Anda di halaman 1dari 9

Teori Akuntansi

Elemen Laporan Keuangan dan Konsep Dasar Pengakuan dan Pengukurannya

Kelompok 8
A.A. Gede Raka Plasa N.

(0915351128)

Linda Ayu Utari

(1115351098)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Program Ekstensi
Universitas Udayana
2015

ELEMEN LAPORAN KEUANGAN

Transaksi dicatat ke akun-akun sesuai dengan definisi elemennya. Elemen laporan


keuangan dipisah menjadi 2. Elemen yang menunjukkan posisi keuangan (ada di laporan
neraca), dan elemen yang menunjukkan kinerja (ada di laporan laba rugi).
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
1. Aset
Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai entitas sebagai hasil dari transaksi di
masa lalu, dan memiliki manfaat ekonomik di masa depan.
Dari definisi ini dapat ditarik beberapa poin penting elemen aset :

Sumber daya ekonomi : Artinya, segala sumber daya ekonomi yang dapat
dimanfaatkan oleh entitas merupakan aset. Sumber daya ini tidak hanya yang berwujud
namun juga takberwujud. Contohnya:

Berwujud : Gedung, Kas, Persediaan, Bahan Habis Pakai, Investasi


(jika entitas membeli surat2 berharga/aset keuangan).

Tak berwujud : Lisensi yang dibeli, Paten yang dibeli, Hak Cipta yang
dibeli, franchise yang dibeli-dapat digunakan untuk menghasilkan
pendapatan.

Dikuasai entitas : Artinya, suatu aset hanya cukup dikuasai secara


substansi ekonomi, tidak harus dimiliki secara hukum (berdasar
prinsipsubstance over form substansi ekonomi mengungguli bentuk
hukum). Contoh: Perusahaan X memiliki mobil secara hukum, tetapi
mobil ini disewakan ke PT Y selama umur ekonomiknya (mobil depresiasi
5 tahun, disewa 4 tahun). Jadi, yang mencatat aset (aset sewa) adalah PT.Y.

Sebagai hasil dari transaksi di masa lalu : Aset dikuasai entitas karena berasal
dari transaksi di masa lalu. Sebagai contoh : didapat dari pembelian (gedung, mobil,
persediaan, lisensi, paten), dari penjualan (kas, piutang), didapat dari transaksi
pemberian (hibah).

Memiliki manfaat ekonomik di masa depan : Manfaat ekonomik ini artinya


dapat menghasilkan aliran masuk kas di masa depan (baik langsung maupun tak
langsung). Contoh : piutang (nanti kalau sudah dibayar akan menghasilkan kas),
gedung (jika digunakan untuk kegiatan administratif atau operasi akan menghasilkan

aliran masuk kas). Kas (jika dimanfaatkan untuk membeli persediaan atau hal-hal lain,
dapat menghasilkan aliran masuk kas secara tidak langsung).
Pada umumnya di Indonesia, aset disajikan di Laporan Posisi Keuangan berdasar
urutan kelancarannya. Walaupun hal ini bukan merupakan aturan yang wajib. Kelancaran ini
dilihat dari seberapa mudah aset dikonversi menjadi kas/setara kas. Aset lancar adalah aset
yang dikuasai entitas sampai satu periode pelaporan (1 tahun kurang), contoh: kas
(perputaran uang sangat cepat, bisa jadi harian), piutang jangka pendek (piutang yang jangka
pelunasannya sampai 1 tahun), persediaan (perputaran persediaan barang dagangan juga
cepat). Aset tidak lancar adalah aset yang dikuasai entitas sampai lebih dari satu periode
pelaporan (lebih dari satu tahun). Aset tidak lancar dibedakan menjadi berwujud dan
takberwujud. Berwujud contohnya gedung (dikuasai lebih dari satu tahun), mobil. Tak
berwujud contohnya lisensi, hak cipta, dan hak paten.
2. Liabilitas
Liabilitas adalah kewajiban masa kini entitas yang muncul dari kejadian di masa lalu
yang akan mengakibatkan aliran keluar manfaat ekonomik di masa depan. Dari definisi ini
dapat ditarik beberapa poin penting elemen liabilitas yaitu :

Kewajiban masa kini: Artinya, liabilitas itu merupakan kewajiban yang ada saat ini,
untuk dilunasi di masa mendatang (pada saatnya, atau pada saat jatuh temponya).
Contoh : utang usaha (sekarang kita punya kewajiban untuk melunasinya di masa
depan).

Muncul dari kejadian di masa lalu : artinya, kewajiban ini muncul karena kejadian
transaksi di masa lalu. Misalnya, membeli mobil kredit (berarti sekarang kita punya
utang untuk melunasi pembelian mobil).

Mengakibatkan aliran keluar manfaat ekonomik di masa depan : artinya, kewajiban


ini harus dilunasi di masa mendatang, menggunakan sumber daya ekonomik yang
dimiliki. Misalnya, pelunasan kredit mobil menggunakan kas, pelunasan utang bank
dengan penyerahan gedung (misalnya tidak punya uang).

Bisa jadi, pada saat pelunasan, entitas tidak memiliki cukup dana atau aset lain
yang bisa digunakan untuk melunasi. Dalam hal ini, entitas bisa melakukan penukaran
kewajiban dengan ekuitas. Caranya dengan mengkonversi utang menjadi saham.

(tadinya utang ke kreditor, diubah jadi utang ke pemilik). Contoh ini terjadi pada
perusahaan aviasi Mandala tahun 2011.
3. Ekuitas
Ekuitas adalah hak residual pemilik atas aset entitas (atau disebut aset bersih).
Penjelasannya melalui persamaan akuntansi: Aset = Liabilitas + Ekuitas. Liabilitas dipindah
ke ruas kiri, maka Aset Liabilitas = Ekuitas.
Aset yang sudah dikurangi dengan kewajiban-kewajiban ke kreditor menghasilkan
aset bersih. Ibaratnya, kewajiban ke kreditor dilunasi dengan aset, sisanya adalah aset
bersihnya. Aset bersih ini = ekuitas.
Dalam persamaan akuntansi, terlihat bahwa ekuitas yang merupakan hak pemilik atas
aset ini urutannya setelah liabilitas (aset = liabilitas + ekuitas). Artinya, hak pemilik atas aset
ini harus setelah dikurangi pengembalian ke kreditor. Sehingga ekuitas adalah hak residual
pemilik atas aset.
Dari sisi perusahaan, terdapat perbedaan antara kewajiban ke kreditor (liabilitas), dan
kewajiban ke pemilik (ekuitas). Kewajiban ke kreditor, pokok pinjamannya akan dilunasi.
Sehingga, pada saat pelunasan utang akan habis. Sedangkan kewajiban ke pemilik, pokok
pinjamannya (modal) tidak akan hilang, karena setoran pinjaman dari pemilik ini
menunjukkan porsi kepemilikan. Pemilik meminjami perusahaan yang baru berdiri dengan
uangnya. Pinajaman ini adalah modal yang diserahkan pemilik. Nanti, perusahaan akan
mengembalikan ke pemilik dalam bentuk pengembalian ke pemilik (untuk PT dalam bentuk
dividen, untuk perusahaan perorangan dalam bentuk prive).
Ketika perusahaan mengembalikan ke pemilik, tentu saja porsi setoran pemilik dalam
ekuitas jangan sampai berkurang. Misalnya, setor sejumlah Rp10.000, maka jika pemilik
ingin mendapat hasil Rp1000, jangan sampai Rp1.000 ini mengambil dari Rp10.000 yang
disetorkan. Rp1.000 ini harusnya diambilkan dari saldo laba (laba/rugi dari laporan laba rugi
yang sudah masuk di ekuitas). Jadi, misalnya setor Rp10.000, perusahaan selama tahun
berjalan menghasilkan saldo laba Rp5.000, maka jika pemilik ingin mendapat pengembalian
dari pinjamannya, pengembalian ini diambilkan dari saldo laba Rp5.000. Konsep ini disebut
sebagai konsep pemeliharaan modal (capital maintenance). Artinya, perusahaan harus dapat
memelihara modal yang disetorkan oleh pemilik. Pemeliharaan modal ini dalam bentuk fisik
(physical capital maintenance) atau keuangan (financial capital maintenance). Perbedaannya
dari cara melihatnya.

Pemeliharaan fisik adalah, jika di awal pemilik menyetorkan ke perusahaan


kemampuan untuk menghasilkan barang sejumlah 10.000, maka jika pemilik mau menikmati
hasil setorannya, maka pengambilan ini jangan sampai mengurangi kemampuan perusahaan
untuk menghasilkan barang 10.000.
Pemeliharaan keuangan adalah, jika di awal pemilik menyetorkan ke perusahaan
Rp10.000, maka jika pemilik mau menikmati hasil setorannya, maka pengambilan ini jangan
sampai mengurangi setoran keuangan Rp10.000.
Penghitungan ekuitas dalam laporan perubahan ekuitas adalah sebagai berikut :
Ekuitas Awal (dari periode sebelumnya) + Setoran Modal Tambahan (jika pemilik menambah
setoran) Pengembalian ke Pemilik (dividen atau prive) + Saldo Laba (dari laba rugi).
Dari perhitungan dalam perubahan ekuitas, dapat disimpulkan bahwa ekuitas tidak
sama dengan modal. Walaupun dalam persamaan dasar, ekuitas = modal (capital). Namun
setelah entitas berkinerja, ekuitas = modal + saldo laba.
Kinerja (Laporan Laba Rugi)
Kinerja adalah kegiatan berupaya untuk mendapatkan hasil. Upaya ini disebut Beban
(Expense), hasilnya adalah Pendapatan (Revenue). Selisih antara Beban dan Pendapatan
adalah laba/rugi.
1. Pendapatan
Pendapatan adalah sumber pemerolehan dana yang berasal dari kegiatan usaha baik
rutin (pendapatan) maupun nonrutin (untung).
Pendapatan dikelompokkan menjadi :
Pendapatan rutin

Pendapatan rutin dari kegiatan operasi (penjualan barang dagangan, pendapatan jasa)

Pendapatan rutin dari kegiatan nonoperasi (pendapatan bunga bank)

Pendapatan nonrutin

Untung (misalnya untung penjualan aset tetap karena tidak setiap periode kita bisa
menjual aset tetap, dll).

2. Biaya (Expense berdasarkan PSAK 1 : Beban)


Biaya adalah penggunaan sumber daya yang berasal dari kegiatan usaha baik rutin
(biaya) maupun nonrutin (rugi).
Biaya dikelompokkan menjadi :
Biaya rutin

Biaya rutin dari kegiatan operasi (biaya usaha, kos barang terjual/COGS)

Biaya rutin dari kegiatan nonoperasi (biaya administrasi, biaya asuransi, biaya gaji)

Biaya nonrutin

Rugi (misalnya rugi penjualan aset tetap karena tidak setiap periode kita bisa
menjual aset tetap, dll).

KONSEP DASAR PENGAKUAN DAN PENGUKURAN ELEMEN LAPORAN


KEUANGAN

Laporan keuangan adalah alat utama penyimpanan informasi keuangan suatu entitas
kepada pihak luar. Informasi dalam laporan keuangan dapat dilengkapi catatan kaki,
informasi tambahan, alat lain pelaporan keuangan. Pengakuan adalah proses yang secara
formal menyertakan suatu item ke dalam laporan keuangan suatu entitas sebagai aktiva,
utang, pendapatan, biaya, dan yang lain.
Terdapat beberapa kriteria pengakuan :
1. Definisi : pemenuhan definisi sebagai suatu elelmen laporan keuangan.
2. Dapat diukur : mempunyai suatu atribut relevan yang dapat diukur dengan reliabilitas
yang memadai.
3. Relevan : mampu membuat suatu perbedaan dalam pembuatan keputusan pemakai.
4. Reliabilitas : informasi tersebut menyajikan yang seharusnya, dapat dibuktikan, dan
netral.
Keempat kriteria diatas harus dipertimbangkan dalam konteks karakteristik kualitatif
informasi yaitu memenuhi batas atas (benefit > kos) dan batas bawah (materialitas). Karena
pengakuan sangat penting dalam penentuan laba, pos-pos yang biasanya dikenai krteria
pengakuan adalah pos-pos pembentuk statement laba-rugi dan laba komprehensif terutama
pendapatan dan untung serta biaya dan rugi.
Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan memasukkan
setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan laba rugi. Atribut pengukuran suatu
element adalah dasar pengukuran (jumlah rupiah) yang harus dilekatkan pada suatu
elemen/pos untuk mempresentasikan secara tepat atribut yang ingin diungkapkan dari
element tersebut dalam pelaporan keuangan. Misalnya, tujuan pelaporan pos mesin adlah
untuk menunjukkan sisa potensi jasa mesin (bukan harga jual mesin). Sisa potensi jasa
merupakan atribut mesin yang ingin disampaikan sehingga atribut pengukuran yang relevan
adalah kos historis. Adapun atribut pengukuran yang sekarang diterapkan dan masih dapat
dilanjutkan penggunaannya yaitu (SFAC No.5,prg 67).

Ada 5 dasar pengukuran yang digunakan antara lain :

1. Kos historis atau perolehan kas historis (Historical cost) :pencatatan yang dillakukan
pada saat terjadinya transaksi, biasanya diterapka untuk aktiva tetap, peralatan dan
sebagian besar persedian. Aktiva dicatat sebesar nilai wajar yang dibayarkan untuk
memperoleh aktiva tersebut pada saat perolehan, kewajiban dicatat sebesar jumlah
yang diterima.
2. Kos sekarang (Current cost) : biaya yang sekarang terjadi, missal persedian barang.
3. Nilai pasar sekarang (Current market value) : diterapkan pada investasi dan utang
obligasi. Apabila harga pasar lebih besar daripada nilai nominal, maka yang
digunakan sebagai dasar perhitungan adalah harga pasar.
4. Nilai terealisasi (net realizable value) : nilai kas yang diharapkan bisa terealissasi,
missal piutang dagang dan persediaan.
5. Nilai sekarang atau diskonan aliran kas masa datang (present or discounted value of
future cash flows) : aliran kas dimana yang akan datang, missal piutang angsuran dan
utang jangka panjang.
Pengukuran diatas bersifat umum atau luas tidak dibatasi untuk pengukuran pada saat
suatu obyek terjadi (diperoleh) atau pada saat suatu obyek dilaporkan. Pengukuran suatu
elemen untuk dilaporkan pada tanggal statement keuangan sering disebut penilaian
sedangkan istilah pengukuran sering dibatasi penggunaannya untuk menentukan jumlah
rupiah pada saat terjadinya suatu obyek. Pengukuran atau penilaian merupakan bagian
penting dalam rerangka konseptual karena keterukuran merupakan salah satu kriteria untuk
menyajikan suatu pos melalui statemen keuangan.
Pada saat pengukuran terdapat dua jenis, yaitu :
1. Pengukuran saat pengakuan mula-mula adalah pengukuran pada saat suatu elemen
atau pos timbul dan dicatat pertama kali akibat transaksi, kejadian, atau keadaan.
Contoh penentuan dan pencatatan jumlah rupiah yang melekat pada suatu mesin pada
saat diperoleh.
2. Pengukuran baru-mulai adalah pengukuran dalam periode-periode setelah pengakuan
mula-mula untuk menentukan jumlah rupiah bawaan baru yang tidak Berkaitan
dengan jumlah rupiah sebelumnya. Penentuan basis dan jumlah rupiah yang harus
dilekatkan pada element statemen keuangan pada tanggal neraca dapat melibatkan
pengukuran baru-mulai.
DAFTAR PUSTAKA

https://rogonyowosukmo.wordpress.com/2012/03/14/elemen-laporan-keuangan/
http://dunia-remaja-sehat.blogspot.com/2010/12/pengakuan-dan-pengukuran-laporan.html