Anda di halaman 1dari 8

Birokrasi dan Kemiskinan

Teori Birokrasi (teori klasik organisasi 1)

Birokrasi berhubungan dengan organisasi masyarakat yang disusun secara ideal. Birokrasi dicapai
melalui formalisasi aturan, struktur, dan proses di dalam organisasi. Para teoritikus klasik seperti
Fayol (1949), Taylor (1911), dan Weber (1948), selama bertahun-tahun telah mendukung model
birokrasi guna meningkatkan efektivitas administrasi organisasi. Max Weber adalah sosok yang
dikenal sebagai bapak birokrasi. Menurut Weber (1948), organisasi birokrasi yang ideal menyertakan
delapan karakteristik struktural.

Pertama, aturan-aturan yang disahkan, regulasi, dan prosedur yang distandarkan dan arah
tindakan anggota organisasi dalam pencapaian tugas organisasi. Weber menggambarkan
pengembangan rangkaian kaidah dan panduan spesifik untuk merencanakan tugas dan aktivitas
organisasi.

Kedua, spesialisasi peran anggota organisasi memberikan peluang kepada divisi pekerja untuk
menyederhanakan aktivitas pekerja dalam menyelesaikan tugas yang rumit. Dengan memecah tugas-
tugas yang rumit ke dalam aktivitas khusus tersebut, maka produktivitas pekerja dapat ditingkatkan.

Ketiga, hirarki otoritas organisasi formal dan legitimasi peran kekuasaan anggota organisasi
didasarkan pada keahlian pemegang jabatan secara individu, membantu mengarahkan hubungan intra
personal di antara anggota organisasi guna menyelesaikan tugas-tugas organisasi.

Keempat, pekerjaan personil berkualitas didasarkan pada kemampuan tehnik yang mereka
miliki dan kemampuan untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepada mereka. Para manajer
harus mengevaluasi persyaratan pelamar kerja secara logis, dan individu yang berkualitas dapat
diberikan kesempatan untuk melakukan tugasnya demi perusahaan.

Kelima, mampu tukar personil dalam peran organisasi yang bertanggung jawab
memungkinkan aktivitas organisasi dapat diselesaikan oleh individu yang berbeda. Mampu tukar ini
menekankan pentingnya tugas organisasi yang relatif untuk dibandingkan dengan anggota organisasi
tertentu yang melaksanakan tugasnya-tugasnya.

Keenam, impersonality dan profesionalisme dalam hubungan intra personil di antara anggota
organisasi mengarahkan individu ke dalam kinerja tugas organisasi. Menurut prinsipnya, anggota
organisasi harus berkonsentrasi pada tujuan organisasi dan mengutamakan tujuan dan kebutuhan
sendiri. Sekali lagi, ini menekankan prioritas yang tinggi dari tugas-tugas organisasi di dalam
perbandingannya dengan prioritas yang rendah dari anggota organisasi individu.

Ketujuh, uraian tugas yang terperinci harus diberikan kepada semua anggota organisasi
sebagai garis besar tugas formal dan tanggung jawab kerjanya. Pekerja harus mempunyai pemahaman
yang jelas tentang keinginan perusahaan dari kinerja yang mereka lakukan.

Kedelapan, rasionalitas dan predictability dalam aktivitas organisasi dan pencapaian tujuan
organisasi membantu meningkatkan stabilitas perusahaan. Menurut prinsip dasarnya, organisasi harus
dijalankan dengan kaidah dan panduan pemangkasan yang logis dan bisa diprediksikan.

Konsep Max Weber

Berbicara soal birokrasi, kita pasti teringat konsep yang digagas Max Weber, sosiolog ternama asal
Jerman, yang dikenal melalui ideal type (tipe ideal) birokrasi modern. Model itulah yang sering
diadopsi dalam berbagai rujukan birokrasi negara kita, walaupun dalam penerapan tidak sepenuhnya
bisa dilakukan. Tipe ideal itu melekat dalam struktur organisasi rasional dengan prinsip “rasionalitas”,
yang bercirikan pembagian kerja, pelimpahan wewenang, impersonalitas, kualifikasi teknis, dan
1
efisiensi. Pada dasarnya, tipe ideal birokrasi yang diusung oleh Weber bertujuan ingin menghasilkan
efisiensi dalam pengaturan negara. Tapi, kenyataan dalam praktik konsep Weber sudah tidak lagi
sepenuhnya tepat disesuaikan dengan keadaan saat ini, apalagi dalam konteks Indonesia. Perlu ada
pembaharuan makna dan kandungan birokrasi. Secara filosofis dalam paradigma Weberian, birokrasi
merupakan organisasi yang rasional dengan mengedepankan mekanisme sosial yang
“memaksimumkan efisiensi”. Pengertian efisiensi digunakan secara netral untuk mengacu pada
aspek-aspek administrasi dan organisasi. Dalam pandangan ini, birokrasi dimaknai sebagai institusi
formal yang memerankan fungsi pengaturan, pelayanan, pembangunan, dan pemberdayaan
masyarakat. Jadi, birokrasi dalam pengertian Weberian adalah fungsi dari biro untuk menjawab secara
rasional terhadap serangkaian tujuan yang ditetapkan pemerintahan.

Kalau boleh dibilang, birokrasi Weber berparadigma netral dan bebas nilai. Tidak ada unsur
subyektivitas yang masuk dalam pelaksanaan birokrasi karena sifatnya impersonalitas: melepaskan
baju individu dengan ragam kepentingan yang ada di dalamnya. Berbeda dengan konsep birokrasi
yang digagas oleh Hegel dan Karl Marx. Keduanya mengartikan birokrasi sebagai instrumen untuk
melakukan pembebasan dan transformasi sosial. Hanya saja Marx pesimis dengan birokrasi karena
instrumen negara ini hanya dijadikan alat untuk meneguhkan kekuatan kapitalisme dan akhirnya jauh
dari harapan dan keinginan masyarakat. Sebagai sebuah konsep pemerintahan yang paling penting,
birokrasi sering dikritik karena ternyata dalam praktiknya banyak menimbulkan problem
“inefisiensi”. Menjadi sebuah paradoks, seharusnya dengan adanya birokrasi segala urusan menjadi
beres dan efisien tapi ternyata setelah diterapkan menjadi “batu penghalang” yang tidak lagi menjadi
efisien. Ada yang mengkritik bahwa birokrasi hanya menjadi ajang politisasi yang dilakukan oleh
oknum partai yang ingin meraih kekuasaan dan jabatan politis. Term “efisiensi” layak “digugat”.

Birokrasi yang efektif

Dalam kondisi masyarakat yang kompleks karena perkembangan nilai budaya yang terus berubah
sebagai dampak dari akselerasi rekayasa teknologi komunikasi dan informasi menuntut institusi-
institusi publik khususnya institusi pemerintahan harus beradaptasi dengan situasi seperti ini. Semakin
kompleks sebuah masyarakat maka semakin tinggi tingkat kebutuhan masyarakat tersebut. Tingkat
kebutuhan masyarakat yang kompleks seperti sekarang menuntut tingkat pelayanan publik pada
institusi pemerintahan dalam hal ini birokrasi yang lebih aksesable.

Model birokrasi tradisional dan kolonial yang paternalistik pada masa sekarang akan mengalami
resistensi di masyarakat. Karena adanya tuntutan kualitas kehidupan politik yang menghendaki
adanya desentralisasi dan partisipasi arus bawah yang lebih luas.

Birokrasi merupakan alat pemerintah yang bekerja untuk melayani kepentingan masyarakat tanpa
kecuali. Maka tugas utama birokrasi adalah merealisasikan setiap kebijakan pemerintah dalam
pencapaian kepentingan masyarakat bukan kepentingan penguasa atau kelompok tertentu. Namun
secara realita yang kita lihat belum terealisasi secara maksimal. Bahkan seringkali birokrasi dijadikan
sebuah kekuatan politik tertentu yang memposisikan diri sebagai tuan atau bos yang berwenang
mengatur, mengendalikan dan mengontrol rakyat.

Jadi tidaklah heran jika dari hasil survey Political and Economic Risk Consultancy (PERC) telah
memberi gelar Indonesia sebagai negara yang red tape atau negara yang memiliki birokrasi yang
paling buruk setelah India di negara Asia. Demikian halnya dengan hasil survey World Economic
Forum (WEF) yang menilai Indonesia sebagai negara yang memiliki daya saing rendah. Dimana pada
tahun 2004 pada posisi 69 dan pada tahun 2005 di posisi 74. Dibandingkan Malaysia yang memiliki
perbaikan posisi dari urutan 31 pada tahun 2004 menjadi urutan 24 di tahun 2005. Terdapat tiga
indikator dalam menilai tingkat daya saing yaitu indeks teknologi, indeks institusi publik, dan indeks
lingkungan makro ekonomi. Yang membuat urutan Indonesia menurun pada tahun 2005 adalah
karena rendahnya nilai indeks institusi publik.

2
Sistem birokrasi sebaiknya dapat mengimbangi perkembangan tuntutan perbaikan kualitas pelayanan
kebutuhan publik yang menjadi tanggungjawabnya. Hal mendasar yang harus dibenahi untuk
mengimbangi perkembangan masyarakat adalah penekanan aparat birokrasi untuk dapat mengatasi
sistem birokrasi yang rigid atau kaku.

Untuk itu maka dibutuhkan birokrasi yang efektif. Oleh Peter F Drucker sang “empu manajemen”
menyatakan bahwa penekanan efektif pada organisasi dalam kerja intelektual dengan muatan
pengetahuan seperti birokrasi yang diperlukan adalah efektivitas. Sedangkan dalam organisasi dalam
kerja yang manual maka yang diperlukan adalah efisien. (Nugroho,2003).

Untuk menyelamatkan bangsa ini dari kelaparan dan kemiskinan serta kebodohan maka para
pemimpin atau kepalaa daerah harus mampu menerapkan birokrasi yang efektif. Efektivitas
berkenaan dengan sejauh mana kegiatan adminsitrasi memberikan hasil yang optimal dengan
usaha yang minimal. Birokrasi yang efektif adalah birokrasi yang berorientasi pada tujuan
yaitu untuk melayani masyarakat.

Indikator Kemiskinan

Konsep kemiskinan memiliki interpretasi yang berbeda tergantung perspektif apa yang kita gunakan
untuk melihatnya. Berbagai indikator yang ada kadangkala menimbulkan kesesatan berpikir dalam
membuat sebuah kebijakan untuk merekayasa angka kemiskinan tersebut. Apa lagi jika terdapat
kepentingan politik dalam kebijakan yang akan diambil maka angka kemiskinan di suatu daerah dapat
di format sedemikian rupa.

Sebagai contoh jika kita melihat pada perspektif keberhasilan pembangunan di suatu daerah sebagai
hasil kepemimpinan seorang kepala daerah. Maka angka kemiskinan di daerah tersebut akan
mengalami penurunan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun. Namun jika terdapat bantuan
pemberdayaan masyarakat miskin dari funding luar negeri atau dari pemerintah pusat, maka angka-
angka kemiskinan di suatu daerah akan mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

Salah satu ukuran kemiskinan yang biasa digunakan adalah yang menurut UNDP, diperkenalkan
dalam laporannya Human Development Report 1997 dengan konsep Indeks Kemiskinan Manusia
(Human Poverty Index-HPI). Indikator kemiskinan manusia diukur dalam satuan hilangnya tiga hal
utama (three key deprivations), yaitu daya hidup (diukur dengan tingkat harapan hidup), pendidikan
dasar (diukur dengan tingkat melek huruf dengan fokus pada kesempatan bersekolah bagi kaum
perempuan), serta keseluruhan ketetapan ekonomi (diukur dengan tingkat akses masyarakat pada
pelayanan kesehatan dan air bersih ditambah dengan angka anak-anak dibawah usia 5 tahun yang
kekurangan berat badan normal). (Todaro,2000). Penulis menggunakan indikator kemiskinan HPI ini
karena dapat menjadi standar bagi kita untuk melihat deksripsi tingkat pelayanan birokrasi pada hak
dasar setiap warga negara yaitu sektor kesehatan dan pendidikan dasar.

Angka HPI Indonesia pada tahun 2005 berada pada rangking 41 diantara beberapa negara di Asia
Tenggara. Sedangkan Thailand di rangking 28 dan Filipina rangking 35, serta posisi 16 bagi Malaysia
(UNDP, 2005). Data ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah dalam melakukan kegiatan
birokrasinya untuk melayani masyarakat dalam sektor kesehatan dan pendidikan dasar belum
memenuhi standar maksimal dibandingkan tiga negara tetangga kita.

Pada awal tahun 2006 kita kembali diuji oleh berbagai musibah bencana alam yang yang sejak dulu
sudah seringkali terjadi. Bencana alam banjir dan longsor yang menjadi rutinitas setiap tahun seakan
menjadi agenda tahunan seperti layaknya “ulang tahun”. Salah satu jenis bencana lain yang
sebenarnya terjadi di sekitar kita dan menjadi peristiwa yang sangat ironis dalam keberadaan kita
sebagai sebuah bangsa adalah kemiskinan dan kelaparan ditengah berseliwerannya berbagai berbagai
branded product yang harganya gila-gilaan.

3
Tentu kita tidak akan pernah lupa dengan kasus busung lapar yang awalnya hanya di NTB. Namun
ternyata di sekitar kita –termasuk di Makassar- juga terdapat banyak kasus busung lapar yang terjadi
di daerah-daerah slum area. Terakhir masih segar di ingatan kita kasus meninggalnya 50 orang di
Kabupaten Yahukimo di Tanah Papua karena kekurangan pangan. Meskipun pemerintah -Menkokesra
Aburizal Bakrie- membantahnya sebagai kasus wabah kelaparan, namun dianggap hanya sebagai
gejala awal.

Menurut hemat penulis, bukan pada persoalan masih gejala atau sudah mewabah. Yang jelas terdapat
warga negara di bangsa tercinta ini meninggal karena tidak bisa makan apapun. Sebagai sebuah
negara yang baru saja meratifikasi Kovenan Internasional tentang hak-hak ekonomi, sosial, dan
budaya dan komitmen pencapaian Millenium Development Goals sudah seharusnya persoalan ini
segera diakhiri.

Di sisi lain terjadi hal yang sangat ironis yaitu korupsi restitusi pajak yang merugikan negara Rp. 150
milyar yang telah berlangsung selama 10 tahun (Kompas 12/1/06). Korupsi yang melibatkan para
birokrat di kantor perpajakan dan bea cukai yang nota bene sebagai salah satu sumber utama
keuangan negara dalam membiayai pembangunan nasional, merupakan bukti akutnya kebobrokan
sistem birokrasi di negara ini.

Pentingnya Transformasi dan Reformasi Birokrasi di Lingkungan Sekretariat Negara

Reformasi Birokrasi tak henti-hentinya menjadi bahan pembicaraan dan menjadi topik utama dalam
seminar-seminar yang diadakan oleh institusi pemerintahan. Salah satunya adalah Sekretariat Negara
yang menjadi salah satu gerbang utama dalam pelayanan kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam
memberikan pelayanan teknis dan administrasi yang cepat, tepat akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan.

Oleh karena itu dibutuhkan strategi reformasi birokrasi untuk mencapai sasaran reformasi birokrasi.
Menurut Asmawi, strategi reformasi birokrasi dimulai dari membangun kepercayaan masyarakat
dengan pencegahan dan pemberantasan korupsi dan hal lain yang menjadi keinginan masyarakat
adalah peningkatan kualitas pelayanan publik termasuk pelayanan investasi. Strategi kedua adalah
pemberdayaan masyarakat melalui pengentasan kemiskinan, pengangguran dan peningkatan tanggung
jawab sosial korporasi. Ketiga adalah peningkatan partisipasi masyarakat, penciptaan pembangunan
yang berkelanjutan dan peningkatan profesionalisme aparatur pemerintahan.

Dari strategi yang disebutkan oleh Asmawi diatas, menurutnya diharapkan terbentuk birokrasi yang
bersih, yang efisien dan efektif, transparan, birokrasi yang melayani dan birokrasi yang
terdesentralisasi. Untuk lingkungan Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet sendiri reformasi dan
transformasi birokrasi merupakan suatu kebutuhan dan suatu kebijakan untuk memberikan pelayanan
yang cepat, tepat akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kepada Presiden dan Wapres dalam
memberikan pelayanan teknis dan administrasi serta analisis oleh karena itu perlu didukung
peningkatan insentif dalam remunerasi yang sewajarnya.

Seminar yang bertujuan memberikan penjelasan bersifat umum dan mendasar tentang transformasi
dan reformasi dalam konteks manajemen organisasi ini juga menyinggung masalah peningkatan
insentif dan remunerasi. Menurut Asmawi hal tersebut merupakan prinsip dari Reformasi Birokrasi
selain peningkatan kinerja pegawai atau Sumber Daya Manusia (SDM) dan membuat Standard
Operation Procedure (SOP) yang jelas dan menggunakan teknologi dan informasi.

Seminar yang dihadiri oleh para pejabat dan pegawai Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet ini
juga mengungkapkan bahwa transformasi dan reformasi birokrasi bertujuan untuk meningkatkan
profesionalisme aparatur guna mewujudkan tata pemerintahan yang baik, baik itu dipusat maupun di
daerah. Sedangkan perbedaan daripada reformasi dan transformasi adalah transformasi berusaha
mengubah diri dalam bentuk kondisi karakter atau sifat melalui proses metamorfosa secara bertahap,

4
dari hal-hal tidak baik menjadi lebih baik. Sementara reformasi adalah berubah dari yang belum baik
menjadi baik. Dan yang sudah baik menjadi lebih baik lagi.

Transformasi menggunakan proses metamorfosa yang terencana dan terkelola dangan baik dengan
tujuan membuat organisasi siap untuk menghadapi perubahan lingkungan stratejik. Untuk itu
transformasi dan reformasi birokrasi bersifat berkesinambungan dan berkelanjutan. Dalam
paparannya Ahmad Ruky mengatakan lingkungan stratejik itu dapat berupa lingkungan ekonomi,
lingkungan politik hukum dan keamanan, sosial budaya dan teknologi. Perubahan dalam lingkungan
ekonomi diantaranya yang kini ramai dibicarakan adalah harga minyak dunia yang terus naik, adanya
perubahan radikal dalam hubungan perburuhan, ketergantungan Indonesia pada impor sejumlah bahan
pokok dan ancaman resesi ekonomi global babak kedua.

Reformasi Birokrasi

Untuk itu menjadi agenda mendesak bagi pemerintah baik tingkat nasional mauapun di daerah untuk
melakukan reformasi birokrasi untuk lebih berfokus pada pelayanan masyarakat. Dengan harapan
supaya kemiskinan dan kelaparan dapat segera diakhiri dalam catatan hitam bangsa ini kelak.

Terdapat empat agenda pokok untuk melakukan reformasi birokrasi yaitu :pertama, birokrasi harus
netral atau steril dari pengaruh penguasa atau politisi. Untuk itu maka institusi birokrasi harus
terbebas dari pemihakan pada kelompok politik tertentu serta tidak sama sekali menggunakan fasilitas
dan infrastrukstur birokrasi untuk kepentingan partai. Disamping itu birokrasi harus terbebas dari
campur tangan partai politik yaitu menjadi bagian dari struktur partai politik. Meskipun para pejabat
publik dipilih secara langsung melalui jalur partai politik sesuai UU No. 32 Tahun 2004 namun bukan
berati bahwa mereka serta merta bahwa kekuasaan daerah tersebut milik partai politik pemenang
pilkada. Karena disaat mereka terpilih maka pada saat itu mereka menjadi pejabat publik atau orang
yang menjabat pemimpin di daerah yang akan menyelenggarakan tugasnya sebagai abdi masyarakat
bukan abdi partai politiknya. Kedua, membangun partisipasi masyarakat dengan memberi kesempatan
dan diikutsertakan untuk berperan aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan kebijakan publik, serta
pengawasan dalam proses implementasinya Untuk mendukung hal tersebut maka birokrasi harus
mengakomodasinya dengan menciptakan sistem yang kondusif dengan melibatkan setiap stakeholder.
Sehingga pembangunan daerah dapat lebih sinergis berjalan efektif. Ketiga, menciptakan sistem
birokrasi yang transparan yang dapat diakses langsung oleh masyarakat. Masyarakat harus tahu dan
paham berapa besar jumlah uang pajak yang selama ini mereka bayar untuk dikembalikan ke
masyarakat melalui pembiayaan pembangunan daerah setiap tahun. Supaya anggaran tersebut tidak
untuk dibagi-bagi oleh pihak eksekutif dan legislatif seperti yang terjadi di hampir setiap pelosok
daerah di Indonesia. Terakhir yang keempat adalah memperbaiki sistem evaluasi pegawai. Sistem
evaluasi yang selama ini dilakukan sifatnya sangat abstrak dan subyektif. Hal ini berimplikasi pada
kinerja pegawai yang tidak maksimal atau tidak progresif. Maka perlu dibuat sistem evaluasi yang
menggunakan standar kinerja dengan target out put yang jelas. Sehingga jika pegawai dan instansi
dapat mencapai standar dan target yang ditetapkan, mereka diberikan reward atau incentive yang
signifikan dan sebaliknya bila tidak maka diberikan sanksi.

Keempat agenda reformasi birokrasi ini mungkin bukan hal yang baru bagi beberapa para pejabat
publik. Namun menjadi hal yang sulit untuk mengimplementasikannya. Apa lagi bagi mereka yang
merasa terganggu kemapanan kekuasaan dan ekonominya dari dampak realisasi agenda reformais
birokrasi ini. Untuk itu kita bersama-sama mulai dari sekarang dengan aktif mendorong
merealisasikannya minimal salah satu agenda saja dulu kemudian secara berturut-turut menyusul
ketiga agenda lainnya. Karena jika tidak kita mulai dari sekarang maka secara tidak sadar kita
memulai dari sekarang berhitung mundur saatnya bangsa Indonesia hilang dari peradaban di bumi ini.

Menuju Birokrasi yang Humanis

5
Birokrasi selalu menjadi perhatian masyarakat kita. Dan tiap kali mendengar kata “birokrasi”,
kita langsung terpikir mengenai berbagai urusan prosedural penyelesaian surat-surat
yang berkaitan dengan pemerintahan. Birokrasi kini dipandang sebagai sebuah sistem
dan alat manajemen pemerintahan yang amat buruk. Dikatakan demikian karena kita
mencium bahwa aroma birokrasi sudah melenceng dari tujuan semula sebagai medium
penyelenggaraan tugas-tugas kemanusiaan, yaitu melayani masyarakat (public service)
dengan sebaik-baiknya. Lagi-lagi, yang terpampang birokrasi kini identik dengan
peralihan dari meja ke meja, proses yang ribet, berbelit-belit, dan tidak efisien. Urusan-
urusan birokrasi selalu menjengkelkan karena selalu berurusan dengan pengisian
formulir-formulir, proses perolehan izin yang melalui banyak kontrol secara berantai,
aturan-aturan yang ketat yang mengharuskan seseorang melewati banyak sekat-sekat
formalitas dan sebagainya.
Citra buruk yang melekat dalam tubuh birokrasi dikarenakan sistem ini telah dianggap
sebagai “tujuan” bukan lagi sekadar “alat” untuk mempermudah jalannya
penyelenggaraan pemerintahan. Kenyataannya, birokrasi telah lama menjadi bagian
penting dalam proses penyelenggaraan pemerintahan negara. Terkesan, mustahil
negara tanpa birokrasi. Tapi, birokrasi seperti apa yang sangat menjanjikan bagi kita
kalau sudah demikian parahnya penyakit yang melekat dalam tubuhnya itu?

Sangat penting apabila kita meninjau kembali definisi birokrasi. Menurut Peter M. Blau
(2000:4), birokrasi adalah “tipe organisasi yang dirancang untuk menyelesaikan tugas-
tugas administratif dalam skala besar dengan cara mengkoordinasi pekerjaan banyak
orang secara sistematis”.Poin pikiran penting dari definisi di atas adalah bahwa
birokrasi merupakan alat untuk memuluskan atau mempermudah jalannya penerapan
kebijakan pemerintah dalam upaya melayani masyarakat.
Kenyataan yang terjadi hingga detik ini, birokrasi hanya sebagai “perpanjangan
tangan” pemerintah untuk dilayani masyarakat. Atau dengan birokrasi pejabat
pemerintahan ingin mencari keuntungan lewat birokrasi. Sebuah logika yang terbalik,
memang! Seharusnya birokrasi adalah alat untuk melayani masyarakat dengan
berbagai macam bentuk kebijakan yang dihasilkan pemerintah.
Birokrasi menjadi sarang penyamun bagi beberapa oknum yang berupaya
memanfaatkan sistem ini. Birokrasi telah menjadi “terali besi” (iron cage) yang
membuat pengap kondisi bangsa kita akibat ulah para “penjahat berbaju birokrat”.

Zaman Sudah Berbeda

Rasionalitas dan efisiensi adalah dua hal yang sangat ditekankan oleh Weber. Rasionalitas
harus melekat dalam tindakan birokratik, dan bertujuan ingin menghasilkan efisiensi
yang tinggi. Menurut Miftah Thoha (2003:19), kaitan keduanya bisa dilacak dari
kondisi sosial budaya ketika Weber masih hidup dan mengembangkan pemikirannya.
Kata kunci dalam rasionalisasi birokrasi ialah menciptakan efisiensi dan produktifitas
yang tinggi tidak hanya melalui rasio yang seimbang antara volume pekerjaan dengan
jumlah pegawai yang profesional tetapi juga melalui pengunaan anggaran, pengunaan
sarana, pengawasan, dan pelayanan kepada masyarakat. Kalau ditelisik, konsep
rasionalitas dan efisiensi yang membingkai dalam ramuan birokrasi adalah susunan
hirarki, di
mana ukurannya tergantung kebutuhan pada masing-masing zaman. Zaman kita
sangat berbeda dengan zaman yang tengah terjadi pada saat Weber masih hidup. Hal
yang sangat menarik adalah kritik yang disampaikan Warren Bennis melalui tulisannya
“Organizational Developments and the Fate of Bureucracy” dalam Industrial
Management Review 7 (1966). Bennis mencoba melakukan prediksi masa depan tentang
berbagai macam perubahan yang pada gilirannya akan mempengerahui eksistensi
birokrasi. Menurut Bennis, birokrasi merupakan penemuan sosial yang sangat elegan,
suatu bentuk kemampuan yang luar biasa untuk mengorganisasikan,
6
mengkoordinasikan proses-proses kegiatan yang produktif pada masa Revolusi
Industri.Birokrasi dikembangkan untuk menjawab berbagai persoalan yang hangat
pada waktu itu, misalnya persoalan pengurangan peran-peran persobal, persoalan
subyektivitas yang keterlaluan, dan tidak dihargainya hubungan kerja kemanusiaan.
Singkatnya, dalam pandangan Bennis, birokrasi adalah produk kultural dan sangat
terikat oleh proses zaman pada saat kemunculannya. Kita sangat membutuhkan
birokrasi yang berorientasi kemanusiaan, tidak secara konseptual semata tapi
merambah pada dataran praktis di lapangan. Hal ini menjadi pekerjaan sangat penting
untuk mendekatkan birokrasi pada manusia, bukan lagi pada mesin. Sebuah teori akan
diuji menurut kelayakan historis dan kebutuhan pada sebuah masa. Birokrasi yang
humanis masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus serius digarap oleh para
pemerhati masalah-masalah adminsitrasi negara dan kebijakan publik.

Masalah Birokrasi

BIROKRASI telah menjadi lahan persemaian subur bagi benih korupsi di Indonesia.
Birokrasi yang semula berkultur melayani dengan tulus kini melayani dengan fulus. Itulah
fakta yang terungkap dalam survei integritas sektor publik yang dilakukan Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK).

Survei dilakukan terhadap 65 unit layanan di 30 departemen/instansi tingkat pusat. Hasilnya cukup
mengejutkan, yaitu nilai rata-rata skor integritas 5,33. Angka itu tergolong rendah jika dibandingkan
dengan skor integritas sektor publik di negara lain.

Hasil itu dikatakan mengejutkan karena ternyata pembangunan tata kelola pemerintahan yang baik
dan bersih masih sebatas tekad. Belum menjadi sebuah gerakan. Buktinya, korupsi di birokrasi
pemerintahan tetap subur meski sudah ada mekanisme pengawasan melekat.

Korupsi di birokrasi pemerintahan sudah berkembang biak menjangkiti segenap lapisan masyarakat.
Dari hasil survei KPK itu ditemukan kenyataan bahwa petugas di unit layanan sudah terbiasa
menerima tips, hadiah, atau imbalan lainnya sebagai bagian dari pengurusan layanan. Tidak sedikit
pula masyarakat yang menganggap pemberian imbalan itu merupakan hal yang wajar.

Kinerja birokrasi yang buruk bukan cuma menggerogoti uang negara.

Birokrasi yang korup itu berakibat ekonomi biaya tinggi yang pada akhirnya menurunkan minat
investor menanam modal. Padahal, investasi sangat dibutuhkan untuk menggerakkan roda
perekonomian nasional dan membuka lapangan pekerjaan baru. Investor tidak mau berhubungan
dengan birokrasi yang berbelit-belit.

Sistem penggajian selalu dijadikan kambing hitam korupsi di lingkungan birokrasi. Padahal, kalau
mau jujur, korupsi lebih besar dan intens dilakukan pejabat tinggi yang notabene menerima gaji dan
penghasilan lebih tinggi. Artinya, gaji bukan faktor dominan memicu korupsi.

Ideologi juga turut disalahkan. Birokrat mengalami disorientasi nilai dalam masyarakat yang
menjunjung tinggi materialisme, uang menjadi panglima. Maka segala cara dihalalkan untuk
mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, termasuk mengomersialkan pelayanan publik.

Kesalahan juga dilimpahkan kepada sistem hukum yang berlaku. Sistem hukum negara ini belum
mampu mencegah terjadinya korupsi, kolusi, nepotisme, dan penyalahgunaan jabatan lainnya. Juga
tidak mampu membuat jera bagi penjahat berdasi yang dihukuminya. Karena itu, ditawarkan sistem
hukum pembuktian terbalik. Setiap orang harus bisa menjelaskan asal-muasal kekayaannya. Laporan

7
harta kekayaan pejabat ke KPK toh tidak efektif mencegah korupsi. Pejabat selalu berlindung di balik
dalih mendapatkan hibah atas penambahan kekayaannya.

Sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari alasan pembenaran. Adalah fakta sangat telanjang bahwa
birokrasi koruptif. Tiba saatnya untuk melakukan reformasi total birokrasi. Reformasi itu dimulai
dengan melakukan langkah terobosan mengaudit birokrasi secara menyeluruh.

Birokrasi negeri ini terlalu gemuk sehingga bergerak sangat lamban.

Struktur organisasi yang gemuk itu memperlambat daya tanggap dan memperbesar biaya-biaya
negosiasi. Hanya dengan pemanfaatan teknologi bisa mempercepat proses pelayanan dan mengurangi
ruang tawar-menawar antarindividu.

Persaingan antarnegara di era global ini sesungguhnya adalah persaingan sistem tata kelola
pemerintahan yang baik dan bersih. Salah satu barometernya adalah kualitas pelayanan birokrasi di
sektor publik. Hanya negara yang memenangi persaingan itulah yang akan dibanjiri investor. Negara
yang dijauhi investor akan bangkrut dengan sendirinya. Karena itu, birokrasi jangan lagi menjadi
persemaian korupsi.