Anda di halaman 1dari 4

ASMA

Asma merupakan penyakit gangguan inflamasi kronis saluran pernapasan


yang dihubungakan dengan hiperresponsif, keterbatasan aliran udara yang reversible
dan gejala pernapasan. Di Amerika kunjungan pasien asma pada pasien berjenis
kelamin perempuan di bagian gawat darurat dan akhirnya memerlukan perawatan
dirumah sakit dua kali lebih banyak daripada pasien pria. Data penelitian
menunjukkan bahwa 40% dari pasien yang dirawat tadi terjadi selama fase
premenstruasi. Di Australia, Kanada, dan Spanyol dilaporkan bahwa kunjungan
pasien dengan asma akut dibagian gawat darurat berkisar antara 1-12%. (2)
Asma juga merupakan penyakit obstruktif yang ditandai inflamasi saluran
napas dan spasme akut otot polos bronkiolus. Kondisi ini menyebabkan produksi
mucus yang berlebihan dan menumpuk, penyumbatan aliran udara, dan penurunan
ventilasi alveolus. (1)
Asma terjadi pada individu tertentu yang berespons secara agresif terhadap
berbagai jenis iritan di jalan napas. Faktor resiko untuk salah satu jenis gangguan
hiper-responsif ini adalah riwayat asma atau alergi dalam keluarga, yang
mengisyaratkan adanya kecenderungan genetik. Pajanan yang berulang atau terusmenerus

terhadap

beberapa

rangsangan

iritan,

kemungkinan

pada

masa

perkembangan juga dapat meningkatkan resiko penyakit ini. Meskipun kebanyakan


kasus asma didiagnosis pada masa kanak-kanak, pada saat dewasa dapat menderita
asma tanpa riwayat penyakit sebelumnya. Stimulasi pada asma awitan dewasa
seringkali terjadi dikaitkan dengan rriwayat alergi yang memburuk. Infeksi
pernapasan atas yang berulang juga dapat memicu asma awitan dewasa seperti akibat
pajanan okupasional terhadap debu di lingkungan kerja. (1)
Gambaran Klinis
Dispnea

Batuk terutama di malam hari.


Pernapasan yang dangkal dan cepat.
Mengi. Biasanya mengi terdengar hanya pada saat ekspirasi, kecuali kondisi
pasien parah.
Peningkatan usaha bernapas ditandai dengan retraksi dada, kondisi
memburuk, serta napas cuping hidung.
Waktu ekspirasi memanjang. (1)
Diagnosis asma akut merapukan kegawatdaruratan medis yang harus segera
didiagnosis dan diobati. Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. (2)
Riwayat Penyakit
Tujuannya untuk menentukan waktu saat timbulnya serangan dan beratnya
gejala, terutama untuk membandingkan dengan eksaserbasi sebelumnya, semua obat
yang digunakan selama ini, riwayat di RS sebelumnya, kunjungan ke gawat darurat,
riwayat eepisode gagal napas sebelumnya, dan gangguan psikiatrik atau psikologis.
(2)
Pemeriksaan Fisis
Perhatian terutama ditujukan kepada keadaan umum pasien. Pasien dengan
kondisi sangat berat akan dudk tegak. Penggunaan otot-otot tambahan untuk
membantu bernapas juga harus menjadi perhatian, sebagai indicator adanya obstruksi
yang

berat. Adanya

retraksi

otot sternocleidomastoideus

dan suprasternal

menunjukkan adanya kelemahan fungsi paru. (2)


Frekwensi pernapasan (RR) > 30x/menit, takikardi > 120x/menit atau pulsus
paradoxus > 12mmHg merupakan tanda vital adanya serangan asma akut berat. Lebih
dari 50% pasien dengan asma akut berat, frekwensi jantungnya berkisar antara 90120x/menit. (2)

Pemeriksaan Laboratorium
1. Pulse Oximetry.
Pengukuran saturasi oksigen dengan pulse oximetry (SpO2) perlu dilakukan
pada seluruh pasien dengan asma akut untuk mengeksklusi hipoksemia.
Pengukuran SpO2 diindikasikan saat kemungkinan pasien jatuh kedalam gagal
napas dan kemudian memerlukan penatalaksanaan yang lebih intensif. Target
pengobatan ditentukan agar SpO2 tettap terjaga.
2. Analisa Gas Darah.
Keputusan untuk dilakukan pemeriksaan AGD jarang diperlukan pada awal
penatalaksanaan. Karena ketepatan dan kegunaan pulse oximetry. Hanya
pasien dengan terapi oksigenasi SpO2 tak membaik 90% perlu dilakukan
pemeriksaan AGD. (2)
Pemeriksaan Radiologi
Foto toraks dilakukan hanya pada pasien dengan tanda dan gejala adanya
pneumothoraks (nyeri dadapleuritik, emfisema subkutis, instabilitas kardiovaskular
atau suara napas yang asimetris), pada pasien yang secara klinis dicurigai adanya
pneumonia atau pasien asma yang setelah 6-12 jam dilakukan pengobatan secara
intensif tetapi tidak berespon terhadap terapi. (2)
Penatalaksanaan
Target pengobatan asma meliputi beberapa hal, diantaranya adalah menjaga
saturasi oksigen arteri tetap adekuat dengan oksigenasi, membebaskan obstruksi
saluran pernapasan dengan pemberian bronchodilator inhalasikerja cepat (2-agonis
dan anti kolinergik), dan mengurangi inflamasi saluran pernapasan serta mencegah
kekambuhan dengan pemberian kortikosteroid sistemik yang lebih awal. (2)

REFERENSI

1. Corwin EJ. buku saku patofisiologi. 3rd ed. Jakarta: EGC; 2009.
2. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S. buku
ajar ilmu penyakit dalam Jilid II. 2nd ed. Jakarta: pusat penerbitan
departemen ilmu penyakit dalam FKUI; 2007.