Anda di halaman 1dari 20

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

Daftar Isi
Bab 1 Pendahuluan :
1.1

Latar Belakang

....................................................... !

1.2

Rumusan Masalah

....................................................... !!

1.3

Tujuan Pembuatan Makalah ........................................... !!

1.4

Manfaat Makalah

1.5

Metode .............................................................................. !!!

Bab 2 Pembahasan
3.1

Asal usul rumah adat Aceh

3.2

Adat istiadat Aceh

3.3

Filosofi dari rumah adat

3.4

Arsitektur dalam rumah adat

3.5

Pengaruh status sosial terhadap bentuk rumah .............. 10

3.6

Bahan dan Teknik dalam

....................................................... 2

Membangun Rumah Aceh


3.7

.......................................... 1

........................................... 4
............................... 6

........................................... 10

Rumah adat gayo/ Pitu ruang ........................................... 11

Bab 3 Penutup
4.1

Kesimpulan

4.2

Saran ............................................................................... 14

Daftar Pustaka
Lampiran

................................................................... 14

nusantaraknowledge.blogspot.com

....................................................... !!

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dewasa ini sebagaimana yang kita ketahui bahwa zaman terus mengalami
perubahan dan perkembangan. Dampak perkembangan yang sangat pesat dapat
kita rasakan, yaitu pada ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa terkecuali ilmu
pengetahuan dan hal-hal yang lainnya. Namun, di kedua cabang ilmu inilah yang
mengalami aspek perkembangan yang sangat luar biasa pesatnya. Kita tahu,
bahwa zaman dari tahun ke tahunnya terus mengalami perubahan dan tuntutan,
tuntutan dan perubahan itulah yang mendorong manusia untuk mau dan mau terus
berpikir serta mengasah,mengembangkan, dan menciptakan sesuatu yang
memenuhi tuntutan yang di timbulkan oleh perubahan zaman. Perubahan inilah
yang mau tidak mau harus kita ikuti.
Tanpa terkecuali, semua aspek pun dituntut untuk dapat serta mampu
berpacu dan bersaing di dalam segala hal. Dari perubahan inilah, salah satu
cabang ilmu yang ikut mengalami perubahan adalah ilmu arsitektur. Ilmu arsitktur
adalah ilmu yang dimana selalu bergandengan dengan zaman dari satu masa ke
masa yang lainnya. Karena arsitektur memiliki kedekatan dan peranan yang lebih
bagi lingkungan serta keadaan yang ada di sekitarnya. Di zaman yang semakin
mutakhir, dengan segalanya yang serba canggih, ilmu arsitektur pun menjadi
mengalami perubahan yang cukup signifikan, karena tuntutan dan permintaan
tersebutlah

yang

akhirnya

membuat, mau

tidak mau juga, arsitektur

mengusahakan agar perubahan dan tuntutan tersebut dapat terlaksana dan


terpenuhi. Namun, sebelum melakukan segalanya perlunya pengenalan akan awal
perkembangan dari zaman ke zaman di miliki. Agar hubungan dan
kesinambungan yang di hasilkan dapat terus berjalin dan berlanjut. Serta yang
menjadi wawasan yang lebih bagi seorang arsitektur, tidak hanya sekedar bangun
membangun namun yang memahami segala aspek-aspek yang ada dan yang akan
di lakukan.
!

nusantaraknowledge.blogspot.com

1.1

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

1.2

Rumusan Masalah
1.Bagaimana Asal-Usul Rumah Adat Aceh?
2. Bagaimana Adat istiadat di Aceh?
3. Adakah filosofi yang melatarbelakangi pembangunan rumah tradisional Aceh ?
4. Bagaimana Arsitektur dalam Rumah adat Aceh?
5. Apa Bahan dan Teknik yang digunakan dalam Membangun Rumah Aceh?

1.3

Tujuan pembuatan makalah


Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah yang untuk membantu ikut
berpartisipasi di dalam memberikan suatu bacaan bagi para calon arsitek. Dimana
isi di dalamnya akan menjadi suatu pengenalan dan yang akan menjadi
pengetahuan yang lebih bagi para arsitek, serta yang bisa menjadi suatu referensi
serta cikal bakal di dalam pengembangan dan perancangan yang akan di buat.

1.4

Manfaat Makalah
Manfaat yang di harapkan adalah agar, bisa menjadi sesuatu yang berguna bagi
yang membaca, bahkan lebih lagi. Dan yang juga menjadi suatu pedoman yang
baik yang dapat membantu di dalam terciptanya suatu dunia arsitektur yang lebih
baik.

!!

nusantaraknowledge.blogspot.com

6. Bagaimana Arsitektur rumah adat gayo?

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

Metode Pembuatan
Pengumpulan Data
Perolehan atau pengumpulan data adalah dengan berdasarkan atas sumber-sumber
pustaka. Adapun beberapa bahan yang di peroleh adalah berupa reverensireverensi yang di dapat pada beberapa buku yang terkait dan yang membahas
akan arsitektur dan sejarahnya. Pencarian data ini juga berdasarkan akan
pencarian pada internet. Adapun situs yang di kunjungi memiliki kaitan yang
tidak lepas dari pembahasan yang akan di sampaikan, yaitu Rumah tradisional
Aceh dan Gayo.
Pembahasan
Pelaksanaan dari makalah ini, adalah di mulai dari pencarian akan informasiinformasi mengenai dunia dan sejarah serta latar belakang lahirnya sebuah
arsitektur. Kemudian perjalanan di lakukan kembali dengan mengembangkan
materi-materi yang di dapat dari informasi-informasi serta reverensi-revernsi yang
di dapat, baik dari internet ataupun dari buku-buku. Materi yang telah
dikembangkan, kemudian di bagi-bagi lagi berdasarkan kelompoknya.
Pengelompokkan tersebut di maksudkan agar penjabaran dan penjelasan akan
materi yang akan di bawa menjadi lebih terarah dan jelas. Setelah
pengelompokkan di lakukan, mulailah pengisian akan isi-isi dari materi-materi
yang telah di sepakati. Kemudian, setelah pengisian isi dari materi slesai,
kemudian penulis menarik kesimpulan serta memberikan saran akan materi yang
di bawa, dan bagaimana atau apa saja yang menjadi kesan dan pesan yang di
harapkan dan yang ingin di sampaikan oleh penulis

!!!

nusantaraknowledge.blogspot.com

1.5

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

Bab 2
PEMBAHASAN

Asal-Usul Rumah Adat Aceh

Kepercayaan individu atau masyarakat dan kondisi alam di mana individu atau
masyarakat hidup mempunyai pengaruh signifikan terhadap bentuk arsitektur bangunan,
rumah, yang dibuat. Hal ini dapat dilihat pada arsitektur Rumoh Aceh, Provinsi Daerah
Istimewa Aceh, IndonesiaRumoh Aceh bukan sekadar tempat hunian, tetapi merupakan
ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap alam. Oleh karena itu, melalui
Rumoh Aceh kita dapat melihat budaya, pola hidup, dan nilai-nilai yang diyakini oleh
masyarakat Aceh. Adaptasi masyarakat Aceh terhadap lingkungannya dapat dilihat dari
bentuk Rumoh Aceh yang berbentuk panggung, tiang penyangganya ang terbuat dari kayu
pilihan, dindingnya dari papan, dan atapnya dari rumbia. Pemanfaatan alam juga dapat
dilihat ketika mereka hendak menggabungkan bagian-bagian rumah, mereka tidak
menggunakan paku tetapi menggunakan pasak atau tali pengikat dari rotan. Walaupun
hanya terbuat dari kayu, beratap daun rumbia, dan tidak menggunakan paku, Rumoh Aceh
bisa bertahan hingga 200 tahun.
Pengaruh keyakinan masyarakat Aceh terhadap arsitektur bangunan rumahnya dapat
dilihat pada orientasi rumah yang selalu berbentuk memanjang dari timur ke barat, yaitu
bagian depan menghadap ke timur dan sisi dalam atau belakang yang sakral berada di
barat. Arah Barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis
imajiner dengan Kabah yang berada di Mekkah. Selain itu, pengaruh keyakinan dapat
juga dilihat pada penggunaan tiang-tiang penyangganya yang selalu berjumlah genap,
jumlah ruangannya yang selalu ganjil, dan anak tangganya yang berjumlah ganjil.
Selain sebagai manifestasi dari keyakinan masyarakat dan adaptasi terhadap
lingkungannya, keberadaan Rumoh Aceh juga untuk menunjukan status sosial
penghuninya. Semakin banyak hiasan pada Rumoh Aceh, maka pastilah penghuninya
semakin kaya. Bagi keluarga yang tidak mempunyai kekayaan berlebih, maka cukup
dengan hiasan yang relatif sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Keberadaan Rumoh
Aceh merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai yang hidup dan dijalankan oleh
masyarakat Aceh. Oleh karena itu, melestarikan Rumoh Aceh berarti juga melestarikan
eksistensi masyarakat Aceh itu sendiri

nusantaraknowledge.blogspot.com

3.1

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

3.2

Adat istiadat Aceh

keberadaan Imum Mukim di Aceh masih tetap diakui dan berjalan. Hukum adat di Aceh
tetap masih memegang peranan dalam kehidupan masyarakat.
Dalam masyarakat Aceh yang sangat senang menyebut dirinya dengan
Ureueng Aceh terdapat institusi-institusi adat di tingkat gampng dan mukim. Institusi ini
juga merupakan lembaga pemerintahan. Jadi, setiap kejadian dalam kehidupan
bermasyarakat,
Ureueng Aceh selalu menyelesaikan masalah tersebut secara adat yang berlaku dalam
masyarakatnya. Pengelolaan sumber daya alam pun di atur oleh lembaga adat yang sudah
terbentuk.
Lembaga-lembaga
adat
dimaksud
seperti
Panglima Uteun, Panglima Laot, Keujruen Blang, Haria Pekan, Petua Sineubok. Semua
lembaga ini berperan di posnya masing-masing sehingga pengelolaan sumberdaya alam
di
gampng
trepelihara.
Misalnya, Panglima Laot yang bertugas mengelola segala hal berkaitan dengan laut dan
hasilnya. Tentunya semua hal berkaitan dengan laut diatur oleh lembaga tersebut. Begitu
pun dengan lembaga lainnya.
Lembaga-lembaga adat itu sekarang terkesan hilang dalam masyarakat Aceh,
karena derasnya arus globalisasi dan westernisasi yang mencoba merobah peradaban
masyarakat Aceh. Padahal, jika lembaga-lembaga adat tersebut dihidupkan pada suatu
gampng (kampong) tersebut akan tetap kokoh seperti jayanya masa-masa kesultanan
Aceh.
Salah satu contoh kokohnya masyarakat dengan peranan lembaga adat seperti
terlihat di Gampng Bar. Kampung yang dulunya berada di pinggir pantai, namun
tsunami menelan kampung mereka. Berkat kepercayaan masyarakat kepada pemangkupemangku adat di kampungnya, masyarakat Gampng Bar sekarang sudah memiliki
perkampungan yang baru, yaitu di kaki bukit desa Durung, Aceh Besar.
Tak pernah terjadi kericuhan dalam masyarakatnya, sebab segala macam
kejadian, sampai pada pembagian bantuan pun masyarakat percaya penuh kepada
lembaga adat yang sudah terbentuk. Nilai musyawarah dalam masyarakat adat memegang
peranan tertinggi dalam pengambilan keputusan.
Kasus lain pernah terjadi di tahun 1979. Ketika itu desa Lam Puuk selisih paham
dengan desa Lam Lhom. Kasus itu terhitung rumit karena membawa nama desa, namun
masalah dapat diselesaikan secara adat oleh Imum Mukim. Ini merupakan bukti
kokohnya masyarakat yang menjunjung tinggi adat istiadat yang berlaku. Mereka tidak
memerlukan polisi dalam menyelesaikan masalah sehingga segala macam bentuk
masalah dapat diselesaikan dengan damai tanpa dibesar-besarkan oleh pihak luar.

nusantaraknowledge.blogspot.com

Aceh adalah salah satu provinsi di Indonesia yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat
dalam masyarakatnya. Hal ini terlihat dengan masih berfungsinya institusi-institusi adat .
Meskipun Undang-undang no 5 tahun 1975 berusaha menghilangkan fungsi
mukim(institusi-institusi),

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

Dalam hukum adat semua jenis pelanggaran memiliki jenjang penyelesaian yang selalu
dipakai dan ditaati masyarakat. Hukum dalam adat Aceh tidak langsung diberikan begitu
saja meskipun dalam hukum adat juga mengenal istilah denda. Dalam hukum adat jenis
penyelesaian masalah dan sanksi dapat dilakukan terlebih dahulu dengan menasihati.
Tahap kedua teguran, lalu pernyataan maaf oleh yang bersalah di hadapan
orang banyak (biasanya di meunasah/ mesjid), kemudian baru dijatuhkan denda. Artinya,
tidak langsung pada denda sekian rupiah. Jenjang penyelesaian ini berlaku pada siapa
pun, juga perangkat adat sekalipun

Pola kehidupan masyarakat Aceh diatur oleh hukum adat yang berdasarkan kaidahkaidah hukum agama Islam. Adapun susunan masyarakat adalah sebagai berikut :
1.Golongan Rakyat Biasa; yang dalam istilah Aceh disebut Ureung Le (orang
banyak). Disebut demikian karena golongan ini merupakan golongan yang paling banyak
(mayoritas) dalam masyarakat adat Aceh.
2.Golongan Hartawan; yaitu golongan yang bekerja keras dalam
mengembangkan ekonomi pribadi. Dari pribadi-pribadi yang sudah berada itulah
terbentuknya suatu golongan masyarakat. Karena keberadaannya sehingga mereka
menjelma menjadi golongan hartawan. Golongan ini cukup berperan dalam soal-soal
kemasyarakatan khususnya sebagai penyumbang-penyumbang dana.
3.Golongan ulama/cendikiawan; umumnya mereka berasal dari kalangan rakyat
biasa yang memiliki ilmu pengetahuan yang menonjol. Sehingga mereka disebut orang
alim dengan gelar Teungku. Mereka cukup berperan dalam masalah-masalah agama dan
kemasyarakatan.
4.Golongan kaum bangsawan; termasuk didalamnya keturunan Sultan Aceh
yang bergelar "Tuanku" keturunan "Uleebalang" yang bergelar "Teuku" (bagi laki-laki)
dan "Cut" (bagi perempuan).
Selain pembagian susunan masyarakat tersebut di atas, sistem kesatuan
masyarakat Aceh, merupakan perwujudan dari beberapa buah keluarga inti, yang menjadi
suatu kelompok masyarakat; yang disebut "Gampong" (Kampung). Sistem sosial pada
masyarakat Aceh berpedoman pada keluarga inti. Setiap perbuatan yang dilakukan
sebuah keluarga inti akan memberi pengaruh kepada keluarga lainnya. Dengan demikian
hubungan antara satu keluarga inti dengan keluarga inti lainnya cukup erat

nusantaraknowledge.blogspot.com

Pola kehidupan masyarakat Aceh:

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

Filosofi dari rumah adat Aceh

Wujud dari arsitektur Rumoh Aceh merupakan pengejawantahan dari kearifan dalam
menyikapi alam dan keyakinan (religiusitas) masyarakat Aceh. Arsitektur rumah
berbentuk panggung dengan menggunakan kayu sebagai bahan dasarnya merupakan
bentuk adaptasi masyarakat Aceh terhadap kondisi lingkungannya. Secara kolektif pula,
struktur rumah tradisi yang berbentuk panggung memberikan kenyamanan tersendiri
kepada penghuninya. Selain itu, struktur rumah seperti itu memberikan nilai positif
terhadap sistem kawalan sosial untuk menjamin keamanan, ketertiban, dan keselamatan
warga gampong (kampung). Sebagai contoh, struktur rumah berbentuk panggung
membuat pandangan tidak terhalang dan memudahkan sesama warga saling menjaga
rumah serta ketertiban gampong.
Kecerdasan masyarakat dalam menyikapi kondisi alam juga pada rumah adat Aceh dapat
dilihat dari bentuk Rumoh yang menghadap ke utara dan selatan sehingga rumah
membujur dari timur ke barat. Walaupun dalam perkembangannya dianggap sebagai
upaya masyarakat Aceh membuat garis imajiner antara rumah dan Kabah (motif
keagamaan), tetapi sebelum Islam masuk ke Aceh, arah rumah tradisional Aceh memang
sudah demikian. Kecenderungan ini nampaknya merupakan bentuk penyikapan
masyarakat Aceh terhadap arah angin yang bertiup di daerah Aceh, yaitu dari arah timur
ke barat atau sebaliknya. Jika arah Rumoh Aceh menghadap ke arah angin, maka
bangunan rumah tersebut akan mudah rubuh. Di samping itu, arah rumah menghadap ke
utara-selatan juga dimaksudkan agar sinar matahari lebih mudah masuk ke kamar-kamar,
baik yang berada di sisi timur ataupun di sisi barat. Setelah Islam masuk ke Aceh, arah
Rumoh Aceh mendapatkan justifikasi keagamaan. Nilai religiusitas juga dapat dilihat
pada jumlah ruang yang selalu ganjil, jumlah anak tangga yang selalu ganjil, dan
keberadaan gentong air untuk membasuh kaki setiap kali hendak masuk Rumoh Aceh.
Musyawarah dengan keluarga, meminta saran kepada Teungku, dan bergotong royong
dalam proses pembangunannya merupakan upaya untuk menumbuhkan rasa
kekeluargaan, menanamkan rasa solidaritas antar sesama, dan penghormatan kepada adat
yang berlaku. Dengan bekerjasama, permasalahan dapat diatasi dan harmoni sosial dapat
terus dijaga. Dengan mendapatkan petuah dari Teungku, maka rumah yang dibangun
diharapkan dapat memberikan keamanan secara jasmani dan ketentraman secara rohani.
Tata ruang rumah dengan beragam jenis fungsinya merupakan simbol agar semua orang
taat pada aturan. Adanya bagian ruang yang berfungsi sebagai ruang-ruang privat, seperti
Rumoh Inong, ruang publik, seperti serambi depan, dan ruang khusus perempuan, seperti
serambi belakang merupakan usaha untuk menanamkan dan menjaga nilai kesopanan
dan etika bermasyarakat.
4

nusantaraknowledge.blogspot.com

3.3

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

Pintu utama rumah yang tingginya selalu lebih rendah dari ketinggian orang dewasa,
sekitar 120-150 cm, sehingga setiap orang yang masuk ke Rumoh Aceh harus menunduk,
mengandung pesan bahwa setiap orang yang masuk ke Rumoh Aceh, tidak peduli betapa
tinggi derajat atau kedudukannya, harus menunduk sebagai tanda hormat kepada yang
punya rumah. Namun, begitu masuk, kita akan merasakan ruang yang sangat lapang
karena di dalam rumah tak ada perabot berupa kursi atau meja. Semua orang duduk
bersila di atas lantai. Ada juga yang menganggap bahwa pintu Rumoh Aceh diibaratkan
hati orang Aceh. Memang sulit untuk memasukinya, tetapi begitu kita masuk akan
diterima dengan lapang dada dan hangat.
Pelaksanaan upacara baik ketika hendak mendirikan rumah, sedang mendirikan, dan
setelah mendirikan rumah bukan untuk memamerkan kekayaan tetapi merupakan
ungkapan saling menghormati sesama makhluk Tuhan, dan juga sebagai bentuk
ungkapan syukur atas rizqi yang telah diberikan oleh Tuhan.

nusantaraknowledge.blogspot.com

Keberadaan tangga untuk memasuki Rumoh Aceh bukan hanya berfungsi sebagai alat
untuk naik ke bangunan rumah, tetapi juga berfungsi sebagai titik batas yang hanya boleh
didatangi oleh tamu yang bukan anggota keluarga atau saudara dekat. Apabila di rumah
tidak ada anggota keluarga yang laki-laki, maka pantang dan tabu bagi tamu yang
bukan keluarga dekat.Dalam hal ini angka ganjil tersebut menandakan adanya pemisahan
antara orang yang satu dengan yang lain, sebagaimana seperti cerita diatas. Bahwa
penggunaan ruangan pada rumah adat Aceh juga berfungsi sebagai media pelindung, dan
pembatas antara anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya. Adapun jumlah tiang
dan anak tangga yang selalu berjumlah ganjil, adalah merupakan suatu kepercayaan yang
dianut oleh masyarakat Aceh, dimana angka-angka ganjil merupakan sebuah angka yang
membawa keberuntungan bagi penghuninya.

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

Arsitektur dalam Rumah adat Aceh

ANJUNGAN NANGGROE ACEH DARUSALAM

Dalam Rumoh (rumah Aceh), pengaruh agama Islam dan alam sekitar tampak menyatu
mewarnai bentuk dan ornamen ragam hiasnya. Kentalnya warna Islam membuat Aceh
dikenal dengan sebutan "Serambi Mekah". Bertiang selalu genap, beratap rumbia da
berdinding kayu atau papan menjadikan rumah panggung Aceh selaras dengan
lingkungannya.
Arsitektur rumah adat ini unik, karena jendela, rumah, yang juga berfungsi sebagai
ventilasi, adalah lubang-lubang sela ukiran yang terdapat di seluruh dinding. Pintu
terdapat pada lantai rumah panggung berlantai 16 ini. Bentuk rumah adat yang umum
terdapat di provinsi ini ditampilkan pula di kompleks anjungan. Di sini dapat dilihat
ruangan-ruangan yang ada di dalamnya: Seramo Keue (serambi depan), jureu (ruangan
tengah) dan Seramo Likot (serambi belakang). Di dalam ruangan-ruangan inilah
diperagakan benda-benda budaya masyarakat Aceh.
Ragam Hias
Dalam Rumoh Aceh, ada beberapa motif hiasan yang dipakai, yaitu: (1) motif keagamaan.
Hiasan Rumoh Aceh yang bercorak keagamaan merupakan ukiran-ukiran yang diambil
dari ayat-ayat al-Quran; (2) motif flora. Motif flora yang digunakan adalah stelirisasi
tumbuh-tumbuhan baik berbentuk daun, akar, batang, ataupun bunga-bungaan. Ukiran
berbentuk stilirisasi tumbuh-tumbuhan ini tidak diberi warna, jikapun ada, warna yang
digunakan adalah Merah dan Hitam. Ragam hias ini biasanya terdapat pada rinyeuen
(tangga), dinding, tulak angen, kindang, balok pada bagian kap, dan jendela rumah; (3)
motif fauna. Motif binatang yang biasanya digunakan adalah binatang-binatang yang
sering dilihat dan disukai; (4) motif alam. Motif alam yang digunakan oleh masyarakat
Aceh di antaranya adalah: langit dan awannya, langit dan bulan, dan bintang dan laut; dan
(5) motif lainnya, seperti rantee, lidah, dan lain sebagainya.
6

nusantaraknowledge.blogspot.com

3.4

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

Berbentuk daun

Motif alam

Warna disesuaikan dengan warna dasar dari pada bangunan atau kayu, tidak mempunyai
warna tersendiri atau cat. Selain itu juga ukiran berwarana canek awan atau awan beriring
ditempatkan pada tangga, dinding dan di ruang tengah. Motif ukiran ini melambangkan
kesuburan daerah Aceh. Sedangkan di atas pintu diberikan ukiran kaligrafi yang
mengandung kalimat-kalimat dari Al-Quran. Pada tulak angin serta dinding atas dibuat
ukiran karawang, yang selain untuk keindahan juga sebagai ventilasi rumah tersebut.
Ukiran bermotifkan tumbuhan merambat
Rumah Aceh secara garis besar terdiri dari 3 bagian yaitu :
Secara umum, terbagi atas tiga bagian, yaitu: bagian bawah, bagian tengah, dan bagian
atas.
a. Bagian bawah
Bagian bawah Rumoh Aceh atau yup moh merupakan ruang antara tanah dengan lantai
rumah. Bagian ini berfungsi untuk tempat bermain anak-anak, kandang ayam, kambing,
dan itik. Tempat ini juga sering digunakan kaum perempuan untuk berjualan dan
membuat kain songket Aceh.

nusantaraknowledge.blogspot.com

Motif flora

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

b. Bagian tengah

Ruang depan (seuramo reungeun). Ruangan ini disebut juga Seuramou-keu (serambi
depan). Disebut ruang atau serambi depan karena di sini terdapat bungeun atau tangga
untuk masuk ke rumah. Ruangan ini tidak berkamar-kamar dan pintu masuk biasanya
terdapat di ujung lantai di sebelah kanan. Tapi ada pula yang membuat pintu menghadap
ke halaman, dan tangganya di pinggir lantai. Dalam kehidupan sehari-hari ruangan ini
berfungsi untuk menerima tamu, tempat tidur-tiduran anak laki-laki, dan tempat anakanak belajar mengaji. Pada saat-saat tertentu misalnya pada waktu ada upacara
perkawinan atau upacara kenduri, maka ruangan ini dipergunakan untuk makan bersama.
Ruangan tengah. Ruangan ini merupakan inti dari Rumoh Aceh, oleh karenanya disebut
Rumoh Inong (rumah induk). Lantai pada bagian ini lebih tinggi dari ruangan lainnya,
dianggap suci, dan sifatnya sangat pribadi. Di ruangan ini terdapat dua buah bilik atau
kamar tidur yang terletak di kanan-kiri dan biasanya menghadap utara atau selatan
dengan pintu menghadap ke belakang. Di antara kedua bilik tersebut terdapat gang
(rambat) yang menghubungkan ruang depan dan ruang belakang.

Fungsi Rumoh Inong adalah untuk tidur kepala keluarga, dan Anjong untuk tempat tidur
anak gadis. Bila anak perempuannya kawin, maka dia akan menempati Rumah Inong
sedang orang tuanya pindah ke Anjong. Bila anak perempuannya yang kawin dua orang,
orang tua akan pindah ke serambi atau seuramo likot, selama belum dapat membuat
rumah baru atau menambah/memperlebar rumahnya. Di saat ada acara perkawinan,
mempelai dipersandingkan di Rumoh Inong, begitu pula bila ada kematian Rumoh Inong
dipergunakan sebagai tempat untuk memandikan mayat.
8

nusantaraknowledge.blogspot.com

Bagian tengah Rumoh Aceh merupakan tempat segala aktivitas masyarakat Aceh baik
yang bersifat privat ataupun bersifat public. Pada bagian ini, secara umum terdapat tiga
ruangan, yaitu: ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang. Tempat ini juga
digunakan untuk menyimpan jeungki atau penumbuk padi dan krongs atau tempat
menyimpan padi berbentuk bulat dengan diameter dan ketinggian sekitar dua meter.

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

Ruang belakang disebut seuramo likot. Lantai seuramo likot tingginya sama dengan
seuramo rengeun (serambi depan), dan ruangan ini pun tak berbilik. Fungsi ruangan ini
sebagian dipergunakan untuk dapur dan tempat makan,dan biasanya terletak di bagian
timur ruangan. Selain itu juga dipergunakan untuk tempat berbincang-bincang bagi para
wanita serta melakukan kegiatan sehari-hari seperti menenun dan menyulam.

c. Bagian atas
Bagian ini terletak di bagian atas serambi tengah. Adakalanya, pada bagian ini diberi
para (loteng) yang berfungsi untuk menyimpan barang-barang keluarga. Atap Rumoh
Aceh biasanya terbuat dari daun rumbia yang diikat dengan rotan yang telah dibelah
kecil-kecil.

nusantaraknowledge.blogspot.com

Namun, adakalanya dapur dipisah dan berada di bagian belakang serambi belakang.
Ruangan ini disebut Rumoh dapu (dapur). Lantai dapur sedikit lebih rendah dibanding
lantai serambi belakang.

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

3.5

Pengaruh status sosial terhadap bentuk rumah

Selain sebagai manifestasi dari keyakinan masyarakat dan adaptasi terhadap


lingkungannya, keberadaan Rumoh Aceh juga untuk menunjukan status sosial
penghuninya. Semakin banyak hiasan pada Rumoh Aceh, maka pastilah penghuninya
semakin kaya. Bagi keluarga yang tidak mempunyai kekayaan berlebih, maka cukup
dengan hiasan yang relatif sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali

3.6

Bahan dan Teknik dalam Membangun Rumah Aceh

Untuk membuat Rumoh Aceh, bahan-bahan yang diperlukan di antaranya adalah:

Kayu. Kayu merupakan bahan utama untuk membuat Rumoh Aceh. Kayu
digunakan untuk membuat tameh (tiang), toi, roek, bara, bara linteung, kudakuda, tuleueng rueng, indreng, dan lain sebagainya.
Papan, digunakan untuk membuat lantai dan dinding.
Trieng (bambu). Bambu digunakan untuk membuat gasen (reng), alas lantai,
beuleubah (tempat menyemat atap), dan lain sebagainya.
Enau (temor). Selain menggunakan bambu, adakalanya untuk membuat lantai dan
dinding Rumoh Aceh menggunakan enau.
Taloe meu-ikat (tali pengikat). Tali pengikat biasanya dibuat dari tali ijuk, rotan,
kulit pohon waru, dan terkadang menggunakan tali plastik.
Oen meuria (daun rumbia), digunakan untuk membuat atap.
Daun enau. Selain mengunakan oen meuria, terkadang untuk membuat atap
menggunakan daun enau.
Peuleupeuk meuria (pelepah rumbia). Bahan ini digunakan untuk membuat
dinding rumah, rak-rak, dan sanding.

10

nusantaraknowledge.blogspot.com

Pengaruh keyakinan masyarakat Aceh terhadap arsitektur bangunan rumahnya dapat


dilihat pada orientasi rumah yang selalu berbentuk memanjang dari timur ke barat, yaitu
bagian depan menghadap ke timur dan sisi dalam atau belakang yang sakral berada di
barat. Arah Barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis
imajiner dengan Kabah yang berada di Mekkah. Selain itu, pengaruh keyakinan dapat
juga dilihat pada penggunaan tiang-tiang penyangganya yang selalu berjumlah genap,
jumlah ruangannya yang selalu ganjil, dan anak tangganya yang berjumlah ganjil.

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

Teknik Tradisionil Dalam Bangunan


- Penempatan tiang-tiang yang diletakkan di atas pondasi, dan masing-masing tiang tidak
dihubungkan dengan balok penghubung. Hal ini merupakan ciri khas dari bangunan
tahan gempa.

- Penempatan skor pada kuda-kuda yang dihubungkan dengan balok melintang yang ada
di bawahnya tidak menggunakan baut atau paku. Pada bagian bawah dari skoor
tersebut sebagai pengikat hanya diberi dua buah pasak, sehingga kalau menerima
beban atau gerakan dari atas akan melentur tidak merusak struktur kuda-kuda atau
atap secara keseluruhan.
- Pertemuan balok melintang yang menopang pada ruang-ruang utama dengan balok
memanjang, yaitu dengan memberi lobang pada balok memanjang yang fungsinya
untuk memasukkan sebagian dari balok melintang agar sebagian dari balok melintang
tersebut dapat dimasukkan, sehinga bila terjadi gerakan tidak merusak struktur
bangunan.
3.7

RUMAH ADAT GAYO / PITU RUANG

Dataran Tinggi Gayo adalah daerah yang berada di kawasan pegunungan Aceh
Tengah,Bener meriah daan Gayolues dengan tiga kota utamanya yaitu
Takengon,Blangkejeren Dan Simpang Tiga Redelong.
Jalan yang menghubungkan ketiga kota ini melewati daerah dengan pemandangan yang
sangat indah.Mata pencarian masyarakat Gayo yang pada umumnya adalah bertani dan
berkebun antara lain padi, sayur-sayuran, kopi dan tembakau. Kegiatan perkebunan kopi
dan tembakau dilakukan dengan membuka wilayah hutan yang ada di wilayah ini.Pada
umumnya mayarakat Nanggroe aceh darussalam, orang Gayo (baca:Suku) juga dikenal
karena sifat mereka yang sangat menentang segala bentuk penjajahan dan daerah ini dulu
dikenal sebagai kawasan yang sangat menentang pemerintahan kolonial Belanda . Suku
Gayo Terkenal dengan sifat ramah tamah,beragama Islam dan mereka dikenal taat dalam
agamanya. Suku Gayo menggunakan bahasa yang disebut bahasa Gayo.Komoditi Utama
Masyarakat Gayo adalah Kopi,kopi Gayo yang telah terkenal sampai ke manca negara.di
Gayo banyak yang memelihara kerbau, sehingga ada yang mengatakan jika melihat
banyak kerbau di Nad maka orang itu pasti berada di Gayo.Gayo juga terkenal dengan
Kerajinan Kerawang GaYo. Seperti suku-suku Di Indonesia suku gayo juga memiliki
Seni Budaya Tersendiri

11

nusantaraknowledge.blogspot.com

- Tiang-tiang yang terdapat di bagian samping kanan dan kiri bangunan pada bagian
atasnya tidak menopang beban. Pada bagian atas dari tiang dibuat menonjol dan lebih
kecil ukurannya, kemudian balok-balok yang menghubungkan antar tiang diberi
lobang sebesar ukuran yang menonjol tersebut kemudian diletakkan di atas tiang.

RUMAH ADAT
Rumah adat Gayo atau yang disebut juga dengan Pitu Ruang adalah bangunan yang
berbentuk memanjang dengan banyak kamar.Dengan 27 tiang penyangga dari kayu
pilihan dan diukir dengan pahatan kerawang. Diameter tiang penyangganya pun seukuran
dekapan dewasa. Luas Umah Edet Pitu Ruang itu, panjangnya 9 meter dengan lebar 12
meter. Berbentuk rumah panggung dengan lima anak tangga, menghadap utara.
Sementara di dalamnya terdapat empat buah kamar. Selain empat kamar, ada dua lepo
atau ruang bebas di arah timur dan barat. Semua sambungan memakai ciri khas tersendiri
menggunakan pasak kayu. Hampir semua bagian sisi dipakai ukiran kerawang yang
dipahat, dengan berbagai motif, seperti puter tali dan sebagainya. Di tengah ukiran
kerawang terdapat ukiran berbentuk ayam dan ikan yang menurut Subhan melambangkan
kemuliaan dan kesejahteraan. Sementara ukiran naga merupakan lambang kekuatan,
kekuasaan dan kharisma. Sebelumnya, selain rumah adat, dahulunya ada rumah dapur di
bagian Selatan yang ukurannya sama dengan ruang utama yang berukuran 9 x 12.
Ruangan dimaksud telah hancur. Selain itu juga, ada Mersah, kolam dan roda, alat
penumbuk padi dengan kekuatan air yang semuanya juga sudah musnah.

Rumah Adat Gayo atau yang di sebut dengan Pitu Ruang


Takengon
Takengon merupakan ibukota Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh
12

nusantaraknowledge.blogspot.com

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

Blangkejeren
Kabupaten ini berada di gugusan pegunungan Bukit Barisan, sebagian besar wilayahnya
merupakan area Taman Nasional Gunung Leuser yang telah dicanangkan sebagai warisan
dunia. Kabupaten ini merupakan kabupaten yang paling terisolasi di NAD
Gayo Lues lebih dikenal dengan nama NEGERI SERIBU BUKIT. Nama ini ditabalkan
dan dipopulerkan oleh Mohsa El Ramadan , wartawan senior dan editor buku
Memadamkan Bara di Atas Ladia Galaska.Kabupaten Gayo lues dengan kotanya
Blangkejeran adalah kota terbesar di kawasan selatan dataran tinggi Gayo. Kawasan ini
merupakan salah satu pusat kawasan Gayo.
Gayo Lues merupakan pemasok utama cabe di pasar-pasar kota Medan.Seni budaya
Tari Bines yang biasa diadakan ketika acara-acara peresmian.Kesenian tradisional yang
telah mendunia adalah Tari saman yang dikenal dengan Tari Tangan Seribu yang pernah
tampil di spanyol pada Tahun 1994 dan di beberapa negara Eropa lainnya dan sering
tampil di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.
Pariwisata
Air Terjun Akang Siwah,Pacuan Kuda Tradisional,pemandian kolam air panas
gumpang,wisata alam Blang Serai,Dan lain-lain.
Simpang Tiga Redelong
Simpang tiga redelong adalah ibukota Kab:Bener Meriah.Sebagai kabupaten yang masih
sangat muda, mempunyai peluang besar untuk tumbuh dan berkembang tentunya dengan
segala potensi alam serta iklim yang sangat memungkinkan Bumi Gajah Putih ini
(sebutan lain untuk Kabupaten Bener Meriah) untuk bisa mencapai pematangan secara
ekonomi dengan segenap potensi yang dimiliki.
Kabupaten Bener Meriah dengan komoditi unggulan kopi, sebagai jenis tanaman yang
mendominasi ketinggian daratan Nad ini, sangat meberi peluang kepada masyarakat
Bener Meriah yang berjumlah 112.093 jiwa (data profil BPS Aceh Tengah tahun 2004);
untuk hidup sejahtera secara ekonomi. Daerah ini juga dikenal sebagai daerah Agraris
pemasok 80% kebutuhan sayur mayur dilingkungan Provinsi NAD.
13

nusantaraknowledge.blogspot.com

Darussalam.Kawasan ini merupakan dataran tinggi yang berhawa sejuk. Banyak terdapat
tempat wisata di kawasan ini, di antaranya adalah Danau Laut Tawar,Loyang Koro,Puteri
Pukes,Atu Belah (Batu Belah), Pantan Terong Dan Lain-lain.
Kesenian di daerah ini sangat menarik karena terdapat kesenian Didong Gayo yang
sangat dikagumi oleh masyarakat Takengon.
Salah satu acara yang sangat menarik perhatian masyarakat di dalam daerah maupun di
luar daerah ini adalah acara Pacuan Kuda yang biasanya diadakan pada pertengahan
bulan Agustus untuk menyambut dan merayakan hari Kemerdekaaan Republik Indonesia.

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

Bab 3
PENUTUP

Kesimpulan

Wujud dari arsitektur Rumoh Aceh merupakan pengejawantahan dari kearifan dalam menyikapi
alam dan keyakinan (religiusitas) masyarakat Aceh. Arsitektur rumah berbentuk panggung
dengan menggunakan kayu sebagai bahan dasarnya merupakan bentuk adaptasi masyarakat Aceh
terhadap kondisi lingkungannya. Bentuk Rumoh Aceh yang menghadap ke utara dan selatan
sehingga rumah membujur dari timur ke barat. Walaupun dalam perkembangannya dianggap
sebagai upaya masyarakat Aceh membuat garis imajiner antara rumah dan Kabah (motif
keagamaan), tetapi sebelum Islam masuk ke Aceh, arah rumah tradisional Aceh memang sudah
demikian. Kecenderungan ini nampaknya merupakan bentuk penyikapan masyarakat Aceh
terhadap arah angin yang bertiup di daerah Aceh, yaitu dari arah timur ke barat atau sebaliknya.
Kepercayaan individu atau masyarakat dan kondisi alam di mana individu atau masyarakat hidup
mempunyai pengaruh signifikan terhadap bentuk arsitektur bangunan rumah yang dibuat. Hal ini
dapat dilihat pada arsitektur Rumoh Aceh, Provinsi Daerah Istimewa Aceh, IndonesiaRumoh Aceh
bukan sekadar tempat hunian, tetapi merupakan ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi
terhadap alam. Oleh karena itu, melalui Rumoh Aceh kita dapat melihat budaya, pola hidup, dan
nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat Aceh.
4.2

Saran

Marilah kita, sebagai suatu warga negara serta masyarakat yang mendiami sebuah negara,
hendaknya untuk selalu mau menjaga dan melestarikan serta melindungi budaya sendiri. Karena,
dari siapa lagi kalo bukan kita. Lihatlah, betapa berharga dan bernilainya suatu budaya. Karena,
dari budaya lah, maka suatu daerah terbentuk, dan dari daerah, maka akan terbentuk suatu
kepulauan, dan dari suatu kepulauan, maka akan terbentuk sebuah negara. Cintailah dan
lestarikanlah budaya yang ada, biarkanlah harta warisan yang telah ditinggalkan oleh orang-orang
yang terdahulu dapat tetap abadi, agar dapat menjadi cerita dan kenang-kenangan bagi anak cucu
kita nantinya

14

nusantaraknowledge.blogspot.com

4.1

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

DAFTAR PUSTAKA
1. World beauty. Sejarah arsitektur, pengenalan,
pembahasan Edisi 1. 1996.EGC:Jakarta
2. Michael T. Budaya nusantara 2th edition
2000. 80:727-735
Hendro. Arsitektur Tradisional
Surabaya:Airlangga university Press. Pg. 163-176.

4. Daryo, Sutikno. Budaya setempat


Surabaya:Airlangga university Press.Pg. 263-285

nusantaraknowledge.blogspot.com

3.

ARSITEKTUR TRADISIONAL ACEH & GAYO

Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kepada TUHAN
YANG MAHA ESA karena atas rahmat-Nya lah maka pembuatan makalah ini dapat
berjalan dan terlaksana dengan baik. Ucapan terimakasih atas kesempatan yang telah
diberikan oleh Bpk Ir. Inyoman Surata, MT , Bpk Ir. Tjok. Sajang , selaku
dosen/pengampu. Dan ucapan terima kasih atas bimbingan yang telah di berikan didalam
proses pembuatan makalah ini hingga dapat terselesaikan dan terlaksana. Adapun tujuan
dari pembuatan makalah ini yaitu untuk menambah pandangan serta wawasan dan pola
pikir kita akan dunia Arsitektur dan perkembangannya. Adapun materi yang akan di
sampaikan adalah berjudul RUMAH TRADISIONAL ACEH DAN GAYO
Sebuah makalah yang baik adalah makalah yang di mana di dalamnya telah begitu
banyak mendapat pertimbangan dan perubahan, serta masukan-masukan baik dari luar,
maupun dari dalam. Adapun makalah yang ada di depan ini, adalah makalah yang masih
perlu mendapat perubahan-perubahan baik, dari segi materi maupun ide-ide. Maka dari
itu, harapan akan sumbangsih ide serta gagasan dari luar sangat di harapkan sekali, di
dalam terciptanya suatu makalah yang baik. Sehingga nantinya akan tercipta suatu
makalah yang tidak hanya baik dari luar, namun juga baik dari segi dalam. Juga yang bisa
menjadi salah satu sumber yang baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Akhir kata, ucapan terimaksih atas kesempatan dan partisipasi yang telah di
berikan di dalam pembuatan makalah ini.

Denpasar, 25 September 2008

Penulis

nusantaraknowledge.blogspot.com

KATA PENGANTAR