Anda di halaman 1dari 9

TUGAS PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK

ROCK QUALITY DESIGNATION (RQD) & SCANLINE

Disusun oleh:
Topan Ramadhan
131.10.1181
Kelompok A Senin (15:00-16:40)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND
YOGYAKARTA
2015

PENDAHULUAN
Geoteknik merupakan perangkat lunak (ilmu) untuk kepentingan manusia dalam
mencapai keberhasilan pembangunan fisik infrastruktur melalui penyediaan bangunan
(termasuk prasarana transportasi/jalan) yang kuat dan aman dari ancaman kerusakan.
Ruang lingkup kajian dalam geoteknik berhubungan dengan studi: 1) batuan
dan/atau tanah sebagai material bangunan (construction material), 2) massa batuan
(rock mass) yang langsung berkaitan dengan tubuh bangunan, 3) massa batuan yang
tidak langsung berkaitan dengan tubuh bangunan tetapi sebagai penyusun bangunan
alami di lingkungan sekitarnya, misalnya gunung, lereng, tebing, maupun dataran limpah
banjir yang luas, sehingga dapat saja memendam atau berpotensi ancaman bagi
keselamatan bangunan tersebut. Aspek manfaat dari kajian tersebut :
1. Sebagai material bangunan dan atau tanah digunakan untuk mengisi atau menyusun
bangunan. Beberapa contoh berikut diantaranya: Batu untuk menyusun mansory, beton,
dan sebagainya. Tanah untuk menyusun tanggul, landasan jalan raya, dan berbagai
keperluan urugan lainnya.
2. Sebagai massa batuan yang terkait langsung dengan bangunan. Batuan berfungsi sebagai
landasan atau fundasi ataupun tumpuan bangunan, misalnya: Massa batuan sebagai
tumpuan bendungan, baik di bawah maupun di kiri-kanan tubuh bendungan yang
bersangkutan (right and/or left abutment). Selanjutnya, sebagai massa batuan, batuanpun
berfungsi sebagai media tempat bangunan dibuat, sehingga batuan berfungsi sebagai
penyusun bangunan tersebut termasuk sebagai lingkungan bangunan yang bersangkutan,
contoh : Terowongan yang dibuat menembus massa batuan.
3. Sebagai massa batuan penyusun bangunan alami di lingkungan bangunan, misalnya
lereng rawan longsor, lembah rawan banjir dan sebagainya. Ruanglingkup kajian tersebut
pada akhirnya meliputi studi tentang kekuatan/kelemahan batuan dan/atau tanah sebagai
material bangunan maupun massa batuan secara luas, sehingga geoteknik perlu didukung
oleh ilmu-ilmu penunjangnya, yaitu:
a. Mekanika tanah, dan Mekanika batuan,
b. Geologi Teknik,
c. Geologi Kebencanaan,
d. Hidrogeologi, dan Geologi (yang secara luas membahas genesis batuan, urutan
kejadiannya, tektonik dan konfigurasi struktur geologi termasuk kegempaan dan
bentuk bentuk bangunan alami yang dikenal sebagai geomorfologi ).
Dalam mempelajari kekuatan maupun kelemahan batuan dan/atau tanah untuk
kepentingan pemenuhan kebutuhan tersebut di atas (dalam konteks dengan bangunan), studi
geoteknik tidak lepas dari kajian genesis batuan, yang lebih meluas lagi kepada genesis tanah
yang berasal dari batuan induknya, dengan lima faktor terkait sbb. : S = f (R, C, T, O, t), S (soil)
dipengaruhi factor faktor R (batuan induk), C (iklim), T (topografi), O (organisme), dan t
(waktu), karena terbentuk oleh 5 faktor tersebut. Dengan diketahui genesis tanah, maka
kekuatannya
ataupun
kelemahannya
makin mudah dipelajari, makin mudah pula diketahui daerah penyebarannya untuk setiap

jenis tanah karena terkait dengan penyebaran batuan induknya, topografinya, iklim
sekitarnya, organisme yang tumbuh/hidup di dalamnya dan sebagainya, sehingga jelas
dapat diketahui penyebaran wilayah tempat berlangsungnya proses pembentukan tiap
jenis tanah yang bersangkutan (perhatikan pelapukan di daerah basah dan kering).
Selanjutnya pada proses pembentukan residual soil, dikenal urutan profil tanah
mulai dari batuan induk yang segar, ke arah atas bertahap lapisan-lapisan yang
berangsur menuju tanah terlapukan kuat dan lengkap, yang kemudian ditutupi tanah
organik, campur humus. Urutan tersebut dari atas ke bawah :
Top soil (organic soil)
Completelly weathered zone
Strongly weathered zone
Moderatelly weathered zone
Partly weathered zone
Fresh rock
Selain itu dikenal pula jenis tanah transport (transported soil), berupa aluvium,
kolovium
maupun
dilivium.
Ada
juga
sand
dunes
dan
sebagainya.
Salah satu ilmu penunjang dalam geoteknik adalah geologi teknik, Geologi Teknik adalah ilmu
yang
mempelajari
atau
mengkaji
gejala
geologi
dari
aspek
kekuatan
dan/atau kelemahan geologi (a.l. aspek kebencanaan), diaplikasikan untuk kepentingan
pembangunan infrastruktur terutama pada tahap desain dan tahap konstruksi
bangunanbangunan. Beberapa kajian yang penting untuk geologi teknik, antara lain: Erosi dan
erodibilitas, genesa tanah & faktor-faktor yang mempengaruhi lapukan tanah, profil
pelapukan tanah residu, deskripsi dan klasifikasi tanah, dan peta geologi teknik dan skala
peta (1:5.000 s/d 1:200.000) Ruanglingkup kajian geologi teknik meliputi kajian terhadap aspekaspek keteknikan dari berbagai masalah (sebagai faktor penghambat, a.l. kebencanaan) dan
manfaat (sebagai faktor pendukung) beberapa faktor, antara lain: Batuan / tanah / material,
struktur geologi dan geomorfologi.
Dalam mempelajari aspek kebencanaan geologi, dikenal salah satu jenis kebencanaan
berupa
longsor.
Faktor-faktor
penunjang
daerah
rawan
longsor
adalah
litologi (batuan dan lapukannya), tektonik (struktur geologi dan kegempaan),
geomorfologi (terutama aspek kemiringan lereng), vegetasi dan iklim (terutama curah
hujan). Berdasarkan jenisnya, longsoran dapat diklasifikasikan (lihat lampiran)
Dalam mempelajari aspek kekuatan batuan (a.l. Mekanika Batuan), dikenal istilah
RQD rock quality designation yaitu suatu penandaan atau penilaian kualitas batuan
berdasarkan kerapatan kekar. RQD penting untuk digunakan dalam pembobotan massa
batuan (Rock Mass Rating, RMR) dan pembobotan massa lereng (Slope Mass Rating,
SMR). Perhitungan RQD biasa didapat dari perhitungan langsung dari singkapan batuan
yang mengalami retakan-retakan (baik lapisan batuan maupun kekar atau sesar)
berdasarkan rumus Hudson (1979, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996) sbb.:

adalah rasio antara jumlah kekar dengan panjang scan-line (kekar/meter). Makin besar
nilai RQD, maka frekuensi retakannya kecil. Frekuensi retakannya makin banyak, nilai
RQD makin kecil. Jika frekuensi retakan = 20 kekar/meter, maka RQD = 40,60 %
Jika
frekuensi
retakan
=
11
kekar/meter,
maka
RQD
=
69,90
%
Jika
frekuensi
retakan
=
5
kekar/meter,
maka
RQD
=
90,9
%
Jika
frekuensi
retakan
=
2
kekar/meter,
maka
RQD
=
98,2
%
Dalam penilaian massa batuan (Rock Mass Rating, RMR), prosentase RQD diberikan penilaian
berikut di tabel sebelah:

PENGERTIAN SCAN LINE


Salah satu cara untuk menampilkan objek 3 dimensi agar terlihat nyata adalah dengan
menggunakan shading. Shading adalah cara menampilkan objek 3 dimensi dengan mewarnai
permukaan objek tersebut dengan memperhitungkan efek-efek cahaya. Efek-efek cahaya yang
dimaksud adalah ambient, diffuse, dan specular. Metode shading yang digunakan adalah Flat
Shading, Gouraud Shading, dan Phong Shading. Untuk Flat Shading, perhitungan warna
dilakukan satu kali karena dalam 1 face tidak terjadi gradasi warna, untuk Gouraud Shading,
pewarnaan vertex dilakukan pada tiap vertex sehingga tampak gradasi warnanya. Dan untuk
Phong Shading, pewarnaan dilakukan pada tiap garis hasil scanline pada face sehingga gradasi
tampak lebih halus.
Aplikasi yang dibuat sebagai tugas akhir ini bertujuan untuk mewarnai objek 3 dimensi
dengan 3 metode sehingga user yang menggunakan dapat melihat perbandingan waktu maupun
hasil antara metode yang satu dengan metode yang lain. Secara umum, aplikasi ini membaca file

yang berisi data mesh objek kemudian mewarnai objek tersebut sesuai dengan metode yang
dipilih. Aplikasi dibuat menggunakan Microsoft Visual C++ dan OpenGL. Dari hasil
implementasi dan pengujian sistem, Phong Shading merupakan metode yang terbaik dikarenakan
untuk mewarnai objek dilakukan scanline sehingga pada tiap face, pewarnaan dilakukan tiap
garis. Namun, proses pewarnaan yang dilakukan lebih lama daripada yang lain akibat scanline
yang dilakukan.
Algoritma Scan Line: melakukan scanning untuk setiap baris dari layar bidang gambar
untuk setiap permukaan objek pada ruang tiga dimensi dan menampilkan hasilnya setelah
melaksanakan proses setiap baris scanning-nya. Kedua algoritma ini dibandingkan berdasarkan
besar memori dan waktu yang dipergunakan oleh masing-masing algoritma. Dari hasil penelitian
didapatkan bahwa algoritma Scanline menggunakan memori yang lebih sedikit dari algoritma ZBuffer, sedangkan dari segi kecepatan algoritma Scan Line lebih unggul daripada algoritma Z
Buffer bilamana objek yang ditampilkan pada bidang gambar mengumpul pada baris y,
sedangkan Z Buffer lebih unggul dari Scan Line bila objek yang digambar menyebar dan
menggunakan keseluruhan baris pada bidang gambar dengan bidang permukaan yang digambar
semakin banyak.
METODE SCAN LINE
Teknik Pengambilan Data
Dalam penelitian ini digunakan metode scanline sampling. Metode ini dapat digunakan
untuk mengetahui orientasi bidang diskontinuitas pada permukaan yang dianggap mewakili
orientasi bidang diskontinuitas batuan secara keseluruhan. Peralatan yang dipakai berupa tali,
kompas,clip board,dan penggaris. Cara pengambilan data dengan metode scanline sampling
adalah dengan mencatat semua karakteristik bidang diskontinuitas yang memotong tali yang
dibentangkan di sepanjang permukaan batuan dengan batasan 30 centimeter ke atas dan 30
centimeter ke bawah dari garis pengamatan. Arah dari scanline ini harus dicatat. Sedapat
mungkin arah dari Scanline sama di semua segmen untuk mengurangi bias pengukuran. Batas
toleransi perbedaan arah scanline adalah 20, sehingga perbedaan tersebut masih dapat
diabaikan. Data-data yang diambil dalam penelitian ini, yang selanjutnya akan digunakan dalam
analisis kinematik dan klasifikasi massa batuan, berupa data diskontinuitas (lihat Lampiran B)
baik yang terbentuk secara primer maupun secara sekunder, JRC, SHV, dan kondisi keairan.
Secara sistematik, teknik pengambilan data dalam penelitian in meliputi :
a. Pengukuran panjang, arah kemiringan dan kemiringan scanline.
b. Pengukuran arah dan kemiringan lereng.
c. Pengukuran atribut diskontinuitas, yang terdiri dari orientasi diskontinuitas, panjang
diskontinuitas, jarak/spasi diskontinuitas, kondisi diskontinuitas, dan lebar bukaan
diskontinuitas.
d. Penentuan kondisi umum keairan.
e. Penilaian koefisien kekasaran permukaan diskontinuitas (JRC).
f. Pengujian Schmidt hammer untuk menentukan Schmidt Hammer Value (SHV).
Teknik Pengolahan Data

Setelah melakukan pengumpulan data diskontinuitas dengan metode scanline sampling,


maka langkah selanjutnya adalah melihat penyebaran orientasi bidang diskontinuitas pada bidang
stereonet. Untuk mempermudah prosesnya digunakan program aplikasi Stereonet dan Dips.
Tujuan pengeplotan orientasi bidang diskontinuitas pada stereonet adalah mendapatkan arah
umum dari orientasinya. Dari hasil pengeplotan didapatkan bahwa orientasi umum diskontinuitas
terutama rekahan sangat dipengaruhi oleh arah tegasan utama utara selatan. Rekahan-rekahan
tersebut memiliki arah umum utara selatan, baratlaut tenggara, dan timurlaut baratdaya.
Berdasarkan arah dari rekahan yang dikaitkan dengan arah tegasan utama, maka rekahan-rekahan
yang berarah utara selatan dikelompokkan pada extension joints dan pasangan kekar berarah
baratlaut tenggara dan timurlaut baratdaya merupakan shear joints. Langkah berikutnya
adalah membuat set diskontinuitas dari contour plot
tersebut. Penentuan kelompok
diskontinuitas dilakukan berdasarkan penyebaran orientasi bidang diskontinuitas pada bidang
stereonet. Bidang-bidang diskontinuitas yang membentuk satu kelompok dapat dikelompokkan
dalam satu set diskontinuitas.
Selanjutnya adalah pengujian sifat keteknikan dari batugamping (lihat Lampiran C).
Pengujian tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kohesi residual, sudut geser dalam residual,
kekuatan batuan rata-rata dan densitas kering batugamping. Dari pengujian, didapatkan hasil
kohesi residual sebesar 2,059 MPa, sudut geser dalam residual sebesar 8,43, kekuatan batuan
rata-rata sebesar 25 MPa, dan densitas kering sebesar 22,5 kN/m3. Setelah didapatkan hasil
kohesi residual, sudut geser dalam residual, JRC (lihat Lampiran D), dan JCS (lihat Lampiran E),
maka akan dapat diketahui nilai sudut geser dalam efektif (lihat Lampiran F). Berikutnya adalah
pengeplotan kedudukan-kedudukan set diskontinuitas, muka lereng dan sudut geser dalam efektif
masing-masing scanline pada stereonet . Setelah itu didapatkan potensi keruntuhan lereng batuan
pada masing-masing scanline dari model pengeplotan tersebut.

PENGERTIAN RQD
Dikembangkan pada tahun 1964 oleh Deere. Metode ini didasarkan pada penghitungan
persentase inti terambil yang mempunyai panjang 10 cm atau lebih. Dalam hal ini, inti terambil
yang lunak atau tidak keras tidak perlu dihitung walaupunmempunyai panjang lebih dari 10cm.
Diameter inti optimal yaitu 47.5mm. Nilai RQD ini dapat pula dipakai untuk memperkirakan
penyanggaan terowongan. Saan ini RQD sebagai parameter standar dalam pemerian inti
pemboran dan merupakan salah satu parameter dalam penentuan klasifikasi massa batuan RMR
dan Q-system.
RQD didefinisikan sebagai:

Berdasarkan nilai RQD massa batuan diklasifikasikan sebagai berikut :

Metode RQD dan Prosedur Pengukuran Rock Quality Desgination (RQD)


Prosedur pengukuran RQD yang benar digambarkan dalam Gambar 1. Cara perhitungan
dengan gambar disajikan dalam SNI 03-2436. b. Korelasi asli RQD harus dicatat berdasarkan
atas pengukuran pada inti ukuran NX(Deere,1963) RQD dapat dihitung berdasarkan inti yang
mempunyai diameter minimal berukuran NX (Deere dan Deere, 1989 , pada Gambar 2) c. Inti
pipa kawat yang menggunakan NQ, HQ, dan PQ dapat juga diterima Ukuran BQ dan BX lebih
kecil tidak dapat digunakan, sebab yang lebih kecil dari NX sangat berpotensi mengalami
kerusakan dan kehilangan inti.
Pengukuran panjang potongan intiPotongan inti yang sama dapat diukur dengan tiga cara,
yaitu sepanjang garissumbu, dari ujung ke ujung, atau sepanjang potongan laras lingkaran
penuh(Gambar 3. Pengukuran Panjang Inti dengan Penentuan RQD). Prosedur yangdianjurkan
adalah mengukur panjang inti sepasang garis sumbu. Lihat acua TheInternasioanl Society for
Rock Mechanics (ISRM), Commission onStandardization of Laboratory and Field Test (1978,
1981) Pengukuran sepanjang garis sumbu lebih banyak digunakan, karena:1.
Menghasilkan RQD standar yang tidak bergantung pada diameter inti.2. Menghindari ancaman
serius kualitas batuan, jika keadaan retakan sejajarlubang bor dan dipotong dengan pemasangan
kedua.
Penilaian kekuatan batuan Potongan inti yang tidak keras dan tidak kuat, sebaiknya tidak
diperhitungkan untuk RQD, meskipun memenuhi syarat panjang 100 mm (3,94 in). Persyaratan
kekuatan dapat membantu menurunkan ketentuan syarat kualitas batuan jika batuan telah

mengalami perubahan dan perlemahan, baik karena pelapukan permukaan ataupun kegiatan
hidrothermal. Keputusan penentuan tingkat perubahan kimiawi apakah sudah cukup atau belum,
biasanya harus dilakukan untuk mendapat persetujuan atau penolakan dilakukannya potongan
inti. Dua macam prosedur yang dapat digunakan untuk menilai kekuatan batuan adalah sebagai
berikut:
1. Prosedur pertama dilakukan tanpa memperhitungkan potongan inti, karena adanya
keraguan mengenai syarat kekuatan yang harus dipenuhi (misalnya
batasan
perubahanwarna atau pemutihan butiran, pencemaran berat, rongga, atau butiran lemah).
Prosedur ini bersifat konservatif dan meragukan penilaian kualitas batuan.
2. Prosedur kedua dilakukan dengan memasukkan batuan yang berubah persentase total
RQD nya dengan tanda bintang (RQD*) karena persyaratan kekuatan belum terpenuhi.
Metode RQD* dapat memberikan beberapa indikasi kualitas batuan sesuai dengan
tingkat retakan selama tidak kehilangan kekuatan.
Walaupun metode penghitungan dengan RQD ini sangat mudah dan cepat, akan tetapi metode ini
tidak memperhitung factor orientasi bidang diskontinu, material pengisi, dll, sehingga metode
ini kurang dapat menggambarkan keadaan massa batuan yang sebenarnya
HUBUNGAN ANTARA SCAN LINE DAN RQD
Scan Line
Yaitu dengan menentukan overlap interval untuk scanline yang melintasi area. Pada
umumnya, scanline digunakan pada paket aplikasi grafik untuk mengisi area polygon, ellipse,
lingkaran dan kurva lain yang sederhana. Fill area ini dimulai dari titik di dalam dan bermanfaat
untuk batas area yang kompleks.
Rock Quality Designation
Persentase termodifikasi dari perolehan inti dengan jumlah panjang potongan inti utuh
yang melebihi 100 mm (4 in) dan dibagi dengan panjang inti. Indeks kualitas batuan tipikal
dalam kondisi batuan yang mengalami pelapukan berat, lunak, retakan, pergeseran,
rekahan/pelipatan akan menyebabkan nilai RQD menurun. Secara sederhana RQD merupakan
ukuran persentase batuan yang terambil dari sebuah interval lubang bor. Perhitungan RQD biasa
didapat dari perhitungan langsung dari singkapan batuan yang mengalami retakan-retakan (baik
lapisan batuan maupun kekar atau sesar) berdasarkan rumus Hudson, (1979 dalam
Djakamihardja & Soebowo, 1996) sebagai berikut:
RQD = 100 (0.1l + 1) e- 0.1l (l) adalah rasio antara jumlah kekar dengan panjang scanline (kekar/meter). Makin besar nilai RQD, maka frekuensi retakannya kecil. Frekuensi
retakannya makin banyak, nilai RQD makin kecil.

REFERENSI
Hirnawan, R.F., 1998, Mekanika Tanah, Laboratorium Mekanika Tanah, Jurusan Geologi
Fmipa-Unpad (Belum Dipublikasikan), 68 Hal.
Setiawan, 1990, Informasi Geologi Untuk Menilai Kemantapan Terowongan, Proceeding
Pit Xix Iagi, Bandung 11-13 Desember 1990.
Geoteknik Dan Geomekanik Oleh: Prof. Dr. H. R.Febri Hirnawan, Ir., Zufialdi Zakaria, Ir., Mt,
Universita Spadjajaran, Bandung, Indonesia.