Anda di halaman 1dari 27

PATOLOGI COMPARATIV

PENYAKIT BLUETONGUE

Di susun oleh :
Dewi Nurulliana

1202101010037

Jessica Anggun Safitri

1202101010079

Angga Putra Adinata

1202101010124

Arini Ulfa Khaira

1202101010157

Kelas B/Ruang 4

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2015

BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Penyakit lidah biru (bluetongue) termasuk penyakit infeksi tetapi tidak menular secara
kontak. Penyakit bluetongue merupakan salah satu penyakit arbovirus yang dapat menimbulkan
gejala klinik sehingga berdampak negatif bagi petani ternak. Penyakit ini dapat menyerang
ruminansia besar seperti kerbau dan sapi, dan ruminansia kecil termasuk domba dan kambing (St
George, 1985). Di Indonesia, penyakit bluetongue pernah dilaporkan terjadi pada domba impor
pada tahun 1981 (Sudana clan Malole, 1982). Namun kejadiannya pada ternak lokal belum
pernah dilaporkan. Hasil uji serologik menunjukkan bahwa kerbau dan sapi mempunyai angka
prevalensi yang tinggi (60%-70%) dibanding pada domba dan kambing (20%-30%) (Sendow
dkk. 1986). Kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh penyakit ini antara lain abortus,
kemandulan sementara, penurunan berat badan ataupun penurunan produksi susu pada ternak
perah (Erasmus, 1975; Osburn, 1985). Di Indonesia, isolasi virus yang berasal dari sapi perah
lokal telah diperoleh hasilnya (Sendow dkk, 1991).
Nama lain: Ovine Catarrhal Fever (OCF), Penyakit Lidah Biru, atau di Indonesia dikenal
sebagai BT. Merupakan penyakit menular pada domba ditandai dengan stomatitis kataral,
rhinitis, enteritis, pincang karena peradangan sarung kuku, abortus, kerdil dan hyperplasia
limforetikuler. Bluetongue kadang-kadang juga menyerang kambing dan sapi dengan gejala tidak
kentara, tetapi penyakit ini dapat serius pada beberapa spesies hewan liar khususnya rusa ekor
putih (Odocoileus virginianus) di Amerika Utara. Penyakit ini sangat penting artinya pada
domba, dengan tingkat keganasan yang beragam dari subklinis sampai serius tergantung kepada
galur virus, bangsa domba, dan ekologi setempat. Kerugian timbul akibat kematian dan buruknya
kondisi domba yang bertahan hidup. Penyakit BT bukan merupakan penyakit zoonosis sehingga
tidak menular ke manusia.

BAB II
ISI

PENGERTIAN
Bluetongue adalah penyakit virus ruminansia dikirimkan oleh pengusir hama dalam
genus Culicoides. Virus Bluetongue sangat beragam ada lebih dari dua lusin serotipe, dan virus
dapat mengalami reassortment untuk membentuk varian baru. Virus ini endemik di band di
seluruh dunia luas daerah tropis dan subtropis dari sekitar 35 sampai 40 S N; Namun, wabah
juga terjadi di luar daerah ini, dan itu dapat bertahan jangka panjang jika iklim dan vektor cocok.
Sementara musim dingin, tungau di daerah dengan musim dingin yang tidak biasa, virus
bluetongue baru-baru menunjukkan kemampuan untuk bertahan dari tahun ke tahun di Eropa
tengah dan utara.
Virus Bluetongue dapat bereplikasi dalam banyak spesies ruminansia, sering
asymptomatically. Kasus klinis cenderung terjadi terutama pada domba, tapi sapi, kambing,
camelids Amerika Selatan, liar atau kebun binatang ruminansia, cervids bertani dan beberapa
karnivora kadang-kadang terpengaruh. Kasus berkisar keparahan dari ringan sampai fatal, dan
hewan yang bertahan hidup mungkin lemah. Biaya ekonomi tambahan hasil dari kerugian
reproduksi, kerusakan wol dan penurunan produksi susu. Pengendalian penyakit bawaan vektor
ini sulit, kecuali dengan vaksinasi. Adanya beberapa serotipe mempersulit kontrol, seperti
kekebalan terhadap satu serotipe mungkin tidak cross-protektif terhadap orang lain.
Nama lain: Ovine Catarrhal Fever (OCF), Penyakit Lidah Biru, atau di Indonesia dikenal
sebagai BT. Merupakan penyakit menular pada domba ditandai dengan stomatitis kataral,
rhinitis, enteritis, pincang karena peradangan sarung kuku, abortus, kerdil dan hyperplasia
limforetikuler. Penyakit Blue Tongue (BT) merupakan penyakit eksotik arthropod borne virus
pada ternak ruminansia (Culess et al., 1 982). Penyakit ini disebabkan oleh Orbivirus dari famili
Reoviridae dengan materi genetik tersusun atas 10 segmen asam inti ribo beruntai ganda (drRNA) (Huisman, 1969, Verwoerd et al., 1979, Rao dan Roy, 1983) dan bentuknya ikosahedral
simetri (Els dan Verwoerd, 1969). Virus ini ditularkan oleh vektor nyamuk genus Culicoides.
(Luedke et al., 1967, Foster et al., 1977) yang biasa menyerang domba dan sapi, akan tetapi pada
sapi tidak disertai dengan gejala klinis. Sedangkan melalu i percobaan terjadi gejala klinis ringan

(Luedke et al., 1967). Pernah dilaporkan bahwa lima persen dari kelompok sapi yang tertulalar
menunjukkan gejala klinis dari yang ringan Sampai berat (Hourigan dan Klingsporn, 1975).
Virus BT dapat menginfeksi berbagai spesies hewan seperti sapi, kerbau, kambing,
domba, unta, dan ruminansia liar, termasuk rusa, antelop dan rodensia. Namun demikian
penyakit BT lebih sering ditemukan pada ternak domba dengan menimbulkan gejala klinis,
sehingga menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi peternak (Osburn 1994; Mac
Lachlan 1996). Pada domba, sensitivitas sangat bergantung pada jenis (breed) dan tipe virus BT
yang menginfeksi. Domba breed Afrika Selatan seperti ras Afrikander, Persia dan Awassi lebih
peka dibanding domba lokal Afrika pada umumnya, tetapi domba breed Afrika Selatan kurang
sensitif dibanding domba Merino, sedangkan domba Merino kurang peka dibanding domba ras
Dorset Horn (Erasmus 1975). Domba lokal Indonesia juga kurang peka terhadap infeksi BT
(Sendow 2005).

ETIOLOGI
Bluetongue hasil dari infeksi oleh virus bluetongue, anggota dari genus Orbivirus dan
keluarga Reoviridae. Setidaknya 26 serotipe telah diidentifikasi di seluruh dunia. Beberapa virus
bluetongue memiliki nama tambahan (misalnya, Toggenburg Orbivirus untuk strain prototipe
dari serotipe 25). Isolat berbeda dalam virulensi, dan beberapa strain tampaknya menyebabkan
beberapa tanda-tanda klinis. Seperti beberapa virus lain seperti virus influenza, virus bluetongue
dapat mengalami reassortment dan bergabung kembali untuk menghasilkan varian baru.
Virus Bluetongue berhubungan erat dengan virus dalam penyakit hemoragik epizootic
(EHD) serogrup, faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan dan / atau pemilihan beberapa
tes diagnostik.

Gambar 2. Orbivirus penyebab penyakit BT dan gambaran 3D virus Bluetongue

EPIDEMIOLOGI
Distribusi Geografis Bluetongue tersebar luas di dunia. Afrika dilaporkan telah
ditemukan lebih dari 100 tahun lalu, kemudian terjadi pula di Siprus, Yunani, Israel, Portugal,
Spanyol, Turki, Lebanon, Oman, yaman, Syria, Saudi Arabia, Mesir, Pakistan, India,
Bangladesh, Jepang, Amerika Serikat, Amerika Latin, Kanada, Australia, New Zealand, Papua
New Guinea, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Di Indonesia ditemukan pada beberapa propinsi,
diantaranya Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, Bali, NTB, NTT, dan Timor Leste
terdeteksi antibodinya. Bluetongue menyerang domba, kambing, sapi, kerbau, dan ruminansia
lain seperti rusa. Domba merupakan hewan paling peka terutama yang berumur 1 tahun,
sedangkan anak domba yang masih menyusui relative tahan karena telah memperoleh kekebalan
pasif dari induk (antibodi maternal) dan antibodi ini biasanya bertahan sampai 2 bulan.Ras
domba Inggris dan Merino lebih peka dibandingkan dengan domba Afrika.
Di Indonesia, gejala klinik penyakit Bluetomgue yang klasik belum pernah dilaporkan
baik pada ternak sapi, kerbau, kambing maupun domba lokal. Namun Adjid dkk. (1988)
melaporkan adanya kasus reproduksi tanpa diketahui penyebabnya pada ternak domba di Jawa
Barat seperti keguguran (berdasarkan informasi lapangan), kematian sebelum lahir ataupun
kematian setelah lahir. Apakah infeksi orbivirus ikut berperan dalam kejadian tersebut, hal ini
masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Informasi di lapangan juga menunjukkan bahwa

keguguran pada sapi yang disertai dengan ataupun tanpa kelainan, pernah terjadi di Jawa Barat
dan Kalimantan Selatan. Beberapa sapi yang keguguran tersebut memang mengandung antibodi
terhadap virus Bluetongue, namun isolasi tidak dilakukan. Akibatnya sulit untuk mengkonfirmasi
apakah abortus tersebut disebabkan oleh infeksi Bletongue. Penelitian pendahuluan juga
menunjukkan bahwa kambing, domba, kerbau den sapi yang berasal dari beberapa daerah di
Indonesia mengandung antibodi terhadap virus BT, baik secara uji AGID maupun uji SN.

SPESIES TERKENA
Virus Bluetongue dapat menginfeksi banyak ruminansia peliharaan dan liar termasuk
domba, kambing, sapi, kerbau, Afrika kerbau (Syncerus caffer), bison (Bison spp.), Berbagai
cervids, kerabat liar domba dan kambing, rusa kutub (Connochaetes spp.) Dan spesies lain.
Kedua ruminansia dijinakkan (terutama sapi) dan ruminansia liar dapat perawatan host. Infeksi
sering subklinis. Virus juga dapat menginfeksi camelids, dan antibodi telah terdeteksi di
beberapa satwa liar nonruminant termasuk Afrika gajah (Loxodonta africana), hitam dan badak
putih (Diceros bicornis dan Ceratotherium simum) dan jerapah (Giraffa camelopardalis) di
Afrika, dan peccaries berkerah (pecari tajacu ) di Amerika Selatan.
Di antara hewan peliharaan, kasus klinis terutama terjadi pada domba; Namun, sapi,
kambing, yak (Bos grunniens), llamas dan alpacas juga terpengaruh dalam beberapa wabah. Di
Amerika Utara, kasus bluetongue telah didokumentasikan di rusa liar berekor putih (Odocoileus
virginianus), tanduk bercabang (Antilocapra americana) dan Bighorn domba (Ovis canadensis),
dan tawanan kijang Reeve (Muntiacus reevesi) dan kudu lebih besar (Tragelaphus cupensis).
Tidak ada laporan yang diterbitkan dari wabah antara ruminansia liar di Afrika atau Eropa;
Namun, kasus klinis dilaporkan di beberapa kebun binatang selama serotipe 8 wabah di Eropa.
Spesies terpengaruh termasuk bison Amerika Utara (Bison bison), bison Eropa / wisents (Bison
bonasus), yak, musk sapi (Ovibos moschatus), Alpine Ibex (Capra ibex), Ibex Siberia (Capra
sibirica) mouflon (Ovis aries musimon), blackbuck (Antilope cervicapra), rusa fallow (Dama
dama) dan unta Bactrian (Camelus bactrianus).

Mengumpulkan bukti menunjukkan bahwa karnivora juga dapat terinfeksi oleh virus
bluetongue. Antibodi terhadap virus ini telah terdeteksi pada anjing, kucing, cheetah (Acinonyx
jubutus), singa (Panthera leo), anjing liar (Lycaon pictus), serigala (Canis spp.) Melihat hyena
(Crocuta crocuta) dan genet besar-tutul (Genetta maculata). Tanda-tanda klinis telah dilaporkan
pada anjing hamil yang terinfeksi oleh serotipe 11, dan tidak hamil lynx Eurasia (Lynx lynx)
terinfeksi oleh serotipe 8.Virus Bluetongue tidak zoonosis.

DISTRIBUSI GEOGRAFIS
Virus Bluetongue dapat ditemukan di seluruh dunia dalam iklim tropis dan subtropis
dari sekitar 35 S 40 N, dan di beberapa daerah di luar wilayah ini (misalnya, di bagian
California). Daerah endemis ada di Afrika, Eropa, Timur Tengah, Amerika Utara dan Selatan dan
Asia, serta di berbagai pulau (misalnya, Australia, Pasifik Selatan, Karibia). Beberapa serotipe
dapat ditemukan di banyak daerah.
Wabah dapat terjadi di luar daerah endemis, tetapi dalam banyak kasus, virus tidak
bertahan cuaca dingin sekali membunuh vektor Culicoides. Luar biasa, sebuah serotipe virus 8
overwintered untuk beberapa tahun di Eropa tengah dan utara

PATOGENESA
Virus Bluetongue mengadakan perbanyakan dalam sel hemopoietik dan sel endotel
pembuluh darah, yang kemudian menyebabkan lesi epithelial Bluetongue yang tersifat. Viremia
biasanya terjadi pada stadium awal penyakit. Domba dewasa kadang-kadang menderita viremia
paling lama 14-28 hari, dan pada sapi virus dapat bertahan selama 10 minggu. Sejumlah isolat
virus telah diperoleh namun keganasannya masih belum banyak diketahui. Uji patogenitas
terhadap isolat Bluetonge serotipe 1, 9, dan 21 telah dilakukan pada domba lokal dan domba
impor (Sendow 2005). Hasilnya menunjukkan bahwa gejala klinis yang dihasilkan pada domba
lokal lebih ringan dibanding pada domba impor. Dari ketiga serotipe yang diuji, Bluetongue

serotipe 9 menghasilkan gejala klinis yang paling ringan baik pada domba lokal maupun domba
impor.

Gambar 3. Patogenesa penyakit Bluetongue.


Gejala klinis yang dihasilkan berupa demam, lesi dan perdarahan pada mulut, bibir, kaki
dan mata, lakrimasi, ingusan dan koronitis dengan derajat ringan. Kematian domba tidak terjadi.
Hasil penelitian patogenitas ini menyimpulkan bahwa isolat lokal tersebut tergolong tidak
patogen. Meskipun Bluetongue serotipe 1 dan 21 paling sering diisolasi di Indonesia, serotipe
tersebut tidak menyebabkan gejala klinis. Demikian pula dengan isolat serotipe 9. Data tersebut
mengindikasikan bahwa virulensi virus Bluetongue lokal lebih handal dibanding yang ditemukan
di Afrika, Timur Tengah, dan India. Di Eropa, wabah Bluetongue yang terjadi tahun 1998

disebabkan Bluetongue serotipe 9 dan merupakan serotipe baru (Anderson et al. 2000). Daniels
et al. (1997) yang menarik garis transektoral dari India ke Australia, menunjukkan bahwa makin
ke selatan patogenitas Bletongue makin rendah. Hal ini terlihat dari ditemukannya kasus klinis di
India sedangkan di bagian selatan India kasus klinis makin berkurang bahkan tidak terjadi pada
domba lokal. Meskipun antibodi dan isolat virus dapat terdeteksi, faktor yang menyebabkan
penurunan patogenitas Bletongue tersebut masih belum diketahui.

Gejala Klinis
Gejala klinis akibat infeksi Bluetongue antara lain berupa demam, hiperemia pada selaput
lendir mulut, mata dan hidung, ulkus pada rongga mulut, oedem pada bibir, muka dan mata
sehingga hewan malas untuk makan, yang menyebabkan hewan menjadi lemas (Aruni et al.
2001; Sendow 2005). Pada domba bunting, infeksi BT dapat menyebabkan keguguran dan
kemandulan temporer. Selain keguguran, kelainan seperti stillbirth dan deformities pada bayi
domba yang dilahirkan sering terjadi (Housawi et al. 2004). Keguguran dalam jumlah banyak
sangat merugikan peternak seperti yang terjadi saat wabah Bluetongue tahun 1981. Kerugian
terjadi antara lain akibat abortus, kemandulan sementara, serta penurunan bobot badan dan
produksi susu (Housawi et al. 2004).
Pada infeksi percobaan, masa inkubasi penyakit 2-4 hari, ditandai dengan demam tinggi
(40,5-41C) yang berlangsung 5-6 hari. Pada domba, penyakit ini dicirikan oleh demam yang
dapat berlangsung beberapa hari sebelum hiperemia, pengeluaran air liur berlebihan
(hipersalivasi), dan buih pada mulut menjadi kentara; cairan hidung pada awalnya encer
kemudian menjadi kental dan bercampur darah. Bibir , lidah, gusi dan bantalan gigi bengkak dan
oedema. Jika selaput lender mulut terkikis lama-kelamaan akan berubah menjadi bentuk luka dan
air liur terangsang keluar dan mulut berbau busuk. Luka-luka tersebut juga dapat ditemukan di
bagian samping lidah.

Gambar 4. Gejala klinis utama pada penyakit Bluetongue, lidah yang membiru hiperemia pada
selaput mata dan mulut.

Hewan sulit menelan ludah dan gerak pernafasannya meningkat, sering pula diikuti
dengan diare dan disentri. Luka juga dapat ditemukan pada teracak mengakibatkan kaki pincang
dan, sering rebah-rebah, malas berjalan dan menyebabkan rasa sakit yang hebat. Kepala sering
dibengkokkan ke samping mirip penyakit milk fever. Bulu-bulu wool rontok dan kotor. Penyakit
yang menyerang rusa serupa, sebaliknya pada sapi tidak kentara dan jarang bersifat akut. Pada
pedet dan anak domba yang terinfeksi in utero, viremia dapat terjadi pada saat lahir dan
berlangsung sampai beberapa hari. Pada kambing, gejala yang terlihat berupa demam,
konjungtivitis, lekopenia dan kemerahan pada selaput lender mulut.

1. Pada domba
Di luar negeri BT merupakan penyakit yang mempunyai kerugian ekonomi besar untuk
petani ternak domba, sehingga perhatian banyak ditujukan pada ternak domba. Derajat kesakitan
pada ternak domba bervariasi mulai dari subklinik, akut sampai infeksi yang serius yang
menunjukkan gejala klinik yang klasik. Erasmus (1975) membahas kembali gejala, klinik pada
domba. Gejala pertama yang muncul adalah panas badan mencapai 42C yang dapat bertahan
paling lama sampai 11 hari. Pada kasus yang akut ditandai dengan meningkatnya frekwensi
pernafasan clan kemerahan pada muka clan mukosa hidung . Muntah, salivasi clan bau pada
mulut sering terlihat, kemudian lidah menjadi sulit digerakkan Ingus yang ditimbulkan dapat

berupa cair sampai mukopurulent atau disertai darah, kadang-kadang mengering sehingga hidung
menjadi kering dan mengerak.
Cairan eksudat mata dan kemerahan pada kelopak mata sering terlihat. Pembendungan
cairan pada bibir dan lidah sering terjadi yang kemudian dapat menyebar ke dagu, leher dan
telinga yang diikuti dengan kemerahan pada kulit muka, bibir, pangkal tanduk atau pada seluruh
tubuh. Pada kasus yang berat, kemerahan pada lidah dapat menjadi bengkak dan oedema yang
kemudian berubah menjadi kebiruan (sianosis) . Apabila gejala klinik tersebut sudah tampak,
biasanya ternak tersebut tidak mau makan dan menjadi depresi. Kadang-kadang sering disertai
diare yang dapat bercampur dengan darah. Lukaluka pada kuku kaki termasuk koronitis
(peradangan korona) mulai tampak. Kadang-kadang kuku kaki (hoove) terasa panas den sangat
sakit kalau disentuh hal ini mengakibatkan ternak malas bergerak. Kalaupun dapat berjalan
sering menggunakan lutut.
Di Indonesia, gejala klinik seperti tersebut di atas tampak pada domba-domba impor yang
terinfeksi, dimana mortalitasnya mencapai 30% dan morbiditasnya mencapai 90% (Sudana dan
Malole, 1982). Gard (1987) menemukan bahwa panas, lemas, diare den kekakuan otot tidak
pernah terjadi pada domba yang sakit dengan infeksi percobaan di Australia . Namun,
pembendungan cairan, peradangan pada hidung dan mulut serta depresi selalu tampak. Penelitian
Grainer dkk. (1964) menunjukkan bahwa infeksi alam pada domba bunting triwulan pertama
dapat menyebabkan abortus, kematian janin dalam kandungan, kelainan waktu lahir dari anak
domba yang dilahirkan, domba yang baru lahir menunjukkan pergerakan kaku, bodoh, tidak mau
menyusui, ataxia, buta, tuli dan tak acuh terhadap lingkungan. Umumnya anak domba tersebut
kemudian mati .
2. Pada sapi
Gejala klinik sapi yang terinfeksi secara alamiah umumnya tidak spesifik dan tidak
tampak. Namun gejala klinik hasil infeksi percobaan dapat berupa hipersalivasi, ingusan, oedema
pada bibir, suhu tubuh meningkat sampai 41C, lakrimasi, peradangan diatas kuku (koroner) dan
erosi pada rongga mulut (Stot dkk., 1985; Osburn, dkk. 1985). Pada sapi bunting dapat
menimbulkan abortus, dan anak sapi yang dilahirkan dilaporkan cacat seperti penimbunan cairan
dalam otak (hydranencephali), sendi kaki menjadi kaku sehingga sulit untuk digerakkan dan
hewan menjadi malas untuk bergerak maupun menyusui. Tidak semua gejala klinik seperti yang

disebutkan diatas dapat ditemukan pada ternak yang terinfeksi virus BT dengan infeksi
percobaan.
3. Pada kambing
Walaupun secara serologi, kambing dapat terinfeksi oleh virus BT, namun gejala klinik
yang ditimbulkan baik secara percobaan maupun alam belum pernah dilaporkan (Erasmus, 1975;
Luedke dan Anakwenze, 1972).
4. Kerabat liar domba dan kambing
Beberapa Bighorn domba di Amerika Utara atau Eropa mouflon dipengaruhi oleh
serotipe 8 wabah di Eropa memiliki tanda-tanda klinis menyerupai bluetongue klasik pada
domba, sementara binatang lain mati mendadak tanpa tanda-tanda sebelumnya. Perdarahan juga
dilaporkan. Debit hidung dan kematian mendadak terlihat di Alpine Ibex di kebun binatang
Eropa selama serotipe 8 wabah. Sebuah Ibex Siberia dikembangkan pembengkakan pada kepala
dan leher, tapi selamat.
5. Sapi dan kambing
Infeksi pada sapi dan kambing biasanya subklinis di daerah endemis. Spesies ini lebih
mungkin akan terpengaruh ketika populasi naif pertama terkena virus bluetongue, seperti selama
terakhir serotipe 8 wabah di Eropa. Kasus klinis menyerupai penyakit pada domba, tetapi
cenderung lebih ringan. Tanda-tanda dilaporkan pada sapi termasuk inappetence, lesu, edema
wajah, edema submandibula, peradangan mulut dengan vesikel atau ulkus di mulut, kelebihan air
liur, nasal discharge, tingkat pernapasan meningkat, edema tungkai distal, dan hiperemia dari
band koroner dengan ketimpangan . Moncong beberapa ternak dilaporkan memiliki "terbakar"
penampilan retak. Suhu tubuh kadang-kadang normal. Sapi juga dapat mengembangkan berbagai
lesi kulit termasuk vesikular dan dermatitis ulseratif, dermatitis periokular, lesi nekrotik,
pengelupasan kulit yang terkena dan fotodermatitis. Dalam beberapa kasus, kulit dapat
mengembangkan lipatan tebal dan retak, terutama di sekitar withers dan leher. Ambing dan dot
lesi, seperti eritema, borok, retak dan lesi nekrotik, telah dilaporkan di kedua sapi dan kambing,
dan produksi susu dapat menurun. Dalam beberapa kambing, demam tinggi dan penurunan
produksi susu dilaporkan menjadi satu-satunya tanda. Aborsi dan lahir mati telah dilaporkan

pada kedua spesies, dan kelainan kongenital termasuk lesi SSP telah diamati di betis baru lahir.
Sterilitas sementara dapat dilihat di banteng. Kematian adalah mungkin, tapi jarang.
6. Camelids
Hanya beberapa kasus telah dijelaskan di llamas dan alpacas. Beberapa fulminan,
infeksi yang fatal yang ditandai dengan singkat (<24 jam) sejarah gangguan pernapasan berat,
dengan penyerahan diri atau keengganan untuk naik, diikuti dengan cepat oleh kematian. Tandatanda tambahan di beberapa hewan ini termasuk batuk, berbusa mulut, suara paru yang
abnormal, aborsi, paresis dan disorientasi. Beberapa laporan dijelaskan kasus yang terisolasi;
pada orang lain, llama beberapa tambahan juga memiliki dyspnea, atau dilaporkan telah
mengembangkan tanda-tanda pernafasan tetapi pulih. Dalam dua studi, sejumlah kecil llama
eksperimental terinfeksi atau alpacas memiliki tanda-tanda hanya ringan (anoreksia,
konjungtivitis ringan, periode penyerahan diri / tanda-tanda ketidaknyamanan, suara kelas paru
rendah) atau tetap asimtomatik.
Kematian mendadak dilaporkan dalam satu Baktria unta di kebun binatang Eropa
selama serotipe 8 wabah. Tiga unta dromedaris eksperimental terinfeksi dengan serotipe 1 virus
tetap asimtomatik.
7. Yak, bison dan musk ox
Selama serotipe 8 wabah di Eropa, beberapa yak, bison Amerika Utara dan Eropa
bison di kebun binatang dikembangkan tanda-tanda klinis menyerupai penyakit pada domba.
Edema kornea serta konjungtivitis dilaporkan di semua tiga spesies, dan beberapa yak memiliki
eritema ambing dengan papula dan remah. Dyspnea terjadi di beberapa yak dan bison Eropa, dan
kematian mendadak dilaporkan di semua tiga spesies. Demam, lesu, konjungtivitis dan aborsi
terlihat dalam sapi musk selama wabah ini. Bison Amerika Utara diinokulasi dengan serotipe 11
isolat tetap asimtomatik.

8. Cervids
Sementara infeksi subklinis tampak umum di beberapa spesies cervids, sejumlah kasus
bluetongue telah dilaporkan di rusa berekor putih. Sindrom dilaporkan pada rusa berekor putih
naturally- atau eksperimen-terinfeksi termasuk tanda-tanda spesifik seperti demam, depresi berat,
anoreksia, dan penurunan respon rasa takut yang normal, serta tanda-tanda mirip dengan
bluetongue klasik pada domba. Beberapa hewan memiliki gangguan pernapasan berat, dan lainlain yang dikembangkan tanda-tanda perdarahan termasuk perdarahan multifokal dipada kulit
dan mukosa, diare berdarah yang parah, atau perdarahan yang berlebihan dan pembentukan
hematoma di situs venipuncture. Penyakit peracute ditandai dengan kepala dan edema leher, atau
kasus akut terutama ditandai dengan perdarahan seluruh tubuh, didominasi dalam beberapa
epidemi, dan sering fatal, Rumen dan lesi kuku telah dilaporkan di rusa berekor putih dari daerah
mana penyakit ini endemik. Ketimpangan dapat bertahan setelah tanda-tanda lain diselesaikan.
Sindrom dilaporkan di antelope pronghorn bebas mulai di AS termasuk kematian mendadak
setelah hewan-hewan itu terganggu, atau sakit yang berkepanjangan lebih (1-6 hari), dengan
tanda-tanda anoreksia, penurunan aktivitas, penyerahan diri dan keengganan untuk bergerak. Dua
tanduk bercabang diinokulasi dengan serotipe virus 8 menjadi tertekan dan inappetent, dengan
bernapas bekerja, dan mampu berdiri hanya dengan kesulitan yang ekstrim. Kedua kasus fatal
Ada informasi terbatas cervids lainnya. Meskipun penyakit yang fatal dikaitkan
dengan infeksi bluetongue telah dilaporkan di keledai rusa liar (Odocoileus hemionus) di AS,
demam durasi beberapa hari 'adalah satu-satunya tanda di rusa hitam ekor eksperimental
terinfeksi (Odocoileus hemionus columbianus). Tidak ada laporan dari wabah atau kasus klinis
antara cervids liar di Eropa, meskipun bukti paparan luas, khususnya di kalangan rusa merah.
Rusa bera dan blackbuck (Antilope cervicapra) menjadi sakit selama serotipe 8 wabah di kebun
binatang Eropa. Tanda-tanda klinis pada rusa fallow termasuk ulkus oral, kelebihan air liur,
kesulitan makan dan ketimpangan pada beberapa hewan, dan kematian mendadak pada orang
lain. Kematian mendadak dilaporkan di blackbuck. Eksperimental terinfeksi rusa merah (Cervus
elaphus) dan Amerika Utara rusa (Cervus elaphus canadensis), yang terkait erat, tetap tanpa
gejala atau hanya memiliki tanda-tanda klinis ringan yang terdiri dari demam sementara,
konjungtivitis ringan dan diare dengan jumlah kecil dari darah dan lendir.

9. Karnivora
Virus Bluetongue dapat menyebabkan aborsi, kadang disertai sakit fatal, pada anjing.
Serotipe 11 terlibat dalam semua kasus sampai saat ini. Empat anjing hamil eksperimental
terinfeksi meninggal 5-10 hari setelah membatalkan, atau yang eutanasia dengan dyspnea.
Beberapa anjing yang terinfeksi secara alami juga meninggal setelah aborsi, dengan gangguan
pernapasan dan tanda-tanda gagal jantung dalam beberapa kasus. Satu anjing ditemukan tewas
setelah pemulihan jelas dari operasi caesar hari sebelumnya. Anjing lain dibatalkan, tetapi tidak
menjadi sakit. Beberapa anjing hamil diinokulasi dengan serotipe 1 atau 11 virus tetap baik.
Keberadaan anjing seropositif sehat di beberapa daerah endemik juga menunjukkan bahwa
beberapa infeksi tidak menunjukkan gejala.
Kelesuan adalah satu-satunya tanda klinis yang dilaporkan dalam 2 bluetongue
terinfeksi virus lynx Eurasia. Salah satu hewan ini meninggal setelah 2 hari dengan infeksi
virologi dikonfirmasi. Hewan lainnya meninggal beberapa bulan kemudian, dan hanya bukti
serologis paparan saat ini.

TRANSMISI
Virus Bluetongue terutama ditularkan oleh menggigit pengusir hama dalam genus
Culicoides, yang vektor biologis. Pengusir hama ini bisa terbang jarak pendek dari 1- 2 km,
tetapi mereka dapat ditiup lebih jauh oleh angin. Beberapa spesies diketahui vektor efektif
termasuk Culicoides sonorensis di Amerika Serikat; C. brevitarsis di Australia dan sebagian Asia;
C. imicola di Afrika, Timur Tengah, Eropa Selatan dan sebagian Asia; C. bolitinos di beberapa
daerah yang lebih dingin dari Afrika; dan C. insignis di Karibia, Amerika Tengah dan Selatan dan
bagian dari Amerika Serikat spesies lain (misalnya, anggota dari kompleks C. obsoletus-dewulfi
di Eropa Utara) mungkin penting secara lokal. Arthropoda menggigit lain seperti keds domba
(Melophagus ovinus), kutu sapi (Haematopinus eurysternus), kutu dan nyamuk mungkin mampu
menularkan virus mekanis, tetapi peran mereka, jika ada, dianggap kecil. Virus Bluetongue juga
dapat menyebar secara mekanis pada peralatan bedah dan jarum. Beberapa strain lapangan dan
strain vaksin dilemahkan dapat menginfeksi janin dalam kandungan. Beberapa hewan ini dapat

lahir terinfeksi, dan dapat memperkenalkan virus ke daerah-daerah baru jika bendungan
diangkut. Virus Bluetongue dapat menahan musim dingin di beberapa daerah dingin, dengan
mekanisme yang tidak diketahui.
Virus Bluetongue dapat bertahan dalam darah beberapa hewan untuk waktu yang
relatif lama, memfasilitasi transmisi ke Culicoides. Hidup virus telah diisolasi dari beberapa
ternak selama 5-9 minggu, dan RNA virus telah ditemukan lebih lama. Viremia berkepanjangan
juga telah dilaporkan pada spesies lain, seperti rusa merah (Cervus elaphus). Namun, hewan
akhirnya menghapus virus, dan tidak ada bukti bahwa mereka tetap terus-menerus terinfeksi,
bahkan ketika terinfeksi dalam kandungan. Serotipe 25 (Toggenburg Orbivirus) pada kambing
mungkin menjadi pengecualian. Dalam satu laporan, serotipe 25 RNA virus ditemukan selama
minimal 2 tahun di individu hewan, dan darah beberapa kambing itu menular di 12-19 bulan.
Setidaknya beberapa strain bluetongue (termasuk anggota serotipe 1, 8 dan 26) dapat
ditularkan secara langsung antara ruminansia dalam kontak dekat. Ini adalah rute baru diakui,
dan umumnya dianggap penting sedikit epidemiologi dibandingkan dengan transmisi oleh
pengusir hama. Serotipe 25 dan / atau 26 mungkin pengecualian, karena virus ini tampaknya
tidak meniru mudah di beberapa vektor Culicoides atau di baris sel yang berasal dari pengusir
hama ini. Mekanisme penularan kontak masih belum pasti. Saran telah disertakan bersama pakan
dan air palung, kontaminasi luka dengan darah selama pertempuran antara rusa merah, dan
kontak dengan plasenta yang terinfeksi dalam kasus sapi. Lisan dari virus bluetongue telah
dibuktikan dalam kolostrum, dan eksperimental melalui virus budidaya atau urin dari domba
eksperimental terinfeksi. Serotipe 26 asam nukleat ditemukan pada tingkat rendah di hidung dan
sekresi mata kambing, dan virus ini diisolasi dari swab okular. Virus Bluetongue juga dapat
menumpahkan dalam air mani.
Bagaimana bluetongue virus menginfeksi karnivora masih belum pasti. Anjing
seropositif, kucing dan karnivora liar di Afrika dianggap telah dimakan jaringan dari hewan yang
terinfeksi, dan lynx Eurasia di kebun binatang telah makan janin ruminansia dan hewan lahir
mati dari daerah wabah. Namun, anjing seropositif di Maroko belum diberi makan diet mentah,
menunjukkan bahwa mereka terinfeksi oleh Culicoides. Gigitan dari pengusir hama juga diduga
telah bertanggung jawab untuk beberapa kasus klinis antara anjing hamil di AS, meskipun rute

lainnya (misalnya infeksi melalui air mani atau semen extender terkontaminasi) tidak bisa
sepenuhnya dikesampingkan. Anjing lain menjadi terinfeksi ketika mereka sengaja menerima
vaksin virus yang terkontaminasi bluetongue. Transmisi transplasental telah dibuktikan pada
anjing, setidaknya untuk serotipe 11.

MASA INKUBASI
Masa inkubasi diperkirakan sekitar seminggu, dengan kisaran 2-10 hari.

POST MORTEM LESI


Selain lesi eksternal terlihat pada hewan yang hidup, seperti edema wajah dan lesi
Band koroner, domba mungkin memiliki hiperemia, perdarahan, erosi dan / atau borok di
mukosa dari saluran pencernaan dari mulut ke forestomachs, terutama di mana abrasi mekanik
terjadi (misalnya, permukaan bukal pipi dan mukosa dari alur esofagus dan lipat omasal).
Jantung mungkin berisi petechiae, ekimosis dan fokus nekrotik; di bluetongue, nekrosis focal
sangat umum di otot papiler dari ventrikel kiri. Perdarahan subintimal di dasar arteri pulmonalis
juga karakteristik. Edema paru, yang dapat disertai dengan pleura dan perikardial efusi,
merupakan penyebab umum kematian dalam kasus-kasus yang fatal, dan mungkin sebuah
temuan yang menonjol. Hiperemia, perdarahan dan / atau edema dapat juga dideteksi pada organ
internal lainnya. Selain itu, otot rangka mungkin memiliki perdarahan fokal atau nekrosis, dan
pesawat fasia intermuskularis dapat diperluas dengan cairan edema. Lesi pada janin dan bayi
baru lahir domba dapat mencakup kavitasi lesi di otak, hydranencephaly, porencephaly, displasia
retina dan kelainan tulang.
Tanda-tanda yang sama dapat dilihat pada spesies lain. Edema paru adalah temuan
yang paling menonjol di llama, alpacas, dan anjing hamil eksperimental terinfeksi. Petekie
meluas ke perdarahan ecchymotic yang umum di beberapa hewan, termasuk beberapa rusa ekor
putih. Sebuah lynx Eurasia yang mati dengan virologi dikonfirmasi infeksi virus bluetongue

memiliki lesi kotor perdarahan petekie, hematoma subkutan, anemia dan kemacetan paru dengan
edema. Sebuah lynx kedua yang meninggal beberapa bulan kemudian itu kurus, dengan anemia,
pembesaran kelenjar getah bening dan agar-agar, perdarahan petekie dan pneumonia.

TES DIAGNOSTIK
Virus Bluetongue dapat ditemukan dalam darah dari hewan hidup, dan di limpa,
kelenjar getah bening atau sumsum tulang sampel yang dikumpulkan di nekropsi. Sebaliknya
reaksi berantai polimerase transcriptase-(RT-PCR) tes secara luas digunakan untuk
mengidentifikasi RNA virus dalam sampel klinis, dan juga dapat mengidentifikasi serotipe. Virus
Bluetongue dapat diisolasi dalam telur ayam berembrio atau berbagai lini sel mamalia atau
serangga (misalnya, KC [Culicoides variipennis] sel). Inokulasi hewan domba atau menyusui
tikus biasanya tidak digunakan, kecuali fasilitas kultur sel tidak tersedia; Namun, dilaporkan
menjadi lebih sensitif dibandingkan isolasi dalam kultur sel. Sampel darah untuk isolasi virus
harus dikumpulkan sedini mungkin setelah infeksi. Virus Bluetongue biasanya diidentifikasi
(yaitu, untuk tingkat serogrup bluetongue) oleh RT-PCR. Imunofluoresensi / immunoperoxidase
pewarnaan, atau ELISA-kelompok tertentu antigen-capture juga dapat digunakan. Virus dapat
serotyped oleh RT-PCR, sekuensing gen atau virus tes netralisasi. Serotyping oleh virus
netralisasi bisa sulit untuk menafsirkan, karena beberapa serotipe bereaksi silang dalam
pengujian ini.
Serologi dapat digunakan untuk mengidentifikasi hewan yang telah terinfeksi atau
terkena virus bluetongue. Antibodi biasanya muncul 7-14 hari setelah infeksi dan biasanya gigih.
ELISA sering digunakan, tetapi gel imunodifusi agar (AGID) atau virus netralisasi juga dapat
digunakan. AGID tidak dapat dipercaya membedakan apakah hewan tersebut terinfeksi oleh
virus bluetongue atau penyakit hemoragik epidemi virus (EHD); Namun, antibodi monoklonal
berbasis ELISA kompetitif dapat membedakan antibodi untuk dua virus tersebut. ELISA tidak
langsung dapat mendeteksi antibodi terhadap virus bluetongue dalam sampel susu massal.
Fiksasi komplemen sebagian besar telah digantikan oleh tes lain, meskipun mungkin masih dapat
digunakan di beberapa negara.

1. Pemeriksaan serologik
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya antibodi terhadap virus BT. Uji
yang dilakukan dapat dengan uji serum netralisasi (SN), uji agar gel imunodifusi (AGID), uji ikat
komplemen (CF), uji antibodi fluoresen (FAT), ataupun uji enzyme linked immunoassay
(ELISA). Masingmasing uji mempunyai spesifisitas dan sensitifitas yang berbeda.
2. Pemeriksaan virologik
Pemeriksaan ini berdasarkan virus yang diperoleh, untuk itu isolasi virus BT baik dari
darah, semen maupun jaringan diperlukan untuk men dapatkan isolat. Jaringan tubuh yang dapat
digunakan untuk isolasi virus BT adalah jaringan sistem vaskuler yaitu jantung, aorta, tulang
sumsum, limpa, hati, paru-paru, ginjal, otot trapezius, lidah, plasenta dan limpoglandula (Liendo
dan Castro, 1986; Pini, 1976). Namun, jantung dan aorta adalah organ yang paling sering
digunakan untuk isolasi virus. Organ tersebut dibuat suspensi 20-30% dalam cairan buffer,
kemudian diinokulasikan intra venus pada telur ayam berembryo umur 11 hari, bayi tikus putih
umur kurang dari 3 hari secara intra serebral, ataupun biakan jaringan VERO, BHK-21 .

DIAGNOSA BANDING
Penyakit ini memiliki gejala klinis yang sangat mirip dengan penyakit Epizootic
Haemorrhagic pada rusa, tetapi dapat dibedakan secara serologis dan sifat pertumbuhan virus
pada telur ayam berembrio disamping itu tingkat kematian pada epizootic haemorrhagic tinggi
dan menyerang segala umur. BT juga mirip dengan beberapa penyakit, Orf atau Contagious
Ecthyma, Ulcerative Dermatosis dan Sheep Pox. Sheep pox umumnya ditandai dengan tingkat
kematian yang tinggi dengan lesi pox yang tersifat.
Morbiditas dan Mortalitas
Tingkat morbiditas dan mortalitas bervariasi tergantung dari populasi vector dan status
hewan. Jika penyakit terjadi pertama kali di suatu daerah maka tingkat morbiditas bisa mencapai
50-75% dan mortalitas 20-50%, selanjutnya setelah terjadi kekebalan kelompok dan populasi
vektor rendah maka tingkat morbiditas dan mortalitas menjadi rendah pula

PENGOBATAN

Tidak ada pengobatan khusus yang tersedia, selain perawatan suportif.Bluetongue sulit
dikendalikan setelah telah dikirim ke vektor nya, dan infeksi harus dilaporkan dengan cepat di
negara-negara di mana virus ini tidak endemik. Persyaratan pelaporan di daerah endemis dapat
bervariasi, tergantung pada faktor-faktor seperti adanya program pengendalian. Sumber yang
tepat (misalnya, otoritas negara di AS) harus dikonsultasikan untuk informasi terbaru.
PENCEGAHAN
Bluetongue terutama dikendalikan oleh vaksinasi. Vaksin harus disesuaikan dengan
serotipe virus; perlindungan terhadap serotipe lainnya dapat dibatasi atau tidak ada. Kedua
vaksin dilemahkan dan dibunuh saat dibuat (meskipun tidak selalu dijual di semua wilayah), dan
vaksin multivalent tersedia. Vaksin dilemahkan dianggap lebih efektif daripada vaksin dibunuh;
Namun, pengusir hama dapat mengirimkan strain vaksin ini untuk hewan divaksinasi selama
musim vektor. Strain vaksin tersebut bisa mengalami reassortment dengan strain lapangan,
meskipun seberapa sering hal ini terjadi saat ini tidak jelas. Strain vaksin dilemahkan juga dapat
menyebabkan malformasi janin di domba betina hamil, dan dalam beberapa kasus, mungkin
dapat menyebabkan penyakit sistemik pada hewan sangat rentan.
Surveilans hewan sentinel dapat mendeteksi virus bluetongue sebelum wabah terjadi,
dan memungkinkan kampanye vaksinasi atau kontrol lain yang akan dilaksanakan awal. Kontrol
gerakan untuk hewan yang terinfeksi (termasuk hamil, hewan seropositif) dapat membantu virus
batas pengenalan ke daerah baru. Langkah-langkah untuk mengurangi paparan vektor Culicoides
mungkin juga membantu selama wabah atau di daerah-daerah endemik, meskipun mereka tidak
mungkin efektif sebagai ukuran kontrol tunggal. Langkah-langkah tersebut dapat mencakup
menghindari lingkungan dimana pengusir hama yang lebih umum (misalnya, dataran rendah,
padang rumput basah), hewan stabling dari senja hingga fajar, dan / atau penggunaan insektisida
atau penolak serangga (misalnya, jaring insektisida-diresapi di kandang) untuk membantu
melindungi kelompok hewan. Pengendalian vektor yang efektif adalah menantang, karena
faktor-faktor seperti situs peternakan yang luas dan populasi besar Culicoides, dan ada juga
masalah lingkungan dengan meluasnya penggunaan pestisida. Beberapa spesies Culicoides
sekarang dikenal memasuki lumbung dan kandang, terutama di akhir musim ketika suhu menjadi
lebih dingin. Transmisi kontak langsung diperkirakan hanya memiliki peran kecil di sebagian

besar wabah; Namun, desinfeksi dan pengendalian infeksi tindakan lain mungkin dianggap
dalam beberapa situasi.
Virus BT sekarang diketahui dapat menginfeksi ruminansia di tiap benua yang ada ternaknya.
Geografi dan iklim mendorong terjadinya epidemik lidah biru di daerah tertentu tergantung
kepada masuknya vektor serangga ke daerah yang ternaknya rentan. Hewan yang sakit dipisah
dan tidak memasukkan hewan tertular ke daerah yang bebas. Melakukan penyemprotan dengan
insektisida pada kandang atau lokasi disekitarnya untuk mengurangi populasi nyamuk dan vektor
mekanis lainnya. Pengendalian melalui vaksinasi sangat perlu di daerah endemik virus BT yang
virulen. Vaksin BT telah dikembangkan yaitu vaksin hidup dan vaksin mati. Vaksin hidup yang
dilemahkan seringkali menimbulkan kasus pasca vaksinasi, sedangkan vaksin mati lebih aman,
akan tetapi daya rangsangan pembentukan antibodi sangat lemah dan pemberian dosis yang
besar. Penelitian selanjutnya dikembangkan vaksin rekayasa genetik yaitu digunakan vaksin
yang berasal dari protein P2 virus BT dan disuntikkan 3X100mcg P2 yang dapat memproteksi
100% dan titer antibodi yang tinggi setelah 40-42 hari.
Vaksin yang digunakan dapat berbentuk vaksin aktif maupun inaktif jenis vaksin yang
digunakan dapat terdiri dari :
a. Vaksin monovalen, yang terdiri dari 1 tipevirus BT.
b. Vaksin bivalen, yang terdiri dari 2 tipe virus BT.
c. Vaksin polivalen, yang terdiri lebih dari 2 tipe virus BT.
Di Indonesia, pencegahan dengan vaksinasi terhadap ternak lokal tidak dilakukan,
mengingat gejala klinik yang ditimbulkan belum dilaporkan ada dan tipe virus BT yang berada di
Indonesia saat ini masih dalam proses penelitian. Namun perlu dipertimbangkan vaksinasi
terhadap domba yang akan diimpor ke Indonesia, terutama domba yang berasal dari daerah bebas
BT, agar tidak terinfeksi oleh virus BT yang ada di Indonesia. Sampai saat ini belum diketahui
apakah pemberian vaksin dari tipe tertentu akan memberikan proteksi silang terhadap infeksi tipe
lainnya. Alternatif lain adalah dengan pemberantasan vektor penyakit. Namun hal ini sangat sulit
untuk dilakukan, baik dari segi ekonomik maupun efisiensi. Beberapa jenis Culicoides sp. yang
dapat bertindak sebagai vektor BT, mempunyai media perkembangbiakan pada campuran
kotoran sapi dan lumpur.

Dalam upaya pengendalian penyakit BT, hewan yang menunjukkan tanda-tanda klinis
akut harus dimusnahkan. Hewan yang tampak sehat, meskipun secara serologis menunjukkan
adanya antibodi terhadap BT, dapat dikonsumsi. Penyakit BT bukan merupakan penyakit
zoonosis sehingga tidak menular ke manusia. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah
atau mengendalikan penyakit BT adalah sebagai berikut:
a. Bila dijumpai kasus BT segera laporkan kepada Direktur Jenderal Peternakan termasuk
tindakan sementara yang telah diambil dengan tembusan kepada Kepala Dinas
Peternakan setempat.
b. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan melarang impor hewan dari negara yang
endemis BT. Penerapan karantina yang ketat terutama di daerah port of entry perlu
ditekankan agar masuknya serotipe virus BT yang baru dan patogen dapat diantisipasi.
Penerapan karantina terhadap lalu lintas ternak dari daerah tertular juga harus
dilaksanakan. Impor semen beku perlu disertai sertifikat bebas terhadap virus BT.
c. Impor ternak domba dari daerah bebas BT perlu diikuti dengan vaksinasi terhadap BT
karena sebagian besar daerah di Indonesia positif terdapat virus BT. Vaksinasi dilakukan
sesuai dengan serotipe virus yang berada di daerah penerima ternak, sehingga
kemungkinan terjadinya wabah BT dapat dihindarkan.
d. Penyakit BT merupakan salah satu penyakit arbovirus di mana vektor serangga
memainkan peranan yang sangat penting dalam penularan penyakit dari hewan ke hewan.
Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan sanitasi kandang serta penyemprotan
dengan insektisida.

DESINFEKSI
Desinfektan dilaporkan efektif terhadap virus bluetongue meliputi natrium hipoklorit
dan 3% natrium hidroksida. Natrium hipoklorit, yodium (potassium tetraglicine triiodida) dan
amonium kuaterner desinfektan (didecyldimethylammonium klorida) bisa menginaktivasi
Orbivirus lain, Afrika virus penyakit kuda, dan mungkin juga aktif terhadap bluetongue.
LAMPIRAN GAMBAR

Domba. Ada eksudat bilateral hidung, erosi planum hidung, dan air liur berlebihan.

Domba, mulut. Ada erosi linear dan kemerahan dari mukosa bukal yang tepat.

Bovine. Moncong ditutupi oleh kerak patuh, dan mendasari (terkikis) jaringan
adalah hyperemic.

Bovine, kelenjar susu. Ada ulserasi penggabungan luas kulit dot.

Domba, lidah. Mukosa lateral yang berisi beberapa bisul yang ditutupi oleh
eksudat dan dikelilingi oleh zona hiperemia.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Penyakit lidah biru (bluetongue) termasuk penyakit infeksi pada domba, sapi, kambing
dan hewan berkuku lainnya tetapi tidak menular secara kontak yang disebabkan oleh virus
arbovirus. Penyakit ini tidak bersifat zoonosis sehingga tidak ditularkan dari manusia ke hewan.
Gejala klinis utama dari penyakit BT adalah berupa demam, hiperemia pada selaput lendir, dan
mukosa lain serta membirunya lidah. Penyakit BT menular melalui vektor nyamuk Culicoides
sp. yang mengandung arbovirus. Penyakit BT dapat dicegah dengan menggunakan vaksin BT
yang sudah ada.

Saran
Dilakukan penulusuran lebih lanjut tentang penyakit Bluetongue, dengan referensi lebih
yang lengkap lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. Bluetongue Sore Muzzle, Pseudo Foot-and-Mouth Disease,Muzzle Disease,


Malarial Catarrhal Fever, Epizootic Catarrh, Beksiekte. The Center for Food Security &
public Health

Erasmus, B.J (1975). Bluetongue in sheep and goats . Aust . Vet J. 51 : 165-170.
Gard, G.P . (1987) . Studies of bluetongue virulence and pathogenesis in sheep. Tech. Bull. 103:
1-53.
Liendo, G., and Castro, A.E. (1981). Bluetongue in cattle : diagnosis and virus isolation. Bovine
Pract. 16: 87,95 ].
Osburn, B.I . (1985). Role of the immune system in the bluetongue hosts-viral interactions . In
bluetongue and related orbiviruses . Progress in clinical and biological research, vol 178,
pp. 27-36 . (Eds : T.L . Barber and M.M . Jochim).
Sendow, I., Daniels, P.W., Soleha, E., Hunt, N. and Ronohardjo, P. (1991). Isolation of
bluetongue viral serotypes 7 and 9 from healthy sentinel cattle in West Java, Indonesia.
Aust. Vet. J. 68:405.
Sendow, I., Young, P., and Ronohardjo, P. (1986) Preliminary survey for antibodies to
bluetongue group virus in Indonesian ruminants. Vet. Rec., 119: 603.
Sendow,Indrawati. 2005.Penyakit Bluetongue Pada Ruminansia, Distribusi Dan Usaha
Pencegahannya Di Indonesia . Jurnal Litbang Pertanian

St George, T.D . (1985). Epidemiology of bluetongue in Australia: the vertebrate hosts . In


bluetongue and related orbiviruses. Progress in clinical and biological research, vol 178,
pp . 519-525 . (Eds: T.L . Barber and M.M.