Anda di halaman 1dari 27

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu syarat tempat tinggal yang sehat adalah bebas dari
rodent.Rodent merupakan binatang kelompok vektor yang dapat merugikan
kehidupan manusia karena selain mengganggu secara langsung juga sebagai
perantara penularan penyakit.Hewan mengerat ini menimbulkan kerugian
ekonomi yang tidak sedikit, merusak bahan pangan, merusak kabel sehingga
dapat menyebabkan terjadinya hubungan pendek yang bisa mengakibatkan
terjadinya kebakaran serta dapat menimbulkan penyakit.
Tikus merupakan rodent yang sangat berpengaruh bagi kesehatan
manusia.Tikus dapat menjadi sumber penularan penyakit seperti pes,
salmonelosis,

dan

leptospirosis

yang

dapat

berakibat

fatal

bagi

manusia.Penyakit tersebut dapat ditularkan kepada manusia secara langsung


oleh ludah, urin dan fesesnya atau melalui gigitan. Selain menjadi penyebab
penyakit, keberadaan tikus akan menggambarkan lingkungan yang tidak
terawat, kotor, kumuh, lembab, kurang pencahayaan serta adanya indikasi
penatalaksanaan/manajemen kebersihan lingkungan rumah yang kurang baik.
Tikus adalah jenis binatang pengerat yang perkembangbiakannya sangat
cepat.Tikus juga termasuk jenis rodent yang mempunyai 4 gigi taring yang
sangat tajam yang bisa tumbuh sampai dengan 15 cm. Maka secara alami
tikus akan selalu mengerat atau mengasah giginya pada setiap barang yang
dijumpainya seperti: kayu, pipa plastic, kabel listrik, dan kabel telepon.
Dalam keadaan lapar tikus akan memakan apa saja yang dijumpainya.
Mengingat besarnya dampak negatif akibat keberadaan tikus di lingkungan
rumah, maka diperlukan usaha pengendalian terhadap hewan tersebut.Karena
tidak mungkin membasmi rodent seluruhnya, maka usaha yang dapat
dilakukan yaitu dengan mengurangi atau menurunkan populasinya hingga ke
tingkat tertentu agar tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupan
manusia.Dengan dilakukannya praktikum pengendalian rodent tikus ini, kami
berharap mahasiswa dapat mengetahui dan menerapkan dikehidupan seharihari agar dampak negatif dari rodent tikus dapat diminimalisir.
1

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah proposal praktikum kesehatan lingkungan ini
adalah bagaimana cara pengendalian rodent tikus dengan metode mekanik,
(lem dan trap) dan metode kimiawi (rodensida)?.
1.3 Tujuan
A. Tujuan umum
Mempraktekkan kegiatan pengendalian tikus
B. Tujuan khusus
1. Mempraktekkan pengendalian tikus dengan metode mekanik (Lem dan
Trap)
2. Mempraktekkan

pengendalian

tikus

dengan

metode

kimiawi

(Rodensida)
3. Mengamati cara kerja pengendalian tikusdengan metode tersebut.
4. Menganalisis hasil pengendalian tikus dengan metode tersebut.
1.4 Manfaat
Adapun manfaat praktikum pengendalian tikus ini adalah mahasiswa dapat
mengetahui cara pengendalian tikus dengan metode mekanik (lem dan trap)
dan metode kimiawi (rodensida) serta dapat menerapkanya dalam kehidupan
sehari-hari.

BAB 2
DASAR TEORI
2.1 Pengertian Rodent
Rodent adalah hewan pengerat yang memiliki gigi depan yang selalu
tumbuh dan biasanya pada manusia dapat menyebabkan penyakit serta sering
digunakan sebagai hewan percobaan. Contoh dari rodent

adalah tupai,

marmut, kelinci, kapibara dan yang paling umum adalah tikus. Rodent
merupakan bagian dari lingkungan hidup manusia dan diantaranya hidup
berdampingan dengan manusia. Binatang itu bukan saja berbahaya bagi
kesehatan, tetapi juga dapat mengakibatkan kerusakan besar pada bangunan,
bahan makanan, dan komoditas lain. Binatang tersebut selain dapat menyebar
penyakit, juga merugikan karena sering merusak tanaman semisal padi dan
jagung, merusak pakaian, dan barang-barang lain. Binatang pengerat dapat
diklasifikasikan menjadi dua yaitu rodent domestic dan rodent liar. Adapun
perbedaanya adalah sebagai berikut:
A. Binatang pengerat domestic
Rodent domestic merupakan binatang pengerat yang kehidupannya
berhubungan dengan kehidupan manusia dan sering menimbulkan
masalah besar bagi kesehatan masyarakat.Berikut beberapa contoh
spesies yang termasuk dalam kategori ini.
a. Tikus Loteng atau roof rat (Musmusculus)
Tikus ini memiliki pergarakan yang terbatas.Tikus ini pemanjat
yang baik dan terutama hidup diatap atap rumah.Dibeberapa
tempat tikus ini membuat lubang-lubang persembunyian.Tikus ini
juga dapat hidup didalam kapal.
b. Tikus Nowergia (Rattus norwegicus)
Tikus ini termasuk dalam golongan hewan semidomestik dan
sering ditemukan di pait, saluran air kotor, maupun dirumah.
c. Tikus rumah (Rattus rattus)
Tikus hitam (Rattus rattus) ditemukan di Eropa, penyebarannya
meluas sampai abad ke-11, dan berkurang sstelah kedatangan tikus
Norwegia.Rattus rattus mempunyai 3 subspesies, yaitu :
Rattus rattus alesandrinus( tikus alex atau tikus abu )
Rattus rattus frugirorus ( tikus buah atau tikus pohon)
Rattus rattus rattus( tikus hitam ).
Ketiga subspecies ini umumnya menyerupai tikus loteng. Namun,
karena warnanya

bervariasi dari hitam, cokllat, sampai abu-abu,


3

agak sulit untutersebut. Tikus loteng lebih suka makan padi-padian


dan makanan yang dibuat dari beras. Jika tidak ada padi-padian,
tikus itu akan mencari makanan lain.

Gambar 2.1 Identifikasi Jenis Rodent Domestik


B. Binatang pengerat liar
Binatang pengerat

liar

yang

ditemukan

adalah

Tatera

indica,Bandicota bangalensis varisus, Bandicota indica, Millarida


meltada, Millarida gleadowi, Mus booduga, tupai, kelinci hutan, marmot
liar dan kapibara.
2.2 Rodent Tikus
Tikus adalah jenis binatang pengerat yang perkembangbiakannya sangat
cepat.Mereka bisa hidup antara 3 - 4 tahun. Pada umumnya 1,5 - 5 bulan tikus
siap kawin. Seekor tikus betina bisa beranak antara 6 - 8 ekor dan yang hidup
bisa 5 -6 ekor.Masa kehamilan tikus berkisar 21 hari dan dalam 1 tahun bisa
sampai 4 kali melahirkan.Tikus mempunyai indra penglihatan yang kurang
baik dan yang pasti tikus buta warna, tetapi alat pendengar, alat perasa, dan
alat penciumannya sangat tajam. Untuk berjalan dan berlari tikus
menggunakan sistem radar dengan menggunakan kumis dan bulunya. Tikus
juga termasuk jenis rodent atau pengerat yang mempunyai 4 gigi taring yang
sangat tajam yang bisa tumbuh sampai dengan 15 cm dan bila dibiarkan akan
patah dan berakibat kematian secara tidak langsung. Maka secara alami tikus
akan selalu mengerat atau mengasah giginya pada setiap barang yang

dijumpainya

seperti

kayu,pipa,plastic,kabel

listrik,kabel

telpon

dan

sebagainya.
Tikus merupakan binatang yang sangat cerdik, banyak akal untuk
mendapatkan makanannya namun selalu curiga terhadap lingkungan maupun
bau manusia. Dalam keadaan lapar tikus akan memakan apa saja yang
dijumpainya. Sedangkan dalam keadaan yang lebih baik tikus adalah
pemakan zat tepung dan biji - bijian. Tikus kurang menyukai makanan yang
berlemak dan pada umumnya mereka makan dimalam hari, dengan cara
makan sedikit demi sedikit sampai kenyang, tikus juga senang menyimpan
makanan, namun tikus tidak menyukai makanan basi.
Bahaya yang dapat ditimbulkan adalah kerugian ekonomis secara langsung
dan merupakan vektor penyakit baik bagi manusia maupun binatang
peliharaan. Bentuk kerugian yang ditimbulkan oleh tikus antara lain :
1. Menyusut atau berkurangnya barang/komoditi.
2. Kontaminasi : urine,kotoran,bulu,dan bangkainya.
3. Merusak wadah,instalasi dan komponen bangunan.
4. Merubah bau dan rasa barang yang diserang.
5. Merupakan faktor penyebab penyakit tertentu (terutama pes dan
leptospirosis)
2.3 Macam Metode Pengendalian Tikus
Ada beberapacara pengendalian tikus yaitu secara biologi, mekanik dan
kimia.
a. Biologi
Pengendalian tikus secara biologi adalah dengan memelihara predator
alamiah pemangsa tikus.Predator pemangsa tikus yang paling umum
dan lazim adalah kucing.Kucing merupakan salah satu predator
pemangsa tikus yang cukup lihai dan jeli melihat keberadaan
tikus.Kelebihan metode ini adalah aman dan ramah lingkungan.
Namun kekuranganya, tikus yang tertangkap relative sedikit dan
biasanya menyisakan bangkai yang akan membusuk di tempat tak
terjangkau.
b. Mekanik

Metode mekanik merupakan metode penangkapan tikus yang cukup


sering dan umum digunakan dalam pengendalian tikus. Adapun jenis
dari metode mekanik ini adalah:
1) Trapping
Metode trapping adalah metode penangkapan tikus melaluhi
jebakan tikus berbentuk kurungan.Kurungan telah dirancang
khusus untuk menangkap tikus dengan umpan didalamnya.
Umumnya kurungan terbuat dari rajutan kawat aluminium atau
stainless steal dengan ukuran 30x20x20 cm.
2) Lem
Lem yang digunakan harus khusus tikus, kuat dan lengket.Lem
juga harus yang tidak berbau, agar tikus tidak menjadi
curiga.Lem bisa diletakan diatas papan kayu tipis dan diberi
umpan ditengahnya.
3) Penjepit tikus
Metode ini jarang digunakan karena harga relative mahal dan
rentan terjadinya kecelakaan. Ketika memasang penjepit, bisa
jadi tangan pemasang akan terkena jepitan dan terluka. Namun
metode ini akan membunuh tikus sekali jepit, karena gerigi
besi berduri yang tajam akan menjepit tubuh tikus.
4) Rat proofing
Metode lain dari mekanik adalah rat proofing. Untuk
mengendalikan tikus disuatu lokasi diupayakan agar lokasi
tersebut tertutup dari celah yang memungkinkan tikus masuk
dari luar.Tikus dapat leluasa masuk lewat bawah pintu yang
renggang, lewat lubang pembuangan air yang tidak tertutup
kawat kasa, lewat shaft yang tidak bersekat atau lewat jalur
kabel telepon dan listrik dari bangunan yang tersambung
disekitarnya.
5) Sanitasi
Cara lain adalah dengan menjaga sanitasi rumah , ruangan atau
tempat-tempat yang lain agar tetap bersih dan rapi. Tikus tidak
enyukai tempat yang terang, bersih dan tertata rapi. Dengan
hygine sanitasi yang baik, selain mencegah tikus bersarang dan
berkembang biak, kita juga merasakan keuntungan estetika
dan kesehatan.
6) Penangkapan manual
6

Cara ini merupakan yang paling manual, karena dengan cara


menangkap tikus secara langsung dengan mengejar atau
memukul tikus dengan benda-benda tertentu hingga tikus
tertangkap dan mati.
c. Kimia
Metode lain dalam pengendalian tikus adalah rodentisida (peracunan
tikus). Rodentisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk
mengendalikan tikus,rodentisida yang digunakan adalah rodentisida
antikoagulan yang mempunyai sifat :
Tidak berbau dan tidak berasa.
Slow acting yaitu membunuh tikus secara perlahan-lahan,tikus

baru m ati setelah memakan beberapa kali.


Tidak menyebabkan tikus jera umpan.
Mematikan tikus dengan merusak mekanisme pembekuan

darah
Jenis bahan aktif rodentisida adalah boadfakum, kumatetralil atau
bromadiolone.Sedangkan untuk area khusus yang sangat sensitive dan
memerlukan perlakuan khusus akan dilakukan pengumpanan dengan
lem tikus.Dengan menggunakan sistem peracunan dengan rodentisida
anti coagulant. Berdasarkan cara kerja bahan aktif rodentisida,
termasuk racun kronis. Rodentisida atau anti coagulant beraksi dalam
pembekuan darah merah, setelah tikus memakan racun ini menjadi
lemah dan mengalami pendarahan, tiga hari kemudian sifat rakus tikus
akan berkurang dan tikus akan mati. Untuk memastikan tikus mati
diperlukan waktu 4 - 7 hari, dengan dosis 0,005 % dan dengan
pemasangan umpan yang tidak menimbulkan kecurigaan dan
pencemaran lingkungan serta relatif aman terhadap hewan bukan
sasaran dan aman bagi manusia.
Jika tikus tertangkap dalam keadaan hidup, tikus langsung dibunuh dengan
cara merendam dengan air didalam bak atau wadah selama semalam. Setelah
tikus mati sebaiknya dimusnahkan dengan cara dikubur dalam tanah sedalam
minimal 0,5 m.
2.4 Peraturan Pemerintah tentang Pengendalian Tikus
a. Keputusan Menteri Kesehatan No. 829 Tahun 1999 tentang Persyaratan
Kesehatan Perumahan pada point 6 (vector penyakit) menyatakan bahwa
didalam rumah tidak diperbolehkan adanya tikus yang bersarang.
7

b. Keputusan

Menteri

Kesehatan

Nomor1405/MENKES/SK/XI/2002

tentang

Republik
Persyaratan

Indonesia
Kesehatan

Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri pada bab IX point A menyebutkan


bahwa setiap ruang perkantoran harus bebas dari tikus.
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia

c. Keputusan

Nomor

1429/MENKES/SK/XII/2006tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan


Lingkungan Sekolah pada Bab II point:

1) Point 2a
atap harus kuat, tidak bocor dan tidak menjadi tempat
perindukan tikus
2) Point 10b
Halaman sekolah harus selalu dalam keadaan bersih, tidak bocor
dan tidak menjadi tempat bersarang dan berkembangbiaknya
serangga, binatang pengerat dan binatang pengganggu lainya.
Pada Bab III point:
1) Point 5a
Makanan jajanan yang dijual harus dalam keadaan terbungkus dan
atau tertutup (terlindung dari lalat ata binatang lain dan debu)
2) Point 5c
Tempat penyimpanan makanan yang dijual pada warung
sekolahan/kantin harus selalu terpelihara dan selalu dalam keadaan
bersih, terlindungi dari debu, terhindar dari bahan kimia berbahaya,
serangga dan hewan lain
d. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1098/MENKES/SK/VII/2003
tentang Persyaratan Hygiene Sanitasi Rumah Makan dan Restoran pada
Bab I Ketentuan Umum pasal 1 menyebutkan bahwa fasilitas sanitasi
adalah sarana fisik bangunan dan perlengkapannya digunakan untuk
memelihara kualitas lingkungan atau mengendalikan faktor-faktor
lingkungan fisik yang dapat merugikan kesehatan manusia antara lain
sarana air bersih, jamban, peturasan, saluran limbah, tempat cuci tangan,
bak sampah, kamar mandi, lemari pakaian kerja (locker), peralatan
pencegahan terhadap lalat, tikus dan hewan lainnya serta peralatan
kebersihan
e. Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

519/MENKES/SK/VI/2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar


Sehat menyatakan bahwa:

1) tempat penjualan bebas vektor penular penyakit dan tempat


perindukannya,seperti : lalat, kecoa, tikus, nyamuk.
2) Pada los makanan siap saji dan bahan pangan harus bebas dari
lalat, kecoa dan tikus
3) Pada area pasar angka kepadatan tikus harus nol
4) Dilakukan penyemprotan lalat, nyamuk, kecoa dan tikus secara
berkala minimal 2 kali setahun
f. Keputusan
Menteri
Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

426/MENKES/SK/IV/2007 Tentang Pedoman Teknis Pengendalian Risiko


Kesehatan Lingkungan di Pelabuhan/Bandara/Pos Lintas Batas Dalam
Rangka Karantina Kesehatan.
2.4 Hubungan Antara Tikus dengan Kesehatan Masyarakat
Tikus domestic dan binatang pengerat lain, karena distribusinya yang luas
dan hubungannya dengan manusia, berpotensi menyebabkan penyakit yang
penting. Penderitaan yang ditimbulkan akibat tikus ini mulai dari yang ringan
berupa rasa tidak enak pada tempat bekas gigitan sampai keadaan yang serius,
seperti typhoid murine fever, dan yang fatal seperti pes bubonic.Demam
gigitan tikus, sesuai dengan namanya ditularkan ke manusia melalui gigitan
binatang yang terinfeksi oleh binatang pengerat.Walaupun memiliki angka
presentase kasus yang rendah, penyakit ini sering menjadi masalah kesehatan
dibeberapa daerah perkotaan tempat ratusan orang, digigit oleh binatang
pengerat setiap tahunnya.
Penyakit weil atau hemorrhagic jaundice mungkin ditularkan ke manusia
melalui makanan yang terkontaminasi atau akibat kontak dengan tikus atau
ekskreta tikus yang infeksius. Tikus dapat berperan dalam penularan berbagai
macam

penyakit

seperti

disentry

amuba,

cacing

trichinosis,

dan

sebagainya.Tikus rumah (mus musculus) dikenal sebagai reservoid pada


rickettsial poks dibaagian timur laut amerika dan diketahui dapat berperan
sebagai reservoir penyakit pes.
Sejumlah penyakit yang dihubungkan atau ditularkan melalui pengerat,
antara lain :
1. Penyakit akibat bakteri. Contoh :Sampar atau pes, tularemia (demam
2.

kelinci) dan salmonellosis.


Penyakit akibat virus. Contoh :Lassa fever, haemorragic

fever, dan

ensefalitis.
9

3.

Penyakit akibat parasite. Contoh: Hymonelepis diminuta, leishamaniasis,

4.

amebiasis, trichinosis, dan penyakit chagas.


Penyakit lain contoh: Demam gigitan tikus, leptospirosis, histoplamosis,
dan ringworm(kurap)
Berikut beberapa tipe kontak dengan tikus dan contoh penyakit yang

ditularkan akibat kontak tersebut.


a. Melalui gigitan tikus, misalnya rat bit fever
b. Melalui kontaminasi pada makanan atau air, misalnya salmonellosis dan
c.

leptospirosis.
Melalui pinjal tikus, misalnya pes.

10

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Rancang Bangun
A. Tujuan Praktikum:
1. Mahasiswa mengetahui dan terampil tentang pengendalian tikus.
2. Mengetahui dampak resiko dan kerugian yang ditimbulkan oleh
gangguan tikus.
3. Mengetahui tempat-tempat sarang tikus dan yang sering dilewati.
4. Mengetahui bagaimana metode pengedalian tikus, cara kerja alat
yang digunakan, dan keektifannya.
5. Menganalisa data hasil pengendalian tikus
B. Metode yang digunakan:
1. Secara Mekanik, yaitu dengan:
a. Pemasangan perangkap pada tempat-tempat yang diperkirakan
tempat bersarangnya tikus (trap).
b. Penggunaan lem tikus.
Kelemahan
dari
metode
ini

adalah

alat

relative

mahal.Kelebihannyaadalah sangat aman karena tidak mengandung


racun, cepat mendatangkan hasil dan manghindari tersebarnya
bangkai tikus yang sangat sulit ditemukan dan menimbulkan bau
yang sangat menyengat.
2. Secara Kimiawi, dengan peracunan (rodenticida). Kelemahannya
adalah tikus biasanya tidak langsung mati ditempat tapi ditempa
yang kurang terjangkau sehingga bisa menimbulkan bau tak sedap,
berbahaya bila termakan hewan peliharaan dan anak kecil.
Sedangkan kelebihannyamampu mematikan tikus dengan mudah dan
cepat.
3.2 Alat dan Bahan
A. Pemasangan trap/perangkap
1. Trap (perangkap tikus)
2. Umpan makanan
B. Penggunaan lem tikus
1. Lem tikus
2. Papan kayu
3. Umpan makanan
C. Peracunan tikus (rodentisida)
11

1. Racun tikus
2. Kertas untuk alas umpan
3. Umpan
3.3 Prosedur Kerja
A. Pemasangan perangkap
1. Pasang perangkap pada malam hari di tempat-tempat yang terdapat
tanda-tanda keberadaan tikus. Tanda-tada akan keberadaan tikus
bisa dilihat dengan adanya kotoran tikus yang tercecer, penghuni
rumah biasa melihat tikus didaerah tersebut atau adanya lubang
yang dicurigai sebagai sarang tikus.
2. Beri umpan makanan ke dalam perangkap, misalnya ikan asin, ikan
pindang, roti, dan lain-lain.
3. Hitung jumlah perangkap yang dipasang dan beri tanda dengan
nomor dan nama lokasi.
4. Perangkap yang belum berisi tikus dibiarkan sampai 2 hari msingmasing 1 malam untuk memberi kesempatan pada tikus yang ada
untuk memasuki perangkap dan diperiksa setiap pagi harinya untuk
mengumpulkan

hewan

yang

tertangkap.

Setiap

pergantian

pemasangan diperbarui umpan dan perangkapnya.


5. Catat dan hitung jumlah tikus yang berhasil tertangkap.
6. Tikus yang tertangkap kemudian dimatikan denga cara direndam di
selokan/got.
7. Perangkap bekas yang telah terisi tikus harus dicuci dengan air dan
sabun dan dikeringkan segera.
8. Evaluasi, apakah efektif atau tidak.
B. Penggunaan lem tikus
1. Buka lem perangkap tikus.
2. Oleskan pada papan kayu.
3. Letakkan umpan di tengahnya.
4. Pasang di tempat yang sering dilalui tikus. Karena bening dan
tanpa bau, tikus tidak akan curiga.Tanda-tada akan keberadaan
tikus bisa dilihat dengan adanya kotoran tikus yang tercecer,
penghuni rumah biasa melihat tikus didaerah tersebut atau adanya
lubang yang dicurigai sebagai sarang tikus.
5. Ambil tikus yang tertempel. Hitung dan catat jumlahnya.
6. Tikus mati kemudian dimatikan.
7. Evaluasi, apakah efektif atau tidak.
C. Peracunan tikus (rodentisida)
1. Tentukan lokasi peracunan.
12

2. Buat peta lokasi/titik yang akan dilakukan peracunan.


3. Pemberitahuan kepada orang-orang sekitar atau yang berada di
rumah tersebut untuk pengamanan.
4. Menentukan jenis dan banyaknya racun yang akan dipakai untuk
pelaksanaan peracunan.
5. Meletakkan makanan yang telah dicampur dengan racun dan
diletakkan diatas lantai lokasi.
6. Pasang makanan yang telah dicampur dengan racun tersebut di
lokasi/titik yang telah ditentukan dan diberi nomor atau
tanda.Tanda-tanda akan keberadaan tikus bisa dilihat dengan
adanya kotoran tikus yang tercecer, penghuni rumah biasa melihat
tikus didaerah tersebut atau adanya lubang yang dicurigai sebagai
sarang tikus.
7. Perhitungan dan pencatatan tikus yang mati akibat keracunan.
8. Tikus mati kemudian dimatikan.
9. Evaluasi setelah peracunan, apakah efektif atau tidak.

13

3.4 Lokasi Praktikum


Praktikum pengendalian tikus akan dilaksanakan di salah satu rumah
mahasiswi yang berada pada Jalan Jojoran I/63 E Surabaya. Dasar peletakan
trap, lem dan rodensida pada lokasi praktikum adalah dengam memilih 3 titik
yang diduga menjadi tempat jalan tikus dan area rawan tikus. Ketiga titik
tersebut adalah bagian belakang rumah sebanyak 2 (dua) titik dan bagian
depan (dekat teras) sebanyak 1 (satu) titik.
3.5 Waktu Pelaksanaan Praktikum
Praktikum pengendalian tikus akan dilaksanakan selama satu minggu
dimulai tanggal 22 April hingga 28 April 2013.
3.6 Biaya Praktikum
Tabel 3.1 Rincian Biaya Praktikum
Nama Alat dan Bahan
Trap (perangkap tikus)
Lem tikus
Racun tikus
Umpan makanan
Triplek/papan kayu

Banyaknya
3 buah
1 bungkus
2 bungkus
3 potong

Harga
Rp. 36.000, 00
Rp 12.500, 00
Rp 3.000, 00
Rp 6.000, 00
Rp 5000, 00

Total: Rp 62.500

14

BAB IV
HASIL PRAKTIKUM
4.1 Hasil Metode Trapping
A. Hari Senin, 22 April 2013
Waktu pemasangan
Waktu peletakan

: pukul 19.15 19.30 WIB


: 22 April 2013 pukul 19.30 s/d 23 April
18.30 WIB

No.
1.

Lokasi Trap
Didepan rumah

Dasar peletakan
Adanya kotoran tikus dan aroma

2.

pojok kanan
Dibelakang rumah

urine tikus
Menurut pemilik rumah, sering

dekat saluran cuci

dilalui tikus

piring
Dibelakang rumah

Terdapat aroma tikus (urine dan

didekat gentong

faces)

3.

B. Hari Selasa, 23 April 2013


Waktu pemasangan
Waktu peletakan

Hasil
Tikus tidak
tertangkap
Tertangkap 1 ekor

Tertangkap 1 ekor

: pukul 19.15-19.30 WIB


:Selasa, 23 April 2013 pukul 19.30 s/d
Rabu, 24 April pukul 18.30 WIB

No.
1.

Lokasi Trap
Didepan rumah

Dasar peletakan
Adanya kotoran tikus dan aroma

Hasil
Tikus tidak

2.

pojok kanan
Dibelakang rumah

urine tikus
Menurut pemilik rumah, sering

tertangkap
Tikus tidak

dekat saluran cuci

dilalui tikus

tertangkap

piring
Dibelakang rumah

Terdapat aroma tikus (urine dan

Tikus tidak

didekat gentong

faces)

tertangkap

3.

15

4.2 Hasil Metode Lem


A. Hari Rabu, 23 April 2013
Waktu pemasangan
Waktu peletakan
No.
1.

2.

3.

: pukul 19.00-19.30 WIB


:Rabu, 24 April 2013 pukul 19.30 s/d
Kamis, 25 April pukul 18.30 WIB

Lokasi Lem
Didepan rumah

Dasar peletakan
Adanya kotoran tikus dan

Hasil
Tikus tidak

pojok kanan

aroma urine tikus

tertangkap, tetapi yang

Dibelakang rumah

Menurut pemilik rumah,

tertangkap cicak
Tikus tidak tertangkap

dekat saluran cuci

sering dilalui tikus

piring
Dibelakang rumah

Terdapat aroma tikus (urine

didekat gentong

dan faces)

B. Hari Kamis, 25 April 2013


Waktu pemasangan
Waktu peletakan

Tikus tidak tertangkap

: pukul 19.00-19.30 WIB


:Kamis, 25 April 2013 pukul 19.30 s/d
Jumat, 26 April pukul 18.30 WIB

No.
1.

Lokasi Lem
Didepan rumah

Dasar peletakan
Adanya kotoran tikus dan

Hasil
Tikus tidak tertangkap

2.

pojok kanan
Dibelakang rumah

aroma urine tikus


Menurut pemilik rumah,

Tikus tidak tertangkap

dekat saluran cuci

sering dilalui tikus

piring
Dibelakang rumah

Terdapat aroma tikus (urine

didekat gentong

dan faces)

3.

Tikus tidak tertangkap

16

4.3 Hasil Metode Kimiawi


A. Hari Jumat, 26 April 2013
Waktu pemasangan
Waktu peletakan
No.

Lokasi Umpan

: pukul 19.00-19.30 WIB


:Jumat, 26 April 2013 pukul 19.30 s/d
Sabtu, 27 April pukul 18.30 WIB
Dasar peletakan

Hasil

1.

yang diberi racun


Didepan rumah

Adanya kotoran tikus dan

Umpan utuh

2.

pojok kanan
Dibelakang rumah

aroma urine tikus


Menurut pemilik rumah,

Umpan utuh

dekat saluran cuci

sering dilalui tikus

piring
Dibelakang rumah

Terdapat aroma tikus (urine

didekat gentong

dan faces)

3.

B. Hari Sabtu, 27 April 2013


Waktu pemasangan
Waktu peletakan
No.

Lokasi Umpan

Umpan utuh

: pukul 19.00-19.30 WIB


:Sabtu, 27 April 2013 pukul 19.30 s/d
Minggu, 28 April pukul 18.30 WIB
Dasar peletakan

Hasil

1.

yang diberi racun


Didepan rumah

Adanya kotoran tikus dan

Umpan utuh

2.

pojok kanan
Dibelakang rumah

aroma urine tikus


Menurut pemilik rumah,

Umpan termakan

dekat saluran cuci

sering dilalui tikus

(tinggal setengah dari

piring
Dibelakang rumah

Terdapat aroma tikus (urine

umpan awal)
Umpan utuh

didekat gentong

dan faces)

3.

17

BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Pembahasan Metode
Tikus merupakan salah satu rodent pengganggu, baik di rumah,
pertokoan, perkantoran, sarana penidikan hingga perusahaan.Banyak kerugian
yang ditimbulkan akibat ulah tikus, dari masalah kesehatan (penyakit pes dan
salmonellosis), estetika (kotor dan bau) hingga kerugian material (kerusakan
dan barang tertentu).
Pada praktikum pengendalian tikus ini dipilih dua metode, yaitu metode
mekanik (trapping dan lem) dan metode kimiawi (rodentsida/racun tikus).
Kedua metode tersebut merupakan metode yang umum digunakan dalam
pengendalian tikus, meskipun terdapat metode lain. Pengendalian tikus harus
memperhatikan banyak hal. Adapun hal yang harus diperhatikan adalah:
a. Lokasi perangkap
Harus terdapat dasar peletakan perangkap pada lokasi
tertentu.Adapun dasar peletakannya adalah dengan melihat pergerakan
tikus yang sering dilokasi tersebut, terdapat kotoran tikus, tercium aroma
khas urine dan kotoran tikus, terdapat kerusakan barang akibat tikus
(misalnya sofa yang berlubang) hingga terdapat lubang yang dicurigai
b.

menjadi sarang tikus.


Jenis umpan
Meskipun tikus merupakan hewan omnivora, namun umpan harus
diperhatikan.Tikus menyukai makanan dengan aroma yang tajam
sehingga memancing tikus menghampiri perangkap.Umpan yang sering
dijadikan untuk mengendalikan tikus adalah ikan asin, kepala ikan

c.

goreng, daging ikan, pentol dan keju.


Keefektifan dan kondisi alat
Harus diperhatikan keefektifan dan kondisi alat.Terkadang
perangkap tikus tidak bekerja dengan baik dikarenakan kunci penyangga
sudah rusak atau lepas. Pemilihan jenis lem juga harus diperhatikan,
karena banyak lem yang relative tidak lengket (biasanya harganya murah
dan berwarna hitam pekat) sehingga alat menjadi kurang efektif untuk

d.

mengendalikan tikus.
Kelemahan dan kelebihan alat
Metode trapping dan lem mempunyai kelebihan sangat aman
karena tidak mengandung racun, cepat mendatangkan hasil dan
18

manghindari tersebarnya bangkai tikus yang sangat sulit, sedangkan


kelemahanya

harga

relarive

mahal.Sedangkan

metode

kimiawi

kelemahannya adalah tikus biasanya tidak langsung mati ditempat tapi


ditempa yang kurang terjangkau sehingga bisa menimbulkan bau tak
sedap,

berbahaya

bila

termakan

hewan

peliharaan

dan

anak

kecil.Sedangkan kelebihannya mampu mematikan tikus dengan mudah


dan cepat.
Pada praktikum ini, digunakan waktu dua hari per alat.Semua perangkap
selama dua hari dan umpan yang digunakan dibedakan, namun perlakukan
lokasi disamakan.Pembedaan umpan dilakukan dengan tujuan menilai
keefektifan umpan atau melihat umpan mana yang disukai tikus.Sedangkan
penyamaan lokasi bertujuan untuk melihat alat atau metode mana yang efektif
untuk mengendalikan tikus.
5.2 Pembahasan Hasil Metode Trapping
Umpan yang diberikan dhari pertama dan kedua adalah berbeda.Umpan
hari pertama adalah kepala ikan sedangkan hari kedua adalah pentol
sapi.Hasil menunjukan bahwa, tikus tertangkap pada hari pertama yaitu pada
lokasi dibelakang rumah (dekat saluran cuci piring dan dekat gentong
air).Pada hari kedua, tidak satupun tikus yang tertangkap.
Pada hari pertama, kemungkinan tikus sangat tertarik dengan aroma khas
kepala ikan, sehingga tikus pun memakan umpan dan tertangkap didalam
perangkap. Hal ini menunjukan bahwa, umpan yang beraroma lebih tajam
lebih efektif dibandingkan umpan dengan aroma kurang tajam.

19

5.3 Pembahasan Hasil Metode Lem


Umpan yang diberikan dihari pertama dan kedua adalah berbeda.Umpan
hari pertama adalah daging ikan (pindang), sedangkan hari kedua adalah roti.
Hasil menunjukan bahwa, tidak seekor tikus pun yang tertangkap dengan
menggunakan metode ini tetapi hewan lain selain tikus seperti semut, lalat
dan cicak tertangkap.
5.4 Pembahasan Hasil Metode Kimiawi
Umpan yang diberikan dihari pertama dan kedua adalah berbeda. Umpan
hari pertama adalah nasi dengan tahu goreng, sedangkan hari kedua adalah
nasi dengan campuran ikan goren. Hasil hari pertama menunjukan bahwa
umpan yang dipasang di tiga titik lokasi tersebut utuh (tidak ada tanda-tanda
dimakan oleh tikus).Sedangkan pada hari kedua, umpan pada lokasi dekat
saluran cuci piring terdapat tanda-tanda dimakan oleh tikus (umpan tinggal
setengah).
Namun tidak ditemukan adanya bangkai tikus yang mati disekitar
rumah.Kemungkinan besar, tikus mati tetapi lokasi matinya tikus tersebut
cukup tersebunyi dan terpencil, sehingga diperlukan waktu untuk tikus
menjadi busuk. Busuknya bangkai tikus tersebut akan memberikan dampak
aroma yang tak sedap, sehingga kemungkinan bangkai tikus akan ditemukan.

20

BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Rodent merupakan binatang kelompok vektor yang dapat merugikan
kehidupan manusia karena selain mengganggu secara langsung juga sebagai
perantara penularan penyakit.Hewan mengerat ini menimbulkan kerugian
ekonomi yang tidak sedikit, merusak bahan pangan, merusak kabel sehingga
dapat menyebabkan terjadinya hubungan pendek yang bisa mengakibatkan
terjadinya kebakaran serta dapat menimbulkan penyakit.
Untuk mengetahui tempat-tempat sarang tikus dan yang sering dilewati,
dapat dengan mengamatidari pergerakan tikus yang sering dilokasi tersebut,
terdapat kotoran tikus, tercium aroma khas urine dan kotoran tikus, terdapat
kerusakan barang akibat tikus (misalnya sofa yang berlubang) hingga terdapat
lubang yang dicurigai menjadi sarang tikus.
Pada praktikum ini menggunakan metode pengendalian tikus secara
mekanik (trapping dan lem) dan secara kimiawi (rodentisida).Pada hasil
praktikum pengendalian tikus dapat dilihat bahwa pada metode trappingtikus
yang tertangkap sebanyak 2 ekor, sedangkan pada metode lem tidak ada tikus
yang tertangkap.Pada metode rodentisida, tikus yang memakan umpan yang
telah diberi racun tidak diketahui keberadaannya dan tidak diketahui apakat
tikus tersebut telah mati atau masih hidup.
Dari cara kerja dan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat dilihat dan
disimpulkan bahwa pengendalian tikus dengan menggunakan metode
trapping(mekanik) dianggap lebih efektif dari pada metode yang lain, karena
hasil praktikum menunjukkan bahwa pada metode trapping tikus yang
tertangkap paling banyak, yaitu sebanyak 2 ekor. Selain itu metode ini aman
digunakan oleh manusia, aman untuk hewan lain selain tikus dan ramah
lingkungan.
Dalam pengendalian tikus harus memperhatikan beberapa hal, antara lain
lokasi perangkap, jenis umpan, keefektifan dan kondisi alat, kelemahan dan
kelebihan alat.

21

6.2 Saran
Metode pengendalian tikus secara mekanik (trapping dan lem) dan
kimiawi (rodentisida) paling banyak digunakan karena mudah dilakukan di
dalam lingkup rumah tangga sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari.Namun, Metode trapping tikus dianggap lebih efektif. Selain itu
metode trapping aman digunakan oleh manusia, aman untuk hewan lain selain
tikus dan ramah lingkungan.

22

DOKUMENTASI
A. Metode Mekanik
1. Trapping

Gambar1. Perangkap Tikus

Gambar2&3. Pemasangan Perangkap

Gambar 4. Tikus 1

Gambar 5. Tikus 2

2. Lem

23

Gambar 6. Lem Tikus

Gambar 7. Pemotongan Papan

Gambar 8. Pengaplikasian Lem Tikus

Gambar9&10. Pemasangan perangkap lem pada tempat yang telah


ditentukan

B. Metode Kimiawi (Rodentisida)

24

Gambar 11. Racun Tikus

Gambar 12. Umpan yang telah diberi racun tikus

25

LAMPIRAN
Tabel Pengamatan Pengendalian Rodent Metode Mekanik (Trap)
No.
1.
2.
3.

Lokasi Trap

Dasar peletakan

Hasil

Tabel Pengamatan Pengendalian Rodent Metode Mekanik (Lem)


No.
1.
2.
3.

Lokasi Lem

Dasar peletakan

Hasil

Tabel Pengamatan Pengendalian Rodent Metode Kimiawi (Rodentisida)


No.

Lokasi Umpan

Dasar peletakan

Hasil

yang diberi racun


1.
2.
3.

26

DAFTAR PUSTAKA
Pengendalian
Rodent
Di
Perusahaan.2012.http://kesmascomunity.blogspot.com/2012/03/pengendalianrodent-di-perusahaan.html. <diakses tanggal 6 maret 2013 pukul 22.54 WIB>
http://www.depkes.go.id/downloads/Pengendalian%Tikus.pdf<diakses tanggal 8
maret 2013 pukul 14.20 WIB>
Arif, Ahmad.2003.Pengendalian Tikus.
http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=3853<diakses tanggal 6 maret 2013
pukul 22.23 WIB>
Petunjuk Pemberantasan Pes di Indonesia Departemen Kesehatan R.I Direktorat
Jenderal PPM&PL tahun 2000
http://www.penyakitmenular.info/userfiles/PES.pdf<diakses tanggal 5 maret 2013
pukul 19.12 WIB>
RODENT CONTROL - Metode pengendalian - pembasmian tikus - Integrated
Pest Management.http://pest-marine-mining.indonetwork.co.id/3526062<diakses
tanggal 15 maret 2013 pukul 22.12 WIB>
Anonim,
2012.Pengendalian
Rodent
Di
Perusahaan.http://kesmascomunity.blogspot.com/2012/03/pengendalian-rodent-diperusahaan.html<diakses tanggal 15 maret 2013 pukul 22.19 WIB>
Keputusan Menteri Kesehatan No. 829 Tahun 1999 tentang Persyaratan
Kesehatan Perumahan
Keputusan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja
Perkantoran dan Industri.
Keputusan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor1429/MENKES/SK/XII/2006tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan
Lingkungan Sekolah.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1098/MENKES/SK/VII/2003 tentang


Persyaratan Hygiene Sanitasi Rumah Makan dan Restoran.
Keputusan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
Nomor
19/MENKES/SK/VI/2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat.
Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

426/MENKES/SK/IV/2007 Tentang Pedoman Teknis Pengendalian Risiko


Kesehatan Lingkungan di Pelabuhan/Bandara/Pos Lintas Batas Dalam Rangka
Karantina Kesehatan
27

Anda mungkin juga menyukai