Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

ELEKTROKIMIA

Oleh :
Kelompok III
Kelas B

Ahmad Dedi Fadillah

1407120814

Al Swendo Musbar

1407110184

Dewi Sunarti

1407113406

Dita Nurhalimah

1407114634

PROGRAM SARJANA STUDI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2014

BAB I
TEORI
1.1

Tujuan Percobaan
1.
Menentukan bilangan Avogadro(N0) secara elektrolisis
2.
Menyusun dan mengukur GGL sel elektrokimia
3.
Mencoba menguju persamaan Nernst

1.2

Dasar Teori
Elektrokimia adalah ilmu yang mempelajari aspek elektronik dari reaksi

kimia. Elemen yang digunakan dalam reaksi elektrokimia dikarakterisasikan


dengan banyaknya elektron yang dimiliki. Reaksi kimia dapat menghasilkan
energi atau menyerap energi. Pertukaran energi yang terjadi biasanya dalam
bentuk panas, tetapi kadang-kadang dengan suatu modifikasi, energi yang
dipertukarkan tersebut bisa diubah dalam bentuk energi listrik. Sel elektrokimia
adalah alat yang di gunakan untuk melangsungkan perubahan bentuk energi kimia
jadi energi listrik. Sel elektrokimia baik yang melepas atau menyerap energi selalu
melibatkan perpindahan elektron-elektron dari satu senyawa ke senyawa yang lain
dalam suatu reaksi oksidasi reduksi. Oksidasi adalah hilangnya elektron
sedangkan reduksi diperolehnya electron. Zat pengoksidasi adalah spesies yang
melakukan oksidasi, mengambil elektron dari zat yang teroksidasi. Zat pereduksi
adalah spesies yang melakukan reduksi memberikan elektron kepada zat yang
tereduksi. Setelah reaksi zat teroksidasi memiliki bilangan oksidasi lebih tinggi
sedangkan zat tereduksi memiliki bilangan oksidasi lebih rendah (Atkins,1983).
1.2.1. Prinsip Dasar Elektroplating
Elektroplating merupakan teknik pelapisan secara elektrodeposisi, yaitu
proses pengendapan pelapis logam secara elektrokimia. Cara pelapisan ini
memerlukan arus listrik searah (DC). Bila listrik mengalir antara anoda dan
katoda, didalam larutan konduktor/larutan elektrolit, maka akan terjadi reaksi
kimia pada permukaan logam tersebut. Pada sistem demikian, bila diberi tegangan
atau beda potensial, ion-ion bergerak menuju elektroda. Kation bergerak menuju
katoda dan anion menuju anoda. Masing-masing mempunyai laju yang khas
(konduktivitas ion spesifik). Konduktivitas total larutan tertentu merupakan

penjumlahan dan konduktivitas ion individu segenap ion yang dikandungnya


(Langsa, 2010).
1.2.2. Elektroda
Elektroda merupakan kutub atau lempeng pada suatu sel elektrolitik ketika
arus listrik memasuki atau meninggalkan sel. Elektroda dimana proses reduksi
berlangsung disebut sebagai katoda yang merupakan kutub negatif(penarik
elektron), sedangkan elektron dimana proses oksidasi berlandsung disebut anoda
yang merupakan kutub positif (pelepas ektron).
Anoda biasanya terkorosi dengan melepaskan elektron-elektron dari atomatom logam netral untuk membentuk ion-ion bersangkutan. Berbagai anoda
dipergunakan pada elektroplating. Ada anoda inert, ada anoda aktif (terkorosi).
Anoda dapat merupakan logam murni, dapat pula sebagai alloy. Katoda biasanya
tidak mengalami korosi, walaupun mungkin menderita kerusakan dalam kondisikondisi tertentu. Dalam larutan, ion-ion positif bergerak ke katoda dan ion-ion
negatif bergerak ke anoda. Adapun logam yang biasa digunakan sebagai elektroda
adalah logam yang tidak larut dalam larutan elektrolit yang digunakan sebagai
pelapis(Langsa, 2010).
1.2.3. Jenis Larutan Elektrolit
Jenis larutan elektrolit yang dipakai dalam elektroplating ialah elektrolit
asam, netral dan basa. Dinamakan larutan elektrolit sebab dapat menghantarkan
arus listrik (Arief, 2009).
Bak pelapisan pada umunya mengandung :

Garam yang mengandung ion logam


Garam yang berfungsi menambah daya hantar larutan
Larutan yang bertindak sebagai buffer untuk menjaga pH larutan yang
dikehendaki

Adition Agent untuk mempengaruhi jenis larutan yang dihasilkan


1.2.4. Voltase, Tahanan dan Hataran
Aliran antara kutub positif dan negatif dari sumber arus lansung dilengkapi
dengan suatu alat elektrolit, maka sejumlah arus listrik yang akan lewat sangat
bergantung pada dua faktor, yaitu :

Gaya gerak listrik (ggl) atau dinamakan electro motif force (e. m. f. ) atau
voltase yang digunakan pada baterai atau sumber arus ion sebagai sumber

arus yang melalui elektrolit.


Tahanan listrik dari elektrolit yang berbanding terbalik dengan arus yang
lewat. Jika tahanan diperbesar maka kuat arus yang ditimbulkan makin
kecil, begitulah sebaliknya.
Salah satu faktor yang mempengaruhi Esel adalah konsentrasi. Persamaan

yang menghubungkan konsentrasi dengan Esel dinamakan persamaan Nernst.


Bentuk persamaan Nernst untuk reaksi aA + bB cC + dD, adalah sebagai
berikut:
c
d
RT aC . a D
Esel=E sel
ln
nF aaA . abB ...........................(1.1)
0

F=konstanta Faraday
n=jumlah elektron yang dipertukarkan dalam reaksi redoks
Untuk perhitungan yang tidak memerlukan ketelitian yang tinggi, aktivitas dapat
diganti dengan konsentrasi.
Berdasarkan penemuan dari Michael Faraday pada tahun 1883 yang
dikenal sebagai hukum Faraday, menetapkan hubungan listik dan kimia dari
elektrolit atau reaksi elektrokimia. Kedua hukum tersebut adalah:
a.

Berat logam yang diendapkan pada katoda selama elektrolisis adalah


sebanding dengan jumlah arus listrik yang melalui larutan.

b.

Untuk sejumlah arus yang lewat selama elektrolisis, berat logam yang
diendapkan sebanding dengan berat ekivalennya.

Berdasarkan kedua hukum tersebut diatas diperoleh:


w=

Z . I .t
96500

......................................... (1.2)

Dimana, W = Berat endapan (gram)


I = Kuat Arus (ampere)
t = Waktu pelapisan (detik)
A= Berat atom (garam/mol)

Z = Valensi
F = Konstanta Faraday (96500 Coloumb)
Misalnya, kuantitas listrik yang diperlukan untuk mengendapkan 1 mol
logam monovalen adalah 96485C(Coulomb),tidak bergantung pada jenis
logamnya. Coulomb adalah satuan muatan listrik dan 1C adalah muatan yang
dihasilkan bila arus 1A(Ampere) mengalir selama 1 detik.Tetapan fundamental
listrik adalah konstanta Faraday, F = 9,65 x 10 4 C, yang didefenisikan sebagai
kuantitas listrik yang dibawa oleh 1 mol elektron. Dimungkinkan untuk
menghitung kuantitas mol perubahan kimia yang di sebabkan oleh aliran arus
listrik yang tetap mengalir untuk rentang waktu tertentu (Saito, 2009).
Keadaan standar didefinisikan sebagai keadaan pada
25o C (298.15 K), pada keaktifan satu untuk semua zat
dalam sel elektrokimia pada sel dengan arus nol pada
tekanan 1 bar (105 Pa). Untuk reaksi yang melibatkan ion
H+, keadaan standar adalah pH = 0 (sekitar konsentrasi
asam 1 molar).
Dalam kasus elektrode hidrogen digunakan sebagai
potensial elektrode standar, gas hidrogen 1 atm (aH 2 = 1)
dikontakkan perlahan dengan elektroda platinum-hitam
yang dibenamkan dalam larutan asam kuat dengan
keaktifan, aH+= 1. Potentialnya diungkapkan sebagai:

..................................... (1.3)
dan menurut definisi E0 = 0 dalam keadaan standar.
Elektroda hidrogen dalam keadaan standar disebut sebagai
elektrode hidrogen standar atau NHE. Walaupun potensial
reduksi biasanya diungkapkan dengan rujukan NHE
standar, elektrode hidrogen sukar ditangani. Oleh karena
itu elektrode kalomel jenuh atau Ag/AgCl digunakan
sebagai elektroda rujukan untuk pengukuran elektrokimia

sehari-hari dan potensial percobaan

diukur terhadap

elektroda ini atau dikonversi pada nilai NHE. Bila nilai


NHE diset menjadi 0, nilai SCE 0.242 V, dan Ag/AgCl
adalah 0.199 V.
Reaksi redoks terjadi hanya bila pasangan redoks
ada dan reaktannya dapat berupa oksidator atau reduktor
bergantung

pasangan

reaksinya.

Kemampuan

relatif

redoksnya dapat diungkapkan secara numerik dengan


memberikan potensial reduksi setengah reaksinya,

E0

(Tabel 3.1). Perubahan energi bebas reaksi berhubungan


dengan E0,

..................................... (1.4)
N

adalah jumlah elektron yang diserahterimakan dan

adalah konstanta Faraday, 96500 C.mol-1.

Misalnya, untuk dua reaksi

tidak berlangsung bebas, tetapi bila H+ (aq) dan Zn(s) ada,


reaksi

redoks

akan

berlangsung.

Persamaan

yang

menyatakan reaksi yang berlangsung didapat bila reaksi ke2 dikurangi dengan persamaan reaksi pertama

Perubahan energi bebas reaksi redoks keseluruhan


adalah selisih perubahan energi masing-masing setengah
reaksi.

..................................... (1.5)
Karena setengah sel pada dasarnya hanya imajiner dan
umumnya digunakan sebagai pasangan, perubahan energi
bebas G01 untuk H+ diset 0. Dalam hal ini karena
didapat hasil percobaan G0 sebesar -147 kJ, maka G02
bernilai 147 kJ. Potensial E0 yang berkaitan dengan G0
setengah reaksi disebut potensial reduksi standar.

......................................... (1.6)
Maka

Potensial

standar

berbagai

setengah

reaksi

ditentukan dengan menggunakan prosedur yang mirip


dengan yang disebutkan tadi (Tabel 3.1). E 0 reaksi redoks
dapat dihitung dengan mengkombinasikan E0 setengah
reaksi ini.
Bila E0 reaksi redoks positif, G0 bernilai negatif
dan

reaksi

berlangsung

spontan.

Akibatnya

selain

menggunakan perubahan energi bebas potensial reduksi


juga dapat digunakan untuk menentukan kespontanan
reaksi. Semakin besar potensial reduksi semakin kuat
kemampuan

oksidasinya.

Nilai

positif

atau

negatif

berdasarkan nilai potensial reduksi proton adalah 0, dan


harus dipahami bahwa nilai positif tidak harus berarti
mengoksidasi, dan nilai negatif bukan berarti mereduksi.
Deretan yang disusun berdasarkan kekuatan redoks disebut
deret elektrokimia (Yelmida. 2011).
BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

2.1

Alat alat yang digunakan


1. pH meter atau potensiometer

8. Dua gelas piala 500 ml dan 100 ml

2. Kertas saring

9. Penjepit

2.2

3. Kabel/Penjepit

10. Lembaran seng dan tembaga

4. Ampermeter

11. Termometer

5. Hot Plate

12. Sumber arus DC

6. Labu ukur 100 ml

13. Stop watch

7. Kertas Amplas

14. Pipet ukur 10 ml

Bahan bahan yang digunakan


1. Kristal NaCl

4. ZnSO4.7H2O

0,01 M

2. Kristal NaOH

5. CuSO4.5H2O

0,01 M

3. Aquadest

6. NH4NO3 atau KNO3

2.3

Prosedur Kerja

A.

Elektrolisis untuk menentukan bilangan avogadro


1. Disiapkan larutan A ( terdiri dari 100 gram NaCl dan 1 gram NaOH dalam
satu liter air)
2. Disiapkan dua buah lempeng tembaga yang akan digunakan sebagai
elektroda, bersihkan dengan amplas.
3. Setelah elektroda digunakan sebagai anoda, ditimbang elektroda tersebut
pada neraca analitik
4. kedua elektroda tembaga dicelupkan ke dalam 80 ml laritan A yang
ditempatkan dalam gelas piala, dan disusun rangkaian listrik
5. Panaskan larutan didalam gelas piala sampai suhu mencapai 80oC dan
suhu dijaga konstan
6. Aliran listrik dialiri pada larutan A. Catat waktu dengan stopwatch, arus
listrik harus dijaga kinstan dengan 1,5 ampere
7. Setelah 10 menit, aliran listrik dimatikan, anoda dibersihkan dengan air
kemudian dikeringkan dengan tissu
8. Timbang anoda sekali lagi.

B.

Mengukur GGL sel dan menguji persamaan Nernst


1. Siapkan potongan lembaran tembaga dan seng. Dibersihkan permukaan
logam dengan kertas amplas

2. Siapkan larutan jenuh NH4NO3 atau KNO3 (10 20 ml). Sebagai


jembatan garam, ambil selembar kertas saring, digulung dan rekatkan
dengan menggunakan slotip pada bagian tengahnya untuk mencegah
gulungan terbuka
3. Dua delas piala 100 ml disiapkan, lalu satu diisi dengan CuSO4 1,0 M 60
ml dan yang lain dengan ZnSO4 1,0 M. Celupkan elektroda elektroda
logam dan hubungkan dengan kabel
4. Celupkan kertas saring yang telah dibentuk jadi gulungan tadi kedalam
larutan jenuh NH4OH3. Hilangkan kelebihan amonium nitrat dengan
menggunakan kertas saring lain, kemudian tempatkan sedemikian rupa
hingga kedua ujung gulungan tercelup ke dalam larutan yang berada pada
kedua gelas piala.
5. Amati nilai GGL dengan menggunakan pH meter yang distel pada posisi
mV. Catat polaritas kedua elektroda pada pengukuran tersebut, juga catat
suhu larutan.
6. Siapkan larutan CuSO4 0,1 M 100 ml dengan jalan pengenceran larutan
CuSO4 1,0 M
7. Ganti larutan CuSO4 1,0 M dengan CuSO4 0,1 M
8. Cuci dan bersihkan kembali dengan kedua elektroda dengan kertas amplas.
Ganti jembatan garam dengan yang baru dan kembali ukur dan catat nilai
GGL dengan menggunakan Ph meter.
9. Ulangi langkah (7), tetapi menggunakan larutan CuSO4 yang lebih encer.
2.4

Hasil Pengamatan

A.

Elektrolisis untuk menentukan bilangan Avogadro


a.
b.
c.
d.
e.

B.

Waktu percobaan
Berat anoda awal
Berat anoda akhir
Perubahan berat anoda
Aliran listrik

Mengukur GGL sel dan menguji persamaan Nernst

2+]

2+

([Zn /[Cu ])
1M/1M
1 M / 0.1 M
1 M / 0.01 M

log ([Zn2+]/
[Cu2+])
0
1
2

Esel (Volt)
1.029
1.008
0.993

: 600 detik
: 2,37 gram
: 2,27 gram
: 0,10 gram
: 1,5 Ampere

1 M / 0.001 M

0.987

BAB III
HASIL DAN DISKUSI
3.1 Hasil Percobaan
3.1.1. Elektrolisis untuk menentukan bilangan Avogadro
Hasil percobaan ini dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut.
Tabel 3.1. Hasil pengamatan
Waktu Percobaan
Berat anoda awal
Berat anoda akhir
Perubahan berat anoda
Perubahan warna larutan
Aliran listrik

600 detik
2,37 gram
2,27 gram
0,10 gram
Bening-merah bata
1,5 0,05 ampere

3.1.2. Mengukur GGL sel dan menguji persamaan Nernst


Hasil percobaan ini dapat dilihat pada Tabel 3.2 berikut.
Tabel 3.2. E sel Elektroda pada variasi konsentrasi CuSO4
Larutan pada

Larutan pada

bagian anoda

bagian anoda

Zn/Zn2+ (M)
1,0
1,0
1,0
1,0

Cu/Cu2+ (M)
1,0
0,1
0,01
0,001

E sel
(volt)
1,039
1,008
0,993
0,987

3.2 Diskusi
Dalam percobaan ini dilakukan proses elektrolisis yang bertujuan untuk
menentukan besarnya bilangan Avogadro serta mengukur GGL sel dan menguji
persamaan Nernst. Pertama, elektrolisis dilakukan dengan cara yaitu logam Cu
yang dijadikan elektroda baik katoda dan anoda yang dicelupkan dalam larutan
elektrolit NaCl pada suasana basa (dengan penambahan NaOH sebagai pemberi
suasana basa).
Pada percobaan elektrolis, larutan terlebih dahulu dipanaskan sehingga suhu
mencapai 80 C. Setelah itu, rangkaian listrik, dimana elektroda terhubung dengan

sumber arus dihidupkan. Proses pemanasan ditujukan agar ketika listrik dialirkan,
dapat mempercepat reaksi. Arus dan suhu dijaga konstan, yaitu sebesar 1,5 A dan
80 C selama 10 menit.
Salah satu tembaga digunakan sebagai anoda. Elektrolisis pada anoda
merupakan peristiwa oksidasi, dimana electron mengalir dari anoda menuju
sumber arus kemudian diteruskan ke katoda. Peristiwa oksidasi yang terjadi pada
anoda mengakibatkan massa dari tembaga pada lempengan elektroda tersebut
berkurang. Adapun reaksi yang terjadi pada anoda dan katoda adalah sebagai
berikut.
Anoda: Cu (s) Cu+ (aq) + eKatoda: Cu+ (aq) + e- Cu (s)
Berdasarkan reaksi diatas oksidasi Cu pada anoda menjadi Cu + selanjutnya
membentuk Cu2O (Tembaga (I) Oksida). Terbentuknya Cu2O ini dibuktikan
dengan berubahnya warna larutan dari bening menjadi merah bata yang
merupakan warna endapan Cu2O. Rumus hokum Faraday yang digunakan dalam
perhitungan Avogadro yaitu :
W=

Ar . I . t
........................................................ (3.1)
Q

Secara empiris, Faraday telah membuktikan hukum-hukum kuantitatif


elektrolisis. Hukum Faraday menyatakan bahwa massa produk yang dihasilkan
pada elektroda sebanding dengan jumlah listrik yang dipergunakan pada
elektrolisis. Jumlah listrik yang dialirkan melalui sel elektrolisis agar dapat
mengalirkan 1mol electron dinyatakan sebagai 1 Faraday. Berdasarkan pada teori,
bilangan Avogadro 6,023 X 1023 mol -1. Namun, pada hasil perhitungan dari
percobaan didapatkan hanya bilangan Avogadro sebesar 5,7186 X 1024 mol -1.
Perbedaan yang terjadi dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya
ketidakpastian arus yang mengalir dalam rangkaian apakah konstan 1,5 A atau
tidak, dikarenakan keterbatasan alat sumber DC yang digunakan serta kondisiny
kurang baik. Selain itu perbedaan bilangan Avogadro yang didapatkan juga
disebabkan oleh suhu larutan yang tidak tepat 80 C, sehingga reaksi yang

harusnya dapat berjalan dengan cepat dan sesuai dengan kondisi percobaan yang
dilakukan Faraday tidak terpenuhi.
Berikutnya adalah percobaan elektrokimia untuk menentukan nilai GGL sel
sekaligus menguji persamaan Nernst. Pada percobaan ini salah satu larutan
elektrolit yaitu CuSO4 divariasikan konsentrasinya sebanyak 4 varian dengan 3
kali pengenceran larutan induk 1M menjadi 0,1 M; 0,01 M; 0,001 M. Konsentrasi
larutan CuSO4 sengaja divariasikan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi Cu
terhadap nilai E sel.
Berdasarkan table 3.2 dapat dilihat bahwa nilai E sel menurun seiring dengan
menurunnya konsentrasi CuSO4, yaitu dari 1,039 V untuk 1M hingga 0,987 V
pada 0,001 M. Hal ini secara teoritis adalah benar dikarenakan sel konsentrasi (sel
yang reaksi totalnya hanya berupa perubahan konsentrasi) reaksi keseluruhannya
merupakan perpindahan materi dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih
rendah. Sehingga penurunan konsentrasi CuSO4 mengakibatkan perbedaan
potensial sel semakin turun.
Disisi lain, larutan elektrolit ZnSO4 dibiarkan dalam konsentrasi tetap yaitu 1
M untuk setiap pengamatan ini. Larutan CuSO4 dan ZnSO4 tersebut dicelupkan
logam Cu pada larutan CuSO4 dan logam Zn pada larutan ZnSO4, dimana logamlogam tersebut menjadi elektroda yang dihubung dengan alat petunjuk potensial
yaitu multitester. Sedangkan untuk menghubungkan kedua larutan diletakkan
jembatan garam yang merupakan kertas saring yang telah direndam pada larutan
Kalium Nitrat(KNO3).
Ketika rangkaian sudah tersusun, nilai GGL larutan dilihat melalui nilai yang
ditunjukkan alat multitester. Pada saat itu, logam Zn akan melepaskan elektron
dan membentuk ion Zn+ dan bergabung dengan larutan ZnSO4. Elektron mengalir
dari elektroda Zn ke elektroda Cu. Ion Cu2+ dalam larutan CuSO4 menerima
elektron dari ion tersebut tereduksi dan membentuk endapan Cu. Aliran elektron
ini terjadi karena adanya jembatan garam dan menyebabkan perbedaan potensial
antara kedua elektroda. Perbedaan potensial akan mencapai maksimum ketika
tidak ada arus yang mengalir. Perbedaan maksimum ini dinamakan GGL sel atau
Esel.

Jembatan garam yang digunakan pada percobaan ini selain sebagai


penghubung antara kedua larutan, juga sebagai penyetara kation dan anion dalam
larutan. Dikarenakan jumlah ion Zn2+ dalam larutan ZnSO4 mengalami kenaikan
sedangkan jumlah ion Cu2+ dalam larutan CuSO4 mengalami penurunan, maka
banyaknya kation dalam hal ini Zn 2+ dan Cu2+ harus setara dengan anion SO42dengan adanya jembatan garam. Dalam larutan ZnSO4, anion NO3- dari jembatan
garam akan masuk sesuai dengan bertambahnya ion Zn. Sedangkan pada larutan
CuSO4 yang kekurangan Cu2+ akan terjadi kelebihan SO42-. Maka ion SO42- masuk
ke jembatan garam menggantikan NO3- yang masuk ke larutan ZnSO4.
Nilai Esel yang dinyatakan persamaan Nernst merupakan fungsi yang
bergantung pada factor suhu dan konsentrasi larutan. Oleh karena itu, pada
percobaan ini dilakukan pengamatan perubahan Esel terhadap perubahan
konsentrasi. Berdasarkan persamaan Nernst, beda potensial yang dihasilkan sel
sebanding dengan konsentrasi larutan elektrolit yang mengalami reduksi, oleh
karena itu larutan yang divariasikan adalah CuSO4 dimana Cu2+ mengalami
reduksi menjadi Cu.
Selain dipengaruhi suhu dan konsentrasi, nilai E sel juga dipengaruhi oleh zat
pengotor pada elektroda. Sehingga untuk setiap larutan CuSO 4 dengan konsentrasi
yang berbeda, maka kertas saringnya harus diganti karena telah bereaksi dengan
larutan sebelumnya dan untuk menjaga konsentrasi larutan yang digunakan tidak
berubah.

Demikian

pula

dengan

elektrodanya,

harus

diamplas

untuk

menghilangkan endapan atau pengotor yang menempel. Hal tersebut ditujukan


untuk memperkecil kesalahan terhadap pembacaan Esel oleh alat.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1

Kesimpulan

1. Pada percobaan elektrolisis, elektroda yang berperan sebagai anoda


mengalami penurunan massa karena anoda melepaskan elektron. Hal ini
dibuktikan dengan berkurangnya berat elektroda sebesar 0,10 gram dari 2,37
gram menjadi 2,27 gram.
2. Dari percobaan yang dilakukan bilangan Avogadro yang didapat adalah
5,7186x1024
3. GGL yang didapat dari hasil praktikum dengan memvariasikan konsentrasi
CuSO4.5H2O yang semakin diperkecil adalah 1,029v; 1,008v; 0,993v; 0,987v.
Jadi, semakin kecil konsentrasi CuSO4.5H2O maka GGL yang diperoleh
semakin kecil, begitu juga sebaliknya
4. Konsentrasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi nilai Eosel
4.2

Saran

1. Logam yang digunakan pada percobaan elektrolisis dan penentuan GGL


sebaiknya dibersihkan secara teliti
2. Pahami dengan benar perhitungan dalam pembuatan larutan
3. Teliti dalam membaca potensiometer dan memasangkan kabel potensiometer
dengan lempengannya

DaftarPustaka
Atkins, PW. 1983. Kimia Fisika jilid II. Erlangga. Jakarta.
Arief, Muhammad. 2009.Elektrolisishttp://k15tiumb.blogspot.com/2009/10/elektr
olisis.html.Diakses 27 Maret 2011.
Langsa, markus H. 2010. Penuntun praktikum elektrokimia. Jurusan Kimia.
Manokwari.
Saito, Taro. 2009. Elektrokimia. http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimiaanorganik-universitas/reaksi-anorganik/elektrokimia/. Diakses 22 Maret
2011.
Yelmida.

2011.

PenuntunPraktikum

Kimia

LaboratoriumDasarTeknik Kimia Universitas Riau.

Fisika.

Pekanbaru: