Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
PICU merupakan pelayanan yang ditujukan untuk klien gangguan jiwa
dalam kondisi krisis psikiatri (Keliat, dkk, 2009). Sedangkan Kedaruratan
psikiatrik adalah suatu gangguan akut pada pikiran, perilaku, atau hubungan sosial
yang membutuhkan intervensi segera (Allen, Forster, Zelberg, & Currier, 2002).
Kaus-kasus tersebut adalah gaduh gelisah atau tindak kekerasan, percobaan bunuh
diri, penelantaran diri, sindroma putus zat, dan pemerkosaan.
Menurut Dr Poonam Khetrapal Singh selaku Direktur Regional WHO di
wilayah Asia Tenggara. Setiap tahun, lebih dari 800.000 kematian disebabkan
karena bunuh diri atau kasus yang berkaitan dengan usaha bunuh diri. Bahkan,
setiap 40 detik, ada satu orang di dunia yang memutuskan untuk bunuh diri. Di
tingkat global, bunuh diri menjadi penyebab kedua kematian penduduk berusia
15-29 tahun. Sebanyak 39% kasus bunuh diri di dunia terjadi di wilayah Asia
Tenggara. Umumnya, di wilayah ini bunuh diri dipicu karena masalah pada
kelompok anak-anak muda, terutama di daerah pedesaan.
Dari data yang ada di Poli Jiwa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr
Soetomo, Surabaya, kasus percobaan bunuh diri yang terjadi Januari-Desember
2008 tercatat 21 kasus. Ironisnya, kasus percobaan bunuh diri ini banyak
dilakukan oleh pelaku berusia 17 tahun hingga 27 tahun. Disusul kemudian,
pelaku yang berusia 30 tahun hingga 45 tahun. Kalangan remaja yang nekat
mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri mayoritas karena terlibat masalah
dengan pacar dan selebihnya karena terlibat masalah dengan orang tua dan
lingkungan pergaulan. Cara paling banyak dilakukan untuk mencoba bunuh diri
yakni dengan meminum Baygon, minum racun tikus, mengiris pergelangan
tangan, dan selebihnya dengan cara melompat dari tempat tinggi. Sedangkan,
mereka yang berusia antara 30-45 tahun yang nekat berusaha bunuh diri sebagian
besar disebabkan karena masalah-masalah rumah tangga. "Pada 2008, kasus
percobaan bunuh diri memang banyak didominasi kalangan remaja," ujar
Suprihatin, Bagian Administrasi Poli Jiwa RSUD dr Soetomo di Surabaya.

Menurut Fatimah, dokter kesehatan jiwa RSUD dr Soetomo, kasus


percobaan bunuh diri yang dilakukan kalangan remaja dilatarbelakangi oleh
permasalahan yang kompleks. Di antaranya kepribadian remaja yang belum
matang rentan mengambil jalan pintas ketika mengalami masalah. Kepribadian
remaja itu masih impulsif. Mereka cenderung bertindak sesuatu tanpa terlebih
berpikir panjang terlebih dahulu. Namun, remaja yang nekat melakukan
percobaan

bunuh

diri

ini

karena

kepribadian

mentalnya

tidak

kuat.

Menurut dia, remaja yang nekat mengambil jalan pintas ingin mengakhiri
hidupnya memiliki kecenderungan gampang putus asa, tidak bisa melihat jalan
keluar ketika menghadapi masalah, hubungan dengan keluarga kurang harmonis,
dan perkembangan jiwanya kurang matang. Selain pribadi dirinya yang kurang
matang, faktor lingkungan sekitar, lingkungan sekolah, keluarga, orang tua, juga
turut mempengaruhi.
Kasus bunuh diri, menurut Dr Poonam menjadi masalah kesehatan yang
mesti diperhatikan. Bukan hanya karena kasus bunuh diri bisa menjadi beban
ekonomi dan sosial serta emosional bagi keluarga serta masyarakat, tapi
sebenarnya kasus bunuh diri dapat dicegah. Kebutuhan layanan psikiatri di rumah
sakit umum mutlak sangat diperlukan. Hal tersebut mudah dipahami mengingat
jumlah tempat tidur di rumah sakit jiwa yang tidak mencukupi untuk populasi
Indonesia dan pemusatan layanan rumah sakit jiwa di kota besar sehingga sulit
untuk diakses oleh masyarakat secara luas. Keberadaan rumah sakit umum di
tingkat kabupaten seharusnya mampu menjembatani kesenjangan tersebut.
Layanan yang dibutuhkan rawat inap psikiatri berhubungan dengan
kasus-kasus akut yang memiliki indikasi adanya kecenderungan untuk
membahayakan

diri

maupun

orang

lain,

Penatalaksanaan

pada

pasien

kegawatdaruratan psikiatrik sangat kompleks. Para profesional yang bekerja pada


pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik umumnya berisiko tinggi mendapatkan
kekerasan akibat keadaan mental pasien mereka. Pasien biasanya datang atas
nama kemauan pribadi mereka, dianjurkan oleh petugas kesehatan lainnya, atau
tanpa disengaja. Penatalaksanaan pasien yang menuntut intervensi psikiatrik pada
umumnya meliputi stabilisasi krisis dari masalah hidup yang bisa meliputi gejala
atau kekacauan mental baik sifatnya kronis ataupun akut.

Perawat ataupun tenaga kesehatan lain hendaknya memberikan saran,


motivasi bahkan cara yang dapat meminimalkan dan bahkan mencegah terjadinya
bunuh diri pada klien sehingga klien dapat menyalurkan kemarahannya pada
tempat dan situsai yang benar dan positif sehingga tidak membahayakan pasien
sendiri. Perawat juga bisa memberikan aktivitas ataupun kegiatan yang dapat
mengurangi dari tingkat depresi dan resiko bunuh diri klien sehingga hal-hal yang
tidak diinginkan tidak terjadi. Oleh sebab itulah peran dari setiap aspek dan orang
terdekat klien sangat berpengaruh pada timbulnya resiko bunuh diri yang
dilakukan oleh klien.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana konsep asuhan keperawatan klien pada kedaruratan
psikiatri?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Mendapatkan gambaran konsep asuhan keperawatan klien pada
kedaruratan psikiatri.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Menjelaskan pengkajian pada asuhan keperawatan klien pada kedaruratan
psikiatri.
2. Menjelaskan diagnosa pada asuhan keperawatan klien pada kedaruratan
psikiatri.
3. Menjelaskan intervensi pada asuhan keperawatan klien pada kedaruratan
psikiatri.
4. Menjelaskan implementasi pada asuhan keperawatan klien pada
kedaruratan psikiatri.
5. Menjelaskan evaluasi pada asuhan keperawatan klien pada kedaruratan
psikiatri

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep PICU (Psychiatric Intensive Care Unit)
Kedaruratan psikiatri adalah gangguan alam pikiran, perasaan, atau
perilaku yang membutuhkan intervensi terapeutik segera, sehingga prinsip
dari kedaruratan psikiatri adalah perlu penanganan segera (Kaplan dan
Saddock, 1998).
Oleh karena itu, kedaruratan psikiatri di Indonesia sering disebut
dengan unit perawatan intensif psikiatri (UPIP) atau Psychiatric Intensive
Care Unit (PICU). Adapun kriteria kedaruratan adalah sebagai berikut :
1. Ancaman segera terhadap kehidupan, kesehatan, harta benda, atau
lingkungan
2. Telah menyebabkan kehilangan kehidupan, gangguan kesehatan,
serta harta benda dan lingkungan
3. Memiliki kecenderungan peningkatan bahaya yang tinggi dan
segera

terhadap

kehidupan,

kesehatan,

harta

benda,

atau

lingkungan.
Berdasarkan prinsip segera, penanganan kedaruratan dibagi dalam
fase intensif I (24 jam pertama), fase intensif II (24-72 jam pertama), dan fase
intensif III (72 jam-10 hari).
Keperawatan memberikan intervensi kepada pasien dengan berfokus
pada respon, sehingga kategori pasien dibuat dengan skor Respon Umum
Fungsi Adaptif (RUFA) yang merupakan modifikasi dari skor GAFR
(General Adaptive Function Response).
2.2 Konsep Masalah Keperawatan Risiko Bunuh Diri di PICU
2.2.1 Definisi Bunuh Diri
Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena pasien berada
dalam keadaan stres yang tinggi dan menggunakan koping yang
maladaptive Bunuh diri merupakan suatu upaya yang disadari dan
bertujuan untuk mengakhiri kehidupan. Individu secara sadar berupaya
melaksanakan hasratnya untuk mati. Perilaku bunuh diri meliputi isyarat-

isyarat, percobaan atau ancaman verbal yang akan mengakibatkan


kematian, luka, atau menyakiti diri sendiri (Clinton, 1995).
2.2.2 Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Risiko Bunuh Diri di PICU
Pengkajian
Intensif I
24 jam
(Skor: 1-10 Skala RUFA)

Aktif

mencoba

bunuh

diri dengan cara :


Gantung diri
Minum racun
Memotong urat

nadi
Menjatuhkan diri
dari tempat yang

tinggi

Mengalami depresi
Mempunyai
rencana
bunuh diri yang spesifik

Intensif II
24-72 jam
(Skor: 11-20 Skala
RUFA)
Aktif memikirkan

Intensif III
72 jam-10 hari
(Skor: 21-30 Skala
RUFA)
Mungkin

sudah

rencana bunuh diri,

memiliki ide untuk

tetapi tidak disertai

mengakhiri hidupnya,

dengan percobaan

tetapi tidak disertai

bunuh diri.
Mengatakan ingin

dengan ancaman dan

rencana yang spesifik


Menarik diri dari

perasaan seperti rasa

pergaulan sosial

putus

percobaan bunuh diri.


Mengungkapkan
bunuh diri, tetapi tanpa
bersalah/sedih/marah/
asa/tidak

berdaya
Mengungkapkan

hal

negatif tentang diri


sendiri

yang

menggambarkan
harga diri rendah
Mengatakan
tolong
jaga anak-anak karena
saya akan pergi jauh!
atau segala sesuatu
akan lebih baik tanpa
saya.
2.2.3

Asuhan Keperawatan Fase Intensif I (24 Jam Pertama)


a. Bina hubungan saling percaya dengan pasien
b. Identifikasi alasan, cara, dan waktu pasien melakukan tindakan bunuh
diri

c. Identifikasi alternatif mekanisme koping selain tindakan bunuh diri,


diantaranya :
Ekspresi perasaan kepada orang yang dapat dipercayai (teman
atau keluarga)
Berpikir positif
Melakukan aktifitas positif yang disenangi
Aktifitas spiritual, misalnya baca doa, sholat
d. Observasi pasien setiap 10 menit sekali, sampai ia dipindahkan ke
ruang intensif II
e. Jauhkan semua benda yang berbahaya, misalnya pisau, silet, gelas, ikat
pinggang
f. Kolaborasi dengan medis untuk program pengobatan pasien dengan
menggunakan prinsip lima benar
g. Dengan lembut jelaskan kepada pasien bahwa Anda akan melindungi

2.2.4

pasien sampai tidak ada keinginan bunuh diri


h. Rawat luka atau kondisi akibat tindakan percobaan bunuh diri
Asuhan Keperawatan Fase Intensif II (24-72 Jam)
a. Latih pasien melakukan mekanisme koping positif
b. Kolaborasi dengan medis untuk program pengobatan pasien dengan
menggunaan prinsip lima benar
c. Observasi pasien setiap 30 menit sekali, sampai ia dipindahkan ke
ruang intensif III
d. Jauhkan semua benda yang berbahaya, misalnya pisau, silet, gelas, ikat
pinggang
e. Lanjutkan perawatan luka atau kondisi akibat tindakan percobaan
bunuh diri (apabila pasien merupakan pasien pindahan dari ruang

intensif I)
f. Berikan terapi musik (bila perlu) untuk pasien
2.2.5 Asuhan Keperawatan Fase Intensif III (72 Jam-10 Hari)
a. Memberi kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya
b. Berikan pujian bila pasien dapat mengatakan perasaan yang positif
c. Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting
d. Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien
2.2.6 Tindakan Keperawatan untuk Keluarga
a. Mengajarkan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri
b. Mengajarkan keluarga tentang cara melindungi pasien dari perilaku
bunuh diri
c. Mengajarkan keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan apabila
pasien melakukan percobaan bunuh diri
d. Membantu keluarga mencari rujukan fasilitas kesehatan yang tersedia
bagi pasien
6

2.2.7 Strategi Pelaksanaan pada Pasien dengan Risiko Bunuh Diri


Orientasi

Kerja

SP 1
Assalamualaikum
A
kenalkan saya adalah perawat
B yang bertugas di ruang
Mawar ini, saya dinas pagi
dari jam 7 pagi sampai 2
siang.
Bagaimana perasaan A hari
ini?
Bagaimana
kalau
kita
bercakap-cakap tentang apa
yang A rasakan selama ini.
Dimana dan berapa lama kita
bicara?
Bagaimana perasaan A
setelah bencana ini terjadi?
Apakah dengan bencana ini A
merasa paling menderita di
dunia
ini?
Apakah
A
kehilangan kepercayaan diri?
Apakah A merasa tak
berharga atau bahkan lebih

SP 2
Assalamualaikum A! masih
ingat dengan saya kan?
Bagaimana perasaan A hari
ini? Ohh... jadi A merasa
tidak perlu lagi hidup di
dunia ini. Apakah A ada
perasaan ingin bunuh diri?
Baiklah kalau begitu, hari ini
kita akan membahas tentang
bagaimana cara mengatasi
keinginan bunuh diri. Mau
berapa lama? Dimana?
Disini saja yah!
Baiklah,
tampaknya
A
membutuhkan
pertolongan
segera karena ada keinginan
untuk mengakhiri hidup.
Saya
perlu
memeriksa
seluruh isi kamar A ini untuk
memastikan tidak ada bendabenda yang membahayakan

SP 3
Assalamualaikum
A!
Bagaimana perasaan A
saat ini? Masih adakah
dorongan
mengakhiri
kehidupan?
Baik, sesuai janji kita dua
jam yang lalu sekarang
kita
akan
membahas
tentang rasa syukur atas
pemberian Tuhan yang
masih A miliki. Mau
berapa lama? Dimana?

SP 4
Assalamualaikum,
A.
Bagaimana perasaannya?
Masihkah ada keinginan
bunuh diri? Apalagi halhal positif yang perlu
disyukuri?
Bagus!
Sekarang
kita
akan
berdiskusi
tentang
bagaimana cara mengatasi
masalah yang selama ini
timbul. Mau berapa lama?
Disini saja yah ?

Apa saja dalam hidup A


yang perlu disyukuri, siapa
saja kira-kira yang sedih
dan
rugi
kalau
A
meninggal.
Coba
A
ceritakan
hal-hal yang
baik dalam kehidupan A.
Keadaan yang bagaimana

Coba ceritakan situasi


yang membuat A ingin
bunuh diri. Selain bunuh
diri, apalagi kira-kira jalan
keluarnya. Wow, banyak
juga yah. Nah coba kita
diskusikan keuntungan dan
kerugian masing-masing

rendah daripada orang lain?


Apakah A merasa bersalah
atau mempersalahkan diri
sendiri? Apakah A sering
mengalami
kesulitan
berkonsentrasi? Apakah A
berniat untuk menyakiti diri
sendiri, ingin bunuh diri atau
berharap bahwa A mati?
Apakah A pernah mencoba
untuk bunuh diri? Apa
sebabnya,
bagaimana
caranya? Apa yang A
rasakan? Jika pasien telah
menyampaikan ide bunuh
dirinya, segera dilanjutkan
dengan tindakan keperawatan
untuk melindungi pasien,
misalnya
dengan
mengatakan:
Baiklah,
tampaknya A membutuhkan
pertolongan segera karena
ada
keinginan
untuk
mengakhiri hidup. Saya
perlu memeriksa seluruh isi

A
Nah A, karena A tampaknya
masih memiliki keinginan
yang kuat untuk mengakhiri
hidup A, maka saya tidak
akan membiarkan A sendiri.
Apa yang A lakukan kalau
keinginan bunuh diri muncul?
Kalau keinginan itu muncul,
maka untuk mengatasinya A
harus langsung minta bantuan
kepada perawat atau keluarga
dan teman yang sedang
besuk. Jadi usahakan A
jangan pernah sendirian ya..

yang membuat A merasa


puas? Bagus. Ternyata
kehidupan A masih ada
yang baik yang patut A
syukuri. Coba A sebutkan
kegiatan apa yang masih
dapat A lakukan selama
ini.
Bagaimana
kalau
A
mencoba
melakukan
kegiatan tersebut, Mari
kita latih.

cara tersebut. Mari kita


pilih
cara
mengatasi
masalah
yang
paling
menguntungkan! Menurut
A cara yang mana? Ya,
saya setuju. A bisa
mencoba!
Mari kita buat rencana
kegiatan
untuk
masa
depan.

kamar
A
ini
untuk
memastikan tidak ada bendabenda yang membahayakan
A.
Nah A, Karena A tampaknya
masih memiliki keinginan
yang kuat untuk mengakhiri
hidup A, maka saya tidak
akan membiarkan A sendiri.
Apa yang A lakukan kalau
keinginan
bunuh
diri
muncul ? Kalau keinginan itu
muncul,
maka untuk
mengatasinya
A
harus
langsung
minta
bantuan
kepada perawat di ruangan ini
dan juga keluarga atau teman
yang sedang besuk. Jadi A
jangan sendirian ya, katakan
pada perawat, keluarga atau
teman jika ada dorongan
untuk
mengakhiri
kehidupan.
Saya percaya A dapat
mengatasi masalah, OK A?
9

Terminasi

Bagaimana perasaan A
sekarang setelah mengetahui
cara mengatasi perasaan ingin
bunuh diri?
Coba A sebutkan lagi cara
tersebut
Saya akan menemani A terus
sampai keinginan bunuh diri
hilang
(jangan meninggalkan pasien
sendirian)

Bagaimana perasaan A
setelah kita bercakap-cakap?
Bisa sebutkan kembali apa
yang telah kita bicarakan
tadi? Bagus A. Bagimana
Masih ada dorongan untuk
bunuh diri? Kalau masih ada
perasaan / dorongan bunuh
diri, tolong panggil segera
saya atau perawat yang lain.
Kalau sudah tidak ada
keinginan bunh diri saya akan
ketemu A lagi, untuk
membicarakan
cara
meninngkatkan harga diri
setengah jam lagi dan disini

Bagaimana perasaan A
setelah kita bercakapcakap? Bisa sebutkan
kembali apa-apa saja yang
A patut syukuri dalam
hidup A? Ingat dan
ucapkan hal-hal yang baik
dalam kehidupan A jika
terjadi
dorongan
mengakhiri
kehidupan
(affirmasi). Bagus A. Coba
A ingat-ingat lagi hal-hal
lain yang masih A miliki
dan perlu disyukuri! Nanti
jam 12 kita bahas tentang
cara mengatasi masalah
dengan baik. Tempatnya
dimana? Baiklah.

Bagaimana perasaan A,
setelah kita bercakapcakap? Apa cara mengatasi
masalah yang A akan
gunakan? Coba dalam satu
hari ini, A menyelesaikan
masalah dengan cara yang
dipilih A tadi. Besok di
jam yang sama kita akan
bertemu lagi disini untuk
membahas pengalaman A
menggunakan cara yang
dipilih

10

2.3 Konsep Medis Percobaan Bunuh Diri


2.3.1

Menurut sudut pandang medis, percobaan bunuh diri dapat

disebabkan oleh :
a) Penyalahgunaan zat
b) Gangguan depresif
c) Skizofrenia
d) Gangguan Bipolar Episode Depresi
2.3.2 Pertimbangan Pasien Perlu MRS (Masuk Rumah Sakit)
a) Keparahan depresi
b) Adanya gagasan bunuh diri
c) Bergantung pada kemampuan pasien dan keluarga mengatasi
masalah
d) Adanya faktor risiko
e) Tersedianya dukungan sosial (untuk bunuh diri)
2.3.3 Penanganan
a) Rawat Jalan
Dokter harus bisa dihubungi 24 jam dan keluarga harus siap siaga
menjaga 24 jam
b) Rawat Inap
- Memeriksa barang pasien dan pengunjung yang bisa dipakai
-

untuk bunuh diri


Menempatkan pasien ditempat yang dekat ruang perawat
Kunjungi dan observasi sesering mungkin
Dukungan medikamentosa : antidepresan

BAB 2
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Kasus
Tn X masuk IGD 2 hari yang lalu karena perdahan masif di pergelangan
tangan kirinya. Kemudian Tn X dirujuk ke RSJ karena tindakannya

11

merupakan percobaan bunuh diri. Berdasarkan hasil pengkajian, Tn X berusia


35 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Status,
menikah dan mempunyai dua anak. Perusahaan tempatnya bekerja
mengalami masalah, akibatnya sebagian besar para pekerjanya terkena
pemutusan hubungan kerja (PHK), termasuk Tn X. Akibatnya kondisi
keuangan keluarga Tn. X memburuk. Sehingga istri Tn X selalu meminta
cerai karena Tn. X tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Istrinya terus
menyalahkan Tn X sehingga Tn X pun merasa dirinya tidak berguna lagi dan
ingin mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Menurut keterangan dari
keluarga, pasien pernah meminum cairan pembasmi serangga sebanyak dua
kali dalam waktu sebulan ini, namun usahanya selalu gagal.
3.2 Pengkajian
1. Identitas klien
Inisial
: Tn. X
Umur
: 35 tahun
Informan
: Keluarga
2. Alasan masuk
Pasien mencoba bunuh diri dengan cara memotong nadi di
pergelangan tangannya dan pasien sudah pernah melakukan percobaan
bunuh diri dengan meminum cairan pembasmi serangga sebanyak dua kali
namun gagal. Keluarga membawa pasien ke IGD karena perdarahan dan
setelah mendapatkan perawatan luka, pihak rumah sakit merujuk pasien ke
RSJ.
3. Faktor Predisposisi
Pasien tidak pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu dan tidak ada
riwayat gangguan jiwa dari anggota keluarga. Pasien mengalami masa lalu
yang tidak menyenangkan yaitu megalami PHK 3 bulan yang lalu dan
selalu mendapat surat permintaan cerai dari istrinya. Sehingga Tn X
merasa tidak berguna
4. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda vital : TD= 120/80 mmHg N= 100x/mnt S= 37,30C P=
18x/mnt
b. Ukur
: TB= 165 cm
BB= 50 kg
c. Pasien mengeluh nyeri dipergelangan tangan kiri dan pasien mengeluh
tidak bisa tidur (insomnia)

12

5. Psikososial
1. Genogram

Gambar : Genogram Tn X.

35

Keterangan
: Laki-laki
: Perempuan
: Meninggal
: Cerai atau putus hubungan
: Orang yang tinggal serumah
: Orang yang terdekat
3
5

: Umur klien
: Klien

Jelaskan: Tn X merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Dalam satu


rumah, Tn X tinggal bersama bapak, ibu, adik nomer dua, dan kedua
anaknya. Istri Tn X memutuskan untuk pisah rumah dengan Tn X satu
bulan yang lalu.
2. Konsep diri
a. Gambaran diri
b. Identitas

: Tn X acuh terhadap perawatan tubuhnya


: Sebelum dirawat, Tn X sebagai

pengangguran
c. Peran

: Tn X merupakan tulang punggung pertama


di keluarganya, namun semuanya berubah
karena dia terkena PHK 3 bulan yang lalu

d. Ideal diri
e. Harga diri

dan tidak kunjung mendapatkan pekerjaan


: Tn X menginginkan istrinya kembali
: Tn X merasa tidak berguna karena istrinya
selalu menyalahkan Tn X karena tidak
segera

mendapatkan

pekerjaan

dan

akhirnya Tn X ditinggal oleh istrinya


13

3. Hubungan sosial pasien dengan masyarakat pasif. Pasien jarang


mengikuti kegiatan dalam lingkungan masyarakat seperti bersih desa
dan doa bersama.
4. Kepercayaan masyarakat disekitar pasien menganggap bahwa seorang
laki-laki haruslah bekerja dan tidak baik bila menganggur
6. Status mental
Penampilan
Pembicaraan
Aktivias motorik
Alam perasaan
Afek
Interaksi selama wawacara
Persepsi
Proses pikir
berguna
Daya tilik diri

: masih terlihat rapi


: lambat
: lesu
: sedih dan terlihat putus asa
: datar
: sedikit kontak mata
: tidak ada masalah
: klien mengulangi kata-kata aku tidak
: klien selalu menyalahkan dirinya sendiri

7. Score bunuh diri


Intensif I: 24 jam

(Skor: 5 skala RUFA)


Aktif mencoba bunuh diri dengan cara:
minum racun
memotong urat nadi
Mengalami depresi
Mempunyai rencana bunuh diri yang spesifik
Menyiapkan alat untuk bunuh diri (pistol, pisau, silet, dll)

3.3 Diagnosa Keperawatan


1. Harga diri rendah
2. Resiko bunuh diri
3.4 Intervensi Keperawatan
Bagaimana perasaan X setelah bencana ini terjadi? Apakah dengan bencana ini X
merasa paling menderita di dunia ini? Apakah X kehilangan kepercayaan diri?
Apakah X merasa tak berharga atau bahkan lebih rendah daripada orang lain?
Apakah X merasa bersalah atau mempersalahkan diri sendiri? Apakah X sering
14

mengalami kesulitan berkonsentrasi? Apakah X berniat untuk menyakiti diri


sendiri, ingin bunuh diri atau berharap bahwa X mati? Apakah X pernah mencoba
untuk bunuh diri? Apa sebabnya, bagaimana caranya? Apa yang X rasakan? Jika
pasien telah menyampaikan ide bunuh dirinya, segera dilanjutkan dengan
tindakan keperawatan untuk melindungi pasien, misalnya dengan mengatakan:
Baiklah, tampaknya X membutuhkan pertolongan segera karena ada keinginan
untuk mengakhiri hidup. Saya perlu memeriksa seluruh isi kamar X ini untuk
memastikan tidak ada benda-benda yang membahayakan X.
Nah X, Karena X tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat untuk
mengakhiri hidup X, maka saya tidak akan membiarkan X sendiri. X jangan
khawatir, saya akan melindungi X sampai tidak ada keinginan bunuh diri
Apa yang X lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul ? Kalau keinginan itu
muncul, maka untuk mengatasinya X harus langsung minta bantuan kepada
perawat di ruangan ini dan juga keluarga atau teman yang sedang besuk. Jadi X
jangan sendirian ya, katakan pada perawat, keluarga atau teman jika ada dorongan
untuk mengakhiri kehidupan.
Saya percaya X dapat mengatasi masalah, OK X?

3.5 Evaluasi
1. Keadaan pasien yang tetap aman dan selamat.
2. Pasien dapat lebih terbuka dengan cara
a) Pasien mampu mengungkapkan perasaanya
b) Pasien mampu meningkatkan harga dirinya
c) Pasien mampu menggunakan cara penyelesaian masalah yang baik
3. Keluarga mampu berperan serta dalam melindungi anggota keluarga
yang mengancam atau mencoba bunuh diri dan mengetahui isyarat
bunuh diri, ditandai dengan:
a. Keluarga mampu menyebutkan kembali tanda dan gejala bunuh diri
b. Keluarga mampu memperagakan kembali cara-cara melindungi
anggota keluarga yang berisiko bunuh diri
c. Keluarga mampu menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia
dalam merawat anggota keluarga yeng berisiko bunuh diri

15

BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
PICU merupakan singkatan dari Psychiatric Intensive Care Unit, yang
merupakan unit gabungan pelayanan gawat darurat psikiatri dan pelayanan
intensif yang ditunjukkan untuk pasien gangguan jiwa yang dalam kondisi krisis
psikiatri dan berada dalam kondisi yang membutuhkan pengawasan ketat, dimana
didalamnya dapat diselenggarakan di rumah sakit jiwa atau psikiatri rumah sakit
umum.

Kedaruratan yang pada prinsipnya memiliki tujuan yang sama yaitu

merawat pasien-pasien yang berada dalam kondisi membutuhkan intervensi


segera. Pasien dengan kondisi dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan
lingkungan, seperti pasien dengan usaha bunuh diri, halusinasi, perilaku
kekerasan, NAPZA, dan waham. Layanan psikiatri di rumah sakit umum meliputi
layanan rawat jalan, rawat inap, gawat darurat, dan consultation liaison psychiatry.

16

Pelayanan intensif tersebut dimulai sejak pasien masuk hingga 24 jam pertama
dan terus berlangsung hingga maksimal 10 hari.
Dari kasus PICU ini akan muncul beberapa masalah keperawatan yang
secara berurutan harus segera diselesaikan perawat. Koping keluarga inefektif:
ketidakmampuan koping, Diagnosa tersebut meliputi Gangguan konsep diri: harga
diri rendah dan Resiko bunuh diri. Peran perawat dalam kasus PICU ini
memerluka Kecepatan menangani kondisi kedaruratan akan meminimalkan gejala
sisa maupun kecacatan yang akan dialami pasien.
3.2 SARAN
Mahasiswa keperawatan sebagai calon perawat wajib mengerti dan
memahami tentang PICU (Psychiatric Intensive Care Unit). Sehingga nantinya
ketika di klinik dan terjun ke masyarakat dapat mengimplementasikannya dalam
proses pemberian asuhan keperawatan. Karena jika perawat tidak paham
mengenai hal tersebut akan menghambat penanganan terhadap pasien dan
penanganan menjadi kurang maksimal bahkan dapat merugikan pihak pasien.

17

Anda mungkin juga menyukai