Anda di halaman 1dari 11

KAJIAN PUSTAKA HERBA PEGAGAN ( Centella asiatica (L.

) Urban)
RIZKA FAUZIA FAJRI (21121240), Dr. ASARI NAWAWI, M.Si.,Apt.

ABSTRAK
Pada saat ini, kecenderungan untuk kembali kepada obat bahan alam semakin meningkat. Keberadaan
pegagan yang melimpah serta potensinya sebagai obat sangat menarik perhatian untuk dapat lebih
dikembangkan lagi. Oleh karena itu, perlu lebih mengetahui segala sesuatu tentang herba pegagan
untuk memberikan informasi tentang pemanfaatan herba pegagan sebagai sarana pengobatan
alternatif. Berdasarkan hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa pegagan mengandung
beberapa senyawa seperti triterpenoid (asiatikoside, madekasoside, asam asiatik, asam madekassik),
glikosida, flavonoid, alkaloid, steroid, minyak atsiri dan minyak lemak. Kandungan kimia yang
terkandung terbukti memiliki khasiat sebagai antioksidan, anti hiperurisemia, anti diabetes,
antiinflamasi, analgetik, antistress, neuroprotektif, antihipertensi, antiulcer, antidepresan,
antituberculosa, penyembuhan luka, diuretik, antimikroba dan antifungi.
Kata kunci : herba pegagan, Centella asiatica, triterpenoid, asiatikosid, asam asiatik.

ABSTRACT
At this time, the tendency to return to natural medicines is increases. The
existence of an abundant pennywort as well as its potential as a drug strongly
attracts attention to be further developed again. Because of it , more needs to
know everything about herbaceous pennywort to give information about the
utilization of herbaceous pennywort as an alternative treatment facilities. Based
on the result of some research shows that pennywort containing several
compounds as triterpenoid ( asiaticoside, madecasoside, asiatic acid, acid
madecassic ), a glycoside, flavonoids, alkaloids, steroids, volatile oil and a fatty
oil. The content of the chemical shown to have efficacy as an antioxidant, anti
hyperuricemia,
anti-diabetic,
anti-inflammatory,
analgesic,
antistress,
neuroprotective, antihypertensive, antiulcer, antidepressants, antituberculosa,
wound healing, diuretic, antimicrobial and antifungal.
Keywords : herba pegagan Centella asiatica, triterpenoids, asiaticoside, Asiatic acid.

PENDAHULUAN
Salah satu tanaman yang dikenal luas sebagai
obat adalah pegagan (Centella asiatica L.). dari
berbagai penelitian yang dilakukan oleh ahli
farmakologi, ternyata pegagan memiliki efek
farmakologi untuk menjaga kesehatan tubuh.
Pegagan telah dikenal sebagai obat untuk
revitalisasi tubuh dan pembuluh darah serta
mampu memperkuat struktur jaringan tubuh.
(Winarto WP, 2003)
Herba pegagan (Centella asiatica (L.) Urban)
merupakan tanaman obat yang hampir selalu
digunakan pada industri jamu tradisional di
Indonesia.
Komposisi
penggunaannya
beragam untuk setiap merek jamu, berkisar
antara 5% - 25%.

Berdasarkan penelitian, didapatkan bahwa


pegagan memiliki aktivitas farmakologi yang
bisa digunakan dalam pengobatan asma, maag,
lepsory, penyakit pembuluh darah, perbaikan
memori, antidepresan, antibakteri, antijamur,
antioksidan, dan psoriasis. (Abhishek Gupta et
al., 2014). Kegunaan pegagan antara lain
sebagai
peluruh
air
seni
(diuretik),
antihipertensi, obat lepra, keloid, luka bakar,
dan bisul.
Pada saat ini, kecenderungan masyarakat
untuk kembali kepada obat bahan alam
semakin meningkat. Keberadaan pegagan yang
melimpah serta potensinya sebagai obat bahan
alam yang sangat banyak, sangat menarik
1

perhatian untuk dapat lebih dikembangkan


lagi.
Oleh karena itu, karya tulis ilmiah ini
bertujuan untuk lebih mengetahui segala
sesuatu tentang herba pegagan sehingga

pengembangannya di masa depan menjadi


lebih optimal serta diharapkan Karya Tulis
Ilmiah ini dapat memberikan informasi tentang
pemanfaatan herba pegagan sebagai sarana
pengobatan
alternatif
dalam
menjaga
kesehatan.

TINJAUAN PUSTAKA
A. ASPEK BIOLOGI

Sinonim : Hydrocotyle asiatica L.


Nama umum : PEGAGAN
Nama Daerah : sumatera : pegaga (Aceh),
daun kaki kuda, daun penggaga, penggaga,
rumput kaki kuda, pegagan, kaki kuda
(Melayu), pegago, pugago (Minangkabau).
Jawa: cowet gompeng, antanan, antanan
bener, antanan gede (Sunda), gagan-gagan,
ganggagan, kerok batok, panegowang,
panigowan, rendeng, calingan rambat, pacul
gowang (Jawa), gan gagan, kos-tekosan
(Madura). Nusa Tenggara: Bebele (Sasak),
paiduh, panggaga (Bali), kelai lere (Sawo).
Maluku: Sarowati (Halmahera), kolotidi
manora (Ternate). Sulawesi: pagaga, wisuwisu (Makassar), cipubalawo (Bugis), hisuhisu (Salayar). Irian: Dogauke, gogauke,
sandanan.
Nama asing : Ji xue cao (China), gotu kola
(Hindi), indian pennywort (Inggris), indische
waternavel, paardevoet ( Belanda)

Division : Tracheophyta
Subdivision : Spermatophytina
Class : Magnoliposida
Order : Apiales
Family : Apiaceae (Umbelliferae)
Genus : Centella
Species : Centella asiatica

KLASIFIKASI

(Shaival, R. P., Shavial, R.K. 2012)

Sumber : Kristanti,2012

Kingdom : Plantae

DESKRIPSI TANAMAN

Bagian tanaman
Perawakan
Batang
Daun

Bunga

Mahkota

Deskripsi
Herba atau semak rendah, perennial 0,1 0,8 m.
Berupa batang pendek, percabangan batang merayap atau stolon.
tunggal, dalam susunan roset atau spiral, 2-10 daun, bentuk ginjal, dengan
pangkal yang melekuk ke dalam lebar, tepi beringgit - bergigi, 1-7 kali
1,5-9 cm, panjang tangkai daun 1-50 cm, pada pangkal berbentuk pelepah.
Tersusun dalam susunan payung, tunggal atau majemuk terdiri dari 2-3,
berhadapan dengan daun, bertangkai 0,5-5 cm, semula tegak, kemudian
membengkok ke bawah, daun pembalut 2-3. tangkai bunga sangat pendek.
Sisi lebar dari bakal buah saling tertekan
Waktu berbunga : Januari - Desember
Daun mahkota kemerahan, dengan pangkal pucat, panjang 1-1,5 mm
2

Buah

lebar lebih panjang dibanding tinggi, tinggi 3 mm, berlekuk 2 tidak dalam,
merah muda kuning, berusuk.8
Pemanenan dilakukan setelah 6 bulan
terhitung dari saat penanaman. Pemanenan
dilakukan
dengan
penggalian
rumpun
tumbuhan. Setelah dipanen, dikumpulkan dan
akar dipotong, dibersihkan dari benda-benda
asing kemudian setelah dicuci dengan air
dikeringkan
dengan
sinar
matahari.
Penyimpanan
dilakukan
dalam
wadah
tertutup
Daerah distribusi, Habitat dan Budidaya
rapat atau dalam plastik/karung dan diberi
Tumbuh liar di Jawa, Madura pada
penandaan (tanggal panen) dan disimpan
ketinggian 1-2500 m dpl, bentuk tumbuhan
ditempat yang kering.
seperti rumput, tersebar luas pada daerah
Sel mesofil daun dapat digunakan sebagai
tropik dan subtropik pada penyinaran matahari
bibit
dalam kultur jaringan tanaman.
yang cukup atau pada naungan rendah yang
Asiatikosida dapat terbentuk pada medium
subur, lokasi berkabut, di sepanjang sungai dan
tanpa penambahan sukrosa maupun dengan
juga di sela-sela batu-batuan, padang rumput
penambahan sukrosa.
halaman, dan di tepi-tepi jalan.
Perlakuan dengan kolesterol dan ekstrak
khamir pada percobaan kultur jaringan
Perbanyakan: mudah diperbanyak dengan biji
tanaman dapat terjadi peningkatan kadar
dan stolon. Stolon dengan tangkai dan akar
asiatikosida sebesar 7,3 kali lebih tinggi
biasa digunakan untuk tujuan kultivasi.
dibanding dengan tanaman induk; sedangkan
Tanaman muda akan tampak setelah
pada perlakukan dengan skualen dan ekstrak
penanaman stolon pada pasir atau tanah yang
khamir terjadi peningkatan kadar asiatikosida
basah selama 1-2 minggu. Seminggu
sebesar 5,9 kali lebih tinggi dibanding dengan
kemudian tanaman muda siap ditanam.
tanaman induk.
B. ASPEK KIMIA
KANDUNGAN KIMIA PEGAGAN
Dari tanaman utuh C.asiatica beberapa
saponin triterpen dan sapogenin terisolasi.
Yang utama dari saponin triterpen adalah
asiaticoside, dengan asiatic acid, derivat
trihydroxyursenoic acid. Pegagan mengandung
banyak
senyawa
metabolit
sekunder,
diantaranya asiatikosida, asam asiatikat,
madekakosida, asam madekasat, dan lain-lain
(Widowati dkk., 1992). Herba: metabolit yang
ditemukan ialah golongan triterpen antara lain
asam asiatat, asam madekasat, glikosida
turunan triterpen, ester (tidak kurang dari 2%)
asitikosida, madekakosida sebagai metabolit
utama tersebut diatas, ditemukan pula asam
madasiat, suatu senyawa yang mempunyai
kemiripan dengan asam madekasat (pada
posisi gugus CH2OH terdapat gugus CH3). Di
india terdapat dua macam ras kimia; satu
diantaranya ditemukan asiatikosida dan
madekasosida; sedangkan jenis ras yang lain
ditemukan asiatikosida (2,4%), brahmosida
(3,8%) dan brahminosida (1,6%). Dari hasil
penelitian selanjutnya diperoleh informasi

bahwa asam brahmat identik dengan asam


madekasat. Ditemukan pula dalam Centella
asiatica senyawa sterol, senyawa poliasetilen
dan tritepen asam dalam bentuk bebas antara
lain stigmasterin, asam betulinat.
Hasil penelitian terhadap tumbuhan dari
Calcutta telah berhasil diisolasi dua macam
senyawa ester glikosida yaitu tankunisida
(dalam bentuk kristal) isotankunisida (dalam
bentuk amorf); disamping itu ditemukan pula
asam tankuninat, asam isotankuninat, dan
asam asiatat. Asam tankuninat dan asam
isotankuninat merupakan isomer dari asam
madekasat.
Hasil penelitian tumbuhan dari Ceylon
ditemukan asam sentat, asam sentoat dan asam
sentelinat (aglikon dari sentelosida) masih
dianggap sebagai sutau senyawa baru; begitu
pula terhadap asam indosentoat dan
indosentelosida. Lebih lanjut kandungan kimia
yang terdapat dalam Centella asiatica L.
adalah 0,002% hidrokotilin (suatu alkaloid
3

dengan rumus molekul C22H33NO8 dengan


jarak lebur 210-212oC), kaempferol, kuersetin
dalam bentuk bebas maupun glikosida, sitosterin, asam palmitat, asam stearat dan
minyak atsiri, mesoinosid dan sentelosa.
Hydrocotyle (Centella) yang terdapat di
Indonesia ditemukan asam klorogenat. Hasil
penelitian lain terhadap Hydrocotyle asiatica
dilaporkan bahwa komponen minyak atsiri
dari p-simol, -pinen, metilalkohol dan
allylsenfeol dan komponen minyak atsiri
yang ditemukan dari Hydrocotyle umbellata L.
Var. Bonariensis (Lamk.) Spreng terdiri dari pinen, apiol, dan allylsenfeol. (Tumbuhan
obat, 2002)

Gambar 2. Komponen minyak atsiri C.asiatica

Tanaman ini mengandung beberapa senyawa


seperti
triterpenoid
(asiaticoside,
madecassoside,
asam
Asiatik,
asam
madecassic), glikosida, flavonoid, alkaloid,
steroid, minyak atsiri dan minyak lemak
(Subban et al, 2008;. James dan Dubery,
2011).

C. PENGGUNAAN DI MASYARAKAT
Daun : sebagai penambah nafsu makan,
peluruh air seni, pembersih darah, disentri,
sakit perut, radang usus, batuk, sariawan,
sebagai kompres luka, lepra, sipilis.
Getah : digunakan pada upaya pengobatan
borok, nyeri perut, cacing.
Herba : digunakan pada upaya pengobatan
luka pada penderita lepra dan gangguan

pembuluh darah vena; di samping itu semua


bagian tumbuhan digunakan sebagai obat
batuk, masuk angin, mimisan, radang cabang
paru-paru, disentri. Di Brasilia tumbuhan ini
digunakan untuk penyembuhan kanker uterus.
Biji untuk pengobatan disentri, sakit kepala
dan penurun panas.

D. Aktivitas Farmakologi yang Sudah Diteliti


Tabel 1. Aktivitas Farmakologi tanaman pegagan
No

Khasiat

Bagian Tumbuhan

Dosis

Peneliti

Antihiperuremia

Herba

100 mg/kg BB

Imunostimulan

Herba

16,5 mg/kg BB

Antiinflamasi

Ekstrak chloroform dan


metanol daun pegagan

200 mg/kg BB

Analgesik

Ekstrak chloroform dan


metanol daun pegagan

Antistress

Daun

100 mg/kg BB
dan 200 mg/kg
BB
500 mg/kg BB

Neuroprotektif

Daun

300 mg / kg BB

Anjar Mahardian Kusuma,


Retno Wahyyuningrum,
Try Widyawati., 2014
Shirly Kumala, Aulia Tisna
Dewi dan Yun Astuti
Nugroho., 2010
Sudipta saha, Tanmoy
Guria, Tanushree Singha,
Tapan Kumar Maity., 2013
Sudipta saha, Tanmoy
Guria, Tanushree Singha,
Tapan Kumar Maity., 2013
Hemamanili, Maddanna
S.Rao., 2013
Sunanda BPV et al., 2014

Antioksidan

Ekstrak air daun pegagan

IC50 31,25 g/mL

Federico Pitella et al., 2009

Antimikroba dan
Antifungi

Ekstrak etanol

MIC 62,5 g/mL


dan 125 g/mL

NS Jagtap et al., 2009

Antihipertensif

Seluruh bagian tanaman

ED50
SBP 10,40 0,98
mg/kg BB
DBP 9,05 , 1,95
mg/kg BB
MAP 9,37 1,69
mg / kg

Harwoko, Pramono, S.,


Nugroho , A. E., 2014

10

Antiulcer

Ekstrak Daun

400 mg/kg extract

M. A. Abdulla, F. H. ALBayaty*, L. T. Younis and


M. I. Abu Hassan., 2010

11

Antidepresan

Ekstrak etanol daun

100 mg/kgBB,
200 mg/kg BB

P. Thamarai Selvi
*, M. Senthil Kumar, R.
Rajesh, T. Kathiravan.,
2012

12

Anti tuberkulosa

Ekstrak pegagan

20mg, 40 mg/kg
p.o.

13

Antidiabetes

Seluruh bagian tanaman

25 mg/kg BB

14

Diuretik

Ekstrak pegagan

500 mg/kg BB

Vinay Kumar*, Ankur


Sharma , Lalit Machawal,
K. Nagarajan, Shadab A.
Siddiqui., 2014
V. Gayathri, P.Lekshmi,
R.N. Padmanabhan, 2011
Roopesh et al., 2011

15

Penyembuhan luka

Bagian aerial tanaman

1. Antihiperurisemia
Hiperurisemia didefinisikan sebagai penyakit
yang
disebabkan
oleh
meningkatnya
penumpukkan kristal monosodium urat
monohidrat dipersendiaan. Dengan adanya
flavonoid dalam pegagan yaitu kaempferol
dan kuersetin yang
terbukti dapat
menghambat xanthin oxidase, maka dilakukan
penelitian untuk membuktikan adanya efek
penurunan kadar asam urat dalam darah
dengan menggunakan ekstrak pegagan.
Berdasarkan hasil penelitian ekstrak etanol
herba
pegagan
mempunyai
aktivitas
antihiperurisemia dengan mekanisme kerja
menghambat xantin oxidase. Metode yang
dilakukan
untuk
mengetahui
aktivitas
antihiperurisemia
yaitu dengan metode
berjenis eksperimental dengan rancangan Post
Test Only Controlled Group Design yaitu
jenis penelitian yang hanya melakukan
pengamatan terhadap kelompok kontrol dan
perlakuan setelah diberi suatu tindakan untuk
menentukan dosis dari ekstrak etanol pegagan
yang paling efektif. Penelitian menggunakan

Juraiporn Somboonwong,
Mattana Kankaisre,
Boonyong Tantisira,
Mayuree H Tantisira., 2012

ekstrak etanol herba pegagan dosis 100 mg/kg


BB yang menunjukkan penurunan kadar asam
urat yang paling efektif.
2. Imunostimulan
Imunodulator merupakan suatu zat atau obat
yang
dapat
mengembalikan
ketidak
seimbangan sistem kekebalan yang terganggu
dengan cara merangsang dan memperbaiki
fungsi sistem kekebalan tubuh. Pegagan
(Centella asiatica (l.)Urban.) antara lain
mengandung senyawa alkaloid , flavonoid,
triterpenoid, dan saponin. Kecenderungan
peningkatan kadar IgG disebabkan karena
kandungan dari pegagan yaitu alkaloid dan
terpenoid yang bersifat imunostimulator. Hal
ini sesuai dengan pernyataan Wagner (1984)
yang secara umum menyebutkan bahwa
golongan terpenoid , alkaloid atau polifenol
mempunyai
sifat
imunostimulator.
Berdasarkan hasil penelitian ekstrak etanol
herba
pegagan
mempunyai
aktivitas
imunostimulator
dengan
mekanisme
mendorong system imun untuk menghadapi
mikroorganisme melalui efektor system
5

imunitas. Metode yang digunakan adalah


metode eksperimen dengan memberikan
ekstrak pegagan yang diperoleh dengan cara
perkolasi menggunakan etanol 70% secara oral
pada mencit jantan yang sebelumnya telah
diinduksi dengan sel darah merah domba,
kemudian diambil serumnya untuk ditetapkan
kadar IgG-nya menggunakan metode Radial
Immunodiffusion
(RID).
Penelitian
menggunakan
dosis
16,5
mg/g
BB
memberikan efek
imunostimulan dengan
meningkatkan kadar IgG secara efektif.
3. Anti inflamasi
Inflamasi adalah respon jaringan terhadap
cidera akibat infeksi, pungsi, abrasi, terbakar,
objek asing, atau toksin. Ditandai dengan
panas, kemerahan (rubor), pembengkakan
(tumor), dan nyeri (dolor). Antiinflamasi
adalah obat-obatan yang dapat mengurangi
tanda-tanda atau gejala
peradangan.
Berdasarkan hasil penelitian ekstrak methanol
daun
pegagan
mempunyai
aktivitas
antiinflamasi. Metode yang digunakan adalah
HRBC stabilisasi membrane. Penghambatan
hipotonisitas diinduksi HRBC membrane lisis
diambil sebagai ukuran aktivitas antiinflamasi.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ekstrak
methanol daun pegagan mendapatkan inhibisi
maksimum 94,97% pada konsentrasi 2000
g/mL efektif dalam menghambat panas yang
diinduksi hemolysis dari HRBC. Ekstrak
metanol daun pegagan pada dosis 200mg / kg
memiliki efek anti-inflamasi.
4. Analgesik
Penelitian dilakukan untuk menilai sifat
analgesik dan anti-inflamasi dari ekstrak daun
nya. Daun kering yang dihilangkan lemaknya
dengan petroleum eter dan diekstraksi dengan
chloroform dan methanol. Kedua ekstrak
Kloroform dan methanol dievaluasi untuk
aktivitas analgesik melalui klip ekor, ekor
jentikan, ekor perendaman, dan menggeliat tes
uji pada dosis 50, 100, dan 200mg / kg
menggunakan tikus albino Swiss. Di sisi lain,
uji
anti-inflamasi
dilakukan
dengan
menginduksi karagenan kaki edema ekstrak
metanol dengan dosis 100 dan 200mg pada
tikus Wistar albino. Dekstropropoksifen dan
indometasin bekerja sebagai standar untuk
studi analgesik. Penelitian menunjukkan
bahwa pegagan memiliki aktivitas analgesik
yang signifikan dan antiinflamasi dalam model

tersebut. Penelitian ini menunjukkan efek


analgesik signifikan dari kedua ekstrak
kloroform dan metanol pada dosis 100 dan
200mg / kg tikus.
5. Antistress
Berdasarkan hasil penelitian ekstrak daun
pegagan memiliki efek neuroprotektif terhadap
stres yang disebabkan atrofi saraf pada tikus.
Metode yang digunakan yaitu dengan
menggunakan tikus albino yang berusia tiga
bulan kemudian dibagi menjadi empat
kelompok. Kelompok (i) adalah kontrol
normal, Kelompok (ii) adalah kontrol garam,
Kelompok (iii) adalah kelompok stres,
Kelompok (iv) adalah Kelompok perlakuan
stres + CeA. Kelompok (iii) tikus stres dalam
restrainer mesh kawat selama 6 jam / hari
selama 6 minggu. Kelompok (iv) tikus juga
menekankan seperti kelompok (iii) tetapi
mereka menerima secara oral ekstrak daun
pegagan selama periode stres. Setelah 6
minggu, otak dipisahkan, hippocampus
dibedah dan diproses untuk proses Staining
golgi.
Neuron hippocampus ditelusuri
menggunakan kamera lucida terfokus pada
400X
pembesaran.
Metode
lingkaran
konsentris Sholl digunakan untuk mengukur
dendrit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pada dosis 500 mg/kg BB ekstrak daun
pegagan mempunyai aktivitas antistress.
6. Neuroprotektif
Penelitian ini dilakukan untuk menunjukkan
efek neuroprotektif dari ekstrak air pegagan
pada gangguan kognitif skopolamin yang
diinduksi pada tikus. Peningkatan gangguan
kognitif dengan pegagan dibandingkan
terhadap obat standar (Donepezil 50 mg/kg
BB). Metode yang digunakan adalah dengan
menggunakan tikus albino Swiss (20-25 g)
dari kedua jenis kelamin secara acak dibagi
menjadi 5 kelompok, masing-masing 6
hewan . Semua hewan kecuali kelompok
kontrol, menerima skopolamin (0,05 mg / kg)
selama 14 hari. Dalam hari-14 masing-masing
hewan diperiksa untuk gangguan kognitif
dengan menggunakan Elevated Plus Maze
(EPM). Efek neuroprotektif dinilai dengan
Elevated Plus Maze (EPM). Berdasarkan hasil
penelitian dalam Elevated Plus Maze (EPM)
model, menunjukkan bahwa Centella asiatica
(CA) 300 mg/kg (kelompok IV) secara
6

signifikan (p <0,001) menurunkan latensi


transfer retensi.
7. Antioksidan
Uji aktivitas pegagan sebagai antioksidan
ditentukan
berdasarkan
nilai
IC50
menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-l
picrylhydrazil). Pengukuran dilakukan dengan
melihat potensi antioksidan yang diteliti.
Ekstraksi pelarut 100% etanol, 50% ethanol
dan air dipilih sebagai karena sesuai deret
aritmetika polaritas. Jumlah polifenol,
flavonoid, -karoten, tanin dan vitamin C
konten dari ketiga ekstrak sementara
ditentukan potensi antioksidannya dengan total
reducing scavenging dan aktivitas DPPH (2,2diphenyl-l picrylhydrazil). Aktivitas DPPHscavenging, menunjukkan nilai IC50 masingmasing dari 100% ekstrak etanol C. asiatica,
50% ekstrak etanol C. asiatica dan ekstrak air
dari C. asiatica yaitu 35,6 1,3 mg / ml, 7,1
1,5 mg / ml dan 10.3 1.2 mg / ml. Nilai IC 50
dari 50% ekstrak etanol C. asiatica dan ekstrak
air dari C. asiatica hampir sama dan tidak
signifikan (P> 0,05) yang berbeda. Tapi, nilai
IC50 dari 50% ekstrak etanol C. asiatica secara
signifikan lebih tinggi dari 100% ekstrak
etanol dan ekstrak air.
8. Antimikroba dan antifungi
Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari
aktivitas antimikroba dari petroleum eter,
etanol dan ekstrak air Centella asiatica
tanaman dengan metode difusi agar. Zona
hambat yang dihasilkan oleh petroleum eter,
etanol dan ekstrak air di dosis 62,5, 125, 250,
500 dan 1000 mg/ml terhadap beberapa strain
yang dipilih diukur dan dibandingkan dengan
standar antibiotik ciprofloxacin (10g / ml).
Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak
etanol pegagan memiliki aktivitas antimikroba
yang lebih tinggi dari petroleum eter dan
ekstrak air. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa dengan MIC 62,5 g/mL dan 125
g/mL ekstrak etanol
pegagan memiliki
aktivitas antimikroba dan antifungi.
9. Antihipertensif
Berdasarkan hasil penelitian ekstrak pegagan
memiliki aktivitas antihipertensif. Metode
yang
digunakan
yaitu
dengan TLC
Densitometri dan uji invivo pada tikus Wistar
jantan. Hasil penelitian ini menunjukkan

bahwa dari data TLC-densitometri kandungan


asiaticoside dari fraksi pegagan sebesar 0,402

0,02%.
Fraksi
kaya
triterpenoid
menunjukkan efek antihipertensi pada tikus
yang diinduksi fenilefrin memiliki nilai ED50,
parameter potensi obat pada uji ini yaitu SBP,
DBP, dan MAP yang masing -masing
menunjukkan hasil sebesar 10,40 0,98, 9,05
1,95, dan 9,37 1,69 mg / kg.
10. Antiulcer
Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi
aktivitas antiulcerogenic ekstrak etanol
pegagan terhadap cedera mukosa lambung
yang diinduksi etanol pada tikus. Lima
kelompok dewasa Sprague Dawley tikus yang
secara oral masing-masing diinduksi dengan
larutan
karboksimetil
selulosa
(CMC)
(kelompok ulkus control), Omeprazol 20 mg /
kg (kelompok referensi), dan 100, 200 dan 400
mg / kg ekstrak daun C. asiatica dalam larutan
CMC (kelompok eksperimen), satu jam
sebelumnya diberikan etanol absolut secara
oral untuk menghasilkan cedera mukosa
lambung. Tikus dikorbankan dan daerah ulkus
dinding lambung ditentukan. Studi histologis
menunjukkan bahwa dengan ekstrak daun C.
asiatica menunjukkan mukosa lambung
terlindungi, tidak adanya edema dan infiltrasi
leukosit pada lapisan submukosa. Penelitian
toksisitas akut tidak menampakkan tandatanda toksikologi pada tikus. Sehingga hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak
daun C. asiatica dipastikan mampu melindungi
ulkus bila dibandingkan dengan kelompok
kontrol ulkus.
11. Antidepresan
Aktivitas antidepresan dari ekstrak etanol
pegagan .Linn (Umbelliferae) diteliti pada
dosis 100 mg/kg dan 200mg/ kg pada tikus.
Imipramine (30mg / kg, ip) terpilih sebagai
standar acuan dan menunjukkan aktivitas
antidepresan yang signifikan pada tikus. Dosis
penurunan tergantung pada waktu imobilitas
yang diamati dalam FST. Sedangkan ekstrak
secara signifikan meningkatkan perilaku
eksplorasi pada tikus. Temuan dari investigasi
ini menunjukkan bahwa ekstrak pegagan
memiliki
aktivitas
antidepresan
yang
signifikan.
12. Antituberkulosa
7

Hati adalah organ yang tidak terpisahkan


dalam tubuh dan memainkan peran penting
untuk metabolisme agen endogen dan eksogen.
Toksisitas obat pada hati adalah salah satu
penyebab umum sebagian besar luka.
Hepatotoksisitas dikaitkan dengan obat lini
pertama antituberkulosis seperti isoniazid dan
rifampisin. Oleh karena itu, perlu intervensi
farmakologis
untuk
pengobatan
hepatotoksisitas. Penelitian ini dirancang
untuk mengevaluasi efek hepatoprotektif
ekstrak Centella asiatica obat anti-TB untuk
hepatotoksisitas. Hepatotoksisitas diinduksi
dengan pemberian obat anti-TB (isoniazid dan
rifampisin). Hepatotoksisitas dinilai dengan
elevasi yang signifikan dalam stres oksidatif,
perubahan
kompleks
mitokondria
dan
peningkatan kadar enzim penanda hati.
Pengobatan dengan Centella asiatica (20, 40
mg / kg po) sebagai obat anti-TB dapat
menurunkan stres oksidatif yang disebabkan
oleh perubahan kompleks mitokondria dan
peningkatan kadar enzim penanda hati (yaitu
SGOT, SGPT, ALP). Studi histopatologi juga
menunjukkan efek yang menjanjikan. Oleh
karena itu, penelitian ini menunjukkan bahwa
pegagan memiliki efek hepatotoprotektif. Oleh
karena itu, pegagan bisa menjadi intervensi
farmakologis
baru
dalam
pengobatan
hepatotoksisitas
13. Antidiabetes
Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi
aktivitas antidiabetes ekstrak etanol pegagan
pada tikus yang diinduksi streptozotocin
sehingga
diabetes,
untuk
menentukan
toksisitas akut dan subakut ekstrak pada tikus
dan mengisolasi fraksi antihiperglikemia yang
paling aktif dari ekstrak etanol. Penelitian
menguji dari diabetes yang diinduksi pada
tikus
wistar
jantan
dengan
injeksi
streptozotocin (50 mg / kg) dan keefektifan
antidiabetes berbagai dosis ekstrak etanol. Dari
berbagai dosis yang diuji, ekstrak etanol
dengan dosis 200 mg/kg menunjukkan
aktivitas antidiabetes yang signifikan pada
tikus yang diinduksi diabetes dengan
streptozotocin karena dinilai dari berat badan,
glukosa serum, lipid, kolesterol dan urea, dan
kadar glikogen hati. Namun, ekstrak tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap kadar
insulin serum pada tikus diabetes dan
normoglycemic. Dari berbagai fraksi yang

diuji, aktivitas antihiperglikemik ditemukan


yang utama ada di fraksi kloroform (12,5 mg/
kg) dariekstrak alkohol.
14. Diuretik
Diuretik meningkatkan laju alir urin dan
digunakan untuk mengatur volume dan
komposisi cairan tubuh dalam berbagai situasi
klinis termasuk hipertensi, gagal jantung,
gagal ginjal, sindrom nefritik dan sirosis.
Penelitian ini untuk menyelidiki efek diuretik
ekstrak metanol dan etanol pegagan pada tikus
wistar. Ekstrak diberikan secara oral pada
dosis 500 mg/ kg. Volume total urin dan
konsentrasi natrium, kalium dan klorida ion
dalam
urin
diperhitungkan
selama
eksperimental
berlangsung.
Ekstrak
menunjukkan efek diuretik yang signifikan
dengan adanya
peningkatan konsentrasi
elektrolit dalam urin bila dibandingkan dengan
obat standar furosemide (20 mg/kg p.o.).
Secara keseluruhan ekstrak etanol pegagan
menunjukkan aktivitas diuretik yang lebih kuat
daripada ekstrak metanol.
15. Penyembuhan luka
Khasiat pegagan untuk torehan dan luka bakar
tidak sepenuhnya dipahami. Di penelitian
melaporkan aktivitas penyembuhan luka
secara berurutan dari ekstrak heksana, etil
asetat, metanol, dan air pegagan pada torehan
dan ketebalan parsial dari luka bakar pada
model tikus. Pada hari ketujuh setelah
pemberian luka, kekuatan tensile dari torehan
luka pada semua kelompok ekstrak yang
diobati secara signifikan lebih tinggi
dibandingkan
dengan
kontrol,
namun
sebanding dengan kelompok perlakuan NSS.
Derajat penyembuhan dalam luka bakar
dengan empat ekstrak secara signifikan lebih
tinggi dibandingkan dengan kontrol pada hari
ke 3, 10 dan 14. Analisis dengan kromatografi
lapis tipis menunjukkan bahwa phytokonstituen -sitosterol, asam Asiatik, dan
asiaticoside dan madecassoside ada dalam
masing-masing ekstrak heksana, etil asetat dan
metanol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
semua ekstrak pegagan dapat membantu
proses penyembuhan pada luka torehan dan
luka bakar. Asam asiatik dalam ekstrak etil
asetat tampaknya merupakan komponen yang
paling aktif sebagai aktivitas penyembuhan
luka.
8

PEMBAHASAN
Pegagan sejak dahulu secara tradisional
digunakan sebagai obat batuk, mimisan,
masuk angin, radang cabang paru-paru.
Pegagan tumbuh liar di Jawa, Madura pada
ketinggian 1-2500 m dpl, bentuk tumbuhan
seperti rumput, tersebar luas pada daerah
tropik dan subtropik pada penyinaran matahari
yang cukup atau pada naungan rendah yang
subur, lokasi berkabut, di sepanjang sungai dan
juga di sela-sela batu-batuan, padang rumput
halaman, dan di tepi-tepi jalan.

dan gangguan pembuluh darah vena. Semua


bagian tumbuhan digunakan sebagai obat
batuk, masuk angin, mimisan, radang cabang
paru-paru, disentri.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pegagan
memiliki aktivitas farmakologi, diantaranya
antioksidan, antihiperurisemia, antidiabetes,
antiinflamasi,
analgetik,
antistress,
neuroprotektif,,
antihipertensi,
antiulcer,
antidepresan, antituberculosa, penyembuhan
luka, antimikroba dan antifungi.

Pegagan (Centella asiatica) adalah satu dari 10


jenis tanaman terlaris di dunia yang
mempunyai potensi untuk dikembangkan
sebagai tanaman obat. Pegagan (Centella
asiatica (Linn) urban) atau Hydrocotyle
asiatica, Linn atau Pasequinus, Rumph, telah
lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional
baik dalam bentuk bahan segar, kering maupun
dalam bentuk ramuan.

Seluruh aktivitas yang dimiliki oleh pegagan


tidak lepas dari zat berkhasiat yang terkandung
didalamnya,
yaitu
triterpen.
Triterpen
merupakan senyawa yang kerangka karbonnya
berasal dari enam satuan isoprena dan secara
biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30
asiklik. triterpen terdiri dari empat golongan
senyawa yaitu triterpena sebenarnya, steroid,
saponin, dan glikosida jantung.

Dari segi kandungan kimianya pegagan


mengandung beberapa senyawa seperti
triterpenoid (asiaticoside, madecassoside,
asam asiatik, asam madecassic), glikosida,
flavonoid, alkaloid, steroid, mudah menguap
dan minyak lemak

Asiaticoside yang terkandung dalam daun


tanaman pegagan ini mempunyai fungsi utama
sebagai antioksidan. Dari aktivitas antioksidan
inilah, tanaman pegagan mempunyai aktivitas
farmakologi seperti antiulcer, antikanker,
immunodilator, dan antistress. Aktivitas
farmakologi lainnya pada pegagan yaitu
antidiabetes,
antimikroba,
antifungi,
antihipertensi, antihiperurisemia Selain itu
juga asam asiatik yang merupakan salah satu
kandungan senyawa pada pegagan mempunyai
fungsi utama sebagai penyembuh luka.

Tanaman pegagan ini telah terbukti memiliki


efek farmakologi yang telah terbukti dari
beberapa penelitian, di Australia pegagan telah
banyak dimanfaatkan sebagai obat untuk
penyembuhan luka, radang, reumatik, asma,
wasir, tuberculosis, lepra, disentri, demam, dan
penambah selera makan.
Pada umumnya herba pegagan merupakan
bagian yang paling sering digunakan dalam
pengobatan, walaupun semua bagian pegagan
seperti daun, biji dan getahnya juga memiliki
aktivitas farmakologi terhadap tubuh.
Daun pegagan bisa digunakan sebagai
penambah nafsu makan, peluruh air seni,
pembersih darah, disentri, sakit perut, radang
usus, batuk, sariawan, kompres luka, lepra,
sipilis. Getahnya dapat digunakan untuk
pengobatan borok, nyeri perut, cacing. Biji
digunakan untuk pengobatan disentri, sakit
kepala dan penurun panas. Herba digunakan
untuk pengobatan luka pada penderita lepra

KESIMPULAN
Tanaman pegagan ( Centella asiatica ) dengan
triterpenoid asiaticoside, madecacoside, dan
asam asiatikat sebagai senyawa aktifnya
memiliki khasiat sebagai antioksidan, anti
hiperurisemia, anti diabetes, antiinflamasi,
analgetik,
antistress,
neuroprotektif,
antihipertensi,
antiulcer,
antidepresan,
antituberculosa, penyembuh luka, diuretik,
antimikroba dan antifungi.

UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan syukur kehadirat Allah
SWT dan berterimakasih kepada kedua orang
tua, dosen pembimbing, dan teman-teman atas
9

dukungan moril maupun materil


tersusunnya Karya Tulis Ilmiah ini.

hingga

DAFTAR PUSTAKA
Abdulla, M.A., Al-Bayati, F.H., Younis, L.T.,
Abu Hassan, M.I. 2010. Anti-ulcer activity of
Centella asiatica leaf extract against ethanolinduced gastric mucosal injury in rats. Journal
of Medicinal Plants Research Vol. 4(13), pp.
1253-1259.
Anonim. (1995). Materia Medika Indonesia
Jilid VI. Jakarta : Depkes RI
Gayathri,V., Lekshmi, ., & Padmanabhan, R.N.
2011. Antidiabetes activity of ethanol extract
of Centella asiatica (L.) Urban (whole plant) in
Streptozotocin-induced diabetic rats, isolation
of an active fraction and toxicity evaluation of
the extract. Open Access Science Research
Publisher, 1(3), p. 278-286.
Gupta, A., Verma, S., Kushwaha, P.,
Srivastava,
S.,
Rawat,
AKS.
2014.
Quantitative Estimation of Asiatuc axid,
Asiaticoside & Madecassoside in two
accessions of Centella asiatica (L) Urban for
Morpho-chemotypic variation. Indian Journal
of Pharmaceutical Education and Research,
48(3). 75-79.
Harwoko., Pramono, S. & Nugroho, A.E.
2014. Triterpenoid-rich fraction of Centella
asiatica leaves and in vivo antihypertensive
activity. International Food Research Journal.
21(1).149-154.
Hemamalini., Rao, S. M. 2013. Anti stress
effect of Centella asiatica leaf extract on
hippocampal CA3 neurons- a quantitative
study. International Journal of Pharmacology
and Clinical Sciences, 2(1), 25-32.
Intharachatorn, T. & Srisawat, R. 2013.
Antihypertensive Effects of Centella asiatica
Extract. International Conference on Food
and Agricultural Sciences, 55, 122-126.
Jagtap, N.S., Khadabadi, S.S., Ghorpade, D.S.,
Banarase, N.B., Naphade, S.S. 2009.
Antimicrobial and Antifungal Activity of
Centella asiatica (L.) Urban, Umbelliferae.
Research Journal of Pharmacy and
Technology, 2(2), 328-330.

James, J.T. and Dubery, I.A. 2011.


Identification and quantification of triterpenoid
centelloids in Centella asiatica (L.) Urban by
densitometric TLC. Journal of Planar
Chromatography 24(1): 8287.
Kristanti, Ari Nur. 2010. Potensi Ekstrak Daun
Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban ) Dosis
Tinggi Sebagai Antifertilitas Pada Mencit
(Mus Musculus) Betina, Skripsi. Jurusan
Biologi Fakultas Sains dan Teknologi,
Universitas Islam Negeri Maulana Malik
Ibrahim Malang.
Kumar, V., Sharma, A., Machawal, L.,
nagarajan, K., Siddiqui, A.S. 2014. Effect of
Centella asiatica against anti-tuberculosis
drugs-induced hepatotoxicity: Involvement of
mitochondria and oxidative stress. The journal
of Phytopharmacology. 3(5). 310-315.
Kusuma,
A.M.,
Wahyuningrum,R.,
&
Widyati,T. 2014. Aktivitas anti hiperurisemia
ekstrak etanol herba pegagan pada mencit
jantan dengan induksi kafein. Jurnal
Pharmacy, 11(1), 62-74.
Pittella, F., Dutra, R.C., Junior, D.D., Miriam
T. P. Lopes., Barbosa, N.R. 2009. Antioxidant
and Cytotoxic Activities of Centella asiatica
(L) Urb. International Journal of Molecular
Sciences.10. 3713-3721.
Rahman, M., et. al. 2013. Antioxidant Activity
of Centella asiatica (Linn.) Urban: Impact of
Extraction Solvent Polarity. Journal of
Pharmacognocy and Phytochemistry, 1(6), 2732.
Roopesh, C. et.al., 2011. Diuretic Activity of
Methanolic and Ethanolic Extracts of Centella
asiatica leaves in rats. International research
journal of pharmacy, 2(11), 163-165.
Saha, S., Guria, T., Sigha, T., Maity, T.K.
2013. Evaluation of Analgesic and AntiInflammatory Activity of Chloroform and
Methanol Extracts of Centella asiatica Linn.
International Scholarly Research Notices
Pharmacology. 1-6.
Salamah, N., Nurushoimah. 2014. Jurnal
Farmasains, 2(4), 177-181. Fakultas Farmasi .,
Yogyakarta : Universitas Ahmad Dahlan
(UAD).

10

Selvi, T.P., et.al., 2012. Antidepressant activity


of ethanolic extract of leaves of Centella
asiatica. Linn by In vivo methods. Asian
Journal Research Pharmaceutical and
Science, 2(2), p.76-79.
Shaival, R. P., Shavial, R.K. 2012. Review on
Centella Asiatica : A Wonder Drug.
International journal of pharmaceutical and
chemical sciences, 1(3), 1369-1375.
Subban, R., Veerakumar, A. and Manimaran,
R. 2008. Two new flavonoids from Centella
asiatica (Linn.). Journal of Natural Medicine
62: 369373.
Sudarsono, dkk. (2002). Tumbuhan Obat II,
Hasil Penelitian, sifat-sifat, & penggunaan.
Yogyakarta : Pusat studi Obat TradisionalUniversitas Gadjah Mada.
Sunanda, B.P.V., et. al. 2014. Evaluation of the
neuroprotective effects of Centella asiatica

against scopolamine induced cognitive


impairment in mice. Indian Journal of
Pharmaceutical Education and Research,
48(4), 31-34.
Wagner, H. 1984. Imunostimulants of fungi
and higher palnts. Definition Scope Aims
Stimulants. hal.26-32.
Wagner, H. and Bladt, S. 1996. Plant drug
analysis, a thin layer chromatography atlas, p.
324-325. Second Edt. Berlin Heidelberg:
Springer.
Widowati, L., Pudjiastuti, Indrari, D., 1992.
Beberapa informasi khasiat dan keamanan dan
fitokimia tanaman pegagan, Centella asiatica
(L.) Urban. Warta Tumbuhan Obat Indonesia,
Jakarta.
Winarto WP. 2003. Khasiat dan manfaat
pegagan tanaman penambah daya ingat. Edisi
I. Jakarta : Agromedia pustaka.

11