Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

DAMPAK NEGATIF TRANSPORTASI DARAT DAN


PENANGGULANGANNYA

Disusun Oleh :
AGIST M. FEISAL
TEKNIK SIPIL B
2015

UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
Jln. Siliwangi No.24 Tasikmalaya Tlp. (0265) 323527

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur, kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas
segala nikmat sehat dan kesempatan serta rahmat dan hidayahnya yang
senantiasa tercurahkan kepada kita yang tak terhingga ini. Sholawat serta
salam kita panjatkan kepada junjungan Nabi besar kita Muhammad SAW
dan keluarganya, sahabatnya, beserta pengikutnya sampai akhir zaman amin
ya robal alamin.
Saya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu

dalam

pembuatan

makalah

ini,

sehingga

saya

dapat

menyelesaikannya makalah ini dengan tepat waktu.


Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
terdapat kekurangan. Oleh karena itu saya sangat mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini di masa
yang akan datang. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Tasikmalaya, Nopember 2015


Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................

DAFTAR ISI ....................................................................................

ii

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.............................................Latar Belakang Masalah
.................................................................................1
1.2.......................................................Rumusan Masalah
.................................................................................2
1.3.........................................................................Tujuan
.................................................................................2
1.4..................................................Metode dan Prosedur
.................................................................................2
1.5.................................................Sistematika Penulisan
.................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
2.1........................................Hakekat Transportasi Darat
.................................................................................4
2.2.......................................Dampak Yang di Timbulkan
.................................................................................7
2.3.......................Mengolah Masalah Transportasi Darat
...............................................................................12
BAB III PENUTUP
3.1.................................................................Kesimpulan
...............................................................................18
3.2...........................................................................Saran
...............................................................................19

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................

20

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Transportasi merupakan urat nadi Pembangunan Nasioanal
untuk melancarakan arus manusia barang maupu informasi sebagai
penunjang tercapainya pengalokasian sumber-sumber perekonomian
secara optimal untuk itu jasa transportasi harus cukup tersedia secara
merata dan terjangkau daya beli masyarakat. Transportasi yang banyak
digunakan oleh masyarakat di Indonesia adalah sala satunya
transportasi darat. Pertambahan penduduk dan luas kota menyebabkan
jumlah lalu lintas juga meningkat. Sedangkan sistem lalu lintas
mendekati

jenuh,

sehingga

bertambahnya

jumlah

lalu

lintas

berpengaruh besar terhadap lingkungan.


Saat ini di indonesia sedang manghadapi masalah yang cukup
rumit berkaitan dengan transportasi darat. Jumlah penduduk yang
semakin bertambah, dibarengi dengan meningkatnya daya beli
masyarakat terhadap kendaraan bermotor memicu meningkatnya
jumlah kendaraan bermotor.
Sarana transportasi darat berkembang mengikuti fenomena
yang timbul. Pemilihan sistem transportasi yang salah untuk wilayah
perkotaan

dapat

mengakibatkan

terjadinya

permasalahan-

permasalahan bagi masyarakat maupun linglungan., Perkembangan


teknologi

di

bidang

transportasi

dapat

menuntut

adanya

perkembangan teknologi prasarana transportasi darat berupa jaringan


jalan. Sistem transportasi darat yang berkembang semakin cepat
menuntut perubahan tata jaringan jalan yang dapat menampung
kebutuhan lalu lintas yang berkembang tersebut. Perkembangan tata
jaringan jalan baru akan membutuhkan ketersediaan lahan yang lebih
5

luas. Kebutuhan lahan yang sangat luas untuk sistem transportasi darat
ini mempunyai pengaruh besar terhadap pola tata guna lahan, terutama
di daerah perkotaan. Di sini masalah lingkungan perlu diperhatikan.
Perubahan tata guna lahan akan berpengaruh terhadap kondisi fisik
tanah, serta masalah sosial dan ekonomi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan

latar

belakang

tersebut,

maka

diperoleh

permasalahan antara lain:


1) Bagaimana hakekat transportasi darat ?
2) Bagaimana dampak negatif yang di timbulkan oleh transportasi
darat ?
3) Bagaimana mengolah masalah yang di timbulkan oleh transportasi
darat ?
1.3 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk wawasan dan
ilmu kami tentang dampak negatif berkembangnya transportasi
darat.bagi lingkungan.
1.4 Metode dan Prosedur
Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah
ini yaitu dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber buku
dan browsing di internet.
1.5 Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun dengan menggunakan kaidah penulisan
makalah secara umum yaitu :
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.
1.5.

Latar Belakang Masalah


Rumusan Masalah
Tujuan
Metode dan Prosedur
Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Hakekat Transportasi Darat
2.2. Dampak Negatif Yang di Timbulkan
2.3. Mengolah Masalah Transportasi Darat
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Hakekat Transportasi Darat
Transportasi atau perangkutan adalah perpindahandari suatu
tempat ke tempat lain dengan menggunakan alat pengangkutan.
Unsur-Unsur Dasar Transportasi
Ada lima unsur pokok transportasi, yaitu :
a)
b)
c)
d)
e)

Manusia, yang membutuhkan transportasi


Barang, yang diperlukan manusia
Kendaraan, sebagai sarana transportasi
Jalan, sebagai prasarana transportasi
Organisasi, sebagai pengelola transportasi
Pada dasarnya, ke lima unsur di atas saling terkait untuk

terlaksananya transportasi, yaitu terjaminnya penumpang atau barang


yang diangkut akan sampai ke tempat tujuan dalam keadaan baik
seperti pada saat awal diangkut. Dalam hal ini perlu diketahui terlebih
dulu ciri penumpang dan barang, kondisi sarana dan konstruksi
prasarana, serta pelaksanaan transportasi.
Transportasi

darat

atau

perangkutan

darat

adalah

pemindahan / pengangkutan orang atau barang dari suatu tempat ke


tempat lain dengan menggunakan alat pengangkutan melalui jalan
darat, baik yang digerakkan oleh tenaga manusia, hewan (kuda, sapi,
kerbau), atau mesin.
Transportasi darat di pilih berdasarkan faktor-faktor :
-

Jenis dan spesifikasi kendaraan


Jarak perjalanan
Tujuan perjalanan
Ketersediaan mode
Ukuran kota dan kerapatan permukiman
Faktor sosial-ekonomi

Adapun jenis jenis dari transportasi angkutan darat adalah :


8

1. Angkutan Jalan
Angkutan adalah pemindahan orang dan/atau barang dari
satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No. 35 Tahun 2003
Tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan, maka
Angkutan Jalan diklasifikasikan sebagai berikut:
a) Bus
Bus adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi lebih
dari 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk empat duduk
pengemudi,

baik

dengan maupun tanpa

perlengkapan

pengangkutan bagasi.
b) Taxi
Taxi Adalah angkutan umum yang menggunakan mobil untuk
mengangkut penumpangnya. Taksi umumnya menggunakan
mobil jenis sedan, namun di beberapa negara ada pula taksi
jenis van yang dapat mengangkut lebih banyak penumpang
atau muatan.
c) Mikrolet
Mikrolet adalah istilah yang merujuk kepada kendaraan umum
dengan rute yang sudah ditentukan. Tidak seperti bus yang
mempunyai halte sebagai tempat perhentian yang sudah
ditentukan, mikrolet dapat berhenti untuk menaikkan atau
menurunkan penumpang di mana saja.
d) Bemo
Bemo adalah kendaraan bermotor beroda tiga yang mulai
digunakan di Jakarta pada awal tahun 1960-an. Mulanya bemo
diharapkan dapat menggantikan peranan becak yang dianggap
tidak manusiawi karena memanfaatkan tenaga manusia
sebagai penggeraknya. Karena itu kendaraan angkutan yang

aslinya

di

negara

asalnya

Jepang

digunakan

untuk

mengangkut barang.
e) Becak
Becak (dari bahasa Hokkien: be chia kereta kuda) adalah
suatu moda transportasi beroda tiga yang umum ditemukan di
Indonesia dan juga di sebagian Asia. Becak merupakan alat
angkutan yang ramah lingkungan karena tidak menyebabkan
polusi udara dan tidak menyebabkan kebisingan. Meskipun
begitu, kehadiran becak di perkotaan dapat mengganggu lalu
lintas karena kecepatannya yang lamban dibandingkan dengan
mobil maupun sepeda motor.
f) Delman
Delman adalah kendaraan transportasi tradisional yang beroda
dua, tiga atau empat yang tidak menggunakan mesin tetapi
menggunakan kuda sebagai penggantinya. Nama kendaraan
ini berasal dari nama penemunya, yaitu Charles Theodore
Deeleman, seorang litografer dan insinyur di masa Hindia
Belanda.
2. Angkutan Rel
Adapun jenis transportasi rel adalah :
a) Kereta
Kereta adalah kendaraan beroda yang merupakan bagian dari
sebuah rangkaian kereta api dan digunakan untuk mengangkut
penumpang. Kereta umumnya dilengkapi dengan sistem
listrik, sistem hiburan audio visual, dan toilet. Di daerah atau
negara-negara tertentu kereta dilengkapi dengan tempat tidur
untuk perjalanan malam hari. Pada awalnya kereta hanya
diberi tempat duduk dan tidak diberi atap (untuk kelas
ekonomi) atau diberi atap (untuk kelas khusus). kereta
umumnya tertutup dan tidak dilengkapi dengan kabin / kamar
10

tersendiri sebagaimana kereta yang umum dijumpai saat ini di


Indonesia.
2.2.

Dampak Negatif Yang di Timbulkan Oleh Transportasi Darat


Berkembangnya alat transportasi darat menyebabkan dampak
yang negatif maupun dampak yang positif bagi manusia maupun bagi
lingkungan. Adapun dampak negatif yang di timbulkan oleh
berkembangnya transportasi darat adalah sebagai berikut :
1) Polusi Udara
Seiring dengan berkembangnya sistem transportasi darat, salah
satu dampak yang di timbulkan adalah meningkatnya polusi
udara. Secara umum definisi polusi udara adalah perbedaan
komposisi udara aktual dengan kondisi udara normal dimana
komposisi

udara

aktual

tidak

mendukung

kehidupan

manusia. Bahan atau zat pencemaran udara sendiri dapat


berbentuk gas dan partikel. Ada banyak sumber pencemaran udara
yang salah satunya yang terbesar adalah dari sektor transportasi
seperti :
a. Kualitas Bahan Bakar Minyak
Ketersediaan bensin tanpa timbal (unleaded gasoline) dan
minyak solar dengan kandungan belerang rendah merupakan
faktor kunci dalam penurunan emisi kendaraan, karena bahan
bakar jenis tersebut merupakan prasyarat bagi penggunaan
teknologi kendaraan yang mutakhir yang mampu mengurangi
emisi kendaraan secara signifikan. Spesifikasi bahan bakar
yang tersedia di Indonesia mengikuti spesifikasi bahan bakar
yang berlaku saat ini sesuai dengan Surat Keputusan (SK)
Direktur Jenderal (Dirjen) Minyak dan Gas (Migas) No. 108.
K/72/DDJM/1997 yang memperbolehkan kandungan timbal
11

hingga 0.30 gram/liter serta tekanan uap (Reid Vapour


Pressure) 62 kPa pada suhu 37,8 C untuk bahan bakar bensin.
SK

Dirjen

Migas

No.

113.K/72/DJM/1999

juga

memperbolehkan kandungan belerang hingga 5000 ppm dan


angka setana minimum 48 pada bahan bakar solar. Dengan
kualitas bahan bakar sesuai dengan spesifikasi tersebut sulit
untuk mewajibkan produsen kendaraan bermotor memasang
peralatan pereduksi emisi (katalis) pada kendaraan. Walaupun
bensin tanpa timbal telah tersedia di beberapa wilayah di
Indonesia, namun ketidaktersediaan bensin tanpa timbal di
hampir seluruh wilayah Indonesia belum dapat mendukung
penerapan teknologi tersebut.
b. Emisi Kendaraan Bermotor
Kendaraan

bermotor

merupakan

salah

satu

sumber

pencemaran udara yang penting di daerah perkotaan. Kondisi


emisi kendaraan bermotor sangat dipengaruhi oleh kandungan
bahan bakar dan kondisi pembakaran dalam mesin. Pada
pembakaran

sempurna,

emisi

paling

signifikan

yang

dihasilkan dari kendaraan bermotor berdasarkan massa adalah


gas karbon dioksida (CO2) dan uap air, namun kondisi ini
jarang terjadi. Hampir semua bahan bakar mengandung
polutan dengan kemungkinan pengecualian bahan bakar sel
(hidrogen) dan hidrokarbon ringan seperti metana (CH4).
Polutan

yang

dihasilkan

kendaraan

bermotor

yang

menggunakan BBM antara lain CO, HC, SO2, NO2, dan


partikulat.
Tingginya emisi kendaraan bermotor disebabkan oleh
beberapa faktor diantaranya adalah:

12

Sistem kontrol emisi kendaraan bermotor tidak diterapkan


Pelaksanaan Pengujian Kendaraan Bermotor berkala untuk
kendaraan umum tidak berjalan efektif
Pemeriksaan emisi kendaraan di jalan sebagai bagian dari
penegakan hukum (terkait dengan pemenuhan persyaratan
kelaikan jalan) belum diterapkan
Kendaraan bermotor tidak diperlengkapi dengan teknologi
pereduksi emisi seperti katalis karena tidak tersedianya
bahan bakar yang sesuai untuk penggunaan katalis
tersebut
Kualitas BBM yang rendah
Penggunaan kendaraan berteknologi rendah emisi yang
menggunakan bahan bakar alternatif masih belum
memadai
Pemahaman tentang manfaat perawatan kendaraan secara
berkala yang dapat menurunkan emisi dan meningkatkan
efisiensi penggunaan bahan bakar masih kurang
Disinsentif terhadap kendaraan-kendaraan yang termasuk
dalam kategori penghasil emisi terbesar belum
diperkenalkan.
c. Sistem Transportasi dan Manajemen Lalu Lintas
Sistem manajemen transportasi dan tata ruang perkotaan
mempengaruhi pola pergerakan manusia dan kendaraan di
suatu kota yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas udara.
Pengendalian pencemaran udara melalui peningkatan sistem
transportasi terfokus pada dua aspek, yaitu pengurangan
volume kendaraan dan pengurangan kepadatan lalu lintas.

13

Makin banyak volume kendaraan yang beroperasi di jalan,


makin banyak jumlah emisi gas buang total.
2) Polusi Suara
Bertambanya jumlah kendaraan yang tidak tekendali dan sistem
pembangnan pemukiman penduduk yang dekat dengan jalan raya,
akan mengakibatkan tidak tentram dan nyamannya penduduk
sekitar akibat polusi suara yang ditimbulkan oleh suara kendaraan
bermotor. Polusi suara atau pencemaran suara adalah gangguan
pada lingkungan yang diakibatkan oleh bunyi atau suara yang
mengakibatkan ketidaktentraman makhluk hidup di sekitarnya.
Pencemaran suara diakibatkan suara-suara bervolume tinggi yang
membuat

daerah

sekitarnya

menjadi

bising

dan

tidak

menyenangkan. Suara bising yang terus-menerus dengan tingkat


kebisingan yang relatif tinggi dapat mengakibatkan dampak yang
merugikan kesehatan manusia. Ini dapat berarti gangguan secara
fisik maupun psikologis. Secara langsung, polusi suara seperti ini
dapat menyebabkan ketulian secara fisik dan tekanan psikologis.
Lebih jauh, tekanan psikis akan menyebabkan penyakit-penyakit
lainnya muncul pada manusia.
3) Kemacetan
Pertumbuhan kendaraan bermotor yang cepat di kota-kota besar,
tanpa di imbangi dengan pembangunan sarana dan prasarana yang
memadai akan menimbulkan betumpuknya kendaraan dijalan
sehingga mengakibatkan kemacetan. Kemacetan adalah situasi
atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang
disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas
jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya
yang tidak mempunyai transportasi publik yang baik atau
memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan
kepadatan penduduk, misalnya Jakarta dan Bangkok. Kemacetan
14

lalu lintas menjadi permasalahan sehari-hari di kota-kota besar di


Indonesia. Kemacetan lalu lintas memberikan dampak negatif
yang besar yang antara lain : Kerugian waktu, karena kecepatan
perjalanan yang rendah, Pemborosan energi, karena pada
kecepatan

rendah

konsumsi

bahan

bakar

lebih

rendah,

Meningkatkan polusi udara, Meningkatkan stress pengguna jalan..


4) Meningkatnya kecelakaan lalu-lintas
Pesatnya kendaran bermotor yang lalu lalang dijalan raya tanpa
diimbangi dengan kesadaran pengguna kendaraan untuk tertib
berlalu-lintas akan mengakibat terjadinya kecelakaan lalu-lintas.
Kecelakaan lalu-lintas adalah kejadian di mana sebuah kendaraan
bermotor tabrakan dengan benda lain dan menyebabkan
kerusakan. Kadang kecelakaan ini dapat mengakibatkan luka-luka
atau kematian manusia atau binatang. Kecelakaan lalu-lintas
menelan korban jiwa sekitar 1,2 juta manusia setiap tahun
menurut WHO. Faktor yang mempengaruhi kecelakaan faktor
kendaraan yang paling sering terjadi adalah ban pecah, rem tidak
berfungsi sebagaimana seharusnya, kelelahan logam yang
mengakibatkan bagian kendaraan patah, peralatan yang sudah aus
tidak diganti dan berbagai penyebab lainnya. Keseluruhan faktor
kendaraan sangat terkait dengan technologi yang digunakan,
perawatan yang dilakukan terhadap kendaraan. Untuk mengurangi
faktor kendaraan perawatan dan perbaikan kendaraan diperlukan,
disamping itu adanya kewajiban untuk melakukan pengujian
kendaraan bermotor secara reguler.
Selain mempunyai beberapa damak negatif yang ditimbulkan
oleh adanya transportasi darat, sistem tansportasi juga ini juga
mempunyai beberapa dampak positif bagi kehidupan manusia.

15

Adapun mengenai beberapa dampak positif yang ditimbulkan oleh


adanya transportasi darat secara umum adalah:
a) Mengatasi kesenjangan jarak dan komunikasi
Transportasi dalam hal ini perlu untuk mengatasi kesenjangan
jarak dan komunikasi antara tempat asal dan tempat tujuan.
b) Mempercepat lalulintas orang dan barang
Dengan adanya alat transportasi, maka pergerakan lalu lintas
barang dan orang akan menjadi lebih cepat, aman, nyaman dan
terintegrasi.
2.3.

Mengelolah Masalah Transportasi Darat


Sistem transportasi darat yang berkembang dengan pesat
memerlukan pengelolaan dan penataan yang baik dan benar. Untuk
mencapai sistem rtanportasi yang ideal, oleh karena itu dalam
pembangunan dan pengembangannya perlu memperhatikan efeknya
terhadap manusia dan lingkungan. Efek sektor transportasi terhadap
lingkungan perlu dikendalikan dengan melihat semua aspek yang ada
di dalam sistem transportasi, mulai dari perencanaan sistem
transportasi, meliputi model transportasi, sarana, pola aliran lalu
lintas, jenis mesin kendaraan, dan bahan bakar yang digunakan.
Pemilihan

model

transportasi

ditentukan

dengan

mempertimbangkan salah satu persyaratan pokok, yaitu pemindahan


barang dan manusia dilakukan dalam jumlah yang terbesar dan jarak
yang terkecil. Transportasi massal merupakan pilihan yang lebih baik
dibandingkan dengan transportasi individual.
Perencanaan sistem transportasi harus disertai dengan
pengadaan prasarana yang sesuai dan memenuhi persyaratan dan
kriteria transportasi antara lain volume penampungan, kecepatan ratarata, aliran puncak, keamanan pengguna jalan. Selain itu harus juga
memenuhi persyaratan lingkungan yang meliputi jenis permukaan,

16

pengamanan penghuni sepanjang jalan, kebisingan, pencemaran udara,


penghijauan, dan penerangan.
Dalam mencapai sistem transportasi yang ramah lingkungan
dan hemat energi, persyaratan spesifikasi dasar prasarana jalan yang
digunakan sangat menentukan. Permukaan jalan halus, misalnya, akan
mengurangi emisi pencemaran debu akibat gesekan ban dengan jalan.
Tabir akustik atau tunggul tanah dan jalur hijau sepanjang jalan raya
akan mereduksi tingkat kebisingan lingkungan pemukiman yang ada
di sekitar dan sepanjang jalan, dan juga akan mengurangi emisi
pencemar udara keluar batas jalan kecepatan tinggi.
Dalam konteks ini, untuk mencapai sistem transportasi darat
tersebut, ada beberapa hal yang perlu dijalankan, di antaranya;
1. Rekayasa lalu lintas.
Rekayasa lalu lintas khususnya menentukan jalannya
sistem transportasi yang direncanakan. Penghematan energi dan
reduksi emisi pencemar dapat dioptimalkan secara terpadu dalam
perencanaan jalur, kecepatan rata-rata, jarak tempuh per
kendaraan per tujuan (vehicle mile trip dan passenger mile trip),
dan seterusnya. pola berkendara (driving pattern/cycle) pada
dasarnya dapat direncanakan melalui rekayasa lalu lintas.
Data mengenai pola dan siklus berkendaraan yang tepat di
Indonesia belum tersedia hingga saat ini. Dalam perencanaan,
pertimbangan utama diterapkan adalah bahwa aliran lalu lintas
berjalan dengan selancar mungkin, dan dengan waktu tempuh
yang sekecil mungkin, seperti yang dapat di uji dengan model
asal-tujuan (origin-destination). Dengan meminimumkan waktu
tempuh dari setiap titik asal ke titik tujuannya masing-masing
akan dapat dicapai efisiensi bahan bakar yang maksimum, dan
reduksi pencemar udara yang lebih besar.
17

2. Pengendalian pada sumber (mesin kendaraan).


Jenis kendaraan yang digunakan sebagai alat transportasi
merupakan bagian di dalam sistem transportasi yang akan
memberikan dampak bagi lingkungan fisik dan biologi akibat
emisi pencemaran udara dan kebisingan. Kedua jenis pencemaran
ini sangat ditentukan oleh jenis dan kinerja mesin penggerak yang
digunakan. Persyaratan pengendalian pencemaran seperti yang
diterapkan Amerika Serikat (AS) telah terbukti membawa
perubahan-perubahan besar dalam perencanaan mesin kendaraan
bermotor yang beredar di dunia sekarang ini. Sejak tahun 1970,
bersamaan dengan krisis energi dan fenomena pencemaran udara
di Los Angeles Smog, dikeluarkan persyaratan-persyaratan yang
ketat oleh pemerintah Federal untuk mengendalikan emisi
kendaraan bermotor dan efisiensi bahan bakar.
Perubahan-perubahan yang dilakukan dalam rencana
mesin, meliputi pemasangan (katup) PCV palse sistem karburasi,
sistem pemantikan yang memungkinkan pembakaran lebih
sempurna, sirkulasi uap bahan bakar minyak (BBM) untuk
mengurangi emisi tangki BBM, dan after burner untuk
menurunkan emisi. Sedangkan teknologi retrofit disyaratkan
dengan pemasangan alat Retrofit Catalitic Converter untuk
mereduksi emisi HC dan NOX dan debu (TSP). Teknologi ini
membawa implikasi yang besar terhadap sistem BBM, karena
TEL tidak dapat lagi ditambahkan dalam BBM.
3. Energi transportasi.
Besarnya intensitas emisi yang dikeluarkan kendaraan
bermotor selain ditentukan oleh jenis dan karakteristik mesin, juga
sangat ditentukan oleh jenis BBM yang digunakan. Seperti halnya
penggunaan LPG, akan memungkinkan pembakaran sempurna
18

dan efisiensi energi yang tinggi. Selain itu dalam rangka upaya
pengendalian emisi gas buang, bila peralatan retrofit digunakan,
diperlukan syarat bahan bakar, khusus yaitu bebas timbal.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, diharapkan
sistem

transportasi

diharapkan,

perkotaan,

khususnya

dalam

akan
upaya

sesuai

dengan

mengurangi

yang
tingkat

kemacetan dan mencegah semakin meningkatnya kadar polutan


udara oleh asap kendaraan bermotor dan kebisingan.
Aspek perencanaan perkotaan dan sistem transportasi
akan menjadi faktor generik dampak yang umumnya timbul,
khususnya penggunaan energi, pencemaran udara termasuk dalam
mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas. Selama aspek sistem
transportasi yang memadai dan sesuai terlaksana dalam konteks
perencanaan kota yang ada, melalui manajemen transportasi,
efisiensi energi dan pencegahan dampak bagi lingkungan dapat
dilakukan.
Dalam hal pembangunan dan pengembangan sistem
transportasi darat yang ideal untuk kehidupan. Sebenarnya
pemerintah sebagai pihak regulator sudah memberlakukan
beberapa peraturan guna menanggulangi atau meminimalisir
dampak negatif yang di akibatkan adanya sistem transportasi
darat.
Berdasarkan kondisi saat ini dimana dapat dilihat bahwa
transportasi sangat berpengaruh terhadap pencemaran udara akibat
emisi gas buang kendaraan bermotor, perlu diambil langkahlangkah konkrit dan dukungan berupa :
Pemberi

insentif

bagi

berpopulasi rendah antara lain :

19

kendaraan

bermotor

yang

1)Keringanan pembebasan pajak untuk kendaraan bermotor


yang menggunakan gas berupa PBBKB (Pajak Bahan Bakar
Kendaran Bermotor). PERPU.No.21 tahun1997.
2)Keringanan Pajak Kendaraan (STNK) khusus kendaraan
berbahan bakar Gas (BBG atau LPG) selama periode
tertentu.
3)Penentuan harga jual Bahan Bakar yang berwawasan
lingkungan (Mogas Unleaded dan Gas) de ngan harga
menarik bagi konsumen.
4)Pemberian keringanan pajak untuk Bea Masuk peralatan
Konversi (Conversion Kit), Sehingga harga jualnya dapat
ditekan dan terjangkau oleh masyarakat.
5)Peraturan Pemerintah yang mewajibkan kepada Agen Tunggal
Pemegang Merk (ATPM) untuk setiap kendaraan baru yang
diproduksi sudah dilengkapi/dipasang Catalytic Converter
serta alat konversi untuk kendaraan niaga dan angkutan
umum.
Selain itu, juga diperlukan dukungan dari lintas seketoral.
Mengingat permasalahan pencemaran udara terutama di kota -kota
besar telah telah menyebabkan menurunnya kualitas udara yang
menggangu kenyaman bahkan telah menyebabkan gangguan
kesehatan dan keseimbangan iklim global. Untuk menanggulangi
hal tersebut upaya-upaya pengendalian pencemaran udara perlu
dilakukan oleh semua pihak yang terkait dan berkepentingan
antara institusional yang meliputi : beberapa Departemen Teknis
terkait (Departemen Perhubungan, Departemen Tenaga Kerja,
Departemen Keuangan dan Kementerian Pekerjaan Umum), serta
Bapedalda, Pertamina dan Polri, sedangkan Pemda akan berperan

20

sekali sebagai penanggung jawab pelaksanaannya dan Bappenas


sebagai penanggung jawab pendanaannya.
Dalam upaya mengatasi persoalan kemacetan , Ada
beberapa

cara

yang

bisa

dilakukan

untuk

memecahkan

permasalahan kemacetan lalu lintas antara lain :


1) meningkatkan

kapasitas

jalan

prasarana

seperti:

memperlebar jalan, menambah lajur lalu lintas sepanjang hal


itu memungkinkan, membuat jalan tol, merubah sirkulasi lalu
lintas

menjadi

jalan

satu

arah,

mengurangi

konflik

dipersimpangan melalui pembatasan arus tertentu, biasanya


yang paling

dominan membatasi

arus

belok

kanan.,

meningkatkan kapasitas persimpangan melalui lampu lalu


lintas,

persimpangan

tidak

sebidang

mengembangkan inteligent transport sistem.


2) Pembatasan kendaraan pribadi seperti

/
:

flyover,

Pembatasan

penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu kawasan tertentu


seperti yang direncanakan akan diterapkan di Jakarta melalui
Electronic Road Pricing (ERP), Pembatasan pemilikan
kendaraan pribadi melalui peningkatan biaya pemilikan
kendaraan, Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki kawasan
atau jalan tertentu.

21

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Transportasi merupakan urat nadi Pembangunan Nasioanal
untuk melancarakan arus manusia barang maupu informasi sebagai
penunjang tercapainya pengalokasian sumber-sumber perekonomian
secara optimal untuk itu jasa transportasi harus cukup tersedia secara
merata dan terjangkau daya beli masyarakat. Sarana transportasi darat
berkembang mengikuti fenomena yang timbul. Pemilihan sistem
transportasi yang salah dapat mengakibatkan terjadinya permasalahanpermasalahan bagi masyarakat maupun lingkungan.
Permasalahan yang dapat ditimbulkan oleh berkembang
pesatnya transportasi darat antara lain polusi udara, polusi suara,
kemacetan, dan meningkatnya angka kecelakaan lalu-lintas. Adapun
untuk menanggulangi berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh
sektor transportasi darat, perlu mempertimbangkan beberapa hal,
diantaranya efek tehadap lingkungan dan manusia. Adapun mengenai
efek terhadap lingkungan dan manusia perlu dikendalikan dengan
melihat semua aspek yang ada di dalam sistem transportasi, mulai dari
perencanaan sistem transportasi, meliputi model transportasi, sarana,
pola aliran lalu lintas, jenis mesin kendaraan, dan bahan bakar yang
digunakan. Selain itu, juga diperlukan dukungan dari lintas seketoral.
Karena sebenarnya pemerintah sebagai pihak regulator sudah
memberlakukan beberapa peraturan guna menanggulangi atau
meminimalisir dampak negatif yang di akibatkan adanya sistem
transportasi darat.

22

3.2. Saran
Transportasi sudah selayaknya ada untuk memberi kemudahan
dalam

kehidupan

manusia.

Tetapi

dalam

perkembangannya

transportasi ini juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi


lingkungan dan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, kita sebagai
manusia sudah seharusnya bijak dalam menggunakan alat transportasi,
agar masalah atau dampak negatif dari tranportasi darat dapat di
minimalisir sekecil mungkin.
Sudah sepatutnya kita sadar akan pentingnya arti transportasi
dalam kehidupan ini. Namun kita juga harus sadar akan berbagai
dampak negatif yang ditimbulkannya.

23

DAFTAR PUSTAKA
-

Effendi, Ridwan dan Elly Malihah. (2007) . Pendidikan Lingkungan

Sosial Budaya dan Teknologi. Bandung : Yasindo Multi Aspek


Hermawan, Ruswandi dkk. (2006) . perkembangan masyarakat dan

Budaya. Bandung : UPI PRESS


Sumaatmadja, Nursid. (1998) . Manusia Dalam Konteks Sosial Budaya

dan Lingkungan Hidup. Bandung : AlfaBeta


Sumaatmadja, Nursid dan Kuswaya Wihardit. (1999). Perspektif

Global. Jakarta : Universitas Terbuka


http://www.dephub.go.id/in/data/darat/map_dirjen.pdf
http://www.kpbb.org/download.html
www.uum.edu.my/pend/webpeke/ppend/lalu_lintas.pdf
www.walhijogja.or.id

24