Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai mahluk yang diciptakan paling sempurna, manusia memiliki
kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap ancaman dari luar dirinya. Salah
satu ancaman terhadap manusia adalah penyakit, terutama penyakit infeksi yang
dibawa oleh berbagai macam mikroba seperti virus, bakteri, parasit, jamur. Tubuh
mempunyai cara dan alat untuk mengatasi penyakit sampai batas tertentu. Di dalam
tubuh manusia terdapat suatu sistem sistem yang terdiri dari sel-sel serta produk
zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir
untuk melawan benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racun yang masuk
ke dalam tubuh yang disebut sistem imun atau imunitas. Pada hakikatnya imunitas
dapat dimiliki secara pasif maupun aktif dan dapat diperoleh secara alami maupun
buatan.
Imunoprofilaksis adalah pencegahan terjadinya penyakit/infeksi dengan
memproduksi sistem imun atau meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu
antigen baik secara aktif maupun secara pasif, sehingga kelak jika ia terpajan pada
antigen yang serupa tidak tejadi pnyakit.
Mengingat pentingnya imunoprofilaksis baik itu pada bayi maupun dewasa
dalam pencegahan terjadinya penyakit yang pada akhirnya akan menurunkan angka
morbiditas dan mortalitas di Indonesia, kami menganggab perlu dibuat makalah
tentang imunoprofilaksis dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumasan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa definisi imunoprofilaksis dan fungsi imunoprofilaksis?
2. Apa yang dimaksud dengan imunisasi?, apa manfaat imunisasi?, bagaimana
respon imun pada imunisasi? Apa saja jenis-jenis imunisasi?
3. Apa definisi vaksinasi dan vaksin?, apa saja jenis-jenis vaksin? Hal-hal apa
saja yang harus diperhatikan pada vaksinasi? Apa saja contoh vaksin?

1.3 Tujuan
1

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisannya sebagai berikut:


1. Untuk menjelaskan definisi imunoprofilaksis dan fungsi imunoprofilaksis?
2. Untuk menjelaskan yang dimaksud dengan imunisasi, manfaat imunisasi,
respon imun pada imunisasi dan jenis-jenis imunisasi.
3. Untuk menjelaskan definisi vaksinasi dan vaksin, jenis-jenis vaksin, hal-hal
yang harus diperhatikan pada vaksinasi dan contoh-contoh vaksin.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Imunoprofilaksis


Imunofilaksis adalah pencegahan penyakit/infeksi terhadap antibodi spesifik.
Selain itu juga, merupakan pencegahan penyakit melalui sistem imun dengan
tindakan mendapatkan kekebalan resistensi relatif terhadap infeksi mikroorganisme
yang patogen serta menimbulkan efek positif untuk pertahanan tubuh dan efek
negatif menimbulkan reaksi hipersensivitas.
2.2 Fungsi Imunopropfilaksis
Fungsi dari imunoprofilaksis adalah untuk meningkatkan sistem kekebalan
tubuh terhadap penyakit, kekebalan terhadap

penyakit dapat dipacu dengan

pemberian imunostimulan termasuk vaksinasi dan vitamin dan dapat mengurangi


penularan suatu penyakit.
2.3 Imunisasi
2.3.1 Pengertian Imunisasi
Imunisasi merupakan kemajuan besar dalam usaha imunoprofilaksis.
Imunisasi merupakan upaya pencegahan terhadap penyakit tertentu pada diri
seseorang dengan pemberian vaksin. Imunisasi menggambarkan proses yang
menginduksi imunitas secara artificial dengan pemberian bahan antigenik seperti
agen imunobiologis. Imunisasi dapat dilakukan secara aktif ataupun pasif. Pada
imunisasi aktif, respons imun terjadi setelah seseorang terpapar dengan antigen.
Imunisasi pasif terjadi bila seseorang menerima antibody atau produk sel lainnya
dari orang lain yang telah mendapat imunisasi aktif.
2.3.2

Manfaat Imunisasi
Manfaat utama dari imunisasi adalah menurunkan angka kejadian penyakit,

kecacatan, maupun kematian akibat penyakit-penyakit infeksi yang dapat dicegah


dengan imunisasi (vaccine-preventable deases). Imunisasi tidak hanya memberikan
perlindungan pada individu melainkan juga pada komunitas. Terutama untuk
penyakit yang ditularkan melalui manusia. Jika komunitas memiliki angka cakupan
imunisasi yang tinggi, komunitas tersebut memiliki imunitas yang tinggi pula,
sehingga kemungkinan terjadinya penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
rendah.
Imunisasi juga bermanfaat mencegah epidemi pada generasi yang akan
datang. Caupan imunisasi yang rendah pada generasi sekarang dapat menyebabkan

penyakit semakin meluas pada generasi yang akan datang, bahkan dpat
menyebabkan epidemi. Sebaliknya jika cakupan imunisasi tinggi, penyakit akan
dapat dihilangkan atau dieradikasi dari dunia. Hal ini sudah dibuktikan denagn
teradikasinya penyakit cacar.
Selain itu, imunisasi dapat menghemat biaya kesehatan. Dengan menurunnya
angka kejadian penyakit, biaya kesehatan yang digunakan untuk mengobati
penyakit-penyakit tersebut pun akan berkurang.
2.3.3

Respon Imun Pada Imunisasi


Dilihat dari berapa kali pajanan antigen maka dapat dikenal dua macam

respons imun, yaitu respons imun primer dan respons imun sekunder.
Respons imun primer adalah respons imun yang terjadi pada pajanan
pertama kalinya dengan antigen. Antibodi yang terbentuk pada respons imun primer
kebanyakan adalah IgM dengan titer yang lebih rendah dibanding dengan respons
imun sekunder, demikian pula daya afinitasnya. Waktu antara antigen masuk
sampai dengan timbul antibodi (lag phase) lebih lama bila dibanding dengan
respons imun sekunder.
Pada respons imun sekunder, antibodi yang dibentuk kebanyakan adalah IgG,
dengan titer dan afinitas yang lebih tinggi, serta fase lag lebih pendek dibanding
respons imun primer. Hal ini disebabkan sel memori yang terbentuk pada respons
imun primer akan cepat mengalami transformasi blast, proliferasi, dan diferensiasi
menjadi sel plasma yang menghasilkan antibodi. Demikian pula dengan imunitas
selular, sel limfosit T akan lebih cepat mengalami transformasi blast dan
berdiferensiasi menjadi sel T aktif sehingga lebih banyak terbentuk sel efektor dan
sel memori.
Pada imunisasi, respons imun sekunder inilah yang diharapkan akan memberi
respons adekuat bila terpajan pada antigen yang serupa kelak. Untuk mendapatkan
titer antibodi yang cukup tinggi dan mencapai nilai protektif, sifat respons imun
sekunder ini diterapkan dengan memberikan vaksinasi berulang beberapa kali.

Gambar 3. Respon Imun


2.3.4

Jenis-jenis Imunisasi
Pada dasarnya, ada 2 jenis imunisasi, yaitu:
1. Imunisasi Aktif
Imunisasi aktif adalah pemberian satu atau lebih antigen agen yang
infeksius pada seorang individu untuk merangsang sistem imun untuk
memproduksi antibodi yang akan mencegah infeksi. Antibodi dapat timbul
secara alami, tetapi paling sering sengaja diberikan. Antibodi dapat
memberi perlindungan seumur hidup atau perlindungan untuk sementara

waktu sehingga beberapa vaksin perlu diulangi pemberiannya pada


interval tertentu.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam imunisasi aktif, yaitu:
1. Perlu ada paparan (exposure) antigen
2. Dapat alami (infeksi) atau buatan (vaksin)
3. Perlu waktu untuk pembentukan
4. Terbentuk kekebalan untuk jangka waktu yang lama terhadap infeksi
mendatang.

Gambar 1. Proses Imunisasi Aktif

Imunisasi aktif terbagi menjadi dua macam, yaitu:


1. Imunisasi Aktif Alamiah
Imunisasi aktif alamiah adalah dimana kekbalan akan dibuat sendiri
oleh tubuh setelah mengalami atau sembuh dari suatu penyakit,
misalnya campak, jika perna sakit campak, maka tidak akan terserang
kembali.
2. Imunisasi Aktif Buatan
Imunisasi aktif buatan adalah dimana kekebalan dibuat oleh tubuh
setelah mendapat vaksin. Berikut adalah beberapa imunisasi aktif yang
dianjurkan, diantaranya:

2. Imunisasi Pasif
Imunisasi pasif adalah adalah pemindahan antibodi yang telah
dibentuk yang dihasilkan oleh host lain. Antibodi ini dapat timbul secara
alami atau sengaja diberikan. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam imunisasi pasif, yaitu:
1. Tak perlu ada paparan (exposure) antigen
2. Kekebalan humoral (antibodi)
3. Dapat bersifat alami (maternal melalui plasenta dan kolostrum)
4. Dapat bersifat perolehan/buatan (antiserum dan imunoglobulin)

Gambar 2. Proses Imunisasi Pasif

Imunisasi Pasif dibedakan menjadi dua macam yaitu imunisasi pasif


alamiah atau bawaan dan imunisasi pasif buatan.
Imunitas pasif alamiah
7

1. Imunitas maternal melalui plasenta


Adanya antibody dalam darah ibu merupakan proteksi pasif terhadap
fetus. IgG dapat berfungsi antitoksik, antivirus dan antibacterial
terhadap H. influenzae tipe B atau S. agalactiae tipe B. imunisasi aktif
dari ibu akan memberikan proteksi pasif kepada fetus dan bayi.
2. Imunitas maternal melalui kolostrum
Air susus ibu (ASI) mengandung berbagai komponen system imun.
Beberapa diantaranya berupa enchancement growth factor untuk
bakteri yang diperlukan dalam usus atau factor yang justru dapat
menghambat

tumbuhnya

kuman

tertentu

(lisizim,

laktoferin,

interferon, makrofag, sel T, sel B, granulosit). Antibody ditemukan


dalam ASI dan kadarnya lebih tinggi dalam kolostrum (ASI pertama
segera setelah partus). Proteksi antibody dalam kelenjar susu
tergantung atas antigen yang masuk kedalam usus ibu dan gerakan sel
yang dirangsang antigen dari lamina propria usus ke payudara
( system entero-payudara). Jadi antibody terhadap m,ikroorganisme
yang memenpati usus ibu dapat ditemukan dalam kolostrum sehimgga
selanjutnya bayi mempunyai proteksi terhadap mikroorganisme yang
masuk saluran cerna. Adanya antibody terhadap enteropatogen (E.coli,
S.tiphy murium, shigella, virus folio, Coscakie dan Echo) dalam ASI
telah dibuktikan. Antibody terhadap pathogen nonalimentari seperti
antitoksin tetanus, difteri dan hemolisisn antistreptococ telah pula
ditemukan pada kolostrum. Limfosit yang tuberculin sensitive dapat
juga ditransfer ke bayi melalui kolostrum, tetapi peranan sel ini dalam
transfer CMI belum diketahui.
Imunisasi Pasif Buatan
Imunisasi pasif buatan dilakukan dengan memberikan imunoglobulin dan
antiserum yang berasal dari plasma donor. Pemberian imunisasi pasif
buatan

hanya

akan

memberikan

kekebalan

sementara

karena

imunoglobulin yang diberikan akan dimetabolisme oleh tubuh. Waktu


paruh IgG adalah 28 hari, sedangkan imunoglobulin yang lain (IgM, IgA,
IgE, IgD) memiliki waktu paruh yang lebih pendek. Oleh karena itu

imunisasi rutin yang diberikan pada anak adalah imunisasi aktif, yaitu
vaksinasi.
2.4 Vaksinasi
2.4.1 Definisi Vaksinasi dan Vaksin
Vaksinasi merupakan imunisasi aktif, ialah suatu tindakan yang dengan
sengaja memberikan paparan antigen dari suatu patogen yang akan
menstimulasi sistem imun dan menimbulkan kekebalan sehingga nantinya
seseorang yang telah mendapatkan vaksinasi tidak akan sakit jika terpajan
oleh antegn yang serupa. Antigen yang diberikan dalam vaksinasi dibuat
sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan sakit, namun dapat
memproduksi limfosit yang peka, antibody maupun sel memori.
Vaksin merupakan suatu suspensi mikroorganisme hidup yang
dilemahkan atau mati atau bagian antigenik agen yang diberikan pada hospes
potensial untuk menginduksi imunitas dan mencegah terjadinya penyakit.
2.4.2

Jenis-jenis Vaksin
Beberapa jenis vaksin dibedakan berdasarkan proses produksinya, antara lain:
1. Vaksin hidup (Live Attenuated Vaccine)
Vaksin terdiri dari kuman atau virus yang dilemahkan, masih
antigenik namun tidak patogenik. Vaksin hidup dibuat dari virus atau
bakteri liar (wild) penyebab penyakit. Virus atau bakteri liar ini
dilemahkan di laboratorium, biasanya dengan pembiakan berulang-ulang.
Contohnya adalah virus polio oral. Oleh karena vaksin diberikan sesuai
infeksi alamiah (oral), virus dalam vaksin akan hidup dan berkembang
biak di epitel saluran cerna, sehingga akan memberikan kekebalan lokal.
Sekresi IgA lokal yang ditingkatkan akan mencegah virus liar yang masuk
ke dalam sel tubuh.
Vaksin hidup yang tersedia: berasal dari virus hidup yaitu vaksin
campak, gondongan (parotitis), rubella, polio, rotavirus, demam kuning
(yellow fever). Berasal dari bakteri yaitu vaksin BCG dan demam tifoid.
2. Vaksin mati (Killed vaccine/ Inactivated vaccine)

Vaksin mati tidak jelas patogenik dan tidak berkembang biak dalam
tubuh.

Oleh karena itu, diperlukan pemberian beberapa kali. Vaksin

inactivated dihasilkan dengan cara membiakkan bakteri atau virus dalam


media pembiakan (persemaian), kemudian dibuat tidak aktif (inactivated)
dengan penanaman bahan kimia (biasanya formalin). Untuk vaksin
komponen, organisme tersebut dibuat murni dan hanya komponenkomponennya

yang

dimasukkan

dalam

vaksin

(misalnya

kapsul

polisakarida dari kuman pneumokokus). Vaksin inactivated tidak hidup


dan tidak dapat tumbuh, maka seluruh dosis antigen dimasukkan dalam
suntikan. Vaksin ini selalu membutuhkan dosis multipel, pada dasarnya
dosis pertama tidak menghasilkan imunitas protektif, tetapi hanya memacu
atau menyiapkan sistem imun.
3. Rekombinan
Susunan vaksin ini (misal hepatitis B) memerlukan epitop organisme
yang patogen. Sintesis dari antigen vaksin tersebut melalui isolasi dan
penentuan kode gen epitop bagi sel penerima vaksin. Terdapat tiga jenis
vaksin rekombinan yang saat ini telah tersedia:
a) Vaksin hepatitis B dihasilkan dengan cara memasukkan suatu
segmen gen virus hepatitis B ke dalam gen sel ragi.
b) Vaksin tifoid (Ty21a) adalah bakteri salmonella typhi yang secara
genetik diubah sehingga tidak menyebabkan sakit.
c) Tiga dari empat virus yang berada di dalam vaksin rotavirus hidup
adalah

rotavirus

kera

rhesus

yang

diubah

secara

genetik

menghasilkan antigen rotavirus manusia apabila mereka mengalami


replikasi.
4. Toksoid atau anatoksin
Toksoid atau anatoksin adalah suatu toksin yang telah diubah
strukturnya, sehingga tidak toksik lagi. Sifat antigennya tidak dihilangkan,
yakni kemampuannya untuk menstimulasi pembentukan antibodi. Bahan
bersifat imunogenik yang dibuat dari toksin kuman. Pemanasan dan
penambahan formalin biasanya digunakandalam proses pembuatannya.
Hasil pembuatan bahan toksoid yang jadi disebut sebagai natural fluid
plain toxoid dan merangsang terbentuknya antibodi antitoksin. Imunisasi

10

bakteriil toksoid efektif selama satu tahun. Bahan ajuvan digunakan untuk
merperlama rangsangan antigenik dan meningkatkan imunogenesitasnya.
Contohnya Vaksin Difteri; Vaksin DV; Vaksin DT dan Vaksin DPT.
5. Antitoksin
Antitoksin adalah suatu jenis antibodi, yang dapat menetralkan sifat
beracun suatu toksin tertentu (biasanya eksotoksin kuman), in vitro
maupun in vivo, tanpa dapat mempengaruhi organisme yang memproduksi
toksin itu.
Antitoksin dibentuk oleh tubuh sebagai reaksi terhadap masuuknya
suatu toksin, yang bekerja sebagai antigen. Bila toksin tertentu, yang telah
diencerkan, disuntukan ke dalam tubuh hewan, maka terjadinya imunitas
aktif. Setelah bebrapa waktu, serum hewan tersebut yang sudah
mengandung antitoksin, ditampung dan dapat digunakan untuk pengobatan
atau untuk memberikan kekebalan pasif terhadap toksin.
6. Vaksin Plasma DNA (Plasmid DNA Vaccines)
Vaksin ini berdasarkan isolasi DNA mikroba yang mengandun kode
antigen yang patogen dan saat ini sedang dalam perkembangan penelitian.
Hasil akhir penelitian pada binatang percobaan menunjukkan bahwa
vaksin DNA (virus dan bakteri) merangsang respon humoral dan seluar
yang cukup kuat, sedangkan penelitian klinis pada manusia saatini sedang
dilakukan.
2.4.3

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada vaksinasi


1. Tempat pemberian vaksin
Rute parenteral (ID<,SK,IM) biasanya dilakukan pada lengan daerah
deltoid. Vaksin hepatitis yang diberikan pada lengan terbukti memberikan
respons imun yang baik dibandingkan dengan pemberian intragluteal.
Beberapa vaksin memberkan

respons yang lebih baik bila diberikan

mlalui saluran napas disbanding dengan perenteral (seperti virus campak


hidup) tetapi pemberian tersebut belum dilakukan secara rutin.
2. Imunitas mukosa

11

Imunitas mukosa yaitu proteksi terhadap infeksi epitel mukosa yang


sebagian besar tergantung dari produksi dan sekresi IgA. Hal ini terutama
berlaku untuk patogaen yang hidup di permukaan mukosa atau yang
menembus mukosa sebagai pertahanan tubuh. Imunitas mukosa timbul bila
pathogen berpapasan dengan system imun mukosa. Oleh karena itu vaksin
yang diatenuasikan yang diberikan oral atau intranasal, biasanya lebih
efektif dalam menimbulkan imunitas setempat dan relevan disbanding
dengan pemberian parenteral.

3. Imunitas humoral
Imunitas humoral ditentukan oleh adanya antibody dalam darah dan
cairan jaringan terutama IgG. Antibodi serum aktif terhadap patogen yang
masuk darah misalnya dalam stadium viremia/bakteriemi. Dengan
demikian antibidi dapat mencegah patogen sampai di alat sasaran dan
menimbulkan penyakit. IgG juga penting pada proteksi terhadap toksin
dan bisa.
4. Sistem efektor
Sistem efektor ialah respons imun yanag dapat membatasi
penyebaran infeksi atau mengeliminir patogen. Hal tersebut ditentukan
oleh tempat patogen, intra- atau ekstraseluler. Untuk membunuh virus
intraseluler dibutuhkan sel T CD8+. Untuk merangsang imunitas tersebut
dibutuhkan virus hidup yang diatenuasikan, dimana virus dipresentasikan
oleh MHC kelas I.
Sel CD4+ diperlukan untuk mengontrol pathogen yang hidup dalam
makrofag. Dalam hal ini vaksin yang dibutuhkan harus dapat merangsang
imunitas seluler.
5. Lama proteksi
Lama proteksi sesudah vaksinasi bervariasi yang tergantung dari
pathogen dan jenis vaksin. Imunitas terhadap toksin tetanus yang terutama
tergantung dari IgG dan sel B yang memproduksinya, dapat berlangsung
10 tahun atau lebioh. Sebaliknya, imunitas terhadap kolera tergantung atas

12

IgA dan respons imun yang spesifik sel T, melemah setelah 3-6 bulan.
Imunitas juga tergantung dari tempat infeksi dan jenis respons imun yang
efektif terhadapnya.
6. Bahaya-bahaya vaksinasi
Ada beberapa bahaya yang berhibungan dengan pemberian vaksin.
Vaksin yang dibuat dari virus yang diatenuasikan (campak, mumps,
rubella, polio oral, BCG) dapat menimbulkan penyakit progressif pada
penderita yang immunocompromised atau pada penderita yang mendapat
pengobatan steroid. Dalam hal-hal tertentu virus yang diatenuasikan dapt
berubah menjadi virus yang virulen dan menimbulkan paralise (polio).
Atas dasar ini banyak orang lebih menyukai pemberian virus amti
parenteral.
Virus yang dietenuasikan hendaknya tidak diberikan kepada wanita
yang mengandung oleh karena bahaya terhadap fetus. Vaksinasi terhadap
cacar sudah tidak dilakukan lagi oleh karena penyakit telah dapat dibasmi,
kecuali pada beberapa golongan masyarakat tertentu seperti angggota
tentara.
Beberapa

vaksin

mengandung

bahan

pengawet

seperti

organomercuric thimerosal (merthiolate) atau antibiotic (neomycin atau


streptomycin). Maka pembereinnya tidak dianjurkan pada mereka yang
alergik terhadap obat tersebut.
7. Keadaan khusus
Imunisasi yang protektif dapat dilakukan pada keadaan tertentu
dengan bahaya misalnya fetus dari ibu hamil dengan rubea bahaya infeksi
pada perjalanan turis dan bahaya dari lingkungan kerja.
a) Imunisasi terhadap rubella
Kepada wanita yang seronegatif perlu diberikan imunisasi
sebelum pubertas dengan virus yang diatenuasikan. Hal tersebut
mengingan rubella dapat menimbulkan malformasi pada fetus . guruguru wanita, perawat dan dokter rumah sakit anak dapat terpajan
dengan rubella. Juga staf para-medis yang bekerja diklinik antenatal
dapat terinfeksi dan menularkannya kepada ibu-ibu hamil muda.
Kepada mereka yang seronegatif perlu diberikan vaksinasi. Vaksin

13

tidak boleh diberikan kepada wanita yang belum mengandung,


dianjurkan untuk tidak hamil dahulu selama 2 bulan.
b. Imunisasi pada turis
Turis yang terpajan dengan bahaya infeksi perlu mengetahui
peraturan-peraturan nasional dan internasional. Vaksinasi trehadap
yellow fever dan kolera diperlukan untuk mereka yang akan
mengunjungi Negara dengan endemik atau epidemik penyakit
tersebut.

Perlu

diketahui

bahwa

penyakit-penyakit

seperti

poliomielitis, difteri, tetanus atau tuberkolosis masih merupakan


penyakit penting di berbagai Negara yang sedan g berkembang.
Sertifikat internasional untuk yellow fever berlaku untuk 10
tahun dan mulai berlaku 10 hari sesudah tanggal vaksinasi.
Sebaliknya sertifikat vaksinasi kolera hanya berlaku untuk 6 bulan
yang mulai berlaku 6 hari setelah vaksinasi primer.semua anak yang
tinggal di Negara tropik handaknya divaksinasi terhadap campak.
c. Karyawan dengan resiko
Imunisasi terhadap berbagai infeksi yang disebut diatas dan
juga terhadap hepatitis B, Q fever, pes, tularemia dan tifoid terutama
hendaknya diberikan kepada karyawan laboratorium dan lingkungan
lainnya dengan resiko. Mengingat vaksinasi terhadap cacqar telah
dapat meng-readikasi penyakit tersebut , vaksinasi tersebut menurut
WHO sudah tidak diperlukan lagi.
Titer tinggi untuk immunoglobulin hepatitis B dapat diperoleh
untuk memberikan proteksi pasif sementara pada karyawan klinik
dan laboratorium yang mendapat luka kulit yang

berhubungan

dengan bahaya transmisi hepatits B. imunisasi profilaksis dapat


dilakukan dengan antigen sintetis atau yang diperoleh dengan teknin
rekombinan DNA.
Vaksin anthrax

dianjurkan kepada mereka yang bekerja

dengan kulit dan tulang binatang. Vaksinasi serupa diberikan


terhadap brucellosis dan leptospirosis meskipun nilai proteksinya
terhadap kedua penyakit yang akhir belum terbukti.

14

2.4.4

Contoh Vaksin
1. Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerine), untuk pemberian kekebalan
aktif terhadap tuberkulosa.
2. Vaksin DPT (Difteri Pertusis Tetanus), untuk pemberian kekebalan secara
simultan terhadap difteri, pertusis dan tetanus.
3. Vaksin TT (Tetanus Toksoid), untuk pemberian kekebalan aktif terhadap
tetanus.
4. Vaksin DT (Difteri dan Tetanus), untuk pemberian kekebalan simultan
terhadap difteri dan tetanus.
5. Vaksin Polio (Oral Polio Vaccine), untuk pemberian kekebalan aktif
terhadap poliomyelitis.
6. Vaksin Campak, untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit
campak.
7. Vaksin Hepatitis B, untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi
yang disebabkan oleh virus hepatitis B.
8. Vaksin DPT/HB, untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit
difteri, tetanus, pertusis dan hepatitis B

BAB III
KESIMPULAN
Imunoprofilaksis merupakan pencegahan penyakit/infeksi terhadap antibodi
spesifik. Selain itu juga, merupakan pencegahan penyakit melalui sistem imun dengan
tindakan mendapatkan kekebalan resistensi relatif terhadap infeksi mikroorganisme
yang patogen serta menimbulkan efek positif untuk pertahanan tubuh dan efek negatif
menimbulkan reaksi hipersensivitas. Fungsi dari imunoprofilaksis itu sendiri adalah
meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit infeksi.
Imunisasi menggambarkan proses yang menginduksi imunitas secara artificial
dengan pemberian bahan antigenik seperti agen imunobiologis. Imunisasi dapat
15

dilakukan secara aktif ataupun pasif. Pada imunisasi aktif, respons imun terjadi setelah
seseorang terpapar dengan antigen. Imunisasi pasif terjadi bila seseorang menerima
antibody atau produk sel lainnya dari orang lain yang telah mendapat imunisasi aktif.
Imunisasi aktif terbagi menjadi dua yaitu imunisasi aktif alamiah dan imunisasi
buatan. Imunisasi aktif alamiah dimana kekebalan didapat setelah seseorang sembuh
dari suatu penyakit sedangkan imunisasi aktif buatan dimana kekebalan di dapat setelah
menyuntikan vaksin ke dalam tubuh.
Imunisasi Pasif juga dapat dibedakan mejadi imunisasi pasif alamiah dan
imunisasi pasif buatan. Pada imunisasi pasif alamiah antibody diberikan oleh ibu
kepada fetus melalui plasenta dan kolostrum. Sedangkan imunisasi pasif buatan
dilakukan dengan memberikan imunoglobulin dan antiserum yang berasal dari plasma
donor.
Vaksinasi adalah merupakan imunisasi aktif, ialah suatu tindakan yang dengan
sengaja memberikan paparan antigen dari suatu patogen yang akan menstimulasi sistem
imun dan menimbulkan kekebalan. Jenis vaksin pada umumnya dibedakan menjadi dua
yaitu vaksin hidup (Live Attenuated Vaccine) dan vaksin mati (inactivated vaccine).
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya adalah tempat pemberian
vaksin, imunitas mukosa, imunitas humoral, sistem efektor, lama proteksi dan bahayabahaya vaksinasi pada penderita yang immunocompromised atau pada penderita yang
mendapat pengobatan steroid dan hendaknya tidak diberikan kepada wanita yang
mengandung oleh karena bahaya terhadap fetus serta pada mereka yang alergik terhadap
pengawet yang terdapat dalam vaksin.
Beberapa contoh vaksin diantaranya yaitu; Vaksin BCG untuk tuberkulosa; Vaksin
DPT untuk difteri, pertusis dan tetanus; Vaksin TT (Tetanus Toksoid) untuk tetanus;
Vaksin DT (Difteri dan Tetanus) untuk difteri dan tetanus; Vaksin Polio (Oral Polio
Vaccine) untuk poliomyelitis; Vaksin Campak penyakit campak; Vaksin Hepatitis B
untuk hepatitis B dan Vaksin DPT/HB untuk difteri, tetanus, pertusis dan hepatitis B.

16

DAFTAR PUSTAKA
Chandra, RK (1997). "Nutrition and the immune system: an introduction". American
Journal of Clinical Nutrition Vol 66: 460S-463S. PMID 9250133. Free full-text
pdf available
Behrman, Kliegman dan Arvin, 2000, Ilmu Kesehatan Anak, diterjemahkan oleh Samik
Wahab, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.

17

Menteri Kesehatan RI, 2005, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor.1611/MENKES/SK/XI/2005

Tentang

Pedoman

Penyelenggaraan

Imunisasi, Jakarta : Kementerian Kesehatan RI


Tjay, Tan Hoan dan Kirana Raharja, 2002, Obat-Obat Penting: Khasiat, Penggunaan dan
Efek-efek Sampingnya Edisi Kelima, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo
World Health Organization. Vaccines, Immunization And Biologicals. The Cold
Chain.2002.

diakses

tanggal

oktober

2015,

http://www.WHO.Int/Vaccines
%Access/Vacman/Coldchain/TheCold_Chain_.htm.

18

pukul

12.53

melalui