Anda di halaman 1dari 12

Satria Utama, Dimas Wisnu A, Johannes Parlindungan

ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN SUBSEKTOR PERIKANAN BUDIDAYA BERBASIS


MINAPOLITAN KECAMATAN SANANKULON KABUPATEN BLITAR
Satria Utama, Dimas Wisnu A, Johannes Parlindungan
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, - Indonesia Telp. (0341) 567886; Fax. (0341) 551430
E-mail : satriautama07@gmail.com

ABSTRAK
Pengembangan sektor memiliki hubungan yang kuat dengan pengembangan suatu wilayah. Berkembanganya
satu sektor unggulan pada suatu wilayah dapat merangsang sektor yang berhubungan dengannya ikut
berkembang. Selanjutnya sektor yang berhubungan tadi akan merangsang juga sektor lainnya yang terkait,
sehingga membentuk suatu sistem keterkaitan antar sektor. (Deni, 2010). Salah satu bentuk konsep
pengembangan suatu sektor yang sedang dikembangkan adalah pengembangan sektor kelautan dan perikanan
berbasis wilayah yang lebih dikenal dengan Konsep Minapolitan. Minapolitan adalah konsep pembangunan
ekonomi kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan pendekatan dan sistem manajemen kawasan
berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi, efisiensi, berkualitas, dan percepatan. Kegiatan perikanan budidaya di
Kecamatan Sanankulon belum terintegrasi dengan baik, terutama kegiatan antar subsistem yang berdampak
pada integrasi antar subsistem menjadi tidak optimal. Selain itu, belum adanya penentuan suatu kawasan yang
memiliki peran sebagai kawasan sentra yang berfungsi menampung dan melayani seluruh kegiatan perikanan
budidaya terkait komoditas perikanan budidaya. Pengaruhnya, kegiatan produksi tidak kolektif, efisien, dan
efektif. Nilai bobot pada AHP menunjukkan tingkat prioritas dari tiap variabel. Berdasarkan pada nilai bobot
total variabel tersebut, maka variabel sarana dan prasarana merupakan prioritas utama pengembangan.
Sedangkan variabel kebijakan merupakan prioritas terakhir pengembangan. Berdasarkan potensi dan masalah
yang ada, kajian ini diharapkan dapat menggali dan memajukan potensi kawasan subsektor perikanan budidaya
dari Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar. Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya dan
juga mendukung Kabupaten Blitar sebagai kawasan minapolitan.
Kata Kunci: Pengembangan Wilayah, Minapolitan
ABSTRACT
The development sector related strongly with the region development. Development of the leading sectors in an
area can stimulate the associated sector evolved. Furthermore, earlier related sectors will stimulate other
associated sectors, thus forming a linkage systems between sectors. (Deni, 2010). One of the development
concept which is being developed is the development of fisheries and maritime sector based on the region. It is
known as the concept of minapolitan. Minapolitan is the concept of fisheries and maritime economic
development based on the region with an area management system and approach. Those system and
management are based on the principles of integration, efficiency, good quality and acceleration. Aquaculture
activities in Sanankulon district does not well integrated yet, especially the inter-subsystem activities which
effect negative impact to the integration between subsystem become not optimal. There's still no establishment
yet for an area that has the role as the central which is practical for mend and serve all of the aqua-culture
activities. The impact is the production activity become not collective, effective and efficient. The value weights
on AHP indicates the level of priority from each variables. Based on the total value of the variables, then
infrastructure variable is the main priority of the development, while the policy variable is the last priority of the
development. Based on the existing potencies and problems, this study is expected to explores and promotes
the potency of aqua-culture subsector area from the Sanankulon subdistrict of Blitar regency, so it can improves
the society well-being and also supports Blitar regency as minapolitan.
Keywords: Regional Development, Minapolitan

PENDAHULUAN
Pengembangan
sektor
memiliki
hubungan yang kuat dengan pengembangan
suatu wilayah. Berkembanganya satu sektor

unggulan pada suatu wilayah dapat merangsang


sektor yang berhubungan dengannya ikut
berkembang.
Selanjutnya
sektor
yang
berhubungan tadi akan merangsang juga sektor
lainnya yang terkait, sehingga membentuk suatu

Planning for Urban Region and Environment Volume 3, Nomor3, Juli 2014

ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN SUBSEKTOR PERIKANAN BUDIDAYA BERBASIS MINAPOLITAN KECAMATAN SANANKULON
KABUPATEN BLITAR

sistem keterkaitan antar sektor. (Deni, 2010).


Salah satu bentuk konsep pengembangan suatu
sektor yang sedang dikembangkan adalah
pengembangan sektor kelautan dan perikanan
berbasis wilayah yang lebih dikenal dengan
Konsep Minapolitan.
Kecamatan
Sanankulon
merupakan
wilayah SSWP B dengan salah satu kegiatan
utama pengembangan budidaya perikanan
darat. (Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Blitar Tahun 2008 2028). Komoditas perikaan
yang dibudidayakan pada kecamatan ini adalah
budidaya komoditas ikan konsumsi dan budidaya
komoditas ikan hias. Berdasarkan data
Kabupaten Blitar dalam angka tahun 2011, nilai
produktivitas dari masing-masing komoditas
senilai 792 juta rupiah untuk budidaya
komoditas ikan konsumsi dan 87 miliar rupiah
untuk budidaya komoditas ikan hias.
Sebagai salah satu kecamatan yang
memiliki komoditas perikanan budidaya dengan
nilai produktivitas kedua tertinggi, Kecamatan
Sanankulon belum memiliki pedoman teknis
untuk pengembangan kawasan perikanan
budidaya. Pedoman teknis pengembangan
kawasan perikanan budidaya hanya ditujukan
pada kecamatan lain yaitu Kecamatan Nglegok.
Akibatnya, dalam pengembangan perikanan
budidaya, Kecamatan Sanankulon masih lemah
dalam keterkaitan internal antar subsistem
minabisnis perikanan budidaya.
Lemahnya
keterkaitan
tersebut
berdampak pada integrasi antar subsistem
menjadi tidak optimal. Dapat dikatakan, belum
adanya penentuan suatu kawasan yang memiliki
peran sebagai kawasan sentra yang berfungsi
sebagai kawasan yang menampung dan
melayani seluruh kegiatan perikanan budidaya
terkait
komoditas
perikanan
budidaya.
Pengaruhnya, kegiatan produksi tidak kolektif,
efisien, dan efektif.
Kajian ini diharapkan dapat menggali dan
memajukan
potensi
kawasan
subsektor
perikanan budidaya dari Kecamatan Sanankulon
Kabupaten Blitar. Sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan
masayarakat
Kecamatan
Sanankulon dan juga mendukung Kabupaten
Blitar sebagai kawasan minapolitan.
METODE PENELITIAN
Variabel Penelitian
Variabel penelitian yang digunakan untuk
menjawab permasalahn dalam studi arahan
2

pengembangan kawasan subsektor perikanan


budidaya berbasis minapolitan di Kecamatan
Sanankulon Kabupaten Blitar adalah sebagai
berikut:
Tabel 1. Variabel penelitian
Tujuan
Mengetahui
kesiapan
kawasan
subsektor perikanan budidaya di Kec.
Sanankulon Kab. Blitar sebagai
Kawasan Minapolitan

Mengetahui
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
pengembangan
kawasan
subsektor
perikanan
budidaya di Kec. Sanankulon Kab.
Blitar

Menyusun arahan pengembangan


subsektor
perikanan
budidaya
berbasis
minapolitan
di
Kec.
Sanankulon Kab. Blitar

Variabel
Kondisi geografis
Komoditas unggulan
Subsistem minabisnis
hulu
Subsistem minabisnis
on-farm
Subsistem minabisnis
hilir
Subsistem minabisnis
penunjang
Komitmen daerah
Kelembagaan
Kebijakan
Data dan informasi
Kondisi geografis
Subsistem minabisnis
hulu
Subsistem minabisnis
on-farm
Subsistem minabisnis
hilir
Subsistem minabisnis
penunjang
Kebijakan
Kegiatan
perikanan
budidaya
Struktur tata ruang
perikanan budidaya

Populasi dan Sampel


Populasi dalam penelitian ini adalah para
pembudidaya ikan di Kecamatan Sanankulon
Kabupaten Blitar. Adapun jumlah para
pembudidaya ikan di Kecamatan Sanankulon
Kabupaten Blitar sebanyak 172 orang. yaitu 93
orang pembudidaya ikan konsumsi dan 79 orang
pembudidaya ikan hias.
Dalam penelitian ini, pengambilan sampel
dilakukan
dengan
menggunakan
teknik
probability sampling dan non probability
sampling. Teknik probability sampling yang
digunakan adalah teknik random sampling,
sedangkan non probability sampling yang
digunakan adalah teknik purposive sampling.
Analisis statistik deskriptif
Metode analisis statistik deskriptif
merupakan statistik yang digunakan untuk
menganalisis data dengan cara mendeskripsikan
atau menggambarkan data yang telah terkumpul
sebagaimana
adanya
tanpa
bermaksud
membuat kesimpulan yang berlaku untuk
umum. (Sugiyono, 2010). Output dari analisis
statistik deskriptif merupakan karakteristik dari
Kecamatan Sanankulon.

Planning for Urban Region and Environment Volume 3, Nomor3, Juli 2014

Satria Utama, Dimas Wisnu A, Johannes Parlindungan

Analisis evaluatif
Metode
analisis
evaluatif
yang
digunakan pada penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kesiapan kecamatan sebagai
kawasan sebagai kawasan minapolitan, urutan
prioritas pengembangan, struktur dan pola
ruang subsektor perikanan budidaya di
Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kesiapan
Kawasan
Minapolitan

Sebagai

Kawasan

Kesesuaian dengan Rencana Kebijakan


Kesesuaian dengan rencana kebijakan
merupakan salah satu persyaratan sebagai
kawasan minapolitan. Kesesuaian ini merupakan
bentuk dukungan pemerintah berupa arahan
rencana dari pemerintah terkait pengembangan
perikanan budidaya di Kecamatan Sanankulon
Kabupten Blitar.
Tabel 2. Kesesuaian dengan kriteria kesiapan
kawasan minapolitan dari aspek rencana
kebijakan
Kriteria kesiapan Kawasan
Minapolitan
Kesesuaian dengan salah
satu rencana yaitu:
Rencana Strategis
Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW)
Rencana Zonasi, dan/
atau Rencana Zonasi
Pengelolaan
Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil Kabupaten atau
Kota (RZWP-3-K)
Rencana Pembangunan
Investasi
Jangka
Menengah Daerah.

Kesesuaian dengan Rencana


Kebijakan
Di dalam Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW)
Kabupaten Blitar Tahun
2008-2028,
Kecamatan
Sanankulon merupakan sub
satuan wilayah B, dengan
salah satu kegiatan utama
pengembangan perikanan
budidaya darat.

Berdasarkan pada penjabaran di atas,


kesesuaian kawasan perikanan budidaya di
Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar
terhadap kriteria kesiapan kawasan minapolitan
adalah kurang siap, karena kawasan perikanan di
Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar hanya
masuk ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Blitar.

komoditas tersebut. Tahap berikutnya dilakukan


Analisis Growth-Share. Tujuannya, untuk
mengetahui laju pertumbuahan dan kontribusi
komoditas tersebut terhadap wilayah.
Tabel 3. Kesesuaian dengan kriteria kesiapan
kawasan minapolitan dari aspek keberadaan
komoditas unggulan
Kriteria Kesiapan Kawasan
Minapolitan
Memiliki komoditas unggulan
dibidang
kelautan
dan
perikanan
dengan
nilai
ekonomi tinggi, meliputi :
Keberadaan
komoditas
unggulan, yaitu melimpah
atau dapat dibudidayakan
dengan
baik dengan
prospek pengembangan
tinggi di masa depan.
Keberadaan
komoditas
ditunjukkan melalui nilai
LQ dan Growth-Share
Nilai
perdagangan
komoditas tinggi. Nilai
perdagangan ditunjukkan
oleh
besaran
nilai
produksi.

Keberadaan Komoditas
Unggulan
Komoditas ikan hias
merupakan
komoditas
unggulan. Dapat dilihat
dari nilai LQ sebesar
1,098 dan nilai GrowthShare yang positif
Nilai
perdagangan
komoditas ikan hias lebih
tinggi di bandingkan nilai
komoditas
ikan
konsumsi,
yaitu
mencapai 97 milyar
rupiah.

Berdasarkan pada penjabaran di atas,


kesesuaian kawasan perikanan budidaya di
Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar
terhadap kriteria kesiapan kawasan minapolitan
adalah siap, karena memiliki komoditas ikan hias
sebagai komoditas unggulan dengan nilai
perdagangan teritnggi. Kondisi eksisting tersebut
sesuai dengan kriteria kesiapan kawasan
minapolitan.
Kondisi Geografis
Kondisi
geografis
merupakan
persyaratan dalam penetapan kawasan sebagai
kawasan
minapolitan.
Kondisi
geografis
ditunjukkan oleh curah hujan di Kecamatan
Sanankulon, topografi di Kecamatan Sanankulon
yang terdiri dari ketinggian dan kelerengan, dan
jenis tanah di Kecamatan Sanankulon.

Komoditas Unggulan
Keberadaan
komoditas
unggulan
merupakan persyaratan suatu kawasan sebagai
kawasan minapolitan. Penentuannya komoditas
menggunakan metode Analisis Locatioanl
Quotient (LQ). Setelah menentukan kebasisan

Gambar 1. Peta Curah Hujan Kecamatan


Sanankulon

Planning for Urban Region and Environment Volume 3, Nomor3, Juli 2014

ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN SUBSEKTOR PERIKANAN BUDIDAYA BERBASIS MINAPOLITAN KECAMATAN SANANKULON
KABUPATEN BLITAR

Curah hujan merupakan salah satu


faktor yang berpengaruh terhadap kegiatan
budidaya ikan koi, terutama kesehatan ikan.
Pengaruh curah hujan terletak pada kondisi air
yaitu pH air, suhu air, dan tingginya permukaan
air. Jika pH dan suhu air berubah secara drastis,
ikan akan mudah terserang penyakit dan
kebanyakan mati. Sedangkan tinggi permukaan
air jika berubah secara drastis akan
menyebabkan banjir pada kolam-kolam ikan.
Berdasarkan klasifikasi Permen Pekerjaan Umum
No. 41/ PRT/ M/ 2007, curah hujan di Kecamatan
Sanankulon berada pada klasifikasi hujan rendah
yaitu antara 13,6 20,7 mm/ hari.

Gambar 2. Peta Ketinggian Kecamatan


Sanankulon

dengan 800 m di atas permukaan laut. Kemudian


kelerengan yang dibutuhkan antar 0 5 %.

Gambar 4. Peta Jenis Tanah Kecamatan


Sanankulon
Terdapat sekitar 6 jenis tanah di
Kabupaten Blitar, yaitu jenis tanah Alluvial, jenis
tanah Regosol, jenis tanah Litosol, jenis tanah
Mediteran, jenis tanah Refina, jenis tanah
Latosol, dan jenis tanah Indosol.
Jenis tanah yang penyebarannya paling
luas di Kabupaten Blitar adalah jenis tanah
litosol, mediteran, dan refina. Kecamatan
Sanankulon terdiri dari dua jenis tanah, yaitu
litosol dan regosol. Jenis tanah litosal dan
regosol merupakan jenis tanah yang dapat
digunakan untuk fungsi budidaya namun perlu
pengolahan kembali dalam pemanfaatannya.
Luas jenis tanah untuk litosol kurang lebih
sebesar 75% dari total luas wilayah Kecamatan
Sanankulon.
Tabel 4. Kesesuaian dengan kriteria kesiapan
kawasan minapolitan dari aspek kondisi
geografis

Gambar 3. Peta Kelerengan Kecamatan


Sanankulon
Desa-desa yang berada di Kecamatan
Sanankulon memiliki ketinggian bervariasi antara
242 245 meter di atas permukaan laut.
Sebagian besar wilayahnya merupakan dataran
rendah dengan permukaan dan kelerengan
datar. Kondisi kelerengan di Kecamatan
Sanankulon adalah datar-landai, dengan
kemiringan 0 2 %. Ketinggian dan kemiringan
lahan di Kecamatan Sanankulon sudah sesuai
dengan ketinggian dan kelerengan untuk
perikanan budidaya, yaitu kurang lebih sama
4

Kriteria kesiapan Kawasan


Minapolitan
Letak geografis kawasan
yang stategis dan secara
alami
memenuhi
persyaratan
untuk
pengembangan
produk
unggulan kelautan dan
perikanan.
Kriteria
ini
ditinjau
dari
kondisi
geografis yaitu:
Curah hujan tidak
ekstrim
Topografi ditinjau dari
kelerengan
dan
ketinggian yang sesuai
dengan komoditas
Jenis tanah yang subur.

Kesesuaian Kondisi Geografis


Curah
hujan
pada
Kecamatan
Sanankulon
berada pada klasifikasi
intensitascurah
hujan
rendah. Karena berada
pada kisaran 13,6 20,7
mm/ hari.
Ketinggian dan kelerengan
Kecamatan
Sanankulon
berada pada ketinggian dan
kelerangan yang cocok
untuk budidaya ikan hias
koi.
Jenis
tanah
pada
Kecamatan
Sanankulon
merupakan jenis tanah
subur yaitu litosol dan
regosol. Jenis tanah ini
cocok bagi budidaya ikan
hias
koi
karena
memudahkan ikan dalam
memenuhi
kebutuhan
makannya.

Planning for Urban Region and Environment Volume 3, Nomor3, Juli 2014

Satria Utama, Dimas Wisnu A, Johannes Parlindungan

Berdasarkan pada penjabaran di atas,


kesesuaian kawasan perikanan budidaya di
Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar
terhadap kriteria kesiapan kawasan minapolitan
adalah siap, karena mendukung kondisi alami
pengembangan komoditas unggulan.
Kelayakan Lingkungan
Kelayakan
lingkungan
merupakan
persyaratan dalam penetapan kawasan sebagai
kawasan minapolitan. Kelayakan lingkungan
dilihat berdasarkan kesesuaian lahan dan
ketersediaan lahan.
Analisis kesesuaian lahan bertujuan
untuk mengetahui lokasi lahan pengembangan
yang tepat bagi perikanan budidaya. Analisis ini
mencakup
kesesuaian
kondisi
geografis
Kecamatan Sanankulon dengan kelas kesesuaian
lahan yang telah ditetapkan dalam Permen
Pekerjaan Umum No. 41/ PRT/ M/ 2007. Kriteria
kelerangan, Kecamatan Sanankulon berada pada
kelas 1 dengan bobot 40. Kemudian untuk curah
hujan, Kecamatan Sanankulon berada pada kelas
2 dengan bobot 10. Kelas jenis tanah untuk
Kecamatan Sanankulon yaitu berada di kelas 5
dengan bobot 25.

yang tersedia untuk pengembangan budidaya


ikan koi. Analisis ini merupakan hasil overlay dari
peta kesesuaian lahan dengan penggunaan lahan
permukiman dan lahan pertanian pangan
berkelanjutan. Berdasarkan hasil overlay, lahan
untuk pengembangan budidaya ikan koi yang
tersedia sebesar 1095 Ha.

Gambar 6. Peta Penggunaan Lahan Permukiman


Kecamatan Sanankulon

Tabel 5. Bobot Fisik Dasar di Kecamatan


Sanankulon
Kriteria
Curah hujan
Kelerengan
Jenis tanah
Jumlah

Kelas
2
1
5

Bobot
40
10
25
75

Berdasarkan jumlah bobot tersebut,


Kecamatan Sanankulon masuk ke dalam kelas
interval 45 105. Interval tersebut merupakan
kelas interval untuk kawasan budidaya.

Gambar 7. Peta Penggunaan Lahan Non


Permukiman Kecamatan Sanankulon

Gambar 8. Peta Ketersediaan Lahan Kecamatan


Sanankulon

Gambar 5. Peta Kesesuaian Lahan Kecamatan


Sanankulon
Analisis ketersediaan lahan merupakan
analisis untuk mengetahui luas lahan potensial

Berdasarkan hasil overlay dari peta


kesesuaian lahan dengan lahan permukiman dan
lahan pertanian pangan berkelanjutan yang
telah dilakukan, lahan sesuai yang tesedia untuk
pengembangan budidaya ikan koi sebesar 1095
Ha. Adapun lahan tersebut merupakan lahan

Planning for Urban Region and Environment Volume 3, Nomor3, Juli 2014

ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN SUBSEKTOR PERIKANAN BUDIDAYA BERBASIS MINAPOLITAN KECAMATAN SANANKULON
KABUPATEN BLITAR

dengan fungsi persawahan, perkebunan, dan


lain-lain.

terpenuhi. Salah satunya penyediaan peralatan


dan obat bagi kesehatan ikan.

Tabel 6. Kesesuaian dengan kriteria kesiapan


kawasan minapolitan dari aspek kelayakan
lingkungan

Tabel 7. Kesesuaian dengan Kriteria Kesiapan


Kawasan Minapolitan dari Aspek Keberadaan
Mata Rantai Kegiatan Perikanan

Kriteria kesiapan Kawasan


Minapolitan
Kelayakan
lingkungan
diukur berdasarkan daya
dukung dan daya tampung
lingkungan. Daya dukung
ditinjau dari kesesuaian
lahan untuk kawasan
budidaya. Daya tampung
ditinjau dari ketersediaan
lahan.

Kelayakan Lingkungan
Seluruh kawasan Kecamatan
Sanankulon
merupakan
kawasan dengan fungsi
kawasan budidaya.
Ketersediaan lahan untuk
pengembangan
kawasan
perikanan budidaya sebesar
1095 Ha.

Berdasarkan pada penjabaran di atas,


kesesuaian kawasan perikanan budidaya di
Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar
terhadap kriteria kesiapan kawasan minapolitan
adalah siap, karena memiliki daya dukung dan
daya tampung untuk pengembangan komoditas
unggulan.
Keberadaan Mata Rantai Kegiatan Perikanan
Budidaya
Keberadaan
mata
rantai
kegiatan
perikanan budidaya merupakan persyaratan
dalam penetapan kawasan sebagai kawasan
minapolitan. Mata rantai merupakan subsistem
minabisnis perikanan budidaya ikan koi di
Kecamatan Sanankulon, mulai dari kegiatan
menyediakan input hingga kegiatan pemasaran.
Karakteristik subsistem minabisnis tersebut
meliputi karakteristik subsistem minabisnis hulu,
subsistem minabisnis on-farm, dan subsistem
minabisnis hilir.
Subsistem minabisnis hulu terdiri dari
ketersediaan dan kualitas benih, ketersediaan
pakan dan obat,dan ketersediaan peralatan
budidaya. Subsistem on-farm terdiri dari
ketersediaan lahan, ketersediaan modal,
ketersediaan tenaga kerja, dan proses produksi
mulai dari pembenihan, pembesaran, dan
panen. Subsistem minabisnis hilir terdiri dari
informasi pemasaran produk melalui kelompok
pembudidaya dan distribusi pemasaran produk
di dalam maupun diluar negeri.
Berdasarkan
kesesuaian
kawasan
perikanan budidaya di Kecamatan Sanankulon
Kabupaten Blitar terhadap kriteria kesiapan
kawasan minapolitan adalah kawasan perikanan
budidaya di Kecamatan Sanankulon kurang siap.
Kurang siap karena masih terdapat mata rantai
kegiatan perikanan budidaya yang belum

Kriteria kesiapan Kawasan


Minapolitan
Terdapat sistem mata rantai
kegiatan yaitu mulai dari hulu,
on-farm, dan hilir yang saling
terkait.
Hulu meliputi:
Ketersediaan dan kualitas
benih
Ketersediaan pakan dan
obat
Ketersediaan peralatan
budidaya
On-farm meliputi:
Ketersediaan lahan
Ketersediaan modal
Ketersediaan tenaga kerja
Proses produksi
Hilir meliputi:
Informasi
pemasaran
produk
Distribusi
pemasaran
produk

Keberadaan Mata Rantai


Kegiatan Perikanan
Ketersediaan benih ikan
koi
di
Kecamatan
Sanankulon
sudah
terpenuhi
melalui
pembenihan
yang
dilakukan sendiri oleh
para pembudidaya.
Untuk
pakan
sudah
terpenuhi namun untuk
obat belum tersedia.
Untuk obat para petani
harus
pergi
keluar
kecamatan
untuk
membelinya.
Ketersediaan peralatan
budidaya untuk ikan koi
di Kecamatan Sanankulon
belum lengkap karena
para pembudidaya masih
harus pergi ke luar
kecamatan
untuk
memenuhi
beberapa
peralatan.
Lahan
sesuai
yang
tersedia
untuk
pengembangan
perikanan budidaya ikan
koi sebesar 1095 Ha.
Modal sudah tersedia
baik yang berasal dari
pribadi maupun dari
injaman bank.
Ketersediaan tenaga kerja
mudah terpenuhi karena
tidak melihat dari segi
tingkat
pendidikan
maupun usia.
Proses produksi ikan koi,
kegiatan
pembenihan
dilakukan secara terpisah
dengan
untuk
pembesaran
hingga
panen.
Informasi
mengenai
pemasaran
dilakukan
melelui
kelompokkelompok pembudidaya.
Distribusi
pemasaran
sudah mencapai luar
daerah dan luar negeri.
Namun masih terdapat
kendala untuk distribusi
ke luar negeri.

Keberadaan Fasilitas Pendukung


Keberadaan
fasilitas
pendukung
merupakan persyaratan kesiapan kawasan
sebagai kawasan minapolitan dan subsistem
minabisnis penunjang kegiatan subsistem
minabisnis hulu, on-farm, dan subsistem
minabisnis hilir. Adapun fungsi dari subsistem ini

Planning for Urban Region and Environment Volume 3, Nomor3, Juli 2014

Satria Utama, Dimas Wisnu A, Johannes Parlindungan

adalah untuk mendukung seluruh kegiatan


perikanan budidaya. Subsistem minabisnis
penunjang terdiri dari sarana pasar, sarana balai
benih ikan, sarana uji kualitas ikan, sarana
penyediaan peralatan, sarana penyediaan pakan
dan obat, sarana penyediaan modal, penyuluhan
dan pelatihan, dan kelembagaan.
Tabel 8. Kesesuaian Dengan Kriteria Kesiapan
Kawasan Minapolitan dari Aspek Keberadaan
Fasilitas Pendukung
Kriteria kesiapan Kawasan
Minapolitan
Tersedia fasilitas pendukung,
yaitu:
Sarana sub raiser
Sarana uji kualitas ikan
Sarana
penyedia
peralatan budidaya
Sarana penyedia pakan
dan obat
Sarana penyedia modal
Penyuluhan
dan
pelatihan
Kelembagaan
Pembudidaya
Infrastruksur
yang
memadai

Keberadaan Fasilitas
Pendukung
Belum tersedia sarana
sub raiser di Kecamatan
Sanankulon
Belum tersedia sarana uji
kualitas
ikan
di
Kecamatan Sanankulon
Sarana
penyedia
peralatan budidaya sudah
tersedia namun belum
lengkap dalam memenuhi
kebutuhan
peralatan
budidaya
para
pemudidaya.
Untuk sarana penyedia
pakan sudah tersedia
namun untuk sarana
penyedia obat belum
tersedia.
Sarana penyedia modal
sudah tersedia.
Penyuluhan dan pelatihan
sudah tersedia.
Kelembagaaan
sudah
tersedia,
berupa
gabungan
kelompok
pembudidaya.
Infrastruktur
untuk
pengairan
berkondisi
baik.
Infrastrukur
jalan
berkondisi cukup baik.
Infrastruktur listrik sudah
terlayani.

Berdasarkan pada penjabaran di atas,


kesesuaian kawasan perikanan budidaya di
Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar
terhadap kriteria kesiapan kawasan minapolitan
adalah kurang siap, karena masih ada yang
belum lengkap dan terpenuhi. Terdapat sarana
yang belum tersedia dan penyediaan jasa obat
dan peralatan yang masih kurang.
Komitmen Daerah
Komitmen daerah merupakan salah satu
syarat kesiapan kawasan sebagai kawasan
minapolitan. Ini merupakan bentuk dukungan
pemerintah daerah. Adapun komitmen daerah
mengenai pengembangan suatu kawasan
perikanan sebagai kawasan minapolitan
meliputi:

a) Kesesuaian dengan Rencana Strategis


dan Tata Ruang Daerah dan Nasional,
b) Masuk ke dalam RPIJM,
c) Penetapan oleh bupati,
d) Penyusunan rencana induk, rencana
pengusahaan, dan rencana tindak,
e) Kontribusi anggaran APBD atau sumber
dana lain yang sah,
f) Keberadaan kelembagaan dinas yang
membidangi kelautan dan perikanan
dengan dukungan SDM yang memadai
g) Koordinasi dengan provinsi pusat
Komitmen tersebut sudah ada namun
belum seluruhnya mengarah kepada Kecamatan
Sanankulon. fokus komitmen tesebut masih
kepada kecamatan lain yaitu Kecamatan
Nglegok.
Tabel 9. Kesesuaian Dengan Kriteria Kesiapan
Kawasan Minapolitan dari Aspek Komitmen
Daerah
Kriteria kesiapan Kawasan
Minapolitan
Adanya komitmen daerah,
berupa
kontribusi
pembiayaan, personil, dan
fasilitas
pengelolaan
dan
pengembangan minapolitan,
meliputi:
Kesesuaian
dengan
Rencana Strategis dan
Tata Ruang Daerah dan
Nasional,
Masuk ke dalam RPIJM,
Penetapan oleh bupati,
Penyusunan
rencana
induk,
rencana
pengusahaan,
dan
rencana tindak,
Kontribusi anggaran APBD
atau sumber dana lain
yang sah,
Keberadaan kelembagaan
dinas yang membidangi
kelautan dan perikanan
dengan dukungan SDM
yang memadai
Koordinasi
dengan
provinsi pusat

Komitmen Daerah
Seluruh
komitmen
daerah tersebut sudah
ada,
namun
belum
seluruhnya
mengarah
kepada
Kecamatan
Sanankulon. fokus masih
kepada kecamatan lain
yaitu
Kecamatan
Nglegok.

Berdasarkan pada penjabaran di atas,


kesesuaian kawasan perikanan budidaya di
Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar
terhadap kriteria kesiapan kawasan minapolitan
adalah belum siap, karena seluruhnya masih
fokus kepada kecamatan lain.
Keberadaan Kelembagaan Pemerintah Daerah
Persyaratan suatu kawasan sebagai
kawasan
minapolitan
harus
memiliki
kelembagaan daerah yang bertanggung jawab
dibidang kelautan dan perikanan. Kelembagaan

Planning for Urban Region and Environment Volume 3, Nomor3, Juli 2014

ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN SUBSEKTOR PERIKANAN BUDIDAYA BERBASIS MINAPOLITAN KECAMATAN SANANKULON
KABUPATEN BLITAR

daerah yang dimaksudkan disini meliputi satuan


kerja perangkat desa dan kelompok kerja yang
menangani
pengembangan
kawasan
minapolitan. Kelembagaan daerah di Kecamatan
Sanankulon adalah dinas kelautan dan perikanan
Kabupaten Blitar. Dinas kelautan dan perikanan
tersebut berperan sebagai fasilitator bagi para
pembudidaya.
Tabel 10. Kesesuaian Dengan Kriteria Kesiapan
Kawasan Minapolitan dari Aspek Keberadaan
Kelembagaan Pemerintah Daerah
Kriteria Kesiapan Kawasan
Minapolitan
Keberadaan
kelembagaan
pemerintah daerah yang
bertanggung jawab dibidang
kelautan dan perikanan,
meliputi:
Keberadaaan satuan kerja
perangkat desa (SKPD)
yaitu
dinas
yang
bertanggung
jawab
dibidang kelautan dan
perikanan.
Kelompok kerja yang
menangani
pengembangan kawasan
minapolitan.

Keberadaan Kelembagaan
Pemerintah Daerah
Kelembagaan pemerintah
daerah yang bertanggung
jawab dibidang kelautan
dan perikanan sudah ada
yaitu Dinas Kelautan dan
Perikanan
Kabupaten
Blitar.
Sedangkan
kelompok kerja yang
menangani
pengembangan kawasan
minapolitan belum ada.

Berdasarkan pada penjabaran di atas,


kesesuaian kawasan perikanan budidaya di
Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar
terhadap kriteria kesiapan kawasan minapolitan
adalah belum siap, karena belum semua kriteria
terpenuhi.
Ketersediaan Data dan Informasi Kawasan
Persyaratan suatu kawasan sebagai
kawasan minapolitan yang terakhir adalah
ketersediaan data dan informasi kawasan.
Ketersediaan data dan informasi yang
dimaksudkan disini adalah ketersediaan
mengenai data dan informasi mengenai potensi
dan kawasan perikanan budidaya, meliputi:
a) Data dan informasi sumberdaya kelautan
dan perikanan serta data dan informasi
lain yang terkait.
b) Mempunyai sistem pencatat data statistik
dan geografis dibidang kelautan dan
perikanan.
Ketersediaan data dan informasi terkait
potensi perikanan budidaya di Kecamatan
Sanankulon meliputi dua kriteria di atas sudah
tersedia. Namun masih belum lengkap dalam
penyajiannya. Data dan informasi sumberdaya
kelautan dan perikanan yang masih belum
lengkap. Salah satu data yang belum lengkap
adalah data mengenai kolam.
8

Tabel 11. Kesesuaian Dengan Kriteria Kesiapan


Kawasan Minapolitan dari Aspek Ketersediaan
Data dan Informasi Kawasan
Kriteria kesiapan Kawasan
Minapolitan
Ketersediaan
data
dan
informasi tentang kondisi dan
potensi kawasan, meliputi:
Mempunyai data dan
informasi
mengenai
sumber daya kelautan
dan perikanan serta data
dan informasi terkait.
Mempunyai
sistem
pencatat data statistik
dan geografis di bidang
kelautan dan perikanan.

Ketersediaan Data dan


Informasi Kawasan
Ketersediaan data dan
informasi tentang kondisi
dan potensi kawasan di
Kecamatan Sanankulon
terkait
perikanan
budidaya sudah tersedia.
Namun masih belum
lengkap
dalam
penyajiaannya.

Berdasarkan pada penjabaran di atas,


kesesuaian kawasan perikanan budidaya di
Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar
terhadap kriteria kesiapan kawasan minapolitan
adalah sudah siap, hanya perlu perbaikan dalam
penyajiaannya.
Kesiapan Kecamatan Sanankulon Sebagai
Kawasan Minapolitan
Kesiapan ditinjau berdasarkan syaratsyarat yang telah ditetapkan dalam Keputusan
Menteri No. 18 Tahun 2011. Untuk mengetahui
jumlah nilai total masuk ke dalam kategori siap,
kurang siap, atau tidak siap dilakukan pembagian
interval kelas terlebih dahulu. Pembagian
interval
dilakukan
dengan
perhitungan
menggunakan Rumus Walpole yaitu:
= (Jumlah Tertinggi Jumlah Terendah) / Jumlah
Interval
Berdasarkan pada rumus tersebut maka
interval untuk kesiapan kawasan perikanan
budidaya Kecamatan Sanankulon sebagai
kawasan minapolitan adalah:
= (27 9) / 3
=6
Setelah itu dibuat klasifikasi kelas
dengan interval tersebut. Adapun kelas dibagi
menjadi 3 yaitu tidak siap, kurang siap, dan siap:
Tabel 13.
Minapolitan

Interval

Interval Kelas
9 15
16 22
23 29

Kesiapan

Kawasan

Hierarki Fungsi Kawasan


Tidak Siap
Kurang Siap
Siap

Skor total berada pada interval 16 22.


Interval tersebut menunjukkan bahwa, kawasan
perikanan budidaya di Kecamatan Sanankulon
kurang siap sebagai kawasan minapolitan. Perlu
adanya perbaikan untuk memenhi persyaratan.

Planning for Urban Region and Environment Volume 3, Nomor3, Juli 2014

Satria Utama, Dimas Wisnu A, Johannes Parlindungan

Tabel 12. Kesiapan Kawasan Sanankulon Sebagai Kawasan Minapolitan


Kondisi Eksisting
Di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Kecamatan Sanankulon merupakan sub satuan wilayah B, dengan salah satu kegiatan utama pengembangan
perikanan budidaya darat.
Komoditas ikan hias merupakan komoditas unggulan. Dapat dilihat dari nilai LQ sebesar 1,098 dan nilai Growth-Share yang positif
Nilai perdagangan komoditas ikan hias lebih tinggi di bandingkan nilai komoditas ikan konsumsi, yaitu mencapai 97 milyar rupiah.
Curah hujan pada Kecamatan Sanankulon berada pada klasifikasi intensitascurah hujan rendah. Karena berada pada kisaran 13,6 20,7 mm/ hari.
Ketinggian dan kelerengan Kecamatan Sanankulon berada pada ketinggian dan kelerangan yang cocok untuk budidaya ikan hias koi.
Jenis tanah pada Kecamatan Sanankulon merupakan jenis tanah subur yaitu litosol dan regosol. Jenis tanah ini cocok bagi budidaya ikan hias koi karena
memudahkan ikan dalam memenuhi kebutuhan makannya.
Ketersediaan benih ikan koi di Kecamatan Sanankulon sudah terpenuhi melalui pembenihan yang dilakukan sendiri oleh para pembudidaya.
Untuk pakan sudah terpenuhi namun untuk obat belum tersedia. Untuk obat para petani harus pergi keluar kecamatan untuk membelinya.
Ketersediaan peralatan budidaya untuk ikan koi di Kecamatan Sanankulon belum lengkap karena para pembudidaya masih harus pergi ke luar kecamatan
untuk memenuhi beberapa peralatan.
Lahan sesuai yang tersedia untuk pengembangan perikanan budidaya ikan koi sebesar 1095 Ha.
Modal sudah tersedia baik yang berasal dari pribadi maupun dari pinjaman bank.
Ketersediaan tenaga kerja mudah terpenuhi karena tidak melihat dari segi tingkat pendidikan maupun usia.
Proses produksi ikan koi, kegiatan pembenihan dilakukan secara terpisah dengan untuk pembesaran hingga panen.
Informasi mengenai pemasaran dilkaukan melelui kelompok-kelompok pembudidaya.
Distribusi pemasaran sudah mencapai luar daerah dan luar negeri. Namun masih terdapat kendala untuk distribusi ke luar negeri.
Belum tersedia sarana sub raiser di Kecamatan Sanankulon
Belum tersedia sarana uji kualitas ikan di Kecamatan Sanankulon
Sarana penyedia peralatan budidaya sudah tersedia namun belum lengkap dalam memenuhi kebutuhan peralatan budidaya para pemudidaya.
Untuk sarana penyedia pakan sudah tersedia namun untuk sarana penyedia obat belum tersedia.
Sarana penyedia modal sudah tersedia.
Penyuluhan dan pelatihan sudah tersedia.
Kelembagaaan sudah tersedia, berupa gabungan kelompok pembudidaya.
Infrastruktur untuk pengairan berkondisi baik.
Infrastrukut jalan berkondisi cukup baik.
Infrastruktur listrik sudah terlayani
Seluruh kawasan Kecamatan Sanankulon merupakan kawasan dengan fungsi kawasan budidaya.
Ketersediaan lahan untuk pengembangan kawasan perikanan budidaya sebesar 1095 Ha.
Seluruh komitmen daerah tersebut sudah ada, namun belum mengarah kepada Kecamatan Sanankulon. fokus masih kepada kecamatan lain yaitu
Kecamatan Nglegok.
Kelembagaan pemerintah daerah yang bertanggung jawab dibidang kelautan dan perikanan sudah ada yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten
Blitar. Sedangkan kelompok kerja yang menangani pengembangan kawasan minapolitan belum ada.
Ketersediaan data dan informasi tentang kondisi dan potensi kawasan di Kecamatan Sanankulon terkait perikanan budidaya belum tersedia.

Planning for Urban Region and Environment Volume 3, Nomor3, Juli 2014

Keterangan
Kurang siap, karena didukung oleh salah
satu rencana yaitu Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Blitar.
Siap, karena sudah memenuhi seluruh
kriteria yang ada baik keberadaan
komoditas
unggulan
maupun
nilai
perdagangan yang tinggi.
Siap, karena sudah memenuhi seluruh
kriteria curah hujan, topografi, dan jenis
tanah secara alami memenuhi persyaratan
pengembangan produk unggulan.
Kurang Siap, karena masih ada kriteria yang
perlu dilengkapi.

Skor
2

Kurang siap, karena masih ada kriteriakriteria yang belum terpenuhi.

Siap, karena sudah memenuhi seluruh


kriteria. Mulai dari daya dukung dan daya
tampung.
Belum siap, seluruh komitmen masih fokus
kepada kecamatan lain.
Kurang siap, karena terdapat satu kriteria
yang terpenuhi, yaitu keberadaan dinas
yang bertanggung jawab dibidang kelautan
dan perikanan.
Siap, karena sudah memenuhi seluruh
kriteria. Namun masih kurang lengkap
dalam penyajiannya.

3
1

ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN SUBSEKTOR PERIKANAN BUDIDAYA BERBASIS MINAPOLITAN KECAMATAN SANANKULON
KABUPATEN BLITAR

Pola Ruang
Analisis pola ruang bertujuan untuk
melihat distribusi kegiatan kawasan perikanan
budidaya di Kecamatan Sanankulon Kabupaten
Blitar. Pola kegiatan di kawasan perikanan
budidaya di Kecamatan Sanankulon didominasi
oleh kegiatan permukiman sebesar 1928 Ha.
Sedangkan sisanya terdiri dari kegiatan lahan
pertanian pangan berkelanjutan dan lahan lainlain yang berupa sawah maupun non sawah.
Kawasan lain-lain yang berupa sawah
dan non sawah memiliki potensi untuk dijadikan
kawasan pengembangan perikanan budidaya
terkait proses produksi terutama pada proses
pembesaran dan panen. Lahan sawah dan non
sawah tersebut memiliki luasan 1095 Ha.

Berdasarkan hasil analisis, Desa yang


memiliki fungsi kawasan sebagai kawasan pusat
adalah Desa Sumberingin. Kemudian desa yang
memiliki fungsi kawasan sebagai kawasan sub
pusat adalah Desa Sanankulon, Desa Sumberjo,
Desa Jeding, dan Desa Gledug. Sedangkan desadesa selain desa yang disebutkan sebelumnya,
yaitu Desa Plosoarang, Desa Tuliskriyo, Desa
Bendowulung, Desa Purworejo, Desa Bendosari,
Desa Kalipucung, Dan Desa Sumber merupakan
desa-desa dengan fungsi kawasan hinterland
atua desa-desa dengan fungsi sebagai
pendukung.

Gambar 10. Peta Struktur Ruang Kawasan


Perikanan Budidaya Kecamatan Sanankulon
Potensi dan Masalah
Gambar 9. Peta Pola Ruang Kecamatan
Sanankulon
Struktur Ruang
Struktur
ruang
bertujuan
untuk
mengetahui hierarki fungsi kawasan perikanan
budidaya di Kecamatan Sanankulon Kabupaten
Blitar. Hierarki struktur ruang ditentukan
berdasarkan kriteria jarak menuju pusat kota
yang ditinjau dari waktu tempuh dari satu desa
ke pusat kota dan sarana prasarana terkait
kegiatan perikanan budidaya yang tersedia di
Kecamatan Sanankulon.
Tabel 14. Kriteria Penetapan dan Penilaian
Kawasan
No.

Kriteria

1.

Jarak Menuju Pusat Kota

2.

Sarana dan Prasarana


Pasar
Sub Raiser
Uji kualitas ikan
Penyedia peralatan
Penyedia pakan dan obat
Penyedia modal
Jaringan irigasi
Jaringan jalan
Jaringan listrik

Nilai
Jauh = 1
Sedang = 2
Dekat = 3

Kurang memadai
(4) =1
Cukup memadai
(5)
=2
Lengkap
memadai (>5) =3

Analisis potensi dan masalah bertujuan


untuk mengidentifikasi berbagai potensi dan
masalah terkait dengan pengembangan kawasan
perikanan budidaya di Kecamatan Sanankulon.
Potensi dan masalah akan menjadi bahan
pertimbangan dalam menentukan arahan
pengembangan.
Potensi
dan
masalah
merupakan
hassil
dari
penggambaran
karakteristik-karakteristik
kecamatan
dan
kegiatan perikanan budidaya di Kecamatan
Sanankulon.
Uji Validitas dan Reabilitas
Menurut Sugiyono (2009), untuk
menguji validitas dan reabilitas suatu data
adalah metode Korelasi Pearson. Metode
Korelasi Pearson dilakukan dengan bantuan
software SPSS 16.0. Hasil uji validitas merupakan
hasil dari membandingakan nilai korelasi
pearson dengan nilai yang ditunjukkan pada rtabel dan hasil uji reabilitas merupakan hasil dari
membandingkan nilai alpha cronbach dari
konstruk-konstruk yang valid pada korelasi
person dengan nilai yang ditunjukkan pada rtabel. Nilai r-tabel ditentukan berdasarkan pada
taraf nyata 0,05 dan df (79-2), yaitu 0,2213.

Planning for Urban Region and Environment Volume 3, Nomor3, Juli 2014

10

Satria Utama, Dimas Wisnu A, Johannes Parlindungan

Tabel 15. Uji Validitas Konstruk


Nilai
Korelasi

Hasil
Uji

Kondisi klimatologi kawasan

0,349

Kondisi topografi kawasan

-0,195

Konstruk

Kesesuaian lahan kawasan

-0,114

Ketersediaan lahan kawasan


Ketersediaan
dan
kemudahan
mendapatkan benih ikan
Kualitas benih ikan
Ketersediaan
dan
kemudahan
mendapatkan pakan dan obat
Ketersediaan
dan
kemudahan
mendapatkan peralatan budidaya
Ketersediaan
dan
kemudahan
mendapatkan modal
Ketersediaan tenaga kerja

0,491

Valid
Tidak
Valid
Tidak
Valid
Tidak
Valid
Valid

0,280

Valid

0,453

Valid

0,233

Valid

0,231

Valid

0,296

Valid

0,227

Usia tenaga kerja

0.144

Tingkat pendidikan tenaga kerja

0,050

Proses pembenihan
Proses pembesaran
Proses panen
Informasi pemasaran
Distribusi pemasaran
Ketersediaan sarana pasar
Ketersediaan sarana sub raiser
Ketersediaan sarana uji kualitas ikan
Ketersediaan sarana penyedia peralatan
budidaya
Ketersediaan sarana penyedia pakan
dan obat
Ketersediaan sarana modal
Keberadaan penyuluhan dan pelatihan
Keberadaan kelembagaan
Kondisi jaringan jalan
Kondisi jaringan irigasi
Kondisi jaringan listrik
Kemudahan mendapatkan angkutan
transportasi

0,393
0,461
0,269
0,309
0,511
0,544
0,240
0,393

Valid
Tidak
Valid
Tidak
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

0,272

Valid

0,261

Valid

0,251
0,275
0,399
0,280
0,330
0,235

Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

0,315

Valid

Kedekatan lokasi dengan pusat kota

0,047

Kebijakan daerah

0,244

Jenis tanah kawasan

0,99

Tidak
Valid
Valid

Analytical Hierarchy Process


Responden untuk analisis ini terdiri dari
responden
dari
Badan
Perencanaan
Pembangunan Daerah Kabupaten Blitar,
responden dari Dinas Perikanan dan Kelautan
Kabupaten Blitar, dan responden dari Lembaga
Sosial Masyarakat yaitu Blitar Koi Club (BKC).
Hasil pengolahan kuisioner AHP adalah
prioritas pengembangan kawasan subsektor
perikanan budidaya di Kecamatan Sanankulon
Kabupaten Blitar. Variabel AHP adalah
minaklimat, lahan, benih, pakan dan obat,
peralatan budidaya, modal, tenaga kerja, proses
produksi, pemasaran, sarana prasarana,
transportasi, dan kebijakan. Variabel-variabel
tersebut merupakan variabel yang ditentukan
dari mengklasifikasikan konstruk-konstruk yang

sudah valid dan reliabel pada uji validitas dan


reabilitas.
Tabel 16. Variabel AHP Berdasarkan Peringkat
Variabel

Bobot Total

Peringkat

Sarana dan Prasarana


Pemasaran
Lahan
Benih
Tenaga Kerja
Modal
Pakan dan Obat
Proses Produksi
Peralatan Budidaya
Transportasi
Kebijakan

0,591
0,462
0,369
0,367
0,293
0,265
0,164
0,152
0,144
0,105
0,087

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

KESIMPULAN
Arahan struktur tata ruang kawasan
perikanan budidaya di Kecamatan Sanankulon
terdiri dari tiga hirarki yaitu kawasan minapolis,
kawasan sentra produksi, dan hinterland.
Kawasan minapolis sebagai kawasan
berhierarki pusat perikanan budidaya terletak
terletak di Desa Sanankulon Kecamatan
Sanankulon, dengan kegiatan utama sebagai
sentra perdagangan dan jasa untuk kegiatan
perikanan budidaya di Kecamatan Sanankulon.
Kegiatan utama tersebut terdiri dari pusat
penyedia pakan dan obat terkait perikanan
budidaya, pusat penyedia peralatan terkait
perikanan budidaya, pusat distribusi hasil
produksi, pusat informasi terkait perikanan
budidaya, pusat penyedia sarana pasar terkait
perikanan budidaya, pusat penyedia sarana sub
raiser terkait perikanan budidaya, pusat
penyedia jasa uji kualitas terkait perikanan
budidaya, pusat penydia permodalan bagi
perikanan budidaya, dan pusat penyedia jasa
transportasi bagi perikanan budidaya.
Sentra produksi kawasan sebagai
kawasan berhierarki sub pusat perikanan
budidaya terletak di Desa Sumberingin dan Desa
Purworejo, dengan kegiatan utama sebagai
sentra pengumpul hasil perikanan budidaya di
Kecamatan Sanankulon. Kegiatan utama
tersebut terdiri dari pusat pengumpulan hasil
produksi perikanan budidaya dari daerah-daerah
hinterland, pusat penyedia induk dan benih ikan
bagi perikanan budidaya di hinterland, pusat
pelatihan dan penyuluhan, dan pusat
kelembagaan.
Kawasan hinterland yang memiliki fungsi
sebagai kawasan pendukung terletak di Desa
Bendosari, Desa Bendowulung, Desa Jeding,
Desa Gledug, Desa Kalipucung, dan Desa

Planning for Urban Region and Environment Volume 3, Nomor3, Juli 2014

11

ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN SUBSEKTOR PERIKANAN BUDIDAYA BERBASIS MINAPOLITAN KECAMATAN SANANKULON
KABUPATEN BLITAR

Sumber, Desa Sumberejo, Desa Plosoarang, Desa


Tuliskriyo, dengan kegiatan utama sebagai
daerah-daerah untuk produksi perikanan
budidaya di kecamatan sanankulon. Adapun
kegiatan mulai dari pembenihan, pembesaran,
dan panen.

Gambar 11. Peta Arahan Struktur Ruang


Kawasan Minapolitan Perikanan Budidaya
Kecamatan Sanankulon

peningkatan kelas jalan yang sebelumnya berupa


makadam menjadi aspal dan puffing.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum Republik Nomor 41/ PRT/ M/
2007 Tentang Pedoman Kriteria
Teknis
Kawasan
Budidaya.
Departeman
Pekerjaan
Umum
Direktorat Jenderal Penataan Ruang.
Anonim. 2010. Pedoman Umum Perencanaan
Pengembangan Kawasan Budidaya
(Minapolitan). Jakarta: Direktorat
Jenderal Perikanan Budidaya.
Anonim. 2011. Keputusan Menteri Kelautan dan
Perikanan Republik Indonesia Nomor
18 Tahun 2011 Tentang Pedoman
Umum
Minapolitan.
Jakarta:
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Republik Indonesia.
Deni, Ruchyat. 2010. Pengembangan Wilayah
Melalui Pendekatan Kesisteman.
Bogor: IPB press.
Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif, dan R & D. Bandung:
Alfabeta.

Gambar 12. Peta Zona Kawasan Perikanan


Budidaya Kecamatan Sanankulon
Arahan
kegiatan
pengembangan
kawasan perikanan budidaya di Kecamatan
Sanankulon
Kabupaten
Blitar
diperoleh
berdasarkan pada kajian analisis mengenai
kesiapan kawasan perikanan budidaya di
Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar sebagai
kawasan minapolitan dan Analysis Hierarchy
Process.
Arahan
pengembangan
kawasan
perikanan budidaya di Kecamatan Sanankulon
diprioritaskan pada pengadaan sarana dan
memperbaiki prasarana yang kurang. Sarana
yang perlu disediakan adalah sarana pasar,
sarana sub raiser, sarana uji kualitas ikan, dan
sarana koperasi. Sarana-sarana tersebut
diarahkan pada kawasan yang ditunjuk sebagai
kawasan minapolis. Sedangkan untuk perbaikan
prasarana diarahkan pada jalan-jalan menuju
lokasi produksi. Kegiatan perbaikan berupa

12

Planning for Urban Region and Environment Volume 3, Nomor3, Juli 2014