Anda di halaman 1dari 10

Pharma_Crazy Note

Sebuah coretan seorang anak manusia.... anak farmacrazy tentunya...

Senin, 15 April 2013


Uji Analgetik

UJI ANALGETIKA PADA MENCIT


I. TUJUAN
Mengenal,mempraktekan dan membandingkan daya analgetik asetosal dengan paracetamol
menggunakan metode rangsang kimia.
II. DASAR TEORI
Analgetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau
rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (Tan hoan,1964, hal.295).
Nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering.Walaupun sering berfungsi
untuk mengingatkan, melindungi dan sering memudahkan diagnosis, pasien merasakannya
sebagai hal yang tak mengenakkan, kebanyakan menyiksa dankarena itu berusaha untuk bebas
darinya. Seluruh kulit luar mukosa yang membatasi jaringan dan juga banyak organ dalam
bagian luar tubuh peka terhadap rasa nyeri,tetapi ternyata terdapat juga organ yang tak
mempunyai reseptor nyeri, seperti misalnya otak.Nyeri timbul jika rangsang mekanik, termal,
kimia atau listrik melampaui suatu nilai ambang tertentu (nilai ambang nyeri)dan karena
itumenyebabkan kerusakan jaringan dengan pembebasan yang disebut senyawa nyeri
(Mutschler,1999).
Semua senyawa nyeri (mediator nyeri) seperti histamine, bradikin, leukotriendan
prostaglandin merangsang reseptor nyeri (nociceptor )di ujung-ujung saraf bebasdi kulit, mukosa
serta jaringan lain dan demikian menimbulkan antara lain reaksiradang dan kejang-kejang.
Nociceptor ini juga terdapat di seluruh jaringan dan organtubuh, terkecuali di SSP. Dari tempat
ini rangsangan disalurkan ke otak melalui jaringan lebat dari tajuk-tajuk neuron dengan sangat
banyak sinaps via sumsum- belakang, sumsum-lanjutan dan otak-tengah. Dari thalamus impuls

kemudianditeruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai nyeri
(Tjaydan Rahardja, 2007).
Mediator nyeri penting adalah amin histamine yang bertanggungjawab untuk kebanyakan
reaksi alergi (bronchokonstriksi, pengembangan mukosa, pruritus) dan nyeri. Bradikinin adalah
polipeptida (rangkaian asam amino)yang dibentuk dari protein plasma. Prostaglandin mirip
strukturnya dengan asam lemak dan terbentuk dari asam arachidonat. Menurut perkiraan zat-zat
ini meningkatkan kepekaan ujung-saraf sensoris bagi rangsangan nyeri yang diakibatkan oleh
mediator lainnya. Zat-zat ini berkhasiat vasodilatasi kuat dan meningkatkan permeabilitas kapiler
yang mengakibatkan radang dan udema. Berhubung kerjanya serta inaktivasinya pesat dan
bersifat local, maka juga dinamakan hormon lokal. Mungkin sekali zat-zat ini juga bekerja
sebagai mediator demam (Collins,et.al., 2000).
Terkadang, nyeri dapat berarti perasaan emosional yang tidak nyaman dan berkaitan
dengan ancaman seperti kerusakan pada jaringan karena pada dasarnya rasanyeri merupakan
suatu gejala, serta isyarat bahaya tentang adanya gangguan pada tubuh umumnya dan jaringan
khususnya. Meskipun terbilang ampuh, jenis obat ini umumnya dapat menimbulkan
ketergantungan pada pemakai. Untuk mengurangi atau meredakan rasa sakit atau nyeri tersebut
maka banyak digunakan obat-obat analgetik (seperti parasetamol, asam mefenamat dan antalgin)
yang bekerja dengan memblokir

pelepasan mediator nyeri sehingga reseptor nyeri tidak

menerima rangsang nyeri (Green, 2009).


Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak yang berkaitandengan
(ancaman) kerusakan jaringan. Nyeri merupakan suatu perasaan pribadi dan ambang toleransi
nyeri berbeda-beda bagi setiap orang. Batas nyeri untuk suhu adalah konstan yakni pada 4445C. Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya meruapakan suatu gejala, yang berfungsi
melindungi tubuh. Nyeri harus dianggap sebagai suatu isyarat bahaya tentang adanya ganggguan
di jaringan, seperti peradangan (rema,encok ), infeksi jasad renik, atau kejang otot. Nyeri yang
disebabkan oleh rangsangan mekanis, kimiawi, atau fisis(kalor, listrik ), dapat menimbulkan
kerusakan pada jaringan.
Rangsangan tersebut memicu pelepasan zat-zat tertentuyang disebut mediator nyeri.
Mediator nyeri antara lain mengakibatkan reaksi radang dan kejang-kejang yang mengaktivasi
reseptor nyeri di ujung-ujung saraf bebas dikulit, mukosa, dan jarigan lainnya. Nociceptor ini
terdapat diseluruh jaringan danorgan tubuh, kecuali di system saraf pusat. Dari sini rangsangan

disalurkan ke otak melalui jaringan yang hebat dari tajuk-tajuk neuron dengan sinaps yang amat
banyak melalui sum-sum tulang belakang, sum-sum tulang lanjutan dan otak tengah. Dari
thalamus impuls diteruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai nyeri
(Tan Hoan,1964, hal.296).
Mediator nyeri yang lain, disebut juga sebagai autakoid antara lain serotonin,histamine,
bradikinin, leukotrien dan prostaglandin 2. Bradikinin merupakan polipeptida (rangkaian asam
amino) yang diberikan dari protein plasma. Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkatan (level)
dimana nyeri dirasakan untuk yang pertama kali. Jadi, intesitas rangsangan yang terendah saat
seseorang merasakan nyeri. Untuk setiap orang ambang nyerinya adalah konstan (Medicafarma,
2008).
Adapun jenis nyeri beserta terapinya, yaitu (Medicafarma,2008):
a. Nyeri ringan
Contohnya: sakit gigi, sakit kepala, sakit otot karena infeksi virus, nyeri haid,keseleo. Pada nyeri
dapat digunakan analgetik perifer seperti parasetamol, asetosaldan glafenin.
b. Rasa nyeri menahun
Contohnya: rheumatic dan arthritis. Pada nyeri ini dapat digunakan analgetik anti-inflamasi,
seperti:asetosal, ibuprofendan indometasin.
c. Nyeri hebat
Contoh: nyeri organ dalam, lambung, usus, batu ginjal, batu empedu. Pada nyeri ini dapat
digunakan analgetik sentral berupa atropine, butilskopolamin(bustopan), camylofen ( ascavan).
d. Nyeri hebat menahun
Contoh: kanker, rheumatic, neuralgia berat. Pada nyeri ini digunakan analgetik narkotik, seperti
fentanil, dekstromoramida, bezitramida.
Penanganan rasa nyeri Berdasarkan proses terjadinya, rasa nyeri dapat dilawan dengan
beberapacara,yakni (Tan Hoan,1964, hal.296):

Merintangi terbentuknya rangsangan pada reseptor nyeri pada perifer dengan analgetika
perifer .

Merintangi penyaluran rangsangan di saraf-saraf sensoris, misalnya dengan anestetika


local.

Blockade pusat nyeri di ssp dengan analgetika sentral (narkotika) atau dengan anestetika
umum.

Atas dasar kerja farmakologinya, analgetika dibagi dalam dua kelompok yaitu(Tan Hoan,1964,
hal.296):
1. Analgetika perifer (non-narkotik ), yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan
tidak bekerja sentral, Seperti golongan salisilat seperti aspirin, golongan para amino fenol seperti
paracetamol, dan golongan lainnya seperti ibuprofen, asam mefenamat, naproksen/naproxen dll.
2. Analgetik narkotik khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti padafractura dan
kanker .Analgesik opioid / analgesik narkotika Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang
memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini terutama digunakan untuk
meredakan atau menghilangkan rasa nyeri.
Tetapi semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ketergantungan, maka usaha untuk
mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan mendapatkan
analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi (Medicastore,2006).
Ada 3 golongan obat ini yaitu(Medicastore,2006):
Obat yang berasal dari opium-morfin
Senyawa semisintetik morfin
Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.
Mekanisme kerja obat analgesik antipiretik serta obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAIDs)
merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, dan beberapa obat memiliki perbedaan secara
kimia. Namun, obat-obat NSAID mempunyai banyak persamaan dalam efek terapi dan efek
sampingnya.
Prototipe obat golongan ini adalah aspirin,sehingga sering disebut juga sebagai aspirin like
drugs. Efek terapi dan efek sampingdari obat golongan NSAIDs sebagian besar tergantung dari
penghambatan biosintesis prostaglandin. Namun, obat golongan NSAIDs secara umum tidak
menghambat biosintesis leukotrien yang berperan dalam peradangan. Golongan obat NSAIDs
bekerja dengan menghambat enzim siklo-oksigenase, sehingga dapat mengganggu perubahan
asam arakhidonat menjadi prostaglandin. Setiap obat menghambat enzimsiklo-oksigenase
dengan cara yang berbeda(Ian Tanu,1972, hal.231).
Parasetamol dapat menghambat biosintesis prostaglandin apabila

lingkungannya

mempunyai kadar peroksida yang rendah seperti di hipotalamus, sehingga parasetamol


mempunyai efek anti-inflamasi yang rendah karena lokasi peradangan biasanya mengandung
banyak peroksida yang dihasilkan oleh leukosit(Ian Tanu,1972, hal.231).

Aspirin dapat menghambat biosintesis prostaglandin dengan cara mengasetilasi gugus aktif
serin dari enzim siklo-oksigenase. Thrombosit sangat rentan terhadap penghambatan enzim
siklo-oksigenase karena thrombosit tidak mampu mengadakan regenerasi enzim siklooksigenase(Ian Tanu,1972, hal.231).
Semua obat golongan NSAIDs bersifat antipiretik, analgesik, dan anti-inflamasi. Efek
samping obat golongan NSAIDs didasari oleh hambatan pada sistem biosintesis prostaglandin.
Selain itu, sebagian besar obat bersifat asam sehingga lebih banyak terkumpul dalam sel yang
bersifat asam seperti di lambung, ginjal, dan jaringan inflamasi. Efek samping lain diantaranya
adalah gangguan fungsi thrombosit akibat penghambatan biosintesis tromboksan A2 dengan
akibat terjadinya perpanjangan waktu perdarahan. Namun, efek ini telah dimanfaatkan untuk
terapi terhadap thrombo-emboli(Gunawan, 2009).
Selain itu, efek samping lain diantaranya adalah ulkuslambung dan perdarahan saluran
cerna, hal ini disebabkan oleh adanya iritasi akibat hambatan biosintesis prostaglandin PGE2 dan
prostacyclin. PGE2 dan PGI2 banyak ditemukan di mukosa lambung dengan fungsi untuk
menghambat sekresi asam lambung dan merangsang sekresi mukus usus halus yang bersifat
sitoprotektan (IanTanu,1972,hal.231).
Contoh obat analgesic dan antipiretik(Junaidi, 2009, hal.270-277).:
1. Aspirin/asam asetil salisilat
Indikasi:meringankan sakit kepala, pusing, sakit gigi, nyeri otot, menurunkan demam.Dosis:
dewasa 500-600 mg/4jam. Sehari maksimum 4 gram. Anak-anak 2-3 tahun 80-90 mg, 4-5
tahun160-240 mg,6-8 tahun 240-320 mg, 9-10 tahun 320-400 mg, >11tahun 400-480 mg. Semua
diberikan tiap 4 jam setelah makan. Kontraindikasi: ulkus peptikum, kelainan perdarahan, asma.
Efek samping: gangguan gastrointestinal, pusing, reaksi hipersensitif .
2. Asam mefenamat sebagai analgetik, obat ini adalah satu-satunya yang mempunyai kerja yang
baik pada pusat sakit dan saraf perifer. Asam mefenamat cepat diserapdan konsentrasi puncak
dalam darah dicapai dalam 2 jam setelah pemberian, dan diekskresikan melalui urin. Indikasi:
untuk mengatasi rasa sakit dan nyeri yang ditimbulkan dari rematik akutdan kronis,luka pada
jaringan lunak, pegal pada otot dansendi,dismonore, sakit kepala, sakit gigi, setelah operasi dll.
Dosis: sebaiknya diberikan sewaktu makan, dan pemakaian tidak boleh lebih dari 7 hari.Anakanak >6 bulan: 3-6,5mg/kgBB tiap 6 jam atau 4 kali perhari. Dewasa dan anak >14tahun:dosisi
awal 500 mg,kemudian 250mg setiap 6 jam. Kontraindikasi: kepekaan terhadap asam

mefenamat, radang atau tukak padasaluran pencernaan. Efek samping: dapat mengiritasi system
pencernaan,dan mengakibatkan konstipasiatau diare.
3. Parasetamol diserap dengan cepat dan tanpa menimbulkan iritasi disaluran pencernaan,
methemoglobin, atau konstipasi. Indikasi: menghilangkan demam dan rasa nyeri pada otot/sendi
yang menyertai influenza, vaksinasi dan akibat infelsi lain, sakit kepala, sakitgigi, dismonere,
artritis, dan rematik . Dosis: tablet =anak-anak :0,5-1tab 3-4kali perhari,dewasa:1-2tab 3-4kali
perhari Sirup=bayi 0,25-0,5sdt 3-4kali perhari,anak-anak :2-5tahun,1sdt 3-4kali perhari.6-12
tahun, 2sdt 3-4kali perhari. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesik dan
antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesik, parasetamol sebaiknya
tidak digunakan terlalu lama karena dapat menimbulkan nefropati analgesik .Jika dosis terapi
tidak memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong. Dalam sediaannya sering
dikombinasi dengan cofein yang berfungsi meningkatkan efektivitasnya tanpa perlu
meningkatkan dosisnya (Medicastore,2006).
III. ALAT DAN BAHAN
1. Alat :

Spuit injeksi 0.1 1 ml

2 buah

Jarum sonde

1 buah

Beaker Glass 500 ml

3 buah

Stop watch

1 buah

Masker

Handscoon

10 buah
10 pasang

2. Bahan

Steril Asam Asetat 1%

5 ml

Larutan CMC 1%

2.5 ml

Larutan Paracetamol dalam CMC

2 ml

Tissue

secukupnya

Mencit

5 ekor

IV. HASIL
Mencit
I(5)
1
0
0
0
0

1
2
3
4
5

II(10)
15
7
0
1
0

Menit pengamatan
III(15)
IV(20)
15
19
7
4
5
9
2
5
3
5

Jumlah
V
10
3
2
2
2

Berat Badan tikus


I = 46 g + CMC 0,5 ml + SAA 1 ml
II = 44,8 g + PCT 0,5 ml + SAA 1 ml
III = 45,6 g + PCT 0,5 ml + SAA 1 ml
IV = 41,2 g + PCT 1 ml + SAA 1 ml
V = 38,6 g + PCT 1 ml + SAA 1 ml
Perhitungan dosis SAA
Tikus I = 300 mg x 0,046 = 13,8 ml/10mg/ml = 1,38 mg
Tikus II = 300 mg x 0,0448 = 13,44 ml/10mg/ml = 1,344 mg
Tikus III = 300 mg x 0,0456 = 13,68 ml/10mg/ml = 1,368 mg
Tikus IV = 300 mg x 0,0412 = 12,36 ml/10mg/ml = 1,236 mg
Tikus V = 300 mg x 0,0386 = 11,58 ml/10mg/ml = 1,158 mg
catatan : dosis parasetamol yang diberikan disetarakan yaitu sebanyak 1 ml.
Perhitungan daya analgetik :
% Daya analgetik = 100 (P/K x 100)
Keterangan :
P = jumlah kumulatif geliat mencit yang diberi obat analgetik
K = jumlah kumulatif geliat mencit yang diberi CMC (kontrol)
% Daya analgetik =

100 (61/72 x 100)


100 (84,72) = 15,28 %

V. PEMBAHASAN

VI
12
1
2
1
0

72
22
18
11
10

Analgetika adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi atau
menghalau rasa sakit atau nyeri. Tujuan dari percobaan kali ini adalah mengenal,
mempraktekkan, dan membandingkan daya analgetika dari obat parasetamol berdasarkan
perbedaan jumlah dosis pemberian menggunakan metode rangsang kimia. Percobaan ini
dilakukan terhadap hewan percobaan, yaitu mencit (Mus muscullus). Metode rangsang
kimia digunakan berdasarkan atas rangsang nyeri yang ditimbulkan oleh zat-zat kimia yang
digunakan untuk penetapan daya analgetika.
Percobaan menggunakan metode rangsangan kimia yang ditujukan untuk melihat
respon mencit terhadap Steril Asam Asetat (SSA) 1% yang dapat menimbulkan respon
menggeliat dan menarik kaki ke belakang dari mencit ketika menahan nyeri pada perut. Pada
percobaan kali ini menggunakan SSA yang berfungsi sebagai induksi nyeri dan mencit yang
digunakan dalam percobaan sebanyak 5 ekor.
Langkah pertama yang dilakukan adalah pemberian obat-obat analgetik pada tiap
mencit. Mencit pertama berlaku sebagai control yang diberikan larutan CMC 1% secara per oral
sebanyak 0.5 ml. Mencit kedua dan ketiga diberikan larutan parasetamol dalam CMC 1%
sebanyak 0.5 ml serta mencit keempat dan kelima diberikan larutan parasetamol dalam CMC 1%
sebanyak 1 ml. Setelah 5 menit masing-masing mencit diinjeksi secara intraperitoneal
dengan larutan induksi Steril Asam Asetat 1 % sebanyak 1 ml. Pemberian dilakukan secara
intraperitoneal karena untuk mencegah penguraian steril asam asetat saat melewati jaringan
fisiologik pada organ tertentu. Dan laruran steril asam asetat dikhawatirkan dapat merusak
jaringan tubuh jika diberikan melalui rute lain, misalnya per oral, karena sifat kerongkongan
cenderung bersifat tidak tahan terhadap pengaruh asam.
Larutan steril asam asetat diberikan setelah 5 menit karena diketahui bahwa obat
yang telah diberikan sebelumnya sudah mengalami fase absorbsi untuk meredakan rasa
nyeri. Selama beberapa menit kemudian, setelah diberi larutan steril asam asetat 1 % mencit
akan menggeliat dengan ditandai dengan kejang perut dan kaki ditarik ke belakang. Jumlah
geliat mencit dihitung setiap selang waktu 5 menit selama 30 menit. Pengamatan yang
dilakukan agak rumit karena praktikan sulit membedakan antara geliatan yang diakibatkan
oleh rasa nyeri dari obat atau karena mencit merasa kesakitan akibat penyuntikan
intraperitoneal pada perut mencit.
Parasetamol adalah obat analgetik yang memiliki daya analgetik dengan presentasi
yang tidak terlalu tinggi yaitu sebesar 15.28 %, dimana Parasetamol yang merupakan derivatasetanilida adalah metabolit dari fenasetin. Parasetamol berkhasiat sebagai analgetik dan
antipiretik. Umumnya parasetamol dianggap sebagai zat anti nyeri yang paling aman, juga
untuk swamedikasi (pengobatan mandiri).
Pada mencit yang diperlakukan sebagai control, tercatat jumlah akumulasi geliat selama 30
menit adalah sebanyak 72 kali. Pada mencit kedua dan ketiga yang diberikan larutan parasetamol
dengan dosis 0.5 ml terhitung jumlah akumulasi geliat adalah sebanyak 40 kali. Dan pada
mencit keempat dan kelima yang diberikan larutan parasetamol dengan dosis 1 ml terhitung
jumlah akumulasi geliat adalah sebanyak 21 kali.
Dari data percobaan tersebut, diketahui bahwa pada pemberian parasetamol dengan dosis
0.5 ml menghasilkan lebih banyak geliat pada mencit daripada dosis 1 ml. Hal ini berarti pada
dosis yang lebih tinggi, parasetamol dapat lebih efektif dalam mengatasi nyeri yang diakibatkan
oleh rangsangan kimia.
Dalam praktikum kali ini, ada kemungkinan data yang didapatkan kurang valid. Hal ini
dapat terjadi karena beberapa faktor, antara lain faktor penyuntikan yang salah atau kurang

tepat sehingga volume obat yang disuntikan tidak tepat. Dapat juga dikarenakan faktor
fisiologis dari mencit, mengingat hewan percobaan ini telah mengalami percobaan
sebelumnya sehingga dapat terjadi kemungkinan hewan percobaan yang stress dan juga
kelelahan. Penyimpangan pengambilan data juga dapat terjadi karena pengamatan praktikan
yang kurang seksama sehingga ada data geliat mencit yang mungkin terlewat tidak diamati. Hal
ini tentu saja akan mempengaruhi hasil dan perhitungan yang dibuat.

KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu :
Analgetik merupakan obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri tanpa menghilangkan
kesadaran.
Pada praktikum kali ini digunakan analgetik parasetamol yang mempunyai daya analgetik
sebesar 15,28 %
Dari hasil percobaan, diketahui bahwa pemberian dosis parasetamol yang lebih tinggi yaitu 1
ml, dapat meningkatkan daya analgetik dilihat dari jumlah geliat mencit yang lebih sedikit
daripada pemberian dengan dosis 0.5 ml
DAFTAR PUSTAKA
Collins, S.L, et.al. 2000. Antidepressants and Anticonvulsants. PharmWkbl. hal.449-454.
Green.2009.Analgetika.Available online at: http://greenhati.blogspot.com/2009/05/obatanalgetik dan farmakodinamikanya.html
(diakses 23 Maret 2012).
Gunawan, Aris. 2009. Perbandingan Efek Analgesik antara Parasetamol dengan
Kombinasi Parasetamol dan Kafein pada Mencit. Jurnal Biomedika, Volume 1, Nomor 1.
Diakses 23 Maret 2012.
Ian Tanu. 1976. Farmakologi dan Terapi Edisi Kelima. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Junaidi, Iskandar. 2009. Pedoman Praktis Obat Indonesia. Jakarta: Buana Ilmu Populer.
Medicafarma.

2008.

AnalgesikAntipiretikdanNSAID.

http://medicafarma.

blogspot.com/2008/04/analgesik-antipiretik-dan-antiinflamasi. html(diakses pada tanggal 23


Maret 2012).
Medicastore.

2006.

Obat

Analgesik

Antipiretik

http://medicastore.com/apotik_online/obat_saraf_otot/obat_nyeri.htm
(diakses pada tanggal 23 Maret 2012).
Mutschler, E. 1999. Dinamika Obat. Bandung : ITB
Tan Hoan, dan Kirana Rahardja. 1964. Obat-Obat Penting Edisi Kelima. Jakarta: PT.
Gramedia.

Tjay dan K .Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting . Jakarta; PT Elex Media Komputindo
hal.312-318.