Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan dan informasi, baik verbal
maupun nonverbal dari seseorang kepada orang lain, sehingga terjadi saling pengertian mengenai
suatu pesan atau informasi yang diiringi dengan perubahan sikap dan tingkah laku komunikan.
Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti
oleh kedua belah pihak. Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok
orang dapat dipahami oleh pihak lain. Komunikasi memainkan peranan penting dalam hal ini,
dan suatu komunikasi tersebut harus dapat saling dimengerti oleh kedua belah pihak sehingga
komunikasi tersebut dapat dikatakan efektif. Adapun apabila pesan tidak dapat disampaikan
dengan baik maka akan terjadi kesalahpahaman dalam komunikasi sehingga terhambatnya tujuan
awal yang hendak dicapai. Salah komunikasi ( miss communication ) adalah proses penyampaian
informasi baik berupa pesan, ide, maupun gagasan kepada pihak lain, akan tetapi disini terjadi
perbedaan pengertian antara satu pihak dengan pihak lainnya mengenai informasi yang
dimaksud. Banyak hal yang membuat miss communication ini terjadi, misalnya : Proses
penyampaian informasi yang tidak efektif, Ambiguitas informasi, sehingga membuat adanya
perbedaan tafsiran antara kedua belah pihak, Kurang cakapnya penerima dalam menguasai
informasi yang disampaikan, dan adanya perbudaan budaya yang terjadi. Oleh karena itu kami
akan menjelaskan lebih lanjut mengenai kasus yang terjadi dalam komunikasi

1.2 Tujuan
Untuk mampu menganalis kasus-kasus mengenai komunikasi bisnis pada perusahaan
yang dapat dikaitkan dengan adanya kesalahan dalam berkomunikasi.

1.3 Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah, dengan diketahuinya faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap keberhasilan dalam berkomunikasi,

maupun penghambat dalam

berkomunukasi kita dapat mengetahui cara mengatasi kesalahan dalam berkomunikasi tersebut.
1

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Contoh Kasus 1


Disney in France
Disney sebagai perusahaan yang mengembangkan konsep taman hiburan dalam bisnisnya
telah berhasil meraih keuntungan di Amerika Serikat dan Jepang. Langkah selanjutnya yang
dilakukan Disney adalah mencoba memasuki pasar Eropa, dalam hal ini Paris sebagai target
utamanya. Mengapa Paris yang dijadikan kota yang akan dibangun taman hiburan berikutnya?
Mengapa tidak memilih kota yang lain?
Disney berargumen bahwa Paris dipilih karena beberapa alasan, pertama sekitar 17 juta
orang eropa tinggal kurang dari dua jam perjalanan menuju Paris, dan sekitar 310 juta dapat
terbang ke Paris pada waktu yang sama. Kedua, besarnya perhatian pemerintah kota paris yang
menawarkan lebih dari satu milyar dollar dalam berbagai insentif, dan ekspektasi bahwa proyek
ini akan menciptakan 30000 lapangan pekerjaan.
Namun apa yang terjadi? Dalam pelaksanaanya Disney mengahadapi beberapa masalah
antara lain berupa boikot acara pembukaan oleh menteri kebudayaan Perancis, dan kegagalan
Disney untuk memperoleh target pengunjung yang datang dan pendapatan yang diharapakan.
Mengapa bisa? Hal ini disebabkan karena Disney kesalahan asumsi terhadap selera dan pilihan
dari konsumen di Perancis. Ini disebabkan karena perbedaan budaya, Disney menganggap pola
budaya perusahaan yang telah berhasil dijalankan di Amerika Serikat dan Jepang akan berhasil
pula di Perancis, ternyata tidak. Sebagai contoh,pertama, kebijakan disney untuk tidak
menyediakan minuman alkohol di taman hiburan, berakibat buruk karena di Paris sudah menjadi
kebiasaan untuk makan siang dengan segelas wine. Kedua asumsi bahwa hari jumat akan lebih
ramai dari hari minggu, ternyata berkebalikan. Ketiga, Disney tidak menyediakan sarapan pagi
berupa bacon dan telur seperti yang dinginkan oleh konsumen, tapi malah menyediakan kopi dan
Croissant.

Begitu juga dengan model kerja tim yang diterapkan, disney mencoba menerapakan
model kerja tim yang serupa dilakukan di USA dan Jepang, yang tidak dapat diterima oleh
karyawan Disney di Paris. Juga kesalahan perkiraan Disney bahwa orang Eropa akan
menghabiskan waktu lama di taman mereka, ternyata keliru.
Kegagalan dan kesalahan pola budaya perusahaan yang dilakukan Disney di Paris,
disebabkan oleh adanya kesalahan penafsiran budaya. Disney beranggapan bahwa apa yang
diterapkan dan sukses di USA dan Jepang akan sukses pula di Perancis. Disney seharusnya
mengadakan riset dahulu tentang bagaimana budaya orang Perancis agar pola budaya perusahaan
dapat disesuaikan dengan kultur setempat dan diterapkan di Perancis. Dan setelah Disney
merubah strateginya yaitu dengan merubah nama perusahaannya menjadi Disney Land Paris,
merubah makanan dan pakaian yang ditawarkan sesuai pola budaya setempat, harga tiket
dipotong sepertiganya, terbukti jumlah pengunjung Disney di Paris mengalami kenaikan.

2.2 Rumusan Masalah Kasus 1


1. Apakah komunikasi bisnis lintas budaya berperan penting dalam kasus diatas?
2. Jelaskan apakah pemahaman akan perbedaan lintas budaya berperan penting dalam
sebuah perusahaan?
3. Bagaimanakah cara agar konflik pada kasus diatas dapat terselesaikan?

2.3 Pembahasan Kasus 1


1. Komunikasi bisnis lintas budaya adalah proses mengirim dan menerima pesan bisnis antar
individu yang berbeda budaya. Komunikasi lintas budaya yang efektif bergantung pada
pemahaman terhadap perbedaan budaya. Selain mempermudah hubungan bisnis, pemahaman
terhadap perbedaan budaya sekaligus juga meningkatkan reputasi perusahaan. Perbedaan budaya
dapat dilihat dari nilai sosial, peran dan status, kebiasan mengambil keputusan, sikap terhadap
waktu, penggunaan ruang/jarak, konteks budaya, bahasa tubuh, hukum perilaku etis, dan
perbedaan budaya perusahaan. Jadi, komunikasi bisnis lintas budaya berperan sangat penting
dalam kasus diatas.
2. Seperti yang telah dijelaskan pada kasus di atas, pada awalnya Disney kurang memahami adanya
perbedaan budaya antara Perancis dengan USA dan Jepang. Kita perlu mengenal budaya di suatu
tempat sebelum melakukan komunikasi bisnis, karena budaya pada tempat satu tidak sama
dengan tempat lainnya. Kurangnya pemahaman terhadap perbedaan budaya tersebut akan
memicu miss komunikasi. Seperti Disney yang mengalami miss komunikasi yang menyebabkan

adanya pemboikotan acara pembukaan oleh menteri kebudayaan Perancis. Miss komunikasi
dalam bisnis akan menyebabkan kekacauan sehingga goal atau tujuan perusahaan menjadi sulit
tercapai. Dapat kita lihat pada kasus diatas akibat miss komunikasi dan kurangnya pemahaman
perbedaan budaya Disney tidak mencapai target pengunjung seperti yang diharapkan.
3. Agar kasus daiatas dapat terseleksaikan, maka perusahaan harus melakukan komunikasi bisnis
lintas budaya yang efdektif. Agar komunikasi bisnis lintas budaya dapat berjalan dengan efektif
serta tujuan perusahaan dapat tercapai seperti yang diharapkan, perusahaan harus memperhatikan
cara cara berkomunikasi yang baik serta memahami komunikasi lintas budaya, dan juga
melakukan proses mendengarkan di tempat kerja dan bekerja dalam tim dengan baik. Seperti
dalam kasus diatas perusahaan menindak lanjuti permasalahan diatas dengan mengubah
strateginya yaitu dengan mengubah nama perusahaannya menjadi Disney Land Paris, mengubah
makanan dan pakaian yang ditawarkan sesuai pola budaya setempat, harga tiket dipotong
sepertiganya, terbukti setelah mengubah strateginya jumlah pengunjung Disney di Paris
mengalami kenaikan.

2.4 Contoh Kasus 2


Kru British Airways Mogok 3 Hari, 1.100 Penerbangan Akan Dibatalkan
London Maskapai penerbangan Inggris, British Airways (BA) dilanda aksi mogok kerja
para krunya. Ribuan kru kabin BA hari ini memulai aksi mogok yang akan berlangsung tiga hari.
Mogok tersebut dilakukan untuk memprotes rencana pengurangan ongkos operasional BA yang
akan berdampak pada gaji pekerja. Sebelumnya BA berencana menghemat belanja sebanyak
62,5 juta poundsterling untuk mengatasi dampak negatif yang muncul karena menurunnya
penumpang, fluktuasi harga bahan bakar dan persaingan dengan maskapai lainnya. Lebih dari
1.000 penerbangan BA bakal mengalami pembatalan selama tiga hari pemogokan tersebut.
Mogok kerja ini dilakukan setelah negosiasi antara pimpinan serikat dagang terbesar Inggris,
Unite, Tony Woodley dengan kepala eksekutif BA Willie Walsh menemui jalan buntu.
Dengan kekecewaan besar saya harus katakan bahwa semua negosiasi telah gagal, kata
Woodley kepada wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (20/3/2010).
Perusahaan ini (BA) tidak ingin bernegosiasi, perusahaan ini hanya ingin berperang dengan
anggota-anggota saya, imbuh Woodley.

Total 1.100 penerbangan BA dari sekitar 1.950 penerbangan yang dijadwalkan selama aksi
mogok ini akan dibatalkan. BA bertekad untuk tetap menerbangkan setidaknya 60 persen
penumpang dengan mengandalkan para staf yang tidak ikut mogok. BA juga akan menggunakan
22 pesawat dengan pilot dan kru dari delapan maskapai Eropa lainnya. (sumber: detik.com)

2.5 Rumusan Masalah Kasus 2


1. Konflik apa yang terjadi pada permasalahan tersebut dan apa penyebabnya ?
2. Dari kasus tersebut bagaimana suatu komunikasi sangat penting didalam suatu
perusahaan ?
3. Apa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya konflik yang terjadi pada kasus
tersebut ?
4. Bagaimana cara mengatasi konflik tersebut ?

2.6 Pembahasan Kasus 2


1. Di dalam hubungan komunikasi di suatu lingkungan kerja atau perusahaan, konflik antar
individu akan sering terjadi. Konflik yang sering terjadi biasanya adalah karena masalah
komunikasi yang kurang baik. Biasanya masalah timbul karena lingkungan yang kurang
kondusif di suatu perusahaan. Sehingga kita harus mengurangi faktor faktor yang dapat
menjadi hambatan dalam berkomunikasi. Konflik dalam perusahaan juga sering terjadi
antar karyawan, hal ini biasanya terjadi karena masalah diluar perusahaan, misalnya
tersinggung karena ejekan, masalah ide yang dicuri, dan senioritas.
2. Komunikasi dalam suatu perusahaan sangat penting agar tidak terjadinya salah
penyampaian informasi antar anggota dalam suatu organisasi dan agar tercapainya tujuan
tertentu. Dengan kata lain, tanpa adanya sebuah komunikasi yang baik niscaya sebuah
perusahaan tidak akan mencapai tujuannya. Tujuan komunikasi dalam sebuah organisasi
sangat memberikan banyak manfaat secara langsung yaitu memudahkan para anggota
bekerja dari instruksi-instruksi yang diberikan dari atasan dan untuk mengurangi
kesalahpahaman yang biasa terjadi dan memang sudah melekat pada suatu perusahaan.
Apabila semua bawahan dan atasan dapat berinteraksi dengan baik, maka seluruh
kesalahpahaman yang beresiko mungkin akan berkurang presentase nya.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi pada umumnya, yakni kemungkinan


berbagai hambatan yang dapat timbul. Melalui analisis dapat disimpulkan bahwa
timbulnya konflik tersebut adalah karena adanya perbedaan kepentingan / interest antara
bawahan dengan atasan. Yang dimana bawahan atau para karyawannya tersebut
melakukan mogok kerja karena keinginannya terhadap pengurangan ongkos operasional
BA untuk tidak dilakukan karena akan berdampak pada gaji pekerja. Sedangkan
perusahaan (BA) tidak ingin bernegosiasi yang dimana hal tersebut menjadi penghambat
komunikasi dalam rangka pemecahan masalah tersebut.
4. Dalam kasus tersebut komunikasi sangat diperlukan untuk mencapai kesepakatan
bersama sehingga dapat mencapai tujuan bersama. Sebaiknya memahami perbedaan
individu atau kompleksitas individu dengan baik sangat diperlukan. Setiap individu
merupakan pribadi yang khas yang berbeda baik dari latar belakang psikologis,
kepentingan, sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan. Sebaiknya perusahaan tersebut
setidaknya melakukan negosiasi mengenai permasalahan tersebut. Dimana perusahaan
tersebut dapat memberi penjelasan mengenai latar belakang pengurangan ongkos
operasional BA. Sehingga dimana pekerja dapat menerima dan memahami keputusan
tersebut. Hal-hal yang dapat juga dilakukan dalam mengatasi konflik yang timbul
tersebut agar tidak terjadi kembali yakni dengan cara: Membentuk suatu sistem informasi
yang terstruktur, agar tidak terjadi kesalahan dalam komunikasi. Misalnya, dengan
membuat papan pengumungan atau pengumuman melalui loudspeaker. Buat komunikasi
dua arah antara atasan dan bawahan menjadi lancar dan harmonis, misalnya dengan
membuat rapat rutin, karena dengan komunikasi yang dua arah dan intens akan
mengurangi masalah di lapangan. Beri pelatihan dalam hal komunikasi kepada atasan dan
karyawan, pelatihan akan memberikan pengetahuan dan ilmu baru bagi setiap individu.
Perusahaan yang baik harus bisa menghilangkan masalah senioritas dalam perusahaan.
Hal ini dapat meminimalisir masalah yang akan timbul, karena dengan suasanya yang
harmonis dan akrab maka masalah akan sulit untuk muncul.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan dan informasi, baik verbal
maupun nonverbal dari seseorang kepada orang lain, sehingga terjadi saling pengertian mengenai
suatu pesan atau informasi yang diiringi dengan perubahan sikap dan tingkah laku komunikan.
Komunikasi dalam dunia bisnis merupakan salah satu faktor penting yang perlu dipertimbangkan
bagi pencapaian tujuan suatu organisasi. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam komunikasi
bisnis agar komunikasi dapat berjalan dengan efektif.
Komunikasi bisnis lintas budaya adalah proses mengirim dan menerima pesan bisnis
antar individu yang berbeda budaya. Komunikasi lintas budaya yang efektif bergantung pada
pemahaman terhadap perbedaan budaya. Selain mempermudah hubungan bisnis, pemahaman
terhadap perbedaan budaya sekaligus juga meningkatkan reputasi perusahaan.

3.2 Saran
Komunikasi merupakan alat terpenting dalam berorganisasi, Karena
tanpa adanya komunikasi, organisasi tidak akan berjalan dengan maksimal.
Jadi disarankan dalam sebuah organisasi harus dibarengi dengan komunikasi
yang baik agar tercapai sebuah organisasi yang baik. Adapun juga yang
perlu

diperhatikan

mengenai

faktor-faktor

yang

menghambat

dalam

berkomunikasi sehingga dengan mengetahui hal tersebut kita dapat


menghindari terjadi kesalahan dalam berkomunikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Richard. 2003. Manajemen, Erlangga: Jakarta.
Purwanto, Djoko. 2003. Komunikasi Bisnis. Erlangga: Jakarta.
Kreitner, Robert, dkk. 2005. Perilaku Organisasi (Organization Behaviour),
Salemba Empat: Jakarta.
Muhammad, Arni. 2004. Komunikasi Bisnis: Bumi Aksara.
Robbins, Stephen. 2002. Perilaku Organisasi. Printice Hall: Jakarta.
http://ophiiciiduduth.blogspot.com/2013/04/contoh-kasus-pentingnyakomunikasi.html?m=1
http://winda-materikuliah.blogspot.com/2010/03/komunikasi-dalambisnis.html?m=1
https://hazellsqandinavy.wordpress.com/2012/03/09/beberapa-kasus-dalamperusahaan/