Anda di halaman 1dari 39

Angina Pektoris Tidak Stabil

dan Hipertensi
Everdina Ester
102009126
Judo arifin
102013012
Nevy Olianovi
102013101
Gita nur azizah
102013182
Evialy hady
102013287
Caesar swempi gaidaka
102013312
Yohana elviani jemumu
102013458
Muhammad naqib syahmi bin said jaafar
102013494

E9

Skenario 2
Seorang pria 60 tahun datang ke RS dengan
keluhan nyeri dada kiri terus menerus sejak 40
menit yang lalu. Nyeri terasa seperti tertimpa
beban berat dibagian tengah dada & disertai
keringat dingin. Pasien tersebut juga mengeluh
perutnya terasa mual sejak nyeri timbul. Riwayat
penyakit sebelumnya pasien memiliki riwayat
darah tinggi & seorang perokok sejak 20 tahun
terakhir.

Rumusan Masalah
Pria 60 tahun nyeri dada kiri terus
menerus sejak 40 menit yang lalu
terasa seperti tertimpa beban berat
dibagian tengah dada

Mind Map

ANAMNESIS
Identitas
Laki-laki
usia 60
tahun

Keluhan Utama
Nyeri dada kiri yang
dirasakan terus menerus
sejak 40 menit yang lalu

Riw. pengobatan
Apakah sedang
konsumsi obat
yang memiliki
efek samping ke
jantung?
Ada alergi obatobatan tertentu?

AUTO-ANAMNESIS
Keluhan
Penyerta

Riw. Penyakit
Sekarang
Nyeri seperti
tertimpa beban berat
di bagian tengah dada

Keringat
dingin
Mual sejak
nyeri timbul

Riw. Penyakit
Dahulu

Riw. Penyakit
Keluarga

Riwayat
Sosial

Riwayat darah
tinggi

Ada riwayat
penyakit
jantung?

Merokok sejak 20
tahun terakhir

Pemeriksaan Fisik
1. Pengamatan secara umum
o Keadaan umum
o Kesadaran
2. Pemeriksaan tanda-tanda vital
o Tekanan darah : 180/90
o Frekuensi nadi : 90x/menit
o Suhu
: afebris
o Frekuensi nafas : 22x/menit
3. Pemeriksaan jantung lengkap
o Pemeriksaan inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi tidak dapat memberi petunjuk untuk
kepastian diagnosis

Pemeriksaan Penunjang

Exercise test dengan alat treadmil

EKG (Elektrokardiogram)
Depresi segmen ST
iskemia akut.
Gelombang T negatif
tanda iskemia atau NSTEMI.

Pasien yang telah stabil


dengan terapi
medikamentosa dan
menunjukkan tanda resiko
tinggi

Bila (-) prognosis baik

Pemeriksaan Penunjang

Ekokardiograf
Tidak memberikan
data untuk diagnosis
UAP secara langsung.

Laboratorium
Pemeriksaan enzim: AST, LDH,
CK/CPK, CKMB, TROPONIN (
sekiranya ada infark).
Resiko kematian dgn
troponin.
CKMB berguna untuk diagnosis
infark akut.

Diagnosis Kerja
Angina Pektoris Tidak Stabil
o Nyeri dada sementara atau suatu perasaan
tertekan yang terjadi jika otot jantung
mengalami kekurangan oksigen.
o Termasuk dalam angina pektoris tak stabil
apabila:
Pasien dengan angina yang masih baru
dalam dua bulan, di mana angina cukup
berat dan frekuensinya cukup sering, lebih
dari 3 kali per hari.
Pasien dengan angina yang makin
bertambah berat, sebelumnya angina stabil,
lalu serangan timbul lebih sering dan lebih
berat sakit dadanya

Diagnosis Banding
Jenis

Nyeri dada

EKG

Enzim jantung

UAP

Angina pada waktu

Depresi segmen ST, Inversi

Tidak meningkat

aktivitas ringan, bisa

gel. T

hilang dgn nitrat


NSTEMI Lebih berat dan lama
(>30 mnt), tidak

Depresi segmen ST, Inversi

Meningkat minimal

gel. T dalam

2x dari batas atas

hilang dg nitrat,

normal

mungkin perlu opiat


STEMI

Lebih berat dan lama Hiperakut T, elevasi segmen Meningkat minimal


(>30 mnt), tidak

ST > 0,1 mV pada 2 atau

2x dari batas atas

hilang dg nitrat,

lebih sadapan ekstermitas >

normal

mungkin perlu opiat

0,2 mV pada prekordial


Gelombang Q , Inversi gel. T

Diagnosis Banding

Diagnosis Banding
Pericarditis
o Gejala yang paling umum dari pericarditis
adalah:
Nyeri di tengah dada, belakang tulang dada.
Rasa sakit mungkin merasa
tajam/menusuk/burning. Rasa sakit yang
lebih buruk ketika mengambil napas dalamdalam atau berbaring, merasa lebih baik
ketika duduk dan bersandar ke depan.
Kesulitan bernapas saat berbaring.
Batuk kering.
Demam rendah.

Etiologi
1.Suplai oksigen ke miokard turun:
Faktor pembuluh darah: aterosklerosis, spasme,
arteritis.
Faktor sirkulasi: hipertensi, stenosis aorta,
insufisiensi aorta.
Faktor darah: anemia, hipoksemia, polisitemia.
2.Curah jantung meningkat: anemia, hipertiroid,
aktifitas berat, emosi, makan terlalu banyak.
3.Kebutuhan oksigen miokard meningkat: hipertrofi
otot jantung.

Etiologi
Etiologi

Patofisiologi

Patofisiologi

Epidemiologi
Penelitian dari Framingham di Amerika Serikat
o setiap tahun 1% dari laki laki umur 30-62
tahun tanpa gejala
o pada permulaan pemeriksaan akan timbul
o gejala penyakit jantung koroner yaitu dari
jumlah tersebut 38 % dengan angina stabil
dan 7 % dengan angina tak stabil

Gejala Klinis
1. Lokasi

2. Kualitas nyeri
3. Hubungan dengan aktivitas
4. Lamanya serangan

Komplikasi
1.
2.
3.
4.
5.

Rasa sakit di dada terulang


Infark Miokardium
Mengacaukan bekerjanya klep jantung
Aritmia
Gagal Jantung

Penatalaksanaan

Medikamentosa
Obat anti iskemia
Nitrat 1-4 mg per jam (Intravena)
vasodilatasi pembuluh vena, pembuluh darah koroner, dan
arteriol perifer
mengurangi preload dan afterload tekanan pada dinding
jantung
Mengurangi kebutuhan oksigen
Penyekat beta
Antagonis kalsium, gol. Dihidropirin (nifedipin) & gol.
Nondihidropiridin (diiltiazem, verapamil).
Anti agregasi trombosit
Aspirin 160 mg per hari 80 325 mg/hari
Tiklopidin (granulositopenia)
Klopidogrel 300 mg/hari 75 mg/hari
Inhibitor glikoprotein IIb/IIIa (absiksimab, epitifabatid, dan
tirofiban)

Penatalaksanaan
Non-Medikamentosa
1. CABG (Coronary Artery Bypass
Grafting)
Operasi ini direkomendasikan
untuk individu dengan:
Penyempitan di beberapa
cabang arteri koroner
(biasanya pada individu
dengan diabetes)
Penyempitan parah di left
main artery coronary
Blockade pada arteri koroner
atau kondisi lain yang
kemungkinan tidak respon
atau tidak respon terhadap
terapi lain seperti PCI.

Penatalaksanaan
Non-Medikamentosa
2. PCI (Percutaneus Coronary Intervention)/ PTCA
(Percutaneus Trans Coronary Angiopalsty)

Pencegahan
Mengontrol tekanan darah
Pertahankan berat badan
yang sehat
Lakukan pemeriksaan rutin
berkala

Hipertensi
Peningkatan tekanan darah
o Sistolik 140 mmHg
o Diastolik 90 mmHg

Pengukuran dilakukan 2 kali atau lebih, kemudian


diambil reratanya pada 2 kali atau lebih kunjungan.
Klasifikasi

Tekanan Sistolik (mmHg)

Diastolik

Darah
Normal

90-119

dan

(mmHg)
60-79

Prahipertensi

120-139

atau

80-89

Hipertensi derajat 1

140-159

atau

90-99

Hipertensi derajat 2

160

atau

100

Hipertensi sekunder

Penyakit parenkim ginjal

o Penyakit glomerular, tubulointersisial, penyakit ginjal polisiklik


retensi air dan garam, sekresi renin & angiotensin

Penyakit renovaskular
o Fibromuskular hyperplasia
o Produksi renin karena aliran darah ke ginjal yang berkurang retensi
garam dan air
< 20 tahun
Ada bruits auskultasi epigastrium
Aterosklerotik ekstremitas stenosis arteri renalis
ACE inhibitors
Riwayat merokok
Edema paru berulang

Etiologi Hipertensi
95% tidak diketahui hipertensi primer
atau esensial
Hipertensi sekunder = terjadi akibat
penyakit lain

Epidemiologi
6% dari seluruh penduduk dunia
Lebih dari separuh populasi diatas usia 65
tahun
The National Health AND Nutrition
Examination Survey (NHAES) (2003-2004)
o Usia 18 tahun keatas di Amerika = 29,6%
atau 58-65 juta penduduk Amerika
Di Indonesia, survei RISKESDAS (2007)
o Prevalensi penderita hipertensi = 31,7%
o Terbanyak di Jawa Timur = 37,4%
o Terendah di Papua Barat = 20,1%
o Usia 50 tahun, wanita = 37%, pria = 28%
o Usia diatas 25 tahun, wanita = 29%, pria =
27%

Patofisilogi Hipertensi

HIPERTENSI
berlangsung
lama

Mmicu proses
aterosklerosis
arteri koronaria

aliran darah
ke miokardium

Angina pektoris /
infark miokard

resistensi
terhadap ejeksi
ventrikel kiri

beban kerja
jantung

kebutuhan jantung
O2 dan beban
kerja jantung

u/ kekuatan
kontraksi

ventrikel kiri
mengalami
hipertrofi

Keadaan hipertrofi tdk


mampu mpertahankan
curah jantung yg
memadai

Dilatasi &
gagal jantung

Gejala Klinis

Sakit kepala
Epistaksis
Pusing
Tinitus
Hipertensi tak diobati sakit kepala saat
bangun tidur, mata kabur, depresi, nokturia

Komplikasi Hipertensi

Penatalaksanaan Hipertensi

Penatalaksanaan Hipertensi
Recommendation
Recommendation 1
Populasi berusia 60 yrs,mulai terapi farmakologi
SBP 150 mmHg, DBP 90 mmHg
Recommendation 2
Populasi usia <60 yrs, terapi farmakologi bila DBP90
mmHg . Target DBP<90 mmHg
Recommendation 3
Populasi usia <60 yrs, terapi farmakologi bila SBP
140 mmHg. Target SBP<140 mmHg
Recommendation 4
Populasi usia 18 yrs dengan CKD, terapi farmakologi
bila SBP 140 mmHg or DBP 90 mmHg . Target
SBP < 140 mmHg dan DBP < 90 mmHg

Strength of
Recommendation
Grade A
Grade A (30-59 yrs)
Grade E (18-29 yrs)

Grade E

Grade E

Penatalaksanaan Hipertensi
Recommendation
Recommendation 5
Populasi usia 18 dengan DM, terapi farmakologi bila
SBP 140 mmHg atau DBP 90 mmHg. Target SBP
<140 and DBP <90
Recommendation 6
Pada populasi non black , termasuk dg DM, initial anti
HTN treatment: thiazide type diuretic, CCB, ACEI or
ARB
Recommendation 7
Populasi kulit hitam, termasuk dg DM, initial anti HT:
thiazide-type diuretic or CCB
Recommendation 8
Populasi usia 18 dg CKD dan HTN, anti HTN : ACEI or

Strength of
Recommendation
Grade E

Grade B

Grade B ( No DM)
Grade C ( DM)

Grade B

Penatalaksanaan Hipertensi
Recommendation

Recommendation 9
Tujuan treatment HTN adalah untuk mencapai dan
mempertahankan target BP
Jika target BP tidak tercapai dlm 1 bl, naikkan
dosis atau tambahkan 1 obat dr rekomendasi 6
(thiazide-type diuretic, CCB, ACEI, or ARB)
Jika target BP tidak tercapai dg 2 obat, tambah dan
titrasi obat 3rd . Do not use an ACEI and an ARB
together
Jika target BP tidak dapat tercapai dg obat-obat
pada recommendasi 6 krn kontraindikasi atau
butuh >3 obat, obat antiHT dari kelas lain bias
digunakan.

Strength of
Recommendatio
n

Grade E

Penatalaksanaan
Diuretika
Penyekat reseptor beta-adrenergik
o Memperburuk asma, diabetes mellitus, dan
iskemia perifer
o Memperbaiki angina, disritmia jantung
tertentu, dan sakit kepala migren
Penyekat saluran kalsium
ACE-inhibitor
Penyekat alfa-adrenergik

Prognosis
Adanya kerusakan organ target, terutama pada
jantung dan pembuluh darah, faal ventrikel kiri
yang buruk akan memperburuk prognosis
Faktor yang mempengaruhi prognosis =
beratnya kelainan pembuluh koroner.
Pasien dengan penyempitan di pangkal
pembuluh koroner kiri mempunyai mortalitas
50% dalam 5 tahun.
Dengan pengobatan yang maksimal dan dengan
bertambah majunya tindakan intervensi
dibidang kardiologi dan bedah pintas koroner,
harapan hidup pasien angina pektoris menjadi
jauh lebih baik

Kesimpulan
Angina pektoris tidak stabil adalah suatu sindrom
klinik tipe angina pektoris yang dapat berubah
menjadi infark Pengenalan klinis angina pektoris
termasuk patofisiologi serta perjalanan penyakitnya
perlu diketahui agar dapat dilakukan pengobatan
yang tepat ataupun usaha pencegahan agar tidak
terjadi infark miokard. Pengobatan bertujuan untuk
memperpanjang hidup dan memperbaiki kualitas
hidup baik secara medikal maupun pembedahan.
Pencegahan terhadap faktor risiko terjadinya
angina pektoris lebih penting dilakukan dan
sebaiknya dimulai pada usia muda seperti
memantau tekanan darah, menghindarkan stres,
diet rendah lemak, dan tidak merokok.