Anda di halaman 1dari 4

PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN OLEH KONSUMEN

NAMA

: INDAH SARI

NPM

: 14213370

MATA KULIAH

: SOFT SKILL PERILAKU KONSUMEN

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS EKONOMI
2015/2016

PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN OLEH KONSUMEN


A. PENGERTIAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Proses pengambilan keputusan oleh konsumen baik dalam melakukan
pembelian barang atau jasa, umumnya konsumen sudah melakukan evaluasi atas
barang atau jasa yang nantinya akan mereka beli.
Kotller dan keller (2007a:214) menjelaskan bahawa proses pengambilan
keputusan merupakan proses psikologi dasar yang memainkan peranan penting dalam
memahami bagaimana konsumen secara aktual mengambil keputusan pembelian.
Proses pengambilan keputusan diawali dengan adanya kebutuhan yang
berusaha untuk dipenuhi. keptusan pembelian akan dilakukan dengan menggunakan
kaidah menyeimbangkan sisi positif dengan sisi negatif sutau merek (compenstory
decision rule) ataupun mencari solusi terbaik dari prospektif konsumen (noncompenstory decision rule), yang setelah konsumsi akan dievaluasi kembali.
B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Terdapat faktor-faktor internal yang relevan terhadap proses pengambilan
keputusan konsumen :
1. Motivasi (motivation) merupakan suatu dorongan yang ada dalam diri
manusia untuk mencapai tujuan tertentu.
2. Presepsi (perception) merupakan hasil pemaknaan seseorang terhadap
stimulus atau kejadian yang diterimanya berdasarkan informasi dan
pengalamannya terhadap rangsangan tersebut.
3. Pembentukan sikap (attitude formation) merupakan penilaian yang ada dalam
diri seseorang yang mencerminkan suka/tidak suka seseorang akan suatu hal.
4. Integrasi (integration) merupakan kesatuan antara sikap dan tindakan.
integrasi merupakan respon atas sikap yang diambil.perasaan suka akan

mendorong seseorang untuk membeli dan perasaan tidak suka akan membuat
tekad seseorang untuk tidak membeli produk tersebut.
C. TIPE-TIPE PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Para ahli telah merumuskan proses pengambilan keputusan , antara lain meliputi :
1. Pengenalan masalah.
Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenal masalah atau kebutuhan,
yang dipicu oleh rangsangan internal atau eksternal. Rangsangan internal
misalnya dorongan rasa lapar dan haus yang mencapai abang tertentu.
Sedangkan rangsanga eksternal misalnya seseorang melewati toko kue dan
melihat roti yang segar dan hangat sehingga terangsang rasa lapar.
2. Pencarian Informasi.
Setelah konsumen yang terangsang kebutuhannya, konsumen akan terdorong
utntuk mencari informasi yang lebih banyak, orang akan lebih peka terhadap
informasi produk. Selanjutnya, konsumen akan aktif mencari informasi seperti
bertanya kepada teman, mendatangi toko untuk mencari tau atau membukabuka internet untuk membandingkan spesifikasi dan harganya.
3. Evaluasi Alternatif.
Konsumen memiliki sikap beragam dalam memandang atribut yang relevan
dan penting menurut manfaat yang mereka cari. kumpulan keyakinan atas
merek tertentu membentuk citra merk, yang disaring melalui dampak presepsi
slektif, distorsi slektif dan ingatan slektif.
4. Keputusan pembelian.
Dalam tahap evaluasi, para konsumen membentuk preferensi atas merekmerek yang ada didalam kumpulan pilihan. faktor sikap orang lain dan situasi
yang tidak dapat diantisipasi yang dapat mengubah niat pembelitermasuk
faktor-faktor penghambat pembelian.
5. Perilaku pasca pembelian.
Para pemasar harus memantau kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca
pembelian dan pemakaian produk pasca pembelian, yang tujuan utamanya
adalah agar konsumen melakukan pembelian ulang.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah :

1. Masalah sederhana (simple problem) corak/jenis masalah. ciri-cirinya


berskala besar , tidak berdiri sendiri (memiliki kaitan erat dengan masalah
lain), mengandung konsekuensi besar , pemecahannya

memerlukan

pemikiran yang tajam dan analitis. Scope : pemecahan masalah dilakuukan


secara berkelompok yang melibatkan pemimpin dan segenap staff
pembantunya. Jenis : masalah yang tersruktur dan maslah yang tidak
terstruktur.
2. Masalah Rumit (complex problem) corak/jenis masalah.Definisinya masalah
yang jelas faktor penyebabnya, bersifat rutin dan biasanya timbul berulangkali
sehingga pemecahannya dapat dilakukan dengan teknik pengambilan
keputusan yang bersifat rutin, repetatif & dibakukan. Contohnya pengkajian,
kepangkatan

dan

pembinaan

pegawai,

masalah

perijinan,

dsb. Sifat

pengambilan keputusan yaitu relatif lebih mudah atau cepat, salah satu
caranya dengan penyusunan metode / prosedur/ program tetap (SOP).