Anda di halaman 1dari 68

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana
tekanan sistolik di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg
(Smeltzer, 2001). Hipertensi di artikan sebagai peningkatan tekanan darah secara
terus menerus sehingga melebihi batas normal (Reeves, dkk., 2001)
Di dunia hamper 1 milyar orang atau 1 dari 4 orang dewasa menderita
tekanan darah tinggi. Tekanan darah merupakan penyakit kronis serius yang bisa
merusak organ tubuh. Setiap tekanan darah tinggi menyebabkan satu dari setiap 7
kematian ( 7 juta pertahun). Disamping menyebabkan kerusakan jantung, mata,
otak, dan ginjal. Berdasarkan data WHO (World Health Organization) dari 50%
penderita Hipertensi yang diketahui hanya 20 % yang mendapat pengobatan dan
hanya 12,5% yang diobati dengan baik (Adequately Treated Cases). Padahal
hipertensi merupakan penyebab utama penyakit jantung, otak, syaraf, kerusakan
hati

dan

ginjal

sehingga

membutuhkan

biaya

yang

tidak

sedikit

(http://www.info.sehat.com). Penderita hipertensi yang diperiksa di Puskesmas


dilaporkan teratur sebanyak 22,8 %, sedangkan tidak teratur sebanyak 77, 2 %.
Dari klien hipertensi dengan riwayat kontrol teratur dalam tiga bulan terakhir.
malah dilaporkan 100% masih mengidap hipertensi (Sjabani, 2008). Data rumah
sakit RK Charitas Palembang, penderita hipertensi selama bulan Juli 2007
sampai dengan Juni 2008 sebanyak 5,43 % dari jumlah pasien yang masuk
selama periode tersebut. Di banyak Negara saat ini, prevalensi hipertensi
meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup seperti merokok, obesitas,
inaktivitas fisik, dan stress psikososial.
Penyakit hipertensi memiliki tanda dan gejala dari penyakit yang sulit untuk
dideteksi. Untuk itulah penulis tertarik untuk mengambil kasus untuk karya tulis
ilmiah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Klien Tn S dengan Gangguan

2
Sistem Kardiovaskuler;

Hipertensi di Paviliyun Lukas II Rumah Sakit RK

Charitas Palembang.
A. Ruang Lingkup Penulisan
Karena keterbatasan waktu, pengetahuan, sumber-sumber serta kemampuan
dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis membatasi masalah hanya pada
Asuhan Keperawatan yang diberikan pada satu orang klien yaitu Asuhan
Keperawatan

Klien Tn

S dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler;

Hipertensi selama 2 hari dari tanggal 15 Juli 2008 sampai dengan 16 Juli 2008 di
Pavilyun Lukas II Rumah Sakit RK Charitas Palembang.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Agar penulis mampu memahami konsep dalam mengatasi masalah
kesehatan klien dengan gangguan sistem kardiovaskuler; hipertensi dengan
menggunakan proses keperawatan secara teoritis.
2. Tujuan Khusus
Agar penulis mampu :
a. Melakukan

pengkajian

pada

klien

dengan

gangguan

sistem

kardiovaskuler; hipertensi.
b. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan gangguan sistem
kardiovaskuler; hipertensi.
c. Menyusun rencana keperawatan pada klien dengan gangguan sistem
kardiovaskuler; hipertensi.
d. Melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan
keperawatan
e. Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang sudah dilakukan.
C. Metode Penulisan

3
Metode penulisan yang digunakan dalam menyusun karya tulis ilmiah ini
adalah metode deskriptif yaitu metode yang

bersifat menggambarkan suatu

keadaan secara objektif selama mengamati klien, mulai dari pengumpulan data
sampai melakukan evaluasi yang disajikan dalam bentuk naratif. Untuk
mendapatkan data yang diperlukan dalam karya tulis ilmiah ini penulis
menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :
1. Wawancara
Penulis melakukan wawancara langsung kepada klien dengan mengajukan
pertanyaan yang bersifat terbuka, sehingga terjadi interaksi antara perawat
dengan klien.
2. Observasi
Penulis mengadakan pengamatan langsung terhadap respon klien untuk
memperoleh data objektif.
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik secara langsung meliputi: inspeksi, palpasi, perkusi
auskultasi.
4. Studi Kepustakaan
Dalam penyusunan asuhan keperawatan serta konsep dasar tentang asuhan
keperawatan pada klien dengan hipertensi, penulis menggunakan beberapa
buku sumber yang dijadikan sebagai acuan teoritis.
5. Studi Dokumentasi
Untuk melengkapi data penulis mendapatkan data dan informasi dari status
kesehatan klien serta pemeriksaan diagnostik yang dilakukan di Rumah Sakit.

D. Sistematika Penulisan

4
Adapun sistematika penulisan Asuhan Keperawatan ini terdiri dari lima bab
yaitu : BAB I Pendahuluan, dalam bab ini penulis menjelaskan tentang latar
belakang masalah, ruang lingkup penulisan, metode penulisan, dan sistematika
penulisan. Bab II Tinjauan Teori, Bab ini penulis menjelaskan tentang landasan
teori medis dan konsep dasar asuhan keperawatan. Bab III Tinjauan Kasus, Bab
ini merupakan penerapan asuhan keperawatan secara langsung pada klien dengan
pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, daftar diagnosa
keperawatan, rencana tindakan, catatan keperawatan, dan catatan perkembangan.
Bab IV Pembahasan, bab ini berisi tentang kesenjangan yang terjadi dalam teori
dan kasus yang dikaji penulis dari setiap asuhan keperawatan yang meliputi :
pengkajian,

diagnosa

keperawatan,

rencana

keperawatan,

pelaksanaan

keperawatan dan evaluasi. Bab V Penutup, bab ini meliputi kesimpulan dan saran.

BAB II

TINJAUAN TEORI
A. Konsep dasar medik
1. Pengertian
Hipertensi diartikan sebagai peningkatan tekanan darah secara terus
menerus sehingga melebihi batas normal (Reeves, dkk., 2001).
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah klien di mana
tekanan sistoliknya di atas 140 mHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg
(Smelzer, dkk. 2001).
Hipertensi (tekanan darah tinggi) adalah penyakit regulasi vaskuler yang
terjadi karena malfungsi mekanisme kontrol tekanan arterial (SSP, sistem
renin, angiostensin, aldosteron, volume cairan ekstraseluler (Baughman,
2000).
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang abnormal dengan
sistolik lebih dari 140 mmHg dan diastolik lebih dari 90 mmHg (Corwin,
2000).
Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection,
Evacuation and Treatment of High Blood Pressure (JNC) sebagai tekanan
yang lebih tinggi dari 140/190 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat
keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah (TO) normal tinggi
sampai hipertensi maligna (Doenges. 1999).

5
2. Anatomi Fisiologi

a.

Anatomi

Jantung merupakan sebuah organ yang terdiri dari otot-otot jantung,


merupakan jaringan istimewa karena kalau dilihat dari bentuk dan

7
susunannya sama dengan otot serat lintang, tetapi cara bekerjanya
menyerupai otot polos yaitu diluar kemauan kita.
1) Bentuk
Bentuknya menyerupai jantung klien, bagian atasnya tumpul (pangkal
jantung) dan disebut juga basis kardis. Di sebelah bawah agak runcing
yang disebut apeks kardis.
2) Letak
Jantung terletak di dalam rongga dada sebelah depan (kavum
mediastinum anterior), sebelah kiri bawah dari pertengahan rongga
dada, di atas diafragma dan pangkalnya terdapat di belakang kiri
antara kosta V dan kosta IV, dua jari di bawah papilla mamae. Pada
tempat ini teraba adanya pukulan jantung yang disebut Ictus Cordis.
a) Batas atas jantung
: Interkostalis 2 (ICS 2)
b) Batas kiri jantung
: Mid sternum klavikula
c) Posisi (Apex/ujung)
: Mid Clavikula ICS 6 (ICS5-ICS6)
d) Batas bawah jantung
: ICS 5 ICS 6
e) Batas kanan jantung
: Mendekati sternum
3) Ukuran
Ukuran jantung lebih kurang sebesar genggaman tangan kanan dan
beratnya kira-kira 250-300 gram.
4) Lapisan Jantung
Jantung terbungkus oleh kantong yang longgar dan elastis
(pericardium) yang terdiri dari dua lapisan :
a) Lapisan sebelah dalam (pericardium visceral)
b) Lapisan sebelah luar (pericardium parietal)

b. Fisiologi
Fungsi jantung adalah memompa darah kaya oksigen ke dalam sistem
arteri (yang membawa ke sel-sel) dan menampung darah deoksigen dari
sistem vena dan meneruskannya ke paru untuk reoksigenasi. Fungsi arteri
kapiler, vena dan pembuluh limfe adalah membekukan darah ke dan dari
jaringan dan sel di seluruh tubuh.

8
Fungsi bilik jantung :
1) Atrium kanan : Menampung darah miskin oksigen dari tubuh melalui
vena kava superior serta interior darah kemudian
mengalir ke ventrikel kanan.
2) Vertikel kanan : Berupa pompa berotot, menanpung darah artrium
kanan dan memompanya ke paru melalui arteri
pulmoner.
3) Atrium Kiri

: Menerima darah kaya oksigen dari paru melalui


tempat vena pulmoner. Darah kemudian mengalir ke
ventrikel kiri.

4) Vantrikel Kiri : Bilik paling besar dan paling berotot, menerima darah
kaya oksigen dari paru melalui atrium kiri dan
memompanya ke dalam sistem sirkulasi melalui
aorta.
Bunyi Jantung
Satu siklus jantung ekivalen dengan satu denyut jantung lengkap, yaitu
sistole (kontraksi) dan diastole (relaksasi). Jantung yang berdenyut
menghasilkan empat bunyi. Dua bunyi pertama dapat di dengar dengan
melekatkan telinga pada dinding thoraks, atau seperti biasanya memakai
stetoskop. Kedua bunyi jantung pertama itu biasanya diucapkan berupa lubdup. Bunyi pertama, lub, kuat, lama dan bernada rendah dan disebabkan oleh
sistole ventrikel dan menutupnya katub atrioventrikular. Bunyi kedua, dup
lebih singkat dan lebih tajam dan disebabkan oleh menutupnya katub aorta
dan katub pulmoner karena darah cenderung mengalir kembali ke dalam
ventrikel selama diastole. Bunyi jantung ketiga terdengar pada sebagian besar
anak dan pada kira-kira 50% remaja. Bunyinya lemah, bernada rendah yang
paling jelas di apeks jantung dan lebih jelas pada inspirasi, apalagi setiap olah
raga. Pengisian ventrikel dengan cepat setelah katub atrioventrikuler terbuka.

9
Bunyi keempat atau atrial dapat di dengar pada keadaan tertentu,
sehubungan dengan kontraksi atrium.
Siklus Jantung
Siklus jantung adalah urutan kejadian dalam satu denyut jantung siklus
ini terjadi dalam dua fase : diastole dan sistole.
Diastole
Diastole adalah periode istirahat yang mengikuti periode kontraksi
pada awalnya :
1. Darah vena memasuki atrium kanan melalui vena cava superior dan
inferior.
2. Darah yang teroksigenasi masuk atrium kiri melalui vena pulmonalis.
3. Kedua kutub atrioventrikular (trikuspidalis dan mitralis) tertutup dan
darah dicegah untuk kembali masuk ke atrium, saat darah masuk ke dalam
ventrikel.
4. Katub pulmonalis dan aorta tertutup mencegah kembalinya darah dari
arteri pulmonalis kembali ke dalam ventrikel kanan dan dari aorta kembali
ke dalam ventrikel kiri, kemudian :
5. Dengan bertambah banyaknya darah yang memasuki kedua atrium,
tekanan didalamnya meningkat, dan ketika tekanan didalamnya lebih
besar dari vertikel, katub AV terbuka dan darah mulai mengalir dari atrium
ke dalam ventrikel.
Sistole
Sistole adalah periode kontraksi otot berlangsung selama 0,3 detik.
1. Dirangsang oleh nodus, sino-atrial, dinding antrium berkontraksi,
memeras sisa darah atrium ke dalam ventrikel.

10
2. Ventrikel melebar untuk menerima darah dari atrium dan kemudian mulai
berkontraksi.
3. Ketika tekanan dalam ventrikel melebihi tekanan dalam atrium, katub AV
menutup.
4. Ventrikel terus berkontraksi kutub pulmonalis dan aorta membuka akibat
peningkatan tekanan ini.
5. Darah menyembur keluar dari ventrikel kanan ke dalam arteria pulmonalis
dan darah dari ventrikel kiri menyembur ke dalam aorta.
6. Kontraksi otot kemudian berhenti dan dengan di mulainya relaksasi otot,
siklus baru dimulai.
2. Patofisiologi
a. Etiologi
1) Faktor lingkungan
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan
keluarga itu mempunyai resiko menderita hipertensi.
2) Usia
Insiden hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia, klien
yang berumur di atas 60 tahun, 50 60% mempunyai tekanan darah
lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg. Hal itu merupakan
pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya,
terjadi hilangnya elastisitas jaringan dan aterosklerosis pada orang tua
serta pelebaran pembuluh darah.

3) Jenis kelamin
Laki-laki mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi
lebih awal.
4) Stress

11
Stress akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah
jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatis. Adapun
stress ini dapat berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi
dan karakteristik personal
5) Obesitas
Meningkatnya berat badan pada masa kanak-kanak atau usia
pertengahan, resiko tinggi untuk terkena hipertensi.
6) Merokok
Yang diduga menjadi penyebab adalah pengaruh nikotin terhadap
pelepasan katekolamin oleh sistem saraf otonom.
7) Diabetes mellitus
8) Konsumsi garam yang berlebihan.
b. Klasifikasi Penyakit
Berdasarkan etiologinya hipertensi di bagi menjadi 2 yaitu :
1) Hipertensi Esensial (primer)
Penyebab tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhi
seperti genetika, lingkungan, hipeaktivitas, susunan saraf simpatik,
sistem rennin angiotensin, efek dari sekresi Na, obesitas, merokok dan
stress.
2) Hipertensi Sekunder
Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal / vakuler renal.

Klasifikasi Tekanan darah orang dewasa berusia 18 Tahun ke atas


menurut The Fifth Report of The Joint National Comitee on Detection,
Evaluation and Treatment of High Blood Pressure. Terlihat dalam tabel di
bawah ini :

12
Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan darah orang dewasa berusia 18 Tahun Ke
atas
Sistolik dalam
Diastolik dalam
Kategori
mmHg
mmHg
Normal
< 130
< 85
Normal Tinggi
130-139
85-89
Hipertensi
Stadium 1 (ringan)
Stadium 2 (sedang)
Stadium 3 (berat)
Stadium 4 (sangat berat)
Tabel 2.2 Klasifikasi Hipertensi
Organization)
Klasifikasi

140-159
160-179
180-209
120
menurut

Normotensi
Hipertensi ringan
Hipertensi perbatasan
Hipertensi sedang dan berat
Hipertensi terisolasi
Hipertensi sistolik perbatasan

90-99
100-159
110-119
120
WHO

Sistolik
(mmHg)
< 140
140-180
140-160
>180
>140
140-100

(Word Health
Diastolik
(mmHg)
<90
90-105
90-95
>105
< 90
<90

c. Proses Penyakit
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Rangsangan pusat
vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah
melalui sistem saraf simpatik ke ganglia simpatis. Pada titik ini neuron
pre ganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf
pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
norepinefrin mengakibatkan kontriksi pembuluh darah. Berbagai faktor
seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh
darah terhadap rangsang vasokonstriktor.

13
Pada saat bersamaan sistem saraf simpatik merangsang pembuluh
darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medula adrenal
mensekresi epinefrin yang menyebabkan vasokontriksi, penurunan aliran
darah ke ginjal menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang
pembentukan angiotensin I yang kemudian di ubah menjadi angiotensin
II, suatu vasokonstriktor kuat yang pada gilirannya merangsang sekresi
striktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh
korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh
tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler, semua
faktor tersebut cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Perubahan struktural dan fungsional sistem pembuluh darah perifer
bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia
lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas
jaringan kuat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah,
yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang
pembuluh darah.
Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya
dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume
secukup), mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan
tahanan perifer.

d. Manifestasi klinik
1) Meningkatkan tekanan darah > 190/90 mmHg
2) Sakit kepala
3) Epitaksis

14
4)
5)
6)
7)

Pusing/migraine
Rasa berat ditengkuk
Lemah, lelah
Mata berkunang-kunang

e. Komplikasi :
1) Gagal ginjal
2) Stroke
3) Infark myocardium
4) Penyakit arteri koroner
5) Gagal jantung
3. Pemeriksaan Diagnostik
a. BUN / Kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal
b. Glukosa : hiperglikemia (diabetes melitus adalah pencetus hipertensi)
dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan
hipertensi).
c. Kolesterol

dan

trigliserida

serum

peningkatan

kadar

dapat

mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan plak ateromatosa


(efek kardiovaskuler)
d. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisyaratkan disfungsi ginjal dan /
atau adanya diabetes.
e. Foto dada : dapat menunjukkan obstruksi klasifikasi pada area katub;
deposit pada dan/atau katub aorta ; pembesaran jantung.
f. EKG : dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan
konduksi, catatan ; luas, peninggian gelombang P adalah salah salah satu
tanda dini penyakit jantung hipertensi.
4. Penatalaksanaan
a. Intervensi Terapeutik

15
Modifikasi gaya hidup sebagai terapi awal
1) Penurunan berat badan, jika berat badan sebelumnya lebih dari 10%
berat badan ideal.
2) Membatasi alkohol (tidak lebih dari 30 cc etanol per hari)
3) Melakukan latihan aerobik tiga kali per minggu
4) Mengurangi asupan natrium, kalsium dan magnesium yang dianjurkan
setiap hari ke dalam diet.
5) Berhenti merokok
6) Mengurangi diet lemak dan kolesterol yang tersaturasi
b. Intervensi farmakologis
1) Obat-obatan antihipertensi, meskipun gaya hidup sudah berubah,
tekanan darah tetap 140/90 mmHg atau lebih selama 3 sampai 6 bulan
bergantung pada kondisi klien, obat-obatan yang mungkin meliputi
diuretik, penyekat beta-adrenergik, penyekat alfa-reseptor, inhibitor
enzim yang mengkonversi angiotensin (ACE) dan antagonis kalsium
(penyekat saluran kalsium).
2) Jika hipertensi tidak terkontrol dengan obat pertama dalam 1 sampai 3
bulan, tiga pilihan berikut dapat dipertimbangkan :
a) Jika klien patuh minum obat dan tidak mengalami efek samping,
dosis obat tersebut dapat ditingkatkan
b) Jika klien mengalami reaksi yang merugikan, kelas obat yang lain
dapat menggantikannya
c) Obat kedua dari kelas yang lain dapat ditambahkan, jika
penambahan obat kedua menurunkan tekanan, maka obat pertama
harus dihentikan secara perlahan.
Intervensi Keperawatan :
Pemantauan :
1) Pantau tekanan darah klien pada interval yang teratur
2) Pantau respon klien terhadap terapi obat.

16
3) Pantau berat badan dan diet klien
4) Pantau urinalisa untuk proteinuria, tanda keterlibatan ginjal
5) Pantau adanya tanda-tanda penyakit organ target.
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a.

Aktivitas/istirahat
Gejala

Kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup


monoton

Tanda

Frekuensi

jantung

meningkat,

perubahan

irama jantung, takipnea


b.

Sirkulasi
Gejala

Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit


jantung

koroner/katup

dan

penyakit

serebrovaskuler
Tanda

kenaikan Tekanan darah (pengukuran serial


dari kenaikan tekanan darah diperlukan untuk
menegakkan diagnosis)

c. Integritas EGO
Gejala

Riwayat perubahan kepribadian, ansietas,


depresi, euvoria, atau marah kronik (dapat
mengindikasikan kerusakan serebral).
Faktor-faktor

stress

multiple

(hubungan,

keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan)


Tanda

Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan


kontinu perhatian, tangisan yang meledak.

d.

Eliminasi

17
Gejala

Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu


(seperti

infeksi/obstruksi

atau

riwayat

penyakit ginjal masa yang lalu).


e.

Makanan/Cairan
Gejala

Makanan yang disukai yang dapat mencakup


makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi
kolesterol (seperti makanan yang digoreng,
keju, telur).

Tanda
f.

Berat badan normal atau obesitas

Keluhan pening/pusing

Neurosensori
Gejala

Berdenyut, sakit kepala suboksipital (terjadi


saat bangun dan menghilang secara spontan
setelah beberapa jam). Episode bebas dan /
atau

kelemahan

pada

satu

sisi

tubuh.

Gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan


kabur). Episode epistaksis.
Tanda

Status

mental

perubahan

keterjagaan,

orientasi, pola/isi bicara, efek, proses pikir


atau memori (ingatan).
Respon

motorik

Penurunan

kekuatan

genggaman tangan dan/atau refleks tendon


dalam.
Perubahan-perubahan retinal optik : dari
sklerosis / penyempitan arteri ringan sampai
berat dan perubahan sklerotik dengan edema

18
atau papiledema, eksudat dan hemoragi
tergantung pada berat / lamanya hipertensi.
g.

Nyeri / Ketidaknyamanan
Gejala

Angina (Penyakit arteri koroner/keterlibatan


jantung). Sakit kepala oksiptal berat seperti
yang pernah terjadi sebelumnya.

h. Pernapasan (secara umum berhubungan dengan efek kardiopulmonal


tahap lanjut dari hipertensi menetap/berat)
Gejala

Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas /


kerja. Takipnea, ortopnea, dispnea, nokturnal
parokasmal, bentuk dengan / tanpa pembentukan sputum. Riwayat merokok.

Tanda

Distres respirasi/penggunaan otot aksesori


pernapasan

bunyi

napas

tambahan

(krakles/mengi) sianosis.
i.

Keamanan
Keluhan/Gejala

Gangguan koordinasi/cara berjalan

j. Pembelajaran/Penyuluhan
Gejala

Faktor-faktor
aterosklerosis,

risiko keluarga
penyakit

:Hipertensi,

jantung, diabetes

mellitus, penyakit serebrovaskulars / ginjal.


Faktor-faktor risiko etnik, seperti orang
Afrika-Amerika, Asia Tenggara.

19

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
c. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan
iskemia
d. Resiko tinggi terhadap gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan
sirkulasi darah tidak stabil.
e. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan rencana pengobatan
berhubungan dengan keterbatasan kognitif.
3. Rencana Tindakan dan Rasionalisasi
a. Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral.
Hasil yang diharapkan:
o

Klien melapor nyeri/ketidaknyamanan hilang/terkontrol

Klien dapat mengikuti metode yang diberikan untuk mengurangi


nyeri.

Intervensi :
1) Pertahanan tirah baring selama fase akut
Rasionalisasi : Meminimalkan stimulasi / meningkatkan relaksasi.
2) Berikan tindakan nonfarmakologik untuk menghilangkan sakit kepala
Rasionalisasi : Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler
serebral dan dapat memperlambat/memblok respon
simpatis efektif.
3) Bantu klien dalam ambulasi sesuai kebutuhan
Rasionalisasi : Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan
dengan sakit kepala
4) Beri cairan, makanan lunak, perawatan mulut yang teratur bila terjadi
pendarahan hidung/kompres hidung dilakukan untuk menghentikan
pendarahan.
Rasionalisasi :

Dapat mengganggu menelan atau membutuhkan


nafas dengan mulut, menimbulkan stagnasi sekresi

oral dan mengeringkan membran mukosa.


5) Kolaborasi dengan tim medik untuk memberikan analgesik

20
Rasionalisasi :

Menurunkan

atau

mengontrol

nyeri

dan

menurunkan rangsangan sistem saraf simpatis.


b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Hasil yang diharapkan :
o Klien melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat
diukur.
o Klien berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan
Intervensi0
1) Kaji respon klien terhadap aktivitas
Rasionalisasi : Menyebutkan
parameter,

membantu

dalam

mengkaji respon fisiologis terhadap stress dan


aktivitas.
2) Instruksikan klien tentang penghematan energi
Rasionalisasi : Tehnik
penghematan
energi,

mengurangi

penggunaan energi juga membantu keseimbangan


antara suplai dari kebutuhan O2
3) Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas perawatan diri secara
bertahap jika dapat ditoleransi
Rasionalisasi : Kemajuan aktivitas bertahap dapat mencegah
peningkatan kerja jantung tiba-tiba kemandirian
dalam melakukan aktivitas.
c. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan
Iskemia.
Hasil yang diharapkan :
o Irama dan frekuensi jantung stabil
o Tekanan darah dapat dipertahankan dalam batas normal
Intervensi :
1) Pantau tekanan darah ukur pada kedua tangan / paha untuk evaluasi
awal

21
Rasionalisasi :

Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran


yang telah lengkap tentang keterlibatan/bidang

masalah vaskuler
2) Catat keberadaan kualitas denyut sentral dan vaskuler
Rasionalisasi : Denyut karotis, jugularis, radiasi dan femoralis
mungkin teramati terpalpasi
3) Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler
Rasionalisasi : Adanya pucat dengan kulit lembab dan massa
pengisian kapiler lambat mungkin berkaitan dengan
vasokontriksi / mencerminkan dekompensasi /
menurunnya curah jantung
4) Catat adanya edema, sianosis.
Rasionalisasi : Dapat mengidentifikasi gagal jantung, kerusakan
ginjal/vaskuler
5) Berikan lingkungan yang tenang, nyaman, kurangi aktivitas /
keributan lingkungan batasi pengunjung dan lamanya tinggal
Rasionalisasi :
Menurunkan stress dan ketegangan

yang

mempengaruhi tekanan darah dan perjalanan


penyakit hipertensi
d. Resiko tinggi terhadap gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan
sirkulasi darah yang tidak stabil.
Hasil yang diharapkan :
o Tekanan darah dapat memperhatikan dalam batas normal 90/60
140/90 mmHg
Intervensi :
1) Pantau tekanan darah setiap 4 jam
Rasionalisasi : Untuk mengevaluasi keefektifan terapi
2) Bila klien di terima krisis hipertensi berikan agen antihipertensi yang
diresponkan dan evaluasi keefektifannya
Rasionalisasi :
Penurunan cepat tekanan darah penting untuk
menghalangi kerusakan pada otak, ginjal, mata
dan jantung

22
3) Ikuti kewaspadaan khusus bila pemberiaan obat antihipertensi darurat
secara IV
Rasionalisasi :

Tindakan-tindakan ini menjamin keamanan dan


terapi obat efektif

4) Beri tahu dokter bila pengeluaran urine dibawah 30 ml/jam


Rasionalisasi :
Hal ini dapat menandakan insufisiensi ginjal.
Intervensi untuk mencegah kerusakan ginjal
permanen.
e. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan rencana pengobatan
berhubungan dengan keterbatasan kognitif.
Hasil yang diharapkan :
o Klien mengatakan paham tentang proses penyakit dan regimen
pengobatan
o Klien dapat mengidentifikasikan efek samping obat dan kemungkinan
komplikasi
Intervensi
1) Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar. Termasuk orang terdekat.
Rasionalisasi :
kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa
karena perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi
minat pasien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan,
dan prognosis.
2) Tetapkan dan nyatakan batas tekanan darah normal, jelaskan tentang
hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah, ginjal dan otak.
Rasionaliasi

memberikan

dasar

untuk

pemahaman

tentang

peningkatan tekanan darah dan mengklarifikasikan istilah medis yang


sering digunakan.

23
3) Bantu

klien

dalam

mengidentifikasikan

faktor-faktor

resiko

kardiovaskuler yang dapat diubah, misalnya obesitas, diet tinggi lemak


jenuh, dan kolsterol, pola hidup monoton, merokok, dan minum
alkohol (lebih dari 60 cc/hari dengan teratur) pola hidup stress.
Rasionalisasi : faktor-faktro resiko ini telah menunjukkan hubungan
dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler serta ginjal.
4) Atasi masalah pasien untuk mengidentifikasi cara dimana perubahan
gaya hidup yang tepat dapat dibuat untuk mengurangi faktor-faktor di
atas.
Rasionalisasi : faktor-faktor resiko dapat meningkatkan proses
penyakit atau memperburuk gejala.
5) Bahas pentingnya menghentikan kebiasaan merokok dan bantu klien
dalam membuat rencana untuk berhenti merokok.
Rasionalisasi : nikotin meningkatkan pelepasan

katekolamin,

mengakibatkan peningkatan frekuensi jantung, tekanan darah dan


vasokontriksi, mengurangi oksigenasi jaringan, dan meningkatkan
beban kerja miokardium.
6) Jelaskan pentingnya mempertahankan pema-sukan cairan yang tepat,
jumlah

yang

diperbolehkan,

pembatasan

seperti

kopi

yang

mengandung kafein, natrium (makanan asin).


.
4. Evaluasi
Evaluasi keperawatan pada kasus Gangguan Sistem Kardiovaskuler ;
Hipertensi adalah resiko penurunan curah jantung tidak terjadi, intoleransi
aktivitas dapat teratasi, rasa sakit kepala berkurang bahkan hilang, klien
paham mengenai kondisi penyakitnya, perfusi jaringan kembali normal
ditandai dengan tekanan darah dalam batas normal.

24
5. Discharge Planning
a. Berikan dorongan partisipasi aktif klien dalam program, termasuk
pemantauan mandiri tekanan darah dan diet untuk meningkatkan
kepatuhan.
b. Berikan dorongan pada klien untuk tidak menggunakan alkohol karena
alkohol dapat memberikan efek sinergis dengan obat.
c. Jangan anjurkan penggunaan tembakau dan produk nikotin.
d. Berikan klien informasi tertulis mengenai efek yang diperkirakan serta
efek samping obat
e. Ajarkan klien cara untuk mengukur tekanan darah mandiri
f. Ajarkan diet rendah natrium dan dapatkan kerja sama klien dalam
mengarahkan kembali gaya hidup agar sesuai dengan panduan terapi.

C. Patoflow Diagram Kasus

25

26

BAB III
TINJAUAN KASUS
KAJIAN KEPERAWATAN

A.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Nama mahasiswa yang mengkaji

: Agnes Susiana

Program Studi

: DIII Keperawatan

Unit

: Penyakit Bedah

Tgl Pengkajian

: 15 Juli 2008

Ruang Kamar

: Lukas II/18-1

Waktu Pengkajian

: 07.00 Wib

Auto Anamnese

: Klien

Tgl. Masuk RS : 9 Juli 2008

1. IDENTIFIKASI
a. Klien
Nama Initial

: Tn S

Tempat/ Tgl Lahir (umur)

: 70 Tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Status Perkawinan

: Duda

Jumlah Anak

: -

Agama/ Suku

: Budha/Thiongha

27
Warga Negara

: Indonesia

Bahasa yang Digunakan

: Indonesia

Pendidikan

: Tamat SLTP

Pekerjaan

: Pedagang

Alamat Rumah

: Jl. Padmajaya 105

b. Penanggung jawab
Nama

27

: Ny T

Alamat Rumah

: Jl. Padmajaya 105

Hubungan dengan klien : Kakak kandung


2. DATA MEDIK
a. Dikirim Oleh
b. Diagnosa Medik

UGD

1) Saat Masuk

Hipertensi

2) Saat Pengkajian

Hipertensi

Keadaan Sakit

Klien tampak sakit sedang

Alasan

posisi duduk dan aktif, alat medik yang

3. KEADAAN UMUM
a.

digunakan Infus Asering 20 tts/mnt di


tangan kiri.
4. TANDA TANDA VITAL
a. Kesadaran
1) Kualitatif
: Compos mentis
2) Kuantitatif
:
Skala Coma Glasgow :

> Respon motorik

:6

> Respon bicara

:5

> Respon Membuka Mata

:4

Jumlah

15

28
Kesimpulan

: Compos mentis

3) Flapping tremor/ asterixis : Negatif


b. Tekanan darah

: 180/100 mmHg
180 2(100)
126,6 mmHg = 126,6 mmhg
3

MAP

Kesimpulan

: Perfusi ginjal tidak memadai


: 36 oC, axillar
: - Frekuensi : 18 x/mnt

c. Suhu
d. Pernafasan

5. PENGUKURAN
a. Tinggi badan
b. Berat badan

- Irama

: teratur

- Jenis

: dada

: 160 cm
: 48 kg
48
19,2 mmHg
(1,60) 2

IMT

Kesimpulan

: Berat badan klien normal

6. GENOGRAM

70

= Perempuan

= laki-laki meninggal

= laki-laki

= perempuan meninggal

= klien

= Riwayat Hipertensi

------- = tinggal serumah

Kesimpulan : Klien tinggal dengan adik perempuannya, dalam keluarga ada riwayat
penyakit hipertensi yaitu ibunya

29

70

7. KAJIAN POLA KESEHATAN


a. Persepsi Kesehatan Pemeliharaan Kesehatan
Riwayat Penyakit yang Pernah Dialami
Klien mengatakan sudah dua kali dirawat di rumah sakit dengan
hipertensi yaitu pada tahun 2004 dan tahun 2007
1) Data Subyektif
a) Keadaan sebelum sakit
Klien mengatakan mempunyai penyakit hipertensi sejak 5
tahun yang lalu mempunyai kebiasaan merokok sejak umur 17
tahun, satu hari habis 2 bungkus rokok, minum kopi 3 gelas
sehari, suka makan makanan yang asin seperti ikan asin dan
teri. Klien mengatakan sudah masuk rumah sakit dua kali dan
masih makan makanan yang asin, masih merokok dan minum
b)

kopi. Klien juga mengatakan tidak pernah berolah raga.


Keadaaan sejak sakit :
Klien mengatakan tanggal 9 Juli 2008 yang lalu, setelah
bangun tidur, kepala pusing, perut mual, badan terasa lemah,
kemudian klien pergi ke dokter praktek, kemudian dianjurkan
untuk ke rumah sakit. Pukul 11.00 Wib klien masuk ke BGD
Rumah Sakit RK Charitas untuk opname. Saat pengkajian
pukul 07.00 wib, klien mengeluh sakit kepala, pendengaran
berkurang, klien tampak memegangi kepalanya, skala nyeri
klien 4, ekspersi wajah klien tampak meringis.

2) Data Obyektif
Observasi
Kebersihan rambut bersih, berwarna hitam, beruban, kulit
kepala, bersih, tidak ada lesi, tidak ada ketombe, kebersihan kulit,
bersih tidak ada lesi, higiene rongga mulut bersih dan tidak berbau,

30
kebersihan genetalia bersih tidak ada peradangan, kebersihan anus
bersih, tidak ada haemoroid.
b. Kajian Nutrisi Metabolik
1) Data Subjektif
a) Keadaan Sebelum Sakit
Klien mengatakan makan 3 x sehari, jenisnya nasi, lauk,
sayur. Suka makan makanan yang asin seperti ; ikan asin dan
teri sejak kecil. Minum air putih 1.000 1.200 cc/hari dan
minum air kopi habis 3 gelas (600 cc) per hari.
b) Keadaan Sejak Sakit
Saat klien masuk rumah sakit, klien mengeluh perutnya
mual, tidak nafsu makan dan makan habis porsi makan yang
disediakan rumah sakit. Pada saat pengkajian tanggal 15 Juli
2008, klien mengatakan tidak mual lagi dan nafsu makan sudah
normal. Klien makan 3 x sehari, klien juga mampu
menghabiskan porsi yang disediakan rumah sakit. Klien minum
air putih habis 6 gelas, selama di rumah sakit klien tidak
minum kopi.
2) Data Objektif
a)
Observasi
Pada saat pengkajian, klien tampak menghabiskan satu
porsi makanan yang disediakan rumah sakit.
b)

Pemeriksaan Fisik
Keadaan rambut berwarna hitam beruban, tipis dan tidak
rontok, hidrasi kulit, lembab, palpebrae tidak terdapat edema,
conjungtiva an anemis, sclera an ikterik, hidung tidak terdapat
sekret dan tidak ada polip, mukos tidak ada peradangan, rongga

31
mulut bersih, tidak tampak sariawan, gigi geligi tidak utuh, gigi
palsu tidak ditemukan, kemampuan mengunyah keras, klien
mampu makan buah apel, lidah bersih, tonsil tidak ditemukan
pembesaran, pharing tidak ada peradangan, kelenjar getah
bening leher tidak terdapat pembesaran, kelenjar parotis tidak
ada pembesaran, kelenjar tyroid, tidak terdapat benjolan,
Pemeriksaan abdomen inspeksi

bentuk simetris, bayangan

vena, tidak ditemukan, benjolan vena tidak ditemukan,


auskultasi, peristaltik usus 18 x/mnt, palpasi tidak terdapat
tanda nyeri umum, tidak ada massa, hidrasi kulit kering, tidak
ada nyeri tekan R Suprapubica, hepar tidak terdapat
pembesaran, lien tidak ditemukan pembesaran, perkusi
tympani, ascites negatif, kelenjar limfe inguinal tidak ada
pembesaran. Pada pemeriksaan kulit; spider naevi, uremic frost,
icterik, edema negatif, dan tidak ada tanda-tanda radang dan
tidak ada lesi.
c) Terapi
IVFD

: Asering 20 tts / menit

c. Pola Eliminasi
1) Data Subjektif
a)

Keadaan Sebelum Sakit


Klien mengatakan BAB 1 kali sehari, warna kuning
kecoklatan, lembut, jumlahnya sedang, bau khas, BAK 5 -6 kali
sehari warna kuning jernih.

b)

Keadaan Sejak Sakit


Saat masuk rumah sakit tanggal 09/7/2008, klien
mengatakan belum BAB, baru setelah hari ketiga dirawat klien

32
dapat BAB dengan lancar. Saat pengkajian tanggal 15 Juli 2008
klien mengatakan BAB lancar, warnanya kuning kecoklatan,
lembek, bau khas, BAK 5-6 kali.
2) Data Objektif
a)
Observasi
Pada saat pengkajian klien tampak ke kamar mandi untuk
BAB, warnanya kuning kecoklatan, bau khas, lembek.
b)

Pemeriksaan Fisik
Peritaltik usus 18 x/menit, palpasi suprapubika kandung kemih
kosong, nyeri ketuk ginjal kiri dan kanan negatif, mulut urethra,
bersih, pada pemeriksaan anus tidak ada peradangan, fisura
negatif, hemoroid negatif, prolapsus recti negatif, fisura negatif.

d. Pola Aktivitas dan Latihan


1)

Data Subjektif
a)

Keadaan Sebelum Sakit,


Klien mengatakan semua aktivitas dapat dilakukan
secara mandiri seperti makan, mandi dan berpakaian, dan

b)

klien tidak pernah berolah raga karena sibuk bekerja.


Keadaan Sejak Sakit
Saat masuk rumah sakit, klien mengatakan badannya
lemah, semua aktivitas dibantu oleh keluarga dan perawat.
Saat pengkajian tanggal 15 Juli 2008 jam 07.00 Wib klien
mengatakan dapat melakukan aktivitas secara mandiri
seperti makan, BAB dan BAK.

2) Data Objektif
a)
Observasi
Aktivitas harian klien seperti makan, mandi, buang air
kecil buang air besar, mobilisasi di tempat tidur, dan
ambulansi dapat beraktivitas secara mandiri, sedangkan

33
untuk berpakaian dan kerapian, klien dibantu orang lain.
Postur tubuh klien agak bungkuk, dan gaya jalan seimbang,
tidak ada anggota gerak yang cacat, tidak ada fiksasi dan
thyroidektomi.
b)

Pemeriksaan Fisik
Perfusi pembuluh perifer kuku

kembali dalam 2 detik.

Pemeriksaan thoraks dan pernafasan , inspeksi bentuk thoraks


simetris, stridor, dypsnea deffort dan sianosis negatif, palpasi
vocal fremotus kiri dan kanan teraba sama, perkusi sonor, batas
paru hepar ICS 5, Auskultasi suara nafas vesikuler, suara ucapan
jelas dan tidak ada suara tambahan.
Pemeriksaan jantung, inspeksi ictus cordis tampak pada ICS
5 dan klien tidak menggunakan alat pacu jantung, palpasi ictus
cordis teraba pada ICS 5 dan thrill negatif, perkusi batas atas
jantung ICS 2, batas kanan jantung linea strenalis kanan, batas
kiri jantung linea medio klavikula, auskultasi bunyi jantung IIA,
IIP, IT, IM semuanya bunyi tunggal, bunyi jantung III Irama
gallop negatif, murmur negatif, HR ; 84 x/menit.
Pemeriksaan lengan dan tungkai, atrofi otot negatif, rentang
gerak negatif, tidak ada mati sendi dan kaku sendi, uji kekuatan
otot kiri dan kanan pada skala 5. Reflex fisiologik baik, mampu
menggenggam tangan kiri dan kanan, reflek patologik babinski
kiri dan kanan negatif, clubbing jari-jari dan varices tungkai
negatif, columna vertebralis inspeksi kelainan bentuk tidak
ditemukan, palspasi nyeri tekan negatif, N.III IV VI bola
mata klien dapat digerakkan ke segala arah N VIII Rombeng
test negatif, N. XI mengangkat bahu dengan baik, kaku duduk
negatif.

34
e. Pola Tidur dan Istirahat
1) Data Subjektif
a)
Keadaan sebelum sakit
Klien mengatakan jarang tidur siang, tidur malam hari
6 -7 jam, tidak pernah menggunakan obat tidur dan tidak ada
gangguan pola tidur. Klien tidur siang selama 1 jam.
b)

Keadaan sejak sakit


Saat masuk rumah sakit tanggal 9 Juli 2008, klien
mengatakan tidak bisa tidur karena nyeri kepala, saat
pengkajian tanggal 15 Juli 2008, Klien mengatakan tidak ada
gangguan tidur, tidur siang 2 jam dan malam 8 jam.

2) Data Objektif
Observasi
Ekspresi wajah mengantuk negatif dan tidak banyak menguap,
palpebrae inferior tidak berwarna gelap.
f. Pola Kognitif Perseptual
1)

Data Subjektif
a)
Keadaan Sebelum Sakit
Klien mengatakan pendengarannya berkurang sejak
umur 16 tahun, karena gendang telinganya kanan pecah
sehingga

mengalami

masalah

dalam

berkomunikasi,

penglihatannya agak kabur, sehingga apabila membaca tulisan


kecil harus menggunakan kaca mata.

b)

Keadaan Sejak Sakit


Saat masuk rumah sakit tanggal 9 Juli 2008, klien
mengatakan pendengarannya berkurang, sehingga mengalami
gangguan komunikasi. Saat pengkajian tanggal 15 Juli 2008

35
Klien mengatakan pendengarannya berkurang akibat gendang
telinganya pecah saat umur 16 tahun dan klien mengalami
masalah komunikasi dengan perawat.
2) Data Objektif
a)
Observasi
Klien tidak tampak menggunakan alat bantu penglihatan
karena tidak membawa kaca mata dan tidak menggunakan
alat bantu pendengaran.
b)

Pemeriksaan Fisik
Penglihatan cornea jernih tidak ada katarak, visus dapat
membaca tulisan dengan ukuran huruf 28 font pada jarak 50
cm, pupil isokor, lensa mata jelas, Tekanan intra ocular (TIO)
kanan kiri sama, Pendengaran pina simetris, canalis jernih
tidak terdapat serumen, membran tympani tidak utuh, tes
pendengaran telinga kanan kurang, NI : klien mampu
menghidu bau minyak kayu putih, NII klien mampu membaca
tulisan ukuran 28 font pada jarak 50 cm, N V sensorik klien
mampu merasakan gerakan kassa pada wajah dengan mata
tertutup, N VII sensorik klien mampu merasakan manis pada
teh manis, N VIII pendengaran, klien tidak mampu
mendengar gesekan rambut pada telinga kanan, Tes Romberg
klien tidak mampu berdiri dengan satu kaki.

g. Pola Persepsi Diri / Konsep Diri


1) Data Subjektif
a)

Keadaan sebelum sakit


Klien mengatakan seorang duda dan bekerja sebagai
pedagang, dan klien
tidak merasa putus asa.

menerima keadaan sekarang ini dan

36
b)

Keadaan sejak sakit,


Saat pengkajian tanggal 15 Juli 2008, klien mengatakan
tidak merasa putus asa dan malu dengan keadaanya sekarang.

2) Data Objektif
a)

b)

Observasi
Kontak mata cukup, rentang perhatian penuh, suara dan cara
bicara jelas, postur tubuh agak bungkuk
Pemeriksaan Fisik
Kelainan bawaan yang nyata tidak ditemukan, abdomen,
bentuk simetris, bayangan vena tidak ada, benjolan massa
tidak teraba, kulit : Lesi kulit tidak ada

h. Pola Peran dan Hubungan dengan Sesama


1) Data Subjektif
a)

Keadaan sebelum sakit


Klien mengatakan tinggal dengan adik perempuannya,
hubungan klien dengan keluarga, masyarakatsekitar rumah
terjalin dengan baik.

b)

Keadaan sejak sakit ,


Saat masuk rumah sakit tanggal 9 Juli 2008, klien
mengatakan hubungan dengan keluarga harmonis. Pada saat
pengkajian tanggal 15 Juli 2008 klien mengatakan selama di
rumah sakit hubungan dengan keluarga, klien lain, perawat,
dokter terjalin dengan baik.

2)

Data Objektif
Observasi
klien. selalu didampingi dan diberi support oleh keluarganya dan
dapat bekerja sama baik dengan perawat

37
i. Pola Reproduksi - Seksual
1) Data Subjektif
a)

Keadaan sebelum sakit


Klien mengatakan tidak mempunyai anak dan isterinya
meninggal 4 tahun yang lalu.

b)

Keadaan sejak sakit


Klien mengatakan sebagai seorang laki-laki dan tidak memiliki
penyakit kelamin

2) Data Objektif
Observasi
Klien berpakaian dan bertingkah laku sesuai dengan jenis
kelaminnya. Dan tidak ada perilaku yang menyimpang.
j. Mekanisme Koping dan Toleransi Terhadap Stress
1) Data Subjektif
a)

Keadaan sebelum sakit


Klien mengatakan sering jalan-jalan apabila stress,
sehingga stress hilang, jika ada masalah selalu diceritakan
dengan adik dan dipecahkan bersama.

b)

Keadaan sejak sakit


Klien mengatakan cemas kalau penyakitnya akan
bertambah parah, karena sudah tiga kali masuk rumah sakit.

2) Data Objektif
a)

Observasi
Klien tampak gelisah

b)

Pemeriksaan Fisik

38
Tekanan :

180 / 100 mmHg, HR : 84 x /menit, Kulit tidak

basah
k. Pola Sistem Nilai Kepercayaan / Keyakinan
1) Data Subjektif
a)

Keadaan sebelum sakit


Klien mengatakan beragama Budha, jarang melakukan
ibadah, di wihara karena sibuk bekerja, tetapi klien tetap rajin
berdoa dirumah.

b)

Keadaan sejak sakit


Klien mengatakan beragama Budha, walaupun saat ini
sakit saya bisa berdoa di tempat tidur.

2) Data Objektif
Klien tampak mengucapkan doa sebelum makan, klien tampak
tabah dalam menghadapi penyakit ini.
Tanda Tangan Mahasiswa yang mengkaji

( AGNES SUSIANA )

8.

Pemeriksaan Diagnostik
Nama/Umur
: Tn. S / 52 Tahun
Ruang / Kamar: Lukas II / 18-1
Tabel 3.1 Pemeriksaan Laboratorium tanggal 12/7/2008
Tabel 3.1 Pemeriksaan Laboratorium tanggal 10/7/2008

39

Jenis pemeriksaan

Result / Hasil
Out of
Within
range
range

HEMATOLOGI I
Darah rutin
Hematologi
Leukosit
LED / BSR / ESR
Eritrosit

47
3,6

15,8
7.400
-

Hitung jenis
Basophil
Eosinophil
Neutrophil staf
Neutrophil segmen
Limphosit
Monosit

0
1
2
64
27
6

Kimia Darah II
FAAL HATI
SGOT/ASAT
20
SGPT/ALAT
13
Lemak
Cholesterol total
172
Trigylceride
72
LDL Cholesterol
101
HDL Cholesterol
56
Lipid Total
488
Elektroli (Darah)
Elektrolit ( I-Stat)
141
Na
4,0
K
104
Choride
Serologi I
RH Artritis
Negatif
CRP
Tabel 3.2 Pemeriksaan Foto Thoraks tanggal 12/7/2008
Jenis pemeriksaan
Kimia darah I
Faal Ginjal
Ureum (Serum)

Hasil

57

Unit /
satuan

Reference range
Nilai rujukan

g/dl
sel/l
mm/jam
juta/ l

13-18
4000-10000
0-15
4,5-65

%
%
%
%
%
%

0-1
1-3
2-6
50-70
20-40
2-8

/L
/L

10-34
9-43

mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl

150-200
< 200
< 130
> 45
450-100

mEg/L
mEg/L
mEg/L

135-145
3,5 - 5,2
96 -106

Standar nilai

10-50 mg/dL

Negatif

40
Creatinin Serum

1,4

Faal Jantung
C.P.K
CK. MB

142
15

Gula Darah
Glukosa sewaktu / BSS

93

9. Daftar Obat

0,6 1,5 mg/dL


< 190 /L
< 25 /L
70 80 mg/dL

41

42

10. Patoflow Kasus

43

11. ANALISIS DATA


Nama/Umur
: Tn. S / 70 Tahun
Ruang / Kamar : Lukas II /18-1
Tabel 3-1 : Analisa Data
No
1.

Data
Etiologi
Masalah
Data Subyektif :
Peningkatan
tekanan Nyeri Kepala
- Klien mengatakan kepala terasa vaskuler serebral
pusing
Data Obyektif
- Klien
tampak
memegangi
kepalanya
- Saat dikaji skala nyeri klien 4

44
-

2.

No
3.

Ekspresi wajah klien


meringis
Tanda-tanda vital :
TD : 180/100 mmHg
N : 82 x/mnt
P : 18 x/mnt
S : 36 0C

tampak

Data Subyektif
- Klien mengatakan pendengaran- Kerusakan
nya berkurang sejak umur 16 tahun neuromuskuler
gendang telinga kanannya pecah
akibat sering membersihkan telinga
sehingga
saya
mengalami
gangguan dalam pendengaran.
Data Obyektif
- Saat berkomunikasi klien sering
tidak mengerti apa yang diucapkan
perawat
- Pada saat pemeriksaan fisik
gendang telinga tidak utuh

Data
Data Subyektif :
- Klien mengatakan tidak tahu
kenapa penyakitnya kambuh lagi.
- Klien sering bertanya tentang
penyakitnya
Data Obyektif
- Klien sudah masuk rumah sakit 2
kali dengan hipertensi

Etiologi
Kurangnya informasi

Gangguan
komunikasi

Masalah
Kurang pengetahuan
mengenai
kondisi
rencana pengobatan

45

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama/Umur
:
Tn. S / 70 Tahun
Ruang / Kamar
:
Lukas II /18-1
Tabel 3-2: Diagnosa Keperawatan
No
I

Diagnosa Keperawatan
Nama
Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan Agnes S
vaskuler serebral ditandai dengan :
Data Subyektif :
- Klien mengatakan kepala terasa pusing
Data Obyektif
- Klien tampak memegangi kepalanya
- Saat dikaji skala nyeri klien 4
- Ekspresi wajah klien tampak meringis

46
-

II

No
3.

Tanda-tanda vital :
TD : 180/100 mmHg
N : 82 x/mnt
P : 18 x/mnt
S : 36 0C

Gangguan Komunikasi berhubungan dengan kerusakan


neuromuskuler ditandai dengan :
Agnes
Data Subyektif
- Klien mengatakan pendengarannya berkurang sejak
umur 16 tahun gendang telinga kanannya pecah
akibat sering membersihkan telinga sehingga saya
mengalami gangguan dalam pendengaran.
Data Obyektif
- Saat berkomunikasi klien sering tidak mengerti apa
yang diucapkan perawat
- Pada saat pemeriksaan fisik gendang telinga tidak
utuh dengan menggunakan pen light.

Diagnosa Keperawatan
Nama
Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi rencana Agnes S
pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi
ditandai dengan :
Data Subyektif :
- Klien mengatakan tidak tahu kenapa penyakitnya
kambuh lagi.
- Klien sering bertanya tentang penyakitnya.
Data Obyektif
- Klien sudah masuk rumah sakit 2 kali dengan
hipertensi

47

48

C. RENCANA KEPERAWATAN
Nama/Umur
: Tn. S / 70 Tahun
Ruang / Kamar
: Lukas II /18-1
Tabel 3-3: Rencana Keperawatan
No
1.

Diagnosa Keperawatan

Hasil Yang diharapkan

Nyeri kepala berhubungan dengan


peningkatan tekanan vaskuler
serebral yang ditandai dengan :
Data Subyektif :
- Klien mengatakan kepala
terasa pusing
Data Obyektif
- Klien tampak memegangi
kepalanya
- Saat dikaji skala nyeri klien 4
- Ekspresi wajah klien tampak
meringis
- Tanda-tanda vital :
TD : 180/100 mmHg
N : 82 x/mnt
P : 18 x/mnt
S : 36 0C

Tujuan jangka panjang:


Nyeri kepala hilang
Tujuan jangka pendek
dalam waktu 2 x 24 jam
klien tidak lagi pusing
kepala
Kriteria hasil :
- Skala nyeri klien 2
- Klien tampak rileks.
- Tanda-tanda
vital
dalam batas normal
TD = 120/80 mmHg
S = 36,5-37,5 OC
N = 60-90 /menit
P = 20-26 x/menit

Nama
Jelas
Kaji tingkat nyeri yang 1. Untuk
mengetahui Agnes
dirasakan klien
tingkat nyeri klien
sehingga mempermuda
dalam
pemberian
tindakan
Observasi tanda-tanda
vital
2. Adanya nyeri dapat
mempengaruhi
perubahan tanda-tanda
Mempertahankan tirah
vital
baring selama fase akut
3. Meminimalkan
Ajarkan klien untuk
stimulasi
/
relaksasi saat nyeri
meningkatkan relaksi
timbul
4. Dengan teknik relaksasi
Hilangkan /minimalkan
dapat
mengurangi
aktivitas vasokontriksi
nyeri.
yang
dapat
meningkatkan
sakit 5. Aktivitas yang dapat
kepala,
misalnya
meningkatkan
mengejan saat BAB,
vasokontriksi
batuk panjang, memmenyebabkan
sakti
bungkuk
kepala pada adanya
Libatkan
keluarga
peningkatan
tekanan
dalam
mendampingi
vaskuler serebral
Rencana tindakan

1.

2.

3.
4.

5.

6.

Rasional

49

klien
6. Keterlibatan keluarga
dapat memberikan rasa
nyaman pada klien
sehingga
dapat
menurunkan
ketegangan
No

Diagnosa Keperawatan

Hasil Yang diharapkan

Rencana tindakan
7. Kolaborasi
dalam 6.
pemberian
analgesic
sesuai indikasi

2.

Gangguan
Komunikasi
berhubungan dengan kerusakan
neuromuskuler yang ditandai
dengan
Data Subyektif
- Klien
mengatakan
pendengaran-nya
berkurang
sejak umur 16 tahun gendang
telinga kanannya pecah akibat
sering membersihkan telinga
sehingga saya mengalami
gangguan
dalam
berkomunikasi
Data Obyektif
- Saat berkomunikasi klien
sering tidak mengerti apa yang
diucapkan perawat

Tujuan jangka panjang:


1. Kaji
penyebab 1.
Tidak terjadi gangguan
kerusakan pendengaran
komunikasi
Tujuan jangka pendek
dalam waktu 1 x 60
2.
2. Berikan
lingkungan
menit
klien
dapat
yang tenang dan tidak
berkomunikasi
dengan
kacau
baik

3. Dekati individu dari


sisi
yang
pendengarannya lebih
baik, misalnya jika
pendengarannya lebih
baik pada telinga kiri,

Nama
Jelas
Menurunkan / me- Agnes
ngontrol nyeri dan
menurunkan rangsang
sistem saraf simpatis
Mengetahui penyebab Agnes
kerusakan pendengaran
yang
mengganggu
proses komunikasi
Membantu
untuk
meng-hindari masukn
sensori
pendengaran
yang
ber-lebihan
dengan menguta-makan
kualitas yang tenang
dan konsisten
Meningkatkan
pendengaran
dan
pengertian klien.
Rasional

3.

50

No
3.

Pada saat pemeriksaan fisik


gendang telinga tidak utuh

Diagnosa Keperawatan
Kurangnya
pengetahuan
mengenai
kondisi
rencana
pengobatan berhubungan dengan
kurangnya
informasi
yang
ditandai dengan
Data Subyektif :
- Klien mengatakan tidak tahu
kenapa penyakitnya kambuh
lagi.
Data Obyektif
- Klien
tampak
sering
bertanya
tentang
penyakitnya.
Klien sudah masuk rumah
sakit 2 kali dengan hipertensi

dekati orang tersebut


dari sebelah kiri.
4. Dapat
meningkatkan
masukan
sensori,
4. Anjurkan
untuk
membatasi
/
menggunakan
alat
menurunkan kesalahan
bantu pendengaran
interprestasi stimulasi

Hasil Yang
Nama
Rencana tindakan
Rasional
diharapkan
Jelas
Tujuan jangka panjang: 1. Kaji tingkat pemahaman 1. Mengidentifikasi
Agnes
Pengetahuan
klien
klien tentang pengertian,
tingkat
pengetahuan
tentang
penyakit
penyebab, tanda dan
klien tentang proses
meningkat
gejala,
pencegahan,
penyakit hipertensi dan
Tujuan jangka pendek
pengobatan dan akibat
mempermudah dalam
dalam waktu 1 x 30
lanjut.
menentukan inervensi
2.
Jelaskan
pada
klien
2.
Meningkatkan
menit klien mengerti
tentang proses hipertensi
pemahaman
dan
tentang penyakitnya
(pengertian,
penyebab,
pengetahuan
klien
Kriteria hasil :
tanda
dan
gejala,
tentang
proses
- Klien
dapat
pencegahan, pengobatan
penyakit hipertensi.
menyebutkan
dan akibat lanjut)
pengertian,
tanda
3.
Bantu
klien
dalam 3. Faktor-faktor resiko ini
dan gejala serta
telah
menunjukkan
mengidentifikasikan
penyebab
hubungan
dalam
faktor-faktor
resiko
penyakitnya
menunjang hipertensi
kardiovaskuler yang dapat
dan
penyakit
diubah, misalnya obesitas,

51

diet tinggi lemak jenuh,


dan kolsterol, pola hidup
monoton, merokok, dan
minum alkohol (lebih dari
60 cc/hari dengan teratur)
pola hidup stress

No
3.

Diagnosa Keperawatan

Hasil Yang
diharapkan

kardiovaskuler.

Nama
Jelas
4. Bahas
pentingnya 4. Nikotin, meningkatkan Agnes
menghentikan kebiasaan
pelepasan
dan
merokok dan bantu klien
katekolamin,
dalam membuat rencana
mengakibatkan
untuk berhenti merokok.
peningkatan frekuensi
jantung,
Tekanan
darah, vasokontriksi,
mengurangi
oksigenasijaringan dan
meningkatkan beban
kerja kardiovaskuler.
5.
Kafein adalah stimulan
5. Jelaskan
pentingnya
jantung dan dapat
mempertahankan pemamemberikan
efek
sukan cairan yang tepat,
merugikan
dan
jumlah
yang
dipertoleransi
terhadap
bolehkan,
pembatasan
kemajuan aktivitas.
seperti
kopi
yang
Rencana tindakan

Rasional

52

mengandung
kafein,
natrium (makanan asin).

53
PELAKSANAAN KEPERAWATAN
Nama/Umur : Tn. S / 70 Tahun
Ruang / Kamar: Lukas II /18-1
Tabel 3-5 : Evaluasi Keperawatan
Tanggal/ Jam
DP
15/7/2008
07.00
I

Pelaksanaan Keperawatan

Nama
Jelas
Agnes

Mengkaji keadaan umum klien,


Klien tampak sakit sedang, klien tampak baring di
tempat tidur, terpasang infuse Asering 20 tetes/menit di
tangan kiri

07.10

Mengkaji tingkat nyeri,


Agnes
Klien mengatakan nyeri kepala dan tampak
memegangi kepala, nyeri kepala klien pada skala 4

07.30

Mengukur tanda-tanda vital,


Agnes
Tekanan darah 180/100 mmHg, Nadi : 82 x/menit,
pernafasan : 18 x/menit, suhu : 36 0C

08.00

Menganjurkan klien tirah baring untuk mengurangi Agnes


timbulnya nyeri.
Klien tampak istirahat di tempat tidur didampingi
keluarga

08.20

Ajarkan klien untuk menarik nafas dalam dan Agnes


mengeluarkannya melalui mulut, bila nyeri timbul.
Klien mampu mempraktekan tehnik relaksasi bila nyeri
timbul.

09.00

Memberi obat oral triayec 5 mg, trizedan 1 tab, Agnes


intervask 1 tab.
Klien tampak minum obat yang diberikan

09.20

Klien mengeluh kepala pusing,


Agnes
Mengatur posisi klien semi fowler.
Klien mengatakan pusing berkurang dan merasa
nyaman

54

Tanggal/ Jam
DP
09.30

Nama
Jelas
Menjelaskan kepada klien aktivitas yang dapat memicu Agnes
nyeri kepala seperti mengejan dengan keras saat BAB
atau membungkuk
Klien mengerti penjelasan yang diberikan perawat
Pelaksanaan Keperawatan

10.00

Mengobservasi tanda-tanda vital klien,


Agnes
Tekanan darah : 170/90 mmHg, N : 84 x/mnt, P :
18x/mnt, S : 36 0C

10.15

Menganjurkan keluarga untuk mendampingi klien.


Keluarga tampak ada disamping klien.

Agnes
Agnes

13.00

Mengevaluasi keadaan klien :


Klien mengatakan kepala masih pusing

14.00

Mengobservasi klien, klien tampak istirahat di tempat Team


tidur. Klien diukur suhu dan nadi

17.10

Klien diperiksa dr. Martinus, instruksi : dapat terapi Team


ulang, obat cedocard 3 x 1 tab

19.00

Klien minum obat oral cedocard 3 x 1tab

Team

20.00

Klien tampak sudah tirah baring

Team

21.45

Klien diberi obat malam, Lipitor 1 tab

Team

24.00

Klien tampak istirahat ditempat tidur

Team

15/7/2008
07.00
II

Mengkaji keadaan umum klien,


Agnes
Klien tampak sakit sedang, klien tampak baring di
tempat tidur, terpasang infuse Asering 20 tetes/menit di
tangan kiri

07.20

Mengkaji penyebab gangguan pendengaran klien


Agnes
Klien mengatakan telinga kanan klien gendang
telinganya pecah, akibat sering dibersihkan dengan
cotton bud sejak umur 16 tahun

55
07.30

Mengukur tanda-tanda vital,


Agnes
Tekanan darah 180/100 mmHg, Nadi : 82 x/menit,
pernafasan : 18 x/menit, suhu : 36 0C

08.45

10.00

Memberikan lingkungan yang tenang dan nyaman bagi Agnes


pasien dengan memasang scarem dan membatasi
jumlah pengunjung.
Klien tampak berbaring ditempat tidur
Team
Memberikan penjelasan kepada keluarga untuk
berbicara dengan klien dari arah telinga yang baik
yaitu telinga sebelah kanan.
Team

11.00

Menyarankan kepada klien untuk memakai alat bantu


pendengaran bila diperlukan.
Team
Klien tampak mempertimbangkan saran yang diberikan
perawat.
Team

17.10

Klien diperiksa dr. Martinus, instruksi : dapat terapi Team


ulang, obat cedocard 3 x 1 tab
Team
Klien minum obat oral cedocard 3 x 1tab

19.00 20.00

Klien tampak sudah tirah baring

Agnes

21.45

Klien diberi obat malam, Lipitor 1 tab

24.00

Klien tampak istirahat ditempat tidur

15/7/2008
07.00
III

Mengkaji keadaan umum klien,


Klien tampak sakit sedang, klien tampak baring di Agnes
tempat tidur, terpasang infuse Asering 20 tetes/menit di
tangan kiri.

07.30

Mengukur tanda-tanda vital,


Tekanan darah 180/100 mmHg, Nadi : 82 x/menit, Agnes
pernafasan : 18 x/menit, suhu : 36 0C

Agnes

56

09.15

Mengkaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakit Agnes


yang diderita,
klien mengatakan tidak tahu kenapa bisa masuk rumah
sakit lagi.

09.45

Memberi penyuluhan kepada klien tentang penyakit Agnes


hipertensi (penyebab, tanda dan gejala dan komplikasi
yang dapat terjadi)
Klien mengerti tentang penyebab dan tanda dan gejala.

10.15

Mengkaji pola hidup klien,


Agnes
Klien mengatakan merokok sejak umur 17 tahun, satu
hari sampai habis 2 bungkus rokok, suka minum kopi 3
gelas sehari, makan makanan yang asin seperti ikan
asin dan teh sejak kecil. Sudah masuk rumah sakit 2
kali, pola hidup masih dilakukan

10.30

Memberi penyuluhan kepada klien tentang akibat dari Agnes


merokok, minum kopi dan makanan asin, serta
komplikasi hipertensi di usia lanjut.
Klien mengatakan akan mengubah, pola hidupnya.

11.00

Mengevaluasi pengetahuan klien tentang hipertensi. Agnes


Klien mengatakan sudah mengerti tentang penyebab
hipertensinya adalah minum kopi dan makan makanan
yang asin-asin sejak kecil, merokok dan klien akan
mengurangi kebiasaannya itu.

14.00

Mengobservasi klien, klien tampak istirahat di tempat Team


tidur.Klien diukur suhu dan nadi

17.10

Klien diperiksa dr. Martinus, instruksi : dapat terapi Team


ulang, obat cedocard 3 x 1 tab

19.00

Klien minum obat oral cedocard 3 x 1tab

Team

20.00

Klien tampak sudah tirah baring

Team

21.45

Klien diberi obat malam, Lipitor 1 tab

Team

24.00

Klien tampak istirahat ditempat tidur

Team

57
16/7/2008
06.00
I

Keadaan umum klien sudah membaik, klien tampak


sudah bangun dari tidur, klien tampak didampingi
keluarga

Team

07.00

Klien personal hygiene mandiri

Team

08.00

Klien makan pagi

Team

09.00

Memberi obat oral triayec 5 mg, trizedan 1 tab, Team


intervask 1 tab.

10.00

Klien istirahat didampingi keluarga

Team

12.00

Klien makan siang

Team

13.00

Mengevaluasi keadaan klien,


Klien mengatakan tidak pusing lagi, rencana mau
pulang

Agnes

15.00

Mengobservasi klien,
Keadaan umum klien membaik, klien tampak istirahat,
masih terpasang infuse Asering 20 tts / menit

Agnes

16.00

Mengobservasi tanda-tanda vital klien, tekanan darah :


140/70 mmHg, N : 80 x/mnt, P : 18x/mnt, S : 36 0C

Agnes

17.00

Menganjurkan kepada keluarga klien untuk


mendampingi klien (misalnya menemani klien bila
sedang mengalami beban pikiran)

Agnes

17.30

Melepas infus klien

Agnes

18.00

Klien pulang beres

Agnes

16/7/2008
06.00
II

Keadaan umum klien sudah membaik, klien tampak


sudah bangun dari tidur, klien tampak didampingi
keluarga

Team

07.00

Klien personal hygiene mandiri

Team

08.00

Klien makan pagi 1 porsi

Team

58

09.00

Memberi obat oral triayec 5 mg, trizedan 1 tab, Team


intervask 1 tab.

10.00

Klien istirahat didampingi keluarga

Team

12.00

Klien makan siang

Team

16.00

17.00

Klien mengatakan pendengarannya masih kurang Agnes


sehingga mengalami hambatan dalam berkomunikasi
Anjurkan klien untuk menggunakan alat bantu
pendengaran.
Agnes
Melepas infuse klien

17.30

Klien pulang beres.

Agnes

59
EVALUASI KEPERAWATAN
Nama/Umur : Tn. S / 70 Tahun
Ruang / Kamar: Lukas II /18-1
TABEL 3.7 EVALUASI KEPERAWATAN
Tanggal

DP

Evaluasi SOAP

15/7/2008

S
O
A
P

15/7/2008

S : Klien mengatakan gangguan pendengaran masih ada


O : Klien tampak kurang fokus bila berbicara dengan
perawat
A : Gangguan komunikasi masih ada
P : Intervensi 4 diteruskan
S : Klien mengatakan sudah mengerti tentang penyebab
hipertensinya.
O : Klien tampak kurang fokus bila berbicara dengan
perawat
A : Gangguan komunikasi masih ada
P : intervensi dan diteruskan
S : Klien mengatakan pusing berkurang
O : Skala nyeri klien 2
A : nyeri kepala masih ada
P : intervensi dihentikan
S : Klien mengatakan gangguan pendengaran masih ada
O : klien masih kurang focus bila berbicara dengan
perawat.
A : Gangguan komunikasi masih ada
P : Intervensi 4 diteruskan

15/7/2008

16/7/2008

17/7/2008

:
:
:
:

Klien mengatakan pusing kepala mulai berkurang


Klien tampak memegangi kepalanya
nyeri kepala masih ada
intervensi 2 dan 6 diteruskan

BAB IV

Nama
Jelas
Agnes

Agnes

60

PEMBAHASAN

Setelah penulis mempelajari teori tentang Asuhan Keperawatan pada Pasien


dengan gangguan sistem kardiovaskuler ; hipertensi dan melakukan secara langsung
asuhan keperawatan pada pasien Tn. S ternyata antara teori dengan yang ditemukan
dalam praktek lapangan terdapat kesenjangan. Hal ini disebabkan karena tingkat
kegawatan, persepsi individu, dan pemahaman terhadap penyakit yang dialami saat
ini.
Adapun uraian mengenai kesenjangan yang penulis amati dan dapatkan mulai
dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
sebagai berikut ;
A. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan, oleh karena itu
penulis perlu melakukan secara teliti, cermat dan sistematis melalui wawancara,
observasi dan pemeriksaan fisik secara langsung, serta di dukung oleh sumbersumber seperti catatan medik dan hasil pemeriksaan penunjang.
Setelah penulis secara cermat mempelajari teori pengkajian pasien dengan
gangguan sistem kardiovaskuler ; hipertensi, maka penulis mendapatkan tanda dan
gejala yang khas berdasarkan teori yaitu : peningkatan tekanan darah, nyeri kepala,
susah tidur, pusing, denyut nadi meningkat, mual muntah, sesak nafas, dan noturia
(kencing di malam hari) pandangan menjadi kabur (Faqih Ruhyanudin, 2007)
Pada pengkajian pasien Tn.S dengan gangguan sistem kardiovaskuler ;
hipertensi, penulis menemukan tanda dan gejala sebagai berikut : nyeri kepala
(pusing).
Berdasarkan uraian di atas penulis pada dasarnya menemukan kesamaan dari
53 pengkajian keperawatan namun tidak semua
tanda dan gejala antara teori dengan
tanda dan gejala tersebut penulis temukan dalam pengkajian secara langsung terhadap

61
pasien Tn.S dengan gangguan sistem kardiovaskuler ; hipertensi karena pasien
sudah mengalami tindakan tindakan keperawatan sejak tanggal 09 Juli 2008.
Pengkajian yang penulis lakukan adalah pada hari kelima sejak pasien mulai masuk
rumah sakit, sehingga tanda dan gejala yang timbul telah teratasi sebagian.
Dalam melakukan pengkajian penulis tidak mengalami kesulitan dalam
mengumpulkan data pada pasien Tn.S karena pasien sangat kooperatif dan datadata pendukung lainnya telah penulis dapatkan dari hasil keperawatan sebelumnya.
B. Diagnosa Keperawatan
Dignosa keperawatan ditegakkan berdasarkan analisa data yang di dapat pada
waktu pengkajian. Masalah yang di dapat bersifat faktual dan potensial yang dapat
diatasi atau dikurangi serta di cegah dengan tindakan keperawatan.
Dalam

diagnosa

keperawatan

secara

teori

dengan

gangguan

sistem

kardiovaskuler ; hipertensi, penulis menemukan beberapa diagnosa keperawatan


yaitu :
1.
2.
3.
4.

Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral


Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan iskemia
Resiko tinggi terhadap gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan sirkulasi

darah tidak stabil.


5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya berhubungan dengan
kurangnya informasi
Sedangkan melalui pengkajian dan penganalisaan data yang penulis lakukan pada
pasien Tn. S dengan gangguan sistem kardiovaskuler ; hipertensi, penulis uraikan
menjadi diagnosa keperawatan sebagai berikut :
1. Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
2. Gangguan Komunikasi berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler.
3. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi rencana pengobatan berhubungan
dengan kurangnya informasi

62
Diagnosa keperawatan secara teori, tidak seluruhnya ditemukan pada kasus pasien
Tn. S dengan gangguan sistem kardiovaskuler ; hipertensi, yaitu untuk diagnosa
keperawatan intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik, resiko tinggi
terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan iskemia, resiko tinggi
terhadap gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan sirkulasi darah tidak stabil
tidak ditegakkan pada saat pengkajian tanggal 15 Juli 2008 karena telah dilakukan
tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah tersebut dan pasien mulai berangsur
pulih setelah dilakukan perawatan selama 5 hari di rumah sakit.
Selain itu untuk diagnosa keperawatan gangguan komunikasi berhubungan
dengan kerusakan neuromuskuler penulis tegakkan, karena dalam melakukan
pengkajian tanda dan gejala yang menunjukkan adanya kerusakan gendang telinga
pasien sebelah kiri.
C. Rencana Keperawatan
Perencanaan merupakan mata rantai antara penerapan kebutuhan pasien dengan
melaksanakan tindakan keperawatan. Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan
teori yang disesuaikan dengan kondisi pasien saat dikaji. Dalam membuat
perencanaan, penulis membuat prioritas masalah sesuai dengan kebutuhan Maslow
yaitu mengutamakan kebutuhan dasar biologis kemudian menyusul kebutuhan yang
lain. Pada prinsipnya perencanaan ini disusun dalam rangka mengurangi dan
mengatasi serta mencegah masalah kesehatan yang mungkin pada pasien. Dalam
membuat perencanaan diperlukan kolaborasi dengan team kesehatan yang lain seperti
petugas lab, radiologi, dokter dan petugas kesehatan lainnya.
Pada prinsipnya perencanaan disusun dalam rangka mengurangi dan mengatasi
masalah pasien sehingga tindakan yang dilakukan tidak menyimpang dari hasil yang
diharapkan.
Adapun

rencana

keperawatan

pada

Tn.S

dengan

gangguan

kardiovaskuler ; hipertensi antara lain :


1. Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral

sistem

63
Rasionalisasi : kaji tingkat nyeri yang dirasakan klien, observasi tanda-tanda vital,
mempertahankan tirah baring selama fase akut, ajarkan klien untuk relaksasi saat
nyeri timbul, hilangkan /minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat
meningkatkan sakit kepala, misalnya mengejan saat BAB, batuk panjang, membungkuk, libatkan keluarga dalam mendampingi klien. Kolaborasi dalam
pemberian analgesic sesuai indikasi.
2. Gangguan Komunikasi berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler.
Rasionalisasi : kaji penyebab kerusakan pendengaran, berikan lingkungan yang
tenang dan tidak kacau, dekati individu dari sisi yang pendengarannya lebih baik,
misalnya jika pendengarannya lebih baik pada telinga kiri, dekati orang tersebut
dari sebelah kiri, anjurkan untuk menggunakan alat bantu pendengaran
3. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi rencana pengobatan berhubungan
dengan kurangnya informasi
Rasionalisasi : kaji tingkat pemahaman klien tentang pengertian, penyebab, tanda
dan gejala, pencegahan, pengobatan dan akibat lanjut, jelaskan pada klien tentang
proses hipertensi (pengertian, penyebab, tanda dan gejala, pencegahan,
pengobatan dan akibat lanjut), bantu klien dalam mengidentifikasikan faktorfaktor resiko kardiovaskuler yang dapat diubah, misalnya obesitas, diet tinggi
lemak jenuh, dan kolsterol, pola hidup monoton, merokok, dan minum alkohol
(lebih dari 60 cc/hari dengan teratur) pola hidup stress., bahas pentingnya
menghentikan kebiasaan merokok dan bantu klien dalam membuat rencana untuk
berhenti merokok, jelaskan pentingnya mempertahankan pemasukan cairan yang
tepat, jumlah yang diperbolehkan, pembatasan seperti kopi yang mengandung
kafein, natrium (makanan asin).

D. Tindakan Keperawatan

64
Tindakan keperawatan merupakan realisasi dari rencana keperawatan. Dalam
melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien Tn. S dengan gangguan sistem
kardiovaskuler ; hipertensi tidak banyak mengalami kesulitan sampai dengan
penyusunan karya tulis ini.
Adapun tindakan keperawatan pada pasien Tn.S dengan gangguan sistem
kardiovaskuler ; hipertensi antara lain :
1. Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
Tindakan

keperawatan

yang

dilakukan

mengkaji

tingkat

nyeri

klien,

mengobservasi tanda-tanda vital, menganjurkan klien untuk tirah baring untuk


mengurangi timbulnya nyeri, mengajarkan klien teknik relaksasi seperti menarik
nafas dalam bila nyeri timbul, menjelaskan kepada klien aktivitas yang dapat
memicu nyeri kepala seperti mengejan saat BAB, menganjurkan keluarga untuk
mendampingi klien berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik.
2. Gangguan Komunikasi berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler.
Tindakan

keperawatan

yang

dilakukan

mengkaji

penyebab

gangguan

pendengaran klien, memberikan lingkungan yang tenang dan nyaman bagi pasien,
memberikan penjelasan kepada keluarga untuk berbicara dengan klien dari arah
telinga yang baik, menyarankan kepada klien untuk menggunakan alat bantu
pendengaran jika diperlukan.
3. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi rencana pengobatan berhubungan
dengan kurangnya informasi.
Tindakan keperawatan yang dilakukan Mengkaji tingkat pengetahuan klien
tentang penyakit yang diderita, member penyuluhan kepada klien tentang
penyakit hipertensi, mengkaji pola hidup klien, memberikan penyuluhan kepada
klien akibat dari merokok, minum kopi, dan makanan asin.
Rencana keperawatan yang disusun berdasarkan kebutuhan pasien dapat
dilaksanakan semua terhadap pasien karena pasien berangsur lebih baik secara
perlahan dan memerlukan waktu yang lama dan dapat mematuhi anjuran dan
pengarahan dari tim kesehatan. Namun untuk rencana untuk memberikan alat bantu

65
pendengaran, klien masih mempertimbangkannya karena biaya yang cukup mahal
untuk alat tersebut.
E. Evaluasi
Evaluasi merupakan alat untuk mengetahui tingkat keberhasilan asuhan
keperawatan dan didokumentasikan secara tertulis di dalam catatan keperawatan. Ini
dapat dilihat berdasarkan tujuan, kriteria hasil yang telah disusun dengan apa yang
dicapai selama tahap pelaksanaan. Pada kasus pasien Tn. S di dapat empat diagnosa
keperawatan setelah dilakukan pelaksanaan sesuai rencana tindakan dapat di evaluasi.
Setelah sebelumnya pasien dirawat di rumah sakit mulai tanggal 9 Juli 2008 dan
penulis melaksanakan pengkajian pada tanggal 15 Juli 2008 maka semua intervesi
dihentikan karena pasien pulang beres pada tanggal 16 Juli 2008.
Pasien berangsur-angsur baik dan pasien menunjukkan hasil keperawatan sebagai
berikut :
1.
2.
3.

Nyeri berkurang dan ekspresi wajah pasien tampak tenang dengan skala nyeri 2
Tidak terjadi gangguan komunikasi
Klien mengerti tentang proses, penyebab, dan perawataan dari penyakit
hipertensi.
Berhubung pasien berangsur baik dan pulang beres, maka perawat menganjurkan

untuk menjaga kebersihan luka, meminum obat secara teratur dan melakukan kontrol
ulang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, serta menjaga pola makan agar
tidak terjadi konstipasi.

BAB V
PENUTUP

66

A. KESIMPULAN
Setelah melakukan asuhan keperawatan pada gangguan sistem kardiovaskuler ;
hipertensi, khususnya pada pasien Tn. S yang dirawat di Pavilyun Lukas II Rumah
Sakit RK Charitas Palembang selama delapan hari. Penulis melakukan pengkajian
mulai dari tanggal 15 Juli 2008 sampai dengan 16 Juli 2008, maka penulis dapat
mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada saat pengkajian penulis mengalami hambatan dengan klien, karena klien
memiliki gangguan pendengaran. Dalam mengumpulkan data dan menemukan
masalah keperawatan penulis memperoleh data melalui pemeriksaan fisik secara
langsung kepada pasien dan data penunjang lain seperti pemeriksaan
laboratorium, akan tetapi tidak semua masalah keperawatan yang ada dalam teori
ditemukan pada pasien dengan penyakit yang sama.
2. Dari hasil pengkajian akhirnya dapat dirumuskan diagnosa keperawatan sesuai
dengan tanda dan gejala yang ada pada pasien. Diagnosa Keperawatan yang
diangkat oleh penulis untuk pasien Tn. S dengan gangguan sistem
kardiovaskuler ; hipertensi antara lain :
a. Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
b. Gangguan Komunikasi berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler.
c. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi rencana pengobatan berhubungan
dengan kurangnya informasi
3. Perencanaan yang dibuat untuk menyelesaikan masalah pasien berdasarkan
diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien, kemampuan penulis
dan fasilitas Rumah Sakit RK Charitas, kerjasama dengan team medis lainnya
sehingga terjadi kesinambungan dalam melakukan tindakan keperawatan, dengan
demikian rencana yang disusun dapat dilaksanakan kepada pasien.
4. Pelaksanaan keperawatan pada pasien dilakukan sesuai dengan perencanaan
keperawatan yang dibuat, tetapi tidak semua rencana keperawatan secara teoritis
75 melihat kondisi pasien.
dilakukan implementasi dikarenakan

67
5. Evaluasi keperawatan dilakukan setiap pergantian jam dinas. Bila masalah belum
teratasi maka rencana dilanjutkan kembali. Evaluasi masalah yang dilakukan
pada pasien Tn. S tidak semuanya teratasi karena klien masih mengalami
gangguan pendengaran dan intervensi dihentikan karena pasien pulang beres.
B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan yang telah ada maka penulis memberi beberapa saran,
antara lain :
1.

Perawat hendaknya meningkatkan kerja sama dengan pasien dan keluarga untuk
menggali permasalahan dan keluhan pasien sehingga setiap masalah keperawatan
yang ada pada pasien dapat diketahui dan selanjutnya diatasi.

2.

Karena tidak semua diagnosa keperawatan secara teori timbul pada kenyataan,
maka perawat perlu mengetahui landasan teori dengan gangguan sistem
kardiovaskuler ; hipertensi.

3.

Perencanaan keperawatan yang tepat dapat menjadi penentu keberhasilan dalam


melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem
kardiovaskuler ; hipertensi. Untuk itu perawat perlu memperluas pengetahuan
dan keterampilan tentang asuhan keperawatan sehingga dapat membuat
perencanaan yang cepat dan tepat.

4.

Pelaksanaan keperawatan hendaknya lebih memfokuskan pada masalah atau


diagnosa keperawatan yang ada untuk mengatasi masalah pasien.

5.

Untuk mengatasi perkembangan pasien perlu dilakukan evaluasi terhadap pasien


yang

sesuai

dengan

permasalahan

sehingga

dapat

dilakukan

secara

berkesinambungan agar setiap masalah yang belum teratasi bisa dilanjutkan


perencanaannya sampai keadaan pasien mengalami penyembuhan

Kata Pengantar

68
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,atas
segala rahmat dan berkatnya penulis dapat menyelesaikan tugas Asuhan Keperawatan
Dengan Gangguan Sistem

di Paviliun Yoseph Rs. Rk. Charitas

Palembang.
Dalam meyusun laporan ini penulis memperoleh banyak bantuan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ketua Stikes Perdhaki Charitas Palembang.
2. Ketua Prodi D III Keperawatan Stikes Perdhaki Charitas Palembang
3. Dosen Pembimbing Stikes Perdhaki Charitas Palembang
4. Pembimbing Ruangan Paviliun Yoseph Rs. Rk. Charitas Palembang
5. Staff Perpustakan Stikes Perdhaki Charitas Palembang
6. Teman teman seperjuangan
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak
kesalahn dan kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran
yang sifatnya menbangun demi perkembangan dan kemajuan selanjutnya. Penulis
berharap ini dapat berguna untuk kita semua khususnya yang membaca laporan ini.
Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semuanya.

Palembang,September 2009
Penulis

Anda mungkin juga menyukai