. Sedangkan sumber sekunder adalah yang berkaitan dengan
karya-karya Syaikh Hisym Kabbn lainnya juga karya-karya lain tentang dzikir
serta kitab-kitab tafsir.
Penulis juga menggunakan metode penelitian lapangan (field research)
dengan teknik penulisan, yakni wawancara. Wawancara (interview adalah
pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung kepada
responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat.23
Untuk mempermudah penulis dalam melakukan penulisan penelitian,
maka penulis menggunakan buku pedoman karya ilmiah UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta tahun 2007 untuk skripsi, tesis, dan disertasi.


23

Ierawan Soehartono. Metode Penelitian Sosial (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,
2004), cet. Ke-6, h. 69.




BAB II
BIOGRAFI SYAIKH MUHAMMAD HISYM KABBN

A.

Riwayat Hidup
Nama lengkap Syaikh Muhammad Hisym Kabbn adalah Syaikh

Hisym bin Muhammad bin al-Hajj Slim Muhammad Kabbn al-Husaini alNaqsyabandi al-Haqqn al-Syfi al-Lubnni.26 Ia lahir di Beirut, Lebanon27,
pada 28 Januari 1945 (13 Safar 1364 H). Nama ibunya adalah al-Hajjah Yusr
'Utsmn al-`Alayli al-Hasaniyy. Sejak kanak-kanak ia sudah diasuh oleh Mursyid
Tarekat Naqsyabandi liyyah, Syaikh Abdullh Fiz al-Dghestni,28 dan ia
diangkat menjadi khalifahnya.

Kemudian ia menikah dengan Hajjah Nziha

Adil, putri dari gurunya, Syaikh Muhammad Nzim Adil al-Haqqn.29 Mereka

26

Haqqani Fellowsip, A Glimpse at Our Beloved Mawlana Syaykh Hisyam by Syaykh


Gibril Fouad Haddad, artikel ini di akses pada tanggal 25 Februari 2011 dari
http://www.haqqanisoul.com/forum/topics/a-glimpse-at-our-beloved
27

Lebanon adalah sebuah Negara di Afrika Barat, di pantai Timur Laut Mediterania.
Hal ini berbatasan dengan Suriah di Utara, Timur, dan Israel Selatan. Lebanon berlokasi di
persimpangan Basin Mediterania dan pedalaman Arab yang telah didikte oleh sejarah adalah
Negara yang kaya, dan membentuk identitas budaya, keragaman, dan etnik. Lihat, Wikipedia
Bahasa Indonesia, Lebanon, artikel ini di akses pada tanggal 15 Mei 2011 dari
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:HJSMjb6F3U8J:id.wikipedia.org/wiki/Le
banon+lebanon&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&source=www.google.co.id
28

Syaikh Abdullh Fiz al-Dghestni lahir pada tanggal 13 Desember 1941 di wilayah
Kaukasia, Daghestan (bagian dari kekaisaran Rusia) pada tahun 1891. Ia adalah Syaikh dari
Tarekat Naqsyabandi. Ayah dan kakaknya adalah dokter bedah pada Angkatan Darat Kekaisaran
Rusia. Syaikh Abdullh dibesarkan dan dilatih oleh pamannya dari pihak ibunya, Syaikh
Syarafuddn al-Daghestni (1875-1936). Ia menunjukkan kecerdasan spiritual pada usia yang
muda dan banyak menarik perhatian masyarakat lokal. Lihat, Syaikh Muhammad Hisym
Kabbn. Classical Islam and the Naqsbandi Sufi Orde, (United States of America: Islamic
Supreme Council of America, t. t), h. 391.
Syaikh Nzim mamiliki nama lengkap Muhammad Nzim al-Hqqn. Ia lahir di
Larnaca, Cyprus, Turki, pada tanggal 23 April 1922 (26 Syabn 1340 H). Ia merupakan
pemimpin dari Tarekat Naqsyabandi Haqqani. Ia memiliki garis keturunan sufi dan mistik pada
abad ke-11, yaitu Syaikh Abdul Qdir al-Jailni dan abad ke-13, yaitu Jalluddin Rumi. Sejak
masih muda, Syaikh Nazim telah menunjukkan kecendrungannya terhadap spiritualitas. Ayahnya
mengirimnya ke sekolah untuk mempelajari pengetahuan sekuler pada siang hari, dan belajar
agama Islam di perpustakaan lokal pada malam hari, dimana ia mempelajari dasar-dasar hukum
Islam, yurisprudensi, penafsiran al-Quran dan ilmu hadis . Lihat, Syaikh Muhammad Hisym
29

16

17
memiliki empat anak, tiga anak laki-laki dan seorang gadis, serta beberapa cucu
yang semuanya menetap di Fenton, Michigan, Amerika Serikat.30
Syaikh Hisym Kabbn menamatkan kesarjanaannya dalam bidang
kimia di American University College of Beirut, dan kemudian pergi ke Louvain,
Belgia, untuk melanjutkan studi medisnya. ia menerima gelar di bidang hukum
Islam (syarat) dari Damaskus.31
Syaikh Hisym Kabbn adalah salah satu ulama dunia yang paling
terkenal dari sejarah Islam dan ilmu spiritual tasawuf. Sebagai wakil pemimpin
Sufi Naqsyabandi Haqqn, ia juga berfungsi sebagai panduan dan guru untuk
sekitar 2 juta umat Islam di seluruh dunia, terutama di Amerika Serikat, Inggris,
dan Asia Tenggara. Ia telah mendapatkan lisensi untuk mengajar siswa panduan
dan nasihat dalam spiritualitas Islam dari guru dan khalifahnya, Syaikh
Muhammad Nzim Adil al-Haqqn yang terkenal memiliki wewenang atas
sekolah Hanf hukum Islam di Timur Tengah. Dan selama lebih dari 50 tahun
Syaikh Hisym Kabbn telah menjadi muridnya di Amerika Serikat.
Atas perintah gurunya Syaikh Muhammad Nzim Adil al-Haqqn alQubrusi, Syaikh Hisym Kabbn ke Amerika Serikat pada tahun 1991 dan
mendirikan yayasan bagi Tarekat Naqsyabandi Haqqn di sana.32 Sejak saat itu,
ia telah membuka 23 Pusat Sufi di Kanada dan Amerika Serikat. Ia telah mengajar
di sejumlah universitas di Amerika, seperti: The University of Chicago, Columbia

Kabbn. Classical Islam and the Naqsbandi Sufi Order, (United States of America: Islamic
Supreme Council of America, t. t), h. 535.
30

Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Classical Islam and the Naqsbandi Sufi Order.

31

The Naqshbandi Sufi Way dan History and Guide Book of the Saints of the Golden
Chain. Silsilah Rantai Emas Naqsbandi Haqqani, (Jakarta: Rabbani Sufi Institute of Indonesia,
t.t).
32

h. 535.




Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Classical Islam and the Naqsbandi Sufi Order,

18
University, Howard, Berkeley, McGill, Concordia, dan Dawson College,
demikian pula dengan sejumlah pusat keagamaan dan spiritual di seluruh Amerika
Utara, Eropa, Timur Jauh dan Timur Tengah.
Beberapa posisi yang saat ini ia miliki di Amerika Serikat, antara lain:
ketua Islamic Supreme Council of America (ISCA),33 ketua Naqsyabandi Haqqn
Sufi Order of America, ketua al-Sunnah Foundation of America,34 pendiri Dewan
Sufi Muslim Inggris dan Pusat Spiritualitas dan Kemajuan Budaya Inggris. Ia juga
menjadi penasehat dalam Unity One, yaitu sebuah organisasi yang ditujukan untuk
perdamaian antar gang di Amerika, penasehat dalam Human Rights Council,
penasehat dalam American Islamic Association of Mental Health Providers, dan
penasehat dalam Office of Religious Persecution, US Department of State.

B.

Sekilas Tentang Tarekat Naqsyabandi Haqqn


1. Sejarah dan Pengertian Naqsyabandi


33

Islamic Supreme Council of America (ISCA) adalah organisasi keagamaan nonpemerintah yang didedikasikan untuk mendidik Muslm dan non-Muslm, dan mengembangkan
warga Negara yang baik melalui pengajaran keunggulan moral. ISCA bertujuan untuk menjadi
sumber daya yang baik bagi individu Muslm dan organisasi-organisasi di Amerika untuk
mendapatkan nasehat hukum dari para ulama dan lembaga keagamaan di seluruh dunia tentang
isu-isu yang timbul sebagai tradisi Islam yang bersentuhan dengan budaya Amerika. Organisasi ini
bermaksud untuk bekerja sama dengan individu non-Muslm dan organisasi untuk menyajikan
Islam sebagai agama moderasi, toleransi perdamaian, dan keadilan. ISCA akan menekankan
warisan Islam. Kristen, dan Yahudi dalam upaya mendorong untuk saling menghormati antara
semua budaya dan agama. Lihat, Islamic Supreme Council of America, About us, artikel di
akses pada tanggal 15 Mei 2011 dari

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:ZShmjLu2Kz4J:www.islamicsupremecou
ncil.org/home/aboutus.html+islamic+supreme+council+of+america&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id&source=www.goo
gle.co.id
34

Al-Sunnah Foundation of America (ASFA) adalah sebuah organisasi pendidikan yang


bekerja untuk kesatuan umat Islam di Amerika Serikat. Sebuah organisasi keagamaan yang
didedikasikan untuk penyebarluasan materi informasi tentang Islam dan penyajian sudut pandang
otentik Islam ilmiah tentang urusan dunia. Didirikan dan diketuai oleh Syaikh Hisym Kabbn
pada tahun 1997 bersama-sama dengan Islam Supreme Council of America (ISCA), yang dimana
ASFA memiliki koneksi dengan Tarekat Naqsybandi Haqqni. Lihat, Wikipedia The Free
Encyclopedia, http://en.wikipedia.org/wiki/As-Sunnah_Foundation_of_America, di akses pada
tanggal 25 Februari 2011.




19
Tarekat Naqsyabandi adalah sebuah tarekat besar yang didirikan oleh
Muhammad Bahuddin al-Uwaisi al-Bukhri al-Naqsyabandi (717-719/13171389 H) di Bukhra.35 Tarekat Naqsyabandiyyah mempunyai kedudukan yang
istimewa karena berasal dari Sayyidin Ab Bakar al-Siddiq. Tarekat ini
mengajarkan tentang adab dan dzikir, tawassul dalam tarekat, adab suluk36,
tentang maqm.37 Sebagai metode pengingatan dan konsentrasi, pengasingan diri
merupakan metode yang khas dalam tarekat ini, yang tersebar di kota Kaukasus
dan Asia tengah. Satu di antara upacara tarekat Naqsyabandi dinamakan Khatm
al-Khawajagan (Penutup seluruh Guru Sufi) dan selalu dibaca setiap selesai
mengerjakan shalat wajib. Prinsip metode spiritual tarekat Naqsyabandi adalah
dzikir dalam hati (bil khafy). Nama-nama Tuhan tidak diucapkan melalui lisan
tetapi melalui kesadaran yang menembus ke dalam hati, di mana simbol-simbol
keghaiban masuk ke dalam pribadi seseorang, hal ini berbeda dengan kesadaran
hati secara fisik. Ia merupakan pemusatan secara spiritual dimana panggilan
terhadap Tuhan lebih cenderung pada kesadaran eksistensial daripada pengingatan
secara mental.38

35

Moh. Toriquddin. Sekularitas Tasawuf, Membumikan Tasawuf dalam Dunia Modern,


(Malang: April, 2008), h. 127.
36

Suluk atau perjalanan adalah perjalanan menuju Tuhan. Perjalanan spiritual menuju
sang sumber. Suluk merupakan metode perjalanan melalui seorang guru spiritual. Sesorang yang
menempuh jalan ini disebut salik. Seorang murid kadang-kadang disebut salik, manakala ia sedang
melakukan suluk, yakni suatu ikhtiar menempuh jalan tertentu yang beragam bentuknya dalam
rangka untuk mancapai tujuan tarekat. Totok Jumantoro, dan Samsul Munir Amin, Suluk dalam
Kamus Ilmu Tasawuf (T. tp: Amzah., 2005, h. 211.
37

Secara etimologi, maqm berarti kedudukan, posisi, tingkatan (station) dan tahapan
dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. Maqm yang arti dasarnya tempat berdiridalam
terminologi sufistik berarti tempat atau martabat seorang hamba di hadapan Allah Swt. pada saat
ia berdiri menghadap kepada-Nya. Sedangkan secara terminologi, maqam adalah suatu tahap yang
harus ditempuh oleh seorang sufi untuk sampai kepada Allah Swt. Totok Jumantoro, dan Samsul
Munir Amin, Maqam dalam Kamus Ilmu Tasawuf (T. tp: Amzah., 2005, h. 136.
38

Cryil Glasse, Naqsabandiyyah dalam Ensiklopedi Islam Ringkas (Jakarta: PT Raja


Grafindo Persada., 1999), h. 302. Lihat juga, K. A Nizami, Tarekat Naqyabandiyyah dalam




20
Tarekat ini merupakan sebuah sekolah pemikiran dan praktek yang berdiri

pada kelompok yang menyebarluaskan kebenaran dan berperang melawan


ketidakadilan dan kejahatan, terutama di Asia tengah dan India pada masa lalu, di
Cina dan Uni Soviet pada zaman modern, dan juga di Eropa. Secara khusus
dalam tarekat ini Syaikh Naqsyabandi mengangkat politik, sosial, pendidikan, dan
spiritual peran dalam komunitas mereka, bertindak sesuai dengan al-Qurn suci
dan Sunnah Nabi.
Tarekat Naqsyabandi adalah jalan yang dianut oleh sahabat Nabi dan

orang-orang yang mengikuti mereka. Cara ini terdiri dari ibadah terus menerus
dalam setiap tindakan, baik eksternal dan internal dengan disiplin yang lengkap
dan sempurna sesuai dengan sunnah Nabi. Tarekat didirikan dalam rangka
mempertahankan tingkat tertinggi dan dengan tegas meninggalkan inovasi dan
interpretasi bebas dalam kebiasaan-kebiasaan umum dan prilaku pribadi, juga
menjaga kesadaran akan kehadiran Tuhan yang Maha Kuasa menuju peniadaan
diri sendiri dan pengalaman yang sempurna dari kehadiran Illahi. Tarekat ini
adalah refleksi lengkap derajat tertinggi atau kesempurnaan dan menguduskan diri
melalui perjuangan yang paling sulit, yaitu perjuangan melawan diri dan
pergulatan melawan ego. Ia dimulai dimana yang lainnya berakhir, dalam daya
tarik cinta Ilh yang sempurna, yang diberikan kepada sahabat pertama dari Nabi
Muhammad saw., yakni Sayyidin Ab Bakar al-Siddiq.39


Sayyed Hossein Nasr, ed., Ensiklopedi Tematis Spiritual Islam: Manifestasi, vol. 2 (Bandung:
Mizan., 2003), h. 219. Lihat juga, Abdul Munim al-Hafni, Naqsyabandiyyah, dalam
Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam (Jakarta: Grafindo
Khazanah Ilmu., 2006), h. 933.
39

Abdul Munim al-Hafni, Naqsybandiyyah, dalam Ensiklopedia Golongan,


Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu., 2006),
h. 933.




21
Naqsyabandi berarti lukisan40 The Naqsy adalah ukiran sempurna
nama Allah di jantung murid. Mata rantai Naqsyabandi telah berubah dari abad ke

abad. Berawal dari masa Sayyidin Ab Bakar al-Siddiq ke masa Bayzid alBistmi yang disebut Naqsyabandi Siddiqiyy, dari masa Bayazid ke masa Abdul
Khliq al-Ghujduwni disebut Naqsyabandi Tayfriyy, dari masa Abdul Khliq
al-Ghujdawni ke masa Shah Naqsyband disebut Naqsyabandi Khwajaganiyy,
kemudian dari waktu Shah Naqsyband ke masa Ubaidullh al-Ahrr dan Ahmad
Farqi dinamakan Naqsyabandiyyah.41
Dilanjutkan pada masa Ahmd al-Farqi dengan masa Syaikh Khlid al-

Baghddi yang dinamakan Naqsybandi Mujaddidiyy, sejak masa Khlid alBaghddi sampai saat Syaikh Ismil Sirwni disebut Naqsyabandi Khalidiyy.
Dan pada masa Isma'il Sirwni sampai saat Abdullh Fiz al-Daghestni, disebut
Naqsyabandi Daghestaniyy,42 dan sekarang ini dimasa Syaikh Nzim Adil alHaqqn dikenal dengan nama Naqsyabandi Haqqn.43
2. Silsilah Mata Rantai Emas Naqsyabandi
Dipandang sebagai salah satu madzhab paling terkemuka dalam
spiritualitas Islam, tarekat Sufi Naqsyabandi memiliki sejarah yang panjang yang
bila ditelusuri akan sampai kepada masa-masa awal Islam. Dipimpin oleh para

40

Moh. Toriquddin. Sekularitas Tasawuf, Membumikan Tasawuf dalam Dunia Modern


(Malang: April, 2008), h. 127.
41

Abdul Munim al-Hafni, Naqsabandiyyah, dalam Ensiklopedia Golongan,


Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu., 2006),
h. 933. Lihat juga, Yayasan Haqqani Indonesia, Sejarah Naqsabandi Haqqani, diakses pada 13
Februari 2011 dari alhaqqani@gmail.com.
42

Naqhsbandi Sufi Way, The Titles of Naqhshbandi Golden Chain, artikel diakses
pada 11 Februari 2011 dari http://www.naqsbandi.org/about/titlesof.htm.
43

Naqhsbandi Sufi Way, The Titles of Naqshbandi Golden Chain, artikel diakses
dari http://www.naqsbandi.org/about/titlesof.htm.




22
Syaikh dari yang merupakan para pewaris pengetahuan spiritual Nabi
Muhammad saw. dan para awliy. Para Syaikh Naqsyabandi dikenal dengan
Rantai Emas (The Golden Chains) karena hubungan mereka dengan manusia
tertinggi dan paling Sempurna, yaitu Muhammad saw. Mata rantai berakhir pada
satu titik. Grandsyaikh Maulana Syaikh Nzim Adil al-Haqqn adalah Mata
Rantai Emas terakhir. Pada halaman berikut akan penulis sebutkan silsilah dari
Mata Rantai Emas Grandsyaikh Tarekat Naqsyabandi.




23
Muhammad bin Abdullh
saw.

Ab Bakar al-Siddq

Salmn al-Frisi

Jafar al-Sdiq

Qsim bin Muhammad


bin Ab Bakar

Alauddin al-Attr

Tayfr Ab Yazid
al-Bistmi

Ab al-Hasan alKharqni

Ab Ali al-Farmdi

Ab Yaqb Ysuf
al-Hamadni

Ab al-Abbs al-Khidr

rif al-Riwakri

Khwaja Mahmd al-Injir


al-Faghmwi

li al-Ramitani

Muhammad Bahuddin
Shah Naqsband

Sayyd Amir Kulal

Muhammad Baba alSamsi

Alauddin al-Attr

Yaqb al-Kharkhi

Ubaidillah al-Ahrr

Muhammad Khwaja
al-Amkanki

Darwis Muhammad

Muhammad al-Zhid

Muhammad al-Bqi
Billh

Ahmad al-Farqi alSirhindi

Muhammad Masm

Syamsuddin Habbullh

Nr Muhammad alBadawni

Muhammad Syaifuddn

Abdullh al-Dahlwi (Shah


Ghulm Ali)

Khald al-Baghddi

Ismal al-Sirwani

Jamluddin al-Ghumqi
al-Husaini

Muhammad Affandi alYarghi

Khs Muhammad alSirwni

Ab Ahmad al-Sughri

Ab Muhammad alMadni

Syarafuddin alDaghestni

Muhammad Nzim dil

Abdullh Fiz alDghestni

al-Haqqn




Abd al-Khliq alGhujduwni

24
C.

Beberapa Karya Syaikh Hisym Kabbn


Syaikh Hisym Kabbn juga dikenal sebagai seorang penulis, ia telah

banyak melahirkan karya-karya yang mendapatkan sambutan sangat baik dan


hangat bagi para pembacanya, sebagian karyanya telah diterjemahkan ke dalam
beberapa bahasa, diantaranya adalah Bahasa Indonesia. Buku-bukunya antara
lain:44
1.

Pearls and Coral Secret of the Sufi Way. (Islamic Supreme Council of
America: 2005).

2.

Keys to the Divine Kingdom Lessons in Classical Islams Spiritual


Science. (Islamic Supreme Council of America: 2005).

3.

Liberating the Soul A Guide for Spiritual Growth. Syaikh Hisym


Kabbn sebagai editor. (Islamic Supreme Council of America: 2005).

4.

The Approach of Armageddon An Islamic Perspective. (Islamic


Supreme Council of America: 2003).

5.

Classical Islam and The Naqhabandi Sufi Tradition. (Islamic Supreme


Council of America: 2003).

6.

Muhammad the Messanger of Allah His Life and Prophecy. (Islamic


Supreme Council of America: 2002).

7.

In the Mystic Footsteps of Sains, jilid 1 dan 2. Syaikh Hisym Kabbn


selaku editor. (Islamic Supreme Council of America: 2002).


44

The Islamic Supreme Council of America, Publications of Syaikh Hisym Kabbns


books, artikel di akses pada 11 Februari 2011 dari http://islamicsupremecouncil.org/home/aboutus/34-saykh-muhammad-hisam-Kabbn.html




25
8.

Encyclopedia of Muhammads Women Companions and the Tradition


they Related. Karya Syaikh Hisym Kabbn dan Dr. Laleh Bachtiar.
(Defenders Publications: 1998).

9.

Remembrance of God Liturgy of the Naqsyabandi Masters. (Kazi


Publications: 1998).

10.

Angels Unveiled: A Sufi Perspective. (Kazi Publications: 1996).

11.

The Naqsyabandi Sufi Way History and Guidebook of the Saints of the
Golden Chain. (Kazi Publications: 1995).

12.

Encyclopedia of Islamic Doctrine. (al-Sunna Foundation of America:


1998). Berjumlah 7 jilid, diantaranya:
x

Jilid 1: Beliefs

Jilid 2: Remembrance of Allah and Praising the Prophet

Jilid 3: The Prophet: Cemmomerations, Visitation, and His


Knowledge of the Unseen (Mawlid, Ziyara, Ilm al-Ghayb)

Jilid 4: Intercession (Shafaa, Tawassul, Istighatha)

Jilid 5: Self Purifications and the State of Excellent (Tazkiyt alNafs/Tasawuf, Ihsn)

D.

Jilid 6: Forgotten Aspect of Islamic Workship, bagian 1

Jilid 7: Forgotten Aspect of Islamic Workship, bagian 2

Encyclopedia of Islamic Doctrine Remembrance of Allah and


Praising the Prophet
Encyclopedia of Islamic Doctrine merupakan salah satu karya Syaikh

Hisym Kabbn yang mendapatkan sambutan hangat bagi masyarakat Muslm.




26
Buku yang diterbitkan oleh al-Sunna Foundation dibawah pengawasan Syaikh
Hisym Kabbn sendiri ini yang berjumlah 7 jilid, dan setiap jilidnya memiliki
tema yang sangat menarik bagi pemaca untuk menambah wawasan dan
pengetahuan bagi para pembacanya.
Karya Syaikh Hisym Kabbn ini memiliki kebajikan yang amat besar
dengan memulai kembali ajaran-ajaran Islam tradisional dengan jalan keluar
kompromi dengan modernisme atau disebut reformisme. Berakar pada interpretasi
tradisional dari syarat dan sekolah teologi Islam serta urutan Naqsyabandiyah
yang telah membawa penghalang interpretasi ortodoks ketat sufisme selama
berabad-abad, volume ini mencerminkan pandangan dari otoritas terbesar dalam
doktrin syarat dalam sejarah Islam. Ia membawa pengetahuan yang luas, yang
hanya dapat dikuasai dalam suasana tradisional. Untuk menanggung setiap
diskusi, ia membawa keluar dirinya dari sifat Tuhan untuk mengimbangi suatu
kondisi. Setiap volume dikhususkan untuk satu set keyakinan tertentu mulai
dengan akidah atau yang disebut dengan tauhd.45
Volume selanjutnya mencakup unsur-unsur praksis Islam yang terkenal
dan juga orang-orang yang telah hampir terlupakan pada masa kini. Suatu
pekerjaan juga sangat berkaitan dengan keyakinan Islam penting seperti "syafat"
(Tawassul) yang diserang oleh mereka yang disebut sebagai reformis. Dalam
setiap diskusi, Syaikh Hisym Kabbn mendampingkan pandangan Islam
tradisional yang diuraikan oleh tokoh-tokoh seperti Imam Syf', Imam Ab
Hanfah, Imam al-Ghazl dan Imam Ab

Hasan al-Asy'r dengan inovasi


45

Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Encyclopedia of Islamic Doctrine Beliefs


(Aqida), vol. 1 (United States of America: al-Sunna Foundation of America), 1998, h. xiii.




27
memahami ajaran-ajaran dasar yang sebagian kembali ke Ibnu Taimiyyah.46
Kemudian dilanjutkan dengan volume-volume selanjutnya yang juga tidak kalah
menarik untuk dijadikan sebuah penelitian bagi para ilmuan.
Penulis mencoba menguraikan apa-apa yang tersimpan di dalam salah
satu karya Syaikh Hisym Kabbn ini pada volume kedua yang berjudul
Remembrance of Allah and Praising the Prophet. Buku ini membentangkan
dalil-dalil dan hujjah-hujjah seputar masalah dzikir dan salwat yang dimana hal
ini

juga

ditentang

keras

oleh

beberapa

kelompok

Muslm

dengan

mengatasnamakan pemurnian Islam. Kaum Salafi misalnya, menuding mereka


yang berdzikir bersama dengan suara keras maupun perlahan sebagai ahli
bidah. Syaikh Hisym Kabbn mencoba mengurai secara gamblang bahwa
dzikir merupakan kewajiban terbesar dan perintah Allah yang kekal. Pembahasan
dalam buku ini terdiri dari 5 bab.47
Dzikir kewajiban terbesar dan perintah Allah yang kekal mengawali
ulasan dzikir dalam bab satu buku ini. Menggunakan bulir-bulir tasbih juga
dijadikan pembahasan yang menarik di dalam buku ini bagi para pembacanya.
Dapatkah bulir tasbih digunakan untuk menghitung jumlah dzikir, sebelum atau
sesudah salat wajib, siang atau malam? Sebegitu terbentang luas pembahasan
mengenai dzikir dalam bab satu karya Syaikh Hisym Kabbn ini. Salwat
kepada Nabi Muhammad saw., ringkasan tentang dzikir dari karya Abdurrahman
al-Sufuri dalam Nuzhah al-Majlis wa Muntakhab al-Nafis (Perkumpulan

46

Encyclopedia of Islamic Doctrine Beliefs (Aqida), vol. 1 (United States of


America: al-Sunna Foundation of America, 1998), h. XIII-XIV.
47

 Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Remembrance of Allh and Praising the


Prophet, vol. 2 (United Stated of America: al-Sunna Foundation of America), 1998.





28
menyenangkan dan hal-hal berharga yang terpilih), dan perumpaan Allah terhadap
kalimat tauhd juga menjadi pembahasan pertama dalam buku ini.
Membaca syair pujian kepada Nabi Muhammad saw. melengkapi
pembahasan buku ini dalam bab dua. Di dalamnya dijelaskan tentang pujian
terhadap naat di kalangan para Sahabat Nabi Muhammad saw., kemudian
dilengkapi dengan biografi dan kisah Hasan bin Tsabit, seorang penyair Nabi
Muhammad saw. disertai syair Kab bin Zuhair dan syair pujiannya Abdul Hamd
terhadap Nabi Muhammad saw..
Dalam bab 3 karya Syaikh Hisym Kabbn berisikan tentang syair
pujian al-Busiri (Qasdah al-Burdah) kepada Nabi Muhammad saw., yang
didalamnya dijabarkan perihal kemuliaan qasdah al-Burdah karya Imam alBusiri disertai dengan pelajaran dari karyanya, penolakan kaum salafi terhadap
wasilah kepada Nabi Muhammad saw. dan al-Burdah yang juga disertai dengan
bantahan mereka terhadap pujian terhadap Nabi Muhammad saw., dan penolakan
mereka terhadap gelar Nabi Muhammad saw. sebagai sumber-sumber cahaya
nabi-nabi yang lain. Dalam bab 3 ini juga diberikan perincian penjelasan tentang
nama Cahaya (nr), penolakan kaum salafi terhadap keunggulan pengetahuan
dan kebaikan Nabi Muhammad saw., kaum salafi yang membatasi ampunan
Allah, dan pendirian Abdul Wahb terhadap qasdah al-Burdah.
Syaikh Hisym Kabbn pun memberikan ulasan mengenai orang tua
Nabi Muhammad saw. berada di dalam surga di dalam bab empat, dan keutamaan
keluarga Nabi Muhammad saw. dan kemuliaan para Sahabat dalam bab lima.




BAB III
GAMBARAN UMUM DZIKIR

A.

Pengertian Dzikir
Dzikir sangat lekat dengan kehidupan umat Islam. Siang dan malam

dilantunkan, sendirian maupun bersamaan. Namun, seiring modernitas kehidupan,


dzikir menjadi ritual yang mati, terus dipraktekkan tanpa pemaknaan mendalam.
Memang sebagian orang lengah dan lalai dengan tuntunan al-Qurn; sebagian
umat juga tidak memahami apa yang dimaksud dzikir; sebagian memahami dzikir
dalam bentuk kalimat yang di ulang-ulang membacanya tanpa pemahaman atau
penghayatan.
Kata dzikir adalah bentuk tunggal (mufrd), sedangkan bentuk jamaknya
adalah al-Adzkr. Dalam al-Qurn, kata dzikir dan yang berakar kata sama
disebutkan sebanyak 292 kali, termuat dalam 36 surat (25 surat Makkah dan 11
surat Madniah).47 Kata-kata dzikir sendiri, dalam bentuk masdar (kata kerja
benda), terulang sebanyak 76 kali.48
Secara etimologis atau bahasa, dzikir merupakan masdar (kata benda) dari
kata kerja dzakara-yadzkuru-dzikran. Dalam Lisn al-Arab karya Ibn Manzhr, ia
memberikan pengertian, dzakara berarti menjaga sesuatu dengan menyebut atau
mengingatnya. Dzikir juga berarti kerhormatan atau kemuliaan (al-Syaraf), nama


47

Muhammad Fud Abd al-Bqi. Al-Mujam al-Mufahras li Alfdz al-Qurn al-Karim


(Beirut: Dr al-Fikr, 1981), h. 270-275.
48

Muhammad Fud Abd al-Bqi. Al-Mujam al-Mufahras li Alfdz al-Qurn al-Karim.

29

30

baik (al-Sit), al-Kitb yang isinya menjelaskan agama (al-Dn), Shalat dan doa
serta pujian (al-Tsana) atasnya.49
Dalam Kamus Istilah Tasawuf, dzikir secara etimologi berarti mengingat,
memperhatikan, mengenang, mengambil pelajaran, mengenal atau mengerti.50
Dzikir itu bahasa umumnya sama dengan ingat yang berarti dapat dilakukan di
mana saja dan dalam semua keadaan. Ia dapat diucapkan oleh hati (dzikir khafy),
dan dapat diucapkan oleh (dzikir lisan), dapat diucapkan oleh anggota badan
lainnya (dengan prilaku dan akhlak mahmdah).
Sedangkan pengertian dzikir menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah puji-pujian kepada Allah yang diucapkan berulang-ulang atau doa dan
puji-pujian berlagu.51 Dzikir di dalam syarat Islam mempunyai makna yang
banyak, antara lain: semata-mata pengungkapan tentang dzat Allah (menyebut),
tentang sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, atau hukum-hukum-Nya; atau
dengan membaca kitab-Nya, memohon dan berdoa kepada-Nya, , memuliakanNya, mengesakan-Nya, memuji-Nya, bersyukur pada-Nya, dan mengagungkanNya.52
Kata dzikir sebenarnya mulai digunakan oleh pengguna bahasa Arab
dalam antonim lupa. Sebagian pakar yang mengatakan bahwa kata itu pada
mulanya berarti mengucapkan dengan lidah/menyebut sesuatu. Makna ini
kemudian berkembang menjadi mengingat sesuatu seringkali mengantar lidah

49

Ibn Manzhur, Lisn al-Arab (Beirut: Dr al-Sdir, 1990), jilid IV, h. 308-333. Lihat
juga, Louis Maluf, Al-Munjid fi al-Lughah wa Ilm (Beirut: Kattulikiyah, t. t), h. 236.
50
Totok Jumantoro, dan Samsul Munir Amin, Dzikir dalam Kamus Ilmu Tasawuf (T.
tp: Amzah., 2005, h. 34.
51

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia


(Jakarta: Balai Pustaka, 2001), h. 1280.
52

Syaikh Ali Jumah, Kupas Tuntas Ibdah-Ibadah Diperselisihkan, (Cikarang, Duha


Khazanah, t.t), h. 163.




31

menyebutnya. Begitu juga, menyebut dengan lidah dapat mengantar hati untuk
lebih mengingat lebih banyak lagi apa yang disebut-sebut itu.53
Kata menyebut sangat dikait-kaitkan dengan sesuatu, maka apa yang
disebut itu adalah namanya. Pada sisi lain, bila nama sesuatu terucapkan, maka
pemilik nama yang diingat itu disebut sifat, perbuatan, peristiwa yang berkaitan
dengannya. Sedangkan mengingat

adalah satu nikmat yang sangat besar,

sebagaimana lupa pun merupakan nikmat yang tidak kurang besarnya. Dari sini
kata dzikir dapat mencakup penyebutan nama Allah atau ingatan menyangkut
sifat-sifat atau perbuatan-perbuatan Allah, surga atau neraka-Nya, rahmat atau
siksa-Nya, perintah atau larangan-Nya, dan juga wahyu-wahyu-Nya, bahkan
segala yang dikaitkan dengan-Nya.54
Mengingat adalah suatu nikmat yang sangat besar, sebagaimana lupa pun
merupakan nikmat yang tidak kurang besarnya. Ini tergantung dari objek yang
diingat. Sungguh besar nikmat lupa bila yang dilupakan adalah kesalahan orang
lain, atau kesedihan atau luputnya nikmat. Dan sungguh besar pula keistimewaan.
Al-Farr dan Ibnu Qutaibah memberikan pengertian mengenai dzikrullh,
menurut keduanya dzikrullh adalah tasbih dan tahll lebih besar dan menjauhkan
dari kejahatan dan kemungkaran dan jika seorang hamba mengingat Allah, maka
Allah memberikan pahala untuknya, disebutkan di dalam hadis quds,


53

Quraish Shihab, Wawasan al-Quran Tentang Dzikir dan Doa, (Jakarta: Lentera Hati,
2008), h. 9.
54




Quraish Shihab, Wawasan al-Quran Tentang Dzikir dan Doa, h. 11-12.

32

Jika hamba-Ku mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku akan


mengingatnya dalam diriku.55
Dzikir menurut Spencer Trimingham adalah, Recollection, a spiritual
exercise design to render Gods presence troughout ones being. The method
employed (rhythmical repetitive invocation of Gods name) to attain this spiritual
concentration Maksudnya adalah ingatan atau suatu latihan spiritual yang
bertujuan untuk menyatakan kehadiran Tuhan serayakan membayangkan wujudNya. Atau suatu metode yang dipergunakan untuk mencapai konsentrasi spiritual
(dengan menyebut nama Tuhan berulang-ulang...56
Dalam Ensklopedi Islam Ringkas dijelaskan bahwa dzikir adalah
mengingat, dzikrullh atau mengingat kepada Allah, berkaitan dengan
penyebutan-penyebutan nama-nama Allah, atau untuk doa pujian kepada-Nya.
Al-Qurn sering menyebut dzikir sebagai amal ibadah:57


Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu. (QS. Al-Baqarah
[2]: 152).

Sebutlah nama Tuhan dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh


ketekunan. (QS. Al-Muzammil [73]: 8).
Dzikir mengandung arti pengingatan kepada Allah Swt. Adapun dalam
bahasa Arab, pengingatan kepada Allah Swt. diistilahkan dengan dzikrullh.
Dzikir dalam pengertian khusus adalah latihan rohani untuk ingat kepada Allah

55

Quraish Shihab, Wawasan al-Quran Tentang Dzikir dan Doa (Jakarta: Lentera Hati,
2008), h. 9.
56

Totok Jumantoro, dan Samsul Munir Amin, Dzikir dalam Kamus Ilmu Tasawuf (T.
tp: Amzah., 2005, h. 34-35.
57

Cryil Glasse, Naqsyabandiyyah dalam Ensiklopedi Islam Ringkas (Jakarta: PT Raja


Grafindo Persada., 1999), h. 449.




33

Swt. yang dilakukan dengan membaca kalimat tauhid (tahll ) L Ilha Illallh
atau lafal al-Jallah Allah atau nama-nama yang tersebut di dalam asm alHusn. Kata ingat di sini dapat diartikan dengan hadirnya Allah dalam hati atau
menghadirkan Allah dalam hati, sehingga keberadaan Allah itu disadari sebenarbenarnya oleh orang yang berdzikir dan mempengaruhi segala perbuatannya.
Bagi kalangan sufi, dzikir merupakan metode spiritual dalam pendekatan
diri kepada Allah, penyebutan nama-nama Allah atau beberapa formula kalimat
suci, di bawah bimbingan guru tarekat memiliki rangkaian (silsilah) yang otentik.
Guru spiritual, atau al-Syaikh58 menyampaikan baiat.59 Kata dzikir sering
digunakan secara khusus untuk setiap upacara di mana para sufi membentuk
lingkaran dalam sebuah pertemuan sufi (majelis), di mana dzikir yang benar
hanyalah sebuah elemen, untuk menuju kepada Pusat yang Satu.
Menurut Sara Sviri, dzikir merupakan praktik sekali sekaligus keadaan
esoterik. Sebagai keadaan esoterik dzikir mengandung paradoks, karena sekalipun
dzikir berarti ingat, tetapi pengalaman puncak yang dituju praktik dzikir adalah


58

Syaikh adalah guru spiritual. Syaikh merupakan pembimbing otentik dan satu-satunya
yang dituju oleh sang pencari kebenaran dalam pencariannya. Dengan berpaling kepada guru
spiritual, sang pencari pun berpaling kepada Allah Swt. Yang Maha Kuasa. Pengertian secara
khusu adalah gelar bagi pimpinan spiritual, guru, pimpinan tarekat, yang dalam bahsa Arabnya
mursyid (penunjuk). Totok Jumantoro, dan Samsul Munir Amin, Syaikh dalam Kamus Ilmu
Tasawuf (T. tp: Amzah., 2005, h. 215.
59

Baiat adalah suatu janji. Peresmian atau pengakuan terhadap seorang penguasa
diselenggarakan melalui suatu janji baiat, yakni sumpah kesetiaan dan ketundukan. Hal ini
dilakukan oleh para pejabat, ulama dan tokoh-tokoh politik lainnya. Dalam sufisme, ia juga
merupakan suatu janji terhadap Tuhan yang dibuat oleh anggota baru dengan oleh sang guru sufi.
Lihat, Cryil Glasse, Baiat dalam Ensiklopedi Islam Ringkas (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada., 1999), h. 55.




34

segenap perhatian tercurah untuk menyebut nama Allah, segalanya hilang dari
orbit persepsi dan imajinasi.60
Hal di atas sama dengan pengertian dzikir yang dijelaskan oleh guru
penulis,

Syaikh

bdul

Mlik

al-Dien,

selaku

mursyid

dari

Tarekat

Naqsyabandiyyah Husainiyyah, Madura. Ia menjelaskan bahwa, hakikat dzikir


adalah lupa, lupa akan sesuatu yang lain selain yang diingat, dalam hal ini adalah
Dzat Allah yang Maha Suci.61
Dalam aliran spiritual, pengingatan berkaitan dengan apa yang ada di alam
batin adalah pengingatan kepada sumber dari segala perwujudan dan segala sifatsifat.

B.

Metode Dzikir yang Berkembang


Telah diketahui oleh masyarakat pada umumnya, di Indonesia terdapat

berbagai macam forum-forum perkumpulan dzikir dan tarekat dengan berbagai


macam

metodenya.

Jika

dilihat

dari

bentuk

dzikir,

sebagian

ulama

mengklarifikasikan dzikir kepada dua metode, yaitu dzikir bil khafy


(tersembunyi), dan bil jahr (keras). Mereka memperdebatkan mana yang lebih
utama antara dzikir bil khafy dan bil jahr
1.

Dzikir Khafy
Dzikir khafy atau dzikir diam. Ini adalah visi cahaya keindahan kesatuan.

Dzikir diam yang lembut, nikmat dan sangat manis. Dinamakan juga dengan

60

Sudirman Tebba. Meditasi Sufistik, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2004), h. 77. Lihat
juga, Abi al-Qsim Abdul Karm bin Hawzin al-Qusyairi. Rislah al-Qusyairiyyah (Beirut: Dr
Kutub al-Ilmiyyah, 2001), h. 257.
Wawancara Pribadi dengan Syaikh Abdul Mlik al-Dien, via chating jaringan sosial
Facebook, pada tanggal 18 Februari 2011.
61




35

dzikir tidak bersuara, hanya hati yang mengucapkan lafaz ismu dzat Allah. Pada
awalnya mulut berdzikir diikuti hati, kemudian lidah berdzikir sendiri sampai
lancar, akal pikiran diikuti rasa kenikmatan, sehingga cahaya Ilhi masuk ke
dalam hati, ingatan semata-mata hanya kepada Allah, dan akhirnya seakan-akan
seluruh badan dipenuhi oleh dzikir. Dzikir khafy

biasa dipraktekkan pada

Tarekat Naqsyabandi, dengan alasan dzikir khafy terelatak di dalam hati, tidak
mudah diganggu oleh kesibukan-kesibukan, dan juga mengingat perasaan hati
dalam kehidupan sangat menentukan.62
Telah disebutkan di dalam Maknat al-Dzikr baina al-Ibdt karya
Utsmn Sad al-Syarqwi, orang-orang arif di jalan Allah mengatakan
tentang dzikir khafy , bahwa dzikir khafy lebih utama...63
Firman Allah:


Sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan
rasa takut. (QS. Al-Arf [7]: 205).
Sabda Nabi Muhammad saw.:









Allah berfirman, Aku sesuai dengan keyakinan hamba-Ku tentang Aku,
dan Aku bersamanya apabila dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku

62

Totok Jumantoro, dan Samsul Munir Amin, Dzikir dalam Kamus Ilmu Tasawuf (T.
tp: Amzah., 2005, h. 42-43.
63

Utsman Sad al-Syarqwi. Maknat al-Dzikr baina al-Ibdt (Kairo: al-Hait alMisriyyah li al-Kitb, 1993), h. 55.




36

di dalam hatinya, maka Aku akan mengingatnya dalam hati. Jika dia
mengingat-Ku di hadapan para makhluk, maka Aku akan mengingatnya
di hadapan para makhluk yang lebih baik dari mereka.64\
Diriwayatkan pula oleh Saad bin Mlik, bahwa Nabi Muhammad saw.
bersabda:





Sebaik-baik dzikir adalah yang tersembunyi (khafy), dan sebaik-baik
rezeki itu adalah yang mencukupi.65
Karena dengan dengan dzikir bil khafy

lebih dapat membangkitkan

keikhlasan, lebih jauh dari sifat riya, lebih banyak mengandung faedah, lebih
sempurnanya tingkatan, lebih dekatnya derajat, lebih murninya kesucian, dan
lebih berlimpahnya marifah.66
Hati adalah tempat iman, sumber-sumber cahaya dan penuh dengan
rahasia. Dalam aplikasinya, dzikir ini mempertimbangkan tarikan nafas, dengan
selalu menyebut L Ilha Illallh dengan diam, yang berbicara hanya hatinya,
hal ini dikenal dengan Ds al-Anfs (dzikir berupa menjaga pernafasan). Sebab,
keluar masuknya pernafasan yang dibarengi dengan kesadaran tentang kehadiran
Allah merupakan pertanda bahwa kalbu itu hidup serta berkomunikasi langsung

64

Sahih Muslm, (Beirut: Dr al-Kitb al-Arabiy, 2004, kitab. al-Dzikr wa al-Du, bab.
fadhl al-Dzikr wa al-Du wa al-Taqarrub ilallh. Lihat juga, Imam al-Bukhri di dalam kitab atTauhd, bab. wa yuhadzdzirukumullh nafsah, Sunan al-Tirmdzi, kitab. al-Daawt bab. Fi Husn
al-Dzn billah Azza wa Jalla, Sunan Ibnu Majah, kitab. Adb, bab. Fadhl al-Amal, dan Musnad
Ahmad bin Hanbal, bab. Musnad Abi Hurairah radhiyallh anhu.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari hadis Saad bin Abi Waqqs. Lihat, Ab
Abdullh Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hill bin Asd al-Syaibn. Musnad Ahmad bin
Hanbal, bab Musnad Abi Ishq Saad bin Waqqs, (Beirut: Dr al-Hadits, 1995), juz. 4, hadis no.
1559, h. 260.
65

66

Utsman Sad al-Syarqwi. Maknat al-Dzikr baina al-Ibdt, (Kairo: al-Hait alMisriyyah li al-Kitb, 1993), h. 55.




37

dengan Allah Sebaliknya, seorang yang lupa mengingat Allah pertanda bahwa
kalbunya mati, karena tidak ada komunikasi dengan Yang Maha Hidup.
Dalam al-Qurn disebutkan, Yang Maha Hidup itu digambarkan sebagai
cahaya langit dan bumi. Ketika tidaka ada hubungan denga sumber cahaya itu,
kalbu pun tidak mendapatkan pancaran cahaya, sehingga gelap dan mati. Untuk
mencapai dzikir ini diperlukan latihan yang teratur dan disiplin; namun, menurut
para ahli tasawuf cara termudah untuk mengefektifkan dzikir khafy

ini adalah

dengan cara berguru kepada seorang mursyid67 atau pembimbing yang sudah
mencapai marifah68 kepada Allah. Dzikir ini dipraktekkan untuk menghilangkan
sifat munafik dan menjaga agar terhindar dari bisikan jahat.
2.

Dzikir Jahr (Keras)


67

Kata mursyid berarti orang yang menunjukkan jalan yang benar. Kata mursid berasal
dari bahasa Arab, arsyada yang berarti memeberi petunjuk. Kata mursid ditemukan di dalam alQuran, misalnya dalam QS. Al-Kahfi [18]:17:

Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allh Swt..., maka dialah yang mendapat
petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang
pemimpin yang dapat member petunjuk kepadanya).
Peranan mursyid atau syaikh terhadap murid sangat penting. Menurut Ab Hafs Syihb
al-Din al-Suhrwardi (539-632 H/1140-1234 M), tokoh Tarekat Suhrawardiyah dalam bukunya
Awrif al-Marif, bahwa syaikh adalah khlifah Nabi Muhammad saw., karena ia mewakili Nabi
Muhammad saw. menyeru manusia kepada Allh Swt. Karena itu, kedudukan manusia di
kalangan kaum sufi sangat tinggi dan luhur. Posisi yang mulia ini diperoleh para sufi, karena
mereka menanmkan rasa cinta dan pengabdian kepada-Nya. Mursyid atau Syaikh membimbing
muridnya mensucikan hati. Hati yang suci akan terpancar cahaya ketuhanan (nur Ilhi ) dan
mendapatkan marifah yang menyebabkan ia mendapatkan keuntungan. Lihat, Tim Penulis UIN
Syarif Hidayatullah, Mursyid, dalam Ensiklopedi Tasawuf, jilid. III, T-Z (Bandung: Angkasa,
2008), h. 896.
68

Secara harfiah, marifah berarti pengetahuan. Dalam kajian tasawuf, marifah


maksudnya marifat Allh
Swt. (pengetahuan tentang Tuhan). Marifah mulai banyak
diperbincangkan dalam lingkungan para sufi pada aba ke III H, setelah adanya gagasan bahwa
marifah itu tiga macam atau memiliki tiga macam tingkatan. Tingkatan tertinggi adalah marifah
yang dicari dan diharapkan oleh calon sufi. Itulah marifah hakiki atau marifah sufiah. Orang
yang memiliki marifah hakiki itu disebut arif billh ., orang yang mengenal atau mengetahui
Allh. Lihat, Tim Penulis UIN Syarif Hidayatullah, Mursyid, dalam Ensiklopedi Tasawuf, jilid.
III, T-Z (Bandung: Angkasa, 2008), h. 896.




38

Dzikir jahr (keras) adalah mengingat Allah dengan bersuara. Sang dzakir
(orang yang berdzikir) hanyalah seorang dzakir parsial manakala dzikirnya
dilakukan dengan bersuara. Dzikir jahr dinamakan juga dzikir lisan. Untuk
menjadi seorang dzakir menyeluruh, setiap anggota tubuh, setiap sel, harus
tenggelam dan mengingatnya.
Sementara, sebagian kalangan mengatakan bahwa dzikir dengan suara
keras lebih utama. Nabi Muhammad saw. memuji orang yang awwh (secara
harfiah, orang yang mengucapkan ah, ah!), yakni bersuara keras dalam dzikirnya,
bahkan ketika orang lain melarangnya. Imam Ahmd meriwayatkan dari Uqbah
bin Amir:


:

Nabi Muhammad saw. bercerita tentang seorang pria bernama Dzu alBijadain, innahu awwh (orang yang sering mengatakan ah). Ini karena
dia adalah orang yang banyak berdzikir dengan membaca al-Qurn, dan
dia meninggikan suaranya ketika berdoa.69
Hadis-hadis

yang

berbicara

tentang

permasalahan

ini

dapat

dikompromikan dengan mengatakan bahwa hal tersebut berbeda sesuai perbedaan


individu dan keadaan. Barang siapa takut akan hasrat pamer, atau takut bacaannya
dapat mengganggu orang lain, maka yang lebih utama baginya adalah berdzikir
dengan suara lirih. Akan tetapi, jika dia takut akan hasrat pamer dan bacaannya
tidak akan mengganggu orang lain, maka yang lebih utama baginya adalah

69

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Uqbah bin Amir. Lihat, Ab Abdullh Ahmad
bin Muhammad bin Hanbal bin Hill bin Asd al-Syaibni. Musnad Ahmad bin Hanbal, bab
Hadits Uqbah bin Amir al-Juhniy, (Beirut: Dr al-Hadits, 1995), juz. 4, h. 159.




39

berdzikir dengan suara jelas. Dalam Hakekat Tasawuf karya Syaikh Abdul Qdir
Isa dikatakan, Berdzikir dengan suara keras di dalam masjid tidak dilarang,70
agar kita tidak termasuk ke dalam firman Allah,


Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah di dalam masjid-masjid?. (QS. AlBaqarah: [2] 114).
Pada dzikir Jahr disuarakan dengan tekanan keras, dimaksudakan agar
suara dzikir yang kuat dapat mencapai rongga batin mereka yang dzikir, sehingga
memancarlah nr dzikir dalam jiwanya. Gerakan dzikir di ulang-ulang dengan
irama yang makin lama semakin cepat, di bawah pimpinan seorang Syaikh atau
imam. Penganut tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah, diajarkan dzikir naf isbat,
kalimat dzikir yang tidak mengakui semua Tuhan-Tuhan dan menetapkan
pengakuan kepada Tuhan Allah yang satu tunggal. Dzikir ini diucapkan dalm
bentuk jahr.71
Dzikir jahr memiliki nilai atau berpengaruh pada kesucian jiwa, bila
dilakukan dengan memenuhi beberapa syarat, yaitu (a) dzikir diajarkan melalui
proses talqin72 dari seorang mursyid, (b) dilakukan dalam keadaan suci, (c)

70

Syaikh Abdul Qdir Isa. Hakekat Tasawuf (Jakarta: Qisthi Press, 2005), hal. 104.

71

Totok Jumantoro, dan Samsul Munir Amin, Dzikir Jahr dalam Kamus Ilmu Tasawuf
(T. tp: Amzah., 2005, h. 40-41.
72

Kata talqin menurut bahasa berasal dari fiil mdhi (kata kerja masa lalu) laqina yang
berarti telah mencerdaskan, telah memberikan pemahaman, atau telah menjadikannya masuk akal.
Selain itu, laqqana-yulaqqinu-talqin juga berarti membimbing atau menasihati seperti
membimbing seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat agar ia menyimak dengan baik
kemudian dapat menirukannya dengan benar. Di dalam tasawuf dan tarekat, talqin adalah
mengambil pelajaran dari seorang guru guna mengokohkan kalimat al-Taqwa, yakni kalimat L
Ilaha Illallh., tiada Tuhan selain Allah di dalam kalbu.

.. dan Allah mengokohkan kalimat takwa ke dalam kalbu orang-orang beriman.
(QS. Al-Fath [48]: 26).




40

dilakukan dengan suara yang kuat,

(d) teknis pelaksanaannya sesuai dengan

petunjuk Nabi Muhammad saw. yang disampaikan oleh seorang mursyid kepada
muridnya.73
Dalam versi Ensiklopedi Tasawuf pun dijabarkan, yang disusun oleh Tim
Penulis UIN Syarif Hidayatullah, dzikir dapat berpengaruh terhadap kesucian jiwa
jika dilakukan dengan (a) diniatkan untuk diri dan beribadah kepada dengan
tujuan mencari kerelaan, cinta, marifah kepada-Nya, (b) sebaiknya dilakukan
dalam keadaan memiliki wudhu, (c) dilakukan di tempat dan suasana yang
menunjang kekhusyukan, (d) berusaha memahami makna yang terkandung dalam
lafal dzikir itu dengan sebaik-baiknya, (e) berusaha menghayati makna ucapan
dzikir itu dan meresapkannya ke dalam hati, (f) mengosongkan hati dan ingatan
dari segala sesuatu selain Allah, (g) berusaha mewujudkan pesan-pesan moral
yang terkandung dalam ucapan dzikir itu dalam sikap hidup kita, dan (h)
menjadikan dzikir sebagai aktifitas harian.74

C.

Keutamaan dan Manfaat Dzikir


Apapun yang kita lakukan, secara jasmani hendaknya kita mengikuti jalan

yang lurus. Perbuatan mengikuti jalan yang lurus. Perbuatan mengikuti jalan
yang lurus ini hanya dapat dilakukan dengan cara mematuhi dan memelihara

Menurut Syaikh Abdul Qdir al-Jailni, talqin dzikir dalam tasawuf dan tarekat, hanya
akan relatif dengan syarat mengambilnya dari seorang guru yang kalbunya telah takwa secara
sempurna, yakni terpelihara dari lupa atau lalai dari mengingat Allah Swt., serta suci atau bersih
dari dari segala sesuatu selain Allh . Lihat, Tim Penulis UIN Syarif Hidayatullah, Talqin, dalam
Ensiklopedi Tasawuf, jilid. III, T-Z (Bandung: Angkasa, 2008), h. 1254.
73

Totok Jumantoro, dan Samsul Munir Amin, Dzikir Jahr dalam Kamus Ilmu Tasawuf
(T. tp: Amzah., 2005, h. 40
74

Tim Penulis UIN Syarif Hidayatullah, Dzikir, dalam Ensiklopedi Tasawuf, jilid. III,
T-Z (Bandung: Angkasa, 2008), h. 1507.




41

syarat agama. Oleh karena itu, setiap orang hendaknya sadar dan senantiasa
mengingat Allah (dzikrullh),

di waktu siang dan malam, baik secara zahir

maupun batin. Bagi mereka yang memandang hakikat (yaitu Allah), dzikrullh
adalah wajib hukumnya atau tidak boleh ditinggalkan. Mengapa harus
meninggalkannya, padahal ia adalah sumber ketenangan hati dan jiwa?
Dzikir merupakan amalan ringan yang memiliki banyak keutamaan. Selain
itu, membiasakan dzikir dalam setiap gerak langkah kehidupan, dapat membawa
perubahan yang sangat besar bagi siapa saja yang menjalankannya.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: tidak diragukan bahwa hati dapat
berkarat seperti halnya besi dan perak. Dan alat pembersih hati adalah dzikir.
Dzikir dapat membersihkannya, sehingga dia menjadi seperti cermin yang bersih.
Apabila seseorang meninggalkan dzikir maka hatinya akan berkarat. Dan apabila
dia berdzikir, maka hatinya akan bersih. Berkaratnya hati disebabkan oleh dua
perkara, yakni lalai dan dosa. Dan yang dapat membersihkannya juga dua perkara,
yakni istighfr dan dzikir. Barang siapa lalai dalam kebanyakan waktunya, maka
karat di hatinya akan menumpuk sesuai dengan tingkat kelalaiannya. Apabila hati
berkarat, maka segala sesuatu tidak tidak tergambar di dalamnya sesuai dengan
faktanya. Dia akan melihat kebatilan dalam bentuk kebenaran, dan melihat
kebenaran dalam bentuk kebatilan. Sebab, ketika karat hati itu bertumpuk, hati
menjadi gelap, sehingga bentuk-bentuk kebenaran tidak tergambar sebagaimana
adanya75
Apabila karat hati bertumpuk, maka hati menjadi hitam dan pandangannya
menjadi rusak, sehingga dia tidak dapat menerima kebenaran dan tidak dapat

75

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Al-Wbil wa al-Sayyib wa Rfi al-Kalim al-Thayyib (T. tp:
Dr Ilm al-Fawid, t.t), h. 92.




42

mengingkari kebatilan. Inilah siksaan hati yang paling berat. Sumber dari semua
itu adalah kelalaian dan mengikiuti hawa nafsu. Keduanya menghilangkan cahaya
hati dan membutakannya,76 Allah berfirman:


Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami
lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti nafsunya dan keadaannya
melewati batas. (QS. Al-Kahfi [18]: 28).
Menurut Imam Ab Qsim al-Qusyairi, Dzikir adalah lembaran
kekuasaan, cahaya penghubung, pencapaian kehendak, tanda awal perjalanan
yang benar dan bukti akhir perjalanan menuju Allah Tidak ada sesuatu setelah
dzikir. Semua perangai yang terpuji merujuk kepada dzikir dan bersumber
darinya... Dia juga berkata, Dzikir adalah unsur penting dalam perjalanan
menuju al-Haqq. Bahkan, dia adalah pemimpin

dalam perjalanan tersebut.

Seseorang tidak akan sampai kepada Allah kecuali dia tekun dalam berdzikir....77
Sedangkan Ibnu Athaillah di dalam karyanya Mifth al-Fallh wa Misbh
al-Arwh mengatakan: Dzikir adalah membebaskan diri dari sikap lalai dan
lupa dengan menghadirkan hati secara terus menerus bersama Allah. Sebagian
kalangan mengatakan bahwa dzikir adalah menyebut secara berulang-ulang
dengan hati dan lisan nama Allah, salah satu sifat-Nya, salah satu hukum-Nya,
atau lainnya, yang dengannya seseorang dapat mendekatkan diri kepada
Allah...78

76

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Al-Wbil wa al-Sayyib wa Rfi al-Kalim al-Thayyib. (T.


tp: Dr Ilm al-Fawid, t.t), h. 92.
Abi al-Qsim Abdul Karm bin Hawzin al-Qusyairi. Rislah al-Qusyairiyyah (Beirut:
Dr Kutub al-Ilmiyyah, 2001), h. 256.
77

78

Ibnu Athillah al-Sakandari. Mifth al-Fallh wa Misbh al-Arwh (Beirut: Dr alKutub al-Ilmiyyah, t. t), h. 5.




43

Banyak sekali hadis -hadis yang menjelaskan tentang manfaat berdzikir


kepada Allah. Di antaranya:











Tidak ada satu kaum pun berdzikir kepada Allah melainkan para
malaikat akan mengitari mereka, rahmat akan melingkupi mereka,
kedamaian akan turun kepada mereka dan Allah akan menyebut-nyebut
mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.79
Dzikir kepada Allah akan melahirkan kecintaan dan loyalitas (alMahabbah) sebagai ruh Islam, ujung tombak agama. Karenannya, dapat diraih
kebahagiaan dan keselamatan yang hakiki. Allah telah menjadikan sesuatu ada
sebab-sebabnya. Dia menjadikan sebab al-Mahabbah dengan melanggengkan
dzikir. Barang siapa ingin meraih cinta Allah, hendaknya senantiasa mengingatNya. Karena ia adalah sebuah pelajaran dan pengingat. Sebagaimana ia adalah
pintu dari berbagai ilmu.
Dzikir pun akan melahirkan sifat al-Murqabah (perasaan selalu di awasi
oleh Allah Swt.) sehingga akan memasukkannya ke pintu Ihsn. Maka, ia akan
beribadah kepada Allah seakan ia melihat-Nya. Orang-orang yang lalai tidak akan
sampai kepada derajat Ihsn. Sebagaimana orang hanya duduk-duduk tidak akan
sampai ke rumahnya. Orang yang berdzikir akan menjadikan seseorang semakin
dekat dengan Allah. Semakin banyak seseorang berdzikir , semakin dekat pula

79

Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin al-Dhahak al-Tirmidzi. Sunan al-Tirmidzi
(Beirut: Dr al-Fikr, 2004), bab. M Ja fi qaum yajlisn fayadzkurunllh Azza wa Jalla, juz. 4,
h. 232.




44

jaraknya dengan Allah. Sebaliknya, semakin lalai seseorang dari mengingat Allah,
maka semakin jauh ia dari Allah.
Bagi siapa saja yang berdzikir, Allah pun akan menjadikannya selalu
diingat di sisi-Nya. Sebagaimana yang telah difirmankan-Nya dalam surat alBaqarah ayat 152,


Dan ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat-Mu. (QS. AlBaqarah [2]:152)
Berdzikirlah mengingat Allah di setiap gerak dan gerik, setiap berdiri dan
duduk, setiap berjalan dan berbaring, karena perbuatan itu menambah taqarrub
atau kedekatan kepada Allah. Bukankah setiap disebut nama Allah, Allah berada
bersamanya?
Firman Allah lagi:





Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk, maupun
dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah
kami dari siksa neraka! (Ali Imrn [3]: 191).
D.

Hubungan Dzikir dengan Shalat


Shalat secara etimologi berarti doa dan pujian80 Dalam perintah ibadah

shalat, Allah menggunakan istilah iqmah al-Salh (mendirikan shalat). Shalat


diperintahkan agar manusia senantiasa memelihara hubungan dengan Allah dalam
sujud keinsyafan sedalam-dalamnya akan kehadirannya. Ketika kita mendirikan

80




Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah (Jakarta: Lentera Hati, 2000), jilid I., h. 117.

45

shalat, berarti kita sedang menuju ke pintu Allah. Shalat diibaratkan sebagai suatu
perjalanan rohani, karena semua gerak-gerik di dalam shalat dikontrol oleh niat
yang dilafalkan ketika memulai shalat.
Allah berfirman:


Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain
Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.
(QS. Thaha [20]:14)
Allah menempatkan dzikir-Nya di atas shalat, yakni bahwa shalat menjadi
alat dan ingatan akan tujuan,81


Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan
mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih
besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabt [29]: 45)
Jelas sekali firman Allah menerangkan kepada kita bahwa tujuan dari pada
Shalat adalah agar kita ingat akan Allah. Sehingga apabila seseorang mengerjakan
Shalat tetapi ingatannya tidak tertuju kepada Allah maka mereka tidak dikatakan
orang yang mendirikan shalat, hanya sekedar memenuhi kewajiban untuk
mengerjakan saja. Orang yang mendirikan shalat adalah orang yang bisa ingat
akan Allah tatkala ia mengerjakannya maupun setelah selesai mengerjakannya.
Dan kemudian ingatnya ia akan Allah membias pada dirinya dari buka mata
sampai tutup mata.


81

Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Remembrance of Allah and Praising the Prophet,
vol. 2 (United States of America: al-Sunna Foundation of America), 1998, h. 3.




46

Seseorang yang shalat, berkonsentrasi menyebut-nyebut nama Allah,


berdoa dan dan berdzikir, maka dalam diri seseorang akan terpancar gelombanggelombang ruhani menuju alam ketuhanan (Allah). Adanya gelombang penyatuan
ini, maka seseorang akan mampu melihat hakikat kenyataan dan selalu mendapat
petunjuk Tuhan (hidayah).
Setelah mendirikan shalat pun, kita dianjurkan untuk tetap senantiasa
mengingat Allah dalam setiap gerakan kita, sebagaimana diperintahkan dalam
firman-Nya:




Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat mu, ingatlah Allah di
waktu berdiri, di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa
aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya
Shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang
yang beriman. (QS. Al-Nis [4]: 103).




BAB IV
DZIKIR DALAM PANDANGAN SYAIKH MUHAMMAD HISYM
KABBN
Berbicara mengenai dzikir, Syaikh Hisym Kabbn banyak sekali
memberikan pandangan-pandangannya. Begitu banyak pandangan-pandangannya
yang dapat dikaji. Ia mengatakan, bahwa dzikir bisa dilakukan dengan lidah,
sesuai dengan kalimat yang diajarkan Nabi Muhammad saw., atau dengan
rumusan lain; mengingat Allah di dalam hati, atau dengan lidah dan hati
sekaligus. Dzikir terkadang berarti ingatan batin dan penyebutan lahir,82 seperti di
dalam firman-Nya,


Ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingatmu, dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah [2]:
152).
Selanjutnya, dari kesekian

banyak pembahasan mengenai dzikir yang

ditawarkan oleh Syaikh Hisym Kabbn, yang termuat di dalam karyanya, dalam
tulisan ini akan dicoba untuk mengkaji sebagian saja, yaitu:
A.

Dzikir Kewajiban Terbesar dan Perintah Allah yang Kekal (QS. AlAhzb [33]: 41)
Ajaran Islam paling dasar dan paling penting tersirat dalam ajaran

syahdah atau pengakuan keimanan, L ilha illallh, yang berarti tidak ada
Tuhan selain Allah atau tidak ada objek yang layak dan pantas disembah
kecuali Allah. Dan ini tak lain dan tak bukan adalah terus menerus mengingat

82

Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Remembrance of Allah and Praising the Prophet,
vol. 2 (United Stated of America: al-Sunna Foundation of America), 1998, h. 8.

47

48
Allah. Segenap bentuk ibadah lainnya menekankan pentingnya mengingat Allah
ini. Ruh doa ialah mengingat. Meretas keterikatan dengan dunia dan menjauhi
sensualitas dilakukan dengan memperoleh waktu luang guna menyibukkan diri
dengan mengingat Allah saja. Tujuan dari perintah dan larangan Allah adalah juga
dzikir atau mengingat Allah. Sebagai hasil dari dzikir, hati pun kosong dari
cinta pada segala sesuatu serta terputus dari semua.
Syarat cukup jelas dan setiap orang mengetahui kewajiban ini,
sebagaimana diajarkan di dalam firman-Nya,


Hai orang-orang yang beriman, banyak-banyaklah mengingat Allah.
(QS. Al-Ahzb [33]:41)
Dalam ayat ini, kaum beriman diperintahkan untuk berdzikir dan
menyucikan Allah dari segala kekurangan. Yakni, ingatlah, renungkanlah, serta
sebut-sebutlah kebesaran dan nama Allah dengan dzikir yang banyak. Syaikh
Hisym Kabbn memberikan penjelasan atas ayat ini,
Remembrance of Allah (dhikr), is the most excellent act of Allahs servants, and
is stressed over a hundred times in the Holy Quran. It is the most praiseworthy
practice to earn Allahs pleasure, the most effective weapon to overcome the
enemy, and the deed most deserving of reward. It is the flag of Islam, the polished
heart, the essence of the science of faith, the immunization against hypocrisy, the
foremost worship, and the key of all success.
Dzikir adalah amal para hamba Allah yang paling utama. Dzikir merupakan amal
yang paling utama untuk mendapatkan keridhaan Allah, senjata yang paling
ampuh untuk mengalahkan musuh dan perbuatan paling layak untuk memperoleh
pahala. Dzikir adalah bendera Islam, pembersih hati, inti ilmu agama, pelindung
dari sifat munafik, ibadah yang paling mulia, dan kunci semua keberhasilan.83
Hal ini baginya, selaras dengan dengan firman-Nya,

83

Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Remembrance of Allah and Praising the Prophet,
vol. 2 (United States of America: al-Sunna Foundation of America), 1998, h. 2.




49


Orang yang mengingat Tuhan mereka sambil berdiri duduk, dan ketika
berbaring. (QS. Ali Imrn [3]: 91).
Allah berfirman:

.

.
Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan
malam merupakan tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang
berpikir, (yaitu) yang mengingat Allah seraya berdiri, duduk dan
berbaring. (QS. Ali Imrn [3]: 190-191).
Imam al-Qusyairi, seorang ulama sufi, di dalam tafsirnya mengatakan
yang dimaksud dengan surat Al-Ahzb [33]: 41,

: -
.
Menurut Imam al-Qusyairi, ayat ini mengandung sebuah isyarat bahwa
cintailah Allah! Disebutkan di dalam sebuah hadis

Nabi, Beliau berkata,

Barang siapa yang mencintai sesuatu, dia banyak-banyak menyebutnya, maka


diwajibkan baginya untuk mengatakan Allah, kemudian tidak melupakan Allah
setelah mengingat-Nya.
Sedangkan Syaikh Muhyiddin Abi Muhammad Abdul Qdir al-Jailni,
yang baru-baru ini karya tafsirnya yang bernuansa isyri84 ditemukan dan

84

Tafsir Isyri adalah latihan ruhani yang dilakukan seorang sufi bagi dirinya akan
isyarat-isyarat kudus yang terdapat di balik ungkapan-ungkapan al-Quran, dan akan tercurah pula
ke dalam hatinya, dari limpahan ghaib, pengetahuan subhni yang dibawa ayat-ayat. Setiap ayat
memiliki makna zhir dan makna batin. Yang zahir adalah apa yang segera mudah dipahami akal
pikiran sebelum yang lain, sedang yang batin adalah isyarat-isyarat tersembunyi dibalik itu yang
hanya Nampak bagi ahli sulk. Lihat, Mann Khalil al-Qattn. Studi Ilmu-Ilmu Qurn. (Bogor:
Pustaka Litera Antar Nusa, 2007.




50
kemudian dicetak dan menjadikan khazanah pengetahuan Islam semakin luas,
memberikan penjelasan mengenai ayat ini,

: ( )
( )
) ,
, (

.
Di dalam tafsirnya, ia memberikan penjelasan atas ayat ini.

adalah orang-orang beriman yang mengetahui kebenaran marifat, keesaan,


serta kesempurnaan nama dan sifat-sifat Allah. Tetap dan beristiqamahlah dalam
berdzikir kepada-Nya,

menurutnya merupakan satu kesatuan tunggal yang kekal abadi


yang ditandai dengan kesempurnaa sifat-sifat, penyatuan nama-nama baik yang
tidak terhitung jumlahnya, dengan mengerahkan seluruh waktu dan keadaan untuk
banyak-banyak berdzikir kepada-Nya agar sampai kepada keyakinan yang
sempurna.

menggunakan dengan maksimal seluruh waktu dan keadaan, dan


raihlah dalam dzikir kepada Allah agar sampai dari keyakinan ilmu kepada
keyakinan yang lebih tinggi!
Bisa ditarik sebuah generalisasi, bahwasannya melalui ayat ini, Syaikh
Hisym Kabbn memberikan kontribusi keulamasufistikannya kepada seluruh
lapisan masyarakat di dunia, bahwa betapa pentingnya manusia bahkan seluruh
makhluk untuk mengingat Tuhannya (dzikir). Al-Qurn telah jelas memberikan

85

Abdul Qdir al-Jailni. Tafsr al-Jailni (Istanbl: Markaz al-Jailni li al-Buhts alIlmiyyah, 2009), jilid. 4, h. 370.




51
perintah ini, sehingga hal ini menjadi sebuah amal ibadah yang paling mulia dan
merupakan kewajiban terbesar yang mesti dijalani oleh para hamba-Nya untuk
mencapai satu titik temu dimana manusia mendapatkan keridhaan dan cinta
Tuhannya.
Bisa dilihat, meskipun kesemua ulama diatas memiliki pandangan dengan
corak isyri, akan tetapi terasa ada perbedaan, khususnya Syaikh Abdul Qdir alJailni, bahwa penafsirannya terhadap ayat ini begitu memperlihatkan cita rasa
yang tinggi atas nuansa sufistik yang dibawa olehnya.
Tak ada aktivitas yang akan menenteramkan hati dan melembutkan jiwa
selain senantiasa ingat dan berdzikir kepada Allah. Tak ada aktivitas yang
melegakan jiwa dan menyejukkan nurani selain dzikir kepada Allah. Karena itulah
Allah menyeru kepada hamba-Nya agar senantiasa berdzikir pada-Nya.

B.

Perkumpulan Dzikir (QS. Al-Anbiya [21]: 20)


Perkumpulan

dzikir

adalah

orang-orang

yang

berkumpul

untuk

memperlajari al-Qurn secara bersama sama, sehingga sebagian mereka belajar


kepada sebagian yang lain, sedangkan sebagian mereka mengambil manfaat dari
sebagian yang lain. Perkumpulan dzikir bukanlah sekedar majelis yang anggotaanggotanya hanya bertasbih, bertahmd, beristighfr dan semacamnya, tetapi ia
adalah majelis ilmu yang mengingatkan manusia akan dirinya sebagai mahluk
Allah yang lemah serta menyadari kebesaran dan keagungan Allah Swt., seperti
dalam firman-Nya:


Mereka (malaikat) selalu bertasbih malam dan siang tiada hentihentinya.. (QS. Al-Anbiy [21]: 20).



52

Dalam membahas ayat ini, Syaikh Hisym Kabbn menjelaskan bahwa,


Dhikr in a gathering can only be done aloud in unison. The above hadith thus
constitutes proof that dhikr done out loud in a gathering is an exalted kind of dhikr
which is mentioned at the highest assembly (al-Mal al-l) by our Majestic
Lord and the angels who are near to Him.86
Dzikir dalam perkumpulan dzikir hanya bisa dilakukan dengan suara yang keras
dan secara berjamah. Oleh karena itu ia beranggapan bahwa dzikir yang
dilakukan dengan suara yang keras dalam sebuah perkumpulan merupakan bentuk
dzikir yang mulia yang disebutkan pula perkumpulan tertinggi (al-Mal al-Al)
oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan para malaikat yang dekat kepada-Nya.
Kesamaan jelas terbukti antara mereka yang berdzikir di alam transenden,
yang diciptakan dengan sifat patuh dan mengingat yakni para malaikat, dan
mereka yang berdzikir di alam kasar, yang sifatnya mengandung kelemahan dan
cacat, yakni manusia. Pahala bagi yang disebut terakhir atas dzikir mereka
adalah mereka ditinggikan derajatnya hingga sama dengan perkumpulan tertinggi,
yang memberikan kehormatan dan rahmat yang cukup bagi siapapun.87
Ayat di atas baginya, berdasarkan hadis Nabi saw. yang berbunyi,









Allah berfirman, Aku sesuai dengan keyakinan hamba-Ku tentang Aku,
dan Aku bersamanya apabila dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku di
dalam hatinya, maka Aku akan mengingatnya dalam hati. Jika dia

86

Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Remembrance of Allah and Praising the Prophet,
vol. 2 (United States of America: al-Sunna Foundation of America), 1998, h. 12-13.
87

Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Remembrance of Allah and Praising the Prophet
(United States of America: al-Sunna Foundation of America) vol. 2, h. 13.




53
mengingat-Ku di hadapan para makhluk, maka Aku akan mengingatnya di
hadapan para makhluk yang lebih baik dari mereka.88
Tidaklah mengherankan jika perkumpulan semacam itu mendapatkan
pujian dan rahmat tertinggi dari Allah dan Nabi-Nya saw. Menurut Imam Muslm,
Nabi Muhammad saw. bersabda, bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat yang
menelusuri jalan-jalan untuk menemukan orang yang berdzikir (perkumpulan
dzikir). Ketika mereka menemukan sekelompok orang (qawm) yang sedang
berdzikir (para malaikat itu duduk bersama mereka), mereka saling berseru dan
membentuk barisan yang tingginya mencapai langit pertama.89


88

Muslm. Sahih Muslm, (Beirut: Dr al-Kitb al-Arabiy, 2004), kitab. al-Dzikr wa alDu, bab. fadhl al-Dzikr wa al-Dua wa al-Taqarrub ilallh.. Lihat juga, Imam al-Bukhri di
dalam kitab at-Tauhd, bab. wa yuhadzdzirukumullh nafsah, Sunan al-Tirmidzi, kitab. alDaawt bab. Fi Husn al-Dzn billh Azza wa Jalla, Sunan Ibnu Mjah, kitab. Adb, bab. Fadhl
al-Amal, dan Musnad Ahmad bin Hanbal, bab. Musnad Abi Hurairah radhiyallh anhu.
89

Sahih Muslm, (Kairo: Dr al-Hadits: 1998), kitab, al-Dzikr wa al-Taubah wa alIstighfr , bab, Fadhl Majlis al-Dzikr, juz. 9, h. 18.

















Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi memiliki
beberapa malaikat yang terus berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila mereka telah menemukan
majelis dzikir, mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesame mereka sehingga
memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah. Apabila majelis dzikir itu selesai,
mereka bubar, lalu naik ke langit.
Sabda Rasulullah saw. selanjutnya: Kemudian mereka ditanya oleh Azza wa Jalla yang
sebenarnya. Dia lebih tahu tentang mereka, Kalian dating darimana? Mereka menjawab, Kami
datang dari sisi hamba-hamba-Mu di bumi yang bertasbih kepada-Mu, bertahmid kepadamu, dan
memohon kepada-Mu. Allah bertanya, Apa yang mereka minta? para malaikat menjawab,
Mereka memohon surga-Mu. Allah bertanya, Apakah mereka pernah melihat surga-Ku? para
malaikat itu menjawab, Tidak, Ya Tuhan, Kata Allah, Betapa seandainya mereka pernah
melihat surga-Ku. Kata para malaikat, Mereka juga berlindung kepada-Mu. Allah bertanya,
Dari apa mereka berlindung kepada-Ku? Para malaikat menjawab, Dari neraka-Mu Ya Tuhan!
Allah bertanya, Apakah pernah melihat neraka-Ku?Para malaikat menjawab, Tidak. Kata
Allah, Betapa seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku! Kata para malaikat, Mereka juga
beristighfar kepada-Mu.




54
Syaikh Abdul Qdir al-Jailni menafsirkan dengan
mereka (para malaikat) yang menyucikan Allah di setiap waktu mereka dari apaapa yang tidak layak di sisi Allah.
, dan mereka (malaikat) tidak
menampakkan kelemahan dan kelelahan mereka dalam bertasbih, di bawah ini
penulis tampilkan penafsirannya,

( ) (
)

.
Sedangkan Imam al-Alsi, dalam menafsirkan ayat ini menggunakan sisi
nahwunya,

{ } { }

: ] { }
Kata , kalimat tersebut menempati hl dari dhamir { }
yang bisa menjadi atau isti'nf (permulaan kalimat/kalimat baru). Dan dibolehkan
menjadi hl dari dhamir { } seperti di dalam ayat sebelumnya, (QS.
Al-Anbiy [21]: 19. Dalam hal ini, al-Alsi juga menjelaskan mengenai makna
isyarat dari ayat ini,



Sabda Rasulullah saw. juga selanjutnya: Lalu Allah menjawab, Aku telah mengampuni mereka,
memberikan apa yang mereka minta, dan melindungi mereka dari neraka. Para malaikat berkata,
Ya Tuhan, tapi di dalam majelis mereka ada seorang hamba yang berdosa yang hanya kebetulan
lewat lalu duduk bersama mereka. Allah menjawab, Dia juga Aku ampuni, karena mereka
adalah orang-orang yang menyebabkan teman duduk mereka menjadi tidak celaka.
90

Abdul Qdir al-Jailni. Tafsr al-Jailni, (Istanbl: Markaz al-Jailni li al-Buhts alIlmiyyah, 2009), jilid. 3, h. 336.
91

Syihb al-Din Mahmud al-Alsi. Rh al-Mani fi Tafsr al-Qurn al-Adzim wa alSab al-Matsni (Beirut, Dr al-Fikr, 1978), juz. 17, h. 21-22.
92

Syihb al-Din Mahmud al-Alsi. Rh al-Mani fi Tafsr al-Qurn al-Adzim wa alSab al-Matsni.




55
yaitu (mereka) para malaikat selalu memuji dan mengagungkan Allah dalam
setiap waktu, tidak pernah sedetik pun mereka lalai dari bertasbih kepada-Nya.
Diantara sekian banyak malaikat, mereka ada yang ditugaskan untuk
menyampaikan risalah, bahkan pada saat menyampai kan risalah pun mereka
tidak pernah lupa atau meninggalkan tasbih kepada Allah
Masih di dalam ayat ini,

:
.

Imam al-Khafji berpendapat, yang dimaksud dengan para malaikat bertasbih


siang malam tanpa henti adalah untuk mengungkapan bahwa para malaikat begitu
seringnya bertasbih sampai tidak pernah sedetik atau sesaat pun meninggalkan
tasbih kepada Allah. Meskipun dalam ayat tersebut dikatakan bahwa para
malaikat bertasbih kepada Allah siang malam, itu bukan berarti bahwa siang
malamnya itu seperti siang malamnya manusia, karena di langit atau alam
malaikat itu tidak mengenal "siang dan malam", akan tetapi yang dimaksud
dengan siang malam disini yaitu, mereka bertasbih secara terus menerus tanpa
henti.
Bangun dalam ayat ini adalah untuk melakukan dzikir bersama di dalam
sebuah perkumpulan atau halaqah yang di dalamnya disebutkam pujian-pujian
atas nama Allah dan Rasl-Nya. Penulis menyimpulkan, nampaknya, Syaikh

93

Shb al-Din Mahmud al-Alsi. Rh al-Mani fi Tafsr al-Qurn al-Adzim wa al-Sab


al-Matsni (Beirut, Dr al-Fikr, 1978), juz. 17, h. 21-22.




56
Hisym Kabbn menjadikan ayat ini sebagai dalil dan hujjah atas perkumpulanperkumpulan orang-orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah. Ia menjadikan
hal ini sebagai substansi dari ayat di atas. Dari ketiga komparasi ayat ini, semua
merujuk kepada malaikat yang selalu bertasbih kepada Allah di dalam waktuwaktu mereka. Sedangkan Syaikh Hisym Kabbn menggambarkan, bertasbihnya
para malaikat bisa di kiaskan dengan orang-orang yang melakukan dzikir secara
bersamaan di dalam perkumpulan-perkumpulan dzikir dengan menggunakan suara
yang keras. Dan hal ini merupakan hal yang baik, sebab perkumpulan dzikir,
merupakan bentuk dzikir yang mulia seperti perkumpulan tertinggi para malaikat
yang selalu dekat dengan Allah.

C.

Penyebutan Asm al-Husn (Allhu, Allhu, Allhu HAQQ) dalam


dzikir (QS. Al-Arf [7]: 180)

al-Asm adalah bentuk jamak dari kata al-Ism, yang


biasa diterjemahkan dengan nama. Di dalam kamus al-Ashry berarti nama diri dari
seseorang, binatang, atau sesuatu.94 Ia berakar dari kata al-Sumw yang
berarti ketinggian, atau al-Simah yang berarti tanda. Memang nama
merupakan tanda bagi sesuatu, sekaligus dijunjung tinggi.95
Kata
al-Husn adalah bentuk muannats dari dari kata
Ahsan yang berarti terbaik. Penyifatan nama-nama Allah dengan kata yang
berbentuk superlatif ini, menunjukkan bahwa nama-nama tersebut bukan hanya

94

Atabik Ali dkk, Kamus Kontemporer al-Ashry, (Yogyakarta: Multi Karya Grafika,
cet. Ke-5), h. 125.
95

305.




Quraish Shihab. Tafsr al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, Maret, 2002), volume. 5, h.

57
saja baik, tetapi yang terbaik dibandingkan dengan yang lainnya.96 Nama-nama
tersebut hanya dimiliki dan disandang oleh Allah, jumlahnya sebanyak sembilan
puluh sembilan, di mana dari setiap nama adalah gambaran tentang sifat-sifat
yang dimiliki Allah (sesuai dengan sifat-sifat Allah). Semua makhluk-Nya juga
dianjurkan berdoa kepada Allah dengan mempergunakan atau menyebut namanama Allah yang indah tersebut.
Imam Muslm meriwayatkan,





Nabi Muhammad saw. bersabda, Hari kiamat tak akan datang sebelum
Allah , Allah tak lagi diucapkan di atas bumi.97
Imam Muslm menempatkan hadis

ini dalam bab yang berjudul,

Hilangnya Keimanan (iman) pada akhir zaman, meski dalam hadis itu tak
disebut-sebut tentang keimanan, ini menunjukkan bahwa ucapan Allah , Allah
menunjukkan keimanan, sedangkan orang yang tak mengucapkannya tidak
menunjukkan keimanan. Oleh sebab itu, orang yang menentang orang yang
mengucapkannya benar-benar lebih buruk daripada orang yang hanya kehilangan
iman dan tak mengucapkan Allah, Allah.
Disamping itu, Nabi Muhammad saw. berdoa kepada Allah dengan katakata berikut: (Aku menyahuti panggilan-Mu wahai Tuhan yang
Mahabenar),98 dan (Engkau Mahabenar).99


96
97

Quraish Shihab. Tafsr al-Mishbah, volume. 5, h. 305.

Imam Muslm meriwayatkan baik dalam Sahih-nya. Kitab Imn, bab Dzahb al-Imn
Akhir Zaman, Hilangnya Iman pada akhir zaman, (Kairo: Dr al-Hadits, 1997), h.




58
Kata Haqq merupakan satu diantara asma-asma Allah yang disebutkan di
dalam sembilan puluh sembilan asm al-Husn-Nya. Orang yang mengetahui
bahwa Allah , Allah adalah dzikir yang diamalkan oleh Nabi Muhammad saw.
juga tidak leluasa untuk keberatan dengan bentuk yang serupa dengan dzikir
tersebut, seperti Haqq. Seperti dalam firman-Nya,

Hanya milik Allah Asm al-Husn maka bermohonlah kepada-Nya


dengan menyebut asm al-Husn itu dan tinggalkanlah orang-orang yang
menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya, nanti
mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
(QS. Al-Arf [7]: 180).
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Hisym mengenai ayat ini yang
dikutipnya dari Sahih Bukhri,
Allah said: Wa lillhi al-Asm al-Husn faduhu bih (to Allah belong the
Most beautiful Names, so call Him with them) (7;80). These names are not
confined to ninety-nine, as Nawawi explicitly stated in his commentary on the
hadith whereby the Prophet saw.100 said:
Inna lillahi taala tisatan wa tisina isman, miatan ill whidan, man ahshaha
dakhal al-jannah.101
Allah berfirman: Wa lillhi al-Asm al-Husn faduhu bih (Allah memiliki
nama-nama yang paling indah, maka berserulah dengannya) (QS. Al-Arf, 7:

98

Al-Nasi. Sunan Al-Nasai, kitab al-Mansik al-Hajj, bab. Kaifa al-Talbiya, (Kairo:
Dr al-Fikr, 1995), h. 125, no. 2743.
99

Ibnu Mjah. Sunan Ibnu Mjah, kitab. Mansik, bab. M Ja fi al-Du idz Qma alRajul min al-Lail (Kairo: Dr al-Hadits, 1998), h. 5.
100

Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Remembrance of Allah and Praising the


Prophet, vol. 2, (United States of America: al-Sunna Foundation of America), 1998, h. 28.
101

Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Remembrance of Allah and Praising the


Prophet, vol. 2. Lihat juga, Bukhri. Imam Bukhri, (Beirut: Dr al-Hadits, t.t), bab. Ma Yajzu
min al-Isytirth wa al-Tsniya fi al-Iqrr, h. 59, dan Inna Lillh Miat Ism Illa Whidan, h. 125.




59
180). Nama-nama ini tidak terbatas hanya berjumlah 99, seperti yang tegas
dinyatakan oleh Nawawi dalam ulasannya tentang hadis Nabi Muhammad saw.:

Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu; barang siapa


yang menghafalnya atau membacanya akan masuk ke dalam surga.
Menurutnya juga, dengan kalimat
(QS. Al-Ikhls [112]: 1),
kata Hu adalah seluas samudera, tak terbatas, tidak bisa digapai oleh siapapun,
bahkan Nabi Muhammad saw. pun tidak mengetahuinya. Karena Hu itulah
disambung dengan kata Allah, maka dibawahnya ada asm al-Husn yang
dikenal dengan berbagai macam nama-nama-Nya yang indah.102
Ayat di atas mengajak manusia berdoa atau menyeru-Nya dengan sifat
atau nama-nama yang terbaik itu. Salah satu makna perintah ini adalah ajakan
untuk menyesuaikan kandungan permohonan dengan sifat yang disandang untuk
menyesuaikan kandungan permohonan dengan sifat yang disandang Allah
Menyebut sifat-sifat yang sesuai, bukan saja dapat mengundang pengabulan doa,
tetapi juga akan melahirkan ketenangan dan optimisme dalam jiwa si pemohon,
karena permohonan itu lahir dari keyakinan bahwa ia bermohon pada Tuhan yang
memiliki apa yang dimohonkannya itu.
Syaikh Abdul Qdir al-Jailni menjelaskan atas ayat ini,

(
) () ()
,

102

Wawancara langsung dengan Syaikh Hisym Kabbn pada forum kuliah umum di
Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tanggal 14 Juni 2011.




60

() (
)

.
bahwa, Ketahuilah wahai orang-orang yang tinggi mulia dalam bertauhid, ,
Allah memiliki keesaan di dalam dzat-Nya,
nama-nama yang
indah yang di dalamnya terdapat susunan sifat-sifat yang tinggi, susunan yang
terdiri dari sisa-sisa kejadian baru dan kerusakannya, kesaksian, keghaiban, dan
kejadian alam awal, dan lainnya.

, maka berdoalah atau menyerulah kepada-Nya asm al-Husn,


Maha Suci Dia, wahai orang-orang yang bertauhid dengan nama-nama-Nya , dan
sandarkanlah segala kejadian alam (musibah atau bencana) dengan memohon
kepada-Nya melalui perantara sifat-sifat-Nya yang mulia, yakni Asm al-Husn.
Terlihat jelas perbedaanya, Syaikh Abdul Qdir al-Jailni memberikan
penjelasan terhadap ayat ini dengan corak ke-isyrian-nya. Sedangkan Syaikh
Hisym Kabbn, ia memberikan pandangannya terhadap ayat ini dengan sebuah
hadis yang dikutipnya dari sahih Imam Bukhri, melalui ayat ini, ia
mengaplikasikan, bahwa berdzikir, menghafal, dan juga membaca dengan
menggunakan asm al-Husn merupakan hal yang sangat baik, jika hal ini
dilakukan, maka si pelaku dzikir akan mendapatkan balasan surga dari Allah.
Mengenai hal ini penulis menyimpulkan bahwa Syaikh Hisym Kabbn tidak
selalu memberikan pandangannya terhadap suatu ayat dengan warna isyri atau
corak tasawuf seperti kedudukannya sebagai seorang mursyid Tarekat yang


103

Abdul Qdir al-Jailni. Tafsr al-Jailni, (Istanbl: Markaz al-Jailni li al-Buhts alIlmiyyah, 2009), jilid. 2, h. 173.




61
memiliki otoritas dan kemampuan memandang suatu ayat dengan dimensi
batiniah.
Sejarah Tarekat Naqsyabandiyah memiliki dasar tersendiri dalam
menggunakan kalimat Allahu, Allahu, Allahu Haqq dalam melakukan ritual
dzikir. Dijelaskan di dalam Silsilah Rantai Emas Naqsyabandi Haqqn, disana
diceritakan dengan sangat jelas bahwa Naqsyabandi memiliki rahasia yang telah
diturunkan ke dalam hati para wali Naqsyabandi. Ini terjadi pada masa Ab
Bakar al-Siddiq disaat malam perjalanan hijrah ke Madinah bersama Nabi
Muhammad saw., dan Al bin Ab Thlib yang menggantikan Nabi Muhammad
saw. di ranjangnya. Di perjalanan mereka bersembuyi di Gua Tsur. Syaikh Nzim,
guru dari Syaikh Hisym Kabbn, yang juga Grandsyaikh ke-40 dari silsilah
Guru Rantai Emas Hisym berkata:104
Kemudian Allah meminta Nabi agar memeritahkan Ab Bakar al-Siddiq
memanggil semua Guru Rantai Emas yag menjadi pewaris Ab Bakar.
Para Grandsyaikh Rantai Emas dari masanya hingga masa Mahdi.
Seluruhya dipanggil dari dunia ruh. Kemudian ia diperintahkan
memanggil ke 7. 007 Wali Naqsyabandi. Dan Nabi memanggil ke 124.
000 nabi.
Melalui perintah Nabi Muhammad saw., Ab Bakar al-Siddiq
memerintahkan seluruh Grandsyaikh mengumpulkan semua pengikutnya
untuk hadir secara spiritual. Kemudian Ab
Bakar al-Siddiq
memerintahkan semua Syaikh menggandeng tangan pengikutnya untuk
menerima inisiasi (baiat). Ia menaruh tangannya di atas tangan mereka,
dan kemudian Allah meletakkan tangan-Nya. Kekuatan tangan Ab
Bakar al-Siddiq di atas mereka semua. Allah sendiri meletakkan talqn alDzikr ke lidah semua yang hadir. Perintah Allah selanjutnya kepada Nabi
ialah meminta Ab Bakar al-Siddiq agar memerintahkan semua Wali
yang hadir untuk mengulang apa yang mereka dengar dari suara kekuatan:
ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ
ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ

104

Syaikh Muhammad Hisam Kabbn. Classical Islam and the Naqsabandi Sufi
Tradition, (United States of America: Islamic Supreme Council of America, 1995), h. 79-80. Lihat
juga, Mawlana Syaikh Hisyam Kabbn ar-Rabbani. Silsilah Rantai Emas 1, (T. Pn: Rabbani Sufi
Institute of Indonesia, t. t), h. 19-20.




62
ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ
Semua yang hadir mengikuti Syaikh mereka dan para Syaikh mengkuti
apa yang mereka dengar dari ucapan Nabi. Kemudian Allah SWT.
mengajarkan rahasia dzikir, yang dikenal dengan Khatm al-Khwajagan,
kepada Abdul Khaliq al-Ghujduwani,105 yang memimpin dzikir pertama
diantara para wali jalan ini. Nabi Muhammad saw. memberitahu Ab
Bakar al-Siddiq, yang kemudian memberitahu semua wali bahwa Abdul
Khaliq adalah pemimpin al-Ghujduwni adalah pemimpin dari Khatm alKhawajagan. Setiap orang diberi kehormatan untuk menerima cahaya dan
rahasia dari Khwjaga Abdul Khaliq al-Ghujduwani, dihadapan semua
wali, Ab Bakar al-Siddiq, Nabi Muhammad saw., dan Allah
Penulis juga telah melakukan wawancara langsung dengan Syaikh Hisym
Kabbn, kata Haqq dengan ayat (QS. Al-Naba [78]: 39),
manusia menyatakan dengan sesadar-sadarnya bahwa Allah-lah yang Maha
Benar, dan manusia hanyalah hamba-hamba yang lemah yang selama ini berjalan
di jalan kebatilan.106
Tarekat-tarekat yang tersebar begitu banyak di seluruh dunia, memiliki
cara sendiri dan berbeda-beda dalam melakukan aktifitas dzikir, khususnya tarekat
Naqsyabandiyah Haqqn, seringkali menyebut-nyebut Asm al-Husn dalam
aktifitas dzikirnya, ini menjadi sangat penting, terlebih menyebut Allahu, Allahu,
Allahu Haqq, sebab fakta sejarah Naqsyabandiyah telah menyebutkan bahwa
asma ini memiliki dasar dan makna yang amat mendalam, yakni, bertemunya

105
Abdul Khliq al-Ghujduwni dilhirkan di Ghujdawan, sebuah kota dekat Bukhra
(sekarang Uzbekistan). Disanalah ia tinggal, hidup, dan dimakamkan. Ayahnya adalah Syaikh
Abdul Jaml, salah seorang ulama terkenal di zaman Byzantin, baik dalam pengetahuan eksternal
dan internal. Ibunya adalah seorang putri, anak dari raja Seljuk Anatolia.

Dia dikenal sebagai Syaikh dengan berbagai keajaiban yang bersinar bagai matahari, dan
seorang guru dengan tingkatan tertinggi di zamannya. Ia pemilik pengetahuan yang sempurna
dalam sufisme dan marifat. Ia dianggap sebagai sumber air terjun jalan sufi terhormat ini dan
sumber mata air Khwajagan. Lihat selengkapnya, Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Classical
Islam and the Naqsabandi Sufi Tradition (United States of America: Islamic Supreme Council of
America, 1995), h. 145.
106

Wawancara langsung dengan Syaikh Hisym Kabbn pada forum kuliah umum di
Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tanggal 14 Juni 2011.




63
seluruh mursyid tarekat dari jalur ini dengan Sayyidin Ab Bakar al-Siddiq yang
diperintahkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad saw. untuk melakukan baiat
seluruh mursyid dari Mata Rantai Emas.
Hal ini bisa terdengar hingga saat ini karena Syaikh Hisym Kabbn
mendapatkan bimbingan langsung dari gurunya, Syaikh Nzim Adil al-Haqqn
yang menurut sejarah telah di baiat oleh Sayyidin Ab Bakar al-Siddiq
menjadi mursyid tarekat Naqsyabandi Mata Rantai Emas ke-40. Masing-masing
Syaikh memiliki tugas yang sama, yaitu menyerukan dan mengajak manusia di
seluruh pelosok dunia, dimanapun berada, untuk selalu berada di dalam jalan
Allah.
Mengenai sejarah di atas, amat erat kaitannya dengan baiat. Baiat adalah
suatu janji atau membuat perjanjian. Baiat adalah pernyataan sanggup dan setia
murid di hadapan gurunya untuk mengamalkan dan mengerjakan segala kebajikan
yang diperintahkannya, serta tidak melakukan maksiat-maksiat yang dilarang
gurunya.107
Penulis tidak mengatakan bahwa terdapat kelemahan atau kekurangan di
dalam Tarekat Naqsyabandi Haqqn, akan tetapi penulis beranggapan bahwa
terdapat perbedaan tata cara baiat yang diberikan seorang guru kepada seorang
murid dalam jalan ini bahwasannya dalam sebuah Tarekat, seorang mursyid atau
guru tidak dengan mudah memberikan baiat terhadap murid. Hal ini disebabkan
karena bagi seorang guru, hidup bertarekat tidaklah mudah, dan seorang guru
memanggul amanah yang begitu besar terhadap tanggung jawabnya sebagai

107

Totok Jumantoro, dan Samsul Munir Amin, Baiat dalam Kamus Ilmu Tasawuf (T.
tp: Amzah., 2005, h. 23.




64
seorang mursyid.108 Sedangkan, penulis melihat dalam Tarekat ini terlihat
seorang guru sangatlah mudah dalam memberikan baiat kepada murid atau
pengikutnya.

D.

Gerakan dalam Dzikir (Al-Zumar [39]: 23)


Gerakan dalam dzikir adalah sesuatu yang baik. Sebab, hal itu akan

menggiatkan tubuh dalam beribadah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Al


pernah berkata tentang para sahabat. Ab Arkah berkata, Aku pernah shalat
Subuh bersama Al bin Ab Thlib. Tatkala dia memalingkan wajahnya ke arah
kanan, dia lalu duduk sambil diam, seolah hatinya sedang tertekan. Ketika sinar
matahari telah masuk ke dalam masjid, dia shalat dua rakaat. Lalu dia
membalikkan telapak tangannya sambil berkata, Demi Allah, aku telah melihat
para sahabat Nabi Muhammad saw. Dan hari ini, aku tidak melihat orang seperti
mereka. Mereka menyambut pagi dengan rambut kusut dan berdebu. Dan di wajah
mereka seolah duka cita. Mereka menghabiskan malam dengan bersujud kepada
Allah dan membaca al-Qurn. Dan kala Subuh tiba, mereka berdzikir kepada
Allah sambil bergerak seperti bergeraknya pohon pada saat angin berhembus. Air
mata mereka bercucuran sampai membasahi baju mereka...109
Imam Habb al-Haddd berkata: Dzikir adalah kembali dari aspek lahir
yakni lidah kepada aspek batin yakni hati, sumbernya yang paling kuat, sehingga
ia sangat berpengaruh terhadap anggota tubuh yang lain. Rasa manis ini dikecap


Wawancara Pribadi dengan Syaikh Abdul Mlik al-Dien, mursyid Tarekat
Naqsyabandiyyah Husainiyyah, Madura, pada tanggal 26 Maret 2011.
108

109




Ibnu Katsr (wafat 774 H), al-Bidyah wa Nihyah, vol. VIII, h. 6.

65
oleh orang yang tertarik kepada dzikir dengan segenap hati sehingga kulit dan
hatinya menjadi lembut.110
Firman Allah,






Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) alQurn yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar
karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian
menjadi tenang atau lembut kulit dan hati mereka di waktu mengingat
Allah. (QS. Al-Zumar [39]: 23).
Menurut Syaikh Hisym Kabbn mengenai ayat ini,111
The softening of the heart consist in the sensivity and timidity that occur as
aresult of nearness and tajall [manifestation of one or more Divine Attributtes].
As for the softening of the skin this is the ecstasy and swaying from side which
result from intimacy and manifestation, or from fera and awe. No blame is
attached to some one who has reached this rank if he sways and chants, for in the
painful throes of love and passion he finds something which arouses the highest
yearning
The exhortation provided by fear and awe brings forth tears and forces one to
tremble and be humble. These are the states of the right teous believers (abrar)
when they hear the Speech and dhikr of Allah the Exalted. Their skins shiver
(39;23), and the soften with their hearts and incline to dhikr of Him, as they are
covered in serenity and dignity, so that they are neither frivolous, pretentious,
noisy, or ostentatious. Allah the Exalted has not described them as people whose
sense of reason has departed, who faint, dance, or jump about.
Kelembutan hati terdapat dalam kepekaan dan rasa malu sebagai akibat
kedekatan dan tajall112 (perwujudan salah satu atau lebih sifat-sifat Tuhan).

110

Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Remembrance of Allah Swt.. and Praising the
Prophet, vol. 2 (United States of America: al-Sunna Foundation of America), 1998, h. 30. Lihat,
Imam Habb al-Haddd, in The Key to Garden (p. 116).
111

Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Remembrance of Allah and Praising the


Prophet, vol. 2 (United States of America: al-Sunna Foundation of America), 1998, h. 30.
112

Tajall adalah sebuah pencerahan, penyingkapan). Sebuah istilah yang berkembang


di kalangan mistik sebagai sebuah penjelmaan, perwujudan dari Yang Tunggal, sebuah
pemancaran cahaya batin, penyingkapan rahasia Allah Swt., dan pencerahan hati hamba-hamba
yang saleh. Dalam istilah tasawuf yang berarti penampakan diri Tuhan yang bersifat absolut dalam
bentuk alam yang bersifat terbatas. Istilah ini berasal dari kata taJall atau yatajall, yang artinya




66
Kelembutan kulit, inilah ekstase dan gerakan dari sisi yang diakibatkan oleh
kedekatan dan perwujudan atau karena rasa takut dan rasa takjub. Tak ada
kesalahan yang dapat ditimpakan kepada orang yang mencapai derajat ini jika dia
bergerak dan bersenandung, sebab dalam belenggu cinta dan kerinduan yang
menyakitkan dia menemukan sesuatu yang membangkitkan gelora kerinduannya.
Desakan rasa takut dan takjub menimbulkan air mata dan memaksa seseorang
gemetar dan menggigil. Inilah keadan kaum beriman yang saleh ketika mereka


, Syaikh Hisym
mendengar firman dan dzikir Allah yang Maha Suci
Kabbn kemudian menjelaskan, lalu hati mereka menjadi lembut dan condong
kepada dzikir Allah, yakni diliputi ketentraman dan kemuliaan, sehingga mereka
tidak kalut, bangga, galau, atau congkak, Allah yang Maha Tinggi tidak
menakdirkan mereka menjadi orang yang tak berperasaan, yang takut, menari atau
melompat.
Sedangkan al-Qusyairi menafsirkan ayat ini,

: :()

.
, Allah menurunkan al-Qurn dengan banyak sinonim atau persamaan
yang berulang-ulang di dalam kalimat dan ayat-ayatnya yang di dalamnya
mengandung hikmah dan tidak bosan berulang-ulang jika membacanya, hal ini
mengandung dua macam pujian: pertama, pujian kepada-Nya dengan menyebut
kekuasaan-Nya dan kebaikan-Nya, dan kedua, pujian kepada-Nya dengan
menyebut sifat-sifat surga dan neraka, janji dan ancaman.

. (
)



menyatakan diri. Konsep tajall bertitik tolak dari pandangan bahwa Allah Swt.. SWT. dalam
kesendirian-Nya (sebelum ada alam) ingin melihat diri-Nya di luar diri-Nya. Oleh karena itu
dijadikan-Nya ala mini. Maka dengan demikian alam ini meruapakan cermin bagi Allah Swt..
SWT.. Ketika Ia ingin melihat diri-Nya, Ia melihat pada alam. Di dalam versi lain diterangkan
bahwa Tuhan berkehendak untuk diketahui, maka Ia pun menampakkan diri-Nya dalam bentuk
tajall. Lihat, Cryil Glasse, Tajall dalam Ensiklopedi Islam Ringkas (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada., 1999), h. 405. Lihat juga, Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Tajall dalam
Ensiklopedi Islam, jilid. 5, SYA-ZUN, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994).
113

5-6, h. 282.




Qusyairi. Tafsr al-Qusyairi, (T. pn: Al-Maktabah al-Taufiqiyyah, Maret, 1999), jilid.

67


gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut
kepada Tuhannya jika mendengarkan ayat-ayat ancaman.

: . (
)

.

, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka
di waktu mengingat Allah jika mendengarkan ayat-ayat tentang janji. Menurut
Imam al-Qusyairi, dikatakan gemetar dan lembutnya bisa dengan takut dan
harapan, dengan mengikat dan mempersempit.
Memperhatikan

kedua pandangan ini, penulis dapat memberikan

kesimpulan, bahwa Syaikh Hisym Kabbn dan Imam al-Qusyairi nampaknya,


keduanya begitu jelas menjelaskan ayat ini dengan pandangan masing-masing
sebagai ulama tokoh tasawuf. Meskipun Syaikh Hisym Kabbn bukanlah
seorang mufassir yang memiliki karya tafsir seperti Imam al-Qusyairi, namun ia
begitu menonjolkan corak isyr atau batin dalam memberikan interpretasinya
terhadap ayat tersebut.
Baginya Syaikh Hisym Kabbn, siapapun yang melakukan dzikir, lalu
gemetarlah hati dan lembut kulitnya disebabkan sang dzakir telah sampai pada
ekstase atau puncak tertinggi dalam dzikir, disertai gerakan-gerakan dalam dzikir ini tidak bisa disalahkan, syarat pun tidak melarangnya. Sang dzakir pun akan
senantiasa condong kepada dzikirnya atas Allah, dan selalu berada di jalan-Nya.
Apa yang dilukiskan di atas menunjukkan bahwa ayat-ayat al-Qurn
mengandung informasi dan tuntunan yang demikian menyentuh hati. Ini tentu saja


114




Qusyairi. Tafsr al-Qusyairi (T. pn: Al-Maktabah al-Taufiqiyyah, Maret, 1999).

68
bagi yang tekun mendengar dan membacanya, apalagi jika kandungan pesannya
dimengerti dengan baik.

E.

Bulir Tasbih dalam Dzikir (Al-Dzriyat [51]: 55)


Biji tasbih (Subhah) adalah untaian biji-bijian yang digunakan oleh orang

yang bertasbih untuk menghitung tasbih nya; dan ini adalah kata generatif yang
tidak murni kata Arab. Tasbih

merupakan sarana yang membantu di dalam

kebaikan. Karena itu, tasbih

disunnahkan dengan alasan ia memberikan

kemudahan dalam amalan berdzikir. Tasbih adalah alat yang boleh digunakan
oleh Muslm untuk menghitung wirid-wirid. Dan itu lebih utama daripada
menggunakan tangan, karena lebih aman bagi seseorang dari kesalahan hitungan
dan karena lebih membantu bagi hati dalam berdzikir.
Tasbih umumnya disusun dengan jumlah butir 99 buah atau 33 buah
setiap bagiannya. Apabila jumlah butirnya 99 buah, maka setiap hitungan
mencapai kelipatan 33 akan ada satu butir berbeda yang disebut sebagai pembatas
bagia tasbih . Karena umumnya tasbih dibuat sesuai riwayat yang paling umum
bahwa dzikir terdiri dari tiga ucapan mensucikan Allah: Subhnallah,
alhamdulillh, dan allhu Akbar, maka itulah butir-butir tasbih dibagi menjadi
tiga bagian. Artinya, saat berdzikir, setiap ucapan tersebut biasanya dilakukan
berulang sebanyak 33 kali seusai shalat.
Allah sangat menyukai ucapan tasbih , tahmd, tahll dan takbr yang
keluar dari bibir hamba-hamba-Nya. Tasbih adalah ekspresi pengkudusan yang
mengandung penafian semua kejelekan yang tidak mungkin ada pada Allah yang
tidak sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.




69
Ada segelintir orang yang berpendapat bahwa kita umat Islam, ketika
menghitung bilangan dzikir itu tidak boleh menggunakan biji tasbih yang dalam
Bahasa Arabnya disebut dengan al-Subhah , dengan alasan karena hal itu
menyerupai orang-orang dari agama Budha.115
Saad bin Ab Waqqs meriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi
Muhammad saw. melihat seorang perempuan tengah memegang batu-batu kerikil
yang digunakannya sebagai bulir tasbih untuk memuji Allah. Nabi Muhammad
saw. bersabda kepadanya, Izinkan aku mengatakan sesuatu kepadamu yang lebih
mudah atau lebh mulia dari hal itu. Maka beliau memerintahkannya untuk
mengucapkan:

Jadi di sini, Nabi Muhammad saw. tidak melarang menggunakan subhah


(tasbih) tetapi hanya menunjukkannya kepada apa yang lebih mudah dan lebih

115

Ali Mustaf Yakub, dkk. Zikir Berjamah Sunnah atau Bidah (Jakarta: Republika,
2003), h. 102.
116

Diriwayatkan Oleh Ab Dwud. Sunan Ab Dud (Beirut: Dr al-Kutub al-Ilmiyyah,


1990), kitab. Abwb qiym al-Lail, bab. Al-Tasbih bi al-Has jilid. 4, h. 257. Lihat juga, AlTirmidzi. Sunan al-Tirmidzi, (Beirut: Dr al-Fikr, 2004), kitb. Al-Daawt, bb. Fi Da al-Nabiy
Sallallh alaihi wa Sallam, jilid. 5, h. 325.




70
utama. Seandainya perbuatan itu makruh, niscaya Nabi Muhammad saw.
menjelaskan hal itu kepadanya.
Hadis yang sahih dari Safiyyah binti Huyyay, istri Nabi Muhammad saw.,


:
: :
: :

Raslullh saw. masuk ke tempatku, sedangkan di depanku ada
4000 biji batu kerikil yang aku gunakan untuk bertasbih . Lalu Beliau
berkata, Apa ini wahai putri Huyyay? Aku menjawab, Aku bertasbih
dengannya. Beliau berkata, Sungguh aku telah bertasbih sejak aku
bersandar di kepalamu lebih banyak daripada ini. Aku pun berkata,
Ajarkan kepadaku, wahai Raslullh. Beliau menjawab, Ucapkanah:
Subhnallah Mahasuci Allah sebanyak sesuatu yang Dia ciptakan.117
Allah berfirman dalam al-Qurn kepada Nabi-Nya saw.,


Dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu
bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-Dzriyat [51]: 55).
Syaikh Hisym Kabbn memberikan pandangan mengenai ayat ini bahwa,
Allah says in His Holy Prophet saw. Remind people, for reminding benefits
them. (51;55). Reminde has various forms, public and private. A public form of
reminder is the adhan. The masbaha, or sibha, tasbih or dhikr beads, has had,
since the earliest Companions, the function of private reminder. It is for that
reason that the tasbih was called by them mudhakkir or mudhakkira, or
reminder


Hkim. Mustadrk al Sahhain li al- Hkim (Beirut: Dr al-Fikr, 1999), bab. Kitb
al-Du wa al-Takbr wa al-Tahll wa al-Tasbh , jilid. 1, h. 732.
117




71
Allah berfirman dalam al-Qurn kepada Nabi-Nya saw. Berilah peringatan
kepada umat manusia, sebab peringatan bermanfaat bagi mereka. (QS. AlDzariyat, [51]: 55). Peringatan memiliki berbagai bentuk, yang bersifat umum
atau pribadi. Bentuk peringatan umum adalah dzn. Masbahah, sibhah, atau
bulir tasbih, sejak zaman para sahabat generasi paling awal, telah memiliki fungsi
peringatan pribadi. Karena alasan itulah tasbih disebut sebagai mudzakkir atau
mudzakkirah (pengingat) oleh mereka.118
Dalam ayat ini, Syaikh Abdul Qdir al-Jailni di dalam tafsirnya
menjelaskan,

( ) ( ) ( )

. ,
Dan tetaplah beri peringatan wahai para pencari kebenaran, ,
karena sesungguhnya peringatan itu dan nasihat,
, adalah bermanfaat
bagi orang-orang yang beriman. Telah sepakat dari kalangan kami, yakni orangorang yang menempuh jalan tasawuf atas keimanan, yang berwatak kepada fitrah
keyakinan dan petunjuk.
Terlihat begitu jelas perbedaan penafsiran antara Syaikh Hisym Kabbn
dan Syaikh Abdul Qdir al-Jailni terhadap ayat ini. Dalam ayat ini, Syaikh
Hisym Kabbn memberikan pandangan bahwa peringatan memiliki beberapa
bentuk, umum dan khusus. Secara khusus, peringatan yang dimaksud adalah
bulir-bulir tasbih yang digunakan untuk berdzikir agar si pelaku dzikir tidak
keliru dalam menghitung setiap dzikirnya. Sebab, bulir tasbih memiliki fungsi
pribadi dan telah ada sejak zaman sahabat sejak periode awal. Sedangkan, Syaikh
Abdul Qdir al-Jailni dengan corak ketasawufannya cenderung memberikan

118

Syaikh Muhammad Hisym Kabbn. Remembrance of Allah and Praising the


Prophet, vol. 2 (United States of America: al-Sunna Foundation of America), 1998, h. 36.
119

Abdul Qdir al-Jailni. Tafsr al-Jailni (Istanbl: Markaz al-Jailni li al-Buhts alIlmiyyah, 2009), jilid. 5, h. 424.




72
pandangan terhadap ayat ini bahwa peringatan adalah diberikan oleh orangorang yang mencari kebenaran, yang bila di dalam kalangannya adalah orangorang yang menempuh perjalanan hidupnya secara zuhud.
Dari keduanya, terjadi perbedaan pandangan yang jelas. Akan tetapi
menurut penulis, substansi dari kedua pandangan ini adalah satu, yakni bagaimana
seseorang agar selalu bertasbih dan mengingat Tuhannya.




BAB V
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Pada bab terakhir ini mengenai pembahasan ayat-ayat al-Qurn tentang

dzikir dalam pandangan Syaikh Hisym Kabbn dapat disimpulkan bahwa dzikir
adalah suatu aktifitas untuk mengingat Allah dengan cara dzikir dengan lidah atau
lisan, yakni dengan memuji, mensucikan, memuliakan, mengagungkan, dan lain
sebagainya. Dzikir juga bisa dilakukan dengan hati, atau bisa dengan lisan
sekaligus dengan hatinya.
Pada surat al-Ahzb [33]: 41, Syaikh Hisym Kabbn mengatakan bahwa
dzikir merupakan perintah Allah yang kekal dan kewajiban terbesar bagi manusia.
Tidak ada objek yang patut disembah kecuali Allah segala bentuk ibadah kepadaNya merupakan substansi dan memiliki nilai dzikir atau mengingat-Nya.
Dzikir dapat dilakukan dengan hati maupun lisan. Dengan lisan, bisa
dilakukan di dalam perkumpulan dzikir secara berjamah dengan suara yang
keras, sebab Allah sangat menyukai orang yang hati dan lidahnya senantiasa
menyebut-menyebut

nama-Nya

di

dalam

perkumpulan

dzikir,

seperti

perkumpulan tertinggi para malaikat-Nya seperti ini lah pandangan Syaikh


Hisym Kabbn terhadap surat al-Anbiy [21]: 20).
Menurut Syaikh Hisym Kabbn atas surat al-Arf [7]: 180) Asm alHusn adalah nama-nama Allah yang agung dan indah yang berjumlah sembilan
puluh sembilan. Setiap lafaz dari nama Allah ini merupakan gambaran akan sifatsifat Allah yang agung. Asm al-Husn adalah bacaan dzikir dan doa yang sangat

73

74
baik, dan barang siapa mampu menghafalkannya dijanjikan oleh Allah akan
masuk ke surga.
Gerakan dalam dzikir adalah boleh dalam syarat. Gerakan tubuh dalam
dzikir bukan suatu persyaratan, tapi hanya sebagai sarana untuk lebih
membuatnya terasa mengasyikkan dan menyerupai tindakan wajd,118 selama
diniatkan dengan benar. Menurutnya Syaikh Hisym Kabbn dalam surat QS.
al-Zumar [39]: 23). Kelembutan hati terdapat dalam kepekaan dan rasa malu
sebagai akibat kedekatan dan perwujudan salah satu atau lebih sifat-sifat Tuhan,
dan kelembutan kulit, adalah ekstase dan gerakan dari sisi yang diakibatkan
oleh kedekatan dan perwujudan atau karena rasa takut dan rasa takjub, sehingga
dari keduanya menimbulkan air mata dan memaksa seseorang gemetar dan
menggigil.
Dzikir dengan menggunakan bulir-bulir tasbih adalah disunnahkan.
Perkara itu lebih utama jika seseorang khawatir salah dalam menghitung.
Sehingga hatinya terfokus pada dzikir tanpa memcahkan kosentrasi pikirannya.
Allah Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Syaikh Syaikh Hisym Kabbn
dalam surat QS. al-Dzariyat, [51]: 55, peringatan memiliki berbagai bentuk,
yang bersifat umum atau pribadi, tasbih sebagai bentuk khusus dari peringatan

118

Wajd istilah lainnya adalah ekstasi. Ekstase spiritual yang dating ke dalam hati secara
tidak terduga-duga. Atau keterpesonaan kepada Allah, intuisi ekstensial, identifikasi dengan
wujud, kegembiraan yang luar biasa. Sebuah istilah mistis yang menunjukkan kepada keadaan
ekstasi yang diperoleh karena kehadiran Tuhan. Wajd adalah rahmat yang diberikan kepada jiwa
karena dirangsang oleh latihan-latihan doa (dzikir) dan rahmat yang diberikan kepada ruh dalam
persekutuannya dengan jiwa. Kemabukan yang datang melalui energy spiritual yang dahsyat yang
turun kepada sang hamba. Wajd dapat menampakkan keindahan Allah mendominasi, dapat pula
menampakkan keperkasaan manakala keagungan Allah mendominasi. Wajd merupakan anugerah
Allah, tanpa anugerah wajd sang pecinta tidak dapat menanggung luapan cinta dan kerinduan yang
terdapat di dalam hatinya. Lihat, Totok Jumantoro, dan Samsul Munir Amin, Wajd dalam
Kamus Ilmu Tasawuf (T. tp: Amzah., 2005), h. 128. Lihat juga, Muhammad Hamd. Tanbh alFikr il Haqqt al-Dzikr (Suriah: Tauzi al-Maktabah al-Arabiyyah, 1994), h. 54.




75
telah ada sejak zaman sahabat generasi paling awal, maka dari itu tasbih disebut
sebagai mudzakkir atau mudzakkirah (pengingat) oleh mereka.

B.

Saran-Saran
Dari penelitian penulis tentang karya Syaikh Hisyam Kabbani ini, penulis

mendapatkan banyak kendala terutama minimnya referensi yang tersedia. Penulis


berharap bahwa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat khususnya jurusan Tafsir Hadis
memberikan peluang yang sangat besar kepada para mahasiswa untuk melakukan
penelitian-penelitian seperti ini, terutama pada kedalaman karya-karya Syaikh
Hisyam Kabbani yang sangat jarang diangkat ke permukaan.
Penulis juga berharap agar penelitian penulis ini bermanfaat bagi
mahasiswa, khususnya mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat jurusan
Tafsir Hadis, dan masyarakat luas pada umumnya. Saat ini banyak manusia yang
gelisah hatinya ketika mereka tidak memiliki pegangan yang kuat dengan
keimanan. Kegelisahan jiwa manusia modern khususnya di Barat dikarenakan
tipisnya pegangan iman kepada Tuhan. Merebaknya paham materiaslisme,
individualisme, dan kapitalisme membuat masyarakat modern kehilangan kendali.
Nilai-nilai keagamaan dianggap bukan lagi masalah yang sakral. Akan tetapi
dengan kuatnya iman melalui pendekatan berdzikir kepada Dzat Pencipta, maka
Insya Allah kita tetap terkendali dan spiritualisme akan tetap memiliki daya
pengikat yaitu hati selalu tertuju kepada Allah.
Demikialah sedikit saran, semoga semoga dapat dijadikan perhatian dan
bermanfaat bagi semua. Kurang lebihnya penulis sandarkan seutuhnya kepada
Ilh Rabbi, kepada-Nya hamba memohon petunjuk. Penulis menyadari,




76
kesempurnaan hanyalah milik Allah, penelitian ini amatlah jauh dari kata
sempurna. Wallhu alam bi al-Shawb.




DAFTAR PUSTAKA
Sumber Primer
Kabbn, Muhammad Hisym. Classical Islam and the Naqsabandi Sufi
Tradition. United States of America: Islamic Supreme Council of
America, 1995.
Encyclopedia of Islamic Doctrine Beliefs
(Aqida), vol. 1, (Unites States of America: al-Sunna Foundation of
America), 1998.
Remembrance of Allh and Praising the
Prophet, vol. 2. Unites States of America: al-Sunna Foundation of
America. 1998.
The Prophet: Cemmomerations, Visitation,
and His Knowledge of the Unseen (Mawlid, Ziyara, Ilm al-Ghayb). Vol. 3.
Unites States of America: al-Sunna Foundation of America. 1998.
Intercession (Shafaa, Tawassul, Istighatha).
Vol. 4. Unites States of America: al-Sunna Foundation of America. 1998.
Self Purifications and the State of
Excellent Tazkiyt al-Nafs/Tasawuf, Ihsn). Vol. 5. Unites States of
America: al-Sunna Foundation of America. 1998.
Forgotten Aspect of Islamic Workship Part
One. vol. 6. Unites States of America: al-Sunna Foundation of America.
1998.
Forgotten Aspect of Islamic Workship Part
Two. vol. 7. Unites States of America: al-Sunna Foundation of America.
1998.
The Approach of Armageddon?. United
States of America: Islamic Supreme Council of America, 2003.
Silsilah Rantai Emas. T. Pn: Rabbani Sufi
Institute of Indonesia, t. t.

Sumber Sekunder
Abdullh bin Muhammad Saif al-Mazri, Ibrhim. Dzikrullh Durs fi alRaqiq wa al-Zuhd. Jordan: Bait al-Afkr al-Dauliyyah, 2005.
Abdul Bqi, Fud, M. Al-Mujam al-Mufahras li al-Fdz al-Qurn. Beirut: Dr
al-Fikr, 1981.
Abdul Lathif, Yanto. Ayat-Ayat Dzikir menurut Muhammad rifin Ilham..
Skripsi Fakultas Ushuluddin dan Filasafat Universitas Islam Negeri
Jakarta, 2003.
Ahmad. Musnad Ahmad bin Hanbal. Beirut: Dr al-Hadits, 1995.

77


78

Ali, Atabik dkk, Kamus Kontemporer al-Ashry. Yogyakarta: Multi Karya


Grafika, cet. Ke-5.
Al-Alsi, Shihb al-Din Mahmd. Rh al-Mani fi Tafsr al-Qurn al-Adzm
wa al-Sab al-Matsn. Beirut, Dr al-Fikr, 1978.
Al-stqalln, Ibnu Hjar. Fathul Bari. Beirut: Dr el-Fikr, 14, 2005. vol. 11
Al-Bukhri, Abi Abdillah Muhammad bin Ismail. Sahih al-Bukhri. Jordan: Bait
al-Afkr al-Jadidah, 1998.
Dwud, Ab . Sunan Ab Daud. Beirut: Dr al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru Van
Hoeve, 1994.
Dzikrullh. Konsep Dzikir dalam al-Qurn. Kajian Tafsr al-Alsi. Skripsi S1
Fakultas Ushuluddin dan Filasafat, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2007.
Ependi, Ahmad. Konsep Dzikir Menurut Dr. Quraish Shihab dalam Tafsr alMishbah.. Skripsi Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam
Negeri, Jakarta, 2008.
Glasse, Cryil, Naqsyabandiyyah dalam Ensiklopedi Islam Ringkas. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada., 1999.
Hamd, Muhammad. Tanbh al-Fikr il Haqqt al-Dzikr. Suriah: Tauzi alMaktabah al-Arabiyyah, 1994.
Al-Hkim. Mustadrk al Sahhain li al- Hkim. Beirut: Dr al-Fikr, 1999.
Isa, Abdul Qdir. Hakekat Tasawuf. Jakarta: Qisthi Press, 2005.
Al-Jailni, Abdul. Rahasia Sufi. Jakarta: Diadit Media, 2002.
Tafsr al-Jailni. Istanbl: Markaz al-Jailni li al-Buhts alIlmiyyah, 2009.
Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. Al-Wbil wa al-Sayyib wa Rfi al-Kalim al-Thayyib.
T. tp: Dr Ilm al-Fawid, t.t.
Jumantoro, Totok, dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf. T. tp: Amzah.,
2005
Jumah, Ali, Kupas Tuntas Ibadah-Ibadah Diperselisihkan. Cikarang, Duha
Khazanah, t.t.
Katsr, Ibnu. al-Bidyah wa Nihyah, vol. VIII.
Mjah, Ibnu. Sunan Ibnu Mjah. Kairo: Dar al-Hadits, 1995.
Maluf, Louis, Al-Munjid fi al-Lughah wa Ilm. Beirut: Kattulikiyah, t. t.
Manzhur, Ibn, Lisn al-Arab. Beirut: Dr al-Sadir, 1990.
Mintarja, Endang, rifin Ilham; Tarekat, Dzikir, dan Muhammadiyah. Jakarta:
Mizan Publika, 2004.
Muslm, Abi al-Husain bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisabri. Sahih Muslm.
Beirut: Dr al-Kitab al-Arabiy, 2004.




79

Al-Nasi. Sunan Al-Nasi. Kairo: Dr al-Fikr, 1998.


Naqsyabandi, Tarekat. Amalan Shalat Harian.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka, 2001.
Al-Qurn dan Terjemahnya. Jakarta: Yayasan Penyelenggara/ Pentafsir alQurn, Kementrian Agama RI, 1971.
Al-Qusyairi. Rislah al-Qusyairiyyah. Beirut: Dr Kutub al-Ilmiyyah, 2001.
... Tafsr al-Qusyairi, . T. pn: Al-Maktabah al-Taufiqiyyah, Maret, 1999.
Rachmat, Taufik. Dzikir Berjamah. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Parktik
Dzikir yang Dilakukan oleh Muhammad rifin Ilham. Skripsi Fakultas
Syariah dan Hukum Universitas Negeri Jakarta, 2007.
Al-Sakandari, Ibnu thillah. Mifth al-Fallh wa Misbh al-Arwh. Beirut: Dr
al-Kutub al-Ilmiyyah, t. t.
Shihab, Quraish. Tafsir al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati, 2000.
.. Wawasan al-Quran Tentang Dzikir dan Doa. Jakarta: Lentera
Hati, 2008.
Soehartono, Ierawan. Metode Penelitian Sosial. Bandung: PT. Remaja Rosda
Karya, 2004.
Sulthn. Hayt al-Qulub fi Kaifiyyat al-Wushul ila al-Mahbub. Kairo: Dar
Jawami al-Kalam, 2002.
Syarifuddin, Anwar, M. Metodologi Penelitian Tafsir Hadits. Cirebon: 2007.
Al-Syarqwi, Utsman Sad. Maknat al-Dzikir baina al-Ibdt. Kairo: al-Hait
al-Misriyyah li al-Kitb, 1993.
Tebba, Sudirman. Meditasi Sufistik. Bandung: Pustaka Hidayah, 2004.
Al-Tirmidzi, Muhammad bin Isa bin Saurah bin Msa bin al-Dhahak. Sunan alTirmidzi. Beirut: Dr al-Fikr, 2004.
UIN Syarif Hidayatullah, Tim Penulis, Ensiklopedi Tasawuf, Bandung: Angkasa,
2008.
Umam, Khatibul. Zikir Tiada Akhir. Jakarta: Suluk, 2010.
Waqqs, Abi Isaq Saad. Musnad bin Waqqs. Beirut: Dr al-Hadits, 1995. juz. 4.
Yakub, Ali Mustaf, dkk. Zikir Berjamah Sunnah atau Bidah. Jakarta:
Republika, 2003.
Website:
Haqqani Fellowsip, A Glimpse at Our Beloved Mawlana Syaykh Hisyam by
Syaykh Gibril Fouad Haddad, dari
http://www.haqqanisoul.com/forum/topics/a-glimpse-at-our-beloved
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Makna Dzikir dalam al-Quran, artikel dari .



80

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:iDWYHENmDToJ:
pwkpersis.wordpress.com/2008/04/28/makna-ddzikir-dalam-alquran/+dzikir+menurut+al-qur%27 an&cd=3&hl=id&ct= clnk&gl=id.
Naqhsbandi Sufi Way, The Titles of
diakses dari

Naqhshbandi Golden Chain, artikel

http://www.naqsbandi.org/about/titlesof.htm.
Naqhsbandi Sufi Way, The Titles of
diakses dari

Naqhshbandi Golden Chain, artikel

http://www.naqsbandi.org/about/titlesof.htm.
Al-Sunnah Foundation of America (ASFA). Wikipedia The Free Encyclopedia,
artikel ini di akses pada tanggal 25 Februari 2011 dari
http://en.wikipedia.org/wiki/As-Sunnah_Foundation_of_America
The Islamic Supreme Council of America, Publications of Syaikh Hisym
Kabbns books, artikel di akses dari
http://islamicsupremecouncil.org/home/about-us/34-saykh-muhammad-hisamKabbn.html




82


Lampiran 2

Karya Syaikh Hisyam Kabbani, Encyclopedia of Islamic Doctrine,


Remembrance of Allah and Paraising the Prophet,volume. 2

83


Lampiran 3

Foto Syaikh Hisyam Kabbani


Mursyid tarekat Naqsyabandi Haqqani

84

Lampiran 4

Gambar Halaqah dzikir tarekat Naqsyabandi Haqqani, atau yang biasa


disebut dengan Zawiyah Dzikir.