Anda di halaman 1dari 9

TARI BAPANG SANDUR MANDURO

Posted on 15 September 2010 by satruplosokerep63


TARI BAPANG SANDUR MANDURA
A. LATAR BELAKANG
Tari Bapang bukan merupakan tari lepas, tetapi merupakan bagian dari pertunjukan Sandur yang hanya
ada di desa Manduro kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang. Sandur Manduro adalah sebuah seni
pertunjukan berbentuk teater tradisional yang didalamnya mengandung berbagai ilmu seni, seperti: seni
musik, seni tari, seni rupa, teater dan sastra.
Sandur pernah mengalami masa kejayaan, pada dekade 1970-an. Kesenian ini tidak hanya tampil di
desa Manduro saja, peminatnya meliputi seluruh kecamatan Kabuh bahkan menyebar di kecamatan
sekitarnya. Dari segi frekuensi pementasan, bisa mencapai 26 kali dalam satu bulan, sangat berbeda
jauh dengan kondisi sekarang yang hanya bisa mengadakan pementasan satu atau dua kali dalam satu
tahun. Dari segi organisasi /kelompok kesenian juga mengalami penurunan, yang pada tahun 70-an ada
lima kelompok kesenian sandur, saat ini tinggal satu kelompok yaitu Sandur Gaya Rukun yang
dipimpin oleh Bapak Karlan.
Demikian juga dari segi gerak tari, dari penelitian Setya Yanuartuti (1992:109) untuk tari Bapang masih
dapat mendeskripsikan delapan gerak tari. Namun pada penelitian terakhir yang dilakukan Trinil
Windrowati pada tahun 2006, dan juga yang diamati penulis pada pementasan dalam rangka Pelatihan
Pengembangan Bentuk Penyajian Kesenian Topeng Sandur , yang diselenggarakan oleh Tim
Pengabdian Masyarakat Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya, hanya ditemukan lima
gerak tari.
Tetapi yang lebih memprihatinkan adalah tidak adanya regenerasi. Para generasi muda desa Mandura
tidak ada kesadaran, ketertarikan untuk mengembangkan Sandur yang sebenarnya merupakan kesenian
adi luhur yang perlu dipertahankan keberadaannya. Hal ini tercermin dari pemain Sandur Gaya
Rukun pimpinan Bapak Karlan yang sebagian besar telah berusia lanjut. Bahkan penari klananya
adalah Pak Karlan sendiri yang saat ini sudah berumur lebih dari delapan puluh tahun.
Sebenarnya berbagai usaha telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas
Periwisata Budaya Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Jombang untuk melestarikan Sandur Manduro.
Salah satunya Yaitu dilakukannya pendokumentasian pertunjukan Sandur Manduro dalam rangka
kegiatan Revitalisasi Sandur Manduro yang dilakukan pada tahun 2004.
Usaha yang terbaru dilakukan oleh Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Bahasa dan Seni Universitas
Negeri Surabaya yang bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olah Raga
Kabupaten Jombang untuk melaksanakan kegiatan pelatihan yang diberi judul Pelatihan
Pengembangan Bentuk Penyajian Kesenian Topeng Sandur bagi Seniman di Kabupaten Jombang.
Dari hasil pelatihan itulah, muncul kesadaran/perhatian yang lebih besar dari berbagai pihak, Terutama
dari Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas PARBUPORA, peserta pelatihan, yang didalamnya
termasuk penulis sendiri. Kami semua sadar akan pentingnya Revitalisasi Sandur Manduro . Kami

menyadari sepenuhnya bahwa Sandur Manduro adalah budaya asli Jombang yang harus tetap
dilestarikan. Namun demikian penulis menyadari bahwa hal tersebut tidak mudah. Karena Sandur
Manduro merupakan seni pertunjukan tradisional yang merupakan gabungan dari beberapa seni. Untuk
mengembangkan dan melestarikannya harus melibatkan berbagai seniman, seperti teater, seniman tari,
seni rupa, dan juga sastrawan.
Bagi penulis yang telah lama menggeluti seni tari, tentu lebih tertarik untuk mengembangkan tarinya.
Karena dibidang seni tari ini banyak sekali yang bisa dikembangkan, seperti: tari Klana, Tari Sapen,
Tari Punakawan, Tari Gunungsari, Tari Bapang, Tari Panji, Tari Ayun-ayun Sembadra, Tari Ayun-ayun
Srikandhi, Tari burung, dan masih banyak yang lainnya. Sebagai langkah awal, dengan dukungan Dinas
Pariwisata Budaya Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Jombang penulis mencoba untuk
mengembangkan tari Bapang. Tentu saja pengembangan tari Bapang tersebut dengan tetap
mempertahankan cirri-ciri aslinya.
Harapan penulis karya tari ini tidak hanya jadi konsumsi masyarakat Manduro saja. Agar bisa
berkembang, dan masyarakat Jombang merasa ikut memiliki, maka tari ini harus diperkenalkan pada
seluruh masyarakat Jombang. Menurut penulis jalur yang mudah dilalalui adalah melalui jalur
pendidikan.
1. TARI BAPANG SANDUR MANDURO
Tari Bapang merupakan salah satu jenis tarian dalam pementasan Sandur Manduro. Disamping Bapang
ada tari Klana, Sapen, Punakawan, Gunungsari, Panji, jaranan, burung dan masih banyak lagi yang
lain. Seluruh tarian dalam pertunjukan Sandur Mandura menggunakan topeng. Topeng-topeng tersebut
mempunyai karakteristik yang berbeda. Demikian juga setiap tari akan memiliki karakteristik yang
berbeda pula.
Tari Bapang dalam kesenian Topeng Sandur Manduro adalah sebuah tari yang menggambarkan seorang
tokoh dalam pewayangan yang bernama Dursasana. Hal ini sangat cocok dengan bentuk topengnya
yang bercorak brangasan. Oleh karena itu tidak salah jika ada yang menyebutnya tari Dursasana.
Perlu diketahui bahwa gerak-gerak dalam tari topeng Sandur Manduro belum dapat dibakukan. Karena
itu tidak dapat diberi hitungan yang pasti. Penari-penarinya hanya bergerak secara acak, dan cenderung
hanya menuruti kehendak pengendang. Ragam geraknyapun tidak banyak, sering diulang-ulang
sehingga menjemukan. Faktor inilah yang jadi hambatan dalam peregenerasian.
Hal-hal yang disebutkan di atas itulah yang menjadi pertimbangan penulis untuk ikut dalam usaha
revitalisasi Sandur, khususnya tari Bapang ini. Tari hasil revitalisasi ini mempunyai gerakan yang
sederhana, mempunyai hitungan yang tetap, mudah dipahami, dan dipelajari, dan dapat dijadikan media
pembelajaran bagi generasi muda kita. Dan yang lebih penting lagi penulis berusaha agar karya tari ini
tidak menyimpang dari karakteristik aslinya.
1. PENGGARAPAN TARI BAPANG.
Sebelum menjelaskan Proses Penggaran Tari Bapang, maka perlu penulis jelaskan personil yang
terlibat dalam penggarapan tari bapang ini, diantaranya adalah :
1. Penata Tari

: RIFAI

2. Penari

: RIFAI

3. Penata Iringan : H E R U
Adapun urutan penggarapannya dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Penulis menerima undangan untuk mengikuti pelatihan pada tanggal 23 Agustus 2007,
sekaligus mendapat penjelasan tentang pentingnya revitalisasi Sandur Manduro.
2. Pelatihan dimulai pada tanggal 25 Agustus 2007, langsung terjun ke Desa Manduro Kec.
Kabuh, Kabupaten Jombang. Dengan demikian penulis memahami dengan benar kondisi sosial
budaya masyarakat desa Manduro.
3. Pelatihan dilanjutkan dengan melihat langsung pertunjukan Sandur, pada hari berikutnya.
4. Pelatihan dilanjutkan di Kantor Perbupora hingga penutupan pada tanggal 25 Agustus 2007.
Sesudah pelatihan itulah para seniman di kabupaten Jombang baru sadar betapa berharganya Sandur.
Sandur merupakan kekayaan budaya kabupaten Jombang yang hampir mendekati kepunahannya, maka
harus segera ditangani, dipupuk, dan dikembangkan. Oleh karena itu setelah pelatihan tersebut , penulis
merasa harus melakukan sesuatu. Tentu saja yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki penulis
yaitu seni tari.
Kegiatan ini dimulai dengan menginventarisasi gerak-gerak tari Bapang, melalui dokumen (video)
yang dimiliki oleh Kantor Perbupora. Dari kegiatan ini dapat diperoleh 5 gerak tari yang bisa
digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan tari ini. Dan setelah melalui proses penggarapan yang
cukup lama, lebih kurang 20 hari, Alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan tari tersebut. Dan
sebagai proses terakhir yaitu pendokumentasian, dilaksanakan pada tanggal 22 September 2007, yang
dilaksanakan di pelataran Candi Ngrimbi, di Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang.
D. PEMBIAYAAN
Pada awalnya memang kegiatan ini merupakan proyek bersama, antara Tim Pengabdian Masyarakat
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya dan Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan
Olah Raga Kabupaten Jombang. Tujuannya untuk melaksanakan kegiatan pelatihan bagi seniman di
kabupaten Jombang, dengan demikian biaya sepenuhnya ditanggung oleh Tim dari Jombang dan Dina
PARBUPORA Kabupaten Jombang.
Tetapi Setelah kegiatan pelatihan maka untuk pengembangannya sudah merupakan kegiatan
perorangan. Untuk itu dari kegiatan penciptaan gerak tari, hingga sampai ke pendokumentasian semua
dibiayai oleh peserta sendiri. Perlu diketahui disamping penulis, ada empat teman yang lain yang
melakukan kegiatan serupa namun tari yang diangkat/direvitalisasi berbeda. Oleh karena itu
pendomentasiannya dilakukan secara bersama-sama dan ditanggung bersama-sama.
E. DESKRIPSI GERAK.
Adapun deskripsi geraknya dapat disampaikan sebagai berikut:

1.

NAMA GERAK
Jalan Mundur

HITUNGAN URAIAN GERAK


12 hitungan
18
Kaki tanjak, tangan kiri menyiku di kiri
14
pundhak, pandangan ke tangan kiri, tangan
kakan pegang sampur di pinggang.

Iket

Gebesan

4 hitungan

8 hitungan

58

14
58

Kedua kaki lurus, tangan kanan di atas


kepala, telapak tangan menghadap keluar,
tangan kiri lurus pundak ke kiri.

Kaki tanjak kembali, tangan kiri menyiku di


kiri dada, tangan kanan diluruskan setinggi
dada sambil mengepal.
Kaki tanjak condong ke kanan, tangan kanan
menyiku lurus pundak kanan, tangan kiri
memyiku sejajar dengan badan, kepala
digerakkan ke kanan kiri, diakhiri dengan
buang sampur.

Ulat-ulat

8 hitungan

14
58

Menyangga langit 8 hitungan

12
34

Kaki melangkah mundur diikuti pandangan


ke bawah atas.
Kaki gejuk diikuti kedua tangan menepuk
dada.

Gerakan diatas diulang dengan arah dan


gerakan sebaliknya.
Kaki tanjak, kepala menoleh ke kanan,
tangan kanan ulat-ulat, tangan kiri ditekuk
dengan telapak tangan menghadap ke
kepala / menyangga leher.
Gerakan diulang dengan arah sebaliknya.
Kaki tanjak, kaki kanan digerakkan dari
samping ke belakang, tangan kanan ditekuk
ke atas dan telapak tangan menghadap ke
atas, tangan kiri lurus bahu, telapak tangan

NAMA GERAK

HITUNGAN URAIAN GERAK


kiri menghadap ke samping kiri.
56
Kaki tanjak, yang kiri diderakkan ke
belakang, tangan kanan ditekuk ke atas,
78
tangan kiri lurus (kebalikan no 1 2)

Mengulang gerakan 1 2.
Berputar pada hitungan 8 duduk
jongkok kaki kanan berada di depan.
Kedua tangan digerakkan bersamaan ke
bawah, kemudian ke atas.
o

Bumi langit

16 hitungan

12
34

Posisi kedua tangan yang di atas ditarik


bersamaan ke bawah hingga sejajar dengan
badan dengan telapak tangan menghadap
kebelakang.

Posisi kedua kaki dibalik, gerakan tangan


sama dengan nomor 1 2.

Sama dengan nomor 3 4

Gerakan sama dengan nomor 1-6

Kedua tangan ditarik dari atas kebawah


sambil berdiri kembali .
Berjalan ke kanan dan ke kiri sambil
menggerakkan kedua tangan ke bawah dan
ke atas secara bersamaan.

56
78
16
78

Jalan Walikbumi

8 hitungan

14
58

Gerakan tangan sama dengan nomor


1-4 hanya posisi badan tetap
menghadap ke depan.
Kaki tanjak, badan menghadap ke depan,
kedua tangan menepuk dada, kemudian
menariknya kembali dengan cepat.
o

Tepuk dada,
tebahan

16 hitungan

12

34
56

Kaki condong ke kiri, kepala menghadap ke


kiri, dua tangan direntangkan lurus pundhak
dengan telapak tangan menghadap ke
belakang.

Tangan kanan digerakkan seperti memukul


bumi

Tangan kiri digerakkan seperti memukul

78
18

NAMA GERAK

HITUNGAN URAIAN GERAK


bumi.

9
10

Iket
Ukel rekma

4 hitungan
16 hitungan

14
1 8
1 8

11

Lampa tiga

16 hitungan

18
18

12

Jalan gejuk mundur 16 hitungan

18
18

13

Jalan plengosan

38 hitungan 1-2

34
56
78

Sama dengan gerakan 1-8 di atas dengan


arah dan posisi yang berbeda.
Berjalan ke kanan tiga langkah, kedua tangan
diayun-ayunkan, kembali ke kiri tiga langkah
tangan sama, berjalan lagi tiga langkah
kanan, berhenti dengan posisi tangan kiri
lurus ke depan, tangan kanan di atas kepala
dengan telapak menghadap ke atas,
kemudian pundhak digerakkan dua kali.
Diulang dengan arah yang berbeda, pada
hitungan 8 kedua kaki rapat, ditekuk, kedua
tangan di depan seperti orang
mempersilahkan.
Kepala gedhegan, pada hitungan ke 2, 4, 6, 8,
dan pada hitungan yang sama kaki gejug.
Gerakan kepala tetap, gejukan rangkap, pada
hitungan 7-8 tanjak.
Kaki kiri melangkah ke depan, tangan kiri
disamping menyiku, tangan kanan lurus,
telapak sejajar dengan kepala dengan telapak
tangan menghadap ke atas, pada hitungan
kedua kepala dan kedua tangan mlengos
bersama.

Gerakan sama dengan arah dan gerakan yang


berbeda

Mengulang gerakan 1-2

Badan tegak kedua tangan disamping badan


lurus

Jalan mundur, tangan bergerak santai

Kedua mengulang gerakan di atas, pada

18
18

Mngulang gerakan 1-8 di atas


Sama seperti nomor 2
Kaki tanjak, pandangan ke kanan, kedua
tangan melakukan gerakan seperti mengelus
rambut di samping kiri, diakhiri dengan
lempar sampur.

NAMA GERAK
14

Jalan ngundang

HITUNGAN URAIAN GERAK


hitungan delapan terkhir tanjak
12 hitungan
14
Melangkah ke kanan dua kali, kedua tangan
disamping kanan bawah seperti orang
58
ngundang
14

15
16

Iket
4 hitungan
Ongkek bahu-ukel 8 hitungan
rekma

58
12
34

Melangkah ke kiri dua kali, kedua tangan di


atas kiri seperti mendorong

Mengulang gerakan di atas


Sama dengan gerakan no 2
Gerakan tangan seperti ngusap rambut di
bahu kiri, sambil ongkek bahu.

Tangan digerakkan seperti mengusap rambut


di bahu kanan, sambil ongkek bahu.

Mengulang gerakan no 1-2

Lempar sampur dengan dua tangan.


Kaki tanjak, tangan kiri menopang sikut
tangan kanan, tangan kanan ukel karno
sambil kaki melangkah mundur, bergantian

56
78
17

Ukel karno

8 hitungan

16
78

18

Sesorak

28 hitungan 1 4

58
14
58

19

Tangkepan

8 hitungan

12
34
56
78

Buang sampur
Kedua tangan di depan di depan dada seperti
berkaca, bahu digerakkan ke kanan-kiri 2x,
mundur satu langkah, kaki kanan di angkat
menyiku, kedua tangan direntangkan, kepala
digeleng-gelengkan.

Gerakan sama arah ke kiri.

Gerakan tangan dan bahu sama sama seperti


gerakan 1-4 di atas, badan lurus ke depan,
tetapi kedua kaki tanjak, waktu kedua tangan
direntangkan, kepala dan badan condong ke
depan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Mengulang gerakan 1- 4 di atas.


Kaki kanan melangkah ke pojok kanan, dua
tangan seperti merangkul ke arah atas, kaki
kanan maju lagi selangkah, kedua tangan
direntangkan agak ke bawah, telapak tangan
menghadap kebelakang.

NAMA GERAK

20

HITUNGAN URAIAN GERAK


Gerakan sama hanya arah berbeda.

Tepuk dada tebahan 8 hitungan

12

Mengulang gerakan 1-2

Kedua tangan buang sampur, kemudian


tanjak.
Kaki tanjak, badan menghadap ke depan,
kedua tangan di depan dada, kemudian
digerakkan bersama seperti orang mau
menepuk dada. Kemudian kaki tanjak
condong ke kiri, pandangan ke kiri, kedua
tangan dibuka lurus dengan bahu, dengan
telapak tangan menghadap ke belakang.

34
58

21
22

Iket
Jalan masuk

4 hitungan

Kembali tanjak tengah, badan tegak lurus


menghadap ke depan, tangan kiri di
pinggang, tangan kanan digerakkan dari atas
ke bawah seperti orang memukul tanah
disertai kaki kanan gedruk, pandangan ke
samping kanan. Dilanjutkan dengan posisi
kaki sama, tangan kanan di pinggang dan
tangan kiri digerakkan seperti orang
memukul tana disertai kaki gedruk.

Mengulang gerakan 1 4 di atas.


Mengulang gerakan nomor 2
Jalan kicat, tangan kiri lurus sejajar dengan
kepala, tangan kanan menyiku sejajar dengan
bahu.

18
18

Badan berputar, kedua kaki tanjak sambil


trisik masuk, kedua tangan menyiku, dan
kedua telapak tangan dikepalkan.

D. PENUTUP
Demikian deskripsi singkat tentang tari Bapang yang merupakan sebagian karya tari hasil dari
revitalisasi Seni Sandur yang ada di desa Manduro Kecamatan Kabuh Jombang. Kritik dan Saran selalu
diharapkan demi kesempurnaan karya ini di kelak kemudian hari. Dan penulis berharap mudahmudahan karya ini ada guna dan manfaatnya, khususnya bagi perkembangan seni tari di kabupaten
Jombang. Dan sebagai kelengkapan bersamaan dengan deskripsi tari ini disertakan pula kaset VCDnya.