Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komposit merupakan kombinasi dari dua material atau lebih dalam skala
makro yang secara disik dan mekanik dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Sifat
komposit ditentukan oleh material penyusunnya (matriks dan penguat). Pada
dasarnya jenis matriks didalam suatu komposit lah yang berpengaruh lebih besar
terhadap sifat fisik material

seperti ketahanan kimia, ketahan thermal dan

ketahanan terhadap radiasi ultra violet. Matriks berguna dalam mentransfer


tegangan ke serat, membentuk ikatan koheren, permukaan matrik/serat,
melindungi serat, memisahkan serat, Melepas ikatan, tetap stabil setelah proses
manufaktur.
Reinforcement (penguat) atau Filler atau Fiber adalah salah satu bagian
utama dari komposit yang berfungsi sebagai penanggung beban utama pada
komposit.Secara struktur mikro material komposit tidak merubah material
pembentuknya (dalam ordekristalin) tetapi secara keseluruhan material komposit
berbeda dengan material pembentuknyakarena terjadi ikatan antar permukaan
antara matriks dan filler
Didalam mekanika material komposit memperhatikan nilai properties dari
suatu material agar kita dapat menerapkan material tersebut dengan benar dan
sesuai dengan sifatnya, nilai

properties material yakni seperti Elastisitas,

massajenis, Tegangan, dan Regangan material.

1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai bahan atau referensi
pembelajaran tentang mekanika material komposit dan mengenal lebih jauh
material komposit itu.

1.3 Rumusan Masalah

Adapun perumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah untuk


mengetahui apakah yang dimaksud dengan material komposit, apa saja sifat-sifat
material komposit.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Bahan Komposit


Klasifikasi komposit serat (fiber-matrik composites) dapat dibedakan
menjadi:
1. Fiber composites (komposit serat) adalah gabungan serat dengan matrik
2. Flake composites adalah gabungan serpih rata dengan matrik.
3. Particulate composites adalah gabungan partikel dengan matrik.
4. Filled composites adalah gabungan matrik continous skeletal
5. Laminar composites adalah gabungan lapisan atau unsur pokok lamina.

Bahan komposit terdiri dari dua macam, yaitu bahan komposit partikel
(particulate composite) dan bahan komposit serat (fiber composite). Bahan
komposit partikel terdiri dari partikel yang diikat matrik. Komposit serat ada
dua macam, yaitu serat panjang (continuos fiber) dan serat pendek (short fiber
atau whisker).
Klasifikasi bahan komposit digambarkan pada gambar berikut :

2..2 Tipe Komposit Serat


Berdasarkan penempatannya terdapat beberapa tipe serat pada komposit
yaitu:
1. Continuous Fiber Composite
Tipe ini mempunyai susunan serat panjang dan lurus, membentuk
lamina diantara matriknya. Tipe ini mempunyai kelemahan
pemisahan antar lapisan.
2. Woven Fiber Composite (bi-directional)
Komposit ini tidak mudah dipengaruhi pemisahan antar lapisan
karena susunan seratnya mengikat antar lapisan. Susunan serat
memanjangnya yang tidak begitu lurus mengakibatkan kekuatan
dan kekakuan melemah.
3. Discontinuous Fiber Composite
Discontinuous Fiber Composite adalah tipe komposit dengan serat
pendek.
4. Hybrid Fiber Composite
Hybrid fiber composite merupakan komposit gabungan antara tipe
serat lurus dengan serat acak. Tipe ini digunakan supaya dapat
menganti

kekurangan

sifat

menggabungkan kelebihannya.

dari

kedua

tipe

dan

dapat

2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Performa Komposit

1. Faktor Serat
2. Letak Serat
a. One dimensional reinforcement
mempunyai kekuatan pada arah axis serat.
b. Two dimensional reinforcement (planar)
mempunyai kekuatan pada dua arah atau masing-masing arah orientasi
serat.
c. Three dimensional reinforcement
mempunyai sifat isotropic kekuatannya lebih tinggi dibanding dengan
dua tipe sebelumnya.
3. Panjang Serat
Serat panjang lebih kuat dibanding serat pendek. Oleh karena itu
panjang dan diameter sangat berpengaruh pada kekuatan maupun modulus
komposit. Serat panjang (continous fiber) lebih efisien dalam peletakannya
daripada serat pendek.
4. Bentuk Serat
Bentuk serat tidak mempengaruhi, yang mempengaruhi adalah
diameter seratnya. Semakin kecil diameter serat akan menghasilkan
kekuatan komposit yang tinggi.
5. Faktor Matrik
Matrik dalam komposit berfungsi sebagai bahan pengikat serat
menjadi sebuah unit struktur, yang melindungi dari perusakan eksternal,
meneruskan atau memindahkan beban eksternal pada bidang geser antara
serat dan matrik, sehingga matrik dan serat saling berhubungan. Bahan
polimer yang sering digunakan sebagai material matrik dalam komposit ada
dua macam yaitu thermoplasik dan thermoset. Thermoplastic dan termoset
ada banyak jenisnya, antara lain :

a. Thermoplastik,
bahan-bahan

yang

tergolong

diantaranya

Polyamide

(PI),

Polysulfone (PS), Polyetheretherketone (PEEK), Polyphenylene


sulfide (PPS), Polypropylene (PP), Polyethylene (PE), dll.
b. Thermoset,
bahan-bahan yang tergolong diantaranya epoksi, polyester.
Phenolic, plenol, Resin Amino, Resin furan, dll.
6. Katalis
Katalis digunakan untuk membantu proses pengeringan (curring)
pada bahan matrik suatu komposit. Penambahan katalis pada cairan matrik
akan mempercepat proses laju pengeringan, tetapi jika menambahkan
katalis terlalu banyak akan menghasilkan komposit menjadi lebih getas.
Penggunaan katalis sebaiknya diatur berdasarkan kebutuhannya. Penelitian
ini menggunakan katalis metil ethyl katon peroxide (MEKPO) yang
berbentuk cair dan berwarna bening.

2.4 Karakteristik Papan Partikel Komposit

Karakteristik dari papan partikel komposit dilakukan untuk


mengetahui dan menganalisis campuran polimer dengan serat. Karakterisasi
ini dilakukan dengan menggunakan pengujian berdasarkan pada standar JIS A
5908-2003 yang meliputi sifat fisik seperti densitas, daya serap air dan
pengembangan tebal dan sifat mekanis seperti kuat lentur yang meliputi
keteguhan patah (MOR) dan modulus elastisitas (MOE), kuat tekan, kuat
impak, kuat tarik serta untuk menganalisa pengaruh suhu terhadap
karakteristik panel komposit dilakukan analisis berupa Differential Thermal
Analisis (DTA) maupun analisa XRD untuk mengetahui substansi atau bentuk
kristal papan komposit.
Karakteristik papan partikel komposit dari beberapa standar
sebagai acuan untuk menentukan kualitas papan partikel

2.5 Pengujian Sifat Fisik

Untuk mengetahui sifat-sifat fisik papan partikel komposit dilakukan


pengujian kerapatan dan daya serap air seperti berikut :
2.5.1 Kerapatan
Pengujian kerapatan dilakukan pada kondisi kering udara dan
volume kering udara, sampel berukuran 10 cm x 10 cm x 1 cm
ditimbang beratnya, lalu diukur rata-rata panjang, lebar, dan tebalnya
untuk menentukan volumenya. Kerapatan sampel papan partikel
komposit dihitung dengan rumus :

=
Dimana
3

= kerapatan (kg/m )
m = massa sampel (kg)
3

V = volume sampel (m )

2.5.2 Daya Serap Air


Daya serap air dihitung dari berat sampel sebelum dan sesudah
perendaman dalam air 24 jam pada sampel berukuran 5cm x 10cm x
1cm dengan rumus :

=211 100% (2.2)


Dimana :
DSA = daya serap air (%)
m1= massa sampel sebelum perendaman (kg)
m 2= massa sampel sesudah perendaman (kg)

2.5.3 Pengembangan Tebal

Pengembangan tebal dihitung atas tebal sebelum dan sesudah perendaman


dalam air selama 24 jam pada sampel berukuran 5 cm x 10 cm x 1 cm dengan
rumus :

Dimana :
PT=Pengembangan Tebal (%)
T1=tebal sampel sebelum perendaman (m)
T2 =tebal sampel sesudah perendaman (m)

2.5 Pengujian Sifat Mekanik


2.5.1. Pengujian Kuat Lentur
Pengujian keteguhan (kuat) lentur meliputi modulus patah (MOR)
dan modulus elastisitas (MOE) pada sampel yang sama yaitu :

a. Pengujian Kuat Patah (MOR)


Pengujian kuat patah (Modulus of Rufture) dilakukan dengan alat
Universal Testing Machine (UTM) seperti pada Gambar 2.5 dengan
menggunakan lebar batang penyangga (jarak sangga) 14 kali tebal sampel,
tetapi tidak kurang dari 14 cm.

Nilai MOR dihitung dengan rumus :

Dimana :
2

MOR = Modulus of Rufture(N/m )


P

= beban maksimum (kg)

= jarak sangga (m)

= lebar sampel (m)

= tebal sampel (m)

CONSTITUTIVE RELATIONSHIPS FOR COMPOSITE


MATERIALS
Material Behavior in Principal Material Axes
Isotropic materials
uniaxial loading

E 1
2 1

E
21

2D Loading

2
x 1
E
y
2
1

xy
0

E , E , 0
x
x


1
, 0 y
y ,

E E
xy
xy
1
0 , 0 ,

G
S
E

,
,0
2
1
x
E

,
,
0
y
1 2

, 0 , G xy

Dimana S adalah compliance matrix.

Dimana Q adalah kekakuan matrix.

ISOTROPIC MATERIALS
Note:
1. Only two independent material constants in the constitutive equation.
2.

No normal stress and shear strain coupling, or no shear stress and normal strain
coupling.

Examples: polycrystalline metals, Polymers, Randomly oriented fiber-reinforced


composites, Particulate-reinforced composites
TRANSVERSELY ISOTROPIC MATERIALS
In L-T Plane

1
LT
E , E , 0
L
L
L

TL
1

,
, 0
T
ET
ET
LT
1
0 , 0 ,
G LT

principal material axes


L : Arah Longitudinal
T : Arah Transversal

EL

1
LT TL
L

LT ET
T
1 LT TL
LT
0

T

LT

TL E L

, 0
1 LT TL
L

ET

,
, 0 T
1 LT TL

LT
,
0
, G LT

pada bidang T1 dan T2

1
TT
E , E , 0
T
T T
1
1

TT
,
, 0
T2
E
E
T
T


T1T2
1
0 , 0 ,
GTT

Principal material axes


L : arah longitudinal
T : arah transversal

Dimana

T1

T2

T1T2

Sama seperti untuk bahan isotropic

GTT

EL: elastic modulus in longitudinal direction


ET: elastic modulus in transverse direction

ET
21 TT

GLT: shear modulus in L T plane


GTT: shear modulus in transverse plane
LT: major Poissons ratio (strain in T direction caused by stress in L
direction)
TL : minor Poissons ratio
And
Note:

LT
EL

TL
ET

1. 4 independent material constants (EL, ET, GLT, LT ) in L T

plane while 5

(EL, ET, GLT, LT, GTT) for 3-D state. 2. No normal stress and shear strain
coupling in L T axes or

no shear stress and normal strain coupling in L

T axes

MATERIAL ORTHOTROPIC
Contoh pada plane 1-2
1 12

E , E , 0
1
1
1 1


21 1

,
, 0 2
2
E 2 E 2

12
12
1
0
,
0
,

G12

1.2.3: principal material


axes

12
E1

21
E2

21 E1
E1

1 , 1 , 0

12 21
12 21
1
1

E2
12 E 2
,
, 0
2
2
1

12
21
12
21


12
12
0
,
0
, G12

Note:
1. 4 independent constants in 2-D state (e.g. 1-2 plane, E1, E2, G12, 12 )while 9 in 3D state (E1, E2, E3, G12, G13, G23, 12 , 13 , 23 )

2. No coupling between normal stress and shear strain or no coupling between shear
stress and normal strain

OFF-AXIS LOADING OF UNIDIRECTIONAL COMPOSITE


untuk material orthotropic dengan sumbu utama material (sumbu 1-2)

1 Q11 Q12 0 1


2 Q21 Q22 0 2
0
0 Q66 12
12
dengan transformasi koordinat:

x cos2
sin 2
2
cos2
y sin

xy cossin , - cossin ,

x
1

1
y T 2


12
xy

1
1

1
2cossin 2 T 2


cos2 - sin 2 12
12
- 2cossin

, xyxy are tensorial shear strains

Let

1 1 0

2 0 1
0 0
12

0 1
1


0 2 R 2

2 12
12

Then

x
1
1
1



1
1
1
y T 2 T Q 2 T Q R 2




12
12
12
xy
T

x
x
x


1
1
QR T y T QR T R y Q y



xy
xy
xy

TRANSFORMED STIFFNESS MATRIX


dimana

Q T 1QRT R1

perubahan kekakuan matrix

Q11 Q11m 4 2Q12 2Q66 m 2 n 2 Q22n 4

Q22 Q11n 4 2Q12 2Q66 m 2 n 2 Q22m 4

Q12 Q11 Q22 4Q66 m 2 n 2 Q12 m 4 n 4

Q66 Q11 Q22 2Q12 2Q66 m 2 n 2 Q66 m 4 n 4

Q16 Q11 Q12 2Q66 m n Q12 Q22 2Q66 mn3


3

Q26 Q11 Q12 2Q66 mn3 Q12 Q22 2Q66 m 3 n


m cos , n sin

TRANSFORMED COMPLIANCE MATRIX

x

y Q

xy

x
x


y S y


xy
xy Dimana, S penyesuaian perubahan matrix

OFF-AXIS LOADING DEFORMATION


x Q11 Q12 Q16 x


y Q12 Q22 Q26 y



xy
Q16 Q26 Q66
xy

1. 4 material constants in 1-2 plane.


2. There is normal stress and shear strain coupling (for0, 90 ),
or shear stress and normal strain coupling.

For uni-axial tensile testing in x-direction


TRANSFORMATION OF ENGINEERING CONSTANTS

x 0, y xy 0

stresses in L T axes
2

x x cos
L

T
0

sin

T
x


0 sin cos
LT
x

Strains in L T axes
L S11 S12 0 L

T S12 S 22 0 T
0

0 S 66
LT
LT
1

, LT , 0

E
EL
L

1
TL ,
, 0
ET
ET

1
0 , 0 ,
GLT

cos2
sin 2

TL

ET
EL

x cos2
sin 2

cos2

2
LT
x

x sin
EL
ET
sin cos
x

sin cos

GLT

And strains in x y axes

cos2
sin 2

TL

EL
ET


L
sin 2
x

cos2

1
1

y
T

x
LT
EL

ET
1 xy
LT

sin cos
2

2G LT

cos4 sin 4 1 1
2


LT sin 2 2

ET
4 G LT
EL
EL

x
1 1 2 LT
1
1 2

sin 2
y x LT

EL
ET G LT

EL 4 EL
1 xy

2
1 sin 2 LT 1 1 cos2 1 2 LT 1 1
E
2
EL
ET G LT
L
E L ET 2G LT

Recall for uni-axial tensile testing


Ex

x
x

2
1
cos4 sin 4 1 1


LT
Ex
EL
ET
4 G LT
EL
and
y xy x

xy

xy
Ex

y
x

y
x

sin 2 2

y
x

Ex

LT
EL

2
1 1
1
1

LT

4 EL
EL
ET G LT

sin 2 2

Define cross-coefficient, mx

xy m x x
EL

mx

xy E L
x

E
EL
E
E
sin 2 LT L
cos2 1 2 LT L L
ET 2G LT
ET G LT

Similarly, for uni-axial tensile testing in y-direction

2
1
sin 4 cos4 1 1


LT
Ey
EL
ET
4 G LT
EL

yx
Ey

2
sin 2

xyy-direction
TLSimilarly,
2 uni-axial
in
1 1 for
1 tensile
1 testing
sin 2 2

TL

ET

4 EL

ET

ET

G LT

Ex

E
EL
E
E
m y sin 2 LT L
sin 2 1 2 LT L L
ET 2G LT
ET G LT

For simple shear testing in x y plane

x y 0, xy 0
Stresses in L T axes

0 2 xy sin cos
L

T
T
0 2 xy sin cos


LT
xy xy cos2 sin 2

Strains in L T axes
1

, LT , 0

EL
EL
L
1

TL
,
, 0
T
E
E
T
T

LT
1
0 ,
0 ,
G
LT

L

T

LT

, LT , 0

EL
EL
TL
1
,
, 0

ET
ET

1
0 , 0 ,
G
LT

2 xy sin cos

2 xy sin cos

2
2
xy cos sin

1 TL

2 sin cos
EL ET

1 LT

xy 2 sin cos

EL
ET

1
cos2 sin 2

G
LT

Strains in x y axes


L
x

1
y T T

xy
LT
2

2
where

x m x
y m y

xy
EL

xy
EL

1
2
2
1 1
1
1
LT

LT

EL
ET E L
EL
ET G LT
EL

xy xy

G xy

cos2 2

xy
xy

2
2
1
1
1 1
1
1

LT

LT

G xy E L
EL
ET E L
EL
E L G LT

cos2 2

In summary, for a general planar loading, by principle of superposition

1
xy m x

,
,
Ex
Ex EL

x

m y x
yx 1

,
,
y
y
EL
Ey Ey
xy
xy
mx m y
1
,
,

E
E
L
L G xy

MICROMECHANICS OF UNIDIRECTIONAL COMPOSITES


Properties of unidirectional lamina is determined by:

volume fraction of constituent materials (fiber, matrix, void, etc.)

form of the reinforcement (fiber, particle, )

orientation of fibers

Volume fraction & Weight fraction

Vi=volume, vi = volume fraction =

Wi=weight, wi = weight fraction =

Vi
V
i
Vi Vc
Wi
W
i
Wi Wc

Where
subscripts i = c: composite
f = fiber
m = matrix
Conservation of mass:

Wc W f Wm

Wf
Wc

Wm
1
Wc

w f wm 1
Assume composite is void-free:

Vc V f Vm

Vf
Vc

Vm
1
Vc

v f vm 1

Density of composite

c f v f m vm

or

Wc W f Wm f V f g mVm g

Vc g
Vc g
Vc g

Vc V f V m

Wf
Wc
W

m
c g f g m g

wf

wm

Generalized equations for n constituent composite


n

c i vi
i 1

Void content determination


Experimental result (with voids)

1
wi


i 1 i
n

ce f v f m vm v vv
f v f m vm

Theoretical calculation (excluding voids) :

Wc W f Wm

ct 1 vv f v f m vm
ct f v f m vm ct vv
void content : vv

In general, void content

ct ce
ct

< 1% Good composite


> 5% Poor composite

Longitudinal Stiffness

Ec E f v f Em vm EL

For linear fiber and matrix:

Generalized equation for composites with n constituents:E c Ei vi


i 1

Modes of Failure

matrix-controlled failure: cu mu 1 v f 1
fiber-controlled failure: cu fu v f m fu 1 v f

[ fu m ]v f m
fu

cu max cu 1 , cu 2

fu

Critical fiber volume fraction


cu 2 cu 1

For fiber-controlled failure to be

fu m
vf

m mu 1 v f

mu m

fu

v min

fu

fu mu m

fu

cu mu

For matrix is to be reinforced:

fu m
vf

Factors influencing EL and scu

fu

valid:

fu

m mu

mu m
fu m

fu

fu

vcrit

fu

mis-orientation of fibers

fibers of non-uniform strength due to variations in diameter, handling and


surface treatment, fiber length

stress concentration at fiber ends (discontinuous fibers)

interfacial conditions

residual stresses

Transverse Stiffness, ET

Assume all constituents are in linear elastic range:


Generalized equation for n constituent composite:
n
v
1
i
E c i 1 Ei

1
vi

Transverse Strengthi 1 Ei

or

Ec

v
1
v
f m
Ec E f Em

ET (transvers e modulus)

Due to stress (strain) concentration

cu mu

Factors influence scu:

properties of fiber and matrix

the interface bond strength

the presence and distribution of voids (flaws)

internal stress and strain distribution (shape of fiber, arrangement of fibers)

In-plane Shear Modulus

For linearly elastic fiber and matrix:

v
1
v
f m
Gc G f
Gm
or Gc GLT

G f Gm
Gm v f G f vm

Major Poissons Ratio

LT f v f mvm

Analysis of Laminated Composites

Classical Laminate Theory (CLT)


Displacement field:

w0
x
w
v x, y , z v 0 x, y z 0
y
w x, y, z w0 x, y

u x, y , z u 0 x, y z

Resultant Forces and Moments


Resultant forces:

x
Nx
x
h

N y 2h y dz 1 A y
2
N

xy
xy
xy


M x
x
k x
h
x


M y 2h y z dz 1 B y D k y
2
M


k
xy
xy
xy
xy

Resultant moments

hk

k 1

hk 1

Aij
n

hk

k 1

hk 1

Bij
n

hk

k 1

hk 1

Dij

k x


B k y

xy

Qij k dz Qij k hk hk 1
n

k 1

h2 h2
k 1
Qij zdz Qij k
k
k
2
k 1

h3 h3

k 1
Qij z 2 dz Qij k
k
k
3
k 1

[A]: extensional stiffness


matrix
[B]: coupling stiffness matrix
[D]: bending stiffness matrix

Laminates of Special Configurations

Symmetric laminates

Unidirectional (UD) laminates

specially orthotropic

off-axis

Cross-ply laminates

Angle-ply laminates

Quasi-isotropic laminates

Strength of Laminates

Maximum Stress Criterion

Lamina fails if one of the following inequalities is satisfied:

L
L
T
T

Tt
Tc

LT LT

Maximum Strain Criterion

Lt
Lc

Lamina fails if one of the following inequalities is satisfied:

L
L
T
T

Lt
Lc
Tt
Tc

LT LT
Tsai Hill Criterion

Lamina fails if the following inequality is satisfied:


L

Where :


L T T LT
L

T
LT

if L 0
L Lt
Lc if L 0
if T 0
T Tt
Tc if T 0

Comparison among Criteria

Maximum stress and strain criteria can tell the mode of failure

Tsai-Hill criterion includes the interaction among stress components

Strength of Off-Axis Lamina in Uni-axial Loading

Strength of a Laminate

First-ply failure

Last-ply failure