Anda di halaman 1dari 7

TUGAS PERILAKU KONSUMEN

(SOFTSKILL)
EVALUASI ALTERNATIF SEBELUM
PEMBELIAN

NAMA : IGNATIUS ENGGA


KELAS : 2EA2
NPM : 19213886

UNIVERSITAS GUNADARMA

2015/2016
A. KRITERIA EVALUASI
KOTLER : salah satu aktivitas dalam proses pengambilan keputusan
konsumen, memegang peranan penting dalam memprediksi perilaku
pembelian konsumen. Saat konsumen melakukan aktivitas ini, mereka
sedang mempertimbangkan atribut-atribut yang terdapat pada satu produk
dan menilai atribut mana yang lebih penting untuknya yang ia gunakan
sebagai dasar keputusan memilih produk.
Philip kotler menyatakan konsumen mempelajari mrek-merek yang
tersedia dan cirri-cirinya. Informasi ini di gunakan untuk mengevaluasi
semua alternative yang ada dalam menentukan keputusan pembeliannya
SUTISNA : Setidak-tidaknya ada dua kriteria evaluasi alternatif. Pertama
adalah manfaat yang diperoleh dengan membeli produk. Kedua, kepuasan
yang diharapkan.
LOUDON DAN BITTA : lebih menekankan perilaku konsumen sebagai suatu
proses pengambilan keputusan yang mensyaratkan individu untuk
mengevaluasi, memperoleh, menggunakan, atau mengatur barang dan
jasa
KRITERIA EVALUASI DIKEMBANGKAN MELALUI MODEL-MODEL EVALUASI YANG
DIGUNAKAN. EMPAT KELOMPOK PENGEMBANGAN YANG DAPAT DILAKUKAN,
YAKNI:
1. Pendekatan Pre-ordinate
Memiliki dua karakteristik; kriteria pertama ditetapkan sebelum
pelaksanaan evaluasi. kriteria ini bersifat mengikat karena ditetapkan
sebelum evaluator turun ke lapangan. Kriteria kedua, dikembangkan dan
bersumber pada standar tertentu. Seperti pada pandangan teoritik atau
kumpulan tradisi yang sudah dianggap baik.
2. Pendekatan Fidelity
Pada dasarnya ada kesamaan prinsip dengan kedekatan Pre-ordinate
yakni kriteria yang dikembangkan sebelum evaluator turun ke lapangan
untuk mengumpulkan data. Perbedaaan prinsipil pada keduanya yaitu
pada hakekat evalusi yang digunakan. Pendekatan Fidently tidak
menggunakan kriteria yang bersifat umum (universal) sebagaimana
tuntutan pendekatan Pre-Ordinate.
3. Pendekatan gabungan Mutual-Adaptive
Pendekatan ini merupakan perpaduan antara pendekatan Pre-Ordinate,
Fidently, Process. Kriteria yang di gunakan dikembangkan dari
karakteristis program dari luar, seperti berdasarkan pandangan secara
teori, dari para pelaksana, dan dari pemakai program.
4. Pendekatan proses

Sesuai dengan namanya, pendekatan ini mengembangkan kriteria selama


proses evaluasi berlangsung. Kriteria didapat melalui wawancara,
observasi, atau studi dokumentasi. Pendekatan ini berhubungan erat
dengan aplikasi pendekatan kualitatif. Karakteristis yang menonjol dari
pendekatan ini merupakan kriteria yang dipergunakan dikembangkan
selama evaluator di lapangan. Konsekuensinya pendekatan ini terikat
dengan masalah yang dihadapi oleh para pelaksana program di lapangan.

KRITERIA DALAM EVALUASI DIATAS MENGACU PADA :


1. Pedoman pedoman tentang program pendidikan jasmani yang berlaku.
2. Persepsi para pengembang program yang teruji secara teoritis.
3. Pertimbangan evaluator.

B. MENENTUKAN ALTERNATIF PILIHAN


Alternatif pilihan dapat muncul dalam berbagai bentuk, misalnya dalam
membeli mobil seorang konsumen mungkin mempertimbangkan kriteria,
keselamatan, kenyamanan, harga, merek, negara asal, dan juga spek
hedonik seperti gengsi, kebahagiaan, kesenangan dan lain sebagainya.
Beberapa alternatif pilihan yang umum adalah :
1. Harga
Harga menentukan pilihan alternatif. Konsumen cenderung memilih
harga yang murah untuk membeli suatu produk yang ia tahu
spesifikasinya. Namun jika konsumen tidak bisa mengevaluasi kualitas
produk maka harga merupakan indikator kualitas. Oleh karena itu
strategi harga hendaknya disesuaikan dengan karakteristik produk.
2. Nama merek
Merek terbukti menjadi determinan penting dalam barang. Nampaknya
merek merupakan pengganti dari mutu dan spesifikasi produk. Ketika
konsumen sulit sulit menilai kriteria kualitas produk, kepercayaan pada
merek lama yang sudah memiliki reputasi baik dapat mengurangi
resiko kesalahan dalam pembelian.
3. Negara asal
Negara dimana suatu produk dihasilkan menjadi pertimbangan penting
dikalangan konsumen. Negara asal sering mencitrakan kualitas produk.
Konsumen mungkin sudah tidak meragukan lagi kualitas produk
elektronik dari Jepang. Sementara, untuk jam tangan nampaknya
buatan Swiss merupakan produk yang handal tak teragukan.
Setelah konsumen mendapat berbagai macam informasi, konsumen
akan menentukan alternatif yang ada untuk mengatasi permasalahan
yang dihadapinya. Setelah kriteria yang akan menjadi alterlatif pilihan
ditentukan barulah konsumen menentukan alternative produk yang
menjadi pilihan.

C. PEMILIHAN ALTERNATIF
Pemilihan alternatif dilakukan dengan maksud mampu memilih alternatif
terbaik dari sejumlah alternatif yang tersedia baik untuk umur alternatif yang
sama maupun umur yang berbeda dengan metode yang tepat. Tujuan dalam
memilih alternatif adalah untuk mendapatkan keuntungan ekonomis yang
optimal.
DALAM MENYIAPKAN ALTERNATIF, ADA BEBERAPA PERSYARATAN YAITU
ANTARA LAIN :
1. Alternatif harus bersifat exhausive (lengkap).
2. Alternatif harus bersifat mutual exclusive (tidak boleh muncul dlm 2
alternatif)
EVALUASI ALTERNATIF MERUPAKAN SUATU PROSES DIMANA SUATU
ALTERNATIF PILIHAN DIEVALUASI DAN DIPILIH OLEH KONSUMEN. PADA TAHAP
EVALUASI KONSUMEN HARUS :
1. Menentukan kriteria yang akan digunakan untuk menilai alternatif,
2. Memutuskan alternatif mana yang akan dipertimbangkan,
3. Menilai kinerja dan alternatif yang dipertimbangkan dan Memilih dan
menerapkan kaidah keputusan untuk membuat pilihan akhir.
D. MENAKSIR ALTERNATIF PILIHAN
TIGA SUDUT PANDANG DALAM MENGANALISIS / MENAKSIR
ALTERNATIF PILIHAN KEPUTUSAN KONSUMEN :
1. Sudut Pandang Ekonomis
Konsumen sebagai orang yang membuat keputusan secara rasional,
yang mengetahui semua alternatif produk yang tersedia dan harus
mampu membuat peringkat dari setiap alternatif yang ditentukan
dipertimbangkan dari kegunaan dan kerugiannya serta harus dapat
mengidentifikasikan satu alternatif yang terbaik, disebut economic
man.
2. Sudut Pandang Kognitif
Konsumen sebagai kognitif man atau sebagai problem solver. Kosumen
merupakan pengolah informasi yang selalu mencari dan mengevaluasi
informasi tentang produk dan gerai. Pengolah informasi selalu
berujung pada pembentukan pilihan, terjadi inisiatif untuk membeli
atau menolak produk. Cognitive man berdiri di antara economic
man dan passive man, seringkali cognitive man punya pola respon
terhadap informasi yang berlebihan dan seringkali mengambil jalan
pintas, untuk memenuhi pengambilan keputusannya pada keputusan
yang memuaskan.
3. Sudut Pandang Emosianal
Menekankan emosi sebagai pendorong utama, sehingga konsumen
membeli suatu produk. Favoritisme buktinya seseorang berusaha
mendapatkan produk favoritnya, apapun yang terjadi. Benda-benda

yang menimbulkan kenangan juga dibeli berdasarkan emosi.


Anggapan emotional man itu tidak rasional adalah tidak benar.
Mendapatkan produk yang membuat perasaannya lebih baik
merupakan keputusan yang rasional.

E. MENYELEKSI ATURAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN


KEPUTUSAN UNTUK MEMBELI YANG DIAMBIL OLEH PEMBELI ITU SEBENARNYA
MERUPAKAN KUMPULAN DARI SEJUMLAH KEPUTUSAN. SETIAP KEPUTUSAN
MEMBELI MEMPUNYAI BEBERAPA KOMPONEN :
1. Keputusan tentang jenis produk
2. Keputusan tentang bentuk produk
3. Keputusan tentang merk
4. Keputusan tentang penjualnya
5. Keputusan tentang jumlah produk
6. Keputusan tentang waktu pembelian
MENURUT (KOTLER, 2000:204) TAHAP-TAHAP YANG DILEWATI PEMBELI UNTUK
MENCAPAI KEPUTUSAN MEMBELI MELEWATI LIMA TAHAP, YAITU :
1.
2.
3.
4.
5.

Pengenalan Masalah
Pencarian Informasi
Evaluasi alternative
Keputusan Membeli
Tingkah laku pasca pembelian.

Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:


1. Pengenalan masalah
Proses membeli dimulai dengan pengenalan masalah dimana pembeli
mengenali adanya masalah atau kebutuhan. Pembeli merasakan
perbedaan antara keadaan nyata dan keadaan yang diinginkan.
2. Pencarian informasi
Seorang konsumen yang sudah terkait mungkin mencari lebih banyak
informasi tetapi mungkin juga tidak. Bila dorongan konsumen kuat dan
produk yang dapat memuaskan ada dalam jangkauan, konsumen
kemungkinan akan membelinya. Bila tidak, konsumen dapat
menyimpan kebutuhan dalam ingatan atau melakukan pencarian
informasi yang berhubungan dengan kebutuhan tersebut.
Pengaruh relatif dari sumber informasi ini bervariasi menurut produk
dan pembeli. Pada umumnya, konsumen menerima sebagian besar
informasi mengenai suatu produk dari sumber komersial, yang
dikendalikan oleh pemasar. Akan tetapi, sumber paling efektif
cenderung sumber pribadi. Sumber pribadi tampaknya bahkan lebih
penting dalam mempengaruhi pembelian jasa. Sumber komersial
biasanya memberitahu pembeli, tetapi sumber pribadi membenarkan
atau mengevaluasi produk bagi pembeli. Misalnya, dokter pada

umumnya belajar mengenai obat baru cari sumber komersial, tetapi


bertanya kepada dokter lain untuk informasi yang evaluatif.
3. Evaluasi alternatif
Tahap dari proses keputusan membeli, yaitu ketika konsumen
menggunakan informasi untuk mengevaluasi merk alternatif dalam
perangkat pilihan. Konsep dasar tertentu membantu menjelaskan
proses evaluasi konsumen. Pertama, kita menganggap bahwa setiap
konsumen melihat produk sebagai kumpulan atribut produk. Kedua,
konsumen akan memberikan tingkat arti penting berbeda terhadap
atribut berbeda menurut kebutuhan dan keinginan unik masingmasing. Ketiga, konsumen mungkin akan mengembangkan satu
himpunan keyakinan merek mengenai dimana posisi setiap merek
pada setiap atribut. Keempat, harapan kepuasan produk total
konsumen akan bervariasi pada tingkat atribut yang berbeda. Kelima,
konsumen sampai pada sikap terhadap merek berbeda lewat beberapa
prosedur evaluasi. Bagaimana konsumen mengevaluasi alternatif
barang yang akan dibeli tergantung pada masing-masing individu dan
situasi membeli spesifik. Dalam beberapa keadaan, konsumen
menggunakan perhitungan dengan cermat dan pemikiran logis. Pada
waktu lain, konsumen yang sama hanya sedikit mengevaluasi atau
tidak sama sekali; mereka membeli berdasarkan dorongan sesaat atau
tergantung pada intuisi.
Pemasar harus mempelajari pembeli untuk mengetahui bagaimana
sebenarnya mereka mengevaluasi alternatif merek. Bila mereka
mengetahui proses evaluasi apa yang sedang terjadi, pemasar dapat
membuat langkah-langkah untuk mempengaruhi keputusan membeli.
4. Keputusan membeli
Dalam tahap evaluasi, konsumen membuat peringkat merek dan
membentuk niat untuk membeli. Pada umumnya, keputusan membeli
konsumen adalah membeli merek yang paling disukai, tetapi dua
faktor dapat muncul antara niat untuk membeli dan keputusan untuk
membeli. Faktor pertama adalah sikap orang lain, yaitu pendapat dari
orang lain mengenai harga, merek yang akan dipilih konsumen. Faktor
kedua adalah faktor situasi yang tidak diharapkan, harga yang
diharapkan dan manfaat produk yang diharapkan. Akan tetapi
peristiwa-peristiwa yang tak diharapkan bisa menambah niat
pembelian.
5. Tingkah laku pasca pembelian
Tahap dari proses keputusan pembeli, yaitu konsumen mengambil
tindakan lebih lanjut setelah membeli berdasarkan pada rasa puas
atau tidak puas. Yang menentukan pembeli merasa puas atau tidak
puas dengan suatu pembelian terletak pada hubungan antara harapan
konsumen dengan prestasi yang diterima dari produk. Bila produk
tidak memenuhi harapan, konsumen merasa tidak puas, bila

memenuhi harapan konsumen merasa puas, bila melebihi harapan


konsumen akan merasa puas.
Konsumen mendasarkan harapan mereka pada informasi yang mereka
terima dari penjual, teman dan sumber-sumber yang lain. Bila penjual
melebih-lebihkan prestasi produknya, harapan konsumen tidak akan
terpenuhi dan hasilnya ketidakpuasan. Semakin besar antara
kesenjangan antara harapan dan prestasi, semakin besar
ketidakpuasan kosumen. Hal ini menunjukkan bahwa pembeli harus
membuat pernyataan yang jujur mengenai prestasi produknya
sehingga pembeli akan puas.

Dalam menyeleksi aturan pengambilan keputusan terdapat suatu hal yang


perlu diperhatikan, yang paling utama adalah yang paling penting dalam
memenuhi berbagai kriteria yang dapat dicapai oleh produk tersebut agar
dapat memuaskan konsumen