Anda di halaman 1dari 7

KISI-KISI OSCE BEDAH

1. UROLOGI BPH dengan penyulit retensi urin


Setting lokasi: UGD
Pria, usia lanjut
Riwayat BAK kronis:
Susah
Mengejan
Sering sedikit-sedikit
Mau mulai harus menunggu lama

SUBJECTIVE
Untuk retensi urine:
Tidak bisa BAK akut
Nyeri supra pubik sangat

BAK darah (-)


Demam (-)
OBJECTIVE
Temuan Rectal Touche:
Nyeri tekan supra pubik
Vesica urinaria teraba dari palpasi luar
Kenyal, simetris
Sulkus medianus dangkal dan sulkus lateralis
dalam
Taksiran berat prostat 50-100 gram
ASSESSMENT
Dx
DDx
Benign Prostatic Hyperplasia
Ca prostat
PLANNING DIAGNOSIS
Utk menentukan BPH:
Utk menyingkirkan DD lain:
USG Urologi
Sedimen urin
Cystoscopy
Kultur urin
IVP
PSA
PLANNING TERAPI
Non Farmakologis
Farmakologis
Alpha blockers: merelaksasi otot polos prostat
Kateterisasi utk retensi urin
Prazosin 2 x 1-2mg (sediaan caps 1/2/5 mg)
Pembedahan TURP/TUIP/Open Prostatectomy
5-alfa reductase inhibitor: anti androgen
Finasteride: 1 x 5 mg (sediaan tab 1/5 mg)
TINDAKAN:
a. PEMERIKSAAN COLOK DUBUR
No. Tindakan
1
Mempersilahkan pasien dalam posisi pemeriksaan, pilih salah satu:
a. Left lateral: baring miring kiri, tungkai kanan dilipat sampai lutut menyentuh perut.
b. Knee elbow: siku dan lutut sebagai tumpuan, pantat ditinggikan.
c. Lithotomy: telentang, tungkai mengangkang.
2
Cuci tangan dilanjutkan memakai sarung tangan bersih, serta mengoleskan lubrikan
3
Inspeksi:
Anus: inflamasi kulit, hemoroid (+/-), prolaps, fisura, fistula dan tumor.
4
Palpasi:
Perhatikan poin-poin di bawah ini:
Sphingterani:
a. Lubrikasi anus.
b. Jari telunjuk dimasukkan ke anus pelan-pelan, berhenti sebentar bila otot sphincter
kontraksi.
c. Rasakan apakah kuat atau lemah.
d. Penderita diminta bernapas panjangmasukkan jari kearah rectum.
Rektum:
a. Ampulla rekti: normal, tidak melebar atau tidak kolaps
b. Mukosa licin, tidak ada massa
Prostat:

a. Permukaan: rata
b. Batas cranial tidak teraba
c. Nodul (ada/tidak)
Jika terdapat nodul keganasan
d. Lobus kiri-kanan (simetris/tidak)
Jika tidak simetris keganasan
Grading dengan melakukan perabaan lobus lateralis. Jika menonjol ke dalam
rectum, berapa cm atau berapa jari?
- Grade 0 : Penonjolan prostat 0-1 cm ke dalam rectum.
- Grade 1 : Penonjolan prostat 1-2 cm ke dalam rectum.
- Grade 2 : Penonjolan prostat 2-3 cm ke dalam rectum.
- Grade 3 : Penonjolan prostat 3-4 cm ke dalam rectum.
- Grade 4 : Penonjolan prostat 4-5 cm ke dalam rectum.
e. Penilaian sulkus medianus dan sulkus lateralis.
Pada BPH sulkus medianus dangkal dan sulkus lateralis dalam.
f. Konsistensi (kenyal/padat)
Jika padat keganasan
g. Krepitasi (ada/tidak)
Jika ada prostatitis
h. Nyeri tekan (tenderness): nyeri/tidak
Jika nyeri inflamasi
i. Taksiran berat prostat
NORMAL : 20-30 gram
j. Reflek bulbocavernosus (+)
k. Pada sarung tangan: feces: (+), lendir (-), darah (-)
l. Membersihkan area anus dari bekas lubrikan dan bekas pemeriksaan.
m. Memberitahukan bahwa peneriksaan sudah selesai serta mempersilakan merapikan
pakaian.
n. Melepas sarung tangan dan cuci tangan
b. PEMASANGAN KATETER URETRA
PRINSIP: STERIL!
No. Tindakan
1
Disinfeksi sekitar meatus eksternus, kemudian seluruh penis, pubis, skrotum dan perineum.
2
Pemasangan kain linen berlubang.
3
Memberitahukan pasien bahwa pada saluran kencingnya akan dimasukkan obat pelicin
anastesi.
4
Melakukan fiksasi penis (dengan klem atau menggunakan ibu jari dan telunjuk).
5
Masukkan satu tube pelicin anastesi, disemprotkan kedalam meatus eksternus.
6
Tunggu selama 2 menit supaya obat anastesi bekerja.
7
Ujung kateter dipegang dengan pinset, sedang pangkal dipegang antar ajari keempat dan
kelima.
8
Masukkan ujung kateter secara pelan-pelan terus sampai kepangkal.
9
Yakinkan bahwa pangkal kateter tidak terpental (tidak keluar lagi selain pangkalnya)
10
Kembangkan balon kateter dengan air. Dan yakinkan pengembangan balon mudah dilakukan.
11
Kateter dihubungkan dengan urin bag.
12
Balon kateter diposisikan pada bladder neck dengan menarik kateter sampai terasa ada
tahanan.
13
Balut meatus urethra dengan kassa steril.
14
Melepas kain linen berlubang.
15
Lakukan fiksasi kateter pada inguinal atau suprapubik.
16
Melakukan edukasi pada pasien (menjaga kebersihan, jangan dicabut paksa)
2. TRAUMATOLOGI kecelakaan & fraktur ekstremitas
Setting Lokasi: UGD
PRINSIP:
a. Primary Survey ABCDE (penjelasan di materi Ingenio)

b.

Secondary Survey Head to Toe

Riwayat kecelakaan
Riwayat pingsan (-)
jika (+) trauma kepala
Riwayat sadar kembali (-)
jika (+) curiga lucid interval
Riwayat mual & muntah(-)
jika (+) curiga TIK meningkat

SUBJECTIVE
Nyeri (+)
Susah digerakkan
Hal-hal yang memperburuk keluhan:
bertambah bila digerakkan.
Hal-hal yang mengurangi keluhan:
berkurang bila diistirahatkan.

sakit
sakit

OBJECTIVE
Primary Survey: sangat bervariasi tergantung pasien.
Secondary Survey:
Utk fraktur extremitas:
SAMPLE: variatif
Airway paten
DCAP-BTLS: salah sekian bisa (+) pada lokasi fraktur
Breathing spontan
ROM: terbatas
Circulation femur bisa shock
Cek pulsasi distal! Bisa (+)/(-)
Disability GCS baik
Jika (-) emergensi
Exposure tidak khas
ASSESSMENT
Fraktur (terbuka/tertutup), (lokasi), (deskripsi)
Cth: fraktur tertutup tibia sinistra 1/3 distal
PLANNING DIAGNOSIS
DL
Fo Rontgen AP/Lateral
PLANNING TERAPI
Non Farmakologis
Farmakologis
Analgetik
Pembidaian
Na diclofenac 2x50 mg
Syarat:
As. Mefenamat 3x500 mg
memakai 3 buah spalk
melewati dua sendi
berikan lapisan gauze pada bagian atau
permukaan yang menonjol,
terfiksasi: terbalut semua, atau minimal 3 ikatan
melakukan evaluasi NVD (Neuro vascular Distal)
setelah pemasangan spalk
TINDAKAN
a. Secondary Survey
No. Tindakan
1.
Anamnesa: SAMPLE
Sign & symptoms: apa keluhan yang dirasakan
Allergy: apakah ada alergi sesuatu
Medication: apakah sedang minum obat? Obat apa? Berapa lama? Kapan terakhir minum?
Past medical history: apakah pernah terjadi sebelumnya? Apakah ada penyakit penyerta?
Last meal: kapan makan terakhir?
Event: apa yang menyebabkan kecelakaan ini? Bagaimana ceritanya?
2.
Pemeriksaan
Cari DCAP(P)-BTLS pada setiap anggota tubuh yang diperiksa
Deformity: jika ya, cari krepitasi
Contusion
Abrasion
Punctures/Penetrations
(P)aradoxycal movement pada trauma dada
Burn
Tenderness
Laceration

3.
4.

Swelling
Kepala
Tulang wajah
Leher
Regio shoulder
Regio thorax ingat cek paradoxical movement
Regio abdomen
Ekstrimitas atas
Regio pelvis
Ektrimitas bawah
Range of Motion
Neurovascular Distal
Cek pulsasi distal dari lokasi curiga fraktur
Cek sensibilitas distal dari lokasi curiga fraktur

3. DIGESTIF Apendisitis Akut


Setting Lokasi: UGD
SUBJECTIVE
keluhan utama nyeri perut
- mual, perut terasa kembung, melilit dan seperti
lokasi di bagian perut kanan bawah
ditusuk-tusuk
onset akut
- kehilangan nafsu makan
sifat nyeri : makin meningkat, awalnya dirasakan di - demam (-)
ulu hati, namun kini nyeri terutama dirasakan di
- hal yang memperparah: banyak bergerak
perut kanan bawah
- kebiasaan: jarang makan sayur
OBJECTIVE
Nyeri tekan McBurney (+)
Obturator sign (+)
Rovsing sign (+)
Ten horn sign (+)
Psoas sign (+)
ASSESSMENT
Dx
DDx
Apendisitis akut
Ureterolitiasis kanan
Divertikulitis
KET
Adnexitis
PLANNING DIAGNOSIS
DL leukositosis
Foto polos abdomen tanda ileus lokal
USG tanda ileus lokal
PLANNING TERAPI
Non Farmakologis
Farmakologis
Apendektomi
Analgetik
-

4. TKV Tension Pneumothorax


Setting Lokasi: UGD
SUBJECTIVE
Sesak berat akut
Diawali dengan batuk-batuk hebat (spontaneous pneumothorax)
Riwayat kecelakaan (traumatic pneumothorax)
OBJECTIVE
Inspeksi:
Auskultasi:
Cyanosis
Suara nafas menurun di sisi sakit
Perkusi:
Trakea terdorong ke sisi yang sehat
Hipersonor di sisi sakit
Distensi vena jugularis
Palpasi:
Nadi cepat & lemah

Krepitasi (+) Emfisema subkutis


ASSESSMENT
Dx
Tension pneumothorax

DDx
Simple pneumothorax
PLANNING DIAGNOSIS

Foto Rontgen Thorax


PLANNING TERAPI
Non Farmakologis
Airway
O2
Needle decompression ICS II MCL jarum no.14
WSD di ICS V

Farmakologis
Analgetik

Tindakan:
Needle decompression
No. Tindakan
1
Persiapkan alat:
Alat perlindungan diri
Jarum/canule 14 G
Plester inch
Antiseptik
2
Lakukan perlindungan diri
3
Pasang monitor jantung & oksimetri
4
Posisikan pasien supinasi
5
Identifikasi ICS II pada dinding anterior dada di MCL pada sisi yang sakit
6
Bersihkan lokasi insersi jarum dengan antiseptik
7
Masukkan jarum ke rongga pleura
8
Lepaskan penutup plastik
9
Masukkan pada lokasi batas atas costae III dengan sudut tegak lulus dinding dada
10
Saat memasuki rongga intrapleura akan terdengar suara udara keluar
11
Keluarkan jarum, sambil mendorong kanul agar masuk
12
Stabilisasi kanul dengan plester inci
13
Evaluasi suara nafas & distres pernafasan
14
Melepas sarung tangan & alat perlindungan diri lainnya

5. ONKOLOGI
5.1. Struma Toksik
SUBJECTIVE

Benjolan di leher
Kronis
Gejala toksik (+):
a) Sering berdebar-debar

Benjolan di satu sisi/difus


Ikut bergerak saat menelan
Bruit tiroid (+)/(-)
Exopthalmus : bulbus oculi menonjol keluar
Stellwags sign : mata jarang berkedip

b)
c)
d)
e)

Nafsu makan meningkat


Mudah lelah
Gangguan menstruasi
Mudah berkeringat

OBJECTIVE
Von Graefes sign : bila melihat ke bawah, palpebra
sup sukar mengikuti bulbus oculi
Mobiuss sign : sukar melakukan convergensi
Joffroys sign : tidak dapat mengkerutkan dahi

ASSESSMENT
Dx
DDx
Struma (Uninodusa/Multinodusa/Difusa) Toksika
Tumor colli
PLANNING DIAGNOSIS
Curiga keganasan: utk metastasis
T3, T4, TSH
Foto Rontgen Thorax
Protein Bound Iodine
USG abdomen
Radio active iodine up take

PLANNING TERAPI
Non Farmakologis

Antitiroid:
a) Propylthiouracyl (PTU): 300-600 mg/hari
(sediaan tab 50mg)
atau
b) Metimazole 3 x 10-20 mg
Sedative:
a) Phenobarbital 3x100 mg
atau
b) Diazepam 3x 3-5mg
Propanolol 3x10 mg

Farmakologis
Lobektomi: subtotal / total
Tiroidektomi: subtotal / total
(lihat bahan kuliah Ingenio)

Tindakan: Pemeriksaan Tiroid


No. Tindakan
1
Lakukan inspeksi awal, apakah:
Gemuk/ kurus?
Tampak hiper/hipoaktif?
Berkeringat?
Kondisi kulit dan rambut?
Suara normal?
2
Inspeksi mata: apakah mata menonjol, jarang berkedip
3
Inspeksi tremor dengan menggunakan kertas

4
5

7
8

Rasakan pulsasi nadi


Inspeksi tiroid
Cari perbesaran tunggal/multipel/difus, bekas luka, warna, abnormalitas lainnya
Suruh pasien untuk menelan, perhatikan apakah benjolan ikut bergerak
Palpasi tiroid
Posisikan pasien dalam posisi duduk dengan kepala sedikit fleksi
Minta ijin, dan lakukan palpasi dari belakang pasien
Evaluasi: pembengkakan, konsistensi, nyeri tekan, mobilitas
Minta pasien untuk menelan ludah & rasakan apakah benjolan ikut bergerak
Minta pasien untuk menjulurkan lidah & rasakan apakah benjolan ikut bergerak
Palpasi limfonodi servikal
Auskultasi tiroid: evaluasi bruit (+)/(-)

5.2. Tumor Payudara


Cara melakukan SADARI
No. Tindakan
Melihat payudara
1
Lakukan di depan cermin, tanpa berpakaian dari pinggang ke atas, dengan kedua tangan di
samping tubuh
2
Perhatikan payudara:
-Apakah bentuk dan ukuran payudara kanan dan kiri simetris?
-Apakah payudara membesar atau mengeras?
-Apakah arah puting tidak lurus ke depan atau berubah arah?
-Apakah puting tertarik ke dalam?
-Apakah puting atau kulit ada yang lecet?
-Apakah ada perubahan warna kulit?

-Apakah kulit menebal dengan pori-pori melebar (seperti kulit jeruk)


-Apakah permukaan kulit tidak mulus, ada kerutan atau cekungan?
3
Ulangi semua pengamatan dengan posisi kedua tangan lurus keatas
4
Ulangi semua pengamatan dengan posisi kedua tangan di pinggang, dada dibusungkan, dan
siku tertarik ke belakang
Memijat payudara
5
Dengan kedua tangan, pijat payudara dengan lembut dari tepi hingga ke puting
6
Perhatikan apakah ada cairan atau darah yang keluar dari putting susu (seharusnya, tidak ada
cairan yang keluar kecuali pada wanita yang sedang menyususi)
Meraba payudara
7
Pemeriksaan dilakukan dalam posisi berbaring
8
Lakukan perabaan payudara satu persatu
9
Untuk memeriksakan payudara kanan, letakkan bantal atau handuk yang dilipat dibawah
bahu kanan. Lengan kanan direntangkan disamping kepala atau diletakkan dibawah kepala.
10
Raba payudara dengan menggunakan tiga atau empat jari tangan kiri yang saling dirapatkan
11
Rabaan dilakukan dengan gerakkan memutar dari tepi payudara hingga keputing susu
12
Geser posisi jari, kemudian lakukan lagi gerakkan memutar dari tepi payudara hingga
keputing susu
13
Lakukan seterusnya hingga seluruh bagian payudar diperiksa
14
Lakukan hal yang sama pada payudara yang satunya lagi
15
Sebaiknya perabaan dilakukan dalam tiga macam tekanan: tekanan ringan untuk meraba
adanya benjolan dipermukaan kulit, tekanan sedang untuk memeriksa adanya benjolan
ditengah jaringan payudara, dan tekanan kuat untuk meraba benjolan di dasar payudara yang
melekat pada tulang iga
16
Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan menggunakan lotion atau minyak sebagai pelicin
agar pemeriksaan lebih sensitif
17
Setelah itu, dilakukan semua langkah perabaan dalam posisi berdiri.
Sebaiknya dilakukan saat sedang mandi (dengan menggunakan sabun)
Cara melakukan pemeriksaan payudara
Pada prinsipnya sama dengan SADARI, dengan perbedaan:
Inspeksi general awal dilakukan dengan posisi pasien duduk di tepi tempat pemeriksaan, kedua tangan
beristirahat di paha.
Setelah melakukan perabaan payudara, lakukan perabaan limfonodi. Berikut adalah checklist
tambahannya.

No. Tindakan

Meraba kelenjar getah bening


18
Lakukan palpasi aksila untuk mencari pembesaran limfonodi
19
Ingat untuk mengangkat & menahan berat tangan pasien dengan tangan pemeriksa
20
Palpasi aksila dengan tangan lainnya hingga mencapai semua bagian (anterior, posterior,
medial, lateral, apeks)
21
Ulangi palpasi pada sisi lainnya
22
Lakukan palpasi fossa supraklavikular kanan & kiri

Anda mungkin juga menyukai