Anda di halaman 1dari 72

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini upaya peningkatan mutu pendidikan terus dilakukan oleh
berbagai pihak dan pendekatan. Upaya-upaya tersebut dilandasi suatu kesadaran
betapa pentingnya peranan pendidikan dalam pengembangan sumber daya
manusia dan pengembangan watak bangsa (Nation Character Building) untuk
kemajuan masyarakat dan bangsa.
Harkat dan martabat suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas
pendidikannya. Dalam konteks bangsa Indonesia, peningkatan mutu pendidikan
merupakan sasaran pembangunan di bidang pendidikan nasional dan merupakan
bagian integral dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia secara
menyeluruh (E. Mulyasa, 2005:31).
Manajemen dapat dipandang sebagai proses dan dapat pula dipandang
sebagai tugas (kewajiban). Manajemen pendidikan adalah suatu penataan bidang
garapan

pendidikan

yang

dilakukan

melalui

aktivitas

perencanaan,

pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan dan pengawasan/ pengendalian.


Keempat komponen tersebut merupakan suatu sistem yang terpadu, yakni antara
satu dengan lainnya saling berkaitan secara utuh. Artinya, perencanaan harus
diorganisasikan,

diarahkan,

dan

diawasi.

Pengorganisasian

juga

harus

direncanakan, diarahkan, dan kemudian dikendalikan. Begitu pula pengendalian


pun harus direncanakan, diorganisasikan, dan diarahkan. Oleh karena itu
manajemen

sekolah

merupakan

kegiatan

penyediaan,

pengaturan

dan

pendayagunaan segenap sumber daya untuk mencapai tujuan pendidikan di


sekolah secara efektif dan efisien.
Adapun bidang tugas yang harus dikelola di dalam manajemen sekolah
antara lain mencakup:
(1) manajemen kurikulum dan pembelajaran
(2) manajemen kesiswaan,
(3) manajemen pendidik dan tenaga kependidikan,
(4) manajemen sarana dan prasarana pendidikan,

(5) manajemen keuangan/pembiayaan,


(6) manajemen program hubungan sekolah dengan masyarakat.
Dalam makalah ini akan kami uraikan mengenai keenam bidang tugas
manajemen sekolah diatas.

B. Fokus Pembahasan
Makalah ini akan membahas tentang :
1. Pengertian Manajemen Sekolah ?
2. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran ?
3. Manajemen Kesiswaan/Peserta Didik ?
4. Manajemen Pendidik dan Tenaga Kependidikan ?
5. Manajemen Sarana dan Prasarana ?
6. Manajemen Keuangan/pembiayaan Sekolah ?
7. Manajemen Hubungan Masyarakat ?
C. Tujuan Pembahasan
Setelah kita mengetahui pengertian manajemen pendidikan serta manfaat dan
pembagian bidang tugas manajemen akan membuat kita tahu bagaimana
memanajemen pendidikan kita.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Manajemen Sekolah

Dalam konteks pendidikan, memang masih ditemukan kontroversi dan


inkonsistensi dalam penggunaan istilah manajemen. Di satu pihak ada yang
tetap cenderung menggunakan istilah manajemen, sehingga dikenal dengan
istilah manajemen pendidikan. Di lain pihak, tidak sedikit pula yang
menggunakan istilah administrasi sehingga dikenal istilah adminitrasi
pendidikan. Dalam studi ini, penulis cenderung untuk mengidentikkan
keduanya, sehingga kedua istilah ini dapat digunakan dengan makna yang
sama.
Selanjutnya, di bawah ini akan disampaikan beberapa pengertian umum
tentang manajemen yang disampaikan oleh beberapa ahli. Dari Kathryn. M.
Bartol dan David C. Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ dan Jusuf
Udaya (1995) memberikan rumusan bahwa : Manajemen adalah proses untuk
mencapai tujuan tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat
fungsi utama yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing),
memimpin (leading), dan mengendalikan (controlling). Dengan demikian,
manajemen adalah sebuah kegiatan yang berkesinambungan. Sedangkan dari
Stoner sebagaimana dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan
bahwa:

Manajemen

adalah

proses

perencanaan,

pengorganisasian,

pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan


penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai
tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Secara khusus dalam konteks pendidikan, Djaman Satori (1980)
memberikan pengertian manajemen pendidikan dengan menggunakan istilah
administrasi pendidikan yang diartikan sebagai keseluruhan proses kerjasama
dengan memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan
sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif
dan efisien. Sementara itu, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan bahwa
administrasi pendidikan sebagai rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses
pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan
pendidikan secara sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu
terutama berupa lembaga pendidikan formal.

Meski ditemukan pengertian manajemen atau administrasi yang


beragam, baik yang bersifat umum maupun khusus tentang kependidikan,
namun secara esensial dapat ditarik benang merah tentang pengertian
manajemen pendidikan, bahwa : (1) manajemen pendidikan merupakan suatu
kegiatan; (2) manajemen pendidikan memanfaatkan berbagai sumber daya;
dan (3) manajemen pendidikan berupaya untuk mencapai tujuan tertentu
Dikemukakan di atas bahwa manajemen pendidikan merupakan suatu
kegiatan. Kegiatan dimaksud tak lain adalah tindakan-tindakan yang mengacu
kepada

fungsi-fungsi

manajamen.

Berkenaan

dengan

fungsi-fungsi

manajemen ini, H. Siagian (1977) mengungkapkan pandangan dari beberapa


ahli, sebagai berikut:
Menurut G.R. Terry terdapat empat fungsi manajemen, yaitu :
(1) planning (perencanaan);
(2) organizing (pengorganisasian);
(3) actuating (pelaksanaan); dan
(4) controlling (pengawasan).
Sedangkan menurut Henry Fayol terdapat lima fungsi manajemen, meliputi :
(1) planning (perencanaan);
(2) organizing (pengorganisasian);
(3) commanding (pengaturan);
(4) coordinating (pengkoordinasian); dan
(5) controlling (pengawasan).
Sementara itu, Harold Koontz dan Cyril O Donnel mengemukakan lima
fungsi manajemen, mencakup :
(1) planning (perencanaan);
(2) organizing (pengorganisasian);
(3) staffing (penentuan staf);
(4) directing (pengarahan); dan
(5) controlling (pengawasan).
Selanjutnya, L. Gullick mengemukakan tujuh fungsi manajemen, yaitu :
(1) planning (perencanaan);

(2) organizing (pengorganisasian);


(3) staffing (penentuan staf);
(4) directing (pengarahan);
(5) coordinating (pengkoordinasian);
(6) reporting (pelaporan); dan
(7) budgeting (penganggaran).
Untuk memahami lebih jauh tentang fungsi-fungsi manajemen
pendidikan, di bawah akan dipaparkan tentang fungsi-fungsi manajemen
pendidikan dalam perspektif persekolahan, dengan merujuk kepada pemikiran
G.R. Terry, meliputi : (1) perencanaan (planning); (2) pengorganisasian
(organizing); (3) pelaksanaan (actuating) dan (4) pengawasan (controlling).
1. Perencanaan (planning)
Perencanaan tidak lain merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan
yang akan dicapai beserta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut.
Sebagaimana disampaikan oleh Louise E. Boone dan David L. Kurtz (1984)
bahwa: planning may be defined as the proses by which manager set
objective, asses the future, and develop course of action designed to
accomplish

these

objective.

Sedangkan

T.

Hani

Handoko

(1995)

mengemukakan bahwa : Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau


penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek,
program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan
untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi
ini.
Arti penting perencanaan terutama adalah memberikan kejelasan arah
bagi setiap kegiatan, sehingga setiap kegiatan dapat diusahakan dan
dilaksanakan

seefisien

dan

seefektif

mungkin.

T.

Hani

Handoko

mengemukakan sembilan manfaat perencanaan bahwa perencanaan: (a)


membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan
lingkungan; (b) membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalahmasalah utama; (c) memungkinkan manajer memahami keseluruhan
gambaran; (d) membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat; (e)

memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi; (f) memudahkan


dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi; (g)
membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami; (h)
meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti; dan (i) menghemat waktu, usaha
dan dana.
Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan
langkah-langkah pokok dalam perencanaan, yaitu :
1. Penentuan tujuan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : (a)
menggunakan kata-kata yang sederhana, (b) mempunyai sifat fleksibel,
(c) mempunyai sifat stabilitas, (d) ada dalam perimbangan sumber
daya, dan (e) meliputi semua tindakan yang diperlukan.
2. Pendefinisian gabungan situasi secara baik, yang meliputi unsur
sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya modal.
3. Merumuskan kegiatan yang akan dilaksanakan secara jelas dan tegas.
Hal senada dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko (1995) bahwa
terdapat empat tahap dalam perencanaan, yaitu : (a) menetapkan tujuan atau
serangkaian tujuan; (b) merumuskan keadaan saat ini; (c) mengidentifikasi
segala kemudahan dan hambatan; (d) mengembangkan rencana atau
serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan.
Pada bagian lain, Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996)
mengemukakan bahwa atas dasar luasnya cakupan masalah serta jangkauan
yang terkandung dalam suatu perencanaan, maka perencanaan dapat
dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu : (1) rencana global yang merupakan
penentuan tujuan secara menyeluruh dan jangka panjang, (2) rencana strategis
merupakan rencana yang disusun guna menentukan tujuan-tujuan kegiatan
atau tugas yang mempunyai arti strategis dan mempunyai dimensi jangka
panjang, dan (3) rencana operasional yang merupakan rencana kegiatankegiatan yang berjangka pendek guna menopang pencapaian tujuan jangka
panjang, baik dalam perencanaan global maupun perencanaan strategis.
Perencanaan strategik akhir-akhir ini menjadi sangat penting sejalan
dengan perkembangan lingkungan yang sangat pesat dan sangat sulit

diprediksikan, seperti perkembangan teknologi yang sangat pesat, pekerjaan


manajerial yang semakin kompleks, dan percepatan perubahan lingkungan
eksternal lainnya.
Pada bagian lain, T. Hani Handoko memaparkan secara ringkas tentang
langkah-langkah dalam penyusunan perencanaan strategik, sebagai berikut:
1) Penentuan misi dan tujuan, yang mencakup pernyataan umum
tentang misi, falsafah dan tujuan. Perumusan misi dan tujuan ini
merupakan tanggung jawab kunci manajer puncak. Perumusan ini
dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dibawakan manajer. Nilai-nilai ini
dapat mencakup masalah-masalah sosial dan etika, atau masalahmasalah umum seperti macam produk atau jasa yang akan diproduksi
atau cara pengoperasian perusahaan.
2) Pengembangan profil perusahaan, yang mencerminkan kondisi
internal dan kemampuan perusahaan dan merupakan hasil analisis
internal untuk mengidentifikasi tujuan dan strategi sekarang, serta
memerinci kuantitas dan kualitas sumber daya -sumber daya
perusahaan

yang

tersedia.

Profil

perusahaan

menunjukkan

kesuksesan perusahaan di masa lalu dan kemampuannya untuk


mendukung pelaksanaan kegiatan sebagai implementasi strategi
dalam pencapaian tujuan di masa yang akan datang.
3) Analisa

lingkungan

eksternal,

dengan

maksud

untuk

mengidentifikasi cara-cara dan dalam apa perubahan-perubahan


lingkungan

dapat

mempengaruhi

organisasi.

Disamping

itu,

perusahaan perlu mengidentifikasi lingkungan lebih khusus, seperti


para penyedia, pasar organisasi, para pesaing, pasar tenaga kerja dan
lembaga-lembaga keuangan, di mana kekuatan-kekuatan ini akan
mempengaruhi secara langsung operasi perusahaan.
Meski pendapat di atas lebih menggambarkan perencanaan strategik
dalam konteks bisnis, namun secara esensial konsep perencanaan strategik ini
dapat diterapkan pula dalam konteks pendidikan, khususnya pada tingkat
persekolahan, karena memang pendidikan di Indonesia dewasa ini sedang

menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal, sehingga


membutuhkan perencanaan yang benar-benar dapat menjamin sustanabilitas
pendidikan itu sendiri.
2. Pengorganisasian (organizing)
Fungsi manajemen berikutnya adalah pengorganisasian (organizing).
George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa :Pengorganisasian adalah
tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara
orang-orang, sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien, dan
memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu,
dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran
tertentu.
Lousie

E.

Boone dan

David

L.

Kurtz

(1984) mengartikan

pengorganisasian : as the act of planning and implementing organization


structure. It is the process of arranging people and physical resources to carry
out plans and acommplishment organizational obtective.
Dari kedua pendapat di atas, dapat dipahami bahwa pengorganisasian
pada dasarnya merupakan upaya untuk melengkapi rencana-rencana yang
telah dibuat dengan susunan organisasi pelaksananya.
Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengorganisasian adalah
bahwa setiap kegiatan harus jelas siapa yang mengerjakan, kapan dikerjakan,
dan apa targetnya.
Berkenaan dengan pengorganisasian ini, Hadari Nawawi (1992)
mengemukakan beberapa asas dalam organisasi, diantaranya adalah : (a)
organisasi harus profesional, yaitu dengan pembagian satuan kerja yang sesuai
dengan kebutuhan; (b) pengelompokan satuan kerja harus menggambarkan
pembagian kerja; (c) organisasi harus mengatur pelimpahan wewenang dan
tanggung jawab; (d) organisasi harus mencerminkan rentangan kontrol; (e)
organisasi harus mengandung kesatuan perintah; dan (f) organisasi harus
fleksibel dan seimbang.
Ernest Dale seperti dikutip oleh T. Hani Handoko mengemukakan tiga
langkah dalam proses pengorganisasian, yaitu : (a) pemerincian seluruh

pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi; (b)


pembagian beban pekerjaan total menjadi kegiatan-kegiatan yang logik dapat
dilaksanakan oleh satu orang; dan (c) pengadaan dan pengembangan suatu
mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan para anggota menjadi
kesatuan yang terpadu dan harmonis.
3. Pelaksanaan (actuating)
Dari seluruh rangkaian proses manajemen, pelaksanaan (actuating)
merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan
dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak
proses manajemen, sedangkan fungsi actuating justru lebih menekankan pada
kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi.
Dalam hal ini, George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa actuating
merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa
hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan
dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu
juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.
Dari pengertian di atas, pelaksanaan (actuating) tidak lain merupakan
upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui
berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat
melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan
tanggung jawabnya.
Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanan (actuating) ini
adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu
jika : (1) merasa yakin akan mampu mengerjakan, (2) yakin bahwa pekerjaan
tersebut memberikan manfaat bagi dirinya, (3) tidak sedang dibebani oleh
problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting, atau mendesak, (4) tugas
tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan dan (5) hubungan
antar teman dalam organisasi tersebut harmonis.
4. Pengawasan (controlling)
Pengawasan (controlling) merupakan fungsi manajemen yang tidak
kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi terdahulu, tidak akan

efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Dalam hal ini, Louis E. Boone dan
David L. Kurtz (1984) memberikan rumusan tentang pengawasan sebagai :
the process by which manager determine wether actual operation are
consistent with plans. Sementara itu, Robert J. Mocker sebagaimana
disampaikan oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan definisi
pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan,
bahwa : Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk
menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan tujuan perencanaan,
merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata
dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur
penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang
diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan
dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuantujuan perusahaan.
Dengan demikian, pengawasan merupakan suatu kegiatan yang
berusaha untuk mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan
rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi tercapai. Apabila terjadi
penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan bagaimana pula tindakan
yang diperlukan untuk mengatasinya.
Selanjutnya dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko bahwa proses
pengawasan memiliki lima tahapan, yaitu : (a) penetapan standar pelaksanaan;
(b) penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan; (c) pengukuran pelaksanaan
kegiatan nyata; (d) pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan
penganalisaan penyimpangan-penyimpangan; dan (e) pengambilan tindakan
koreksi, bila diperlukan.
Fungsi-fungsi manajemen ini berjalan saling berinteraksi dan saling kait
mengkait antara satu dengan lainnya, sehingga menghasilkan apa yang disebut
dengan proses manajemen. Dengan demikian, proses manajemen sebenarnya
merupakan proses interaksi antara berbagai fungsi manajemen.
Dalam perspektif persekolahan, agar tujuan pendidikan di sekolah dapat
tercapai secara efektif dan efisien, maka proses manajemen pendidikan

10

memiliki peranan yang amat vital. Karena bagaimana pun sekolah merupakan
suatu sistem yang di dalamnya melibatkan berbagai komponen dan sejumlah
kegiatan yang perlu dikelola secara baik dan tertib. Sekolah tanpa didukung
proses manajemen yang baik, boleh jadi hanya akan menghasilkan
kesemrawutan lajunya organisasi, yang pada gilirannya tujuan pendidikan pun
tidak akan pernah tercapai secara semestinya.
Dengan demikian, setiap kegiatan pendidikan di sekolah harus memiliki
perencanaan yang jelas dan realisitis, pengorganisasian yang efektif dan
efisien, pengerahan dan pemotivasian seluruh personil sekolah untuk selalu
dapat

meningkatkan

kualitas

kinerjanya,

dan

pengawasan

secara

berkelanjutan.
Berbicara tentang kegiatan pendidikan, di bawah ini beberapa
pandangan dari para ahli tentang bidang-bidang kegiatan yang menjadi
wilayah

garapan

manajemen

pendidikan.

Ngalim

Purwanto

(1986)

mengelompokkannya ke dalam tiga bidang garapan yaitu :


1. Administrasi material, yaitu kegiatan yang menyangkut bidang-bidang
materi/

benda-benda,

seperti

ketatausahaan

sekolah,

administrasi

keuangan, gedung dan alat-alat perlengkapan sekolah dan lain-lain.


2. Administrasi personal, mencakup di dalamnya administrasi personal guru
dan pegawai sekolah, juga administrasi murid. Dalam hal ini masalah
kepemimpinan dan supervisi atau kepengawasan memegang peranan yang
sangat penting.
3. Administrasi kurikulum, seperti tugas mengajar guru-guru, penyusunan
sylabus atau rencana pengajaran tahunan, persiapan harian dan mingguan
dan sebagainya.
Hal serupa dikemukakan pula oleh M. Rifai (1980) bahwa bidangbidang administrasi pendidikan terdiri dari :
a. Bidang kependidikan atau bidang edukatif, yang menyangkut
kurikulum, metode dan cara mengajar, evaluasi dan sebagainya

11

b. Bidang personil, yang mencakup unsur-unsur manusia yang belajar,


yang mengajar, dan personil lain yang berhubungan dengan kegiatan
belajar mengajar
c. Bidang alat dan keuangan, sebagai alat-alat pembantu untuk
melancarkan siatuasi belajar mengajar dan untuk mencapai tujuan
pendidikan sebaik-baiknya.
Sementara itu, Thomas J. Sergiovani sebagimana dikutip oleh Uhar
Suharsaputra (2002) mengemukakan delapan bidang administrasi pendidikan,
mencakup : (1) instruction and curriculum development; (2) pupil personnel;
(3) community school leadership; (4) staff personnel; (5) school plant; (6)
school trasportation; (7) organization and structure dan (8) School finance and
business management.
Di lain pihak, Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas
(1999) telah menerbitkan buku Panduan Manajemen Sekolah, yang
didalamnya mengetengahkan bidang-bidang kegiatan manajemen pendidikan,
meliputi: (1) manajemen kurikulum; (2) manajemen personalia; (3)
manajemen kesiswaan; (4) manajemen keuangan; (5) manajemen perawatan
preventif sarana dan prasarana sekolah.

B. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran


Kata kurikulum bukan berasal dari bahasa Indonsia, melainkan
berasal dari bahasa Latin yang kata dasarnya adalah currere, yang secara
harfiah berarti lapangan perlombaan lari. Suatu lapangan perlombaan biasanya
mempunyai batas start dan batas finish. Dalam lapangan pendidikan
pengertian tersebut dijabarkan bahwa bahan belajar sudah ditentukan secara
pasti, dari mana mulai diajarkan dan kapan diakhiri dan bagaimana cara untuk
menguasai bahan agar dapat mencapai gelar.
Menurut Pasal 1 Butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai

12

pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan


pendidikan tertentu.
Jadi kurikulum ialah : suatu program pendidikan yang berisikan
berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan
dan dirancangkan secara sistematik atas dasar norma-norma yang berlaku
yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan
dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.
Dari pengertian yang sudah dijabarkan di atas, maka dapat disimpulkan
kurikulum tersebut mengandung unsur-unsur adalah :
a.
b.
c.
d.

Seperangkat Rencana
Pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran
Pengaturan cara yang digunakan
Sebagai pedoman kegiatan belajar-mengajar
Kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Indonesia mengalami

perkembangan sebagai berikut :


1. Tahun 1964 : perencanaan kurikulum sekolah dasar.
2. Tahun 1973 : kurikulum sekolah PPSP (Proyek Perintis Sekolah
Pembangunan).
Tahun 1975 : dikenal dengan Kurikulum 1975, yaitu Kurikulum SD.
Tahun 1984 : Kurikulum 1984.
Tahun 1994 : Kurikulum 1994.
Tahun 1997 : revisi kurikulum 1997.
Tahun 2004 : rintisan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi).
Tahun 2006 : Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
9. Tahun 2013 : Kurikulum 2013.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Manajemen kurikulum merupakan subtansi manajemen yang utama di


sekolah. Prinsip dasar manajemen kurikulum ini adalah berusaha agar proses
pembelajaran dapat berjalan dengan baik, dengan tolok ukur pencapaian
tujuan oleh siswa dan mendorong guru untuk menyusun dan terus menerus
menyempurnakan strategi pembelajarannya. Tahapan manajemen kurikulum
di sekolah dilakukan melalui empat tahap : (a) perencanaan; (b)
pengorganisasian dan koordinasi; (c) pelaksanaan; dan (d) pengendalian.

13

Dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Tita


Lestari (2006) mengemukakan tentang siklus manajemen kurikulum yang
terdiri dari empat tahap :
1. Tahap perencanaan; meliputi langkah-langkah sebagai :
a) analisis kebutuhan;
b) merumuskan dan menjawab pertanyaan filosofis;
c) menentukan disain kurikulum;
d) membuat rencana induk (master plan): pengembangan, pelaksanaan,
dan penilaian.
2. Tahap pengembangan; meliputi langkah-langkah :
a) perumusan rasional atau dasar pemikiran
b) perumusan visi, misi, dan tujuan
c) penentuan struktur dan isi program
d) pemilihan dan pengorganisasian materi
e) pengorganisasian kegiatan pembelajaran
f) pemilihan sumber, alat, dan sarana belajar
g) penentuan cara mengukur hasil belajar.
3. Tahap implementasi atau pelaksanaan; meliputi langkah-langkah:
a) penyusunan rencana dan program pembelajaran (Silabus, RPP:
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)
b) penjabaran materi (kedalaman dan keluasan)
c) penentuan strategi dan metode pembelajaran
d) penyediaan sumber, alat, dan sarana pembelajaran
e) penentuan cara dan alat penilaian proses dan hasil belajar
f) setting lingkungan pembelajaran
Tahap penilaian; terutama dilakukan untuk melihat sejauhmana
kekuatan dan kelemahan dari kurikulum yang dikembangkan, baik bentuk
penilaian formatif maupun sumatif. Penilailain kurikulum dapat mencakup
Konteks, Input, Proses, Produk (CIPP) : Penilaian konteks: memfokuskan
pada pendekatan sistem dan tujuan, kondisi aktual, masalah-masalah dan
peluang. Penilaian Input: memfokuskan pada kemampuan sistem, strategi

14

pencapaian tujuan, implementasi design dan cost benefit dari rancangan.


Penilaian proses memiliki fokus yaitu pada penyediaan informasi untuk
pembuatan keputusan dalam melaksanakan program. Penilaian product
berfokus pada mengukur pencapaian proses dan pada akhir program (identik
dengan evaluasi sumatif).
C. Manajemen Peserta Didik
Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan
terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai
dengan mereka lulus sekolah. Knezevich (1961) mengartikan manajemen
peserta didik atau pupil personnel administration sebagai suatu layanan yang
memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan dan layanan siswa di
kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual
seperti pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia
matang di sekolah.
Secara sosiologis, peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan.
Adanya kesamaan-kesamaan yang dipunyai anak inilah yang melahirkan
kensekuensi kesamaan hak-hak yang mereka punyai. Kesamaan hak-hak yang
dimiliki oleh anak itulah, yang kemudian melahirkan layanan pendidikan yang
sama melalui sistem persekolahan (schooling). Dalam sistem demikian,
layanan yang diberikan diaksentuasikan kepada kesamaan-kesamaan yang
dipunyai oleh anak. Pendidikan melalui sistem schooling dalam realitasnya
memang lebih bersifat massal ketimbang bersifat individual.
Layanan yang lebih diaksentuasikan kepada kesamaan anak yang
bersifat massal ini, kemudian digugat. Gugatan demikian, berkaitan erat
dengan pandangan psikologis mengenai anak. Bahwa setiap individu pada
hakekatnya adalah berbeda. Oleh karena berbeda, maka mereka membutuhkan
layanan-layanan pendidikan yang berbeda.
Layanan atas kesamaan yang dilakukan oleh sistem schooling tersebut
dipertanyakan, dan sebagai responsinya kemudian diselipkan layanan-layanan
yang berbeda pada sistem schooling tersebut.

15

Adanya dua tuntutan pelayanan terhadap siswa, yakni aksentuasi pada


layanan kesamaan dan perbedaan anak, melahirkan pemikiran pentingnya
manajemen peserta didik untuk mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam
layanan tersebut dapat dipenuhi di sekolah. Baik layanan yang teraksentuasi
pada kesamaan maupun pada perbedaan peserta didik, sama-sama diarahkan
agar

peserta

didik

berkembang

seoptimal

mungkin

sesuai

dengan

kemampuannya.
Tujuan umum manajemen peserta didik adalah: mengatur kegiatankegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses
belajar mengajar di sekolah; lebih lanjut, proses belajar mengajar di sekolah
dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi
bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.
Tujuan khusus manajemen peserta didik adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan psikomotor peserta didik.
2. Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan),
bakat dan minat peserta didik.
3. Menyalurkan aspirasi, harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik.
Dengan terpenuhinya 1, 2, dan 3 di atas diharapkan peserta didik dapat
mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar
dengan baik dan tercapai cita-cita mereka.
Fungsi manajemen peserta didik secara umum adalah: sebagai wahana
bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang
berkenaan dengan segi-segi individualitasnya, segi sosialnya, segi aspirasinya,
segi kebutuhannya dan segi-segi potensi peserta didik lainnya.
Fungsi manajemen peserta didik secara khusus dirumuskan sebagai
berikut:

Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas


peserta didik, ialah agar mereka dapat mengembangkan potensipotensi individualitasnya tanpa banyak terhambat. Potensi-potensi
bawaan

tersebut

meliputi:

kemampuan

umum

(kecerdasan),

kemampuan khusus (bakat), dan kemampuan lainnya.

16

Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan fungsi sosial peserta


didik ialah agar peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan
sebayanya, dengan orang tua dan keluarganya, dengan lingkungan
sosial sekolahnya dan lingkungan sosial masyarakatnya. Fungsi ini

berkaitan dengan hakekat peserta didik sebagai makhluk sosial.


Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan
peserta didik, ialah agar peserta didik tersalur hobi, kesenangan dan
minatnya. Hobi, kesenangan dan minat peserta didik demikian patut
disalurkan, oleh karena ia juga dapat menunjang terhadap

perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan.


Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan
kesejahteraan peserta didik ialah agar peserta didik sejahtera dalam
hidupnya. Kesejahteraan demikian sangat penting karena dengan
demikian ia akan juga turut memikirkan kesejahteraan sebayanya.

Prinsip adalah sesuatu yang harus dipedomani dalam melaksanakan


tugas. Jika sesuatu tersebut sudah tidak dipedomani lagi, maka akan tanggal
sebagai suatu prinsip. Prinsip manajemen peserta didik mengandung arti bahwa
dalam rangka memanaj peserta didik, prinsip-prinsip yang disebutkan di bawah
ini haruslah selalu dipegang dan dipedomani. Adapun prinsip-prinsip
manajemen peserta didik tersebut adalah sebagai berikut:

Manajemen peserta didik dipandang sebagai bagian dari keseluruhan


manajemen sekolah. Oleh karena itu, ia harus mempunyai tujuan yang
sama dan atau mendukung terhadap tujuan manajemen secara keseluruhan.
Ambisi sektoral manajemen peserta didik tetap ditempatkan dalam
kerangka manajemen sekolah. Ia tidak boleh ditempatkan di luar sistem

manajemen sekolah.
Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik haruslah mengemban
misi pendidikan dan dalam rangka mendidik para peserta didik. Segala
bentuk kegiatan, baik itu ringan, berat, disukai atau tidak disukai oleh
peserta didik, haruslah diarahkan untuk mendidik peserta didik dan bukan
untuk yang lainnya.

17

Kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik haruslah diupayakan untuk


mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar
belakang dan punya banyak perbedaan. Perbedaan-perbedaan yang ada
pada peserta didik, tidak diarahkan bagi munculnya konflik di antara
mereka melainkan justru mempersatukan dan saling memahami dan

menghargai.
Kegiatan manajemen peserta didik haruslah dipandang sebagai upaya
pengaturan

terhadap

pembimbingan

peserta

didik.

Oleh

karena

membimbing, haruslah terdapat ketersediaan dari pihak yang dibimbing.


Ialah peserta didik sendiri. Tidak mungkin pembimbingan demikian akan
terlaksana dengan baik manakala terdapat keengganan dari peserta didik

sendiri.
Kegiatan manajemen peserta didik haruslah mendorong dan memacu
kemandirian peserta didik. Prinsip kemandirian demikian akan bermanfaat
bagi peserta didik tidak hanya ketika di sekolah, melainkan juga ketika
sudah terjun ke masyarakat. Ini mengandung arti bahwa ketergantungan
peserta didik haruslah sedikit demi sedikit dihilangkan melalui kegiatankegiatan manajemen peserta didik. Apa yang diberikan kepada peserta
didik dan yang selalu diupayakan oleh kegiatan manajemen peserta didik
haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik baik di sekolah lebihlebih di masa depan.
Ada dua pendekatan yang digunakan dalam manajemen peserta didik

(Yeager, 1994). Pertama, pendekatan kuantitatif (the quantitative approach).


Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada segi-segi administratif dan
birokratik lembaga pendidikan. Dalam pendekatan demikian, peserta didik
diharapkan banyak memenuhi tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan lembaga
pendidikan di tempat peserta didik tersebut berada. Asumsi pendekatan ini
adalah, bahwa peserta didik akan dapat matang dan mencapai keinginannya,
manakala dapat memenuhi aturan-aturan, tugas-tugas, dan harapan-harapan
yang diminta oleh lembaga pendidikannya.

18

Wujud pendekatan ini dalam manajemen peserta didik secara operasional


adalah: mengharuskan kehadiran secara mutlak bagi peserta didik di sekolah,
memperketat presensi, penuntutan disiplin yang tinggi, menyelesaikan tugastugas yang diberikan kepadanya. Pendekatan demikian, memang teraksentuasi
pada upaya agar peserta didik menjadi mampu.
Kedua, pendekatan kualitatif (the qualitative approach). Pendekatan ini
lebih memberikan perhatian kepada kesejahteraan peserta didik. Jika
pendekatan kuantitatif di atas diarahkan agar peserta didik mampu, maka
pendekatan kualitatif ini lebih diarahkan agar peserta didik senang. Asumsi dari
pendekatan ini adalah jika peserta didik senang dan sejahtera, maka mereka
dapat belajar dengan baik serta senang juga untuk mengembangkan diri mereka
sendiri di lembaga pendidikan seperti sekolah. Pendekatan ini juga
menekankan perlunya penyediaan iklim yang kondusif dan menyenangkan bagi
pengembangan diri secara optimal.
Di antara kedua pendekatan tersebut, tentu dapat diambil jalan
tengahnya, atau sebutlah dengan pendekatan padu. Dalam pendekatan padu
demikian, peserta didik diminta untuk memenuhi tuntutan-tuntutan birokratik
dan administratif sekolah disatu pihak, tetapi disisi lain sekolah juga
menawarkan insentif-insentif lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan
kesejahteraannya. Disatu pihak siswa diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas
berat yang berasal dari lembaganya, tetapi disisi lain juga disediakan iklim
yang kondusif untuk menyelesaikan tugasnya. Atau, jika dikemukakan dengan
kalimat terbalik, penyediaan kesejahteraan, iklim yang kondusif, pemberian
layanan-layanan yang andal adalah dalam rangka mendisiplinkan peserta didik,
penyelesaian tugas-tugas peserta didik.
D. Manajemen Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Sebagaimana yang dimaksud dengan tenaga kependidikan dan pendidik
menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan
Nasional, pasal 39 ayat (1). Tenaga Kependidikan bertugas melaksanakan
administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis

19

untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Sedangkan ayat


(2). Tenaga Pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas
merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, melalukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada
perguruan tinggi.
1. Pendidik dan tenaga kependidikan.
Penjelasan dari ayat (1). Tentang tenaga kependidikan yang dimaksud
adalah meliputi: pengelola satuan pendidikan, penilik, pamong belajar,
pengawas, peneliti, pengembang, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber
belajar.
Berdasarkan pasal 40 UU No.20 Th.2003 Sisdiknas memuat ketentuan,
sebagai berikut:
a. Pendidik dan tenaga kependidikan berhak memperoleh:
1. Penghasilan dan jaminan kesejahteraan sosial yang pantas dan
memadai.
2. Penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja.
3. Pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas.
4. Perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas hasil
kekayaan intelektual, dan
5. Kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas.
b. Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban:
1. Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan,
kreatif, dinamis, dan dialogis.
2. Mempunyai kometmen secara profesional untuk meningkatkan mutu
pendidikan, dan
3. Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan
kedudukan sesuai dengan kepercaayaan yang diberikan kepadanya.
Sedang pasal 41 UU No.20 Th.2003 Sisdiknas menjelaskan:
1. Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah.
2. Pengangkatan, penempaatan, dan penyebaran pendidik dan tenaga
kependidikan diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan
kebutuhan satuan pendidikan formal.

20

3. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan


pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan
untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu.
4. Ketentuan mengenai pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), (2) dan (3) diatur lebih lanjut dengan
peraturan pemerintah.
Dan pasal 42 UU No.20 Th.2003 Sisdiknas menjelaskan:
1. Pendidik harus memiliki kualitas minimum dan sertifikat sesuai
dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta
memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
2. Pendidik untuk pendidikan formal pada jenjang pendidikan usia dini,
pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi
dihasilkan oleh pergurtuan tinggi yang terakreditasi.
3. Ketentuan mengenai kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), dan (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Pada pasal 43 UU No.20 Th.2003 Sisdiknas menyatakan:

1. Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan


dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan, pengalaman,
kemampuan, dan prestasi kerja dalam bidang pendidikan.
2. Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang
memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi.
3. Ketentuan mengenai promosi, penghargaan, dan sertifikasi pendidik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur lebih lanjut dengan
peraturan pemerintah
2. Standar pendidik dan tenaga kependidikan.
a. Standar Pendidik.
Ketentuan umumnya, pasal 28 mengatakan:
1. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai
agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memilki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
2. Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah
tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik

21

yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang


relevan sesuai ketentuan perundangundangan yang berlaku.
3. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar
dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:

a)

Kompetensi pedagogik; b) Kompetensi kepribadian; c) Kompetensi


professional; dan d) Kompetensi sosial.
4. Seseorang yang tidak memiliki ijazah dan/atau sertifikat keahlian
sebagaimana dimaksud pada ayat (32) tetapi memilki keahlian khusus
yang diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi pendidik setelah
melewati uji kelayaan dan kesetaraan.
5. Kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran
sebagaimana dimasud pada ayat (1) sampai dengan (4) dikembangkan
oleh (BSNP) dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.
Tentang standar kualifikasinya, pasal 29 mengatakan:
1. Pendidik pada pendidikan anak usia dini memiliki: a) Kualifikasi
akademik pedidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana
(S1); b) Latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan anak
usia dini, kependidikan lain, atau psikolog, dan c) Sertifikat profesi
guru untuk PAUD.
2. Pendidik pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat memiliki: a)
Kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV)
atau sarjana (S1); b) Latar belakang pendidikan tinggi di bidang
pendidikan SD/MI, kependidikan lain, atau psikjologi, dan c) Setifikat
profesi guru SD/MI.
3. Pendidik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat memiliki: a)
Kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (DIV) atau
sarjana (S1); b) Latar belakang pendidikan tinggi dengan pendidikan
yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan, dan c) Sertifikat
profesi guru untuk SMP/MTs.
4. Pendidikan pada SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat memiliki:
a) Kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV)
atau sarjana (S1); b) Latar belakang pendidikan tinggi dengan program

22

pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan, dan c)


Sertifikat profesi guru untuk SMA/MA.
5. Pendidik ada SDLB/SMPLB/SMALB atau bentuk lain yang sederajat
memiliki: a) Kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma
empat (D-IV) atau sarjana (S1) latar belakang pendidikan tinggi
dengan program pendidikan khusus atau sarjana yang sesuai dengan
mata pelajaran yang diajarkan, dan b) Sertifikat profesi guru untuk
SDLB/SMPLB/SMALB.
6. Pendidik pada SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat memiliki: a)
Kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (DIV) atau
sarjana (S1); b) Latar berlakang pendidikan tinggi dengan program
pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan, dan c)
Sertifikat profesi guru untuk SMK/MAK. Dan seterusnya.
b. Standar Tenaga Kependidikan.
Mengenai Standar Kependidikan, pada pasal 35 sebagai berikut:
1. Tenaga kependidikan pada: a) TK/RA atau bentuk lain yang sederajat
sekurang-kurangnya terdiri atas kepala TK/RA dan tenaga kebersihan;
b) SD/MI atau bentuk lain dst; c) SMP/MTs maupun SMA/MA dst; d)
SMK/MAK dst; e) SDLB, SMPLB, SMALB dst; f) Paket A, B, C dst;
g) Lembaga kursus dan lembaga keterampilan dst.
2. Standar untuk setiap jenis tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan
Peraturan Menteri.
Berikutnya ketentuan-ketentuan tentang:
a. Pada pasal 36 tentang kualifikasi, kompetensii dan sertifikasi
sesuai bidang masing-masing.
b. Pada pasal 37 tentang persyaratan kualifikasi, kompetensi dan
sertifikasi.
c. Pada pasal 38 tentang kriteria kepala sekolah TK/RA, SD/MI,
SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, SDLB, SMPLB, SMALB.
d. Pada pasal 39 tentang pengawasan pendidikan formal, kriteria
pengawas.
e. Pada pasal 40 tentang pengawasan pendidikan non-formal dst.

23

f.

Pada pasal 41 tentang syarat kompetendi penyelenggaraan


pembelajaran.

E. Manajemen Sarana dan Prasarana


Manajemen berasal dari kata To Manage yang artinya mengatur.
Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dan fungsifungsi manajemen itu. G.R. Terry menyatakan bahwa manajemen adalah satu
proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan

perencanaan,

pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk


menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber Lainnya. Jadi
manajemen itu merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang
diinginkan Ada kaitan yang erat antara organisasi, administrasi dan
manajemen. Administrasi dan manajemen tidak dapat dipisahkan dan harus
merupakan suatu kesatuan, hanya saja kegiatannya yang dapat dibedakan
sesuai dengan perbedaan kedua wawasan. Administrasi lebih sempit dari
manajemen, dalam administrasi tercakup dalam manajemen. Secara spesifik
administrasi merupakan satu bidang dari manajemen sebab manajemen terdiri
dari enam bidang, yakni production, marketing, financial, personal, human
relation dan administrative management
Sedangkan Yang dimaksud dengan sarana sekolah adalah meliputi
semua peralatan dan perlengkapan yang langsung digunakan dalam proses
pendidikan di sekolah. Contoh: gedung sekolah (school building), ruangan,
meja, kursi, alat peraga dan lain-lain. Sedangkan prasarana merupakan semua
komponen yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses belajar
mengajar atau pendidikan di sekolah. Sebagai contoh: jalan menuju sekolah,
halaman sekolah, tata tertib sekolah dan sebagainya Menurut Suharsimi
Arikunto sarana pendidikan merupakan sarana penunjang bagi proses belajar
mengajar. Sedangkan menurut rumusan Tim Penyusun Pedoman Pembukuan
Media Pendidikan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, yang dimaksud
dengan sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam
24

proses belajar mengajar, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar
pencapaian tujuan pendidikan dan berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan
efesien. Arti sarana seringkali disamakan dengan kata fasilitas. Lebih luas
fasilitas diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat memudahkan dan
melancarkan pelaksanaan sesuatu usaha. Usaha ini dapat berupa benda-benda
maupun uang. Jadi dalam hal ini fasilitas dapat disamakan dengan sarana.
Jadi manajemen sarana dan prasarana adalah segenap proses penataan
yang bersangkutan dengan pengadaan, pendayagunaan dan pengelolaan
sarana pendidikan agar tercapai tujuan yang telah ditetapkan secar efektif.
Secara umum, tujuan manajemen sarana dan prasarana pendidikan adalah
memberikan pelayanan secara professional di bidang sarana dan prasarana
pendidikan dalam rangka terselenggaranya proses pendidikan secara efektif
dan efisien. Secara rinci, tujuannya adalah sebagai berikut:
1.

Untuk mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana


pendidikan melalui sistem perencanaan dan pengadaan yang hati-hati dan
seksama. Dengan perkataan ini, melalui manajemen sarana dan prasarana
pendidikan diharapkan semua perlengkapan yang didapatkan oleh
sekolah adalah sarana dan prasarana yang berkualitas tinggi, sesuai

2.

dengan kebutuhan sekolah, dan dengan dana yang efisien.


Untuk mengupayakan pemakaian sarana dan prasarana

3.

secara tepat dan efisien.


Untuk

mengupayakan

pemeliharaan

sarana

dan

prasarana sekolah, sehingga keberadaannya selalu dalam kondisi siap


pakai dalam setiap diperlukan oleh semua personel sekolah
Agar tujuan-tujuan manajemen sarana dan prasarana pendidikan,
sebagaimana diuraikan di atas bisa tercapai ada beberapa prinsip yang harus
diperhatikan dalam mengelola sarana dan prasarana pendidikan di sekolah.
Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah:
1.

Prinsip pencapaian tujuan, yaitu bahwa sarana dan


prasarana pendidikan di sekolah harus selalu dalam kondisi siap pakai
bilamana akan didayagunakan oleh personel sekolah dalam rangka
pencapaian tujuan proses belajar mengajar.
25

2.

Prinsip efisiensi, yaitu bahwa pengadaan sarana dan


prasarana pendidikan di sekolah hars dilakukan melalui perencanaan
yang seksama, sehingga dapat diadakan sarana dan prasarana pendidikan
yang baik dengan harga yang murah. Dan pemakaiannya pun harus

3.

dengan hati-hati sehingga mengurangi pemborosan.


Prinsip Administratif, yaitu bahwa manajemen sarana
dan prasarana pendidikan di sekola harus selalu memperhatikan undangundang,peraturan, instruksi dan petunjuk teknis yang diberlakukan oleh
yang berwenang.

4.

Prinsip kejelasan tanggung jawab, yaitu bahwa


manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus di
delegasikan kepada personel sekolah yang mampu bertanggungjawab.
Apabila melibatkan banyak personel sekolah dalam manajemennya maka
perlu adanya deskripsi tugas dan tanggungjawab yang jelas untuk setiap
personel sekolah.

5.

Prinsip Kekohesifan, yaitu bahwa manajemen sarana


dan prasarana pendidikan di sekolah iu harus direalisasikan dalam bentuk
proses kerja yang sangat kompak
Ruang lingkup Manajemen sarana dan prasarana pendidikan dilihat dari
segi prasarana dibedakan menjadi dua yakni bangunan dan prasarana umum.
Sedangkan dari segi sarana pembelajaran dan sarana sumber belajar lebih jauh
macam-macam sarana dan prasarana pendidikan sebagai berikut:

1.

Ditinjau dari habis tidaknya dipakai


Apabila dilihat dari habis tidaknya dipakai, ada dua macam sarana
pendidikan, yaitu:
a. Sarana pendidikan yang habis dipakai.
Sarana pendidikan yang habis dipakai adalah segala bahan atau alat
yang apabila digunakan bisa habis dalam waktu yang relatif singkat.
Sebagai contohnya adalah kapur tulis yang biasanya digunakan guru
dan siswa dalam pembelajaran, besi, kayu, dan kertas karton yang
seringkali digunakan oleh guru dalam mengajar materi pelajaran
keterampilan. Semua contoh tersebut merupakan sarana pendidikan

26

yang apabila dipakai satu kali pakai atau beberapa kali bisa habis
dipakai atau berubah sifatnya.
b.

Sarana pendidikan yang tahan lama.


Sarana pendidikan yang tahan lama adalah keseluruhan bahan atau
alat yang dapat digunakan secara terus menerus dalam waktu yang
relatif lama. Beberapa contohnya adalah bangku sekolah, mesin tulis,
atlas, globe dan beberapa peralatan olah raga.

2.

Ditinjau dari bergerak tidaknya pada saat digunakan.


a. Sarana pendidikan yang bergerak
Sarana pendidikan yang bergerak adalah sarana pendidikan yang bisa
digerakkan atau dipindahkan sesuai dengan kebutuhan pemakaiannya.
Lemari arsip sekolah misalnya, merupakan sarana pendidikan yang
bisa dipindahkan kemana-mana bila diinginkan. Demikian pula
bangku sekolah termasuk sarana pendidikan yang bisa digunakan atau
dipindahkan kemana saja.
b. Sarana pendidikan yang tidak bisa bergerak
Sarana pendidikan yang tidak bisa bergerak adalah semua sarana
pendidikan yang tidak bisa atau relatif sangat sulit untuk dipindahkan.
Misalnya saja suatu sekolah yang sudah memiliki saluran dari PDAM.
Semua peralatan yang berkaitan dengan itu, seperti pipanya, relative
tidak mudah untuk dipindahkan ke tempat-tempat tertentu.

3.

Ditinjau dari hubungannya dengan proses belajar


mengajar.
Dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar, ada dua jenis sarana
pendidikan. Pertama, sarana pendidikan yang secara langsung dignakan
dalam proses belajar mengajar, contohnya kapur tulis, atlas, dan sarana
pendidikan lainnya yang digunakan guru dalam mengajar. Kedua, sarana
pendidikan yang tidak secara langsung berhubungan dengan proses belajar
mengajar, seperti lemari arsip di kantor sekolah merupakan sarana
pendidikan yang tidak secara langsung digunakan oleh guru dalam proses

27

belajar mengajar. Sedangkan prasarana pendidikan di sekolah bisa


diklasifikasikan menjadi dua macam.
a. Prasarana yang secara langsung digunakan untuk proses belajar
mengajar, seperti ruang teori, ruang perpustakaan, ruang praktik
keterampilan dan ruang laboratorium.
b. Prasarana yang keberadaannya tidak digunakan untuk proses belajar
mengajar, tetapi secara langsung sangat menunjang terjadinya proses
belajar mengajar.
Contohnya adalah ruang kantor, kantin sekolah, tanah dan jalan menuju
sekolah, kamar kecil, ruang usaha kesehatan sekolah, ruang guru, ruang
kepala sekolah dan tempat parker kendaraan. Suharsimi mengungkapkan,
fasilitas atau sarana secara garis besar dapat dibedakan atas dua jenis,
yaitu:
Fasilitas Fisik, yakni segala sesuatu yang berupa benda atau yang
dapat dibendakan, yang mempunyai peranan untuk memudahkan dan
melancarkan sesuatu usaha. Fasilitas fisik juga disebut fasilitas
materiil. Contoh: kendaraan, alat tulis menulis, alat komunikasi,
penampil dan sebagainya. Di dalam kegiatan pendidikan yang
tergolong dalam fasilitas fisik atau fasilitas materiil antara lain: perabot
ruang kelas, peralatan kantor tata usaha, perabot dan peralatan
laboratorium, perlengkapan perpustakaan, perlengkapan ruang praktik,
dan sebagainya.
Fasilitas Uang, yakni segala sesuatu yang dapat mempermudah suatu
kegiatan sebagai akibat bekerjanya nilai uang. Kalau akan diperluas
lagi sebenarnya

masih bisa. Pemberian pinjaman kendaraan,

kesempatan menggunakan waktu untuk berekreasi itupun fasilitas


tetapi tidak nyata sebagai benda yang dimiliki oleh sekolah. Yang
disebutkan belakangan juga memudahkan proses atau kegiatan
pencapaian tujuan.
Ada tiga pengertian yang biasanya dicampuradukkan, yaitu: alat pelajaran,
alat peraga dan media pendidikan. Alat pelajaran adalah semua benda yang

28

dapat dipergunakan secara langsung oleh guru maupun murid dalam proses
belajar mengajar. Buku tulis, gambar-gambar, alat-alat tulis menulis,
seperti kapur, penghapus dan papan tulis maupn alat-alat praktek, semanya
termasuk ke dalam lingkup alat pelajaran. Alat peraga mempunyai arti
yang luas. Alat peraga adalah semua alat pembantu pendidikan dan
pengajaran, dapat berupa benda ataupun perbuatan dari yang tingkatannya
paling kongkrit sampai ke yang paling abstrak yang dapat mempermudah
pemberian pengertian (penyampaian konsep) kepada murid. Dengan
pengertian ini maka alat pelajaran dapat termasuk ke dalam lingkup alat
peraga, tetapi belum tentu semua alat peraga merupakan alat pelajaran.
Media pendidikan mempunyai peranan yang lain dari alat peraga.
Media pendidikan adalah sarana pendidikan yang digunakan sebagai
perantara di dalam proses belajar mengajar, untuk lebih mempertinggi
efektifitas dan efisiensi, tetapi dapat pula sebagai pengganti peran guru.
Media dapat dibedakan menjadi; media audio, media visual dan media
audio visual
F. Manajemen Keuangan
Pelaksanaan pendidikan harus disertai dengan adanya peningkatan peran
sumber-sumber daya pendidikan (dana pendidikan) yang telah tertuang dalam
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I
Ketentuan Umum pasal 1 ayat 23 yang menjelaskan bahwa Sumber daya
pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam penyelenggaraan
pendidikan yang meliputi tenaga kependidikan, masyarakat, dana, sarana, dan
prasarana. Dalam hal ini pembiayaan pendidikan merupakan suatu hal yang
sangat penting bagi pendidikan di daerah. Lebih lanjut dalam pasal 47
disebutkan tentang sumber pendanaan pendidikan yaitu :
1. Sumber pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip
keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan.
2. Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat mengerahkan sumber
daya yang ada sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

29

3. Ketentuan mengenai sumber pendanaan pendidikan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan
peraturan pemerintah
Organisasi pendidikan dikategorikan sebagai organisasi publik nirlaba
(non profit), oleh karena itu manajemen keuangannya memiliki keunikan
sesuai dengan misi dan karakteristik pendidikan. Lembaga pendidikan
(sekolah) pada umumnya tidak langsung menanggung seluruh biaya, karena
gaji guru dan sarana pendidikan dominan bersumber dari pemerintah bagi
sekolah negeri atau yayasan bagi sekolah swasta.
Pembiayaan pendidikan adalah kemampuan internal sistem pendidikan
untuk mengelola dana-dana pendidikan secara efisien. Semakin efisien sistem
pendidikan itu akan lebih banyak tujuan-tujuan pendidikan yang dicapai
dengan anggaran yang tersedia.
Pendidikan yang bermutu merupakan suatu investasi yang mahal.
Masyarakat industri modern yang menyadari hal ini akan menanamkan
investasi yang besar untuk industri pendidikan. Kesadaran masyarakat untuk
menanggung biaya (cost sharing) pendidikan pada hakekatnya akan memberi
sesuatu kekuatan kepada masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap
penyelenggaraan pendidikan.
Pembiayaan sebagai salah satu komponen sistem pendidikan memerlukan
kajian yang lebih mendalam dan penelitian yang lebih cermat, agar
penggunaan dana dana yang tersedia tepat, sehingga pengaruhnya akan terlihat
langsung terhadap kuantitas dan kualitas hasil pendidikan.
Pendidikan yang murah dan berkualitas merupakan salah satu tuntutan
reformasi yang harus diwujudkan, namun demikian pendidikan yang
berkualitas akan senantiasa membutuhkan biaya yang cukup banyak.
Standar pembiayaan mencakup persyaratan minimal tentang biaya satuan
pendidikan, prosedur dan mekanisme pengelolaan, pengalokasian, dan
akuntabilitas penggunaan biaya pendidikan. Standar pembiayaan pendidikan
terdiri atas biaya investasi, biaya personal dan biaya operasi.
1. Biaya investasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud di atas meliputi
biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya
30

manusia, dan modal kerja tetap. Biaya investasi memerlukan dana yang
relatif besar, antara lain berupa:
Bangunan sekolah meliputi ruang belajar, ruang kepala sekolah, ruang
guru, ruang laboratorium, ruang perpustakaan, lapangan olahraga,
tanah dan yang sejenis, biaya pembangunannya termasuk biaya
investasi karena umur bangunan lebih dari satu tahun, bisa mencapai
20 tahun, 25 tahun, bahkan 30 tahun
Alat peraga, alat praktik, sumber belajar, buku-buku, media belajar,
yang pada umumnya dapat dipakai lebih dari satu tahun, misalnya alat
parktik bisa mencapai 10 tahun, buku bias mencapai 5 tahun
Pengadaan tenaga pendidik dan kependidikan. Daya tahan pemakaian
sarana-prasarana ikut menentukan besarnya biaya pemeliharaan adan
penggantian alat yang rusak
2. Biaya personal sebagaimana dimaksud pada di atas meliputi biaya
pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa
mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Biaya
personalia satuan pendidikan, yang terdiri atas:
a. Gaji pokok bagi pegawai pada satuan pendidikan;
b. Tunjangan yang melekat pada gaji bagi pegawai pada satuan
pendidikan;
c. Tunjangan struktural bagi pejabat struktural pada satuan pendidikan;
d. Tunjangan fungsional bagi pejabat fungsional di luar guru dan dosen;
e. Tunjangan fungsional atau subsidi tunjangan fungsional bagi guru dan
dosen;
f. Tunjangan profesi bagi guru dan dosen;
g. Tunjangan khusus bagi guru dan dosen;
h. Maslahat tambahan bagi guru dan dosen; dan
i. Tunjangan kehormatan bagi dosen yang memiliki jabatan profesor atau
guru besar
3. Biaya operasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud di atas meliputi:

31

a. Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang


melekat pada gaji,
b. Bahan atau peralatan pendidikan habis pakai,
c. daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana,
uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain
sebagainya.
Penggunaan anggaran dan keuangan, dari sumber manapun, apakah itu
dari pemerintah ataupun dari masyarakat perlu didasarkan prinsip-prinsip
umum pengelolaan keuangan sebagai berikut:
1. Hemat, tidak mewah, efisien dan sesuai dengan kebutuhan teknis yang
disyaratkan
2. Terarah dan terkendali sesuai dengan rencana, program/ kegiatan.
3. Terbuka dan transparan, dalam pengertian dari dan untuk apa keuangan
lembaga tersebut perlu dicatat dan dipertanggung jawabkan serta disertai
bukti penggunaannya.

G. Manajemen Hubungan Masyarakat/Partisipasi Masyarakat


Makin majunya perkembangan masyarakat diisyaratkan dengan makin
besarnya

tuntutan

masyarakat

terhadap

perkembangan

lembaga

pendidikan,sehingga tidak menutup kemungkinan bagi lembaga yang tidak


dapat mengakomodasi tuntutan masyarakat tersebut maka tidak mustahil akan
berdampak pada pengecualian lembaga atau dengan kata lain lembaga tersebut
akan mati bersamaan dengan memudarnya kepercayaan masyarakat terhadap
lembaga tersebut.
Tumbuhkembangnya kepercayaan masyarakat mengisyaratkan pula atas
desakan kebutuhan lembaga untuk semakin berkembang guna menjawab
tantangan serta kebutuhan masyarakat sehingga pada gilirannya masyarakat
akan menentukan pilahan lembaga mana yang layak untuk diberikan
kepercayaan mendidik masyarakat peserta didik.
Desakan kebutuhan masing-masing baik lembaga ataupun masyarakat
tertentu berbeda walaupun pada prinsif dasarnya memiliki kesamaan yakni
32

mencerdaskan kehidupan anak bangsa yakni mendidik manusia Indonesia


seutuhnya, dan cita-cita ini akan tampak hanya sebagai sebuah angan-angan
jika antara masyarakat dan lembaga pendidikan tidak terjalin komunikasi
dengan baik, sehingga lajim dikatakan bahwa keduanya merupakan simbiosis
mutualisme, yakni sebagai suatu keharusan yang menyatukan visi dan misi
diantara keduanya sehingga satu dengan yang lainya tidak dapat melepaskan
diri.
Dalam bahasa yang lebih dinamis dikatakan bahwa lembaga pendidikan
dan masyarakat bukan hanya sekedar menjalin hubungan, tetapi lebih kepada
komunikasi, dan keluasan makna ini akan berdampak terhadap harmonisasi
hubungan sekolah dan masyarakat sehingga pada giliran nya dapat tercipta jika
masing-masing elemen yang menjadi pelengkap hubungan tersebut terpelihara
serta masing-masing memberikan dukungan satu dengan lainnya. Dengan kata
lain, hubungan sekolah dengan masyarakat akan membuahkan hasil berupa
kerja sama, dan kerja sama tersebut dapat terlaksana dengan baik jika terjadi
komunikasi yang kondusif yang mengarah kepada pemenuhan kebutuhan
keduanya.
Jika dilihat dari sisi maknanya, hubungan sekolah dan masyarakat
memiliki pengertian yang sangat luas sehingga masing-masing ahli memiliki
persepsi yang berbeda-beda hal itu disebabkan oleh sudut pandang yang
berbedabeda, seperti diungkapkan bahwa hubungan masyarakat dengan
sekolah merupakan komunikasi dua arah antara organisasi dengan publik
secara timbal-balik baik dalam rangka mendukung fungsi dan tujuan
manajemen dengan meningkatkan pembinaan kerjasama serta pemenuhan
kepentingan bersama. (international public relation association).
Secara lebih umum dikatakan bahwa hubungan sekolah dan masyarakat
diartikan sebagai suatu proses komunikasi dengan tujuan meningkatkan
pengertian warga masyarakat tentang kebutuhan dan praktik pendidikan serta
berupaya dalam meperbaiki sekolah ( Soetopo dan Soemanto ;1992:236 ).
Memaknai pengertian komunikasi, secara spesipik dikemukakan oleh
Emerson Reck( 1993 :25 ) bahwa:

33

Public relation dimaknai sebagai sebuah proses penetapan kebijakan,pelayanan


serta tindakan-tindakan nyata berupa kegiatan yang melibatkan orang banyak
agar orang-orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut memiliki kepercayaan
terhadap lembaga yang menyelenggarakan kegiatan tersebut.Logikanya jika
lembaga tersebut tidak melakukan kegiatan maka akan mengalami kesulitan
bagi masyarakat untuk mengenal lembaga tersebut.
Hal serupa dikemukakan oleh Rex Harlow ( 1999 : 17 ) bahwa:
Public relation merupakan suatu fungsi dari manajemen yang khas dan
mendukung pembinaan, pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan
publiknya terutama menyangkut aktivitas komunikasi, pengertian, penerimaan
dan kerjasama; melibatkan manajemen dalam persoalan permasalahan,
membantu manajemen men anggapi opini publik, mendukung manajemen
dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara efectif, bertindak
sebagai system peringatan dini dalam mengantisipasi
kecenderungan
mempergunakan penelitian serta teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai
sarana utama.
Hal senada dikemukakan oleh Leslie dalam ( The School and
Community Relations: 1984 : 14 ) bahwa:
School public relations is a process of communication between the school and
community for purpose of increasing citizen understanding of educational
needs and practices and encouraging intelligent citizen interest and cooperation
in the work of improving the school.
Pengertian

di atas hampir memiliki kesamaan dengan apa yang

diungkapkan oleh Mamusung ( 1988:6 ) bahwa sekolah sebagai lembaga sosial


yang diselenggarakan dan dimiliki oleh masyarakat seharusnya mampu
memenuhi kebutuhan masyarakat dan sekolah memiliki kewajiban secara legal
dan formal untuk memberikan penerangan kepada masyarakat tentang tujuantujuan,program-program,kebutuhan serta keadaan,dan sebaliknya sekolah harus
mengetahui dengan jelas apa kebutuhan ,harapan dan tuntutan masyarakatnya.
Secara umum hubungan sekolah dan masyarakat memiliki tujuan yang
hendak dicapai yakni berupa peningkatan mutu pendidikan, sehingga pada
gilirannya masrakat akan merasakan dampak langsung dari kemajuan tersebut.
Adapun tujuan yang lebih kongkrit hubungan antara sekolah dan masyarakat
antara lain:
1. Guna meningkatkan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan peserta didik

34

2. Berperan dalam memahami kebutuhan kebutuhan masyarakat yang


sekaligus menjadi desakan yang dirasakan saat ini
3. Berguna dalam mengembangkan program-program sekolah kearah yang
lebih maju dan lebih membumi agar dapat dirasakan langsung oleh
masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan.
Untuk membantu pemahaman tentang makna dari hubungan sekolah dan
masyarakat,

maka

Oteng

(Administrasi

dan

Supervisi

Pendidikan)

mengungkapkan bahwa hubungan sekolah dan masyarakat memiliki tujuan


dalam :
1. Mengembangkan pemahaman tentang maksud dan saran saran dari
sekolah
2. Menilai

program

sekolah

dengan

kata-kata

kebutuhan-kebutuhan

terpenuhi
3. Mempersatukan orang tua,murid serta guru dalam memenuhi kebutuhan
perkembangan peserta didik
4. Mengembangkan kesadaran akan pentingnya pendidikan sekolah dalam
era pembangunan
5. Membangun dan memelihara kepercayaan terhadap sekolah.
6. Memberitahu masyarakat tentang pekerjaan sekolah
7. Mengarahkan bantuan dan dukungan bagi pemeliharaan dan peningkatan
program sekolah.

35

BAB III
PEMBAHASAN
A. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran
Adapun manajemen kurikulum mencakup kegiatan perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan sampai dengan evaluasi terhadap pelaksanaan
kurikulum itu sendiri.
A. Perencanaan Kurikulum
Perencanaan kurikulum merupakan bagian dari manajemen kurikulum.
Kegiatan perencanaan telah dilakukan oleh pusat, yaitu kementerian
pendidikandan kebudayaan, dalam hal ini yang berwenang adalah Pusat
Kurikulum dan Perbukuan dibawah naungan Badan Penelitian dan
Pengembangan.
Manajemen dalam perencanaan kurikulum dapat diartikan sebagai
keahlian atau kemampuan merencanakan dan mengorganisasi kurikulum.
Manajemen perencanaan dan pengembangan kurikulum berdasarakn asumsi
bahwa telah tersedia informasi dan data tentang masalah-masalah dan
kebutuhan yang mendasari disusunnya perencanaa secara tepat.
Untuk mengembangkan suatu rencana seseorang harus mengacu
kemasa depan. Perencanaan ini memberikan pengaruh dalam menentukan
pengeluaran biaya atau keuntungan, menetapkan perangkat tujuan atau hasil
akhir, mengembangkan strategi untuk mencapai tujuan akhir, menyusun atau

36

menetapkan prioritas dan urutan strategi, menetapkan prosedur kerja dengan


metode yang baru, serta mengembangkan kebijakan-kebijakan.
Perencanaan secara umum menurut Sudjana (2000), adalah proses yang
sistematis sesuai dengan prinsip dalam pengambilan keputusan, penggunaan
pengetahuan dan teknik secara ilmiah serta kegiatan yang terorganisasi
tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang.
Waterson dalam Sudjana (2000) menuliskan bahwa perencanaan pada
hakekatnya adalah usaha sadar, terorganisasi, dan terus menerus yang
dilakukan untuk memilih alternatif yang terbaik dari sejumlah alternatif
tindakan yang ada untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Oemar Hamalik
(2006), perencanaan kurikulum adalah kesempatan belajar yang dimaksudkan
untuk membina peserta didik ke arah perubahan tingkah laku yang diinginkan
dan menilai hingga terjadi perubahan-perubahan pada peserta didik.
Perencanaan kurikulum memiliki fungsi sebagai berikut:
1.

Sebagai pedoman yang berisi petunjuk tentang jenis dan sumber peserta,
tindakan yang perlu dilakukan, biaya, sarana, serta sistem kontrol atau

2.

evaluasi.
Sebagai penggerak roda organisasi dan tata laksana untuk menciptakan

3.

perubahan dalam masyarakat sesuai dengan tujuan organisasi;


Sebagai motivasi untuk melaksanakan sistem pendidikan.
Dalam merencanakan kurikulum, dapat dilakukan dengan 4 model
perencanaan. Adapun 4 (empat) model perencanaan kurikulum tersebut,
berdasar pada asumsi rasionalitas, yaitu: asumsi tentang pemrosesan
informasi secara cermat yang berkaitan dengan mata pelajaran, peserta didik,
lingkungan dan hasil belajar. Berikut ini model-model perencanaan
kurikulum:
1. Model Perencanaan rasional deduktif atau rasional Tyler
Model ini menitik-beratkan logika dalam merancang program kurikulum
dan bertitik tolak dari spesifikasi tujuan (goals dan objectives). Model ini
dapat diterapkan pada semua tingkat pembuat keputusan, dan tepat untuk
sistem pendidikan sentralistik.
2. Model Interaktif rasional atau The Rational - Interactive Model
37

Model ini menitik-beratkan pada perencanaan dengan (planning with)


daripada Perencanaan bagi (planning for). Perencanaan kurikulum ini
bersifat situasional atau fleksibel serta tepat bagi lembaga pendidikan yang
akan mengembangkan kurikulum berbasis sekolah. Model perencanaan
kurikulum ini didasarkan pada kebutuhan yang berkembang

di

masyarakat.
3. The Diciplines Model
Model ini menitik-beratkan pada guru sebagai pihak yang merencanakan
kurikulum bagi siswa. Model ini dikembangkan sesuai dengan
pertimbangan sistematik tentang relevansi antara pengetahuan filosofis,
sosiologis, dan psikologis.
4. Model tanpa Perencanaan atau non planning model
Model ini dikembangkan berdasarkan pertimbangan inisiatif guru di dalam
ruangan kelas, sebagai pengambil keputusan dalam menentukan strategi
pembelajaran, pemilihan media belajar dan sebagainya.
Dalam perencanaan Kurikulum, kita juga hendaknya memperhatikan
prinsip-prinsip , yaitu :
1. Perencanaan yang dibuat harus memberikan kemudahan dan mampu
memicu pemilihan dan pengembangan pengalaman belajar yang potensial
sesuai dengan hasil (tujuan) yang diharapkan sekolah.
2. Perencanaan hendaknya dikembangkan oleh guru sebagai pihak yang
langsung bekerja sama dengan siswa.
3. Perencanaan harus memungkinkan para guru menggunakan prinsipprinsip belajar dalam memilih dan memajukan kegiatan-kegiatan belajar
di sekolah.
4. Perencanaan harus memungkinkan para guru menyesuaikan pengalamanpengalaman dengan kebutuhan-kebutuhan pengembangan, kesanggupan,
dan taraf kematangan siswa (level of pupils).
5. Perencanaan harus menggiatkan para guru untuk mempertimbangkan
pengalaman belajar sehingga anak-anak dilibatkan dalam kegiatankegiatan di dalam dan di luar sekolah.

38

6. Perencanaan harus merupakan penyelenggaraan suatu pengalaman belajar


yang kontinu sehingga kegiatan-kegiatan belajar siswa dari sejak awal
sungguh mampu memberikan pengalaman.
7. Kurikulum harus direncanakan sedemikian rupa sehingga mampu
membantu pembentukan karakter, kepribadian, dan perlengkapan
pengetahuan dasar siswa yang bernilai demokratis dan yang sesuai dengan
karakter kebudayaan bangsa Indonesia.
8. Perencanaan harus realistis, feasible (dapat dikerjakan), dan acceptable
(dapat diterima dengan baik).
Hal lain yang juga harus diperhatikan dalam perencanaan kurikulum
adalah azas-azas, yaitu :
1. Objektivitas
Perencanaan kurikulum memiliki tujuan yang jelas dan spesifik
berdasarkan tujuan pendidikan nasional, data input yang nyata sesuai
dengan kebutuhan.
2. Keterpaduan
Perencanaan kurikulum memadukan jenis dan sumber dari semua disiplin
ilmu, keterpaduan sekolah dan masyarakat, keterpaduan internal, serta
keterpaduan dalam proses penyampaian.
3. Manfaat
Perencanaan kurikulum menyediakan dan menyajikan pengetahuan dan
keterampilan sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan dan
tindakan, serta bermanfaat sebagai acuan strategis dalam penyelenggaraan
pendidikan.
4. Efisiensi dan Efektivitas
Perencanaan kurikulum disusun berdasarkan prinsip efisiensi dana, tenaga,
dan waktu dalam mencapai tujuan dan hasil pendidikan.
5. Kesesuaian
Perencanaan kurikulum disesuaikan dengan sasaran peserta didik,
kemampuan

tenaga

kependidikan,

kemajuan

IPTEK,

dan

perubahan/perkembangan masyarakat.
6. Keseimbangan
39

Perencanaan kurikulum memperhatikan keseimbangan antara jenis bidang


studi, sumber yang tersedia, serta antara kemampuan dan program yang
akan dilaksanakan.
7. Kemudahan
Perencanaan kurikulum memberikan kemudahan bagi para pemakainya
yang membutuhkan pedoman berupa bahan kajian dan metode untuk
melaksanakan proses pembelajaran.
8. Berkesinambungan
Perencanaan kurikulum ditata secara berkesinambungan sejalan dengan
tahapan, jenis, dan jenjang satuan pendidikan.
9. Pembakuan
Perencanaan kurikulum dibakukan sesuai dengan jenjang dan jenis satuan
pendidikan, sejak dari pusat sampai daerah.
10. Mutu
Perencanaan kurikulum memuat perangkat pembelajaran yang bermutu,
sehingga turut meningkatkan mutu proses belajar dan kualitas lulusan
secara keseluruhan.
B. Pengorganisasian Kurikulum
Salah satu aspek yang perlu dipahami dalam pengembangan kurikulum
adalah aspek yang berkaitan dengan organisasi kurikulum. Organisasi
kurikulum berkaitan dengan pengaturan bahan pelajaran, yang selanjutnya
memiliki dampak terhadap masalah administrative pelaksanaan

proses

pembelajaran.
Selain itu organisasi kurikulum sangat terkait dengan pengaturan bahan
pelajaran yang ada dalam kurikulum, sedangkan yang menjadi sumber bahan
pelajaran dalam kurikulum adalah nilai budaya, nilai sosial, aspek siswa dan
masyarakat serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemudian yang tidak
kalah penting organisasi kurikulum menentukan peranan guru dan siswa
dalam pembinaan kurikulum.

40

Organisasi kurikulum, yaitu pola atau bentuk bahan pelajaran disusun


dan disampaikan kepada murid-murid, merupakan suatu dasar yang penting
sekali dalam pembinaan kurikulum dan bertalian erat dengan tujuan program
pendidikan yang hendak dicapai, karena bentuk kurikulum turut menentukan
bahan pelajaran, urutannya dan cara menyajikannya kepada murid-murid.
Dalam penyusunan organisasi kurikulum ada sejumlah faktor yang
harus diperhatikan, yakni :
1. Ruang lingkup (Scope)
Merupakan keseluruhan materi pelajaran dan pengalaman yang harus
dipelajari siswa. Ruang lingkup bahan pelajaran sangat tergantung pada
tujuan pendidikan yang hendak dicapai.
2. Urutan bahan (Sequence)
Berhubungan dengan urutan penyusunan bahan pelajaran yang akan
disampaikan kepada siswa agar proses belajar dapat berjalan dengan
lancar. Urutan bahan meliputi dua hal yaitu urutan isi bahan pelajaran dan
urutan pengalaman belajar yang memerlukan pengetahuan tentang
perkembangan anak dalam menghadapi pelajaran tertentu.
3. Kontinuitas
Berhubungan dengan kesinambungan bahan pelajaran tiap mata pelajaran,
pada tiap jenjang sekolah dan materi pelajaran yang terdapat dalam mata
pelajaran yang bersangkutan. Kontinuitas ini dapat bersifat kuantitatif dan
kualitatif .
4. Keseimbangan
Adalah faktor yang berhubungan dengan bagaimana semua mata pelajaran
itu mendapat perhatia yang layak dalam komposisi kurikulum yang akan
diprogramkan pada siswa. Keseimbangan dalam kurikulum dapat ditinjau
dari dua segi yakni keseimbangan isi atau apa yang dipelajari, dan
keseimbangan cara atau proses belajar.
5. Integrasi atau keterpaduan
Yang berhubungan dengan bagaimana pengetahuan dan pengalaman yang
diterima siswa mampu memberi bekal dalam menjawab tantangan

41

hidupnya, setelah siswa menyelesaikan program pendidikan disekolah.


C. Pelaksanaan Kurikulum
Pada uraian di atas telah dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan
menajemen kurikulum adalah semua proses perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, dan pengontrolan kurikulum dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan nasiona secara umum da tujuan peningkatan mutu pembelajaran
di sekolah.
Dalam pelaksanaan kurikulum di sekolah akan dibahas berturut-turut
tentang struktur kurikulum, pengelolaan pelaksanaan kurikulum, dan evaluasi
program pembelajaran, serta evaluasi hasil belajar.1)
1). Struktur Kurikulum
Struktur kurikulum merupakan salah satu indicator komponen kurikulum
yang mencakup kompetensi inti, kompetensi dasar, muatan pembelajaran,
mata pelajaran, dan beban belajar.Komponen kurikulum juga memuat
indicator lain, meliputi kerangka dasar, silabus, dan RPP. Untuk jenjang
pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), penjabaran struktur
kurikulum adalah :
TIK menjadi media semua mata pelajaran.
Pengembangan diri terintegrasi pada setiap mata pelajaran dan
ekstrakurikuler.
Jumlah mata pelajaran
Jumlah jam belajar.
Struktur Kurikulum 2013 untuk SMP dan MTs Menurut Kurikulum 2013
dapat dilihat sebagai berikut :

42

Sedangkan beban belajar di SMP/MTs untuk kelas VII, VIII, dan IX


masing-masing 38 jam per minggu dengan jam belajar SMP/MTs adalah
40 menit.
2). Pengelolaan Pelaksanaan Kurikulum
Kegiatan pengelolaan pelaksanaan kurikulum di sekolah meliputi :
Pembagian tugas guru dan penyusunan jadwal pelajaran.
Proses pembelajaran
Penyusunan silabus dan RPP
3). Evaluasi Program Pembelajaran dan Hasil Belajar
Evaluasi program pembelajaran terdiri dari 2 hal, yaitu evaluasi
perencanaan program pembelajaran dan evaluasi pelaksanaan program
pembelajaran.
Sedangkan evaluasi hasil belajar pada hakekatnya juga merupakan salah
satu bentuk evaluasi kurikulum yang secara langsung mengukur
ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Jadi objek yang
dikenai dalam hal ini adalah peserta didik. Evaluasi hasil belajar dapat
dapat digunakan untuk :

Memberikan umpan balik kepada guru.


Menetapkan kemajuan belajar peserta didik.
Membantu menempatkan peserta didik ( missal untuk penjurusan).
Membantu program bimbingan dan konseling untuk kepentingan

43

pembinaan peserta didik.


Dalam pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan 7
prinsip sebagai berikut :
1. Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan
kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi
dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan
pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk
mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.
2. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar,
yaitu:
a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
b) belajar untuk memahami dan menghayati,
c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,
d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan
e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
3. Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat
pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan
sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik
dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi
peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan,
dan moral.
4. Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan
pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan
hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ingmadia mangun karsa,
ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di
tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan
contoh dan teladan).
5.
6. Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial
dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan
dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.
7. Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata
pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam
keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan
44

memadai antar kelas dan jenis serta jenjang pendidikan.


D. Pemantauan dan Evaluasi Kurikulum
Monitoring atau pemantauan yaitu kegiatan yang dilakukan untuk
mengecek penampilan dan aktifitas yang dikerjakan. Kegiatan monitoring
terhadap pelaksanaan kurikulum pada dasarnya dimaksudkan untuk
mengetahui sampai di mana kurikulum baru itu telah dilaksanakan di sekolahsekolah dan persoalan-persoalan apa yang dirasakan di dalam melaksanakan
kurikulum tersebut. Dengan kata lain, kegiatan monitoring ini sebenarnya
merupakan kegiatan mengikuti jalannya pelaksanaan kurikulum di sekolah
pada tahun-tahun permulaan ditetapkannya kurikulum tersebut.
Sasaran di dalam kegiatan monitoring ini lebih dipusatkan pada
pemantauan terhadap kelancaran proses pelaksanaan kurikulum serta sarana
yang diperlukan di dalam kegiatan pelaksanaan tersebut. Segi hasil belajar
murid tidak menjaadi sasaran utama di dalam kegiatan monitoring ini.
Untuk mengumpulkan keterangan di dalam pelaksanaan monitoring
tersebut dapat digunakan wawancara, observasi maupun angket untuk para
pelaksana. Monitoring dilakukan pada tahun-tahun permulaan dilaksanakanna
kurikulum baru di sekolah-sekolah, dimana kegiatan ini dilakukan oleh pihak
pengembang kurikulum untuk mengambil tindakan guna memperlancar
penyebaran dan pelaksanaan kurikulum di sekolah-sekolah.
Cara pelaksanaan pemantauan (monitoring) terhadap kurikulum dapat
dilakukan melalui dua cara yaitu cara langsung dan tidak langsung. Kedua
cara tersebut dilakukan dengan seperangkat kegiatan monitoring yang sama
yaitu kegiatan ang berkaitan dengan mengumpulkan, mencatat, mengolah
informasi dan pelaksanaan suatu proyek; kemudian dituangkan dalam suatu
laporan monitoring.2)
a. Pemantaun Langsung
Pengertian pemantauan langsung adalah pemantauan yang dilakukan
dengan cara mengunjungi lokasi proyek. Dengan cara demikian petugas
monitoring dapat secara bebas mengumpulkan informasi ang diperlukan.

45

b. Pemantauan Tidak Langsung.


Cara ini menghendaki petugas monitoring tidak perlu terjun langsung ke
lokasi; tetapi penggalian data dilakukan dengan cara mengirim seperangkat
daftar isian untuk diisi oleh orang lain di lokasi penelitian. Cara tidak
langsung ini juga dapat dilakukan dengan mengumpulkan data melalui
laporan-laporan yang dibuat pimpinan pemantau.2)
Sedangkan evaluasi kurikulum adalah penelitian yang sistematik
tentang manfaat, kesesuaian efektifitas dan efisiensi dari kurikulum yang
diterapkan. Atau evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah
untuk mengumpulkan data yang valid dan reliable untuk membuat keputusan
tentang kurikulum yang sedang berjalan atau telah dijalankan.
Evaluasi kurikulum ini dapat mencakup keseluruhan kurikulum atau
masing-masing komponen kurikulum seperti tujuan, isi, atau metode
pembelajaran yang ada dalam kurikulum tersebut. Secara sederhana evaluasi
kurikulum dapat disamakan dengan penelitian karena evaluasi kurikulum
menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan
metode penelitian. Perbedaan antara evaluasi dan penelitian terletak pada
tujuannya. Evaluasi bertujuan untuk menggumpulkan, menganalisis dan
menyajikan data untuk bahan penentuan keputusan mengenai kurikulum
apakah akan direvisi atau diganti. Sedangkan penelitian memiliki tujuan yang
lebih luas dari evaluasi yaitu menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan
data untuk menguji teori atau membuat teori baru.3)
Evaluasi pelaksanaan kurikulum bertujuan untuk mengukur seberapa
jauh penerapan kurikulum berstandar nasional dipakai sebagai pedoman
pengembangan dan pelaksanaan kurikulum di daerah/sekolah, sehingga
pelaksanaan kurikulum dapat dimengerti, dipahami, diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari dan dianalisa oleh peserta didik. Evaluasi dilakukan
pada setiap tahapan pelaksanaan pengembangan kurikulum sebagai upaya
untuk mengkaji ulang pelaksanaan kurikulum pada setiap jenjang pendidikan.
Menyimak pembahasan di atas maka dapat dikatakan tujuan evaluasi
kurikulum untuk mengetahui apakah sasaran yang telah ditetapkan tercapai

46

atau tidak setelah kurikulum itu diimplementasikan, Selain itu, evaluasi


kurikulum dimaksud juga untuk mengetahui validitas tujuan atau sasaran
kurikulum itu sendiri, termasuk penilaian apakah kurikulum itu sesuai dengan
tingkat kecerdasan pelajar atau anak didik tertentu, apakah mode intruksional
yang dipakai yang terbaik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan,
apakah materi yang direkomendasikan terbaik untuk mencapai tujuan
kurikulum atau tujuan intruksional yang diinginkan.
B. Manjemen Peserta Didik
Adapun manajemen peserta didik mencakup kegiatan perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan sampai dengan evaluasi terhadap pelaksanaan
peserta didik itu sendiri.
A. Perencanaan Peserta Didik
Perencanaan adalah sebagai keseluruhan proses pemikiran dan penentuan
secara matang menyangkut hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan
datang dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya
Siagian dalam Usman (2009:65-66).
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan
adalah kegiatan yang akan dilakukan dimasa yang akan datang untuk
mencapai tujuan. Perencanaan mengandung unsur-unsur: 1) sejumlah
kegiatan yang ditetapkan sebelumnya, 2) adanya proses, 3) hasil yang ingin
dicapai, dan 4) menyangkut masa depan dalam waktu tertentu. Perencanaan
tidak dapat dilepaskan dari unsur pelaksanaan dan pengawasan termasuk
pemantauan, penilaian dan pelaporan.
Manajemen peserta didik menurut Mulyono (2008:178) merupakan
seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja
serta pembinaan secara kontinu terhadap seluruh peserta didik agar dapat
mengikuti proses PBM dengan efektif dan efisien.
Perencanaan peserta didik menurut Utari (2004:9) mencakup (1)
perencanaan daya tampung, (2) perencanaan penerimaan peserta didik baru,
(3) penerimaan peserta didik baru. Berdasarkan pengertian diatas perencanaan

47

peserta didik menyangkut perencanaan daya tampung, penerimaan peserta


didik baru dan penerimaan peserta didik baru, dan program kerja peserta
didik.
Perencanaan Daya Tampung
Langkah pertama dalam kegiatan manajemen peserta didik adalah
melakukan analisis kebutuhan yaitu penetapan siswa yang dibutuhkan oleh
lembaga pendidikan (sekolah). Menurut Nasihin dan Sururi (2011:207)
kegiatan yang harus dilakukan dalam analisis kebutuhan adalah 1)
merencanakan jumlah peserta didik yang akan diterima, 2) menyusun
program kegiatan peserta didik.
Menurut Arikunto (2009:58) penentuan banyaknya siswa yang diterima
tergantung dari daya tampung untuk tahun tersebut, rumus untuk daya
tampung adalah:
DT = (B X M TM)
DT = Daya Tampung
B = Banyaknya bangku yang ada
M = Muatan Bangku
TK = Banyaknya siswa yang tinggal kelas.
Berdasarkan uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa analisis daya
tampung siswa meliputi penentuan banyaknya siswa yang diterima
berdasarkan daya tampung sekolah tersebut.
Perencanaan Pemerimaan Peserta Didik Baru
Perencanaan penerimaan peserta didik baru merupakan peristiwa penting
bagi suatu sekolah, karena peristiwa ini merupakan titik awal yang
menentukan kelancaran tugas suatu sekolah. Kesalahan dalam penerimaan
peserta didik baru dapat menentukan sukses tidaknya usaha pendidikan
disekolah yang bersangkutan. Oleh karena penerimaan peserta didik baru
bukanlah hal yang ringan. Maka menjelang tahun ajaran baru proses
penerimaan peserta didik baru harus sudah selesai. Untuk itu maka
penunjukkan panitia penerimaan peserta didik baru telah dilakukan oleh
Kepala Sekolah sebelum tahun ajaran berakhir.

48

Panitia penerimaan peserta didik baru sifatnya tidak tetap jadi akan
dibubarkan setelah tugas telah selesai. Adapun tugas panitia penerimaan
siswa baru menurut Arikunto (2009:58) adalah (1) menentukan banyaknya
siswa yang diterima, (2) menentukan syarat-syarat penerimaan siswa baru, (3)
melaksanakan penyaringan, (4) mengadakan pengumuman penerimaan, (5)
mendaftar kembali calon yang sudah diterima, (6) melapor hasil pekerjaanya
kepada pimpinan sekolah.
Menurut Suryosubroto (2004:74-75) tugas panitia penerimaan adalah
mempersiapkan (1) syarat-syarat pendaftaran murid baru, (2) formulir
pendaftaran, (3) pengumuman, (4) buku pendaftaran, (5) waktu pendaftaran,
(6) jumlah calon yang diterima.
Penerimaan siswa perlu dikelola sedemikian rupa mulai dari perencanaan
penentuan daya tampung sekolah atau jumlah siswa baru yang akan diterima,
dengan mengurangi daya tampung dengan jumlah anak yang tinggal dikelas
atau mengulang. Kegiatan tersebut biasanya dikelola oleh panitia penerimaan
siswa baru atau PMB.
Berdasarkan kajian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa langkahlangkah dalam perencanaan penerimaan siswa baru adalah sebagai berikut; 1)
Membentuk panitia penerimaan murid, 2) Menyiapkan formulir pendaftaran,
(3) Melaksanakan seleksi (4) Pengumuman, (5) Menyiapkan buku
pendaftaran, (6) Waktu pendaftaran, (7) Menetapkan jumlah calon yang
diterima.
Orientasi Peserta Didik Baru
Setelah peserta didik diseleksi, maka yang dilakukan selanjutnya adalah
pengorientasian dimana orientasi yaitu kegiatan penerimaan siswa baru
dengan mengenalkan situasi dan kondisi lembaga pendidikan (sekolah)
tempat peserta didik itu menempuh pendidikan.
Menurut Nasihin dan Sururi (2011:210) orientasi siswa baru adalah
kegiatan penerimaan siswa baru dengan mengenalkan situasi dan kodisi
lembaga pendidikan sekolah. Tujuan orientasi siswa baru adalah agar peserta
didik dapat mengerti dan mentaati segala peraturan yang berlaku disekolah,

49

agar peserta didik dapat berpartisispasi aktif dalam kegiatan-kegiatan yang


diselenggarakan sekolah, dan agar peserta didik siap menghadapi
lingkunganya yang baru baik secara fisik, mental dan emosional sehingga ia
merasa nyaman dalam mengikuti proses pembelajaran disekolah serta dapat
menyesuaikan dengan kehidupan sekolah.
Tujuan diadakannya orientasi bagi peserta didik menurut Nasihin dan
Sururi (2011:210) antara lain: 1) Agar peserta didik dapat mengerti dan
mentaati segala peraturan yang berlaku di sekolah, 2)Agar pesera didik dapat
berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan sekolah, 3)
Agar peserta didik siap menghadapi lingkungannya yang baru baik secara
fisik, mental dan emosional sehingga ia merasa betah dalam mengikuti proses
pembelajaran di sekolah serta dapat menyesuaikan dengan kebutuhan
sekolah.
Sebelum siswa baru menerima pelajaran biasa dikelas-kelas, ada
sejumlah kegiatan yang harus diikuti oleh mereka selama masa orientasi
siswa baru. Menurut Nasihin dan Sururi (2011:79) kegiatan-kegiatan itu
diantara lain adalah: 1) Perkenalan dengan para guru dan staff sekolah, 2)
Perkenalan dengan siswa lam dan pengurus OSIS, 3) Penjelasan tentang
program sekolah, 4) Penjelasan tentang tata tertib sekolah, 5) Mengenal
fasilitas pendidikan yang dimiliki sekolah, 6) Penjelasan tentang struktur
organisasi sekolah.
Waktu orientasi juga untuk penelusuran bakat-bakat khusus dari siswa
baru, misalnya penelusuran bakat-bakat olahraga, bakat-bakat seni, bakatbakat menulis (mengarang). Oleh karena itu selama masa orientasi banyak
diisi kegiatan-kegiatan pertandingan olahraga, lomba menyanyi, pidato dan
sebagainya.
Perencanaan Kegiatan Bidang Peserta Didik
Kegiatan pembinaan peserta didik merupakan kegiatan pendidikan yang
dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka. Kegiatan tersebut dilaksanakan di
dalam dan/atau di luar lingkungan sekolah dalam rangka memperluas
pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan menginternalisasi nilai-nilai

50

atau aturan-aturan agama serta norma-norma sosial baik lokal, nasional,


maupun global untuk membentuk insan yangseutuhnya. Dengan kata lain,
kegiatan pembinaan peserta didik merupakan kegiatan pendidikan di luar jam
pelajaran yang ditujukan untuk membantu perkembangan peserta didik,
sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan
yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga
kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah.
Adapun tujuan kegiatan pembinaan kesiswaan adalah sesuai dengan yang
tercantum

dalam

Permendiknas

No.

39

Tahun

2008,

yaitu:

a)

Mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi


bakat, minat dan kretivitas; b) Memantapkan kepribadian siswa untuk
mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendidikan sehingga
terhindar dari usaha dan pengaruh negatif dan bertentangan dengan tujuan
pendidikan; c) Mengaktualisasikan potensi siswa dalam pencapaian prestasi
unggulan sesuai bakat dan minat; d) Menyiapkan siswa agar menjadi warga
masyarakat yang berakhlak mulia, demokratis, menghormati hak-hak asasi
manusia dalam rangka mewujudkan masyarakat madani.
Perencanaan kegiatan bidang kesiswaan mengungkapkan garis-garis
besar program kegiatan kesiswaan dandistribusi rincian jadwal kegiatan yang
direncanakan selama satu tahun kedepan.Adapun ruang lingkup program
kerja peserta didik meliputi program pembinaan peserta didik (OSIS),
program pembinaan ekstrakurikuler, dan program bimbingan konseling.
B. Pengorganisasian Peserta Didik
Pada pelaksanaan sebuah kegiatan diperlukan adanya pengorganisaian
yang baik agar tugas dari setiap anggota organisasi dapat dilaksanakan
dengan baik. Menurut Terry dalam Mulyono (2008:27)Pengorganisasian
adalah menyusun hubungan prilaku yang efektif antar personalia, sehingga
mereka dapat bekerja sama secara efisien dan memperoleh keputusan pribadi
dalam melaksanakan tugas-tugas dalam situasi lingkungan yang ada guna
mencapai tujuan dan sasaran tertentu.

51

Pengorganisasian menurut Handoko dalam Usman (2009:146) adalah: 1)


penentuan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan
organisasi, 2) proses perancangan dan pengembangan suatu organisasi yang
akan dapat membawa hal-hal tersebut kearah tujuan, 3) penugasan
tanggungjawab tertentu, 4) cara manajer membagi tugas yang harus
dilaksanakan dalam departemen dan mendelegasikan wewenang untuk
mengerjakan tugas tersebut.
Berdasarkan

pendapat

diatas

dapat

diambil

kesimpulan

bahwa

pengorganisasian adalah proses penentuan sumber daya dan memberi


tanggungjawab dan pendelegasian tertentu kepada bawahanya untuk
mencapai tujuan tertentu.
Pengorganisasian peserta didik yaitu penentuan sumber daya manusia
dalam hal ini peserta didik kedalam pengelompokan kelas kemudian
pemberian tanggungjawab kepada wali kelas untuk membina dan
mengorganisir bagaimana proses belajar mengajar berjalan dengan baik
sehingga tujuan bisa tercapai dengan baik dan pengorganisasian kegiatan
bidang kesiswaan yang meliputi kegiatan ekstrakurikuler.Pengelompokan
siswa dimaksudkan agar dalam pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar
di sekolah dapat berjalan lancar, tertib dan dapat mencapai tujuan-tujuan yang
telah ditetapkan. Pengelompokan Peserta Didik (Pembagian Kelas), yaitu
sebelum peserta didik diterima pada sebuah lembaga pendidikan (sekolah)
mengikuti proses pembelajaran, terlebih dahulu perlu ditempatkan dan
dikelompokkan dalam kelompok belajarnya.Pengorganisasian kegiatan
ekstrakurikuler yakni bagaimana masing-masing penanggungjawab bidang
bisa saling berkoordinasi agar seluruh bidang ekstrakurikuler bisa berjalan
dengan baik.
Menurut Nasihin dan Sururi (2011:211) dasar-dasar pengelompokkan
peserta didik adalah: 1) berdasarkan pada kesukaan didalam memilih teman,
dalam hal ini peserta didik memilih sendiri kelasnya, 2) Bedasarkan pada
prestasi yang dicapai oleh siswa, 3) Berdasarkan pada kemampuan dan bakat,
4) Berdasarkan pada peserta didik yang mempunyai bakat dalam bidang

52

tertentu namun si peserta didik tersebut tidak senang dengan bakat yang
dimilikinya, 5) Berdasarkan hasil tes intelegensi yang diberikan kepada siswa.
Berdasarkan uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa 1)
pengelompokan siswa bisa dilakukan berdasarkan kesamaan minat dan bakat
peserta didik, berdasarkan hasil tes dan bengelompokkan dengan cara
campuran.2) pengorganisasian kelas adalah bagaimana wali kelas mengelola
kelas dari mulai menata ruang kelas, mengabsen, membina dan membimbing
kelas agar tetap nyaman saat belajar berlangsung, mengisi raport dan
bertanggungjawab dengan peserta didik baik jasmani maupun rohani.
C. Pelaksanaan Kegiatan Peserta Didik
Pelaksanaan merupakan bagian dan proses kelompok atau organisasi
yang tidak dapat dipisahkan. Adapun istilah yang dapat dikelompokkan
kedalam fungsi pelaksanaan adalah mengarahkan (directing), memberikan
perintah

(commanding),

memberikan

petunjuk

(leading)

dan

mengkoordinasikan (coordinating).
G.R Terry dalam Usman (2009:183) mengungkapkan bahwa actuating
adalah membangkitkan dan mendorong semua anggota kelompok supaya
berkehendak dan berusaha untuk mencapai tujuan dengan ikhlas serta serasi
dengan perencanaan dan usaha.
Pekerjaan demikian dinyatakan sebagai tindakan menggerakan aksi.
Dari definisi diatas terlihat bahwa tercapai atau tidaknya tujuan tergantung
pada bergerak atau tidaknya seluruh anggota kelomopok manajemen, mulai
dari tingkat atas, menengah sampai bawah.
Kadang-kadang sewaktu pekerjaan sedang berlangsung timbul adanya
diskrepansi (discrepancy) hal-hal yang sulit dipecahkan, salah pengertian dan
gangguan yang tidak diduga semula. Ini harus segera disampaikan kepada
pihak manajer agar manajer dapat melaksanakan tindakan perbaikan.
Hendaknya diusahakan agar manajer mampu menjawab pertanyaanpertanyaan menyangkut bagaimana caranya melaksanakan pekerjaan dengan
baik.

53

Adapun rumusan actuating adalah suatu fungsi pembimbing dan


pimpinan serta penggerakan orang agar kelompok suka dan mau bekerja.Jadi,
tekanan yang terpenting adalah tindakan membimbing, mengarahkan dan
menggerakkan agar bekerja dengan baik, tenang dan tekun sehingga dipahami
fungsi tugas masing-masing. Untuk terwujudnya keserempakkan bekerja,
tentu harus dimulai dari proses planning, organizing, actuating dan
controlling yang efektif. Oleh karena itu seorang koordinator berfungsi
menjalankan planning, organizing, actuating dan controlling. Dalam hal ini
kedudukan koordinator sama dengan manajer.
Menggerakan menurut Siagian dalam Usman (2009:65-66) adalah
kegiatan untuk menggerakan manusia-manusia anggota organisasi agar
bertindak sesuai dengan tujuan yang diharapkan.Pemimpin bertindak
mengarahkan dan mempengaruhi bawahan agar bekerja sebaik-baiknya.Oleh
karena itu, fungsi menggerakkan dikenal denga sebutan leading (memimpin),
directing (mengarahkan), dan motivating (memotivasi).
Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pergerakkan atau
pelaksanaan adalah bagaimana seluruh anggota organisasi bekerja sesuai
dengan tujuan yang diharapkan dan pemimpin bertindak mengarahkan dan
mempengaruhi bawahan agar bekerja dengan sebaik-baiknya. Pelaksanaan
peserta didik dimulai setelah peserta didik resmi menjadi peserta didik di
lembaga tertentu (sekolah), adapun pelaksanaan peserta didikMenurut
Nasihin dan Sururi (2011:211-215) yaitu: 1) Pembinaan dan pengembangan
peserta didik, 2) Pencatatan dan pelaporan, 3) Kelulusan dan alumni, 4)
Layanan Khusus yang menunjang manajemen peserta didik.
Sedangkan menurut Arikunto (2009:61) pelaksanaan peserta didik
dimulai dari 1) Ketatausahaan; 2) Bimbingan dan konseling; 3) Pencatatan
prestasi belajar. Berdasarkan pendapat di atas penulis dapat simpulkan bahwa
pelaksanaan peserta didik meliputi: 1) Pembinaan dan pengembangan peserta
didik, 2) Pencatatan dan pelaporan peserta didik 3) Kelulusan dan alumni, 4)
Layanan Khusus yang menunjang manajemen peserta didik.

54

Pembinaan dan Pengembangan Peserta Didik


Pembinaan dan pengembangan peserta didik dilakukan sehingga anak
mendapat bermacam-macam pengalaman belajar untuk bekal kehidupanya
dimasa yang akan datang. Untuk mendapatkan pengetahuan atau pengalaman
belajar, siswa harus melaksanakan bermacam-macam kegiatan.
Menurut Nasihin dan Sururi (2011:212) sekolah dalam pembinaan dan
pengembangan peserta didik biasanya melakukan kegiatan yang disebut
dengan kegiatan kurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler. Mulyono (2009:191)
mengatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan
diluar mata pelajaran untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya
manusia yang dimiliki peserta didik baik berkaitan dengan aplikasi ilmu
pengetahuan yang didapatkanya maupun dalam pengertian khusus untuk
membimbiing siswa dalam mengembangkan potensi dan bakat yang ada
dalam dirinya melalui kegiatan-kegiatan yang wajib maupun pilihan.
Kegiatan ekstrakurikuler merupakan wadah kegiatan peserta didik di luar
pelajaran atau di luar kegiatan kurikuler , contoh kegiatan ekstrakurikuler:
OSIS (Organiisasi Siswa Intra Sekolah), ROHIS (Rohani Islam), kelompok
karate, olahraga dan pramuka. Sedangkan kegiatan kurikuler menurut Nasihin
dan Sururi (2011:212) adalah semua kegiatan yang telah ditentukan di dalam
kurikulum yang pelaksanaanya dilakukan pada jam-jam pelajaran.
Kegiatan dan pengembangan inilah peserta didik diproses untuk menjadi
manusia yang diharapkan sesuai dengan tujuan pendidikan.Bakat, minat dan
kemampuan peserta didik harus ditumbuhkembangkan secara optimal
melaluikegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler. Keberhasilan pembinaan dan
pengembangan peserta didik diukur melalui proses penilaian yang dilakukan
oleh guru. Penilaian yang dilakukan oleh guru tentu saja didasarkan pada
prinsip-prinsip penilaian yang berlaku disekolah tersebut. Berdasarkan uraian
di atas dapat disimpulkan bahwa pembinaan dan pengembangan peserta didik
didasarkan pada dua kegiatan yaitu kurikuler dan ekstrakurikuler.

55

Pelaporan dan Pencatatan Peserta Didik


Pencatatan dan pelaporan tentang peserta didik di sekolah sangat
diperlukan, kegiatan pencatatan dimulai sejak peserta didik diterima di
sekolah tersebutsampai mereka tamat.Menurut Nasihin dan Sururi (2011:212)
penatatan tentang kondisi peserta didik perlu dilakukan agar pihak lembaga
dapat memberikan bimbingan yang optimal pada peserta didik.
Sedangkan pelaporan dilakukan sebagai wujud tanggung jawab lembaga
agar pihak-pihak terkait dapat mengetahui perkembangan peserta didik.
Menurut Arikunto (2009:60) ada dua jenis catatan yaitu 1) Catatan untuk
seluruh sekolah meliputi buku induk, buku klapper, catatan tata tertib dan 2)
Catatan untuk masing-masing sekolah meliputi buku kelas, buku kehadiran
siswa dan buku bimbingan dan penyuluhan.
Sedangkan menurut Tim Dosen Administrasi Pendidikan untuk
melakukan pencatatan dan pelaporan diperlukan peralatan dan perlengkapan
yang dapat mempermudah yaitu berupa: 1) Buku induk siswa; 2) Buku
klepper; 3) Daftar kehadiran siswa; 4) Daftar mutasi peserta didik; 5) Buku
catatan pribadi peserta didik; 6) Daftar nilai; 7) Buku legger dan 8) Buku
Raport.
Berdasarkan pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pelaporan
dan pencatatan kehadiran siswa meliputi: 1) Buku induk siswa; 2) Buku
klepper; 3) Daftar kehadiran siswa; 4) Daftar mutasi peserta didik; 5) Buku
catatan pribadi peserta didik; 6) Daftar nilai; 7) Buku legger dan 8) Buku
Raport.
Kelulusan dan Alumni
Proses kelulusan adalah kegiatan paling akhir dari manajemen peserta
didik. Menurut Nasihin dan Sururi(2011:214) kelulusan adalah pernyataan
dari lembaga pendidikan tentang telah diselesaikanya program pendidikan
yang harus diikuti oleh peserta didik.
Ketika peserta didik sudah lulus, maka secara formal hubungan antara
peserta didik dan lembaga telah selesai.Namun demikian, diharapkan
hubungan para alumni dan sekolah tetap terjalin.Dari hubungan sekolah dan

56

alumni ini, lembaga pendidikan (sekolah) bisa memanfaatkan hasil-hasilnya.


Lembaga pendidikan (sekolah) bisa menjaring berbagai informasi.Misalnya
informasi tentang materi pelajaran mana yang sangat membantu untuk studi
selanjutnya. Mungkin juga informasi tentang lapangan kerja yang bisa
dijangkau bagi alumni lainnya.
Hubungan antara sekolah dengan para alumni dapat dipelihara lewat
pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh para alumni, yang biasa
disebut reuni. Bahkan saat ini setiap lembaga pendidikan(sekolah) ada
organisasi alumninya, misalnya IKA ( Ikatan Alumni). Prestasi yang dicapai
para alumni dari lembaga pendidikan (sekolah) ini perlu didata atau dicatat
oleh lembaga.Sebab catatan tersebut sangat berguna bagi lembaga dalam
mempromosikan lembaga pendidikannya.
Layanan Khusus yang Menunjang Manajemen Peserta Didik
Menurut Nasihin dan Sururi (2011:215) layanan khusus yang menunjang
manajemen peserta didik yaitu: 1) layanan bimbingan dan konseling, 2)
layanan perpustakaan, 3) layanan kantin, 4) layanan kesehatan, 5) layanan
transportasi sekolah, 6) layanan asrama. Sedangkan menurut Meilina bustari
layanan khusus yang menunjang manajemen peserta didik yaitu: 1) layanan
bimbingan dan konseling, 2) layanan perpustakaan, 3) layanan kantin, 4)
layanan kesehatan, 5) layanan transportasi, 6) layanan asrama.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa layanan
khusus yang menunjang manajemen peserta didik meliputi: 1) layanan
bimbingan dan konseling, 2) layanan perpustakaan, 3) layanan kantin, 4)
layanan kesehatan, 5) layanan transportasi sekolah, 6) layanan asrama.
D. Pengawasan Peserta didik
Mengawasi menurut Siagian dalam Usman (2009:67) adalah kegiatan
untuk mengawasi jalanya pelaksanaan manajemen yang selalu dapat
meningkatkan hasilnya, agar pelaksanaan kegiatan tersebut sejalan dengan
tujuan yang ditetapkan.

57

Begitu pula dengan seluruh unsur yang ada didalamnya agar dapat saling
mendukung dan bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Dengan adanya fungsi pengawasan dapat diketahui apakah
pelaksanaan kegiatan berjalan sebagaimana mestinya atau terjadi kesalahan
atau penyimpangan.Jika telah diketahui, tindakan lebih lanjut dapat
dilaksanakan.Kemudian dapat diusahakan untuk meningkatkanya dan jika
terjadi kesalahan dapat dilakukan perbaikan.
Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengawasan
merupakan tindakan perbaikan dalam pelaksanaan pekerjaan agar segala
kegiatan sesuai dengan rencana. Jadi, dengan pengawasan akan diketahui
apakah hasil atau prestasi kerja tidak bertentangan dengan sasaran dan
rencana yang telah ditetapkan.
Pengawasan dilakukan dengan tujuan agar hasil pelaksanaan pekerjaan
yang dicapai berdaya guna (efisien) dan berhasil guna (efektif) sesuai dengan
rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Jadi, walaupun planning,
organizing, actuating baik, tetapi apabila pelaksanaan kerja tidak terawasi
(sehingga pekerjaan tidak teratut, tertib dan terarah) maka tujuan yang telah
ditetapkan tidak akan tercapai. Dengan demikian controlling mempunyai
fungsi untuk mengawasi segala kegiatan agar tertuju kepada sasaranya,
sehingga tujuan yang telah ditetapkan tercapai.
Pengendalian atau pengawasan (controlling) adalahbagian terakhir dari
fungsi manajemen. Fungsi manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan pengawasan itu sendiri.
Menurut Handoko dalam Ambarita (2013:25) bahwa pengawasan
manajemen adalah usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan
dengan tujuan-tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik,
membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan
sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta
mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua
sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien
dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.
Menurut Husaini Usman (2013:534) pengawasan ialah proses
pemantauan, penilaian, dan pelaporan rencana atas pencapaian tujuan yang
telah ditetapkan untuk tindakan korektif guna penyempurnaan lebih lanjut.
58

Berdasarkan pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pengawasan


meliputi dua hal, yakni pemantauan dan penilaian.
Pemantauan Peserta Didik
Menurut Ara hidayat (2010:27) kegiatan pemantauan adalah suatu
kegiatan memonitor atau mengawasi seluruh aktifitas yang dilakukan oleh
seluruh warga sekolah; dalam hal ini difokuskan pada aktifitas-aktifitas yang
dilakukan oleh siswa. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
kegiatan pemantauan adalah kegiatan mengawasi aktifitas aktifitas yang
sedang berlangsung.
Penilaian Peserta Didik
Menurut Wand dan Borwn dalam Syaiful dan Aswan (2002:57) penilaian
hasil belajar bertujuan untuk melihat kemajuan belajar peserta didik dalam
hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya sesuai dengan
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut Nasihin dan Sururi
(2011:223) penilaian dilakukan untuk melihat kemajuan peserta didik dan
menentukan naik atau tidaknnya peserta didik bagi kelas 7 dan 8, sedangkan
kelas 9 untuk menentukan lulus tidaknya peserta didik. Hasil penilaian dari
pihak sekolah ini dilaporkan kepada orangtua tersebut atau biasa disebut buku
raport, sedangkan siswa yang lulus diberi ijazah/STTB.
Berdasarkan pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa penilaian
peserta didik berupa penilaian dari hasil evaluasi yang dilakukan dan di
laporkan melalui buku raport.
C. Manajemen Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Berikut kita uraian istilah Manajemen Kepegawaian, yaitu terdiri dari
dua kata manjemen dan kepegawaian yang berarkar dari pegawai atau
tenaga-kerja. Kata manajemen merupakan istilah yang berarti: suatu proses
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan melalui kerjasama dengan orang lain.
Sedang proses manajemen tersebut terdiri dari tahapan-tahapan, yaitu:
perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pemberian motivasi
atau bimbingan atau pengarahan (motivating), pengawasan (controlling), dan

59

pengambilan keputusan (decision making). Sedangkan kata kepegawaian


adalah: seluruh kegiatan yang berhubungan dengan kepentingan pegawai. Dan
pegawai adalah setiap orang yang menyumbangkan jasanya kepaada suatu
badan usaha, baik kepada badan usaha suwasta maupun pemerintah (negeri). 9
Sebagai kesimpulan bahwa manajemen kepegawaian adalah manajemen
(pengaturan) yang berhubungan dengan perencanaan, pengorganisasian, dan
pengawasan terhadap bermacam-macam fungsi pelaksanaan usaha untuk
mendapatkan, mengembangkan dan memelihara para pegawai sedemikian
rupa sehingga tujuan organisasi atau perusahaan dapat tercapai seefisien
mungkin, kebutuhan para pegawai dapat dilayani dengan sebaik-baiknya, dan
produktivitas kerja dapat meningkat.
Terdapat empat prinsip dasar manajemen personalia yaitu :
1. Dalam mengembangkan sekolah, sumber daya manusia adalah
komponen paling berharga.
2. Sumber daya manusia akan berperan secara optimal jika dikelola
dengan baik, sehingga mendukung tujuan institusional.
3. Kultur dan suasana organisasi di sekolah, serta perilaku manajerial
sekolah

sangat

berpengaruh

terhadap

pencapaian

tujuan

pengembangan sekolah;
4. Manajemen personalia di sekolah pada prinsipnya mengupayakan agar
setiap warga dapat bekerja sama dan saling mendukung untuk
mencapai tujuan sekolah.
Disamping faktor ketersediaan sumber daya manusia, hal yang amat
penting

dalam

manajamen

personalia

adalah

berkenaan

penguasaan

kompetensi dari para personil di sekolah. Oleh karena itu, upaya


pengembangan kompetensi dari setiap personil sekolah menjadi mutlak
diperlukan.
A. Perencanaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan

60

B. Pengorganisasian Tenaga Pendidik dan Kependidikan

C. Pelaksanaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan

D. Pengawasan Tenaga Pendidik dan Kependidikan

D. Manajemen Sarana dan Prasarana


Proses pengelolaan administrasi sarana prasarna meliputi 5 hal,
yaitu: (1) penentuan kebutuhan, (2) pengadaan, (3) pemakaian, (4) pengurusan
dan pencatatan, (5) Pertanggungjawaban (Pelaporan)
1). Penentuan Kebutuhan
Melaksanakan analisis kebutuhan, analisis anggaran, dan penyeleksian
sarana prasarana sebelum mengadakan alat-alat tertentu. Berikut adalah
prosedur analisis kebutuhan berdasarkan kepentingan pendidikan di sekolah
Perhitungan kebutuhan ruang belajar/guru tergantung dari jumlah tambahan
siswa, jumlah rata-rata murid untuk setiap rombongan belajar/kelas, dan
efisiensi penggunaan ruang belajar (shift).
2) Pengadaan Sarana Prasarana
Pengadaan sarana prasarana pendidikan merupakan upaya
merealisasikan rencana kebutuhan pengadaan perlengkapan yang telah
disusun sebelumnya, antara lain sebagai berikut
a) Pengadaan buku, alat, dan perabot dilakukan dengan cara membeli,
menerbitkan sendiri, dan menerima bantuan/ hadiah/ hibah.
b) Pengadaan bangunan, dapat dilaksanakan dengan cara:
-

membangun bangunan baru;

61

membeli bangunan

menyewa bangunan

menerima hibah bangunan

menukar bangunan

c) Pengadaan tanah, dapat dilakukan dengan cara membeli, menerima


bahan, menerima hak pakai, dan menukar.
3) Penggunaan dan Pemeliharaan
Ada dua prinsip yang harus diperhatikan dalam pemakaian
perlengkapan pendidikan, yaitu prinsip efektivitas dan prinsip efisiensi.
Prinsip efektivitas berarti semua pemakaian perlengkapan pendidikan di
sekolah harus ditujukan semata-mata dalam memperlancar pencapaian
tujuan pendidikan sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Adapun,

prinsip

efisiensi

berti,

pemakaian

semua

perlengkapan

pendidikan secara hemat dan hati-hati sehingga semua perlengjkapan yang


ada tidak mudah habis, rusak, atau hilang.
4) Pengurusan dan Pencatatan
Semua sarana prasarana harus diinventarisasi secara periodik,
artinya secara teratur dan tertib berdasarkan ketentuan atau pedoman yang
berlaku. Melalui inventarisasi perlengkapan pendidikan diharapkan dapat
tercipta administrasi barang, penghematan keuangan, dan mempermudah
pemeliharaan dan pengawasan. Apabila dalam inventarisasi terdapat
sejumlah perlengkapan yang sudah tidak layak pakai maka perlu dilakukan
penghapusan.
5) Pertanggungjawaban (Pelaporan)
Penggunaan

sarana

prasarana

inventaris

sekolah

harus

dipertanggungjawabkan dengan jalan membuat laporan penggunaan


barang-barang tersebut yang ditujuakn kepada instansi terkait. Laporan
tersebut sering disebut dengan mutasi barang. Pelaporan dilakukan sekali

62

dalam setiap triwulan, terkecuali bila di sekolah itu ada barang rutin dan
barang proyek maka pelaporan pun seharusnya dibedakan.

Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah merupakan tindakan


yang dilakukan secara periodik dan terencana untuk merawat fasilitas fisik, seperti
gedung, mebeler, dan peralatan sekolah lainnya, dengan tujuan untuk
meningkatkan kinerja, memperpanjang usia pakai, menurunkan biaya perbaikan
dan menetapkan biaya efektif perawatan sarana dan pra sarana sekolah.
Dalam manajemen ini perlu dibuat program perawatan preventif di sekolah
dengan cara pembentukan tim pelaksana, membuat daftar sarana dan pra saran,
menyiapkan jadwal kegiatan perawatan, menyiapkan lembar evaluasi untuk
menilai hasil kerja perawatan pada masing-masing bagian dan memberikan
penghargaan bagi mereka yang berhasil meningkatkan kinerja peralatan sekolah
dalam rangka meningkatkan kesadaran merawat sarana dan prasarana sekolah.
Sedangkan untuk pelaksanaannya dilakukan : pengarahan kepada tim pelaksana,
mengupayakan pemantauan bulanan ke lokasi tempat sarana dan prasarana,
menyebarluaskan informasi tentang program perawatan preventif untuk seluruh
warga sekolah, dan membuat program lomba perawatan terhadap sarana dan
fasilitas sekolah untuk memotivasi warga sekolah.

Dalam pelaksanaan proses manajemen sarana dan prasarana pendidikan itu


meliputi: pengadaan, pendistribusian, pemakaian dan pemeliharaan, inventarisasi
dan penghapusan. Kegiatan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
1.

Pengadaan

Kegiatan ini biasanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan


perkembangan pendidikan di sekolah, menggantikan barang barang yang rusak,
hilang, dihapuskan atau sebab-sebab lain yang dapat dipertanggungjawabkan
sehingga memerlukan pergantian, dan untuk menjaga tingkat persediaan barang
setiap tahun anggaran mendatang. Kegiatan pengadaan ini meliputi:

63

Analisis kebutuhan

Analisis anggaran

Seleksi

Keputusan

Pemerolehan

2.

Pendistribusian

Barang-barang perlengkapan sekolah (sarana dan prasarana) yang telah diadakan


dapat didistribusikan. Pendistribusian atau penyaluran perlengkapan merupakan
kegiatan pemindahan barang dan tanggungjawab dari seorang penanggungjawab
penyimpanan kepada unit-unit atau orangorang yang membutuhkan barang itu.
Dalam rangka itu, ada tiga langkah yang sebaiknya ditempuh oleh bagian
penanggungjawab penyimpanan atau penyaluran, yaitu: (1) penyusunan alokasi
barang; (2) pengiriman barang; (3) penyerahan barang
3.

Penggunaan dan pemeliharaan

Ada dua prinsip yang harus diperhatikan dalam pemakaian perlengkapan


pendidikan, yaitu prinsip efektivitas dan prinsip efisiensi. Prinsip efektivitas
berarti semua pemakaian perlengkapan pendidikan di sekolah harus ditujukan
semata-mata dalam memperlancar pencapaian tujuan pendidikan sekolah, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Adapun, prinsip efisiensi berti,
pemakaian semua perlengkapan pendidikan secara hemat dan hati-hati sehingga
semua perlengjkapan yang ada tidak mudah habis, rusak, atau hilang.
Pemeliharaan merupakan kegiatan yang terus menerus untuk mengusahakan agar
barang tetap dalam keadaan baik atau siap untuk dipakai. Menurut kurun
waktunya, pemeliharaan dibedakan dalam:
a.
Pemeliharaan sehari-hari, misalnya: mobil, mesin disel, mesin ketik,
komputer, dsb.
b.

Pemeliharaan berkala, yaitu: dua bulan sekali, tiga bulan sekali, dsb

4.

Inventarisasi

Semua sarana prasarana harus diinventarisasi secara periodik, artinya secara


teratur dan tertib berdasarkan ketentuan atau pedoman yang berlaku. Melalui
inventarisasi perlengkapan pendidikan diharapkan dapat tercipta administrasi

64

barang, penghematan
pengawasan.
5.

keuangan,

dan

mempermudah

pemeliharaan

dan

Penghapusan

Penghapusan ialah kegiatan yang bertujuan untuk menghapus barang-barang milik


negara dari Daftar Inventaris Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

E. Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan di sekolah terutama berkenaan dengan kiat
sekolah dalam menggali dana, kiat sekolah dalam mengelola dana,
pengelolaan keuangan dikaitkan dengan program tahunan sekolah, cara
mengadministrasikan dana sekolah, dan cara melakukan pengawasan,
pengendalian serta pemeriksaan.
Inti dari manajemen keuangan adalah pencapaian efisiensi dan
efektivitas. Oleh karena itu, disamping mengupayakan ketersediaan dana yang
memadai untuk kebutuhan pembangunan maupun kegiatan rutin operasional
di sekolah, juga perlu diperhatikan faktor akuntabilitas dan transparansi setiap
penggunaan keuangan baik yang bersumber pemerintah, masyarakat dan
sumber-sumber lainnya.
a.

Prinsip-prinsip Pengelolaan Keuangan Pendidikan


Penggunaan anggaran dan keuangan, dari sumber manapun,

apakah itu dari pemerintah ataupun dari masyarakat perlu didasarkan


prinsip-prinsip umum pengelolaan keuangan sebagai berikut:
1. Hemat, tidak mewah, efisien dan sesuai dengan kebutuhan teknis
yang disyaratkan
2. Terarah dan terkendali sesuai dengan rencana, program/ kegiatan.

65

3. Terbuka dan transparan, dalam pengertian dari dan untuk apa


keuangan lembaga tersebut perlu dicatat dan dipertanggung
jawabkan serta disertai bukti penggunaannya.
4. Sedapat mungkin menggunakan kemampuan/ hasil produksi dalam
negeri sejauh hal ini dimungkinkan
Rencana

Anggaran

Pendapatan

Dan

Belanja

Sekolah

Implementasi prinsip-prinsip keuangan diatas pada pendidikan, khususnya


dilingkungan sekolah dan keserasian antara pendidikan dalam keluarga,
dalam sekolah, sekolah dan dalam masyarakat, maka untuk sumber dana
sekolah, sekolah itu tidak hanya diperoleh dari anggaran dan fasilitas dari
pemerintah atau penyandang dana tetap saja, tetapi dari sumber dan dari
ketiga komponen di atas.
Untuk itu disekolah sebenarnya juga perlu dibentuk organisasi
orang tua siswa yang implementasinya dilakukan dengan membentuk
komite sekolah. Komite tersebut beranggotakan wakil wali siswa, tokoh
masyarakat, pengelola, wakil pemerintah dan wakil ilmuwan/ ulama diluar
sekolah dan dapat juga memasukkan kalangan dunia usaha dan industri.
Selanjutnya pihak sekolah bersama komite atau majelis sekolah pada
setiap awal tahun anggaran perlu bersama-sama merumuskan RAPBS
sebagai acuan bagi pengelola sekolah dalam melaksanakan manajemen
keuangan yang baik.
b.

Langkah-langkah Penyusunan RAPBS


Suatu hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RAPBS

adalah harus menerapkan prinsip anggaran berimbang, artinya rencana


pendapatan dan pengeluaran harus berimbang diupayakan tidak terjadi
anggaran pendapatan minus. Dengan anggaran berimbang tersebut maka
kehidupan sekolah akan menjadi solid dan benar-benar kokoh dalam hal
keuangan, maka sentralisasi pengelolaan keuangan perlu difokuskan pada

66

bendaharawan sekolah, dalam rangka untuk mempermudah pertanggung


jawaban keuangan.
Penyusunannya hendaknya mengikuti langkah-langkah sebagai
berikut:
1.

Menginventarisasi rencana yang akan dilaksanakan

2.

Menyusun rencana berdasarkan skala prioritas pelaksanaannya

3.

Menentukan program kerja dan rincian program

4.

Menetapkan kebutuhan untuk pelaksanaan rincian program

5.

Menghitung dana yang dibutuhkan

6.

Menentukan sumber dana untuk membiayai rencana

Rencana tersebut setelah dibahas dengan pengurus dan komite sekolah, maka
selanjutnya ditetapkan sebagai anggaran pendapatan dan belanja sekolah
(APBS). Pada setiap anggaran yang disusun perlu dijelaskan apakah rencana
anggaran yang akan dilaksanakan merupakan hal baru atau kelanjutan atas
kegiatan yang telah dilaksanakan dalam periode sebelumnya dengan menyebut
sumber dana sebelumnya
F. Manajemen Hubungan Masyarakat/Partisipasi Masyarakat
Hubungan yang harmonis antara sekolah dan masyarakat ini semakin
dirasakan pentingnya pada masyarakat yang telah menyadari dan memahami
pentingnya pendidikan bagi anak-anak.Namun tidak berarti pada masyarakat yang
masih kurang menyadari pentingnya pendidikan,hubungan kerjasama ini tidak
perlu dibina.Pada masyarakat yang kurang menyadari akan pentingnya
pendidikan,sekolah dituntut lebih aktif dan kreatif untuk menciptakan hubungan
kerja sama yang lebih harmonis.
Jika hubungan sekolah dengan masyarakat berjalan dengan baik ,rasa
tanggung jawab dan partisipasi masyarakat untuk memajukan sekolah juga akan
baik dan tinggi. Agar tercipta hubungan dan kerjasama yang baik antara sekolah
dan masyarakat, masyarakat perlu mengetahui dan memiliki gambaran yang jelas
tentang sekolah yang bersangkutan. Gambaran dan kondisi sekolah ini dapat
diinformasika kepada masyarakat melalui laporan kepada orang tua murid,
bulletin bulanan, penerbitan surat kabar, pameran sekolah, open house, kunjungan
kesekolah, kunjungan kerumah murid, penjelasan staf sekolah, murid, radio,
televise, serta laporan tahunan.
67

Kepala sekolah yang baik merupakan salah satu kunci untuk bisa
menciptakan hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat secara efektif
karena harus menaruh perhatian tentang apa yang terjadi pada peserta didik
disekolah dan apa yang dipikirkan orang tua tentang sekolah.Kepala sekolah
dituntut untuk senantiasa berusaha membina dan meningkatkan hubungan
kerjasama yang baik antara sekolah dan masyarakat guna mewujudkan sekolah
yang efektif dan efisien.Hubungan harmonis ini akan membentuk:
1.Saling pengertian antara sekolah ,orang tua,masyarakat dan lembaga-lembaga
lain yang ada dimasyarakat,termasuk dunia kerja.
2.Saling membantu antara sekolah dan masyarakat karena mengetahui
manfaat,arti dan penting nya peran masing-masing.
3.Kerjasama yang erat antara sekolah dengan berbagai pihak yang ada dim
asyarakat dan mereka merasa ikut bertanggung jawab atas suksesnya pendidikan
disekolah .
Melalui hubungan yang harmonis tersebut diharapkan tercapai tujuan hubungan
sekolah dengan masyarakat ,yaitu terlaksana nya proses pendidikan disekolah
secarabproduktif,efektif dan efisien sehingga menghasilkan lulusan sekolah yang
produktif dan berkualitas.

(Hubungan sekolah dan masyarakat adalah suatu proses komunikasi


antara sekolah dan masyarakat dengan tujuan meningkatkan pengertian
anggota masyarakat tentang kebutuhan pendidikan serta mendorong minat dan
kerjasama para anggota masyarakat dalam rangka usaha memperbaiki
sekolah)
Alasan lain diungkapkan oleh Ngalim Purwanto (1995) dalam bukunya
Administrasi dan supervisi Pendidikan yaitu:
a. Sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat; ia bukan
lembaga yang terpisah dari masyarakat.
b. Hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah bergantung pada
masyarakat.

68

c. Sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani


anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan.
d. Kemajuan sekolah dan kemajuan masyarakat saling berkorelasi;
kedua-duanya saling membutuhkan.
e. Masyarakat adalah pemilik sekolah; sekolah ada karena masyarakat
memerlukannya.
Ditinjau dari kepentingan sekolah, pengembangan penyelenggaraan
hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk:
a. Memelihara kelangsungan hidup sekolahan.
b. Meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan.
c. Memperlancar proses belajar mengajat.
d. Memperoleh dukungan dan bantuan dari masyarakat yang diperlukan
dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah.
Sedangkan jika ditinjau dari kebutuihan masyarakat itu sendiri,
tujuan hubunganya dengan sekolah adalah untuk: Memajukan dan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam bidang mental
spiritual. Memperoleh bantuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah
yang dihadapi oleh masyarakat. Menjamin relevansi program sekolah dengan
kebutuhan masyarakat. Memperoleh kembalai anggota anggota masyarakat
yang makin meningkat kemampuanya.
Bermacammacam tujuan seperti yang dikemukakan di atas dapat
dikelompokan menjadi tiga tujuan pokok, yaitu:
a) Untuk mengembangkan mutu belajar dan petumbuhan anak anak.
b) Untuk mempertinggi tujuan tujuan dan mutu kehidupan masyarakat.
Untuk mengembangkan pengertian, antusiasme masyarakat dalam membantu
pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah.
Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu
sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan
pribadi peserta didik di sekolah.Dalam hal ini,sekolah sebagai system social

69

merupakan bagian integral dari system social yang lebih besar,yaitu


masyarakat.Sekolah dengan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat
dalam menjapai tujuan sekolah atau pendidikan secara efektif dan efisien.Sebalik
nya sekolah juga harus menunjang pencapain tujuan atau pemenuhan kebutuhan
masyarakat,khususnya
kebutuhan
pendidikan.Oleh
karena
itu,sekolah
berkewajiban untuk member penerangan tentang tujuan-tujuan,program
program,kebutuhan,serta keadaan masyarakat.Sebaliknya sekolah juga harus
mengetahui dengan jelas apa kebutuhan ,harapan,dan tujuan masyarakat,terutama
terhadap sekolah.Dengan kata lain,antara sekolah dan masyarakat harus dibina
suatu hubungan yang harmonis.
Tujuan Hubungan sekolah dan Masyarakat adalah:
1.Memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan anak
2.Memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan
masyarakat
3.Menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah.

BAB IV
PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA
Buang Suryosubroto. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka
Cipta.
Maman Rahman.1998. Manajemen Kelas. Jakarta : Depdikbud.
Meilina Bustari. 2005. Manajemen Peserta Didik. Yogyakarta : FIP UNY.
Permendiknas Nomor 34 tahun 2006 tentang Pembinaan Prestasi Peserta Didik
yang Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.
Permendiknas Nomor 39 tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan.19
Radno Harsanto.2007. Pengelolaan Kelas yang Dinamis. Yogyakarta : Kanisius.

70

Suharsimi Arikunto. 1986. Pengelolaan Kelas dan Siswa : Sebuah Pendekatan


Evaluatif. Jakarta : Rajawali.
Wiryawan, Sri Anitah dan Wiryawan. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Edisi 1.
Jakarta : Departemen Pendidikan danKebudayaan Universitas
Terbuka.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional.
1)

. Siti Farikhah, Dra, Manajemen Lembaga Pendidikan, Aswaja Pressindo,Yogyakarta,


2015 Hal. 57

2)

. Soekartawi, DR., Monitoring dan Evaluasi Proyek Pendidikan, PT Dunia Pustaka


Jaya, Jakarta; 1995. Hal ; 45-46 [Internet]. Available from:
<
https://amcreative.wordpress.com/pemantauan-kurikulum/> (2 Nopember 2015)

3)

. https://amcreative.wordpress.com/pemantauan-kurikulum/> (2 Nopember 2015)

DAFTAR PUSTAKA
http://rangkumanlengkap1.blogspot.com/2014/10/rangkuman-kurikulum- 2013-untuksd-smp.html ( 23 Oktober 2015)
Soekartawi, DR., Monitoring dan Evaluasi Proyek Pendidikan, PT Dunia Pustaka Jaya,
71

Jakarta; 1995.
https://amcreative.wordpress.com/pemantauan-kurikulum/(2Nop 2015)
Siti Farikhah, Dra, Manajemen Lembaga Pendidikan, Aswaja Pressindo,Yogyakarta, 2015

72