P. 1
BUKU_JICA

BUKU_JICA

|Views: 545|Likes:
Dipublikasikan oleh dwiana_asrorie

More info:

Published by: dwiana_asrorie on Mar 28, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/19/2012

pdf

text

original

buku JICA.

indd, Spread 1 of 22 - Pages (44, 1) 3/8/07 10:55 PM

Daftar Singkatan
ADB : Asian Development Bank ASMINDO : Asosiasi Mebel Indonesia BAPPEDA : Badan Perencanaan Pembangu nan Daerah BPM : Badan Penanaman Modal BPT : Badan Pelayanan Terpadu CEMSED : Center for Small and Micro Enterprises Development Dispenda : Dinas Pendapatan Daerah DPU : Dinas Pekerjaan Umum ESQ : Emotional Spiritual Quotient FE-UKSW : Fakultas Ekonomi-Universitas Kristen Satya Wacana HO : Hinder Ordonantie/Izin Gangguan IMB : Izin Mendirikan Bangunan ISO : International Standard Organi zation KPT : Kantor Pelayanan Terpadu LC : Letter of Credit PAKI : Persatuan Ahli Kecantikan In donesia SDM : Sumber Daya Manusia SIUP : Surat Izin Usaha Perdagangan SK : Surat Keputusan SNI : Standar Nasional Indonesia TDI : Tanda Daftar Industri TDP : Tanda Daftar Perusahaan UKM : Usaha Kecil dan Menengah UPT : Unit Pelayanan Terpadu

P E R I Z I N A N

SATU PINTU
E K O N O M I

DAERAH MELAJU
Mengungkap Kisah Sukses Badan Pelayanan Terpadu (BPT) Kabupaten Sragen, Jawa Tengah
Penulis Hariatni Novitasari Reviewer Ubaidillah Editor Redhi Setiadi

39

buku JICA.indd, Spread 2 of 22 - Pages (2, 43) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Penyusunan
DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH
Drs. H. Syamsul Arief Rivai Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Drs. Soegeng Sasomo Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Drs. Kun Wildan, MBA Kepala Bagian Perencanaan Ditjen Bina Bangda Selaku Koordinator Tim Kerjasama JICA-Bangda Ir. Bambang Suliantoro,M.Pst. Kasubdit Wilayah Perbatasan, Direktorat Pengembangan Wilayah Ir. Gunawan, MA, Kasubdit Perencanaan Pemanfaatan & Pengendalian Tata Ruang, Direktorat Fasilitasi Penataan Ruang & Lingkungan Hidup Ir. Diah Indrajati, MSc. Kasubdit Pengembangan Kapasitas Pengelolaan SDA & Lingkungan Hidup, Direktorat Fasilitasi Penataan Ruang & Lingkungan Hidup Dra. Tjutju Hendrawati, Kasubdit Promosi Ekonomi Daerah, Direktorat Pengembangan Ekonomi Daerah Ir. Tavip Rubianto, MT. Kasubag Evaluasi Program, Bagian Perencanaan Drs. Dindin Wahidin, MSi. Kasubag Tata Usaha, Direktorat Perkotaan Ir. St. Zuchriaty, MA Kasi Kemitraan, Subdit Kerjasama Pembangunan Perkotaan, Direktorat Perkotaan Ir. Zamzani B. Tjenreng, MSi. Kasi Kawasan Strategis, Subdit Kawasan Andalan dan Strategis, Direktorat Pengembangan Wilayah Drs. Ucok Damenta,Mag.Rer.Publ. Bagian Perencanaan

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU
Mengungkap Kisah Sukses Badan Pelayanan Terpadu (BPT) Kabupaten Sragen, Jawa Tengah

KANTOR JICA INDONESIA Penulis Hariatni Novitasari Reviewer Ubaidillah Editor Redhi Setiadi Desain Cover Wahyu Kokkang Tata Artistik Taufik Teguh Setiawan Penerbit Jawa Pos Institute of Pro Otonomi Percetakan Det@ail Advertising Cetakan I Maret 2007 ISBN
Mr. Keiichi Kato Resident Representative Mr. Nobuhiko Hanazato Deputy Resident Representative Mr. Yamanishi Hiroaki Assistant Resident Representative Mr. Sakuma Hiroyuki JICA Expert on Regional Development Policy in JICA Bangda Ms. Nirwana Anar Assistant JICA-BANGDA

JAWA POST INSTITUTE OF PRO OTONOMI (JPIP)
Mr. Redhi Setiadi Team Leader Mr. Ubaidillah Researcher Ms. Hariatni Novitasari Editor Mr. Arifin Hamid Video Specialist Mr. Rahmanda Assistant Video Specialist Wahyu Widodo Layouter

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SRAGEN
Mr. Untung Wiyono Bupati Kabupaten Sragen Mr. Maksun Isnadi Kepala Kantor Pelayanan Terpadu Kabupaten Sragen
Buku ini dilindungi Undang-Undang Hak Cipta. Segala bentuk penggandaan, reproduksi harus seizin penerbit

38

buku JICA.indd, Spread 3 of 22 - Pages (42, 3) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

Lampiran
DAFTAR LAYANAN DI KPT SRAGEN

PERIZINAN
NO
37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

JENIS LAYANAN PERIZINAN
Perizinan Penggunaan Ketel, Minyak untuk setiap Ketel Perizinan Penggunaan Bejana Uap/ Pemanas Air Berdiri Sendiri Perizinan Penggunaan Bejana Tekan Perizinan Botol Baja Perizinan Penggunaan Pesawat Angkut Perizinan Penggunaan Pesawat Tenaga dan Produksi Perizinan Penggunaan Instalasi Kebakaran Perizinan Penggunaan Instalasi Listrik Perizinan Penggunaan Instalasi Penyalur Petir Izin Trayek Tetap Izin Usaha Angkutan Izin Kursus Izin Usaha Peternakan Izin Pemotongan Hewan Izin Pendirian Keramba Apung Izin Usaha Jasa Konstruksi

WAKTU
7 hari kerja 7 hari kerja 7 hari kerja 7 hari kerja 7 hari kerja 7 hari kerja 7 hari kerja 7 hari kerja 7 hari kerja 12 hari kerja 12 hari kerja 12 hari kerja 12 hari kerja 12 hari kerja 12 hari kerja 12 hari kerja

KATA PENGANTAR
Dalam rangka meningkatkan efisiensi dan profesionalisme, pemerintah daerah perlu melakukan penataan ulang terhadap birokrasi yang selama ini dijalankan (bureaucracy reengineering). Penataan ulang terhadap birokrasi kiranya menjadi hal yang mendesak untuk dilakukan manakala praktik atau bentuk birokrasi yang selama ini dijalankan cenderung membuat masyarakat khususnya kalangan pengusaha cenderung ”alergi” terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan birokrasi. Birokrasi dalam benak mereka adalah antrian panjang, urusan yang berbelit-belit, loncat dari satu meja ke meja lainnya yang pada ujungnya akan berakibat pada apa yang disebut dengan ekonomi biaya tinggi. Kondisi semacam ini jelas akan memberikan dampak yang buruk terhadap pertumbuhan perekonomian daerah. Secara operasional penataan ulang terhadap birokrasi paling tidak memerlukan 2 (dua) langkah mendasar, yaitu reformasi kelembagaan (institutional reform) dan reformasi menajemen publik (public management reform). Reformasi kelembagaan menyangkut pembenahan seluruh alat-alat pemerintahan, baik struktur maupun infrastrukturnya. Adapun reformasi menajemen publik terkait dengan perlunya digunakan model manajemen pemerintahan yang baru yang sesuai tuntutan perkembangan zaman. Dalam kaitan ini langkah penting yang harus dilakukan adalah menata seluruh prosedur dan mekanisme pelayanan publik yang diorientasikan pada terciptanya prosedur dan mekanisme yang efisien,

NON PERIZINAN
NO
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

JENIS LAYANAN PERIZINAN
KK Sragen Kota KTP Sragen Kota Akte Kelahiran Akte Kematian Akte Pengangkatan Anak Akte Pengakuan dan Pengasuhan Anak Akte Perubahan/Ganti Nama Akte Perkawinan Akte Perceraian Informasi Pengaduan

WAKTU
1 hari 1 hari 5 hari 2 hari 2 hari 2 hari 2 hari 2 hari 2 hari 2 hari

37

i

buku JICA.indd, Spread 4 of 22 - Pages (4, 41) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

sehingga diharapkan dapat terwujud suatu bentuk pelayanan yang optimal kepada masyarakat. Sejalan dengan pola pikir sebagaimana tersebut di atas, Ditjen Bina Pembangunan Daerah sesuai dengan tugas dan fungsinya telah menyusun suatu kebijakan tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang dituangkan dalam bentuk Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 24 Tahun 2006. Kebijakan ini pada prinsipnya diarahkan untuk menghilangkan birokrasi yang berbelit-belit dalam proses perizinan melalui penyederhanaan pelayanan dalam bentuk pelayanan terpadu satu pintu. Melalui kebijakan ini diharapkan akan terwujud suatu pelayanan publik yang cepat, murah, mudah, transparan, pasti dan terjangkau. Sejalan dengan kebijakan ini, melalui kerja sama dengan JICA di bawah payung program Regional Development Policies for Local Government (RDPLG) dan dilanjutkan dengan program Capacity Development for Management of Regional Development (CDMRD), Ditjen Bina Pembangunan Daerah telah melakukan pengkajian terhadap praktek-praktek penyelenggaraan pembangunan daerah yang dinilai berhasil yang selanjutnya disebut Best Practice Cases. Salah satu praktik penyelenggaraan pembangunan yang dinilai berhasil adalah Sistem Pelayanan Teknis Satu Atap di Kabupaten Sragen. Textbook ini disusun sebagai suatu upaya untuk mendokumentasikan seluruh proses penyelenggaraan Pelayanan Teknis Satu Atap di Kabupaten Sragen sebagaimana tersebut di atas, dan merupakan penyempurnaan dari textbook sebelumnya. Dengan demikian diharapkan dapat memberikan gambaran yang utuh seluruh proses penyelenggaran pelayanan tersebut . Dalam konteks pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi Ditjen Bina Pembangunan Daerah, keberadaan textbook ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu instrumen pembinaan ke daerah. Semoga textbook ini dapat memberikan sumbangan positif bagi peningkatan kualitas pembinaan Ditjen Bina Pembangunan Daerah terutama dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi daerah.

PERIZINAN
NO
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

JENIS LAYANAN PERIZINAN
Izin Prinsip Izin Lokasi IMB HO/SITU SIUP IUI TDP TDI Izin Usaha Rekreasi dan Hiburan Umum Izin Usaha Rumah Makan Izin Usaha Kecantikan Izin Usaha Hotel Bunga Melati Biro/ Agen Perjalanan Wisata Izin Pondok Wisata Izin Penutupan Jalan Pajak Reklame Izin Usaha Huller Izin Praktik Bersama Dokter Umum/Gigi Izin Pendirian Rumah Bersalin Izin Pendirian Balai Pengobatan Izin Praktik Dokter Spesialis Izin Praktik Dokter Umum/Gigi Izin Praktik Bidan Izin Praktik Perawat Izin Pendirian Apotik Izin Mendirikan Optik Izin Praktik Tukang Gigi Izin Praktik Toko Obat Izin Pengobatan Tradisional Izin Produksi Makanan dan Minuman Rekomendasi Pendirian Rumah Sakit Swasta Rekomendasi Pendirian Pusat Kebugaran Rekomendasi Pendirian Salon Kecantikan Rekomendasi Pendirian Lembaga Pendidikan Rekomendasi Praktik Bersama Dokter Spesialis Tanda Daftar Gudang

WAKTU
12 hari kerja 12 hari kerja 15 hari kerja 7 hari kerja 5 hari kerja 7 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja 12 hari kerja 10 hari kerja 12 hari kerja 2 hari kerja 1 hari kerja 7 hari kerja 5 hari kerja 12 hari kerja 12 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja 7 hari kerja 7 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja 5 hari kerja

Lampiran
DAFTAR LAYANAN DI KPT SRAGEN

Jakarta, Februari 2007 DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH

34 35 36

36

buku JICA.indd, Spread 5 of 22 - Pages (40, 5) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

Matriks Tahapan Kegiatan dan Pengembangan BPT Sragen
NO TAHAPAN
5

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi BAB I Birokrasi Berbelit Hambat Investasi - Mindset Lama, Birokrasi Belum Berubah - Pembentukan UPT Satu Atap BAB II Merancang Perizinan Terpadu, Sederhana, dan Transparan - Terobosan Bupati Bervisi ke Depan - Mulusnya Pengalihan Kewenangan Izin dari Dinas-Dinas - Hambatan Awal BAB III Gagasan Berkembang, Dukungan pun Datang - Kunci Sukses BAB IV Masyarakat Puas, Diubah Menjadi KPT - Waktu Jelas dan Pasti, Biaya Murah dan Transparan - Menyatukan dan Menyederhanakan - Pengembangan SDM - Monitoring dan Evaluasi (monev) BAB V Pengembangan KPT - Izin Dipermudah, Permohonan Bertambah - Standar Mutu Pelayanan ISO 9001 untuk 16 Perizinan - Izin Disederhanakan, PAD Meningkat BAB VI Dampak Terhadap Ekonomi Daerah - Peningkatan Formalisasi Usaha - Kenaikan Investasi dan Perkembangan Usaha - Pertumbuhan Ekonomi Daerah - Dampak Ekonomi Didapat, Apresiasi pun Diraih BAB VII Inovasi Pelayanan Perizinan yang Terus Berkembang - Dikembangkan Menjadi Badan - Pengembangan SDM yang Tiada Henti - Penyiapan Sistem dan Pengembangan IT - Dukungan dari Luar Terus Mengalir - KPT Hanya sebagai Pintu Masuk Matriks Tahapan Kegiatan dan Pengembangan KPT Sragen Lampiran - Daftar Layanan di KPT Sragen Daftar Singkatan i iii 1 1 2 3 3 5 7 10 12 13 15 15 16 17 19 20 21 23 25 25 25 26 28 30 30 31 32 32 33 34 36 39

KEGIATAN
Peningkatan kemampuan dan kapasitas SDM melalui pelatihan rutin dan insidentil (khusus) Peningkatan status unit menjadi KPT untuk memperkuat basis pengembangan kapasitas dan kegiatan Analisiz pengukuran kemampuan dan evaluasi untuk peningkatan jumlah izin yang dikelola Penambahan jumlah izin yang dikelola KPT dengan dukungan Perbup dari 23 layanan pada 2002 menjadi 62 layanan pada 2005. Evaluasi melalui laporan bulanan untuk melihat kinerja Survei kepuasan pelanggan dengan 14 indikator kepuasan pelayanan masyarakat Audit internal untuk mengevaluasi kelengkapan dokumen, kecepatan pelayanan, konsistensi prosedur, dan penerapan aturan serta kinerja keuangan Evaluasi langsung kepada konsumen pengguna dan diskusi stakeholder. Peningkatan pengurusan izin dan formalisasi usaha Peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) Pertumbuhan investasi dan kegiatan usaha Peningkatan penyerapan tenaga kerja dan dinamika usaha Pertumbuhan ekonomi daerah Peningkatan terus-menerus kualitas dan kapasitas kemampuan SDM pendukung Pengembangan institusi dari status Kantor menjadi Badan melalui Perda No. 4 tahun 2006 Pengembangan sistem dukungan teknologi informasi untuk semakin mempermudah dan memberi kepastian pelayanan

Pengembangan Kegiatan

6

Monitoring dan Evaluasi

7

Dampak

8

Sustainability

35

iii

buku JICA.indd, Spread 6 of 22 - Pages (6, 39) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

BAB I

Birokrasi Berbelit Hambat Investasi
DARI segi geografis, posisi Kabupaten Sragen cukup strategis meski bukan wilayah yang kaya sumber daya alam. Kabupaten yang juga dikenal dengan nama Bumi Sukowati ini hanya berjarak 30 km dari Solo, salah satu pusat bisnis di Jawa Tengah. Sragen menjadi pintu gerbang Kota Solo bagi pelintas dari provinsi tetangga, Jawa Timur, atau yang hendak menuju Jogjakarta. Untuk kemudahan arus bisnis, Sragen memiliki jalan akses aspal hot mixed menuju Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Kabupaten ini dibelah aliran Sungai Bengawan Solo menjadi dua ’’bagian’’. Wilayah Selatan cocok untuk pertanian karena tanahnya yang subur. Sementara wilayah Utara cenderung kering sehingga dimanfaatkan untuk kawasan industri. Geliat perekonomian kabupaten Sragen ditopang tiga sektor utama. Sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar perekonomian daerah dengan memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). Dua sektor terbesar berikutnya adalah industri pengolahan serta perdagangan, hotel , dan restoran. Sektor industri terutama didukung industri kecil menengah berbasis keahlian dan kearifan lokal seperti industri furnitur, batik dan konveksi. Sektor pertanian, yang didukung areal yang mencapai 43% luas wilayah Sragen, sukses mengembangkan pertanian organik.

Matriks Tahapan Kegiatan dan Pengembangan BPT Sragen
NO TAHAPAN
1

KEGIATAN
Birokrasi perizinan yang rumit dan berbelitbelit menghambat masuknya investasi ke kabupaten yang strategis Momentum kepemimpinan baru untuk melakukan reformasi birokrasi termasuk penataan perizinan dan peningkatan kualitas layanan publik. Mengumpulkan pimpinan instansi dan pejabat struktural untuk mendiskusikan bentuk lembaga perizinan yang sesuai keinginan Evaluasi kegagalan UPT satu atap yang pernah dibuat Studi banding ke beberapa sistem perizinan terpadu di daerah lain Pembentukan tim kecil untuk memformulasikan lembaga perizinan terpadu Pemagangan calon pengelola UPT satu pintu di Gianyar Kajian flow chart perizinan yang ada dan pengembangan software oleh KPDE dengan dukungan CEMSED Penyiapan kelembagaan dan bentuk pelayanan perizinan yang sesuai dengan keinginan pelayanan yang cepat, pasti, dan terpadu Pengalihan kewenangan izin dengan tetap memberikan target dan penerimaan retribusi kepada dinas Penyiapan SDM (SDM UPT, SDM dari instansi lain) melalui seleksi dengan orientasi pengembangan Set up kelembagaan berbentuk unit (UPT) satu pintu dan meraih dukungan DPRD dengan pendampingan dari konsultan ADB Penataan sistem, software dan infrastruktur pendukung Penataan mekanisme dan alur perizinan dengan format work station.

Inisiatif dan Munculnya Gagasan

2

Formulasi Gagasan

3

Persiapan

4

Pelaksanaan

Mindset Lama, Birokrasi Belum Berubah
Dengan potensi seperti disebutkan di atas, Sragen pantas dilirik sebagai alternatif lokasi investasi. Ia bisa menjadi kota satelit yang menarik bagi investor, terutama sebagai kawasan pendukung (buffer zone) Kota Solo. Sayangnya, itu masih sebatas konsep yang cantik di atas kertas. Realitanya, tak banyak investasi yang tumbuh di sana. Pertanyaan yang kemudian muncul, apa yang salah? Ternyata, salah satu faktor yang dikeluhkan pengusaha adalah birokrasi yang berbelit. Mental kuno birokrasi yang lebih suka dilayani ketimbang melayani menjadi penghambat arus investasi. Birokrasi masih identik dengan antrean panjang maupun loncat dari meja ke meja lainnya yang menimbulkan ekonomi biaya tinggi.

1

34

buku JICA.indd, Spread 7 of 22 - Pages (38, 7) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

baga resmi pemerintah Jerman. GTZ menilai, sebagai daerah percontohan, KPT Sragen tidak boleh berpuas diri dan harus terus belajar untuk berkembang. Oleh karena itu GTZ memfasilitasi Sragen untuk melakukan studi banding ke Thailand. Pengembangan sistem perizinan terpadu juga harus terus berlangsung dalam kerangka promosi daerah dan peningkatan investasi. Dukungan untuk studi banding ke negara lain juga datang dalam bentuk undangan dari negara lain untuk datang.

Banyak meja yang harus dilalui. Proses perizinannya juga terpisah di masing-masing lembaga teknis. sehingga memakan waktu lama. Misalnya, seorang investor yang ingin mendirikan pabrik garmen. Pertama, dia harus mengurus izin prinsip di Dinas Lingkungan Hidup (LH). Setelah itu pindah ke Badan Pertanahan Nasional (BPN), baru kemudian mengurus Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di Dinas Pekerjaan Umum. Selesai? Belum. Pemohon izin harus kembali ke Dinas LH untuk menyelesaikan Izin Gangguan (HO), lalu ke Dinas Industri Perdagangan dan Koperasi (Indakop) untuk mendapatkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), dan Tanda Daftar Industri (TDI). Nah, bisa dibayangkan betapa memakan waktu dan tenaga sebelum memulai investasi di Sragen. Belum lagi biaya ’’siluman” untuk pelicin.

SEMARANG

Kab. Sragen
Luas : 946,49 km persegi Penduduk : 865.417 jiwa (BPS 2004) Akses : Jalan Negara : 30,45 km Jalan Provinsi : 66,69 km Jalan Kabupaten : 992,2 km Jalur KA : 55 km Potensi : Pertanian Wilayah Selatan seperti Kedawung, Sidoharjo, dan Masaran merupakan wilayah pertanian yang subur. Panen 2-3 kali per tahun, padi yang dihasilkan pada 2002 mencapai total 451.337 ton. Pada 2004, luas lahan padi organik mencapai 1.973,42 hektar dengan hasil produksi 10.909,65 ton untuk sekali panen. Industri Yang berkembang adalah industri rumah tangga, kecil, dan menengah. Di antaranya mebel, batik tulis, wayang beber, konveksi, sangkar burung, produk batu-batuan, maupun emping garut.

Pembentukan UPT Satu Atap
Kondisi yang kurang ramah terhadap investor ini berusaha dijembatani dengan pendirian Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Satu Atap pada 2000. Waktu itu, ada imbauan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bagi 35 Kabupaten/Kota untuk mendirikan one stop service (OSS). Tapi, lagi-lagi program itu hanya indah didengar pada tataran konsep. Meski sudah berbentuk pelayanan satu atap, pemohon izin masih melalui banyak meja. Upaya menyatukan perizinan dalam satu lembaga yang tidak didukung dengan perencanaan yang baik justru menimbulkan ketidakefisienan dalam pelayanan. Apalagi pola hubungan antara UPT dengan dinas teknis belum cukup jelas. UPT hanya berfungsi sebagai tempat masuk pemohon izin (front office), sementara prosesnya tetap berjalan di masing-masing lembaga teknis yang menjadi back office. Peran UPT tak ubahnya kantor pos perizinan. Model itu hanya menambah rantai pengurusan. Setelah berkas masuk di UPT, pemohon izin harus membawa sendiri berkas tersebut ke lembaga teknis terkait. Dampaknya, ketika para pemohon izin mulai tahu bahwa perizinan masih diproses di lembaga teknis, banyak yang memilih datang langsung ke lembaga teknis bersangkutan. Kondisi ini menimbulkan dualisme loket perizinan. Parahnya lagi, staf front office tidak menguasai segala proses pengurusan izin. Mereka sepenuhnya bergantung pada back office, termasuk ketika melakukan pengecekan lapangan.Padahal, keduanya merupakan lembaga terpisah. Pelayanan model ini dinilai tidak efektif. Selain prosesnya berbelit-belit, juga tidak ada kepastian waktu dan biaya. Model tersebut berpeluang memunculkan pungutan liar. Walhasil, usia UPT tidak lebih dari setahun dan akhirnya dibubarkan.

STUDI BANDING: Kepala BPT Maksun Isnadi (kanan) menjelaskan pelayanan perizinan terpadu di Sragen kepada Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari (kedua dari kanan) dan Bupati Jembrana Gde Winasa (kedua dari kiri), Februari 2007.

KPT Hanya sebagai Pintu Masuk
Agar tidak menabrak wewenang-wewenang lain yang dimiliki dinas, bupati menegaskan bahwa KPT hanya sebagai pintu masuk pengurusan perizinan. Fungsi dinas tetap berjalan seperti dulu, terutama dalam melakukan pengawasan dan pembinaan. Di antaranya yang dilakukan Indakop ketika mendirikan micro finance.

33

2

buku JICA.indd, Spread 8 of 22 - Pages (8, 37) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

BAB II

Merancang Perizinan Terpadu, Sederhana, dan Transparan
Terobosan Bupati Bervisi ke Depan
SEJALAN dengan pemberlakuan otonomi daerah, kabupaten dan kota diberi kewenangan yang luas untuk menggelembungkan pendapatan asli daerah (PAD). Umumnya, ada tiga cara yang ditempuh. Pertama, melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi pajak dan retribusi daerah. Kedua, mengeksploitasi sumber daya alam. Dan ketiga, menggarap potensi lokal dengan menarik investor dan menumbuhkan peluang usaha masyarakat. Sragen lebih memilih cara yang terakhir. Sudah banyak riset dan pengalaman menyimpulkan, birokrasi yang berbelit dan lamban menjadi salah satu penghambat investasi dan pemberdayaan ekonomi lokal. Hambatan investasi di Sragen berusaha dibongkar oleh bupati Untung Wiyono, 56, setelah dilantik pada 2001 bersama wakil bupati Agus Fatturahman. Sebagai kepala daerah yang berlatar belakang pengusaha, bupati tentu paham betul betapa ruwetnya berurusan dengan birokrasi di wilayahnya. Dia pun mulai melakukan perombakan besar-besaran terhadap pola pikir dan manajemen birokrasi. Bupati melakukan reformasi birokrasi dengan dua agenda utama, yakni desentralisasi kecamatan dan penyederhanaan sistem perizinan. Pelayanan perizinan merupakan salah satu pelayanan yang dibahas secara serius agar bisa menarik investor. Bupati menekankan bahwa proses perizinan di Kabupaten Sragen harus lebih efisien. Pada 16 Juni 2002, bupati membentuk tim kecil yang terdiri dari sembilan orang. Yakni Agus Fatturahman (Wakil Bupati), Drs Daryanto (Asisten I), Drs Harto Muksin (Asisten II), Eddy Sasongko (Asisten III), Suyoto SH MM (Asisten IV), Alwi Sulddin SH MM (Ketua Bappeda), Drs Ruwiyatmo (Kepala Bagian Kepegawaian Daerah), Ir Haryoto MM (Kepala Dinas Perhubungan dan Pariwisata), dan Drs Suparmin (Kabag Ortala). Sesuai jumlah personel, tim ini lantas disebut Tim Sembilan. Tim ini bertugas mengevaluasi Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Satu

itu, KPT melakukan pelatihan setiap Sabtu pagi. Pelatihan selama setengah jam itu dikemas dalam training for success dan ditangani oleh Badan Konseling Psikologi Pemkab Sragen. Dalam pelatihan itu ditekankan perlunya memberikan pelayanan prima kepada pemohon izin. Salah satu hal yang ditekankan adalah selalu tersenyum kepada masyarakat yang datang. Selain itu, diberikan juga bagaimana cara menyelesaikan masalah (problem solving) karena petugas di KPT adalah petugas di garda terdepan dalam memberikan pelayanan kepada publik. Training tidak hanya dilakukan internal Pemkab Sragen. Tapi juga pihak-pihak luar, seperti dari perguruan tinggi (Universitas Negeri Sebelas Maret dan Universitas Gadjah Mada) dan pengusaha. Menurut penuturan Kepala KPT, Maksun Isnadi, semua pelatihan tersebut dilakukan secara cuma-cuma. Banyak pihak luar menawarkan diri untuk memberikan training secara gratis.

Penyiapan Sistem dan Pengembangan IT
Yang tidak kalah penting dilakukan adalah penyiapan sistem, termasuk sistem teknologi yang digunakan KPT. Salah satunya adalah software perizinan. Banyak permintaan dari masyarakat untuk mengetahui sampai di mana perizinan yang mereka urus (tracking document). Kalau ada fasilitas tracking document, pemohon izin bisa mengecek status izinnya sampai di mana. Dengan dukungan PDE, inovasi dan pengembangan sistem yang semakin mempermudah masyarakat dan komitmen pada prinsip transparansi terus dilakukan. Ini sebagai upaya pemberian pelayanan yang bagus kepada masyarakat. Rencana pengembangan lainnya adalah formulir permohonan izin yang bisa diunduh (download) melalui website dan informasi perubahan persyaratan yang bisa diketahui secara langsung melalui internet. Yang jadi kendala, kemampuan server KPT yang di-set up pada tahun 2004 masih terbatas. Fasilitas yang ada belum mendukung pengembangan tersebut. KPT berencana mengganti server dengan kapasitas yang lebih besar.

Untung Wiyono Bupati Sragen

Dukungan dari Luar Terus Mengalir
Keinginan untuk terus berkembang dan berkelanjutan juga mendapat dukungan dari pihak luar setelah mengalami perkembangan yang cukup pesat dan banyak melakukan inovasi, dukungan untuk terus berkembang pun datang. Salah satunya dari GTZ, sebuah lem-

3

32

buku JICA.indd, Spread 9 of 22 - Pages (36, 9) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

SERBATRANSSPARAN: Alur pengurusan perizinan dipampang secara jelas di depan KPT.

Kedua, kendala psikologis berkaitan dengan eselonisasi. Selama ini, KPT menjadi koodinator dinas-dinas untuk kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan izin. Padahal, dalam eselonisasi, kepala KPT hanya eselon III, sedangkan kepala dinas eselon II. Sempat muncul pemikiran, eselon yang lebih rendah mengkoordinasi eselon yang lebih tinggi. Dengan perubahan KPT menjadi badan memungkinkan adanya tiga orang yang menjadi eselon III. Sementara kalau masih berbentuk kantor, hanya ada satu orang yang menduduki eselon III, yakni Kepala KPT. Mengapa tidak diganti menjadi dinas saja? Berdasar pemberlakuan PP No. 8 tahun 2003, Sragen sudah menyentuh batas kuota maksimal 14 dinas. Makanya, tidak mungkin ada penambahan dinas baru. Yang bisa dilakukan hanya bergabung atau menurunkan status kelembagaan dinas lain. Namun, hal tersebut hanya akan menambah masalah baru. Karena itu, bentuk kelembagaan berupa badan dinilai lebih pas. Fungsi pelayanan terpadu sebagai koordinasi dinas-dinas. Dengan berbentuk sebuah badan, fungsi koordinator akan menonjol. Sementara dinas-dinas, berdasar Tupoksi, melakukan kegiatan di lapangan, pengawasan, dan pembinaan.

Pengembangan SDM yang Tiada Henti
Cara berikutnya untuk menjaga keberlanjutan KPT adalah dengan mengadakan pengembangan SDM yang terus-menerus. Terkait hal

Atap yang gagal dan bagaimana membentuk sistem baru yang lebih ideal. Tim ini mengadakan pertemuan informal secara rutin. Mereka merumuskan, UPT yang ideal adalah yang proses perizinannya dapat diselesaikan di satu tempat dan sesuai dengan potensi masyarakat Sragen. Untuk mengetahui jenis layanan yang terbaik, Tim Sembilan merekomendasikan studi banding ke beberapa daerah di Indonesia yang lebih dulu menerapkan pelayanan terpadu. Di antaranya Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Bulukumba, Kota Pare-Pare, dan Kota Bontang. Yang diberangkatkan dalam studi banding adalah beberapa anggota tim kecil (secara bergantian) dan legislatif. Pemkab Sragen menganalisis berbagai kelebihan dan kelemahan pelayanan terpadu dari daerah yang mereka kunjungi. Mereka mempelajari dan memilah model-model tersebut untuk mencari format yang pas bagi Sragen. Sebagai upaya pengenalan lebih detail, terutama pemahaman soal pelayanan kepada pemohon izin, Pemkab Sragen juga mengirimkan 15 orang untuk magang di Kabupaten Gianyar, Bali, pada akhir September 2002. Kabupaten Gianyar dipilih karena sering menjadi rujukan daerah lain untuk membuat layanan perizinan. Penunjukan ke-15 staf itu berdasar pada track record yang ada di Bagian Kepegawaian Daerah (BKD). Mereka rata-rata berusia di bawah 35 tahun dan dinilai memiliki visi ke depan dan kemampuan untuk berubah. Staf yang berasal dari berbagai lembaga teknis itu dimagangkan selama lima hari. Setelah selesai, mereka dikembalikan ke instansi masing-masing. Namun, sejauh itu mereka belum mengetahui jika akan dijadikan staf lembaga baru UPT. Maklum, meski sudah melakukan studi banding dan program magang, Tim Sembilan belum bisa secara konkret merumuskan bentuk UPT yang ideal untuk Sragen. Salah satu contoh, kalau di Gianyar kewenangan untuk menandatangani perizinan berada di tangan beberapa pihak seperti bupati, sekda, atau kepala dinas. Itu disesuaikan dengan jenis perizinan. Jika pejabat yang bersangkutan tidak berada di tempat, pengurusan perizinan harus tersendat. Ini yang dinilai belum efisien. Lantas? Kondisi itu yang dicarikan solusinya. Bupati lalu mengadakan pertemuan khusus dengan Tim Sembilan dan kepala dinas. Setelah berdiskusi selama enam jam, mereka sepakat untuk mengubah UPT Satu Atap menjadi unit pelayanan yang sederhana, satu pintu, dan transparan. Bentuk UPT yang baru harus diberi kewenangan penuh

Awalnya lembaga ini hanya berbentuk unit karena Pemkab Sragen takut berharap terlalu tinggi. Semua berangkat dari kesederhanaan.

31

4

buku JICA.indd, Spread 10 of 22 - Pages (10, 35) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

untuk memutuskan perizinan. Di tempat itu, semua layanan perizinan bisa diselesaikan. Mulai dari memasukkan berkas, pemrosesan, tanda tangan, hingga izin keluar. Karena itu, kewenangan memberikan tanda tangan perizinan cukup melalui kepala kantor. Tidak harus bupati, sekda, atau kepala dinas yang lintas sektoral. box 1
Selama enam bulan pertama setelah terpilih, bupati rutin mengadakan rapat dengan wakil bupati, asisten, serta Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Pertemuan dilaksanakan setelah usai jam kantor. Rapat baru selesai sekitar pukul 24.00. Dari sinilah bupati bisa mengetahui dan mengukur kegigihan dan keuletan para pendampingnya. Bupati menganggap ini sebagai brain washed mindset birokrasi. Birokrasi bukanlah yang harus dilayani, tetapi harus bisa memberikan pelayanan. Dalam rapat dinas nonformal itu juga dilakukan evaluasi terhadap program dinas-dinas. Bupati bahkan mengevaluasi anggaran dinas yang telah disetujui oleh DPRD. Hasilnya, Sragen bisa melakukan efisiensi hingga Rp 12,2 miliar.

Inovasi Pelayanan Perizinan yang Terus Berkembang
SETELAH beroperasi selama empat tahun, KPT Sragen mampu memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat dan memberikan dampak yang signifikan terhadap kemajuan daerah. Lalu, bagaimana langkah ke depan? Jika nanti masa jabatan bupati Untung Wiyono berakhir, apakah pelayanan KPT masih seperti sekarang? Harus diakui, kekhawatiran itu pasti ada. Sebab, selama ini pelayanan prima KPT tidak lepas dari dorongan serta komitmen bupati. Kalau kepala daerah dan SDM di KPT berganti, apakah mereka masih memiliki komitmen yang sama? Apa yang bisa dilakukan untuk sustainability-nya? Pimpinan daerah dan pimpinan KPT bukan tidak menyadari kekhawatiran tersebut. Untuk menjaga keberlanjutan pelayanan prima di bidang perizinan ini, seperangkat langkah strategis telah disiapkan dan dijalankan.

BAB VII

Mulusnya Pengalihan Kewenangan Izin dari Dinas-Dinas
Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengalihkan kewenangan izin dari dinas-dinas. Untuk memulai proses ini, bupati memanggil semua kepala dinas dan mengajak mereka melakukan evaluasi izin apa yang dibutuhkan masyarakat. Bagaimana prosesnya selama ini? Bagaimana transparansi dan kepastian tarif dan waktu? Berapa banyak dan kualifikasi seperti apa petugas yang dibutuhkan? Prinsipnya, kewenangan mengeluarkan izin yang dimiliki dinas adalah kewenangan bupati yang diberikan kepada kepala dinas. Jika kewenangan tersebut ditarik kembali dan diberikan kepada lembaga perizinan terpadu tentu tidak jadi masalah, selama kebutuhan untuk melayani perizinan bagi masyarakat beserta persyaratan proses dan kualifikasi yang dibutuhkan terpenuhi.
Awalnya, sebagian dinas meragukan kemampuan UPT untuk mengelola semua izin-izin yang selama ini ditangani dinas. Apalagi ini bukan sekadar perkara mengeluarkan izin, tapi menyangkut penerimaan retribusi, kelayakan untuk diberikan izin sampai kontrol atas izin yang dikeluarkan. Setelah melihat pelayanan perizinan UPT ternyata lebih baik, akhirnya dinas-dinas tersebut secara penuh mengalihkan ke-

Dikembangkan Menjadi Badan
Pada 2006, status kelembagaan KPT diubah menjadi Badan Pelayanan Terpadu (BPT). Pergantian ini diperkuat dengan dikeluarkannya Perda Nomor 4 tahun 2006 tentang Perubahan atas Perda No. 15/2003. Perda ini dikeluarkan pada Juni 2006, tapi baru dijalankan pada 2007. Ada dua pertimbangan pengubahan status kelembagaan ini. Pertama, volume pekerjaan yang semakin banyak. Misalnya saja perubahan jumlah layanan, dari 17 layanan perizinan menjadi 52 layanan perizinan. Penambahan jumlah layanan tentu berpengaruh pada kebutuhan struktur kelembagaan. Kalau berbentuk badan, sudah bisa dipilih beberapa kepala bagian yang akan membantu tugas kepala badan. Kalau berbentuk kantor, terlalu sulit untuk melakukan kinerja yang diinginkan.

5

30

buku JICA.indd, Spread 11 of 22 - Pages (34, 11) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

molor. Terpaksa, saya juga menggunakan jasa calo. Saya tidak pernah tahu, berapa biaya yang sesungguhnya. Beda dengan sekarang. Karena semua izin sudah ditangani oleh KPT, saya hanya cukup datang ke satu tempat. Semua petugas juga selalu stand by. Sekarang, saya juga bisa tahu berapa biaya izin yang saya urus karena biaya total dicantumkan dalam SK. Semuanya sekarang sudah benar-benar berubah! Saya pernah mengajukan proposal sebagai mitra PT HM Sampoerna. Nilai investasinya mencapai Rp 5 miliar. Proposal saya disetujui oleh pihak Sampoerna. Tapi, saya di-deadline oleh Sampoerna, dalam waktu tiga bulan sudah harus bisa produksi. Itu berarti saya harus menyelesaikan masalah perizinannya juga dalam waktu sesingkat itu. Padahal, dari pengalaman saya, mengurus perizinan bukan hal yang mudah. Selain waktu, butuh banyak biaya. Namun, ketika saya datang ke KPT, pelayanannya jauh bertolak belakang dengan sepuluh tahun sebelumnya. Untuk mengurus semua izin, saya cukup datang ke satu loket meskipun ada lima perizinan yang sedang saya urus. Yaitu, izin prinsip, Izin Mendirikan Bangunan, HO (Izin Gangguan), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), dan Tanda Daftar Industri (TDI). Hebatnya, semua itu bisa selesai dalam waktu enam hari! Sekarang, usaha saya sudah mampu menampung 2.500 tenaga kerja. Sekitar 90 persen di antaranya adalah perempuan. Saya mengutamakan pekerja yang merupakan penduduk Sragen, sekaligus untuk mengurangi jumlah pengangguran di kota saya.’’

Eko Suprihono, Pemilik Batik Brontoseno di Kliwonan-Masaran, Sragen.

Dulu, Urus HO Bisa Enam Bulan
Saya meneruskan usaha batik dari orang tua saya. Ibu saya yang pertama kali merintis usaha ini pada 1975. Sejak dirintis, usaha batik keluarga saya belum ada izin. Kami baru mengurus pada 1985. Waktu itu, pengurusannya susah sekali. Izinnya masih terpisah di dinas-dinas. Bahkan, untuk izin HO saja, harus diurus di Semarang (jaraknya sekitar 180 km dari Sragen, membutuhkan 3 jam perjalanan darat). Untuk izin HO saja baru bisa selesai dalam 6 bulan. Lalu, SIUP dan TDP membutuhkan waktu 3 bulan. Tidak hanya itu. Kami menghadapi banyak pungutan. Tapi, sejak adanya KPT ini. Semuanya lebih mudah. Lebih cepat dan lebih transparan. Buktinya, ketika saja mengurus izin untuk membuka showroom batik di Masaran baru-baru ini, Lima izin yang saya urus, yakni IMB, HO, SIUP, TDP, dan TDI bisa selsai dalam empat hari dari jadwal 12 hari yang ditetapkan. Jadi, waktu pengurusan izin bisa hemat delapan hari!

wenangan pengeluaran izin kepada UPT. Dinas teknis pun bisa lebih fokus pada tugas pembinaan. Apalagi target penerimaan dari perizinan yang dikeluarkan juga masih ditetapkan oleh dinas asal yang mengeluarkan izin. Penerimaan dari retribusi izin tersebut nanti juga dikembalikan kepada dinas tersebut untuk kegiatan pembinaan. Keputusan strategis itu disampaikan bupati di hadapan semua kepala dinas. Pengumuman tersebut sekaligus berarti penarikan kembali semua kewenangan perizinan dari lembaga-lembaga teknis. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) ditarik dari kewenangan Dinas Pekerjaan Umum; Dinas Industri, Perdagangan dan Koperasi (Indakop) tidak lagi mengeluarkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP). Begitu juga dinas-dinas lainnya. Semua kewenangan pemberian izin-izin tersebut dilimpahkan pada kepala perizinan di UPT. Pada 1 Oktober 2002, Sragen membentuk kelembagaan baru yang khusus mengurus perizinan. Lembaga itu bernama Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Satu Pintu. Mengapa masih menggunakan bentuk unit? Ini tak lebih dari sikap kehati-hatian Pemkab Sragen. Mereka takut berharap terlalu tinggi. Itu berkaca pada pengalaman sebelumnya, ketika UPT Satu Atap didirikan, ternyata pola yang berkembang tidak jauh berbeda dengan model lama. Model front office dan back office belum mampu jadi solusi. Karena itu, meski berbentuk unit, spirit UPT Satu Pintu adalah memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Sebagai payung hukum, bupati mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Nomor 17 tahun 2002. Dengan SK ini pula, kewenangan dinas-dinas untuk mengeluarkan izin secara resmi dicabut. Dinas-dinas tentu khawatir, dari sebelumnya sebagai lahan “basah” bisa saja berubah menjadi “kering.” Kebijakan bupati ini ternyata didukung penuh oleh DPRD melalui Surat Ketua DPRD tentang persetujuan operasional UPT Kabupaten Sragen. Jika eksekutif dan legislatif sudah satu visi, jalan pun menjadi mudah. Hanya berselang satu tahun, SK Bupati ini diperkuat dengan Perda nomor 15 tahun 2003 tentang Susunan Organisasi Lembaga Teknis Daerah. Dengan Perda tersebut, status UPT Satu Pintu ditingkatkan menjadi Kantor Pelayanan Terpadu. Setelah payung hukum beres, langkah berikutnya adalah membenahi Sumber Daya Manusia (SDM). Staf UPT yang baru ini merupakan pegawai-pegawai pilihan dari dinas-dinas teknis dan instansi terkait. Mereka dimagangkan dulu di Gianyar, Bali, selama seminggu penuh untuk belajar bangaimana memberikan pelayanan yang baik dan ramah kepada costumer. Untuk personel, selain ke-15 staf yang dimagangkan ke Gianyar,

Surat Keputusan (SK) Bupati Nomor 17/2002 sekaligus mencabut kewenangan dinas-dinas untuk mengeluarkan izin.

29

6

buku JICA.indd, Spread 12 of 22 - Pages (12, 33) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

Pendirian UPT Satu Pintu berangkat dari kesederhanaan. Mereka menempati bekas kantor Bagian Trantib. Dua komputer yang ada pun hasil pinjam.

ditambah lagi lima staf yang sudah terbiasa memberikan layanan perizinan di lembaga-lembaga teknis. Misalnya dari Indakop, ada tiga orang yang ditarik ke UPT. Dua lainnya dari Dinas PU. Pendirian UPT Satu Pintu berangkat dari kesederhanaan. Tapi, para stafnya tetap bersemangat tinggi untuk memberikan pelayanan terbaik. Jumlah personel maupun kantor dibuat seefisien mungkin. Kantor terpadu tanpa software yang memadai tentu tidak akan ada artinya. Pada saat yang sama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mempunyai program mendorong pengembangan UKM dengan penyederhanaan perizinan. Program ini mendapat bimbingan teknis dari CEMSED Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Lembaga inilah yang banyak membantu pengembangan software UPT pada awal-awal berdiri.

Dampak Ekonomi Didapat, Apresiasi pun Diraih
Pengakuan atas keberhasilan Sragen dalam membangun lembaga dan sistem perizinan yang baik pun datang. Bukan hanya dampak yang dirasakan bagi masyarakat dan dunia usaha, KPT Sragen pun menuai berbagai penghargaan sebagai model lembaga dan sistem perizinan yang layak di contoh. Tidak kurang dari 14 penghargaan telah diraih. Di antaranya (1) Citra Pelayanan Prima dari Presiden RI tahun 2004, (2) Otonomi Award untuk inovasi pelayanan Publik dari Jawa Pos Institute of Pro Otonomi, dan (3) Kabupaten percontohan untuk pelayanan publik dari Presiden RI. Namun kepuasan dan kemudahan pelayanan yang dirasakan masyarakat dan dunia usaha adalah yang menjadi tujuan utama. Sebagai daerah dengan sistem perizinan yang dinilai sangat baik dan mendapat berbagai apresiasi, tidak mengherankan kalau KPT Sragen kemudian banyak dijadikan tempat studi banding. Studi banding dilakukan bukan hanya oleh pemerintah daerah tapi juga legislatif yang ingin mempelajari sistem perizinan terpadu. Bahkan pejabat dari pusat-pun melakukan kunjungan ke Sragen untuk melihat langsung sistem pelayanan perizinan di kabupaten kecil namun berprestasi besar di bidang layanan perizinan ini. Sejak berstatus KPT, tidak kurang 510 tamu telah berkunjung. Pada tahun 2006 saja KPT Sragen telah dikunjungi 325 tamu yang melakukan studi banding. Para pengelola KPT juga telah diundang ke berbagai forum untuk menyampaikan keunggulan KPT Sragen.

Hambatan Awal
Sebagai tantangan awal, 'lawan' UPT bukan berasal dari luar lembaga. Mereka justru harus mampu menaklukkan citra mereka sendiri yang selama ini dibayangi pandangan skeptis. UPT harus membangun kembali kepercayaan publik. Setidaknya ada empat tantangan utama yang harus dihadapi UPT. PERTAMA, masyarakat masih meragukan keberadaan dan kinerja lembaga baru itu. Logika mereka sederhana saja. Lembaga serupa pernah gagal dalam memberikan pelayanan terpadu secara. Selain itu, masyarakat keberatan dengan letak kantor UPT yang berdekatan dengan kantor pemkab. Mereka masih dibayangi citra pegawai pemkab yang selalu ingin dilayani. KEDUA, DPRD juga belum yakin terhadap kinerja lembaga baru ini. Kegagalan UPT Satu Atap masih jadi penghalang. Kondisi inilah yang menyebabkan bupati hanya mengeluarkan SK sebagai payung hukum UPT. Untuk di-Perda-kan, membutuhkan waktu lama. Belum lagi kemungkinan ditolak oleh DPRD. KETIGA, keterbatasan sarana fisik. Ketika baru berdiri, staf UPT hanya terdiri dari kepala unit, kepala tata usaha, dan para staf yang membantu melayani perizinan. Sarana pendukung juga terbatas. Kantor UPT menempati bekas kantor Bagian Ketentraman dan Ketertiban (Trantib). Lokasinya tidak terlalu luas, sekitar 8 x 14 meter. Untuk operasional, unit ini hanya memiliki dua perangkat komputer pinjaman. Namun, bagi UPT Sragen, gedung bukanlah ukuran utama. Yang terpenting adalah semangat untuk memberikan layanan prima kepada masyarakat.

Warga Bicara
Lima Perizinan Selesai dalam Enam Hari
Saya memulai usaha pada 1992. Dulu, lama waktu pengurusan izin tidak pernah ditetapkan dengan jelas, saya harus datang ke berbagai dinas yang berbeda dengan dasar perda yang berbeda pula. Selain itu, petugas di sana tidak pernah stand by sehingga pengurusan izin sering

Srihatin,
Direktur PT Aroma Sukawai, sebuah perusahaan yang menjadi mitra PT HM Sampoerna

7

28

buku JICA.indd, Spread 13 of 22 - Pages (32, 13) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

pertumbuhan investasi dan berkembangnya kegiatan ekonomi, Pendapatan Regional Domestik Bruto (PDRB) Kabupaten Sragen juga mengalami peningkatan. Secara-rata, PDRB dalam harga berlaku Kabupaten Sragen tumbuh 12% per tahun dan dalam harga konstan peningkatannya 4% per tahun sejak berjalannya KPT Sragen. Peningkatan juga terjadi dalam pendapatan per kapita masyarakat Sragen yang meningkat 11.9% persen dalam harga berlaku dan 3,7% (harga konstan). Peningkatan PDRB dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sragen terutama disokong oleh tiga sektor yang menjadi motor utama perekonomian Sragen yaitu pertanian, industri dan perdagangan hotel dan restoran. Dua sektor terakhir pertumbuhannya sangat dipengaruhi oleh kemudahan perizinan usaha yang muncul berkat KPT Sragen.

3000000 2500000 2000000 1500000 1000000 500000 0
BIROKRASI EFISIEN: UPT Sragen yang lokasinya berdekatan dengan kantor pemkab.

3500000 3000000 2500000 2000000 1500000 1000000 500000 0

KEEMPAT, staf yang berasal dari berbagai macam lembaga teknis sempat keberatan untuk ditarik ke UPT. Diduga, mereka takut kehilangan pendapatan tambahan. Di lembaga teknis yang lama, mereka sudah ’’mapan’’ karena biasa mendapatkan fee. Ketakutan itu tidak terbukti. Setiap bulan, UPT menerapkan sistem reward (insentif) kepada para staf yang punya kinerja bagus. Tapi, sebagai konsekuensi, UPT memberlakukan sistem punishment bagi staf yang melakukan pelanggaran. Untuk meningkatkan pelayanan, UPT Satu Pintu terus berinovasi agar kegagalan UPT Satu Atap tidak terulang. Seperti apa? Pertama, menciptakan dukungan sistem berbasis teknologi. UPT diyakini bisa berjalan dengan baik jika semua kecamatan sudah online. Itu bisa memudahkan pelimpahan kewenangan mengurus KTP di kecamatan. Teknologi informasi pun di-set up oleh Kantor Pengelolaan Data Elektronik (KPDE). Kedua, menciptakan keterpaduan antarstaf. Karena berasal dari berbagai lembaga yang berbeda, tidak menutup kemungkinan mereka membawa ’’budaya’’ sektoral (masing-masing lembaga teknis). Jika dibiarkan terus, perbedaan tersebut bisa menimbulkan gesekan

Lewat sosialisasi, masyarakat diharapkan tahu bahwa kualitas pelayanan UPT Sragen sudah berubah.

27

8

buku JICA.indd, Spread 14 of 22 - Pages (14, 31) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

box 2

Salah seorang staf UPT pernah dikembalikan ke lembaga teknis tempat dia berasal gara-gara ketahuan melakukan pungutan. Meski nominalnya tidak besar, perilaku tersebut dinilai melanggar prinsip UPT sebagai garda terdepan dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Ketegasan ini sekaligus menjadi shock therapy bagi staf lainnya.

yang berujung pada mutu layanan. UPT kemudian melakukan pelatihan dan pembinaan secara berkala. Ini bertujuan untuk menghilangkan ego sektoral dengan menanamkan doktrin bahwa mereka adalah staf UPT. Bukan lagi membawa bendera lembaga teknis tempat mereka berasal. Setelah sistem dibangun dengan baik, berikutnya adalah bagaimana menyampaikan kepada masyarakat bahwa pelayanan perizinan sudah berubah. Sosialisasi sangat penting. Pada tahap awal, dibantu oleh Asian Development Bank (ADB), UPT mengadakan pertemuan dengan publik, sekaligus menyebar leaflet profil UPT Sragen. Seiring perjalanan waktu, layanan yang berbeda dari UPT menyebar dari mulut ke mulut. Masyarakat pun mulai percaya dan tertarik untuk mengurus perizinan di UPT. Kepercayaan ini yang harus terus dijaga. Catatan sukses UPT tidak lepas dari kontribusi empat faktor utama. Pertama, Sragen memiliki bupati yang memiliki komitmen dan visi ke depan. Tanpa adanya komitmen yang kuat dari bupati, penyerahan kewenangan ke UPT pasti mengalami banyak kesulitan. Kedua, kesadaran dari lembaga-lembaga teknis untuk secara ikhlas menyerahkan kewenangannya kepada UPT. Di sini juga diperlukan pengaruh bupati yang kuat untuk membangun kesadaran lembagalembaga teknis dalam memberikan pelayanan yang terbaik. Ketiga, dukungan SDM yang mumpuni. Staf yang dipilih UPT tidak hanya orang terbaik di instansi mereka, tapi masih berusia muda, memiliki visi jenjang karir ke depan, dan keinginan keras untuk belajar. Keempat, dukungan teknologi informasi yang dibangun oleh Kantor Pengelolaan Data Elektronik. Dengan adanya teknologi Wide Area Network (WAN), antara bupati, sekda, asisten, lembaga teknis, dan kecamatan memungkinkan terhubung secara online. Ini memudahkan dan mempercepat pengurusan perizinan.

Sragen. Peningkatan investasi bukan hanya berasal dari investasi dalam negeri tapi juga meningkatnya pemodal asing yang melakukan investasi di Kabupaten Sragen. Investasi asing yang masuk tahun 2005 misalnya berasal dari Italia, Thailand dan Turki. Tidak sedikit pula investasi yang berasal dari kerja sama antara pemodal asing dengan pemodal dalam negeri di berbagai sektor. Peningkatan investasi ini tidak terlepas dari kemudahan pengurusan izin-izin yang diperlukan untuk melakukan investasi di Kabupaten Sragen. Bahkan untuk izin investasi dan usaha di kawasan industri, KPT Sragen membebaskan dari biaya perizinan. Selama empat tahun berjalannya KPT Sragen, investasi skala besar rata-rata meningkat 14,4 % per tahun. Bahkan pada tahun 2003-2004 peningkatan investasi mencapai 24%. Peningkatan investasi juga berlangsung pada usaha skala mikro kecil dan menengah (UMKM). Peningkatan investasi pada kelompok UMKM ini juga diikuti dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja yang cukup signifikan. Peningkatan investasi pada kelompok UKM mencapai 5,7% setiap tahun. Sementara peningkatan penyerapan tenaga kerja bahkan mencapai 12,5% setiap tahun sebagai dampak kemudahan dalam melakukan pengurusan perizinan. Kemudahan mengurus izin memberi kemudahan bagi pelaku usaha untuk memulai usaha ataupun mengembangkan kegiatan usaha.

Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Peningkatan pada investasi dan tumbuhnya UKM sebagai dampak dari prosedur perizinan usaha yang semakin mudah dan transparan juga berimbas pada pertumbuhan ekonomi daerah. Searah dengan

Nilai Investasi Mikro dan Besar
600 500 400 300 200 100 0
145 33.8
2002

555

556

394.8

35
2003

36.8
2004

38.7
2005

TAHUN

9

26

buku JICA.indd, Spread 15 of 22 - Pages (30, 15) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

BAB VI

Dampak Terhadap Ekonomi Daerah
PENYEDERHANAAN dan transparansi proses perizinan melalui KPT memberikan dampak yang signifikan bukan hanya pada peningkatan PAD. Semakin mudahnya pelaku usaha mengurus izin usaha dan melakukan formalisasi usaha berdampak pada meningkatnya jumlah usaha formal, iklim usaha yang semakin kondusif untuk tumbuhnya usaha-usaha baru dan peningkatan investasi. Peningkatan-peningkatan ini pada akhirnya memberikan dampak yang besar bagi perekonomian daerah.

Gagasan Berkembang, Dukungan pun Datang
SEIRING dengan upaya UPT untuk terus memiliki kemampuan memberikan pelayanan perizinan yang baik dengan dukungan inovasi, dukungan dari pihak luar mulai berdatangan. Center for Micro and Small Enterprise Dynamics (CEMSED) UKSW Salatiga menawarkan pengembangan software untuk layanan perizinan. CEMSED merupakan mitra Badan Penanaman Modal (BPM) Provinsi Jawa Tengah untuk memberikan software sistem perizinan secara gratis. Program CEMSED ini ditujukan ke 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Sayangnya, masih sedikit daerah yang merespons positif program terobosan itu. Tawaran CEMSED itu tentu saja disambut antusias oleh Pemkab Sragen yang tengah mengembangkan sistem perizinan yang lebih sederhana, terpadu, dan transparan. Mereka lantas melakukan pengkajian untuk penyederhanaan izin dengan melihat kembali alur proses (flow chart) perizinan pada 2002-2003. Dari flow chart tersebut dianalisis (i) dasar hukum yang menjadi landasan hukum suatu izin dan dibandingkan dengan perundang-undangan yang berlaku, dan (ii) berdasarkan tinjauan dasar hukum tersebut, apakah dimungkinkan prosedur dan persyaratan izin disederhanakan dan proses pengurusan beberapa izin diparalelkan. Penggunaan software yang dikembangkan CEMSED juga mulai diterapkan untuk 14 layanan perizinan. Pada tahap awal berdirinya UPT, penyederhanaan perizinan difokuskan pada sektor yang berkaitan erat dengan usaha dan investasi. Mulanya, untuk izin pengeringan tanah dan izin lokasi, mereka bekerja

BAB III

Peningkatan Formalisasi Usaha
Sejalan dengan tujuan untuk mempermudah proses perizinan usaha dan semakin meningkatnya usaha yang mengurus perizinan, upaya Sragen membuat sistem perizinan yang lebih terpadu berdampak pada peningkatan formalisasi usaha. Meskipun pada tahun pertama usaha yang memiliki izin menurun 1,5 % namun pada tahun berikutnya jumlah usaha yang memiliki izin meningkat hingga 15,4% akibat meningkatnya formalisasi usaha. Peningkatan usaha yang memiliki izin di Sragen rata-rata mencapai 7,5% sejak adanya KPT. Bagi pelaku usaha, formalisasi usaha yang semakin mudah juga memberikan manfaat bagi usahanya. Seperti peluang mengikuti tender pengadaan barang dan jasa dari pemerintah jauh lebih terbuka, lebih aman dan terlindungi dalam menjalankan usaha, dan bisa mengajukan kredit ke bank. Kepemilikan izin juga sangat dirasakan ketika usaha semakin berkembang dan membutuhkan ekspansi pasar. Pada 2002, jumlah usaha yang memiliki legalitas usaha 6.373, menjadi 6.280 pada 2003, menjadi 7.425 pada 2004. Sedangkan terjadi kenaikan sebesar 27 persen pada 2005 atau menjadi 8.105 usaha yang memiliki izin usaha.

Konta Damanik Konsultan Asian Development Bank

box 3

Kenaikan Investasi dan Perkembangan Usaha
Prosedur mengurus perizinan yang mudah berdampak pada peningkatan investasi dan perkembangan dunia usaha di Kabupaten

Pelayanan Terpadu bukan hal yang baru di Jawa Tengah. Pada dekade 1980-an pernah dibantuk pelyanan terpadu di Kabupaten Sukoharjo dan Banyumas. OSS (One Stop Service) menguat lagi pada 1998. Munculnya keinginan untuk memunculkan kembali ide OSS sangat erat kaitannya dengan menciptakan iklim dunia usaha yang kondusif. Yang memunculkan hal ini adalah Forum Pengembangan Ekonomi dan Sumber Daya (FPESD) yang merupakan forum stakeholder Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Tengah.

25

10

buku JICA.indd, Spread 16 of 22 - Pages (16, 29) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

Komitmen seorang bupati sangat menentukan kelancaran reformasi birokrasi dalam pelayanan perizinan yang efisien.

sama dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Tapi, lantaran BPN merupakan institusi vertikal, prosesnya menjadi ribet. Karena itu, UPT dan CEMSED memutuskan untuk melakukan hal itu sendirian. Untuk mempersiapkan software program CEMSED ini terlebih dahulu harus dibangun database perizinan. Harus ada database dari lembagalembaga teknis yang disatukan perizinannya sehingga dapat mempercepat pemberian layanan kepada masyarakat. Database ini dibangun bersama-sama antara CEMSED dengan KPDE. Meskipun CEMSED hanya memberikan pendampingan selama satu tahun (2002-2003), hubungan dengan CEMSED dilakukan secara informal hingga 2006. Hampir pada saat yang bersamaan, Asian Development Bank (ADB) melalui proyek dukungan teknis bagi pengembangan UKM juga memiliki program layanan pengembangan usaha (business development services). Termasuk dalam program ini adalah pengembangan one stop service (OSS) perizinan. ADB memilih empat daerah untuk pengembangan one stop service perizinan yaitu dua daerah di Sulawesi Selatan (Kota Pare-Pare dan Kabupaten Bulukumba) serta dua daerah di Jawa Tengah (Kabupaten Sragen dan Kabupaten Pati). Ketika program ini disosialisasikan, bupati meresponnya dengan baik. Konsultan ADB waktu itu, Konta Intan Damanik, melihat bahwa Sragen memiliki tiga kelebihan dibandingkan daerah lainnya. Pertama, Sragen memiliki bupati berlatar belakang sebagai pengusaha, bukan dari politikus ataupun birokrat. Seorang pengusaha biasanya memiliki visi ke depan untuk mengembangkan ekonomi wilayahnya. Sehingga, visi pembangunan dan pengembangan ekonomi diharapkan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Eksekutif dan legislatif juga sejalan dalam pengembangan iklim investasi. Ketika DPRD masih diliputi keraguan terhadap UPT, bersama dengan bupati, tim ADB bertemu dengan ketua, para ketua komisi, dan seluruh anggota DPRD yang berjumlah 30 orang. Dalam pertemuan itu, ADB menjelaskan tentang visi dan misi UPT, apa saja dampak yang mungkin muncul melalui efisiensi proses perizinan, dan lain-lain. Tak sia-sia, DPRD akhirnya menyetujui pendirian UPT. Kedua, bupati memiliki perhatian yang besar pada pengembangan SDM yang dikaitkan dengan visi pengembangan UPT. Sebagai institusi baru, bupati berpandangan bahwa UPT harus dikelola oleh orangorang muda, enerjik, karir yang masih panjang, cukup berpendidikan, kemampuan lobi dan personalitas yang bagus, mau belajar dan mau mengembangkan SDM-nya. Ketiga, Sragen mau menerapkan teknologi informasi dan berbasis database dalam menjalankan UPT. Penertiban perizinan sangat mem-

Peningkatan Angka PAD
80
JUMLAH PAD (MILIAR)
72.8 68 60.8
Sumber: KPT

80

70 60 50 40 30 20 10 0
7.3 14.2 22.6

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

TAHUN

Yang lebih membahagiakan bagi lembaga teknis, penetapan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih tetap berada di tangan lembaga teknis. Meksipun proses perizinan sudah dilakukan oleh KPT, setiap hari, lembaga teknis bisa melakukan kontrol (pengecekan) berapa pemasukan lembaganya pada hari itu. Pengecekan itu dilakukan melalui webline (Wide Area Network/WAN) yang menghubungkan antar lembaga teknis, dan kecamatan. Bahkan, dalam perkembangannya, lembaga teknis menjadi lebih ringan dalam menjalankan tugas-tugasnya. Selain itu, mereka menjadi lebih fokus dalam menjalankan program-program dinas lainnya. Mereka tidak lagi mengurus masalah administrasi yang bagi lembaga-lembaga teknis ini cukup menyita waktu. Pada umumnya, lembaga teknis lebih fokus program-program pemberdayaan dinas. Dari sisi penghasilan, tidak seperti yang ditakutkan oleh lembagalembaga teknis. Justru sebaliknya, pendapatan dinas menjadi naik setelah pelimpahan kewenangan ke KPT. Misalnya saja di Dinas Perhubungan. Sebelum adanya KPT, pendapatan dinas hanya Rp. 125 juta. Setelah adanya KPT, izin uji kendaraan mampu memberikan sumbangan bagi PAD sebesar Rp. 750 juta. Atau pengalaman Dinas Tata Kota dan Kebersihan. Dari target PAD Rp. 400 juta, real PAD yang didapatkan adalah Rp. 700 juta. Secara keseluruhan PAD pemerintah daerah justru meningkat sejak penerapan sistem pelayanan perizinan terpadu ini. Pada tahun pertama implementasi sistem pelayanan perizinan terpadu, PAD justru meningkat 66,8%. Selama empat tahun perjalanan KPT, PAD kabupaten sragen meningkat rata-rata 20,1% per tahun.

11

24

buku JICA.indd, Spread 17 of 22 - Pages (28, 17) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

Izin Disederhanakan, PAD Meningkat
Salah satu kekhawatiran dari penyederhanaan izin dan pembentukan sistem perizinan terpadu adalah hilangnya potensi pendapatan yang berasal dari retribusi pengeluaran izin. Bagi lembaga teknis yang biasa mengeluarkan izin, ini juga berarti hilangnya sumber pendapatan bagi dinas tersebut. Ada anggapan bahwa lembaga-lembaga teknis ini akan kehilangan lahan basah. Sudah bukan rahasia lagi, kalau tempat pelayanan perizinan sering dijadikan tambang bagi personel-personel di lembaga teknis. Bagaimana reaksi lembaga teknis yang akan kehilangan lahan basah ini? Banyak lembaga teknis keberatan dengan kebijakan bupati. Alasannya, di dalam aturan disebutkan bahwa kewenangan memberikan izin adalah kewenangan dinas. Selain itu, ada ketakutan dari dinas-dinas kalau mereka akan kehilangan insentif sebagai dinas yang memberikan pemasukan bagi PAD. Saat ini, tantangan terberat berasal dari dinas-dinas vertikal. Untuk mengatasi keberatan dinas dalam melepaskan kewenangan penerbitan izin, bupati menerapkan strategi khusus. Strategi tersebut adalah : (i) tetap menyerahkan kontrol izin pada dinas teknis terutama terkait dengan retribusi dan target PAD, (ii) menjelaskan bahwa KPT pada dasarnya hanya sebagai pelaksana pelayanan perizinan, (iii) pengalihan izin kepada KPT pada prinsipnya mengembangkan double control dalam pelayanan instansi, dan (iv) perizinan melalui KPT membawa misi memberi contoh praktik bebas korupsi (no corruption) dari bupati yang didukung dengan tindakan tegas. Itulah yang terjadi di Sragen pada 2002. Meskipun terkesan masih enggan, mereka juga ingin melihat kinerja lembaga baru. Trauma pelaksanaan UPT yang lama membuat lembaga teknis tidak terlalu yakin lembaga baru ini mampu menunjukan kinerja yang berbeda. Ada yang membuat lembaga teknis ini sedikit terhibur. Bahwa yang menangani pelayanan perizinan itu adalah orang-orang yang biasanya mengurusi perizinan itu ketika masih berada di lembaga teknis. Hanya tempatnya saja yang berpindah. Selain itu, dalam prakteknya, lembaga teknis juga masih dilibatkan dalam pemeriksaan lapangan dan pemberian rekomendasi untuk pengeluaran izin. Misalnya, Indakop masih dilibatkan untuk memberikan rekomendasi untuk izin-izin usaha seperti SIUP, Tanda Daftar Perusahaan (TDP), dan Izin Usaha Industri (IUI). Saat itu, hanya ada tiga dari lima izin di Indakop yang dilimpahkan ke UPT. Dua izin lainnya, dilimpahkan pada 2004. Yaitu Tanda Daftar Industri (TDI) and Tanda Daftar Gudang (TDG).

butuhkan database yang baik. Pendampingan ADB lebih bersifat konsultasi dan bimbingan dalam menjalankan suatu perizinan terpadu. Secara bersama-sama, ADB dan UPT memecahkan semua persoalan yang dihadapi. Mulai dari pemahaman yang belum sama antara legislatif dengan eksekutif tentang pelayanan perizinan terpadu, mengatasi keterbatasan sarana yang ada, proses pengalihan kewenangan sampai strategi pengembangan teknologi informasi untuk mendukung kinerja pelayanan perizinan. Konsultan ADB juga membantu membuat riset kecil terkait pengalihan kewenangan pengeluaran izin dari dinas teknis ke UPT. Riset sederhana dilakukan dengan menanyakan respon dinas-dinas yang kewenangan izinnya dialihkan kepada UPT. Konsultan ADB juga membimbing UPT untuk membuat laporan secara berkala, melakukan survei kepuasan pelanggan, pengembangan SDM dan perencanaan.

Dinas-dinas khawatir bahwa penyederhanaan izin bisa menghilangkan potensi pendapatan mereka dari retribusi perizinan.

Kunci Sukses
Meskipun memiliki banyak kekurangan ketika pertama kali diimplementasikan, ada beberapa kunci sukses keberhasilan Kabupaten Sragen menjalankan UPT. Pertama, Sragen memiliki bupati yang memiliki komitmen dan visi ke depan.Tanpa adanya komitmen yang kuat dari bupati, penyerahan kewenangan ke UPT pasti mengalami banyak kesulitan.

box 4

Bupati pernah memutasi salah seorang kepala dinas di Sragen. Gara-garanya, kepala dinas tersebut menerima “uang suap” untuk memperlancar urusan perizinan pemohon tertentu.
Kedua, kesadaran dari lembaga-lembaga teknis untuk menyerahkan kewenangan kepada UPT. Komitmen bupati yang kuat dapat berpengaruh terhadap kesadaran lembaga teknis untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Ketiga, dukungan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni. SDM yang dipilih ke UPT tidak hanya orang yang terbaik di instansi mereka sebelumnya, tapi juga harus masih muda (maksimal 35 tahun), memiliki visi jenjang karir ke depan, dan keinginan keras untuk belajar. Keempat, dukungan teknologi informasi yang dibangun oleh Kantor Pengelolaan Data Elektronik. Melalui TI (Wide Area Network/ WAN) memungkinkan antara bupati, sekda, asisten, lembaga teknis, dan kecamatan terhubung secara online. Fasilitas ini juga bisa memudahkan pendelegasian pengurusan KTP di kecamatan.

23

12

buku JICA.indd, Spread 18 of 22 - Pages (18, 27) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

BAB IV

Masyarakat Puas, Diubah Menjadi KPT
KEHADIRAN UPT sangat membantu masyarakat. Lama proses perizinan bisa dipangkas, pemohon juga tidak perlu datang ke berbagai lembaga teknis terkait. Mereka hanya cukup datang ke UPT. Mulai memasukkan berkas, hingga izin selesai. Untuk mempermudah layanan, UPT dibagi dalam loket-loket (work stations). Jadi, pemohon izin tidak usah pindah loket hanya untuk menyelesaikan perizinan. Model loket ini akan memangkas banyak meja. Model loket ini dilakukan agar perjinan menjadi efisien, efektif dan transparan. Model work station dipilih setelah melalui pengkajian. Sebelum UPT didirikan, model ini sudah menjadi pilihan. Karena itu, ketika diimplementasikan semua menyesuaikan model ini. Salah satunya adalah terkait lay out (tata letak) ruangan. Pembagian loket itu berdasar pada jenis izin. Izin-izin yang hampir serupa dijadikan satu untuk lebih mempercepat proses pengurusan. Misalnya, TDP, SIUP dan IUI dijadikan dalam satu loket. Pada awal pengoperasian UPT, ada enam (6) loket yang melayani pemohon izin. Selain petugas di loket, UPT juga mengefektifkan petugas resepsionis. Petugas di front office inilah yang memberikan pelayanan pertama kali ketika pemohon izin masuk. Setelah satu tahun bisa memberikan pelayanan yang baik, status UPT diubah menjadi Kantor Pelayanan Terpadu (KPT) pada 2003. Kenaikan status kelembagaan ini didukung dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 15 tahun 2003 tentang Pembentukan Kantor Pelayanan Terpadu dan Susunan Organisasi Lembaga Teknik Daerah. Sebab, bentuk unit dianggap tidak lagi dapat mengakomodasi perkembangan yang terjadi dalam pelayanan perizinan. Kendala yang muncul jika tetap berbentuk unit di antaranya (i) keterbatasan manajemen untuk menciptakan alur pelayanan yang efektif dan efisien karena keterbatasan kewenangan dan struktur, (ii) kesulitan

ISO yang didapatkan oleh KPT Sragen adalah ISO 9001:2000 yang merupakan standar di bidang administrasi. Sertifikasi ISO membantu untuk menciptakan pelayanan yang akuntabel, terukur, dan terkendali. Selama ini, kesulitan birokrasi untuk memberikan pelayanan yang bermutu adalah ketika membuat tolok ukurnya. Dengan standar ISO, semua itu bisa diatasi. Di KPT terdapat 127 item yang dibuat standar. Penyusunan standar ISO itu dilakukan tim ISO KPT yang beranggotakan 15 orang dan konsultan secara bersama-sama. Lewat standardisasi itu, KPT Sragen tidak bisa lagi seenaknya mengubah standar layanan. Tahapan menuju ISO tidaklah mudah. Selama enam bulan, para staf KPT harus mengikuti pelatihan manajemen mutu. Pelatihan dibagi dalam 35 kali pertemuan. Setiap pekan pada hari Kamis, mereka mengikuti pelatihan selama 8 jam. Pelatihan dipraktikkan secara langsung dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Untuk pelatihan manajemen mutu yang menghabiskan dana Rp 65 juta ini, KPT menunjuk CV Wiradamas Semarang sebagai konsultan. Setelah pelatihan selesai, KPT Sragen tidak langsung meng-ISO-kan layanannya. Mereka berjalan dulu selama 4 bulan untuk memantapkan pelayanan. KPT Sragen juga mengundang Sucofindo untuk melakukan audit terhadap standar administrasi KPT Sragen. Pada Oktober 2005, KPT Sragen mendapatkan ISO dari Suconfindo dengan kontrak berjangka selama tiga tahun. Setiap Desember, Suconfindo melakukan surveillance audit atau audit untuk memeriksa apakah KPT Sragen konsisten menjalankan layanan sesuai standar yang telah disertifikasi atau tidak. Kalau tidak, Sucofindo berhak mencabut sertifikat ISO yang diberikan. KPT juga melibatkan masyarakat sebagai pengguna layanan untuk memastikan standar layanan berjalan dengan baik. Ada 16 layanan perizinan yang telah memiliki sertifikasi ISO, yakni izin lokasi, IMB, HO/SITU, izin usaha kecantikan, SIUP, IUI, TDP, TDI, izin usaha rekreasi dan hiburan umum, izin pondok wisata, izin usaha rumah makan, izin usaha hotel bunga melati, biro/agen perjalanan wisata, izin penutupan jalan, pajak reklame dan izin usaha huller.

RAPI: Para staf KPT menggunakan seragam layaknya seorang pegawai bank. Staf pria juga harus mengenakan dasi.

13

22

buku JICA.indd, Spread 19 of 22 - Pages (26, 19) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

rian Insentif Khusus Petugas KPT. Jumlah insentif disesuaikan dengan jabatan. Untuk eselon III (Kepala KPT) insentif Rp. 450 ribu, untuk Kasi (eselon IV) Rp. 350 ribu dan untuk pelaksana Rp. 250 ribu. Dalam memberikan layanan kepada masyarakat, KPT menerapkan prosedur pelayanan yang transparan, mudah dan cepat. Untuk transparansi, pemohon izin tahu betul berapa biaya yang dia bayarkan. Biaya perizinan ini akan dicantumkan dalam SK kepala KPT. Sedangkan besarnya tarif ditetapkan berdasarkan Perda tarif yang berlaku. Prinsip mudah ditetapkan dengan menerapkan pelayanan di work station-work station pelayanan. Dengan sistem work station, untuk pengurusan izin yang dilayani oleh work station yang sama, pemohon tidak usah pindah loket. Terlalu banyak pindah loket, sering menyulitkan pemohon izin. Prinsip cepat ditunjukkan dengan penyelesaian perizinan lebih cepat dari waktu standar yang telah ditentukan. Sejak 2003, penyelesaian layanan lebih cepat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Survei kecepatan layanan pada awalnya dilakukan dengan survei ADB. Namun, sejak 2005, survei kecepatan layanan dilakukan oleh KPT sendiri.

TIAP TAHUN LAYANAN LEBIH CEPAT
KECEPATAN PENYELESAIAN TAHUN
2003 2004 2005 2006
Sumber: KPT

LEBIH CEPAT

SESUAI STANDAR

TERLAMBAT

KETERANGAN

30% 65% 74%

70% 35% 26%

-

Survei ADB KPT KPT

Standar Mutu Pelayanan ISO 9001 untuk 16 Perizinan
Untuk memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat, KPT berusaha melakukan ISO terhadap layanan perizinan. Rencana itu sebenarnya sudah ada sejak UPT diubah menjadi KPT, tapi baru terealisasi pada 2004.

memotivasi pegawai karena tidak dikoordinasi langsung (masih berstatus pegawai dinas teknis), (iii) Sulit membuat perencanaan sendiri karena tidak memiliki anggaran sendiri, dan (iv) proses pelayanan lebih lambat karena kinerja pegawai tidak sesuai dengan yang diharapkan. KPT Sragen melayani dua jenis layanan, yakni perizinan dan non perizinan. Perizinan bersifat satu pintu, sedangkan pelayanan non perizinan bersifat satu atap. Layanan satu pintu maksudnya, proses perizinan berlangsung di KPT sejak masuknya berkas sampai dengan keluarnya perizinan. Penanda tanganan izin menjadi kewenangan kepala KPT. Sedangkan untuk layanan non perizinan bersifat satu atap berarti berkas masuk di KPT, akan tetapi penandatangan masih berada di tangan Kepala Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan. Ini terjadi karena tidak ada nomenklatur. Akan tetapi, setelah selesai, warga bisa mengambilnya di KPT. Jenis pelayanan satu atap antara lain layanan akte kelahiran, akte kematian, dan sebagainya. Khusus layanan KTP, KPT juga memproses KTP untuk warga di Kecamatan Sragen. Sedangkan untuk kecamatan lainnya, diproses di kecamatan masing-masing. Status Kantor memungkinkan struktur yang lebih mengakomodasi kebutuhan pelayanan izin dan non izin yang semakin banyak dan berkembang. Struktur kantor juga memungkinkan pembagian seksi/ divisi yang lebih membagi tugas dan fungsi yang lebih terfokus dan saling menunjang dalam memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat pemohon izin. Di samping kelompok fungsional dan Tata Usaha, KPT mempunyai tiga seksi pendukung yaitu Seksi Perizinan, Seksi Pelayanan, serta Seksi Bina Program dan Informasi.

WORK STATIONS: Deretan loket pelayanan KPT Sragen.

21

14

buku JICA.indd, Spread 20 of 22 - Pages (20, 25) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

Waktu Jelas dan Pasti, Biaya Murah, dan Transparan
Salah satu ciri pelayanan lembaga perizinan terpadu satu ointu yang efisien dan baik adalah kejelasan dan kepastian waktu penyelesaian proses perizinan dan biaya yang transparan. Pemohon mengetahui secara pasti berapa hari paling lama proses izinnya bisa selesai karena waktu penyelesaian untuk masing-masing izin dipampang jelas di depan KPT. Pemohon juga mengetahui berapa biaya untuk pengurusan izin atau non izin karena tarifnya ditempel di loket. KPT juga menjamin tidak ada penyimpangan biaya karena petugas di work station tidak boleh menerima pembayaran. Lalu, bagaimana KPT Sragen menetapkan waktu penyelesaian dan tarif/biaya yang dikenakan untuk masing-masing izin sehingga tidak memberatkan bagi pemohon? Penetapan biaya perizinan dilakukan berdasar analisis unit cost pelayanan terhadap masing-masing izin/non-izin. Unit cost ini mempertimbangkankan kebutuhan operasional pelayanan, kemampuan SDM dan yang paling penting adalah kemampuan daya beli masyarakat sebagai cermin seberapa besar kemampuan membayar masyarakat. Hal yang menarik adalah bahwa penetapan tarif retribusi ataupun biaya pengurusan izin tidak boleh berorientasi pada peningkatan peneriman daerah (PAD). Bagaimana dengan waktu? Penetapan waktu penyelesaian izin/ non-izin didasarkan atas volume pekerjaan dan kapasitas pada masing-masing work station, kemampuan petugas di work station yang menangani, proses koordinasi dengan dinas teknis (jika diperlukan), pengalamaan yang dilakukan daerah lain (sedapat mungkin lebih baik) dan evaluasi terhadap waktu penyelesaian pelayanan yang sudah dilakukan. Berdasar faktor-faktor tersebut, ditetapkan waktu penyelesaian pelayanan untuk masing-masing izin dan dipublikasikan ke khalayak. Namun dalam praktiknya, pelayanan justru sering lebih cepat ketimbang yang sudah ditetapkan.

han jumlah loket layanan dan SDM. Loket atau work station pelayanan bertambah dari enam menjadi sepuluh work station. Kebutuhan SDM untuk memenuhi tuntutan penambahan pelayanan diambil dari personel di lembaga teknis yang terbiasa menangani pelayanan perizinan ini. Hingga tahun lalu, KPT didukung oleh 40 personel yang berasal dari beragam jenjang pendidikan, mulai SMA hingga S-2.

Izin Dipermudah, Permohonan Bertambah
Sejak didirikan pada 2002, terjadi kenaikan jumlah pemohon izin di KPT. Peningkatan ini terutama karena semakin mudah dan transparannya proses pengurusan izin sehingga kalangan usaha mau mengurus izin. Setahun pertama KPT, peningkatan izin yang dikeluarkan mencapai lebih dari 40%. Selama empat tahun perjalanan KPT, peningkatan pengurusan izin rata-rata mencapai 18.7% setiap tahun. Desentralisasi izin ke kecamatan juga berkontribusi dalam peningkatan pengurusan oleh dunia usaha. Sejak diberikan kewenangan kepada kecamatan untuk mengeluarkan 14 izin dari 16 kewenangan yang diberikan, pengurusan izin di kecamatan meningkat rata-rata 10%-15% setiap tahun

STAF KPT BERDASAR JENJANG PENDIDIKAN
JENJANG JUMLAH

Strata 2 Strata 1 Diploma 3 SLTA

1 orang 21 orang 4 orang 14 orang

Tren Peningkatan Pengurusan Izin di KPT
6000
5.247

5000
JUMLAH IZIN

4000 3000 2000 1000
2.027

4.047 3.567 3.145

Menyatukan dan Menyederhanakan
Konsep yang dikembangkan KPT Sragen tidak saja menyatukan pelayanan perizinan tapi juga menyederhanakan prosedur dalam pengurusan perizinan. Penyederhanaan juga bukan lantaran pemohon izin bisa mengurus beberapa izin secara paralel dalam waktu lebih singkat, tapi KPT juga menyederhanakan prosedur pengurusan izin untuk satu jenis perizinan dibandingkan prosedur sebelum ada KPT.

0

2002

2003

2004 TAHUN

2005

2006

Sebagai bentuk reward kepada para petugas KPT, insentif diberikan setiap bulan yang secara resmi diambilkan dari APBD. Insentif ini diperkuat dengan SK Bupati Nomor 841/25/03/2004 tentang Pembe-

15

20

buku JICA.indd, Spread 21 of 22 - Pages (24, 21) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

BAB V

Pengembangan KPT
BERKAT kualitas pelayanan yang memuaskan, banyak lembaga teknis yang ingin melimpahkan pengurusan izin ke KPT. Sebab, memang lebih mudah apabila semua layanan perizinan disatukan di KPT. Namun, tentu tidak semua layanan bisa diserahkan ke KPT. Ada beberapa izin yang tetap lebih efektif jika dilakukan di dinas teknis. Misalnya, uji kir kendaraan bermotor yang membutuhkan alat-alat tertentu di Dinas Perhubungan. Pemindahan alat-alat uji tersebut ke KPT tentu menjadikan pelayanan justru tidak efektif. Untuk izin-izin yang dilimpahkan ke KPT, ada beberapa langkah yang ditempuh sebagai dasar pembuatan keputusan. Yang pertama adalah identifikasi dan pengkajian izin-izin yang akan digabungkan. Apabila hasil identifikasi menunjukkan hasil yang lebih bagus jika digabung, barulah pengurusan perizinan digabung dengan payung peraturan bupati (Perbup). Mengapa hanya menggunakan perbup? Perbup dinilai lebih luwes ketimbang perda ketika harus menambah jumlah pelayanan. Sejak didirikan pada 2002, tercatat dua kali penambahan layanan KPT, yakni pada 2003 dan 2005.

PENAMBAHAN LAYANAN KPT

TAHUN 2002 2003 2005

LAYANAN PERIZINAN 15 layanan 17 layanan 52 layanan

LAYANAN NON PERIZINAN 8 layanan 10 layanan 10 layanan

Penyederhanaan prosedur ini dilakukan di antaranya dengan (i) mengurangi persyaratan yang dianggap tidak perlu atau sama jika beberapa izin diurus secara paralel, (ii) pemenuhan persyaratan yang kurang, bisa dilakukan saat pemeriksaan lapangan sehingga tidak menghambat penyelesaian izin, (iii) memangkas prosedur yang harus dilalui, dan meringkas form permohonan dan blanko. Pembayaran retribusi izin ataupun non izin yang diurus di KPT pada masingmasing work station juga cukup dilakukan melalui kasir yang berada di dalam KPT. Dengan demikian, hanya ada satu pintu pembayaran untuk menghindari penyimpangan dan pembayaran yang tidak sesuai tarif resmi. Misalnya, pengurusan izin HO yang dulu harus memenuhi persyaratan menunjukkan fotocopi SPPT PBB, rekomendasi dan sertifikat pemilikan tanah. Kini, semua persyaratan tersebut ditiadakan dan cukup dengan surat keterangan dari Kepala Desa. Persyaratan berupa foto bisa diberikan pada saat pengambilan izin sehingga pemohon tidak harus kembali untuk memenuhi persyaratan tersebut, baru izin bisa diproses. Dengan begitu proses perizinan bisa berlangsung lebih cepat. Bahkan, bisa 60 persen lebih cepat dibandingkan waktu yang telah ditetapkan, tanpa harus menggunakan fasilitas apapun. Pengurusan izin usaha industri (IUI) yang ditetapkan maksimum selesai dalam tujuh hari, ternyata bisa diselesaikan dalam 3-4 hari. Keberadaan KPT bukan berarti Sragen menerapkan sentralisasi pelayanan izin dan mengabaikan prinsip mendekatkan pelayanan perizinan kepada publik. Sejalan dengan desentralisasi kecamatan yang dilakukan, Pemkab Sragen telah memberikan kewenangan kepada kecamatan 16 jenis kewenangan termasuk 14 kewenangan untuk mengeluarkan izin maupun rekomendasi melalui SK Bupati No. 36 Tahun 2002.

Pada 2005, terjadi penambahan layanan perizinan hingga 35 jenis layanan. Sebanyak 17 layanan perizinan berasal dari kewenangan yang sebelumnya ditangani oleh Dinas Kesehatan. Seperti izin praktik dokter umum/dokter gigi, dan sebagainya. Yang berperan dalam melakukan penambahan identifikasi dan analisis perizinan di KPT adalah Asisten I, KPT dan dinas-dinas yang izinnya akan dilimpahkan. Penggabungan 35 perizinan ini tidak terlalu sulit apabila dibandingkan sebelumnya. Penggabungan ini dipimpin oleh Asisten I, bukan bupati seperti pada penggabungan kewenangan perizinan seperti pada 2002. Penambahan jumlah layanan perizinan berdampak pada penamba-

Pengembangan SDM
Inovasi dan upaya terus-menerus untuk meningkatkan kualitas pelayanan melalui penerapan sistem dan teknologi tentu juga harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan SDM. Bukan hanya etos kerja yang harus berbeda dan lebih baik, kemampuan dan keterampilan staf di KPT juga harus terus ditingkatkan. KPT Sragen belum puas jika hanya memilih orang-orang terseleksi dari lembaga-lembaga teknis yang ada. Proses peningkatan kualitas dan kemampuan SDM di KPT terus dilakukan. Program pengembangan SDM dirancang dengan memanfaat-

19

16

buku JICA.indd, Spread 22 of 22 - Pages (22, 23) 3/8/07 10:55 PM

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

PERIZINAN SATU PINTU, EKONOMI DAERAH MELAJU

Hari ke 1
Mengambil formulirpermohonan Memenuhi persyaratan Mengembalikan permohonan ke KPT

Hari ke 2
Koordinasi untuk cek lapangan dengan Dinas Teknis

Hari ke 3-7
Cek lapangan (KPT, Dinas Tata Kota) Pertimbangan teknis dan rekomendasi

Hari ke 8
Penghitungan retribusi Pengetikan SK ijin

Hari ke 9
Pemeriksaan SK Ijin oleh Ka. Sie

Hari ke 10
Penandatanganan ijin oleh kepala KPT

Hari ke 11
Pemanggilan pemohon untuk mengambil ijin

Hari ke 12
Pembayaran retribusi Pengambilan ijin

• Gambar Bangunan • FC PBB • FC Sertifikat Tanah • SK Tidak keberatan • FC KTP untuk rumah tingkat

Dalam praktek, proses cek lapangan dan rekomendasi bisa berlangusng lebih cepat sehingga penyelesaian selurih proses bisa mencapai 7-9 hari

kan hasil evaluasi berupa rekomendasi hasil monitoring dan evaluasi. Program pengembangan SDM juga dibuat oleh tim khusus di internal KPT. Ada dua bentuk program pelatihan dalam rangka pengembangan kapasitas SDM yaitu (i) pelatihan khusus yang disiapkan setiap tahun dengan menggunakan dana APBD, dan (ii) pelatihan yang dilakukan melalui kerja sama (network) dengan pihak lain (menyediakan trainer) seperti dari perguruan tinggi, dunia usaha, dan LSM. Pelatihan diadakan dalam rangka peningkatan kapasitas SDM di KPT melalui (a) pelatihan sistem manajemen mutu, (b) pengembangan kepribadian, (c) keterampilan komputer dan sistem database, (d) kemampuan bahasa Inggris, (e) pengembangan kecerdasan emosional dan spiritual. Pengembangan kepribadian ditujukan untuk membangun tata nilai yang berorientasi pelayanan prima.

indikator lainnya. Kedua, berdasar survei kepuasan pelanggan. Setiap enam bulan, survei kepuasan pelanggan dilakukan pada 150 responden dengan memakai 14 indikator dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan). Sebelum SK Menpan tentang survei kepuasan pelanggan terbit, KPT Sragen sudah lebih dulu menerapkan secara internal dengan menggunakan 7 indikator. Survei dilakukan secara rutin sejak Desember 2004. Hasil survei terakhir pelanggan pada Desember 2006 menunjukkan, kepuasan masyarakat terhadap KPT mencapai 83,92. % Itu berarti bahwa layanan yang diberikan KPT jauh dari memuaskan. Survei ini dilakukan secara mandiri oleh staf KPT untuk efisiensi dan efektivitas. Ketiga, audit internal yang dilakukan setiap enam bulan. Anggotanya terdiri dari para petugas loket yang telah dididik secara khusus. Mereka mengevaluasi hal-hal yang tidak sesuai indikator audit seperti kelengkapan dokumen, kecepatan layanan, konsistensi pengisian formulir, kesesuaian dengan aturan, dan kinerja keuangan. Tim audit internal ditetapkan melalui SK kepala KPT. Keempat, menelepon ulang para pengguna jasa KPT setelah dilakukan survei lapangan. Pemohon izin akan ditanya, bagaimana pelayanan petugas ketika melakukan survei, apakah mereka dimintai uang tambahan di luar biaya yang semestinya? Dan lain-lain. Kelima, diskusi dengan stakeholder yang dilakukan setahun sekali. Dalam forum ini, KPT mengundang Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), akademisi, dan lain-lain.

JAMINAN PELAYANAN: Kualitas layanan KPT Sragen sudah mengantongi ISO 9001.

Monitoring dan Evaluasi (Monev)
KPT tak pernah cepat puas. Mereka terus melakukan pembenahan pelayanan melalui monitoring dan evaluasi. Langkah-langkah yang dilakukan seperti: Pertama, mengadakan evaluasi data riil berdasar laporan bulanan yang masuk. Dalam laporan itu disebutkan berapa jumlah izin yang masuk, waktu penyelesaian, kecepatan penyelesaian, dan indikator-

17

18

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->