Anda di halaman 1dari 11

DIARE

Definisi Diare
Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan
konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi
buang air besar yang lebih dari biasanya (3 kali atau lebih dalam 1 hari).
Diare seringkali disertai kejang perut dan muntah-muntah, diare disebut juga
muntahber (muntah berak), muntah menceret atau muntah bocor. Diare menyebabkan
cairan tubuh terkuras keluar melalui tinja. Jika tinja atau kotoran tersebut mengandung
lendir dan darah, penderita telah mengalami fase yang disebut disentri. Diare dapat
terjadi dalam kadar yang ringan maupun berat. Biasanya terjadi secara mendadak,
bersifat akut, dan berlangsung dalam waktu lama. Penyakit ini dapat disebabkan oleh
berbagai hal dan kadang diperlukan pengobatan khusus. Namun sebagian besar diare
dapat diobati sendiri di rumah, meskipun kita tidak yakin penyebab yang
menimbulkannya. Diare tak pernah pandang bulu, ia dapat menyerang siapa saja, baik
pria maupun wanita, baik orang tua maupun muda. Diare seringkali dianggap sebagai
penyakit sepele, padahal di tingkat global dan nasional fakta menunjukkan sebaliknya.
Menurut catatan WHO, diare membunuh dua juta anak di dunia setiap tahun, sedangkan
di Indonesia, menurut Surkesnas (2001) diare merupakan salah satu penyebab kematian
kedua terbesar pada balita.
Cara Penularan Diare
Beberapa cara penularan penyakit diare secara umum diantaranya adalah :
1. Kebiasaan yang tidak bersih seperti, tidak mencuci tangan sebelum makan. Tangan
yang kotor dapat menjadi tempat melekat dan tumbuh bakteri-bakteri penyebab
diare.
2. Makanan yang dihinggapi oleh lalat dan semut maupun hewan peliharaan yang
tidak bersih juga dapat mengkontaminasi makanan maupun minuman dengan
virus maupun bakteri penyebab diare.
3. Keadaan lingkungan tidak bersih dan kumuh menyebabkn kuman maupun bakteri
bebas untuk berkembang dan bertambah banyak sehingga mampu menginfeksi
manusia.
4. Kebiasaan tidak memasak makanan dan air hingga matang atau mengisi air di
pengisian ulang air yang tidak tidak terjamin kebersihannya.

Tanda dan Gejala Diare


Gejala diare adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 kali atau lebih dalam sehari,
yang kadang disertai :
1. Muntah
2. Badan lesu atau lemah
3. Panas
4. Tidak nafsu makan
5. Darah dan lendir dalam kotoran
Faktor Penyebab Diare
Selain karena faktor kebersihan, penyebab diare yang menonjol adalah anemia
pernisiosa dan sindrom Zollinger-Ellison. Karsinoma dapat membentuk fitsula pada
calon transversum dan menyebabkan diare. Gastroenteritis virus dan infeksi Giardia
dapat pula menjadi penyebab diare yang menonjol. Sebagian besar lesi yang
menyebabkan diare terdapat dalam usus halus. Sindrom karsinoid, beragam polip
(terutama Peutz-Jeghers), dan ileitas regional juga penyebab diare yang penting. Diare
juga dapat terjadi karena peningkatan asupan cairan atau makanan yang massanya
besar,

hiposekresi

enzim-enzim

yang

diperlukan

bagi

pencernaan

makanan,

hipersekresi cairan dan enzim-enzim gastrointestinum, malapsorbsi berbagai zat,


terutama protein serta lemak, eksudasi pus yang dihasilkan oleh kolitis ulserativa dan
infeksi Salmonella atau Shigella, hipermotilitas akibat rangsangan pemakaian obat
pencahar, berbagai hormon (misalnya, peptida intestinal vasoaktif dan gastrin), dan
hipomotilitas karen disfungsi otonom seperti yang terjadi pada neuropati diabetik
(Diagnosis Banding di Layanan Primer, 2003).
Jenis-jenis Diare
1. Diare akut
Merupakan diare yang disebabkan oleh virus yang disebut Rotaviru yang ditandai
dengan buang air besar lembek/cair bahkan dapat berupa air saja yang
frekuensinya biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari) dan berlangsung kurang
dari 14 hari. Diare rotavirus ini merupakan virus usus patogen yang menduduki
urutan pertama sebagai penyebab diare akut pada anak-anak.
2. Diare persisten
Merupakan diare akut yang menetap, dimana titik sentral patogenesis diare
persisten adalah kerusakan mukosa usus. Penyebab diare persisten sama dengan
diare akut.

Metode Diagnosis
Cara apa pun yang dipakai (anatomi atau fisiologi), sebagian besar penyebab
diare dapat diingat sebelum anamnesis kepada pasien dilakukan. Kemudian kita dapat
melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang benar untuk menyingkirakan setiap
penyebab yang dicurigai. Kombinasi gejala dan tanda-tanda yang ditemukan sangat
membantu dalam mempersempit diagnosis banding. Sebagai contoh, diare kronis dan
lendir yang berlebihan tanpa darah menunjukkan kemungkinan irritable bowel syndrome.
Diare kronis dengan lendir dan darah menunjukkan kemungkinan kolitis ulserativa
(Diagnosis Banding di Layanan Primer, 2003).
Pemeriksaan fisik seringkali tidak memberikan hasil yang memuaskan tetapi
dapat mengungkapkan sumber terjadinya diare : hepar, rektum atau pelvis, pemeriksaan
fisik juga dapat menunjukkan jika diare itu merupakan tanda suatu penyakit sistematik
(misalnya, skleroderma atau hipertiroidisme). Pemeriksaan rektum (rectal toucher) dapat
mengungkapkan skibala atau fecal impaction. Pemeriksaan feses yang hangat untuk
memeriksa pus, pH (feses yang asam menunjukkan defisiensi laktosa), lemak serta seratserat daging, darah, telur cacing dan parasit sangat penting untuk dikerjakan (Diagnosis
Banding di Layanan Primer, 2003).
Pemeriksaan lain yang berguna :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Hitung darah lengkap (sindrom malabsorpsi).


Pemeriksaan feses yang telah diberi pencahar (parasit usus).
Pembuatan foto usus halus serial (sindrom malabsorpsi).
Aspirasi duodenum (giardiasis, Strongyloides).
Tes toleransi laktosa (defisiensi laktase).
Tes absorpsi D. Xylosa (syndrom malabsorpsi.
Gastrin serum (gastrinoma).
Asam 5-hidroksindoleasetat (5-HIAA) dalam urin (sindrom malabsorpsi, tumor

karsinoid).
9. Biopsi mukosa usus (sindrom malabsoprsi).
10. Kolonoskopi dan biopsi (kolitis ulserativa, kolitis amuba, kolitis granulomatosa).
11. Pemeriksaan feses untuk antigen Giardia (giardiasis).
12. Titer antibodi HIV (AIDS).
13. Angiogram (kolitis istemik).
14. Kultur untuk Clostridium difficile (kolitis pseudomembranosa).
15. Tes toleransi glukosa (enteropati diabetik).
Cara Penanggulangan
Beberapa cara untuk mencegah terjadinya diare, yaitu :

1.

Mencuci tangan dengan segera, setelah memegan sesuatu yang kotor, misalnya

2.
3.
4.
5.
6.

sehabis memegang kotoran bayi atau anak.


Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.
Memasak makanan dan minuman hingga matang.
Menutup makanan dengan tudung saji.
Meningkatkan penggunaan air bersih dan sanitasi lingkungan.
Menerapkan pola hidup sehat agar terhindar dari penyakit sistemik dan penyakit diare.
Cara pengobatan setelah terkena penyakit diare yaitu; karena bahaya diare

terletak pada dehidrasi maka penanggulangannya dengan cara mencegah timbulnya


dehidrasi dan rehidrasi intensif bila telah terjadi dehidrasi. Cairan rehidrasi oral yang
dipakai oleh masyarakat adalah air kelapa, air tajin, ASI, air teh encer, sup wortel, air
perasan buah, dan larutan gula garam (LGG). pemakaian cairan ini lebih dititik beratkan
pada pencegahan timbulnya dehidrasi, sedangkan bila terjadi dehidrasi sedang atau berat
sebaiknya diberi minum oralit. Oralit merupakan salah satu cairan pilihan untuk
mencegah dan mengatasi dehidrasi. Oralit sudah dilengkapi dengan elektrolit, sehingga
dapat menggantikan elektrolityang ikut hilang bersama cairan. Apabila diare masih belum
berhenti segeralah untuk berobat kepada dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

B.

ETIOLOGI
1.

Virus : Rotavirus, penyebab terbanyak pada diare akut.

2.

Bakteri : E coli, salmonella, shigella.

3.

Parasit (Entamuba tristositica, crypto sporadium)

Penyebab terpenting pada anak-anak : Shigella, Campylobacter jejuni dan Cryptosporidium,


Vibrio cholera, Salmonella, E. coli, rotavirus
C.

KLASIFIKASI DIARE

1.

Diare akut
Banyak menyerang pada anak dengan umur < 5 tahun, dapat terjadi dehidrasi. Gejala
dehidrasi akut :
Diare lebih dari 3 kali dengan konsistensi tinja cair, bersifat mendadak dan
berlangsung dalam waktu kurang dari 1 minggu dan banyak di sebabkan oleh agen
infeksius yang mencakup virus, bakteri dan potongan parasit.

2.

Diare kronik
Kondisi dimana terjadi peningkatan frekuensi BAB dan peningkatan konsistensi cair
dengan durasi 14 hari atau lebih. (Wholey & Wongs, 1994)

D. PATOFISIOLOGI
Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus
enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia
Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa
mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi
enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus
pada Gastroenteritis akut.
Penularan Gastroenteritis bisa melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang
lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan
minuman yang terkontaminasi.
Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan
yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus
meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus,isi rongga
usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat
toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi
diare. Gangguan multilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik.
Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (Dehidrasi) yang
mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis Metabolik dan Hipokalemia), gangguan
gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.
E. TANDA DAN GEJALA
1.

Sering buang air besar, tinja cair atau encer.

2.

Ada tanda dehidrasi: turgor jelek, ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa
kering.

3.

Kram abdominal.

4.

Demam

5.

Mual.

6.

Anorexia.

7.

Lemah,

8.

Pucat.

9.

Nadi dan pernafasan cepat.

10. Urin sedikit atau tidak sama sekali.


11. Pada diare yang dehidrasi berat disertai shock.
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan diagnostik diare dapat ditegakkan melalui ananmnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang.
1.

Beberapa petunjuk anamnesis yang mungkin dapat membantu diagnosis:


a. Bentuk feses (waterry diare atau disentri diare)
b.

Makanan dan minuman 6-24 jam terakhir yang dimakan atau diminum oleh
penderita

c.

Adakah orang lain sekitarnya menderita hal serupa, yang mungkin oleh karena
keracunan makanan atau pencemaran sumber air

d.

Dimana tempat tinggal penderita

e.

Siapa, misalnya: wisatawan asing patut dicurigai kemungkinan infeksi cholera,


E.coli, amebiasis, dan giardiasis; pola kehidupan seksual

2.

Pemeriksaan fisik antara lain:


a. Suhu tubuh
b.

Berat badan

c.

Status gizi

d. Tanpa dehidrasi
e. Kemungkinan komplikasi lain
3.

Pemeriksaan penunjang yang perlu dikerjakan antara lain:


a. Pemeriksaan tinja makroskopis dan mikroskopis.
b.

Biakan kuman untuk mencari kuman penyebab.

c.

Tes resistensi terhadap berbagai antibiotik.

d.

pH dan kadar gula jika diduga ada sugar intolerance.

e. Pemeriksaan darah darah lengkap


f.

Darah perifer lengkap, analisa gas darah dan elektrolit (terutama Na, Ca, K dan
P serum pada diare yang disertai kejang), anemia (hipokronik, kadang-kadang
nikrosiotik) dan dapat terjadi karena mal nutrisi/malabsrobsi tekana fungsi
sumsum tulang (proses imflemasi kronis), peningkatan sel-sel darah putih.

g.
h.

Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah untuk mengetahui faal ginjal.
Pemeriksaan elektrolit tubuh terutama kadar natrium, kalium, kalsium,
bikarbonat terutama pada penderita diare yang mengalami muntah-muntah,
pernapaan cepat dan dalam, kelemahan otot-otot, ilius paralitik.

i.

Duodenal intubation untuk mengetahui kuman penyebab secara kuantitatif dan


kualitatif terutama pada diare kronik

G.

KLASIFIKASI TINGKAT DEHIDRASI ANAK DENGAN DIARE


Yang dinilai
1.

Riwayat
Diare
Muntah
Rasa haus

B
Dehidrasi tidak
berat

C
Dehidrasi berat

< 4 x / hari cair 4 10 x / hr cair


Sedikit / tidak Sering sekali
Normal
Harus sesuai jika
di beri minum
Normal
rakus
Sedikit gelap

10 x / hr cair
Sangat sering
Tidak dapat minum

Periksa
Keadaan
umum

Sehat, aktif

Sangat mengantuk,
tidak sadar, lemah

Air mata
Mata

Ada
Normal

Tampak sakit,
mengantuk, lesu,
rewel, gelisah
Tidak ada
Cekung

Basah

Kering

Tidak ada
Kering dan sangat
cekung
Sangat kering

Normal

Agak cepat

Cepat & dalam

Air kemih
2.

A
Tanpa dehidrasi

Mulut /
lidah
Nafas
3.
Raba
Kulit di
cubit
Denyut
nadi
Ubun-ubun

Kembali normal Kembali lambat


Normal

Agak cepat

Normal

Cekung

Tidak BAK dalam 6


jam

Kembalinya sangat
lambat
Sangat cepat lemah,
tidak teraba
Sangat cekung

4 . Kehilangan
Berat badan

H.

< 40 gr / kg BB

40 100 gr / kgBB

> 100 gr / kgBB

KOMPLIKASI

1.

Dehidrasi

2.

Acidosis metabolik

3.

Hipokalemia

4.

Gangguan sirkulasi syok

5.

Masalah Gizi : malobsorbsi, kehilangan zat gizi secara langsung.


I.

PENGOBATAN
Prinsip pengobatan diare ialah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja
dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau
karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras dan sebagainya). Dalam garis besarnya
pengobatan diare dibagi dalam:
a.

Pengobatan kausal
Pada penderita diare antibiotik hanya boleh diberikan jika:
-

Ditemukan bakteri patogen pada pemeriksaan mikroskopik dan/atau biakan.

Pada pemeriksaan makroskopik /mikroskopik ditemukan darah pada tinja.

Secara klinis terdapat tanda-tanda yang menyokong adanya infeksi enteral.

Di daerah endemik kolera.

Pada neonatus jika diduga terjadi infeksi nasokomial.

b.

c.

Pengobatan simptomatik
-

Obat-obat anti diare.

Adsorbent.

Antiemetik.

Antipiretik.
Pengobatan cairan

Ada 2 jenis cairan, yaitu:


1)

Cairan rehidrasi oral (CRO)


Ada beberapa macam cairan rehidrasi oral:
-

Cairan rehidrasi oral dengan formula lengkap mengandung NaCl, KCl,


NaHCO3 dan glukosa penggantinya, yang dikenal dengan nama oralit.

Cairan rehidrasi oral yang tidak mengandung keempat komponen di atas,


misalnya larutan gula-garam (LGG), larutan tepung beras-garam, air tajin, air
kelapa, dan lain-lain caiaran yang tersedia di rumah, disebut CRO tidak
lengkap.

2)

Cairan rehidrasi parenteral (CRP)


Sebagai hasil rekomendasi Seminar Rehidrasi Nasional ke I s/d IV dan pertemuan
ilmiah penelitian diare, Litbangkes (1982) digunakan cairan Ringer Laktat
sebagai cairan rehidrasi parenteral tunggal untuk digunakan di Indonesia, dan
cairan inilah yang sekarang terdapat di puskesmas-puskesmas dan di rumahrumah sakit di Indonesia. Pada diare dengna penyakit penyerta (KKP< jantung,
ginjal) cairan yang dianjurkan adalah Half Strength Darrow Glukose yaitu cairan
Hartmann setengah dosis di dalam 2,5 % glukosa atau cairan Darrow setengah
dosis di dalam glukosa 2,5%, karena keduanya mengandung natrium, kalium,
klorida, laktat (basa), dan glukosa.
Kebutuhan cairan dapat dihitung sebagai berikut:
-

24 jam pertama:
Dehidrasi ringan; 180 ml/kg (sekitar 3 fl. oz per lb) per hari.
Dehidrasi sedang; 220 ml per kg (sekitar 4 fl. oz per lb) per hari
Dehidrasi berat; 260 ml per kg (sekitar 4 fl. oz per lb) per hari

Hari-hari berikutnya:

Kebutuhan normal sehari-hari adalah 140 ml per kg (sekitar 2,5 fl. oz per lb),
ditambah dengan penggantian pengeluaran cairan, yang dihitung secara kasar
lewat buang air besar atau lewat muntahnya. Semua cairan yang diberikan dalam
berbagai cara diatas harus dicatat dan dijumlahkan sertiap hari.
d.

Pengobatan diuretik
1.

Untuk anak kurang dari 1 tahun dengan BB kurang dari 7 kg, jenis makanannya
berupa:
-

Susu (ASI/ susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak
tak jenuh misalnya; LLM, almiron).

Makanan setengah padat (bubur susu) atau makanan padat (nasi tim) bila anak
tidak mau minum susu karena di rumah sudah biasa diberi makanan padat

Susu khusus yaitu susu yang tidak mengandung laktosa atau susu dengan
asam lemak berantai sedang/tidak jenuh,
ditemukan.

sesuai dengan kelainan yang

2.

Untuk anak diatas 1 tahun dengan BB lebih dari 7 kg, jenis makanannya berupa
makanan padat atau makanan cair/susu sesuai dengan kebiasaan makan di rumah.

J.
1.

PENATALAKSANAAN
Tanpa Dehidrasi

Penderita tanpa dehidrasi


Cairan rumah tangga, ASI diberikan semuanya, oralit diberikan sesuai usia, setiap kali buang
air besar atau muntah dengan dosis. :
Kurang dari 1 th

2.

50 100 cc

1 5 th

100 200 cc

75 th

150 300 cc

Dehidrasi tidak berat (ringan sedang)


Rehidrasi dengan oralit 75cc / kgBB dalam 4 jam pertama. Dilanjutkan pemberian kehilangan
cairan yang sedang berlangsung sesuai umur seperti di atas setiap kali buang air besar.

3.

Dehidrasi berat
Rehidrasi parenteral dengan cairan Ringer Laktat 100 cc /kgBB
Cara pemberian :
Kurang dari 1 th : 30cc / kgBB dalam 1 jam pertama, dilanjutkan 70cc/kgBB
dalam 5 jam berikutnya.
Lebih dari 1 th : 30cc / kgBB dalam jam pertama, dilanjutkan 70 cc/kgBB
dalam 2 jam berikutnya.
Minum diberikan jika pasien sudah mau minum 5cc / kgBB selama proses rehidrasi.
Kalau shock
Cairan RL 20cc / kgBB diberikan 2x, selanjutnya koloid 10cc / kgBB, bila tidak
teratasi baru diberikan inotropik.
Nutrisi
Anak tidak boleh di puasakan.
Makanan diberikan sedikit-sedikit tetapi sering (lebih kurang 6x sehari) rendah
serat, buah-buahan diberikan terutama pisang.
Antibiotik

Antibiotik sesuai hasil pemeriksaan penunjang, sebagai pilihan adalah


kotrimoxazol, amoxillin dan atau sesuai hasil uji sensitivitas.

Anti parasit : metronidazol.

Sumber :
1. http://www.slideshare.net/aminudinharahap/makalah-diare
2. Douglas, Collins. 2003. Diagnosis Banding di Layanan Primer. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC.
3. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19780/4/Chapter%20II.pdf
4. http://ppni-klaten.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=75:dca&catid=39:ppni-ak-sub