Anda di halaman 1dari 5

TEKNIK ASEPTIK

Sebelum mulai membiakan mikroba, pertama-tama kita harus


mempertimbangkan bagaimana cara menghindari kontaminan. Mikroba terdapat
dimana-mana, tersebar di udara atau pada permukaan suatu benda, oleh karena
itu kita harus melakukan sterilisasi media segera setelah disiapkan, yang biasa
dilakukan dengan pemanasan. Hal ini perlu dilakukan untuk menghilangkan
mikroba kontaminan. Maka semua bahan dan alat yang bersentuhan dengan
suatu biakan murni harus steril. Teknik yang digunakan dalam pencegahan
kontaminasi selama membuat dan mensterilkan medium kultur disebut Teknik
aseptik. Penguasaan teknik ini diperlukan dalam keberhasilan laboratorium
mikrobiologi dan hal tersebut merupakan salah satu metode permulaan yang
dipelajari oleh ahli mikrobiologi pemula.

Kontaminan asal udara sering terdapat dalam medium, karena udara selalu
mengandung partikel debu tempat komunitas mikroba. Transfer aseptik suatu
biakan dari satu tabung medium ke tabung lainnya biasa dilakukan dengan
menggunakan jarum inokulasi atau ose yang disterilkan dengan cara membakar
di atas api. Biakan juga dapat dipindahkan dari permukaan lempeng agar,
sebagai tempat perkembangan koloni dimana sel mengalami pertumbuhan dan
pembelahan. Metode utama yang digunakan untuk memperoleh kultur murni
dari komunitas mikroba yang mengandung beberapa mikroba yang berbeda
dilakukan dengan memilih kolonikoloni yang terpisah dan menggoreskan pada
lempeng agar dengan metode gores, sehingga diperoleh koloni mikroba yang
murni. [1]

prosedur kerja aseptis yang harus dikerjakan untuk menanggulangi kontaminasi


adalah:
1. Sterilisasi ruang kerja
2. Sterilisasi medium dan alat-alat
Sterilisasi ruang kerja
Ruang kerja yang digunakan untuk pekerjaan aseptis adalah ruang steril,
ruangan ini harus senantiasa bersih, dinding dan lantai bersihkan setiap pagi
dengan zat anti kuman / desinfektan. Udara didalam ruangan disterilisasi dengan
lampu Ultra Violet (UV) yang kekuatannya disesuaikan dengan besarnya
ruangan yang dipakai, lampu ini hanya dinyalakan jika ruangan tidak dipakai dan
harus dimatikan ketika digunakan untuk bekerja. Radiasi UV tidak berbahaya
bagi manusia karena tidak mengion, namun demikian harus diwaspadai karena
dapat mengubah DNA dengan pembentukan dimer antara dua basa tirnin pada
satu rantai DNA. Penetrasi sinar UV utamanya pada bagian superfisial dari
jaringan sehingga dapat melukai kulit dan retina mata. Sinar UV dapat
menghasilkan ozon sehingga peneliti yang akan bekerja haras menunggu 15-30
menit setelah UV dimatikan, maksudnya supaya ozon tidak terhirup.
Peneliti yang akan bekerja didalam ruangan ini haras memakai jas lab. masker
dan tutup kepala, juga harus mencuci tangan dengan sabun antiseptik, kalau
perlu menggunakan sarung tangan dari karet. Didalam ruangan ini terdapat alatalat yang dapat menciptakan kondisi aseptis yang terkendali, antara lain Laminar
Air Flow dan stenl box (entkas).
a. Laminar air flow (laf).
Alat ini sangat baik dan efisien, namun harganya relatip mahal untuk
menciptakan atmosfer yang steril dimana pekerjaan-pekerjaan aseptis haras
dilakukan. Prinsip kerja alat ini yaitu dengan hembusan udara yang sudah
disaring (lihat gambar 1).

Udara yang dihisap oleh blower dihembuskan melalui HEPA (high efficiency
particulate air) filter dengan porositas 0,22 m, spora-spora jamur dan bakteri
akan tertahan, sehingga udara yang berhembus keluar sudah suci hama, laf
kadang-kadang dilengkapi dengan UV. Sebelum mulai bekerja, permukaan meja
kerja laf disemprot dan dilap dengan kain yang telah dibasahi alkohol 70% atau
spiritus, semua alat-alat dimasukkan ruang kerja. Alat-alat dan medium harus
sudah steril baik permukaan maupun bagian dalamnya, untuk botol kultur yang
berisi media, permukaannya disemprot atau dilap dengan alkohol 70%. Untuk laf
yang dilengkapi dengan UV, sebelum bekerja lampu UV dinyalakan selama 30-60
menit untuk mematikan kontaminan pada permukaan ruang kerja.

Gambar 4.2. Detail ruang kerja dan Laminar air flow.


Didalam laf juga sering dilengkapi dengan instalasi gas yang diperlukan untuk
sterilisasi alat-alat dengan pembakaran, tetapi ini dapat diganti dengan lampu
spiritus atau baktisinerator.
b. Steril box (entkas)
Alat lain untuk dapat menciptakan ruang kerja yang steril dengan harga yang
relatip murah adalah steril box (entkas). Alat ini berujud seperti kotak yang
terbuat dari bahan kaca (lihat gambar 4.3 ), plywood, papan kayu atau yang
lebih sederhana misalnya dari kardus yang didalamnya dilapisi aluminum foil.
Steril box atau entkas dapat dibuat dengan ukuran sesuai dengan yang
dikehendaki, yang penting untuk diperhatikan adalah tangan kita dapat
menjangkau setiap dinding entkas karena akan memudahkan untuk
membersihkannya.

Sebelum mulai bekerja, dinding entkas dibersihkan lebih dahulu dengan melap
kain yang sudah dibasahi alkohol 70%. Ruang kerja didalam entkas disterilisasi
dengan formalin tablet yang ditaruh didalam cawan porselin kecil dan diletakkan
disudut-sudut ruangan, setiap cawan berisi satu tablet. Uap formalin ini dapat
mensterilkan udara yang terdapat didalam entkas. Alat-alat dan botol kultur
yang berisi media disemprot permukaannya satu persatu dengan alkohol 70%
kemudian dimasukan
kedalam entkas, dibiarkan 30 menit baru mulai bekerja. Pada entkas juga dapat
ditambahkan lampu UV, entkas ini seluruh dinding luarnya harus ditutup dengan
aluminum foil, hal ini diperlukan untuk menghindari mata dan kulit dari bahaya
radiasi UV.

Sterilisasi media dan alat-alat


Media yang mengandung bahan-bahan yang tahan panas sterilisasinya dilakukan
dengan pemanasan basah, menggunakan alat yang namanya autoclave,
bekerjanya dengan tekanan uap. Standar teknis untuk Sterilisasi ini adalah pada
temperatur 121C, tekanan antara 15 - 17 psi dengan waktu antara
15-40 menit tergantung dari banyaknya media yang disterilisasi. Untuk 15 ml
media dalam tabung reaksi atau botol kecil berukuran 75 ml, Sterilisasi dilakukan
dengan tekanan 15 psi selama 20 menit. Volume yang lebih besar membutuhkan
tekanan yang lebih tinggi dengan waktu yang lebih lama.
Autoclave yang digunakan ada bermacam-macam, mulai dari yang paling
sederhana sampai yang dapat diprogram (programmable). Autoclave sederhana
pemanasan airnya menggunakan kompor gas, sedangkan pengaturan suhu
tekanan dan waktunya dilakukan secara manual. Pada waktu mengoperasikan
autoclave ini, jangan tergesa-gesa menutup klep pembuang sebelum udara yang
ada didalam autoclave diganti seluruhnya oleh uap air yang mendidih sehingga
akan tercapai temperature 121C ( langkah ini tidak dikerjakan untuk autoclave
yang programmable). Setelah waktu Sterilisasi selesai (15-20 menit) klep-klep
pembuang dibuka pelan-pelan, tekanan uap didalam autoclave pelan-pelan akan
sama dengan tekanan atmosfer, pembukaan klep pembuang yang tergesa-gesa
akan mengakibatkan medium yang ada didalam botol kultur mendidih dan
meluap.

Alat lain yang mempunyai prinsip kerja mirip dengan autoclave adalah pressure
cooker, alat yang biasa digunakan untuk memasak didapur ini kapasitasnya
sangat terbatas, sehingga tidak dianjurkan untuk pekerjaan pada skala
laboratorium karena tidak efisien. Autoclave yang paling modern adalah yang
programmable, dapat diatur waktu, suhu dan tekanannya secara automatis
sehingga dapat dijalankan sambi! mengerjakan pekerjaan yang lain. [2]

Daftar pustaka
[1] http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196805091994031KUSNADI/BUKU_COMMON_TEXT_MIKROBIOLOGI,_Kusnadi,dkk/BAB_II_metode.pdf
[2]
http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/26222/305ef68a209e3fa6c70cc447
e