Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Sistem reproduksi tidak ditunjukkan untuk mempertahankan kehidupan
individu, tetapi spesies dan akan memiliki dampak terhadap kehidupan
seseorang. Meskipun sistem reproduksi tidak berkontribusi terhadap homeostatis
dan tidak terlalu penting untuk bertahan hidup seseorang seperti halnya sistem
kardiovaskuler, tetapi sistem ini berperan penting terhadap kehidupan seseorang.
Contohnya,

pasangan

suami

istri

yang

menginginkan

seorang

anak.

Dengandemikian sistem reproduksi berpengaruh kepada perilaku psikososial


seseorang secara signifikan.
Kemampuan reproduksi

bergantung

pada

hubungan

antara

hypothalamus, hipofisis bagian anterior, organ reproduksi, dan sel target


hormone. Proses biologis dasar termasuk perilaku seksual sangat dipengaruhi
oleh factor emosi dan sosiokultural masyarakat. Sistem reproduksi meliputi
kelenjar (gonad) dan saluran reproduksi. Organ reproduksi primer atau gonad
terdiri dari sepasang testes pada pria dan sepasang ovarium pada wanita. Gonad
yang matur berfungsi menghasilkan gamet (gametogenesis) dan menghasilkan
hormon seks, khususnya testosteron pada pria dan estrogen & progesteron pada
wanita. Setelah gamet diproduksi oleh gonad, ia akan melalui saluran reproduksi
(sistem duktus). Pada wanita juga terdapat payudara yang termasuk organ
pelengkap reproduksi. Bagian eksternal sistem reproduksi sering juga disebut
genitalia eksternal.
Karakteristik seksual sekunder tidak secara langsung merupakan bagian
dalam sistem reproduksi, akan tetapi merupakan karakteristik eksternal yang
membedakan laki-laki dan perempuan, seperti susunan tubuh dan distribusi
rambut. Contohnya, wanita memiliki pinggul yang lebih besar daripada pria dan
pria memiliki bahu yang lebih lebar dari wanita, pria memiliki jenggot dan
kumis sedangkan wanita tidak. Hormone yang bertanggung jawab pada
perkembangan karakteristik ini adalah hormone testoteron pada pria dan

estrogen pada wanita. Selanjutnya sistem reproduksi pada manusia akan dibahas
lebih lanjut pada bagian pembahasan makalah ini.
1.2.

Tujuan
Adapun tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian organ reproduksi pada wanita dan pria
2. Untuk mengetahui perkembangan organ reproduksi sejak embrio
3. Untuk mengetahui fungsi masing-masing organ reproduksi manusia
4. Untuk mengetahui hormone-hormon yang terkait dengan fungsi
reproduksi serta fungsi dari hormone-hormon tersebut.
5. Untuk mengetahui pengertian mimpi basah pada pria dan hormone yang
terlibat
6. Untuk mengetahui siklus menstruais serta pengaruh hormone seksual
terhadap siklus menstruasi
7. Untuk mengetahui hormone-hormon yang terlibat selama periode
kehamilan, kelahiran, dan menyusui.

1.3.

Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui pengertian organ reproduksi pada wanita dan pria
2. Mengetahui perkembangan organ reproduksi sejak embrio
3. Mengetahui fungsi masing-masing organ reproduksi manusia
4. Mengetahui hormone-hormon yang terkait dengan fungsi reproduksi
serta fungsi dari hormone-hormon tersebut.
5. Mengetahui pengertian mimpi basah pada pria dan hormone yang terlibat
6. Mengetahui siklus menstruais serta pengaruh hormone seksual terhadap
siklus menstruasi
7. Mengetahui hormone-hormon yang terlibat selama periode kehamilan,
kelahiran, dan menyusui.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Organ Reproduksi pada Pria dan Wanita
2.1.1 Organ Reproduksi pada Pria
a. Struktur luar, terdiri dari penis, skortum (kantung zakar), dan testis (buah
zakar)
Penis. Penis merupakan genetalia luar dalam sistem reproduksi pria yang
berfungsi sebagai saluran keluar air kemih, cairan semen dan sebagai alat
senggama. Struktur penis terdiri dari akar penis yang menempel pada
dinding perut, badan penis yang berupakan bagian tengan dari penism
dan glans penis atau ujung penis yang berebntuk seperti kerucut. Lubang
uretra yang yang merupakan saluran tempat keluarnya semen dan air
kemih terdapat di ujung glans penis. (Roland Lesson, 1996)

Skortum. Skortum atau kantung gonad terletak di bawah penis. Skortum


berfungsi sebagai kantung gonad, dan berfungsi juga untuk melindungi
dan mempertahankan suhu testis agar lebih rendah dari suhu tubuh.
Pengaturan suhu diperlukan agar spermatogenesis dapat berjalan dengan
normal. Perbedaan antara suhu tubuh dan testis berkisar antara 5-7

derajat celcius. Fungsi termoregulator ini dijalankan oleh selapis otot


polos yang terletak di subcutis (subkutan) yang disebut oto dartos. Otot
ini berfungsi untuk menggerakkan skortum agar mengerut dan menarik
skortum sehingga testis mendekati tubuh yang hangat apabila keadaan
lingkungan dingin. Otot ini juga akan mengendur apabila suhu
lingkungan naik, sehingga mengakibatkan skortum memanjang dan
menjauhkan testis dari kenhangatan tubuh. (Wildan Yatim, 1994)
Testis. Testis merupakan kelenjar ganda, karena secara fungsional
bersifat eksokrin dan juga endokrin. Sebagai kelenjar eksokrin, testis
menghasilkan spermatozoa, dan sebagai kelenjar endokrin, mengahsilkan
sekret internal berupa hormone-hormon androgen. (Roland Leeson,
1996)
b. Struktur dalam, yang terdiri dari vas deferens, uretra, kelenjar prostat dan
vesikula seminalis.
Spermatozoa yang telah dihasilkan oleh testis selanjutnya akan dialirkan
ke dalam epididimis, yaitu saluran sepanjang 6 meter yang bertaut rapat
di atas testis. Epididimis terbagi menjadi 3 bagian, yaitu kepala (caput
epididimis), badan (corpus epididimis), dan ekor epididimis (cauda
epididimis). Bagian ekor ini akan bermuara pada vas deferens.
Epididimis secara umum berfungsi sebagai tempat transportasi,
konsentrasi, pematangan dan penyimpanan spermatozoa. Spermatozoa
yang telah tersimpan dalam cauda epididimis selanjutnya dibawa menuju
vas deferens.
Vas deferens merupakan saluran transportasi spermatozoa dari cauda
epididimis menuju uretra. Kedua vas deferens yang terletak sebelah di
atas vesika urinaria lambat laun menebal dan membesar membentuk
ampula ductus deferens. Di ujung ampula terdapat muara saluran
vesikula seminalis. Setelah muara seminalis ini, vas deferens diberi nama
ductus ejaculatorii. Ductus ini menembus prostat.
Kelenjar prostat terletak di abwah kandung kemih di dalam pinggul dan
mengelilingi bagian tengah dari uretra. Cairan yang digetahkan kelenjar
prostat banyak mengandung asam sitrat, enzim fosfatase, amylase, dan
glukorunidase.

Juga spermin, seminin, dan prostaglandin. Selain


4

kelenjar prostat ada juga kelenjar cowper (bulbourethralis). Kelenjar ini


berjumlah sepasang dan terletak di belakang uretra. Sekresi dari kelenjar
prostat dan cowper berfungsi untuk membersihkan dan menetralisir
uretra dari bekas urine dan kotoran-kotoran lain sebelum ejakulasi. pH
cairan sekresi kedua kelenjar tersebut berkisar antara 7,5-8,2.
Adapun vesikula seminalis pada sistem reproduksi pria berjumlah
sepasang dengan panjang masingmasing 15 cm. bentuknya panjang da
berkelok-kelok, terletak di bagian posterior kelenjar prostat. Sekret
kelenjar berupa cairan encer kekuning-kuningan dan mengandung
banyak

zat

termasuk

globulin,

asam

askorbat,

fruktosa,

dan

prostaglandin. Fruktosa penting untuk nutrisi spermatozoa, sedangkan


prostaglandin dapat membantu fertilisasi dengan jalan mempengaruhi
saluran reproduksi wanita. pH cairan sekresi berkisar antara 5,7-6,2.
2.1.2 Organ Reproduksi pada Wanita
a. Anatomi reproduksi wania bagian luar (External)
Struktur dari anatomi reproduksi wanita bagian luar termasuk : mons
pubis, klitoris, labia mayor, labia minor, vestibule, uretra, dan hymen

Mons Pubis : terdiri dari jaringan lemak fibrosa, yang menutupi body
dari pubic bones. Kulit yang menutupi mons pubis memiliki rambut
pubis.

Klitoris : kumpulan jaringan sensitive

Labia mayor (bibir bagian luar) : terdiri dari dua lipatan kulit,
masing-masing satu di sisi lubang vagina yang melindungi organ
kewanitaan.

Labia minor (bibir bagian dalam) : terdiri dari dua lipatan kulit, di
dalam labia mayor, yang memanjang dari klitoris

Vestibule : adalah celah antara labia minor. Uretra, saluran kelenjar


Bartholin dan lubang vagina terletak pada vestibule.

Uretra : tempat dimana urine keluar

Hymen : merupakan lipatan tipis selaput lendir di lubang vagina.


Biasanya terdapat bukaan/celah di dalamnya untuk memungkinkan
darah menstruasi keluar.

b. Anatomi reproduksi wanita bagian dalam (Internal)


Struktur dari anatomi reproduksi wanita bagian dalam termasuk : uterus,
tuba fallopii, ovarium, serviks, dan vagina

Uterus (rahim) : organ reproduksi tempat ovum dibuahi, tempat sel


telur berkembang menjadi janin. Uterus terletak di dalam pelvis
(panggul), mrupakan organ yang tebal, berotot. Sisi bagian depan
uterus dilapisi lapisan peritoneum. Antara uterus dengan vesica
urinaria

terdapat

suatu

celah

atau

cekungan

yang

disebut

vesicouterine pouch, dan antara uterus dengan rektum juga terdapat


suatu celah atau cekungan yang disebut rectouterine pouch.
6

Rectouterine pouch adalah tempat menampung cairan misalnya jika


terjadi perdarahan. Kemudian ada suatu ruang dalam uterus yang
disebut kavum uterus. Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan : (1)
endometrium, yang merupakan lapisan terdalam dari uterus yang
akan menebal untuk mempersiapkan juka terjadi pembuahan, (2)
Myometrium, merupakan lapisan yang terdiri dari otot polos, (3)
Peritoneum, meliputi dinding uterus bagian luar. Posisi uterus juga
dibagi menjadi tiga yaitu : (1) Posisi anteflexi terletak pada sumbu
tegak lurus antara body dengan cervix, (2) Antepositio terletak pada
sumbu tegak lurus antara uterus dan vagina yang membentuk sudut
ke arah anterior, (3) Dekstropositio terletak pada garis midsagital
uterus agak miring ke arah dekstra.

Tuba Fallopi : masing-masing dua tuba yang menghubungkan


ovarium ke rahim. Pembuahan terjdai di tabung ini. Terbagi menjadi
empat bagian, yaitu bagian interstitial yang terletak di dalam dinding
uterus, ismus yaitu bagian sempit yang terletak dekat uterus, ampula
yaitu bagian terluas dan terpanjang yang terletak di atas ovarium, dan
infudibulum yitu daerah pangkal tuba fallopi yang berbentuk
fimbriae. Fimbriae bertugas untuk menangkap ovum.

Ovarium : berjumlah sepasang yang terdapat di sebelah kiri dan


kanan pinggang. Berfungsi menghasilkan sel telur atau ovum.
Ovarium adalah satu-satunya struktur intra-abdominal yang tidak
dilindungi oleh peritoneum. Setiap ovarium terpasang ke kornu
uterus oleh ovarian ligament, dan pada hilum ke broad ligament oleh
mesovarium, yang berisi pembuluh darah dan saraf.

Folikel ovarium : sebuah sel berongga yang berisi sel telur yang
belum matang. Terletak di setiap ovarium.

Serviks : bagian bawah dari uterus yang meluas ke vagina bagian


atas. Pada bagian anterior dan lateral bagian supravaginal adalah
jaringan ikat selular (parametrium). Aspek posterior ditutupi oleh
peritoneum dari pouch of Douglas. Bagian atas serviks sebagian
7

besar terdiri dari otot tak sadar (otot halus), sedangkan bagian bawah
adalah jaringan ikat fibrosa.

Vagina : merupakan kanal fibromuskular yang dilapisi dengan epitel


skuamosa berlapis yang mengarah dari uterus ke vulva. Bagian
dinding posterior lebih panjang dari anterior. Vagina terletak di antara
kandung kemih dan rectum. Jaringan muskulusnya merupakan
kelanjutan dari muskulus sfingter ani dan muskulus levator ani,
sehingga dapat dikendalikan. Bagian serviks yang menonjol ke dalam
vagina disebut porsio. Porsio uteri membagi puncak vagina menjadi
forniks anterior, forniks posterior, forniks dekstra, dan forniks
sinistra.

2.2 Perkembangan Organ Sistem Reproduksi Sejak Embrio


Pembentukan jenis kelamin anak hasil fertilisasi tergantung ada atau
tidak adanya determinan maskulin selama periode kritis perkembangan embrio.
Perbedaan terbentuknya jenis kelamin anak dapat terjadi setelah melalui 3 tahap,
yaitu tahap genetik, gonad, dan fenotip (anatomi) seks.
Tahap genetik tergantung kombinasi genetik pada tahap konsepsi. Jika
sperma yang membawa kromosom Y bertemu dengan oosit, terbentuklah
anak laki-laki, sedangkan jika sperma yang membawa kromosom X yang

bertemu dengan oosit, maka yang terbentuk anak perempuan.


Tahap gonad, yaitu perkembangan testes atau ovarium. Selama bulan
pertama gestasi, semua embrio berpotensi untuk menjadi pria atau wanita,
karena perkembangan jaringan reproduksi keduanya identik dan tidak
berbeda. Penampakan khusus gonad terlihat selama usia 7 minggu di
dalam uterus, ketika jaringan gonad pria membentuk testes di bawah
pengaruh sex-determining region kromosom Y (SRY), sebuah gen yang
bertanggung jawab pada seks determination. SRY menstimulasi produksi
antigen H-Y oleh sel kelenjar primitif. Antigen H-Y adalah protein
membran plasma spesifik yang ditemukan hanya pada pria yang secara
langsung membentuk testes dari gonad. Pada wanita tidak terdapat SRY,

sehingga tidak ada antigen H-Y, sehingga jaringan gonad baru mulai

berkembang setelah 9 minggu kehamilan membentuk ovarium.


Tahap fenotip tergantung pada tahap genetik dan gonad. Diferensiasi
membentuk sistem reproduksi pria diinduksi oleh androgen, hormon
maskulin yang disekresi oleh testes. Usia 10-12 minggu kehamilan, jenis
kelamin secara mudah dapa dibedakan secara anatomi pada genitalia
eksternal.
Meskipun perkembangan genitalia eksterna pria dan wanita tidak berbeda

pada jaringan embrio, tetapi tidak pada saluran reproduksi. Dua sistem duktus
primitif, yaitu duktus Wolffian dan Mullerian menentukan terbentuknya pria atau
wanita. Pada pria duktus Wolffian berkembang dan duktus Mullerian
berdegenerasi, sedangkan pada wanita duktus Mullerian yang berkembang dan
duktus Wolffian berdegenerasi. Perkembangannya tergantung ada atau tidak
adanya dua hormon yang diproduksi oleh testes fetus yaitu testosterone dan
Mullerian-inhibiting factor. Testosteron mengiduksi duktus Wolffian menjadi
saluran reproduksi pria (epididimis, duktus deference, duktus ejakulatorius, dan
vesika seminalis). Testosteron diubah menjadi dihydrotestosteron (DHT) yang
bertanggung jawab membentuk penis dan skrotum. Pada wanita, duktus
Mullerian berkembang menjadi saluran reproduksi wanita (oviduct, uterus, dan
vagina), dan genitalia eksterna membentuk klitoris dan labia.
2.3 Fungsi Masing-Masing Organ Reproduksi
2.3.1 Fungsi Organ Reproduksi Pria
a. Penis, Penis mempunyai beberapa fungsi yaitu untuk melakukan
sanggama, untuk mengeluarkan air kencing dan sebagai alat reproduksi
ketika mengeluarkan sperma. Penis akan menegang dan membesar
karena terisi darah, bila terangsang (disebut ereksi)
b. Kepala penis, adalah bagian ujung penis yang mempunyai lubang untuk
menyalurkan air kencing dan sperma. Kepala penis merupakan bagian
yang sangat sensitif dan bagian yang paling mulah terangsang karena
mengandung banyak pembuluh darah dan syaraf.
c. Skortum, Testis dan Sperma. Skortum berfungsi sebagai kantung gonad,
dan berfungsi juga untuk melindungi dan mempertahankan suhu testis

agar lebih rendah dari suhu tubuh. Pengaturan suhu diperlukan agar
spermatogenesis dapat berjalan dengan normal. Testis berperan untuk
memproduksi hormon androgen yang akan digunakan untuk proses
spermatogenesis. Testis berfungsi memproduksi sperma setiap hari degan
bantuan hormon testosteron. Sperma, adalah set yang berbentuk seperti
berudu berekor. Sperma dapat membua sel telur yang matang dalam
tubuh perempuan.
d. Uretra, berfungsi untuk menyalurkan cairan kencing dan juga saluran air
mani yang mngandung sperma. Keluarnya kencing dan air mani diatur
olehj sebuah katub sehingga tidak bisa keluar secarar bersamaan.
e. Epididimis, berfungsi mematang sperma yang dihasilkan oleh testis .
Setelah matang, sperma akan masuk dalam saluran sperma. Epididimis
berbentuk saluran yang lebih besar dan berkelok-kelok
f. Vas deferens, berfungsi untuk menyalurkan spema dari testis menuju ke
prostat. Kelenjar prostat, berfungsi untuk menghasilkan caian mulai yang
ikut mempengaruhi kesuburan sperma.
2.3.2 Fungsi Organ Reproduksi Wanita
a. Mons pubis. Disebut juga gunung venus merupakan bagian yang
menonjol di bagian depan simfisis terdiri dari jaringan lemak dan sedikit
jaringan ikat setelah dewasa tertutup oleh rambut yang bentuknya
segitiga. Mons pubis mengandung banyak kelenjar sebasea (minyak)
berfungsi sebagai bantal pada waktu melakukan hubungan seks.
b. Labia mayora. Merupakan kelanjutan dari mons pubis berbentuk
lonjong, panjang labia mayora 7-8 cm, lebar 2-3 cm dan agak meruncing
pada ujung bawah. Kedua bibir ini dibagian bawah bertemu membentuk
perineum, permukaan terdiri dari:
c. Labia minora. Merupakan lipatan kulit yang panjang, sempit, terletak
dibagian dalam bibir besar (labia mayora) tanpa rambut yang memanjang
kea rah bawah klitoris dan menyatu dengan fourchette, semantara bagian
lateral dan anterior labia biasanya mengandung pigmen, permukaan
medial labia minora sama dengan mukosa vagina yaitu merah muda dan
basah.

10

d. Klitoris. Merupakan bagian penting alat reproduksi luar yang bersifat


erektil, dan letaknya dekat ujung superior vulva. Organ ini mengandung
banyak pembuluh darah dan serat saraf sensoris sehingga sangat
sensitive analog dengan penis laki-laki. Fungsi utama klitoris adalah
menstimulasi dan meningkatkan ketegangan seksual.
e. Vestibulum. Merupakan alat reproduksi bagian luar yang berbentuk
seperti perahu atau lonjong, terletak di antara labia minora, klitoris dan
fourchette. Vestibulum terdiri dari muara uretra, kelenjar parauretra,
vagina dan kelenjar paravagina. Permukaan vestibulum yang tipis dan
agak berlendir mudah teriritasi oleh bahan kimia, panas, dan friksi.
f. Kelenjar Bartholin. Kelenjar penting di daerah vulva dan vagina yang
bersifat rapuh dan mudah robek. Pada saat hubungan seks pengeluaran
lendir meningkat.
g. Himen (Selaput dara). Merupakan jaringan yang menutupi lubang vagina
bersifat rapuh dan mudah robek, himen ini berlubang sehingga menjadi
saluran dari lender yang di keluarkan uterus dan darah saat menstruasi.
h. Vagina. Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang
menghasilkan asam susu dengan PH 4,5. Keasaman vagina memberikan
proteksi terhadap infeksi. Fungsi utama vagina yaitu sebagai saluran
untuk mengeluarkan lendir uterus dan darah menstruasi, alat hubungan
seks dan jalan lahir pada waktu persalinan.
i. Uterus. Fungsi uterus adalah : (1) sewaktu pembuahan, kontraksi uterus
mempermudah pengangkutan spermatozoa ke tuba Fallopii; (2) sebelum
implantasi, cairan uterus menjadi medium blastocyt; (3) sesudah
implantasi,

uterus

menjadi

tempat

pembentukan

plasenta

dan

perkembangan fetus; (4) berkontraksi untuk membantu proses kelahiran


bayi.
j. Ovarium. Merupakan kelenjar ganda karena dapat menghasilkan sekresi
eksokrin dan endokrin. Sekeresi eksokrin ovarium berupa ovum (sel
telur) dan sekresi endokrinnya berupa hormone kelamin wanita yaitu
estrogen dan progesterone.
k. Tuba fallopi. Berfungsi untuk menerima ovum yang diovulasikan
ovarium, sebagai tempat kapasitasi spermatozoa, tempat terjadinya

11

fertilisasi, tempat menyalurkan embrio menuju uterus, membantu


pengangkutan spermatozoa ke tempat fertilisasi.
2.4 Hormon-Hormon Fungsi Reproduksi (dan fungsinya)
2.4.1 Hormon Fungsi Reproduksi Pria
Pengaturan fungsi seksual pria maupun wanita diawali oleh
sekresi gonadotropin releasing hormone (GnRH) dari hipothalamus.
Sekresi GnRH akan merangsang sel gonadotrop di hipofisis anterior
untuk mensekresi Luteinizing hormone (LH) dan Foliclle Stimulating
Hormone (FSH). Waktu paruh GnRH sangat pendek (<10 menit) dan
akan di degradasi oleh kelenjar hipofisis. Sekresi GnRH oleh
hipothalamus dilakukan secara pulsatile, pada tiap pulsasi dari
GnRHdiikuti dengan level LH yang memuncak (peak level). Sekresi
GnRH secara terus-menerus atau dengan frekuensi pulsatile yang tinggi
justru akan menghambatsekresi gonadotropin dan mengganggu fungsi
testis.
Sel gonadotrop mensekresikan LH dan FSH bila terdapat
rangsangan dari GnRH. Pada masa prepubertas, sekresi gonadotropin
sangat rendah karena rangsang dari GnRH yang rendah, umpan balik
negatif untuk sekresi GnRH sangat sensitif terhadap gonadotropin.
Hormon LH dan FSH mengikuti aliran darah untuk menuju ke organ
target, yaitu testis. Testis memiliki 2 bangunan penting, yaitu tubulus
seminiferus dan Sel Leydig yang terletak diantara tubulus seminiferus,
pada membran basalis tubulus seminiferus terdapat Sel Sertoli.
Sel Leydig merupakan penghasil hormon testosteron pada pria,
hormon testosteron pada masa janin dibutuhkan tubuh untuk differensiasi
duktus Wolfii, yang akan menjadi epididimis, duktus efferent, duktus
defferen dan vesikula seminalis. Pada masa dewasa hormon testosteron
penting untuk proses spermatogenesis. Melalui proses biokimiawi,
hormon testosteron akan diubah menjadi hormon estrogen, yang bersama
hormon testosteron dibutuhkan untuk proses spermatogenesis.
FSH yang disekresikan oleh hipofisis anterior, akan berikatan
dengan reseptor spesifik FSH di sel Sertoli. Enzim aromatase merupakan

12

hasil sekresi sel Sertoli yang dibutuhkan oleh testis untuk katalisis
testosteron menjadi estrogen. Sel Sertoli juga mensintesis Androgen
binding protein (ABP), yang akan berikatan dengan testosteron.
Testosteron perlu berikatan dengan ABP untuk memasuki tubulus
seminiferus untuk memulai proses spermatogenesis.
Hormon testosteron yang di sekresi Sel Leydig memiliki efek
timbal balik dalam menghambat sekresi LH, efek tersebut terutama
menghambat sekresi GnRH oleh hipothalamus. Efek penurunan GnRH
adalah terjadi penurunan LH dan FSH. Apabila jumlah testosteron
berkurang maka hipothalamus akan meningkatkan sekresi GnRH dan
menyebabkan sekresi LH dan FSH meningkat, yang akan diikuti oleh
peningkatkan produksi testosteron dan estrogen oleh testis.11 Hormon
inhibin merupakan pengontrol dari proses spermatogenesis pada tubulus
seminiferus. Apabila proses spermatogenesis berlangsung terlalu cepat,
inhibin akan memberikan efek penghambatan pada hipofisis sehingga
sekresi FSH akan turun.

13

2.4.2 Hormon Fungsi Reproduksi Wanita


a. GnRH, FSH, LH
Hormone-hormon pengendali reproduksi wanita diatur oleh
hipotalamus dan kelenjar pituitary. Hipotalamus menggetahkan GnRH
(Gonadotrophin Releasing Hormone). Bila kadar estrogen tinggi, maka
estrogen akan memberikan umpan balik ke hipotalamus sehingga kadar
GnRH akan menjadi rendah, begitupun sebaliknya. GnRH selanjutnya
akan merangsang kelenjar pituitary memproduksi FSH (Follicle
Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone). FSH akan
menyebabkan pematangan dari folikel. Folikel yang matang akan
dikeluarkan oleh ovum. Folikel ini kemudian akan menjadi korpus
luteum dan dipertahankan untuk waktu tertentu oleh LH. Kenaikan kadar
LH akan merangsang terjadinya ovulasi. Ovulasi terjadi karena folikel
dominan terdorong dan melepaskan sel telurnya ke salah satu saluran
fallopian. Sel telur akan dibuahi oleh sperma di dalam saluran tersebut.
Folikel yang pecah akan kembali menutup dan membentuk korpus
luteum yang menghasilkan sejumlah besar progesterone. Setelah 14 hari
korpus luteum akan ahncur dan dimulailah siklus berikutnya.
b. Hormone Seks Steroid
Hormonsteroid disintesis dari kolesterol yang berasal dari sintesis asetat,
dari kolesterol ester pada janingan steroidogenik, dan sumber makanan.
Sekitar 80% kolesterol digunakan untuk sintesis hormon seks steroid .
Pada wanita, ovum yang matang akan mensintesis dan mensekresi
hormon steroid aktif.
1) Estrogen
Estrogen terdiri dari tiga jenis hormon yang berbeda, yaitu estron,
estradiol, dan estriol. Pada wanita normal, estrogen banyak
diproduksi oleh folikel selama proses ovulasi dan korpus luteum
selama kehamilan.

14

2) Progesteron
Progesteron bersama-sama dengan estrogen memegang peranan
penting di dalam regulasi seks hormon wanita. Pada wanita,
pregnenolon

diubah

menjadi

progesteron

atau

17a-

hidroksipregnenolone dan perubahan ini tergantung dari fase ovulasi


dimana progesteron disekresi oleh korpus luteum dalam jumlah yang
besar.
Progesteron berperan di dalam organ reproduksi termasuk kelenjar
mamae dan endometrium serta peningkatkan suhu tubuh manusia.
Organ target progesteron yang lain adalah uterus, dimana progesteron
membantu

implantasi

ovum.

Selama

kehamilan

progesteron

mempertahankan plasenta, menghambat kontraktilitas uterus dan


mempersiapkan mamae untuk proses laktasi
3) Androgen (Testoteron)
Testoteron atau androgen merupakan hormon seks steroid yang
dominan pada pria. Hormon ini mempunyai berat molekul 288,41
Dalton. Proses sintesis testoteron berlangsung di sel Leydig
interstitial pada testis yang memberikan respon pada interstitial cell
stimulating hormone (ICSH, atau yang lebih dikenal dengan
luteinizing hormone). Pada pria sebagian dihidrostestoteron dibentuk
di jaringan perifer. Pada wanita yang normal, ovarium akan
memproduksi testoteron dalam jumlah yang sedikit yaitu kurang dari
300g selama 24 jam. Testoteron berperan dalam proses pertumbuhan
rambut selama masa pubertas.
4) Prolaktin.
Prolaktin akan merangsang pengeluaran ASI pada saat sesudah
melahirkan. Selama kehamilan prolaktin akan banyak disekresi dan
dipengaruhi oleh bormon lain seperti estrogen, progesteron, human
placenta

lactogen

(HPL),

dan

cortisol

untuk

merangsang

pertumbuhan mamae. Setelah melahirkan, kadar estrogen dan


progesteron akan menurun sehingga kadar prolaktin akan meningkat
dan merangsang mamae untuk mengeluarkan ASI. Kadar prolaktin
akan meningkat pada fetus dan bayl baru lahir terutama pada usla

15

bulan pertama . Dalam keadaan fisiologis, prolaktinemia dapat terjadi


pada saat kehamilan, ibu menyusui, tidur, stres, dan, konsumsi
protein tinggi dan olah raga.
2.5 Mimpi Basah dan Hormon yang Terlibat
Mimpi basah atau wet dream terjadi sekitar usia 13-17 tahun, bersamaan
dengan puncak pertumbuhan tinggi badan. Mimpi basah adalah suatu kejadian
ketika remaja laki-laki bermimpi mengenai sesuatu yang menyenangkan sampai
mengeluarkan cairan yang agak lengket dari penisnya tanpa disadarinya. Mimpi
basah adalah tanda laki-laki memulai masa pubertasnya. Mimpi basah umumnya
terjadi setiap 2-3 minggu sekali. Cairan yang keluar dari penis disebut air mani
yaitu campuran antara semen dengan sperma. Sperma adalah sel yang dihasilkan
laki-laki di dalam testis atau pelirnya atas perintah hormon testosterone.
Testosterone adalah hormon yang paling berperan dalam pertumbuhan tubuh
laki-laki. Jumlah sperma yang ada di dalam testis laki-laki berjuta-juta.
Mimpi basah merupakan kejadian yang normal bagi semua remaja lakilaki. Mimpi basah adalah tanda seorang anak laki-laki telah memiliki
kemampuan bereproduksi yang telah siap digunakan. (Sri Esti Wuryani D, 2008)
Dr. Alfred Kinsey menemukan bahwa 83% laki-laki mengalami mimpi
basah di suatu saat di dalam hidup mereka dengan presentase tertinggi terjadi
pada usia belasan tahun. Kira-kira seperempat anak laki-laki berusia 11 tahun
dan hampir dua pertiga anak laki-laki berusia 17 tahun, sekali dalam satu atau
dua bulan (jarang yang lebih dari pada itu), terbangun dengan sprei lengket,
selama periode timbulnya gejolak seksual tersebut.
2.6 Siklus Menstruasi dan Pengaruh Hormon Seksual Terhadap Siklus
Menstruasi
Haid (menstruasi) ialah perdarahan yang siklik dari uterus sebagai tanda
bahwa alat kandungan menunaikan faalnya. Panjang siklus haid ialah jarak
antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid yang baru. Hari
mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus. Panjang siklus haid yang
normal atau siklus dianggap sebagai siklus yang klasik ialah 28 hari, tetapi
variasinya cukup luas. Lebih dari 90% wanita mempunyai siklus menstruasi
antara 24 sampai 35 hari.

16

Selama haid, pada hari bermulanya diambil sebagai hari pertama dari
siklus yang baru. Akan terjadi lagi peningkatan dari FSH sampai mencapai kadar
5 mg/ml (atau setara dengan 10 mUI/ml), dibawah pengaruh sinergis kedua
gonadotropin, folikel yang berkembang ini menghasilkan estradiol dalam jumlah
yang banyak. Peningkatan serum yang terus-menerus pada akhir fase folikuler
akan menekan FSH dari hipofisis. Dua hari sebelum ovulasi, kadar estradiol
mencapai 150-400 pg/ml. Kadar tersebut melebihi nilai ambang rangsang untuk
pengeluaran gonadotropin praovulasi. Akibatnya FSH dan LH dalam serum
akan meningkat dan mencapai puncaknya satu hari sebelum ovulasi. Saat yang
sama pula, kadar estradiol akan kembali menurun. Kadar maksimal LH berkisar
antara 8 dan 35 ng/ml atau setara dengan 30-40 mUI/ml, dan FSH antara 4-10
ng/ ml atau setara dengan 15-45 mUI/ml.
Terjadinya puncak LH dan FSH pada hari ke-14, maka pada saat ini
folikel akan mulai pecah dan satu hari kemudian akan timbul ovulasi.
Bersamaan dengan ini dimulailah pembentukan dan pematangan korpus luteum
yang disertai dengan meningkatnya kadar progesteron, sedangkan gonadotropin
mulai turun kembali. Peningkatan progesteron tersebut tidak selalu memberi
arti, bahwa ovulasi telah terjadi dengan baik, karena pada beberapa wanita yang
tidak terjadi ovulasi tetap dijumpai suhu basal badan dan endometrium sesuai
dengan fase luteal.23
Awal fase luteal, seiring dengan pematangan korpus luteum. Sekresi
progesteron terus menerus meningkat dan mencapai kadar antara 6 dan 20
ng/ml. Estradiol yang dikeluarkan terutama dari folikel yang besar yang tidak
mengalami atresia, juga tampak pada fase luteal dengan konsentrasi yang lebih
tinggi daripada selama permulaan atau pertengahan fase folikuler. Produksi
estradiol dan progesteron maksimal dijumpai antara hari ke-20 dan 23 (Admin,
2010).
Hormon-hormon yang berhubungan dengan siklus menstruasi ialah :
a. Hormon-hormon yang dihasilkan gonadotropin hipofisis : Luteinizing
Hormon (LH), Folikel Stimulating Hormon (FSH), Prolaktin Releasing
Hormon (PRH)
b. Steroid ovarium

17

Ovarium menghasilkan progestrin, androgen, dan estrogen. Banyak dari


steroid yang dihasilkan ini juga disekresi oleh kelenjar adrenal atau dapat
dibentuk di jaringan perifer melalui pengubahan prekursor-prekursor steroid
lain; konsekuensinya, kadar plasma dari hormon-hormon ini tidak dapat
langsung mencerminkan aktivitas steroidogenik dari ovarium.
2.7 Hormon-Hormon yang Terlibat Selama Periode Kehamilan, Kelahiran, dan
Menyusui.
2.7.1 Hormon pada Periode Kehamilan
Kehamilan merupakan proses alamiah untuk menjaga kelangsungan
peradaban manusia, kehamilan baru bias terjadi bias terjadi jika
seseorang wanita sudah mengalami pubertas yang ditandai dengan
terjadinya menstruasi (Hani dkk, 2011).
Peristiwa fertilisasi terjadi saat spermatozoa membuahi ovum di tuba
fallopii, sampai akhirnya kedua sel tersebut melebur dan terbentuklah
zigot. Zigot membelah secara mitosis menjadi dua, empat, delapan, enam
belas dan seterusnya. Hormone progesterone merangsang pertumbuhan
uterus, dindingnya tebal, lunak, banyak mengandung pembuluh darah,
serta mengeluarkan sekret seperti air susu (uterin milk) sebagai makanan
embrio. Progesteron sangat penting untuk pemeliharaan kehamilan dini,
dan hilangnya progesteron akan mengakibatkan berakhirnya kehamilan.
Progesteron menyebabkan hiperpolarisasi miometrium, mengurangi
amplitudo potensial aksi dan mencegah kontraksi efektif. Progesteron
menghambat sintesis reseptor oksitosin. Progesteron juga menghambat
sintesis

reseptor

estrogen,

membantu

penyimpanan

prekursor

prostaglandin di desidua dan membran janin, dan menstabilkan lisosomlisosom yang mengandung enzim-enzim pembentuk prostaglandin. Enam
hari setelah fertilisasi, trofoblas menempel pada dinding uterus dan
melepaskan hormone korionik gonadotropin. Hormone ini melindungi
kehamilan dengan cara menstimulasi produksi hormone estrogen dan
progesterone sehingga mencegah terjadinya menstruasi. Trofoblas
kemudian menebal beberapa lapis dengan permukaan yang berjonjot

18

dengan tujuan memperluas daerah penyerapan makanan. Embrio telah


kuat menempel setelah hari ke-12 dari fertilisasi.
2.7.2

Hormon pada Periode Kelahiran


Steroid-steroid Seks
Estrogen merupakan lawan progesteron untuk efek-efek ini dan mungkin
memiliki peran independen dalam pematangan serviks uteri dan
membantu kontraktilitas uterus. Jadi rasio estrogen : progesteron
mungkin merupakan suatu parameter penting. Pada sejumlah kecil
pasien, suatu peningkatan rasio estrogen : progesteron telah dibuktikan
mendahului persalinan. Jadi untuk sebagian individu, suatu penurunan
kadar progesteron ataupun peningkatan estrogen dapat memulai
persalinan. Telah dibuktikan bahwa suatu peningkatan rasio estrogen :
progesteron meningkatkan jumlah reseptor oksitosin dan celah batas
miometrium;

temuan

ini

dapat

menjelaskan

kontraksi

efektif

terkoordinasi yang mencirikan persalinan sejati.


Oksitosin
Infus oksitosin sering diberikan untuk menginduksi ataupun membantu
persalinan. Kadar oksitosin ibu maupun janin keduanya meningkat
spontan selama persalinan, namun tidak satupun yang dengan yakin
dapat dibuktikan meningkat sebelum persalinan dimulai. Data-data pada
hewan mengesankan bahwa peran oksitosin dalam mengawali persalinan
adalah akibat meningkatnya kepekaan uterus terhadap oksitosin dan
bukan karena peningkatan kadar hormone dalam plasma. Bahkan wanita
dengan diabetes insipidus masih sanggup melahirkan tanpa penambahan
oksitosin : jadi hormon yang berasal dari ibu bukan yang paling penting
di sini.
Prostaglandin
Prostaglandin F2 yang diberikan intra-amnion ataupun intravena
merupakan suatu abortifum yang efektif pada kehamilan sedini 14
minggu. Pemberian prostaglandin E2 pervagina akan merangsang
persalinan pada kebanyakan wanita hami trimester ketiga. Amnion dan
korion mengandung asam arakidonat dalam kadar tinggi, dan desidua
mengandung sintetase prostaglandin yang aktif. Prostaglandin hampir
19

pasti terlibat dalam pemeliharaan proses setelah persalinan dimulai.


Prostaglandin agaknya juga penting dalam memulai persalinan pada
beberapa keadaan, misalnya pada amnionitis atau bila selaput ketuban
"dipecahkan" oleh dokter. Prostaglandin agaknya merupakan bagian dari
jaras akhir bersama" dari persalinan.
Katekolamin
Katekolamin dengan aktivitas adrenergik 2 menyebabkan kontraksi
uterus, sementara adrenergik 2 menghambat persalinan. Progesteron
meningkatkan rasio reseptor beta terhadap reseptor alfa di miometrium,
dengan demikian memudahkan berlanjutnya kehamilan. Tidak ada bukti
bahwa

perubahan-perubahan

katekolamin

ataupun

reseptornya

mengawali persalinan, namun tampaknya perubahan-perubahan seperti


ini membantu mempertahankan persalinan bila sudah dimulai. Obat
adrenergik

beta

ritodrin

telah

dibuktikan

bermanfaat

dalam

penatalaksanaan persalinan prematur. Obat-obat adrenergik alfa tidak


bermanfaat untuk induksi persalinan dikarenakan efek samping
kardiovaskular yang ditimbulkannya.
2.7.3

Hormon pada Periode Menyusui


Prolaktin : Prolaktin (PRL) serum yang meningkat selama kehamilan
akan

menurun

pada

saat

persalinan

dimulai

dan

kemudian

memperlihatkan pola sekresi yang bervariasi tergantung apakah ibu


menyusui atau tidak. Persalinan dikaitkan dengan suatu lonjakan PRL
yang diikuti suatu penurunan cepat kadar serum dalam 7-14 hari pada
ibu-ibu yang tidak menyusui.
Pada wanita yang tidak menyusui, kembalinya fungsi dan ovulasi siklik
normal dapat diharapkan sesegera timbul pada bulan kedua postpartum,
di mana ovulasi pertama rata-rata terjadi 9-10 minggu postpartum. Pada
wanita menyusui, PRL biasanya, menyebabkan anovulasi yang menetap.
Lonjakan PRL dipercaya bekerja pada hipotalamus untuk menekan
sekresi GnRH. Pemberian GnRH eksogen pada saat ini menginduksi
respons normal dari hipofisis, dan terkadang ovulasi dapat timbul
spontan bahkan pada masa laktasi. Waktu rata-rata terjadinya ovulasi

20

pada wanita yang menyusui sedikitnya 3 bulan adalah sekitar 17 minggu.


Persentase wanita tak menyusui kembali mengalami menstruasi
rneningkat linear hingga minggu ke-12, pada saat ini 70%-nya sudah
akan kembali mengalami menstruasi. Sangat berbeda pada wanita
menyusui, di mana peningkatan linear ini jauh lebih landai dan 70%
wanita menyusui baru akan kembali mengalami menstruasi setelah
sekitar 36 minggu.
Laktasi. Lobulus-lobulus alveolar payudara berkembang selama
kehamilan. Periode mamogenesis memerlukan partisipasi terpadu dari
estrogen, progesteron, PRL, GH dan glukokortikoid. hPL mungkin pula
berperan tetapi tidak mutlak. Sekresi ASI pada masa nifas telah
dihubungkan dengan pembesaran lobulus lebih lanjut, diikuti sintesis
unsur-unsur ASI seperti laktosa dan kasein. Laktasi memerlukan PRL,
insulin dan steroid-steroid adrenal. Laktasi tidak akan terjadi sampai
kadar estrogen tak terkonjugasi jatuh di bawah kadar tak hamil sekitar
36-48 jam postpartum. PRL sangat penting untuk produksi ASI. Kerjanya
melibatkan sintesis reseptor PRL dalam jumlah besar; sintesis ini
tampaknya berjalan di bawah otoregulasi PRL karena PRL meningkatkan
jumlah reseptor pada biakan sel, dan karena bromokriptin (suatu
penghambat PRL) dapat menyebabkan penurunan kadar PRL maupun
reseptornya. Jika tidak ada PRL, sekresi ASI tidak terjadi; tetapi bahkan
pada trimester ketiga di mana kadar PRL tinggi; sekresi ASI juga tidak
terjadi sampai setelah persalinan karena terhambat oleh estrogen dalam
kadar tinggi. Sekresi ASI memerlukan rangsangan tambahan untuk
mengosongkan payudara. Suatu busur saraf perlu diaktifkan agar sekresi
ASI dapat kontinu. Ejeksi ASI terjadi sebagai respons terhadap suatu
lonjakan oksitosin yang merangsang suatu respons kontraktil otot polos
yang mengelilingi duktuli kelenjar. Pelepasan oksitosin terkadang timbul
dari rangsang yang bersifat visual, psikologis, atau alamiah yang
menyiapkan ibu untuk dihisap.

21

22

BAB III
KESIMPULAN & SARAN
3.1 Kesimpulan
Sistem reproduksi manusia terdiri dari sistem reproduksi pria dan sistem
reproduski wanita. Organ reproduksi pria terdiri dari penis, skortum (kantung
zakar), dan testis (buah zakar) pada bagian luarnya, dan vas deferens, uretra,
kelenjar prostat dan vesikula seminalis pada struktur bagian dalamnya. Struktur
dari anatomi reproduksi wanita bagian luar termasuk : mons pubis, klitoris, labia
mayor, labia minor, vestibule, uretra, dan hymen. Struktur dari anatomi
reproduksi wanita bagian dalam termasuk : uterus, tuba fallopii, ovarium,
serviks, dan vagina. Masing-masing organ reproduksi tersebut memiliki fungsi
yang sangat penting terhadap sistem reproduksi. Kemampuan reproduksi
tergantung pada hubungan antara hypothalamus, hipofisis bagian anterior, organ
reproduksi, dan sel target hormone. Pada masa pubertas akan ditandai dengan
menstruasi pada wanita dan mimpi basah pada pria. Hal ini dipengaruhi oleh
hormon-hormon seks. Selain menstruasi, wanita juga akan mengalami
kehamilan & persalinan. Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa sistem
reproduksi memiliki dampak yang sangat penting terhadap kehidupan seseorang.
3.2 Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini, dapat meningkatkan pengetahuan
tentang sistem reproduksi pada pria dan wanita. Pengetahuan mengenai seks &
seksualitas hendaknya dimiliki oleh semua orang. Dengan pengetahuan yang
dimiliki diharapkan orang tersebut akan dapat menjaga alat reproduksinya untuk
tidak digunakan secar bebas tanpa mengatahui dampaknya, Pengetahuan yang
diberikan harus mudah dipahami, tepat sasaran, dan tidak menyesatkan. Dengan
demikian orang tersebut akan dapat menghadapi rangsangan dari luar dengan
cara yang sehat, matang dan bertanggung jawab.

DAFTAR PUSTAKA

23

Tim BKKBN. (2007). Modul Kesehatan Reproduksi Remaja. Yogyakarta : BKKBN


Provinsi DIY.
Huda. (2012). Anatomy of Female Reproductive System. Diakses pada tanggal 13
Oktober 2015 pada laman : http://lectures.shanyar.com/4th_Stage
/Obstetrics/Dr._Huda/01.Anatomy_of_Female_Reproductive_System.pdf
diakses 01 Novenber 2015
Anwar, R. U. S. W. A. N. A. (2005). Sintesis, fungsi dan interpretasi pemeriksaan
hormon reproduksi. Bagian obstetri dan ginekologi, Fakultas Kedokteran
UNPAD, Bandung.
Rahmanisa, S. (2014). Steroid Sex Hormone And It's Implementation to Reproductive
Function. Juke Unila, 4(01).
Setiawan, F. E., Miranti, I. P., & Winarni, T. I. (2014). PENGARUH PAPARAN OBAT
NYAMUK

TERHADAP

GAMBARAN

HISTOPATOLOGI

SEL

LEYDIG TIKUS SPRAGUE DAWLEY. MEDIA MEDIKA MUDA, 3(1).


Aini, F. (2011). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Melalui Media
Booklet Terhadap Perubahan Pengetahuan dan Sikap Santri tentang
Kesehatan Reproduksi di Pesantren Darul Hikmah dan Pesantren Tadib
Al-Syakirin di Kota Medan Tahun 2010.
Batubara, J. R. (2010). Adolescent development (perkembangan remaja). Sari
Pediatri, 12(1), 21-9.
Sri Esti Wuryani D. (2008). Pendidikan Seks Keluarga. Jakarta : Indeks
C. Roland Lesson. (1996). Buku Ajar Histologi. Jakarta : EGC
Wildan Yatim. (1994). Reproduksi dan Embriologi untuk Mahasiswa Biologi dan
Kedokteran. Bandung : Tarsito
Ciptono. (2004). Bahan Kuliah Reproduksi dan Embriologi Hewan untuk Mahasiswa
Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Tadris MIPA Fakultas

24

Tarbiyah

Universitas

Islam

Negeri

Sunan

Kalijaga Yogyakarta.

Yogyakarta : Tanpa Penerbit

25